Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nas yang “Ditendang” ke Atas
JENDERAL Abdul Haris Nasution duduk termenung di depan meja kerjanya. Sejurus kemudian, Nas (panggilan akrab Nasution) menerima telepon dari Mayjen Ahmad Yani. Oleh bawahannya itu, dia diberitahu bahwa tiga hari lagi, mereka akan serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). “Saya merasakan dalam posisi yang mengambang. Memang dalam prakteknya sudah lama Yani memegang pimpinan sehari-hari dalam AD,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama . Dalam pembicaraan di telepon, Yani mengatakan bahwa dirinya menginginkan serah terima secara formal. Para panglima Angkatan Bersenjata dan pejabat teras AD telah diundang menghadiri acara tersebut. Nasution sendiri rencananya akan menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB). Itu artinya, Nas melepaskan kedudukannya dari fungsi komando AD. Memang saat itu, Nas sudah mulai jarang memegang kendali di AD. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di Departemen Pertahanan dan Keamanan sembari keliling daerah. Yani yang semula adalah Deputi II-nya Nasution digadang oleh Presiden Sukarno untuk memimpin AD. “Rupanya Jenderal Yani tidak ada maksud menunda, walaupun saya sedang menghadapi krisis soal KSAB tadi yang tak dapat saya terima dengan rela hati,” ujar Nas. Titah Panglima Tertinggi Pada pagi hari, 23 Juni 1962, serah terima berlangsung di Istana Negara. Presiden Sukarno melantik Ahmad Yani sebagai KSAD. Bintang tiga pun melekat di pundaknya. Yani resmi menjadi orang nomor satu di jajaran AD, menggantikan Nasution. Dalam pidato pelantikan itu, Presiden Sukarno tidak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya atas pengabdian Nasution. “Jendral Abdul Haris Nasution, dengan saya mengucap banyak-banyak terima kasih atas segala jasa-jasa yang telah beliau berikan kepada tanah air, negara dan bangsa, kami berhentikan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan kami angkat Jenderal Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata,” kata Bung Karno dalam amanatnya yang diterbitkan Departemen Penerangan. Pada kesempatan itu, Sukarno juga mengumumkan reorganiasi angkatan bersenjata. AD, AL, AU, dan Angkatan Kepolisian diintergrasikan langsung di bawah naungan presiden selaku Panglima Tertinggi. Masing-masing kepala staf akan diangkat jadi setingkat menteri dengan kedudukan sebagai panglima: Pangad, Pangal, Pangau, dan Pangak. “Maka untuk mengintegrasikan keempat Angkatan ini, saya adakan Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan saya pandang cakap saudara Abdul Haris Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersendjata itu,” demikian maklumat Sukarno. Bagi Yani, itulah hari paling membanggakan dalam hidupnya. Yani menggapai puncak kariernya sebagai seorang perwira militer. Namun bagi Nasution, tampaknya menjadi hari yang kelabu. Nasution Disingkirkan Jabatan KSAB terdengar mentereng. Namun sesungguhnya, kedudukan itu sama sekali tanpa wewenang komando. Komando operasi TNI sudah ada dalam Komando Operasi Tertinggi (KOTI) di bawah komando presiden. Adapun kepala staf KOTI juga dijabat oleh Ahmad Yani. Nasution mengeluh seakan dirinya ditendang ke atas. “Saya merasa bahwa ini adalah jabatan kosong,” kata Nas dalam memoarnya. “Jadi bagi KSAB akan tertinggal hanya soal-soal koordinasi administrasi.” Nasution telah memegang jabatan tertinggi dalam AD selama tujuh tahun berturut-turut. Sebagai wujud regenerasi kepemimpinan, wajar saja bila Nasution diganti. Kendati demikian, rupanya ada prahara politik antara Sukarno dan Nasution. Menurut penelitian Ulf Sundhaussen dalam disertasinya di Monash University, Nasution sengaja disingkirkan karena galak mengkritik Sukarno. Kritik ini terutama menyangkut korupsi dan kehidupan pribadi. Perkara inilah menyebabkan Nasution dicopot agar kekuasaannya dalam AD tidak semakin besar. “Siapapun yang akan menggantikan Nasution dalam pimpinan tentara tidak boleh mempunyai kekuasaan dan kemahiran yang sama dengan yang dimilikinya untuk memimpin kegiatan-kegiatan politik tentara,” tulis Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945—1967 . Urusan Pribadi Penyingkiran Nasution menyingkap ironi. Nasution adalah sosok berjasa dibalik tegaknya kekuasaan Sukarno ketika mengumumkan Dekrit 5 Juli 1959. Pakar politik-militer Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto mengatakan , “Nasution yang anti-Komunis adalah penghalang utama agenda politik Nasakom Sukarno . ” Urusan personal ternyata juga turut jadi faktor merenggangnya relasi Sukarno dan Nasution. Sukarno kurang menyukai sikap puritan ala Nasution. Apa yang terjadi kemudian pada mereka adalah hubungan yang tidak serasi yang berkembang jadi perselisihan. Cekcok antara Sukarno dan Nasution biasanya bermula dari hal-hal kecil yang tidak disengaja. Akibatnya bisa fatal. Seperti misalnya, ketika Nasution tiba-tiba harus meninggalkan Sukarno dalam rapat atau pertemuan dengan tamu penting di Istana untuk melaksanakan ibadah salat. Nasution menyadari sikapnya dapat menggangu protokoler kenegaraan yang ketat. Tapi sebagai penganut Islam yang taat, Nasution tidak mungkin menggadaikan imannya demi aturan-aturan protokoler. Nas juga selalu bersikap antipati terhadap siapa saja lelaki yang mengambil istri kedua. Prinsip tersebut tidak berubah ketika Sukarno menikahi Hartini setelah memperistri Fatmawati. Dia selalu menolak undangan Sukarno sowan ke Istana Bogor, dimana Hartini menjadi nyonya disana. Sang jenderal pun kerap meninggalkan acara tari lenso yang sangat digemari Sukarno. Bung Karno sampai pernah berkata dengan sebal pada Nasution, “ Je leert het nooit. ” Artinya, “Kamu tidak pernah mempelajarinya.” Sukarno kadung jengkel. Nasution harus dipinggirkan. Demikianlah yang akhirnya terjadi. “Baru kelak setelah G30S saya dapat tahu bahwa sayalah orang ‘kepala batu’ yang perlu disingkirkan,” kenang Nas.
- Roman Sepakbola Negeri Jiran
MALAYSIA tampak lebih maju dari Indonesia soal bal-balan . Duel keduanya dalam kualifikasi Piala Dunia 2022, Kamis (5/9/2019), sudah cukup membuktikan kualitas sepakbola mana yang lebih maju saat ini. Indonesia keok 2-3 meski main di kandang. Padahal, kandang Indonesia selama ini terbilang angker bagi tim negeri jiran itu. Rivalitas sengit antar-kedua negara membuat suporter Indonesia mati-matian mendukung tim kesayangannya jika berhadapan dengan Malaysia. Lagi-lagi, faktor mental pemain berperan penting dalam tiap pertandingan. Para pemain Malaysia terlihat lebih matang dalam mental sejak beberapa tahun belakangan. Hal itu dibuktikan oleh keberhasilan Malaysia merepotkan Indonesia kala bertanding di Indonesia. Sebaliknya, para pemain Indonesia tampak “mati gaya” kala bermain di Malaysia. Lantas, bagaimana sepakbola Malaysia bermula dan bisa sampai berkembang seperti saat ini? Bentangan Masa Bola Sepak Malaysia Kendati induk organisasi sepakbola Malaysia sudah eksis sejak September 1926, bisa dipastikanpermainan sepakbola telah menjalar ke negeri itu lebih awal. Sepakbola diperkenalkan orang-orang Inggris di Singapura ke British Malaya mulai akhir 1880-an. Klub-klub amatir lalu bermunculan bak jamur di musim hujan hingga mencapai semenanjung dan kemudian Borneo. “Singapore Amateur Football Association (SAFA) sudah berdiri pada 1892. Walau awalnya hanya untuk pemukim Eropa, olahraga ini lantas menular ke komunitas Melayu dan Cina. Kompetisi lintas negeri saja sudah mulai pada 1894 ketika tim Eropa dari Singapore Cricket Club melawat ke utara menuju Johor untuk berlaga melawan tim Melayu, Johor Football Club XI,” sebut Charles Little,pakar hubungan Malaysia-Singapura dari London Metropolitan University, dalam ulasannyayang berjudul “Hamlet without the Prince: Understanding Singapore-Malaysian Relations through Football” yang dimaktub dalam Football in Asia: History, Culture and Business. Namun, hingga kini klub apa yang tertua di Malaysia masih sumir. Situs resmi FAMhanya menyebutkan Selangor FA-lah klub tertua dan masih merumput saat ini. Meski dicantumkan lahirnya pada 1936 (berubahnya SAFL menjadi Selangor FA),klub itu sudah berakar sejak 1905 dengan menggalang kompetisi tahunan internal, Selangor Association Football League (SAFL) mulai 1906. Tim-tim yang mengikuti kompetisi itu semua tim di bawah naungan Selangor FA yang berbasis di Kuala Lumpur. Kompetisi itu dihelat untuk memperebutkan gelar Watson Shield, yang diambil dari nama Residen Selangor kala itu, R.G. Watson. Merujuk catatan rsssf.com , Selangor Club jadi juara di perhelatan pertamanya dan Recreation Club sebagai runner up -nya. K ompetisi resmi yang disepakati bersama seluruh negara bagian British Malaya sendiri baru tiba hampir dua dasawarsa berselang dengan digelarnya HMS Malaya Cup pada 1921. Kompetisi diprakarsai para perwira dan kru kapal perang HMS Malaya yang s e d an g b er l a buh di Kuala Lumpur. Mengutip periset politik, budaya, dan olahraga Jerman Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation , kompetisi itu dihelat sebagai balas budi atas sambutan hangat masyarakat setempat. Kompetisi lantas rutin diadakan tahunan hingga dinamai Malaya Cup (pada 1963 berubah jadi Malaysia Cup). “Segera setelah lahirnya kompetisi itu, sepakbola menyebar lebih luas ke pelosok negeri yang lantas mendirikan asosiasi-asosiasi mereka sendiri. Saat itu komposisi tim-timnya masih berdasarkan latarbelakang etnis setempat seperti Cina, Melayu, dan Eropa,” sebutnya. Medio September 1926, lahirlah MFA untuk mewadahi asosiasi di masing-masing negara bagian yang satu dekade berselang berubah menjadi FAM. SAFA kala itu masuk sebagai anggota FAM. Timnas Malaysia bersama PM Tunku Abdul Rahman usai memenangi Pestabola Merdeka 1958 (Foto: Wikipedia) Sebagaimana di negara-negara lain, sepakbola Malaya “mati suri” saat Perang Dunia II dan baru bangkit tahun 1950-an,utamanya setelah diterima masuk sebagai anggota AFC dan FIFA pada 1956.Pada 1950, SAFA (sejak 1966 berubah menjadi Football Association of Singapore/FAS) memilih keluar dari FAM. “Perdana menteri pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman terlibat langsung dalam pembangunan Merdeka Stadium yang menjadi tempat perayaan kemerdekaan pada 1957. Pembangunannya mensinyalkan perhelatan Turnamen Merdeka, sebuah turnamen internasional dengan prestis tinggi untuk negara-negara Asia,” kata Weinberg. Di turnamen tertua Asia yang punya sebutan asli Pestabola Merdeka itu, tim Hong Kong League keluar jadi juaranya. Timnas Malaya sendiri hanya menduduki posisi buncit putaran final yang bersistem klasemen itu. “Tim federasi (Malaya, red. ) memang tak berjaya, namun setidaknya kita bisa berbahagia memikirkan bahwa kita telah menjalankan program yang tak hanya diniatkan untuk menghibur pecinta bola namun juga mempromosikan niat baik, semangat olahraga yang baik dan persahabatan dengan semua negara di dunia,” kata PM Tunku Abdul Rahman, dikutip Weinberg.
- Bambu Runcing Dibilang Pagar
SJAFTA (92) masih ingat kejadian 70 tahun lalu itu. Di pagi yang dingin, dia bersama 18 orang kawannya mengendap-endap di sebuah bukit hijau dekat perbatasan Cianjur dengan Sukabumi yang mengapit jalan setapak. Tak seorang pun di antara mereka yang memegang senjata api kecuali stengun yang dimiliki Letnan Anwar, sang pemimpin lasykar. “Kami masing-masing hanya memegang sebilah bambu runcing yang dibuat secara terburu-buru di hutan Caringin (terletak di tenggara Cianjur) malam sebelumnya,” kenang eks anggota Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) itu. Satu setengah jam baru saja berlalu, saat dari kejauhan tetiba terdengar suara berbicara dalam bahasa Belanda. Rupanya patroli yang mereka tunggu sudah mulai datang; sekitar 9 prajurit berseragam hijau kekuning-kuningan, yang sebagian besar merupakan bule totok. Mereka berjalan tak teratur, dan dalam posisi lengah. Begitu rombongan tersebut melintas di bawah mereka, Letnan Anwar meneriakkan aba-aba untuk menyerbu. “Serang...!” Sjafta dan kawan-kawannya langsung berloncatan. Dalam hitungan detik, darah pun menyembur diiringi teriakan beringas para gerilyawan bersanding dengan jeritan panik para serdadu yang rata-rata seusia. Sjafta sendiri berhasil menusuk lambung seorang serdadu hingga tewas di tempat. Bisa dikatakan, penghadangan itu sukses besar: sembilan serdadu musuh tewas dan semua senjata berhasil dirampas oleh pasukan Letnan Anwar. Di tengah minimnya senjata (sepuluh berbanding satu), para pejuang Republik tidak punya banyak pilihan lain kecuali menggunakan bambu runcing sebagai alat untuk menghadapi musuh mereka. Sebagai senjata, bambu runcing mulai dikembangkan semasa pendudukan Jepang, yang saat itu dikenal dengan sebutan takeyari . Sejatinya bilah bambu ini digunakan untuk menghadang pasukan payung musuh yang diterjunkan dari udara. Tentara Jepang juga melatih laki-laki dan perempuan cara menggunakan takeyari , yang kalau digunakan biasanya dibarengi teriakan keras dan pekik kemarahan. “Laiknya seorang prajurit tengah menggunakan senapan bersangkur,” tulis R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali! Semasa dididik menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada 1944, almarhum Mayor Jenderal TNI (Purn.) Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasinya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, eks pimpinan Pertempuran Surabaya itu berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul "Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare ". Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu. Banyak cara yang dilakukan oleh para pejuang Republik untuk menjadikan bambu runcing miliknya “bukan hanya sekadar bambu”. Dalam bukunya yang berjudul Guruku Orang-Orang dari Pesantren , Syaifuddin Zuhri menyebut figur Kyai Haji Subkhi, seorang ulama besar di Parakan, Temanggung yang pada masa revolusi kemerdekaan dijuluki sebagai Kyai Bambu Runcing. Julukan itu muncul karena Kyai Subkhi menciptakan sejenis bambu runcing yang disepuh doa untuk nantinya digunakan para pejuang republik di medan laga. Uniknya, para petarung yang datang ke Parakan bukan hanya berasal dari kalangan santri. Para laskar yang tergabung dalam barisan kaum kiri juga mendatangi Kyai Subkhi sekadar untuk mendapatkan barokahnya! Di antaranya adalah Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman (tokoh PKI) dan Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di bawah pimpinan Krissubbanu. Selagi menjadi kepala Kepala Staf Komandemen I TKR Jawa Barat pada 1946, Kolonel A.H. Nasution pernah memiliki kisah lucu terkait bambu runcing ini. Pada suatu hari, dia berkesempatan menemani Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara (MBT) Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo melakukan inspeksi ke Resimen XIII di wilayah Tanjungsari, Sumedang. Begitu rombongan Pak Oerip sampai di lapangan, serentak komandan pasukan berteriak: “Hormat senjataaa...!” Namun, bukan bedil yang diangkat melainkan bambu runcing. Pak Oerip membalas sikap hormat itu dengan khidmat layaknya seorang komandan tertinggi. Namun, sambil berjalan memeriksa barisan pasukan bambu runcing tersebut, Pak Oerip masih sempat berbisik dalam nada gurauan kepada Nasution: “Nas, kamu suruh aku periksa pagar bambu ya?” demikian kisah Nasution dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid III.
- Pilot Amerika Membantu Indonesia
Simpati terhadap perjuangan kemerdekaan, pilot Amerika Serikat menawarkan bantuan. Gugur dalam tugas.
- Riwayat Islam di Bali
MAJAPAHIT tidak pernah mati di Bali. Pengaruh kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara itu begitu besar di sana. Hampir semua bidang kehidupan, utamanya setelah ekspansi besar Maha Patih Gajah Mada di Bali pada 1343, terpengaruh oleh kebudayaan Jawa yang dibawa Majapahit. Begitu kentalnya pengaruh tersebut, hingga penyebaran pertama agama Islam di Pulau Dewata itu juga tidak terlepas dari campur tangan Prabu Hayam Wuruk (1350–1389), raja yang membawa Majapahit pada puncak kejayaannya. Syahdan, di wilayah pemerintahan Majapahit, komunitas Muslim telah mendapat tempat yang cukup kuat. Menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar, dalam tulisannya “Beberapa Catatan Mengenai Keagamaan pada Masa Majapahit Akhir” dimuat Pertemuan Arkeologi IV , di bawah kekuasaan Hayam Wuruk banyak penduduk Majapahit yang sudah memeluk Islam. Sebagai bukti, para arkeolog telah berhasil menunjuk pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. “Mengingat pemakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, dapat disimpulkan ini adalah pemakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” ungkap Hasan. Menetap di Bali Masyarakat Muslim di Bali muncul berkat hubungan diplomatik yang baik antara Majapahit sebagai negara penguasa dengan Bali sebagai negara vasal (negara yang dikuasai). Ketika Hayam Wuruk memerintah, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460), putra raja pertama Samprangan Sri Aji Krisna Kepakisan alias Dalem Sri Kresna Kepakisan (memerintah 1352), mendapat undangan berkunjung ke Keraton Majapahit pada 1380-an. Saat itu, Hayam Wuruk sedang mengadakan konferensi di kerajaannya. Turut diundang dalam acara tersebut negara-negara koloni Majapahit dari seluruh wilayah Nusantara. Dalem Ngalesir datang mewakili Kerajaan Gelgel, pecahan dari Kerajaan Samprangan yang dikuasai kakak tertuanya. Dalam buku Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang , peneliti senior Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Dhurorudin Mashad menceritakan bahwa ketika kembali ke Gelgel, Dalem Ngalesir mendapat pengawalan dari pemerintah Majapahit. Ia diberi 40 orang pengiring dalam perjalanan pulangnya itu. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai tentara, sementara sisanya berkerja sebagai juru kapal dan juru masak. Yang menarik, para pengawal tersebut seluruhnya beragama Islam. Spekulasi pun akhirnya muncul di antara para ahli. Banyak yang beranggapan Hayam Wuruk ingin mengurangi jumlah populasi Muslim yang terus berkembang di pusat pemerintahannya. Ia khawatir kaum minoritas itu akan mendominasi daerah kekuasaannya. Mengingat Majapahit adalah kerajaan Syiwa-Buddha. “Realitas itu tentu menjadi fakta yang sangat aneh dan memerlukan kajian historis secara lebih mendalam,” tulis Dhurorudin. Setelah sampai, 40 orang Islam itu enggan kembali ke wilayah Majapahit dan memilih untuk tinggal di Bali. Akhirnya oleh Dalem Ngalesir mereka diberi satu daerah pemukiman khusus di Gelgel. Keempat puluh orang itu pun diperintahkan mengabdi kepada Kerajaan Gelgel, tanpa syarat apapun. Artinya mereka tidak harus berpindah kepercayaan mengikuti agama yang berkembang di Gelgel. Sehingga praktis agama Islam pun memulai perjalanannya di Bali. “Rombongan muhibah (harta yang tidak berwujud) politik kaum Muslim generasi pertama di Bali akhirnya menetap dan kawin mawin dengan wanita Bali,” tulis Dhurorudin. Komunitas Muslim pertama Bali itu lalu membangun masjid di Gelgel, yang sekarang dikenal sebagai masjid tertua di tanah Bali. Sejak saat itu Islam mulai melakukan aktivitasnya. Menghalau Pengaruh Islam Setelah Dalem Ngalesir melepaskan takhtanya, Kerajaan Gelgel-Klungkung diperintah oleh Dalem Waturenggong (1460/1480--1550). Masa ini juga menjadi puncak kejayaan Islam di Nusantara. Sementara Hindu-Buddha, termasuk Majapahit, pengaruhnya kian surut akibat banyak kerajaan yang mulai menerima keberadaan agama Islam di wilayahnya. Majapahit sendiri mendapat serangan dari Kesultanan Demak pada 1518. Akhirnya keruntuhan kerajaan besar itupun tidak lagi dapat dihindari. Momen kehancuran Majapahit lalu dimanfaatkan oleh Dalem Waturenggong untuk memerdekakan wilayah Bali dan memperluas wilayah kekuasaannya. Berhasil merebut dan mengislamkan wilayah Majapahit di Jawa, Demak pun berencana melancarkan aksi serupa di Bali. Namun kali ini mereka tidak menggunakan jalan penaklukkan, tetapi melalui perdamaian. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521-1546), Demak mengirim utusan ke Kerajaan Gelgel-Klungkung. Menurut Dhurorudin ekspedisi damai itu bertujuan menjalin hubungan baik sebagai sesama mantan vasal Kerajaan Majapahit. “Namun, intinya tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam,” tulis Dhurorudin. Tetapi Dalem Waturenggong tidak tertarik dengan misi Islamisasi di wilayah kekuasaannya. Sang raja lalu menyusun berbagai macam rencana untuk menghalau pengaruh Islam di Bali. Sementara utusan dari Demak yang tidak diterima raja memilih bergabung dengan komunitas Muslim yang sudah ada di Gelgel guna memperkuat posisi Islam di wilayah Bali. Menurut Dhurorudin alasan Gelgel tidak dapat menerima pengaruh Islam di Bali adalah ikatan historis emosional dengan Majapahit. Meski terbebas dari kuasa vasal Majapahit, tetapi penyerangan Demak tidak bisa begitu saja diterima. “Mereka (para pangeran dan mantan pejabat Majapahit) yang lari ke Bali tentu menyebarkan informasi tentang nasib tragis mereka ke penduduk lokal, sehingga ikut menjadi kurang bisa menerima Islam,” tulis Dhurorudin. Dalam Babad Dalem: Warih Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan karya Tjokorda Raka Putra disebutkan bahwa setelah menjadi negeri merdeka, Waturenggong segera memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Ia berhasil menguasai ketiga wilayah itu antara tahun 1512 sampai 1520. Menurut I Made Sumarja, dkk. dalam Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangan Pemukiman Islam di Desa Kecicang Kabupaten Karangasem Provinsi Bali perluasan wilayah Kerajaan Gelgel-Klungkung hingga ke Lombok merupakan usaha lain Waturenggong menghadang penyebaran ajaran Islam di negerinya. Lombok menjadi pilihan terbaik bagi Waturenggong untuk menghentikan Islam masuk ke Bali. Dengan menguasai Lombok, yang sejak 1500-an telah menerima keberadaan agama Islam, maka Gelgel-Klungkung terhindar dari pengepungan. Mereka dapat fokus kepada Islam Demak yang datang dari Jawa. Namun selepas Dalem Waturenggong, tidak ada lagi raja yang mampu membangun Gelgel-Klungkung. Kerajaan itu pun akhirnya terpecah dan mulai menunjukkan kemunduran. Akibatnya, kekuasaan mereka di Lombok berhasil diruntuhkan. Penguasa Klungkung selanjutnya memilih menjalin hubungan baik dengan Lombok, bukan menaklukkan dengan paksaan. Setelah itu penyebaran masyarakat Muslim dari Lombok ke Bali mulai gencar terjadi. Meski pengaruhnya di masyarakat tidak dapat menggeser dominasi Hindu, yang telah berabad-abad menjadi kepercayaan utama rakyat Bali. “Lama-lama terjadi akulturasi komunitas Hindu-Muslim, terbangun kultur perekat yang lebih menonjolkan kesamaan serta saling menghargai dan menghormati,” tulis Dhurorudin
- "Ciuman" Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara
MENDENGAR Ibu Fatmawati Sukarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965. Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu. Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i , ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan. “Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati. “Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana. “Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.” Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu. Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6 . Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya. “Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat. “Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu. “Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.” Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat. Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta. Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.
- Ironi Operasi CIA di Indonesia
AWAL April 1958, Kolonel Achmad Yani merencanakan sebuah operasi militer gabungan di ruang makan rumah Letkol Rukminto Hendraningrat di Jalan Lembang, Jakarta. Yani memilih rumah tetangganya itu karena di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tidak aman. Sebelumnya, perintah operasi darinya yang dirancang di MBAD telah disadap pemberontak PRRI/Permesta.
- Sikap Sukarno Terhadap Kaum Intelektual
PAGI, 24 April 1961. Sebuah pesawat mendarat di Pangkalan Udara Andrews, Maryland, Amerika Serikat, disambut Presiden John F. Kennedy bersama sejumlah pejabat pemerintah. Orang yang ditunggu-tunggu Kennedy tak lain adalah Presiden Sukarno dari Indonesia yang hari itu memulai kunjungan resmi kenegaraannya ke Amerika Serikat. Sukarno dan rombongan disambut oleh Kennedy dalam suatu upacara resmi. Setelah sedikit bercengkrama, perjamuan kemudian dilanjutkan di White House dalam suasana yang lebih santai. “Ini adalah isyarat sambutan kehormatan luar biasa yang dilakukan Presiden Amerika kepada pemimpin Indonesia,” tulis Walentina Waluyanti de Jonge dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen.
- Pejuang Merdeka Beda Bangsa
Mereka bukan bumiputra, tapi tergerak membela Indonesia. Tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan 1945-1949.
- Operasi Terakhir Petinggi CIA di Indonesia
ALFRED C. Ulmer baru saja menempati posisi sebagai kepala divisi CIA untuk Timur Jauh. Sebelumnya, dia menjabat kepala stasiun CIA di Athena, Yunani. Ketika mengambil alih divisi ini, dia hampir tak tahu apa-apa tentang Indonesia. Namun, dia dipercaya penuh oleh Allen Dulles, Direktur CIA. Ulmer mendapatkan tugasnya ketika pada akhir tahun 1956, Frank Gardiner Wisner, Deputi Direktur Perencanaan CIA, mengatakan kepadanya: “sudah waktunya menaikkan suhu panas atas Sukarno dan memanggang kakinya di atas api”.
- Agen CIA dalam Pemberontakan di Sumatra
USS Thomaston dikawal kapal selam USS Bluegill berangkat dari pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Subic, Filipina. Tiba di Sumatra pada 11 Februari 1958. Kapal itu membawa persenjataan: ratusan pucuk pistol, ribuan senapan submesin, dan jutaan peluru, untuk pemberontak PRRI/Permesta. Operasi mendukung PRRI/Permesta ini bersandi Operasi Haik.





















