top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Merawat Ingatan Tentang Pangkalan Brandan

    PANGKALAN Brandan terletak di Kabupaten Langkat sekitar 80 km dari kota Medan. Lokasinya strategis karena dilalui jalan lintas timur Sumatra dan pintu gerbang menuju Aceh. Dahulu, Pangkalan Brandan kesohor sebagai daerah penghasil minyak. Pada kurun waktu tertentu, Pangkalan Brandan menjadi kilang minyak terbesar di Sumatra.

  • Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman

    Batavia menjadi salah satu daerah paling penting pada masa VOC bercokol di Hindia Timur. Setelah berhasil menguasai Batavia pada 1619, VOC mendirikan berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas perdagangannya di Hindia Timur. Salah satu kompleks bangunan itu Kastil Batavia. Letaknya sekarang di Kampung Tongkol, tak jauh dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Wilayah ini dulu menjadi pusat kota Batavia. Seorang warga sedang mencuci mobil di kawasan bekas gudang Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kawasan Kampung Tongkol yang bersebelahan langsung dengan gudang dan tembok bekas kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kastil Batavia menjadi saksi tangguhnya VOC sebagai perusahaan dagang selama hampir dua abad . Kastil ini dibangun pada masa J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada 12 Maret 1619. VOC butuh sebuah benteng yang kuat dan aman dari serangan musuh. Karena itu, Coen merombak benteng lama yang bernama Fort Jacatra, termasuk tembok dan bangunan lainnya. Sebuah mobil truk kontainer terparkir di samping bangunan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bekas ban yang berserakan di kawasan gudang dan tembok bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Coen membangun tembok baru berbentuk persegi empat yang lebih kokoh daripada tembok lama. Tembok itu dibangun mengelilingi kota Batavia. Selain tembok, Coen juga membuat kanal-kanal untuk menyulitkan musuh masuk ke kota. Lalu di sebelah selatan tembok baru, dia membangun Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Luas Kastil Batavia hampir sembilan kali luas Fort Jacatra. Kastil Batavia dikelilingi oleh empat bastion atau selekoh di empat penjurunya. Bastion adalah bagian tembok benteng yang sedikit menjorok keluar dan dipersenjatai. Masing-masing bastion punya nama: Parrel, Robijn, Diamant, dan Saphier. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Di dekat Kastil Batavia, Coen membangun sejumlah gudang untuk menyimpan berbagai dagangan VOC. Sekarang Kastil Batavia dan gudang-gudang itu sudah runtuh. Sebelumnya terdapat empat gudang tua di kawasan ini. Satu per satu mulai hilang tertelan pembangunan kota. Dua gudang terkena pembangunan jalan tol. Satu gudang lainnya hancur dimakan waktu. Hanya satu yang tersisa. Di dinding depan gudang itu masih terlihat jelas tulisan "Major Massie". Gudang ini bernama Graanpakhuizen yang berarti Gudang Biji-bijian. Gudang ini dulunya berfungsi untuk menyimpan beras, kopi, teh, rempah-rempah, jagung, kacang, dan lainnya. Bekas gudang penyimpanan makanan di kawasan Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat bermain di kawasan gudang bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, seiring berjalannya waktu, gudang ini mulai dilupakan. Akses masuknya menjadi tempat bongkar muat berbagai truk dan kontainer. Material temboknya ambyar di berbagai sisi. Tak ada lagi kesan gagah pada bagunan ini. Malah tampak menyeramkan. Tak heran jika beberapa acara misteri di stasiun televisi swasta sering menjadikan tempat ini untuk syuting. “Kru acara televisi tersebut tidak berani melanjutkan acaranya di sini karena waktu itu belum mulai saja timnya sudah kesurupan. Lain waktu juga pernah ada supir truk sedang ganti ban kemudian sore-sore begini ada yang nongol di atas kakinya saja,” kata Aan (46) salah satu warga. Beberapa truk yang memenuhi halaman depan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kondisi terkini bekas gudang dan tembok di kawasan Kastil Batavia era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bagian dalam dari bekas gudang era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gudang Major Massie yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seseorang sedang membersihkan truk di kawasan bekas Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan kondisi di dalam bekas gudang Major Messie dan detail temboknya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, gudang dan tembok kastil yang sempat menjadi destinasi wisata di seputaran Kota Tua ini semakin kurang nyaman dikunjungi. Tertutup oleh hiruk pikuk suara truk hingga padatnya rumah penduduk di kawasan kampung Tongkol. “Dulu sering bule-bule Belanda datang ke sini. Mencari gedung ini. Tapi sekarang sudah jarang,” ujar Aan. Seorang penjual es potong yang melintas di kawasan gudang Major Massie. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai boneka yang tampak terawat di gantung di tembok terakhir kawasan Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Layar Lebar Chadwick Boseman

    TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat (28/8/2020) di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise  MCU, Captain America: Civil  War (2013), Black Panther  (2018), Avengers: Infinity War  (2018), dan   Avengers: Endgame  (2019)  sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch . Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy. Chadwick Boseman (kiri) bersama Michael B. Jordan (Ftoo: Twitter @chadwickboseman) Setelah menjalani debutnya lewat Third Watch , Boseman mengalami guncangan jiwa di opera sabun All My Children  di tahun yang sama. Sebagaimana disitat The Wrap , 2 Januari 2019, Boseman menuturkan alasan kenapa dia dipecat dari peran Reggie Montgomery di opera sabun itu, hingga akhirnya digantikan Michael B. Jordan. Gara-garanya, dia mengkritisi naskah yang dianggapnya rasis terhadap kaum kulit hitam. Boseman dan Jordan lantas “bereuni” untuk adu akting di film Black Panther . “Ketika saya mendapatkan perannya, saya berkata pada diri sendiri: ‘Ini bukan bagian dari manifesto saya. Ini bukan peran yang saya ingin bawakan,” kata Boseman. Jackie Robinson hingga James Brown Sejumlah kiprah Boseman di layar lebar pun tak jauh dari tokoh-tokoh yang didera rasisme. Di film The Express: The Ernie Davis Story (2008), biopik mengenai pemain American Football era 1960-an Ernie Davis, Boseman kebagian peran pendukung sebagai Floyd Little, rekan atlet berkulit hitam Davies di American Football. Walau beberapa kisah asli di film itu didramatisir, Little mengaku cukup terkesan dan teringat kembali akan masa-masanya berkiprah di lapangan berkat jasa Ernie Davis. “Di film The Express , sebelum Ernie Davis keluar lorong menuju lapangan untuk terakhir kali sebagai pemain Cleveland Browns, Ben Schwartzwalder menghampiri Davis: ‘Ernie, saya tak tahu apa yang Anda katakana kepada Floyd Little, namun dia akan datang ke Syracuse.’ Itu penutup yang emosional dari film yang hebat,” ungkap Little dalam otobiografi yang ditulisnya bersama Tom Mackie, Promises to Keep . Di film "The Express", Chadwick Boseman (kiri) memerankan atlet American Football, Floyd Little (Foto: Davis Entertainment) Peran sebagai aktor utama pertamakali dilakoni Boseman di biopik 42 (2013) dengan memerankan Jackie Robinson, legenda bisbol Afro-Amerika yang bergulat dengan rasisme di awal kariernya di Brooklyn Dodgers. Film garapan sineas Brian Helgeland itu disupervisi langsung Rachel Robinson, istri mendiang Jackie. Bagi  sutradara, Boseman punya keberanian serupa dengan Jackie semasa hidupnya dalam melawan arus rasisme di lapangan bisbol. “Chad sebenarnya opsi kedua. Namun saya memang tak ingin aktor yang sudah dikenal luas memainkan peran Jackie karena saya pikir, akan sangat aneh melihat seseorang yang imejnya sudah terkenal memerankan sosok terkenal juga,” ujar Helgeland dalam wawancaranya dengan Collider , 11 April 2013. “Saat casting , Chad memilih tiga dari empat adegan tersulit. Salah satunya ketika adegan emosional Jackie berada di lorong stadion, mematahkan pemukul bisbol. Itu pilihan yang berani dari Chad. Dia bisa menghidupkan suasana di mana Jackie merasa ditolak oleh semua orang,” imbuhnya. Jelang produksi, guna mendukung upayanya memerankan Jackie, Boseman menemui Rachel Robinson di Jackie Robinson Foundation. Dia ingin mengetahui lebih jauh sosok Jackie guna penghayatan. “Peran (Jackie) ini peran yang menakutkan sebenarnya. Saya sempat tak tahu harus mulai dari mana sampai saya bicara pada dia (Rachel). Dari dirinyalah semangat Jackie masih hidup. Saya bisa melihat orang seperti apa yang bersanding bersama Rachel. Itu bagian yang ingin saya gunakan saat memerankannya,” jelas Boseman. “Kami duduk bersama, berbicara dari hati ke hati. Dia juga ingin mengenal saya lebih dalam. Saya juga mempelajari sosok Jackie lebih dekat dari pembicaraan kami dan dari buku-buku yang direferensikan Rachel. Terakhir, saya menanyakan tentang hubungan mereka karena itu bagian besar dari diri Jackie yang membuatnya bisa mencapai segalanya. Jackie selalu mendapat dukungan darinya,” lanjutnya. Debut Chadwick Boseman sebagai pemeran utama di film "42", biopik legenda bisbol Jackie Robinson (Foto: Warner Bros Pictures) Terlepas dari kesuksesan filmnya, ada banyak hal yang dipelajari Boseman dari sosok Jackie. Atlet kulit hitam itu membuka jalan bagi para atlet Afro-Amerika lain ke pentas Major League Baseball (MLB). Jackie ikon olahraga yang tak kalah besar dari pendahulunya di arena atletik, Jesse Owens. “Jika Anda berikir tentang dia menjadi seorang ikon dan pahlawan, sesungguhnya itu menjadi lubang terbesar di mana Anda bisa jatuh karena dia tak tahu akan menjadi seorang ikon dan pahlawan,” kata Boseman, dikutip Danny Peary dalam Jackie Robinson in Quotes: The Remarkable Life of Baseball’s Most Significant Player. “Faktanya, di film itu Jackie harus menghadapi itu semua ketika ia sadar bahwa berada di MLB menjadi isu yang lebih besar bagi semua orang. Anda tak bisa lari dari tanggungjawab yang diemban, namun Anda bisa fokus dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan. Selangkah demi selangkah. Pada akhirnya semua bisa dilalui,” tambahnya. Setahun berselang, Boseman kembali muncul sebagai aktor utama di biopik Get on Up (2014). Dari peran Jackie di lapangan bisbol, dia bergeser di ke dunia musik memerankan James Brown, legenda musik soul, di film garapan sineas Tate Taylor ini. Boseman sejak awal jadi pilihan utama Taylor memerankan pelantun tembang legendaris “I Feel Good” itu. Namun Taylor harus membujuknya ekstra keras lantaran Boseman mulanya tak berminat. Utamanya karena ia pesimis bisa menari selincah mendiang James Brown. “Saya merasa tak ada gunanya mencoba-coba. Dia ikon yang terlalu besar dan saya belum lama memerankan ikon besar lainnya dalam 42 . Dalam pikiran saya, tak tahu harus melakukan pendekatan apa untuk bisa melakukan gerakan tarian Brown,” tutur Boseman, dikutip The Guardian , 20 November 2014. Legenda musik soul, James Brown yang diperankan Chadwick Boseman dalam biopik "Get on Up" (Foto: Universal Pictures) Ketika akhirnya Boseman mengiyakan peran Brown, ia diberi waktu enam pekan untuk mempelajari semua gerakan khas Brown di atas panggung. Walau kemudian untuk gerakan split James Brown mesti diedit sedemikian rupa lantaran gerakan itu tak kunjung bisa dikuasai Boseman hingga masuk jadwal produksi. “Ujian sesungguhnya dari film itu adalah gerakan split James yang dikenal semua orang. Solusinya adalah kombinasi gambar tubuh James dan saya menggunakan pemindai 3D,” lanjut Boseman. Hal menarik yang dipelajari Boseman dari sosok James Brown adalah sikap sensitif dan bijak sang legenda. Antara lain ditunjukkan dengan James Brown memutuskan konsernya disiarkan secara live pada 5 April 1968 sebagai respon terhadap pembunuhan Dr. Martin Luther King yang juga dihormatinya. “Malam itu di siaran langsung televisi, bisa saja James Brown mengatakan: ‘Mari merusuh.’ Jika dia membiarkan dirinya emosional malam itu menggunakan musiknya, dia pasti sangat bisa memengaruhi penjuru negeri. Tapi pada akhirnya anak-anak muda tetap jadi penonton yang baik untuk mendengarkan James Brown. Dia sangat bijak untuk menghidupi filosofi-filosofi Dr. King,” papar Boseman, dinukil Atlanta Magazine , 1 Agustus 2014.

  • Balada Benny dengan Baret Merahnya

    MARKAS komando Kopassus, Cijantung, 1985. Di ruang kerjanya, Komandan Kopassus Brigjen Sintong Panjaitan ditemani wakilnya Kolonel Kuntara berbincang santai dengan Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani, KSAD Jenderal TNI Try Sutrisno, dan Wakil KSAD Letjen TNI Edi Sudrajat. Mereka sedang menunggu tamu penting dari negeri seberang tiba. Meski semua akan melakukan upacara resmi, suasana di ruang itu santai. Obrolan mengalir begitu saja. Di tengah perbincangan itu, Sintong berjalan ke mejanya. Ditariknya laci mejanya dan kemudian diambilnya sebuah baret merah dari dalamnya. “Ini baret merah Bapak yang akan Bapak pakai dalam upacara nanti,” kata Sintong sambil memberikan baret itu kepada Moerdani, dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong tak menduga niat baiknya itu justru membuat Benny, sapaan Moerdani, jadi kecewa. Setelah berdiri dan mencobanya, Benny lalu melepas baret itu dan melemparkannya. Baret merah itu pun jatuh ke lantai diikuti Benny yang kembali ke kursinya, duduk, dan tak mengucapkan sepatah katapun. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Upaya KSAD Try mencairkan suasana tak berhasil. Wajah Benny tetap beda dari sebelumnya. Maka ketika Sintong melihat Benny keluar dari toilet, dia segera menghampirinya karena merasa dikecewakan. “Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Jadi aneh kalau Bapak tidak berkenan memakai baret merah,” kata Sintong kepada Benny. Alih-alih menjawab, Benny tetap diam. Benny tahu Sintong bermaksud baik. Namun, Benny yakin Sintong mungkin tak mengetahui alasan di balik penolakannya itu. Upaya Sintong telah memaksanya kembali merasakan luka lama yang terjadi pada awal 1965. Sebelum hatinya terluka, Benny selalu bangga pada korps yang telah melambungkan namanya menjadi prajurit tempur itu. Di korps baret merah itulah cita-citanya menjadi tentara “sungguhan” setapak demi setapak dia wujudkan. Kerja keras dan dedikasinya di korps itu sampai mengantarkannya menggapai reputasi sebagai prajurit lapangan berprestasi. Puncaknya, dia dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Sukarno karena keberhasilannya dalam Operasi Naga semasa Trikora. Namun, usai berbulan madu pada awal Januari 1965, Benny mendapati semua “kemanisan” kariernya itu seketika berubah jadi pahit. Pemicunya adalah sikap Benny di dalam rapat internal RPKAD pada akhir 1964. Dalam rapat yang dipimpin Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimuljo itu dibahas gagasan untuk mengeluarkan anggota RPKAD yang cacat tubuh. Salah satu yang mendapat pembahasan untuk dikeluarkan adalah anak buah Benny di Yon I RPKAD Kapten Agus Hernoto, yang kehilangan satu kakinya saat bertempur melawan Marinir Belanda sewaktu Trikora. Mendengar pembahasan itu, Benny tidak terima dan angkat suara. “Pokoknya saya tegaskan, Agus jangan dipindah hanya karena kakinya tinggal satu. Dia korban pertempuran yang justru harus dijadikan teladan. Sebab dia tidak mau menyerah, meski sudah tertembak dan semua anak buahnya habis. Dia itu baret merah sejati. Dan jelas lebih pantas memakai baret merah daripada beberapa di antara kita, perwira yang nggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD, lantas disuruh pakai baret merah,” kata Benny sebagaimana ditulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. Entah siapa yang menyampaikan hasil rapat internal itu kepada Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani, yang pasti Benny kemudian mendapat surat panggilan dari Menpangad. “Saya menerima surat tanggal 4 Januari, esoknya harus datang menghadap Pak Yani di MBAD,” kata Benny dalam biografinya yang ditulis. Begitu menghadap, Benny mendapati Yani terlihat marah, jauh dari biasanya ketika Benny bertemu Yani yang ramah dan ngemong . Suasana pertemuan empat mata itu begitu tegang. “Saya tahu perasaanmu sebagai perwira muda. Mungkin saya juga akan berbuat sama dalam keadaan seperti itu. Tetapi, perbuatanmu tersebut salah, ...tetap salah karena menilai pimpinan,” kata Yani terhadap Benny, dikutip Julius Pour. Yani menumpahkan segala unek-uneknya dalam pertemuan itu. Puncaknya, Yani memberi perintah singkat, “Sudah, lapor ke Mas Harto sana!” Perintah itu membuat Benny terperanjat. Lapor ke Mas Harto (Soeharto, pangkostrad) yang dimaksud Yani berarti perintah agar Benny meninggalkan korps baret merah untuk masuk ke Kostrad. Maka tanpa berlama-lama, Benny memberi hormat dan keluar. Peristiwa itu begitu membekas di benak Benny. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Sakit hatinya makin bertambah ketika sesampainya di Cijantung dari MBAD, dia mendapati anak buahnya sedang latihan upacara untuk serah-terima jabatan (sertijab) Dan Yon I RPKAD (yang saat itu dijabat Benny) keesokan harinya. Esoknya, 6 Januari 1965, upacara sertijab digelar. Benny resmi menyerahkan jabatannya ke Mayor Chalimi Iman Santosa. Usai upacara, Benny langsung pulang. Di rumah, dia menumpahkan semua kekesalannya dengan melepas semua atribut kesatuan komando dari baju-bajunya. Bersama baret merahnya, semua atribut itu langsung dimasukkannya ke plunge-zak  dan dia kembalikan ke kesatuan. “Peristiwa tersebut sangat membekas di hatinya. Perasaannya sangat kecewa, karena merasa diperlakukan tidak adil. Ingatannya masih sedih setiap kali mengenang suasana tersebut,” tulis Julius Pour. Maka ketika pada 1985 Sintong memberikan baret merah kepada Benny agar dipakai, Benny marah karena kembali teringat masa dua dekade sebelumnya itu. Sikap Benny tak berubah sampai ketika sirene yang mengiringi kedatangan Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar, tamu dari seberang yang ditunggu mereka, terdengar di ruang kerja Sintong. Pun ketika turun ke bawah untuk menyambut tamu agung itu. Namun begitu membuka pintu, Benny tiba-tiba berteriak memanggil ajudannya, Lettu Tono. “Ton! Mana baret merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini,” ujarnya, dikutip Hendro. Pernyataan Benny langsung membuat Sintong mafhum. Dengan sigap dia berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil baret yang tadi dibuang Benny. Benny pun mau kembali menggunakan baret merah setelah diberikan Sintong. Usai upacara, Benny berkata pada Sintong. “Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai baret merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung. Tiga jam setelah saya menerima perintah keluar dari RPKAD, saya sudah meninggalkan Cijantung,” kata Benny.*

  • Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima

    Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.

  • Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak

    Pada 1546, Demak menghadapi krisis. Kematian Sultan Tranggana menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang, dua wilayah di Jawa Tengah yang sama-sama menuntut hak peninggalan Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun di tengah upaya itu,Jaka Tingkir (Raja Pajang) muncul. Ia berusaha keras menghalangi upaya Sultan Trenggana. Konflik mulai meluas di antara Jipang dan Pajang. Melibatkan rakyat di kedua wilayah. Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang. Kharisma dan kesaktiannya diakui mampu mengembalikan kejayaan Demak. Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Pemuda Tingkir Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi: Javaanse Rijskroniek , Jaka Tingkir lahir di Pengging, sebuah negeri merdeka di Jawa Tengah yang penuh rahasia. Wilayah itu dahulu berada di bawah kuasa Kebo Kenanga, alias Andayaningrat, ayah Jaka Tingkir. “Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukan wayang beber (juga dinamakan wayang krebet ) maka ia pun dinamakan Mas Krebet,” tulis Meinsma. Jaka Tingkir harus hidup dalam pelarian setelah ayahnya terlibat dalam upaya pemberontakan atas Demak. Andayaningrat dikisahkan tewas di tangan Sunan Kudus. Tidak lama, ibunya pun meninggal. Jaka Tingkir menjadi yatim-piatu di usia yang cukup muda. Oleh keluarganya ia dibawa ke desa Tingkir dan diadopsi oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. “Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir, sebagaimana yang dikenal dan dicintai di mana-mana di daerah raja-raja Jawa Tengah,” tulis H.J. De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati . Ketika remaja, Jaka Tingkir belajar pada Kiai Ageng Sela. Babad Tanah Jawi menyebut gurunya itu sakti dan begitu dihormati, sekaligus ditakuti oleh masyarakat. Jaka Tingkir disebut menerima kesaktian dari gurunya itu. Keduanya sangat dekat. Kiai Ageng Sela sampai memberi perhatian yang amat besar kepada muridnya itu. Selain kepada Kiai Ageng Sela, Jaka Tingkir juga menerima pelajaran dari Sunan Kalijaga. Salah satu Wali penyebar Islam di tanah Jawa itu memberi ajaran agama dan kehidupan kepada Jaka Tingkir. Dia jugalah yang menyarankan kepada Tingkir untuk bekerja di Demak. Ia menerima saran itu dan mendaftar sebagai pengawal pribadi raja. “Keberhasilannya melompati kolam masjid dengan lompatan ke belakang –tanpa sengaja karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya– memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan ia pun dijadikan kepala tamtama,” tulis de Graaf sebagaimana dituturkan dalam Babad Tanah Jawi . Jaka Tingkir sempat diusir dari Demak setelah memperlihatkan kesaktiannya di depan penguasa Demak. Bermaksud menguji calon pengawal baru yang memiliki ilmu kebal, Jaka Tingkir justru membunuhnya. Sebuah tusuk konde menancap tepat di jantung si calon pengawal. Kesaktian Jaka Tingkir terbukti lebih hebat, meski berujung pengusiran. Merasa putus asa, Jaka Tingkir memilih kembali ke desanya. Ia menghabiskan waktu dengan bertapa dan berguru kepada Kiai Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Kiai Buyut dari Banyubiru. Jaka Tingkir mendapat lebih besar kesaktian. Satu waktu, Demak dilanda kekacauan. Seekor kerbau besar mengamuk. Tidak ada seorang pun pengawal mampu menghentikannya. Mendengar kabar itu, Jaka Tingkir segera pergi ke Demak. Dengan kesaktiannya, kerbau itu dengan cepat dihentikan. Ia mendapatkan kembali kedudukan sebagai kepala pengawal raja. “Beberapa waktu kemudian, ia kawin dengan putri ke-5 raja (Trenggana), dan menjadi bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bau. Tiap tahun ia harus menghadap ke Demak. Negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana,” ungkap de Graaf. Menguasai Takhta Demak Sebagai menantu Sultan Tranggana, Jaka Tingkir jelas tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Tranggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang. Seluruh benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut. Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawata, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan di wilayah Prawata, sebuah pasanggarahan yang digunakan Raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan. Berdasar penelitiannya, JJ Meinsma mengatakan kalau Jaka Tingkir dan penguasa Pajang begitu berambisi menguasai Demak. Mereka segera mengamankan takhta atas pemilik sebagian besar wilayah Jawa Tengah tersebut. Ia bahkan melakukan berbagai tindakan untuk memastikan kedudukannya tetapi baik. Sampai tidak ada wilayah yang berani mengusik raja Pajang karena takut akan kesaktiannya. “Semua negara bawahan menyerah. Yang mengadakan perlawanan dikalahkan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, karena takut akan kesaktian adipati dari Pajang. Hanya adipati dari Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang tidak mau menyerah,” tulis Meinsma. Pada perkembangan selanjutnya, setelah melalui persaingan kekuasaan yang cukup panjang, Aria Panangsang berhasil menduduki takhta Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Jipang.

  • Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan

    SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.

  • Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani

    KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.

  • Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

    Kemunculan film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan perdebatan terkait keberadaan khilafah di Nusantara. Perbincangan mengenai khilafah di Nusantara kembali ramai. Benarkah ada khilafah di Nusantara? Apa itu khilafah dan hubungannya dengan Nusantara? Dalam Dialog Sejarah “Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Jejaknya?“ di Facebook  dan Youtube Historia.id , Selasa, 25 Agustus 2020, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Oman menyebut bahwa definisi jejak khilafah sendiri belum jelas. Jika yang dimaksud adalah bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara pernah menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan khilafah, menurutnya itu tidak benar. “Saya mengkaji sejumlah manuskrip dari Aceh, dari Palembang, dari Jawa juga, dari mana-mana, tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara itu bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu kalau mau disebut khilafah,” kata Oman. Oman tidak meragukan adanya hubungan diplomatik maupun jaringan ulama Nusantara, terutama Aceh dengan Dinasti Utsmaniah. Namun sebelum masuk lebih jauh, menurutnya masih menjadi pertanyaan juga, apakah Utsmani adalah representasi dari khilafah itu sendiri. “Kalaupun ada hubungan itu, maka pertanyaannya apakah dinasti Utsmani itu, Ottoman Empire itu bisa dianggap merepresentasikan apa yang diyakini sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Ini kan perdebatannya panjang,” terangnya. Menurutnya, dari Khulafaur Rasyidin atau empat kekhalifahan yang berdiri sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, hanya dua yang dianggap merepresentasikan nilai Syuro, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika memasuki kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga Abassiyah muncul, pertanyaan apakah kepemimpinan mereka merepresentasikan nilai-nilai kekhilafahan. “Saya kira itu tuh pertanyaan, mungkin kita harus bertanya ke diri sendiri yang dimaksud jejak khilafah di Nusantara itu apa. Saya sudah menjawab, kalau yang dimaksud adalah dalam sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, misalnya, saya kira tidak,” ungkapnya. Tapi, lanjutnya, “kalau mau menyebutnya itu bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, peradaban Islam dari Mesir, peradaban Islam dari Timur Tengah, itu sangat ada.” Nabi Muhammad SAW dan Islam sendiri, kata Oman, tidak menunjukkan bahwa khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan. Khilafah yang dimaksud menurutnya adalah serangkaian nilai-nilai, bukan sistem pemerintahan. Kembali ke tafsir soal bahwa kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara itu adalah bagian dari Khilafah Utsmani, Oman menyebut ada dua poin penting. Pertama , memang ada hubungan diplomatik antara kesultanan di Nusantara dengan Truki Utsmani. “Bahwa ada kontak diplomatik, misalnya, gitu ya dengan katakanlah Turki Utsmani pada masa itu saya kira itu, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu saya punya bukti yang banyak memang tentang adanya kontak, khusunya Aceh tentu saja,” jelasnya. Yang kedua , hubungan diplomatik tersebut tidak serta-merta menjadikan kesultanan-kesultanan itu sebagai bagian dari kekhalifahan. “Sekali lagi, kalau mengklaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmaniah itu, persatuan Islam sedunia yang sudah dimusnahkan tahun 1924, lalu kita harus kembali ke zaman itu untuk keagungan Islam misalnya, saya kira itu terlalu mengglorifikasi ya,” tegasnya.

  • Tiga Jurnalis Peliput Proklamasi

    Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia yang ke-75, di jagad maya beredar luas sejumlah foto tua yang menggambarkan suasana pembacaan proklamasi dari sudut yang lain. Padahal selama ini, foto bertajuk sejenis hanyalah berjumlah 3 lembar yang merupakan karya fotografer Indonesia Pers Photo Service (IPPHOS) Frans Soemarto Mendoer. Munculnya “foto lama tapi baru” itu mengundang sejumlah pertanyaan dari warganet: Berapa orangkah sebenarnya jurnalis yang meliput peristiwa bersejarah tersebut? Siapakah saja mereka? Dan dari media mana saja? Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak begitu banyak diceritakan. Informasi mengenai kehadiran jurnalis dalam pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, justru muncul dalam bukunya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dikisahkan oleh Sudiro, beberapa menit menjelang upacara pembacaan proklamasi dimulai, dirinya menyaksikan seorang lelaki yang tak dikenal duduk di beranda depan rumah Bung Karno. Para anggota Barisan Pelopor (BP) bahkan sudah memantau gerak-geriknya sejak awal. Mereka mencurigai laki-laki itu sebagai mata-mata militer Jepang. “Ternyata kami keliru. Dia adalah wartawan Domei (menjadi Kantor Berita Antara di era Indonesia merdeka). Namanya Suroto…” ungkap Sudiro. Bisa jadi via Suroto inilah kemudian berita tentang proklamasi diteruskan ke redaksi Domei . Dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, S idik Kertapati menyebut begitu mendapat berita dari lapangan, dua awak Domei lainnya yakni Sjahrudin dan Sundoro langsung menyiarkannya. Bak kebakaran jenggot, pemerintah militer Jepang langsung bereaksi atas pemberitaan itu. Mereka memerintahkan para awak Domei membuat kontra berita yang membantah berita proklamasi itu. Namun karena kegigihan para awak Domei yang sebagian besar pro terhadap kemerdekaan bangsanya, kontra berita itu berhasil ditunda-tunda hingga pada akhirnya sama sekali tidak jadi disiarkan. Selain reporter, Domei pun mengirimkan fotografernya untuk meliput momen proklamasi. Tak tanggung-tanggung mereka mengutus Alex Mendoer, kepala bagian fotonya.  Tapi Alex bukan satu-satunya fotografer yang hadir dalam peristiwa proklamasi tersebut. Diam-diam dia mengajak adiknya Frans Mendoer (fotografer harian Asia Raya) untuk ikut serta meliput. Menurut buku Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur) karya Wiwi Kuswiah, dituturkan bahwa Alex sendiri kali pertama mengetahu berita rencana akan diadakan proklamasi berasal dari rekannya di Domei yang bernama Zahrudi. Alex tahu betul nilai berita proklamasi. Dia sangat yakin peristiwa tersebut akan menjadi sejarah penting bangsa Indonesia. Berbekal keyakinan itulah, di pagi buta 17 Agustus 1945, dia sudah keluar dari rumahnya di Jalan Batu Tulis No.42. Bersama Frans, mereka pergi ke Jalan Pegangsaan Timur sambil mengendap-endap supaya tak tertangkap serdadu Jepang. Sesampai di rumah bernomor 56, mereka menemukan situasi pagi itu sudah sangat ramai. Mayoritas yang hadir adalah para pemuda dan pemudi yang terlihat tak sabar lagi menantikan detik-detik pembacaan proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta. Seiring persiapan teknis penyelenggaraan prokamasi dilakukan, Alex dan Frans secara cepat menyiapkan pula kamera Leica masing-masing. Mereka kemudian memilih sudut pengambilan sesuai selera. Begitu upacara pembacaan proklamasi dimulai, kedua fotografer itu pun langsung beraksi. Singkat cerita, pembacaan proklamasi berlangsung sukses. Begitu massa sudah mulai meninggalkan rumah Bung Karno, Alex pulang ke kantornya sedangkan Frans langsung pulang ke rumahnya. Di Kantor Berita Domei Alex langsung memproses pencetakan foto. Saat itulah serdadu Jepang datang lantas mengambil negatif film yang sedang dikeringkan, sementara Alex sendiri saat itu sedang tidak di tempat. “Padahal Alex Mendoer-lah sebenarnya yang paling banyak memotret detik-detik proklamasi sampai habis satu roll film penuh yang berisi 36,” ungkap Lexi Rudolp Mendur, anak ke-2 dari Alex Mendoer. Frans Mendur lebih beruntung dibanding kakaknya. Begitu sampai di rumah, tanpa banyak pikir dia langsung menyembunyikan roll film itu lewat cara menanamnya di halaman depan rumah. Sejarah kemudian mengisahkan foto-foto pembacaan proklamasi karya Frans-lah yang kemudian beredar dan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Namun apakah hasil liputan tersebut hanya sebatas 3 lembar foto saja? Menurut Wiwi, sejatinya masih ada beberapa lembar negatif film yang berhasil disembunyikan oleh Frans itu. Tetapi hanya sedikit yang berhasil diamankan oleh Arsip Departemen Penerangan (saat itu masih ada) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sisanya raib tanpa jejak, entah diambil oleh siapa. Sejarawan Rushdy Hoesein memiliki pendapat yang menarik terkait dengan beredarnya foto-foto sekitar proklamasi (selain 3 foto karya Frans Mendoer) di jagad maya beberapa waktu lalu. Menurutnya ada dua kemungkinan, foto-foto tersebut berasal dari negatif film milik Frans Mendoer yang raib atau berasal dari negatif film milik Alex Mendoer yang sempat dirampas militer Jepang. “Bisa saja kan setelah jatuh ke tangan Jepang, lalu orang-orang Belanda ketika datang bersama Sekutu pada 1945 mengambilnya dan membawanya ke negeri mereka lalu mempublikasikannya sekarang,” ujar Rushdy.

  • Samudera Pasai dan Dinasti Abbasiyah

    SELURUH sultan di dunia Islam menyatakan baiat kepada Khilafah Abbasiyah semenjak gelombang badai Mongol dihentikan oleh Dinasti Mamluk. Pusat Dinasti Abbasiyah pun pindah ke Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global.

  • Nahas Pasukan Parang di Palagan Tiga Binanga

    Letnan Dua Raja Sjahnan menyiagakan pasukannya. Komandan Kompi III Batalion XV itu mendapat perintah untuk menyerang pasukan Belanda di Tiga Binanga, Tanah Karo. Kabar baiknya, pasukan Republik itu akan mendapat tambahan pasukan sukarela yang berasal dari veteran Perang Aceh. Pada 20 Desember 1947, pasukan bantuan datang dari Blangkejeren, Aceh Tenggara. Mereka dipimpin oleh Kapten Maaris dengan jumlah pasukan sebanyak dua seksi (satu seksi sama dengan setengah peleton atau sekira 10—20 orang). Pasukan sukarela ini dinamakan “Pasukan Parang”. Anggotanya terdiri atas orang-orang yang sudah berumur agak lanjut. “Tapi katanya berani menghampiri musuh dengan parang atau pedangnya. Mereka bertekad akan membunuh orang Belanda, yang dianggapya tetap menjadi musuh sejak zaman Belanda dahulu,” tutur Raja Sjahnan dal am Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan. Sebagai prajurit militan, reputasi pasukan parang dari Aceh ini bukan isapan jempol belaka. Mereka dikenal bernyali dengan bekal ilmu kelahi secara fisik. Di masa kolonial, Belanda cukup kewalahan menghadapi keganasan Pasukan Parang. Untuk meredam serangan pasukan Aceh yang ditakuti itu, yang sekali ayun dapat membelah bahu orang miring sampai ke jantungnya, “para prajurit Belanda mengenakan baju zirah primitif berupa lempengan kaleng rata pada tutup bahu seragamnya,” kata sejarawan militer Nino Oktorino dalam Seri Nusantara Membara: Perang Terang Terlama Belanda . Dalam perang kemerdekaan, pejuang Aceh terpanggil kembali untuk bertempur melawan Belanda. Apalagi ketika Belanda menduduki kota Medan, mereka datang menjemput lawan dengan berjalan kaki dari Aceh. Mereka turun ke berbagai front, mulai dari Tanah Karo hingga kawasan pinggiran kota Medan. Di Medan Area, mereka sohor dengan nama “Kompi Parang Berdarah”. Sebagai komandan kompi, Raja Sjahnan merasa gembira dengan kedatangan Pasukan Parang ke tengah frontnya di Tanah Karo. Raja Sjahnan sendiri sempat bertanya dalam hati, apakah pejuang gaek ini mengetahui sistem pertempuran modern yang tentu berbeda dengan zaman Perang Aceh. Meski demikian, dia yakin saja Kapten Maaris akan mampu mengarahkan Pasukan Parang. Uji coba pertama terjadi pada 24 Desember 1947. Pasukan Parang diminta mendahului penyerangan ke Tiga Binanga dan kampung Kuala dibantu satu seksi pasukan Kompi III. Penyerangan yang sedianya dilancarkan pada pukul 00.00 itu gagal lantaran terhadang oleh keadaan alam. Sungai yang akan diseberangi dalam keadaan banjir sehingga jalanan licin dan sulit untuk dilalui. Pukul 04.30, Pasukan Parang kembali ke basisnya di kampung Balang Dua karena hari mulai terang. Penyerangan kembali direncanakan pada 30 Desember 1947. Pasukan Belanda di Tiga Binanga berjumlah sekira satu kompi (150-200 orang). Sekitar pos mereka terdapat benteng-benteng yang dilengkapi senjata otomatis. Setelah mendapat informasi itu, pasukan Kompi III dan Pasukan Parang bersiap melancarkan serangan. Pukul 01.00 terjadilah tembak menembak dengan pasukan Belanda selama dua jam. Pasukan Parang bergerak dari sebelah utara. Sewaktu bergerak mendekati rumah sekolah, keberadaan Pasukan Parang digonggongi oleh anjing penjaga. Akibatnya, keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda yang segera memberondongnya dengan serentetan tembakan. Di tengah desing peluru, Pasukan Parang terpaksa mundur dan berlindung di jurang tepi sungai. Waktu menunjukkan pukul 03.45 dan hari mulai terang. Letnan Raja Sjahnan memutuskan untuk menghentikan penyerangan. Pukul 04.00 pasukan diperintahkan undur diri ke Kampung Gunung dan tiba di kampung Kemkem pukul 05.00. Pada penyerangan yang gagal itu, seorang Tentara Republik dan seorang Pasukan Parang terluka akibat serangan balik Belanda. Selain itu, 3 orang Pasukan Parang terluka akibat jatuh ke jurang. Menurut Raja Sjahnan, Pasukan Parang kesulitan bergerak di malam hari karena faktor usia. Keadaan tersebut dapat dipahami lantaran Pasukan Parang tidak berpengalaman dalam pertempuran jarak jauh maupun latihan perang modern. Semula Pasukan Parang menyangka cara berperang yang akan dilakoni sama seperti zaman dulu yakni perkelahian satu lawan satu. Ketika bersitirahat, Raja Sjahnan mendatangi Kapten Maaris beserta pasukannya. Mereka bertukar pikiran membahas kegagalan serangan Pasukan Parang. Salah seorang anggota Pasukan Parang itu angkat suara mengenai kelemahan pasukannya. “Bagaimanalah Nak, anggota Pasukan Parang ini umurnya sudah lanjut, sudah tua-tua, banyak yang sudah batuk-batuk. Bila kami bergerak, akan ribut, tentu ketahuan sama musuh lalu ditembaki dengan senapang mesin dari jauh. Bila kami bergerak pada siang hari, takut kapal terbang, malam hari tidak melihat dengan baik lagi. Oleh karena itu, Pasukan Parang ini lebih baik kembali saja ke kampung,” kata pejuang Aceh itu ditirukan Raja Sjahnan. Setelah berdiskusi dengan Kapten Maaris, akhirnya diputuskan bahwa Pasukan Parang boleh kembali ke Kota Cane dan terus ke Blangkejeren. “Mereka sebagai pejuang, patut dihargai walaupun usianya sudah lanjut, tapi mempunyai semangat juang yang tinggi,” kenang Raja Sjahnan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page