top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima

    Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.

  • Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan

    SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.

  • Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani

    KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.

  • Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

    Kemunculan film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan perdebatan terkait keberadaan khilafah di Nusantara. Perbincangan mengenai khilafah di Nusantara kembali ramai. Benarkah ada khilafah di Nusantara? Apa itu khilafah dan hubungannya dengan Nusantara? Dalam Dialog Sejarah “Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Jejaknya?“ di Facebook  dan Youtube Historia.id , Selasa, 25 Agustus 2020, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Oman menyebut bahwa definisi jejak khilafah sendiri belum jelas. Jika yang dimaksud adalah bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara pernah menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan khilafah, menurutnya itu tidak benar. “Saya mengkaji sejumlah manuskrip dari Aceh, dari Palembang, dari Jawa juga, dari mana-mana, tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara itu bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu kalau mau disebut khilafah,” kata Oman. Oman tidak meragukan adanya hubungan diplomatik maupun jaringan ulama Nusantara, terutama Aceh dengan Dinasti Utsmaniah. Namun sebelum masuk lebih jauh, menurutnya masih menjadi pertanyaan juga, apakah Utsmani adalah representasi dari khilafah itu sendiri. “Kalaupun ada hubungan itu, maka pertanyaannya apakah dinasti Utsmani itu, Ottoman Empire itu bisa dianggap merepresentasikan apa yang diyakini sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Ini kan perdebatannya panjang,” terangnya. Menurutnya, dari Khulafaur Rasyidin atau empat kekhalifahan yang berdiri sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, hanya dua yang dianggap merepresentasikan nilai Syuro, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika memasuki kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga Abassiyah muncul, pertanyaan apakah kepemimpinan mereka merepresentasikan nilai-nilai kekhilafahan. “Saya kira itu tuh pertanyaan, mungkin kita harus bertanya ke diri sendiri yang dimaksud jejak khilafah di Nusantara itu apa. Saya sudah menjawab, kalau yang dimaksud adalah dalam sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, misalnya, saya kira tidak,” ungkapnya. Tapi, lanjutnya, “kalau mau menyebutnya itu bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, peradaban Islam dari Mesir, peradaban Islam dari Timur Tengah, itu sangat ada.” Nabi Muhammad SAW dan Islam sendiri, kata Oman, tidak menunjukkan bahwa khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan. Khilafah yang dimaksud menurutnya adalah serangkaian nilai-nilai, bukan sistem pemerintahan. Kembali ke tafsir soal bahwa kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara itu adalah bagian dari Khilafah Utsmani, Oman menyebut ada dua poin penting. Pertama , memang ada hubungan diplomatik antara kesultanan di Nusantara dengan Truki Utsmani. “Bahwa ada kontak diplomatik, misalnya, gitu ya dengan katakanlah Turki Utsmani pada masa itu saya kira itu, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu saya punya bukti yang banyak memang tentang adanya kontak, khusunya Aceh tentu saja,” jelasnya. Yang kedua , hubungan diplomatik tersebut tidak serta-merta menjadikan kesultanan-kesultanan itu sebagai bagian dari kekhalifahan. “Sekali lagi, kalau mengklaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmaniah itu, persatuan Islam sedunia yang sudah dimusnahkan tahun 1924, lalu kita harus kembali ke zaman itu untuk keagungan Islam misalnya, saya kira itu terlalu mengglorifikasi ya,” tegasnya.

  • Samudera Pasai dan Dinasti Abbasiyah

    SELURUH sultan di dunia Islam menyatakan baiat kepada Khilafah Abbasiyah semenjak gelombang badai Mongol dihentikan oleh Dinasti Mamluk. Pusat Dinasti Abbasiyah pun pindah ke Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global.

  • Nahas Pasukan Parang di Palagan Tiga Binanga

    Letnan Dua Raja Sjahnan menyiagakan pasukannya. Komandan Kompi III Batalion XV itu mendapat perintah untuk menyerang pasukan Belanda di Tiga Binanga, Tanah Karo. Kabar baiknya, pasukan Republik itu akan mendapat tambahan pasukan sukarela yang berasal dari veteran Perang Aceh. Pada 20 Desember 1947, pasukan bantuan datang dari Blangkejeren, Aceh Tenggara. Mereka dipimpin oleh Kapten Maaris dengan jumlah pasukan sebanyak dua seksi (satu seksi sama dengan setengah peleton atau sekira 10—20 orang). Pasukan sukarela ini dinamakan “Pasukan Parang”. Anggotanya terdiri atas orang-orang yang sudah berumur agak lanjut. “Tapi katanya berani menghampiri musuh dengan parang atau pedangnya. Mereka bertekad akan membunuh orang Belanda, yang dianggapya tetap menjadi musuh sejak zaman Belanda dahulu,” tutur Raja Sjahnan dal am Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan. Sebagai prajurit militan, reputasi pasukan parang dari Aceh ini bukan isapan jempol belaka. Mereka dikenal bernyali dengan bekal ilmu kelahi secara fisik. Di masa kolonial, Belanda cukup kewalahan menghadapi keganasan Pasukan Parang. Untuk meredam serangan pasukan Aceh yang ditakuti itu, yang sekali ayun dapat membelah bahu orang miring sampai ke jantungnya, “para prajurit Belanda mengenakan baju zirah primitif berupa lempengan kaleng rata pada tutup bahu seragamnya,” kata sejarawan militer Nino Oktorino dalam Seri Nusantara Membara: Perang Terang Terlama Belanda . Dalam perang kemerdekaan, pejuang Aceh terpanggil kembali untuk bertempur melawan Belanda. Apalagi ketika Belanda menduduki kota Medan, mereka datang menjemput lawan dengan berjalan kaki dari Aceh. Mereka turun ke berbagai front, mulai dari Tanah Karo hingga kawasan pinggiran kota Medan. Di Medan Area, mereka sohor dengan nama “Kompi Parang Berdarah”. Sebagai komandan kompi, Raja Sjahnan merasa gembira dengan kedatangan Pasukan Parang ke tengah frontnya di Tanah Karo. Raja Sjahnan sendiri sempat bertanya dalam hati, apakah pejuang gaek ini mengetahui sistem pertempuran modern yang tentu berbeda dengan zaman Perang Aceh. Meski demikian, dia yakin saja Kapten Maaris akan mampu mengarahkan Pasukan Parang. Uji coba pertama terjadi pada 24 Desember 1947. Pasukan Parang diminta mendahului penyerangan ke Tiga Binanga dan kampung Kuala dibantu satu seksi pasukan Kompi III. Penyerangan yang sedianya dilancarkan pada pukul 00.00 itu gagal lantaran terhadang oleh keadaan alam. Sungai yang akan diseberangi dalam keadaan banjir sehingga jalanan licin dan sulit untuk dilalui. Pukul 04.30, Pasukan Parang kembali ke basisnya di kampung Balang Dua karena hari mulai terang. Penyerangan kembali direncanakan pada 30 Desember 1947. Pasukan Belanda di Tiga Binanga berjumlah sekira satu kompi (150-200 orang). Sekitar pos mereka terdapat benteng-benteng yang dilengkapi senjata otomatis. Setelah mendapat informasi itu, pasukan Kompi III dan Pasukan Parang bersiap melancarkan serangan. Pukul 01.00 terjadilah tembak menembak dengan pasukan Belanda selama dua jam. Pasukan Parang bergerak dari sebelah utara. Sewaktu bergerak mendekati rumah sekolah, keberadaan Pasukan Parang digonggongi oleh anjing penjaga. Akibatnya, keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda yang segera memberondongnya dengan serentetan tembakan. Di tengah desing peluru, Pasukan Parang terpaksa mundur dan berlindung di jurang tepi sungai. Waktu menunjukkan pukul 03.45 dan hari mulai terang. Letnan Raja Sjahnan memutuskan untuk menghentikan penyerangan. Pukul 04.00 pasukan diperintahkan undur diri ke Kampung Gunung dan tiba di kampung Kemkem pukul 05.00. Pada penyerangan yang gagal itu, seorang Tentara Republik dan seorang Pasukan Parang terluka akibat serangan balik Belanda. Selain itu, 3 orang Pasukan Parang terluka akibat jatuh ke jurang. Menurut Raja Sjahnan, Pasukan Parang kesulitan bergerak di malam hari karena faktor usia. Keadaan tersebut dapat dipahami lantaran Pasukan Parang tidak berpengalaman dalam pertempuran jarak jauh maupun latihan perang modern. Semula Pasukan Parang menyangka cara berperang yang akan dilakoni sama seperti zaman dulu yakni perkelahian satu lawan satu. Ketika bersitirahat, Raja Sjahnan mendatangi Kapten Maaris beserta pasukannya. Mereka bertukar pikiran membahas kegagalan serangan Pasukan Parang. Salah seorang anggota Pasukan Parang itu angkat suara mengenai kelemahan pasukannya. “Bagaimanalah Nak, anggota Pasukan Parang ini umurnya sudah lanjut, sudah tua-tua, banyak yang sudah batuk-batuk. Bila kami bergerak, akan ribut, tentu ketahuan sama musuh lalu ditembaki dengan senapang mesin dari jauh. Bila kami bergerak pada siang hari, takut kapal terbang, malam hari tidak melihat dengan baik lagi. Oleh karena itu, Pasukan Parang ini lebih baik kembali saja ke kampung,” kata pejuang Aceh itu ditirukan Raja Sjahnan. Setelah berdiskusi dengan Kapten Maaris, akhirnya diputuskan bahwa Pasukan Parang boleh kembali ke Kota Cane dan terus ke Blangkejeren. “Mereka sebagai pejuang, patut dihargai walaupun usianya sudah lanjut, tapi mempunyai semangat juang yang tinggi,” kenang Raja Sjahnan.

  • Aceh Dibantu Turki Menaklukkan Aru dan Johor

    KESULTANAN Aceh dibantu pasukan Turki berhasil mengalahkan Kerajaan Batak pada 1539 dan Kerajaan Aru pada 1540. Pasukan Turki itu diduga tentara bayaran karena diberi imbalan empat kapal lada dan didatangkan oleh para pedagang Turki di Aceh. Tidak lama kemudian, barangkali masih pada 1540, orang Aceh diusir dari Aru oleh kekuatan gabungan Melayu dari Johor, Riau, Siak, Perak, dan tempat lain di bawah pimpinan sultan Johor, yang mengawini janda dari penguasa Aru yang tewas. "Dalam pertempuran pada 1540 untuk merebut Aru sebagian besar pasukan elite Turki di pihak Aceh tampaknya dibabat habis," tulis Anthony Reid, sejarawan ahli sejarah Asia Tenggara, dalam Menuju Sejarah Sumatra, Antara Indonesia dan Dunia.

  • Ketika Tas Sukarno Digondol Maling

    Selepas dari pengasingan di Bengkulu pada awal Maret 1942, Belanda mencoba untuk membawa Sukarno dan Inggit Garnasih ke Australia. Hal itu terpaksa dilakukan karena pihak Belanda khawatir jika pemimpin rakyat Indonesia tersebut akan digunakan sebagai propagandis oleh bala tentara Dai Nippon. Namun dalam kenyataannya kekuatan militer KNIL di Sumatra tak berdaya saat harus berhadapan dengan Tentara Ke-25 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Alih-alih menyelamatkan Sukarno dan membawanya ke Australia, mereka justru sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. “Mereka seperti pengecut: lari terpontang-panting…Dan membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan besar dari mereka,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia. Sukarno dan seluruh keluarganya lantas terdampar di Padang. Untuk sementara mereka tinggal di rumah salah seorang kenalan baik Sukarno bernama Woworuntu. Dan seperti yang ditakutkan oleh pihak Belanda, militer Jepang ternyata benar-benar mendatangi Sukarno dan mengundangnya untuk datang ke markas besar mereka di Bukittinggi. Pimpinan tentara Jepang Kolonel Fujiyama mengajak Sukarno untuk membantu mereka selama bercokol di Hindia Belanda. Sebaliknya, Sukarno sendiri memiliki pemikiran jika dia pun  harus memanfaatkan Jepang demi kemerdekaan bangsanya. Maka terbentuklah kesepakatan antara Kolonel Fujiyama dengan Sukarno. Suatu hari Sukarno mendengar berita bahwa seorang kawan baiknya bernama Anwar Sutan Saidi telah ditangkap Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) di Bukittinggi. Anwar dituduh telah bersekongkol akan melawan kekuasaan bala tentara Jepang. Demi menolong Anwar, Sukarno memutuskan untuk menghadap Kolonel Fujiyama. Begitu sampai di Bukittinggi, Sukarno lantas menuju rumah Munadji di Jalan Syekh Bantam. Di rumah salah seorang kawan Minang-nya itu, dia lantas menitipkan tas yang berisi kalung emas dan liontin berlian kepunyaan Inggit Garnasih. Sukarno sendiri lalu bergegas menemui para pembesar militer Jepang di markasnya dan berhasil membebaskan Anwar hari itu juga. Tetapi alangkah kagetnya Sukarno. Usai mengurus pembebasan Anwar, dia menemukan kenyataan tas miliknya raib digondol maling. Munadji dan Anwar yang merasa malu atas kejadian itu lantas meminta pertolongan kepada seorang ulama bernama Inyik Djambek, panggilan hormat orang Bukittinggi kepada Syekh Mohammad Djamil Djambek. Ajaib. Berkat bantuan sang ulama yang masih kerabat dekat dari Mohammad Hatta itu, tas milik Sukarno bisa kembali. Disebutkan, sang maling seorang laki-laki Tionghoa mengembalikan sendiri tas itu lewat cara menaruhnya di sudut suatu sawah. Tas itu kemudian diambil oleh Inyik Djambek dan diserahkan secara langsung olehnya kepada Sukarno. Benarkah pencuri tas itu adalah seorang Tionghoa? Hasjim Ning, salah satu keponakan Hatta meragukan cerita itu. Dalam otobiografinya yang disusun olehA.A. Navis , Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Hasjim pernah mengonfirmasi cerita tersebut kepada orang-orang Bukittinggi yang tahu akan kejadian itu. Jawaban mereka sangat mengejutkan. “Ah yang mencurinya memang orang awak . Karena malu pada Bung Karno, dikatakanlah yang mencurinya orang Cina. Padahal mana berani Cina di sana menjadi pencuri. Apalagi mencuri milik Bung Karno, seorang pemimpin yang sangat dihormati rakyat…” ungkap salah seorang dari mereka. Menurut Hasjim, kejadian sebenarnya adalah begitu mendapat laporan tas milik Bung Karno digondol maling, Inyik Djambek berinsiatif memanggil pimpinan penjahat paling ditakuti di Bukittinggi. Dengan marah, Inyik Djambek menyuruh sang pemimpin dunia hitam itu untuk ikut bertanggungjawab. “Malu awak , tolonglah carikan!” katanya. Merasa segan kepada sang ulama dan Bung Karno, "sang bos" kemudian mencari “maling kelas teri” tersebut. Tidak perlu waktu berjam-jam, orang itu berhasil ditemukan. Persoalan baru datang: seluruh isi tas tersebut sudah terlanjur berpindah tangan kepada para penadah di pasar gelap. “(Baru) dua hari kemudian, kopor itu diserahkan kepada Inyik Djambek lengkap beserta isinya,” ungkap Hasjim. Rupanya keterlambatan itu terjadi karena sang maling harus ekstra keras mengambil kembali barang-barang hasil curiannya itu kepada para penadah.

  • Kisah Pengungsian Sukarno ke Sukanagara

    Sepakterjang Sukarno di era pemerintah militer Jepang di Indonesia (1942-1945) ternyata sempat direkam oleh pihak Sekutu. Sejarah mencatat, bersama Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh nasional lainnya, Sukarno pernah memilih jalur kooperatif kala bala tentara Dai Nippon menguasai Indonesia. “Pada waktu itu tidak ada yang mengetahui, apakah pengadilan penjahat perang mungkin melibatkan pemimpin utama Indonesia. Dalam hal ini, Sukarno dan Hatta jelas dalam bahaya…” ungkap sejarawan Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia.

  • Dilema Suku Tidung dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia

    Suatu sore di pesisir Tawau, Malaysia, pada 1961. Rasid, pemuda dari Suku Tidung yang mendiami Pulau Sebatik, sedang menjual panennya. Dia sudah biasa ke Tawau dan hafal keadaan sekitarnya. Tapi sore itu berbeda. Banyak tentara Malaysia berjaga di beberapa sudut. Setahun berikutnya, Rasid menjual panen di Pulau Nunukan, Indonesia. Kali ini dia melihat banyak tentara Indonesia. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Tentara di mana-mana. Setahun berselang, Rasid baru tahu mengapa tentara muncul di dua pulau itu. Dia mendengar Indonesia mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia setelah Inggris berencana membentuk Federasi Malaysia pada 20 Januari 1963. Rasid tinggal di Pulau Sebatik, gugus pulau terdepan di Kalimantan Utara. Pulau kecil ini terbagi dua. Satu masuk wilayah Indonesia, satu lagi bagian Malaysia. Dia tinggal di Pulau Sebatik wilayah Indonesia. Tempat tinggalnya diapit dua wilayah: Nunukan di barat dan Tawau di timur. Itu dua tempat di mana Rasid menjual panen. Sebab di dua tempat itu penduduknya lebih banyak dan pembangunannya lebih maju ketimbang di Sebatik. Rasid, sebagaimana orang-orang Tidung di Pulau Sebatik, menjalin hubungan erat dengan orang-orang di Nunukan dan Tawau. Sebagian kerabat dan rekan dagang mereka ada di Nunukan, Tawau, dan wilayah Sebatik yang masuk dalam kepemilikan Malaysia. Ini membuat Rasid dan orang Tidung lainnya berada dalam dilema. “Sebagai masyarakat perbatasan, mereka tidak menginginkan adanya konfrontasi,” kata Sugih Biantoro, peneliti sejarah di Puslitbang Kebudayaan, Kemdikbud, kepada historia.id . Sugih meneliti kehidupan Suku Tidung selama masa Konfrontasi. Dia sempat menemui sejumlah penyintas Konfrontasi dari Suku Tidung, termasuk Rasid. Sugih menuturkan, orang-orang Tidung seperti Rasid harus memilih: menegaskan identitasnya sebagai warga negara Indonesia atau sebagai masyarakat perbatasan yang bersaudara. Mereka memilih yang pertama. Tapi mereka menekankan, keterlibatannya dalam berperang bukanlah melawan saudaranya sesama orang Tidung di Malaysia, melainkan terhadap Inggris. “Konfrontasi itu awalnya berkenaan dengan Inggris, orang Malaysia itu bertetangga, kita mengusir Inggris dari Malaysia, kami membantu negara, kalau perang kami siap…” kata Kahar, orang Tidung lainnya penyintas Konfrontasi kepada Sugih dalam tesisnya “ Masyarakat Perbatasan di Sebatik Masa Konfrontasi 1963–1966” di Universitas Indonesia. Sejumlah pemuda Tidung kemudian bergabung ke barisan sukarelawan dan pasukan pembantu. Keduanya sama-sama bersifat sukarela. Perbedaannya terletak pada tanggung jawab. Barisan sukarelawan bertanggung jawab ikut membantu militer Indonesia memasuki wilayah musuh, sedangkan barisan pembantu tak wajib ikut masuk. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh latihan dari pasukan KKO (kini Marinir) TNI AL selama tiga bulan di Nunukan. Materinya dari baris-berbaris, menggunakan senjata api dan granat, pengetahuan berperang, sampai cara menyerang musuh di palagan. Setelah menuntaskan latihan tiga bulan, para pemuda Tidung kembali ke Sebatik. Di sini mereka berlatih lagi. Tapi tak sesering seperti di Nunukan. Seraya kepulangan mereka ke Sebatik, ribuan pasukan KKO mendarat di pulau itu. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh tugas sebagai penunjuk jalan. Mereka menuntun militer Indonesia mempelajari kondisi lapangan dan kekuatan lawan. “Sukarelawan dianggap sebagai pasukan yang paling mengetahui lokasi di lapangan. Hal itu dikarenakan banyak sukarelawan merupakan penduduk lokal,” catat Sugih. Menurut Muhammad Yamin Sani dan Rismawati Isbon dalam “Orang Tidung di Pulau Sebatik” termuat di jurnal Al-Qalam No. 24 Tahun 2018, orang Tidung telah mendiami pulau ini sejak abad ke-17. Sebatik kala itu hampir sepenuhnya tertutup hutan lebat. Tak mudah bagi luar Sebatik masuk ke sini. Hanya orang setempat yang tahu seluk-beluk wilayah ini. Atas tugasnya itu, para sukarelawan dan pasukan pembantu mendapat upah Rp2 uang lama dan Rp25.000 uang baru. Selain itu, ada juga uang makan, beras, dan rokok untuk mereka. Sepanjang bertugas dengan militer Indonesia, Kahar mengaku dua kali berkontak senjata dengan militer Malaysia. “Kita dihantam sama Gurkha. Kita tidak punya senjata. Hanya granat saja. Kami pun lari. Ada yang kena di kaki kena darah,” kenang Kahar. Gurkha adalah kesatuan tentara yang berasal dari Nepal dan berada di bawah militer Inggris. Mereka ikut bertugas di Sebatik selama masa Konfrontasi menghadapi Indonesia. Rombongan Kahar pernah juga dihantam mortir di dalam hutan. Dia dan rombongannya langsung tiarap. Tiga kali mortir menghantam mereka. Mereka semua selamat. Tak ada korban. Tapi setelah kejadian itu, Kahar menangis sendirian di hutan. Betapa dekatnya dia dengan kematian. Dia juga mengingat orang tua dan keluarganya di rumah. Sementara itu, Ibrahim, pemuda Tidung lainnya dalam barisan sukarelawan, mengatakan pernah menyerang pos jaga Malaysia di wilayah Simpang Tiga, Malaysia, bersama 14 orang temannya. “Waktu itu kita menyerang pos Gurkha, ada teman saya sersan Trisno dari KKO tewas. Ada juga yang luka kena tembak di kakinya,” terang Ibrahim. Penduduk Tidung lainnya yang tak bergabung dalam sukarelawan dan pasukan pembantu juga ikut membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Macam-macam bentuk bantuannya. Mereka memberikan lauk pauk dari hasil bumi setempat kepada militer Indonesia untuk ditukar dengan makanan kaleng. “Sayur kangkung ditukar dengan makanan kaleng,” kata Maswari, orang Tidung yang tak ikut dalam sukarelawan dan pasukan pembantu. Hubungan antara orang Tidung dan militer Indonesia cukup baik. Beberapa anggota KKO mempelajari bahasa Tidung sehingga pergaulan lebih lancar. Pasukan KKO juga sempat mendirikan sekolah rakyat. Pengajarnya dua orang. Dua puluh anak Tidung bersekolah di tempat itu. Salah satunya Maswari. Maswari mengatakan, ada kalanya juga orang Tidung agak takut dengan militer Indonesia. Ini sebenarnya berkaitan cerita dari anggota sukarelawan dan pasukan pembantu. Seorang di antara mereka menceritakan ke orang Tidung lainnya tentang hukuman dari anggota KKO jika mereka lalai dalam tugas. Ketika Konfrontasi berakhir pada 1966, pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu kembali menjadi nelayan atau petani. KKO pun berangsur-angsur meninggalkan tanah Tidung. Kegiatan di sekolah buatan KKO tak berlanjut. “Sedih ketika KKO pulang, karena ada yang baik sudah seperti saudara… Anggota KKO masih muda-muda semua,” kenang Maswari. Para pemuda Tidung seperti Rasid, Kahar, dan Ibrahim mengatakan, mereka senang bisa bergabung dan membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Tapi setelah Konfrontasi berakhir, mereka cukup kecewa dengan sikap abai pemerintah terhadap pembangunan Pulau Sebatik. “Dirinya yang dulu ikut bersama-sama berjuang mempertahankan wilayah Indonesia dilepas begitu saja tidak diperhatikan oleh pemerintah,” kata Sugih menirukan pengakuan eks sukarelawan dan pasukan pembantu.

  • Pasukan Turki dalam Serangan Aceh ke Kerajaan Batak dan Aru

    SELAIN menghadapi Portugis, Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar, juga berambisi untuk menguasai Pulau Sumatra. Penentang utamanya adalah Kerajaan Batak yang luas dan memiliki jalur ke utara dan ke pantai barat Aceh, dengan pusat terletak di wilayah sungai Singkil yang masih dalam wilayah Batak, yakni Tapanuli.

  • Asal-Usul Suku Tidung

    Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 sempat ramai diperbincangkan karena ada yang mengira salah seorang di gambar uang itu mengenakan baju adat China. Padahal, itu adalah baju adat milik Suku Tidung yang mendiami wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Tjilik Riwut, mantan gubernur Kalimantan Tengah, menjelaskan dalam Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur  bahwa Suku Tidung merupakan subsuku dari Suku Dayak Murut, salah satu dari tujuh suku besar, yang mendiami bagian utara Kalimantan bagian timur. Enam suku besar Dayak lainnya adalah Ngaju, Apu Kayan, Iban, Klemantan, Punan, dan Ot Danum. Suku Tidung sendiri terbagi lagi menjadi sepuluh suku kecil. Hartatik, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam. Kendati namanya diambil dari kata tiding atau tideng artinya gunung atau bukit. "Nama ini menggambarkan kalau Suku Tidung berasal dari daerah hulu atau daerah pegunungan di wilayah Kalimantan sisi utara-timur (timur-laut)," tulis Hartatik dalam "Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya" yang terbit dalam jurnal Naditira Widya ,Vol. 8 No. 1/2014. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang dinamis. Mereka pindah dari pedalaman Kalimantan, Kabupaten Tanah Tidung hingga ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau. Kedinamisan itu, menurut Hartatik, membuat Suku Tidung mendapat banyak pengaruh dari luar, terutama dari pelaut dan pedagang muslim. Sehingga, kini hampir semua orang Tidung beragama Islam. Masih Kerabat Dayak Arkeolog Balai Arkeologi Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto dalam "Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi" yang terbit dalam Naditira Widya , Vol. 7 No. 2/2013, menyebut bahwaSuku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil sisi timur Kalimantan lainnya. Perkiraannya mereka sudah meninggalkan tempat asalnya hampir 100 tahun yang lalu. Karenanya sudah banyak cerita tutur yang terputus. Salah satunya Suku Tidung tak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul moyangnya sebagaimana masyarakat Dayak lainnya. Khususnya yang meninggali wilayah Nunukan, seperti Tahol, Tenggalan, dan Agabag. K epercayaannya pun berbeda dibanding suku Dayak di Kalimantan Utara lainnya. "Karena Suku Tidung identik dengan muslim, sedangkan suku Dayak lainnya beragama Kristen," tulis Hartatik. Kendati begitu, masih ada tradisi pra-Islam yang tersisa di antara masyarakat Tidung. Ini menjadi salah satu bukti hubungan kekerabatan mereka dengan suku Dayak. "Sebagian dari mereka masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat," tulis Hartatik. Walaupun sudah beragama Islam, kepercayaan adanya roh leluhur merupakan salah satu konsep megalitik yang dikenal oleh Suku Tidung hingga kini. Ada yang dikenal dengan ritual memanggil arwah di Batu Lumampu, membayar nazar di Batu Lumampu dan Batu Kelangkang, serta ritual pengobatan Badewa oleh tokoh adat. "Kepercayaan kepada roh leluhur yang masih berlanjut hingga kini menunjukkan bahwa Suku Tidung dahulu mempunyai kepercayaan yang sama dengan suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan," tulis Hartatik. Nugroho menambahkan bahwa persahabatan Suku Tidung dengan alam yang masih dijaga secara umum mencerminkan spiritual Dayak. Akulturasi antara budaya pendatang dari luar, dalam hal ini Bugis, Melayu, dan Bajau yang mempengaruhi konsep religi mereka. Prosesnya panjang. Unsur budaya dari luar secara perlahan diterima oleh Suku Tidung kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka. Kedatangan Islam Menurut Nugroho, selain sebagai sebuah suku, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa keislaman. Makam Maharaja Dinda I di Desa Sesayap, Kecamatan Sesatap Hilir, Kabupaten Tana Tidung;dan makam tokoh yang dihormati seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Kecamatan Tana Lia, Pulau Mandul, Kabupaten Tana Tidung, menandakan kawasan ini sebagai daerah perpindahan awal orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk "suatu institusi" tradisional. "Kerajaan ini terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang Suku Tidung," tulis Nugroho. "Ada kemungkinan mereka terpisahkan dari keluarga suku induknya, yaitu Suku Dayak Murut." Institusi yang terbentuk ini dipercaya berupa kerajaan kecil. Secara tradisi , komunitas ini berdiri sendiri kemudian dikuasai oleh Kesultanan Bulungan yang mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda. Secara formal, Islam hadir ketika Kesultanan Bulungan menguasai Tidung, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 'Alimuddin (1817–1861). Hal ini ditandai dengan datangnya seorang ulama dari Arab yang singgah dahulu di Demak. Ulama yang melakukan Islamisasi ini dikenal sebagai Said Abdurrahman Bil Faqih. Selain Bil Faqih, beberapa ulama lain ikut mendekatkan Suku Tidung dengan Islam. Buktinya adalah makam penyiar agama, Said Ahmad Maghribi di Desa Salim Batu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Letaknya di lereng tebing, di sebelah barat aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun di nisan, ulama ini wafat pada 1832. Orang Tidung memang lebih mudah menerima budaya luar karena umumnya mereka bermukim di pesisir, bagian hilir sungai dan pantai yang strategis. Jalurnya bisa lewat perdagangan, maupun budaya.  " Hubungan Islam dengan Tidung memperkaya identitas mereka,"  tulis Nugroho . Interaksi antara Suku Tidung dan Islam pun merata di daerah pesisir, muara sungai hingga pulau-pulau kecilnya. Ini ditunjukan dengan letak makam tokoh yang dihormati, seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Pulau Mandul dan makam Maharaja Dinda I, tak jauh dari Sungai Selor yang berhubungan dengan Sungai Sesayap. "Mobilitas Tidung di pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya dibuktikan dengan peninggalan arkeologi terutama makam, antara lain di tepi Sungai Pemusian di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Pulau Sebatik," tulis Nugroho. Sayangnya, persaingan hegemoni politis dengan Kesultanan Bulungan menyebabkan Tidung terabaikan. Itu diperparah dengan kehadiran kolonialis Belanda. Politik adu domba dan campur tangan Belanda atas eksplorasi kekayaan alam minyak bumi dan perkebunan karet membuat Tidung semakin terpuruk. "Dari bukti-bukti arkeologi kekuasaan politis Kerajaan Tidung sangat lemah. Meski begitu, keberadaannya tetap perlu diakui," tegas Nugroho.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page