Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menyelamatkan Garuda Indonesia dari Kebangkrutan
Menteri BUMN Erick Thohir memecat Dirut Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara karena menyelundupkan Harley Davidson. Berdasaran hasil pemeriksaan Komite Audit, Erick mengungkapkan bahwa Harley Davidson itu pesanan Ari melalui pegawainya berinisial SAW. Motor yang dibeli pada April 2019 itu diangkut dalam penerbangan Garuda Indonesia menggunakan pesawat baru Airbus A330-900 pada 17 November 2019. Jajaran direksi ikut dalam penerbangan itu. Pemberhentian dirut Garuda itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa meski kasusnya beda oleh menteri BUMN pertama, Tanri Abeng. Dia menjadi menteri BUMN pada saat krisis ekonomi, dari Maret 1998 sampai Oktober 1999. Setelah diangkat menjadi menteri BUMN, Tanri Abeng bertemu empat mata untuk kedua kalinya dengan Presiden Soeharto. Ketika Tanri Abeng akan pulang, Soeharto memberikan sebuah map. “Ini tentang Garuda yang akan dibangkrutkan oleh krediturnya. Tugas saudara menyelamatkan agar Garuda tidak di-grounded karena Garuda membawa bendera Republik,” kata Soeharto. Menteri BUMN Tanri Abeng bertemu Presiden Soeharto. (Repro Pak Harto: The Untold Stories). Tanri Abeng mempelajari berkas itu di mobil. Ternyata sudah tujuh tahun Garuda Indonesia merugi. Selama itu kerugian yang ditanggung maskapai penerbangan nasional itu ditutup dengan utang dolar. Kondisinya menjadi sangat parah ketika nilai tukar rupiah meroket menjadi Rp15.000 per dolar Amerika Serikat. “Itulah yang terjadi, di hari kelima saya bertugas sebagai praktisi manajemen di bawah kepemimpinan Pak Harto, saya sudah harus membenahi kemelut yang begitu kompleks di ranah kerja orang lain,” kata Tanri Abeng dalam tulisannya di buku Pak Harto: The Untold Stories. “Perusahaan adalah sebaik pemimpinnya –prinsip manajemen ini melintas di kepala saya,” kata Tanri Abeng. “Data-data dari berkas di tangan saya memperlihatkan tidak satu pun dari direksi Garuda Indonesia saat itu yang tahu duduk persoalannya. Maka seluruhnya harus diganti!” Tanri Abeng kembali ke kantornya yang masih menumpang di Bappenas. Dia membicarakannya dengan pembantunya, Marzuki Usman dan Barcelius Ruru. Mereka memiliki pandangan yang sama: seluruh direksi harus diganti. Namun ada usulan untuk tidak mengganti dirutnya karena dia mantan ajudan Soeharto yang baru saja ditempatkan di sana. “Konon tidak ada yang bisa menggeser mantan ajudan yang ditugaskan Pak Harto di suatu tempat,” kata Tanri Abeng. Namun, situasinya saat itu mengharuskan Tanri Abeng memilih seorang praktisi yang kompeten dan disukai pasar. Dia memutuskan mengambil risiko itu. Dengan gugup dia memaparkan usulan pembenahan Garuda kepada Soeharto. Soeharto mendengarkan kemudian tersenyum dan mengatakan, “Mengapa hanya dirutnya? Ganti seluruh direksi, di situ sudah lama ada mafia.” Hari itu juga Soeharto menyetujui pergantian dirut Garuda. Soeharto menyerahkan sepenuhnya kepada Tanri Abeng untuk memilih dirut Garuda yang baru. Begitu pula tim yang akan membantunya. Dia mengajukan satu nama, Robby Djohan, seorang bankir dengan reputasi cemerlang saat itu. “Saya pikir, untuk mendinginkan para kreditur Garuda waktu itu, diperlukan seorang bankir yang kredibel. Dia harus seorang yang tahu, tegas, keras, jelas, dan tidak ada KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).” Robby Djohan, Direktur Utama Garuda Indonesia (Februari-Oktober 1998). (katadata.co.id/syuef.blogspot.co.id). Robby sendiri mengajukan syarat dibolehkan memilih sendiri anggota direksinya. Dia kaget ketika disetujui. Mungkin dia pikir, hebat sekali menteri ini, padahal Soeharto memang telah memberikan wewenang penuh kepada Tanri Abeng untuk membenahi Garuda. Salah satu yang ditarik Robby adalah Emirsyah Satar yang saat itu bekerja di Bank Niaga cabang Hongkong. Emir ditempatkan sebagai direktur keuangan. Karier Emir sampai puncak hingga menjadi dirut Garuda pada 2005. Dia menjadi salah satu dirut Garuda terlama, hampir sepuluh tahun. Sebelum masa jabatannya habis, dia mengundurkan diri pada 2014. Tiga tahun kemudian, pada Januari 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkannya sebagai tersangka kasus suap dan pencucian uang dalam pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC. Emir digantikan Arif Wibowo yang menjabat selama tiga tahun (2014-2017). Menteri BUMN Rini Soemarno mencopotnya dan menggantinya dengan Pahala N. Mansury, yang sebelumnya menjabat direktur keuangan Bank Mandiri. Rini kemudian mencopot Pahala dan menggantinya dengan Ari Askhara pada September 2018. Dan kini Ari dicopot oleh menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Dalam memilih dirut Garuda yang baru, barangkali Erick Thohir dapat berpegang pada prinsip Tanri Abeng: “perusahaan adalah sebaik pemimpinnya.” Dengan prinsip itu, Tanri Abeng menunjuk Robby Djohan sebagai dirut Garuda pada Februari 1998. Dalam obituari di katadata.co.id disebut bahwa Robby Djohan berhasil menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan. Tak sampai setahun memimpin Garuda, dia berhasil merestrukturisasi dan meminta penjadwalan ulang utang Garuda yang mencapai ratusan juta dolar kepada para kreditur asing. Setelah menyelamatkan Garuda, Robby menjadi dirut Bank Mandiri pada November 1998. Dialah yang memimpin proses berdirinya Bank Mandiri sebagai hasil merger empat bank yang tengah sakit. Robby Djohan yang diakui sebagai guru para bankir meninggal dunia pada 13 Mei 2016.
- Duet Pengusaha Indonesia Selundupkan Senjata
DI tengah misinya menyelundupkan senjata di Jakarta untuk ALRI Tegal pada 1946, Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang menjadi penguasaha nasional berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, bertemu dengan pengusaha kawakan Mutalib. Pengusaha itu memperkenalkan Hasjim pada relasi-relasi bisnisnya orang-orang India di Pasar Baru, Jakarta. Hasjim, yang senang bergaul, tentu menyambut gembira upaya Mutalib itu. Dari pergaulannya dengan para pedagang India itulah kemudian jalan Hasjim sebagai penyelundup kiriman ALRI Tegal kian terbuka. Para pedagang India itu memperkenalkan Hasjim pada serdadu-serdadu Inggris asal India. Sudah bukan rahasia bila banyak serdadu Inggris asal India yang membelot ke pihak Republik Indonesia. “Secara keseluruhan, ada 746 serdadu India desersi. Dari total 45.000 prajurit, ini sekitar 1,7 persen,” tulis Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia: 1945-1946. Alasan desersi itu macam-macam, mulai dari tak ingin memerangi sesama Muslim, mendapatkan perempuan, hingga mencari keuntungan materiil. Dari para serdadu yang mencari keuntungan itulah Hasjim membeli senjata untuk ALRI Tegal. “Senjata yang aku beli dari tentara Inggris itu umumnya dalam partai kecil-kecil saja. Mereka menjualnya karena memerlukan uang untuk plesiran,” kata Hasjim dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang. Posisi rendah para serdadu asal India itu membuat mereka tak bisa “bisnis” dalam partai besar. “Bisnis” skala besar Hasjim yakin hanya bisa dilakukan perwira Inggris kulit putih. Hasjim tak tahu apakah ada perwira Inggris kulit putih yang rela “menjual negerinya” demi mendapat keuntungan materi. Namun, di masa revolusi apapun bisa terjadi. Seperti sebuah undangan yang didapatnya dari pengusaha Agus Dasaad. “Suatu senja Dasaad mengundangku datang ke rumahnya. Di sana aku dapati seorang mayor Inggris. Ia datang bersama istrinya,” sambung Hasjim. Dari pembicaraan dengan Dasaad dan si mayor itu, Hasjim menjadi tahu bahwa sang mayor akan pulang ke negerinya dan keluar dari dinas militer. Untuk itu, ia memerlukan banyak uang. “Ia punya senjata. Dan ia tahu Republik memerlukannya. Dan ia akan menyerahkan senjata itu kalau diberi uang,” kata Hasjim. Si mayor juga mengatakan di jipnya sudah ada satu peti berisi beberapa stengun berikut pelurunya. Peti itu akan ditinggalkannya saat itu juga bila dia diberi uang. Namun keinginan mayor itu segera ditolak Dasaad dan Hasjim. “Jangan sekarang. Aku tidak bawa uang,” kata Hasjim. Kesepakatan lanjutanpun mereka buat. Hasjim bersedia membeli lebih banyak senjata namun tak ingin senapan. Menurutnya, panjangnya senapan membuatnya sulit untuk menyelundupkannya ke Tegal mengingat pengangkutan mesti menggunakan jalur darat sementara pemeriksaan Belanda begitu ketat di berbagai tempat. Penjelasan Hasjim membuat sang mayor bersemangat. Bukan perkara sulit baginya mengambil senjata dari gudang lantaran dia berasal dari bagian persenjataan. Selama 20 hari dengan dicicil, mayor itu terus mengantarkan senjata pesanan Hasjim ke rumah Dasaad pada waktu senja. “Kalau aku yang datang lebih dahulu ke rumah Dasaad, pintu jipnya akan selalu tepat di dekat pintu sedanku. Kalau ia yang datang lebih dahulu, maka aku memarkir sedanku di sisi mobilnya. Peti-peti itu dipindahkan menjelang kami akan berpisah. Dasaad dengan Maria (istri mayor, red.) akan berdiri melindungi pandangan orang dari jalan sambil mengobrol. Sedang mayor itu menurunkannya dari jipnya dan aku menyambutnya dalam sedanku.” Setelah proses pemindahan senjata selesai, Dasaad menalangi pembayarannya. Biasanya dia menyerahkan uangnya kepada Maria sambil bersalaman ketika hendak pamitan. Uang itu akan diganti Hasjim dengan cara dicicil begitu telah mendapat kiriman dari Lip Seng & Co, rekanan ALRI Tegal di Glodok. Hasjim yang menyimpan senjata-senjata itu di berbagai tempat, akan membawanya ke Tegal dengan menumpang Keretaapi Luar Biasa (KLB). KLB akan membawa delegasi pemerintah Sjahrir berikut beberapa wartawan asing ke Ibukota Yogyakarta. “Biasanya penjagaan di stasiun akan lebih longgar.” Namun yang jadi permasalahan buat Hasjim adalah, bagaimana membawa peti-peti berisi senjata itu ke gerbong-gerbong KLB. Hasjim pun mendiskusikannya dengan Alinoor Ludin, kawannya yang bekerja sebagai kepala bengkel keretaapi di Stasiun Manggarai. “Serahkan padaku. Aku jamin beres,” kata Alinoor. Sesuai arahan Alinoor, dibantu beberapa kawan Hasjim pun memasukkan peti-peti senjata itu ke sebuah lokomotif rusak di Manggarai. Lokomotif itu memang direncanakan akan dikirim ke Yogya. Ia lalu dipindahkan ke Stasiun Jatinegara. Di stasiun inilah lokomotif rusak itu disambung dengan rangkaian KLB untuk dibawa ke Yogya. “Akan tetapi sejata itu tidak bisa aku serahkan ke Darwis Djamin di Tegal, karena beberapa bulan sebelumnya ia ditangkap sehubungan kegiatannya bersama Tan Malaka pada peristiwa 3 Juli 1946. Senjata itu aku serahkan pada Laksamana Nazir beserta laporan pertanggungjawaban keuangannya,” kata Hasjim.
- Alat Perang Made in Republik
Kebutuhan akan senjata di era revolusi melahirkan kreasi-kreasi revolusiener.
- Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi
TAK bisa dipungkiri, Lionel Messi merupakan maestro lapangan yang bakal meninggalkan warisan legendaris. Beragam gelar tampak sangat biasa buat La Pulga alias si kutu, julukan Messi. Buktinya, saat memenangkan trofi Ballon d’Or keenamnya pada 2 Desember 2019 lalu. Entah sudah berapa pujian yang mengalir padanya, baik dari sesama pemain maupun pelatih-pelatih dunia. Tak sedikit yang bilang Messi bukan manusia, melainkan alien dari planet lain, saking jeniusnya Messi di lapangan hijau bersama klubnya, Barcelona. Bintang Liga Indonesia era 1990-an asal Brasil Luciano Leandro menganalogikan Messi ibarat legenda Argentina Diego Maradona. Persaingan Messi dengan superstar Brasil Neymar Jr diibaratkannya dengan rivalitas Maradona-Pelé di masa lampau. “Dulu saya melihat Pelé nomor satu, Maradona nomor dua. Sekarang Messi nomor satu, Neymar nomor dua. Karena Messi sejak anak sudah belajar di akademi terbaik, La Masia, dengan pemain-pemain kualitas tinggi. Style Messi kalau dribbling dan control bola dekat dan rapat sekali, sulit hilang bolanya. Beda dengan Neymar yang dribbling jauh. Dua pemain ini luar biasa walau beda tekniknya,” ujar Luci kepada Historia. Hati dan Mental Baja Superman, superhero dalam Man of Steel (2013) garapan Zack Snyder, mungkin sosok paling pas dipinjam untuk menggambarkan Messi. Selain selalu mampu bergerak secepat kilat, Messi juga punya mental baja. Mental itulah yang membuat Messi berhasil melewati kehidupan sulit di masa kanak-kanaknya lantaran kondisi fisiknya. Lionel Andrés Messi Cuccittini lahir pada 24 Juni 1987 di kota Rosario, Santa Fe, Argentina. Leo, begitu biasa dia disapa, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang dilahirkan pasutri Jorge Horacio Messi, seorang buruh pabrik baja dan, Celia Maria Cuccittini Oliveria, seorang cleaning service paruh waktu. Kolase Lionel Messi dan enam kali raihan Ballon d'Or sejak 2009 (Foto: fcbarcelona.com) Sebagaimana mayoritas penduduk Rosario, Messi punya darah Italia yang sangat kental. Garis ibunya Italia, sementara dari garis ayahnya terkandung darah Italia-Spanyol. Disebutkan Khadija Ejaz dalam biografi Lionel Messi, sang bintang pun dilahirkan di rumahsakit yang namanya berbau Italia, Hospital Italiano Garibaldi de Rosario (kini Instituto Universitario Italiano de Rosario). “Rumahsakit Garibaldi di Jalan Visasoro 1249, mengambil nama dari Giuseppe Garibaldi. Figur penting militer dan politik Italia di abad ke-19. Saat rumahsakit itu dibangun pun (1892), populasi kotanya sudah 70 persen merupakan keturunan Italia,” ungkap Ejaz. Silsilah keluarga besar Messi, lanjut Ejaz, kakek dari garis ayahnya, Angelo Messi, bermigrasi dari Porto Recanti di Italia ke Argentina sejak 1883. Angelo Messi sendiri punya campuran darah Italia dan Katalan (Spanyol). Saat Messi lahir 32 tahun lampau, sepakbola di Argentina masih demam juara Piala Dunia yang diraih Maradona cs. setahun sebelumnya. “Namun di saat yang sama tahun 1987 juga bukan tahun yang baik buat Rosario. Demokrasi datang ke Argentina setelah lamanya rezim militer yang membuat rakyat menentang pemerintah. Unjuk rasa hingga kerusuhan acap pecah di Rosario. Bahkan Messi di hari lahirnya disambut ledakan dua bom akibat dampak kerusuhan di dua sudut kota,” sambung Ejaz. Sepakbola jadi hiburan terbaik bagi mayoritas keluarga kelas pekerja di masa itu. Messi kecil sendiri sudah dikenalkan dengan sepakbola sejak berulangtahun yang pertama, di mana sang ayah menghadiahinya jersey Newell’s Old Boys, klub yang digilai sang ayah. Saat berulangtahun yang ketiga, Messi dihadiahi bola pertamanya. Dari waktu ke waktu, bocah Messi selalu bermain-main dengan bolanya entah saat sendirian maupun saat ditemani kedua kakaknya, Rodrigo dan Matías. Skill Messi pun terbentuk secara otodidak. “Kami terkejut ketika melihat apa yang bisa dia lakukan dengan bola di usia segitu,” cetus Jorge Messi, dikutip jurnalis senior Italia Luca Caioli dalam Messi: The Inside Story of the Boy Who Became a Legend. Namun, karier sepakbola Messi bermula justru dari jasa sang nenek, Celia –yang amat dihormati Messi, sampai wajahnya dilukiskan lewat sebuah tato di punggung Messi. Celialah yang membawa Messi saat berusia empat tahun ke klub pertamanya, Abanderado Grandoli. Klub itu tak jauh dari tempat tinggal Messi. “’Biarkan dia bermain. Tolonglah, demi saya. Jika dia mulai menangis, baru kita lupakan permintaan saya,” kata pelatih Grandoli Salvador Ricardo Aparicio menirukan permintaan Celia, dinukil Haaretz, 7 Juni 2018. Aparicio mulanya ragu. Apalagi melihat postur Messi yang lebih pendek dari umumnya anak-anak usia empat tahun. Namun, keraguan itu buyar seketika begitu Aparicio melihat skill Messi saat di-trial. “Bola begitu lengket di kakinya dan dia selalu meninggalkan semua pemain; dia tak terbendung,” lanjutnya. Pada 1994, Messi digaet Newell’s. Namun tiga tahun menimba ilmu di Newell’s, keluarga Messi mendapat kabar tak mengenakkan dari tim dokter Newell’s yang mengatakan Messi punya kekurangan fisik. Saat usia 10 tahun, tinggi badan Messi hanya 125 cm atau 10 cm lebih pendek dari anak-anak lain di akademi Newell’s. Saat didiagnosa dokter ahli endokrin Diego Shwarzstein, Messi divonis mengidap Growth Hormone Deficiency (GHD) atau gangguan hormon tumbuh kembang. Penanganannya hanya bisa dilakukan dengan terapi suntik hormon yang memakan biaya hingga USD1.000 per bulan. Awalnya, sang ayah masih sanggup membiayai terapi Messi dengan sokongan asuransi kesehatan dari tempatnya bekerja. Pihak Newell’s juga berjanji ikut urun dana, kendati akhirnya tak pernah terbukti. Namun usaha pengobatan itu buyar begitu depresi ekonomi menghantam Argentina. Pilihan yang tersisa hanyalah mencari klub yang mau membiayai terapi Messi itu. Keberuntungan berpihak pada Messi. Saudara jauhnya dari pihak ayah di Katalan mendaftarkan Messi untuk trial di La Masia, akademi sepakbola milik Barcelona FC. Diantar sang ayah, Messi pun mengadu nasib menyeberangi Samudera Atlantik di usia 13 tahun, setelah mendapat konfirmasi trial dari direktur teknik Barcelona Carles Rexach. “Saya butuh uang untuk pengobatan saya, untuk membantu saya tetap tumbuh. Barcelona satu-satunya klub yang menawarkan bantuan itu,” kenang Messi dalam Lionel Messi: An Unauthorized Biography. Lionel Messi (kedua di barisan kiri bawah) saat masih berusia lima tahun di tim Grandoli dan saat Messi (kanan) menimba ilmu di La Masia (Foto: Repro "Lionel Messi"/Youtube FC Barcelona) Trial Messi pada September 2000 itu berjalan sukses. Bahkan meski beberapa rekannya di jajaran direksi masih meragukan umur dan status non-Eropa Messi, Rexach bersikukuh. Adanya ultimatum dari ayah Messi yang menuntut Barcelona memberi kepastian paling lambat 14 Desember 2000, membuat Rexach buru-buru menemui Messi di Restoran Minguella and Gaggioli hari itu juga. Rexach segera menawarkan Messi kontrak di sehelai kertas serbet gegara tak sempat membawa kertas kontrak resmi. Awal tahun 2001 itu pun Messi resmi pindah ke Barcelona. Namun persoalan tak berhenti di situ. Kontrak yang ditandatangani pihak Barcelona dan Messi masih sekadar kontrak individu. Dokumen transfer dari Newell’s ke Barcelona masih terkendala. Akibatnya Messi jarang bisa tampil di tim muda Barcelona. “Selain masalah dokumen, Messi juga sempat cedera. Ayahnya menyarankan Messi untuk pulang, namun Lionel bertahan; di balik sifat malu-malunya, dia punya mental baja,” sebut kolumnis Independent dalam tajuknya yang dimuat 11 Juli 2014, “Lionel Messi: The World at His Feet”. Keputusan Messi benar. Begitu urusan dokumennya rampung, Messi langsung melesat dari akademi La Masia di tim Cadete, Juvenil A, Juvenil B, Barcelona C, Barcelona B, hingga menembus tim utama Barcelona. Tepat di usia 16 tahun empat bulan dan 23 hari, Messi melakoni debutnya di La Liga, kontra Espanyol, 16 Oktober 2004. Ia dimasukkan entrenador (pelatih) Frank Rijkaard di menit ke-82 menggantikan Deco Souza. Momen ini menjadi gerbang bagi Messi untuk terus melahirkan prestasi demi prestasi, mulai dari koleksi golnya yang mencapai 461 (per November 2019) hingga sederet gelar lokal, regional, maupun internasional. Messi bahkan sering diminta menjadi duta UNICEF. Oleh karena besarnya jasa dan kepercayaan Barcelona kepadanya, hingga kini kesetiaan Messi pada klub tetap besar. Dia mungkin akan menghabiskan kariernya di klub yang telah membesarkan namanya itu. “Saya membuat pengorbanan yang besar saat meninggalkan Argentina, meninggalkan keluarga untuk memulai hidup yang baru. Namun semua yang saya lakukan adalah untuk menggapai impian saya. Itu alasannya kenapa saya tak gemar berpesta atau hal-hal buruk lainnya,” tandas Messi.
- Perintah Menyerang dari Bambang
Sosok pemberi perintah menyerang Belanda pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
- Anti Jepang Gaya Bupati Magetan
SUATU pagi pada 1943. Kesibukan di kantor Kabupaten Magetan tetiba berubah jadi mencekam. Para pegawai kabupaten ketakutan dan menghindar kala seorang perwira militer Jepang marah-marah sambil menghunus gunto, pedang panjang khas negeri matahari terbit. Tak jelas benar apa yang menyebabkan perwira Jepang itu murka dan menebar ancaman, namun yang pasti tak ada satu pun orang-orang di sana saat itu yang berani bereaksi kecuali Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo, sang bupati Magetan. Alih-alih gentar, Soerjo justru mendekati perwira yang tengah kalap tersebut. Dalam nada yang keras namun berwibawa, ia memarahi sang perwira yang sudah mengganggu ketenteraman lingkungan kerjanya. “Saudara ini sudah datang tanpa permisi dan mengenalkan diri, membuat kericuhan pula di sini! Saudara harus tahu, karena saya merasa benar saya tidak takut sama sekali kepada anda!” bentaknya. Dihadapi dengan sikap berani dan elegan seperti itu, sebagai seorang samurai, si perwira Jepang menjadi malu. Ia pun menurunkan tensi dan coba membicarakan masalah yang ia hadapi secara baik-baik. Masalah berakhir setelah perwira Jepang minta maaf karena mengganggu ketentraman orang-orang yang bekerja di kabupaten. “Itulah Eyang Soerjo, ia tak pernah ragu sama sekali dalam bertindak jika melihat sesuatu yang menurutnya salah,” ujar Donny Ariotedjo, salah seorang cucu Soerjo. Tersebutlah pada awal Maret 1942, balatentara Jepang memasuki wilayah Hindia Belanda. Kendati KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) coba menahan laju tentara Jepang, namun mereka tak berdaya dalam setiap pertempuran. Akhirnya, pada 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Panglima Tertinggi KNIL Jenderal Hein ter Poorten menyerah kepada Panglima Tentara Jepang Ke-16 Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Jawa Barat. Sejak itu Hindia Belanda di bawah kuasa militer Jepang. Menurut sejarawan Aiko Kurosawa, kedatangan Jepang yang mengklaim sebagai “saudara tua” itu semula disambut baik oleh rakyat Hindia yang sedang rindu akan kemerdekaan. Sambutan itu kemudian dibalas oleh penguasa militer Jepang dengan mengizinkan orang Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih serta mengumandangkan lagu Indonesia Raya. “Bahasa Belanda sebagai bahasa resmi sebelumnya diganti oleh bahasa Indonesia dan jabatan-jabatan strategis segera berpindah tangan ke orang-orang Jepang dan bumiputera,” ungkap profesor emerita dari Universitas Keio, Tokyo itu. Namun di Magetan, situasi agak berbeda. Alih-alih memberikan sambutan meriah seperti di kota-kota besar, masyarakat Magetan pada awalnya merasa bingung dan ketakutan. Nyaris hari demi hari, rakyat Magetan tak berani untuk keluar rumah. Mereka hanya bisa menunggu dengan cemas, apa yang akan terjadi kemudian. Menurut Sutjiatiningsih dalam Pahlawan Nasional Gubernur Soerjo, sebagai bupati Magetan, Soerjo berupaya agar “kelumpuhan aktivitas” tersebut segera berakhir. Atas insiatif sendiri, ia menyerukan kepada rakyat Magetan untuk tidak perlu takut. Pernyataan tersebut diikuti dengan contoh yang ia berikan sendiri: setiap pagi bersama sang istri, Soerjo berjalan-jalan di alun-alun Magetan. “Kebiasaan itu merupakan simbol bahwa dalam kondisi yang tak menentu sekali pun, sang pemimpin sama sekali tak meninggalkan rakyatnya,” tulis Sutjiatiningsih. Menyaksikan bupatinya berada di tengah-tengah mereka, masyarakat Magetan mulai berani keluar rumah untuk menjalankan kembali kewajiban mereka sehari-hari. Kehidupan pun berjalan seperti sediakala. Berita keberhasilan Bupati Soerjo mengembalikan kepercayaan diri rakyatnya didengar pejabat militer Jepang di Magetan. Ia pun tetap didapuk untuk memimpin rakyat Magetan. Bupati Soerjo sejatinya sangat membenci perilaku penguasa militer Jepang, namun ia sadar sementara dirinya tidak berbuat apa-apa selain menerima uluran kerja sama dengan mereka. Namun Soerjo yakin bahwa keberadaan orang-orang Jepang di Indonesia tidak akan lama. Selain melihat kondisi perang yang pelan-pelan menyudutkan posisi Jepang, terutama setelah Amerika Serikat terlibat, jauh sebelumnya para orang tua di Jawa sudah meramalkan bahwa “orang-orang kate bermata sipit itu” tak akan lama berada di Nusantara. Hari demi hari, Bupati Soerjo tetap memimpin rakyat Magetan dalam suka dan duka. Kendati memutuskan untuk bekerja sama dengan penguasa militer Jepang, sikap Soerjo jauh dari watak seorang penjilat. Itu dibuktikan dengan tidak sudinya ia memenuhi permintaan penguasa militer Jepang mengumpulkan perempuan muda untuk diserahkan kepada para serdadu sebagai pelampiasan nafsu mereka. Sikap tegas sang Bupati tidak saja dianut sendiri, namun kerap ia katakan sebagai perintah resmi kepada bawahannya. “Eyang Soerjo selalu menekankan kepada para bawahannya jangan sampai mau disuruh-suruh mencarikan perempuan oleh orang-orang Jepang itu,” tutur Witjaksono, salah seorang cucu Soerjo. Penguasa militer Jepang benar-benar menjadikan wilayah bekas jajahan Belanda sebagai modal perang melawan Sekutu. Dengan memanfaatkan tanah subur dan produktif, mereka memaksa rakyat untuk memberikan sebagian besar hasil pertanian kepada penguasa militer Jepang. Padi yang merupakan makanan pokok penduduk pun tak lepas dari incaran mereka. Akibatnya rakyat tak bisa menikmati hasil jerih payahnya dan terpaksa hidup miskin karena tak memiliki apa-apa lagi. Bukan hal yang aneh jika saat itu rakyat hanya mengkonsumsi singkong, jagung bahkan akar pohon pisang untuk pengganti nasi. Sebagai lauknya, mereka terpaksa memakan bekicot, tikus sawah dan belalang. Ketiadaan uang membuat rakyat juga tak memiliki daya beli. Untuk pakaian sehari-hari, mereka terpaksa menjadikan karung goni sebagai bahan baju dan celana. “Kalau dipakai rasanya tidak enak dan gatal luar biasa karena pakaian goni yang kami pakai sering dijadikan sarang kutu busuk,” ujar Kasmijo (93), penduduk Magetan yang pernah mengalami masa penjajahan Jepang. Selain menjadikannya tenaga logistik, penguasa militer Jepang memaksa orang-orang yang masih muda terlibat dalam persiapan perang. Puluhan ribu kaum lelaki produktif dijadikan romusha (prajurit pekerja) dan dikirim ke berbagai fron terdepan untuk membangun benteng pertahanan, jalan kereta api, lapangan terbang, jembatan dan dermaga. Khusus bagi para pemuda, mereka direkrut menjadi tenaga tempur dalam berbagai kesatuan “sukarelawan” semacam Heiho, Sainedan, Keibodan, dan tentara Peta atau Pembela Tanah Air. Kaum perempuan pun tak lepas dari kesewenang-wenangan penguasa militer Jepang. Dengan dalih akan dipekerjakan di bagian administrasi, mereka dipaksa sebagai pemuas nafsu para serdadu yang baru pulang dari medan laga. Jumlah jugun ianfu (perempuan penghibur, arti harfiahnya: asisten tentara) ini sangat banyak, hingga mencapai puluhan ribu. Bukan hanya di wilayah eks jajahan Belanda, mereka pun disebar ke wilayah-wilayah luar yang dikuasai oleh militer Jepang seperti Singapura, Malaya dan Burma. Sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan yang dikendalikan militer Jepang, Soerjo menghadapi dilema dalam situasi yang suram itu. Bisa dipastikan, menghadapi kesewenang-wenangan serdadu Jepang terhadap rakyatnya, Soerjo sendiri nyaris tak bisa berbuat banyak. Hanya satu yang berani ia lakukan yaitu menolak mentah-mentah permintaan penguasa militer Jepang untuk menyerahkan kaum perempuan sebagai jugun ianfu. Anehnya, militer Jepang sendiri tak berani menindak “pembangkangan” Soerjo itu. “Mungkin mereka sadar Eyang Soerjo adalah tokoh yang sangat dicintai rakyatnya hingga jika menangkapnya hanya akan menimbulkan gejolak,” ujar Donny Ariotejo.
- Ingin Mulai Aksi Massa, Aktivis Malah Ditangkap Massa
BERITA kekalahan Jepang membuat para pemuda yang dimotori Chairul Saleh, Sukarni, Wikana, Adam Malik, Maruto Nitimihardjo tak sabar ingin kemerdekaan segera diumumkan. Untuk itulah mereka mendesak pemimpin nasional golongan tua, yang diwakili Sukarno-Hatta, segera memproklamasikan kemerdekaan. Sambil terus memajukan kehendaknya, para pemuda terus bergerak menyelesaikan segala rencana yang bakal dilakukan ketika kemerdekaan telah dicapai. Mereka mencetak dan menyebarkan pamflet-pamflet kemerdekaan, menggalang massa, dan mengatur siasat untuk bergerak begitu Indonesia telah dicetuskan. Kesibukan para pemuda di situasi yang bergerak cepat itu membuat BM Diah, wartawan Asia Raya yang ikut bergabung bersama kelompok pemuda nasionalis, bingung begitu keluar dari tahanan Jepang. “Tanggal 15 Agustus pagi saya berada di luar penjara Jepang, di udara bebas. Segera setelah di luar, saya menemui keluarga saya. Kemudian mencari kawan-kawan yang bergerak dalam Angkatan Baru. Saya mencari Sukarni di rumahnya. Tidak ada. Dikatakan bahwa ia menyembunyikan diri karena bersama saya delapan hari lalu banyak pemuda diburu polisi Jepang. Kemudian saya mencari Chairul Saleh. Juga saya tidak mendapatkannya di rumahnya. Saya mencari Supeno dan Soediro di Cikini, di tempat kami kadang-kadang berkumpul. Juga mereka tidak saya temukan,” kata BM Diah memoarnya, Catatan BM Diah: Peran “Pivotal” Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-’45. Kesibukan itulah yang membuat tokoh-tokoh pemuda justru alpa di Hari-H proklamasi. “Pada hari proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, kawan-kawan tidak ada yang hadir di Pegangsaan 56. Kami masing-masing sibuk. Saya dengan Pandu meroneo pamflet proklamasi. Sedangkan Chairul katanya diamankan orangnya Kaigun di Jln. Kebon Sirih 71, dengan alasan untuk menghindari penangkapan dari orang-orangnya Gunseikanbu (semacam garnisun). Sukarni, saya tidak tahu dia di mana, Adam Malik sedang sibuk menyiarkan proklamasi lewat kantor berita Domei bersama Syarudin. Pendek kata, kami tidak ada yang hadir,” kata Maruto Nitimihardjo dalam testimoninya di biografi Chairul, Chairul Saleh Tokoh Kontroversial. Sore setelah proklamasi dibacakan, Maruto, Chairul, Adam, Wikana dan beberapa anak buahnya, serta Jawoto berkumpul kembali di sekolahnya Jawoto. “Kita semua groggy, frustasi,” sambung Maruto. Keadaan berlainan dari yang mereka rencanakan sebelumnya membuat mereka frustasi. “Kita sudah capai-capai kok tidak ada aksi kelanjutan?” Saking frustrasinya, Pandu Kartawiguna bahkan sampai stres dan mengamuk. Kerisnya dia cabut dari sarungnya dan dia coba bunuh siapapun yang kebetulan melintas di dekatnya. “Dengan susah payah kita menenangkan Bung Pandu.” Setelah beristirahat dan suasana tenang, mereka kembali berembuk. Diputuskan bahwa keesokan harinya, 18 Agustus, mereka kembali bergerak. Sasarannya Gedung Raad van India (kini Gedung BP-7 di Kompleks Kemenlu, Pejambon). Di sanalah para anggota PPKI bersidang. Pada Hari-H, para pemuda yang sudah pindah markas ke Prapatan 10, lalu menyabot sidang PPKI dengan menculik beberapa pemimpinnya. “Kita boikot, karena kita anggap bahwa badan tersebut berbau Jepang,” sambung Maruto. Selain Sukarno-Hatta, anggota PPKI yang hadir memenuhi permintaan pemuda ke Prapatan 10 antara lain Achmad Subarjo, Teuku Moh. Hasan, dan Mr. Ketut Puja. Sutan Sjahrir kemudian datang setelah dijemput Abubakar Lubis dan kawan-kawan penghuni Prapatan 10 yang pengikut Sjahrir. Hasil dari pertemuan itu adalah kesepakatan melaksanakan apa yang tercantum dalam proklamasi: pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Selain itu, menggerakkan rakyat di ibukota untuk menunjukkan Indonesia sudah merdeka. Untuk itu, isyarat pembuka gerakan pun ditetapkan berupa: tembakan meriam penangkis udara di Kemayoran, pembakaran di Jatinegara, dan penggerakan satu batalyon Heiho di Jatinegara untuk menguasai Jakarta. Namun, kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi membuat aksi-aksi yang ditetapkan berjalan sendiri-sendiri dan berakhir tanpa sesuai rencana. “Pamflet proklamasi yang sudah kita sebarkan pun tidak kita ketahui, apa sudah tersebar ke pelosok-pelosok dan bagaimana reaksi masyarakat? Tanda berkobarnya api di Jatinegara yang sedianya dinyalakan oleh Saudara Jamil dengan membakar rumah WTS di Kebonpala, berkesudahan Jamil ditangkap oleh rakyat di sekitarnya. Pendek kata, semua gagal,” kata Maruto.
- Ketika Bangsa Eropa Memperebutkan Maluku
DAYA tarik Kepulauan Maluku seolah tidak akan ada habisnya. Rempah kebanggan mereka (pala dan cengkeh) telah membuka jalan bagi kepulauan di sebelah timur Makassar itu bergaul dengan bangsa dari belahan bumi lain. Berjalan cukup baik di awal, namun berubah kacau kemudian. Bangsa asing itu perlahan memperlihatkan kerakusannya. Tercatat ada empat bangsa Eropa yang secara gamblang berlomba menarik hati rakyat Maluku, yakni Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris. Semuanya datang dalam waktu yang cukup berdekatan. Setiap kali satu kekuatan runtuh, kekuatan lain dengan sigap mengambil alih. Maluku tidak pernah sepi dari para pencari kekuasaan. Inggris menjadi yang paling dicintai, sementara Belanda yang paling dicaci. Sejak abad ke-16 hingga empat abad setelahnya, Maluku secara langsung terlibat dalam ajang pergumulan orang-orang Eropa tersebut. Wilayah Ambon, Bacan, Banda, Ternate, dan Tidore menjadi pusat kegiatan para pendatang itu. Berawal dari penemuan jalur menuju Nusantara oleh bangsa Portugis, petualangan mereka mencari aneka bumbu yang mewah di Eropa itu pun dimulai. Dari hasil penelitian sejarawan Meta Sekar Puji Astuti diketahui bahwa orang-orang Eropa itu datang karena dorongan sebuah dongeng yang sengaja dibuat di tempat mereka. Dongeng yang berasal dari para pedagang Arab itu menyebut sebuah tanaman yang dapat memberi cita rasa untuk segala jenis makanan. Bahkan dipercaya mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit yang saat itu mewabah di daratan Eropa. Namun yang paling menarik perhatian rakyat Benua Biru adalah harganya. “Selama bertahun-tahun pala diperdagangkan di Jalur Sutra oleh orang-orang Arab dengan harga ribuan kali lipat dari wilayah asalnya,” kata Meta kepada Historia. Gabungan Kekuatan Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku. Para pelaut dari barat daya Eropa ini merapatkan kapalnya pada 1512, setelah setahun sebelumnya memastikan penguasaan Malaka. Menurut Tome Pires dalam Suma Oriental, para penjelajah Portugis tiba di bawah pimpinan Fransisco Serrao, salah satu kapten kapal dalam ekspedisi Antonio de Abreu. Dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di wilayah Maluku. Kedatangan Serrao di Maluku mendapat sambutan yang hangat dari penduduk. Meski sejumlah hambatan, utamanya komunikasi, sempat membatasi hubungan kedua bangsa ini, dengan cepat halangan tersebut diatasi. Orang-orang Portugis mampu beradaptasi dengan baik. Belum lama mereka tinggal, kepercayaan rakyat sudah berhasil didapat. Penduduk Ternate, kata Pires, menjadi kawan terdekat bangsa Portugis di Maluku. Pemimpinnya, Sultan Bayanullah, banyak memberikan bantuan. “Kabarnya raja ini sangat memegang teguh keadilan. Ia menjaga rakyatnya agar tetap patuh. Ia berkata bahwa ia akan sangat senang bertemu dengan pendeta Kristen, karena apabila keyakinan kita tampak lebih baik di matanya maka ia akan meninggalkan sektenya (agama Islam), kemudian memeluk agama Kristen.” Perlahan namun pasti, orang-orang Portugis mulai menyebarkan pengaruhnya di Maluku. Mula-mula Ternate dikuasai, baik secara politik maupun budaya, kemudian daerah-daerah di sekitarnya turut menjadi incaran. Namun hambatan besar mulai dirasakan saat mereka mencoba menguasai Tidore. Wilayah yang sejak lama berselisih dengan Ternate itu menolak kehadiran mereka. Portugis pun lantas menggunakan cara keras dalam usaha menguasai kerajaan milik ayah Sultan Bayanullah tersebut. Tekanan dari Portugis membuat posisi Tidore terpojok. Gempuran persenjataan lengkap bangsa Eropa itu sangat menyulitkan. Tidore membutuhkan bantuan besar. Dalam penelitian Hubert Jacobs, A Treatise on the Moluccas: Probably the Prellminary Version of Antonio Galvao’s Lost, disebutkan bahwa pertolongan tak terduga tiba pada 8 November 1521. Dua orang pelaut Spanyol, Carvalhinho dan Goncalo Gomes, tiba di Tidore bersama sejumlah pasukan. Mereka diterima dengan baik ketika memasuki pelabuhan Tidore. Spanyol pun praktis terlibat dalam perselisihan Tidore-Ternate. Sekaligus menantang musuh bebuyutannya di Eropa yakni Portugis dalam perebutan kuasa atas rempah Maluku. “Dengan demikian dalam perang itu terdapat di satu pihak Tidore yang dibantu orang-orang Spanyol dan di lain pihak Ternate yang dibantu orang-orang Portugis,” Sartono Kartodirdjo, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia: Jilid 3. Perang di Maluku terjadi dalam suasana yang serba tidak menentu. Meski dalam sejumlah peperangan kekuatan Ternate bersama kawan-kawan Portugisnya lebih unggul, tetapi mereka tidak bisa mempertahankan keutuhan dari dalam. Koalisi Tidore-Spanyol dan Ternate-Portugis ternyata tidak bertahan lama. Semakin lama rakyat semakin melihat sifat buruk orang-orang Eropa itu, yang sedari awal hanya mengincar rempah-rempah milik mereka dengan cara memecah belah penduduk Maluku. Keruntuhan kuasa Spanyol dan Portugis di Maluku semakin terlihat setelah kedua negara itu menyepakati Perjanjian Zaragoza pada 22 April 1529. Di tambah sejumlah peristiwa di dalam masing-masing kerajaan yang melibatkan bangsa asing, membuat suasana semakin keruh. Ikut campurnya mereka dalam urusan politik kerajaan adalah sebab utama rakyat ingin kedua bangsa itu keluar dari Maluku. Sejumlah perlawanan mulai digelorakan rakyat di beberapa tempat. Meski dua tokoh utama, Ternate dan Tidore, belum berbaikan, tetapi perlawanan yang terpecah itu mulai merepotkan kedudukan Portugis dan Spanyol. Rakyat berhasil menduduki benteng pertahanan, dan melucuti persenjataan keduanya. Portugis bahkan terusir dari tanah Ternate pada 28 Desember 1577. Mereka pun terpaksa mengungsi ke pulau-pulau sekitar untuk mengamankan diri. “Portugis dan Spanyol disatukan di bawah Raja Felipe II, dan raja ini menyuruh Gubernur Jenderal Spanyol yang berkedudukan di Filipina untuk memberi bantuan kepada orang-orang Portugis di Maluku,” tulis Kartodirdjo. Dibantu tentara Spanyol, Portugis berusaha merebut kembali Ternate. Namun sayang pada 1605, Belanda keburu datang mengacaukan jalannya perang di perairan Maluku. Kekuatan gabungan Portugis-Spanyol pun akhirnya teralihkan ke Belanda. Rakyat Maluku yang sudah muak dengan dua bangsa Eropa tersebut lantas memberi bantuan kepada Belanda. Meski tidak tahu bagaimana perangai para pendatang ini. Gabungan kekuatan Ternate-Belanda mampu memukul mundur Spanyol dari Ternate dan Tidore. Segera Belanda membangun benteng-benteng pertahanan di beberapa tempat strategis. Pada 1620-an Belanda sudah berhasil mengamankan posisinya di Perairan Maluku. Mereka akhirnya bisa mulai memonopoli rempah dengan tenang. Menuju Perjalanan Panjang Rupanya ketenangan dalam proses monopoli ini tidak begitu saja didapat. Meski Portugis dan Spanyol telah disingkirkan, Belanda kembali dipusingkan dengan keberadaan orang-orang Inggris. Pasukan Raja James itu telah menempati perairan Maluku sejak 1605. Namun mereka tidak ikut serta dalam konflik Portugis-Spanyol. Inggris sibuk membangun wilayah koloninya, seperti terlihat di pulau Run. Menurut I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura, rakyat Maluku dipaksa berhutang budi kepada Belanda ketika proses pengusiran Portugis dan Spanyol. Akibatnya mereka harus menuruti segala permintaan Belanda, termasuk melarang penduduk menjual rempah-rempahnya kepada bangsa lain. Semua perdagangan rempah diatur dengan menempatkan Belanda sebagai prioritas. Para penguasa diikat oleh kontrak agar Belanda dapat mudah memonopoli rempah-rempah. Mereka juga mulai membangun pertahanan, dan menyiagakan banyak armada di perairan Maluku. Hal itu dilakukan guna menghalau serangan dari Inggris yang sudah menguasai Banda. Dalam The Banda Islands: Hidden Histories and Mirackles of Nature, Jan Russell menyebut jika Belanda sulit menembus pertahanan Inggris di Banda. Mereka pun sementara hanya bisa menancapkan pengaruhnya di Ambon, Saparua, dan sebagian Maluku Tengah. “Orang Banda itu cukup cerdik. Mereka lebih suka berbisnis dengan orang Inggris dibandingkan dengan orang Belanda,” ucap Meta. Kebencian rakyat terhadap orang-orang Belanda mulai muncul setelah pemerintahan asing itu membuat kebijakan yang memberatkan rakyat. Perlakuan semena-mena, ditambah sistem tanam paksa yang menyengsarakan, membuat rakyat Maluku semakin menutup hatinya untuk para kompeni. Rakyat semakin yakin bahwa orang-orang ini tidak lebih baik dari Portugis dan Spanyol. Tahun 1796 terjadi keributan di Ambon. Kehadiran kapal-kapal berbendera Inggris membuat rakyat bertanya-tanya tentang situasai yang terjadi. Bendera Belanda yang semula berkibar di benteng Victoria juga sudah berganti menjadi ‘Union Jack’ milik Inggris. Ratusan tentara bersenjata lengkap ada di seluruh penjuru kota. Rupanya telah terjadi pergantian kekuasaan antara Belanda dan Inggris atas perairan Maluku. Perang yang berkecamuk di Eropa antara Inggris dan Prancis memaksa kerajaan Belanda menyerahkan seluruh wilayah jajahannya di Afrika dan Asia kepada Inggris. “Banyak di antara mereka yang tidak dapat mengerti keterangan itu. Pengetahuan mereka tentang Eropa yang begitu jauh letaknya tidak seberapa. Apalagi mau mengerti pergolakan apa yang sedang terjadi di sana,” tulis Nanulaitta. Kepanikan melanda rakyat Maluku. Mereka khawatir tentang nasibnya di bawah penjajah baru ini. Tindakan nekat pun akhirnya menjadi pilihan. Sejumlah orang mencoba menyerang benteng pertahanan Inggris. Namun pada akhirnya perlawanan tersebut dapat dihalau. Sebagai konsekuensi, para pemberontak itu dieksekusi. Perlahan Inggris membangun pemerintahan di seluruh perairan Maluku. Pengalaman selama di Banda dan Run, ditambah informasi tentang cara Belanda memerintah, membuat Inggris cukup berhati-hati dalam membuat kebijakan. Melalui peraturan yang dibuat, Inggris melakukan pendekatan terhadap rakyat dengan cara yang berbeda. Beberapa peraturan perdagangan yang sebelumnya sangat memberatkan mulai diperlunak. Kerja rodi tetap dipertahankan namun diperingan. Rakyat juga diberi kebebasan dalam berbagai aktifitas. Bahkan Inggris melibatkan penduduk dalam sistem militer mereka, dan membentuk kesatuan khusus untuk rakyat. “Harapan baru akan hidup yang lebih baik timbul lagi. Kebun-kebun cengkih dan pala memberi harapan besar. Perniagaan menjadi ramai. Hanya terhadap penyelundupan Inggris bertindak keras juga,” kata Nanulaitta. Namun kesedihan kembali harus dirasakan rakyat Maluku. Tujuh tahun kebebasan di bawah pemerintah Inggris sirna begitu saja ketika mengetahui orang-orang Belanda kembali menerima hak atas tanah Maluku. Keresahan melanda seluruh negeri. Kepergian bangsa yang memberi kedamaian sangat diratapi rakyat Maluku. Tahun-tahun berikutnya konflik antara Inggris dan Belanda atas Maluku terus terjadi. Keduanya bergantian memberi pengaruh di tanah kelahiran Pattimura tersebut. Sampai pada kondisi di mana Inggris sudah tidak dapat lagi menginjakkan kakinya di sana. Sebuah perjanjian tahun 1816, Traktat London, menyelesaikan konflik Inggris-Belanda di Maluku untuk selama-lamanya. Dengan gagahnya Belanda mampu menyingkirkan tiga pesaing berat, dan berkuasa penuh atas Maluku.
- Sukarno Dilempar Granat Masih Selamat
Percobaan pembunuhan pertama terhadap Presiden Sukarno. Peristiwa Cikini ini mengakibatkan banyak korban jiwa.
- Buah Pena Multatuli
Multatuli identik dengan Max Havelaar. Padahal ia punya karya lain, yang tak kalah sukses.
- Prasangka Pada Pasien Jiwa Pribumi
SEORANG lelaki muda dari Yogyakarta yang berprofesi sebagai asisten juru tulis diantar keluarganya ke Rumahsakit Jiwa (RSJ) Magelang. Sebelumnya, ia terserang demam. Kemungkinan besar, demamnya berasal dari stres. Selama bekerja, ia terus meragukan kemampuannya sendiri hingga stres dan membuatnya menderita gangguan jiwa. Selain stres, faktor lain yang dianggap memicu gangguan jiwa ialah kemiskinan. Pasien lain yang berobat ke RSJ Magelang merupakan mantan kuli kontrak di perkebunan Deli. Orang di sekitarnya menganggap si mantan kuli orang bingung. Begitu masuk RSJ, mantan kuli itu langsung ditanya petugas kesehatan tentang apa yang dirasakan, melihat sesuatu, atau mendengar hal-hal aneh. Diagnosis dokter, seperti dikutip Sebastiaan Broere dalam tesisnya “In and Out Magelang Asylum”, menyatakan si kuli menderita delusi parah. Mendiagnosis pasien pribumi di era kolonial tak mudah. Kebanyakan pasien menjawab tidak tahu ketika ditanya tentang kondisinya. Di RSJ Malang, mayoritas pasien dideskripsikan mengalami “bingung” atau linglung yang disebabkan oleh stres. Kebingungan para pasien itu menyebabkan para psikiatris Belanda ikut kebingungan lantaran kendala bahasa dan prasangka kolonial mereka. Psikiatris Belanda PHM Travaglino mengalaminya ketika berjaga di RSJ Malang pada 1920-an. Alhasil, Travaglino kerap kesulitan mendiagnosis pasiennya. Saking bingungnya, ia pernah membuat lelucon tentang kelompok pasiennya. Ada tiga: kelompok yang selalu menjawab tidak tahu, tidak mau, dan kelompok pasien yang belum diperiksa kejiwaannya. Travaglino percaya bahwa alam pikir orang Eropa dan pribumi berbeda. Menurutnya, kaum pribumi masih berada dalam tahap awal perkembangan evolusi sehingga kondisi psikologisnya amat emosional. Ia menganggap orang pribumi sering membuat keributan karena emosi yang meledak-ledak dan berpotensi 10 kali lebih tinggi membuat kerusuhan dibanding orang Eropa. Kebingungan dan prasangka rasial yang dialami psikiatris Eropa sudah menjadi pembahasan sejak permulaan abad ke-20. Pada 1906, Inspektur Layanan Medis Sipil AG Vorderman menyarankan Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri JH Abendanon untuk membentuk satuan tugas dokter pribumi yang khusus menangani gangguan jiwa. Pendapat Vorderman mengacu pada pengakuan Raden Soemeroe, seorang dokter Jawa, yang mengatakan pekerjaannya di RSJ Bogor amat berguna selain sebagai penerjemah juga memandu psikiatris Eropa memahami latarbelakang kultur para pasien pribuminya. “Misalnya, kata baik-buruk atau pintar-bodoh bermakna berbeda bagi orang Eropa dan pribumi. Penilaian tentang ketidaknormalan juga berbeda,” kata Soemeroe seperti dikutip Liesbeth Heeselink dalam Healers on the Colonial Market. Soemeroe lebih jauh berpendapat, pemahaman dokter Jawa pada karakter, bahasa, budaya, dan kondisi lingkugan pribumi memudahkan mereka untuk bersimpati pada pasien pribumi. Hal itu sulit dilakukan para dokter Eropa meski sudah mendapat pelatihan penanganan pasien pribumi. Pejabat layanan medis sipil agaknya mengamini pengakuan Soemeroe. Alhasil, satu atau dua orang dokter Jawa selalu dipekerjakan di RSJ Bogor dan Lawang, Malang untuk mendampingi dokter jiwa Eropa. Di sisi lain, kebijakan itu juga amat ekonomis lantaran meminimalisir anggaran untuk mempekerjakan dokter Eropa. Menurut Liesbeth, alasan ekonomilah yang paling mendorong Komite Kesehatan Kolonial menyepakati ide Soemeroe alih-alih penjabaran sosio-kulturalnya. Pada 1912, anggaran untuk RSJ makin ditekan. Alhasil, pasien pribumi lebih banyak dipegang oleh dokter Jawa dengan pengawasan rutin dokter Eropa. Padahal, seperti ditulis Hans Pols dalam NurturingIndonesia, para pendukung Politik Etis berpendapat bahwa psikologis pribumi dan orang Eropa sebenarnya serupa. CF Engelhard, pengawas kesehatan yang bertugas di Surakarta dan tinggal di Jawa hingga pasca-kemerdekaan, berpendapat bahwa perbedaan kondisi terjadi karena faktor eksternal. “Dengan penuh hormat pada budaya mereka, symptom, perkembangan, dan psikosis orang Jawa tidak berbeda dengan apa yang saya temui di Eropa,” kata Engelhard. Engelhard menyadari bahwa cara pandang semacam ini berkebalikan dengan apa yang diamini para psikiatris di era kolonial seperti Travaglino. Alih-alih menggarisbawahi persamaan, psikiatris Travaglino lebih menekankan pada perbedaan mendasar antara kondisi kejiwaan pasien pribumi dan Eropa.
- Mencintai Indonesia dalam Suka dan Duka
AGNES Monica alias Agnez Mo bikin heboh. Dalam wawancaranya dengan Build Series by Yahoo, penyanyi kelahiran Indonesia yang tengah go-international itu mengaku tak punya keterkaitan apapun dengan Indonesia. “Sebenarnya aku enggak punya darah Indonesia atau apapun itu. Aku (berdarah) Jerman, Jepang, China dan aku hanya lahir di Indonesia. Aku juga Kristen dan mayoritas di sana Muslim. Aku tidak bilang bahwa aku tidak berasal dari sana karena saya merasa diterima. Tetapi saya merasa tidak seperti yang lain,” cetusnya. Pernyataan itu sontak memancing respon netizen Indonesia. Banyak yang mengecam ia seolah jadi kacang lupa pada kulitnya atau mengutuk betapa tak bersyukurnya Agnes yang memulai kariernya dari penyanyi cilik di Indonesia. Pun begitu dengan sejumlah media yang ramai-ramai memberitakan pernyataan kontroversial Agnes dengan menitikberatkan pada “saya enggak punya darah Indonesia.” Alhasil, sejumlah tokoh maupun politisi ikut mengkritik Agnes. Padahal, bukan seperti itu maksud Agnes. Ia merasa pernyataannya disalahpersepsikan hingga dipelintir sejumlah pihak. Lewat akun Instagram-nya, Agnes memberi klarifikasi. “Orang-orang yang hanya ingin menyebar kebencian dengan memelintir pernyataan dan niat saya harusnya malu. Saya hanya mengatakan hal baik, bahkan ketika saya seorang minoritas, saya turut menyebarkan perbedaan yang luar biasa yang saya pelajari di negeri saya. Saya tak bisa memilih darah atau DNA saya, namun saya selalu berdiri untuk negara saya,” kata Agnes di akunnya, @agnezmo. Baginya, Indonesia tetap negeri yang dicintainya, terlepas baik atau buruk pengalaman hidup dalam keragaman yang pernah dirasakannya. Nama besar Indonesia tetap ingin diusungnya di pentas internasional manapun dia berkiprah sebagaimana dilakukan Luis Leeds, pembalap mobil milenial blasteran Indonesia-Australia. Luis Leeds bermimpi tampil di ajang F1 dengan bendera Indonesia (Foto: luisleeds96.com) Belakangan, Leeds “pulang” ke Indonesia, tanah kelahiran ibunya, karena menjatuhkan hati pada Indonesia ketimbang Aussie. Leeds mendambakan jadi pembalap Formula One (F1) dengan bendera merah-putih melekat di mobilnya. Dia tak peduli minimnya infrastruktur pendukung kariernya. “Saya bisa duduk seharian dan berbicara tentang mengapa saya mencintai Indonesia dan mengapa saya terinspirasi untuk pulang ke rumah. Dalam karier balap saya selalu memiliki bendera Indonesia tapi saya tidak pernah berdiri di podium dengan bendera Indonesia di belakang. Saya menyelesaikan musim 2018 (Formula 4) sebagai juara Australia. Jadi sekarang saatnya saya memberikan pengakuan kepada Indonesia bahwa saya merasa layak dan di sinilah saya,” ungkapnya saat diwawancara Kumparan, Jumat (22/11/2019). Hidup-Mati untuk Indonesia Harus diakui, hingga kini pengakuan dunia kepada Indonesia lebih banyak berasal dari bidang olahraga dibanding bidang musik yang dijalani Agnez Mo. Mayoritas pengakuan internasional itu datang dari bulutangkis, olahraga yang semua gelar kejuaraan prestisius internasionalnya pernah dijuarai atlet Indonesia. Dari sekian banyak “pahlawan” yang mengharumkan nama bangsa lewat bulutangkis itu, banyak yang beretnis Tionghoa, beragama minoritas, dan punya pengalaman pahit soal diskriminasi. Pun begitu, mereka hanya mengakui Indonesia sebagai negerinya. Tak pernah ada pernyataan “sekadar numpang lahir di Indonesia” dari mereka. Lie Ing Hoa alias Ivana Lie, contohnya. Kendati status kewarganegaraannya lama tak diakui, dia berulangkali memberi kebanggaan pada negeri dengan menjuarai berbagai kejuaraan internasional. “Lima tahun bertanding di luar negeri, (saya, red.) pakai selembar kertas seperti surat jalan yang menyatakan saya warga negara Indonesia. Jadi sebenarnya lima tahun itu saya stateless. Sedih rasanya. Secara manusia perlu pengakuan ya. Saya merasa bahwa saya lahir di Indonesia, saya berbudaya, berbahasa, merasa sebagai bangsa Indonesia dan sudah membuktikan dengan bertanding bawa nama Indonesia,” kata Ivana kepada Historia. Ivana baru mendapat kewarganegaraan pada 1982 dengan keluarnya SBKRI. Selepas pensiun pada 1990, ia tetap mendarmabaktikan diri menjadi pelatih tim bulutangkis Indonesia hingga kemudian dipercaya jadi staf ahli Menpora Andi Mallarangeng dan Roy Suryo. Kisah serupa juga dialami Liang Tjiu Sia, pelatih yang melahirkan banyak srikandi bulutangkis tingkat dunia seperti Susy Susanti. Sia lahir di Cirebon 69 tahun lampau. Kendati merintis karier di China akibat diskriminasi rasial pada 1966 membuat sekolah Tionghoa yang diikutinya bubar, ia kembali ke Indonesia pada 1985 untuk menjadi pelatih pelatnas putri PBSI. SBKRI didapatnya baru empat tahun kemudian. Kiri ke kanan: Ivana Lie, Christian Hadinata, Liang Tjiu Sia, Alan Budikusuma (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Kepelatihan Sia berjalan hingga 2003. Meski China meminta servisnya kembali setelah itu, Sia menolaknya. “Separuh hidup saya sudah di sana (Cina). Saya inginnya menghabiskan umur di sini. Saya kan lahir di sini. Mati juga inginnya di sini,” ujarnya kepada Historia. Kebanggaan pada Indonesia sebagai “tanah tumpah darah” juga lekat di diri Tjhie Beng Go’at alias Christian Hadinata. Pria kelahiran Kebumen, 11 Desember 1949 ini enggan “menggadaikan” negerinya demi apapun. Setelah jadi langganan juara di mancanegara sebagai pemain, ia memilih jadi pelatih Indonesia. Pantang ia menerima tawaran melatih negeri lain. “Bulutangkis Indonesia sudah membesarkan nama saya. Masak sih enggak mau mengembalikan sesuatu untuk bulutangkis nasional? Saya kepingin mengembalikan, dalam arti tenaga, pikiran, waktu, untuk bisa tetap membangun prestasi bulutangkis Indonesia seperti yang sudah dibangun para senior saya,” ujar Christian. Kebanggaan pada Indonesia sebagai tanah-air yang tak kalah besar tentu terdapat dalam diri Susy Susanti (Wang Lianxiang). Ketika ia berlaga di Uber Cup 1998 di Hong Kong yang berbarengan dengan huru-hara 1998, Susy tetap mati-matian memperjuangkan nama baik negerinya di lapangan meski rumah orangtuanya di Tasikmalaya sempat dibakar massa. Kebanggaan pada Indonesia itu tercermin dari jawabannya ketika diwawancara reporter CNN, apakah dirinya akan meminta suaka ke pemerintah Hong Kong dan apakah dia masih menganggap orang Indonesia. “Saya tidak menganggap diri saya orang Indonesia. Saya tidak perlu menganggap begitu. (Karena) saya orang Indonesia. Dan akan selalu menjadi orang Indonesia,” jawab Susy. Alan Budikusuma (Goei Renfang), suami Susy yang kala itu masih jadi pacar, setali tiga uang dengan Susy. Saat ingin menikahi Susy pada 1997, keduanya kesulitan mengurus dokumen pernikahan gegara perkara SBKRI. Betapapun demikian, cintanya pada Indonesia tak luntur. “Saya mempertanyakan kenapa SBKRI harus ada? Kenapa saya dipertanyakan tidak nasionalis, padahal saya bangga dengan Indonesia. Saya lahir di Indonesia (Surabaya, 29 Maret 1968). Orangtua saya juga lahir di Indonesia. Kita pun ingin meninggal di Indonesia, bukan di luar (negeri). Saya orang Indonesia walaupun saya orang Tionghoa,” tutur Alan. Ragam Indonesia dalam DNA Kisah-kisah mereka hanya seujung kuku dari sejumlah orang Indonesia lain yang bangga mengakui Indonesia sebagai negerinya kendati pernah didera perlakuan diskriminatif. Isu rasial memang masih jadi “penyakit” yang belum kunjung sembuh. Penyakit sosial warisan kolonial Belanda itu menyisakan kepahitan pada golongan minoritas. Celakanya, banyak orang tak paham terhadap konsep Indonesia sehingga seringkali berlaku rasis, seperti yang dilakukan dalam merespon pernyataan Agnes. Fenomena ini membuat sejarawan Bonnie Triyana mengatakan bahwa apa yang disampaikan Agnes esensinya sudah betul karena Indonesia dibangun dari konsensus beragam orang dengan latar belakang ras, etnik, politik, dan agama berbeda. Indonesia tidak dibangun dari keterikatan ras yang homogen. Namun, cara penyampaian Agnes saja yang kurang tepat sehingga menimbulkan misinterpretasi dari masyarakat, terutama di dumay. “Identitas kebangsaan Indonesia tidak dibentuk berdasarkan darah (biologis). Kalau Agnes mau menjelaskan dia secara biologis bukan orang Indonesia, padahal untuk jadi orang Indonesia enggak butuh pembuktian biologis, ya dia enggak bisa membedakan konsep ras (biologis), etnis (non-biologis) dengan kebangsaan (sosiologis-politis),” cetus Bonnie. Najwa Shihab dan Grace Natalie yang turut mengikuti tes DNA dalam rangka Pameran Asal Usul Orang Indonesia (Foto: Dok. Historia) Ketidakpahaman masyarakat akan keindonesiaan itulah yang mendorong Historia.id bersama Kemendikbud menggelar pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) melalui proyek tes DNA. Sejumlah relawan yang dites ternyata memiliki nenek moyang beragam darah dari berbagai penjuru dunia. Hasil tesnya menjadi bukti bahwa apa yang disebut orang Indonesia menggugurkan konsep pribumi-nonpribumi, warisan kolonial yang menguat sejak beberapa tahun ke belakang. Bukti heterogenitas individu Indonesia antara lain, hasil tes DNA presenter kondang Najwa Shihab. Di ranah publik ia disebut berdarah Arab. Namun hasil tes DNA-nya menyatakan mayoritas DNA-nya berasal dari Asia Selatan, yakni 48,54 persen. DNA Timur Tengahnya hanya 3,48 persen. Sementara, di tubuhnya bercampur banyak DNA mulai dari Afrika Utara, Asia Timur, hingga Eropa Selatan. “Di tengah begitu banyak perbedaan yang ada di dalam diri kita, sesungguhnya ini juga menguatkan bahwa satu hal yang menjadikan kita Indonesia adalah niat bersama untuk menjadikan ini rumah bagi semua. Indonesia adalah rumah bersama dan merah-putih jadi tujuan kita sama-sama,” kata Najwa. Hasil tes DNA Grace Natalie, ketua Partai Solidaritas Indonesia, juga menjadi bukti bahwa Indonesia merupakan percampuran banyak ras. Kendati penampakannya sangat Tionghoa, yang membuatnya acap jadi korban diskriminasi, hasil tes DNA- Grace adalah: 76,92 persen Asia Timur, 21,98 persen Diaspora Asia, 1,11 persen Asia Selatan, dan 0,01 persen Afghanistan. "Yang menyatukan kita adalah kesamaan nilai, kesamaan visi, kesamaan cita-cita,” kata Grace.





















