top of page

Penolakan Vaksin Dulu dan Kini

Dulu atau sekarang, selalu ada penolakan terhadap vaksinasi. Di era kolonial, penolakan ada yang dilatari alasan takut anak dijadikan makanan buaya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mantri vaksin sedang melakukan tugasnya di pelosok. Sumber: “Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica”.

8 Jul 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 5 Mei

SEJAK beberapa tahun bekalangan, gerakan anti-vaksin muncul di tanah air. Alasan di balik gerakan beragam. Ada yang beranggapan vaksin mengganggu sistem kekebalan anak, dilarang agama, atau mengira vaksin jadi penyebab autisme anak. Meski klaim terakhir telah dibantah para ilmuwan, gerakan ini tak lantas surut.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut keraguan penggunaan vaksin jadi satu dari sepuluh ancaman terbesar pada kesehatan global 2019. Buntut penolakan ini tak sepele, ada kemunculan kembali penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksin. Padahal beberapa penyakit pernah hampir diberantas di masa lalu.


"Ada infeksi yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun atau kita tidak ingat kapan terakhir kali kita melihatnya," kata Michael Angarone, asisten profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, Amerika Serikat, seperti ditulis Beritagar.ID.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
 Dari Filipina, metode “quick count” merambah ke Indonesia di akhir masa Orde Baru. Hasilnya tak pernah meleset jauh dari penghitungan manual.
Dari Filipina, metode “quick count” merambah ke Indonesia di akhir masa Orde Baru. Hasilnya tak pernah meleset jauh dari penghitungan manual.
Rivalitas dua kiblat sepakbola dunia, Brasil-Argentina, yang abadi hingga kini.
Rivalitas dua kiblat sepakbola dunia, Brasil-Argentina, yang abadi hingga kini.
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Perkumpulan Multatuli di Belanda menyerahkan artefak bersejarah kepada pemerintah Lebak.
Perkumpulan Multatuli di Belanda menyerahkan artefak bersejarah kepada pemerintah Lebak.
transparant.png
bottom of page