Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Demak Mengislamkan Banten
Sekitar tahun 1524, Sunan Gunung Jati bersama anaknya, Maulana Hasanuddin, setelah mampir sebentar di Banten, kemudian menuju Banten Girang, ibu kota Kerajaan Sunda-Banten. Mereka segera pergi ke Gunung Pulasari yang menjulang di atas Teluk Lada. Seolah-olah gunung itu tujuan utamanya. Sebab, gunung itu merupakan wilayah Bhramana Kandali. Di sana tinggal 800 ajar-ajar (pendeta) yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun. Penting bagi mereka mendatangi gunung keramat itu untuk menaklukkan secara batin kerajaan yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer. Saat itu, pengaruh Pakuan-Pajajaran atas Sunda-Banten melemah. Dalam Sajarah Banten , Pucuk Umun, yang digambarkan sebagai Panembahan Banten –sama dengan raja Sunda dalam sumber-sumber Portugis– menyatakan bahwa Pakuan-Pajajaran tidak lagi dipimpin oleh seorang raja melainkan oleh sejumlah bupati. “Dapat diperkirakan bahwa negeri Banten memanfaatkan kelemahan Pajajaran untuk mendapatkan kembali kedaulatannya,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII . Kerajaan Demak juga memanfaatkan merosotnya Pakuan-Pajajaran untuk mengincar Sunda-Banten. Sekitar tahun 1520, Kerajaan Demak telah melancarkan beberapa kali serangan militer yang gagal. Ancaman Demak itu membuat penguasa Sunda-Banten meminta bantuan Portugis di Malaka. “Untuk mempertahankan diri, Sunda-Banten cenderung meminta bantuan pada Malaka daripada Pakuan,” tulis Claude Guillot. Sebagai imbalan, Sunda-Banten menawarkan kepada Portugis kemudahan dalam berniaga dan biaya pembangunan benteng pertahanan asalkan menempatkan pasukan di dalamnya. Pembangunan benteng direncanakan di muara Sungai Cisadane, di perbatasan barat kerajaan, untuk menahan serangan dari Demak. Portugis terlambat menanggapi tawaran itu. Di pengujung tahun 1526, Hasanuddin bersama dua ribu pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dalam beberapa hari pertempuran. Mereka juga menghabisi pelaut kapal jenis brigantin yang karam karena khawatir orang Portugis itu akan membantu Sunda-Banten. Setelah menguasai pelabuhan Banten, pasukan Demak menaklukkan Banten Girang, ibu kota Sunda-Banten, yang terletak sekitar sepuluh kilometer dari hulu pelabuhan. Keberhasilan pasukan Demak itu karena pemimpin Sunda-Banten telah meninggal sekitar tahun 1526. “Pemimpin kota ini (Pucuk Umun, red. ),yang dinamakan Sanghyang oleh sumber Portugis, baru saja meninggal, dan mungkin peristiwa inilah penyebab melemahnya perlawanan militer,” tulis Claude Guillot. Selain itu, Hasanuddin juga mendapatkan bantuan dari dalam, yaitu Ki Jong dan Agus Jo, petinggi Sunda-Banten, yang telah masuk Islam. “Dengan bantuan dari dalam, Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam, pasukan Demak merebut pelabuhan Banten kemudian ibu kota Banten Girang,” tulis Claude Guillot. Ki Jong dan Agus Jo disebut seorang ponggawa dari Pakuan-Pajajaran. Namun, Claude Guillot berpendapat bahwa Ki Jong dan Agus Jo adalah seorang Tionghoa atau berdarah Tionghoa. Alasannya jauh sebelum masuknya Islam, orang Tionghoa telah datang ke Banten. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak pecahan keramik Cina di Banten Girang dan sekitarnya dari masa sebelum Dinasti Ming. “Juga terdapat tradisi penduduk terhadap dua makam yang masih ada di Banten Girang saat ini. Kedua makam ini dipercaya berada di tempat istana raja non-Islam terakhir, Pucuk Umun. Tradisi menyebutkan bahwa makam-makam itu adalah makam dua orang Tionghoa, Ki Jong dan Agus Jo, yang setelah memeluk agama Islam bekerja pada Raja Hasanuddin,” tulis Claude Guillot. Ragam Pusaka Budaya Banten, yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, menyebut Sunan Gunung Jati menjadi penguasa pertama di Banten, tetapi tak mengangkat dirinya sebagai sultan, melainkan diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin. Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Demak Tranggana pada 1526, dan diangkat sebagai Sultan Banten yang pertama pada 1552. Hasanuddin memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang. Para pendeta yang telah memeluk Islam disarankan hidup menetap di Gunung Pulasari. Sebab, jika tempat itu sampai kosong akan menjadi tanda berakhirnya Tanah Jawa. Dalam Babad Banten diceritakan bahwa penduduk Banten Girang yang tidak mau masuk Islam melarikan diri ke pegunungan selatan yang sampai sekarang dihuni oleh keturunan mereka, yaitu orang Baduy. Kenyataan ini didukung kebiasaan orang Baduy berziarah ke Banten Girang. Sunan Gunung Jati kemudian memerintahkan Hasanuddin untuk memindahkan istana ke kawasan pesisir pantai di pantai utara Pulau Jawa bagian barat. Setelah memastikan tempat untuk ibu kota yang kini dikenal dengan Banten Lama, Sunan Gunung Jati memberikan petunjuk kepada Hasanuddin agar di tempat itu dibangun keraton, alun-alun, dan pasar. “Jadi, dinasti Islam bukanlah pendiri Banten,” tulis Claude Guillot. “Sebenarnya dinasti ini merebut kekuasaan dalam sebuah negara yang memiliki sejarah panjang.”
- Raja Sriwijaya Membangun Taman Kota
Dapunta Hyang Sri Jayanasa memerintahkan para bawahannya untuk membangun taman. Dia ingin menanaminya dengan pepohonan. Sebutlah kelapa, pinang, aren, sagu, dan pepohonan yang buahnya bisa dimakan. Ada pula bambu haur, vuluh, pattum, dan pepohonan lainnya. “Semoga yang ditanam di sini, buahnya dapat dimakan. Semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk,” seru baginda. Keinginan penguasa Sriwijaya itu terekam dalam Prasasti Talang Tuo dari 606 Saka (684). Slamet Muljana dalam Sriwijaya mengungkapkan, prasasti itu dikeluarkan setelah sang raja menundukkan Kerajaan Melayu. Prasasti itu juga menyebut Dapunta Hyang membangun kebun-kebun lain yang disebut parlak, waduk ( tavad ), dan telaga ( talaga ). Pierre-Yves Manguin dalam “Palembang dan Sriwijaya” termuat di Kedatuan Sriwijaya menjelaskan, tavad dalam bahasa Melayu modern merujuk pada perbuatan menghalangi sebuah badan air untuk menciptakan kolam. Sementara istilah talaga berasal dari India, menjadi telaga dalam bahasa Melayu modern, yang merujuk pada danau kecil atau tasik. “Jadi, raja telah membangun beberapa kebun dengan tasik-tasik, kolam atau badan air yang ditahan oleh waduk agar semua orang dapat mendapat berkat,” kata dia. Manguin menduga kolam dan taman itu kemungkinan bagian dari bangunan hidraulis yang ada pada saat itu. Bentuknya mungkin terinspirasi dari Kota Nalanda yang menjadi tujuan dan asal para peziarah Buddha yang berhenti di Sriwjaya. “Kita dapat mempercayai bahwa pusat itu mungkin juga telah mempengaruhi konsep-konsep arsitektur para raja Nusantara dan pertama-tama mereka yang di Sriwijaya,” jelasnya. Taman itu rupanya berhasil dibangun, kendati kini tak jelas bagaimana rupanya. Namun, keberadaannya terbukti lewat penelitian arkeologi di wilayah Palembang pada awal 1990-an. Arkeolog senior Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo mengatakan, penelitian itu mengungkap adanya kandungan serbuk sari dari bermacam-macam tanaman, sebagaimana disebut dalam Prasasti Talang Tuo. “Yang tidak ketemu cuma tanaman jenis bambu. Dalam prasasti disebut bambu, tapi tidak ketemu serbuk sarinya karena bambu tindak meninggalkan serbuk sari,” katanya ketika ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/7). Dari temuan itu, Bambang menduga lokasi Taman Sriksetra tak jauh dari letak Bukit Siguntang, di barat laut Kota Palembang. Lahannya berkontur dengan lembah dan sungai kecil. Ini terlepas dari dugaan ada beberapa taman yang dibangun oleh Sri Jayanasa berdasarkan keterangan prasasti. “Bukit Siguntang itu tempat paling sucinya. Ini (taman dan Bukit Siguntang, red. ) saling berhubungan dan menunjukkan kriteria kelengkapan suatu perkotaan,” kata Bambang. Di balik kemungkinan adanya pusat kota yang lengkap dengan taman kota, prasasti itu lebih jauh mengungkapkan harapan di balik pembangunannya. Menurut Slamet Mulyana, taman itu adalah hadiah bagi rakyat. Namun di balik keinginan untuk beramal, pemberian hadiah itu juga disertai doa agar Dapunta Hyang memperoleh pula kebaikan. Artinya sesuai ajaran Buddha, taman yang dibangun Sri Jayanasa itu merupakan persembahan dengan tujuan mencapai level tertinggi dalam kehidupan Buddha yang dijalaninya. George Coedes dalam Kedatuan Sriwijaya berpendapat, seruan Sri Jayanasa menunjukkan adanya pemahaman Mahayana. Prasasti Talang Tuo pun menjadi bukti tertua yang berangka tahun tentang adanya aliran itu di Nusantara. Di Jawa, aliran itu tak terbukti ada sebelum tahun 778, yaitu dengan munculnya Prasasti Kalasan. “Dapat dipahami betapa penting Prasasti Talang Tuo yang menyatakan Mahayana sudah ada di Sriwijaya sejak 684,” katanya. Prasasti itu pun menjadi salah satu bukti komitmen pemimpin terhadap lingkungan hidup sebagaimana diungkap Yenrizal dalam “Makna Lingkungan Hidup di Masa Sriwijaya: Analisis Isi pada Prasasti Talang Tuwo” yang diterbitkan Jurnal ASPIKOM. Yenrizal menyoroti, prasasti yang dibuat sekira 1.300 tahun lalu itu, telah berbicara pelestarian lingkungan yang tak hanya ditujukan pada manusia, tetapi juga pada semua makhluk. “ Kendati sudah terjadi ribuan tahun lalu, tapi nilai-nilai ini masih relevan dan tepat untuk dilakukan ,” catatnya .
- Koperasi Penyelamat Ekonomi Rakyat
Hari ini 73 tahun lalu, Kongres Koperasi pertama diselenggarakan di Tasikmalaya. Koperasi punya sejarah panjang di Indonesia sebagai penyelamat perekonomian rakyat bawah kala terdesak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2016 mencatat ada 148.220 koperasi yang tersebar di Indonesia. Meski demikian, perannya kini tak sepopuler dulu. Ide tentang perkoperasian pertamakali lahir di Inggris pada 1844. Kala itu mayoritas buruh pabrik bekerja dalam lingkungan yang buruk, jam kerja panjang, upah murah, sementara biaya hidup mahal. Akibatnya, banyak dari mereka hidup dalam bilik kumuh dan menderita kelaparan. Beberapa buruh kemudian sepakat membentuk koperasi dengan nama The Pioneers, ketuanya Charles Howart. Namun, dalam sesaat banyak anggotanya tak mampu bayar iuran dan mengundurkan diri. Tinggallah tersisa 30 anggota, 25 di antaranya merupakan aktivis buruh dan lima lainnya buruh tenun. The Pioneer terus berjalan hingga berhasil mendirikan toko kelontong The Pioneer di Toad Lane, Rochdale pada akhir 1844. Dengan modal awal sebesar 16 pound sterling, kelontong The Pioneer yang amat sederhana itu menjual kebutuhan pokok seperti, mentega, tepung, dan lemak dengan harga terjangkau. Toko ini terus berkembang dengan menjual daging dan menerbitkan jurnal untuk menyebarkan ide perkoperasian. Ide tentang perkoperasian juga muncul di Jerman. Namun, modelnya koperasi simpan pinjam yang dipimpin Frederich Willhelm Raiffeisen dan Herman Schulze. Di Indonesia, sejarah koperasi berawal dari berdirinya Hulp en Spaar Bank pada 1896 di Purwokerto.Koperasi yang didirikan R. Aria Wiria Atmadja ini didirikan untuk membantu pegawai bumiputra dalam birokrasi pemerintahan kolonial. Pada perkembangan selanjutnya, koperasi diperluas tidak hanya untuk priyayi, melainkan juga kelompok masyakarat umum khususnya petani. Banyaknya koperasi yang bermunculan kemudian membuat p emerintah mengeluarkan Besluit 7 April No 431 tahun 1915. Regulasi ini mensyaratkan adanya izin dari gubernur jenderal Hindia Belanda untuk mendirikan koperasi dan biaya sebesar 50 gulden. Pada paruh kedua abad ke-19, industri di lingkungan masyarakat Jawa mulai bangkit. Selain kopra, ada industri batik, tembakau, dan karet. Dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia, Denys Lombard menulis, batik dan kretek sangat berkembang karena pembiayaannya lewat urunan keluarga. Hal itu pelan-pelan membentuk modal bagi pribumi. Dari kelompok-kelompok usaha itu pula muncul koperasi-koperasi kecil di daerah. Koperasi muncul sebagai lembaga kredit atau produksi yang mendukung usaha dan memudahkan penyaluran barang. Semangat menentang penjajahan ekonomi itu didukung pula oleh organiasi nasionalis yang juga mendirikan koperasi, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan PNI. Ketika kongres di Jakarta pada 1932,PNI membahas tentang semangat koperasi hingga kongresnya disebut kongres koperasi. Pendirian koperasi pada masa penjajahan jadi amat politis. Koperasi jadi jalur perlawanan dan perlindungan para anggotanya sehingga yang sudah susah tak jadi makin susah. Mereka membeli hasil bumi petani dengan harga pantas dan tidakrakus mengambil untung. Mohamamad Hatta, yang kemudian ditahbiskan sebagai Bapak Koperasi Indonesia, juga mendukung ide perkoperasian yang mengutamakan kesejahteraan rakyat dengan sifat kerjasama dan kekeluargaan. Hal ini diceritakan Lily Gamar Sutanto dalam tulisannya di buku Mengenang Sjahrir . Ketika diasingkan ke Banda Neira pada 1936, tulis Lily, Hatta menggagas Perkumpulan Banda Muda (Perbamoe) bersama Sjahrir dan Iwa Kusuma Sumantri. Perbamoe merupakan organisasi sosial dan pendidikan yang giat di bidang olahraga, peminjaman buku, dan koperasi. Ketiganya jadi donatur tetap. Hatta duduk sebagai pengurus koperasi Perbamoe. Lewat koperasi inilah, Hatta mencontohkan model urundaya masyarakat untuk kesejahteraan bersama. “Kita akan memonopoli semua hasil bumi yang turun dari perahu kemudian didistribusikan pada masyarakat setempat,” kata Hatta yang diiringi persetujuan dari Sjahrir dan Iwa. Bila ada perahu datang, muatannya langsung diambil koperasi untuk dijual kembali ke penduduk. Dengan memotong rentetan jalur distribusi ini, harga asli barang tidak akan berbeda jauh dengan harga jualnya. Alhasil, penduduk bisa mendapatkan barang dengan harga murah, petani dan nelayan tidak merugi, dan koperasi mendapat untung yang cukup untuk kas perkumpulan. Kas itu menjadi modal Perbamoe menyewa rumah lengkap dengan perabotannya untuk sekretariat. Kas itu pula yang digunakan Perbamoe untuk membangun perpustakaan yang koleksi bacaannya bisa dinikmati masyarakat. Pascakemerdekaan, Indonesia berusaha membangun perekonomiannya yang nyaris dari nol. Koperasi jadi salah satu andalan. Per 1946, jumlah koperasi di Indonesia yang sudah berdiri sebelum proklamasi ada 2.500. Patta Rapanna dalam Menembus Badai Ekonomi menulis , koperasi jadi usaha bersama untuk memperbaiki taraf hidup layak masyarakat. Lewat Jawatan Koperasi, Kementerian Kemakmuran mendistribusikan keperluan hidup sehari-hari dengan harga terjangkau. Perhatian penting pemerintah terhadap koperasi juga dilakukan dengan penyelenggaraan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya pada 1947. Kongres itu menghasilkan antara lain penetapan 12 Juli sebagai hari koperasi. Perubahan penting terjadi ketika dunia politik tanah air bergejolak pada 1965. Banyak koperasi tutup atau dipaksa ditutup. Anggota koperasi yang dianggap berhubungan dengan PKI dihabisi. Ketika Soeharto naik menjadi presiden, nyawa koperasi sebagai lembaga urundaya bersama hilang. Revrisond Baswir, ekonom UGM, mengatakan bahwa Soeharto membelokkan fungsi koperasi yang semula sebagai alat melawan penguasaan modal jadi lembaga yang mendukung penguasaan modal. Koperasi jadi kehilangan jatidirinya. Keberadan Koperasi Unit Desa (KUD), misalnya, dijadikan Soeharto sebagai alat kekuasaannya. Lewat KUD, petani diwajibkan untuk membeli pupuk, bibit, dan keperluan lain di KUD dengan harga yang sudah ditentukan pemerintah. KUD juga banyak dimainkan oleh para elit desa yang menjadi pengurusnya. Koperasi, kata Baswir, saat ini tumbuh jadi koperasi fungsional, misalnya koperasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Alhasil, usai kejatuhan Orde Baru koperasi terpinggirkan, hingga kini. Per 2017, ada 71 persen koperasi di Indonesia yang tinggal papan nama. Tak sedikit pula yang sebenarnya merupakan rentenir namun berjubah koperasi. Usaha mengembalikan kejayaannya dilakukan sejak awal 2018 dengan pemerintah menargetkan pembentukan 1000 koperasi baru sepanjang 2019.
- Bang BD Telah Berpulang
SUATU senja di tahun 2001. Gunung Gede dibekap hawa dingin yang menghunjam pori-pori. Seorang lelaki paruh baya menapaki jalur sempit pendakian menuju Alun-Alun Suryakancana. Tak ada keistimewaan darinya kecuali penampilan santai lelaki tersebut yang nampak “tak normal” untuk ukuran seorang pendaki gunung: kakinya hanya beralaskan sandal jepit dan tubuhnya hanya dibalut celana pendek serta kaos oblong tanpa jaket. Saya ingat, saat itu memutuskan untuk menemani “orang aneh” ini menuju Alun-Alun. Kami pun berkenalan dan alangkah kagetnya saya begitu tahu bahwa dia adalah Rudy David Mesmana atau lebih beken disebut Rudy Badil, wartawan senior Kompas sekaligus salah seorang sesepuh MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia). Saya tahu juga namanya kerap disebut-sebut Soe Hok Gie (penulis sekaligus tokoh gerakan mahasiswa 1966) dalam Catatan Seorang Demonstran (catatan harian Soe yang dibukukan oleh Penerbit LP3ES). “ Lu bangga dong , berkenalan sama orang ngetop macam gue ,” kelakarnya saat itu. Bang BD (dia senang dipanggil demikian) sejak itu menjadi tempat saya bertanya. Bukan hanya sekitar dunia pemberitaan atau pendakian, namun juga apapun. Nyaris semua hal dia tahu. Termasuk ratusan kontak orang ternama di negeri ini. Tapi yang paling penting, saya betah berlama-lama ngobrol dengan Bang BD karena sifat ceplas-ceplos kocaknya dan sikap egaliternya yang sangat kental. Sebagai senior, dia tak pernah malu bertanya jika ada hal yang tak dia pahami. Saya pun bisa mendebatnya tentang sesuatu hal. Kendati pada awalnya dia akan merespon dalam nada tinggi, namun dia kemudian tak ragu membenarkan jika bantahan lawan bicaranya dianggap masuk akal. “Benar itu enggak mengenal umur, Bro,” katanya suatu hari. Kepada saya, lelaki kelahiran Jakarta tahun 1945 itu mengaku sangat menikmati masa-masa mudanya. Sebagai anak kolong dari asrama tentara di Jalan Tenabang II, Jakarta segala macam kenakalan ala anak muda, pernah dia lakukan: mulai berkelahi dengan sesama anak tentara hingga melemparkan seekor kucing (yang mencuri telor ceploknya) dari lantai dua ke kawat listrik. Akibatnya dia dituntut oleh seorang tetangganya untuk memanggil petugas pemadam kebakaran guna menyelamatkan kucing itu. “Tetangga gue itu tak lain adalah Pak Chudori, yang kelak jadi mertuanya Arief (sosiolog Arief Budiman),” kenang lelaki berdarah Dayak, Jawa, Tionghoa dan Manado itu. Kenakalannya juga yang menjadikan “badil” tersemat di namanya. Karena anak kolong yang identik dengan senjata api maka dia sangat senang dipanggil “badil”, istilah senjata api laras panjang dalam bahasa Dayak. Kata dia, nama itu lebih cocok disematkan ke nama lengkapnya dibanding “David” yang lebih mirip nama anak gedongan. Tahun 1965, Si Anak Badung, “anehnya” berhasil masuk Fakultas Hukum UI. Namun entah bagaimana dia tak pernah serius mempelajari ilmu hukum dan terperangkap masuk dalam “provokasi” kawan karibnya, Soe Hok Gie, untuk pindah ke tempat Soe kuliah dan mengajar: fakultas sastra. Maka resmilah pada 1969 dia menjadi mahasiswa FSUI jurusan antropologi. Rudy mengenal Soe karena hoby naik gunung. Tak aneh jika ke mana pun Rudy mendaki, Soe selalu ikut serta. Bukan hanya dalam soal naik gunung, Rudy pun jadi tempat curhat Soe dalam segala hal, termasuk masalah cinta. Tapi menurut Rudy, orang boleh menilai Soe romantis dan pembuat puisi-puisi jempolan, namun soal hubungan dengan perempuan dia termasuk sangat “puritan” dan cenderung “penakut”. “ Gue yang ngajarin dia nonton film porno dan ngantar-ngantar ke mana pun kalau dia lagi demen sama satu cewek,” kenang Bang BD. Rudy juga mafhum, Soe sangat menyukai lagu-lagu Joan Baez dan bisa seharian menganalisa isi lirik lagu Dona-Dona . Tapi untuk soal menyanyi, Soe sangat payah. “Jangankan menyanyi, bersiulnya aja dia fals kok,” ujar Bang BD sambil ngakak. Namun dari Soe, Rudy justru mengenal dunia intelektual. Apapun yang terkait sejarah, sosial, politik dan sastra, dia selalu merasa puas jika mendapatkan penjelasannya dari Soe Hok Gie. Rudy masih ingat, beberapa hari sebelum mereka mendaki Gunung Semeru, di atas kereta api jurusan Jakarta-Surabaya anak muda asal Kebun Jeruk itu dengan semangat tinggi bercerita tentang sejarah panjang perkeretaapian di tanah Jawa. “Kami mendengarkannya dengan takjub,” kenang Rudy. Sejarah kemudian mencatat “kuliah panjang” Soe di atas kereta api itu menjadi yang terakhir untuknya. Karena menghirup secara tidak sengaja gas H2S, (bersama Idan Lubis) Soe Hok Gie gugur di atas puncak Semeru dengan meninggalkan pesan terakhir kepada kawan-kawannya untuk menyampaikan batu dan daun cemara tertinggi (yang diambil dari puncak Semeru) di pulau Jawa kepada mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra UI. Bulan November tahun lalu, saya menemui Bang BD di Bintaro. Kami bicara banyak hal terutama terkait sejarah gerakan mahasiswa 1966 dan Soe Hok Gie yang rencananya akan saya jadikan tema liputan khusus di Historia pada Februari 2019. Alih-alih mendukung, dia malah menyarankan supaya saya mengambil angle yang lain dari gerakan mahasiswa 1966. “ Ngapain lu bahas Hok Gie, udah banyak yang cerita soal dia. Telusuri saja tuh soal Arief Rachman Hakim: siapa dia dan seperti apa kematiannya, kanenggak semua orang tahu. Gua aja kagak ," katanya sambil terkekeh. Tanpa banyak berdebat, saya pun setuju untuk mengganti angle . Delapan bulan telah berlalu. Karena kesibukan yang tak mau berkompromi, saya lalai bersilaturahmi kembali dengan Bang BD. Suatu kelalaian yang hingga detik ini saya sesali karena baru saja pagi tadi saya mendapatkan kabar dari Tante Luki Bekti (kata Bang BD dialah salah satu perempuan yang pernah didemenin Hok Gie) bahwa Si Anak Badung dari Tenabang itu telah berpulang. Pileuleuyan , Bang BD.
- Omar Dani Tak Gentar Pulang
AURI dituduh terlibat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Tudingan ini berkaitan dengan surat perintah Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dani yang dianggap mendukung G30S. “Mendukung Gerakan 30 September yang mengamankan dan menyelematkan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi terhadap subversi CIA,” demikian salah satu isi perintah Omar Dani. Dalam biografinya Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno, Omar Dani mengakui bahwa keputusannya itu adalah keliru. Tekanan dalam surat perintahnya adalah untuk melindungi Presiden Sukarno selaku panglima tertinggi. Namun seruan perintah itu kadung membuat ketegangan antar matra. Gesekan terutama menyulut Angkatan Darat yang menaruh curiga kepada AURI. Apalagi berkembang isu bahwa AURI akan membom markas Kostrad dengan pesawat bomber. Rumor ini sempat bikin Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto ketakutan sekaligus menyimpan dendam kepada Omar Dani. Untuk mengindari friksi lebih lanjut, Presiden Sukarno turun tangan. Omar Dani dicopot dari jabatan Panglima AURI. Posisinya dialihkan menjadi Menteri Panglima Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (Kopelapip). Omar Dani diinstruksikan melakukan muhibah ke berbagai negara menjajaki kerja sama untuk pengembangan industri dirgantara. Pada 19 Oktober 1965, Omar Dani berangkat ke Kamboja. Di sana, Dani bermukim di ibu kota Pnom Penh, menyewa rumah di Vitnei Monivoung, tidak jauh dari rumah konsul RI. Sejak itu, selama hampir enam bulan Omar Dani tinggal di rumah tersebut. Sementara itu di Jakarta, pengaruh Sukarno mulai goyah. Omar Dani menjadi buruan menyusul Surat Perintah 11 Maret yang memberi kuasa kepada Soeharto. Para intel disusupkan ke Kamboja untuk memata-matai aktifitas Omar Dani. “Dubes Laksamana Muda Udara Budiardjo juga tak dapat berbuat apa-apa, karena Omar Dani waktu itu, resmi masih menjabat sebagai menteri. Demikian pula dari pihak Kamboja tak ada persoalan, karena tampaknya Omar Dani semasa masih Menteri/Pangau, mempunyai hubungan baik dengan pemerintah Kamboja,” tulis Sinar Harapan , 22 Juni 1966. Tinggal lama di negeri orang, Omar Dani pun bergumul secara batin. Dilema melanda antara pilihan pulang ke Indonesia atau menetap di Kamboja. Istri dan lima anaknya ikut serta, apalagi si bungsu masih bayi berusia empat bulan. Jika kembali ke Indonesia, Omar Dani akan dijadikan pesakitan politik oleh kelompok Soeharto. Dia bisa saja cari selamat dengan menetap di luar negeri bersama seluruh keluarga; hidup layak dengan mempergunakan keahliannya sebagai penerbang andal. Atau kalau mau, dia tidak sulit minta suaka perlindungan kepada Pangeran Sihanouk, sahabat karib Bung Karno, untuk tetap tinggal di Kamboja. “Hal ini tidak saya kerjakan justru karena saya berniat untuk mempertanggungjawabkan segala-galanya kepada atasan, kepada rakyat, terutama kepada warga AURI,” kata Omar Dani dalam pidato pembelaannya Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Omar Dani pada akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Dia memilih menanggung tindakan politiknya di depan pengadilan ketimbang melarikan diri ke luar negeri. Pada 20 April 1966, Omar Dani mendarat di Jakarta dengan pesawat C-130 milik AURI. Prediksi Dani soal dugaan untuk mengadili dirinya benar terjadi. Ketika tiba di tanah air, Dani sekeluarga diamankan ke kompleks peristirahatan AURI di Cibogo, Bogor. Dari situ, Dani kemudian ditahan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya untuk dihadapkan ke Mahmakah Militer Luar Biasa (Mahmilub). “Bapak Hakim Ketua dan Bapak-bapak Hakim Anggota yang terhormat, apakah tuduhan, bahwa saya adalah seorang yang tidak berani bertanggung jawab itu masih berlaku?,” tanya Omar Dani di depan para hakim. Putusan Mahmilub memvonis Omar Dani dengan hukuman mati. Beberapa tahun menjalani hidup di bui, hukuman Omar Dani diubah menjadi hukuman seumur hidup. Setelah hampir 30 tahun meringkuk di penjara, pada 1995 Omar Dani akhirnya dibebaskan lantaran sudah sepuh. Dia menjalani masa tua hingga akhir hayat dengan damai dan tanpa dendam.
- Naluri Mengubur Mayat
Lima tahun lalu dunia paleoantropologi dikejutkan dengan temuan sisa belulang misterius di kedalaman gua di Afrika Selatan. Tulang belulang yang memfosil itu dengan cepat dikenali sebagai spesies manusia baru. Ia dikenal sebagai Homo naledi. Naledi punya campuran ciri manusia awal, mirip dengan Homo erectus yang eksis 1,5 juta tahun lalu, sekaligus modern. Termasuk volume otaknya yang cukup kecil. Menariknya, titik di mana sisa tulang itu ditemukan jauh dari mulut gua. Ruangannya hanya bisa diakses lewat lorong sempit yang gelap. Untuk melewati celah selebar 20 cm itu harus memanjat secara vertical dan merangkak. Tentu tempat itu mustahil untuk hidup. Karenanya para peneliti meyakini tulang belulang itu sengaja di bawa ke sana untuk dikebumikan. Kedalaman gua dijadikan kuburan. Dugaan itu pun memulai diskusi baru. Bagi para antropolog, ritual pemakaman berkaitan dengan munculnya sifat unik yang mencirikan manusia. Terutama dalam hal berpikir secara simbolis. “Pemikiran simbolis memberi kita kemampuan untuk melampaui masa kini, mengingat masa lalu, dan memvisualisasikan masa depan,” kata Paige Madison, paleoantropolog dalam laman Sapiens. Ritual pemakaman menunjukkan adanya perilaku spiritual. Ini memungkinkan para ilmuan mengkaitkannya dengan kepercayaan, nilai-nilai, dan ide rumit lainnya. “Bersedih atas kematian melibatkan ingatan masa lalu dan membayangkan masa depan di mana kita juga akan mati. Bayangan ini diyakini cukup kompleks untuk direnungkan,” kata Madison. Asumsinya kemudian adalah ritual kematian hanya bisa dipraktikkan oleh manusia modern yang punya perangkat otak memadai. Ritual itu dilakukan oleh kerabat terdekatnya. Karenanya kemungkinan Naledi yang bervolume otak lebih kecil bisa terlibat dalam ritual pemakaman mayat secara sengaja pun cukup mencengangkan. “Itu mengganggu keseluruhan pemikiran konvensional soal perbedaan antara manusia modern dan spesies manusia sebelumnya dan secara luas, perbedaan antara kita (manusia, red. ) dengan seluruh alam,” jelas Madison. Homo neanderthalensis Sebenarnya, perdebatan sudah dimulai sejak 1908. Pemikiran kalau hanya manusia modern yang bisa memikirkan ide menguburkan kawannya diuji dengan temuan kerangka Neanderthal yang cukup lengkap di dekat La Chapelle-aux-Saints di Prancis. Para penemu berpendapat bahwa kerangka itu jelas telah sengaja dimakamkan. Bagi mereka, tampak seolah-olah kuburan itu telah digali, tubuhnya sengaja diletakkan di dalam posisi seperti janin. “Banyak ilmuwan kontemporer tetap meragukan interpretasi ini dan langsung menolak bukti. Perdebatan tentang penguburan La Chapelle Neanderthal berlanjut hingga hari ini,” catat Madison. Sejak penemuan pertama fosil Neanderthal pada 1856 di Lembah Neander, Jerman, spesies ini telah menempati hubungan yang ambigu dengan manusia. Neanderthal adalah spesies yang paling dekat dengan manusia modern. Awalnya Neanderthal dianggap sebagai makhluk yang jauh dari manusiawi. Mereka dikenal kasar dan bahkan belum berdiri tegak. Namun kemudian berubah. Terutama setelah penemuan pada 1960 di Gua Shanidar, Irak. Di sana muncul bukti adanya pemakaman Neanderthal. Seperti yang diungkap Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi Bandung di “Situs Bawahparit: Jejak Penguburan Masa Transisi” yang diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan , di antaranya ada satu makam yang sangat menarik. Di sekeliling individu yang dimakamkan, terdapat sampel tanah yang mengandung serbuk sari dan bekal kubur berupa alat-alat. Ralph Solecki, pemimpin tim dan antropolog Universitas Columbia, menganalisis serbuk sari itu sebagai bukti kalau tadinya bunga berwarna-warni ditempatkan di kuburan ketika Neanderthal dimakamkan. “Ini merupakan gaya manusia yang sangat modern,” sebut Madison. Sayangnya, hipotesis itu runtuh ketika akhirnya diketahui kalau serbuk sari di sekitar fosil terbawa oleh tikus tanah. Kendati pada akhirnya para ilmuan berkomentar mungkin keberadaan sisa-sisa bunga itu pun bukan kebetulan belaka. Saat ini, sebagian besar ilmuwan setuju bahwa Neanderthal memang menguburkan mayat mereka. Setidaknya beberapa Neanderthal melakukannya. Pertanyaannya, apakah Neanderthal juga berpikir tentang kematian dengan cara yang mirip dengan manusia modern, yaitu dengan pikiran spiritual? Atau apakah pemakaman dijadikan solusi praktis agar mayat tak membusuk di tengah manusia hidup? Para antropolog pun sepakat lewat bukti bekal kubur yang juga menyertai kuburan Neanderthal itu, artinya memang ada tanda-tanda ritual yang menyertainya. Madison mengungkapkan, bukanlah muluk-muluk jika membayangkan bahwa Neanderthal memiliki kapasitas untuk menguburkan mayat mereka dengan alasan yang sama seperti yang manusia modern lakukan. Mereka memiliki otak yang sangat besar. Volume otak Homo Neanderthalensis dewasa bisa mencapai 1.520 sentimeter kubik. Adapun Homo sapiens dewasa hanya 1.195 sentimeter kubik. “Dapat dibayangkan bahwa mereka juga sama kompleksnya dengan manusia,” kata dia. Sampai sini, argumen kalau hanya hominin berotak besar yang mampu melakukan aktivitas simbolik ini masih bisa bertahan. Hakikat Manusia Namun, dengan temuan Homo naledi cerita baru pun muncul. Otaknya kurang dari setengah ukuran otak manusia modern. Karenanya, Madison melanjutkan, lebih mudah untuk membayangkan bahwa makhluk-makhluk ini membuang mayat mereka untuk alasan praktis daripada alasan simbolik. Pertanyaan selanjutnya, untuk apa naledi harus melalui semua kesulitan membawa mayat melalui kegelapan gua yang sempit? Mungkin artinya, naledi yang mirip Homo erectus itu pun sebenarnya berperilaku kompleks dan sangat emosional. Dari sini, bisa jadi ritual penguburan mayat sebenarnya tak sedemikian unik, sehingga bukan hanya makhluk yang disebut manusialah yang bisa melakukannya. Lebih jauh lagi, Madison memaparkan, dalam beberapa dekade terakhir para ilmuwan telah menyadari bahwa ciri-ciri khas "manusia" sebenarnya muncul sedikit demi sedikit. Artinya, itu bukan datang dalam satu paket melainkan berkembang sejalan dengan proses evolusi. Ini bukan pertama kalinya perilaku khas “manusia” ternyata juga dimiliki spesies lain. Sampai 1960-an, pembuatan alat secara luas dianggap sebagai sesuatu yang mencirikan manusia. Anggapan itu hilang setelah ahli etologi, Jane Goodall menemukan kalausimpanse pun mampu memodifikasi bahan untuk membuat alat mereka sendiri. “Dengan melepaskan kepercayaan pada keunikan perilaku kita, kita mungkin dapat melihat bagaimana kecenderungan memandang diri kita sebagai orang yang sangat istimewa sehingga mengasingkan kita dari keluarga primata yang lain, dan bahkan dari semua evolusi,” ungkap Madison.
- Spider-Man Terjerat Tipu Daya
MACAM-MACAM perasaan yang berbekas selepas angkat bokong dari bangku bioskop usai menyaksikan Spider-Man: Far From Home . Suguhan 129 menit itu menjadi sekuel Spider-Man: Homecoming (2017) sekaligus jadi edisi ke-23 keluaran Marvel Cinematic Universe (MCU). Spider-Man: Far From Home (selanjutnya disebut Far From Home ), film yang paling dinanti setelah demam Avengers: Endgame (2019), merajalela di tanah air sejak 3 Juli lalu. Selain tak kalah dalam mengaduk perasaan, film ini juga memuat memori tentang mendiang Tony Stark/Iron Man yang jadi martir dalam Endgame sebelumnya. Namun, film garapan sutradara Jon Watts ini tak hanya mengumbar kepedihan. Penonton bakal dibikin tertawa oleh kelakuan sahabat Parker, Ned Leeds (Jacob Batalon) atau kelakuan Happy Hogan (Jon Favreau) yang kasmaran dengan sang bibi May Parker (Marisa Tomei). Ada juga haru, kesal dan tentunya terkejut seiring jalannya adegan per adegan. Sebagaimana maksud di sub-judulnya, Spider-Man alias Peter Parker (diperankan Tom Holland) kali ini tengah bertualang ke seberang Atlantik –Benua Eropa. Reputasinya seolah sedang di-global-kan, Watts meracik aksi-aksi Spider-Man menangkal kemungkaran lintas Eropa, mulai dari Venezia hingga London. Tapi jangan harapkan jalan ceritanya bakal mainstream. Lalu, bukan MCU namanya kalau keluaran terbarunya ini tak menyajikan sejumlah twist. Spider-Man kali ini pun bukan melawan alien laiknya para koleganya di seri-seri Avengers, tapi justru nyaris sendirian melawan Mysterio alias Quentin Beck (Jake Gyllenhaal). Mysterio mulanya dianggap kawan tapi ternyata merupakan lawan lewat tipu daya dan teknologi ilusi usai memanfaatkan salah satu barang canggih warisan Stark. MJ, kekasih Spider-Man yang diperankan Zendaya (Foto: spidermanfarfromhome.movie) Perjuangan Peter Parker diperumit dengan dua pertanyaan: Apa yang diinginkan dalam hati dan apakah ia siap jadi penerus Stark? Di satu sisi Spider-Man ingin kembali menikmati kehidupan remaja seumurnya, di mana ia sangat jatuh hati pada MJ (Zendaya). Tapi di sisi lain ia jadi sosok yang dipercaya mendiang Stark untuk menjaga perdamaian bumi. Selanjutnya, baiknya Anda tonton sendiri. Selain beraneka perasaan yang bakal Anda kecap, Anda juga akan diajak melihat keindahan beberapa kota tua di Venezia, Praha, dan London sebagai penyegar mata untuk menyelingi sejumlah efek CGI nan canggih. Telinga Anda juga akan dibikin nyaman oleh sejumlah musicscoring dengan tata suara apik garapan komposer Michael Giacchino. Potongan lagu “Back in Black” milik AC/DC lagi-lagi mengembalikan memori tentang Iron Man alias Tony Stark yang menggemari lagu cadas ini. Sosok Pemred Kharismatik TheDaily Bugle Sebagaimana lazimnya keluaran-keluaran MCU, Far From Home punya dua credit title yang pastinya tak boleh dilewatkan para penggemar Marvel. Salah satu yang paling menarik adalah kemunculan cameo pemred suratkabar The Daily Bugle yang bertransformasi jadi thedailybugle.net . Siapa lagi kalau bukan sosok menyebalkan tapi bikin kangen, J. Jonah Jameson. Pemred pemberang yang khas dengan kumis bergaya sikat gigi dan cukuran rambut cepak flattop ini kembali diperankan aktor senior J.K. Simmons. Kehadirannya sebagai cameo di salah satu credit title -nya seolah menggulirkan nostalgia dengan trilogi Spider-Man (2002-2007) garapan Sam Raimi kala Peter Parker/Spider-Man masih diperankan Tobey Maguire. Sebagaimana di trilogi racikan Raimi, sosok J. Jonah Jameson muncul untuk bikin ruwet reputasi Spider-Man lagi. Ia kini muncul untuk “ikut” menyebarkan hoax bahwa penjahat dan ancaman perdamaian sesungguhnya adalah Spider-Man, berbekal dari viralnya video unggahan Mysterio sebelum meregang nyawa. “Kami selalu tahu bahwa kami ingin identitas Spider-Man terbongkar dan rasanya mesti terbongkar lewat berita. Kantor berita utama apa yang ada di dunia Spider-Man? Jawabannya selalu The Daily Bugle . Ketika Anda bicara The Daily Bugle , Anda bicara soal J. Jonah Jameson. Takkan tepat rasanya jika pemerannya bukan J.K. Simmons,” sambung sang sutradara kepada polygon.com , Minggu (7/7/2019). Karakter sosok bernama lengkap John Jonah Jameson itu sendiri “dilahirkan” duo legenda komik Marvel Stan Lee dan Steve Ditko pada 1963 atau setahun setelah Spider-Man dirilis. Stan Lee dan Ditko pertamakali merilisnya di komik The Amazing Spider-Man edisi nomor satu keluaran Maret 1963. Karakter J. Jonah Jameson yang diperankan aktor senior J.K. Simmons (Foto: Columbia Pictures) Jonah Jameson diciptakan sebagai sesosok pemred suratkabar The Daily Bugle tempat Peter Parker bekerja sebagai fotografer. Karakternya gabungan dari kharismatik, pemarah, nyolot, dan selalu menyebut Spider-Man dengan “Freak, Menace!” (Aneh, Ancaman!). “Saya tak begitu ingat dari mana saya mendapat karakternya. Mungkin kombinasi dari semua orang yang saya kenal. Saya mendapat gagasan tentang Jonah sebagai penerbit pemberang dan Spidey menjadi fotografer lepas yang bekerja untuknya,” terang Stan Lee kepada Leonard Pitts Jr pada 1981 dalam “An Interview with Stan Lee” dan dimuat Jeff McLaughlin di Stan Lee: Conversations . Namun tak lama setelah ia menciptakan karakternya dibantu ilustrator Steve Ditko, Stan Lee sadar bahwa ada pula karakter yang mirip kepunyaan DC Comics, saingan Marvel Comics, tempat Stan Lee berkarya. Yakni, karakter Perry White, pemred suratkabar The Daily Planet , tempat Clark Kent alias Superman bekerja sebagai wartawan lepas. Karakter bikinan George Putnam Ludlam itu lebih dulu muncul di komik Superman edisi ketujuh keluaran November 1940. “Saya mengubah karakter Jonah Jameson sebeda mungkin (dari karakter Perry White). Saya buat karakternya lebih pemberang dan reaksioner. Ia berpikir bahwa masa-masa indah Amerika adalah di masa kepresidenan Herbert Hoover. Dia benci remaja, kaum hippies , rambut gondrong dan gitar. Saya pikir akan lucu jika membuat tokoh seperti itu walau dia bukan penjahat. Dia hanya mewakili segmen masyarakat yang sangat kolot,” tandasnya.
- Mula Cacar Menyebar
DI masa kini, cacar bukanlah penyakit menakutkan. Orang bisa dengan tenang menghadapinya lantaran akses layanan kesehatan sudah terjangkau dan makin mutakhir. Paling banter, orang akan merisaukan bekas lepuhan yang berubah jadi koreng lantaran sulit hilang. Kerisauan akan penyakit ini cenderung rendah sekarang. Hal itu berbeda jauh dari zaman dulu. Mereka amat menakutinya. Sebelum masyarakat mengetahui cacar, mereka menganggap kemunculan cacar akibat ulah makhluk halus yang datang dari laut. Penduduk Pulau Buru bahkan sampai punya kepercayaan untuk menghindari pantai dan laut. Untuk mencegah cacar masuk ke desa, mereka melakukan ritual dengan membangun rakit kecil untuk melarung penyakit ke tempat asalnya. Di Kubu, Sumatera dan orang Dayak di Borneo percaya untuk menghindari cacar mereka dilarang pergi ke dataran rendah dan berada di sekitar orang asing. Bila harus melakukan transaksi, mereka akan melakukan barter bisu, melakukannya dari jarak jauh, dan menghindari dataran rendah. Kebiasaan itu berhasil menghindarkan orang Kubu dari epidemi cacar. Dalam seabad, tercatat hanya tiga kali Kubu terserang wabah cacar, jauh lebih sedikit dibanding daerah lain. Di Aceh, Bali, Batak, dan Sulawesi, orang memilih meninggalkan desa selama bertahun-tahun untuk menghindari cacar. Begitu tahu ada salah seorang penduduk desa yang terkena cacar, mereka langsung cepat-cepat kabur dan mencari tempat tinggal baru. Usaha itu dilakukan karena mereka belum tahu cacar penyakit menular, melainkan kutukan roh halus. Di Bali, Borneo, dan Sulawesi Tengah, orang-orang yang mati karena cacar dianggap sebagai kematian yang buruk. Mereka tidak akan diterima di surga atau alam kematian dan dikeluarkan dari lingkungan leluhur. Di Halmahera, pemakaman korban cacar akan dilakukan tanpa ritual, sedangkan di Batak, makamnya tidak boleh kelihatan. Hal berbeda terjadi di Jawa. Ketika wabah cacar menyerang, orang tetap tinggal karena sudah terbiasa menghadapi penyakit menular. “Beberapa etnis yang paham bahwa cacar adalah penyakit menular tidak berusaha meninggalkan desa ketika epidemi terjadi,” tulis Peter Boomgard dalam “Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica”. Ia menduga, keputusan penduduk untuk tinggal karena mereka sudah terbiasa dengan penyakit mematikan dan pindah desa adalah hal sia-sia. Cacar sendiri, menurut catatan paling awal, muncul pertamakali tahun 1558 di Ternate dan Ambon. Dalam periode tersebut, cacar sudah jadi penyakit endemik di beberapa wilayah Asia Tenggara. Para pelaut Portugis mencatat, cacar mewabah di Fillipina pada 1574 dan 1591. Antara 10-20 persen penduduk terbunuh oleh cacar pada abad ke-16. Dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa” yang dimuat Jurnal Humaniora Oktober 2006, Baha’Udin menyebut cacar pertamakali masuk ke Batavia pada 1644. Tom Harrison dalam “Prehistory of Borneo” berpendapat bahwa penyakit cacar dibawa oleh pedagang Eropa ke Borneo. Namun pendapat ini dibantah Boomgard, yang mengatakan cacar sudah dikenal lama oleh penduduk Tiongkok dan India. Dua negeri ini sudah menjalin kontak dengan banyak kerajaan di Nusantara jauh sebelum bangsa Eropa datang. Sagat sulit untuk tidak membawa serta cacar (tanpa sengaja) dalam hubungan antarnegara tersebut. Keganasan cacar tentu tak hanya menyerang pribumi. Pada 1658 di Banda, beberapa orang kulit putih terkena cacar. Namun, penderitaan mereka tak separah kaum terjajah. Orang-orang Eropa relatif lebih resisten terhadap cacar lantaran kualitas lingkungan hidup yang bersih dan makanan yang bergizi. Pun akses kesehatan bagi mereka terbuka lebar, berbanding terbalik dengan pribumi. Orang Belanda menyebut cacar sebagai cacar anak atau penyakit anak-anak ( kinderziekte ) lantaran kebanyakan menyerang anak di bawah 12 tahun. Ada anggapan bahwa orang Eropa lebih kebal pada cacar lantaran sudah mengenal penyakit ini lebih dulu sehingga imun tubuhnya pelan-pelan terbentuk untuk resisten pada cacar. Petugas kesehatan di Batavia juga berpikir bahwa etnisitas berpengaruh pada daya tahan penyakit tiap orang. Budak-budak dari Bugis dan Bali punya daya tahan tubuh lebih kuat menghadapi cacar dibanding budak dari Nias. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk dan kemungkinan terpapar cacar di tempat asal para budak. Bugis dan Bali berpenduduk padat, sementara Nias lebih jarang. “Nias terpapar cacar lebih jarang dibanding Bali dan Bugis sehingga punya daya imun lebih rendah,” tulis Boomgard.
- Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis
HARI ini, 10 Juli, 34 tahun silam. Kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan. “Suara apa itu? Jelas bukan bagian dari kebisingan rutin kapal. Bahkan, tidak ada suara normal kapal yang bisa didengar. Generator, yang memasok listrik ke kapal, anehnya sunyi. Gempa bumi kah?” kata Peter Willcox, kapten kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace yang merupakan salah satu kapal di dermaga itu, dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet . Garda Terdepan Anti-Nuklir Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua. Tak lama setelah melakukan pelayaran perdana usai reparasi ulang, Rainbow Warrior langsung melakukan pelayaran berbahaya dengan mencegat kapal pengangkut sampah nuklir milik Inggris, Gem, yang mengotori perairan internasional. Selang beberapa waktu kemudian, Rainbow Warrior berhasil menggagalkan perburuan anjing laut Norwegia di Kepulauan Orkney. Dua pelayaran berbahaya nan heroik itu membuka ratusan pelayaran Rainbow Warrior berikutnya dalam menjaga kelestarian bumi. “Greenpeace telah menjadi terkenal karena eksploitasi keberanian dan aksi dramatisnya, yang semuanya dimaksudkan untuk menarik perhatian pada penghancuran bumi dan semua mahluk di atasnya yang sistematis oleh industri,” tulis Steven McFadden dan Ven. Dhyani Ywahoo dalam Legend of the Rainbow Warriors . Ketika intensitas ujicoba senjata nuklir Amerika Serikat dan Prancis di Pasifik meningkat pada 1970-an, Greenpeace bergabung dalam barisan penentangnya. “ Gerakan untuk Pasifik bebas-nuklir dimulai di Fiji pada 1970 dengan pembentukan komite ATOM (Against Tests on Moruroa) untuk memprotes pengujian nuklir Prancis. Didukung oleh Konferensi Gereja-Gereja Pasifik, ATOM menyelenggarakan konferensi pertama untuk Pasifik bebas nuklir di Fiji pada 1975, dan sebuah konferensi lanjutan penting di Pulau Pohmpein di Mikronesia pada 1978,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence . Dalam kampanye menentang ujicoba nuklir Prancis di Moruroa itulah Rainbow Warrior menjadi andalan Greenpeace. Dari turnya ke berbagai tempat, kapal itu kemudian menuju Auckland, Selandia Baru. Selandia Baru dianggap para aktivis lingkungan sebagai rekan. “Awak kapal berencana untuk mengumpulkan dukungan dari para simpatisan di Selandia Baru dan kemudian bergabung dengan armada perdamaian yang akan berlayar ke Atol Moruroa, di mana Prancis secara terus-menerus menguji bom-bom nuklirnya sejak 1966,” sambung McFadden dan Ywahoo. Tiba di Pelabuhan Auckland pada 7 Juli 1985, Rainbow Warrior mendapat sambutan meriah. Realitas itu membuat Prancis gerah. Sudah empat kali Prancis dibuat malu Greenpeace dengan protes kerasnya atas ujicoba nuklir di Pasifik. Protes kelima yang akan dilakukan Greenpeace, dengan dukungan yang lebih kuat, oleh karena itu harus digagalkan. “Pada 10 Juli 1985 di Pelabuhan Auckland, pasukan komando Prancis menanam bahan peledak di bawah lambung kapal,” tulis Elzbieta Posluszna dalam Environmental and Animal Rights Extremism, Terrorism, and National Security . Ledakan pertama,15 menit sebelum pergantian hari ke tanggal 11 Juli, merobek bagian tengah bawah lambung kapal. Generator RainbowWarrior langsung tak berfungsi, kapal pun gelap. Setelah memerintahkan para awak untuk meninggalkan kapal, Kapten Willcox yang hanya mengenakan handuk langsung menyelamatkan diri ke dermaga. “Kapal sudah tenggelam ke titik di mana aku harus memanjat dari dek untuk bisa sampai ke dermaga,” kata Willcox dalam memoarnya. Willcox kemudian mulai menghitung para awaknya. Davey, rekannya yang datang kemudian, memberitahu Willcox bahwa Fernando Pereira, fotografer resmi Rainbow Warrior , masih di dalam kapal. Sang kapten dan Davey langsung ke bagian tertinggi kapal untuk mencoba menyelamatkan rekan mereka. Namun, situasi membahayakan membuat mereka urung melanjutkannya. Ledakan kedua, dekat baling-baling kapal, muncul saat itu. Semua awak Rainbow Warrior makin bingung. “ Kami masih belum tahu tentang apa yang menyebabkan semua kerusakan iru. Tidak ada kapal lain yang bisa bertabrakan dengan kami. Bahan bakar kapal adalah diesel, yang tidak mudah meledak. Satu-satunya bahan peledak yang ada di atas adalah tangki oksigen dan asetilena yang digunakan untuk pengelasan, tetapi itu disimpan jauh di depan dan jauh dari tempat kerusakan terjadi. Saya benar-benar bingung,” kata Willcox. Menjelang subuh, Willcox dibawa polisi ke TKP untuk mengidentifikasi jenazah di RainbowWarrior yang diambil lima penyelam AL Selandia Baru. Benar saja, jenazah itu merupakan Fernando Pereira. “Dia berada di kabinnya sekitar 20 detik ketika ledakan kedua terjadi tepat di bawahnya,” sambung Willcox. Setelah menjalani interogasi di kantor kepolisian setempat, para awak Rainbow Warrior lalu dibebaskan. “Fakta bahwa ada dua ledakan –terpisah hanya beberapa menit di dua lokasi berbeda– mengindikasikan ini adalah upaya disengaja untuk menenggelamkan Rainbow Warrior ,” kata Willcox. Dua hari kemudian, Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Investigasi lebih lanjut menyatakan keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, perwira militer Prancis yang di-BKO-kan ke Direction Generale de le Securite Exterieure (DGSE). Keterilbatan militer Prancis membuat publik marah dan pers mencecar pemerintahan Francois Mitterand. Laporan yang dirilisnya pada 27 Agustus tetap tak memuaskan permintaan pers akan kebenaran. Suara pelengseran Mitterand makin kuat. Setelah Menhan Charles Hernu mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban, pada 22 September PM Prancis Laurent Fabius buka suara tentang keterlibatan DGSE. “Perdana Menteri Laurent Fabius mengakui DGSE telah memerintahkan ‘netralisasi’ Rainbow Warrior dalam apa yang disebut, ‘Operation Satanic’,” tulis John E. Lewis dalam Terrorist Attacks and Clandestine Wars .
- Kisah Pemenggal Prajurit Gurkha
FOTO usang milik IPPHOS (Indonesian Press Photo Service) itu memang sangat legendaris. Lima remaja era revolusi di sebuah mobil terbuka nampak tengah bergaya. Salah satu gadis muda berambut kepang yang tengah membawa senjata diidentifikasi sebagai Toeti Amir Kartabrata. Kelak beberapa tahun kemudian dia menjadi Kepala Brigade I Laswi (Lasjkar Wanita Indonesia). “Dia merupakan kader militer Husein Wangsaatmadja, instruktur militer di TKR Bandung yang kelak menjabat sebagai walikota Bandung (1978-1983)," tulis Irna H.N. Hadi Soewito dalam Lahirnya Kelasykaran Wanita dan Wirawati Catur Panca. Toeti dikenal sebagai prajurit perempuan pemberani. Dia bukan hanya bisa bergaya namun juga kerap berhadapan langsung dengan bahaya. Suatu siang pada Agustus 1946, entah datangnya dari mana tiba-tiba muncul seorang penjual cendol di depan Markas Laswi di Majalaya. Tak lama kemudian, pesawat Inggris muncul dan membombardir tempat tersebut. Toeti yang saat itu sedang tidur-tiduran sontak meloncat dan menerobos kepulan asap untuk mencari jalan keluar. Begitu di luar, dia melihat rekannya Saartje dengan kepala berdarah-darah. "Asrama Laswi kena!" teriak Saartje. Akibat pemboman itu, Markas Laswi hancur lebur. Empat anggota Laswi gugur dan 10 orang lainnya luka-luka termasuk Saartje. "Sampai masa tuanya, dia pendengarannya tidak normal, gendang telinganya pecah," kata Toeti kala masih hidup. Aksi pengeboman itu memang termasuk "tidak biasa" bagi mereka. Selama bermarkas di Majalaya, Toeti dan kawan-kawannya selalu merasa aman-aman saja. Belakangan diketahui bahwa tempat itu "bocor" karena ada mata-mata. Dan mata-mata itu tak lain adalah tukang cendol yang kata Toeti langsung diadili dan ditembak mati oleh para pemuda Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia) wilayah Soreang. Salah satu nama beken lain dari Laswi adalah Soesilowati. Laiknya pejuang lelaki, ia pun terlibat langsung di garis depan. Bahkan Soesilowati tak sungkan-sungkan untuk bertarung satu lawan satu dengan prajurit musuh. Salah satu korban dari kegarangan “maung bikang” (macan betina) ini adalah seorang perwira muda dari Gurkha Riffles, sebuah kesatuan elite BIA (British India Army) yang diturunkan di palagan Bandung. Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda , Jenderal (Purn) A.H. Nasution mengisahkan bahwa para pejuang Bandung sempat jengah dengan kehadiran para perempuan di medan laga. Dikhawatirkan mereka hanya membuat kesulitan saja dan akan mudah ditangkap oleh musuh. Dalam situasi tersebut, pada suatu pagi di tahun 1946, markas Nasution di Jalan Kepatihan, Bandung tetiba didatangi oleh seorang perempuan muda. “Dia datang dengan menunggang seekor kuda,” kenang A.H. Nasution. Begitu sampai di depan pintu, perempuan yang tak lain adalah Soesilowati itu, masuk dan langsung menemui Nasution. Tanpa banyak cakap, dia melemparkan sebuah bungkusan di atas meja Kepala Staf Panglima Komandemen Jawa Barat tersebut. Begitu Nasution membukanya, langsung terperanjat. Di dalam bungkusan, nampak kepala seorang perwira Gurkha yang masih segar lengkap dengan pita-pita tanda kepangkatannya. “Wajahnya simpatik dan nampak dia masih sangat muda namun sayang harus menjadi korban pergolakan politik negeri orang lain yang tak memiliki hubungan apapun dengan negaranya,” ujar Nasution. Sejak itulah Nasution paham akan keberanian para mojang Bandung. Dia tak ragu lagi melibatkan mereka dalam setiap tugas dan pertempuran. Soesilowati sendiri, kata Nasution, secara sukarela kadang menjadi pengawal Nasution dalam setiap kegiatan komandemen. “Yang saya masih ingat dari dia adalah kebiasaannya jika tengah melakukan pengawalan: duduk tegap di atas kap mobil,” kenang sang jenderal. Selain Soesilowati, satu lagi anggota Laswi yang dikenal sebagai tukang penggal kepala tentara Gurkha di front Bandung adalah Willy Soekirman. Dalam buku Saya Pilih Mengungsi karya Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo dan Ummy Latifah Widodo, disebutkan nyaris pada setiap pertempuran kota di Bandung, Willy yang menggunakan sebilah pedang kecil sering terlibat perkelahian satu lawan satu dengan prajurit Gurkha yang bersenjata khukri (sejenis pisau tajam yang berbentuk melengkung) dan selalu berhasil memenggal kepala lawannya. “Saya selalu tak sadar jika sedang memenggal kepala musuh. Tahu-tahu aja ada darah segar mengalir di tangan saya dan kawan-kawan di sekitar berteriak histeris menyemangati saya,” ungkapnya. Willy masih ingat sebuah duel yang dilakukannya dengan seorang prajurit Gurkha yang terus memburunya di dekat jembatan Viaduct. Ceritanya, Willy bersama pasukannya dalam suatu pertempuran terdesak dan menghindar. Namun begitu sampai jembatan Viaduct, dia sadar tak ada jalan lain. Tanpa banyak cakap, Willy mengeluarkan pedang kecilnya dan mengamuk. Perkelahian satu lawan satu pun dimenangkan Willy dengan disaksikan para pejuang lainnya. Sejak itulah nama Willy menjadi terkenal di kalangan pejuang Bandung.*






















