top of page

Cerita Sebongkah Ubin di Museum Multatuli

Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bongkahan ubin yang berasal dari bekas rumah Asisten Residen Lebak, kediaman Eduard Douwes Dekker alias Multatuli ketika bertugas di Rangkasbitung, dipamerkan di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten. (Museum Multatuli).

16 Agu
4 menit membaca

DERETAN buku tentang kisah hidup dan karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli tertata rapi dalam kotak kaca di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten. Di antara buku-buku berbahasa Belanda itu terselip sebongkah ubin berwarna abu-abu. Benda berbentuk segi enam tersebut diambil dari bekas rumah Asisten Residen Lebak yang pernah menjadi tempat tinggal Douwes Dekker ketika bertugas di Rangkasbitung pada abad ke-19.


“Ubin itu sesungguhnya sepasang. Saya menemukannya di area bekas rumah Multatuli ketika mengambil rekaman video di Lebak tahun 1987. Saat kembali ke Belanda, saya bawa serta ubin itu dan disimpan di sana. Tidak ada yang tahu kalau ubin tersebut berasal dari bekas kediaman Multatuli,” kata Arjan Onderdenwijngaard, penulis buku Lebak Kota Multatuli, dalam pemutaran film serta peluncuran dan diskusi bukunya di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (13/8/2026) malam.


Dua ubin itu berwarna abu-abu tua dan abu-abu muda. Arjan menemukan ubin itu dekat kontainer sampah puing-puing bangunan. Tak hanya mengambil ubin, dia juga membawa serta bingkai ubinnya. Setelah menyimpan ubin itu kurang lebih 25 tahun, Arjan menghibahkannya ke Multatuli Huis di Belanda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page