Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menengok Cerita dalam Tari Golek Ayun-ayun
Delapan penari berjalan memasuki Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. Kain batik motif parang dan rompi beludru berwarna hijau membalut tubuh mereka. Jamang (sejenis mahkota terbuat dari kulit kerbau) lengkap dengan bulu-bulu menghiasi bagian kepala para penari. Aksesoris-aksesoris cantik seperti cunduk mentul, kalung sungsun, giwang, dan klat bahu yang melekat pada tubuh makin mempercantik penampilan mereka. Para penari tersebut tampil usai akad nikah putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep bersama Erina Gundono. Mereka membawakan tari Golek Ayun-ayun, sesaat sebelum prosesi adat panggih dilaksanakan pada 10 Desember 2022. Tari Golek adalah salah satu jenis tari klasik asal Yogyakarta. Tari ini sebenarnya merupakan tari tunggal sehingga jumlah penari dalam setiap penampilan hanya satu orang. “Jenis tarian tunggal putri yang lahir di lingkungan tari Istana yang mempergunakan acuan gerak tari ‘ledek’ yang kerakyatan, tergarap dan terangkat penuh stilisasi,” kata R.M. Wisnoe Wardhana, seniman tari Yogyakarta, dalam “Tari Tunggal, Beksan dan Tarian Sakral Gaya Yogyakarta”, termuat di buku Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta Baca juga: Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Kemunculan tari golek tidak terlepas dari kiprah Sultan Hamengkubuwono VII ketika belum diangkat menjadi sultan dan masih bernama Pangeran Mangkubumi. “Pangeran Mangkubumi (Putra Hamengku Buwono VI) menciptakan tari Golek tunggal yang ditarikan pada akhir pergelaran Langendriya,” tulis ahli tari Jawa Klasik Ben Suharto dalam Perkembangan Tari Klasik Gaya Yogyakarta . Penciptaan tari golek terinspirasi dari pementasan wayang golek pada bagian penutup pergelaran wayang kulit. Selain itu, istilah “golek” digunakan dengan harapan agar penonton mau mencari tahu sendiri makna dalam cerita yang baru saja ditampilkan. Dalam bahasa Jawa, golek artinya mencari. Seiring berjalannya waktu, tari golek juga ditampilkan secara berkelompok. Kejadian ini ditandai oleh penampilan tari golek yang tidak selalu ditampilkan usai pagelaran Langendriya. “Tahun 1908 berkembang menjadi tarian lepas yang berfungsi sebagai tontonan/hiburan yang selaras dengan masyarakat pendukungnya, tari golek diangkat menjadi tari klasik istana pada tahun 1916,” kata empu tari klasik Yogyakarta R. Sasmintadipura, dikutip Wiwiek Diani Wijayanti dalam tugas akhir Penyaji Tari ISI Yogyakarta dengan judul “Tari Golek Ayun-ayun ”. Baca juga: Tarian Perang Pangeran Sambernyawa Tari golek kemudian memiliki bermacam varian dengan nama berbeda-beda. Nama varian biasanya diambil dari gending pengiring tari golek yang dipentaskan. Tak terkecuali tari Golek Ayun-ayun. Nama gending yang mengiringi tari tersebut dikenal dengan Ladrang Ayun-ayun. Tari Golek Ayun-ayun diciptakan oleh maestro tari klasik Yogyakarta Raden Riya Sasmintadipura. Ia merupakan abdi dalem di Keraton Yogyakarta dengan gelar dan nama Raden Bekel Sasminta Mardawa. Kecintaannya terhadap tari gaya Yogyakarta mendorongnya mendirikan organisasi tari klasik Mardawa Budaya. Berbagai jenis tari yang berkiblat pada genre tari klasik Yogyakarta ia ciptakan. Nama asli tari Golek Ayun-ayun adalah Golek Nawung Asmara. Namun, para guru tari dan masyarakat lebih familiar dengan Golek Ayun-ayun karena judul gending yang mengiringi. Tarian ini awalnya dibuat sebagai salah satu cara diplomasi budaya di luar negara Indonesia. “Tari Golek Ayun-ayun diciptakan/dipersiapkan khusus untuk EXPO di Jepang (misi kesenian) pada tahun 1970, penari pertama kali B.R.Adj Sri Muryawati,” kata Sasmintadipura. Baca juga: Tarian Penanda Singgasana Sultan Menurut peneliti tari Sal Murgiyanto, tari Golek Ayun-ayun kemudian kerap ditampilkan dalam misi budaya di berbagai negara. Pada 1981, misalnya, penari asal Yogyakarta Alexia Maria Endang Nrangwesti membawakan tari ini dalam pembukaan Konferensi Tahunan Asian Dance Association di Seoul, Korea Selatan. Penari yang sama kembali membawakan tari Golek Ayun-ayun dalam misi budaya di Taipei International Dance Festival tahun 1995. Tari Golek Ayun-ayun berkembang secara masif di wilayah Yogyakarta. Salah satu penyebabnya karena tari Golek Ayun-Ayun dijadikan materi ajar di lembaga pelatihan tari klasik gaya Yogyakarta Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa dan kemudian lembaga-lembaga belajar tari formal maupun informal di Yogyakarta. Durasi lebih singkat dari genre tari golek ala istana membuat tari Golek Ayun-ayun lebih mudah dipelajari. Selain itu, tari Golek Ayun-ayun juga dianggap lebih dinamis karena memiliki tiga versi berbeda: versi durasi sekira 15 menit, versi 7 menit, dan versi 5 menit. Perbedaan durasi ini mempermudah penyesuaian dengan kebutuhan yang ada. Fleksibilitas Golek Ayun-ayun membuatnya populer sehingga dapat dijumpai di berbagai perayaan. Selain bisa dinikmati dalam pembukaan paket wisata di dalam keraton Yogyakarta, Golek Ayun-ayun dapat dijumpai di acara-acara di luar keraton, semisal pesta rakyat, penyambutan tamu dalam pembukaan acara penting, dan juga pengiring pengantin.
- Jiwa Raga Yanagawa
TENGAH malam, Yanagawa Motoshige, seorang perwira intel Jepang, mendarat di Merak, Banten. Bersama rombongannya, dia bergerak perlahan sembari menyelidiki jalan-jalan yang hendak dilalui pasukan Jepang.
- Awal Mula Lampu Penerangan Jalan di Surabaya
Kerlap kerlip lampu yang menghiasi ruas-ruas jalan di Surabaya membuat kawasan tersebut terang benderang kala malam. Bagi sebagian orang berkeliling kota sembari melihat lampu yang menyala beraneka warna menjadi hiburan tersendiri. Berbeda dengan masa kini, ratusan tahun silam berkeliling kota justru dianggap berbahaya dan tak diminati. Pasalnya,lampu penerangan belum tersedia, sehingga saat malam menjelang suasananya menjadi gelap gulita. Kondisi tersebut membuat penduduk Surabaya di abad ke-19 lebih memilih di dalam rumah dengan penerangan sederhana menggunakan lampu ublik . Menurut Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe , lampu ublik merupakan lampu menggunakan minyak jarak, minyak kelapa, atau minyak tanah. “Sebagian penduduk Surabaya menyebutnya cempluk ,” tulis Dukut. Namun, bila dalam kondisi mendesak seseorang diharuskan beraktivitas di luar rumah saat malam hari,biasanya ia akan membawa obor atau tali upet sebagai penerangan. Mengutip KBBI Daring , upet merupakan tali api yang terbuat dari sabut, irisan seludang bunga kelapa, dan sebagainya, yang mana jika dinyalakan ujungnya akan membara terus hingga habis. Baca juga: Lampu Pijar Bikin Penduduk Batavia Gempar Menurut Dukut, orang zaman dulu membawa upet dengan cara digulung dan disampirkan di bahu lalu ujungnya dinyalakan. Dengan menggunakan upet, seseorang yang beraktivitas di luar rumah saat malam dapat diketahui keberadaannya melalui percikan api kecil-kecil dari alat tersebut. Wartawan sekaligus pemerhati sejarah Surabaya, Godfried Hariowald von Faber dalam Oud Soerabaia menyebut pada masa itu muncul kebijakan yang mengatur penggunaan tali upet. Peraturan itudicabut pada 1 Maret 1864 setelah sejumlah lampu penerangan dipasang di kawasan Surabaya. Berbeda dengan penduduk yang membawa obor atau tali upet,menurut G.H. von Faber, bila seorang pembesar bersikeras untuk pergi ke pesta maupun menghadiri pertemuan di malam hari, mereka biasanya akan menyuruh budaknya untuk berjalan di depan dengan membawa obor atau lampu minyak jarak dan menunjukkan jalan. Para pesuruh itu sesekali berteriak sebagai tanda bahwa kereta kuda sang tuan akan lewat. Baca juga: Listrik Amerika Menerangi Indonesia Minimnya lampu penerangan membuat penduduk Surabaya mengeluhkan ketidakamanan di jalanan pada malam hari. Mereka khawatir saat tengah beraktivitas di luar rumah menjadi sasaran para preman. Oleh karena itu, pemerintah kolonial mulai memasang lampu penerangan jalan di sejumlah wilayah Surabaya pada 1858. Lampu penerangan tersebut menggunakan lampu ublik dengan bahan bakar minyak kelapa. G.H. von Faber menulis , pemasangan lampu penerangan di sejumlah wilayah Surabaya dikontrakkan kepada seorang Tionghoa yang menerima 230 gulden sebulan untuk merawat dan menyalakan lampu pada malam hari. Ia juga harus mematikan lampu saat pagi tiba. Namun,Dukut menyebut orang Tionghoa itu keberatan karena jumlah lampu ublik yang terpasang di wilayah Surabaya begitu banyak. Setelah melalui perdebatan panjang, pemerintah kolonial mengalah. Akhirnya, orang Tionghoa itu dibantu oleh 20 orang hukuman dari Penjara Kalisosok yang ditugaskan merawat lampu-lampu penerangan yang terpasang di wilayah Surabaya. “Jadi, tugas ke-20 orang pesakitan tersebut adalah merawat lampu, termasuk mengelap kaca-kacanya dan juga memperbaiki sumbunya, serta memberinya minyak. Mereka juga bertugas nyumeti (menyalakan) lampu-lampu itu bila senja telah tiba. Lantas pagi harinya, mereka ditugasi nyebuli (mematikan) lampu-lampu itu,” tulis Dukut. Baca juga: Listrik dari Filipina ke Indonesia Seiring berjalannya waktu,penerangan jalan dengan lampu ublik berbahan bakar minyak kelapa dinilai kurang memadai karena cahayanyaterlalu redup. Pada 1864, pemerintah kolonial menganggarkan 2.500 gulden untuk membeli lampu penerangan berbahan bakar minyak tanah yang lebih terang dari lampu ublik . Pemerintah kolonial juga tertarik pada penemuan baru. Seorang kontraktor berhasil menciptakan lampu yang memiliki mulut api. Lampu itu disebut 1000 brander atau 1000 mulut api . Penduduk menyebutnya damar sewu karena memiliki sumbu yang banyak. G.H. von Faber menceritakan, lampu itu menjadi pemberitaan hangat di kalangan masyarakat. Lampu yang digantung di tali di seberang jalan tersebut menyala lebar dan mendorong banyak orang ramai-ramai berdatangan untuk melihat secara langsung. Tak hanya mengesankan publik, pemerintah setempat pun terkesan dengan lampu itu hingga tertarik melakukan perjanjian jual-beli dengan kontraktor. Baca juga: Politik Listrik Orde Baru Sayangnya, perjanjian itu tak berjalan mulus. Tiga tahun kemudian, pada 2 April 1867, kontraktor enggan membuat dan memasang 1000 brander lagi di wilayah Surabaya karena tagihan yang diajukannya tak kunjung dibayar oleh pemerintah. Residen Surabaya kelabakan hingga meminta bantuan kepada siapa saja untuk mengatasi krisis keuangan pemerintah untuk pengadaan lampu penerangan jalan. Namun, upaya tersebut tak membawa hasil maksimal karena uang yang terkumpul tak cukup untuk membeli lampu penerangan jalan. Memasuki pengujung abad ke-19, pada 1881 lampu penerangan berbahan gas mulai menerangi jalan-jalan di wilayah Surabaya. Di tahun 1920, lampu ini tak hanya terpasang di ruas-ruas jalan tetapi juga di taman-taman kota. Dukut men catat, total lampu gas di Surabaya mencapai 1.709 buah. Tak berselang lama , pada 1923 listrik mulai masuk ke Surabaya. L ampu gas yang menerangi kawasan itu diganti lampu listrik. Sinarnya yang terang membuat penduduk tak perlu lagi menggunakan obor atau tali u pet saat beraktivitas di luar rumah pada malam hari. *
- Capung Besi Rusia
LELAKI itu berperawakan tinggi besar. Rambutnya sudah memutih. Kendati usianya menginjak 86 tahun, suaranya masih jelas dan ingatannya sempurna. Dia adalah Pramono Adam, pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesia atau AURI (kini, TNI AU) dengan pangkat terakhir Kolonel Penerbang (Purn.).
- Lezatnya Sejarah Bubur Cikini
Sebagai kawasan wisata di ibu kota Jakarta, Cikini terkenal akan kuliner legendaris. Di sana kita bisa menemukan beragam makanan yang siap memanjakan lidah. Salah satunya kedai Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman. Sebelum jualan bubur ayam, awalnya pemiliknya jualan martabak. “Awalnya jualan martabak dulu, tapi sepi dan peminatnya hanya orang dewasa. Pak Haji pun memilih jualan bubur yang bisa dikonsumsi berbagai kalangan usia,” ujar Nurhayati (20), seorang kasir di kedai Bubur Ayam H.R. Sulaiman. Bubur merupakan hidangan yang mendapat pengaruh dari kuliner bangsa Cina, yaitu congee atau conjee yang artinya bubur nasi. Bubur yang paling populer dan menjadi ciri khas kuliner di beberapa daerah ialah bubur ayam. Menurut Murdijati Gardjito, dkk. dalam Makanan Tradisional Indonesia Seri 3, bubur ayam sudah dikenal sejak era Kaisar Shih Huang Ti (238 SM). Kaisar menghadapi masalah pangan akibat kemarau panjang. Ia berpikir keras mencari alternatif makanan agar rakyat dan prajurit tidak meninggal karena kelaparan. Revolusi pertanian tidak memungkinkan karena membutuhkan waktu lama. Pada suatu hari, kaisar tidak sengaja melihat nasi yang disantap melunak setelah disiram kuah sayur yang panas. Kaisar pun mendapat ide untuk melunakkan nasi agar dapat menghasilkan hidangan nasi yang lebih banyak dan dapat dimakan oleh rakyat dan prajurit. Baca juga: Gurihnya Sejarah Cah Kwe Setelah melakukan percobaan berkali-kali, akhirnya ditemukan cara untuk membuat hidangan beras encer yang kemudian disebut bubur. Bubur tersebut kemudian dimasak massal, dicampur dengan kuah sayur dan kaldu ayam. Masalah pangan pun teratasi dengan bubur ayam. “Sejak saat itu, bubur ayam dianggap sebagai simbol persatuan dan kerharmonisan karena mampu mengenyangkan semua rakyat secara merata,” tulis Murdijati Gardjito, dkk. Meskipun demikian, segala macam bubur tidak boleh disajikan pada hari raya Imlek karena bubur juga diartikan sebagai lambang kemiskinan dan kesusahan. Bubur ayam kemudian menyebar termasuk ke Nusantara dibawa oleh para imigran Cina. Orang-orang Tionghoa yang pandai berdagang menjajakan bubur ayam kepada masyarakat setempat. Sehingga bubur ayam berkembang hampir di setiap daerah di Indonesia. Pedagangnya pun tidak hanya orang Tionghoa, tetapi juga penduduk bumiputra, seperti Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman. Baca juga: Satu Nusa Soto Bangsa Burcik, sebutan akrab Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman, buka sejak tahun 1960-an. Pemiliknya Haji Radji, seorang pedagang asal Cirebon, yang memiliki keturunan India. Karena jualan martabak sepi peminat, ia kemudian melihat bubur ayam khas Cina yang sangat digandrungi masyarakat. Ia pun mulai berinovasi mencari resep bubur ayam yang enak, unik, halal, dan cocok dilidah orang Indonesia. Awalnya Haji Radji menjajakan bubur ayam secara keliling. Ia kemudian hijrah ke Jakarta. Berkat ketekunan dan kegigihannya, bubur ayam yang awalnya modifikasi dari bubur ayam Cirebon pun disukai pelanggan. Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman. (Melan Eka Lisnawati/Historia.ID). Pada 1990-an, Haji Radji membuka kedai Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman di lokasi strategis, yaitu di Jl. Cisadane, Menteng, Jakarta Pusat, serta berada di perempatan jalan yang menghubungkan Stasiun Cikini, Pasar Antik, dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta. Penambahan nama Sulaiman memiliki filosofi dan keberuntungan bagi Haji Radji. Nama Sulaiman diberikan oleh seseorang ketika ia melakukan ibadah haji ke Makkah. “Pak Haji waktu itu ketemu orang di Makkah terus bilang pakai nama Sulaiman biar tambah laku jualannya,” kata Nurhayati. Kedai Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman buka setiap hari pukul 06.00–23.00 WIB. Selalu dipadati pengunjung mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga manula. Bahkan, tak jarang turis mancanegara datang mencicipi kelezatan burcik ini. Masih di kedai yang sama, terdapat kopi Cikini yang baru buka setahun belakangan. Tak lupa menu lain seperti mie goreng, roti canai, martabak, dan siomay yang dapat dijadikan pilihan. Baca juga: Mencicipi Sejarah Soto Betawi Dilihat dari bentuknya, burcik memiliki tekstur seperti bubur ayam pada umumnya. Tetapi, berwarna putih gading karena campuran rempah-rempah. Ketika disajikan aroma dari rempah terutama jahe menyeruak menusuk hidung. Sedangkan untuk plating burcik, terdapat topping di atas bubur yang terdiri dari suwiran ayam, tongcai, cakwe yang dihaluskan, dan emping. Di meja tersedia kecap, sambal, dan lada sebagai pelengkap. “Jadi burcik ini tidak pakai kuah dan rasanya tetap ada dari buburnya langsung. Kreasi topping -nya pun menarik, beda dari yang lain,” ujar Nurhayati. Menu burcik telur dapat menjadi pilihan bagi yang suka dengan rasa yang menantang. Sebab burcik yang satu ini istimewa dengan ditambahkan kuning telur sehingga memberikan sensasi rasa yang berbeda dari menu lainnya. Semua menu di kedai Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman ramah di kantong. Untuk menjaga rasanya, burcik dimasak oleh pelayan yang sudah lama bekerja dengan resep langsung dari anak Haji Radji. “Sekarang masaknya khusus di mesatau tempat tinggal karyawan. Kebetulan sekarang sudah dipegang oleh generasi ketiga yaitu Ibu Widya,” ujar Nurhayati. Sayangnya, kata Nurhayati, resep burcik banyak di- copy paste oleh karyawan yang sudah keluar. Kendati demikian, ia berharap burcik tetap menjadi pilihan pelanggan.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.
- Asal-Usul Kaum Abangan
DALAM analisis sosio-politik masyarakat Jawa, golongan abangan sering disebutkan sebagai kategori yang penting dan yang “primordial” (yaitu, yang tetap ada dan berakar jauh di zaman dulu). Sudah umum diketahui bahwa abangan merupakan golongan masyarakat Jawa yang menganut agama Islam secara terbatas saja. Pendek kata, mereka merupakan muslim yang “nominal” saja. Akan tetapi, bagaimana dan kapan golongan itu berkembang dalam masyarakat Jawa, dari mana istilah abangan dan bagaimana sejarah sepanjang waktu golongan itu. Inilah beberapa isu penting yang hanya bisa dilacak melalui sumber-sumber sejarah, sebuah penelitian yang mungkin agak mengejutkan hasilnya.
- Goresan Potlot di Markas Slank
JIKA tak ada pagebluk, Jalan Potlot III tak pernah sepi. Anak-anak muda dari berbagai daerah berdatangan dan nongkrong di sana. Siapa lagi magnetnya kalau bukan grup musik legendaris Indonesia bernama Slank. Situasinya jauh berbeda dibandingkan setengah abad lalu ketika Sidharta Manghuruddin dan keluarganya tinggal di sana. Rumah Sidharta ibarat villa peristirahatan. Belum banyak rumah di sekitarnya. Potlot pun punya reputasi sebagai “tempat jin buang anak”.
- Sengkarut Tinju Pro
SUASANA di lingkar dalam Stadion Gelora Bung Karno (GBK) sore itu berangsur riuh. Beberapa orang, tua-muda, berolahraga jogging, jalan sehat, atau sekadar bikin konten. Lagu-lagu medley tradisional terdengar dari pengeras suara. Di area “Pintu Kuning” yang berada di antara Zona 10 dan 11, dengan suara lantang Nicholas “Nico” Thomas memberikan aba-aba. Pukulan keras menghantam target pad merah di tangannya. “Terus! Maju! Satu, dua, tiga, empat. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!” seru Nico.
- Mengenal Tari Kukila
Pada Agustus 2021, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Bintang Budaya Parama Dharma kepada almarhum Raden Tumenggung Kusumokesowo (1909–1972)atas jasanya sebagai seniman dan pemelihara warisan budaya Jawa. Kusumokesowo, mantan abdi dalem Kasunanan Surakarta, merupakan tokoh tari klasik Jawa gaya Surakarta yang berjasa memasyarakatkannya di luar lingkungan keraton. Sepanjang hidupnya, ia menjadi guru tari pada berbagai perhimpunan tari dan pengajar tari di akademi dan institut, serta menjadi anggota dewan ahli tari. Selain itu, ia juga banyak menciptakan tari. Ensiklopedi Tari Indonesia: Seri K-O menyebut dari sekian banyak gubahan tari karya R.T. Kusumokesowo,yang paling terkenal adalah lakon-lakon yang kemudian menjadi nomor-nomor acara tetap Sendratari Ramayana Prambanan sejak tahun 1961. Baca juga: Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda Dalam Sendratari Ramayana terdapat tari Kukila bersama-sama dengan tarian Kelinci, Lutung, dan Kidang yang juga menggambarkan jenis-jenis hewan hutan. “Awalnya tarian ini garapan dari tari massal yang ada dalam Balet Ramayana di Prambanan yang digagas oleh R.T. Kusumokesowo, seorang koreografi tari,” ujar Sindang, pensiunan guru yang melatih tari Kukila di SMP Negeri 5 Demak. Menurut Laras Ambika Resi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dalam “Estetika Tari Kukilo Gaya Surakarta Gubahan S. Maridi”, termuat dalam jurnal pengetahuan dan penciptaan tari, Greget , Vol. 13 No. 1 (2014), tema burung pada tari Kukila merupakan salah satu jenis tema yang banyak diminati anak-anak. Tari Kukila merupakan jenis tari pasangan yang obyek sasarannya mengangkat cerita tentang kehidupan burung dengan pola-pola gerakan yang sederhana. Bentuk tari Kukila menggambarkan kehidupan burung yang sedang mencari makan, bermain, dan beterbangan. Sajian tari Kukila secara visual tampak enerjik, lincah, dan gesit menarik dan memikat anak-anak putri setingkat sekolah dasar dan menengah pertama. “Penggambaran kehidupan burung dapat dilihat dari gerak tari seperti srigsig menggambarkan burung sedang terbang, ulap-ulap tawing artinya burung sedang melihat keadaan alam sekitar, lampah tawang maju artinya burung melangkah ke dahan pohon, dan metik yang berarti burung sedang mencari makan,” ujar Sindang. Baca juga: Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Sindang mengatakan,tari Kukila yang sekarang terkenal di masyarakat merupakan hasil gubahan S. Maridi, seorang empu tari atau koreografer dari Surakarta. Laras menjelaskan, bentuk tari Kukila karya R.T Kusomokesowo menggunakan garap gerak gaya Surakarta. Jenis-jenis geraknya merepresentasikan dari gerak-gerik burung. Garap musik atau karawitan tari menggunakan gendhing lancaran rena-rena dengan garap irama II. Pada garap irama II menggunakan tembang Kinanti dengan satu pada atau satu bait cakepan . Secara keseluruhan baik pada garap gerak maupun karawitan terasa masih sederhana. Sementara itu, tari Kukila gubahan S. Maridi disajikan oleh sepasang penari putri yang pada bentuk garapan geraknya lebih lincah dan gesit. Terdapat penambahan garap gerak seperti gerak gaya Jogja, gerak gaya Sunda, dan gerak gaya Bali, yang digarap dengan nuansa dan rasa Surakarta. “Bentuk sajian gerak tari Kukila yang merupakan perpaduan antara gerak gaya Surakarta, gerak gaya Jogja, gerak gaya Sunda, dan gerak gaya Bali menjadi sebuah sajian tari Kukila yang terasa semakin menarik,” tulis Laras. Baca juga: Tarian Perang Pangeran Sambernyawa Laras menguraikan, gerakan tari Kukila dibagi menjadi tiga bagian, yaitu awalan, inti, dan akhiran. Gerakan awalan bercerita tentang sepasang burung dengan wajah yang ceria keluar dari sarangnya melihat pemandangan di alam sekitarnya. Gerakan inti menggambarkan sepasang burung yang sedang bermain, memamerkan sayap, mencari makan, dan membersihkan paruh. Sedangkan dalam gerakan akhiran, sepasang burung memamerkan kegirangannya dengan cara hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya dengan mimik wajah yang ceria dan gembira lalu kembali ke sangkarnya. Gerakan yang lincah dan gesit menunjukan tari Kukila memiliki pola lantai garis lurus. Hal ini dilihat dari gerak tarian yang patah-patah, seperti usup gulu gerakan dari pojok belakang mengarah ke gawang tengah dan serampang dua belas dari tengah ke gawang depan. Namun, tarian ini juga menggunakan pola garis melengkung untuk mempermanis gerakannya. “Dulu itu sempat kepikiran tarian Kukila kok sedikit mirip sama seni bela diri silat,” ujar Citra, penari Kukila alumni SMP Negeri 5 Demak. Baca juga: Tarian Penanda Singgasana Sultan Kelincahan tarian Kukila didukung iringan musik karawitan khas Surakarta. Tari Kukila menggunakan gendhingrena-rena lancaran pelog barang dengan tiga irama, yaitu irama lancar , tanggung , dan dadi . Tak ketinggalan baitan syair dari cakepan tembang kinanti mewarnai gerakan dan iringan musik, bahkan cakepan tembangnya memiliki filosofi persahabatan. “Biasa selama aku jadi penari Kukila yang paling mendominasi alat musiknya itu demung sama gongnya,” kata Citra. Kostum dan tata busana juga menunjukan penggambaran burung.Diantaranya terdapat jamang yang diikatkan ke atas kepala menyerupai seekor burung dan diikatkan ke punggung penari sebagai sayap burung. Tarian ini memiliki karakter putri lanyap yang diperankan oleh anak putri. Sehingga goresan riasan yang digunakan mengesankan ceria, gembira, dan semangat dengan ciri khas area alis mata lebih tajam. Tarian yang biasanya dimainkan oleh anak-anak dan remaja ini menjadi sarana pendidikan karakter sekaligus pengenalan budaya daerah. Di balik gerakan burung tari Kukila ini terdapat makna mendalam. “Cerminan nilai kemanusiaan dalam tarian Kukila yang begitu energik bagi aku memberikan makna yang paling mendasar untuk kehidupan, yaitu kedamaian, kerukunan, dan ketentraman,” ujar Citra.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.
- Jenderal Ambon Generasi Pertama di TNI
Ambon kerap merujuk pada Maluku Tengah atau Lease. Dulunya orang Ambon penganut Alifuru. Islam dan Kristen kemudian datang pada abad ke-15. Meski sudah menganut Kristen dan Islam, pengaruh Alifuru masih tetap hidup dalam masyarakat. Orang-orang kepulauan Ambon, dengan perairannya yang tak pernah tenang, dikenal pemberani sejak dulu hingga kini. Saat ini sebagian orang Ambon dikenal sebagai penagih utang yang gigih. Mereka adalah orang-orang yang siap bertarung. “Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan,” kata Ernest Utrecht dalam Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie . Ini kenapa orang Ambon rawan dijadikan korban politik. Orang Ambon Jadi Serdadu Keberanian orang Ambon membuat mereka direkrut jadi tentara kolonial sejak dulu. Setidaknya dari zaman Kapitan Jonker masih muda sekitar abad ke-17. I.O. Nanulaitta dalam Timbulnja Militerisme Ambon: Sebagai Suatu Persoalan Politik Sosial-Ekonomis menyebut Jonker “adalah spiritual hero mereka. Ia menjadi contoh bagi mereka dan ia adalah impian keberanian dan kesetiaan seorang militer Ambon. Kapitan itu pelindung mereka dalam marabahaya.” MenurutThamrin Ely dalam Mutiara No. 269, 26 Mei–8 Juni 1982, mulanya masyarakat Ambon adalah petani, tetapi kemudianpenghidupan pertaniannyadimatikan. Pemiskinan orang Ambon di era perdagangan rempah-rempah membuat jadi serdadu menjadi jalan keluar dari jurang kemiskinan. Apalagi setelah 1830 dengan munculnya tentara kolonial yang belakangan dikenal sebagai Koninklijke Nederlandsche Indische Leger (KNIL). “Kegiatan menjadi serdadu ini di Maluku disebut Teken Soldadu ( tekensooldij ),” tulis Thamrin Ely. Serdadu Ambon yang sedang mudik biasanya menjadi ajang promosi profesi tentara. Baca juga: Mantan KNIL yang Menolak Masuk TNI Menurut R.P. Suyono dalam Peperangan Kerajaan di Nusantara , setidaknya pada 1916 terdapat 4.000 orang Ambon dari total 30.402 serdadu KNIL. Orang Ambon dan Manado kalah banyak dari orang Jawa. Pendekatan kolonialis Belanda selalu berbeda dalam mendekati dan mengekploitasi suku-suku di Indonesia. Begitu pula terhadap serdadu Ambon berbeda dengan serdadu Jawa yang biasa dibayar murah. Serdadu Ambon yang bersemangat cukup disayang pemerintah kolonial Belanda dalam hal fasilitas. Beberapa serdadu Ambon di KNIL menerima bintang ksatria Militaire Willemsorde. Kedekatan orang Ambon dengan Belanda membuat mereka tidak beruntung setelah 1942. Tentara Jepang tidak mempercayai mereka.Begitu juga milisi Indonesia yang kurang berpendidikan kerap mencurigai mereka sebagai antek Belanda. Baca juga: Bintang untuk Anggota KNIL Sanin Sehingga banyak orang Ambon menjadi sasaran persekusi tanpa alasan jelas dalam periode kekerasan yang disebut orang Belanda sebagai Masa Bersiap. Banyak yang terbunuh setelah tentara Sekutu mendarat di kota-kota pelabuhan di Indonesia setelah September 1945. Kabar orang Ambon yang dibunuh di kota-kota bagian barat membuat pemuda-pemuda di kepulauan Ambon mendaftarkan diri untuk memerangi orang Indonesia di Jawa dengan menjadi anggota KNIL. Begitu yang diingat Johannes Dirk de Fretes dalam Kebenaran Melebihi Persahabatan . Beruntunglah, meski polisi Republik Indonesia tak mampu menindak pelaku persekusi orang-orang Ambon, masih ada orang-orang Ambon yang mendukung Republik Indonesia. Sebutlah pemuda Leo Lopulisa atau Herman Pieters yang bertaruh nyawa melawan tentara Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, banyak anggota KNIL membuat keonaran di Bandung dalam peristiwa APRA, peristiwa bioskop Rexdi Malang, peristiwa Andi Azis di Makassar, dan tentu saja Republik Maluku Selatan(RMS) di Ambon. Mereka tampak tak bisa lupa atas persekusi orang Ambon pada 1945–1946 serta hanya percaya kepada Belanda untuk berkuasa di Indonesia atau Maluku daripada Republik Indonesia. Baca juga: Bangsawan Jawa Memilih KNIL Sekali lagi beruntunglah Republik Indonesia. Masih banyak bekas KNIL berdarah Ambon yang rela masuk Angkatan Perang Republik Indonesi Serikat (APRIS) pada 1950. Republik Indonesia mendapatkan Julius Tahija (1916–2003), Josef Muskita (1924–2006), dan Jacob Julius Sahulata (kelahiran 1920). Keahlian ketiganya membuat mereka jadi perwira. Letnan Kolonel Julius Tahija tidak lama di TNI. Ia kemudian bekerja di Caltex lalu Freeport dan terus mengasah jiwa bisnisnya hingga menjadi pemilik Bank Niaga. Kapten Josef Muskita, yang ketika di KNIL belajar di Sekolah Perwira Infanteri Cadangan di Bandung, menjadi perwira operasi andalan TNI AD. Sementara Julius Sahulata, yang di KNIL adalah letnan cadangan bagian perhubungan, masuk Angkatan Laut. Pada 1950-an, Herman Pieters adalah perwira Ambon yang paling bersinar di TNI. Buku Riwayat Hidup Anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971 menyebut lelaki kelahiran tahun 1924 ini setelah tahun 1955 menjabat Komandan Resimen Infanteri ke-25 di Maluku. Orang Ambon Jadi Jenderal Biasanya orang dari daerah yang bergolak karena adanya “negara pemberontak” kariernya di tentara agak sulit. Mencapai pangkat jenderal atau pengisi jabatan puncak TNI sulit bagi orang-orang dari Ambon atau Manado di tahun 1960-an. Namun, Herman Pieters adalah orang Ambon pertama yang menjadi panglima dalam TNI. Setelah 1958, Herman Pieters menjabat Panglima Kodam XV Pattimura pertama yang membawahkan kepuluan Maluku. Sayangnya, pangkat militernya di TNI AD mentok di kolonel pada 1960-an dan tak pernah beranjak ke Brigadir Jenderal. Ia adalah perwira TNI Ambon yang cukup disayangi di Maluku. Belakangan ia menjadi anggota DPR. Josef Muskita memang tak pernah jadi panglima. Perwira operasi TNI sejak zaman melawan RMS ini mungkin hanya jenderal staf, tapi ia diandalkan oleh Kepala Staf TNI AD Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani. “Setelah menempati berbagai jabatan kepercayaan, maka pada usia 40 tahun saya menerima kenaikan pangkat menjadi Brigjen dari Presiden Sukarno dan pada usia 43 tahun saya peroleh pangkat Mayjen dari Presiden Soeharto,” kata Muskita dalam Aku Ingat . Jadilah Muskita orang Ambon pertama jadi jenderal. Baca juga: Ahmad Yani Berkelahi Dibantu Kopral KNIL Julius Sahulata yang mulanya di bagian perhubungan Angkatan Laut, akhirnya masuk ke Korps Komando.KKO sejak lama dikenal sebagai pasukan pendarat Angkatan Laut yang kini disebut Korps Marinir. Mulanya KKO dipimpin seorang mayor pada awal 1950-an dan awal 1960-an diperbesar. Hingga pertengahan 1960-an barulah Sahulata menjadi Brigadir Jenderal KKO. Menurut buku Riwayat Hidup Anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971 , ia pernah menjadi Kepala Staf KKO ketika Komandan Jenderal KKO dipegang oleh Mayor Jenderal TNI Hartono. Seperti Herman Pieters, Sahulata pada awal Orde Baru juga menjadi anggota DPR. Sejak akhir 1965, Leo Lopulisa (kelahiran Bandung tahun 1926) adalah Kepala Staf Kodam Bukit Barisan. Kala itu, pangkat Panglima Kodam biasanya Brigadir Jenderal. Sedangkan Kepala Staf biasanya Kolonel. Baru pada 1969, Leo resmi menjadi Panglima Kodam Bukit Barisan. Leo pun jadi Brigadir Jenderal di usia 42 tahun. Baca juga: Tinggi Badan Pas-Pasan Tapi Jadi Jenderal Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia? Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mencatat, setelah jadi Panglima Kodam hingga 1971, Leo dijadikan Asisten Operasi Kepala Staf TNI AD (KSAD) hingga tahun 1975. Dengan jabatan itu, Leo setidaknya melayani KSAD Umar Wirahadikusumah, Surono Reksoatmodjo, dan Makmun Murod. Dalam sejarah jenderal Ambon, Leo adalah orang Ambon pertama yang menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). I a mengisi jabatan itu dari Januari 1975 hingga Januari 1978. Pada masa nya Indonesi a melakukan invasi ke Timor Timur . Leo Lopulisa boleh kesal oleh invasi itu. Menurut David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba Rezim Militer Indonesia 1975–1983 , Leo sedang di Paris ketika invasi terjadi bahkan tak diajak bicara soal kesiapan pasukan serta rencana invasi itu. “Saya cuma sekadar komandan upacara penguburan jenazah. Hanya itu, saya tidak dilibatkan. Saya hanya bertugas bagi mereka yang tidak akan kembali lagi,” kata Leo Lopulisa seperti dicatat Jenkins. Baca juga: Jenderal yang Ditolak Jadi KSAD Leo Lopulisa bukan jenderal Ambon terakhir di TNI. Tiga dekade setelah Leo ada lagi jenderal Ambon yang melampauinya, yakni Jenderal TNI George Toisutta (1956–2019) yang menjadi KSAD dari 2009 hingga 2011.Ia adalah KSAD pertama berdarah Ambon. Di zaman Orde Baru, ada Leo yang lain selain Leo Lopulisa di ABRI. Namanya Leonardus Willem Johanes Wattimena (1927–1976). Penerbang jet pertama bersama Rusmin Nurjadin ini dikenal sebagai Leo Wattimena. Setelah sebagai kolonel dalam Operasi Mandala Trikora pada 1963,ia menjadi Komodor yang setara dengan Brigadir Jenderal. Leo Wattimena adalah penerbang lulusan TALOA Amerika bersama Sri Mulyono Herlambang dan Omar Dani. Sebelum masuk AURI pada 1950, Leo menghabiskan masa mudanya dengan sekolah dan bekerja sebagai buruh kantoran di derah pendudukan Belanda. Leo Wattimena adalah jenderal berdarah Ambon pertama di TNI AU. Komodor Leo Wattimena pernah menjadi Panglima Komando Operasi AURI (1963) lalu Panglima Komando Pertahanan Udara (1966). *
- Cara Penduduk Batavia Memperoleh Air Minum
Beragam air minum kemasan berjejer di rak-rak supermarket maupun mesin pendingin di warung-warung setiap sudut kota Jakarta. Air minum kemasan ini berbagai jenis, mulai dari air mineral, air soda atau minuman berkarbonasi, infused water hingga purified water . Air minum kemasan tersebut dijual dengan harga bervariasi tergantung ukuran. Salah satu air minum kemasan yang dijual dengan beragam bentuk dan ukuran adalah air mineral yang tersedia dalam bentuk gelas, botol kecil berukuran 330 ml, botol berukuran sedang hingga 1500 ml, serta kemasan galon yang kapasitasnya mencapai 19 liter. Ukuran yang beraneka ragam tersebut menyesuaikan kebutuhan air minum masyarakat. Air minum kemasan gelas maupun botol biasanya digunakan untuk keperluan acara yang dihadiri banyak orang, seperti pengajian hingga pertemuan atau rapat kerja di perkantoran. Sementara air minum kemasan galon cocok untuk memenuhi kebutuhan air minum konsumen rumah tangga karena kapasitasnya yang besar. Baca juga: Miras dari Air Kali Ciliwung Besarnya kebutuhan masyarakat akan air minum membuat sejumlah pengusaha melirik bisnis penjualan air minum kemasan ini. Mereka memasarkan air minum kemasan dengan berbagai kelebihan dan keunikan, baik dari segi rasa maupun ukuran. Melihat jauh ke belakang, kebutuhan air minum juga merupakan hal yang penting bagi penduduk Batavia. Hal ini terlihat dari tulisan Tio Tek Hong,pengusaha tersohor zaman Belanda,dalam bukunya, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882–1959 . Kala itu, di Lapangan Banteng, yang pada masa itu disebut Waterlooplein , ada sebuah sumur yang airnya jernih. “Orang Tionghoa suka ambil air sumur itu, karena katanya amat cocok dan baik, terutama untuk menyeduh teh,” tulis Tio Tek Hong. Air sumur itu juga digunakan oleh expert (ahli) teh untuk mengetahui mana teh yang baik dan mana yang tidak baik. Selain dari sumur di Lapangan Banteng, penduduk Batavia juga mengambil air dari sumur di Kampung Lima (Jalan Asem Lama) yang berlokasi di kawasan Tanah Abang. Sumur yang berada di pekarangan rumah itu airnya jernih. Air tersebut diedarkan dengan gerobak untuk dijual dengan harga f .1.50 per tahang atau tong. Baca juga: Sejarah Air Minum Kemasan Air dari sumur itu laris dibeli warga. Menurut wartawan sekaligus sejarawan Jakarta, Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi , hal itu dikarenakan pada masa itu belum ada ledeng. Pada masa itu, penduduk Batavia umumnya menampung air hujan yang disimpan dalam tempayan-tempayan Cina yang besar untuk umum. “Tapi, lebih umum lagi orang membeli air kali yang mudah diambil,” tulis Alwi Shahab. Air kali dibeli warga dari tukang pijul yang mengedarkannya dengan menggunakan perahu. Air tersebut dijual sepicis (10 sen) per kaleng. Hal senada dituturkan Tio Tek Hong bahwa penduduk di wilayah Kota banyak yang minum air dari sungai di Jembatan Dua yang dianggap bersih dan diedarkan dengan perahu serta dijual seharga sepicis (10 sen) sekaleng minyak tanah. Pertambahan jumlah penduduk Batavia membuat penggunaan air sungai, sumur, dan air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi tidak cukup. Pasalnya, masih banyak rumah yang tak memiliki sumur dan jumlah sumur di Batavia masih bisa dihitung jari. Kondisi tersebut membuat masyarakat mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan akan air minum, salah satunya melalui sumur bor ( artesische put ). Kemunculan sumur bor ini berkaitan dengan kekhawatiran ancaman penyakit akibat permasalahan sanitasi. Menurut Tio Tek Hong, air minum itu tidak sedikit menjadi sebab musabab, hingga hampir tiap kali musim panas sungai-sungai menjadi dangkal, sehingga dihinggapi berbagai macam penyakit menular seperti cholera , typhus , diptheris dan sebagainya. Baca juga: Tirto Utomo, dari Juru Warta Jadi Pendiri Aqua Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun menyebut pada akhir abad ke-19 pemerintah membuat sumur artesis yang lebih dalam, terutama di wilayah-wilayah orang Eropa di kota. Meski menjadi alternatif, Tio Tek Hong menyebut tak banyak orang yang memanfaatkan sumur bor ini untuk mendapatkan air minum. “Air ini tidak banyak orang yang suka minum, karena sebagai air minum rasanya tidak enak dan bila dipakai menyeduh teh, air teh menjadi hitam,” kataTio Tek Hong. Oleh karena itu,meski mudah mendapatkan air sumur bor dengan saluran pipa ke rumah, air kali tetap paling banyak digunakan penduduk. Untuk membersihkan air sungai yang akan dikonsumsi, warga biasanya menggunakan saringan batu kapur ( kalksteen ), semacam saringan yang memakai kaki ( standaard ) kayu, di bawahnya air saringan ditampung dengan tempayan kecil. Sementara itu, menurut Alwi Shahab, guna memenuhi kebutuhan air minum yang aman dikonsumsi, orang kaya mengeluarkan biaya besar untuk mengimpor air mineral dari Eropa yang dikenal dengan sebutan air Belanda. “Sebagian mereka juga menggunakan air dari sumber mata air di pedalaman yang kini banyak beredar dan sudah merupakan minuman sehari-hari,” tulis Alwi Shahab . *
- Daerah Bergolak, Panglima Bergerak
Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti Muhammad Adil meradang. Dia mengecam Kementerian Keuangan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pendapatan Daerah di Pekan Baru pada Kamis (8/12/2022). Menurutnya distribusi dana bagi hasil minyak bumi yang berasal dari Kabupaten Meranti tak adil. Dari produksi minyak mencapai 8000 barel per hari (1 barel 100 dolar AS), daerahnya hanya kebagian 700 juta rupiah. Betapa jengkel Adil sehingga menyebut pegawai Kementerian Keuangan semacam iblis atau setan. Belum surut amarahnya, Adil melontarkan ancaman. Jika pemerintah enggan mengurus pemerataan, dia minta agar Kabupaten Meranti dibiarkan bergabung dengan negeri Malaysia. Atau, sambungnya, apa perlu rakyat Meranti mengangkat senjata demi keadilan. Pihak Kementerian Keuangan tak terima dengan ucapan Adil yang dianggap ngawur. Diwakili staf khusus menteri keuangan, Adil dituntut untuk meminta maaf atas pernyataannya. Kecaman sang bupati bukan tanpa alasan. Kabupaten Meranti merupakan daerah yang kaya minyak bumi. Namun, tingkat kemiskinan di sana mencapai 25,68 persen. Artinya, seperempat penduduk Kabupaten Meranti adalah warga miskin. Inilah yang membuatnya tergolong sebagai salah satu kabupaten termiskin di Indonesia. Cari Dana dari Malaya Apa yang terjadi di Kabupaten Meranti bukanlah cerita baru dalam sejarah negeri ini. Soal ketimpangan antara daerah dan pusat pernah menjadi masalah nasional pada dekade 1950-an. Kalau sekarang bupati yang berkicau, pada zaman dulu panglima teritorium (kini kodam) yang membangkang terhadap pemerintah pusat. Tersebutlah nama Kolonel Maludin Simbolon, panglima Teritorium I Bukit Barisan (TT I-BB). Pada 1996, Majalah Mutiara mewawancarai Simbolon yang ketika itu menginjak usia sepuh 80 tahun. Simbolon berkisah tentang pemberontakan PRRI-Permesta. Dia mengenang keterlibatannya dalam usaha menentang pemerintah pusat tersebut. “Kekuasaan itu terlalu sentralistis, semua dipusatkan di Jakarta. Sehingga ada kerinduan dari daerah-daerah, untuk diberikan lebih banyak otonomi, apalagi oleh karena bapak-bapak dari pemerintahan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri,” kata Simbolon dalam Mutiara No. 832, 1-7 Oktober 1996. Baca juga: Drama Malam Natalan: Kisah Penangkapan Kolonel Maludin Simbolon Rakyat di daerah-daerah, menurut Simbolon, merasa dilupakan. Tapi, kalau ingin membuat sesuatu atas inisiatif sendiri harus ada izin dari Jakarta. Itulah yang dialami Simbolon ketika dia hendak mengusahakan kesejahteraan bagi prajurit TNI di teritoriumnya. Sejak 1950, setelah pengakuan kedaulatan, Simbolon adalah panglima Teritorium I pertama dengan wilayah komando Sumatra Utara. Berlainan dengan di Jawa atau di daerah lain di luar Sumatra, di wilayah komando TT I-BB hanya sedikit tangsi militer yang ditinggalkan Belanda. Tangsi yang terbatas itu hanya mampu menampung pasukan eks KNIL dan Barisan Pengawal sebagai penghuni lama. Prajurit yang berasal dari TNI terpaksa tinggal di bangsal-bangsal perkebunan. Kondisinya banyak yang sudah reyot dan tak terpelihara. Itupun tak mencukupi sehingga mereka hidup bersesak-sesakan. Perumahan dan asrama yang buruk tadi bukan semata-mata perkara fasilitas saja. Tapi, krisis kebutuhan papan itu menjadi masalah sosial budaya, yang berkaitan dengan nilai dan norma adat setempat. Terkhusus bagi prajurit dari kalangan suku Batak, apabila datang kerabat yang berkunjung atau sekadar kumpul keluarga di momen tertentu. Baca juga: Kehidupan di Tangsi KNIL yang Kumuh Simbolon telah berulang kali melaporkan kesulitan tersebut ke pusat sehubungan dengan ketiadan dana. Dia meminta perbaikan kesejahteraan disertai foto-foto asrama prajurit kepada pimpinan Angkatan Darat (KSAD) saat itu Mayjen Abdul Haris Nasution. Hasilnya nihil. Setiap kali Simbolon mengajukan anggaran, dia hanya memperoleh alokasi dana di bawah kebutuhan. Terakhir kali, Simbolon meminta izin Menteri Kemakmuran I.J. Kasimo melakukan perdagangan barter karet. Barter adalah istilah yang lazim disebut untuk mengganti kata penyelundupan. Perdagangan jenis ilegal sebenarnya telah dilakukan di beberapa teritorium, seperti di Sulawesi Utara dan Selatan. Tapi, Kasimo menolak permohonan Simbolon. Simbolon pada akhirnya tetap menjalankan perdagangan barter. Pertengahan 1956, TT-1 menyelundupkan hasil bumi dan perkebunan ke Malaya dan Singapura. Pelabuhan kecil dan terpencil di Teluk Nibung, pantai Asahan menjadi tempat pengiriman komoditas tersebut. “Penyelendupan Teluk Nibung” jadi sebutan populer untuk merujuk apa yang terjadi di TT-1. Nama Maludin Simbolon sendiri santer disebut-sebut dalam Markas Besar Angkatan Darat. Baca juga: Di Balik Upaya Penangkapan Kolonel Simbolon Dalam catatan Sejarah TNI-AD, 1945—1973 , menurut penyelidikan dari hasil penyelendupan di Teluk Nibung telah mendulang uang sebesar 24 juta dolar Singapura. Dana itu dipergunakan untuk memperbaiki asrama TNI yang ada di wilayah TT-1. Penyelundupan ini baru dihentikan setelah ada instruksi Nasution tanggal 7 Juli 1956 yang ditujukan kepada Simbolon. Para Panglima Pembangkang Sejumlah asrama militer akhirnya dibangun. Sebuah asrama dan perumahan CPM di Balige. Kompleks Sekolah Kader Infantri (SKI) di Sipinggol-pinggol, Pematang Siantar. Kompleks di Sungaibuluh, Tebing Tinggi. Kompleks militer di Marindal dan perbaikan kompleks di Kampung Durian, Medan. Kompleks militer di Binjai, Tanjung Pura (Langkat), Delitua (Deli Serdang), Kabanjahae (Tanah Karo), dan di Riau. Semuanya dibiayai dari hasil perdagangan barter di Teluk Nibung. Kendati demikian, riak-riak ketimpangan sudah kadung bergolak. Sejumlah daerah menuntut otonomi lebih luas. Seperti di TT-1, persoalan otonomi juga menjadi isu di TT-II/ Sriwijaya (Sumatra Selatan), dan TT-VII/Wirabuana (Sulawesi). Sejumlah panglima daerah maupun pejabat militer yang terkesan mendukung otonomi daerah turut menjadi sorotan. Mereka juga menentang kepemimpinan Nasution dalam Angkatan Darat. “Gerakan dari dalam TNI, khususnya dari Siliwangi, beserta Seskoad, Kavaleri, RPKAD, dan lain-lain yang mirip dengan apa yang disebut ‘Young Turks’. Tokoh-tokoh seniornya tingkat panglima, ialah Kolonel Z. Lubis, Kolonel M. Simbolon, Kolonel A.E. Kawilarang, Letnan Kolonel Warouw dan Letnan Kolonel Sumual,” sebut Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Baca juga: Alex Kawilarang, Kisah Patriot yang Dicopot Nasution merencanakan pergantian dan pemindahan sejumlah pejabat Angkatan Darat. Kolonel Maludin Simbolon dipindahkan ke Bandung untuk memegang jabatan Inspektur Jenderal Infantri. Pengganti Simbolon ialah Kolonel Zulkifli Lubis yang telah digantikan Kolonel Gatot Subroto sebagai wakil KSAD. Penunjukan Lubis terbilang ganjil karena posisi barunya sebagai panglima seolah jadi turun kelas dibanding jabatan sebelumnya. Sementara itu, Panglima TT-3/Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang dipindahtugaskan ke Amerika Serikat sebagai atase pertahanan di kantor kedutaan Indonesia di Washington DC. Simbolon melihat ketiga mutasi perwira itu seperti dalam satu paket. “Paket itu terdiri dari orang-orang yang memang selama ini banyak menimbulkan ‘kesulitan’ bagi pimpinan dan atasan. Jadi semacam ‘pembersihan’ dari para perwira atau pejabat yang bersuara ‘keras’ (vokal),” kata Payung Bangun penulis biografi Kolonel Maludin Simbolon: Lika-Liku Perjuangannya Dalam Pembangunan Bangsa. Kendati demikian, Simbolon minta diri untuk melakukan serah terima jabatan setelah hari natal, yaitu 28 Desember 1956. Namun, serah terima jabatan itu urung terjadi. Pada 22 Desember, Simbolon memaklumatkan pemutusan hubungan sementara dengan pemerintah pusat. Simbolon sekaligus membentuk Dewan Gajah yang mengambil alih TT-1. Simbolon mengikuti jejak Letkol Ahmad Husein membentuk Dewan Banteng di Padang pada 20 Desember. Di Sumatra Selatan pun tampak usaha-usaha untuk membentuk Dewan Garuda di bawah pimpinan Letkol Barlian. Baca juga: Posisi Barlian dalam PRRI Di Makassar, dengan tujuan yang sama, Letkol Ventje Sumual mengumumkan Perjuangan Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957. Nun jauh di Washington, Alex Kawilarang meninggalkan posnya untuk bergabung dengan Permesta. Para perwira inilah yang kemudian menggerakan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) bersama sejumlah politisi dari Partai Masjumi dan PSI . Atas dasar koreksi terhadap pemerintah pusat, mereka mengangkat senjata kendati setengah hati. Hingga akhirnya, PRRI ditumpas habis pemerintah pada 1961. "(PRRI) itu sebetulnya puncak suatu proses," ujar Simbolon dalam Mutiara , "Proses penyelesaian dari tuntutan-tuntutan beberapa daerah yang bergolak (tetapi) mencapai titik buntu."





















