top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jaap Kunst Mengabdi pada Musik Tradisi

    Pada musim semi 1919, seorang sarjana hukum sekaligus pemain biola dari Belanda, bersama dua temannya, penyanyi dan pianis, berlayar ke Hindia Belanda. Mereka melakukan tur musik selama delapan bulan ke berbagai daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Pada Mei 1920, harusnya mereka bertiga pulang ke Belanda. Namun sejak Natal 1919, sang pemain biola terpikat pada alunan gamelan yang didengarnya di Keraton Pakualaman Yogyakarta. Pengalaman itu membuatnya memutuskan untuk tetap tinggal. Orang itu adalah Jaap Kunst, yang kemudian jatuh cinta dengan musik tradisi Nusantara dan menjadi pelopor etnomusikologi. Jakob Kunst (Jaap Kunst) lahir di Groningen, 12 Agustus 1891, dari keluarga musikus, ayahnya guru piano, praktisi dan kritikus musik, dan ibunya seorang pianis. Sedangkan Jaap Kunst memilih biola sebagai alat musik favoritnya. Saat remaja Jaap Kunst belajar biola pada W. Dehé, E.C. Schroder, dan Louis Zimmerman di Amsterdam. Pada 1911, ia justru menempuh sekolah hukum di Universitas Groningen dan lulus pada 1917. Namun, saat kuliah ia mulai tertarik melakukan riset seni musik lokal, seperti lagu-lagu rakyat pulau Terschelling, Belanda. Jaap Kunst sempat bekerja di bank dan kantor walikota Amsterdam. Ketertarikannya pada musik membuatnya tak bertahan lama bekerja di sektor formal. Pada 1919, dia bersama dua rekannya, penyanyi Kitty Roelants-de Vogel dan pianis Jan Wagenaar, mengadakan tur musik ke Hindia Belanda. Setelah tur musik ke berbagai daerah di Hindia Belnda, dua rekan Jaap Kunst kembali ke Belanda. Ia sendiri tetap tinggal dan memulai penelitiannya mengenai musik tradisi. Ia kemudian bekerja di departemen pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu pada 1921, ia menikah dengan Kathy van Wely, yang mendukungnya dalam penelitian etnomusikologi. Nusi Lisabilla, Kepala Bagian Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional yang juga kurator pameran “Jaap Kunst, Suara dari Masa Lalu” mengatakan bahwa Jaap Kunst mulai merekam alat musik tradisi pada 1922. Saat itu, ia mereka tujuh lagu yang dimainkan dengan gamelan. “Meskipun nanti kalau Mas dengar suaranya terlalu halus. Kurang terdengar dengan jelas, seperti dengungan saja,” kata Nusi kepada Historia. Pada 1926, Jaap Kunst menjadi wakil sekretaris Dewan Rekonsiliasi untuk Kereta Api dan Trem di Jawa dan Madura yang berkantor di Bandung. Di luar pekerjaannya, dia menyempatkan waktu untuk melakukan riset etnomusikologi. Ia lalu menjadi peneliti dalam penelitian musikologis sistematis pada 1930. Hingga 1932, Jaap Kunst melakukan penelitian dan pendokumentasian kegiatan seni di Hindia Belanda, mulai dari Batak, Nias, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua. Kerja penelitian Jaap Kunst dilakukan atas keinginannya sendiri. Ia merasa khawatir jika suatu saat banyak alat musik, lagu atau produk seni musik tradisi punah. “Orang yang begitu peduli pada masa itu. Peduli bahwa suatu saat musik tradisi di Indonesia itu akan hilang. Itu sebabnya kenapa akhirnya ia memutuskan untuk menginventarisasi, mendokumentasi, baik dalam audio maupun visual,” ujar Nusi. Bahkan ketika datang pertama kali ke Nias pada 1930, Jaap Kunst merasa sangat menyesal karena banyak tradisi yang sudah punah dan tak ada generasi yang bisa melestarikannya. “1930 itu dari sekarang sudah berapa tahun ya? Itu berpuluh tahun yang lalu, dia merasa sudah telat datang ke Nias. Karena ia melihat sudah banyak hal-hal yang hilang. Tradisi yang hilang,” ungkap Nusi. Jaap Kunst menetap di Bandung hingga 1932. Selama di Bandung, ia membuat arsip musik yang berisi koleksi alat musik, rekaman, foto hingga film. “Dia mengumpulkan pribadi, dari uang pribadi. Sampai-sampai katanya ia mengurangi jatah makannya untuk bisa membeli macam-macam dan bisa pergi ke mana-mana,” sebut Nusi. Foto-foto Jaap Kunst yang dipamerkan dalam "Jaap Kunst, Suara dari Masa Lalu" di Museum Nasional. (Fernando Randy/Historia). Pada 1932, Jaap Kunst pindah ke Batavia. Ia menjadi kurator alat musik di Koninklijk Bataviaasch Genoatschap van Kunsten en Watenschappen (kini Museum Nasional). Rumahnya, di Jalan Kebon Sirih No. 14, menjadi tempatnya bekerja dan menyimpan ribuan koleksi yang ia pindahkan dari Bandung. Palmer Keen, musikolog yang mengikuti jejak Jaap Kunst dalam penelitian musik tradisi Nusantara menyebut bahwa kerja-kerja penelitian Kunst sangat penting. Terlebih, ia adalah perintis etnomusikologi. “Penelitian ia sangat penting buat etnomusikologi karena sebelum ia keliling Nusantara meneliti musik, mengoleksi alat musik, bikin rekaman dan foto, tidak pernah ada yang meneliti musik (tradisi) secara dalam,” kata Palmer Keen kepada Historia . Bahkan, menurut Keen, hingga dekade 1980-an, belum ada lagi yang melakukan penelitian serupa. “Setelah itu tahun 1920-an 1930-an tidak ada lagi yang seperti dia. Sampai tahun 1980-an 1990-an mulai ada etnomusikolog seperti Margareth Kartomi dari Australia dan Philip Yampolsky dari Amerika yang mulai meneliti musik secara lengkap di Indonesia,” terang Keen. Keen menyebut kini telah banyak peneliti musik klasik atau musik keraton yang berfokus pada Keraton Yogyakarta, Keraton Solo serta musik di Bali. Namun, masih sangat jarang dilakukan penelitian terhadap seni musik di daerah-daerah terpencil. “Tapi yang meneliti musik rakyat, folk music , di luar daerah itu (Yogyakarta, Solo dan Bali) dan di pulau-pulau kecil di Sulawesi, Kalimantan, tidak ada orang sama sekali yang pernah meneliti itu. Jadi walau penelitian itu sudah 100 tahun lalu, itu tetap sangat berguna sampai sekarang,” ujar Keen. Pada 7 Maret 1934, bersama keluarganya, Jaap Kunst mengambil cuti ke Eropa dan berencana kembali pada November. Sebelum ke Belanda, ia telah memindahkan koleksi arsip musikologi yang dikelolanya. Sekitar 1000 alat musik, 325 rekaman silinder lilin, 700 positif kaca dan 450 slide dipindahkan ke Koninklijk Bataviaasch Genoatschap van Kunsten en Watenschappen. Rencana Jaap Kunst untuk kembali pada November ternyata gagal. Alasan kesehatan dan tidak tersedianya anggaran penelitian membuatnya tak bisa kembali lagi ke Hindia Belanda. Meski demikian, di Amsterdam, ia menjadi kurator di Departemen Antropologi Budaya pada Koloniaal Instituut (Tropenmuseum) yang diidam-idamkannya. Jaap Kunst sempat akan ke Jawa selama enam bulan untuk sebuah pekerjaan dengan perusahaan radio Hindia Belanda, NIROM. Mereka berencana merekam musik kadipaten, musik Sunda, Bali, dan mungkin Madura. Namun, Perang Dunia II membuatnya gagal ke Hindia Belanda untuk kedua kalinya. Pada 1942, Jaap Kunst menjadi dosen khusus (tanpa gaji) mengajar mata kuliah Sejarah dan Teori Musik Jawa di Jurusan Musikologi Komparatif di Universitas Amsterdam. Ia juga mengajar di Prancis, Amerika Selatan, dan Amerika Utara. Ia pernah menulis surat untuk R. Goris pada 1926 yang mengatakan bahwa jika pensiun ia ingin menetap di Bali atau Terschelling. “Hati saya selalu berada di kedua tempat itu,” tulis Kunst. Namun, keinginannya itu tak pernah terwujud. Jaap Kunst meninggal dunia akibat kanker pada 7 Desember 1960. Ia meninggalkan ribuan koleksi dan bahan penelitian, serta lusinan buku tentang musik tradisi.

  • Anti Jepang Gaya Bupati Magetan

    SUATU pagi pada 1943. Kesibukan di kantor Kabupaten Magetan tetiba berubah jadi mencekam. Para pegawai kabupaten ketakutan dan menghindar kala seorang perwira militer Jepang marah-marah sambil menghunus gunto , pedang panjang khas negeri matahari terbit. Tak jelas benar apa yang menyebabkan perwira Jepang itu murka dan menebar ancaman, namun yang pasti tak ada satu pun orang-orang di sana saat itu yang berani bereaksi kecuali Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo, sang bupati Magetan. Alih-alih gentar, Soerjo justru mendekati perwira yang tengah kalap tersebut. Dalam nada yang keras namun berwibawa, ia memarahi sang perwira yang sudah mengganggu ketenteraman lingkungan kerjanya. “Saudara ini sudah datang tanpa permisi dan mengenalkan diri, membuat kericuhan pula di sini! Saudara harus tahu, karena saya merasa benar saya tidak takut sama sekali kepada anda!” bentaknya. Dihadapi dengan sikap berani dan elegan seperti itu, sebagai seorang samurai, si perwira Jepang menjadi malu. Ia pun menurunkan tensi dan coba membicarakan masalah yang ia hadapi secara baik-baik. Masalah berakhir setelah perwira Jepang minta maaf karena mengganggu ketentraman orang-orang yang bekerja di kabupaten. “Itulah Eyang Soerjo, ia tak pernah ragu sama sekali dalam bertindak jika melihat sesuatu yang menurutnya salah,” ujar Donny Ariotedjo, salah seorang cucu Soerjo. Tersebutlah pada awal Maret 1942, balatentara Jepang memasuki wilayah Hindia Belanda. Kendati KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) coba menahan laju tentara Jepang, namun mereka tak berdaya dalam setiap pertempuran. Akhirnya, pada 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Panglima Tertinggi KNIL Jenderal Hein ter Poorten menyerah kepada Panglima Tentara Jepang Ke-16 Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Jawa Barat. Sejak itu Hindia Belanda di bawah kuasa militer Jepang. Menurut sejarawan Aiko Kurosawa, kedatangan Jepang yang mengklaim sebagai “saudara tua” itu semula disambut baik oleh rakyat Hindia yang sedang rindu akan kemerdekaan. Sambutan itu kemudian dibalas oleh penguasa militer Jepang dengan mengizinkan orang Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih serta mengumandangkan lagu Indonesia Raya . “Bahasa Belanda sebagai bahasa resmi sebelumnya diganti oleh bahasa Indonesia dan jabatan-jabatan strategis segera berpindah tangan ke orang-orang Jepang dan bumiputera,” ungkap profesor emerita dari Universitas Keio, Tokyo itu. Namun di Magetan, situasi agak berbeda. Alih-alih memberikan sambutan meriah seperti di kota-kota besar, masyarakat Magetan pada awalnya merasa bingung dan ketakutan. Nyaris hari demi hari, rakyat Magetan tak berani untuk keluar rumah. Mereka hanya bisa menunggu dengan cemas, apa yang akan terjadi kemudian. Menurut Sutjiatiningsih dalam Pahlawan Nasional Gubernur Soerjo , sebagai bupati Magetan, Soerjo berupaya agar “kelumpuhan aktivitas” tersebut segera berakhir. Atas insiatif sendiri, ia menyerukan kepada rakyat Magetan untuk tidak perlu takut. Pernyataan tersebut diikuti dengan contoh yang ia berikan sendiri: setiap pagi bersama sang istri, Soerjo berjalan-jalan di alun-alun Magetan. “Kebiasaan itu merupakan simbol bahwa dalam kondisi yang tak menentu sekali pun, sang pemimpin sama sekali tak meninggalkan rakyatnya,” tulis Sutjiatiningsih. Menyaksikan bupatinya berada di tengah-tengah mereka, masyarakat Magetan mulai berani keluar rumah untuk menjalankan kembali kewajiban mereka sehari-hari. Kehidupan pun berjalan seperti sediakala. Berita keberhasilan Bupati Soerjo mengembalikan kepercayaan diri rakyatnya didengar pejabat militer Jepang di Magetan. Ia pun tetap didapuk untuk memimpin rakyat Magetan. Bupati Soerjo sejatinya sangat membenci perilaku penguasa militer Jepang, namun  ia sadar sementara dirinya tidak berbuat apa-apa selain menerima uluran kerja sama dengan mereka. Namun Soerjo yakin bahwa keberadaan orang-orang Jepang di Indonesia tidak akan lama. Selain melihat kondisi perang yang pelan-pelan menyudutkan posisi Jepang, terutama setelah Amerika Serikat terlibat, jauh sebelumnya para orang tua di Jawa sudah meramalkan bahwa “orang-orang kate bermata sipit itu” tak akan lama berada di Nusantara. Hari demi hari, Bupati Soerjo tetap memimpin rakyat Magetan dalam suka dan duka. Kendati memutuskan untuk bekerja sama dengan penguasa militer Jepang, sikap Soerjo jauh dari watak seorang penjilat. Itu dibuktikan dengan tidak sudinya ia memenuhi permintaan penguasa militer Jepang mengumpulkan perempuan muda untuk diserahkan kepada para serdadu sebagai pelampiasan nafsu mereka. Sikap tegas sang Bupati tidak saja dianut sendiri, namun kerap ia katakan sebagai perintah resmi kepada bawahannya. “Eyang Soerjo selalu menekankan kepada para bawahannya jangan sampai mau disuruh-suruh mencarikan perempuan oleh orang-orang Jepang itu,” tutur Witjaksono, salah seorang cucu Soerjo. Penguasa militer Jepang benar-benar menjadikan wilayah bekas jajahan Belanda sebagai modal perang melawan Sekutu. Dengan memanfaatkan tanah subur dan produktif, mereka memaksa rakyat untuk memberikan sebagian besar hasil pertanian kepada penguasa militer Jepang. Padi yang merupakan makanan pokok penduduk pun tak lepas dari incaran mereka. Akibatnya rakyat tak bisa menikmati hasil jerih payahnya dan terpaksa hidup miskin karena tak memiliki apa-apa lagi. Bukan hal yang aneh jika saat itu rakyat hanya mengkonsumsi singkong, jagung bahkan akar pohon pisang untuk pengganti nasi. Sebagai lauknya, mereka terpaksa memakan bekicot, tikus sawah dan belalang. Ketiadaan uang membuat rakyat juga tak memiliki daya beli. Untuk pakaian sehari-hari, mereka terpaksa menjadikan karung goni sebagai bahan baju dan celana. “Kalau dipakai rasanya tidak enak dan gatal luar biasa karena pakaian goni yang kami pakai sering dijadikan sarang kutu busuk,” ujar Kasmijo (93), penduduk Magetan yang pernah mengalami masa penjajahan Jepang. Selain menjadikannya tenaga logistik, penguasa militer Jepang memaksa orang-orang yang masih muda terlibat dalam persiapan perang. Puluhan ribu kaum lelaki produktif dijadikan romusha (prajurit pekerja) dan dikirim ke berbagai fron terdepan untuk membangun benteng pertahanan, jalan kereta api, lapangan terbang, jembatan dan dermaga. Khusus bagi para pemuda, mereka direkrut menjadi tenaga tempur dalam berbagai kesatuan “sukarelawan” semacam Heiho, Sainedan, Keibodan, dan tentara Peta atau Pembela Tanah Air. Kaum perempuan pun tak lepas dari kesewenang-wenangan penguasa militer Jepang. Dengan dalih akan dipekerjakan di bagian administrasi, mereka dipaksa sebagai pemuas nafsu para serdadu yang baru pulang dari medan laga. Jumlah jugun ianfu (perempuan penghibur, arti harfiahnya: asisten tentara) ini sangat banyak, hingga mencapai puluhan ribu. Bukan hanya di wilayah eks jajahan Belanda, mereka pun disebar ke wilayah-wilayah luar yang dikuasai oleh militer Jepang seperti Singapura, Malaya dan Burma.   Sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan yang dikendalikan militer Jepang, Soerjo menghadapi dilema dalam situasi yang suram itu. Bisa dipastikan, menghadapi kesewenang-wenangan serdadu Jepang terhadap rakyatnya, Soerjo sendiri nyaris tak bisa berbuat banyak. Hanya satu yang berani ia lakukan yaitu menolak mentah-mentah permintaan penguasa militer Jepang untuk menyerahkan kaum perempuan sebagai jugun ianfu . Anehnya, militer Jepang sendiri tak berani menindak “pembangkangan” Soerjo itu. “Mungkin mereka sadar Eyang Soerjo adalah tokoh yang sangat dicintai rakyatnya hingga jika menangkapnya hanya akan menimbulkan gejolak,” ujar Donny Ariotejo.

  • Ingin Mulai Aksi Massa, Aktivis Malah Ditangkap Massa

    BERITA kekalahan Jepang membuat para pemuda yang dimotori Chairul Saleh, Sukarni, Wikana, Adam Malik, Maruto Nitimihardjo tak sabar ingin kemerdekaan segera diumumkan. Untuk itulah mereka mendesak pemimpin nasional golongan tua, yang diwakili Sukarno-Hatta, segera memproklamasikan kemerdekaan. Sambil terus memajukan kehendaknya, para pemuda terus bergerak menyelesaikan segala rencana yang bakal dilakukan ketika kemerdekaan telah dicapai. Mereka mencetak dan menyebarkan pamflet-pamflet kemerdekaan, menggalang massa, dan mengatur siasat untuk bergerak begitu Indonesia telah dicetuskan. Kesibukan para pemuda di situasi yang bergerak cepat itu membuat BM Diah, wartawan Asia Raya  yang ikut bergabung bersama kelompok pemuda nasionalis, bingung begitu keluar dari tahanan Jepang. “Tanggal 15 Agustus pagi saya berada di luar penjara Jepang, di udara bebas. Segera setelah di luar, saya menemui keluarga saya. Kemudian mencari kawan-kawan yang bergerak dalam Angkatan Baru. Saya mencari Sukarni di rumahnya. Tidak ada. Dikatakan bahwa ia menyembunyikan diri karena bersama saya delapan hari lalu banyak pemuda diburu polisi Jepang. Kemudian saya mencari Chairul Saleh. Juga saya tidak mendapatkannya di rumahnya. Saya mencari Supeno dan Soediro di Cikini, di tempat kami kadang-kadang berkumpul. Juga mereka tidak saya temukan,” kata BM Diah memoarnya, Catatan BM Diah: Peran “Pivotal” Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-’45 . Kesibukan itulah yang membuat tokoh-tokoh pemuda justru alpa di Hari-H proklamasi. “Pada hari proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, kawan-kawan tidak ada yang hadir di Pegangsaan 56. Kami masing-masing sibuk. Saya dengan Pandu meroneo pamflet proklamasi. Sedangkan Chairul katanya diamankan orangnya Kaigun di Jln. Kebon Sirih 71, dengan alasan untuk menghindari penangkapan dari orang-orangnya Gunseikanbu (semacam garnisun). Sukarni, saya tidak tahu dia di mana, Adam Malik sedang sibuk menyiarkan proklamasi lewat kantor berita Domei  bersama Syarudin. Pendek kata, kami tidak ada yang hadir,” kata Maruto Nitimihardjo dalam testimoninya di biografi Chairul,  Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Sore setelah proklamasi dibacakan, Maruto, Chairul, Adam, Wikana dan beberapa anak buahnya, serta Jawoto berkumpul kembali di sekolahnya Jawoto. “Kita semua groggy , frustasi,” sambung Maruto. Keadaan berlainan dari yang mereka rencanakan sebelumnya membuat mereka frustasi. “Kita sudah capai-capai kok tidak ada aksi kelanjutan?” Saking frustrasinya, Pandu Kartawiguna bahkan sampai stres dan mengamuk. Kerisnya dia cabut dari sarungnya dan dia coba bunuh siapapun yang kebetulan melintas di dekatnya. “Dengan susah payah kita menenangkan Bung Pandu.” Setelah beristirahat dan suasana tenang, mereka kembali berembuk. Diputuskan bahwa keesokan harinya, 18 Agustus, mereka kembali bergerak. Sasarannya Gedung Raad van India (kini Gedung BP-7 di Kompleks Kemenlu, Pejambon). Di sanalah para anggota PPKI bersidang. Pada Hari-H, para pemuda yang sudah pindah markas ke Prapatan 10, lalu menyabot sidang PPKI dengan menculik beberapa pemimpinnya. “Kita boikot, karena kita anggap bahwa badan tersebut berbau Jepang,” sambung Maruto. Selain Sukarno-Hatta, anggota PPKI yang hadir memenuhi permintaan pemuda ke Prapatan 10 antara lain Achmad Subarjo, Teuku Moh. Hasan, dan Mr. Ketut Puja. Sutan Sjahrir kemudian datang setelah dijemput Abubakar Lubis dan kawan-kawan penghuni Prapatan 10 yang pengikut Sjahrir. Hasil dari pertemuan itu adalah kesepakatan melaksanakan apa yang tercantum dalam proklamasi: pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Selain itu, menggerakkan rakyat di ibukota untuk menunjukkan Indonesia sudah merdeka. Untuk itu, isyarat pembuka gerakan pun ditetapkan berupa: tembakan meriam penangkis udara di Kemayoran, pembakaran di Jatinegara, dan penggerakan satu batalyon Heiho di Jatinegara untuk menguasai Jakarta. Namun, kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi membuat aksi-aksi yang ditetapkan berjalan sendiri-sendiri dan berakhir tanpa sesuai rencana. “Pamflet proklamasi yang sudah kita sebarkan pun tidak kita ketahui, apa sudah tersebar ke pelosok-pelosok dan bagaimana reaksi masyarakat? Tanda berkobarnya api di Jatinegara yang sedianya dinyalakan oleh Saudara Jamil dengan membakar rumah WTS di Kebonpala, berkesudahan Jamil ditangkap oleh rakyat di sekitarnya. Pendek kata, semua gagal,” kata Maruto.

  • Asal-Usul Nama Candi Borobudur

    Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, langsung tertarik ketika Tan Jin Sing, bercerita soal candi besar di Desa Bumisegoro, dekat Muntilan. Ia pun meminta Tan Jing Sing melihat candi itu. Sesampainya di sana, Tan Jing Sing mengajak warga desa bernama Paimin sebagai penunjuk jalan. “Menurut Paimin namanya candi Borobudur,” tulis TS Werdoyo, salah seorang keturunan Tan Jin Sing, dalam biografi Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta . Niken Wirasanti, arkeolog Universitas Gadjah Mada, dalam “B orobudur: Misteri Batu Tak Berujung ” termuat di  200 Tahun Penemuan Candi Borobudur , menyebut entah bagaimana asal asulnya candi itu sudah bernama Borobudur. Begitu banyak misteri soal Borobudur hingga persoalan nama pun telah banyak menarik perhatian para ahli dan pemerhati seni untuk menelusurinya .    Rafflesdalam  History of Java menulis berdasarkan cerita penduduk desa di sekitar candi bahwa Borobudur berasal dari kata  boro  dan  budur . Budur artinya "purba". Karenanya Borobudur dapat diartikan "boro purba". Sementara Raffles sendiri berpendapat Borobudur berasal dari kata  boro artinya "agung" dan  budur dari kata Buddha. Jadi, arti Borobudur adalah "Buddha yang Agung". Pakar sastra Jawa Kuno, R.M. Ng. Poerbatjaraka, menerjemahkan  boro  dengan "biara" karena ada nama tempat yang diawali dengan kata  boro , yaitu Boro Kidul, artinya "Biara di Selatan". Kemudian arkeolog Belanda, Willem Frederik Stutterheim mengartikan Borobudur sebagai "biara di atas bukit" karena buḍur  berasal dari bahasa Minangkabau, buduā , artinya "sedikit menonjol" atau "bukit". Sedangkan J.L. Moens mengatakan Borobudur merupakan nama Jawa. Asalnya dari kata  bhārabudhūr  dalam bahasa India Selatan yang artinya "kota". Jadi, Borobudur artinya "kota Buddha". Berbeda lagi dengan filolog Belanda, J.G. de Casparis. Ia mengaitkan Candi Borobudur dengan Prasasti Sri Kahulunan yang dikeluarkan pada 824. Telaahnya menghasilkan istilah bhumisambarabhudara . Nama itulah yang menjadi nama Borobudur. Interpretasi Casparis itu kemudian populer dan terus dirujuk sebagai acuan tentang berdirinya Candi Borobudur. Pendapatnya mendapat dukungan dari John N. Miksic, peneliti dari Southeast Asian Studies Department, National University of Singapore. Ia juga menyebut kalau kata Borobudur berasal dari bhumisambhara ( -bbudhara ). Pun sejarawan Slamet Muljana yang menyebut Borobudur berasal dari kata Kamulān Bhūmisambhara . “Di lingkungan masyarakat ilmiah pendapat itu masih dipermasalahkan dan tetap menjadi misteri yang hingga kini tak henti-hentinya diteliti,” jelas Niken. Karenanya hingga kini asal-usul nama Borobudur masih belum jelas dan masih membuka banyak pendapat. Ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti, dalam “Reinterpretasi Nama Candi Borobudur” termuat di  Jurnal Amerta Vol 30. No. I, Juni 2018, berpendapat dalam mencari arti kata Borobudur, langkah awal adalah mencari kata  boro  dan  budur  yang terdapat di dalam data tekstual. Utamanya dalam karya sastra dari masa Jawa Kuno. Itu baik berupa prosa, kidung, maupun kakawin. Candi Borobudur dalam Berbagai Sumber Secara umum, sumber candi dan sumber tekstual sering tak saling mendukung. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Djoko Dwiyanto dalam “Kewaspadaan Terhadap Candi Borobudur Berdasarkan Data Epigrafis”, termuat di 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, menyebut satu-satunya candi yang dapat dikaitkan secara langsung dengan sumber prasasti adalah Candi Kalasan di Yogyakarta, yaitu dengan Prasasti Kalasan dari 778. prasasti itu “Tempat pemujaan bagi Tarabhawana, sebuah bangunan suci yang bernama Kalasa sebagai tempat pemujaan umatnya,” kata prasasti itu. Bangunan suci yang dikaitkan dengan prasasti umumnya hanya berupa penafsiran kecocokan di antara keduanya. “(Contohnya, red .) Uraian gugusan candi yang terdapat dalam prasasti Siwagrha dari 856 dapat disesuaikan dengan susunan kompleks percandian Lara Jonggrang atau Prambanan,” jelas Joko. Selain dengan keterangan Prasasti Sri Kahulunan, Borobudur juga dihubungkan dengan Prasasti Karangtengah. Di dalamnya terdapat keterangan seorang raja bernama Samaratungga. Putrinya, Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya dan Wenuwana. Casparis mengaitkan Wenuwana dengan Candi Mendut. Sedangkan arkeolog Soekmono mengidentifikasinya sebagai Candi Ngawen atas dasar persamaan bunyi nama. Adapun Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur. Selain dengan prasasti, ada juga karya sastra yang menyebut Borobudur, di antaranya Babad Tanah Jawi. Karya inidiperkirakanditulis pada abad ke-18. Di dalamnya ada cerita pemberontak Ki Mas Dana yang melarikan diri ke Bukit Borobudur. Pringgalaya mengejar dan menangkapnya, kemudian dihadapkan ke sunan untuk menerima hukuman yang kejam. J.L.A Brandes, filolog dan sejarawan seni asal Belanda, sebagaimana dikutip J.F. Scheltema dalam  Monumental Java , meyakini Bukit Borobudur itu adalah Candi Borobudur yang terdapat di Magelang, Jawa Tengah. Karena tak ada lokasi lain yang punya nama semirip itu. Rujukan tentang candi ini diduga yang dimaksud oleh Mpu Pranpanca dalam Nagarakrtagama dari masa Majapahit . Di sana disebutkan salah satu bangunan suci Buddha yang bernama Budur. Ini sesuai dengan tulisan Raffles,  History of Java , yang menyebut Candi Borobudur berada di Distrik Budur. “Demikianlah kasugatan kabajradharan (bangunan suci Buddha Bajradhara) adalah sebagai berikut… yang lainnya yaitu Budur, Wirun, Wungkulur, dan Mananggung, Watukura, Bajrasana, dan Pajambayan, Samalanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu, Poh Aji, Wangkali, dan Beru, Lembah, Dalinan, Pangadwan, adalah daerah perdikan pertama yang ditetapkan,” catat Mpu Prapanca. Namun, Titi mengatakan bahwa kata Budur, selain sebagai nama bangunan suci, juga merujuk pada salah satu jenis minuman keras. Dalam tulisannya yang lain, “Minuman Pada Masyarakat Jawa Kuno”, yang termuat dalam  Proceeding Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. II.B,  Titi mendaftar semua jenis minuman keras, yang ada dalam data tekstual, termasuk budur seperti disebut dalam teks  Ādiparwa . “…Brāhmaṇa tidak makan daging babi yang diternakkan, tidak minum minuman keras, surāpāna namanya minuman keras dan sejenisnya yang disebut tuak, waragaŋ, baḍyag, tuak tal, buḍur, demikian (disebutkan dalam) kitab suci Bagawān Śukra,” catat teks itu. Ada lagi dalam teks  Calon Arang : “Tidak lama datang apa yang diminta: tuak, nasik, laukpauk, tampo, brěm, kilang, dan yang lainnya sampai srěbat-buḍur." Kemudian dalam  Kidung Harsawijaya: “Makanan, minuman keras tidak ketinggalan, tuak, badeg, siwalan, buḍur dan mrěsi, sěrbat bersama dengan arak harum." Dengan lebih jelas, Kakawin Kāṇḍawawanadahana  (Terbakarnya Hutan Kāṇḍawa), yaitu naskah yang sampai saat ini belum diterjemahkan, menjelaskan asal usul budur. “Membuat perumahan sementara...dengan atap dari daun buḍur." Titi pun menyimpulkan bahwa buḍur  adalah nama tumbuhan sejenis aren atau enau. Airnya bisa dibuat minuman keras dan daunnya dijadikan atap rumah. Karenanya, menurut Titi, tak aneh jika Borobudur bisa diartikan sebagai "biara yang ada di Budur" atau biara yang ada di tempat yang banyak ditumbuhi pohon budur . Di Indonesia banyak ditemukan nama tempat yang menggunakan nama tumbuhan. Misalnya, seperti di Jakarta, ada Kampung Rambutan, Kebon Nanas, Kebon Kacang, dan Kemang. Penamaan itu sudah terjadi dulu. Titi mengatakan dalam prasasti banyak nama desa yang memakai nama tanaman. Contohnya Poh (mangga), Bungur , dan Nyū (kelapa). “Saya setuju dengan pendapat Poerbatjaraka yang menyebut Borobudur adalah biara di Buḍur. Kata Buḍur diambil dari sejenis tanaman aren, yang mungkin pada saat itu banyak ditemukan di tempat itu,” jelas dia.

  • Ketika Bangsa Eropa Memperebutkan Maluku

    DAYA tarik Kepulauan Maluku seolah tidak akan ada habisnya. Rempah kebanggan mereka (pala dan cengkeh) telah membuka jalan bagi kepulauan di sebelah timur Makassar itu bergaul dengan bangsa dari belahan bumi lain. Berjalan cukup baik di awal, namun berubah kacau kemudian. Bangsa asing itu perlahan memperlihatkan kerakusannya. Tercatat ada empat bangsa Eropa yang secara gamblang berlomba menarik hati rakyat Maluku, yakni Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris. Semuanya datang dalam waktu yang cukup berdekatan. Setiap kali satu kekuatan runtuh, kekuatan lain dengan sigap mengambil alih. Maluku tidak pernah sepi dari para pencari kekuasaan. Inggris menjadi yang paling dicintai, sementara Belanda yang paling dicaci. Sejak abad ke-16 hingga empat abad setelahnya, Maluku secara langsung terlibat dalam ajang pergumulan orang-orang Eropa tersebut.  Wilayah Ambon, Bacan, Banda, Ternate, dan Tidore menjadi pusat kegiatan para pendatang itu. Berawal dari penemuan jalur menuju Nusantara oleh bangsa Portugis, petualangan mereka mencari aneka bumbu yang mewah di Eropa itu pun dimulai. Dari hasil penelitian sejarawan Meta Sekar Puji Astuti diketahui bahwa orang-orang Eropa itu datang karena dorongan sebuah dongeng yang sengaja dibuat di tempat mereka. Dongeng yang berasal dari para pedagang Arab itu menyebut sebuah tanaman yang dapat memberi cita rasa untuk segala jenis makanan. Bahkan dipercaya mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit yang saat itu mewabah di daratan Eropa. Namun yang paling menarik perhatian rakyat Benua Biru adalah harganya. “Selama bertahun-tahun pala diperdagangkan di Jalur Sutra oleh orang-orang Arab dengan harga ribuan kali lipat dari wilayah asalnya,” kata Meta kepada Historia. Gabungan Kekuatan Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku. Para pelaut dari barat daya Eropa ini merapatkan kapalnya pada 1512, setelah setahun sebelumnya memastikan penguasaan Malaka. Menurut Tome Pires dalam Suma Oriental , para penjelajah Portugis tiba di bawah pimpinan Fransisco Serrao, salah satu kapten kapal dalam ekspedisi Antonio de Abreu. Dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di wilayah Maluku. Kedatangan Serrao di Maluku mendapat sambutan yang hangat dari penduduk. Meski sejumlah hambatan, utamanya komunikasi, sempat membatasi hubungan kedua bangsa ini, dengan cepat halangan tersebut diatasi. Orang-orang Portugis mampu beradaptasi dengan baik. Belum lama mereka tinggal, kepercayaan rakyat sudah berhasil didapat. Penduduk Ternate, kata Pires, menjadi kawan terdekat bangsa Portugis di Maluku. Pemimpinnya, Sultan Bayanullah, banyak memberikan bantuan. “Kabarnya raja ini sangat memegang teguh keadilan. Ia menjaga rakyatnya agar tetap patuh. Ia berkata bahwa ia akan sangat senang bertemu dengan pendeta Kristen, karena apabila keyakinan kita tampak lebih baik di matanya maka ia akan meninggalkan sektenya (agama Islam), kemudian memeluk agama Kristen.” Perlahan namun pasti, orang-orang Portugis mulai menyebarkan pengaruhnya di Maluku. Mula-mula Ternate dikuasai, baik secara politik maupun budaya, kemudian daerah-daerah di sekitarnya turut menjadi incaran. Namun hambatan besar mulai dirasakan saat mereka mencoba menguasai Tidore. Wilayah yang sejak lama berselisih dengan Ternate itu menolak kehadiran mereka. Portugis pun lantas menggunakan cara keras dalam usaha menguasai kerajaan milik ayah Sultan Bayanullah tersebut. Tekanan dari Portugis membuat posisi Tidore terpojok. Gempuran persenjataan lengkap bangsa Eropa itu sangat menyulitkan. Tidore membutuhkan bantuan besar. Dalam penelitian Hubert Jacobs, A Treatise on the Moluccas: Probably the Prellminary Version of Antonio Galvao’s Lost , disebutkan bahwa pertolongan tak terduga tiba pada 8 November 1521. Dua orang pelaut Spanyol, Carvalhinho dan Goncalo Gomes, tiba di Tidore bersama sejumlah pasukan. Mereka diterima dengan baik ketika memasuki pelabuhan Tidore. Spanyol pun praktis terlibat dalam perselisihan Tidore-Ternate. Sekaligus menantang musuh bebuyutannya di Eropa yakni Portugis dalam perebutan kuasa atas rempah Maluku. “Dengan demikian dalam perang itu terdapat di satu pihak Tidore yang dibantu orang-orang Spanyol dan di lain pihak Ternate yang dibantu orang-orang Portugis,” Sartono Kartodirdjo, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia: Jilid 3 . Perang di Maluku terjadi dalam suasana yang serba tidak menentu. Meski dalam sejumlah peperangan kekuatan Ternate bersama kawan-kawan Portugisnya lebih unggul, tetapi mereka tidak bisa mempertahankan keutuhan dari dalam. Koalisi Tidore-Spanyol dan Ternate-Portugis ternyata tidak bertahan lama. Semakin lama rakyat semakin melihat sifat buruk orang-orang Eropa itu, yang sedari awal hanya mengincar rempah-rempah milik mereka dengan cara memecah belah penduduk Maluku. Keruntuhan kuasa Spanyol dan Portugis di Maluku semakin terlihat setelah kedua negara itu menyepakati Perjanjian Zaragoza pada 22 April 1529. Di tambah sejumlah peristiwa di dalam masing-masing kerajaan yang melibatkan bangsa asing, membuat suasana semakin keruh. Ikut campurnya mereka dalam urusan politik kerajaan adalah sebab utama rakyat ingin kedua bangsa itu keluar dari Maluku. Sejumlah perlawanan mulai digelorakan rakyat di beberapa tempat. Meski dua tokoh utama, Ternate dan Tidore, belum berbaikan, tetapi perlawanan yang terpecah itu mulai merepotkan kedudukan Portugis dan Spanyol. Rakyat berhasil menduduki benteng pertahanan, dan melucuti persenjataan keduanya. Portugis bahkan terusir dari tanah Ternate pada 28 Desember 1577. Mereka pun terpaksa mengungsi ke pulau-pulau sekitar untuk mengamankan diri. “Portugis dan Spanyol disatukan di bawah Raja Felipe II, dan raja ini menyuruh Gubernur Jenderal Spanyol yang berkedudukan di Filipina untuk memberi bantuan kepada orang-orang Portugis di Maluku,” tulis Kartodirdjo. Dibantu tentara Spanyol, Portugis berusaha merebut kembali Ternate. Namun sayang pada 1605, Belanda keburu datang mengacaukan jalannya perang di perairan Maluku. Kekuatan gabungan Portugis-Spanyol pun akhirnya teralihkan ke Belanda. Rakyat Maluku yang sudah muak dengan dua bangsa Eropa tersebut lantas memberi bantuan kepada Belanda. Meski tidak tahu bagaimana perangai para pendatang ini. Gabungan kekuatan Ternate-Belanda mampu memukul mundur Spanyol dari Ternate dan Tidore. Segera Belanda membangun benteng-benteng pertahanan di beberapa tempat strategis. Pada 1620-an Belanda sudah berhasil mengamankan posisinya di Perairan Maluku. Mereka akhirnya bisa mulai memonopoli rempah dengan tenang. Menuju Perjalanan Panjang Rupanya ketenangan dalam proses monopoli ini tidak begitu saja didapat. Meski Portugis dan Spanyol telah disingkirkan, Belanda kembali dipusingkan dengan keberadaan orang-orang Inggris. Pasukan Raja James itu telah menempati perairan Maluku sejak 1605. Namun mereka tidak ikut serta dalam konflik Portugis-Spanyol. Inggris sibuk membangun wilayah koloninya, seperti terlihat di pulau Run. Menurut I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura , rakyat Maluku dipaksa berhutang budi kepada Belanda ketika proses pengusiran Portugis dan Spanyol. Akibatnya mereka harus menuruti segala permintaan Belanda, termasuk melarang penduduk menjual rempah-rempahnya kepada bangsa lain. Semua perdagangan rempah diatur dengan menempatkan Belanda sebagai prioritas. Para penguasa diikat oleh kontrak agar Belanda dapat mudah memonopoli rempah-rempah. Mereka juga mulai membangun pertahanan, dan menyiagakan banyak armada di perairan Maluku. Hal itu dilakukan guna menghalau serangan dari Inggris yang sudah menguasai Banda. Dalam The Banda Islands: Hidden Histories and Mirackles of Nature , Jan Russell menyebut jika Belanda sulit menembus pertahanan Inggris di Banda. Mereka pun sementara hanya bisa menancapkan pengaruhnya di Ambon, Saparua, dan sebagian Maluku Tengah. “Orang Banda itu cukup cerdik. Mereka lebih suka berbisnis dengan orang Inggris dibandingkan dengan orang Belanda,” ucap Meta. Kebencian rakyat terhadap orang-orang Belanda mulai muncul setelah pemerintahan asing itu membuat kebijakan yang memberatkan rakyat. Perlakuan semena-mena, ditambah sistem tanam paksa yang menyengsarakan, membuat rakyat Maluku semakin menutup hatinya untuk para kompeni. Rakyat semakin yakin bahwa orang-orang ini tidak lebih baik dari Portugis dan Spanyol. Tahun 1796 terjadi keributan di Ambon. Kehadiran kapal-kapal berbendera Inggris membuat rakyat bertanya-tanya tentang situasai yang terjadi. Bendera Belanda yang semula berkibar di benteng Victoria juga sudah berganti menjadi ‘Union Jack’ milik Inggris. Ratusan tentara bersenjata lengkap ada di seluruh penjuru kota. Rupanya telah terjadi pergantian kekuasaan antara Belanda dan Inggris atas perairan Maluku. Perang yang berkecamuk di Eropa antara Inggris dan Prancis memaksa kerajaan Belanda menyerahkan seluruh wilayah jajahannya di Afrika dan Asia kepada Inggris. “Banyak di antara mereka yang tidak dapat mengerti keterangan itu. Pengetahuan mereka tentang Eropa yang begitu jauh letaknya tidak seberapa. Apalagi mau mengerti pergolakan apa yang sedang terjadi di sana,” tulis Nanulaitta. Kepanikan melanda rakyat Maluku. Mereka khawatir tentang nasibnya di bawah penjajah baru ini. Tindakan nekat pun akhirnya menjadi pilihan. Sejumlah orang mencoba menyerang benteng pertahanan Inggris. Namun pada akhirnya perlawanan tersebut dapat dihalau. Sebagai konsekuensi, para pemberontak itu dieksekusi. Perlahan Inggris membangun pemerintahan di seluruh perairan Maluku. Pengalaman selama di Banda dan Run, ditambah informasi tentang cara Belanda memerintah, membuat Inggris cukup berhati-hati dalam membuat kebijakan. Melalui peraturan yang dibuat, Inggris melakukan pendekatan terhadap rakyat dengan cara yang berbeda. Beberapa peraturan perdagangan yang sebelumnya sangat memberatkan mulai diperlunak. Kerja rodi tetap dipertahankan namun diperingan. Rakyat juga diberi kebebasan dalam berbagai aktifitas. Bahkan Inggris melibatkan penduduk dalam sistem militer mereka, dan membentuk kesatuan khusus untuk rakyat. “Harapan baru akan hidup yang lebih baik timbul lagi. Kebun-kebun cengkih dan pala memberi harapan besar. Perniagaan menjadi ramai. Hanya terhadap penyelundupan Inggris bertindak keras juga,” kata Nanulaitta. Namun kesedihan kembali harus dirasakan rakyat Maluku. Tujuh tahun kebebasan di bawah pemerintah Inggris sirna begitu saja ketika mengetahui orang-orang Belanda kembali menerima hak atas tanah Maluku. Keresahan melanda seluruh negeri. Kepergian bangsa yang memberi kedamaian sangat diratapi rakyat Maluku. Tahun-tahun berikutnya konflik antara Inggris dan Belanda atas Maluku terus terjadi. Keduanya bergantian memberi pengaruh di tanah kelahiran Pattimura tersebut. Sampai pada kondisi di mana Inggris sudah tidak dapat lagi menginjakkan kakinya di sana. Sebuah perjanjian tahun 1816, Traktat London, menyelesaikan konflik Inggris-Belanda di Maluku untuk selama-lamanya. Dengan gagahnya Belanda mampu menyingkirkan tiga pesaing berat, dan berkuasa penuh atas Maluku.

  • DNA dan Keragaman Manusia

    PERNYATAAN seorang milenial yang tengah go-international, Agnes Monica alias Agnez Mo, bikin geger. Dia menyatakan tak punya darah Indonesia dalam sebuah wawancara. Kendati esensi pernyataannya tidak salah, cara penyampaian Agnes akhirnya disalahpersepsikan. Sejarawan Bonnie Triyana menyatakan, secara biologis tidak ada yang namanya gen maupun DNA orang Indonesia. Indonesia adalah konsep nation-state  dari sebuah wilayah yang pernah jadi jalur perlintasan empat gelombang migrasi nenek moyang manusia dari Afrika. Secara ilmiah, gelombang migrasi itu dijabarkan dalam teori “Out of Africa”. Maka, menilik hasil dari proyek tes DNA yang digarap Historia.id  bersama Kemendikbud RI dalam Pameran Asal Usul Orang Indonesia , sebanyak 16 relawan yang dites punya sebaran asal-usul gen dan DNA yang beragam. Nah, apa itu DNA? Apa bedanya dengan genetika, ras, atau etnis? Dalam beragam literatur ilmiah, DNA ( Deoxyribonucleic acid ) atau Asam deoksiribonukleat adalah sebuah molekul yang menjadi penyusun utama setiap makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan. Dr. Ryu Hasan menerangkan A-Z perihal genetika dan DNA yang terkandung di tubuh manusia (Foto: Fernando Randy/Historia) Menurut pakar neurogenetika dan biologi molekuler dr. Roslan Yusni Hasan atau biasa disapa Ryu Hasan, DNA itu semacam kode genetik dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia. Sederhananya ia mengibaratkan DNA adalah unsur terkecil dari sebuah buku besar catatan diri manusia yang namanya genom. “Genom/buku ini terdiri dari 23 bab yang namanya kromosom. Tiap bab/kromosom terdiri dari ribuan cerita/gen. Nah, gen disusun oleh paragraf-paragraf yang namanya exon dan intron . Exon ibarat cerita utama dan intron adalah iklan namun sama-sama penting. Tiap paragraf/ exon dan intron disusun oleh kata yang namanya codon. Setiap kata/ codon disusun oleh yang namanya basa. Ya A,C,G,T ( adenine , cytosine , guanine , thymine ) itu. Setiap kata itu awalnya disebut RNA dan kemudian menjadi DNA,” ujar Ryu Hasan dalam perbincangannya dengan Historia. Ilmuwan pertama yang meneliti tentang DNA itu sendiri terurut ke belakang dari penemuan ahli fisika Swiss Friedrich Miescher pada 1869. Dalam “Discovering DNA: Friedrich Miescher and the Early Years of Nucleic acid Research”, dimuat dalam Human Genetics , R. Dahm menyebut Miescher lebih dulu mengisolasi molekul asam nukleat dari sebuah perban bekas operasi. Seiring waktu, sejumlah ilmuwan lain mengembangkan temuan itu, dari pengisolasian RNA (Ribonucleic acid) hingga DNA. Setelah Miescher, pada 1909 Phoebus Levene mengidentifikasi basa, senyawa gula, dan senyawa nukleat fosfor dari RNA. Dua dekade berselang (1929) ia juga yang mengidentifikasi senyawa gula deoxyribose hingga menjadikannya DNA. Pada 1933, Jean Brachet menemukan inti sel nucleus dalam DNA. Empat tahun berselang, William Astbury menemukan DNA memiliki struktur reguler lewat penguraian melalui x-ray . “Penampakan” DNA yang dikristalisasi pertamakali lewat foto x-ray diambil pertamakali oleh Raymond Gosling pada 1952, dinamakan Photo 51, di mana foto itu diakui sebagai model pertama DNA dengan struktur double-helix. “Yang pertamakali ditemukan itu adanya RNA. Lalu DNA yang digunakan para ahli sampai sekarang karena (strukturnya) lebih stabil daripada RNA. Lalu pemetaan genom manusia konkret dibuat pertamakali secara lengkap itu baru 26 Juni 2000,” sambung Ryu. Yang dimaksud Ryu adalah “Human Genome Project” yang digarap International Human Genome Sequencing Consortium. Perampungannya baru diumumkan kepada publik pada 14 April 2003. Sejak itulah mulai ramai institusi riset biologi “menawarkan” program-program tes DNA. Mengapa Manusia Berbeda-beda? Intisari tes DNA yang digarap Historia.id dan Kemendikbud adalah, menggambarkan bahwa manusia Indonesia punya asal-usul DNA yang sangat beragam. Itu terkait dengan empat gelombang migrasi “Out of Africa” puluhan ribu tahun silam, merujuk pada teori Homo sapiens alias manusia modern pertama berasal dari bagian timur Afrika yang diperkirakan sudah eksis antara 300-200 ribu tahun lalu. “Dari situ muncul pembagian dua populasi yang punya sejarah panjang 200 ribu tahun lalu. Yaitu orang-orang yang sekarang jadi suku Khoisan dan Pigmi. Baru sekitar 60 ribu tahun lalu Homo sapiens yang keluar dari Afrika menyebar ke banyak wilayah. Bahkan 50 ribu tahun lalu sudah ada yang mencapai Australia. Lalu sekitar 45 ribu tahun lalu sudah ada yang di Siberia. Dan, butuh sekitar 30 ribu tahun kemudian yang di Siberia itu menyebar ke Amerika Selatan,” lanjut Ryu. Seiring waktu, lantaran faktor lingkungan tempat para manusia modern itu tinggal, tampilan fisik mereka berubah hingga akhirnya menjadikan manusia di segenap bumi punya rupa yang berbeda-beda. Manusia di Eropa berkulit putih, di Amerika (suku asli Indian) berkulit kemerahan, di Asia berkulit kuning dan coklat, dan di Afrika yang tetap berkulit hitam. Tapi, lanjut Ryu, gen pembawa kulit terang sudah ada di orang-orang Afrika kulit hitam ratusan ribu tahun lalu itu. “Jadi gen dan DNA itu sendiri tidak bicara apa-apa tentang perbedaan. Ada yang namanya gen untuk orang kulit terang, itu SLC24A5, yang terdiri dari sekitar 20 ribu pasang basa dan kode genetik. Cuma satu bedanya. Yang (manusia) berkulit terang itu bermutasi sesuai lingkungannya. Itu saja. Kode mutasinya hanya berubah dari A jadi G. Satu huruf itu yang membedakan seseorang berkulit terang dan gelap. Hanya mutasi kecil saja,” terangnya. Perihal genetik, DNA, serta Teori Out of Africa itu sontak “menggugurkan” teori ras yang dipaparkan ilmuwan Amerika Samuel Morton pada 1839 lewat risetnya yang dibukukan, Crania Americana. Teori itu menyatakan manusia diciptakan berbeda-beda berdasarkan ras: Kaukasia, Mongoloid, Indian-Amerika, Melayu (Asia Tenggara), dan Negroid (Afrika). “Morton itu ‘Bapak Rasialis’. Setelah ada teori baru tentang evolusi, kemudian genetika, semua (ide teori ras) itu salah. Manusia pertama ya dari Afrika. Bicara perbedaan misalnya orang Denmark dan orang Bantul, itu sama saja seperti orang Bantul dengan orang Kulonprogo – secara genetik enggak ada beda. Ekspresi (penampilan fisik) berbeda tergantung adaptasi lingkungan.” Oleh karena itu, lebih jauh, konsep pribumi dan non-pribumi pun gugur. Secara genetik dan DNA, tidak ada orang Indonesia yang disebut pribumi. Gagasan itu sekadar dampak dari situasi sosial-politis yang ada di masing-masing wilayah bumi. “Kalau disebut pribumi, ya kita semua pribumi. Bumi ini punya kita. Sekarang gini, apa bedanya pribumi Sunda dan Jawa? Batasnya di mana? Siapa yang membatasi? Nah, politis itu. Kita semua pendatang kok. Bahkan Homo erectus saja ditemukan Eugène Dubois di Trinil, di mana dia sudah ada sebelum Homo sapiens , itu juga pendatang,” tandas Ryu.

  • Jusuf Muda Dalam di Mata Hasjim Ning

    SUKA bergaul dan gemar menolong plus menjadi sabahat Bung Karno membuat Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang menjadi pengusaha nasional berjuluk “Raja Mobil Indonesia, berada di dalam orbit elite. Posisi itu membuatnya dianggap serba-tahu oleh banyak orang. Padahal, posisi itu kerap membuatnya sial kendati dirinya hanyalah seorang partikelir alias di luar pemerintahan. Kesialan terutama menimpanya jika ada suatu gejolak politik. Periode peralihan rezim, 1965-1966, menjadi periode terberat yang dirasakannya. Hasjim bahkan ikut kena periksa Tim Pemeriksa Umum (Teperpu). “Empat puluh delapan kali aku diperiksa. 48 kali diperiksa oleh suatu tim dengan cara cross examination memang sangat melelahkan bahkan menjengkelkan walaupun pertanyaan dimajukan dengan sopan tapi korektif. Mungkin karena aku seorang pengusaha besar dan dekat dengan Istana, maka aku dipandang serba tahu ke mana saja uang negara digunakan dan dicolongi orang. Mereka seperti tidak percaya bahwa aku tidak tahu dan tidak ikut kebagian. Mereka seperti tidak tahu bahwa dalam masyarakat lingkungan Istana terdapat serigala dan ular yang saling mengincar mangsa untuk disergap ramai-ramai atau difitnah,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Namun, Hasjim tak pernah mengeluhkan posisi yang dimilikinya. Justru dari posisinya itulah dia mengenal banyak orang. Dibandingkan kawan-kawannya yang memiliki jabatan, posisi Hasjim sebagai partikelir memungkinkannya lebih mengenal secara personal orang-orang di kalangan elit. Tak heran bila setiap penilaiannya terhadap seseorang acap berbeda dari pemberitaan umum. Salah satunya, terhadap sosok Menteri Urusan Bank Central/Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam. Isu korupsi, hidup mewah, dan tukang main perempuan menghancurkan nama Jusuf dan membawanya ke dalam akhir kehidupan yang tragis, mengubur jasa-jasanya yang telah dirintis sejak muda. Jusuf merupakan pejuang kemanusiaan sejak muda. Ketika kuliah di Ekonomische Hoge School di Rotterdam, Belanda, Jusuf aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Ketika Perang Dunia II pecah, Jusuf ambil bagian dalam melawan pendudukan Jerman-Nazi dengan bergabung ke dalam gerakan bawah tanah. Jusuf memilih angkat senjata dengan menjadi penembak senapan mesin. Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, yang juga ikut gerakan bawah tanah, ingat betul keberanian Jusuf. Kepada Soe Hok Gie, yang kemudian menuliskannya dalam Orang-Orang Kiri di Persimpangan Kiri Jalan , Soemitro mengatakan Jusuf pernah sukses menghujani peluru konvoi pasukan Jerman. Semasa Perang Kemerdekaan, Jusuf aktif memberitakan revolusi Indonesia lewat tulisan-tulisannya di De Waarheid , harian milik Partai Komunis Belanda. Kiprah Jusuf dalam pemerintahan dimulai dengan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Pada 1956, dia diajak Margono Djojohadikusumo menjalankan roda Bank Negara Indonesia (BNI). Kariernya melesat. Pada 1959, dia sudah menduduki jabatan presiden direktur. Kinerja apik itu menjadi alasan Presiden Sukarno menunjuknya menjadi Menteri Urusan Bank Central/Gubernur Bank Indonesia pada 1963. Lewat kampanye “Bank Berdjoang”, Jusuf sukses mengintegrasikan seluruh bank pemerintah ke dalam BNI. Namun, kehidupan pribadi Jusuf dan kedekatannya pada Presiden Sukarno membawanya menjadi pesakitan setelah G30S pecah. Begitu Supersemar didapat Jenderal Soeharto, masa kegelapan Jusuf pun dimulai. Berbekal surat perintah pengamanan itu, Jenderal Soeharto memasukkan nama Jusuf ke dalam daftar 15 menteri yang ditahan pada 18 Maret 1966. Jusuf disidangkan pada 30 Agustus 1966. Dengan dakwaan subversi, korupsi, tindak pidana khusus menguasai senjata api tanpa hak, dan perkawinan yang dilarang undang-undang, Jusuf divonis hukuman mati. Sebelum penahanan Jusuf pada 18 Maret itulah Hasjim bertemu Jusuf. Karena mengenal secara pribadi, Hasjim tak mau membeo pada pemberitaan media dalam berkawan dengan Jusuf. Selain memberitahu Jusuf bakal ditangkap dalam waktu dekat, Hasjim juga menawarkan bantuan dengan mengupayakan “pelarian” Jusuf ke luar negeri bila yang bersangkutan berkenan. Jusuf dengan tegas menolak tawaran Hasjim. “Dengan meninggalkan Bung Karno? Tidak. Aku sudah tahu bahwa aku akan ditangkap. Aku tahu alasan aku ditangkap. Tapi tak apalah. Setidaknya aku akan diketahui orang bahwa aku sama dengan Chaerul Saleh yang tidak mau meninggalkan pemimpinnya. Tidak sama dengan Adam Malik dan Frans Seda yang mau menyerahkan uang kantornya kepada tentara untuk menangkapi teman sendiri dan terakhirnya Bung Karno,” kata Jusuf dikutip Hasjim.

  • Kisah Mistis Candi Borobudur

    Pada masa Sunan Pakubuwono I bertakhta di Kartasura, muncul pemberontakan yang dipimpin Ki Mas Dana di daerah Enta-Enta. Sunan memerintahkan Bupati Mataram, Ki Jayawinata, untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun, balatentaranya kewalahan dan mundur ke Kartasura. Jayawinata melaporkan peristiwa itu kepada sunan. Sunan kembali mengutus orang kepercayaannya. Kali ini Bupati Kartasura, Pangeran Pringgalaya, yang diperintahkan untuk mengurus pemberontakan itu. “Tangkap Ki Mas Dana hidup-hidup!” perintah Sunan. Pertempuran terjadi. Banyak korban bergelimpangan. Pemberontakan berhasil dipadamkan. Namun, Ki Mas Dana melarikan diri ke Bukit Borobudur. Pringgalaya mengejarnya hingga tertangkap dan dibawa ke hadapan sunan untuk menerima hukuman yang kejam. Kisah itu diceritakan dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18. Di sana nama Borobudur disebut sebagai tempat pelarian. Filolog dan sejarawan seni asal Belanda, J.L.A Brandes, sebagaimana dikutip J.F. Scheltema dalam Monumental Java, me yakini Bukit Borobudur adalah Candi Borobudur yang ada di Magelang, Jawa Tengah. Karena tak ada lokasi lain yang punya nama semirip itu. Ini menjadi menarik karena kisah tentang Borobudur telah banyak berubah sejak masa keemasannya kala Dinasti Sailendra berkuasa. Awalnya, candi ini dibangun untuk beribadah umat Buddha. Bahkan sampai sekarang, 12 abad setelah masa pembangunan candi, Borobudur masih dianggap sebagai candi Buddha Mahayana terbesar di dunia. Ada beberapa asumsi mengenai nasib Candi Borobudur setelah pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) yang menaungi pembangunannya, tak lagi melanjutkan pusat kekuasaannya di wilayah yang kini disebut Jawa Tengah. Sejak abad ke-10, rajanya, Mpu Sindok, memindahkan kerajaannya ke wilayah Jawa Timur sekarang. Ada beberapa pendapat soal alasan kepindahannya. Arkeolog Soekmono dalam Chandi Borobudur menyebutkan bahwa sangat mungkin Candi Borobudur ditinggalkan ketika pusat pemerintahan itu berpindah. Walaupun itu tak pernah benar-benar hilang dari memori masyarakatnya. “Kalau memang begitu, Candi Borobudur sudah ditinggalkan oleh penganutnya beberapa abad sebelum candi-candi di Jawa Timur,” katanya. Kendati pusat pemerintahan Jawa Tengah meredup setelah tahun 928, Borobudur tak sepenuhnya terabaikan. Buktinya keramik dan koin Tiongkok dari abad ke-11 dan ke-15 ditemukan di sana. Pun KakawinNagarakrtagama atau Desawarnana dari masa Majapahit menyebut para peziarah masih terus mengunjungi monumen itu. Meski memang kondisi bangunannya sudah tak terjaga dengan baik. Dalam karya Mpu Prapanca itu disebutkan salah satu bangunan suci Buddha bernama Budur. Sementara dalam tulisan Thomas Stamford Raffels, History of Java, disebutkan Candi Borobudur terdapat di Distrik Budur. “Demikianlah kasugatan kabajradharan (bangunan suci Buddha Bajradhara) adalah sebagai berikut… yang lainnya yaitu Budur, Wirun, Wungkulur, dan Mananggung, Watukura, Bajrasana, dan Pajambayan, Samalanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu, Poh Aji, Wangkali, dan Beru, Lembah, Dalinan, Pangadwan, adalah daerah perdikan pertama yang ditetapkan,” catat Mpu Prapanca. Dari situ, ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti, dalam “Reinterpretasi Nama Candi Borobudur” termuat di Jurnal Amerta Vol 30. No. I, Juni 2018 , menyimpulkan bahwa Budur pada masa Majapahit masih dipergunakan sebagai nama bangunan suci Buddha. Candi itu baru benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitarnya beralih ke Islam pada abad ke-15. Seperti disebutkan Soekmono, perubahan kepercayaan tentu saja mengarah ke perubahan sikap masyarakat terhadap candi. Akibatnya, yang berkembang adalah takhayul di seputar reruntuhan candi yang tak jelas asal usulnya bagi penduduk. Alih-alih sebuah monumen Buddha, candi itu menjadi bukit yang strategis, tempat pemberontak melarikan diri, sebagaimana dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi . Kronik Jawa lainnya bahkan menganggap Candi Borobudur sebagai tempat yang angker. Babad Mataram mengisahkan Pangeran Mancanagara, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta, mengunjungi Borobudur untuk membuktikan bahwa orang yang mendatangi seribu arca akan mati. Ia lalu mendatangi kesatria yang terpenjara di dalam sangkar, yang ada di dalam bangunan itu. Kesatria yang terpenjara itu kemudian ditafsirkan sebagai arca Buddha di dalam stupa berterawang yang ada di Candi Borobudur. Singkat cerita, setelah tidak ada pertanda kepulangannya, raja pun memerintahkan pasukan untuk membawa pulang anaknya, hidup atau mati. “Pangeran itu ditemukan, tetapi ia muntah darah, lalu meninggal dunia,” kata Titi. Keberadaan Borobudur baru terungkap lagi setelah seorang Tionghoa, Tan Jin Sing melaporkan keberadaannya kepada Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada 1812. Seperti dikisahkan T.S. Werdoyo, salah seorang keturunan Tan Jin Sing, dalam biografi Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta , Tan Jin Sing diminta Raffles untuk mendatangi candi yang katanya terletak di dekat Muntilan itu. Saat sampai, bangunan candi terlihat menyedihkan. Paimin, warga desa yang diajak Tan Jin Sing sebagai penunjuk jalan mesti membabat semak belukar di sekeliling candi dengan parang. Tubuh candi pun ditumbuhi tanaman. Bagian bawahnya terkubur dalam tanah, sehingga candi itu seolah-olah berada di atas bukit. Pada 1850-an, hanya empat dekade setelah Borobudur disibak dari semak belukar, orang Jawa sekali lagi melakukan ritual di tempat itu. Menurut John Miksic dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas , mereka membakar dupa dan membawa persembahan bunga ke hadapan arca Buddha di teras atas dan ke depan arca Buddha yang belum selesai dibuat. Mereka memulas patung-patung itu dengan bubuk beras yang secara tradisional dipakai oleh para wanita muda untuk mendandani diri mereka. “Para pengunjung ini datang untuk meminta anugerah, untuk mendapatkan perlindungan dari penyakit, untuk meminta berkah setelah pernikahan dan kepentingan domestik lainnya,” jelas Miksic. Mitos tentang arca di dalam sangkar yang membawa sial, pada masa ini justru sebaliknya. Ada keyakinan kalau salah satu arca di stupa berlubang di teras atas justru membawa keberuntungan bagi siapapun yang bisa menyentuhnya. Masyarakat menyebutnya dengan nama Kakek Bima, tokoh dalam kisah Pandawa lima dalam epos Hindu, Mahabarata. “Wanita tanpa anak khususnya mengulurkan jari mereka ke arahnya, percaya bahwa dengan melakukan itu mereka telah memuaskan Kakek Bima,” jelas Miksic. Candi Borobudur akhirnya mulai serius diurus ketika pemerintah kolonial Belanda membentuk Borobudur Comissie. Anggotanya J.L.A Brandes, Van de Kamer (insinyur konstruksi dari Departemen Pekerjaan Umum), dan Theodore van Erp (insinyur perwira militer). Mereka bertugas menyelamatkan dan melestarikan Borobudur. Van Erp memimpin pemugaran Candi Borobudur pada 1907-1911. Pemugaran berikutnya dilakukan pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO pada 1973-1983. Hasilnya, kini Candi Borobudur berdiri dengan megah, disaksikan masyarakat dari seluruh dunia. Keangkerannya pun berangsur menghilang.

  • Pekik Merdeka di Ladang Huma

    SEKIRA akhir September 1945, keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Bogor. Kepindahan itu terjadi karena di Jakarta teror tentara Belanda mulai merajalela. Namun ketika di Bogor pun, Fatmawati Sukarno merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan situasi revolusiener  yang tengah melanda kota hujan itu. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor (Jalan Ciwaringin No.33), bersama keluarga Harun Kabir …” ujar Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I . Hingga kini sosok Harun Kabir dikenal sebagai tokoh pejuang di Jawa Barat. Namanya tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir). “Pak Harun itu dulu pernah menjadi komandan saya di Lasykar Ciwaringin 33,” ungkap Sukarna, lelaki kelahiran tahun 1921. Siapakah sebenarnya Harun Kabir? * Sejatinya Harun Kabir bukanlah berasal dari Bogor, Cianjur atau Sukabumi, seperti banyak diyakini oleh beberapa peneliti sejarah. Aslinya dia adalah menak Bandung dan putra tunggal dari Raden Kabir Natakusumah, keturunan langsung dari Bupati Bandung ke-5 Raden Wiranatakusumah I (1769-1794). “Ayah saya lahir di Kapatihan pada 5 Desember 1910…” ungkap almarhum Hetty Kabir (putri ke-2 pasangan Harun Kabir-R.A. Soekrati) yang saya wawancarai pada 2014. Menjelang pemerintah Hindia Belanda runtuh, Harun Kabir menjabat sebagai Asisten Residen Bogor. Ketika militer Jepang berkuasa (1942—1945), dia ditempatkan sebagai pejabat di Zaimubu (Departemen Keuangan), Jakarta. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Harun lantas mendirikan Lasykar Ciwaringin 33 yang memakai rumahnya sebagai markas besar.   Pada awal 1946, Lasykar Ciwaringin 33 dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Dinas Sejarah Kodam III, beberapa bulan kemudian, Divisi Siliwangi mendapuk Harun Kabir sebagai Kepala Staf Brigade Surjakantjana, dengan pangkat mayor. Namun kemudian karena ada pembenahan struktur dari Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta, semua pangkat perwira diturunkan menjadi satu tingkat. Harun pun turun pangkat menjadi kapten. Sebagai kepala staf brigade yang membawahi Bogor, Cianjur dan Sukabumi, mobilitas Kapten Harun begitu tinggi. Kendati awalnya dari dunia sipil, Kapten Harun dikenal sebagai sosok perwira yang sangat disiplin dan loyal kepada Republik. “Harun Kabir adalah perwira yang sangat cakap…” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, eks Komandan Brigade Surjakantjana Divisi Siliwangi (1946-1947). Kesaksian soal itu terlontar pula dari mulut Hetty Kabir. Dia masih ingat bagaimana sang ayah sering jarang pulang ke rumah karena selain sibuk bertugas juga menghindari pengawasan intelijen militer Belanda. “Ayah memang menjadi incaran tentara Belanda. Begitu kritisnya situasi itu, hingga kami harus diungsikan ke rumah kerabat di Garut ” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. * Pertengahan Juli 1947, militer Belanda melancarkan agresi pertamanya ke wilayah Republik. Soekrati dan ketiga putri-nya: Tina (12), Hetty (11) dan Joyce (4), tengah dalam perjalanan ke Banten (tempat sanak keluarga Soekarti) ketika pasukan kavaleri Belanda merangsek ke Sukabumi. Karena mendengar Harun sedang ada di Perkebunan Teh Bunga Melur, mereka pun menuju ke perkebunan yang ada di Desa Takokak (selatan Cianjur) itu. Tiba di Bunga Melur, mereka akhirnya bersua dengan Harun. Suatu pertemuan yang mengharukan pun terjadi namun tidak lama karena Kapten Harun saat itu tengah melakukan rapat koordinasi dengan Letnan Kolonel Eddie Soekardi dan Mayor A.E. Kawilarang (Komandan Resimen Bogor). Saat itulah tetiba pesawat tempur Angkatan Udara Kerajaan Belanda datang dan menembaki tempat rapat para perwira Siliwangi.   “Semuanya menjadi panik, kami berlindung ke kebun-kebun dan hutan-hutan,” ujar Hetty. Namun Kapten Harun sempat menemui istri dan anak-anaknya. Dengan berat hati, dia meminta mereka untuk tidak meneruskan perjalanan ke Banten. Harun menyarankan agar Soekrati, Tina, Hetty dan Joyce mengikuti Lurah Bisri Artawinita (Lurah Takokak) yang sudah dia minta mencarikan tempat buat mereka. Soekrati setuju. “Setelah memeluk dan menciumi kami satu persatu, ayah lalu berlari menuju medan pertempuran bersama yang lain,” kenang Hetty. Selanjutnya, keempat Soekrati, Tina, Hetty dan Joyce bergabung dengan warga desa dan malam itu juga meninggalkan Bunga Melur menuju Cioray (sebuah kampung yang dinilai masih aman). Masih segar dalam ingatan Hetty, sepanjang jalan ia melihat rumah-rumah penduduk terbakar akibat bombardemen militer Belanda. Dalam kondisi gelap, mereka pun harus hati-hati melewati jembatan-jembatan yang sudah dirusak oleh TNI. Menjelang tengah malam, sampailah rombongan pengungsi ke Cioray. Di sana, Soekrati dan ketiga putrinya sudah ditunggu oleh Harun. Karena alasan kemananan, mereka ditempatkan tersendiri oleh Lurah Bisri di sebuah dataran tinggi, tempat para penduduk berladang huma. “Kami mendiami sebuah gubuk agak besar yang sekelilingnya ditumbuhi pepohonan,”kata Hetty. * Selama di bukit itu, Harun relatif bisa mengunjungi keluarganya secara rutin. Jika tidak sedang memimpin pasukan atau melaksanakan tugas penting, dia pasti meluangkan waktu untuk menginap di gubuk itu: bercengkarama dengan keempat perempuan yang sangat dicintainya. Rabu malam, 12 November 1947, pintu gubuk tetiba diketuk. Begitu dibuka, masuklah Harun dengan dipopong oleh  kedua pengawalnya: Letnan Dua Arifin Tisnaatmidjaja dan Sersan Mayor Soekardi. Rupanya malaria-nya yang didapnya kambuh. Setelah istirahat dan melewati masa kritis, Harun lalu menyampaikan kabar bahwa besok pagi dia harus menemui Mayor A.E. Kawilarang dan Mayor R.A. Kosasih untuk suatu tugas ke MBT Yogyakarta. “Sepeninggalnya, ayah meminta ibu dan kami untuk tidak lagi tinggal di gubuk itu dan bergabung saja dengan para pengungsi lain di kampung,” kenang Hetty. Soekrati mengiyakan. Beberapa saat kemudian, diiringi merdunya simponi serangga hutan, mereka pun tertidur. Sekira jam 4 dini hari, dari luar gubuk, tetiba terdengar suara derap sepatu lars dan teriakan dalam bahasa Belanda. Sadar bahwa dirinya sudah terkepung oleh musuh, Harun lalu bergegas memakai seragamnya. Hetty masih ingat, Soekrati terlihat sangat khawatir. Namun Harun cepat menenangkannya. Usai memakai seragam lengkap, seperti biasa, Harun memeluk dan menciumi satu persatu perempuan-perempuan yang dicintainya itu. “Saat itu, saya merasakan detik-detik perpisahan selamanya dengan ayah…” kenang Hetty. Air matanya menetes. Tak lama kemudian, sebuah seruan keras menyuruh para penghuni gubuk untuk keluar. Dengan tenang, Harun membuka pintu gubuk, seraya tangannya digandeng oleh Soekrati yang menggendong si kecil Joyce. Sementara  di belakang mereka,Tina dan Hetty masing-masing tangannya dipegang oleh Letnan Arifin dan Sersan Soekardi. Seorang sersan Belanda berpakaian tempur lengkap mendekat sambil membawa senter dan pistol. “Kapitein Harun Kabir?!” teriaknya. “Benar!” jawab Harun. Ada nada ketenangan di dalamnya.   Sang Sersan bule itu lantas memerintahkan Harun dan dua pengawalnya untuk memisahkan diri. Ketiganya dibariskan namun dalam posisi berhadapan (sekira 3 meter) dengan Soekrati, Tina, Hetty dan Joyce. Sambil memandang keempatnya, Harun masih sempat memainkan senyum dan membisikkan kata-kata: “Kuatlah! Jangan takut! Ada Allah…” “Rechtsomkerrrr !!!” teriak Sang Sersan. Ketiganya lalu membalik. “Mars!” Seiring kata “jalan” itu, tetiba serentetan tembakan terdengar. Peluru-peluru tajam itu kemudian  menghatam tubuh ketiga patriot Republik itu sekaligus mengakhiri hidup mereka. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhirnya, Harun masih sempat berteriak “merdeka”. Soekrati tercekat, keempat putrinya terisak. Hening kemudian. Asap mesiu mengepul, menusukan baunya yang mengotori udara sejuk pagi itu. Usai memastikan ketiganya tak bernyawa, Sang Sersan lalu melangkah ke arah Soekrati. Dalam nada lembut, dia kemudian berkata dalam bahasa Belanda: “Nyonya, maafkan kami. Ini dalam situasi perang. Suami nyonya membunuh tentara kami untuk bangsa dan negaranya, kami pun terpaksa membunuhnya demi bangsa dan negara kami. Harap Nyonya mengerti…” “Ya, saya mengerti,” kata Soekrati dalam nada tenang,”Saya hanya minta tolong kepada Sersan untuk mengangkat jenazah-jenazah itu ke dalam gubuk agar tidak didatangi binatang-binatang buas yang ada di sekitar tempat ini.” Permintaan itu diiyakan. Usai melaksanakan permintaan Soekrati, tentara-tentara itu pun pergi. Sepeninggal mereka, Soekrati seraya menggendong Joyce bergegas menuju kampung untuk meminta bantuan. Sementara Tina dan Hetty diminta ibunya untuk menunggu jenazah-jenazah itu. “Kamu bisa bayangkan, bagaimana perasaan saya dan Tina harus menunggui tubuh kaku ayah saya yang beberapa jam sebelumnya baru saja memeluk dan mencium kami?”kata Hetty kepada saya 5 tahun yang lalu. * Atas bantuan penduduk kampung, jasad-jasad itu kemudian dimakamkan di halaman gubuk. Pada 1963, jasad mereka yang sudah menjadi kerangka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cianjur. Adhie Kabir (64) masih ingat saat dikeluarkan dari bumi, sebuah cincin perak masih tersemat di tulang jari manis Kapten Harun Kabir. “Ada ukiran HK di badan cincin itu,” kenang salah satu cucu dari Harun Kabir itu. Beberapa tahun kemudian, keluarga besar kemudian memutuskan untuk kembali memindahkan kerangka Harun Kabir ke samping makam Raden Abung Kabir Natakusumah di Ciandam, Sukabumi. Menurut Hetty, itu dilakukan karena saat hidup, Harun pernah berpesan agar jika meninggal kelak, ia ingin jasadnya disandingkan dengan jasad ayahnya tercinta.

  • Nostalgia Emas SEA Games di Manila

    SUDAH 28 tahun medali emas sepakbola SEA Games tak pernah “mampir” ke timnas Indonesia lagi. Sejak Indonesia ikut pesta olahraga se-ASEAN itu pada 1977, Indonesia baru dua kali memetiknya, yakni tahun 1987 di Jakarta dan 1991 di Manila. Apakah prestasi itu bisa diulangi di kota yang sama? Di SEA Games ke-30 di Filipina, timnas U-23 Indonesia tergabung di Grup B. Lawannya tak main-main: Laos, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Thailand. Tim terakhir jadi lawan perdana, Selasa (26/11/2019) sore. Lewat laga di Rizal Memorial Stadium, Manila itu asa penggila bola tanah air terbuka setelah Indonesia menekuk Thailand, tim level Asia, 2-0. Timnas U-23 bakal memikul beban berat di pundak mengingat babak belurnya senior mereka di pra-Piala Dunia. Ketum PSSI baru, Mochamad Iriawan, datang ke penginapan tim pada Senin (25/11/2019) dan menitipkan motivasi pada skuad asuhan Indra Sjafri. “Saya ingin pemain tampil maksimal. Mari kita berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik. Dengan usaha, kerja keras, dan doa, kita yakin bisa,” seru jenderal polisi yang akrab disapa Iwan Bule itu, dikutip situs PSSI , Senin (25/11/2019). Nostalgia Manila Seperti diungkapkan di atas, sudah hampir tiga dekade sejak terakhir kali emas SEA Games dipetik Indonesia. Menariknya, emas itu diraih di ibukota Filipina. Saat itu timnas dikomando manajer IGK Manila dan pelatih Anatoli Fyodorich Polosin asal Rusia. Dalam biografi Manila yang ditulis duet jurnalis Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso, IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara , disebutkan persiapan timnas digenjot dalam empat bulan sebelum SEA Games, 24 November-3 Desember 1991. Sebanyak 18 pemain terbaik akhirnya dipilih dari 57 pemain yang turut dalam seleksi. Sebagai suntikan semangat di awal kepemimpinannya sebagai manajer menggantikan Acub Zainal, Manila menawarkan program asupan nutrisi lebih baik. Selain itu, para pemain juga diganjar gaji Rp350 ribu per bulan dan THR Lebaran Rp500 ribu per pemain. Sementara, pelatih Polosin masih di tahap pengenalan dengan gaya para pemainnya sehingga belum menggeber pola latihan yang sesungguhnya. Sempat muncul kendala kiper utama Edy Harto nyaris tak bisa bergabung lantaran klubnya, Krama Yudha Tiga Berlian, enggan melepaskannya demi Piala Winners Asia. “Waktu itu sebenarnya ada komunikasi yang kurang baik antara pengurus PSSI dengan Pak Syarnoebi Said, pemilik KTB. Setelah (komunikasi) diperbaiki, Edy bisa masuk tim,” ungkap Manila. Timnas lantas menjalani dua ujicoba, yakni tur ke Hong Kong dan Piala Presiden di Seoul. Hasilnya? Jeblok. Musababnya pada laga di Seoul, Manila ambil keputusan mencoret nama Ricky Yakob. Keputusan Manila itu mendapat tentangan dari Ketum PSSI Kardono. Kardono heran kenapa pilar penting itu bisa sampai dicoret Manila. Keputusan Manila jelas menambah beban di pundak Kardono yang di pengujung masa jabatan keduanya itu diberi misi khusus oleh Presiden Soeharto. Dalam Selamat Jalan Pak Harto: Dokumen Kepergian Pemimpin Bangsa , Soegiono M.P. menyatakan Kardono mestinya sudah lepas jabatan pasca-timnas Indonesia meraih emas SEA Games 1987. Namun, Soeharto belum berkenan Kardono meninggalkan PSSI. “Prestasi itu (emas SEA Games 1987, red .) cukup menjadi alasan Soeharto memperpanjang masa jabatan Kardono. Ternyata keinginan Soeharto untuk mempertahankan Kardono satu periode lagi, empat tahun ke depan, juga disepakati Kongres PSSI,” sebut Soegiono. Namun Manila bergeming. Ia teguh pada keputusannya dan bahkan mengancam mundur jika Kardono memaksanya kembali memasukkan Ricky Yakob ke tim. “Saya tidak melamar posisi manajer tim. Tapi saya bekerja sungguh-sungguh. Nama saya dan bapak dipertaruhkan. Saya tidak main-main,” tutur Manila pada Kardono. Kombinasi Shadow Football dan Latihan Militer Ricky Yakob bukan satu-satunya bintang Indonesia nan tengah bersinar yang bakal terpental dari seleksi Manila dan Polosin. Gelandang/sayap Mustaqim terdepak dari tim karena cedera. Fachri Husaini dan Jaya Hartono juga angkat koper sepulang dari ujicoba di Hong Kong dan Seoul. Keduanya protes terhadap pola latihan Polosin yang mulai menggenjot fisik pemain dengan beragam latihan ekstrem dan pola latihan “Shadow Football”. Fachri dan Jaya merajuk lantaran latihannya lebih mirip latihan militer ketimbang latihan sepakbola. Protes itu sontak membuat Manila geram. “Kalau kalian ragu, silakan tinggalkan tim,” katanya. Dari sisa tiga bulan masa persiapan SEA Games, dua bulan di antaranya digunakan Polosin untuk menggenjot latihan shadow football . Porsi latihan pun ditambah dari biasanya dua kali sehari menjadi tiga kali sehari. Pola latihan itu diterapkan selalu tanpa bola. “Bola imajiner ditunjuk pelatih. Ke mana tangan menunjuk, ke sana pemain harus bergerak. Metode ini juga diterapkan di pantai dan kolam renang,” ungkap Hardy dan Edy. Tak jarang IGK Manila turun langsung menemani sesi latihan timnas jelang SEA Games 1991 (Foto: Repro "IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara) Metode itu dilanjutkan dengan latihan bermain tanpa arahan Polosin. Asistennya, Urin, ditugasi mencatat hitungan sentuhan bola per pemain. Polosin menekankan pentingnya sentuhan bola dan memonitor pemain mana saja yang malas mengejar bola. Gaya macam ini kembali bikin sejumlah pemain “terpental” dari tim. Kini giliran Mecky Tata, Singgih Pitono, Eryono Kasiba, dan Ansyari Lubis yang terpental. Keempatnya dicoret lantaran tak tahan dikuras fisik lewat pelatihan ala militer pada sebulan terakhir. Latihan ala militer itu dilakukan Manila dengan mengirim tim ke Pusdik POM Cimahi untuk dilatih lebih keras. Latihan fisik ditambah lari jarak jauh naik-turun bukit dan gunung. Latihan berat itu membuat banyak pemain keteteran. “Sudirman sampai mulas-mulas dengan latihan tersebut. Terpaksa ketika berlari, Sudirman buang hajat di rerumputan bukit. Sudirman akhirnya mengaku dirinya mencret selama digojlok Polosin,” tulis Hardy dan Edy. Dari latihan ekstra berat sebulan penuh itu terpilihlah 18 anggota skuad SEA Games yang diragukan banyak pihak lantaran tak diperkuat sejumlah pemain bintang. Di mistar gawang ada Edy Harto dan Erick Ibrahim. Beknya Robby Darwis, Ferril Hattu (kapten), Sudirman, Aji Santoso, Salahuddi Abdul Rachman, Herry Setyawan. Lini tengah diisi Toyo Hartono, Maman Suryaman, Heriansyah, Kashartadi, dan Yusuf Ekodono. Barisan depannya Widodo Cahyono Putro, Peri Sandria, Hanafing, Rochi Putiray, dan Bambang Nurdiansyah. Bambang jadi yang tertua di tim, berusia 32 tahun. Ia dimasukkan terakhir atas permintaan Manila sehingga tak digojlok sebagaimana para juniornya. Manila punya “misi” lain mengikutsertakannya. Jelang keberangkatan, muncul keluhan sejumlah pemain soal rupiah. Diwakili kapten tim Ferril Hattu, mereka menyatakan kerisauan soal iming-iming bonus. Tim dijanjikan bonus Rp3 juta, padahal di SEA Games 1989 mereka diguyur bonus Rp1,5 juta per pemain setiap kali menang. Manila pun menyikapinya dengan kepala dingin. Kendati terkesan “mata duitan”, Manila sadar “neraka” seperti apa yang sudah mereka alami demi bisa lolos seleksi sejak April hingga November 1991. Oleh karena itu Manila lalu mendatangi jajaran pengurus PSSI Kardono dan pemilik klub Arseto Sigit Harjojudanto. “Saya juga ikut dimintai uang, harus patungan,” ujar Sekjen PSSI Nugraha Besoes, dikutip Hardy dan Edy. Setelah “modal” dianggap cukup, Manila menjanjikan bonus yang lebih baik. Jelang laga pembuka Grup B kontra Malaysia, 26 November 1991, Manila mengiming-imingi bonus USD100 per pemain (kurs 1991, 1USD=Rp1.900). Hasil Tak Mengkhianati Kerja Keras Kerja keras tim dan iming-iming bonus menggiurkan membuat para pemain seperti “kesetanan”. Dari empat laga di Grup B, Indonesia tak pernah kalah. Malaysia, Vietnam, dan tuan rumah Filipina dibuat tak berdaya. Di semifinal dan final, Indonesia baru mendapat ujian sesungguhnya. Di semifinal, 2 Desember 1991, Singapura sudah menunggu. Singapura sarat pemain berpengalaman dengan skill di atas rata-rata pemain Indonesia. Namun Indonesia unggul fisik dan disiplin. Alhasil dari dua babak, kedua tim bermain sama kuat tanpa gol. Pun dengan dua babak perpanjangan waktu, hingga pemenang mesti ditentukan lewat adu penalti. Dewi fortuna akhirnya memihak tim garuda, menang 4-2 di babak tos-tosan. Publik Singapura menangis. The Strait Times 3 Desember 1991 sampai menurunkan judul di halaman mukanya “ Penalty shoot-out agony for Lions ”. Di final yang dimainkan di Rizal Memorial Stadium, 4 November, Indonesia menghadapi Thailand. Ferril Hattu cs. Kembali menahan lawan tanpa gol di dua babak dan perpanjangan waktu. Publik tanah air yang menyaksikannya lewat TVRI , berharap kembali dihampiri dewi fortuna. Timnas saat perayaan emas SEA Games 1991 (Foto: Repro "IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara) Drama adu penalti itu amat mendebarkan. Saat kedudukan sudah 3-3, Polosin menunjuk Sudirman untuk jadi penentu. “Sudirman baru 21 tahun. Tapi ia punya mental dan karakter yang tegas. Teman-temannya menjuluki dia jenderal, seperti nama Jenderal Besar Sudirman di masa revolusi,” sambung Hardy dan Edy. Sementara, Manila punya cara lain untuk menyuntik spirit para pemain. Manila memperlihatkan batu aji yang dikalunginya lalu memerintahkan semua pemain menyentuh batu yang disebutnya bertuah itu. Para pemain manut . Manila lalu komat-kamit dan membakar semangat dengan seruan “Indonesia Juara.” “Padahal (komat-kamit) itu cuma acting ,” kata Manila mengenang. Yang pasti, hasilnya sepakan Sudirman merobek jala gawang Thailand. Skor akhir 4-3. Indonesia pun menyempurnakan posisi juara umum SEA Games dengan tambahan satu emas di cabang paling bergengsi. Saat para pemain dan ofisial bereuforia, Manila menangis saking bahagianya. Sepulangnya ke Jakarta, tim dijamu Presiden Soeharto di kediamannya, Jalan Cendana. Para pemain diganjar bonus US$2.000 per kepala. Manila pun lantas melepas jabatannya dan kembali bertugas di CPM.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page