top of page

Bersatu dalam Melodi

Di mana pun dan kapan pun manusia butuh mendengarkan musik. Beragam perangkat yang kini tersedia memungkinkannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Thomas Alva Edison dengan phonograph keduanya, Washington, April 1878. Foto: Mathew Brady/wikimedia.org.

12 Okt 2017
3 menit membaca

MUSIK dikenal sejak kehadiran manusia modern. Maka, memainkan atau mendengarkan musik, yang memiliki suara berirama atau lagu, menjadi salah satu aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan. Tanpa musik, menurut filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900), hidup akan menjadi kesalahan.


Tak semua orang bisa memainkan musik nan indah. Sebagian besar malah hanya ingin menikmatinya untuk mendukung aktivitas atau sekadar mengisi waktu luang. Maka, manusia pun berpikir bagaimana musik bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Terciptalah alat perekam, penyimpan, penyalur, atau pemutar musik.


Kotak Musik


Seorang pembuat jam dari Swiss, Antoine Favre Salomon (1734-1820), menciptakan kotak musik pada 1796. Dia membuatnya dari barisan lempengan logam, pengganti lonceng, yang dapat disetel dalam skala nada yang lebih banyak dan ketepatan bunyi yang bagus.


sejak 1815, model kotak musik rancangan Salomon mulai diproduksi massal. Di kota Sainte Croix, Switzerland, pengusaha bernama Jeremie Recordon merintis pembuatan massal kotak musik ini. Dia gagal. Pengusaha lain, Samuel Junod, mencoba membuka pabrik serupa.


Phonograph


Setelah telepon dan telegraf, pada 1877 Thomas Alva Edisson (1847-1931) merancang mesin yang bisa merekam suara pada telepon dan memutarnya kembali. Suara pertama yang terekam dan diputar kembali adalah ucapan Edisson sendiri: “Mary had a little lamb.” Alat ini bernama phonograph.


Graphophone


Alexander Graham Bell (1847-1922) dan Charles Sumner Tainter (1854-1940) mulanya bekerjasama untuk mengembangkan telepon-radio. Kerjasama berlanjut dengan pembuatan perangkat perekam sekaligus pemutar suara yang disebut graphophone. Setelah dipatenkan dan diproduksi, alat ini digunakan para etnolog di Amerika pada 1890-an untuk merekam suara dan musik bangsa Indian.


Piringan Hitam


Kualitas suara yang dihasilkan phonograph dan graphophone belum sempurna. Pada 1888, Emile Berliner (1851-1929) merancang alat baru dengan menggunakan media cakram atau piringan, selanjutnya disebut piringan hitam, untuk menyimpan rekaman suara. Untuk mendapatkan suara dari piringan, gramophone ini dilengkapi stylus.


Eldridge Reeves Johnson (1867-1945) lalu menyempurnakannya sehingga kecepatan putar piringan menjadi lebih stabil.


Pemancar Radio


Setelah penemuan gelombang elektromagnetik, Guglielmo Marconi (1874-1937) dari Italia bereksperimen bahwa arus listrik sederhana dapat melintasi udara dari kawat ke kawat. Marconi pun mengembangkan teknologi pemancar dan antena untuk membuat pemancar radio lintas Atlantik, Inggris dan Newfoundland-Kanada.


Reginald Aubrey Fessenden (1866-1932) lalu menambahkannya dengan Heterodin, alat untuk mengubah frekuensi radio sehingga frekuensi itu mudah diatur dan dapat diperkuat. Fassenden mengirim suara manusia dan musik dari stasiun radionya di Brant Rock-Masachusets, AS, ke kapal-kapal di lepas pantai Atlantik.


Zaman emas radio pun dimulai pada 1920, dengan berdirinya stasiun radio komersial pertama, KDKA, di Pittsburg, AS.


Kotak Radio


David Sarnoff (1891-1971), yang populer memberitakan tenggelamnya kapal Titanic melalui radio, menyarankan agar radio dibuat secara massal. Menurutnya, radio akan menjadi perlengkapan rumah tangga. Baru tahun 1919, idenya terlaksana dengan berdirinya Radio Corporation of America (RCA), sebuah perusahaan elektronik Amerika.


Magnetophone


Teknologi perekam suara menjadi praktis dengan adanya Magnetophone model K1 bikinan Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft (AEG) dari Jerman yang dipamerkan pada acara Berlin Radio Show tahun 1935. Magnetophone didasari pada penemuan pita magnetik oleh Fritz Pfleumer (1881-1945). Namun suara yang dihasilkan masih bising. Dalam perkembangannya, magnetophone menghasilkan suara lebih baik dan dipakai secara luas untuk merekam konser, pertunjukan opera, hingga pidato. Selama Perang Dunia II dipakai dalam siaran radio. Dari alat inilah berkembang tape recorder.


Walkman


Koninklijke Philips N.V atau Phillips, berbasis di Eindhoven-Belanda, meluncurkan compact audio cassette atau kaset sebagai media penyimpan audio baru. Setahun berikutnya diperkenalkan di seantero Eropa dan Amerika.


Pada akhir 1970-an, Sony dari Jepang mengembangkan alat pemutar kaset audio portabel dengan nama walkman. Kehadiran walkman mengubah kebiasaan orang mendengarkan musik, yang bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja.


Pemutar CD


April 1982, Lou Ottens, direktur teknik bidang audio dari Phillips, memperkenalkan compact disc atau CD. Phillips dan Sony beradu argumen mengenai ukuran CD. Akhirnya disepakati CD berdiameter 115 milimeter dan memiliki kapasitas penyimpanan audio berdurasi 74 menit, diambil untuk dapat memuat Beethoven 9th Symphony. Sebagai pelengkap, mereka meluncurkan pemutar CD; Sony dengan Goronta dan Phillips dengan Magnavox. Prinsip kerja pemutar CD ini adalah adanya bagian optik sebagai sarana utama membaca kepingan CD. Sony, sekira 1984, juga meluncurkan tipe portabel dari pemutar CD, yang dinamakan D-50 alias discman.


iPhone


Oktober 2001, perusahaan Apple meluncurkan pemutar musik portabel mini yang disebut iPod. Menurut Steve Jobs, pemutar musik konvensional dengan ukuran besar sudah bukan zamannya. iPod diciptakan untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan audio yang besar. Kapasitas iPod pun dibuat dalam ukuran mulai 2 sampai 160 gigabyte.


Jenis audio yang diputar dalam iPod adalah mp3, yang dikembangkan Karlheinz Brandenburg, ahli audio dari Fraunhofer Institute-Jerman. Dia berksperimen membuat mp3 pada lagu “Tom’s Diner” yang dinyanyikan Suzanne Vega. Kemunculan mp3 memungkinkan kita mentransfer maupun memutar musik di beragam perangkat, dari telepon selular hingga komputer.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Kisah petani yang melawan perusahaan raksasa. Di balik fisiknya yang renta, semangat perlawanannya berapi-api.
Kisah petani yang melawan perusahaan raksasa. Di balik fisiknya yang renta, semangat perlawanannya berapi-api.
Penjualan vas antik di tengah situasi ekonomi yang sulit menyulut kemarahan masyarakat China.
Penjualan vas antik di tengah situasi ekonomi yang sulit menyulut kemarahan masyarakat China.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
transparant.png
bottom of page