top of page

Hadiah Juara untuk Mama

Gelar juara yang diraih Lius Pongoh dengan sukacita dan dukacita. Hadiah untuk ibunda tercinta.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 5 Jan 2019
  • 3 menit membaca

WAJAH Lius Pongoh, pebulutangkis era 1980-an, seketika berubah. Senyum yang menghiasi wajahnya menghilang berganti kesedihan ketika mengenang keikutsertaannya dalam Indonesia Open 1984. Sambil bercerita, mata Lius berkaca-kaca.


“Ya, di ajang Indonesia Open (17-22 Juli 1984) itu momen manis-pahit buat saya. Di bulan yang sama, mama saya meninggal,” ujar Lius lirih saat ditemui Historia di PB Djarum, Kamis, 3 Januari 2019. “Mama saya namanya mirip pahlawan perempuan, Kartini, tapi enggak ada (huruf) ‘i’-nya, jadi namanya Kartin,” lanjut pria yang sejak 2011 bernaung di bawah PB Djarum sebagai Administration and Support Coordinator.


Lius lahir dari pasangan Kartin dan Darius Pongoh di Jakarta 3 Desember 58 tahun lampau. Meski ayahnya pelatih bulutangkis klub PB 56, bukan berarti serta-merta Lius doyan olahraga tepok bulu. Lius kecil justru bercita-cita jadi tentara atau jadi praktisi beladiri.


“Kebetulan sepupu dari ayah saya ada yang (tentara) Marinir, ada juga yang di Angkatan Udara (TNI AU). Kalau Marinir kan jago berenang di laut. Kalau AU kan bisa menerbangkan pesawat sampai ke luar negeri. Nah, kalau olahraga beladiri senang karakte, kungfu, taekwondo. Tapi impian masa kecil itu tidak ada yang kesampaian,” ujar ayah empat putra tersebut.


Karena tak didukung orangtua, Lius lamat-lamat melupakan cita-cita itu. Bulutangkis jadi satu-satunya opsi untuk menyalurkan energi masa kecil. Pada usia enam tahun Lius masuk ke PB Anggara, klub naungan Bidang Anggaran Departemen Keuangan, sebelum pindah ke klub PB Garuda Jaya dua tahun kemudian. Di usia sembilan tahun, Lius akhirnya menetap di PB Tangkas tempat ayahnya melatih.



Mengutip Broto Happy Wondomisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia, Lius tak hanya mengasah kemampuan di klub tapi juga menimba ilmu olahraga di SMP, kemudian SMA Ragunan. Sejak itu Lius berkembang pesat. Prestasinya diawali dari juara tunggal putra Kejurnas Junior 1978. Setahun berselang, Lius ditarik ke Pelatnas PBSI di Senayan meski masih sekolah di SMA Ragunan.


Di pelatnas, Lius tak hanya bermain di nomor tunggal tapi juga ganda. Sempat jadi semifinalis Kejuaraan Dunia 1980, Lius berhasil merengkuh gelar internasional pertamanya, Swedish Open 1981. Di nomor ganda, Lius yang berpasangan dengan Christian Hadinata sukses menjuarai Japan Open 1981 dan Swedish Open 1982.


Sayangnya di pertengahan tahun 1982 Lius mengalami cedera pinggang dan harus absen dari pelatnas cukup lama. Baru pada 1984 Lius turun gunung lagi. Tapi Lius langsung juara di Indonesia Open, momen yang membuatnya sedih karena hampir dalam waktu bersamaan juga mesti berduka.


Sukacita Disambung Dukacita


Lius tak pernah menyangka bisa menang. Di babak penyisihan, dia satu grup dengan raksasa Malaysia Misbun Sidek. “Saya enggak pernah bisa menang lawan Misbun. Tapi saya beruntung, Misbun lebih dulu dikalahkan Richard (Mainaky), lalu berikutnya saya mengalahkan Richard,” sambung Lius.


Beban Lius tak hanya datang dari lapangan. Saat Lius mengikuti ajang itu, Kartin ibunya dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena sakit kanker pankreas. Maka setiap Lius habis bertanding selalu kembali menemani ibunya. “Richard (Mainaky) yang tiap malam menemani saya tiap malam ke rumah sakit. Paginya baru pulang lagi,” kenangnya. Lius dan Richard sudah karib semenjak ayah Lius melatih Richard di PB 56.


Kondisi ibunya yang sakit keras membuat konsentrasi Lius nyaris berantakan. Tapi Lius berhasil mengatasinya. “Kuncinya sih jangan terlalu memikirkan pertandingan. Biar tidak tegang sebelum main. Saya mikirnya, ya sudahlah, main saja. Mau bagaimana lagi? Tidur dan makan saja sudah enggak jelas, apalagi mikir untuk bisa menang,” tambah Lius.


Tak dinyana, “jurus” itu justru membuat Lius melaju. Di perempatfinal, Lius mesti berhadapan dengan maestro Liem Swie King. Sebelum pertandingan, ibunya sudah punya firasat bahwa putranya akan menang dengan susah payah dari sang maestro.


“Waktu itu mama kondisinya sudah enggak terlalu bagus. Tapi beliau pernah bilang, ‘Nyong (panggilan kecil Lius), nanti kamu akan mengambil batu tapi susah ambilnya. Ambilnya memang susah sekali tapi nanti pasti dapat’. Saya bilang, ya saya kan mau main bulutangkis, bukan ambil batu,” kenangnya dengan mata kian berkaca-kaca.


Lius baru insyaf akan kata-kata ibunya saat bikin gempar Istora Senayan, menghadapi King. Sempat kalah di set pertama, Lius yang juga hampir kalah di set kedua justru mampu membalikkan keadaan hingga menang lewat tiga set.


“Padahal di gim kedua saya sudah ketinggalan 1-14. Enggak mungkin menang sebenarnya. Saya ingat-ingat, mungkin itu maksud kata-kata mama saya tentang mengambil batu yang susah. Saya harus main tiga gim untuk kalahkan Koh Swie King,” imbuh Lius. “Motivasi saya waktu itu, ya enggak mau kalah saja sebelum benar-benar berakhir.”


Di semifinal, Lius membekap raksasa Denmark Morten Frost Hansen. Lius akhirnya menjuarai turnamen setelah di final menjungkalkan Hastomo Arbi. “Saya ingin kasih hadiah buat mama yang sedang sakit keras bahwa ini, ini lho, Ma, saya bisa juara,” kata Lius.


Ironis, keinginan Lius tak bisa terwujud. Tuhan berkehendak lain. “Waktu saya jadi juara, besoknya mama meninggal. Enggak sempat bisa kasih tahu saya juara,” tandas Lius.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
transparant.png
bottom of page