top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Lumbung Padi yang Jadi Kawasan Industri

    KINI, Karawang dikenal sebagai kawasan industri. Ratusan pabrik beroperasi di sana. Padahal, hingga akhir 1980-an Karawang dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat. “Dulunya adalah masyarakat pertanian, mayoritas penduduknya petani namun berubah,” kata Profesor Aiko Kurosawa dalam diskusi “Historical and Land Use Transformation in Industrial Society” di LIPI, Kamis (15/08/2019). Bersama antropolog Makoto Iko dan sosiolog Tagayasu Naito, Aiko sejak tahun lalu melakukan studi peralihan kawasan agraris menjadi industri di Desa Sukaluyu, Teluk Jambe, Karawang. Menurut Aiko, di masa kolonial Tegal Jambe termasuk tanah partikelir yang disebut Tegalwaru Landen. Tuan tanah berkuasa di sana baik secara ekonomi maupun administrasi. Para petani penggarap diwajibkan menyerahkan 20 persen hasil panen. Para tuan tanah juga menentukan siapa saja yang boleh berbisnis di wilayahnya. Setelah merdeka, sawah sebagai tanah partikelir dibagikan sebagai hak milik kepada pengggarapnya (petani). Sedangkan tanah kongsi atau tanah yang tidak digarap oleh rakyat, diambilalih pemerintah dan jadi milik Kementerian Perhutanan. Sawah-sawah yang jadi milik petani itu tetap digarap pemiliknya hingga era Orde Baru. Lantaran arealnya sangat luas, pemerintah menjadikannya kawasan agraris penghasil padi terbanyak Indonesia. Perhatian besar pada pertanian Karawang dicurahkan untuk mencapai swasembada pangan dengan penanaman bibit unggul, penggunaan pestisida, dan pembangunan saluran irigasi. Usaha ini membuahkan hasil dengan produksi yang melimpah pada 1984, yakni 25,8 juta ton. Namun, surplus beras ini tak bertahan lama. Soeharto berubah pikiran. Kawasan agraris ini diubah menjadi kawasan industri. Pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan industri dimulai pada akhir 1980-an. Peran spekulan tanah sebagai calo sangat penting dalam pembebasan tanah petani itu. Sebanyak 538 hektare tanah darat di bagian selatan Desa Sukaluyu milik 87 orang petani dijual dengan harga murah. Aturan resmi, Keppres Nomor 53 Tahun 1989 tentang Pengembangan Kawasan lndustri, Kabupaten Karawang, baru keluar kemudian. “Pada 1990-an beberapa kawasan industri muncul di daerah timur Jakarta. Yang paling besar KIIC (Karawang International Industrial City), didirikan oleh Sinar Mas dan perusahaan Jepang Itochu,” kata Tagayasu Naito. Di samping membangun kawasan industri, dibangun pula perumahan nasional (perumnas) Bumi Teluk Jambe sebagai penunjang di bagian utara Desa Sukaluyu. Inilah pembangunan perumnas pertama di wilayah desa. Pembangunan perumnas seluas 186 hektare itu meliputi tiga desa, yakni Wadas, Sukaluyu, dan Sukaharja. Sepanjang 1994-1995, pemerintah mengalihfungsikan 174 hektare sawah menjadi kawasan perumahan. Pembangunan perumnas ini dilakukan secara bertahap sejak 1995, namun tersendat karena krisis moneter. Pengembang lalu mengganti taktik dengan mempromosikan perumahan itu pada pegawai pemerintah dan buruh. Dengan menggandeng BTN, pengembang membuat keringanan dan penghapusan bunga selama 5 tahun. Dengan banyaknya proyek pembangunan, sawah-sawah di Karawang tergusur. Data Dinas Pertanian Kabupaten Karawang mencatat, laju alih fungsi lahan dalam kurun waktu 1989-2007 mencapai 135,6 hektare per tahun.  Pada 1981 terdapat 12,114 hektare sawah di Karawang. Angkanya surut drastis pada tahun 2000, dengan tersisa 2497 hektare. Sementara data yang dihimpun Aiko menunjukkan penyempitan areal sawah di Desa Sukaluyu pada tiga tahun berturut-turut. Pada 2016 jumlah sawah masih 40 hektare, menyusut 17 hektare (2017), dan tersisa 13 hektare pada 2018. Akibat makin sempitnya persawahan, pengiriman beras ditutup. Warga beralih profesi dari petani menjadi pedagang kecil, buruh pabrik, tukang ojek, atau dan kuli. Hanya 20 orang penduduk Teluk Jambe yang berprofesi sebagai petani. Kesenjangan pun terlihat amat jelas antara penduduk kampung dan perumahan yang menurut Makoto amat jarang bersinggungan. “Sejak membuka kawasan industri pada 1990-an karawang mengalami perubahan sosial yang dinamis,” kata Makoto Iko.

  • Cucian untuk Perdana Menteri Kashmir

    Sewaktu menjabat Wakil Komandan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD), Letnan Kolonel Soegih Arto diajak dalam rombongan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan kunjungan kenegaraan ke India, Kashmir, danBurma (Myanmar) pada Oktober-November 1955. Dia ditugaskan menjadi ajudan Bung Hatta. Yang menjadi masalah selama kunjungan adalah pakaian dalam . Mau minta dicucikan malu karena kualitasnya substandar, tidak dicuci kotor, dan mencuci sendiri tak sesuai harkat dan derajat tamu yang dipanggil excellency (yang mulia). Pagi-pagi Soegih Arto dibangunkan oleh pelayan dengan mengatakan, “ Excellency your morning tea. Shall I prepare your bath ?” “Baru seumur hidup disebut excellency dan rasanya enak juga,” kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . Oleh karena itu, kata Soegih Arto, “pakaian dalam yang sudah kotor, dimasukkan saja dalam koper, menunggu kesempatan baik.” Acara demi acara di India berjalan dengan baik dan lancar. Acara selanjutnya berkunjung ke Kashmir. Soegih Arto ikut rombongan Angkatan Darat. Sesampainya di Kashmir, rombongan tentara ditempatkan di guesthouse tersendiri yang cukup baik. Masing-masing mendapat satu kamar. Mereka langsung masuk kamar dan beberes karena akan segera dimulai peninjauan ke perbatasan India-Pakistan. Ketika Soegih Arto sedang sibuk, masuklah seorang berpakaian jas panjang dan memakai kopiah tebal menanyakan apakah kamar cukup memuaskan. Soegih Arto tak tahu siapa dia karena tak memperkenalkan diri. “Waktu dia menanyakan apakah ada yang dapat dia dibantu, saya langsung menyerahkan pakaian kotor untuk dicuci,” kata Soegih Arto. “Orang itu tertegun sebentar dan tanpa berkata apa-apa pergi membawa pakaian kotor saya.” Sorenya, Rajpramukh Kashmir mengadakan resepsi menghormati Bung Hatta. Rajpramukh adalah gelar pemimpin administratif di India sejak 1947 hingga 1956. Rajpramukh ditunjuk untuk provinsi dan negara bagian tertentu. Di jajaran yang menerima tamu berdiri Rajpramukh Kashmir dan permaisuri serta seorang yang rasa-rasanya pernah lihat. “Bagaikan kilat yang menyambar, saya ingat bahwa orang yang berdiri itu, tidak lain adalah orang yang saya beri cucian tadi pagi,” kata Soegih Arto. Lho, pembantu rumah tangga mess kok ada di situ? Soegih Arto menanyakan kepada Atase Militer Indonesia untuk India, Letnan Kolonel Thalib, siapa orang yang berdiri dekat raja. Dijawabnya, itu adalah Perdana Menteri. Soegih Arto lemas. Gemetar. Rasanya lutut tak mampu lagi menyangga badannya. “Saya telah menyuruh Perdana Menteri mengantar pakaian kotor ke dobi,” kata Soegih Arto. Dobi adalah penatu, yaitu orang yang pekerjaannya mencuci dan menyetrika pakaian. Soegih Arto langsung meninggalkan barisan untuk menghindari salaman. Dia mencari minum untuk mengembalikan kekuatan. Lama kemudian, setelah semua tamu datang, dia keliling, berjalan kesana-kemari. Celaka tak dapat dielak, petaka tak dapat dihindari. Soegih Arto pun bertemu dan berhadap-hadapan. Perdana Menteri tertawa dan menyalaminya. “Saya ketawa malu-malu, kata orang Belanda, seperti petani sakit gigi padahal pada waktu itu rasanya saya seperti petani tidak punya muka.” Dalam suhu yang dingin di Kashmir, Soegih Arto masih bisa berkeringat. Dia pun berjanji kepada diri sendiri akan lebih berhati-hati di kemudian hari. Dari Kashmir, rombongan Bung Hatta menuju Burma. Kelak, Soegih Arto akan menjadi duta besar untuk Burma. Dan setelah menjabat Jaksa Agung, dia menjadi duta besar untuk India.

  • Bung Hatta dan Jenderal Ngaret

    MOHAMMAD HATTA, wakil presiden pertama Republik Indonesia terkenal dengan kedisiplinannya. Terlebih soal waktu. Karena keteraturan terhadap jadwal, Bung Hatta sampai dijuluki "manusia jam" oleh jurnalis kawakan Mochtar Lubis . “Celakalah kita kalau datang terlambat dari jam yang telah dijanjikan. Akan sukar sekalilah minta bertemu lagi, jika sekali terbukti kita tidak dapat menjaga waktu yang tepat,” kenang Mochtar Lubis dalam “Bung Hatta Manusia Berdisiplin” termuat di kumpulan tulisan Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan suntingan Meutia Farida Hatta-Swasono. Bung Hatta pun tidak segan menegur orang yang melanggar disiplin waktu, sekalipun petinggi militer. Meski demikian, seorang jenderal pernah juga cari perkara dengan Bung Hatta. Namanya Moestopo, pangkatnya mayor jenderal. Pada 1946, Moestopo memimpin Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) yang terdiri dari sekumpulan copet dan maling di front Subang, Jawa Barat. Sekali waktu pada minggu pagi, Moestopo mendapat perintah via telegram untuk menghadap Bung Hatta. Pesan telegram mengatakan bahwa Bung Hatta menantinya pada pukul 8.00 pagi. Jamuan pun telah disediakan oleh Nyonya Rahmi Hatta berupa teh dan kue sebagai penganan sarapan. Moestopo segera bergegas. Di tengah perjalanan, apes melanda Moestopo. Kendaraan yang membawanya menuju kediaman Bung Hatta mengalami masalah. Untuk tetap melaju, mobilnya pun terpaksa didorong. “Maklumlah mobil di zaman revolusi butut, sehingga semuanya mempunyai penyakit harus didorong,” tulis Moestopo dalam “Bersama Bung Hatta, Proklamator dan Wakil Presiden RI Pertama” termuat dalam  Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan . Setiba di rumah Bung Hatta, Moestopo terlambat lima menit dari waktu bertemu yang ditentukan. Moestopo memberi hormat militer dengan tegap. Bung Hatta menerima kedatangan Moestopo dan menyambutnya dengan dingin. “Hai Jenderal Moestopo! Kamu itu jenderal atau bukan? Kalau jenderal mana disipilinnya?” hardik Bung Hatta.   Alih-alih tersindir atau malu, (masih dalam sikap tegap), Moestopo malah berseloroh, “Bung, maklumlah kita berjuang berdikari. Saya tahu bahwa pemerintah hanya dapat memberikan mobil butut kepada jenderalnya sehingga perlu didorong-dorong dulu mobil itu.” Mendengar jawaban Moestopo, Bung Hatta hanya tersenyum sambil melengos. Moestopo dipersilakannya duduk untuk memulai sarapan pagi. Sang jenderal ngaret itu pun boleh bernapas lega lolos dari amarah Bung Hatta.

  • Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati

    SELAMA berkuasa di Maluku, Belanda sempat dibuat repot selama berbulan-bulan oleh kecerdikan Kapitan Pattimura yang pandai meramu strategi perang. Kompeni itu bahkan hampir menyerah jika bala bantuan dari Batavia tidak datang dengan cepat. Namun begitulah takdir, perjuangan Pattimura harus berakhir oleh pengkhianatan rakyatnya sendiri, raja negeri Booi di Saparua, Maluku, yang selama ini mati-matian dibelanya. Malam 11 November 1817, Pattimura dan pasukannya sedang berdiam di sebuah rumah di hutan Booi. Tidak ada perbincangan apapun, mereka hanya diam termenung. Tiba-tiba terdengar keramaian di luar dan pintu terbuka oleh tendangan seseorang. Beberapa tentara merangsek masuk, mengarahkan senjata ke semua orang. Seorang opsir berteriak memberi perintah untuk menyerah, sambil mengarahkan senjatanya ke dada Pattimura. Kemudian masuk dan berteriak raja Booi: “Thomas, menyerahlah engkau. Tidak ada gunanya melawan. Rumah ini sudah dikepung empat puluh serdadu yang siap menembak mati kalian.” “Terkutuklah engkau, pengkhianat!” geram Pattimura, seraya digiring keluar menuju kota Booi, sebelum diberangkatkan ke Ambon. Tidak disebutkan apakah raja Booi mendapat imbalan atas pengkhianatannya itu. Namun I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura menyebut alasan raja Booi menjual informasi kepada Belanda karena dendam setelah Pattimura menurunkan posisinya sebagai pemimpin rakyat. Kabar penangkapan Pattimura tersiar ke seluruh pelosok negeri dengan sangat cepat. Para pemimpin perang lain pun segera menjadi target perburuan. Sebagian memilih meletakkan senjata, namun sebagian lain memutuskan tetap berperang. Mereka tidak ingin nasibnya berakhir di tiang gantung, dan terus melanjutkan perjuangan Pattimura. Setiba di Ambon, Pattimura dan sejumlah pejuang yang tertangkap dikurung di benteng Victoria. Selama di dalam penjara, mereka diinterogasi oleh tentara. Namun Pattimura menutup rapat-rapat mulutnya sehingga tidak banyak informasi yang didapat Belanda. Memasuki bulan Desember, para tahanan dihadapkan di depan Ambonsche Raad van Justitie (Dewan Pengadilan Ambon). Setelah melalui beberapa sidang, vonis pun dijatuhkan. Kapitan Pattimura, Anthone Rhebok, Said Perintah, dan Philip Latumahina mendapat hukuman paling berat sebagai pemimpin perang, yakni hukum gantung. Sementara tahanan lainnya diasingkan ke Jawa. Pattimura dan tiga orang lainnya mengisi hari-hari terakhir menjelang ekseskusi dengan renungan. “Suatu malam penuh ketegangan dan perjuangan batin. Pikiran keempat pemimpin itu melayang-layang ke sanak saudara. Kebebasan yang mereka ingini menyebabkan korban besar yang harus mereka berikan. Tetapi sekarang kembali mereka akan ditindas oleh kaum penjajah,” tulis Nanulaitta. Tanggal 16 Desember 1817, tibalah hari eksekusi. Pagi-pagi sekali, empat orang pemimpin itu telah diperintahkan untuk bersiap. Tidak terlihat kecemasan di wajah Pattimura dan kawan-kawan seperjuangnya itu karena sehari sebelumnya para pemuka agama datang mengunjungi mereka dan semalaman menemani di dalam sel sambil terus memanjatkan doa. Di lapangan depan benteng Victoria, tiang gantung telah disiapkan. Para algojo pun telah berdiri di sampingnya, menunggu korbannya tiba. Sejumlah besar tentara dipersiapkan, baik di sekitar lapangan eksekusi maupun pantai untuk menghalau segala bentrokan yang mungkin terjadi. Rakyat Maluku pun telah berkumpul, berusaha melihat para pemimpin mereka untuk terakhir kalinya. Sekitar pukul tujuh, Pattimura dan para terhukum lainnya tiba dengan tangan terikat, dan penjagaan yang amat ketat. Setelah mereka ditempatkan di depan tiang gantungan, seorang petugas pengadilan membacakan putusan dewan hakim di depan seluruh orang yang hadir: “… mereka akan dihukum gantung sampai mati, dilaksanakan oleh para algojo. Kemudian mayat mereka akan dibawa keluar dan digantung agar daging mereka menjadi mangsa udara dan burung-burung, dan digantung agar tulang belulang mereka menjadi debu sehingga dengan demikian menjadi suatu pelajaran yang menakutkan bagi turun-temurun. Bahwa Thomas Mattulesi untuk selama-lamanya akan digantung di dalam sebuah kurungan besi dan sekalipun telah menjadi debu, akan menimbulkan ketakutan karena perbuatannya,” tulis Nanulaitta. Philip Latumahina menjadi yang pertama menaiki tiang gantung. Tali dipasangkan dan genderang dibunyikan. Namun sesaat kemudian ia terjatuh. Tali maut itu ternyata tidak mampu menahan beban Latumahina yang memang berbadan besar. Dengan susah payah, algojo menyeretnya kembali ke depan tiang gantungan. Malang nasibnya, ia harus merasakan tali gantungan untuk kedua kalinya. Beberapa detik kemudian nyawanya pun melayang. Setelah Latumahina, berturut-turut Anthone Rhebok dan Said Perintah menaiki tiang gantung. Tidak perlu usaha dan waktu terlalu lama bagi algojo mengeksekusi keduanya. Setelah genderang dibunyikan, nyawa keduanya dengan cepat terlepas. Tiga orang pejuang telah berpulang, kini tibalah giliran sang panglima tertinggi Maluku berhadapan dengan tiang gantungan. Dari atas tempat eksekusi ia bisa melihat puluhan musuh yang sangat ingin ia hancurkan sedang menontonya. Sementara di kejauhan ia menatap rakyat Maluku yang hendak ia bebaskan, meski gagal. Saat algojo memasangkan tali di lehernya, sambil mengarahkan pandangannya ke arah hakim-hakim Belanda, Pattimura mengucapkan kata-kata perpisahannya: “Selamat tinggal tuan-tuan.”

  • Garuda Sebelum Jadi Lambang Negara

    Sewaktu para Dewa dan Asura sibuk mengaduk Lautan Susu demi mendapatkan air kehidupan ( amrta ), Winata bermain tebak-tebakan dengan madunya, Kadru. Siapa yang salah tebak, harus menjadi budak yang menang taruhan. “Coba terka, apa warna ekor kuda Ucchaihsrawa?” kata Sang Kadru. “Putih,” jawab Winata. Maka keluarlah kuda Ucchaihsrawa dari dalam lautan yang diaduk. Sesungguhnya jawaban Winata benar adanya. Namun Kadru yang licik meminta anak-anaknya, para ular, untuk menyemburkan bisa ke arah kuda itu. Ekor Ucchaihsrawa yang semula putih, berubah menjadi hitam.   Winata dianggap kalah. Ia pun harus menjadi budak Kadru. Begitu pula putranya, Garudeya yang berwujud burung Garuda itu. Ia ikut diperbudak ular-ular, anak Sang Kadru. Ketika tahu Winata bisa bebas apabila ditebus dengan air amrta , Garuḍa pun berusaha mengambilnya di dunia para dewa. Kepada Wisnu ia berjanji, jika diberi air keabadian itu, ia bersedia menjadi kendaraannya. Air amrta pun ia bawa kepada ibu tirinya. Ia tebus Winata dari perbudakan. Kisah tentang Garudeya itu berasal dari cerita Samuderamantana yang merupakan salah satu episode dalam wiracarita Mahabarata , yaitu Adiparwa . Garis besar kisahnya bertalian dengan dua istri Bhagawan Kasyapa, Winata dan Kadru yang tak kunjung hamil. Sang Bhagawan pun memberikan tiga butir telur kepada Winata dan 100 telur kepada Kadru. Di antara 100 telur yang dierami Kadru, semuanya menetas menjadi 100 ekor ular. Sementara dari tiga telur yang dierami Winata, hanya satu yang menetas. Ia menjadi makhluk setengah burung, setengah manusia. Ia dinamai Garudeya. Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, menjelaskan kisah Adiparwa telah disadur pada masa pemerintahan Dharmmawangsa Tguh pada awal abad ke-9. Kala itu kisahnya diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno. Kisah itu kemudian banyak diwujudkan dalam bentuk relief pada masa Majapahit, sekira abad ke-14. Contohnya seperti yang terlihat di dinding Candi Kidal, yang pernah direnovasi pada masa keemasan Majapahit oleh Hayam Wuruk. Pun pada Candi Kedaton dan Candi Sukuh. Ada juga arca Wisnu naik Garuḍa yang diperkirakan berasal dari Petirtaan Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Menurut arkeolog Hariani Santiko dalam "Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur", terbit di Jurnal Amerta , arca itu sering dianggap sebagai perwujudan Raja Airlangga. Arcanya menggambarkan Garuḍa tengah mencengkeram Naga. Garuda yang menjadi kendaraan Wisnu dalam reliefCandi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur. (Wikipedia). Simbol Kemerdekaan Dwi Cahyono menjelaskan, perjuangan yang dilakukan oleh Sang Garuda merupakan ekspresi bakti anak kepada ibu. Dalam konteks yang lebih luas, kisah itu bisa disebut sebagai bakti kepada ibu pertiwi atau tanah air. Artinya, perjuangan untuk membebaskan tanah air dari penjajahan asing demi meraih kemerdekaan. “Dalam konteks demikian, Sang Garuda tercitrakan sebagai ikon pejuang kemerdekaan,” katanya. Makna itulah yang kemudian menjadi pertimbangan tim perumus lambang negara Indonesia, di antaranya Moh. Yamin, R.M. Ng. Poerbatjaraka, dan Soepomo. “Teks susastra dan relief cerita tentang Garudeya itu dijadikan referensi bagi penentuan figur lambang negara,” lanjut Dwi. Ketika mendesain lambang, relief Garuda di Candi Sukuh menjadi inspirasinya. Bentuknya berupa seekor burung Garuda berukuran besar dalam posisi mengepakkan sayap. Kedua kakinya setengah jongkok, mencengkeram dua ekor Naga yang saling membelit dengan arah hadap berlawanan. Garuda di Candi Sukuh. (Wikipedia) “Relief ini dalam baberapa hal mengingatkan kita kepada wahana Wisnu pada arca perwujudan Airlangga,” kata Dwi. Lalu lambang ini juga mirip dengan dua buah arca manusia setengah burung di halaman Candi Sukuh. Arca ini digambarkan dalam posisi berdiri sambil mengepakkan sayap. “Kedua data ikonografis itu dimodifikasi seperlunya dan dipadukan, antara lain dengan mengganti sepasang Naga yang saling membelit dengan pita Bhineka Tunggal Ika ,” jelas Dwi. Semboyan ini pun beratus tahun lalu sudah bisa ditemukan dalam Kakawin Sutasoma , karya Mpu Tantular.

  • Entong Tolo, Bandit Sosial dari Pinggir Kota

    AWAL abad ke-20, Batavia dan Ommelanden (daerah sekitarnya) menjadi perhatian pejabat tinggi kolonial. Mereka bertanya kepada setiap asisten residen di sana mengapa banyak kasus perampokan tiap malam. Asisten residen Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), Tangerang, dan Buitenzorg (sekarang Bogor) menjawab kompak.

  • Nyong Ambon Pendeta Bung Karno

    Pasca Peristiwa Lengkong 1946, Sukarno begitu terpukul dengan banyaknya perwira muda dan taruna yang gugur. Di rumah sakit Tangerang, seorang dokter memberinya obat dan memijit Sukarno hingga tertidur. Sejak itu, mereka menjadi dekat seperti sahabat lama. Dokter itu adalah Johannes Leimena, nyong Ambon yang akrab disapa Jo. Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Sejak usia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia bersekolah di Ambonsche Burgerschool , tempat pamannya menjadi kepala sekolah. Ketika pamannya pindah tugas ke Cimahi pada 1914, dia turut serta. Ibunya tak mengijinkan, dia nekat menyelinap ke dalam kapal. Jo muda bergabung dalam Jong Ambon dan aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1922, dia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra). Setelah bekerja sebagai dokter selama sebelas tahun, dia memperdalam penyakit dalam di Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran). Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir mengangkat Leimena menjadi menteri muda kesehatan, belum sebagai menteri penuh. Baru pada kabinet Amir Sjarifuddin, dia diangkat menjadi menteri penuh. Leimena yang Sederhana Leimena sangat terkenal akan kesederhanaan, kejujuran, dan kelembutannya. “Jo ternyata sama dengan Natsir, yakni sama-sama hanya punya 2 kemeja yang dua-duanya sudah lusuh,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar dalam Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan dan Kesederhanaan Tokoh Bangsa . Buku ini diluncurkan pada 13 Agustus 2019 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Karena tidak punya tabungan, Leimena juga harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di Jakarta. Ketika di Yogyakarta, dia enggan menggunakan fasilitas negara dengan tinggal di Hotel Merdeka yang semua akomodasinya ditanggung negara. “Dia tahu benar, para personel departemen keuangan harus jungkir balik mengumpulkan dana. Dia memutuskan untuk menyewa sendiri dan membagi satu kamar dengan seorang rekan. Jaman sekarang mana ada menteri yang kos sekamar berdua demi mengirit pengeluaran?” tulis Basri dan Munandar. Ketika ditugaskan menjadi delegasi Indonesia untuk berunding dengan Belanda dalam rangka persiapan menuju perundingan Renville, Leimena meminjam jas teman sekamarnya. Meskipun agak kekecilan, dia bisa bertahan beberapa Jam. “Jangan khawatir. Saya tidak akan bikin malu negara kita,” ucap Jo. Leimena tidak pernah mencari hiburan ke luar rumah. Pulang kantor, ia berganti pakaian, hanya mengenakan sarung dan kaus atau kemeja using, lalu bercengkerama dengan keluarganya. Hari-hari libur juga dihabiskannya bersama keluarga. Suatu hari, beberapa pemuda dari organisasi Kristen hendak bertemu Leimena di rumahnya. Karena berpikir akan diajak "makan besar" di rumah seorang menteri, mereka sengaja tidak sarapan. Tebakan itu tidak meleset, mereka diajak ke ruang makan. Namun, yang mereka temui di meja makan adalah singkong rebus, sarapan sehari-hari sang menteri dan keluarga. “Tutur katanya yang lembut membujuk dan wataknya yang sabar menjadikannya 'negosiator alamiah'. Orang sulit menolak kalau yang meminta adalah Jo. Kejujurannya juga dikenal luas sehingga orang-orang percaya dia tidak pernah bohong atau menggertak,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Sampai-sampai Presiden Sukarno menyebut Leimena sebagai “orang paling jujur yang pernah kutemui”. Bahkan, Sukarno dalam kesempatan lain menyebutnya mijn dominee yang artinya "pendetaku". Kiri-kanan: Adam Malik, Johannes Leimena, Mohammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Soeharto, dalam pemakaman Presiden Sukarno Leimena yang Toleran Pada 1945, Leimena bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia lalu menjadi ketua umum pada 1950 sampai 1957. Dia juga turut membentuk Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) yang kini bernama Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Selain sederhana, Leimena juga dikenal sebagai sosok yang toleran. Dia bersahabat baik dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang memperjuangkan Syariat Islam. Natsir menyebut Leimena sebagai Meneer de Dominee atau Tuan Pendeta. “Toleransi Jo terbukti ketika dia merestui salah satu putrinya menikah dengan seorang muslim, lalu mengikuti iman suaminya,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Ketika menjadi menteri kesehatan, Leimena berhasil meracik salep untuk mengobati penyakit kulit ringan yang sering diidap rakyat kecil. Label “Salep Leimena” sangat mujarab dan terkenal pada zamannya. Dia kembali lagi membuktikan diri sebagai menteri sekaligus dokter inovatif yang peduli rakyat kecil. Leimena juga merumuskan rencana pembangunan kesehatan gratis untuk pencegahan dan penyembuhan serta perimbangan fasilitas pelayanan kesehatan di kota dan desa. Rencana ini terlaksana dan sekarang dikenal sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu, Leimena juga membentuk Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA), yang kemudian menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejarah mencatat Leimena sebagai menteri dengan masa jabatan terlama, yakni 21 tahun dengan 18 kabinet berbeda pada era Sukarno. Dia juga merupakan satu dari sedikit orang dekat Sukarno yang ‘selamat’ dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dia sempat ingin dipertahankan Soeharto sebagai menteri, namun menolak secara halus dengan perantara Sultan Hamengkubuwono IX. Namun, dia masih diminta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga tahun 1973. Selepas itu, Leimena kembali aktif di Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Dia sempat pula menjadi Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di akhir perjalanan hidupnya, dia masih sempat kembali menjadi dokter dan menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Leimena wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta. Nyong Ambon itu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2016. Penyanyi berdarah Maluku, Glenn Fredly, dalam peluncuran buku Faisal Basri dan Haris Munadar menyampaikan, “Bukan karena saya dari Maluku, tapi saya suka dengan Leimena. Hari ini masyarakat di Maluku lose of hope terhadap pemimpinnya.” Menurut Glenn, cerita-cerita teladan kepemimpinan seperti Leimena, perlu dimunculkan kembali dengan cara baru. “Itu yang saya bilang, bagaimana menerjemahkan ini menjadi sesuatu yang bisa membangun harapan baru,” ujar Glenn.

  • Apakah Naga Benar-benar Ada?

    PUNGGUNGNYA terdiri dari barisan perisai yang rapat. Saking rapatnya, udara bahkan tak bisa melewatinya. Dengusannya mengeluarkan kilatan cahaya. Ia bagai sinar fajar. Lubang hidungnya mengeluarkan asap, seperti panci mendidih di atas alang-alang yang terbakar. Mulutnya menyemburkan api. Batu bara pun bisa menyala akibat dengusan napasnya. Makhluk yang dijelaskan dalam Book of Job ( Kitab Ayub ) itu mirip sekali dengan seekor Naga. Namun di sana disebut dengan Leviathan, semacam monster raksasa yang mengerikan. Naga, telah ada selama ribuan tahun. Dongeng tentangnya dikenal di banyak budaya. Ia muncul dalam mitologi di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok. Karenanya, ide dan deskripsi Naga sangat bervariasi. Beberapa Naga digambarkan memiliki sayap, tapi yang lain tidak. Ada Naga yang dikisahkan bisa berbicara dan menyemburkan api, yang lain tidak bisa. Di antaranya hanya beberapa kaki panjangnya, tapi yang lainnya bisa berkururan menjangkau mil. Beberapa Naga hidup di istana atau di bawah lautan, sementara yang lain hanya dapat ditemukan di gua dan di dalam pegunungan. Makhluk itu juga bisa diidentikkan sebagai makhluk pembawa kebaikan, maupun kejahatan. Tak jelas kapan kisah Naga pertama kali muncul. Laman Livescience menulis, paling tidak Naga yang paling tua bisa dirunut sampai awal masa Yunani dan Sumeria Kuno. Kata Dragon dalam bahasa Inggris asalnya dari bahasa Yunani Kuno, draconta  artinya “untuk mengawasi”. Maksudnya, binatang buas itu biasanya menjaga harta karun, gunungan koin, atau emas. Ini seperti yang digambarkan dalam trilogi film fantasi The Hobbit. Smaug, Naga terakhir di Middle-earth dikisahkan mengambil alih Lonely Mountain (Gunung Sunyi) yang berisikan harta karun Erebor. Naga diwujudkan sebagai makhluk yang menyeramkan, terutama waktu Kristen menyebar ke seluruh dunia. Pada abad pertengahan, kebanyakan orang mendengar kisah Naga dari Alkitab. St. George and the Dragon, lukisan karya Paolo Uccello, 1470. Gereja Kristen menciptakan legenda tentang orang kudus yang saleh berperang dan menaklukkan setan berbentuk Naga. Yang paling terkenal adalah kisah St. George the Dragon Slayer . Alkisah, St. George datang ke kota yang terancam oleh Naga. Dia lalu menyelamatkan seorang gadis, melindungi dirinya dengan tanda salib, dan membunuh binatang itu. Penduduk kota, yang terkesan dengan iman dan keberanian St. George segera menjadi Kristen. “Kemungkinan besar orang Kristen pada saat itu percaya pada keberadaan Naga secara literal,” tulis laman Livescience. Tradisi Hindu maupun Buddha juga mengenal Naga sebagai hewan mistis. Menurut John Miksic dalam  Borobudur: Golden Tales of the Buddhas,  tradisi Hindu acap mengisahkan Naga lewat literatur dan kesenian. Seringkali kehadirannya dihubungkan dengan keberkahan. "Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis Miksic. Kata Naga yang dipakai di Indonesia asalnya dari bahasa Sanskerta. Arti harfiahnya ular. Khususnya di Jawa, Naga lebih merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, Naga sering dihubungkan dengan air dan kesuburan. Di Jawa ada banyak kisah tentang Naga. Yang muncul dalam pahatan di candi biasanya dihubungkan dengan air amrta atau air kehidupan dalam kisah Samudramanthana . Di Tiongkok Naga disebut dengan Lóng. Sebagaimana disebut laman Livescience, ia adalah makhluk yang hidup di lautan, danau, sungai, dan bahkan hujan. Mereka dipuja sebagai simbol yang memberi kehidupan dari keberuntungan dan kesuburan, yang mampu melepaskan hujan di musim kemarau. “Mereka digambarkan sebagai hewan yang punya tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin (makhluk suci dalam legenda Tiongkok, red. ),” tulisnya. Patung Naga Tiongkok di sebuah kuil. (Leungchopan/Shutterstock). Fakta di Balik Legenda Naga Namun, kepercayaan pada Naga tak hanya berdasarkan legenda. Banyak juga orang dulu yang meyakini berdasarkan bukti kuat. Contohnya, selama ribuan tahun tak ada yang bisa menjelaskan tentang tulang-tulang raksasa yang ditemukan di seluruh dunia. Dilansir dari laman Livescience , beberapa abad lalu desas-desus tentang Naga terkonfirmasi keberadaannya oleh saksi mata. Para pelaut yang kembali dari Indonesia melaporkan telah bertemu dengan mereka. Makhluk yang katanya sejenis kadal itu dapat menjadi agresif dan mematikan. Panjangnya sampai 10 kaki. Namun ternyata itu adalah komodo. “Mirip dengan Naga, sebelumnya diyakini, gigitan Komodo sangat mematikan karena bakteri beracun di mulutnya,” jelas laman itu. “Meskipun mitos itu dibantah pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universitas Queensland.” Komodo Pada masa lalu, Naga kerap dipakai untuk menyebut hewan tak dikenal. Pada abad ke-16 misalnya, Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho sempat mengunjungi bagian utara Sumatra. Dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan ( Xingcha Shenglan ), dia menceritakan adanya sebuah pulau yang sering didatangi Naga. Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Naga-Naga yang ke sana meninggalkan liur yang tinggi nilainya di pasaran. “Pada setiap musim semi beberapa ekor Naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga,” catatnya. Rupanya, berdasarkan terjemahan W.P. Groeneveldt dalam  Nusantara dalam Catatan Tionghoa,  liur Naga itu adalah ambergris. Naga yang dimaksud tak lain merupakan paus. Ma Huan juga menyebutkan keberadaan Naga dalam catatannya, Yingya Shenglan darisekira 1416 . Penerjemah resmi yang ikut berlayar bersama Cheng Ho itu menulis, di pesisir Man-la-ga (Melaka) ditemukan kura-kura dan Naga. Naga itu suka menyerang manusia. Ia memiliki empat kaki. Rupanya, berdasarkan terjemahan Groeneveldt, Naga yang dimaksud adalah buaya. Buaya “Seluruh tubuhnya ditutupi dengan sisik. Sederetan tanduk di punggungnya dengan kepala seperti Naga dan gigi yang keluar dari mulutnya. Jika bertemu manusia, Naga ini akan memakannya,” tulis Ma Huan. Naga pada akhirnya mewujud dari gagasan yang mencontoh makhluk nyata. Itu dimulai dari ular atau reptile menakutkan lainnya. “Seiring waktu mereka pun memperoleh bentuknya sendiri dengan menyerap harapan dan imajinasi masyarakat setempat dengan meminjam sifat-sifat hewan yang nyata,” tulis Livescience .

  • Apakah Cheng Ho Pernah Naik Haji?

    BARANGKALI menarik jika Cheng Ho juga dibahas saat musim haji seperti saat ini. Sebab, oleh tak sedikit warga Indonesia, di samping diyakini menganut Islam, Cheng Ho juga dipercaya merupakan laksamana bergelar haji. Makanya, ada sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo yang menaungi Masjid Cheng Ho di Surabaya.

  • Jangan Tembak, Oom!

    TAK lama setelah tiba di ibukota Yogyakarta, pasukan Tentara Pelajar Seberang (TPS) mendapat tugas ke Sidobunder yang terletak persis di tengah pertigaan Gombong-Puring-Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Markas Besar Tentara (MBT) khawatir Desa Sidobunder jatuh ke tangan Belanda setelah mereka melanggar Perjanjian Linggarjati lewat Agresi Militer I. Desa Sidobunder penting dipertahankan karena letaktnya strategis, tak jauh dari demarkasi Kali Kemit. Dipimpin Lettu Maulwi Saelan –di kemudian hari menjadi wakil komandan Resimen Tjakrabirawa; pernah menjadi kiper sekaligus kapten timnas sepakbola Indonesia saat tampil di Olimpiade Melbourne 1956– pasukan TPS berangkat menumpang kereta api pada akhir Agustus 1947. Saat tiba, di Sidobunder sudah ada pasukan Seksi 321 Kompi 320 Yon 300 pimpinan Letnan Anggoro. Kedua pasukan diperintahkan berkoordinasi mempertahankan desa tersebut. Suasana tegang menghinggapi Sidobunder waktu itu. Maklum, habis perayaan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Biasanya, pasukan Belanda merayakan hari kelahiran itu dengan menyerang basis-basis republik. Benar saja, saat pasukan tertidur lelap tak lama setelah pergantian hari dari 31 Agustus ke 1 September, pasukan Belanda menyerang. Pasukan penyerang Belanda berkekuatan sekira satu batalyon yang berpencar ke berbagai arah. Kedatangan pasukan Belanda sontak membuat Anggoro dan pasukannya melarikan diri ke arah timur. Pasukan TPS tinggal sendiri menghadapi lawan. “Sudah di belakang kita si Belanda pagi-pagi,” ujar Maulwi (almarhum) kepada Historia beberapa tahun silam. “Kami nggak bisa apa-apa. Ya, terpaksa kami ambil senjata.” Dalam kekuatan tak imbang, pasukan TPS melakukan perlawanan. Pertempuran sengit terjadi. Tajudin, anak buah Maulwi, tumbang dimangsa peluru Belanda tak lama kemudian. Konsentrasi pasukan buyar. Koordinasi dengan pasukan 321 tiada lagi. Maulwi, pengawalnya La Indi, Losung, La Sinrang, dan Herman Fernandez akhirnya terpisah dari pasukan. Dalam keadaan dihujani tembakan, mereka menerjang persawahan yang saat itu banjir. Sebuah kebun kelapa akhirnya jadi tempat mereka bertahan dan terus memberi perlawanan. Pertempuran jarak dekat terjadi antara mereka melawan pasukan Belanda yang datang dari arah Puring. Hujan tembakan dari pasukan Belanda membuat pasukan TPS terdesak. Keadaan makin sulit karena amunisi pasukan TPS menipis. Dalam keadaan hidup-mati itu, La Sinrang dan Fernandez mendengar Losung berteriak. “Jang tembak, Oom! Peluru habis.”

  • Jejak Sang Putra Petir

    Gundala jadi ikon superhero Indonesia. Dari komik, kini hadir lagi di layar perak.

  • Cerita Lucu Batalion Cibatu

    Suatu hari, Letnan Satu Soegih Arto dipanggil Letnan Kolonel Omon Abdurahman, Komandan Resimen 8 Divisi Siliwangi. Dia tak lagi jadi ajudan karena sang komandan menugaskannya untuk memimpin batalion di daerah Garut. Pada hari yang telah ditentukan, Soegih Arto dibawa oleh Kepala Staf Resimen 8 menghadap Letnan Kolonel Ponto, Komandan Resimen 10 di Garut. Dia menyambut dengan gembira kehadiran Soegih Arto untuk menggantikan komandan batalion yang lama, Djaja Iskandar. Setiba di markas batalion di Cibatu, sebuah bangunan bekas Kawedanaan, Soegih Arto diperkenalkan dengan seluruh anggota staf. “Wah, ini sih bukan batalion, tetapi paguyuban warga Cibatu dan Garut sekitarnya,” kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . Mereka memang memakai seragam tentara, namun sikapnya masih seperti warga sipil. Kalau sudah menghormat, saluir, terus munjungan (menyalami sambil membungkuk seperti sungkem). Kalau menunjuk arah masih menggunakan ibu jari tangan kanan dengan ditopang tangan kiri. “Saya berpikir, apakah saya ini jadi wedana atau komandan batalion,” kata Soegih Arto. Soegih Arto pun bertekad mengubah paguyuban itu menjadi unit tentara yang siap maju ke medan perang. Dia dibantu seorang komandan kompi bekas tentara Peta (Pembela Tanah Air) zaman Jepang, menyusun pelatihan. Sehingga lambat laun paguyuban berubah menjadi unit tentara. Setelah menjalani latihan yang keras selama beberapa bulan, Batalion Cibatu dikirim ke garis depan di Bandung Selatan, di sektor Ciparay/Sapan. Pada hari-hari pertama, Soegih Arto telah kehilangan seorang komandan kompi yang tertembak kakinya oleh sniper Belanda. Pertolongan terlambat, kakinya infeksi tetanus sehingga harus diamputasi. Pemuda bernama Yusuf itu punya semangat hidup yang kuat. Setelah meninggalkan tentara, dia kemudian menjadi lurah di daerah Cirebon. Desa yang dipimpinnya maju dan berkali-kali menjadi juara desa se-Jawa Barat. Pertempuran di sektor Sapan jarang terjadi. Sekalinya menyerang, Belanda membabi buta: tembakan meriam dan mortir tak henti-hentinya, rentetan senapan tak ada habisnya. Soegih Arto pun menarik mundur pasukannya. Di lain waktu, Soegih Arto sedang patroli, beberapa mortir jatuh tak jauh dari mereka. Mereka lari tunggang langgang ke depan dan masuk ke kolong jembatan. Mereka terhindar dari ledakan, namun sial ketika menjatuhkan diri menimpa sarang semut. Semut-semut yang mendapatkan serangan itu keluar mengerubungi badan mereka. “Tidak ada yang terlewatkan sampai alat pengebor saya pun dikerubutinya,” kata Soegih Arto. Mereka tak dapat bertahan lebih lama dari serangan semut. Sehingga mereka keluar semua: memilih mati oleh mortir daripada oleh semut. “Akan sangat memalukan kalau dimuat di koran, seorang komandan batalion mati karena dikerubut semut,” kata Soegih Arto. Mereka buka baju lalu menceburkan diri ke sungai. Badannya babak belur, bentol-bentol. Soegih Arto dan pasukannya melanjutkan pertempuran melawan Belanda yang berlangsung nonstop selama 13 jam. Karena batalionnya dapat bertahan dari serangan Belanda yang bertubi-tubi, Panglima Siliwangi memberikan penghargaan. Ini adalah surat penghargaan pertama yang diberikan oleh Divisi Siliwangi. Batalion Cibatu yang dipimpin Soegih Arto mondar-mandir antara Cibatu dan Ciparay. Istirahat di Cibatu, kalau bertugas ke front, ke Ciparay lagi. Menurut Soegih Arto, keadaan di medan perang tidak selalu menegangkan dan mengerikan. Banyak juga yang menyenangkan, seperti menangkap ikan di Citarum, lalu dibakar, dimakan dengan nasi merah yang pulen dan sambal yang hitam pekat karena banyak terasinya. Hmmm... nikmatnya. Malam harinya diadakan hiburan pertunjukan pencak silat. Para perwira bermain kartu atau domino. Tak pakai judi karena memang tak punya uang. “Penghidupan yang seperti apa lagi yang diinginkan?” kata Soegih Arto. “Usia muda, beban keluarga tak ada, makan cukup, kurang makan tinggal minta, kalau bosan istirahat langsung berangkat menyerang Belanda. Suatu kehidupan yang penuh variasi." Karier Kapten Soegih Arto, Komandan Batalion Cibatu yang dikerubuti semut, terus naik. Dari komandan batalion sampai menjadi Jaksa Agung dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Dia sempat menjabat duta besar di Burma (Myanmar) dan India.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page