top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Significance of the Philippine Revolution to Indonesian Independence

    IN addition to their geographical proximity, Indonesia and the Philippines share many similarities. Both countries' histories of resisting colonialism that spanned half a century were part of the wave of nationalism and decolonization that marked the 20th century. How far are the nationalism and independence movements in the two countries intertwined?

  • Tongkat Kiai Cokro Diponegoro

    Pusaka Kiai Cokro milik Pangeran Diponegoro diberikan oleh rakyat jelata dan kerap menemani perjalanan spiritualnya. Bagaimana perjalanan tongkat Kiai Cokro?

  • Building Temples for the Gods

    ON his father's orders, Bandung Bondowoso set out for Prambanan along with the Pengging army. After going through a great battle, he defeated the Prambanan army, even killing Prabu Baka, the king of Prambanan.

  • Jejak Kejayaan Raja-raja Jawa

    Sejak abad ke-5, Jawa dikuasai oleh raja-raja dengan pencapaiannya masing-masing. Mereka berhasil menguasai Jawa dan mewarisi bangunan serta budaya yang masih eksis hingga saat ini.

  • Soeharto Berkuasa seperti Raja Jawa

    SEWAKTU Letjen TNI Prabowo Subianto diberhentikan dari TNI, ayahnya yang juga ekonom Sumitro Djojohadikusumo buka suara kepada media. Menurut Sumitro, pemberhentian itu tidak berlandaskan keadilan bagi putra sulungnya. Sumitro juga tak sungkan mengkritik Presiden Soeharto yang merupakan besannya sekaligus mertua Prabowo.

  • Albert Dietz dan Pangeran Yogyakarta yang Dibuang

    APARAT hukum kolonial terpaksa sibuk karena ulah seseorang. Kendati tidak membahayakan pemerintah kolonial atau kerajaan Belanda, orang tersebut dianggap sakti dan dianggap “Ratu Adil” yang mengaku keturunan Sultan Hamengkubuwono (HB) V. Orang itu adalah Albert Dietz. “Albert Dietz alias Gusti Muhammad Herucokro alias Haji Mohammad Ngusman dikabarkan sebagai anak tunggal Sultan Hamengkubuwono V dari Yogyakarta dengan Ratu Kedaton, yang ikut ibunya yang dibuang ke Manado. Pada 1915 dia tinggal di Ungaran, Semarang. Sejak itu dia berusaha menuntut haknya atas tahta kerajaan Yogyakarta,” catat Kuntowijoyo dalam Muslim tanpa Masjid. Pada hari Jumat, 24 April 1929, kepolisian dan kejaksaan Semarang mendatangi rumah Albert Dietz di Urangan. Koran De Nieuwe Vorstenlanden tanggal 2 Mei 1929 memberitakan, lelaki yang dianggap Herucokro itu dikenal juga sebagai seorang tabib, dukun sakti ajaib, peramal, dan sejenisnya. Dengan citra saktinya itu dia mencari uang dari penduduk yang hidupnya masih tradisional. Wajahnya putih mirip Tionghoa, janggutnya lebat dan rambutnya panjang penuh uban.

  • Awal Mula Deodoran

    PADA awal abad ke-20, kesadaran menjaga kebersihan tubuh mulai berkembang di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika Serikat. Mandi mulai rutin setiap hari untuk membunuh kuman dan menghindarkan diri dari berbagai penyakit. Kendati demikian, kepedulian terhadap bau badan masih tergolong rendah, hanya orang-orang tertentu, umumnya mereka yang berasal dari golongan atas, yang memandikan tubuhnya dengan parfum dan wewangian untuk menghilangkan bau tak sedap dari tubuh. Hal ini menjadi tantangan bagi berbagai produk deodoran maupun antiperspiran yang muncul di awal abad ke-20. Pengembangan deodoran secara modern sesungguhnya telah berlangsung sejak akhir abad ke-19. Produk bernama Mum, yang diciptakan di Amerika Serikat pada 1888, disebut sebagai deodoran pertama yang dapat membunuh bakteri penghasil bau. Helen Pilcher menulis dalam Small Inventions That Made a Big Difference , Mum berbentuk seperti cream wax yang mengandung zat antibakteri dan dikemas dalam botol kaca kecil dengan tutup ulir. “Krim ini dioleskan ke ketiak, tetapi orang-orang menganggapnya terlalu berminyak dan berantakan saat digunakan,” tulis Pilcher. Beberapa tahun berselang, pada 1903, muncul Everdry, antiperspiran pertama di dunia yang beredar di pasaran. Produk ini mengandung partikel kecil aluminium klorida, yang menyumbat pori-pori dan membantu mengurangi keringat. Meski begitu, produk ini juga tak luput dari masalah. Kandungan asam di dalam Everdry dapat menyebabkan iritasi kulit dan tak jarang meninggalkan noda pada pakaian setelah digunakan. Baca juga:  Cara Orang Zaman Dulu Mengatasi Bau Badan Di balik sejumlah masalah yang muncul akibat penggunaan berbagai produk pencegah bau badan modern, tantangan terbesar dalam memasarkan produk ini ada pada kondisi di mana orang-orang pada masa itu tidak secara terbuka membicarakan tentang keringat atau bau badan di depan umum. Mereka yang khawatir dengan keringat merembes melalui pakaian biasanya akan mengenakan pelindung pakaian, kapas atau bantalan karet yang diletakkan di area ketiak saat beraktivitas di hari yang panas. Perubahan signifikan penjualan deodoran dan antiperspiran terjadi seiring munculnya Odorono pada 1910-an, yang menjadi pesaing utama Mum. Pengembangan produk ini berawal dari seorang ahli bedah bernama Murphey yang mencari solusi mencegah keringat terus muncul di tubuh dan tangannya saat melakukan operasi. Sang dokter mengetahui bahwa aluminium klorida dapat membantu mencegah keringat berlebih dan mulai mengembangkan produk deodoran dengan memanfaatkan kandungan tersebut. Putri sang dokter, Edna Murphey, tertarik dengan penemuan ayahnya. Ia menguji produk yang dinamai Odorono (diucapkan Odour – Oh No) itu pada ketiaknya. Setelah dicoba, Edna meraskan kandungan di dalam deodoran itu dapat mencegah keringat berlebih yang muncul pada ketiak. “Ia dapat melihat potensi komersil dari produk temuan sang ayah, jika saja orang-orang dapat menyadari kegunaannya,” tulis Pilcher. Kesempatan memasarkan Odorono secara lebih luas muncul pada 1912 melalui pameran Atlantic City. Kendati mulanya tak terlalu menarik minat para pengunjung, stand Edna Murphy mulai dilirik ketika cuaca panas menyengat –pameran tersebut berlangsung di sepanjang musim panas– membuat banyak pengunjung kepanasan dan keringat membasahi pakaian mereka. Ketertarikan terhadap Odorono pun mulai meningkat. Setelahnya, Murphy memiliki pelanggan di seluruh negeri dengan jumlah penjualan mencapai puluhan ribu dolar. “Meski produk deodoran dan antiperspiran pada masa itu masih belum sempurna, manfaat-manfaat yang terkandung di dalamnya cukup dapat membantu menghentikan bau. Manfaat-manfaat ini cukup penting sehingga dalam beberapa tahun setelah diperkenalkan, satu produk, Odo-Ro-No, menjadi sangat sukses dan mulai diiklankan secara nasional pada 1914,” tulis Karl Laden dalam “Antirespirants and Deodorants: History of Major HBA Market”, termuat di Antirespirants and Deodorants . Salah satu yang membuat popularitas Odorono meningkat adalah klaim bahwa produk ini mampu menghentikan keringat hingga tiga hari lebih lama dibandingkan deodoran maupun antiperspiran modern lainnya. Akan tetapi, seperti produk-produk lain yang serupa, Odorono juga menimbulkan masalah. Tak sedikit pelanggannya yang mengeluh produk ini menyebabkan rasa terbakar dan peradangan pada ketiak. Selain itu, Odorono juga merusak banyak pakaian mewah, besar kemungkinan karena kandungan asam dalam produk tersebut. Baca juga:  Saat Mandi Perlu Wangi Untuk menghindari masalah ini, para pengguna Odorono disarankan untuk menghindari bercukur sebelum menggunakan dan mengusapkan produk ke ketiak sebelum tidur, sehingga zat yang keluar dari produk itu dapat mengering secara menyeluruh. Di sisi lain, untuk meningkatkan penjualan dan menarik lebih banyak konsumen, Murphey memutuskan untuk menyewa jasa biro iklan New York bernama J. Walter Thompson Company, yang memasangkannya dengan James Young, seorang penulis naskah yang berperan besar dalam popularitas Odorono di kemudian hari. Mulanya, Young berfokus pada upaya untuk melawan kepercayaan umum masyarakat yang menganggap bahwa mencegah keringat itu tidak sehat. Fakta bahwa deodoran ini dikembangkan oleh seorang dokter membuat pemasaran produk ini pada awalnya memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan kepercayaan publik. Odorono mencoba menarik minat konsumen dengan menyampaikan informasi bahwa deodoran tersebut dirancang oleh seorang dokter, dan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa “keringat berlebih” adalah kondisi medis yang memalukan dan perlu diatasi. Meski hasil penjualan produk ini cukup mengesankan, Odorono menyadari masih lebih banyak orang yang belum menggunakan produk mereka karena menganggap bau badan sebagai hal yang umum terjadi pada banyak orang. Oleh karena itu, deodoran tersebut kini mencoba untuk bermain dengan pikiran dan standar ideal seorang wanita. Alison K. Hoagland menulis dalam The Bathroom: A Social History of Cleanliness and the Body , iklan satu halaman penuh dari Odorono pada 1919, yang menunjukkan gambar seorang wanita dengan anggun menjangkau seorang pria, diberi judul “Dalam Lekuk Lengan Wanita.” Iklan di Ladies Home Journal edisi 1919 itu semakin menarik perhatian dengan subjudulnya yang bertuliskan, “Sebuah diskusi yang jujur tentang subjek yang terlalu sering dihindari,” yang menunjukkan bahwa konsumen mungkin tidak menyadari “pelanggaran sosial” yang dilakukannya. Pelanggaran yang dimaksud dalam iklan itu adalah bau badan. Tak hanya menyebut bau badan yang tidak sedap lebih mungkin disadari oleh orang lain daripada diri sendiri, iklan itu juga menyiratkan pesan secara gamblang, “Jika anda ingin mempertahankan seorang pria, sebaiknya anda tidak berbau”. Iklan Odorono sontak menarik perhatian para pembaca Ladies Home Journal yang kebanyakan wanita yang masih merasa tidak nyaman untuk membahas persoalan keringat dan bau badan. Sekitar 200 pembaca Ladies Home Journal merasa sangat terhina dengan iklan tersebut sehingga mereka memilih untuk membatalkan langganan majalah mereka. Meski begitu, setelah iklan ini muncul di surat kabar, penjualan Odorono pun meningkat pesat. Pada akhirnya, tak butuh waktu lama hingga produk lain melakukan cara pemasaran yang sama, yakni mengeksploitasi rasa tidak percaya diri wanita. Baca juga:  Panduan Kebiasaan Mandi untuk Wisatawan Asing Menurut Tracy Penny Light dalam “Consumer Culture and the Medicalization of Women’s Roles in Canada, 1919-39”, termuat di Consuming Modernity: Gendered Behaviour and Consumerism before the Baby Boom , iklan seperti itu meningkatkan jumlah konsumen deodoran dan antiperspiran di kalangan wanita, karena melalui iklan tersebut wanita didoktrin bahwa jika ingin berhasil dalam peran “alamiahnya”, mereka perlu membeli produk-produk yang disediakan untuk mengatasi berbagai masalah yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk tampil terbaik. “Wanita diharapkan tidak hanya terlihat cantik, tetapi juga wangi… Perusahaan Odorono menyatakan pada 1932 bahwa dengan menggunakan produknya, seorang wanita akan lebih mudah menemukan pasangan. <…> Iklan deodoran lainnya mencatat bahwa bau keringat sangat sensitif dan dapat menyebabkan gangguan serius. <…> Pesan yang disampaikan kepada para wanita oleh produk-produk konsumen adalah bahwa mereka membutuhkan cara-cara alamiah untuk terlihat dan wangi jika mereka berharap mendapatkan suami dan mempertahankannya,” tulis Light. Di lain pihak, berbeda dengan wanita, bau badan justru tak dianggap sebagai masalah bagi pria karena hal ini dipandang sebagai bagian dari maskulinitas. Akan tetapi hal ini mulai berubah setelah Depresi Besar melanda Amerika Serikat pada 1930-an. Perusahaan deodoran dan antiperspiran mulai menyasar para pria untuk membeli produk mereka. Seperti halnya wanita, iklan produk tersebut juga memainkan rasa takut dan rasa tidak percaya diri para pria, khusunya dalam lingkungan kantor. Hal ini bersinggungan erat dengan awal mula diciptakannya Air Conditioner (AC). Kala itu deodoran diprediksi akan kehilangan pasar karena suhu dingin yang dihasilkan AC akan mengurangi keringat dalam tubuh. Namun, iklan lagi-lagi berperan besar dalam mempertahankan penjualan produk deodoran dan antiperspiran. Iklan cetak awal untuk produk Arrid misalnya, menjelaskan secara gamblang bahwa keringat terdiri dari dua jenis, yakni keringat fisik dan emosional. Keringat fisik berasal dari pekerjaan dan olahraga, sementara keringat emosional muncul dari rasa gembira dan ketegangan. “Bahkan pada saat yang tenang, keringat yang keluar secara tiba-tiba dapat membuat anda malu,” tulis iklan produk tersebut. Dengan demikian, tak butuh waktu lama hingga produk deodoran maupun antiperspiran berubah dari produk musiman yang banyak digunakan saat musim panas, menjadi produk yang digunakan kapan saja di sepanjang tahun. Lambat laun deodoran dan antiperspiran menjadi produk yang tak hanya digandrungi para wanita. Masalah keringat dan bau badan pun menjadi perhatian para pria. Kehadiran deodoran roll-on pada akhir tahun 1940-an dan deodoran aerosol pada 1950-an mendorong diciptakannya produk khusus untuk pria, dengan nama-nama yang macho dan dikemas dalam wadah yang juga maskulin, seperti dalam botol yang terlihat seperti sebuah botol wiski kecil. Seiring dengan dikembangkannya formulasi yang lebih aman, serta kemasan produk yang lebih praktis bagi konsumen, deodoran maupun antiperspiran kini menjadi salah satu produk yang paling banyak dibeli oleh masyarakat.*

  • Three Explosions in the Heart of Jakarta

    SHUNSUKE Kikuchi, a young man from Yokohama, Japan, was deeply distressed. Although it had been more than a year, his visit to India in 1984 still left him with some problems. On that trip, his bag and money went missing along with his passport.

  • Bangsawan Banjar Kibuli Belanda Pakai Telegram Palsu

    PERTENGAHAN Maret 1929, seorang tahanan dari sebuah penjara sipil di Malang, Jawa Timur dibebaskan. Nama tahanan itu Goesti Soleiman bin Pangeran Mohamed Seman. Dia dibebaskan setelah pejabat penjara menerima sebuah telegram yang isinya tentang pembebasannya. Namun dengan cepat pihak berewenang menyadari ada yang salah dengan telegram itu. Koran De Locomotief tanggal 22 Februari 1929 dan  De Tijd tanggal 21 Februari 1929 memberitakan bahwa rupanya telegram pembebasan bertanggal 20 Februari 1929 itu palsu adanya. Telegram itu dipalsukan oleh penjaga penjara dan petugas telegraf. Keduanya kemudian ditangkap dan dituntut hukum pidana. Goesti Soleiman  juga kemudian diketahui keberadaannya, tapi sudah jauh dari Malang. Goesti Soleiman telah berada di Stagen, sebuah tempat di Pulau Laut Utara, Kalimantan Selatan. Jaraknya sekitar 300 km dari Malang. Kala itu untuk mencapai Stagen mesti naik kapal laut dari Surabaya ke Pulau Laut yang memakan waktu lebih dari semalam. Sekitar tanggal 20 Februari, keberadaan Goesti Soleiman di Stagen sudah diketahui aparat hukum kolonial. Goesti Soleiman dan keluarganya kemudian ditahan. Koran Algeemene Handelsblad edisi 1 Mareti 1929 memberitakan, mereka telah dibawa dari Pulau Laut ke Surabaya pada Senin, 25 Februari 1929, malam. Lantaran memakai pakaian beruang, pakaian tahanan era kolonial, Goesti Soleiman jadi terlihat tidak seperti anak bangsawan pada umumnya. Dia juga menyangkal soal telegram palsu itu ketika diperiksa petugas. "Direktur melepaskan saya," kata Goesti Soleiman terkait pembebasannya itu. Aparat tidak percaya begitu saja terhadap jawabannya. Mereka terus mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan dan membandingkannya dengan jawaban para tersangka lain. Selain Goesti Soleiman, tersangka lain adalah Kandar dan Slamet. Kandar adalah seorang penjaga pintu penjara. Soerabaijasch Handelsblad tanggal 28 Februari 1929 menyebut, sebelum keluarnya Goesti Soleiman, Kandar telah berhubungan dengan keluarga  Goesti Soleiman yang berada di Stagen. Kandar menerima sejumlah uang dari keluarga Goesti Soleiman agar mau mengirim telegram tadi yang ternyata dari Goesti Soleiman. Slamet adalah tukang pos yang biasa mengurus telegraf penjara. Dari Slamat, formulir telegram kosong telegram untuk Goesti Soleiman didapatkan. Isi telegram pun diolah berdasarkan keinginan Goesti Soleiman: tentang pembebasan dirinya. Slamet juga dapat sejumlah uang atas perannya yang penting itu. Setelah isi telegram itu dibuat Goesti Soleiman, telegram itu parkir dulu di kantor telegraf. Dari kantor, Slamet meneruskan telegram itu ke Kandar. Dari Kandar, surat itu diberikan kepada pejabat di kantor penjara Malang. Atas dasar telegram yang dikira resmi dari pusat itu, maka Goesti Soleiman dikeluarkan oleh pejabat penjara dan dibebaskan. Para pejabat itu ketika menerima telegram dari Kandar tidak tahu bahwa telegram itu palsu. Goesti Soleiman bisa mengolah formulir telegram bukan saja karena dia tahu bentuk telegram surat pembebasan, tapi juga karena posisinya di dalam penjara. Soerabaijasch Handelsblad (28 Februari 1929) dan De Locomotief (22 Februari 1929) menyebut Goesti Soleiman sebagai tahanan sehari-harinya dipekerjakan di bagian administrasi penjara. Dia tahu cap stampel apa saja yang dibutuhkan dalam sebuah telegram pembebasan narapidana dan tahu di mana stempel yang dibutuhkannya berada. Dengan pengetahuannya itu plus formulir dari Slamet serta stempel-stempel yang bisa diaksesnya secara diam-diam di kantor penjara, telegram pembebasan untuk dirinya pun sukses dibuatnya. Meski kemudian dengan cepat ketahuan dan Goesti Soleiman tertangkap kembali, apa yang dilakukannya di era 1920-an dan 1930-an itu dianggap cara canggih oleh media-media berbahasa Belanda yang memberitakan kasus pelariannya dari Penjara Malang. Sebelum kisah kaburnya yang luar biasa –setidaknya bagi kebanyakan orang pribumi– itu, Goesti Soleiman pernah dipenjara karena beberapa kasus penggelapan. Ada yang menyebut Goesti Soleiman bin Pangeran Mohamad Seman berasal dari  Kota Baru, dekat Pulau Laut. Pangeran Mohamad Seman disebut-sebut seorang raja di Kalimantan Selatan. Raja dengan nama Pangeran Mohamad Seman di Kalimantan Selatan yang terkenal adalah Pangeran Mohamad Seman yang menjadi sultan Banjar Perjuangan, yakni Sultan Mohamad Seman (1836-1905), anak Pahlawan Nasional RI Pangeran Antasari. Tak ada penjelasan dari berita koran-koran Hindia Belanda soal latar belakang Goesti Soleiman yang sukses kabur berbekal telegram palsu itu. Goesti Soleiman mendahului Frank Abegnale yang menipu di Amerika puluhan tahun kemudian dan kisahnya difilmkan dalam Catch Me If You Can .

  • Cara Orang Zaman Dulu Mengatasi Bau Badan

    DI masa lalu kebanyakan orang berpandangan kebiasaan mandi merupakan hal berbahaya bila dilakukan terlalu sering. Pandangan ini muncul karena orang-orang menganggap kulit manusia dapat menyerap cairan yang berada di sekitar permukaannya. Kendati demikian, mereka yang hidup di zaman Renaisans sangat menyukai wewangian dan berupaya untuk memiliki tubuh yang wangi setiap harinya. Menurut Constance Classen, David Howes dan Anthony Synnott dalam Aroma: The Cultural History of Smell , bahaya yang diyakini akibat mandi dapat dilihat dari tindakan pencegahan yang dilakukan saat mandi yang jarang dilakukan. Francis Bacon, misalnya, menyusun sebuah aturan mengenai tata cara mandi yang lebih mirip ritual wewangian yang rumit daripada membasuh tubuh dengan air. “Pertama, sebelum mandi, gosok dan urapi tubuh dengan oyle, dan salep, agar kehangatan dan manfaat dari air mandi dapat meresap ke dalam tubuh. Kemudian duduklah dua jam di dalam bak mandi; setelah mandi, bungkuslah tubuh dengan sebuah kain yang terbuat dari masticke , mur, pomander dan kunyit, untuk menahan keringat atau pernapasan pori-pori, hingga melembutkan tubuh, setelah didiamkan di dalam kain selama 24 jam, campuran bahan-bahan itu akan menjadi padat dan keras. Terakhir, dengan minyak wangi dari oyle, garam, dan kunyit, kain pembungkus dilepas, lalu urapi tubuh,” tulis Classen, Howes, dan Synnott. Baca juga:  Sekuat Dupa, Sewangi Cleopatra Alih-alih untuk membersihkan diri dari kotoran, orang-orang justru menganggap mandi untuk membuat tubuh terbebas dari bau tidak sedap. Mereka pun lebih suka menggunakan air mawar daripada sabun saat mandi. Alasannya, sabun yang terbuat dari lemak atau minyak ikan paus yang dikombinasikan dengan kalium seringkali berbau menyengat. Akan tetapi, air mawar tak dapat mengatasi permasalahan bau badan dengan mudah. Oleh karena itu, seorang ahli kebersihan Prancis di abad ke-16 menyarankan, “akan berguna untuk menekan dan menggosok kulit dengan campuran bunga mawar”. Pandangan bahwa mandi tidak boleh terlalu sering membuat orang-orang mengandalkan parfum untuk mengatasi bau tidak sedap pada tubuh. Jack Turner menulis dalam Spice: The History of a Temptation , pada abad pertengahan, parfum biasanya dibuat dengan bahan dasar minyak atau lemak hewani, dengan tambahan anggur, rempah-rempah, dan wewangian aromatik. Seorang Fransiskan Spanyol, Juan Gil de Zamora, menulis tentang penggunaan lemak dari hewan eksotis seperti macan tutul dan unta dengan anggur dan kayu manis. “Lemak pertama-tama dipotong dari dagingnya, kemudian dimasak dalam anggur, lalu dimatikan dan dibiarkan semalaman. Keesokan harinya, anggur ditambahkan lagi; kemudian campuran tersebut digiling, diaduk, dan didiamkan beberapa saat, lalu akhirnya dipanaskan kembali dengan campuran tujuh minyak eksotis. Pada tahap akhir, berbagai buah seperti plum ditambahkan, bersama dengan bahan pokok wewangian Yunani dan Romawi, terutama kayu manis dan cassia ,” tulis de Zamora dikutip Turner. Selain menjelaskan proses pembuatan wewangian, de Zamora juga memberikan formula untuk prototipe deodoran ketiak abad pertengahan dengan menyarankan penggunaan kayu manis, cengkeh, dan anggur untuk mengatasi ketiak yang bau. Pentingnya membuat tubuh selalu wangi karena parfum tidak hanya dapat menutupi bau tidak sedap, tetapi juga mampu menghilangkannya. Selain itu, wewangian juga dianggap sebagai terapiuntuk memperkuat dan menstimulasi pikiran dan tubuh. Besarnya minat orang Eropa terhadap parfum mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan 17 ketika, di kalangan orang kaya, segala sesuatu mulai dari surat hingga anjing peliharaan diberi wewangian. Para bangsawan merupakan kelompok utama dan paling penting dalam industri perkembangan parfum. Sejumlah raja dan ratu dikenal sebagai pencinta wewangian. Ratu Elizabeth I dari Inggris, misalnya, mengaku selain rutin mandi sebulan sekali ia juga menyemprotkan wewangian ke tubuhnya. Kala itu, mawar dan musk merupakan salah satu kombinasi yang umum digunakan, dan menjadi favorit Ratu Elizabeth I dan ayahnya, Raja Henry VIII. Baca juga:  Saat Mandi Perlu Wangi “Begitu keranjingannya sang ratu terhadap wewangian, pada suatu kesempatan ketika Ratu Elizabeth menjamu delegasi duta besar Prancis, dua meriam ditembakkan, yang satu dengan bubuk beraroma manis, dan yang lainnya dengan air manis, sangat harum dan menyenangkan,” tulis Classen, Howes, dan Synnott. Raja Prancis Louis XV juga sangat menggemari parfum. Bahkan ia dijuluki sebagai la Cour parfumée atau parfum berjalan. Ia mengharuskan penggunaan parfum berbeda setiap hari dalam seminggu dan memastikan bahwa ia tidak pernah pergi tanpa tubuh yang wangi. Gundik sang raja, Marquise de Pompadour, juga memiliki kegemaran serupa terhadap wewangian. Konon kabarnya ia menghabiskan satu juta franc untuk membuat bank parfum. Dipandang sebagai penghilang bau badan yang lebih efektif ketimbang mandi, parfum di zaman Renaisans dan modern awal hanya dimiliki oleh orang-orang kalangan atas. Lambat laun parfum yang eksklusif menjadi penentu status sosial di masyarakat. Karena hal ini pula, wangi semerbak yang memanjakan indra penciuman hanya dapat dicium di kota-kota metropolitan, sementara orang-orang di pedesaan sebagian besar belum terjamah wangi parfum. Menurut sejarawan Steven Zdatny dalam A History of Hygiene in Modern France: The Threshold of Disgust , orang-orang di pedesaan Prancis,tak hanya belum akrab dengan parfum tetapi juga jarang sekali mandi meski aliran sungai banyak ditemukan di sekitar wilayahnya.“Hal ini terjadi karena mereka menganut prinsip kesopanan yang berpandangan bahwa beberapa bagian tubuh tidak boleh diperlihatkan secara sengaja di depan umum. Dengan demikian hanya bagian tubuh tertentu yang sering terkena air, sementara bagian lain tidak pernah dicuci,” tulis Zdatny. Selain prinsip kesopanan, orang-orang di pedesaan jarang sekali mandi karena menganggapnya berbahaya bagi tubuh. Masyarakat pedesaan pun terbiasa dengan bau badan yang menyengat. Pria dan wanita yang bekerja di lahan, dalam interaksi yang terus-menerus dan tanpa batas dengan hewan, lebih dihargai dan dipandang sebagai tanda kejantanan pada pria dan keseksian pada wanita. “Sementara pria yang terlalu sering membersihkan diri justru dianggap kurang maskulin, dan mengarah pada kebanci-bancian,” tulis moralis Joseph Virey dalam Dictionnaire des sciences médicales (1820) dikutip oleh Zdatny. Namun, revolusi industri yang menarik para pendatang dari pedesaan ke kota besar, toleransi mereka terhadap bau yang menyengat menjadi perhatian golongan urban, khususnya kalanganatas. Selain meningkatnya populasi perkotaan, bertambahnya pabrik juga memicu permasalahan limbah dan pembuangan sampah. Hal ini mendorong gerakan reformasi sanitasi di kota-kota Eropa pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Baca juga:  Kolam dan Tradisi Mandi Gerakan ini semakin besar ketika pada akhir abad ke-19, ditemukan bahwa bukan bau yang menyebarkan penyakit, melainkan kuman. Namun, kuman penyebab penyakit ditemukan di tempat-tempat berbau tidak sedap sehingga untuk mencegah penyebarannya, bau tidak sedap harus dianggap sebagai hal yang berbahaya dan harus dihilangkan. Dalam hal kebersihan pribadi, mandi penting untuk menghilangkan kuman penyebab penyakit. Seiring dengan berkembangnya tempat pemandian umum maupun pembangunan kamar mandi pribadi, orang-orang mulai membersihkan tubuh mereka. Kesadaran akan perilaku hidup bersih yang tumbuh di masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap bau badan dan cara-cara untuk mencegahnya. Sampai akhir abad ke-19, parfum masih menjadi barang mewah dan hanya dimiliki segelintir orang berduit. Hal ini mendorong diciptakannya deodoran dan antirespiran secara massal dengan harga yang terjangkau. “Jika di abad-abad sebelumnya hanya orang-orang kaya yang disibukkan dengan ‘tubuh yang wangi’, kepedulian terhadap bau badan kini juga telah merasuk ke dalam kesadaran semua kelas sosial,” tulis Classen, Howes, dan Synnott. *

  • Duel Bangsawan dan Kapten Asal Bangkalan

    BERKALI-KALI lelaki itu datang ke persidangan dan ditanyai Jaksa Penuntut Umum, sekitar Mei 1910. Dia hadir dengan seragamnya sebagai kapten dari Korps Barisan Madura di Bangkalan, sebuah hulptroepen (pasukan bantuan) dari Madura dalam tentara kolonial Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL). Pada sidang tanggal 23 dan 24 Mei 1910, misalnya, Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie tanggal 24 Mei 1910, memberitakan sang kapten hadir sebagai terdakwa. Kapten Pandji Adisoekmo, lelaki pesakitan itu, menjadi terdakwa karena kasusnya dengan Raden Ario Soerio Amidjojo. Raden Soerio merupakan priyayi yang masih terhitung keluarga Bupati Bangkalan Raden Adipati Suryonegoro. Istrinya yang bergelar Raden Ayu, kata Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie tanggal 19 Maret 1910, terhitung masih kerabat bupati Sumenep. Raden Ayu pernah cemburu pada suaminya lantaran berkelakuan bak Don Juan. Suatu kali, Raden Soerio pernah kedapatan bepergian dengan seorang perempuan yang tinggal di Madura. Soerio kesengsem pada perempuan itu. Tapi dia bukan bukan satu-satunya perempuan yang digoda oleh Raden Soerio. Karena itulah Raden Ayu tersiksa batinnya dan dan timbul keinginannya untuk bercerai. Namun, kalangan priyayi di sana tak mau ada perceraian di antara Raden Soerio dan Raden Ayu. Raden Ayu kebetulan punya kenalan dekat, yakni Kapten Pandji Adisoekmo, perwira Barisan Madura yang bertugas di Bangkalan. Kepadanyalah Raden Ayu mencurahkan isi hatinya mengenai masalah rumah tangganya. Masalah rumah tangga Raden Ayu rupanya jadi perhatian Kapten Adisoekmo. Setelahnya, Adisoekmo mengambil sebuah senjata dan menuntaskan kekesalan Raden Ayu tadi. De Courant tanggal 3 Oktober 1910 mengisahkan bahwa dalam gelapnya malam, Kapten Adisoekmo menanti seseorang di sebuah langgar di belakang istana bupati Bangkalan. Adisoekmo tahu malam itu Radenen Soerio bersama priyai-priyayi lain sedang mengunjungi bupati. Ketika Raden Soerio melewati langgar yang terlihat sepi dan gelap itu, terdengar suara gemerisik. Dia pun penasaran. Korek langsung dinyalakannya untuk mencari tahu apa sebetulnya sumber suara gemerisik tadi. Sejurus kemudian, Raden Soerio mendapat tiga tembakan kendati tak ada yang melihat jelas apa yang sebetulnya terjadi. Sementara, Kapten Adisoekmo yang terluka karena menangkis serangan keris dari Raden Soerio, dengan cepat diringkus di tempat. Sang kapten digebuki hingga babak belur oleh orang-orang di sekitar Raden Soerio. Setelah diadili secara adat, Kapten Adisoekmo diperkarakan secara hukum kolonial dan diadili di pengadilan. “Perintah penangkapan pendahuluan yang dikeluarkan terhadap Raden Pandji Adisoekmoh, kapten Barisan, atas tuduhan pembunuhan terhadap Raden Ario Soerio Amidjojo, telah diratifikasi oleh Mahkamah Kehakiman,” demikian De Locomotief tanggal 29 Maret 1910 memberitakan. Spekulasi pun muncul mengitari kasus yang disebut Bangkalan Moorden itu. Ada yang bilang ada hal yang ditutup-tutupi dalam pengadilan sebelumnya. Ada yang menyebut Kapten Adisoekmo berani membunuh Raden Soerio karena penghasilannya sebagai kapten Barisan berkurang 30 gulden dari gaji gajinya yang 100 gulden. Jelas-tidaknya spekulasi-spekulasi yang ada itu, Kapten Adisoekmo mesti siap menerima hukuman. Menurut koran De Locomotief tanggal 30 Agustus 1910, Raad van Justitie lalu memvonis Kapten Adisoekmo dengan hukuman selama 10 tahun pengasingan/pembuangan. Kapten Adisoekmo lalu dibuang ke Ambon. Pada abad ke-19, Ambon merupakan tempat pengasingan/pembuangan bangsawan Jawa yang dianggap berbahaya bagi penguasa kolonial. Bekas raja Jawa, Paku Buwono VI (1807-1849), dibuang ke sana setelah dianggap membantu Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Paku Buwono VI bahkan meninggal dunia di sana. Kapten Adisoekmo tampaknya tak terlalu terbebani dengan hukuman tersebut. De Niuewe Courant tanggal 20 Juni 1914 menyebut dia menjadi orang baik di tempat pengasingannya. Hukuman 10 tahun pembuangan itu akhirnya tak dijalani sepenuhnya. De Locomotief tanggal 11 Desember 1918 mengabarkan, Kapten Adisoekmo pulang ke Madura sebelum masa hukumannya berakhir. Raden Ayu sendiri, yang menghasut Kapten Adisoekmo, tak diketahui lagi kabarnya.

  • Raja Bali yang Digosipkan Punya Harem

    PADA 1943, Raja Gianyar Anak Agung Ngurah Agung digantikan oleh putranya yang jebolan sekolah tinggi hukum Recht Hogeschool Batavia zaman Hindia Belanda. Kendati Anak Agung Ngurah Agung tidak meninggal dunia, dia tak jadi raja karena dibuang penguasa Jepang ke Lombok. Anak Agung Gde Agung, raja yang menggantikan itu, menjadi raja yang kuat di Bali setelah Jepang kalah. Dia adalah pemimpin milisi Pemuda Pembela Negara (PPN) yang terbentuk sekitar 1945. Milisi yang berubah haluan politik itu menjadi andalan sang raja. “Tadinya bertujuan menjaga keamanan daerah Gianyar saja serta melindungi Puri Raja Gianyar, dengan mendadak sontak menyatakan bekerja sama dengan NICA,” kata Nyoman S. Pendit dalam Bali Berjuang.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bottom of page