Hasil pencarian
9855 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Umat Protestan dalam Cengkeraman VOC
SEBUAH kapal terdampar di Singapura. Kapal itu baru saja dirompak. Salah seorang penumpangnya seorang pastor Katolik dari Sarekat Jesuit, sebuah sekte dalam agama Katolik, bernama Aegidius de Abreu, seorang Portugis. Dia dibawa orang-orang Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) ke penjara di Batavia. Di tempat ini, dia sebermula bebas mengunjungi penganut Katolik lain di penjara.
- Natal Berdarah di Laut Tengah
TAK ada hal aneh pada sore 22 Desember 1963 yang diingat Paul Sant Cassia, profesor antropologi di University of Malta, yang saat itu berusia sembilan tahun. Pada hari itu, kata Paul, ayahnya berangkat ke pabrik tempatnya bekerja seperti biasa. Ayahnya tetap bertahan bekerja di pabrik itu sebagai satu-satunya warga Siprus berdarah Turki karena begitu mencintai pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa hingga selepas pukul 10 malam Paul mendapati berita terjadinya kerusuhan di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja. “Pada tanggal 22 Desember malam perkelahian terjadi sekitar pukul 10.00 malam di pusat kota. Empat orang tewas dan banyak lainnya luka-luka. Perkelahian terjadi di dekat pabrik dan saya dan saudara laki-laki khawatir ayah akan terlibat ketika dia melakukan inspeksi di halaman pabrik. Kami meneleponnya dan memberi tahu dia bahwa ada masalah. Kami menyuruhnya pulang karena dia mungkin akan cedera jika orang Siprus Yunani mengidentifikasinya sebagai orang Siprus Turki,” kata Paul dalam bukunya, Bodies of Evidence: Burial, Memory and the Recovery of Missing in Cyprus . Kala itu ketegangan antara warga Siprus berdarah Turki dan warga berdarah Yunani tengah memuncak. Akibatnya, ibukota Nikosia dibagi menjadi wilayah untuk warga Siprus Turki di utara dan wilayah untuk warga Siprus Yunani. Masing-masing komunitas saling mencurigai. Warga berdarah Turki mencurigai warga berdarah Yunani sebagai pendukung Enosis atau ideologi nasionalis yang mengupayakan integrasi Siprus dengan Yunani. Pemilihan Polycarpos Goergadjis, mantan jagal EOKA semasa perjuangan kemerdekaan Siprus dari Inggris yang terlibat dalam pembunuhan terhadap kalangan sipil, sebagai menteri dalam negeri dianggap salah satu langkah strategisnya. Sebaliknya, warga berdarah Yunani menuduh warga Turki ingin menguasai Siprus dan selalu mengkhawatirkan masuknya militer Turki ke Siprus. Saling ketidakpercayaan itu muncul dikarenakan beberapa faktor. Antara lain, penerapan pajak terpisah antara warga Siprus Yunani dan Siprus Turki. Bentuk Republik Siprus yang bukan negara kesatuan, melainkan komunal dengan sebagian di antaranya federasi komunal, menurut Andrew Borowiec dalam Cyprus: A Troubled Island , berandil pada kedaulatan terletak di tangan komunitas. Konstitusi nyaris tak berarti. “Faktor lain yang mendorong masyarakat ke arah konfrontasi langsung adalah banyaknya jumlah warga Siprus Turki yang menjadi pegawai negeri. Komunitas Yunani merasa bahwa rasio yang ditetapkan terlalu baik dan banyak warga Turki sebetulnya tak memenuhi syarat untuk pekerjaan yang mereka pegang,” tulis Borowiec. Ketegangan makin meningkat sejak Presiden Makarios III menghapus delapan ketentuan dasar dalam Perjanjian Kemerdekaan 1960 yang menjamin hak-hak warga Siprus Turki pada November 1963. "Tujuannya adalah untuk mengurangi (status dan peran, red .) warga Siprus Turki menjadi status minoritas belaka, yang sepenuhnya tunduk pada kendali orang Siprus Yunani, sebelum kehancuran atau pengusiran mereka dari pulau itu," tulis sejarawan John L. Oakes dalam “Cyprus–The Shame of Christmas 1963”, dimuat di cyprusscene.com . Makarios lalu, pada awal Desember, mengajukan usulan perbaikan 13 aturan yang menjadi sumber persengketaan, antara lain penghapusan aturan pemilihan anggota legislatif berdasarkan kuota etnis. Warga berdarah Turki menganggap usulan Makarios itu sebagai upaya untuk mengurangi partisipasi mereka dalam menjalankan negara. Pada 16 Desember, komunitas Turki, yang dimotori Menteri Pertahanan Osan Orek dan Ketua Turkish Communal Chamber Rauf Denktash, menolak rencana Makarios. Suasana makin tegang. Di tengah suasa tegang antar-etnis itu, pada dini hari 22 Desember, sekelompok polisi Siprus, berdarah Yunani, mengadakan razia di dekat red - light district ibukota. Mereka menghentikan sebuah taksi berisi seorang pemuda berdarah Turki dan seorang perempuan rekannya. Aparat meminta pemuda tersebut menunjukkan identitas, namun ditolak. Aparat lalu menembak mati kedua penumpang taksi tersebut. Sontak warga berdarah Turki yang ada di pasar Turki, tak jauh dari lokasi kejadian, datang. Mereka melawan para polisi tadi sehingga beberapa di antara aparat terluka. “Meskipun pembunuhan tersebut mungkin tidak dimotivasi oleh politik atau persaingan antaretnis, pembunuhan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman bagi masyarakat Siprus berbahasa Turki secara keseluruhan,” kata buku yang dieditori Jon Celame dan Esther Charesworth, Divided Cities: Belfast, Beirut, Jerussalem, Mostar, and Nicosia . Paginya, warga berdarah Turki segera berkumpul. Mereka menganggap kejadian pada dini hari sebagai bagian dari Enosis. Malamnya, bentrokan berdarah pun pecah di Nicosia. Pasukan-pasukan paramiliter Turki maupun Yunani saling serang. Otoritas Yunani kemudian memutus saluran telepon dan telegraf ke areal permukiman Turki. Tak lama kemudian, aparat kepolisian Siprus Yunani menguasai bandara Nicosia. "Ketika orang Siprus Turki keberatan dengan amandemen Konstitusi, Makarios menjalankan rencananya, dan serangan Siprus Yunani dimulai pada bulan Desember 1963," sambung Oakes. Esoknya, 23 Desember, pertempuran meluas. Kendati pada siangnya Presiden Makarios dan pemimpin Komunitas Turki sepakat melancarkan gencatan senjata, kondisi di lapangan terlanjur membara. Pertempuran telah mencapai beberapa daerah di luar Nicosia hingga Kota pelabuhan Larnaca. Pada hari itulah milisi Yunani yang dipimpin Nicos Sampson, mantan kombatan EOKA yang terlibat dalam pembunuhan terhadap warga sipil saat perjuangan melawan Inggris, menyerbu Omorphita di pinggiran Nicosia. Mereka langsung membunuhi orang-orang berdarah Turki. “Tampaknya tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak,” tulis Borowiec. Menurut Oakes, yang mengutip Letnan Jenderal George Karayiannis dari Milisi Siprus Yunani, serangan oleh warga Siprus Yunani telah direncanakan sejak jauh hari, bukan spontanitas. Serangan itu berpijak pada rencana "Akritas", cetak-biru untuk pemusnahan Siprus Turki dan aneksasi pulau itu oleh Yunani. “Setiap Siprus Yunani bersenjata memburu mereka (penduduk berdarah Turki, red.). Dalam waktu satu bulan setelah serangan gencar pada 21 Desember 1963, ratusan warga Siprus Turki terbunuh, terluka, atau cacat. Daerah Turki di pulau itu dikepung dengan tujuan untuk membuat penduduk kelaparan sampai mati sehingga mereka tidak bisa lagi menentang kemauan politik ‘Yunani,’” demikian catatan UN Security Council dalam Documents Officiels , Volume 3. Kondisi kacau tersebut membuat Komisaris Tinggi Inggris di Siprus Sir Arthur Clark segera terbang ke negeri pulau di Laut Tengah itu dari cuti berobatnya di Inggris. Begitu tiba Arthur langsung “disuguhi” pemandangan mengerikan berupa tiga petani Turki tewas disandarkan di depan gerbang depannya. Di Rumahsakit Umum Nicosia, setidaknya tiga pasien berdarah Turki tewas ditembak. Keesokannya, 24 Desember, para milisi Yunani menyerang desa Mathiatis Ayios Vasilios. Sekira 59 warga berdarah Turki dibunuh malamnya. Pada awal 1964, Palang Merah Internasional bersama pasukan Inggris berhasil menemukan 21 jasad warga Turki yang dibunuh dan dipendam dalam lubang yang sama. Pertempuran masih berlangsung pada 24 Desember malam ketika Arthur bersama Mayjen Peter Young (komandan pasukan Inggris), Presiden Makarios dan pemimpin perwakilan Turki merundingkan gencatan senjata. Meski gencatan senjata berhasil dilaksanakan saat Natal, pertempuran kembali pecah hari berikutnya. “Di Omorphita pada 27 Desember, 550 orang disandera dan ditahan di sekolah Kykkos, tempat mereka bergabung dengan 150 sandera asal Kumsal. 550 di antaranya dibebaskan pada 31 Desember 1963,” tulis Paul Cassia. Namun, pertempuran berangsur mereda setelah pasukan gencatan senjata gabungan di bawah Mayjen Peter Young, yang dibentuk pada 24 Desember malam, dapat menguasai keadaan dan menegakkan hukum hingga pasukan perdamaian PBB tiba tahun berikutnya. Kota Nicosia dibagi menjadi dua, dengan utara diperuntukkan bagi warga berdarah Turki, berdasarkan garis yang dibuat pada rapat 24 Desember malam. Selain menyebabkan puluhan ribu warga dari kedua etnis mengungsi dan beberapa ribu di antaranya tak pernah kembali ke rumah mereka, “Natal Berdarah” itu merusak 270 masjid dan menewaskan lebih dari 300 warga Siprus Turki serta lebih dari 150 warga Siprus Yunani. “Tidak masuk akal untuk mengklaim, seperti yang dilakukan oleh orang Siprus Yunani, bahwa semua korban jiwa disebabkan oleh pertempuran antara orang-orang bersenjata dari kedua belah pihak. Pada Malam Natal, banyak orang Siprus Turki diserang dan dibunuh secara brutal di rumah mereka di pinggiran kota, termasuk istri dan anak-anak seorang dokter yang diduga oleh sekelompok pria yang terdiri dari 40 orang, banyak yang memakai sepatu bot tentara dan mantel besar. Meskipun Siprus Turki melawan sebisa mungkin dan membunuh beberapa milisi, tidak ada pembantaian terhadap warga sipil Siprus Yunani," demikian diberitakan The Guardian edisi 31 Desember 1963. Ayah Paul Cassia merupakan satu di antara yang jadi korban tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai "Natal Berdarah" itu. Dia tak pernah terlihat lagi sejak terakhir kali ditelepon Paul dan kakaknya. “Ayah saya menghilang pada 1963. Dia adalah salah satu orang pertama yang dinyatakan hilang. Saya tidak menemukan apa yang terjadi sampai beberapa minggu kemudian. Seorang teman ayah saya, yang juga seorang Siprus Yunani, memberi tahu saya apa yang telah terjadi. Tak lama setelah kami berbicara dengan ayah, sekelompok pasukan EOKA pergi ke pabrik dan bertanya apakah ada warga Siprus Turki yang bekerja di sana. Pemilik pabrik berkata bahwa hanya ada satu, tetapi dia baru saja pergi. Orang-orang EOKA pergi ke atap pabrik dan menembak ayah saya. Kami pergi ke pabrik untuk mengkonfrontasi tentang ayah saya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang mereka tahu hanyalah bahwa dia menghilang saat bertugas,” sambung Paul.*
- Ketika Hatta Merayakan Natal di Jerman
JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mengenal negeri-negeri di Eropa. Lalu atas usulan Dahlan, keduanya sepakat berkeliling Jerman dan Eropa Tengah. Mereka berencana menghabiskan waktu seminggu di sana. Hatta memulai perjalannya pada 20 Desember, dengan perkiraan kembali ke Belanda tanggal 27 Desember. Ia berangkat dengan kereta api dari Den Haag menuju Hamburg. Turun di stasiun, Hatta lalu berkeliling ke Berlin, Praha, Wina, dan Munchen. Di masing-masing tempat ditentukan bahwa keduanya akan menetap selama satu atau dua hari. “Di masa itu aku melihat perbedaan nilai uang yang hebat. Uang Gulden Belanda berbanding dengan Mark Jerman seperti 1 dan 100. Sebelum Perang Dunia I perbandingannya 10 dan 6. Satu Mark nilainya 60 sen Belanda. Jerman mulai dipukul inflasi. Uang Austria inflasinya lebih hebat lagi,” ujar Hatta. Pengalaman itu ia bagikan dalam otobiografinya, Memoir . Di Jerman, Hatta menemui kenalannya, Tuan Le Febvre, bekas residen di Sumatra Barat yang tinggal di Hamburg setelah pensiun. Sedangkan Dahlan juga mempunyai kenalan di sana, namanya Usman Idris. Kawannya itu berasal dari Bukittinggi. Ia datang ke Nederland setelah PD I, sekira tahun 1919, dan memilih menetap di Jerman setelah kesulitan bertahan hidup di Belanda. Berkat itu, Usman Idris menjadi teman berkeliling Hatta di Jerman. Selama pergi melancong itu, Hatta menyewa kamar pada Frau Jachnik di Papendamm. Di rumah tersebut terdapat empat kamar dan ditinggali oleh empat orang anggota keluarga. Dua di antaranya disewakan kepada Hatta. Setiap pagi, mereka mendapat sarapan gratis. Menurutnya, biaya hidup di Jerman murah sekali jika dibandingkan dengan Belanda. “Keluarga itu mempunyai seorang anak laki-laki kecil, berumur kira-kira 4 tahun,” ujar Hatta. “Mereka gembira sekali dan sangat berterima kasih, waktu malam sebelum Natal kami bawakan bagi mereka kue Natal dan untuk anaknya sebuah mainan, pasangan kereta api yang dapat berjalan sendiri atas lingkaran relnya. Supaya dapat berjalan berkeliling pernya diputar dulu.” Pada perayaan Natal, 25-26 Desember, Hatta banyak menghabiskan waktu di kediaman Le Febvre. Dan berkat keramahan si tuan rumah yang menahan mereka untuk kembali terlalu cepat ke Belanda, rencana berlibur seminggu di Eropa Tengah terpaksa diubah. Hatta dan Dahlan memutuskan menetap lebih lama di Jerman. Setidaknya sampai pergantian tahun. Le Febvre meminta Hatta melihat suasana Natal di Jerman, yang mungkin tidak akan ditemukan di Nederland. “Lihatlah cara rakyat Jerman merayakan hari-hari Natal dan Tahun Baru. Lucu sekali, sekalipun mereka dalam kesusahan dan kesukaran hidup,” kata Le Febvre. Dalam kunjungannya ke Jerman itu Hatta tidak lupa mengunjungi sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Kecintaannya terhadap buku membuatnya memborong banyak sekali judul dari berbagai penulis terkenal. Ditambah lagi harganya yang amat murah. Bagi orang Jerman mungkin akan terasa mahal, namun berhubung Hatta memakai gulden , harga sudah bukan jadi persoalannya. Sebanyak lebih dari 10 buku ia beli dari sana dan dengan bantuan Universitas Hamburg, buku-buku itu dikirim ke alamat tempat tinggalnya di Rotterdam. “Selama di Hamburg masih sempat kami pada suatu malam bersama-sama dengan Dr. Eichele dan Usman Idris melihat opera. Sebelum menonton kami makam malam dahulu pada sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum, aku pesan air es. Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa,” kata Hatta.*
- Ketika Hatta Mulai Mengenal Tuhan
BANGUNAN rumah itu mudah dikenali. Bentuknya agak lain dari bangunan di sekitarnya. Bilik dan atap didominasi bahan kayu tegap, dengan langgar yang cukup luas. Lebih istimewa lagi, alunan ayat suci Al-Qur’an tiap waktu terdengar dari sana. Orang-orang kerap berkumpul, duduk mendengarkan ceramah seorang alim di tempat itu. Suaranya amat menenangkan. Isi ceramahnya begitu mencerahkan. Di tempat bernama Batuhampar itulah Mohammad Hatta belajar tentang ilmu agama. Hatta terlahir di keluarga dengan latar belakang Islam yang kuat. Dari sisi ayah, banyak kerabat yang fokus mendalami agama Islam. Bahkan kampung Batuhampar, Patakumbuh, Sumatra Barat terkenal sebagai pusat pendidikan Islam, yang santrinya datang dari seluruh Sumatra, Kalimantan, hingga Melayu. Kakek Hatta juga merupakan salah satu ulama terkenal di sana. Oleh keluarganya Hatta sering diajak berkunjung ke Batuhampar. Dalam setahun setidaknya dia berkunjung sebanyak dua kali. Bukan sekedar untuk bermain, tetapi juga berziarah ke makam leluhur keluarga ayahnya. Di sana Hatta tinggal di kediaman pamannya, Haji Arsad, seorang ulama terkemuka bergelar Syekh Batuhampar. “Beliau sangat sayang padaku. Air mukanya yang jernih selalu, yang mencerminkan jiwa yang murni. Kata-katanya yang selalu mendidik ke jurusan berbuat baik. Ramah-tamahnya kepada segala orang dengan sifat yang pemurah kepada fakir miskin dan orang-orang yang datang mengaji dan berziarah dari jauh. Wajah dan tabiat beliat itu tepat benar dengan kedudukan beliau sebagai ulama besar dan ahli tarikat,” ujar Hatta menggambarkan sosok yang amat dihormatinya tersebut. Ayah Gaekku Arsad, begitu Hatta biasa menyapanya, masih satu kerabat dengan ayah Hatta. Diceritakan dalam otobiografinya Memoir , Ayah Gaekku Arsad usianya sudah lebih dari 50 tahun. Perawakannya tegap dan berisi, dengan jubah dan sorban yang tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bagi Hatta, pamannya itu memiliki pribadi yang amat terpuji. Berkat dia jugalah Hatta mengenal cara hidup dan bergaul secara Islam. Sebagai ahli tarikat, Ayah Gaekku Arsad paham bahwa anak-anak seusia Hatta tidak boleh dibebani dengan ajaran agama yang sulit. Ia pun mesti berhati-hati dalam menyampaikannya. Tetapi bagi Hatta, Syekh Arsad pandai dalam menanam paham agama Islam. Dalam setiap pertemuan yang singkat, dia bisa menanamkan pokok uraian secara baik dan mudah dimaknai. “Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Tuhan seru sekalian alam. Allah menjadikan segala yang ada di alam dan di langit. Allah memberi kita rezeki. Sebab itu kita harus berterima kasih pada Allah. Balas kasih Allah pada kita itu dengan mengasihi orang lain. Dan Allah nanti membalas pula budi kita itu dengan melimpah. Dan teori yang diajarkannya itu kulihat dipraktikannya dengan perbuatan,” kata Hatta. Pada suatu kunjungan ke Batuhampar, Hatta pernah bertanya kepada pamannya itu tentang penggambaran Tuhan yang didengarnya dari Haji Ismail –seorang sahabat Ayah Gaekku dari Matur. Haji Ismail menggambarkan Tuhan layaknya manusia. Tetapi memiliki perbedaan yang amat kentara: sempurna dalam segala-galanya. Wajah Tuhan, kata Haji Ismail, tiada tandingannya di dunia ini. Rambut, kumis, dan jenggotnya putih tidak bercela-cela. Pandangannya tajam tapi menenangkan. Tuhan memiliki pendamping, yakni malaikat. Tugasnya turun ke bumi dan mencatat segala hal yang terjadi. “Sungguh pun berambut putih, Allah tidak pernah tua, tidak berubah-ubah tetap seperti itu selama-lamanya,” ucap Haji Ismail. Dengan penuh semangat Hatta menceritakan apa yang didengarnya itu. “Benarkah Allah besemayam di langit yang ke tujuh di atas satu singgasana yang indah sekali, dilingkungi oleh malaikat dan bidadari?” tanya Hatta dengan mata berbinar. Mendengar hal itu Ayah Gaekku hanya tersenyum. Dia lalu meyakinkan Hatta bahwa semua yang didengarnya salah besar. Menurutnya, Haji Ismail telah keliru membuat gambaran Tuhan. Itu hanya karang-karangan manusia saja, tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya. Kuasa Tuhan, kata Ayah Gaekku, jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan manusia. “Kita manusia dan segala yang hidup di atas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikannya. Ada awal dan akhirnya. Tuhan yang menjadikan tidak baru, ada selama-lamanya, tunggal, tidak dijadikan. Allah yang ada selama-lamanya itu mengetahui semuanya dan mendengar semuanya. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa,” terang Ayah Gaekku. “Allah yang tunggal tidak dapat serupa atau sama dengan yang dijadikannya. Kalau serupa dan sama, itu tidak tunggal lagi. Oleh karena itu Allah adalah zat yang tidak serupa dengan yang baru. Tidak dapat digambarkan dengan rupa manusia, tidak dapat dikatakan dengan bentuk dan rupa yang ada di dunia ini. Yang kita tahu hanya Allah ada, sebab dibuktikan oleh yang dijadikannya,” lanjutnya. Hatta hanya diam mendengarkan. Sesekali dia mengangguk. Banyak sekali pengetahuan yang didapatnya hari itu. Ayah Gaekku kemudian menutup kisahnya dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah Tuhan dan segala ciptaannya. Namun hampir tidak ada satupun ayat yang dimengerti Hatta. Itu karena dia tidak bisa bahasa Arab.*
- Merayakan Hari Ibu Bersama Para Perempuan Hebat
Sejarah Indonesia tak melulu menyorot lelaki sebagai tokoh penggerak perjalanan bangsa. Perempuan pun kerap disorot dan punya peran penting di dalamnya. Karena itulah, 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu. Yang dimaksud di sini bukan ibu sebagai ibu rumah tangga atau seorang perempuan yang telah punya anak, melainkan untuk perempuan secara luas dengan beragam peran dan pekerjaan. Tanpa pula memandang status hubungannya: sudah menikah atau belum, sudah punya anak atau belum. Sosok para perempuan hebat dalam sejarah bangsa Indonesia. ( Foto : Fernando Randy ) Penentuan Hari Ibu diambil dari peristiwa Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada 22–25 Desember 1928. Bertempat di Yogyakarta, kongres ini diinisiasi oleh organisasi perempuan seperti Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, dan lain sebagainya. Penetapan Hari Ibu diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga pada 1938 di Bandung. Kongres Perempuan Indonesia menuntut perubahan bagi kedudukan kaum perempuan. Kala itu perempuan Indonesia menjadi pihak yang ditindas dan dibawahkan oleh berbagai macam struktur sosial yang mengekang. Oleh sebab itu, Kongres Perempuan mengangkat masalah-masalah keseharian perempuan dalam hubungan sosialnya seperti perkawinan anak-anak, nasib anak yatim piatu dan janda, pendidikan perempuan, dan praktik kawin paksa. Najwa Shihab yang dikenal kerap membuat perubahan dalam dunia pers Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Atlet muda di cabang berkuda Charlotte Ramadhan saat beraksi pada perhelatan liga berkuda di Pulomas. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tarmi, mulai menghidupi tujuh anak dan lima cucunya dengan berdagang di Cilincing Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sudah 92 kali Hari Ibu diperingati. Selama itu pula, perempuan Indonesia tak berhenti berjuang memperoleh kedudukan yang adil dan setara dalam masyarakat. Sebab pandangan bahwa perempuan sebagai makhluk kelas dua dan berada di bawah kuasa lelaki belum sepenuhnya hilang seperti masa kolonialisme. Meski praktiknya tak sepenuhnya sama dengan masa lalu, pola-pola demikian tetap mengada hingga hari ini. Beberapa nama bisa disebut sebagai tokoh-tokoh perempuan masa kini. Tentu saja nama ini bisa jauh lebih banyak daripada yang bisa disebut. Ini juga tak mewakili perempuan secara keseluruhan. Tetapi hanya sedikit contoh untuk menunjukkan ketokohan perempuan dalam berbagai bidang yang sangat luas. Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan Martha Christina Tiahahu para perempuan hebat dalam sejarah Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Yohana Uli, yang bekerja dan berkarya di bidang videografi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maria Dininta, saat membuat kalung untuk di jual dan mengasuh putrinya, Kiani di rumah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mira Lesmana yang terus berkarya di bidang sinema Indonesia. ( Foto : Fernando Randy/Historia.id ) Dari dunia pers, orang mengenal Najwa Shihab yang kerap membuat perubahan. Dari dunia film, ada Mira Lesmana yang selalu memukau dalam karya-karya filmnya. Dari dunia videografi, muncul Yohana Uli yang bekerja di salah satu situs berita. Ada pula Maria Dinita yang mampu berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja kantoran dan penggiat Usaha Kecil Mikro Gelang Tangan. Lalu ada sosok Emilia Nova yang terus mengukir prestasi di arena olahraga. Itu semua membuktikan bahwa Indonesia sudah dipenuhi oleh para perempuan hebat. Memperingati Hari Ibu berarti memantapkan jejak sejarah perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan posisi yang adil dan setara di negeri ini. Meutia Hatta, sosok perempuan hebat di Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Shanaz Haque sosok yang aktif dalam berbagi ilmu di berbagai kesempatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Emilia Nova atlet atletik Indonesia yang sudah menuai berbagai prestasi di ajang internasional. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- CIA Kecewa pada PRRI
KAPTEN Sebastian Tanamas bermarkas di Parit Surau. Pasukannya berada di bawah Sub Komando Daerah Riau (SKDR) yang memiliki daerah operasi di Riau Daratan. Pada 31 Mei 1958, kurir datang dari markas SKDR di Lintau, Tanah Datar, membawa perintah agar dia menghadiri rapat perwira.
- Tonggak-tonggak Gerakan Perempuan Indonesia
Dewi Sartika dari Bandung, Kartini dari Jepara, Rohana Kudus dari Kotogadang, Rahmah El-Yunusiyah dari Padang Panjang, R. Ayu Lasminingrat dari Garut hingga R. Siti Jenab dari Cianjur. Inilah deretan nama perempuan pejuang generasi awal dalam sejarah Indonesia modern yang muncul pada abad ke-19. Tokoh-tokoh itu berfokus pada masalah pendidikan, posisi perempuan di keluarga hingga keterampilan perempuan. Meski berasal dari kelas bangsawan, menurut sejarawan Ita Fatia Nadia dalam Dialog Sejarah “Melampaui Maskulinitas: Narasi Perempuan dalam Sejarah Indonesia” di saluran Youtube dan Facebook Historia , Selasa, 22 Desember 2020, mereka juga memiliki perhatian terhadap lingkungan di luar kelas sosial mereka. Namun, perjuangan perempuan Indonesia tak berhenti pada nama-nama itu. Organisasi Perempuan Bermunculan Sejak awal abad ke-20, berbagai organisasi juga mengisi daftar panjang perjuangan perempuan. Perjuangan juga tak datang dari kota-kota besar semata, melainkan juga dari kota kecil di daerah. Putri Mahardika (1912), Keutamaan Isteri (1913), Kerajinan Amai Setia (1914), Pawiyatan Wanito (1915), Wanito Hado (1915), Putri Budi Sedjati (1915), Pengasih Ibu Kepada Anak Turunan atau PIKAT Minahasa (1917), Wanita Katolik (1917), Wanito Susilo (1918), Aisyiyah dan Fatimiah (1920) merupakan di antara organisasi-organisasi itu. Menurut Ita, organisasi-organisasi itu menjadi bagian dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia karena selain memiliki lembaga dan anggota, juga menerbitkan suratkabar sebagai media kampanye isu-isu yang mereka angkat. “Suratkabar itu menjadi bagian dari kampanye mereka tentang bagaimana kondisi perempuan pada sekitar periode itu,” jelas Ita. Putri Mahardika, misalnya, memiliki suratkabar Wanito Sworo yang dipimpin oleh Siti Sundari. Isinya melalui Wanito Sworo mereka menyuarakan isu bagaimana perempuan mandiri dan menentukan nasibnya sendiri, anti poligami, hingga anti kejahatan-kejahatan gender. Selain Wanito Sworo , ada surat kabar Al Sjarq yang diterbitkan oleh Sarekat Kaum Ibu sejak 1914. Pada tahun yang sama, terbit pula Soeara Perempoean di Padang dan Perempoean Bergerak di Medan. Sementara PIKAT di Minahasa menerbitkan suratkabar dengan nama yang sama sejak berdiri pada 1917. Kampanye-kampanye mengenai hak-hak perempuan kemudian mendorong dibukanya Algemene Middlebare School (AMS) untuk perempuan oleh pemerintah kolonial pada 1919. Namun, saat itu hanya perempuan dari kalangan ningrat saja yang boleh bersekolah. Baru pada 1922 Taman Siswa berdiri dan membuka sekolah untuk laki-laki maupun perempuan umum. Pada 1926, kaum perempuan di Semarang aktif dalam menentang rendahnya upah buruh. Mereka terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintah kolonial dan sebagian aggotanya turut dibuang ke Boven Digul, Papua. Mereka dikenang sebagai pahlawan perintis kemerdekaan. Dari Daerah ke Nasional Seiring dengannya, organisasi-organisasi kedaerahan mulai membentuk sayap organisasi bagi perempuan. Berbagai organisasi daerah ini pada 1927 bergabung dalam Indonesia Muda (IM) yang anggotanya lelaki maupun perempuan. Pada 1928, IM melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Perempuan Indonesia ke-1, 22-25 Desember 1928, menjadi cacatan penting dalam gerakan perempuan Indonesia. Dalam kongres ini, berbagai organisasi perempuan melakukan konsolidasi pemikiran dan merumuskan semangat perjuangan nasional. “Jadi bagaimana menyatukan pemikiran-pemikiran dari perempuan di Nusantara. Kemudian peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Perbaikan gizi karena tingginya tingkat kematian ibu dan anak. Kesehatan ibu. Kemudian melarang pernikahan dini,” ungkap Ita. Ita menegaskan, saat itu yang menjadikan gerakan perempuan cukup kuat ialah ideologinya jelas. “Saya mau mengatakan, bedanya organisasi perempuan dengan LSM perempuan sekarang ini, mereka jelas platform politiknya. Platform politik adalah ideologinya, gagasan ideologinya apa, lokasi politik yang mereka perjuangkan apa,” imbuhnya. Kongres tersebut kemudian melahirkan Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). PPII menyatakan diri sebagai bagian dari perjuangan nasional melawan penjajahan. Organisasi perempuan lain yang cukup radikal adalah Perempuan Isteri Sedar yang berdiri pada 1930. Organisasi yan dipimpin Soewarni Pringgodigdo ini bertujuan menentang kolonialisme, menolak poligami, dan memperjuangkan hak serta kedudukan perempuan di semua kelas sosial. Ita menambahkan, Perempuan Isteri Sedar memang terpengaruh oleh Marxisme. Perempuan Isteri Sedar pada 1931 turut hadir dalam Kongres Perempuan Asia di Lahore. Maria Ulffah, yang kelak menjadi menteri perempuan pertama Indonesia, juga mencatatkan sejarah penting. Ia mendirikan Isteri Indonesia pada 1932. Tujuannya antara lain mendorong perempuan masuk dalam Dewan Kota, anti poligami, anti kolonial, perbaikan upah buruh perempuan, dan pendidikan nasional. Pasca-kemerdekaan, berbagai organisasi perempuan bermunculan. Pada Juli 1950, Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) didirikan dari gabungan 500 aktivis perempuan dan enam organisasi perempuan: Rukun Putri Indonesia (Rupindo), Persatuan Wanita Sedar, Isteri Sedar, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo), Wanita Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia. Gerwis yang cukup radikal dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) tergabung dalam Women’s International Democratic Federation (WIDF) yang berpusat di Berlin. Kongres pertama Gerwis kemudian memutuskan penggantian nama organisasi menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Gerwani kemudian menjadi organisasi perempuan kuat sejak 1950-an hingga 1965. Era Orde Baru Pasca-Peristiwa G30S, Gerwani difitnah turut menyiksa para jenderal dengan keji di Lubang Buaya. Organisasi ini lalu dilarang dan dikutuki. Anggotanya ditangkap, disiksa, diperkosa dan dihilangkan paksa. Tahun 1965 menjadi titik balik perjuangan perempuan Indonesia. Akibat G30S, wajah sejarah gerakan perempuan Indonesia berubah drastis. Ketika rezim militer berkuasa, narasi sejarah perempuan dikembalikan pada kontruksi patriarki. Perempuan ditempatkan kembali ke ranah domestik dan sejarah panjang perjuangannya seakan dihapus begitu saja. Aktivis perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa pasca-1965, perempuan Indonesia dibayang-bayangi oleh stigma dan stereotype yang dikonstruksikan Orde Baru. “Jadi teman-teman perempuan yang beraktifitas di luar wilayah domestik akhirnya dicap sebagai perempuan liar, perempuan sundal,” kata Tunggal. Meski demikian, Tunggal menyebut bahwa beberapa kelompok studi gender mulai bermunculan di kampus-kampus pada 1980-an. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang subur bagi kelompok-kelompok ini. Dari kelompk-kelompok studi itu lahirlah organisasi perempuan seperti Kalyanamitra, yang lahir pada 28 Maret 1985. Pada 1990-an awal, muncul pula Kelompok Solidaritas Perempuan. Menurut Tunggal, ada pula organisasi-organisasi perempuan di berbagai daerah yang belum tercatat. Namun, organisasi-organisasi perempuan itu masih dihantui oleh stigma “Gerwani”. Alhasil, aktivitas-aktivitas akar rumput terkait ketimpangan gender maupun advokasi-advokasi untuk korban kekerasan seksual masih menjadi tantangan berat. Di ujung kekuasaan Orde Baru, gerakan-gerakan perempuan kembali tumbuh. Mereka turut andil dalam Reformasi seperti yang dilakukan Suara Ibu Peduli dengan turun ke jalan. “Dan banyak juga kelompok perempuan yang sebenarnya selain menyuarakan isu-isu khusus soal perempuan tapi juga menyuarakan isu anti Orde Baru dan juga isu anti militerisme. Nah itu jadi semacam dua musuh bersama, Orba dan militerisme pada saat Reformasi,” jelas Tunggal. Meski demikian, Reformasi belum memberi tempat yang cukup bagi sejarah gerakan perempuan. Peran perempuan dalam penggulingan Orde Baru kurang mendapat sorotan dibanding gerakan mahasiswa. Pasca-Reformasi, gerakan perempuan tetap berjalan. Koalisi Perempuan Indonesia lahir dari gabungan aktivis-aktivis dan berbagai organisasi perempuan. Selain itu, lanjut Tunggal, beberapa organisasi seperti Perempuan Mahardika, Kapal Perempuan, Sapa Institute, Serikat Petani Pasundan berkontribusi pada wacana demokrasi dan kebangsaan. Namun, peran mereka lagi-lagi terpinggirkan dari sejarah Indonesia. “Karena persoalan ideologis, patriarki yang sudah mendarah daging di semua level, maka perempuan jadi luput atau dihilangkan dari narasi besar sejarah Indonesia. Ini yang sampai sekarang masih menjadi persoalan,” terang Tunggal.
- Gerakan Perlawanan Orang Kristen terhadap Kolonialisme
LELAKI tua itu berjalan tertatih-tatih. Usianya 60 tahun. Dia singgah dari satu desa ke desa, hinggap dari satu kota ke kota lainnya di Jawa Timur. Misinya mengabarkan injil kepada penduduk. Dia melakukan tugas itu tanpa menerima bantuan keuangan dari siapapun. Hingga membuat zending (penyebar agama Kristen Protestan) Belanda sempat kagum.
- Layar Kehidupan Robert De Niro
SUDAH 55 tahun ia berkecimpung di industri layar perak. Usianya kini sudah menginjak 77 tahun. Kendati demikian, Robert De Niro belum akan tutup layar kariernya. Sepanjang masih bisa bernafas, sang aktor kondang nan eksentrik itu masih akan menggeluti dunia peran. Hingga tahun ini De Niro sedikitnya sudah membintangi 129 film sejak 1965. Film terakhirnya yang rilis 12 Oktober adalah film bergenre komedi kelam The Comeback Trail. Sebelumnya, pada 2019, De Niro bergabung di proyek film garapan sineas legendaris Martin Scorsese, The Irishman. Film ini sukses besar di pasaran global meski De Niro gagal menyabet satupun Piala Oscar walau mendapat sembilan nominasi. Kini De Niro kembali bekerjasama dengan Scorsese dalam film yang masih tahap pra-produksi bertajuk Killers of the Flower Moon . Film ini diprediksi baru akan rampung dan rilis pada 2022. “Bersama Scorsese sudah 10 film, termasuk Flower Moon . Selalu senang dan hebat rasanya bisa bekerja lagi dengan Martin. Saya beruntung punya hubungan pekerjaan dengan dia dan dalam sedemikian waktu selalu spesial. Tidak ada rahasia apapun di antara saya dengan Martin. Hubungan spesial itu terjadi begitu saja,” tutur De Niro dalam diskusi daring “Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan eks Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal di Mola TV , Rabu (16/12/2020) malam. Sudah 10 film yang dikerjakan De Niro dan sineas legendaris Martin Charles Scorsese. (Instagram @theirishmanfilm). Keluarga Seniman Dalam diskusi itu, aktor gaek berdarah Italia itu juga berbagi kisah tentang bagaimana ia pertamakali terjun ke dunia akting sejak usia dini. Darah seninya tak lain diturunkan ayah dan ibunya yang menekuni seni lukis kala De Niro lahir pada 17 Agustus 1943 di New York, Amerika Serikat. De Niro merupakan anak tunggal pasangan Robert Henry De Niro Sr. dan Virginia Holton Admiral. Henry punya darah Irlandia dan Italia, sementara Virginia keturunan Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Keduanya sama-sama pelukis. Ketika De Niro berusia dua tahun, rumahtangga Henry-Virginia retak. Mereka bercerai setelah Henry menjadi gay. Meski akhirnya berpisah, Henry tetap tinggal tak jauh agar hubungannya dengan putra semata wayangnya tetap dekat. Ketika bersekolah di Public School 41, De Niro terjun ke dunia seni peran dengan mengikuti kelas akting di Dramatic Workshop. “Saya belajar akting sejak kecil dari usia 10. Lalu sempat berhenti ketika berumur 15. Tetapi saya mulai lagi untuk akting pada usia 18 tahun. Orangtua saya karena mereka juga seniman, tentunya tidak melarang dan justru mendukung. Orangtua saya mengatakan bahwa semua orang bisa menjadi aktor asal mau banyak belajar dan bekerja keras,” ujar De Niro. De Niro mengungkap kisahnya di "Living Live Mola TV". (Tangkapan layar Mola TV). Setelah lulus dari Rhodes Preparatory School di usia 18 tahun, De Niro mulai membidik masa depannya dari atas panggung teater sebelum beralih ke layar kaca dan kemudian layar lebar. Menurut Shawn Levy dalam De Niro: A Life , minat itu bermula dari getolnya De Niro terhadap sejumlah program di TV yang tengah jadi tren baru di Amerika medio 1963. “Ketika itu saya sedang memerhatikan sebuah acara TV dan saya bilang, ‘jika para aktor ini bisa punya mata pencaharian seperti ini, di mana akting mereka juga tidak bagus, maka saya tentu bisa tampil lebih baik dari mereka,” ujar De Niro dikutip Levy. Ia pun mengejar karier itu dengan belajar akting di HB Studio dan Lee Strasberg’s Actors Studio. Pada 1965 De Niro mendapat peran figuran di film pendek Encounter. Film berdurasi panjang pertamanya adalah Three Rooms in Manhattan . Seiring waktu, De Niro mulai mendapat peran yang lebih besar. Pada 1973, ia bertemu dan bekerjasama dengan Scorsese lewat film bergenre kriminal Mean Streets . Nama De Niro melejit lewat film Mean Streets garapan Martin Scorsese. (Warner Bros). Sejatinya, De Niro dan Scorsese bukan dua orang yang belum saling kenal sama sekali. Disebutkan Andrew J. Rausch dalam The Films of Martin Scorsese and Robert De Niro , dua orang keturunan Italia yang tumbuh di New York itu saling kenal wajah namun tak pernah berteman dekat. Mereka baru saling mengenal nama dan akrab kala bertemu di casting yang digelar tim produksi Scorsese . “Kita pernah beberapakali juga bertemu dan saling sapa di acara makan malam dan dansa (komunitas) Amerika-Italia. Kita punya teman-teman yang saling mengenal satu sama lain,” kata De Niro dikutip Rausch. Sejak saat itu, Scorsese yang tahu beberapa film yang dibintangi De Niro mempercayakan salah satu peran utama di Mean Streets . Keputusannya tak keliru lantaran filmnya cukup sukses. Dari ongkos produksi hanya 500 ribu dolar, Mean Streets meraup keuntungan hingga 3 juta dolar. Kelak pada 1997, rol master film aslinya dilestarikan US National Film Registry ke Library of Congress karena filmnya dianggap punya pesan budaya, historis, dan estetika yang signifikan. Langganan Nominasi Oscar Film yang meroketkan nama De Niro tak lain adalah film racikan Francis Ford Coppola, The Godfather Part II (1974). Coppola sudah membidik nama De Niro lantaran pernah ikut casting di film epik kriminal pertamanya, The Godfather (1972). Maka ketika menggarap prequelnya, Coppola sudah mencanangkan keputusannya memilih De Niro untuk memerankan tokoh utama Vito Corleone di masa muda. Karakter kondang itu sebelumnya dimainkan aktor ternama Marlon Brando di The Godfather (1972). Namun, kata De Niro dalam diskusi di atas, dia mengaku tak banyak meniru Brando ketika memerankan Corleone di masa muda. “Sebelumnya saya tak pernah bertemu Marlon. Untuk menciptakan gaya karakternya saya hanya melihat lewat film pertamanya yang diputar kembali. Secara teknis saya sedikit mengambil gayanya tapi tidak dengan mimiknya. Saya punya gaya sendiri yang kemudian saya sesuaikan,” sambung De Niro. Karakter fiktif mafia legendaris Vito Corleone yang diperankan De Niro dalam The Godfather Part II. (Paramount Pictures). Tantangan lain yang membutuhkan pendalaman dalam memerankan Corleone adalah soal bahasa. Kendati punya leluhur Italia dan bisa sedikit bahasanya, De Niro tak bisa santai karena karakter Corleone merupakan mafia Italia berwatak dan punya dialek khas Sisilia. “Saya harus mempelajari dialek Sisilia karena di Italia punya beberapa dialek berbeda. Salah satu caranya, saya belajar dari seorang Sisilia di Los Angeles dan juga memperhatikan cara dia berbicara,” lanjutnya. Saat The Godfather Part II dirilis ke pasar, ia tak kalah meledak dari film pertamanya. De Niro bahkan meraih Piala Oscar pertamanya di kategori aktor terbaik lewat The Godfather Part II . Bersama Brando, De Niro membuat rekor pertama sebagai sepasang aktor yang memenangkan Piala Oscar dengan memerankan satu tokoh fiktif yang sama. Sejak kemenangan pertamanya itu, De Niro hampir tak pernah absen jadi langganan nominasi, baik di Academy Awards (Piala Oscar) maupun Golden Globe lewat kiprahnya di beragam genre film. De Niro memenangkan Piala Oscar keduanya sebagai aktor terbaik lewat drama biopik olahraga Raging Bull (1980). Raging Bull mengangkat riwayat Giaccobe ‘Jake’ LaMotta, petinju yang lantas jadi komika atau pelawak stand up-comedy . Ide film ini berasal dari De Niro setelah terpukau dengan kisah hidup LaMotta yang dibacanya dari memoar berjudul Raging Bull: My Story. De Niro lantas menyarankan Scorsese untuk mau mengangkatnya ke layar perak. Memerankan petinju Jake LaMotta dalam Raging Bull , De Niro meraih Piala Oscar keduanya sebagai aktor terbaik. (United Artists). Sembari syuting film The Deer Hunter, De Niro mempersiapkan fisiknya untuk film LaMotta. Oleh keluarga LaMotta, De Niro diberikan beberapa rekaman asli LaMotta ketika sedang berlatih untuk dipelajari gaya bertarungnya di atas ring kendati De Niro juga tak menirunya mentah-mentah. “Saya bertemu, menghabiskan waktu, dan dilatih LaMotta sendiri. Saya juga bertemu mantan istrinya sebagai salah satu upaya meneliti lebih dalam tentang Jake. Tapi pada akhirnya Anda harus punya interpretasi sendiri terhadap kehidupan dia. Juga saya tambahkan beberapa improvisasi, seperti ketika adegan dia di dalam penjara. Saya berimprovisasi menghantamkan kepala ke tembok karena saya ingin memperlihatkan keadaan seseorang yang sangat emosional dan batinnya yang sangat terbebani,” tambah De Niro. Kini di usia senjanya, De Niro mulai selektif terhadap tawaran-tawaran film mengingat fisiknya tak lagi seperti dulu. Ia lebih sering hadir dalam film-film bergenre komedi, seperti waralaba Meet the Parents (2000), Meet the Fockers (2006), dan Little Fockers (2010), dan The Comedian (2016). “Film komedi pertama saya The King of Comedy (1982) juga dikerjakan bersama Martin (Scorsese). Lalu juga ada trilogi Meet the Parents . Saya memang ingin membuat film komedi yang berbeda. Saya suka keeksentrikan masing-masing karakternya,” tandasnya.
- Ketika Demokrasi Mengendalikan Shinto
Di depan corong radio nasional Jepang, Hideo Kishimoto, ahli budaya dan Shinto, mengumumkan hal penting pada 17 Desember 75 tahun silam. Pengumuman yang dibacakannya atas permintaan Civil Information and Educational (CIE), seksi di Supreme Commander for Allied Powers (SCAP) pimpinan Jenderal Douglas MacArcthur, itu tentang Shinto Directive yang dikeluarkan SCAP dua hari sebelumnya. Shinto Directive membawa Jepang keluar dari era lama yang banyak berdasarkan nilai-nilai Shinto. “Semangat kebebasan beragama dipatuhi sepenuhnya dan kebebasan berkeyakinan dalam menghormati tempat suci dijamin sepenuhnya. Kuil menghadapi kebutuhan untuk mengembangkan karakter religius mereka dan mulai sekarang dapat dengan bebas berusaha untuk membuat awal yang baru ke arah yang baru,” demikian penggalan pidato Kishimoto sebagaimana dikutip Helen Hardacre dalam Shinto: A History . Shinto Directive digagas MacArthur setelah penandatanganan penyerahan resmi Jepang kepada Sekutu di geladak kapal USS Missouri , 15 September 1945. Tujuannya untuk memisahkan Shinto (agama) dari negara. MacArthur menilai, pemisahan itu merupakan prasyarat agar janji pembangunan politik dan ekonomi Jepang oleh Amerika pascaperang dapat dilaksanakan. Pembangunan hanya dapat dijalankan apabila sifat ultranasionalis dan militeristis pada rakyat Jepang sudah dihilangkan. Untuk dapat menghilangkan keduanya, dia –sebagaimana para sarjana Amerika memandang Shinto– menganggap bahwa yang pertama harus dibenai adalah akar dari keduanya, yakni Shinto. MacArthur kemudian menugaskan kepala CIE Letnan William K. Bunce, yang merupakan ahli budaya Jepang, untuk mengkonsep Shinto Directive. “Sebagaimana dinyatakan dalam kalimat pembukaannya, Directive tersebut dikeluarkan untuk (1) membebaskan rakyat Jepang dari paksaan langsung atau tidak langsung untuk percaya atau mengaku percaya pada suatu agama atau kultus yang secara resmi ditunjuk oleh negara, (2) untuk melepaskan diri Orang Jepang dari menanggung beban dukungan finansial wajib dari sebuah ideologi yang telah berkontribusi pada rasa bersalah perang mereka, kekalahan, penderitaan, privasi dan kondisi menyedihkan saat ini, (3) untuk mencegah terulangnya penyimpangan teori dan kepercayaan Shinto menjadi propaganda militeristik dan ultranasionalistik yang dirancang untuk menipu orang-orang dan memimpin mereka ke dalam perang agresi, dan (4) untuk membantu mereka dalam mengubah kehidupan nasional mereka untuk membangun Jepang baru berdasarkan cita-cita perdamaian dan demokrasi abadi. Tujuan tambahannya adalah untuk memperkuat prinsip kebebasan beragama,” tulis William P. Woodard dalam The Allied Occupation of Japan 1945-1952 and Japanese Religions. Bunce merespon perintah MacArthur dengan membentuk tim yang juga mengikutsertakan Kishimoto. Bagaimanapun, Bunce sadar urusan yang digarapnya merupakan isu amat sensitif. Pengikutsertaan Kishimoto dilakukan untuk mendapatkan pandangan lebih holistik mengenai Shinto sehingga tim terhindar dari membuat kesalahan fatal. Dalam studinya, tim membagi Shinto menjadi tiga: Kuil Shinto, Negara Shinto, dan Nasionalis Shinto. Negara Shinto, yang sebetulnya tidak pernah menjadi kebijakan resmi Kekaisaran, mendapat perhatian lebih karena MacArthur dan para sarjana Amerika menganggapnya sebagai pangkal masalah yang menyebabkan terjadinya Perang Pasifik. “Kalimat pembukaan studi tersebut mencatat bahwa Negara Shinto telah ‘digunakan oleh militeris dan ultranasionalis... untuk membangkitkan dan menumbuhkan semangat militer di dalam rakyat dan untuk membenarkan perang ekspansif,’” tulis Woodard mengutip kalimat pembuka draf. Yang membuat sulit tim adalah pembahasan mengenai kultus Kokutai , identitas nasional yang mendasari sistem pemerintahan, karena amat sensitif. Dalam soal ini, kaisar dan posisi politiknya mesti ditinjau ulang meski dalam pandangan masyarakat Jepang itu merupakan hal terlarang. Dalam keyakinan orang Jepang, kaisar merupakan titisan dewa Amaterasu. Oleh karena itu, Bunce merincinya lewat poin-poin spesifik agar mendapat pembahasan lebih dalam. Poin-poin itu antara lain: penilaian hari libur nasional; peringatan dan penghormatan pada korban perang melalui monumen, permakaman umum, dan tempat pemujaan bagi korban perang. Mengenai kaisar, tim merinci lebih dalam ke dalam sub poin, meliputi: pertanyaan umum tentang dugaan keilahian kaisar, yang turunannya antara lain penghapusan desain mata uang dan perangko yang militeristik di samping larangan literatur ultranasionalistik. Praktik membungkuk kolektif ke istana yang diterapkan di sekolah, dan perlakuan terhadap tempat-tempat tertentu yang ditunjuk secara khusus terkait erat dengan Kaisar Meiji. Kesimpulan Bunce, Shinto tak dapat dihapuskan dan dia menganggap tak perlu menghapuskannya. Adapun bahaya dari Negara Shinto yang diyakini Bunce terletak pada: dukungan sponsor, dan propagasi oleh negara; penggunaan mitologi samar-samar tentang asal ilahi tanah, kaisar, dan orang-orang yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang dan nasionalis Shinto; dan paksaan yang diberlakukan pada semua orang Jepang untuk menjalankan ritual dan secara lahiriah menerima premisnya sebagai fakta sejarah. “Bahaya juga ditemukan bukan pada interkoneksi antara kaisar dan Shinto, tetapi dalam sifat khas dari sistem politik yang secara nominal menempatkan semua kekuatan sipil dan militer di tangan seorang raja-pendeta tetapi sebenarnya membiarkan kekuasaan itu menjadi dilakukan oleh setiap kelompok kuat yang menguasai mesin pemerintahan,” sambung Woodard. Dari hasil analisis itu, Bunce menawarkan solusi berupa: pemisahan menyeluruh antara agama dan negara, dan mengamankan revisi Konstitusi yang akan dilakukan terutama tentang penempatan kendali negara langsung di tangan perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Bertolak dari solusi itu, Bunce merekomendasikan penghapusan semua dukungan, arahan, atau kendali pemerintah terhadap tempat-tempat suci, pendeta, upacara atau beragam ritual lain. Dengan begitu, Negara Shinto diposisikan sama dengan agama-agama lain. Kedua, Shinto mesti dihapus dari sistem pendidikan. Shinto hanya diizinkan berlanjut sebagai agama individu. Bertolak dari solusi itu, kata Woodard, Bunce merekomendasikan agar penyebaran Shinto dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun di institusi pendidikan manapun yang didukung seluruhnya atau sebagian oleh dana publik harus dilarang. Kemudian, perintah kerajaan tentang Pendidikan, sebagai instrumen tunggal paling penting untuk memasukkan kesalehan dan kesetiaan kepada kaisar, harus diganti, diubah, atau ditafsirkan ulang dengan reskrip baru yang secara tegas menolak interpretasi ultranasionalistik atau dibuang dari sekolah. Semua altar Shinto, yang biasa disebut kamidana harus disingkirkan dari semua sekolah umum dan bangunan umum. Aturan wajib hadir siswa dan guru di kuil harus secara tegas dilarang dan diskriminasi terhadap siapa pun karena pandangannya tentang Shinto tidak boleh diizinkan. Terakhir, Dewan Kuil ( Jingi-in ) Kementerian Dalam Negeri dan semua lembaga yang didukung sepenuhnya atau sebagian oleh dana publik dan memiliki fungsi utama baik penyelidikan maupun penyebaran Shinto atau pelatihan imamat harus dihapuskan. Tiga bulan setelah berjibaku lewat studi dan diskusi, tim berhasil menyelesaikan draf mentah. Setelah dilaporkan kepada SCAP pada 3 Desember dan hasilnya memuaskan, draf mengalami perbaikan redaksional. Setelah semua selesai, SCAP mengeluarkannya sebagai kebijakan resmi pada 15 Desember. Dua hari kemudian, Kishimoto mengumumkannya dalam siaran radio. Respon orang Jepang berbeda-beda terhadap Shinto Directive. Ada yang sekadar tidak setuju, benci, melawan, acuh tak acuh, ada pula yang mendukung. Pemerintah Jepang mematuhi Shinto Directive. Dewan Kuil bahkan telah mengeluarkan instruksi kepada tiap kepala prefektur agar menghentikan kontribusi ke kuil-kuil di wilayah masing-masing sehari setelah pengumuman Kishimoto. “Untuk alasan yang berkaitan dengan reorganisasi kuil dan penggabungannya di bawah Ordonansi Organisasi Keagamaan, beberapa undang-undang tidak sepenuhnya dihapuskan sampai Februari 1946. Pada tanggal 1 Dewan Kuil dan Kantor Pembangunan Kembali Ise ( Zojingu Shicho ) di Kementerian Dalam Negeri dibubarkan dan keesokan harinya dikeluarkan perintah untuk menghapus atau mengubah 34 aturan hukum yang berkaitan dengan Shinto. Demikianlah Negara Shinto berakhir,” tulis Woodard. Kendati beitu, orang-orang di Kuil Kume di Prefektur Shimane membujuk walikota dan kepolisian setempat agar bergabung ke dalam barisannya sebagai oposisi. Akibatnya, polisi dari tingkatan lebih tinggi mengambil tindakan. “Polisi mengintimidasi anggota Society dengan menginterogasi mereka, menyita daftar keanggotaan, dan mencoba untuk mengusir mereka,” tulis Helen. Meski tujuannya baik, kemunculan Shinto Directive tetap tak lepas dari pertanyaan. “Liputan surat kabar tentang Shinto Directive sangat minimal dan menunjukkan ketertarikan paling besar pada pertanyaan apakah kaisar akan dipaksa turun tahta atau sistem kekaisaran dihilangkan sama sekali. Tetapi karena instruksi itu dikeluarkan hanya empat bulan setelah penyerahan, kekhawatiran tentang bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya masih menjadi perhatian utama semua orang. Selain itu, Pendudukan telah memberlakukan kebijakan penyensoran yang dimulai pada September 1945, sehingga bahkan jika seseorang dengan keras tidak menyetujui Shinto Directive, protes tampaknya tidak akan terjadi. Dilarang mengkritik Pendudukan atau kebijakannya, sebuah sikap ironis bagi sebuah rezim yang bermaksud mendemokratisasi Jepang,” tulis Helen
- Drama Penangkapan Brigjen Soepardjo
Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo jadi buronan kelas kakap. Kodam V/Jaya memasukkan namanya ke dalam daftar hitam pencarian. Soepardjo diburu karena dianggap bertanggung jawab dalam operasi makar Gerakan 30 September 1965 (G30S). Padahal, Soepardjo sebelumnya bertugas di Kalimantan Barat sebagai panglima Komando Tempur Ganyang Malaysia. Soepardjo dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer Luar Biasa: Perkara M.S. Supardjo , mencatat bahwa banyak sekali berita-berita suratkabar ibukota yang memberitakan dirinya. Termasuk pula foto-foto maupun reklame yang bertuliskan, “tangkap hidup atau mati Supardjo ex brigadir jenderal TNI adalah gembong Gestapu/PKI” dan sebagainya. Dewan Revolusi yang berada di balik G30S, menempatkan Soepardjo sebagai orang kedua setelah Letkol Untung Sjamsuri. Untung sendiri telah dieksekusi mati pada akhir Maret 1966 di daerah Cimahi, Jawa Barat. Sementara itu, pemimpin PKI D.N. Aidit sudah lebih dulu dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah, diperkirakan itu terjadi pada November 1965. Tersisa Sebatang Kara Menurut Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang . Soepardjo merupakan satu-satunya pimpinan militer G30S yang belum berhasil diciduk sampai awal 1967. Di sisi lain, komplotannya sudah berhasil ditumbangkan atau diringkus. Melihat kenyataan tersebut, sosok Soepardjo memang perlu dicermati. Mengapa dia sanggup bertahan begitu lama? “Sebagai seorang perwira tinggi berkualifikasi Rangers , ternyata hanya dia yang tetap bisa menunjukkan kemampuan. Sanggup berjuang sendirian dalam belantara Ibu Kota,” tulis Julius Pour. Terhitung, satu setengah tahun lamanya Soepardjo meloloskan diri sejak G30S meletus. Soepardjo mulai menghilang setelah kemunculan terakhirnya di kawasan Halim Perdanakusuma pada awal Oktober 1966. Mula-mula. dia bersembunyi di sebuah rumah di belakang gedung hiburan Miss Cicih, Pasar Senen selama satu malam. Di daerah itu, Soepardjo berkenalan dengan beberapa orang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah seorang dari mereka bernama Saleh mengajak Soepardjo menetap di Cilincing, Jakarta Utara. Selama empat bulan bermukim di Cilincing, Soepardjo tinggal berpindah. Mulai dari rumah Mayor (Laut) Suwardi, kemudian Kapten (Laut) Nandang, hingga sekali waktu di rumah Kopral (Udara) Sutarjo di Komplek AURI Halim Perdanakusuma. Atas bantuan Suwardi, Soepardjo berhasil memiliki KTP baru Kelurahan Semper dengan nama Sjarief. Mengibuli Kalong Untuk menangkap Soepardjo, Kodim 0501 Jakarta Pusat membentuk satuan tugas dengan sandi “Operasi Kalong” pada 16 Agustus 1966. Mendengar namanya, dapat ditebak operasi ini bergerak pada malam hari. Operasi Kalong dipimpin oleh Kapten (Inf.) Suroso, beranggotakan 8 intel dari kodim-kodim di wilayah Kodam V/Jaya. Pada 24 Desember 1966, tim Operasi Kalong melancarkan operasi penyergapan. Namun, Soepardjo keburu mencium gelagat tidak aman sehingga dia berhasil meloloskan diri. Meskipun demikian, anggota Satgas Operasi Kalong berhasil mengetahui tempat persembunyian Soepardjo. Keesokan hari, upaya penyergapan kedua dilancarkan. Satgas Operasi Kalong bekerja sama dengan beberapa anggota Angkatan Laut yang tinggal di daerah sekitar persembunyian Soepardjo. Operasi kedua ini dilakukan dengan sangat hati-hati sekaligus dipersiapkan sebagai hadiah “Natal”. Lagi-lagi Soepardjo gagal diringkus. “Rupanya Soepardjo memiliki feeling yang tajam dan gerakan yang licin bagaikan belut. Ia kembali berhasil meloloskan diri dari upaya penyergapan,” tulis Ki. Onto Bogo dalam “Operasi Unik: Penyergapan Gembong PKI Ex Brigjen Supardjo” termuat di majalah Senakatha, No. 19, Oktober 1994. Setelah berhasil mengelabui pemburunya, Soepardjo bergegas meninggalkan daerah Cilincing. Soepardjo menuju kawasan Halim Perdanakusuma dengan menyamar sebagai pedagang radio keliling. Penyaramarannya cukup apik. Jenderal bintang satu ini berpakaian layaknya pedagang keliling berkopiah hitam dan berkacamata. Soepardjo yang berperawakan gagah dan berkumis sedang itu menggunakan nama samaran: Ibrahim. Tertangkap di Loteng Setiba di Halim, Soepardjo menumpang di rumah seorang kenalannya bernama Kopral Udara Sutarjo yang tinggal di Komplek AURI Rajawali. Sutarjo meyediakan kamar khusus yang berfungsi sebagai kamar kerja maupun kamar tidur bagi Soepardjo. Namun, bila sewaktu-waktu situasi tidak aman, Soepardjo tidur di atas loteng yang diatur sedemikian rupa. Di tempat ini pula Soepardjo menyimpan risalah yang ditulisnya sendiri bertajuk “Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”. Satgas Operasi Kalong terus membuntuti Soepardjo. Kapten Suroso memimpin langsung operasi penangkapan sekaligus menjalin kerja sama dengan Komandan Pangkalan AU Halim Perdana Kusuma Kolonel (Udara) Rusman. Untuk itu, AURI memperbantukan 4 intel dan 8 anggota Polisi Militer Angkatan Udara. Sejak itu, Satgas Operasi Kalong beranggotakan 20 orang. Memasuki Idul Fitri, 12 Januari 1967, Satgas Operasi Kalong bergerak dari markasnya di bilangan Tanah Abang menuju Halim pukul 03.00. Pukul 05.00, tim menggerebek kediaman Kopral Sutarjo. Kapten Suroso memerintahkan anak buahnya memeriksa setiap penjuru rumah. Setelah semua kamar digeledah, buronan yang dicari tidak ketemu. Kapten Suroso kemudian memerintahkan Sersan Sukirman dan Peltu Rosadi naik ke atap untuk memeriksa loteng. Dalam keadaan remang temaram, Peltu Rosadi melaporkan adanya benda putih tergeletak di sudut loteng. Sementara itu, Kapten Suroso mendengar bunyi gesekan kaki di atap yang mencurigakan. Untuk memastikan, Peltu Rosandi diperintahkan sekali lagi naik ke atap dan menyergap. Setiba di loteng terjadilah percakapan antara Peltu Rosandi dan Brigjen Soeparjo. “Kalau manusia harap menyerah, tetapi kalau bukan akan saya tembak,” seru Peltu Rosandi. Mendengar ancaman itu, Soepardjo memperlihatkan diri dan membalasnya dengan jawaban, “ya, saya menyerah,” sebagaimana terkisah dalam Senakatha . Supardjo berhasil ditangkap hidup-hidup dalam suatu penggerebekan setengah jam yang mencekam. Setelah diringkus, Soepardjo diangkut panser ke markas Kodim 0501. Kedua belah tangannya diborgol. Ketika memasuki anak tangga depan kantor Kodim, sebagaimana dicatat juru warta TVRI Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI , keringat mengucur dari wajah Soepardjo sambil tangannya bergetar. Soepardjo kemudian dihadapkan kepada Komandan Kodim 0501 Letkol Sudjiman yang dulu pernah jadi anak buahnya. Penangkapan Soepardjo, seperti disebutkan Ki Onto Seno melahirkan guyonan, “Baru dalam sejarah, ada jenderal diterkam kalong di atas loteng rumah.” Sementara itu, berbagai media ibukota ramai-ramai memberitakannya sebagai hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia. Namun, Oei Tjoe Tat, menteri Kabinet Dwikora dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno agaknya meragukan peran Soepardjo sebagai otak di balik G30S. Menurut Oei, Soepardjo pernah menyampaikan kepadanya tentang adanya golongan yang serius dengan konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit. “Sekiranya benar, ia tidak berniat berontak terhadap pemerintahan Sukarno,” kata Oei.
- Bu Ruswo, Pahlawan dari Balik Dapur Umum
Dalam keadaan lelah usai menyabung nyawa dalam pertempuran di front Bukateja, Purbalingga pada 1947, prajurit-prajurit republik terpaksa “berjuang” kembali untuk bisa kembali ke tempat asal, Yogyakarta. Selain terpaksa duduk di bordes rangkaian kereta api, mereka mesti menahan lapar di tengah udara dingin sepanjang perjalanan Temanggung-Yogyakarta itu lantaran gerimis. “Kalau begini ada Bu Ruswo tidak bakal lapar. Tidak bakal haus. Tidak bakal kedinginan. Mulut bisa ngebul!” kata salah satu prajurit kepada temannya, seperti diceritakan Tjiptoning dalam Majalah Minggu Pagi , 1 Februari 1959. Namun, setibanya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, asa mereka kembali muncul. Seorang yang mereka harapkan telah siap sedia. Dialah Ibu Ruswo, ibunya para prajurit. Bu Ruswo merupakan orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia tak mengangkat senjata dan maju ke medan pertempuran, namun berjuang di belakang layar dengan memasok logistik bagi para prajurit. Lahir dengan nama Kusnah pada 1905 di Yogyakarta, ia kemudian lebih dikenal sebagai Bu Ruswo sejak menikah dengan pemuda bernama Ruswo Prawiroseno. Pada 1928, Bu Ruswo mulai aktif dalam berbagai organisasi. Mulanya ia bergabung dengan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO), organisasi kepanduan yang berdiri sejak 1926. INPO kemudian melebur dengan beberapa kepanduan lain menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Menurut Tjiptoning, Bu Ruswo memang memiliki minat dalam kepanduan. Selama aktif dalam kepanduan, Bu Ruswo seringkali berperan dalam mengurus logistik. “Di Jogja, ada jambore KBI urus makanan. Ada Perkino (Perkemahan Kepanduan Indonesia) di Ambarwinangun (Jogja) – Sri Sultan untuk pertama kalinya hadir; zaman Belanda!-, urus makanan. Ada Kongres Indonesia Muda, urus makanan. Ada Kongres Taman Siswa, urus makanan, ada Kongres PNI, Kongres Partindo, kongres PSSI (sepakbola) urus makanan!,” tulis Tjiptoning. Pada zaman pendudukan Jepang, Bu Ruswo bergabung dengan Badan Pembantu Prajurit Indonesia (BPPI). BPPI kemudian berubah menjadi Badan Penolong Keluarga Korban Perjuangan. Karena keaktifannya, Bu Ruswo bersama kawannya Lasmidjah Hardi pernah dipanggil pemerintah Dai Nippon. "Dengan hati berat dan bermacam-macam pertanyaan dalam hati, kami menghadap. Tapi syukurlah bukan hukuman yang kami terima, melainkan tugas untuk memimpin Fujinkai (organisasi wanita) di Yogyakarta,” tulis Lasmidjah Hardi dalam Sumbangsihku bagi Pertiwi: (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran). Selama Revolusi Fisik di Yogyakarta, Bu Ruswo aktif mengorganisir dapur-dapur umum di setiap kantong pasukan Republik. Ia juga menggerakkan para perempuan agar turut membantu perjuangan dari belakang layar, di samping mengumpulkan sumbangan penduduk untuk memenuhi kebutuhan logistik. Menurut Pranoto Reksosamodra, yang kelak menjadi Asisten Pernsonalia Men/Pangad, dalam Memoar Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra, Bu Ruswo rajin keluar masuk kota-kota yang kala itu diduduki pihak Belanda. “Dia bertugas sebagai kurir atau berbelanja keperluan kami yang sedang bergerilya di luar kota,” tulis Pranoto . Pranoto mengenang, suatu ketika dia bertemu dengan Bu Ruswo yang membawakan oleh-oleh surat kabar, kemenyan, kelembak, dan tembakau. Dengan itu, dia dan gerilyawan lainbisa merokok meski kertas rokoknya menggunakan surat kabar bekas. Meski dikenal sebagai pahlawan dari dapur umum, Bu Ruswo sebenarnya tak melulu mengurus makanan. Ia sempat bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan Indonesia, Komite Penyokong Perguruan Indonesia, hingga Perkumpulan Pembrantasan Perdagangan Perempuan dan Anak (P4A). Dalam Peng hancuran Gerakan Perempuan, Saskia Wieringa mencatat bahwa Bu Ruswo turut hadir dalam Kongres Persatuan Perkumpulan Isteri Indonesia (PPII) II di Surakarta pada 1932 di mana isu perdagangan perempuan santer diperbincangkan. Bu Ruswo, sebagaimana dikutip Wieringa dari Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia, mengatakan bahwa perdagangan perempuan merupakan “penyakit dunia.. yang sudah ada sejak dulu kala sampai dewasa ini, dari Timur maupun sampai Barat… Suatu penyakit yang merajalela di setiap sudut hubungan manusia, dari tingkat rendah sampai tinggi, di kalangan kulit putih dan berwarna.” Namun, lantaran sudah terlanjur dikenal sebagai pahlawan dari balik dapur umum, aktivitas maupun pemikiran Bu Ruswo dalam berbagai organisasi perempuan hampir tak tercatat dalam sejarah. Atas jasa-jasanya, pada 1958 Bu Ruswo dianugerahi B intang Gerilya oleh Presiden Sukarno yang diberikan bersama penganugerahan untuk almarhum Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Nama Bu Ruswo kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Yogyakarta, Jalan Ibu Ruswo.





















