top of page

Cerita Sebongkah Ubin di Museum Multatuli

Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bongkahan ubin yang berasal dari bekas rumah Asisten Residen Lebak, kediaman Eduard Douwes Dekker alias Multatuli ketika bertugas di Rangkasbitung, dipamerkan di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten. (Museum Multatuli).

  • 3 menit yang lalu
  • 4 menit membaca

DERETAN buku tentang kisah hidup dan karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli tertata rapi dalam kotak kaca di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten. Di antara buku-buku berbahasa Belanda itu terselip sebongkah ubin berwarna abu-abu. Benda berbentuk segi enam tersebut diambil dari bekas rumah Asisten Residen Lebak yang pernah menjadi tempat tinggal Douwes Dekker ketika bertugas di Rangkasbitung pada abad ke-19.


“Ubin itu sesungguhnya sepasang. Saya menemukannya di area bekas rumah Multatuli ketika mengambil rekaman video di Lebak tahun 1987. Saat kembali ke Belanda, saya bawa serta ubin itu dan disimpan di sana. Tidak ada yang tahu kalau ubin tersebut berasal dari bekas kediaman Multatuli,” kata Arjan Onderdenwijngaard, penulis buku Lebak Kota Multatuli, dalam pemutaran film serta peluncuran dan diskusi bukunya di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (13/8/2026) malam.


Dua ubin itu berwarna abu-abu tua dan abu-abu muda. Arjan menemukan ubin itu dekat kontainer sampah puing-puing bangunan. Tak hanya mengambil ubin, dia juga membawa serta bingkai ubinnya. Setelah menyimpan ubin itu kurang lebih 25 tahun, Arjan menghibahkannya ke Multatuli Huis di Belanda.


Sebelum diberikan kepada Multatuli Huis, ubin itu sempat digunakan rekan Arjan, Anton Dautzenberg yang memiliki perhatian besar terhadap Multatuli, sebagai medium pembelajaran di ArtEZ, sebuah akademi seni rupa di Arnhem. Dalam kuliah creative writing, Anton berdiskusi tentang kehidupan dan karya Multatuli, terutama Max Havelaar, dengan mahasiswa tahun kedua.


Di hadapan mahasiswa, Anton menunjukkan ubin itu dan menjelaskan cerita di baliknya. Dia lalu memberikan salinan pidato terkenal para kepala-kepala Lebak yang diambil dari buku Max Havelaar dan menugaskan setiap mahasiswa memilih satu kutipan yang menarik perhatian mereka dan membacakannya di atas ubin tersebut.


“Anton punya ide untuk menamai ubin itu dengan ‘batu-batu api’. Telah diputuskan untuk ‘menyalakan api’ mereka pada waktu yang tepat...Anton sendiri akan ‘menyalakan’ batu-batu api itu di Radbound University, di acara pembukaan simposium sastra, Wintertuin Festival, di mana dia akan mempresentasikan sebuah antologi berjudul Api... Tentu, Multatuli merupakan salah satu penulis dalam antologi itu,” tulis Arjan dalam Lebak Kota Multatuli.


(Kiri ke kanan) Annayu Maharani, Arjan Onderdenwijngaard, dan Andi Achdian menghadiri acara After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism yang diselenggarakan Erasmus Huis pada Kamis (13/8/2026) malam. Amanda Rachmadita/Historia.ID.
(Kiri ke kanan) Annayu Maharani, Arjan Onderdenwijngaard, dan Andi Achdian menghadiri acara After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism yang diselenggarakan Erasmus Huis pada Kamis (13/8/2026) malam. Amanda Rachmadita/Historia.ID.

Batu-batu Api Multatuli

Sejak pertama kali diterbitkan di Belanda pada 1860, Max Havelaar telah menjadi perbincangan luas di berbagai kalangan. Tak hanya sebagai tonggak penting dalam sastra, karya Multatuli itu membuka mata banyak orang di negeri penjajah mengenai penderitaan penduduk di tengah himpitan eksploitasi sistem tanam paksa dan tindakan sewenang-wenang penguasa feodal.


Buku itu memicu kesadaran moral di Belanda hingga melahirkan kebijakan politik etis yang memuat tiga program utama, yakni irigasi, edukasi, dan transmigrasi. Respons terhadap Max Havelaar juga terjadi di Hindia Belanda. Ada yang mengkritik, tetapi banyak pula yang tergugah hingga memicu bangkitnya kesadaran anti-kolonialisme dan tumbuhnya semangat kebangsaan di kalangan bumiputra.


“Kalau ada orang yang bilang bahwa Max Havelaar adalah buku anti-kolonial saya rasa tidak, tapi kalau buku itu, seperti yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, adalah buku yang membunuh kolonialisme, saya setuju karena buku tersebut memiliki pengaruh yang besar. Hampir semua pejuang atau generasi awal nasionalis Indonesia seperti Kartini, Tirto Adhi Soerjo, membaca dan menulis tentang buku itu. Bahkan, Sukarno sering mengutip kata-kata di dalam buku tersebut di berbagai pidatonya,” kata Arjan.


Arjan melihat pembacaan Max Havelaar juga mendorong semangat persatuan nasional yang terwujud dalam Sumpah Pemuda. “Menurut saya, Sumpah Pemuda itu juga muncul sebagai akibat dari Max Havelaar. Karena para pemuda tidak lagi merasa dirinya sebagai Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra. Bukan. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai orang Indonesia. Anak-anak dari satu bangsa,” ungkapnya.


Sementara itu, sejarawan Andi Achdian mengatakan, pembacaan terhadap Max Havelaar memberikan suatu pandangan menarik bagi tokoh-tokoh nasionalis generasi awal dalam memandang kolonialisme. Bila sebelumnya penduduk lokal terbiasa melihat penjajahan sebagai suatu kondisi yang tidak dapat diubah, melalui karya Multatuli itulah timbul pemahaman kolonialisme sebagai sebuah sistem yang dapat diakhiri atau diputus rantainya.


Semangat anti-kolonialisme ini pula yang menjadi tema Museum Multatuli di Rangkasbitung, Banten. Pada 2015, Arjan dihubungi Klaartje Groot dari Multatuli Huis yang meminta persetujuan untuk menghibahkan satu ubin kepada Museum Multatuli. Tanpa pikir panjang, Arjan menyetujuinya dan diundang dalam acara resmi serah terima koleksi tersebut.


“Saya mendonasikan ubin yang berwarna abu-abu terang, bukan abu-abu gelap ke museum: warna gelap berarti penjajahan Belanda yang disingkap oleh Multatuli. Ubin abu-abu gelap itu lantas disimpan di Belanda sebagai pengingat. Warna terang memunculkan harapan dan kerja sama berbasis kesetaraan antara kedua negara di masa depan. Sehingga, ubin berwarna abu-abu terang tersebut kembali ke ‘tanah kelahirannya’,” tulis Arjan.


Setelah Multatuli Pergi

Pembacaan terhadap Max Havelaar, menurut Arjan, menginspirasi generasi pendiri bangsa untuk melawan kolonialisme dan feodalisme. Perlawanan ini menghasilkan Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang berujung dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949.


Sementara itu, generasi penerus Indonesia periode 1950–1960 menggunakan Max Havelaar untuk mendidik masyarakat tentang keadilan, kesetaraan, dan hak-hak individu. Sedangkan di masa Orde Baru, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diadaptasi menjadi film oleh sutradara Fons Rademakers yang kemudian ditayangkan secara luas.


Setelah era Reformasi, Multatuli dibangkitkan kembali. Di Lebak, dia menjadi ikon dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Gagasan dan spirit Multatuli yang kental dengan perjuangan mengupayakan keadilan dan kesetaraan terus digaungkan melalui taman baca dan museum. Berbagai kuliah dan diskusi diadakan, buku dan penelitian baru juga diterbitkan.

Di tengah munculnya pertanyaan, “adakah perubahan yang terjadi setelah Multatuli pergi?” buku tersebut kembali dibaca, bukan sekadar untuk mengenal sebuah novel yang menjadi tonggak penting dalam dunia kesusastraan, tetapi juga alat untuk melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah dituduh pro-Amerika gara-gara meloloskan flm Hollywood.
bg-gray.jpg
Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi Djajaloka untuk menyejahterakan eks pejuang Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.
Bongkahan ubin menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan oleh penjajah dan penguasa feodal yang digaungkan Multatuli melalui bukunya, Max Havelaar.
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Dimulai dari dunia militer, dasi berkembang menjadi aksesoris pelengkap yang kini lumrah dipakai oleh siapa saja.
Dimulai dari dunia militer, dasi berkembang menjadi aksesoris pelengkap yang kini lumrah dipakai oleh siapa saja.
Upaya menciptakan kondisi kerja yang adil gender masih diperjuangkan sampai sekarang.
Upaya menciptakan kondisi kerja yang adil gender masih diperjuangkan sampai sekarang.
Meski diluluhlantakkan gempa dahsyat, Chile tetap berhasil menghelat Piala Dunia 1962.
Meski diluluhlantakkan gempa dahsyat, Chile tetap berhasil menghelat Piala Dunia 1962.
Setiap muslim berharap dapat menyempurnakan keislamannya dengan naik haji ke Makkah. Ini sejarah muslim Indonesia pergi ke Tanah Suci.
Setiap muslim berharap dapat menyempurnakan keislamannya dengan naik haji ke Makkah. Ini sejarah muslim Indonesia pergi ke Tanah Suci.
transparant.png
bottom of page