top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebelum Taperum-PNS dan Tapera, Ada TWP TNI AD

    DI masa Orde Baru, tabungan perumahan tak hanya menargetkan Pegawai Negeri Sipil. Jauh sebelum Tabungan Perumahan PNS (Taperum-PNS) diberlakukan pada 1993, seluruh personel TNI AD telah lebih dulu diwajibkan menyisihkan gajinya untuk Tabungan Wajib Perumahan (TWP). Latar belakang program perumahan berawal dari kondisi asrama-asrama satuan TNI AD yang banyak dihuni oleh anggota yang bukan organik. Hal ini terjadi sejak tahun 1960-an. Tak sedikit di antara anggota yang tinggal di asrama-asrama telah pensiun atau dipindahtugaskan ke kesatuan lain. Penghasilan yang pas-pasan membuat para prajurit kesulitan membeli rumah. Akibatnya, banyak prajurit, yang untuk kesiapan tugas, seharusnya tinggal di asrama maupun barak yang telah disediakan, tak dapat menempatinya karena diisi penghuni lain. Kondisi ini membuat mereka mengontrak rumah di luar kompleks atau tinggal di rumah yang jauh dari lokasi tugas.

  • Kisah Persahabatan Haji Rasul dengan Kyai Ahmad Dahlan

    KERETA api dari Surabaya tiba di Yogyakarta. Dari sekian banyak penumpang yang turun, muncul sesosok laki-laki yang penampilannya cukup menarik perhatian. Di dadanya tersemat empat huruf Arab: ha, ain, kaaf, dan hamzah. Kyai Haji Ahmad Dahlan yang sedari tadi menanti di stasiun Tugu langsung menyongsong laki-laki tersebut. Pimpinan Muhammadiyah itu mengetahui, bahwa HAKA –potongan-potongan huruf itu– merupakan inisial tulisan Haji Abdul Karim Amrullah di majalah Al-Munir. “Tidaklah huruf-huruf itu yang jadi perhatian K.H.A Dahlan ketika dia turun tangga kereta api. Melainkan terbusnya, celana pantalon dan baju setengah tiang (baltu) hitam, kaca mata dan tongkat. Berbeda dengan pakaian kebanyakan kyai di Jawa di masa itu,” kata Kyai Raden Haji Hajid, sebagaimana dikutip Hamka dalam Muhammadiyah di Minangkabau.

  • Hatta Bertanya, Agus Salim Menjawab

    FEBRUARI 1920. Purnama nampak di atas Batavia saat tiga pemuda berdiri di depan pintu rumah Haji Agus Salim, seorang tokoh Sarekat Islam. Mereka adalah Mohammad Hatta, Amir, dan Bahder Djohan. Ketiga pemuda asal Sumatra itu tengah aktif belajar dan berorganisasi, utamanya organisasi pergerakan. Dahaga kesadaran nasional telah membawa mereka kepada pencarian para lakon utama gerakan kemerdekaan. Hatta dan kawan-kawannya datang pada waktu yang dijanjikan. Ketika sampai, mereka disambut keramaian suasana di rumah Haji Agus Salim. Ada sejumlah besar pemuda yang telah lebih dahulu tiba di sana. Mereka terlihat asik mendengarkan cerita-cerita Agus Salim. “Apakah beliau lupa akan menerima kita pada malam ini?” tanya Hatta. “Ah, tidak! Itu sudah kebiasaan baginya, kecuali kalau ada pembicaraan yang tidak boleh diketahui orang lain. Ia selalu dikerumuni oleh yang muda-muda. Pemuda gemar sekali menanyakan ini dan itu kepada beliau dan tidak ada pertanyaan yang tidak terjawab,” ujar Amir.

  • Yang Lucu dari Haji Agus Salim

    SAAT menjadi anggota Volksraad (1921-1924) dan tinggal di Bogor, Haji Agus Salim kerap bepergian. Itu dilakukan selain untuk mengikuti rapat juga kadang dia harus bertemu dengan rakyat untuk sekadar menyerap aspirasi. Kepergiannya itu bisa ke tempat yang jauh atau bisa saja hanya ke Batavia. “Tergantung kepentingan Patje sebagai anggota Dewan Rakyat,” ungkap almarhum Bibsy Soenharjo alias Siti Asia. Patje adalah panggilan sayang keluarga kepada Haji Agus Salim. Alkisah, suatu hari Agus Salim harus pergi ke Jakarta. Sambil sekalian jalan-jalan, Zainatun Nahar alias Matje, istri Agus Salim, mengajak anak-anak untuk mengantarkan ayahnya hingga Stasiun Bogor. Singkat cerita, berangkatlah Agus Salim ke Batavia lalu mereka pun pulang ke rumah.

  • Kesedihan Haji Agus Salim

    TAK ada yang meragukan kiprah Haji Agus Salim sebagai seorang pejuang. Sejak aktif di Volksraad (1921-1924), dia telah dikenal kritis dan garang terhadap berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap menindas rakyat. Bahkan ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih sebagai “komedi omong yang disensor” dari sebuah parlemen gadungan. “Usai melakukan kritiknya itu, Haji Agus Salim lantas keluar dari Volksraad,” ujar Agustanzil Sjahroezah, salah seorang cucu dari Haji Agus Salim. Di lain waktu, Haji Agus Salim pernah balik mempermalukan orang-orang yang menghinanya. Alkisah, suatu hari beberapa aktivis muda Sarekat Islam (SI) Merah yang berhaluan komunis mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim sebagai pembicara utamanya. Tujuan mereka datang tak lain hanya ingin “mengacaukan” rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi “genit-genitnya” secara intelektual.

  • Kejenakaan Haji Agus Salim

    DIKENAL sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka. Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari Haji Agus Salim adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri Haji Agus Salim tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing.

  • Haji Agus Salim Tak Pernah Berhenti Belajar

    PADA 1903, Haji Agus Salim berhasil menyelesaikan pendidikannya di Hogere Burger School (HBS), Batavia. Ia mampu lulus dari sekolah para elite pribumi dan Eropa itu dengan hasil yang cemerlang. Kecerdasannya memang tidak diragukan lagi. Orang tua Agus Salim di Bukittinggi berharap anaknya dapat melanjutkan sekolah di Negeri Belanda, atau setidaknya mengambil jurusan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Arsten (Stovia). Namun, keinginan orang tua Agus Salim hanya sebatas angan saja. Rupanya sang anak telah mengambil keputusan tidak akan melanjutkan studinya dan memilih untuk bekerja.

  • Haji Agus Salim, Diplomat yang Melarat

    SEORANG profesor, sekaligus Perdana Menteri Belanda (1945-1946), Willem Schermerhorn dalam buku hariannya, Het Dagboek van Schermerhorn, secara gamblang pernah memuji sosok Haji Agus Salim. Menteri Muda Luar Negeri periode 1946-1947 itu digambarkan sebagai sosok ouwer heer (orang tua) yang sangat pintar. Bahkan, di antara para perwakilan Republik yang pernah ditemui Schermerhorn selama masa perjuangan diplomasi. “Dalam hubungan ini saya khusus ingat kepada Salim, yang pada suatu hari akan saya undang di Istana sini. Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit sembilan bahasa. Salim hanya memiliki satu kelemahan: selama hidupnya dia melarat,” kata Schermerhorn.

  • Asal-Usul Nama Haji Agus Salim

    PADA 8 Oktober 1884, seorang bayi laki-laki lahir di Koto Gadang, Sumatra Barat. Dia diberi nama Masyudul Haq, nama seorang tokoh dari sebuah buku yang dibaca ayahnya, Sutan Mohammad Salim. Orang tuanya berharap anaknya itu kelak menjadi seorang yang sesuai dengan arti namanya: pembela kebenaran. Bagaimana Masyudul Haq berubah menjadi Agus Salim? Menurut sejarawan Asvi Warman Adam dalam H. Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, ketika Masyudul kecil, dia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya “den bagus” yang kemudian dipendekan menjadi “gus.” Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya “Agus”.

  • Adik Kandung Pindah Agama, Haji Agus Salim: Alhamdulillah

    SEKALI waktu, seorang Belanda pernah bertanya kepada Haji Agus Salim, “Zeg Salim, bagaimana itu, adik Anda masuk agama Katolik?”. “God zij dank, Alhamdullilah, ia sekarang lebih dekat dengan saya,” jawabnya santai. “Mengapa Anda malah berterima kasih kepada Tuhan?” tanya orang Belanda itu semakin heran. “Dia dulu orang komunis, tidak percaya Tuhan, sekarang dia percaya Tuhan,” katanya.

  • Kenangan Seorang Sahabat

    SABTU, 8 Oktober 2011 pukul 01.30 waktu Amsterdam, Belanda, di tengah keheningan malam, kami mendengar telepon berdering. Ternyata dari Ninon, istri Umar Said, bicara dari seberang telpon. Kabar duka menerpa di malam hari. Seperti tersambar halilintar di tengah malam sunyi, saya terkejut. “Pak Isa,” terdengar suara Ninon bergetar, “Pak Umar sudah tak ada lagi.” Ayik, demikian saya memanggilnya, wafat pada pukul 22.50 waktu Paris, Prancis setelah sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit kota Paris sejak Rabu (5/10) yang lalu. Saya sangat berduka kehilangan seorang sahabat akrab. Perasaan yang sama persis muncul ketika kehilangan Joesoef Isak pemimpin penerbit Hasta Mitra, beberapa tahun yang lalu. Pada saat Joesoef Isak datang pertama kali ke Eropa secara klandestin, sekira tahun 1978, saya dan S. Tahsin (wartawan, mantan Pemred Bintang Timur, red.), pendiri dan pengelola penerbit dan toko buku "Manus Amici" di Amsterdam, selalu berkumpul di suatu tempat untuk saling cerita, tukar pengalaman dan berkonsultasi. Biasanya pertemuan itu berlangsung di rumah Ayik di Paris. Saat itu Ninon, istri Ayik dan dua orang putranya, Iwan dan Budi, masih belum diketahui keberadaannya di Indonesia.

  • Adieu Monsieur Aumars!

    SEPEKAN setelah Joesoef Isak wafat 15 Agustus 2008 lampau, Umar Said selalu menelpon saya. Tiga kali seminggu! Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menekankan pentingnya merawat warisan intelektual Joesoef Isak. Ketika terlontar gagasan Joesoef Isak Award, Umar langsung menyambut gembira rencana itu. “Kalau Mochtar Lubis saja ada award-nya, mosok wartawan sekaliber Joesoef Isak ndak ada,” kata dia dari seberang nun di Paris sana. Tak henti-henti Umar selalu mengingatkan jasa penting sahabatnya itu dalam menjebol tembok kekuasaan yang mengekang kebebasan menyatakan pendapat di negeri ini. Persahabatan Umar Said dengan Joesoef Isak terjalin sejak lama, sejak mereka sama-sama wartawan muda yang penuh elan bahu membahu dalam kepengurusan Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA). Umar bekerja untuk koran Ekonomi Nasional, Joesoef untuk Merdeka. Kerjasama terakhir mereka terjadi pada 2008, saat Joesoef meminta tolong Umar untuk menemui Han Suyin, penulis biografi Zhou Enlai yang akan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasta Mitra.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page