top of page

Hasil pencarian

9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kepak Sayap Dara asal Yogyakarta

    SEBUAH undangan dari aktivis perempuan India datang kepada Siti Sukaptinah (Nyonya Sunaryo Mangunpuspito) saat Perang Kemerdekaan masih berkecamuk. Undangan itu berisi permintaan agar Sukaptinah hadir dalam All Indian Women’s Congress yang diselenggarakan di Madras, November 1947. Sukaptinah bingung. Di satu sisi dia ingin datang untuk mengabarkan kemerdekaan Indonesia yang baru berumur dua tahun supaya mendapatkan pengakuan dari negara lain. Di sisi lain, dia tak punya modal. Jangankan paspor, uang pun tak ada. Berkunjung ke luar negeri di tengah situasi krisis menjadi hal yang agak muskil dilakukan. Tapi tekad Sukaptinah kadung membara. Bermodal kenekatan, dia akhirnya mengepalai keberangkatan delegasi Indonesia ke India. Sukaptinah ditemani Utami Suryadarma dan Sulianti Soekonto. Dalam rombongan itu hadir pula Herawati Diah, wartawan Harian Merdeka yang ditugaskan meliput. Mereka semua menumpang pesawat Kalingga Airlines milik Bijayananda (Biju) Patnaik, pengusaha dermawan India kepercayaan Jawaharlal Nehru. Patnaik kerap mengemban misi rahasia bolak-balik terbang ke Yogyakarta untuk membawakan obat-obatan juga bantuan lain untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kebetulan, kala itu Patnaik di Yogyakarta untuk menemui Sukarno. Informasi tentang rencana kepulangan Patnaik ke India didapat dari suami Utami, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Soeriadi Suryadarma. Sukaptinah, kala itu merupakan anggota Badan Pekerja Komisi Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), langsung melobi sekretariat negara untuk menjadi perantara agar rombongan Korps Wanita Indonesia (Kowani) bisa menumpang pesawat Patnaik. Lobi Sukaptinah berhasil. Pesawat bertolak ke India pada akhir 1947. Saat transit di Singapura, rombongan disambut Mr. Oetojo Ramelan, kakak Utami, yang menjadi anggota perwakilan RI di Singapura. Utami menceritakan dalam memoarnya, Saya, Soeriadi, dan Tanah Air, selama di Singapura mereka mengurus siaran radio luar negeri dan mengadakan konferensi pers dengan para wartawan Singapura untuk memberitakan kemerdekaan Indonesia. Setelah menyelesaikan tugas, Sukaptinah dan rekan-rekannya cuci mata ke pusat perbelanjaan di Arab Street dan Change Aley. Mereka keasyikan jalan-jalan lantaran lama tak melihat barang mewah dan pernak-perik lucu. Alhasil, keempat perempuan itu terlambat sampai lapangan terbang. Muka masam Patnaik dan kru yang marah langsung menyambut mereka. Sesampainya di New Delhi, mereka langsung menggunakan kesempatan untuk menemui Mahatma Gandhi guna memperbincangkan kemerdekaan Indonesia. Baru setelah itu mereka terbang ke Madras, India Selatan. Di Madras, Sukaptinah dan rekan-rekan menginap di rumah Swaminatham yang juga peserta kongres. Sebagai Ketua Kowani dan kepala delegasi Indonesia, Sukaptinah menceritakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang menarik simpati peserta kongres. Dalam kongres itu delegasi Indonesia berkenalan dengan tokoh perempuan India, seperti aktivis buruh dan ketua kongres Shrimati Anusuyabai Kale, penulis kenamaan Avabai Bomanji Wadia, dan pengacara perempuan Mithan Jamshed Lam. Mereka saling tukar pikiran, terlebih soal politik perempuan. Sukaptinah yang sudah malang-melintang dalam gerakan perempuan sejak era kolonial menemukan kesamaan perjuangan dengan perempuan India. Gerak dalam Politik Sepakterjang Sukaptinah dalam gerakan perempuan terkenal sejak era kolonial. Selain aktif di berbagai organisasi, seperti mengikuti kongres perempuan sejak pertama diadakan, Sukaptinah ikut membidani beberapa organisasi perempuan seperti Istri Indonesia. Sukaptinah ikut membubarkan Fujinkai dan menggantinya dengan Perwani yang merupakan fusi dari beberapa organisasi perempuan. Di pemerintahan, Sukaptinah pernah duduk di Dewan Kota Semarang (Gemeente Raad Semarang) sebagai wakil perempuan dari Parindra. Setelah dari Parindra, Sukaptinah bergabung dengan Masyumi pada 1946, persis setelah pindah dari Jakarta ke Yogyakarta bersama rombongan presiden. Ia masuk anggota Pengurus Besar (PB) Muslimat Masyumi, diketuai Zainab Damiri yang kelak menjadi perempuan pertama di DPRD DIY. Keaktifan Sukaptinah di Masyumi, tulis  Sri Sjamsiar Issom dalam tesisnya “Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito Sosok Wanita Pergerakan Indonesia (1928-1956)” terus berlanjut hingga ia naik menjadi ketua PB Muslimat Masyumi. Pada 1950 ia menjadi anggota DPRS dan menjadi wakil ketua panitia Rancangan Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran. Pada pemilu 1955, Sukaptinah mencalonkan diri sebagai wakil perempuan dari Masyumi untuk pemilihan anggota DPR. Ia terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang duduk di DPR plus menjadi anggota Dewan Konstituante. Ketika UU Perkawinan yang adil dibahas di parlemen, sikap Sukaptinah berubah. Jika di masa kolonial dia bergabung dan menjadi ketua Istri Indonesia yang menentang poligami, di parlemen dia tampak mendukung. Dukungan itu terlihat kala Komisi Nikah Talak dan Rujuk tak kunjung menggolkan RUU perkawinan yang adil. Nyonya Sumari, anggota DPR dari fraksi PNI, maju membawa usulan tentang hukum pernikahan yang menolak keras poligami. Usulan itu ditentang Sukaptinah. Perubahan sikap Sukaptinah, seperti ditulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, lantaran ia datang dari golongan Islam. Menurut Saskia, perempuan yang tergabung dalam organisasi Islam sayap perempuan cenderung berada di posisi pro poligami. Hal ini lantaran induk organisasi mereka yang dikuasai kaum laki-laki mengambil posisi pro sehingga sayap perempuannya mau-tak-mau harus mengekor. Secara pribadi, beberapa anggota organisasi Islam sayap perempuan menolak poligami secara diam-diam atau memilih tak bersuara. Keaktifan Sukaptinah dalam tiga lembaga di kota yang berbeda membuatnya harus bolak-balik Yogyakarta-Jakarta-Bandung. Anak dan suaminya tinggal di Yogyakarta, kerja-kerja DPR dilakukan di Jakarta, sementara Konstituante di Bandung. Perjalanan Sukaptinah dari kota ke kota itu berakhir di masa Demokrasi Terpimpin ketika Sukarno membubarkan Masyumi dan PSI serta menekan simpatisannya. Karena partainya dibubarkan, otomatis Sukaptinah keluar dari DPR. Sukaptinah juga disingkirkan dari kepengurusan Kowani, seperti halnya Maria Ullfah. Sukaptinah kembali ke Yogyakarta dan tetap aktif dalam gerakan perempuan, antara lain dengan mendirikan Wanita Islam –organisasi perempuan independen yang bukan sayap organsasi– pada 1962. Sukaptinah juga membidani kelahiran Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta (BMWIY), semacam forum kerjasama antar organisasi perempuan Islam di Yogyakarta. Atas jasanya dibidang politik dan gerakan perempuan, pemerintah menganugerahinya Bintang Mahaputra paa 1993, dua tahun setelah Sukaptinah meninggal. Penerimaan anugerah itu diawakili Indiarto, anak Sukaptinah.

  • Penjaja Diri di Kebun Deli

    TERCIDUKNYA artis beken berinisial VA kembali menguak tabir prostitusi yang melibatkan artis. Angka transaksinya mencengangkan: 80 juta rupiah. Kabar ini lantas viral dan jadi perbincangan. Dari masa ke masa, faktor ekonomi (baca: uang) memang selalu memainkan peran utama dalam bisnis esek-esek macam ini. Di kalangan selebritis, gaya hidup yang serba glamor menuntutnya agar terus eksis. Dan ini perlu biaya tinggi. Tidak heran keputusan untuk melacurkan diri jadi opsi. Apalagi di zaman sekarang, semakin majunya teknologi informasi, memungkinkan bisnis prostitusi dilakukan secara daring. Bila sudah berususan dengan hukum, kaum perempuanlah yang paling merasakan nahasnya. Kembali ke masa silam, fenomena yang hampir serupa juga pernah mewarnai kehidupan masyarakat perkebunan di tanah Deli, Sumatera Timur. Prostitusi awalnya diperkenalkan sebagai solusi persoalan sosial di perkebunan. Seiring waktu, ia menjadi bisnis hitam yang mengeksploitasi perempuan. Sejak lahan di buka tahun 1860, penggarapan perkebunan tembakau Deli hanya menggunakan tenaga kerja laki-laki. Pertama-tama didatangkan kuli dari Tionghoa kemudian Jawa. Maraknya praktik homoseksual di kalangan sesama kuli lelaki mendorong para tuan kebun merekrut pekerja wanita. Pada 1873, kuli-kuli perempuan didatangkan dari Jawa. Mereka dikaryakan untuk pekerjaan ringan, seperti menyortir daun tembakau. Tidak heran mereka menerima upah yang lebih kecil daripada kuli laki-laki. Mereka hanya mendapat 1,5 gulden atau 2,20 dolar, setengah dari pendapatan buruh pria. Selain itu, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal. Untuk bermukim, mereka harus membaur di barak laki-laki. Menurut Ann Laura Stoler dalam Kapitalisme dan Konfrontasi diSabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 , banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Deli karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di Deli, kenyataan berbicara lain. Bahkan, untuk tempat tinggal saja kuli perempuan ini tidak diberi fasilitas.  Untuk melanjutkan hidup yang lebih berada, kuli perempuan dijepit oleh keadaan. Mereka dihadapkan pada pilihan terbatas: tetap menjadi kuli perkebunan dengan upah yang sangat sedikit atau memperoleh penghasilan tambahan dengan melacurkan diri. Sejarah mencatat, cukup banyak yang melakoni pilihan terakhir.        Menurut Jan Breman, sejarawan Belanda yang meneliti sejarah perkebunan di Hindia, kuli-kuli perempuan di perkebunan Deli sejatinya memang diproyeksikan untuk menjadi pelacur. Mereka terpaksa melacurkan diri demi sekedar bertahan hidup atau supaya bisa membeli kebutuhan seperti pakaian, sabun, bedak, dan lulur. Akibatnya, terjadilah praktik prostitusi. Transaksi sekaligus praktiks seks kerap terjadi di tengah rerimbunan tembakau ataupun di barak-barak tempat tinggal para kuli lelaki. Pasangan yang merasa cocok akan mengikat diri ke dalam relasi sejoli meski tanpa status pernikahan. Di sisi lain, tuan kebun pemilik modal diuntungkan karena prostitusi menjadi alat pemancing untuk membuat betah kuli laki-laki bekerja di perkebunan. Bahkan, tidak jarang pula tuan kebun yang terhormat itu juga ikut memakai jasa kuli perempuan guna memuaskan birahinya. “Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20. “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.” Perempuan lagi-lagi menjadi pihak yang paling nelangsa. Dalam romannya Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract, -  yang diadaptasi dari brosur De Millioenen uit Deli  yang terbit pada 1902 - Emil W. Aulia menggambarkan penderitaan kaum kuli perempuan. Katanya, Di Deli, perempuan-perempuan muda Jawa hidup lebih menderita dibandingkan orang Kristen yang hidup di zaman Romawi era Kaisar Nero.Mereka menjadi korban nafsu kuli pria Tionghoa selama masa kontrak tiga tahun lamanya. “Tuan-tuan kebun membiarkan perempuan-perempuan Jawa hidup dalam kelaparan hingga mereka kemudian dijadikan santapan pria-pria Cina,” tulis Emil. “Perempuan-perempuan Jawa, baik lahir maupun batin, sangat menderita dan pengusaha perkebunan menganggap hal itu bukan sesuatu yang serius.”

  • Perjalanan Dinas Menyedihkan Demi Planetarium

    SIAPA sangka Jena, kota kecil yang tenang di Jerman, punya pertautan dengan Jakarta? Kota ini menjadi rujukan para ilmuwan dalam membangun Planetarium. Di kota inilah ilmu astronomi berkembang pesat. Kemudian di sini pula planetarium modern pertama di dunia berdiri pada 1925.

  • Siksa Neraka dalam Relief Candi Jago

    Yaksa Kunajarakarna melakukan meditasi Buddha di Gunung Semeru agar dapat dibebaskan dari watak sebagai setan dalam inkarnasinya. Setelah diizinkan menghadap Buddha, dia mengajukan permohonan agar diberikan pelajaran mengenai dharma . Dia berharap diberi penerangan mengenai berbagai nasib yang dialami makhluk hidup. Sang Buddha pun memuji keprihatinannya. Dia kemudian memerintahkan Kunjarakarna agar mengunjungi daerah para orang mati, yang menjadi daerah kekuasaan Dewa Yama. Kunjarakarna mematuhi perintah itu. Di persimpangan, dia berjumpa raksasa Kalagupta dan Niskala. Keduanya tengah menunjukkan jalan kepada arwah-arwah yang lewat. Entah ditunjukkan ke surga maupun neraka, itu tergantung perbuatan para arwah di masa lampau. Salah satunya jalan selatan yang menuju “daerah besi”. Jalur itu berisi pohon-pohon pedang, sebuah gunung yang terbuat dari besi yang menganga dan menutup diri, burung-burung berekor pisau-pisau belati dan rerumputan dengan paku-paku sebagai dedaunan. Di sana, dia menyaksikan, bagaimana arwah orang mati disiksa oleh para pembantu Yama, para kingkara , dalam aneka bentuk yang mengerikan. Kunjarakarna sangat terharu dengan apa yang dilihatnya. Dia pun berterima kasih kepada Dewa Yama yang telah memberinya kesempatan untuk melihat nasib bagi seorang pendosa. Begitulah Kunjarakarna menjalani pertobatannya agar lepas dari wujudnya sebagai raksasa . Kisah ini muncul dalam Kakawin Kunjarakarna,  teks religius dalam bentuk lontar. Versi kakawin ini merupakan bagian dari lontar yang ditemukan di Lombok, yang juga memuat teks Nagarakrtagama. Selain dalam versi kakawin, kisah Kunjarakarna juga ditemukan pada dinding relief Candi Jago di Malang, atau yang dalam Nagarakrtagama disebut dengan Jajaghu. Candi Jago yang merupakan candi pendharmaan bagi Raja Singhasari, Wisnuwardhana (1248-1268) itu sekaligus menjadi satu-satunya candi yang menampilkan kisah ini. Kendati begitu, menurut pakar sastra Jawa, P.J. Zoetmulder dalam Kalangwan , agaknya belum bisa disimpulkan apakah kisah yang ada di dinding candi dari abad ke-13 itu bersumber dari Kakawin Kunjarakarna. Dalam relief, cerita ini ditampilkan singkat. Lebih singkat dari relief cerita lainnya di candi itu, misalnya Partayajna. Kata Zoetmulder, tak ada detil-detil yang mirip dengan teks dalam kakawin. Kesamaannya, relief ini cukup banyak menggambarkan suasana di neraka. Misalnya terdapat penggambaran periuk berbentuk lembu dengan kobaran api di bawahnya. Di dalam tempat pembakaran itu terdapat orang-orang yang direbus. “Atas pertanyaannya (Kunjarakarna, red. ), dia mendapat jawaban bahwa itu (periuk, red. ) adalah untuk seorang pedosa besar yang jiwanya akan direbus di dalamnya selama 100.000 tahun,” tulis Zoetmulder berdasarkan Kakawin Kunjarakarna . Kemudian, terdapat adegan yang memunculkan tokoh berwajah raksasa (Dewa Yama) dalam posisi dan tangan berkacak pinggang. Sebelah tangan lainnya menunjuk ke depan seolah memberi perintah. Di depannya seorang manusia tengah merangkak ke arah tempat penyiksaan berbentuk lembu tadi. Lalu ada gambaran sebuah jembatan yang mirip jungkat jungkit. Para arwah harus melewati itu dengan hati-hati atau bisa tergelincir dan masuk ke dalam kobaran api di bawahnya. Relief itu kemudian diikuti adegan arwah-arwah yang berjalan berbaris dalam bentuk manusia berkepala aneka binatang dan setan.   Relief jembatan jungkat jungkit. (Risa Herdahita Putri/Historia). Penggambaran tentang neraka juga sebelumnya sudah muncul di kaki Candi Borobudur, candi Buddha dari abad ke-9 M. Suasana neraka itu ada dalam relief kisah Karmawibhangga. Mirip dengan di Candi Jago, dalam relief Karmawibhangga pun salah satunya mencitrakan hukuman bagi manusia yang jahat, yaitu direbus dalam periuk besar di atas api yang membara. Arkeolog Universitas Indonesia, Hariani Santiko dalam Adegan dan Ajaran Hukum Karma pada Relief Karmawibhangga menjelaskan menurut Karmawibhangga, perbuatan manusia juga akan berakibat pada bentuk kelahirannya kembali. “Seseorang bahkan bisa dilahirkan menjadi dewa, binatang, hantu kelaparan, asura,” catatnya. Misalnya, orang yang suka bergunjing atau memukul orang lain akan dilahirkan kembali sebagai binatang. Mereka yang merusak kuil, pemarah, pembohong, dan durhaka kepada orang tua terlahir dengan buruk rupa. Relief yang menggambarkan arwah-arwah berkepala binatang dan setan. (Risa Herdahita Putri/Historia). Menariknya, kedua kisah tentang neraka itu bisa jadi muncul dari ekspresi lokal. Zoetmulder berpendapat, Kakawin Kunjarakarna asalnya dari masa Majapahit. Pengarangnya menulis berdasarkan sumber teks prosa lain. Dia bukan pula dari lingkungan keraton, melainkan seseorang dari dusun. “Dia ingin mempersembahkan karyanya sebagai hormat baktinya kepada yang memberikan bimbingan. Saya mempunyai kesan yang dimaksud bukan sang raja atau bangsawan, melainkan guru rohani,” tulis Zoetmulder. Begitu pula dengan relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Arkeolog UGM, Djaliati Sri Nugrahani, dalam Adegan dan Ajaran Hukum Karma Pada Relief Karmawibhangga menulis kendati relief itu bersumber dari salah satu kitab suci Buddha Mahayana, yaitu Maha Karmawibhangga, kemungkinan ceritanya telah diintepretasi ulang. “Sehingga menghasilkan gambaran yang berbeda dari kitab aslinya. Pantas diasumsikan Kitab Maha Karmawibhangga telah mengalami proses pelokalan,” tulisnya.

  • Berlatih Ala Bruce Lee

    BULUTANGKIS bukanlah olahraga yang digemari Lius Pongoh, pebulutangkis era 1980-an, ketika kanak-kanak. Lius kecil yang bercita-cita menjadi tentara, justru menggemari kungfu, karate, hingga taekwondo. “Tapi enggak kesampaian. Jadinya paling hanya bisa nonton film (kungfu) saja. Saya paling senang film-filmnya Bruce Lee dan Chen Lung (Jackie Chan),” ujarnya kepada Historia . Sayang, ayahnya, Darius Pongoh, kurang mendukung cita-cita Lius menjadi atlet olahraga beladiri. Darius kekeuh ingin menyalurkan energi masa muda Lius di olahraga tepok bulu. Lius pun masuk PB Tangkas sejak usia delapan tahun hingga akhirnya masuk Pelatnas PBSI pada 1979. Postur Lius yang tak terlalu tinggi untuk ukuran pemain bulutangkis membuatnya berlatih lebih keras dari para kompatriotnya. Namun, kegemarannya pada Bruce Lee dan Chen Lung menginspirasi Lius untuk mengadaptasi gerakan-gerakan kungfu Lee dan Lung ke ke dalam latihan-latihannya saban hari. Salah satu latihan fisik Bruce Lee (Foto: breakingmuscle.com) “Sering saya ikuti. Kalau pinggangnya mau kuat, sit up -nya digantung di pohon nangka. Itu saya masih ingat betul. Situp digantung di pohon dengan tambahan beban kantong berisi pasir yang dibikinkan papa saya,” kenang Lius. Untuk urusan penguatan bagian kaki, Lius menggenjot fisiknya dengan membantu ibunya, Kartin Pongoh, berdagang di pasar. “Saya kan anak lelaki, harus bisa bantuin bawa ember yang lebih besar dari badan saya. Harus bisa saya angkat biar kuat kaki saya,” sambungnya. Dampak Meniru Bruce Lee Sial bagi Lius, latihan-latihan ala Bruce Lee ternyata lebih banyak negatifnya ketimbang manfaatnya. “Jadi rontok pinggang dan lutut saya,” kata Lius. Akibatnya, Lius terpaksa absen dua tahun dari Pelatnas PBSI lantaran terkena cedera pinggang. “Ya karena itu. Latihan saya kurang pintar, modalnya hard (latihan keras), harusnya kan smart (latihan cerdas).” Cedera itu membuat Lius mencoba beragam pengobatan, medis hingga pengobatan alternatif seperti akupunktur atau urut Cimande. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) juga membantu dengan mengirim Lius memeriksakan cederanya ke Jerman. “Sampai dua minggu saya diobservasi di Jerman, lalu dikasih dua pilihan. Mau operasi dengan dipakaikan metal di pinggang saya tapi dampaknya jadi pergerakan tidak lentur. Atau tidak operasi dan pengobatan biasa. Tapi konsekuensinya sewaktu-waktu bisa kambuh,” lanjutnya. Lius pilih opsi kedua. Ketika sudah sedikit pulih, dia mulai latihan pelan-pelan dengan ayahnya. Lius comeback ke Pelatnas pada 1984. Meski mengurangi porsi latihan keras sebagaimana sebelumnya, Lius tetap mampu tampil ciamik di Indonesia Open 1984. Cedera pinggang dan lutut memaksa Lius Pongoh gantung raket pada 1988 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Lius juara setelah di final mengalahkan rival yang dikenal tak kalah ulet darinya – Hastomo Arbi. “Suatu kebanggaan juga mengalahkan dia, salah satu pahlawan Thomas Cup 1984. Hastomo juga pemain yang gigih. Punya footwork yang enteng. Pukulan yang bagus,” tutur Lius. Sejatinya bukan hanya Hastomo yang tersingkir gara-gara keuletan Lius. Selain Liem Swie King di perempatfinal, jagoan Denmark Morten Frost Hansen juga disisihkannya di semifinal. Keuletan Lius di turnamen itu membuatnya dijuluki “Si Bola Karet”. “Julukan yang menggambarkan bagaimana ringan langkah kaki Lius yang terus bergerak layaknya bola yang melenting ke sana kemari. Bola-bola yang di mata orang lain akan sulit dikembalikan, di tangan Lius, sesulit apapun ternyata biasa diatasi,” tulis Broto Happy Wondimisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia . Namun, Lius akhirnya harus mengaku kalah pada cedera lutut. Meski mengaku masih bisa bermain, ayahnya menganjurkannya untuk pensiun. Lius gantung raket pada 1988. “Ya ayah saya juga bilang bahwa kasih saja kesempatan orang lain di Pelatnas. Sampai sekarang cedera di pinggang juga tidak sembuh. Berdiri kelamaan tidak enak, duduk kelamaan juga tidak enak. Ya konsekuensi jadi atlet,” tutupnya.

  • Sukaptinah Berjuang Agar Bangsa dan Kaumnya tak Dijajah

    LAGU “Kinanthi Sekar Gendhing Srikastawa” mengiringi pembukaan Kongres Perempuan Indonesia (KPI) Pertama, 22 Desember 1928. Lagu itu dibawakan Siti Sukaptinah atau dikenal sebagai Nyonya Sunaryo Mangunpuspito, salah seorang panitia KPI, bersama murid-muridnya di Perguruan Taman Siswa. Lagu itu merupakan ciptaan Sukaptinah sendiri. Usai panembrama, Sukaptinah maju membacakan asas kongres. Peran Sukaptinah di KPI cukup banyak. Sejak kongres pertama ia ikut menjadi panitia, sebagai sekretaris. Ketika kongres sepakat untuk membentuk federasi organisasi perempuan bernama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), Sukaptinah duduk sebagai sekretaris I. Sukaptinah aktif di gerakan perempuan juga gerakan nasionalis. Lahir di Yogyakarta pada 28 Desember 1907, Sukaptinah merupakan anak seorang abdi dalem bernama R Sastrawecana. Semasa sekolah di HIS Keputran yang didirikan Sultan Hamengkubuwono VII, Sukaptinah aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah, cikal-bakal Nasiyatul Aisyiyah. Kala itu usianya masih 13 tahun. Setelah tujuh tahun menempuh pendidikan itu, Sukaptinah lulus dan melanjutkan ke MULO Ngupasan sembari aktif di Jong Java. Pada 1924, dia pindah ke Taman Guru Taman Siswa hingga lulus pada 1926. Sukaptinah diajar langsung oleh Nyi dan Ki Hajar Dewantara. Merekalah yang mengajari Sukaptinah nembang hingga bisa menggubah lagu sendiri. Setelah lulus, Sukaptinah menjadi guru Taman Siswa. Di sini, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh gerakan peremuan yang juga menjadi guru di Taman Siswa, seperti Sri Wulandari (kemudian dikenal Nyonya Mangunsarkoro) dan Sunaryati (kemudian dikenal Nyonya Sukemi). Selain mengajar, Sukaptinah aktif di Jong Islaminten Bond (JIB) dan menjadi ketua Jong Islaminten Bond Dames Afdeling (JIBDA) cabang Yogykarta. Dari JIBDA inilah Sukaptinah bisa menjadi pengurus KPI mewakili organisasinya. Pada 1929, Sukaptinah menikah dengan Sunaryo Mangunpuspito, pria yang dikenalnya ketika sama-sama aktif di Jong Java. Sunaryo lelaki progresif sehingga pernikahan mereka tak menghambat Sukaptinah aktif dalam gerakan. Istri Indonesia Setahun setelah beberapa organisasi perempuan berfusi menjadi Istri Indonesia pada 1932, Sukaptinah diangkat menjadi ketuanya. Anggotanya sebagaimana dicatat dalam SejarahSetengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, antara lain Maria Ullfah, Siti Danilah, dan Lasmidjah Hardi. Organisasi ini mengeluarkan mingguan bernama Istri Indonesia. Di sanalah, tulisan dan pidato Sukaptinah tentang pernikahan dalam hukum Islam, kemandirian perempuan, dan hak pilih kerap dimuat. Ketika isu tentang hak pilih dan keterwakilan perempuan Indonesia dalam Dewan Rakyat sedang menjadi perdebatan, Istri Indonesia getol mengawal isu tersebut. Maria Ullfah mendedah masalah hak pilih lewat ilmu hukumnya. Sukaptinah yang pada 1938 dilantik menjadi anggota Dewan Kota Semarang lewat Parindra, juga bersuara. Lewat pidatonya yang dimuat Istri Indonesia November 1939, Sukaptinah memprotes pemerintah kolonial yang lagi-lagi memilih perempuan Belanda di Dewan Rakyat. Menurutnya, pemerintah tidak membuka kesempatan pada perempuan Indonesia untuk duduk di Dewan Rakyat. “Kita sudah hidup di masyarakat yang tidak membedakan satu bangsa dan bangsa lain, juga tidak membedakan lelaki dan perempuan… bangsa kita membutuhkan tenaga perempuan baik di dalam maupun di luar raad (Dewan Rakyat, red .),” kata Sukaptinah. Ketika Komisi Visman yang dibentuk pemerintah mengadakan penelitian tentang keinginan bangsa Indonesia dalam perubahan ketatanegaraan pada 1941, Sukaptinah dan Sri Wulandari menjadi dua orang yang dimintai pendapat. “Saya ingin Indonesia berparlemen,” kata Sukaptinah. Pendapatnya itu didasarkan pada perjuangan Istri Indonesia agar perempuan punya akses untuk berpolitik dan duduk di Dewan Rakyat. Usaha Jelang Kemerdekaan Kedatangan Jepang mengubah Kota Semarang menjadi morat-marit. Sukaptinah dan keluarga pindah ke Yogyakarta lantaran ia sedang hamil tua. Menurutnya, pindah ke Yogyakarta adalah hal yang tepat supaya bisa melahirkan dengan selamat. Tak lama setelah melahirkan, Sukaptinah dipanggil Sukarno ke Jakarta untuk mengepalai seksi perempuan Putera juga Fujinkai. “Ibu Sunaryo Mangunpuspito dijadikan ketua Fujinkai. Pusatnya ada di Jawa Hokokai yang dipimpin Bung Karno…. Ketika pembentukan BPUPKI yang ketuanya dr. Radjiman Wediodiningrat, Ibu Sunaryo Mangunpuspito diikutkan karena ketua Fujinkai di Jakarta,” kata Maria Ullfah, rekan seperjuangan Sukaptinah, dalam rekaman Arsip Sejarah Lisan ANRI. Dalam BPUPKI, Soekaptinah duduk di Pantia Ketiga, membahas pembelaan tanah air. Sementara Maria Ullfah di Pantia Pertama yang membahas UUD dan Undang-Undang. Setelah kemerdekaan, tulis Sri Sjamsiar Issom dalam tesis berjudul “Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito Sosok Wanita Pergerakan Indonesia (1928-1956)”, Sukaptinah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika Sekutu datang untuk kembali berkuasa, Sukaptinah bersama keluarga pindah ke Yogyakarta menumpang kereta malam yang memberangkatkan rombongan presiden. Keluarganya kemudian menumpang di rumah orangtua Sukaptinah di Namburan. Sunaryo dan Sukaptinah meleburkan diri ke dalam gerakan nasionalis. Sementara Sukaptinah sibuk di KNIP dan kemudian Badan Pekerja KNIP (1949-1950), Sunaryo aktif membuat selebaran dan mengikuti rapat-rapat politik di samping mengumpulkan informasi untuk kepentingan Republik berbekal bahasa Belandanya yang baik. Keaktifan Sunaryo membuat rumah Raden Sastrawecana digerebek pasukan Belanda pimpinan Kolonel Van Langen di suatu malam. Setelah mengobrak-abrik isi rumah, menyita selebaran dan surat-surat, pasukan yang terdiri dari orang Belanda dan Ambon itu menangkap Sunaryo. Bukan hanya itu, mereka juga menyita batik dagangan Nyonya Sastrawecana, persediaan beras keluarga. Saking dongkolnya barang yang tak punya sangkut-paut dengan gerakan nasionalis disita, Sukaptinah marah. “ Londo opo kok gelem beras (Belanda macam apa yang doyan beras, red. )” kata Sukaptinah. Sunaryo ditahan di Penjara Wirogunan lalu dipindahkan ke Ambarawa. Dia baru dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar (KMB, 1949). Perjuangan Sukaptinah dan Sunaryo terus berlanjut setelah pengakuan kedaulatan.

  • Kisah Jenderal yang Berniaga

    USAI melepas seragam tentara, Herman Sarens Sudiro ditugaskan ke Madagaskar sebagai duta besar. Di sana, Herman tak sekadar mengurusi lobi-lobi diplomatis. Di waktu senggang, dia doyan berburu babi hutan. Jenderal bintang satu yang gemar tampil necis ini juga nyambi berdagang. “Saya bawa cengkeh Zanzibar dari Madagaskar ke Indonesia sebanyak 30-40 ton setahunnya. Dan keuntungannya lumayan. Lalu apakah salah seorang duta besar berdagang?” ujar Herman Sarens dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir . Pengalaman di Madagaskar jadi bekal Herman Sarens ketika meninggakan dinas aktif kemiliteran. Memasuki masa pensiun pada awal dekade 1980-an, Herman mantap menekuni dunia bisnis. Ketimbang bertumpu pada uang pensiun yang tidak seberapa, Herman lebih memilih berwirausaha. Bidang usaha yang dilakoninya pun cukup unik dan belum lazim saat itu. Herman merambah bisnis hiburan. “Meskipun saya haji, saya juga punya usaha diskotik,” kata Herman. “Maklumlah, zaman saya kecil belum ada hiburan semacam itu. Jadi apa saya salah kalau sekali waktu saya berdisko dengan teman-teman? Terkadang sambil berdisko itulah saya berbisnis sambil mencari kawan.” Dari bisnis diskotik itulah grup usaha Herman melebar ke mana-mana. Mulai dari usaha perhotelan, pacuan kuda, hingga sasana tinju. Namanya pun kian beken sebagai jenderal pebisnis.   Uang pensiun kecil Herman Sarens harnyalah segelintir jenderal yang menggeluti arena niaga setelah purnabakti. Ketika telah menjadi orang sipil, sejumlah “serdadu tua” TNI angkatan 45 memilih menjajal peruntungan baru untuk mendulang uang. Majalah Tiara No. 48, 15-28 Maret 1992, mencatat beberapa nama jenderal yang mengeluti bisnis pascapensiun. Mereka antara lain Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro (1971-74), Gubernur Jakarta Letjen KKO AL Ali Sadikin (1966-77), Panglima Kostrad Letjen TNI Kemal Idris (1967-1969), Panglima Kodam Cenderawasih Brigjen Acub Zaenal (1970-73), Gubernur Jakarta Letjen TNI Tjokropranolo (1977-82), dan KSAD Jenderal TNI Widodo (1978-80). Kemal Idris, mantan Panglima Kostrad yang bisnis hoteldi masa senjanya. (Matra, Oktober 1986) Para purnawirawan ini menyadari gaji pensiun mereka kurang memadai. Kecilnya uang pensiunan mengharuskan mereka untuk tidak bertumpu dari dana pensiun belaka. Faktor inilah yang menjadi alasan mereka untuk terjun berbisnis atau bekerja sama dengan pihak swasta. “Saya memang harus hidup. Kalau hanya dari uang pensiun yang besarnya Rp. 255 ribu, dari mana saya bisa hidup?” kata Kemal Idris dikutip Tiara . Pernyataan senada juga dilontarkan Acub Zaenal. Mengandalkan hidup pada uang pensiun pun rupanya tidak memadai bagi Acub yang juga pernah menjadi gubernur Irian Jaya ini. “Uang pensiun saya hanya cukup untuk membayar rekening air dan listrik,” kata Acub Zaenal dalam Matra No.3, Oktober 1986. “Kalau digunakan juga untuk kebutuhan sehari-hari, paling kuat bisa bertahan seminggu,” kata Acub.   Purnwirawan dan Bisnisnya Meski bergaji pensiun kecil, purnawirawan berbintang ini boleh dibilang beruntung. Para konglomerat maupun taipan industri kerap menggandeng jenderal gaek yang baru pensiun ke dalam perusahannya. Paling banter mereka diplot jadi presiden komisaris tanpa portofolio atau pemegang saham kosong di akta. Kemal Idris misalnya. Pada 1976, Kemal terjun ke dunia bisnis setelah menyelesaikan tugas terakhirnya sebagai duta besar untuk Yugoslavia dan Yunani. Dua bulan menjalani masa pensiun, tawaran untuk duduk di perusahaan datang. Dalam suatu rapat pemegang saham, Kemal dipercaya untuk memegang PT Griya Wisata Hotel Corporation yang bergerak dalam perhotelan dan wisata. Modal awal Kemal hanyalah saham lima persen dalam bentuk utang yang baru dilunasi dua tahun kemudian.   “Sejak ditunjuk sebagai direktur utama perusahaan itu, saya mulai berkecimpung dalam perhotelan pariwisata. Ini pengalaman pertama yang membawa saya ke bidang bisnis. Selanjutnya saya terlibat dengan kegiatan menangani perusahaan,” kata Kemal dalam otobiografinya Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi yang disusun Rosihan Anwar dkk.    Jenderal Soemitro juga nama beken yang digandeng pengusaha. Setelah enam tahun menjalani masa pensiun dini sejak Peristiwa Malari 1974, Soemitro kemudian bermain bisnis. Soemitro tercatat sebagai Presiden Komisaris PT Suma Corporation dan PT Cakra Sudarma yang mengelola konsesi lahan perhutanan. Sementara Tjokropranolo yang akrab disapa Bang Nolly, melakoni bisnis ekspor kayu. Selepas pensiun sebagai gubernur Jakarta, Bang Nolly menjabat Direktur Utama PT Agodha Wayhitam, yang mengeskpor lebih dari lima puluh ribu meter kubik kayu lapis yang dirambah dari hutan di Kalimantan Selatan ke Jepang setiap bulan.   Beberapa jenderal ada yang merintis usaha dari koceknya sendiri. Acub Zaenal mendirikan PT Alpha-Zenit - sebagaimana inisial namanya - di Jakarta. Bidang usahanya meliputi kegiatan ekspor-impor, perfilman (PT Dewi Sendang Film), pertokoan (Tunjungan Plaza, Surabaya), dan berbagai bisnis jasa. Acub Zainal, mantan Panglima Kodam dan gubernur Irian Jaya. Kawasan perbelanjaan Tunjungan Plaza di Surabaya, Jawa Timur salah satu pilar usaha Acub Zaenal selepas pensiun. ( Tiara , Maret 1992). Letjen Suhardiman, perwira AD yang mendirikan Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia (SOKSI) yang menjadi cikal bakal Golkar, menjadi pengusaha jasa rekreasi. Suhardiman membangun PT Evergreen Hotel, kompleks peristirahatan di kawanan Puncak, Bogor untuk mengisi masa pensiunnya. Suhardiman memodali sendiri bisnisnya meski tidak menampik memperoleh kemudahan karena latar belakangnya sebagai mantan perwira tentara. “Ya, untuk memulai bisnis, saya menjual arloji, mobil, rumah, bahkan bangunan yang pernah digunakan sebagai kantor Dewan Nasional SOKSI di Tanah Abang,” tutur Suhardiman dikutip Matra . Di kalangan Angkatan Udara terdapat nama Sri Mulyono Herlambang. Marsekal Muda yang pernah menjadi pilot pesawat kepresidenan dan Menteri Panglima AU ini pensiun dini pada 1966 . Sri Mulyono kemudian merintis usahanya lewat PT Daria Poultry, peternakan ayam bibit dari Amerika dan Jepang. Dari sepuluh ribu ekor ayam ternaknya, Sri Mulyono mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang dirgantara. Beberapa usaha penerbangan yang dimilikinya antara lain PT Konavi Aviation Consultan, PT Desa Air Cargo, dan Biro Perjalanan Umum Desa Tour Royal Travel. Menurut pengamat politik militer Salim Said dalam laporan Tiara , kebanyakan dari para jenderal ini sudah diincar pengusaha swasta dan dipesan dari jauh-jauh hari sebelum mereka pensiun. Meski tidak lagi punya wewenang di ketentaraan, mantan jenderal dianggap tetap punya wibawa dalam memimpin organisasi, apalagi yang punya pengalaman memimpin komando pasukan dan teritorial. Membubuhkan embel-embel nama jenderal dalam jajaran direksi pun kerap dijadikan jaminan untuk keamanan dan kelancaran usaha. “ Power inilah yang seringkali menjadi incaran banyak pihak, khususnya non-militer,” kata Salim Said.

  • Penduduk Indonesia Sudah Padat Sejak Dulu

    Indonesia salah satu negara berpenduduk terpadat di dunia bukanlah hal yang baru terjadi. Nyatanya pulau-pulau di Nusantara dulunya sudah menjadi tempat yang ramai, bahkan salah satu teramai di dunia.   Uka Tjandrasasmita dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia menulis pada masa perkembangan Islam beberapa kota di Nusantara memiliki jumlah penduduk lebih besar dibandingkan beberapa kota di Eropa dan Amerika. London pada abad ke-14 berpenduduk antara 30.000 sampai 40.000 jiwa. New York dan Bristol kurang dari 10.000 jiwa. Pada pertengahan abad ke-15, Frankfurt berpenduduk 8.700 jiwa, Nurenberg 20.000, Strassburg 20.000 jiwa. Kota-kota itu pada masanya sudah termasuk kota besar. Pada pertengahan abad ke-16 penduduk Bristol masih 10.000 orang, Swedia lebih kurang 5.000 orang. Padahal ukuran sebuah kota minimal berpenduduk 2.000-5.000 orang. Di Eropa pada waktu itu hanya Paris dan Napoli yang berpenduduk lebih dari 100.000. Dua kota lainnya, Istambul dan Kairo, juga memiliki beberapa ratus ribu penduduk. Lalu seperti kata sejarawan Prancis F. Braudel, kota yang betul-betul raksasa dalam hal jumlah penduduk adalah Peking dan Edo (Tokyo). Pada abad ke-16 keduanya telah memiliki sejuta penduduk. Sementara itu, menurut sejarawan Ong Hok Ham dalam artikelnya “Dulu Indonesia Punya Kota-Kota Besar," Tempo 20 Juni 1981, pada abad ke-16 dan 17 seluruh penduduk Indonesia diperkirakan telah mencapai jumlah 8.000.000 jiwa. Mengutip ceramah sejarawan Anthony Reid setahun sebelumnya, Ong menyebutkan kota-kota pelabuhan terbesar di Nusantara kala itu berpenduduk antara 50.000 dan 100.000 jiwa. Misalnya Malaka dan Demak pada abad ke-16. Aceh, Makassar, Banten, dan Surabaya pada abad ke-17. “Maka Indonesia atau Asia Tenggara pada abad-abad itu agaknya merupakan salah satu bagian dunia yang paling urban, atau bagian terbesar penduduk tinggal di kota seperti Australia sekarang,” tulis Ong. Sensus penduduk Kesultanan Banten Pada kenyataaannya data soal jumlah penduduk yang menempati kepulauan di Nusantara pada masa lalu sulit dipastikan. Pada masa kerajaan-kerajaan khususnya, sensus penduduk belum menjadi perhatian. Menurut Uka, satu-satunya kerajaan, khususnya pada akhir abad ke-17 M, yang pernah punya perhatian terhadap sensus penduduk adalah Kerajaan Banten. Tepatnya sensus itu dilakukan pada 1694. Ketika itu, yang memerintah Banten adalah Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin, di bawah pengawasan Pangeran Natawijaya. Sensus penduduk dilakukan terhadap penduduk di Kota Surosowan. Ibu kota Kesultanan Banten itu tumbuh menjadi kerajaan muslim sejak tahun 1526. Di sana didirikan keraton, masjid agung, pasar, pelabuhan, dan perkampungan asing. Hasilnya, pada sensus yang pertama itu, penduduk Kota Surosowan berjumlah 31.848 orang. Sensus kedua dilakukan pada 1708. Hasilnya penduduk Surosowan bertambah menjadi 36.302 orang. Artinya penambahan penduduk selama 12 tahun hanya 4.454 orang. “Suatu penambahan yang ralatif tak menonjol,” kata Uka. Selain itu, data penduduk kota lainnya lebih bersifat relatif. Jumlahnya hanya perkiraan berdasarkan sumber berita asing, babad dan hikayat. Pelawat asal Portugis, Tome Pires, salah satu yang mencatat data penduduk di tempat-tempat yang dia kunjungi. Dalam Suma Oriental , Pires mencatat kunjungannya ke Pasai, Palembang, Cirebon, Tegal, Demak, Tuban, dan Ternate pada abad ke-16. Menurut Uka, sebelum Islam datang, Samudera hanyalah merupakan sebuah kampung (Gampong) dengan dikepalai oleh kepala suku. Pada abad ke-13 wilayah itu menjadi kota besar, bahkan ibukota kerajaan Islam. Menurut catatan Tome Pires, penduduk kota di pusat Kerajaan Pasai tak kurang dari 20.000 orang. Palembang, yang juga berada di Sumatra, berpenduduk lebih kurang 10.000 orang. Waktu itu Palembang telah ada di bawah pengaruh Demak. Kota Demak sendiri, pada awal abad ke-16 adalah pusat kerajaan bercorak Islam terbesar di Jawa. Penduduknya berjumlah antara 8.000-10.000 keluarga. Asumsinya, jika satu keluarga terdiri dari 4-5 orang, kira-kira di kota itu sudah ada 40.000 atau 50.000 orang yang tinggal. Kendati sudah ramai, corak kehidupan masyarakat di Nusantara berbeda dengan di Eropa dan Amerika. Kota di Eropa Barat, misalnya, secara fisik dikelilingi oleh dinding-dinding pertahanan. Di Indonesia hanya ada beberapa kota yang memiliki dinding, misalnya Surabaya, Tuban, dan Aceh. “Kota berdinding di Indonesia lebih bersifat kampung daripada gedongan seperti di Barat,” tulis Ong. Artinya, perbedaan fisik antara daerah kota dan pedalaman tidak demikian nyata. Sebab, rumah di perkotaan Indonesia dikelilingi pekarangan luas dengan pepohonan.

  • Hadiah Juara untuk Mama

    WAJAH Lius Pongoh, pebulutangkis era 1980-an, seketika berubah. Senyum yang menghiasi wajahnya menghilang berganti kesedihan ketika mengenang keikutsertaannya dalam Indonesia Open 1984. Sambil bercerita, mata Lius berkaca-kaca. “Ya, di ajang Indonesia Open (17-22 Juli 1984) itu momen manis-pahit buat saya. Di bulan yang sama, mama saya meninggal,” ujar Lius lirih saat ditemui Historia di PB Djarum, Kamis, 3 Januari 2019. “Mama saya namanya mirip pahlawan perempuan, Kartini, tapi enggak ada (huruf) ‘i’-nya, jadi namanya Kartin,” lanjut pria yang sejak 2011 bernaung di bawah PB Djarum sebagai Administration and Support Coordinator. Lius lahir dari pasangan Kartin dan Darius Pongoh di Jakarta 3 Desember 58 tahun lampau. Meski ayahnya pelatih bulutangkis klub PB 56, bukan berarti serta-merta Lius doyan olahraga tepok bulu. Lius kecil justru bercita-cita jadi tentara atau jadi praktisi beladiri. “Kebetulan sepupu dari ayah saya ada yang (tentara) Marinir, ada juga yang di Angkatan Udara (TNI AU). Kalau Marinir kan jago berenang di laut. Kalau AU kan bisa menerbangkan pesawat sampai ke luar negeri. Nah, kalau olahraga beladiri senang karakte, kungfu, taekwondo. Tapi impian masa kecil itu tidak ada yang kesampaian,” ujar ayah empat putra tersebut. Karena tak didukung orangtua, Lius lamat-lamat melupakan cita-cita itu. Bulutangkis jadi satu-satunya opsi untuk menyalurkan energi masa kecil. Pada usia enam tahun Lius masuk ke PB Anggara, klub naungan Bidang Anggaran Departemen Keuangan, sebelum pindah ke klub PB Garuda Jaya dua tahun kemudian. Di usia sembilan tahun, Lius akhirnya menetap di PB Tangkas tempat ayahnya melatih. Lius Pongoh meniti karier di PB Tangkas dan berlabuh di PB Djarum di masa pensiunnya (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Mengutip Broto Happy Wondomisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia , Lius tak hanya mengasah kemampuan di klub tapi juga menimba ilmu olahraga di SMP, kemudian SMA Ragunan. Sejak itu Lius berkembang pesat. Prestasinya diawali dari juara tunggal putra Kejurnas Junior 1978. Setahun berselang, Lius ditarik ke Pelatnas PBSI di Senayan meski masih sekolah di SMA Ragunan. Di pelatnas, Lius tak hanya bermain di nomor tunggal tapi juga ganda. Sempat jadi semifinalis Kejuaraan Dunia 1980, Lius berhasil merengkuh gelar internasional pertamanya, Swedish Open 1981. Di nomor ganda, Lius yang berpasangan dengan Christian Hadinata sukses menjuarai Japan Open 1981 dan Swedish Open 1982. Sayangnya di pertengahan tahun 1982 Lius mengalami cedera pinggang dan harus absen dari pelatnas cukup lama. Baru pada 1984 Lius turun gunung lagi. Tapi Lius langsung juara di Indonesia Open, momen yang membuatnya sedih karena hampir dalam waktu bersamaan juga mesti berduka. Sukacita Disambung Dukacita Lius tak pernah menyangka bisa menang. Di babak penyisihan, dia satu grup dengan raksasa Malaysia Misbun Sidek. “Saya enggak pernah bisa menang lawan Misbun. Tapi saya beruntung, Misbun lebih dulu dikalahkan Richard (Mainaky), lalu berikutnya saya mengalahkan Richard,” sambung Lius. Beban Lius tak hanya datang dari lapangan. Saat Lius mengikuti ajang itu, Kartin ibunya dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena sakit kanker pankreas. Maka setiap Lius habis bertanding selalu kembali menemani ibunya. “Richard (Mainaky) yang tiap malam menemani saya tiap malam ke rumah sakit. Paginya baru pulang lagi,” kenangnya. Lius dan Richard sudah karib semenjak ayah Lius melatih Richard di PB 56. Kondisi ibunya yang sakit keras membuat konsentrasi Lius nyaris berantakan. Tapi Lius berhasil mengatasinya. “Kuncinya sih jangan terlalu memikirkan pertandingan. Biar tidak tegang sebelum main. Saya mikirnya, ya sudahlah, main saja. Mau bagaimana lagi? Tidur dan makan saja sudah enggak jelas, apalagi mikir untuk bisa menang,” tambah Lius. Tak dinyana, “jurus” itu justru membuat Lius melaju. Di perempatfinal, Lius mesti berhadapan dengan maestro Liem Swie King. Sebelum pertandingan, ibunya sudah punya firasat bahwa putranya akan menang dengan susah payah dari sang maestro. “Waktu itu mama kondisinya sudah enggak terlalu bagus. Tapi beliau pernah bilang, ‘Nyong (panggilan kecil Lius), nanti kamu akan mengambil batu tapi susah ambilnya. Ambilnya memang susah sekali tapi nanti pasti dapat’. Saya bilang, ya saya kan mau main bulutangkis, bukan ambil batu,” kenangnya dengan mata kian berkaca-kaca. Lius baru insyaf akan kata-kata ibunya saat bikin gempar Istora Senayan, menghadapi King. Sempat kalah di set pertama, Lius yang juga hampir kalah di set kedua justru mampu membalikkan keadaan hingga menang lewat tiga set. “Padahal di gim kedua saya sudah ketinggalan 1-14. Enggak mungkin menang sebenarnya. Saya ingat-ingat, mungkin itu maksud kata-kata mama saya tentang mengambil batu yang susah. Saya harus main tiga gim untuk kalahkan Koh Swie King,” imbuh Lius. “Motivasi saya waktu itu, ya enggak mau kalah saja sebelum benar-benar berakhir.” Di semifinal, Lius membekap raksasa Denmark Morten Frost Hansen. Lius akhirnya menjuarai turnamen setelah di final menjungkalkan Hastomo Arbi. “Saya ingin kasih hadiah buat mama yang sedang sakit keras bahwa ini, ini lho, Ma, saya bisa juara,” kata Lius. Ironis, keinginan Lius tak bisa terwujud. Tuhan berkehendak lain. “Waktu saya jadi juara, besoknya mama meninggal. Enggak sempat bisa kasih tahu saya juara,” tandas Lius.

  • Habis Sudah Sang Antagonis

    PADA 2004, lembaga Frontier Consultant & Riset Jakarta mengadakan survei marketing celebrity image di enam kota besar dengan tiga ribu responden. Juara untuk kategori image antagonis jatuh kepada Torro Margens, aktor senior yang meninggal dunia pada 4 Januari 2019. Ya, karakternya sebagai penjahat yang melekat di benak banyak orang. Torro Margens, bernama asli Sutoro Margono, lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada 5 Juli 1950. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi aktor dan sutradara. “Saya mulai tertarik dengan dunia seni peran karena kecintaan saya pada fim India, pada waktu kecil. Setiap pulang nonton filmnya, selalu saya menirukan gerak akting pemain India di kaca. Lho kok beda? Kenapa tubuh saya yang kelihatan cuma sebagian? Kenapa nggak seperti di film, seluruh tubuh bisa kelihatan. Berangkat dari keinginan tubuh saya kelihatan di film seperti artis India, akhirnya saya menekuni seni teater,” kata Torro dalam wawancara dengan majalah Film tahun 1993. Dalam Festival Film Indonesia 1988 disebutTorro yang hanya lulus SLTA kemudian kursus seni peran di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, workshop acting di Dir. Kes. Dirjen Kebudayaan, dan lokakarya penyutradaraan Dewan Kesenian Jakarta bidang teater. Dia cukup dikenal sebagai pemain teater muda potensial, dan pernah terpilih sebagai aktor terbaik pada festival teater se-DKI Jakarta. Sanggar Prakarya, wadah teater anak-anak muda yang dipimpinnya, berulang kali muncul sebagai yang terbaik dalam festival teater. “Di bidang teater, nama Torro tidak bisa dipandang sebelah mata, permainannya memikat dan mengundang decak kagum penonton pertunjukannya,” demikian komentar majalah Film . Torro juga pernah menjadi seorang dubber film luar. Menurut majalah Film , dia termasuk pen- dubber kelas satu dan cukup mahal setiap suaranya untuk menggantikan suara orang lain. Torro mulai main film pada 1974 dalam Neraka Perempuan . Sepuluh tahun kemudian, dia menyutradarai film perdananya, Bercinta dalam Badai . Dia mengaku cukup puas karena hasil penyutradaraan itu untuk memenuhi syarat menjadi sutradara yang telah ditetapkan organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi). Waktu itu, untuk menjadi sutradara film atau televisi harus lulus sertifikasi dari KFT. “Ketika hasil penyutradaraan pertama saya serahkan ke KFT. KFT langsung mengakui hasil garapan saya bagus. Saya tanpa harus menunggu film kedua dan ketiga, langsung dikukuhkan sebagai sutradara resmi. Itu kebanggaan saya,” kata Torro. Sejak itu, Torro aktif menjadi sutradara sampai tahun 1984. Film yang cukup berhasil dia sutradarai di antaranya Anglingdarma II (1990) dan Saur Sepuh V (1992) .Anglingdarma II punya karakteristik tersendiri dan bertahan hampir dua minggu di bioskop-bioskop kelas B di Jakarta. Saur Sepuh V episode Istana Atap Langit, tidak kalah menariknya dengan garapan sutradara sebelumnya, Imam Tantowi. Apa konsep dan resepnya? “Konsep saya pembaharuan, artinya setiap film yang saya garap selalu harus ada pembaharuannya. Baik artistiknya, kostum maupun trik laga. Jadi penonton tidak bosan,” kata Torro. Film garapannya yang berhasil menjadi nominator dalam Festival Film Indonesia 1987 adalah Pernikahan Berdarah produksi PT Garuda Film. Kendati tak menjadi film terbaik yang direbut Nagabonar , film yang dibintangi Willy Dozan dan Raja Ema (aktris Malaysia) itu sukses di Negeri Jiran. Sehingga Torro pun mendapat tawaran menyutradarai dua film di Malaysia, yaitu Lukisan Berlumuran Darah (1988) dan Cinta Berdarah (1989). “Waktu itu PT Kanta Indah Film tengah menjalin kerja sama dengan PT Cipta Swa Film dari Malaysia. Pihak Cipta Swa, melihat keberhasilan film saya, Pernikahan Berdarah yang dibintangi Raja Ema sukses di Malaysia,” kata Torro. “Ada kebanggaan apalagi di sana saya diminta tidak sekadar sebagai sutradara dan penulis skenario. Tapi juga sebagai produser pelaksana.” Selain sebagai sutradara, Torro juga aktor yang produktif sejak 1970-an hingga jelang akhir hayatnya. Film terakhir yang dia bintangi adalah Love for Sale (2018). Film ini meraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2018 untuk kategori aktor terbaik (Gading Martin), sedangkan Della Dartyan sebagai nominasi aktris terbaik, dan nominasi skenario asli terbaik. Tak hanya film, Torro juga main sinetron, FTV, dan presenter uji nyali Gentayangan di TPI . Suaranya yang serak dan menakutkan membuatnya akan selalu dikenang.

  • Romantisme Keluarga Cemara

    BERSAMA Abah (diperankan Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), dan kakaknya, Euis (Adhisty Zara), Ara (Widuri Puteri) harus memulai kehidupan baru di kampung. Rumah mereka di Jakarta disita debt collector. Rumah itu dijadikan jaminan oleh Abah dan Uwak (Ariyo Wahab) untuk modal usaha properti. Nahas, usaha tersebut bangkrut. Setelah seluruh harta mereka disita untuk melunasi utang, Ara sekeluarga jatuh miskin. Abah terpaksa mencari pekerjaan baru. Mulanya dia mencari kerja di Jakarta tapi ditolak. Akhirnya, abah kerja serabutan, termasuk menjadi kuli bangunan. Sekuat tenaga abah berusaha memperbaiki kondisi keuangan keluarga, sampai kelelahan. Nahas kembali menghampirinya, abah mengalami kecelakaan kerja sehingga kakinya patah. Saat Abah masih kesulitan berjalan, emak menggantikan posisinya dengan berjualan opak. Emak dibantu rekan bisnisnya Ceu Salmah (Asri Welas) dan Euis yang berjualan opak di sekolah. Setelah pindah ke kampung, Euis punya kesempatan untuk lepas rindu dengan teman-temannya yang hendak berkunjung ke kota dekat kampungnya. Emak langsung memberinya izin, tapi abah tak setuju dan malah memarahi Euis. Nekat, Euis pergi ke kota menemui teman-temannya selepas pulang sekolah. Namun, ternyata teman-temannya sudah menemukan pengganti dirinya. Perasaan terombang-ambing di tengah perubahan drastis hidupnya, plus kemarahan abah, membuat Euis melulu menahan kesedihannya. Euis tak tahan dengan sikap abah yang berubah galak dan selalu menutup-nutupi krisis dalam keluarga dengan janji-janji. Bara di dadanya akhirnya terbakar dan meledak. Euis memuntahkan segala kekesalannya. Kerjasama Keluarga Tak ada keluarga yang bebas masalah. Namun masalah tak akan berhasil memecah-belah keluarga bila tiap anggota keluarga bekerjasama menghadapinya. Pesan inilah yang ingin disampaikan film Keluarga Cemara (2019). Garis besar ceritanya tak jauh beda dengan versi serial televisi. Namun fokus cerita bukan pada hidup yang kekurangan uang, melainkan usaha seluruh anggota keluarga mengatasi shock akibat perubahan hidup. Semula, keluarga Cemara (Ara) merupakan kelas menengah atas yang bisa menjangkau fasilitas lengkap. Hal itu seketika berubah menjadi serba kekurangan. Usaha-usaha untuk bisa nrimo ing pandum inilah yang menjadi titik berat cerita. Abah merasa harus memikul tanggung jawab atas segala petaka yang diterima keluarganya. Dengan memikul beban sosial sebagai kepala keluarga, ia mengaggap emak, Euis, dan Ara adalah taggungannya. Rasa bersalah dan tanggung jawab yang dirasakan abah sebetulnya tak pernah digugat oleh emak, Euis, ataupun Ara. Hal ini muncul dari dalam dirinya berkaitan dengan nilai-nilai patriarkis yang ia internalisasi, bahwa lelaki adalah kepala keluarga. Sementara dengan kondisi kaki patah dan tak bisa memberi nafkah pada keluarga, abah mengalami puncak rasa ketidakbergunaannya. Kondisi psikologis abah yang tertekan membuatnya berubah menjadi sosok galak dan suka memarahi Euis. Sosok abah seperti ini tak ditemui dalam Keluarga Cemara versi serial televisi. Kegalakan abah sampai membuat Ara tak ingin tumbuh dewasa.  “Kalau Ara udah umur 13 tahun, abah pasti marah-marahin Ara kayak ke Teteh Euis sekarang,” kata Ara. Euis, anak pertama, juga mengalami pergulatan psikis. Sebagai remaja yang sedang mencari identitas, ia begitu kaget ketika seluruh kesenangan remajanya hilang begitu saja. Pahitnya hidup ia telan pelan-pelan sambil mencoba tegar. Hal ini sangat kontras dengan Ara yang baru masuk SD. Ara belum tahu banyak hal, bahkan tak mengerti arti kata bangkrut. Ia juga digambarkan selalu ceria dan mengaggap tidak ada masalah berarti dalam keluarga. Sementara, emak dalam film Keluarga Cemara (2019) menjadi sumber kebijaksanaan keluarga. Dengan ketenangan dan kesabarannya, emak menemani tiap anggota keluarga melewati momen krisis. Dari emaklah Euis belajar untuk menerima keadaan. Dari emak pula abah belajar bahwa kesulitan keluarga harus dihadapi bersama, bukan ditanggung sendiri oleh kepala keluarga. Pelajaran dari emak membuat abah akhirnya sadar untuk lebih mendengarkan pendapat anak dan istrinya, bukan menjadi sosok yang mau menanggung dan memutuskan semua sendiri. Perubahan abah sesuai dengan motto Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga. Tiap anggota keluarga semestinya saling mendukung, bekerjasama dalam segala kondisi, dan menjadi keluarga yang lebih demokratis. Seiring dengan kemauan abah mendengarkan pendapat anak dan istrinya, kebahagiaan kembali tumbuh dalam keluarga Cemara. Versi Baru Film panjang pertama Yandy Laurens ini mengadaptasi serial televisi populer berjudul sama yang tayang perdana pada 1996 di RCTI (ditayangkan ulang tahun 2004-2005 di TV7 ). Rumah produksi Visinema berhasil mendaur ulang kisah keluarga yang akarnya dari cerita bersambung karya Arswendo Atmowiloto di Majalah Hai. Film ini digarap dengan cukup baik tanpa kehilangan pesan awalnya: masalah keluarga seperti apapun, kalau dihadapi bersama tak akan terasa sulit. Bersama sang produser Gina S Noer, Yandy yang juga duduk sebagai penulis naskah menyajikan konflik psikologis para tokoh untuk menerima perubahan hidup. Yandy berhasil menampilkan kisah Keluarga Cemara yang baru, keluarga yang bangkrut, tanpa terjebak nostalgia manja dan klise tentang kehidupan serba ada sebelum jatuh miskin. Seluruh keluarga selalu berusaha tegar dan menerima meski batin mereka pahit. Konsepsi keluarga Cemara baru itu membuat seluruh pemain berwajah masam, tak lagi ceria seperti di serial televisi. Tawa hanya selingan, kesedihan di wajah pemain mendominasi. Adhisty Zara bermain apik memerankan Euis yang dirundung kesedihan namun tetap tegar hingga mengubahnya menjadi remaja pendiam. Ringgo Agus Rahman juga bermain cukup baik. Jarang-jarang penonton menyaksikan adegan Ringgo marah dan wajah putus asanya. Perubahan konsepsi Keluarga Cemara ini juga menghasilkan beberapa pembaruan. Antara lain, tokoh abah yang dalam serial televisi bekerja sebagai tukang becak, di film merupakan pengemudi ojek online. Abah dalam serial televisi merupakan sosok bijaksana, selalu sabar, dan tidak pernah marah; di film ini abah merupakan sosok pemarah. Simbol kebijaksanaan dan kesabaran dalam film ada pada tokoh emak. Abah dan emak dalam film ditampilkan lebih muda dibanding versi serial televisi. Ini membuat film Keluarga Cemara (2019) makin relevan dengan sasaran tonton mereka: keluarga muda yang masa kecilnya menikmati serial Keluarga Cemara (1990-an). Penggambaran Euis juga laiknya remaja kelas menengah kota besar yang punya hobi dan didukung oleh orang tuanya. Sementara tokoh Agil absen sepanjang film dan baru lahir di akhir cerita. Meski tentang drama keluarga, selipan humor yang dibawakan Ceu Salmah dan Ara di KeluargaCemara (2019) cukup menggelitik. Ia menjadi aksentuasi dari kisah-kisah yang ada dan membuat film lebih kaya warna sekaligus yang terpenting, sukses membuat seluruh penonton bioskop terharu dan menangis berjamaah. Theme song “Harta Berharga ” yang menjadi pembuka serial Keluarga Cemara juga mengalami aransemen ulang di film ini. Bunga Citra Lestari yang menyanyikannya berhasil membawakan dengan nuansa baru tanpa kehilangan roh lagu. “Harta Berharga” mengiringi adegan-adegan romantis, dalam jalinan cerita tentang keluarga sederhana, dengan alur sederhana, namun pendalaman psikis tokoh yang kuat di Keluarga Cemara (2019). Film yang dirilis bersamaan dengan waktu liburan sekolah ini, 3 Januari 2019, recommended untuk dinikmati keluarga di masa liburan awal tahun. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah.

  • Benteng Pertahanan Zaman Kerajaan

    Nambi dilantik sebagai patih amangkubhumi oleh Raden Wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Sang patih difitnah Mahapati tengah membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan untuk melawan Raja Jayanagara, putra Wijaya. Prabu Jayanagara yang percaya bualan itu pun pergi ke Lumajang. Nambi dan sanak saudaranya dibinasakan. Benteng di Pajarakan diduduki. Begitulah pemberontakan Nambi diberitakan dalam Nagarakrtagama, SeratPararaton dan  Kidung Sorandaka. Selain soal pemberontakan, kisah itu juga menggambarkan adanya benteng sebagai sistem pertahanan militer. Dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan sistem benteng telah dikenal masyarakat Nusantara sejak terbentuknya sistem sosial pertama kali. Itu dalam bentuk tanggul tanah berpola melingkar tanpa atau dengan disertai tatanan batu-batu kerakal guna melindungi permukiman atau tempat yang dianggap penting. Bagian luar dari benteng dapat dilengkapi ataupun tanpa disertai parit keliling. Benteng purba yang berbentuk tanggul tanah antara lain dijumpai di Way Sekampung, daerah Lampung dan di Lahat. Benteng semacam itu lazim disebut benteng alam. Ada pula benteng Keraton Buton, yang meski dibuat dari batu, denahnya mengikuti benteng alam yang telah ada. “Tidaklah benar bila dikatakan arsitektur banteng di Nusantara baru ada pada masa kolonial, sebagai buah dari difusi budaya Eropa yang mengenal arsitektur benteng dengan sebutan castile ,” kata Dwi. Penghancur Benteng Pada masa kerajaan Hindu-Buddha bentuk benteng menjadi makin kompleks. Fungsinya kian beragam dan bentuknya mungkin mendapat pengaruh dari perbentengan India, yang telah berkembang lebih awal dan lebih maju. Di India, benteng dikenal sejak masa Pra-Aria. Terbukti dengan ditemukannya jejak benteng purba di beberapa situs tua, seperti Mohenjodaro, Harappa, dan Chanhudaro. Benteng-benteng itu lantas dihancurkan oleh kawanan komunitas semi-nomaden, yang dikenal dengan sebutan bangsa Aria. “Dalam pustaka suci Veddha, sebutan untuk bangsa Aria adalah Puramdhara , yang artinya penghancur benteng,” kata Dwi. Istilah pura dan puri dijumpai dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. Serapan dari bahasa Sanskreta ini secara harafiah berarti “benteng, istana, kerajaan, kota, ibu kota, tempat tinggal raja, atau apartemen perempuan.” Dalam Catatan Sejarah Dinati Tang dari abad ke-7 M terdapat informasi tentang penduduk Kerajaan Kalingga di Jawa yang membuat pertahanan dari Kayu. Di Situs Ratuboko dari abad ke-9 M dengan jelas memperlihatkan model pertahanan yang dilengkapi tanggul terjal berlapis balok-balok batu, pagar keliling dua lapis, parit, pos jaga dan pemantauan gerak lawan maupun lorong penyelamatan. Ratuboko adalah kompleks vihara ( abhayagirivihara ). Bangunan itu merupakan keraton sekaligus benteng di atas bukit yang dipakai Balaputradewa untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi serangan dari kakak tirinya, Pramodhawarddhani, dan iparnya, Rakai Pikatan. “Dalam prasasti Siwagrha (778 S = 896 M) Ratuboko digambarkan sebagi tempat pengungsian, yang dimaksud adalah pengungsian Balaputradewa,” kata Dwi. Benteng Berbagai Kerajaan Berdasarkan catatan I-Tsing, Kerajaan Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Sayangnya, catatan pelawat Tiongkok itu tak mendeskripsikan dengan lengkap bentuk dan bahan bangunan yang digunakan. “Kemungkinan berupa balok-balok kayu atau bambu yang ditutupi semak-semak,” ujar Dwi. Sedangkan Ma Huan dalam Yingya Shenglan yang ditulis pada abad ke-15 M, mendeskripsikan tembok yang mengelilingi kediaman raja di Majapahit. Temboknya berupa bata setinggi lebih dari 9 m dan panjangnya lebih dari 90 m. Gerbangnya dua lapis dan sangat bersih serta terpelihara. Rumah-rumah di dalamnya terletak 9-10 m di atas tanah.  Penggunaan teknologi benteng juga disebutkan dalam data epigrafi. Prasasti Cane (1021 M) dari masa Raja Airlangga, memberitakan penduduk Desa Cane yang memperoleh anugerah sima berkat jasanya menjadi “benteng” di sebelah barat kerajaan. Mereka memperlihatkan ketulusan hati dalam mempersembahkan bakti kepada raja, tak gentar pertaruhkan jiwa raga dalam peperangan agar Sri Maharaja memperoleh kemenangan. “Bisa jadi di Desa Cane terdapat benteng, dalam posisi sebagai ujung tombak untuk menghadapi serangan dari arah barat, mengingat lawan utama yaitu Wurawari, berlokasi di sebelah barat kerajaan,” kata Dwi. Sedangkan keraton Airlangga berada di Wwatan Mas, lereng utara Gunung Penanggungan. Jejak arkeologisnya didapati di situs Jedong, Dusun Wotanmas, Desa Jedong, Ngoro, Mojokerto. “Menilik dua pintu gerbang menghadap ke barat berserta pagar batu berukuran tinggi serta tebal, tanggul terjal berlapis bolok-balok batu, kolam depan di sisi barat situs maupun posisi topografisnya yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal itu menggambarkan arsitektur benteng-keraton,” kata Dwi. Pada 1032 M, Wwatan Mas ditinggalkan lantaran serangan musuh. Selanjutnya dibangun kedatuan baru di Kahuripan. Kendati begitu, bekas kedatuan Airlangga itu terus dimanfaatkan hingga masa keemasan Majapahit. Buktinya, ada kronogram bertarik 1307 saka (1385 M) pada ambang pintu bagian atas gapura I. Kadatawan Wwatan Mas didukung oleh benteng, yang ditempatkan di bagian baratnya, yakni benteng Kuto Giring. Pada masa yang lebh muda (1271 M), berdasarkan kitab Pararaton, Wisnuwarddhana memerintahkan pendirian benteng di tempat stategis, Canggu Lor. Letaknya di jelang percabangan bangawan Brantas, yang memecah menjadi tiga sungai: Kali Mas, Porong dan sebuah kali lainnya yang telah mati. Pembangunan benteng Canggu Lor bagian dari serangan ke Mahibit yang diperkirakan berlokasi di tepi Brantas, dekat Terung. Benteng ini juga kemungkinan besar dibuat untuk melengkapi, melindungi, dan mendukung otoritas operasional pelabuhan transit pada aliran Brantas di Canggu Lor. “Jika benar begitu, artinya telah ada konsep paduan pelabuhan dan benteng sejak masa Hindu-Buddha, yang nantinya pada Islam marak dilakukan,” kata Dwi.  Pada masa Majapahit, selain kota benteng di Pajarakan milik Arya Nambi, juga terdapat di kawasan Nagari Lamajang. Ini dijumpai di situs Biting, Kelurahan Kutorenon, Kecamatan Sukadana, Lumajang. Bentuknya mengikuti empat aliran sungai: Bondoyudo di sisi utara, Winong di sisi timur, Cangkring di sisi selatan, dan Peloso di sisi barat. “Sungai-sungai itu dimanfaatkan sebagai barier alam, semacam parit keliling pelindung benteng,” kata Dwi. Benteng Kutorenon pun dilengkapi dengan enam buah menara intai yang mengingatkan kepada bastion dari benteng bergaya Eropa atau pada baluarti benteng Kraton Yogyakarta. “Boleh jadi benteng ini adalah benteng purba masa Majapahit yang mengalami renovasi pada Masa Perkembangan Islam,” kata Dwi.

bottom of page