top of page

Hasil pencarian

9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi

    SEBAGAIMANA Brasil, Jerman tak pernah kehabisan talenta di lapangan hijau. Tidak hanya pemain, raksasa sepakbola Eropa itu dari masa ke masa juga senantiasa melahirkan pelatih-pelatih hebat. Selain Hans-Dieter ‘Hansi’ Flick yang membawa Bayern Munich juara Liga Champions musim 2019/2020, ada Thomas Tuchel yang bersama Paris Saint-Germain (PSG) dikalahkan Munich di final. Di level internasional, Jerman punya seabrek pelatih jempolan yang mengasuh tim nasional Jerman. Dua di antaranya Franz Beckenbauer yang sukses di Piala Dunia 1990 dan Joachim Löw yang membawa juara di Piala Dunia 2014. Baca juga: Piala Dunia yang Tak Diakui Deretan nama pelatih top Jerman itu merupakan buah dari pendidikan pelatih yang dikembangkan Deutsche Sporthochschule atau Universitas Olahraga, Köln sejak 1 November 1947. Bila menyebut Deutsche Sporthochschule, tentu tak bisa dipisahkan dari nama Sepp Herberger. Figur yang mempopulerkan idiom sohor “Bola itu bundar” ini merupakan penggagas Deutsche Sporthoch. Namun, kala penulis bertandang ke Deutsches Fußballmuseum di Dortmund pada Agustus 2016, tour guide tak membeberkan banyak tentang sosok Herberger kendati foto besarnya ada di hadapan. Sang pemandu hanya menjelaskan bagaimana Herberger berhasil mengangkat moril rakyat di negeri yang porak-poranda oleh Perang Dunia II itu dan selanjutnya mengantarkan timnas Jerman Barat (Jerbar) Piala Dunia 1954. Salinan Entlastungs-Zeugnis yang menyatakan Herberger telah melalui proses denazifikasi. (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Ternyata, berdasarkan deskripsi yang tertera di bawah foto Herberger, ketidakmauan guide mengisahkan panjang-lebar mengenai Herberger terkait dengan masa lalu kelam sang pelatih. “Herberger bergabung dengan NSDAP (Partai Nazi, red .) tahun 1933 dan ditunjuk sebagai pelatih timnas pada 1937. Tahun 1947 para pemain Jerman dan saksi lainnya menyatakan bahwa dia tidak mendukung ideologi rezim Nazi. Dia diperintahkan membayar 500 reichsmarks sebagai penebusan,” demikian menurut keterangan tersebut. Penebusan yang dimaksud itu adalah semacam uang untuk membersihkan namanya setelah pemerintah Jerman Barat mengeluarkan Entlastungs-Zeugnis atau Sertifikat Bersih. Salinan Entlastungs-Zeugnis milik Herberger turut di- display di museum itu . Sepakbola Pelipur Lara Sepp Herberger yang lahir di Mannheim-Waldhof pada 28 Maret 1897 sebagai anak bontot dari delapan bersaudara hasil pernikahan Josef dengan Lina Kretzler, sejak kecil sudah akrab dengan pergulatan hidup. Sepp sudah harus ikut membantu menafkahi keluarga sejak usia 12 tahun. Menukil biografi Sepp Herberger: Ein Lieben, Eine Legende (terj: A Life, A Legend ) karya Jürgen Leinemann, di usia yang masih sangat muda Herberger sudah jadi anak yatim setelah ayahnya, buruh pabrik kaca Saint-Goban, meninggal karena influenza. “Selepas lulus sekolah dasar tahun 1911 Herberger harus bekerja menafkahi keluarga di proyek konstruksi. Hanya dengan begitu ia bisa menampung ibu dan saudara dan saudarinya di Spiegelkolonie (pemukiman pekerja),” ungkap Leinemann. Baca juga: Ronald Koeman Pahlawan Katalan dari Zaandam Hanya si kulit bundar yang jadi pelipur lara di waktu luang Herberger di tengah kerja kasar yang ia lakoni. Dari sepakbola jalanan, Herberger mengasah skill- nya sebagai penyerang di level amatir bersama tim akademi Waldhof Mannheim. Namun, panggilan wajib militer menyeretnya ke Perang Dunia I. Pada Maret 1916, beberapa hari sebelum usianya menginjak 19 tahun, Herberger masuk Resimen Grenadier Baden Ke-2 “Kaiser Wilhelm I” sebagai operator radio. Baru pada 1919 Herberger bisa pulang dan melanjutkan karier sepakbolanya ke klub lamanya, SV Waldhof. Otto Nerz (tengah berdiri) mentor Sepp Herberger. (Repro Deutsches Fußballmuseum ). Sejak saat itu Herberger meninggalkan pekerjaannya di proyek konstruksi dan fokus ke sepakbola. Alhasil, pada 1921 Herberger sudah masuk timnas Jerman. Di bawah asuhan Otto Nerz, seniornya di VfR Mannheim dan Borussia Berlin, dua tim yang diperkuatnya setelah Waldhof, Herberger juga belajar banyak tentang kepelatihan. Nerz bersikap layaknya ayah kepada Herberger. Dia tak hanya menurunkan ilmu tentang sepakbola namun juga membiayai kuliah Herberger di Deutsche Hochschule für Leibesübungen (Universitas Pendidikan Fisik), Berlin pada 1927. Sambil kuliah, Herberger merumput bersama Borussia Berlin. Tim ini kemudian dia latih dengan status “pemain-pelatih” hingga 1932. Di tahun inilah dia mengakhiri kariernya sebagai pemain karena diminta Nerz jadi asistennya dalam melatih timnas Jerman. Di Bawah Panji Swastika Sejak Adolf Hitler berkuasa sebagai kanselir pada Januari 1933, situasi sepakbola di Jerman berubah. Setiap tim yang awalnya berada di bawah naungan negara bagian, mulai saat itu semua menjadi di bawah Nationalsozialistische Reichsbund für Leibesübungen (NSRL), semacam KONI. Semua anggota pengurus induk olahraga pun mesti terdaftar sebagai anggota partai. Herberger tak luput dari keterpaksaan mendaftar sebagai anggota Partai Nazi. Dia mendaftar pada 1 Mei 1933, sebagaimana Otto Nerz dan Presiden DFB (Induk Sepakbola Jerman) Felix Linnemann. Beban di pundak Herberger kian berat saat diminta menggantikan Nerz yang dipecat menjelang Piala Dunia 1938 gara-gara Jerman kalah dari Norwegia di Olimpiade Berlin. Kekalahan itu disaksikan langsung Hitler di stadion. Baca juga: Etalase Nazi di Olimpiade Berlin 1936 Mau-tak mau, Herberger membangun tim dari sisa kejayaan duetnya bersama Nerz di Piala Dunia 1934. Hans Jakob, Paul Janes, Reinhold Münzenberg, Ludwig Goldbrunner, Ernst Lehner, Otto Siffling, dan Fritz Szepan masih tetap dijadikan andalannya. Namun sial bagi Herberger. Persiapan timnya untuk Piala Dunia 1938 di Prancis direcoki urusan politik oleh Reichsführer Heinrich Himmler, utamanya pasca-pencaplokan Austria pada Maret 1938. “Bersatunya Austria yang kembali ke pangkuan Jerman harus diperlihatkan ke mata dunia. Hanya satu tim yang bisa ke Prancis dan satu tim itu adalah tim Jerman Raya. Reichsfuhrer menginginkan sebuah tim utama berisi perbandingan (pemain Jerman dan Austria) 6:5 atau 5:6. Sejarah akan mencatat nama kita,” ujar Linnemann memberi perintah pada Herberger, dikutip Hardy Greens dalam 1933 to 1945: Victories for the Führer . Sepp Herberger (kanan) bersama Fritz Walter, pemain timnas Jerman yang ia coba selamatkan dari horor Perang Dunia II. (Stiftung Sepp Herberger). Alhasil, Jerman gagal total. Di babak pertama saja sudah gugur setelah kalah dari Swiss, 4-2. Beban para pemain kian bertambah dengan teror penonton di Stadion Parc des Princes yang melempari mereka dengan botol hingga batu. Pegalaman pahit itu jadi kali terakhir kali Herberger menangani timnas Jerman di laga-laga resmi lantaran pada 1 September 1939 Jerman mengobarkan Perang Dunia II dimulai dan setahun kemudian FIFA menghapus keanggotaan DFB. Herberger tetap memegang jabatan pelatih hingga 1942. Namun di balik itu, Herberger sibuk melobi sejumlah petinggi partai dan militer. Tujuannya untuk menjauhkan sejumlah pemain kesayangannya dari tugas tempur. Maklum, banyak dari mereka ditarik ke berbagai kesatuan di Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman Nazi) dan ditempatkan di berbagai palagan. “Dia berusaha menjaga para pemain internasional (Jerman) dengan segenap kemampuannya. Salah satunya dengan terlibat sebagai konsultan dalam film bertema sepakbola, Das Grosse Spiel, pada musim panas 1941. Herberger setidaknya mampu membawa kembali 19 pemainnya dari garis depan untuk menjadi pemeran pendukung,” sebut Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football . Baca juga: Fritz Walter, dari Perang Dunia ke Piala Dunia Upaya lain Herberger adalah memasukkan pemain-pemainnya ke tim-tim milik militer, seperti Rote Jäger. Kesebelasan milik Brigade Lintas Udara ke-26 Luftwaffe (AU Jerman) ini dipimpin Mayor Hermann Graf, mantan anak asuh Herberger. Graf menyanggupi permintaan Herberger untuk memasukkan sejumlah pemainnya, salah satunya Fritz Walter, ke unitnya. Kelak Walter jadi andalan Herberger dalam membangun timnas Jerbar di Piala Dunia 1954. Sebagai pelatih, Herberger acap membawa timnya tur ke negara-negara sekutu Jerman Nazi seperti Hungaria dan negara-negara pendudukan macam Prancis dan Polandia. Pembangunan tim itu terhenti pada 1944 seiring makin suramnya nasib Jerman. Herberger sendiri dipanggil jadi sukarelawan di Luftnachrichtenschule 6 (Akademi Intelijen AU Jerman) di Pangkalan Udara Dievenow pada September 1944. Lima tahun pasca-Perang Dunia II Sepp Herberger kembali menukangi Timnas Jerman. ( dhm.de / fifa.com ). Untungnya, hingga kapitulasi Jerman Herberger berada jauh dari Berlin dan lebih sering di kampung halamannya, Mannheim. Nasibnya berbeda jauh dari Otto Nerz yang ditangkap Uni Soviet di Berlin dan wafat di dalam Kamp Tahanan Sachsenhausen pada 1949. Setelah menyelesaikan proses denazifikasi pada 1947, Herberger kembali ke kursi pada Februari 1950. Dia melatih Jerbar seiring dikembalikannya keanggotaan DFB di FIFA pada September 1950. Tugas berat di bab baru kariernya pun menanti, yakni mempersiapkan tim untuk Piala Dunia 1954. Baca juga: Kiper Manchester Bekas Pemuda Hitler Fritz Walter sudah pasti masuk dalam tim Herberger. Untuk menutupi kekurangan pemainnya, Herberger hunting ke liga-liga di setiap negara bagian. Untuk posisi kiper utama, Herberger ingin memulangkan Bert Trautmann dari Inggris, yang sempat jadi tawanan perang di Inggris dan setelahnya berkarier di Manchester City. “Pada 1953 Trautmann bertemu Sepp Herberger untuk mau memperkuat timnas Jerman. Tetapi Herberger kemudian menjelaskan bahwa kerumitan politis mencegahnya membawa Trautmann pulang dan Herberger tak bisa memasukkan namanya karena dia tak bermain di salah satu liga di Jerman,” tulis Alan Rowlands dalam Trautmann: The Biography. Sepp Herberger pulang dari Piala Dunia 1954 sebagai pahlawan. ( dfb.de ). Meski tanpa Trautmann, Herberger bersama timnya berangkat ke Swiss mengikuti Piala Dunia 1954. Di luar dugaan, timnya tampil memukau. Lolos dari Grup 2, Herberger membawa “Die Mannschaft” (julukan timnas Jerman) menekuk Yugoslavia 2-0 di perempatfinal dan menggebuk Austria 6-1 di semifinal. Di final, yang dimainkan di Stadion Wankdorf, Bern, 4 Juli 1954, Jerbar kembali bertemu Hungaria yang membantainya 8-3 di laga Grup 2. Tak disangka, Fritz Walter dkk. mampu membalikkan perkiraan publik. Hungaria dengan Ferenc Puskásnya dipaksa menelan getir kekalahan 2-3 di laga dengan kondisi hujan lebat dan lapangan becek itu. Baca juga:  Final Jerman v Hungaria Berujung Gempita dan Prahara “Itu cuacanya Fritz Walter,” cetus Herberger merujuk kecemerlangan Walter sebagai dinamo tim yang cakap kala bermain dalam kondisi hujan lebat. Herberger membesut tim Jermbar hingga 1964. Dia wafat di Weinheim-Hohensachen pada 28 April 1977 di usia 80 tahun karena pneumonia . Walau hanya prestasi satu-satunya, “Keajaiban Bern” membersihkan namanya dari bayang-bayang Nazi. Prestasi itu juga menjadi momen pertama DFB mencicipi Piala Dunia. Tongkat estafet prestasi tersebut dilanjutkan Helmut Schön, eks anak asuh Herberger, di Piala Dunia 1974, Franz Beckenbauer di Piala Dunia 1990, dan Joachim Löw di Piala Dunia 2014.

  • Cabai dari Amerika ke Nusantara

    Dikenal sebagai bahan pemedas dalam makanan, cabai menyebar ke seantero dunia.

  • Empat Gerilyawan Korea di Palagan Garut

    Nama Yang Chil Sung alias Komarudin saat ini sudah mulai dikenal banyak orang Indonesia. Sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea, kiprahnya mulai terangkat tiga tahun belakangan ini, ketika beberapa media asal Korea Selatan seperti Radio KBS  dan MBC TV  membuat liputan khusus tentang kisah hidup lelaki asal kota Wanju tersebut selama berjuang sebagai gerilyawan Indonesia di Garut. Bahkan kepada Metro TV  beberapa waktu lalu, Bupati Garut Rudy Gunawan pernah menyatakan akan memasukan Yang Chil Sung sebagai pahlawan lokal sekaligus menabalkan namanya untuk satu ruas jalan di kota Garut. “Beliau pantas mendapatkan penghormatan sehingga namanya akan kami abadikan sebagai nama jalan (di kota Garut),” ujarnya. Namun sejatinya, Yang Chil Sung bukanlah satu-satunya orang Korea yang terdampar di Garut dan menggabungkan diri dalam gerakan pembebasan tanah air orang-orang Indonesia. Dalam catatan saya, ada sekitar 3 orang Korea lain di tubuh Pasukan Pangeran Papak (kemudian melebur dalam Markas Besar Gerilja Galoenggoeng). “Peran mereka pun, saya kira tak kalah penting,” ungkap Kim Moon Hwan, sejarawan publik asal Korea Selatan. Berikut nama-nama orang-orang Korea yang aktif di front Garut selama 1946-1948. Yang Chil Sung Sosok Yang Chil Sung kali pertama muncul di media Indonesia ketika wartawan senior asal Garut Yoyo Dasriyo menulis kisah kehidupannya di sebuah media online Jawa Barat pada 2013. Namanya kemudian semakin dikenal khalayak (terutama di dunia maya), saat pada 2015 wartawan dari Radio KBS (Korea Selatan) Chae-eui Hong datang ke Garut dan membuat suatu liputan panjang mengenai kiprah lelaki yang memiliki nama Jepang “Yanagawa” itu. Seperti dikatakan oleh Rostineu, pengamat sejarah orang-orang Korea di Indonesia, Yang Chil Sung datang kali pertama ke Indonesia pada sekitar 1943 bersama ribuan phorokamsiwon (penjaga tawanan perang). Pada sekira 1946, dia bersama kawan-kawan Jepang-nya kemudian bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak, organ gerilyawan Indonesia asal Garut. Aktif sebagai pejuang Indonesia dan memimpin unit Regu Putih (khusus mengurusi soal sabotase), Yang Chil Sung lebih dikenal orang-orang Garut dengan nama lokal-nya yakni Komarudin. Dalam suatu penggerebekan oleh militer Belanda di Gunung Dora, Tasikmalaya pada akhir Oktober 1948, Yang Chil Sung tertangkap. Tujuh bulan kemudian, dia dihukum mati oleh pihak militer Belanda dan kemudian dimakamkan di Garut. Guk Jae-man Di kalangan para pejuang Garut, Guk Jae-man lebih dikenal sebagai Soebardjo. Dalam struktur organisasi MBGG, namanya disebut-sebut sebagai koordinator bagian intelijen. Kendati sangat sedikit informasi mengenai Jae-man ini, namun namanya sempat dibahas oleh Utsumi Aiko dalam buku  Aka michi shita no choosonin banran  (Pemberontakan Rakyat Joseon di Bawah Garis Khatulistiwa). Utsumi yang menemui istrinya bernama Maria pada 1981, sempat mendapatkan surat terakhir Jae-man kepada keluarganya. Dalam surat tersebut, tergambar betapa lelaki Korea itu sangat kesepian, putus asa dan memendam rasa rindu yang sangat kepada keluarganya selama berpetualang di hutan-hutan Garut dan Tasikmalaya. Jae-man tewas di ujung bedil para serdadu Belanda pada suatu siang, 26 Oktober 1948. Bersama rekan-rekan lainnya yakni Djoeana Sasmita, Masharo Aoki, Hasegawa Katsuo dan Yang Chil Sung, dia sebenarnya tertangkap hidup-hidup. “Namun menurut bapak saya, saat ditawan itu dia berusaha lari lalu ditembak mati waktu itu juga,” ujar Kandar, putra pertama dari Djoeana Sasmita. Saat ditangkap, pihak militer Belanda merampas sebuah catatan harian dari tangan Jae-man. Lee Gil Dong Sosok ini masih merupakan misteri. Kendati namanya sempat disebut oleh Utsumi Aiko dalam bukunya, namun secara terperinci sepakterjangnya kurang termunculkan. Dalam catatan hariannya, Djoeana Sasmita menyebut nama Gil Dong sebagai Oemar. Di kalangan orang-orang Wanaraja (pangkalan awal Pasukan Pangeran Papak), Oemar dikenal sebagai “orang Jepang yang selalu mengobati orang sakit”. Namun dalam suatu dokumen NEFIS (Pelayanan Informasi Intelijen Belanda), saya menemukan peran Oemar adalah sebagai koordinator voorlichting (bagian informasi). Saat Insiden Gunung Dora, nasib Oemar tidaklah jelas. Kim Moon Hwan dan Utsumi Aiko menyebut lelaki Korea itu langsung tewas saat penggerebekan dimulai pada jam 1 dini hari, 26 Oktober 1948. Namun dalam catatan hariannya, Djoeana menyebut Oemar berhasil lolos. Woo Jong Soo Saat tinggal di Gunung Dora, lelaki Korea ini dikenal luas oleh para penduduk di Desa Parentas (kaki Gunung Dora), Tasikmalaya dengan nama lokal: Adiwirio. Alih-alih sebagai petempur, sosoknya lebih dikenang sebagai pejuang yang pandai bertani. Haji Udin (87), masih ingat bagaimana Adiwirio mengajarkan penduduk untuk menanam kol, kentang dan sayuran lainnya. Dia pun dikenal sebagai pemasok logistik bagi para gerilyawan MBGG. “Keahliannya bertani benar-benar hebat,” kenang lelaki yang waktu bocah besar di Desa Parentas itu. Jong Soo termasuk gerilyawan yang lolos dari Insiden Gunung Dora pada 26 Oktober 1948. Dia berhasil meluputkan diri ke hutan. Keterangan Haji Udin itu terkonfirmasi oleh catatan harian Djoeana yang menyebut Jong Soo bisa hidup sampai usia senja dan kemudian meninggal di Cianjur pada pertengahan 1980-an.

  • Tentang Anjay dan Kata-kata Umpatan

    WARGANET ramai-ramai mencuit kata "anjay" sehingga menjadi trending topic . Mereka merespons siaran pers dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengajak untuk menghentikan penggunaan kata "anjay". Kata "anjay" biasa digunakan dalam percakapan di antara teman sepergaulan untuk menunjukan suasana keakraban. Namun, menurut Komnas PA, jika kata "anjay" atau "anjing" digunakan kepada orang yang tidak dikenal dan lebih dewasa bisa mengandung unsur kekerasan verbal ( bullying ) dan merendahkan martabat seseorang, sehingga dapat dilaporkan sebagai tindak pidana. Seperti zaman Majapahit saja yang menghukum orang yang melakukan penghinaan atau caci maki ( wakparusya ). Pada umumnya dihukum denda berupa uang kecuali wakparusya  yang dilakukan seorang candala  kepada brahmana (pendeta), diancam dengan hukuman mati. Candala  adalah masyarakat dari lapisan sosial paling rendah, di bawah sudra , jadi tergolong paria  atau tanpa kasta. Susanto Pudjomartono, mantan wartawan dan diplomat, dalam tulisan bahasa berjudul "Bangsat" di majalah Tempo , 2 Juni 2002, membagi kata-kata umpatan dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah kata-kata umpatan yang paling sering dipakai yaitu nama binatang yang dianggap rendah atau nista. Dalam kategori ini, anjing tidak sendirian. Binatang-binatang yang senasib dengan anjing di antaranya babi, monyet, kunyuk, bangsat (kutu busuk), kambing, kucing, kerbau, kampret, dan lain-lain; belakangan buah dari persaingan politik, umpatan kampret punya lawan yaitu cebong. Tidak puas dengan hanya umpatan binatang itu, manusia menambahkan predikat tertentu, misalnya "(dasar) tampang monyet", "kerbau dungu", "kambing congek", dan "kucing kurap" (koreng). "Umpatan babi dan anjing paling populer, mungkin karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang menganggap kedua binatang tersebut najis," tulis Susanto. Sastrawan Hasif Amini dalam tulisannya "Fauna Bahasa" di majalah Tempo , 12 Februari 2017, menambahkan bahwa kata "binatang" sendiri dalam beberapa pemakaian berkonotasi negatif, misalnya "binatang ekonomi" dan "binatang politik". Begitu pula kata "hewan" yang terasa lebih ilmiah dan netral, tak jarang menunjuk kualitas negatif, misalnya dalam frasa "sifat-sifat hewani". Konotasi positif atau negatif bisa berbeda-beda antara satu lingkungan budaya dan yang lain. Hasif menyontohkan kata dog  tak menjadi umpatan yang lazim dalam Bahasa Inggris karena dalam lingkungan itu, anjing umumnya binatang piaraan yang patuh, setia, dan disayangi. Bahkan, kata dog  mengandung makna positif, misalnya dalam ungkapan working like a dog yang berarti kerja keras tak kenal lelah. Kalau di Indonesia, belakangan muncul ungkapan "kerja keras bagai kuda" yang sepertinya diambil dari lirik lagu Koes Plus berjudul "Ku Jemu". Dog  memang tidak lazim jadi kata umpatan, tapi dalam Bahasa Inggris (slang) ada kata bitch (jalang) yang secara harfiah artinya "anjing betina". Kata umpatan ini digunakan untuk merendahkan perempuan. Menurut Oxford English Dictionary , istilah bitch berasal dari kata Inggris Kuno, bicce  atau bicge , yang berarti "anjing betina". Leluhur kata itu kemungkinan dari Bahasa Norse Lama atau Bahasa Skandinavia Kuno, yaitu bikkja , yang juga berarti "anjing betina". Akar sejarah bagaimana anjing digunakan untuk merendahkan perempuan dapat dilacak sampai zaman Yunani Kuno. Kategori kedua adalah kata-kata umpatan yang berhubungan dengan seks. Misalnya, kata umpatan khas Jawa Timuran, jancuk  atau jancok  dari kata diancuk  ( ancuk  artinya bersetubuh). Karena dirasa kasar, jancuk  atau jancok  kemudian dipelesetkan menjadi jangkrik. Ada yang percaya kalau jancuk atau  jancok berasal dari kata "Jan Cox" yang tertulis pada badan sebuah tank ketika Belanda berusaha menduduki kembali Indonesia. Padahal, menurut penelusuran komunitas Surabaya Tempo Dulu+ , Jan Cox adalah nama seniman Belanda yang dijadikan nama tank Stuart M3 yang merupakan kendaraan Kapten Nix, komandan Eskadron 1 Vechwagens KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Eskadron ini mulai beroperasi pada 1946 di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Sebelumnya, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, orang-orang Belanda menyamakan orang pribumi dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, biasa tertulis: Verboden voor Honden   en Inlanders  (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi). Kategori ketiga adalah kata-kata umpatan yang berasal dari sesuatu yang dianggap hina atau merugikan, seperti setan, laknat, bajingan, goblok, bodoh, sialan, dan lain-lain. Saat kata-kata umpatan dirasa kasar, maka dibuatlah pelesetannya. Susanto menyontohkan sastrawan Danarto yang dikenal santun selalu menulis "siwalan" (buah lontar) sebagai pelesetan dari "sialan". Bacalah di bukunya, Catatan Perjalanan Haji Danarto, Orang Jawa Naik Haji : "Tiba-tiba sepercik pikiran menyelinap di benak: ingin saya mencuri Alquran. Habis, bergeletak bertumpuk-tumpuk begitu banyak. Saya pikir bagus sekali untuk kenangan, Alquran curian dari Masjid Nabi, hmmm, nggak  apa deh biar buta huruf juga. Saya pikir, pikiran ini muncul akibat pergaulan buruk di Taman Ismail Marzuki, yang seenak udelnya saja mengarang-ngarang fatwa: mencuri buku adalah seindah-indahnya perbuatan. Siwalan bener! (He, he, he, orang lain disalah-salahin...)." Bila Danarto memelesetkan "sialan" jadi "siwalan", bukankah anak-anak muda juga memelesetkan "anjing" jadi "anjay". Barangkali tak ada binatang yang dijadikan umpatan selain anjing yang paling banyak pelesetannya. Dengan mengubah tiga huruf terakhir dari kata anjing, lahirlah kata anjir, anjim, anjrit, anjrot, dan lain-lain. Jadi, bila "anjay" dilarang, penggantinya masih banyak.*

  • Di Balik Kelanggengan Pemerintahan Shinzo Abe

    MATA Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berkaca-kaca. Selepas merampungkan pidato terakhirnya, Jumat (28/8/2020), ia membungkuk dengan khusyuk ke hadapan kamera di depannya untuk pamit kepada 126 juta rakyatnya. Sebagai PM dengan masa pemerintahan terlama, Abe mundur dengan alasan kesehatan. “Kesehatan yang buruk tak semestinya memengaruhi keputusan-keputusan politik dan karena saya tak bisa memenuhi ekspektasi rakyat Jepang, saya memutuskan bahwa saya tak bisa terus menjadi perdana menteri dan akan mundur. Selama tujuh tahun saya sudah berusaha yang terbaik, namun saya menderita penyakit dan saya butuh perawatan,” ungkapnya, dikutip The Guardian , Jumat (28/8/2020). Baca juga: Tetsu Nakamura Sang Samurai Kemanusiaan Masa pemerintahan Abe sejatinya baru akan kedaluarsa pada 2021. Namun sejak delapan tahun silam Abe mengidap penyakit radang usus besar kronis. Penyakit ini juga sempat jadi penyebab Abe mundur pada 2007. Petinggi Partai LDP (Partai Liberal Demokratik) itu total menakhodai negeri “Matahari Terbit” selama tujuh tahun 247 hari. Abe pertamakali terpilih jadi PM Jepang pada 2006, PM termuda dalam sejarah Jepang. Sempat mundur, Abe kembali maju ke pemilihan dan menang pada pemilu 2012, 2014, dan 2017. Ia mewariskan “Abenomics”, semacam strategi stimulus perekonomian Jepang, sejak 2012. Shinzo Abe PM Jepang dengan masa pemerintahan terlama. ( kantei.go.jp ). Tiga poin terpenting Abenomics adalah pelonggaran moneter besar-besaran, pengeluaran fiskal, dan reformasi struktural. Untuk jangka pendek, Abenomics berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan hasilnya booming pariwisata hingga tersedianya lapangan kerja. Namun, pandemi corona menggoyahkan Abenomics dan perekonomian Jepang berada di bibir jurang resesi walau secara ekonomi masa pemerintahan Abe bisa dibilang sebagai era yang stabil. Sejak 2013, PM Abe juga mewariskan Hari Restorasi Kedaulatan pada setiap 28 April sebagai peringatan hari terakhir pendudukan Amerika Serikat atas Jepang (28 April 1952). Namun, kontroversi terkait perkara bersifat historis tak pernah luput dari pemerintahannya. Maklum, sebagai politikus konservatif sayap kanan, Abe juga anggota Nippon Kaigi (Konferensi Jepang), organisasi ultra-konservatif sayap kanan yang sejak berdiri pada 1997 acap menuntut revisi Undang-Undang No.9 tahun 1947 tentang larangan perang sebagai penyelesaian sengketa dengan negara lain. Undang-undang tersebutlah yang membuat Jepang tak memiliki angkatan bersenjata pasca-Perang Dunia II. Jepang hanya diizinkan memiliki pasukan bela diri yang beroperasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in Abe termasuk perdana menteri Jepang yang senantiasa menyanggah keterkaitan negerinya terhadap jugun ianfu (budak seks perempuan) di semua wilayah yang diduduki Jepang semasa perang. Abe juga acap disorot lantaran sering menyambangi Kuil Yasukuni untuk menghormati para prajurit Jepang di masa perang. Dua hal tersebut kerap jadi pemicu ketegangan dengan negara-negara yang jadi korban pendudukan Jepang di masa perang, utamanya RRC dan Korea Selatan. Semua warisan itu merupakan buah manuver-manuver politik Abe yang diarungi sejak 1982 dan tak lepas dari sokongan keluarga besar yang reputasinya tak sembarangan. Abe yang lahir di Tokyo pada 21 September 1954 dari suami-istri Yoko Kishi dan Shintaro Abe hidup di keluarga yang berada dalam lingkaran politik dan pemerintahan. Silsilah “dinasti politik” itu turun-temurun di pihak ibu dan ayahnya. Para Pendahulu yang Berpengaruh Dari pohon keluarga, figur berpengaruh teratas yang teridentifikasi adalah kakek canggah dari garis ayahnya, Shishaku (wakil tinggi kaisar) Ōshima Yoshimasa. Yoshimasa merupakan gubernur jenderal Kwantung pertama (1905-1912) setelah wilayah di Semenanjung Liaodong itu disewa Kekaisaran Jepang dari Dinasti Qing. Sebagai perwira militer, Jenderal Yoshimasa acap memetik kegemilangan. Perang Boshin (1868-1869) atau perang saudara antara Aliansi Satchō yang pro-Kaisar Meiji dengan Keshogunan Tokugawa, Perang Sino-Jepang I (1894-1895), dan Perang Rusia-Jepang (1904-1905) semua meningkatkan reputasinya. Baca juga: Konflik Keluarga dalam Perang Dunia “Di Perang Rusia-Jepang, Ōshima yang memimpin Divisi Ke-3 Angkatan Darat (AD) Kekaisaran Jepang, ikut mendorong kemenangan Tentara AD Ke-2 di Pertempuran Liaoyang, Pertempuran Shaho, dan Pertempuran Mukden. Sedari Oktober 1905 menjabat Gubernur Jenderal Kwantung dan di masa pemerintahannyalah dibangun fondasi pasukan terbesar Jepang, Tentara Kwantung,” ungkap Rotem Kowner dalam Historical Dictionary of the Russo-Japanese War. Jenderal Ōshima Yoshimasa. ( sekiei.nichibun.ac.jp ). Dari pihak ayah Abe juga ada Kan Abe sang kakek, politikus Diet Nasional (parlemen) dari faksi antiperang di Kabinet PM Hideki Tojo yang alumnus jurusan politik Universitas Kekaisaran Tokyo (kini Universitas Tokyo). Hebatnya, sebagaimana disitat Dong-A Ilbo , 28 Oktober 2018, ia bisa masuk parlemen sebagai calon independen setelah menang di Prefektur Yamaguchi dalam Pemilu 1937. Di masa akhir perang, Kan beraliansi dengan sejumlah politisi liberal penentang perang dan berhasil melengserkan PM Tojo. Namun, Kan tak bisa melihat pemilu pertama Jepang pascaperang lantaran keburu wafat (30 Januari 1946) karena TBC kala ikut membantu persiapan pemilu. Baca juga: Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II Sementara, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu, Nobusuke Kishi, punya haluan politik bertolak belakang dari kakek pihak ayah. Kishi sejak muda mengagumi “Bapak Fasis Jepang” Ikki Kita. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Kekaisaran Tokyo, pada 1920 Kishi masuk pemerintahan sebagai pegawai Kementerian Pemasaran dan Industri. Kishi jadi satu dari sedikit figur ekonomi yang inovatif. Dia berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan mencontek sejumlah kebijakan di Eropa, seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Uni Soviet, kebijakan kartel industri lewat kemajuan teknologi Jerman Nazi, dan teori-teori manajemen buruh Frederick Winslow Taylor di Amerika Serikat. Kan Abe, kakek Shinzo Abe dari garis ayah. (Shimonoseki City Board of Education). Diungkapkan Sterling dan Penny Seagrave dalam The Yamato Dynasty , Kishi selalu membayangkan Manchuria bisa menjadi pusat industri besar Jepang di luar kepulauan. Maka ketika Tentara Kwantung sukses mencaplok Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo pada September 1931, Kishi sering berperjalanan ke Manchukuo. Pada 1935, ia didapuk menjadi Wakil Menteri Pembangunan Industri Manchukuo dan berkawan baik dengan Tojo yang kelak jadi  perdana menteri. Tetapi sejak itulah julukan “Shōwa no yōkai” (Iblis Shōwa) tersemat padanya. Selain menerapkan sejumlah kebijakan berbau nepotisme, masuknya Nissan Group yang dipimpin pamannya Kishi ke Manchukuo, membuat Kishi turut mengeksploitasi pekerja paksa China. Bibit-bibit pemberontakan di antara para buruh sudah jauh-jauh hari diantisipasinya dengan teror mafia Yakuza yang diberi imbalan jalur perdagangan opium. Baca juga:  Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS. Setelah Tojo menjadi perdana menteri, pada Oktober 1941 Kishi yang naik menjadi menteri Perlengkapan Perang juga mengatur perbudakan lebih dari enam ratus ribu orang Korea dan 41 ribu orang China. Oleh karenanya, di ujung perang Kishi ditangkap Sekutu dan ditahan di Penjara Sugamo sebagai penjahat perang Kelas A. Namun pada akhirnya, Kishi tak pernah diajukan ke Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh dan dilepaskan pada 1948 setelah datang lobi dari Dewan Amerika untuk Jepang. Dewan berisi mantan duta besar dan konsul jenderal AS itu minta Kishi dibebaskan karena dianggap orang yang tepat membangun kembali Jepang. Petualangan politik Kishi pascaperang berlanjut sebagai anggota parlemen dan pendiri Partai Demokratik Jepang. Partai ini pada 1955 merger dengan Partai Liberal menjadi Partai LDP dan jadi tunggangan politik Kishi. Setelah menjadi menteri luar negeri pada 1956, ia berhasil menjadi perdana menteri (1957-1960). Nobusuke Kishi, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu. ( loc.gov ). Di era pemerintahan Kishi Jepang membangun kembali persahabatannya dengan negara-negara bekas jajahanya dengan negosiasi ganti rugi. Selain Indonesia, ada Myanmar, Filipina, dan Thailand. Tokoh penting lain dari dinasti politik Shinzo Abe adalah ayahnya, Shintaro Abe, putra Kan Abe. Shintaro merupakan musuh politik Tojo dan Kishi. Namun Shintaro tak mengikuti jejak ayahnya dalam hal haluan politik, melainkan justru berkembang di bawah ketiak Kishi. Terutama setelah Shintaro menikahi putri Kishi, Yoko Kishi, alias ibu Shinzo Abe, pada 1951. “Sebelum masuk ke politik, (Shintaro) Abe selepas lulus SMA pada 1944 masuk akademi Angkatan Laut untuk berlatih menjadi sukarelawan pilot Kamikaze (serangan bunuh diri, red .). Tetapi perang keburu berakhir sebelum Abe menyelesaikan latihannya,” tulis Patrick Hein dalam “Leadership and Nationalism: Assessing Shinzo Abe” yang dimuat di Asian Nationalisms Reconsidered. Baca juga: Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang Pascaperang, Shintaro melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Tokyo dan selepas lulus pada 1949 ia bekerja jadi wartawan politik di suratkabar Mainichi Shimbun . Pada 1956, ia meninggalkan karier jurnalistiknya untuk menjadi sekretaris pribadi mertuanya saat Kishi menjabat menteri luar negeri. Shintaro Abe (kanan), ayah Shinzo Abe semasa menjabat menteri luar negeri. ( reaganfoundation.org ). Shintaro terus menjadi sekretaris pribadi ketika Kishi naik jadi perdana menteri. Setahun kemudian, dengan tunggangan politik yang sama dengan ayahnya, Partai LDP, Shintaro masuk parlemen setelah menang di daerah Prefektur Yamaguchi dalam pemilu 1958. “Sejak saat itu dia terus terpilih selama delapan kali (dalam pemilu) dan pada November 1974, ia ditunjuk PM Takeo Miki masuk kabinet sebagai Menteri Pertanian dan Kehutanan. Tuan Abe juga kemudian menjabat berbagai pos di kabinet dan menjadi salah satu pemimpin berpengaruh di partai penguasa, LDP. Seperti jabatan Ketua Komite Kebijakan LDP di Parlemen, Ketua Sekretaris dan Ketua Dewan Pertimbangan Kebijakan LDP,” tulis Japan Report , laporan pusat informasi Konsulat Jenderal Jepang di New York, edisi Januari 1982. Baca juga: Jepang-RI: Enam Dasawarsa Bersama Saudara Tua Shintaro gagal mengikuti jejak mertuanya menjadi perdana menteri –jabatan tertinggi yang dipegang Shintaro adalah menlu (1982-1986). Pasalnya, pada 1988 Shintaro bersama sejumlah anggota parlemen dan PM Noboru Takeshita terseret kasus korupsi perdagangan saham ilegal yang melibatkan perusahaan SDM, Recruit Holdings Co., Ltd. Akibatnya, Shintaro dipaksa mundur dari posisi Sekjen LDP dan sejak itu karier politiknya tak pernah pulih. Dinasti politiknya kemudian diteruskan Shinzo Abe, putra keduanya. Putra pertamanya, Hironobu Abe, menggeluti karier di perindustrian, yakni di Mitsubishi Shoji Packaging. Shinzo Abe meninggal dunia setelah ditembak ketika sedang kampanye pada 8 Juli 2022. Baca juga:  Kudeta Perwira Muda Negeri Sakura

  • Jejak Archbold di Papua

    Orang Amerika penasaran dengan tanah Papua. Mereka mengirim ilmuwan dan peneliti yang didanai perusahaan minyak.

  • Galang Dana Dwikora ala Sukarno

    Sekali waktu Presiden Sukarno memanggil pengusaha Haji Abdul Karim Oey ke Istana. Lelaki Tionghoa itu merupakan kawan dekat Sukarno waktu di Bengkulu dulu. Dia pun dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di sana. Bung Karno menjelaskan kepada Oey bahwa pemerintah perlu dana sebesar Rp 250 juta untuk membiayai Operasi Dwikora “Ganyang Malaysia”. “Itu urusan gampang. Tidak ada persoalan mencari dana untuk kepentingan nasional,” kata Oey sebagaimana terkisah dalam memoarnya Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Karib Bung Karno. Oey lalu menyarankan agar Sukarno mengundang para pengusahan besar di Jakarta dan sekitarnya. Oey sendiri berkomitmen kalau perusahannya bersedia menyumbang sebesar 75 juta rupiah. Keesokan harinya, Oey menyerahkan cek senilai jumlah tersebut kepada Menteri Sosial Mulyadi Djojomartono. Mulyadi kemudian memanggil stafnya membuat kuitansi sumbangan dari perusahaan Oey. Pada 9 Juli 1964, ratusan pengusaha, pedagang besar, dan menengah kumpul di Istana. Semua hadir lengkap menurut undangan. Ketika Bung Karno muncul, orang-orang memberi hormat. Seperti biasa, Sukarno memulainya dengan berpidato menyampaikan maksudnya akan pertemuan itu. Dia mengharapkan supaya para pengusaha itu berkenan membuka dompetnya lebar-lebar guna menyokong Operasi Dwikora. Sukarno pun mencatut nama Oey untuk memotivasi saudagar-saudagar itu.  “Ini saudara kita Oey Tjeng Hien alias Haji Abdul Karim Oey yang belum punya kekayaan berani menyumbang Rp 75 juta,” kata Sukarno di depan para pengusaha. Bung Karno kemudian menyebut satu persatu nama pengusaha. Dana terus mengalir. Agus Musin Dasaad menyumbang Rp 100 juta. Jusuf Muda Dalam Rp 100 juta. Teuku Markam Rp 50 juta. Selain mereka, ada yang menyumbang Rp 25 juta, Rp 10 juta, dan yang terkecil Rp 5 juta. Markam, pengusaha kulit ternama asal Aceh mendekati Oey seraya berbisik. “Pak Haji Karim, kalau saya diizinkan memeluk Presiden, maka saya kasih lagi Rp 50 juta. Oey meneruskan pesan itu kepada Bung Karno. Tawaran itu dijawab kepada yang bersangkutan.  “Ah, ada-ada saja," kata Bung Karno. Oey membujuk Bung Karno, “Cuma dipeluk saja,” katanya. Sukarno setuju. Markam pun merangkul Presiden. Hadirin tertawa ramai. Keluar kocek Rp 50 juta dari kantong Markam. Siapa nyana, Markam mendekati Oey lagi sambil berkata, kalau dirinya diizinkan mencium Presiden, dia akan menambah Rp 100 juta lagi. Ketika keinginan itu disampaikan, Bung Karno menolak.  Namun, Oey  kembali membujuk Bung Karno, “Apalah artinya dicium pipi sejenak, dana akan bertambah 100 juta. Itu bukan sedikit,” kata Oey. Akhirnya, Bung Karno bersedia lagi. Markam mencium pipi Presiden. Hadirin semakin riuh. Dana bertambah Rp 100 juta ke kas negara. Galang dana Dwikora itu terus berlangsung. Sukarno menanyakan kepada Mulyadi berapa dana yang sudah terkumpul. Setelah dihitung, dana yang terkumpul mencapai Rp 650 juta. Oey mencoba menggoda Bung Karno lagi, “terus saja sampai satu milyar,” katanya. Tapi Bung Karno menjawab bahwa angka segitu sudah lebih dari cukup untuk sementara. Dana yang diperoleh pada hari itu melebihi jumlah yang menjadi target semula, Rp 250 juta. Karena kelelahan, Bung Karno menyudahi acara penggalangan dana tersebut. Upaya mengganyang Malaysia ternyata membuat Bung Karno benar-benar repot.

  • Siapakah Maulana Malik Ibrahim?

    RUTE perdagangan saudagar muslim melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya hingga Tiongkok berdampak pada kontak langsung dengan pantai utara Jawa. Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik menjadi petunjuk adanya masyarakat muslim di dekat ibu kota Majapahit dan sekitarnya.

  • Merawat Ingatan Tentang Pangkalan Brandan

    PANGKALAN Brandan terletak di Kabupaten Langkat sekitar 80 km dari kota Medan. Lokasinya strategis karena dilalui jalan lintas timur Sumatra dan pintu gerbang menuju Aceh. Dahulu, Pangkalan Brandan kesohor sebagai daerah penghasil minyak. Pada kurun waktu tertentu, Pangkalan Brandan menjadi kilang minyak terbesar di Sumatra.

  • Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman

    Batavia menjadi salah satu daerah paling penting pada masa VOC bercokol di Hindia Timur. Setelah berhasil menguasai Batavia pada 1619, VOC mendirikan berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas perdagangannya di Hindia Timur. Salah satu kompleks bangunan itu Kastil Batavia. Letaknya sekarang di Kampung Tongkol, tak jauh dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Wilayah ini dulu menjadi pusat kota Batavia. Seorang warga sedang mencuci mobil di kawasan bekas gudang Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kawasan Kampung Tongkol yang bersebelahan langsung dengan gudang dan tembok bekas kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kastil Batavia menjadi saksi tangguhnya VOC sebagai perusahaan dagang selama hampir dua abad . Kastil ini dibangun pada masa J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada 12 Maret 1619. VOC butuh sebuah benteng yang kuat dan aman dari serangan musuh. Karena itu, Coen merombak benteng lama yang bernama Fort Jacatra, termasuk tembok dan bangunan lainnya. Sebuah mobil truk kontainer terparkir di samping bangunan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bekas ban yang berserakan di kawasan gudang dan tembok bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Coen membangun tembok baru berbentuk persegi empat yang lebih kokoh daripada tembok lama. Tembok itu dibangun mengelilingi kota Batavia. Selain tembok, Coen juga membuat kanal-kanal untuk menyulitkan musuh masuk ke kota. Lalu di sebelah selatan tembok baru, dia membangun Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Luas Kastil Batavia hampir sembilan kali luas Fort Jacatra. Kastil Batavia dikelilingi oleh empat bastion atau selekoh di empat penjurunya. Bastion adalah bagian tembok benteng yang sedikit menjorok keluar dan dipersenjatai. Masing-masing bastion punya nama: Parrel, Robijn, Diamant, dan Saphier. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Di dekat Kastil Batavia, Coen membangun sejumlah gudang untuk menyimpan berbagai dagangan VOC. Sekarang Kastil Batavia dan gudang-gudang itu sudah runtuh. Sebelumnya terdapat empat gudang tua di kawasan ini. Satu per satu mulai hilang tertelan pembangunan kota. Dua gudang terkena pembangunan jalan tol. Satu gudang lainnya hancur dimakan waktu. Hanya satu yang tersisa. Di dinding depan gudang itu masih terlihat jelas tulisan "Major Massie". Gudang ini bernama Graanpakhuizen yang berarti Gudang Biji-bijian. Gudang ini dulunya berfungsi untuk menyimpan beras, kopi, teh, rempah-rempah, jagung, kacang, dan lainnya. Bekas gudang penyimpanan makanan di kawasan Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat bermain di kawasan gudang bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, seiring berjalannya waktu, gudang ini mulai dilupakan. Akses masuknya menjadi tempat bongkar muat berbagai truk dan kontainer. Material temboknya ambyar di berbagai sisi. Tak ada lagi kesan gagah pada bagunan ini. Malah tampak menyeramkan. Tak heran jika beberapa acara misteri di stasiun televisi swasta sering menjadikan tempat ini untuk syuting. “Kru acara televisi tersebut tidak berani melanjutkan acaranya di sini karena waktu itu belum mulai saja timnya sudah kesurupan. Lain waktu juga pernah ada supir truk sedang ganti ban kemudian sore-sore begini ada yang nongol di atas kakinya saja,” kata Aan (46) salah satu warga. Beberapa truk yang memenuhi halaman depan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kondisi terkini bekas gudang dan tembok di kawasan Kastil Batavia era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bagian dalam dari bekas gudang era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gudang Major Massie yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seseorang sedang membersihkan truk di kawasan bekas Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan kondisi di dalam bekas gudang Major Messie dan detail temboknya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, gudang dan tembok kastil yang sempat menjadi destinasi wisata di seputaran Kota Tua ini semakin kurang nyaman dikunjungi. Tertutup oleh hiruk pikuk suara truk hingga padatnya rumah penduduk di kawasan kampung Tongkol. “Dulu sering bule-bule Belanda datang ke sini. Mencari gedung ini. Tapi sekarang sudah jarang,” ujar Aan. Seorang penjual es potong yang melintas di kawasan gudang Major Massie. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai boneka yang tampak terawat di gantung di tembok terakhir kawasan Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Layar Lebar Chadwick Boseman

    TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat (28/8/2020) di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise  MCU, Captain America: Civil  War (2013), Black Panther  (2018), Avengers: Infinity War  (2018), dan   Avengers: Endgame  (2019)  sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch . Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy. Chadwick Boseman (kiri) bersama Michael B. Jordan (Ftoo: Twitter @chadwickboseman) Setelah menjalani debutnya lewat Third Watch , Boseman mengalami guncangan jiwa di opera sabun All My Children  di tahun yang sama. Sebagaimana disitat The Wrap , 2 Januari 2019, Boseman menuturkan alasan kenapa dia dipecat dari peran Reggie Montgomery di opera sabun itu, hingga akhirnya digantikan Michael B. Jordan. Gara-garanya, dia mengkritisi naskah yang dianggapnya rasis terhadap kaum kulit hitam. Boseman dan Jordan lantas “bereuni” untuk adu akting di film Black Panther . “Ketika saya mendapatkan perannya, saya berkata pada diri sendiri: ‘Ini bukan bagian dari manifesto saya. Ini bukan peran yang saya ingin bawakan,” kata Boseman. Jackie Robinson hingga James Brown Sejumlah kiprah Boseman di layar lebar pun tak jauh dari tokoh-tokoh yang didera rasisme. Di film The Express: The Ernie Davis Story (2008), biopik mengenai pemain American Football era 1960-an Ernie Davis, Boseman kebagian peran pendukung sebagai Floyd Little, rekan atlet berkulit hitam Davies di American Football. Walau beberapa kisah asli di film itu didramatisir, Little mengaku cukup terkesan dan teringat kembali akan masa-masanya berkiprah di lapangan berkat jasa Ernie Davis. “Di film The Express , sebelum Ernie Davis keluar lorong menuju lapangan untuk terakhir kali sebagai pemain Cleveland Browns, Ben Schwartzwalder menghampiri Davis: ‘Ernie, saya tak tahu apa yang Anda katakana kepada Floyd Little, namun dia akan datang ke Syracuse.’ Itu penutup yang emosional dari film yang hebat,” ungkap Little dalam otobiografi yang ditulisnya bersama Tom Mackie, Promises to Keep . Di film "The Express", Chadwick Boseman (kiri) memerankan atlet American Football, Floyd Little (Foto: Davis Entertainment) Peran sebagai aktor utama pertamakali dilakoni Boseman di biopik 42 (2013) dengan memerankan Jackie Robinson, legenda bisbol Afro-Amerika yang bergulat dengan rasisme di awal kariernya di Brooklyn Dodgers. Film garapan sineas Brian Helgeland itu disupervisi langsung Rachel Robinson, istri mendiang Jackie. Bagi  sutradara, Boseman punya keberanian serupa dengan Jackie semasa hidupnya dalam melawan arus rasisme di lapangan bisbol. “Chad sebenarnya opsi kedua. Namun saya memang tak ingin aktor yang sudah dikenal luas memainkan peran Jackie karena saya pikir, akan sangat aneh melihat seseorang yang imejnya sudah terkenal memerankan sosok terkenal juga,” ujar Helgeland dalam wawancaranya dengan Collider , 11 April 2013. “Saat casting , Chad memilih tiga dari empat adegan tersulit. Salah satunya ketika adegan emosional Jackie berada di lorong stadion, mematahkan pemukul bisbol. Itu pilihan yang berani dari Chad. Dia bisa menghidupkan suasana di mana Jackie merasa ditolak oleh semua orang,” imbuhnya. Jelang produksi, guna mendukung upayanya memerankan Jackie, Boseman menemui Rachel Robinson di Jackie Robinson Foundation. Dia ingin mengetahui lebih jauh sosok Jackie guna penghayatan. “Peran (Jackie) ini peran yang menakutkan sebenarnya. Saya sempat tak tahu harus mulai dari mana sampai saya bicara pada dia (Rachel). Dari dirinyalah semangat Jackie masih hidup. Saya bisa melihat orang seperti apa yang bersanding bersama Rachel. Itu bagian yang ingin saya gunakan saat memerankannya,” jelas Boseman. “Kami duduk bersama, berbicara dari hati ke hati. Dia juga ingin mengenal saya lebih dalam. Saya juga mempelajari sosok Jackie lebih dekat dari pembicaraan kami dan dari buku-buku yang direferensikan Rachel. Terakhir, saya menanyakan tentang hubungan mereka karena itu bagian besar dari diri Jackie yang membuatnya bisa mencapai segalanya. Jackie selalu mendapat dukungan darinya,” lanjutnya. Debut Chadwick Boseman sebagai pemeran utama di film "42", biopik legenda bisbol Jackie Robinson (Foto: Warner Bros Pictures) Terlepas dari kesuksesan filmnya, ada banyak hal yang dipelajari Boseman dari sosok Jackie. Atlet kulit hitam itu membuka jalan bagi para atlet Afro-Amerika lain ke pentas Major League Baseball (MLB). Jackie ikon olahraga yang tak kalah besar dari pendahulunya di arena atletik, Jesse Owens. “Jika Anda berikir tentang dia menjadi seorang ikon dan pahlawan, sesungguhnya itu menjadi lubang terbesar di mana Anda bisa jatuh karena dia tak tahu akan menjadi seorang ikon dan pahlawan,” kata Boseman, dikutip Danny Peary dalam Jackie Robinson in Quotes: The Remarkable Life of Baseball’s Most Significant Player. “Faktanya, di film itu Jackie harus menghadapi itu semua ketika ia sadar bahwa berada di MLB menjadi isu yang lebih besar bagi semua orang. Anda tak bisa lari dari tanggungjawab yang diemban, namun Anda bisa fokus dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan. Selangkah demi selangkah. Pada akhirnya semua bisa dilalui,” tambahnya. Setahun berselang, Boseman kembali muncul sebagai aktor utama di biopik Get on Up (2014). Dari peran Jackie di lapangan bisbol, dia bergeser di ke dunia musik memerankan James Brown, legenda musik soul, di film garapan sineas Tate Taylor ini. Boseman sejak awal jadi pilihan utama Taylor memerankan pelantun tembang legendaris “I Feel Good” itu. Namun Taylor harus membujuknya ekstra keras lantaran Boseman mulanya tak berminat. Utamanya karena ia pesimis bisa menari selincah mendiang James Brown. “Saya merasa tak ada gunanya mencoba-coba. Dia ikon yang terlalu besar dan saya belum lama memerankan ikon besar lainnya dalam 42 . Dalam pikiran saya, tak tahu harus melakukan pendekatan apa untuk bisa melakukan gerakan tarian Brown,” tutur Boseman, dikutip The Guardian , 20 November 2014. Legenda musik soul, James Brown yang diperankan Chadwick Boseman dalam biopik "Get on Up" (Foto: Universal Pictures) Ketika akhirnya Boseman mengiyakan peran Brown, ia diberi waktu enam pekan untuk mempelajari semua gerakan khas Brown di atas panggung. Walau kemudian untuk gerakan split James Brown mesti diedit sedemikian rupa lantaran gerakan itu tak kunjung bisa dikuasai Boseman hingga masuk jadwal produksi. “Ujian sesungguhnya dari film itu adalah gerakan split James yang dikenal semua orang. Solusinya adalah kombinasi gambar tubuh James dan saya menggunakan pemindai 3D,” lanjut Boseman. Hal menarik yang dipelajari Boseman dari sosok James Brown adalah sikap sensitif dan bijak sang legenda. Antara lain ditunjukkan dengan James Brown memutuskan konsernya disiarkan secara live pada 5 April 1968 sebagai respon terhadap pembunuhan Dr. Martin Luther King yang juga dihormatinya. “Malam itu di siaran langsung televisi, bisa saja James Brown mengatakan: ‘Mari merusuh.’ Jika dia membiarkan dirinya emosional malam itu menggunakan musiknya, dia pasti sangat bisa memengaruhi penjuru negeri. Tapi pada akhirnya anak-anak muda tetap jadi penonton yang baik untuk mendengarkan James Brown. Dia sangat bijak untuk menghidupi filosofi-filosofi Dr. King,” papar Boseman, dinukil Atlanta Magazine , 1 Agustus 2014.

  • Balada Benny dengan Baret Merahnya

    MARKAS komando Kopassus, Cijantung, 1985. Di ruang kerjanya, Komandan Kopassus Brigjen Sintong Panjaitan ditemani wakilnya Kolonel Kuntara berbincang santai dengan Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani, KSAD Jenderal TNI Try Sutrisno, dan Wakil KSAD Letjen TNI Edi Sudrajat. Mereka sedang menunggu tamu penting dari negeri seberang tiba. Meski semua akan melakukan upacara resmi, suasana di ruang itu santai. Obrolan mengalir begitu saja. Di tengah perbincangan itu, Sintong berjalan ke mejanya. Ditariknya laci mejanya dan kemudian diambilnya sebuah baret merah dari dalamnya. “Ini baret merah Bapak yang akan Bapak pakai dalam upacara nanti,” kata Sintong sambil memberikan baret itu kepada Moerdani, dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong tak menduga niat baiknya itu justru membuat Benny, sapaan Moerdani, jadi kecewa. Setelah berdiri dan mencobanya, Benny lalu melepas baret itu dan melemparkannya. Baret merah itu pun jatuh ke lantai diikuti Benny yang kembali ke kursinya, duduk, dan tak mengucapkan sepatah katapun. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Upaya KSAD Try mencairkan suasana tak berhasil. Wajah Benny tetap beda dari sebelumnya. Maka ketika Sintong melihat Benny keluar dari toilet, dia segera menghampirinya karena merasa dikecewakan. “Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Jadi aneh kalau Bapak tidak berkenan memakai baret merah,” kata Sintong kepada Benny. Alih-alih menjawab, Benny tetap diam. Benny tahu Sintong bermaksud baik. Namun, Benny yakin Sintong mungkin tak mengetahui alasan di balik penolakannya itu. Upaya Sintong telah memaksanya kembali merasakan luka lama yang terjadi pada awal 1965. Sebelum hatinya terluka, Benny selalu bangga pada korps yang telah melambungkan namanya menjadi prajurit tempur itu. Di korps baret merah itulah cita-citanya menjadi tentara “sungguhan” setapak demi setapak dia wujudkan. Kerja keras dan dedikasinya di korps itu sampai mengantarkannya menggapai reputasi sebagai prajurit lapangan berprestasi. Puncaknya, dia dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Sukarno karena keberhasilannya dalam Operasi Naga semasa Trikora. Namun, usai berbulan madu pada awal Januari 1965, Benny mendapati semua “kemanisan” kariernya itu seketika berubah jadi pahit. Pemicunya adalah sikap Benny di dalam rapat internal RPKAD pada akhir 1964. Dalam rapat yang dipimpin Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimuljo itu dibahas gagasan untuk mengeluarkan anggota RPKAD yang cacat tubuh. Salah satu yang mendapat pembahasan untuk dikeluarkan adalah anak buah Benny di Yon I RPKAD Kapten Agus Hernoto, yang kehilangan satu kakinya saat bertempur melawan Marinir Belanda sewaktu Trikora. Mendengar pembahasan itu, Benny tidak terima dan angkat suara. “Pokoknya saya tegaskan, Agus jangan dipindah hanya karena kakinya tinggal satu. Dia korban pertempuran yang justru harus dijadikan teladan. Sebab dia tidak mau menyerah, meski sudah tertembak dan semua anak buahnya habis. Dia itu baret merah sejati. Dan jelas lebih pantas memakai baret merah daripada beberapa di antara kita, perwira yang nggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD, lantas disuruh pakai baret merah,” kata Benny sebagaimana ditulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. Entah siapa yang menyampaikan hasil rapat internal itu kepada Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani, yang pasti Benny kemudian mendapat surat panggilan dari Menpangad. “Saya menerima surat tanggal 4 Januari, esoknya harus datang menghadap Pak Yani di MBAD,” kata Benny dalam biografinya yang ditulis. Begitu menghadap, Benny mendapati Yani terlihat marah, jauh dari biasanya ketika Benny bertemu Yani yang ramah dan ngemong . Suasana pertemuan empat mata itu begitu tegang. “Saya tahu perasaanmu sebagai perwira muda. Mungkin saya juga akan berbuat sama dalam keadaan seperti itu. Tetapi, perbuatanmu tersebut salah, ...tetap salah karena menilai pimpinan,” kata Yani terhadap Benny, dikutip Julius Pour. Yani menumpahkan segala unek-uneknya dalam pertemuan itu. Puncaknya, Yani memberi perintah singkat, “Sudah, lapor ke Mas Harto sana!” Perintah itu membuat Benny terperanjat. Lapor ke Mas Harto (Soeharto, pangkostrad) yang dimaksud Yani berarti perintah agar Benny meninggalkan korps baret merah untuk masuk ke Kostrad. Maka tanpa berlama-lama, Benny memberi hormat dan keluar. Peristiwa itu begitu membekas di benak Benny. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Sakit hatinya makin bertambah ketika sesampainya di Cijantung dari MBAD, dia mendapati anak buahnya sedang latihan upacara untuk serah-terima jabatan (sertijab) Dan Yon I RPKAD (yang saat itu dijabat Benny) keesokan harinya. Esoknya, 6 Januari 1965, upacara sertijab digelar. Benny resmi menyerahkan jabatannya ke Mayor Chalimi Iman Santosa. Usai upacara, Benny langsung pulang. Di rumah, dia menumpahkan semua kekesalannya dengan melepas semua atribut kesatuan komando dari baju-bajunya. Bersama baret merahnya, semua atribut itu langsung dimasukkannya ke plunge-zak  dan dia kembalikan ke kesatuan. “Peristiwa tersebut sangat membekas di hatinya. Perasaannya sangat kecewa, karena merasa diperlakukan tidak adil. Ingatannya masih sedih setiap kali mengenang suasana tersebut,” tulis Julius Pour. Maka ketika pada 1985 Sintong memberikan baret merah kepada Benny agar dipakai, Benny marah karena kembali teringat masa dua dekade sebelumnya itu. Sikap Benny tak berubah sampai ketika sirene yang mengiringi kedatangan Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar, tamu dari seberang yang ditunggu mereka, terdengar di ruang kerja Sintong. Pun ketika turun ke bawah untuk menyambut tamu agung itu. Namun begitu membuka pintu, Benny tiba-tiba berteriak memanggil ajudannya, Lettu Tono. “Ton! Mana baret merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini,” ujarnya, dikutip Hendro. Pernyataan Benny langsung membuat Sintong mafhum. Dengan sigap dia berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil baret yang tadi dibuang Benny. Benny pun mau kembali menggunakan baret merah setelah diberikan Sintong. Usai upacara, Benny berkata pada Sintong. “Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai baret merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung. Tiga jam setelah saya menerima perintah keluar dari RPKAD, saya sudah meninggalkan Cijantung,” kata Benny.*

bottom of page