top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • ITB Rayakan Seabad TH Bandung

    Perang Dunia pertama menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka d ar i kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan , mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam , untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda) . Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra. Institut berhasil mengumpulkan uang sebesar 3.000.000 gulden untuk membiayai pendidikan teknik di Hindia Belanda. Semula mereka berpikir hendak membuka sekolah teknik menengah. Baca juga:  Kisah Hubungan Sukarno dan Dosennya di TH Bandung Namun, menurut Adjat Sakri (ed.) dalam Dari TH ke ITB: Kenang-kengangan Lustrum Keempat, 2 Maret 1979 , ketika delegasi Committee Indie Weerbaar (Komite Pertahanan Hindia) berkunjung ke Belanda pada 1917, mendesak keras meminta sekolah tinggi teknik. Raad van Beheer menyetujuinya. Abdoel Moeis, anggota delegasi, dalam pidatonya di hadapanPerdana Menteri C.M. Pleyte dan Dr. A.M. Colijn, mengatakan: "Mana mungkin penduduk bumiputra sanggup melawan Jepang yang begitu kuat dan telah pandai membikin meriam, kapal perang dan teknik persenjataan lainnya. Hindia sulit dipertahankan selama anak negeri belum diajarkanpengetahuan-pengetahuan teknik; kami mengusulkan agar segera didirikan sekolah teknik tinggi, agar penduduk bumiputra dapat ikut serta mempertahankan Hindia di masamendatang." Dukungan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendirian sekolah tinggi teknik disampaikan oleh Mr. K.F. Creutzberg, direktur Pendidikan dan Agama, dalam pidato di Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1918. Ijzerman kemudian menunjuk Prof. Ir. J. Klopper, guru besar Ilmu Pasti Terapan dan Mekanika di TH Delft, untuk menyusun rencana pembentukan sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda. Mereka tiba di Hindia Belanda pada 19 April 1919. Ketika itu belum ditetapkan di mana sekolah tinggi teknik akan didirikan. Pilihannya antara Solo, Yogyakarta, Jakarta, atau Bandung. Technisch Onderwijs Commissie memilih Jakarta. Sedangkan Walikota Bandung, B. Coops menawarkan dan menyediakan lahan seluas 30 hektar –kalau diperlukan, bisa diperluas lagi– untuk sekolah tinggi teknik itu. Baca juga:  Ketika Arsitek Belanda dan Dosen TH Bandung Masuk Islam GubernurJenderal Jhr. Mr. J.P. Graaf van Limburg Stirum menyetujui sekolah tinggi teknik didirikan di Bandung. Setelah Dewan Kotamadya Bandung menyerahkan tanah itu kepada Institut, dimulailahpembangunan kompleks gedung kampus. Sebagai perancang ditunjuk Ir. H. MacLaine Pont,sedangkan pelaksana pembangunannya diserahkan kepada Biro Bangunan Kotamadya Bandung di bawah pimpinan direkturnya, Kolonel V.L. Slors. "Semula TH (Technische Hogeschool) direncanakan dibuka pada Juli1922. Namun, gubernur jenderal mengharapkan perguruan tinggi yang pertama di Indonesia itu dapat dibuka dalam tahun 1920," tulis Adjat Sakri. Pembangunan berjalan dengan lancar, sehingga dalam tempo satu tahun bangunan inti sudah berdiri. Pada hari Sabtu,3 Juli 1920, gubernur jenderal meresmikan berdirinya TH, bertempat di gedung yang sekarang ditempati Perpustakaan Pusat. Seminggu kemudian perkuliahan mulai berjalan. Tangkapan layar berita sidang terbuka peringatan 100 tahun Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) atau pendirian TH Bandung, 3 Juli 2020. ( itb.ac.id ). Pada 18 Oktober 1924, Institut menyerahkan TH kepada pemerintah. Institut kemudian dibubarkan. Dengan sendirinya College van Directeuren (Dewan Direksi) sebagai wakil Raad van Beheer juga dibubarkan.Presiden Direkturnya, K.A.R. Bosschadiangkat sebagai presiden College van Curatoren (Dewan Pengawas).Untuk menghargai jasaBosscha, namanya disematkan pada laboratorium fisika yang dibuka pada 18 Maret 1922. Pada awal berdirinya TH terdiri atas Fakultas Bangunan Jalan dan Air. Setelah beralih ke tangan pemerintah, nama itu diganti menjadi Technische Hogeschool te Bandung, Faculteit van Technische Wetenschap, Afdeling der Weg- en Waterbouwkunde , dan dikenal dengan singkatan TH atau THS. Adjat Sakrimencatat bahwa jumlah mahasiswa pada waktu TH dibuka ada 22 orang. Kemudian bertambah menjadi 28 orang, yang terdiri atas 22 orang Belanda, 2 di antaranya perempuan; 2 orang Indonesia, dan 4 orang Tionghoa; semuanya lulusan HBS. Di samping itu, tercatat 5 mahasiswa luar biasa; 3 orang untuk ilmu pasti dan 2 orang untuk fisika. Selama tahun pertama, seorang mahasiswa Belanda dan seorang mahasiswa Indonesia mengundurkan diri, sedangkan seorang mahasiswi terpaksa menghentikan studinyakarena sakit. Dengan demikian, ada 25 mahasiswa yang melanjutkan studi. Setelah tiga tahun berjalan, mahasiswa Indonesia yang tinggal seorang menghentikan studinya. Baca juga:  Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Lulusan Belanda Empat tahun kemudian, pada 1 Juli 1924, berlangsung wisuda 12 orang insinyur pertama, seorang di antaranya perempuan. Dalam pidato sambutan, Ir. M. H. Damme, ketua Groep Indie van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs merangkap anggota Dewan Pengawas, mengatakan: "Seorang insinyur jangan hanya bergerak di dalam bidang keteknikan yang sempit; ia harus juga mengarahkan perhatiannya kepadapersoalan sosial-ekonomi yang langsung berhubungan dengan masalah keteknikan. Pendidikan insinyur dewasa ini menjadi begitu luas, sehingga para lulusannya harus mampu menghadapi soalyang lebih umum." Baru pada wisuda ketiga bertepatan dengan dies natalis keenam, pada 3 Juli 1926, untuk pertama kali TH Bandung menghasilkan empat insinyur bumiputra, yaitu Sukarno (kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia), M. Anwari (swasta), J.A.H. Ondang (swasta), dan M. Soetedjo (kemudian menjadi guru besar ITB). Tangkapan layar berita sidang terbuka dies natalis ke-61 ITB, 2 Maret 2020. ( itb.ac.id ). TH Bandung ditutup pada 1942 ketika Belanda dikalahkan Jepang. Pemerintah militer Jepang kemudian mendirikan Bandung Koo Gyoo Dai Gaku pada 1944. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Bandung Koo Gyoo Dai Gaku diambil alih dan diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang dipimpin oleh Prof. Ir. Roosseno. Tak lama berjalan, STT Bandung mengungsi ke Yogyakarta karena terjadi perang kemerdekaan melawan Sekutu dan Belanda. STT Bandung dibuka kembali di Yogyakarta pada 17 Februari 1946. Pemrakarsanya adalah Ir. Wreksodiningrat, insinyur teknik sipil pertama Indonesia lulusan TH Delft, Belanda. Dia menggantikan Roosseno sebagai pemimpin STT Bandung pada 1 Maret 1947. STT Bandung diubah menjadi STT Jogjakarta, yang kemudian menjadi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Baca juga:  Jasa Sang Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Sementara itu, NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) mendirikan Nood Universiteit (Universitas Darurat) di Jakarta, yang kemudian berubah menjadi Universiteit van Indonesie. Menurut Rahardjo Darmanto Djojodibroto dalam Tradisi Kehidupan Akademik , setelah pengakuan kedaulatan, Universiteit van Indonesie diambil alih pemerintah Republik Indonesia Serikat. Universiteit van Indonesiedigabungkan dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia menjadi Universiteit Indonesia atau Universitas Indonesia (UI) pada 2 Februari 1950, tanggal ini ditetapkan sebagai dies natalis UI. UI terdiri atas Fakultas Kedokteran, Hukum, Sastra dan Filsafat di Jakarta, Fakultas Kedokteran Gigi di Surabaya, Fakultas Ekonomi di Makassar, Fakultas Teknik di Bandung, dan Fakultas Pertanian di Bogor. Fakultas-fakultas itu kemudian dipisahkan dari induknya, UI. Fakultas Kedokteran Gigi di Surabaya menjadi Universitas Airlangga (1954), Fakultas Ekonomi di Makassar menjadi Universitas Hasanuddin (1956), Fakultas Teknik di Bandung menjadi Institut Teknologi Bandung (1959), dan Fakultas Pertanian di Bogor menjadi Institut Pertanian Bogor (1963). Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya ITB pada 2 Maret 1959. Dengan demikian, ITB punya dua peringatan: dies natalis ke-61 pada 2 Maret 2020, kemudian merayakan seratus tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia atau pendirian TH Bandung pada 3 Juli 2020.

  • Akhir Petualangan Haji Prawatasari

    Begitu Ki Mas Tanu dan komplotannya diamankan ke Afrika Selatan, VOC melancarkan secara gencar operasi perburuan Haji Prawatasari. Tidak cukup mengerahkan para serdadunya, VOC pun menghargai kepala Haji Prawatasari dengan uang 300 ringgit. Namun tak seorang pun tertarik dengan tawaran tersebut. Sementara itu, aksi-aksi perlawanan secara gerilya terus menerus dilancarkan oleh pasukan Prawatasari, mulai dari Utama, Bojonglopang (masuk Karawang), dan Kawasen di daerah Priangan Timur. Dia pun sempat menyusup kembali ke wilayah Jampang Manggung dan kemudian pindah ke wilayah Bogor untuk mengganggu lagi pinggiran Batavia. Situasi tersebut tentu saja menjadikan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) berang. Dia lantas mengeluarkan intruksi keras, ditujukan kepada para bupati Priangan. “Diwajibkan bagi seluruh bupati untuk mencegah masuknya para penjahat atau perampok seperti  Prawata  serta semua musuh Kompeni dan Kerajaan Cirebon ke daerah masing-masing. (Diwajibkan pula) untuk menyerahkan mereka hidup atau mati kepada Pangeran Aria Cirebon atau penguasa Kompeni di Cirebon, jika tidak mengindahkan intruksi ini maka para bupati akan dihukum dan dipecat."demikian menurut sejarawan Belanda F.de Haan dalam Priangan; de Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsche Bestuur tot 1811. Menurut sesepuh Cianjur Aki Dadan, Prawata sadar bahwa seruan itu menempatkan dirinya ada dalam posisi berhadapan langsung dengan para penguasa Priangan termasuk dengan sang kakak, Aria Wiratanu II. Tidak ingin “menyusahkan” para bupati dan rakyat yang diam-diam selalu mendukung perjuangannya, Prawata dan pasukannya menyingkir ke wilayah Kertanegara di Banyumas. Grup pemburu dari VOC pun bergegas menuju tempat yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Purbalingga tersebut. Pada 1706, sepasukan serdadu VOC pimpinan Kapiten Zacharias Bintang (1660—1730) berhasil memukul mundur pasukan kecil Prawatasari dari Kertanegara. “Usai mengusir penjahat Radin Panwata Sari (Prawatasari) dari wilayah Kertanegara, Bintang pun mendirikan benteng di wilayah itu,” demikian penuturan Valentijn Zie dalam Oud en Niew Oost Indie . Kapiten Bintang merupakan salah satu perwira VOC terkemuka asal Manipa, Maluku. Menurut Zie, dia memiliki pengalaman tempur yang mumpuni. Pernah bertempur bersama Kapiten Jonker (masih sepupunya) di Palembang, Sailan, India dan dua tahun sebelum berhadapan dengan pasukan Prawatasari, Bintang dengan 500 prajurit Malukunya sempat mengalahkan pasukan Demak. Begitu mundur dari Kertanegara, Prawatasari dan pasukannya menyingkir ke Bagelen, suatu wilayah yang terletak di Purworejo. Di sinilah kemudian pada 1707 pasukan menak dari Cianjur itu dihabisi oleh kompeni. Haji Prawata sendiri tertangkap hidup-hidup dalam pertempuran itu. Tentara kompeni kemudian membawa sang haji ke Kartasura. Tidak lama setelah tertangkap, dia pun dihukum mati. Namun sebagian besar sesepuh Cianjur menyebut versi kisah ini sebagai omong kosong pihak Belanda semata. Menurut Aki Dadan, sesungguhnya Haji Prawatasari tak pernah dibawa hidup-hidup ke ibu kota Mataram tersebut. “Untuk apa dibawa ke sana? Kenapa tidak dibawa saja ke Batavia kalau memang dia bisa ditangkap hidup-hidup?” ujar Aki Dadan. Para sesepuh Cianjur yang diwakili Aki Dadan percaya bahwa saat diserang di Bagelen pada 12 Juli 1707, Haji Prawatasari memilih untuk melakukan pertarungan habis-habisan. Dalam kondisi terdesak, Haji Prawata memerintahkan para pengikutnya untuk masing-masing menyelamatkan diri.  “Haji Prawata sadar, saat itu ajal sudah datang menjemputnya dan menginginkan agar para pengikutnya selamat untuk meneruskan perlawanan terhadap VOC,” ujar Aki Dadan. Dalam kenyataannya, kata Aki Dadan, hanya 11 pengawal yang menuruti perintah  sang haji termasuk kakek buyutnya yang bernama Ayah Enggon. Sedang salah seorang dari mereka memilih untuk mendampingi Haji Prawatasari. Sepeninggal 11 pengawal tersebut, pertempuran pun terus berlangsung. Bumi Bagelen menjadi saksi bagaimana “dua maung dari Cianjur” mengamuk. Tanpa menghiraukan luka-luka yang memenuhi tubuh mereka, Haji Prawata dan sang pengawal terus melawan hingga mereka tumbang dan gugur dalam posisi saling melindungi di sebuah batu besar. “Menak yang masih membujang itu akhirnya perlaya (gugur)  dalam usia 28 tahun,”kata Aki Dadan. Selanjutnya tak ada kejelasan, kemana pihak  tentara VOC membawa kedua jasad pejuang tersebut. Yang jelas, hari ini menurut Aki Dadan di  Desa Bingkeng masuk dalam wilayah Kecamatan Dayeuh Luhur, Cilacap, ada dua makam yang dianggap  keramat dan diyakini sebagai tempat peristirahat terakhir “dua maung” itu. “Salah satu makam yang paling besar dikenal orang-orang sana sebagai makamnya Raden Aria Salingsingan,” ujar sastrawan Cianjur  itu. Versi mana yang benar? Hingga kini belum ada kejelasan. Mungkin seharusnya dengan adanya berbagai versi tersebut, memicu Pemerintah Kabupaten Cianjur membentuk tim riset representatif untuk mengguar sejarah perjuangan Haji Prawatasari. Terlebih jika sosok tokoh itu akan dicalonkan kembali menjadi Pahlawan Nasional dari Jawa Barat di waktu mendatang.

  • Perluasan Lahan Pertanian pada Zaman Kuno

    Meski penduduknya belum padat, orang-orang zaman kuno sudah membutuhkan perluasan lahan pertanian. Namun, perluasan lahan pertanian tidak bisa sembarangan. “Dalam masyarakat agraris, tanah menjadi sangat penting karena merupakan lahan olahan,” kata I Gusti Made Suarbhawa, kepala Balai Arkeologi Bali, dalam webinar “Pertanian di Bali: Dulu, Kini, dan Akan Datang” yang diadakan Balai Arkeologi Bali via zoom , Selasa, 30 Juni 2020. Pertanian merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk Bali Kuno. Ketika membutuhkan lahan lebih luas, mereka memanfaatkan hutan kerajaan atau hutan larangan. Namun, ada prosedur yang harus dipatuhi. “Tak bisa seenaknya bawa parang, golok, tebang pohon menjadi lahan pertanian, tempat berkebun. Di sini terlihat peran pemerintah,” kata Suarbhawa. Pertanian Tulang Punggung Pertanian dipercaya berkaitan dengan penutur bahasa Austronesia sekitar 4.500–3.000 tahun lalu. Kegiatan mengolah lahan itu menyebar dariTaiwan ke Filipina, Kalimantan utara, Jawa timur, Indonesia timur,dan Bali. Pada waktu itu, pertanian dianggap tulang punggung kehidupan orang zaman kuno. Suarbhawa menguraikan,orang Bali Kuno memanfaatkan lahan untuk berladang ( parlak ) dan berkebun ( mmal , ngmal , kbwan/kbwan , kebon , gaga/pagagan ). Keduanya telah disebut sejak masa penulisan Prasasti Sukawana I (882), yakni prasasti pertama Bali Kuno yang memuat angka tahun, hingga prasasti dari abad ke-12, salah satunya Prasasti Kintamani E. “Pertanian lahan kering merupakan praktik pertanian tua di muka bumi, terdiri atas beberapa jenis yakni pertanian di ladang, pertanian di tegalan ( tgal ), dan pertanian di kebun,” kata Suarbhawa. Dalam Prasasti Batur Pura Abang A (1011) disebutkan tanaman yang dibudidayakan di lahan pertanian kering: Gangan (sayur-sayuran); mulaphala (umbi-ubian) seperti jahe ( pipakan ), bawang putih ( rasuna ), bawang merah ( bawang bang ), dan talas ( tals ); buah-buahan ( sarwaphala ); dan kasumba. Dari beberapa prasasti diketahui tanaman lain, seperti nyu/tirisan (kelapa), blu (pisang), jirk (jeruk), mende (mundu), kapulaga, wungkudu (mengkudu), pinang, kemiri, sirih, hano (enau), pring/tihing/amplal/petung (bambu), kapas, biji-bijian, seperti kacang hijau ( hartak ), jagung, ketumber, ketela rambat, dan cabya (cabai). Berdasarkan Prasasti Sukawana I ( 882 ) , pertanian di lahan basah juga sudah dilakukan. “ Bahkan , diduga sudah dipraktikkan jauh sebelumnya,” kata Suarbhawa. Dalam prasasti itu disebut kata huma yang berarti sawah. Kata sawah itu dapat berarti sawah tadah hujan atau sawah irigasi. Kata huma juga terdapat dalam Prasasti Bangli Pura Kehen A (935), Prasasti Dausa Pura Bukti Indrakila I (935), Prasasti Serai A I (966), dan beberapa Prasasti berbahasa Bali Kuno lainnya. Sementara kata sawah yang artinya juga sawah, ditemukan pada prasasti berbahasa Bali Kuno,seperti Prasasti Batuan (1022), Prasasti Dawan (1053), Prasasti Tengkulak (1023), Prasasti Pandak Bandung (1071), Prasasti Klungkung (1072), Prasasti Buahan D dan E(1181), Prasasti Bugbug, Prasasti Sukawana B, Prasasti B, Prasasti Timpag, dan beberapa prasasti lainnya. Memanfaatkan Hutan Perluasan lahan pertanian basah dari hutan atau semak menjadi sawah termuat dalam Prasasti Sading A (1001), Prasasti Ujung (1020), Prasasti Batuan, Prasasti Dawan, Prasasti Buahan D dan E, Prasasti Sukawana B, Prasasti Timpag, Prasasri Bugbug, Prasasti Batujaya B (1181), dan Prasasti Langkan (tanpa tahun). Prasasti- prasasti itu menerangkan, secara berurutan petani membersihkan lahan ( amabaki ), meratakan tanah ( mangarapuh ), membajak ( amaluku ), menanam ( atanem/mamula ), menyiangi padi ( amatun/majakut ), menuai padi ( ahani/mangharanyi ), dan menumbuk padi ( anutu/manutu ). Masyarakat harus meminta izin karena perluasan lahan pertanian itu memanfaatkan hutan kerajaan atau hutan larangan. Prasasti Batur Pura Abang Amenceritakan penduduk Desa Er(air) Hawang, sekarang identik dengan Desa Abang, memohon kepada Raja Udayana agar hutan tempatnyaberburu dihibahkan dan dimasukkan ke dalam Desa Air Hawang. Hutan itu berdekatan dengan Desa Air Hawang. Penduduk berharap hutan itu bisa dimanfaatkan untuk kebun atau lahan pertanian dengan ditanami sayur-sayuran, umbi-umbian, padi gaga, dan berbagai jenis tanaman yang dapat menyejahterakan masyarakat. M asyarakat Bali Kuno juga pernah membeli sebagian lahan hutan buruan milik raja karena mereka kekurangan lahan untuk mencari pakan sapi dan mengambil kayu. I Wayan Ardika, Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana,menjelaskan bahwa berdasarkan Prasasti Bwahan B (1025) dari masa Raja Marakata, hutan perburuan yang ingin dibeli penduduk letaknya dekat dengan desa. Hutan itu dibeli 10 suwarna mas dan pilih mas-nya 10 masaka . “Meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber-sumber alam adalah satu sebab timbulnya keresahan dalam masyarakat,” tulis Ardika dalam “Pengambilan Keputusan Raja-Raja Bali Abad X-XI”, yang terbit di Pertemuan Ilmiah Arkeologi III . Ekstensifikasi lahan berlanjut pada masa Kerajaan Bali Pertengahan. Pada pertengahan abad ke-19, Kerajaan Mengwi mencetak sawah-sawah baru di utara Desa Blahkiuh sampai Desa Plaga, Desa Gerana, dan Desa Abiansemal. Kerajaan itu juga melakukan ekstensifikasi lahan untuk penanaman kopi di utara Desa Petang sampai Desa Plaga. Demikian pula dengan wilayah pegunungan Kerajaan Tabanan, Gianyar, Buleleng, dan Bangli sekira 1855–1875. “Sangat pesat perluasan penanaman kopi. Komoditas kopi menjadi salah satu primadona kerajaan-kerajaan saat itu termasuk juga penanamannya, diekspor melalui pelabuhan Bali Utara, di Buleleng,” kata Suarbhawa. Semua Tanah Milik Raja Ahli epigrafi, Boechari dalam “Kerajaan Mataram dari Prasasti” yang terbit di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti ,menyebut bahwa pemerintah pusat memegang catatan tentang luas dan berbagai macam tanah yang ada di seluruh kerajaan. Pun berapa penghasilan pajak yang dapat diterima. Tanah yang dikenai pajak adalah sawah, pegagan atau sawah kering, kebun, sungai, rawa, dan lembah sungai. P ajaknya ditetapkan berdasarkan luas, terutama sawah dan kebun. Penetapan ini sering menimbulkan sengketa akibat standar ukuran yang berbeda. Menurut arkeolog Universitas Gadjah Mada, Djoko Dwiyanto dalam “Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa pada Abad IX-XV Masehi” dalam jurnal Humaniora ,I/1995,dalam bahasa Jawa Kuno pajak disebut drabya haji . Selain berarti pajak secara umum, ia juga bermakna “milik raja”. Pengertian itu muncul dari anggapan rajalah yang punya hak atas tanah dan segala aktivitas di atas tanah itu. Sementara rakyat hanya punya hak menggarap dan mengelola. “Hak raja atas sebagian pembagian hasil itu diwujudkan dalam bentuk iuran sejumlah emas dan perak. Iuran ini harus diserahkan ke kas kerajaan,” tulis Djoko. Sanksi Bagi Pelanggar Karena dianggap milik raja,maka pengalihan fungsi hutan menjadi tanah garapan menjadi lebih ketat. Ada sanksi berat bagi yang membabat alas secara liar. Sektiadi, dosen arkeologi UGM dalam “Pengelolaan Risiko Bencana Kerajawian: Tinjauan Atas Beberapa Prasasti” termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna , menjelaskan bahwa pada masa lalu tak hanya penanaman pohon , ada juga larangan penebangan pohon. Seperti di Bali terdapat jenis-jenis pohon yang tidak boleh ditebang. Prasasti Tengkulak A memberitakan,pohon-pohon yang dilarang boleh ditebang hanya dalam kondisi tertentu. Pohon kemiri, Bodhi, beringin, sekar kuning, mende, jirek, kemukus, kapulaga, enau, wungkudu, dan semua jenis kayu larangan diizinkan ditebang apabila kayu itu tumbuh di tengah lahan pembuatan saluran irigasi atau kali, menaungi sawah, rumah, dan tempat suci. Terutama pohon kelapa, penebangannyatidak dikenakan denda. “Penanaman pohon dan larangan penebangan pohon merupakan salah satu upaya untuk mengonservasi lahan sehingga tidak terjadi berbagai bencana, terutama yang berkaitan dengan kekeringan, banjir, dan tanah longsor,” tulis Sektiadi.

  • Abdul Wahid Hasyim, Pejuang Muda NU

    Lahir dari keluarga pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah menjadi menteri di tiga kabinet yang berbeda.

  • Negara Teater dan Teater Negara Bung Karno

    CINTA Bung Karno terhadap seni tak hanya manis di bibir sebagaimana yang ia katakan. Seni sudah mendarah daging mengingat ia lahir dari orangtua campuran Jawa-Bali yang intim dengan seni. Tak heran hidupnya selalu “berselimut” seni, baik sebagai penikmat maupun pelaku seni. Mulai dari seni rupa, seni musik, sampai seni teater. “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni,” ucap Sukarno dari bibirnya dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang dituliskan Cindy Adams. Namun mengungkit seni teater dalam diri Sukarno mesti diakui tak banyak familiar dalam pengetahuan publik. Lebih tepatnya seni drama/teater yang di masa lampau beken dengan sebutan tonil. Bukan hanya sebagai penikmat, sang founding father juga pelaku, pekerja, sutradara, hingga penulis naskahnya. “Di kalangan teater bahwa Sukarno menulis naskah itu nyaris tidak ada percakapan. Jadi ini sesuatu yang baru. Faktor lain juga karena referensinya sangat sedikit. Jadi agak gagap juga membaca Sukarno sebagai seorang pekerja teater,” tutur Faiza Mardzoeki, penulis naskah, sutradara cum produser teater dalam diskusi live bertajuk “Drama Bung Karno” di Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa (30/6/2020). Baca juga: Patung Bung Karno di Aljazair Karya Dolorosa Sinaga Giat Bung Karno dalam seni tonil atau teater dilakoni kala dalam masa pengasingan di Ende (Nusa Tenggara Timur) kurun 1934-1938, dan di Bengkulu pada titimangsa 1939-1942. Perannya tentu sebagai penulis naskah, hingga sutradara. Tak lagi jadi pemain sebagaimana yang sering pula ia lakoni kala terlibat dalam beberapa pertunjukan ludruk semasa sekolah di Surabaya. Mengutip Rhien Soemohadiwidjojo dalam Bung Karno Sang Singa Podium , selama di Ende, Bung Karno dibantu istri keduanya, Inggit Garnasih, membentuk kelompok tonil Kelimutu yang beranggotakan 47 pemain dan pekerja belakang layar. Sepanjang empat tahun di Ende, tak kurang 13 naskah sebagai anak rohani dari buah pikirannya, untuk dipentaskan di Gedung Imakulata. “Demikian juga ketika diasingkan ke Bengkulu, Bung Karno membentuk kelompok tonil Monte Carlo. Saat ini sebagian kostum dan peralatan kelompok Monte Carlo masih bisa dilihat dalam dua lemari di rumah pengasingan Bung Karno di Kota Bengkulu,” tulis Rhien. Diskusi live Historia.id bertema "Drama Bung Karno" bersama pelaku teater Faiza Mardzoeki dan budayawan Taufik Rahzen Menengok koleksi di atas, kentara betul bahwa Bung Karno mendalangi teater bukan semata menghabiskan jemunya tempo pada masa pengasingan, baik di Ende maupun di Bengkulu. Si Bung Besar ibarat seniman teater betul-betul lantaran kerap menyiapkan tetek bengeknya dari A sampai Z dengan cermat dan serius dibantu Inggit. Barangkali jika lakon sejarah negeri ini punya plot yang berbeda dan Sukarno tak sampai jadi proklamator dan presiden pertama, sangat mungkin dia mengambil jalan hidup di teater. “Yang menarik, bahwa Bung Karno itu dalam menjalankan kreativitas teater ini, dia sangat serius. Baik dari visi maupun dari segi yang sangat teknis. Bung Karno dari menyiapkan aspek teknis sampai visi yang ingin disampaikan, hingga melakukan audiensi dengan para pemain. Dan ini dilakukan dengan sangat teknis, tekun dan serius,” lanjut Faiza. “Kita bayangkan di 1930-an tentu perangkat dan peralatan teater belum selengkap sekarang. Dia harus berpikir secara detail agar naskahnya bisa diimplementasikan maksimal di atas panggung. Dia juga sudah harus punya imajinasi naskahnya di panggung seperti apa karena dia berhadapan dengan beragam masalah teknis,” tambahnya. Baca juga: Sukarno dan Seni Satu soal teknis misalnya, terkait pemahaman naskah oleh para pemainnya kala mendirikan kelompok tonil Kelimutu. Disebutkan Budayawan Taufik Rahzen, di masa 1930-an perkembangan literatur dan sastra di Ende baru berkembang di kalangan misionaris dan kongregasi Katolik asal Eropa, Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah. Sementara para pemain yang direkrut Bung Karno, mayoritas masyarakat pesisir campuran, antara orang Ende, Buton, Makassar, Sabu, hingga Bima. “Mereka enggak bisa baca, umumnya buta huruf. Kemudian bahasa pun pakai Melayu Ende. Nah ayangkan Bung Karno membuat suatu naskah itu harus mengajarkan kepada pemain-pemain yang enggak bisa baca. Makanya naskah itu hanya sebagai kerangka saja dan Bung Karno harus mengulangi secara lisan untuk disampaikan kepada para pemainnya,” timpal Taufik. Kolase kelompok teater Bung Karno di Ende dan Bengkulu (Foto: Repro "Maestro Monte Carlo") Atau soal teknis lainnya terkait pamflet maupun spanduk promosi yang tulisannya juga, atau perihal kostum. Dari sejumlah kostum yang dibuat, Bung Karno juga memikirkan bagaimana unsur modernitas bisa masuk ke panggung. “Kostum-kostumnya kalau saya lihat juga dipersiapkan dengan sangat serius, enggak terkesan amatir tuh. Ada semangat (kemajuan) zaman, enggak semua tradisional. Peran Inggit juga sangat penting dari kostumnya, bahkan juga Inggit selalu melakukan penataan make up untuk seluruh pemain perempuannya,” sambung Faiza lagi. Enigma Bung Karno dalam Sandiwara Setidaknya sekira 17 naskah teater yang pernah dihasilkan Bung Karno selama masa pembuangan di Ende dan Bengkulu. Di antaranya Rahasia Kelimoetoe, Taon 1945, Nggera Ende, Amoek, Rendo, Koetkoetbi, Maha Iblis, Anak Jedah, Dr. Sjaitan, Ero Dinamik, Djoela Goebi, Siang Hai Roembai , Rainbow , Hantoe Goenoeng Boengkoek hingga Djakarta-Chungking . Walau naskahnya terbilang sederhana, di mana seperti lazimnya dalam penulisan cerita tiga babak: permulaan, konflik, dan solusi, tetapi Bung Karno senantiasa “menitipkan” sandi-sandi tersembunyi, bak kode mesin Enigma untuk dikomunikasikan pada para penontonnya. “Kalau kita lihat perjalanan penulisan naskah sandiwara Bung Karno, itu akan mencerminkan nanti perkembangan bangsa kita. Jadi bukan naskah drama disebutnya, tapi naskah sandiwara. Kenapa sandiwara? Itu sandi kan rahasia ya. Kemudian wara itu kewacanaan. Jadi Bung Karno sebenarnya menggunakan sandiwara, kata-kata rahasia atau wacana rahasia untuk memberikan pesan kepada publik, termasuk publik internasional,” kata Taufik lagi. Baca juga: Utusan Seni Merangkap Telik Sandi Taufik melihat ada dua periode selama di Ende dan Bengkulu terkait penafsiran akan sandi-sandi terselubung dalam naskah tonil Bung Karno. Pertama , periode negara teater ketika Bung Karno merasa terisolasi di Ende dan baru mengembangkan diri lewat teater. Ide-ide naskahnya terselip kode-kode yang komunikatif tentang ideologi demokrasi hingga sosialisme, perkembangan sains, hingga masyarakat dan kemanusiaan. “Tema-tema yang dikembangkan selama empat tahun di Ende, sebenarnya semua kode rahasia yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada gerakan perjuangan karena surat-surat itu sulit, disensor. Coba lihat Koetkoetbi . Itu sebenarnya kode: ‘Kalian harus mulai menghimpun diri untuk membangun gerakan bawah tanah’. Atau ketika menulis Taoen 1945 , di mana itu kode bahwa Asia mungkin akan masuk ke dalam fase baru pada 1945,” lanjutnya. “Misalkan lagi Djoela Goebi . Djoela plesetan dari gula, simbol dari kalangan buruh, karena perkebunan gula yang lagi jadi komoditas. Goebi itu ubi, jadi simbol petani. Jadi buruh dan petani itu harus bersatu. Ada lagi Amoek , itu kode untuk pemberontakan. Atau Nggera Ende . Itu kan sebenarnya suatu tarian bersama, kode bahwa semua harus bersatu. Jadi Bung Karno mengirimkan sandi-sandi sedemikian rupa dalam naskah teaternya,” papar Taufik. Spanduk promosi Teater Kelimutu dengan lakon Koetkoetbi (Foto: Repro "Maestro Monte Carlo") Adapun periode Kedua , transisinya dimulai kala Bung Karno sudah pindah ke Bengkulu hingga zaman Jepang, yakni periode teater negara. Bahwa urusan negara sudah jadi yang utama dan teater digunakan Bung Karno sebagai cara mengelola negara. Dan salah satu faktor utamanya tak lain adalah Fatmawati yang kelak jadi istri ketiga Bung Karno. “Jadi Bung Karno sudah tak lagi seorang anak yang dijaga, dirawat, diruwat oleh Inggit karena sebelumnya peran Inggit membuatnya bebas berkelana dari sudut ide, mimpi dan dunia gagasan. Ketika ketemu Fatmawati, Bung Karno berhadapan dengan kehidupan dan kenyataan yang sebenarnya. Gaya naskahnya berubah. Bung Karno sudah mulai taktis. Kalau enggak ada Fatma mungkin enggak ada Sukarno dengan politik yang realistis, adanya idealis seperti Tan Malaka, membangun mimpi-mimpi atas dunia teater kalau tetap dengan Inggit,” sambungnya. Baca juga: Teater Zonder Lentera , Karya Sastrawan Peranakan Semisal naskah Bung Karno, Djakarta-Chungking . Lakon sandiwara yang menceritakan tentang spionase dan solidaritas antar kelompok perlawanan bawah tanah. “Di sini sinopsisnya menceritakan tentang dikirimnya dua pemuda dari suatu perkumpulan rahasia dari Jakarta ke China. Setting yang dibangun ada di Jakarta, Singapura dan China. Sangat menggambarkan solidaritas dan patriotisme. Naskah yang bahkan masih relevan jika ditampilkan di masa sekarang. Menariknya lagi, tema spionase seperti ini sangat jarang walau di layar lebar sangat digemari,” tutur Faiza lagi. Spanduk Teater Monte Carlo bertajuk Rainbow di Bengkulu (Foto: Repro "Maestro Monte Carlo") Jika naskah di atas terinspirasi dari relasi antara Jakarta-Peking, sedikit berbeda jika mengungkit naskah Hantu Gunung Bungkuk. Menurut Taufik, naskah itu terinspirasi dari kondisi Turki sebagai “ The Sickman ” atau negara pesakitan. Bahwa hantu kekuatan Islam akan muncul di dalamnya sebagai kode-kode Bung Karno. “Sandiwara Bung Karno itu kan sandarannya sandi, rahasia, dan wara sebagai wacana. Kalau kita lihat bahasa Jawa kuno yang lama, itu disebut Alamkara, di mana dalam sastra, dia menciptakan dunia lain di dunia yang ada. Seperti halnya relief-relief di Candi Borobudur yang berupa cerita tafsiran Alamkara. Itu tidak ada dalam bahasa percakapan, lho, hanya dalam tulisan dan itu ada kode, pesan tesembunyi,” ungkap Taufik. “Sukarno kan sebenarnya ingin mengangkat Alamkara ini atau sandiwara, itu khasanah masa lampau dalam bentuk pertunjukan yang modern. Jadi melalui karya-karya sandiwara Bung Karno, kita bisa menyusuri sejarah intelektuaknya yang berkaitan dengan ide-ide global yang ada. Bukan semata-mata melihat sejarah intelektual politik, tetapi respons dia terhadap sains, kemanusiaan, hubungan antarbangsa, bisa ditangkap di naskah-naskahnya,” tandasnya. Baca juga: Makna Patung Bung Karno di Aljazair

  • Cerita Para Bhayangkara

    Pertengahan September 1948. Akibat terjadinya Insiden Madiun, hubungan kota tersebut dengan kota-kota lain (termasuk ibu kota Yogyakarta dan Blitar) terputus. Sementara itu di Madiun sendiri sedang terjadi penculikan dan pembunuhan oleh kaum komunis terhadap para pejabat Republik Indonesia (RI). Demi melakukan koordinasi penumpasan, Djawatan Kepolisian Negara (DKN) di Yogyakarta menugaskan Komisaris Polisi Soeprapto untuk menyampaikan surat perintah kepada M. Jasin, komandan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur yang sedang ada di Blitar. Penyampaian surat perintah itu rencananya akan dilakukan lewat penerjunan Soeprapto dan dua perwira TNI (salah satunya adalah Mayor Islam Salim) di Alun-Alun Blitar. “Di Maguwo, mereka mendapat petunjuk (kilat) melakukan penerjunan dengan parasut tanpa latihan terlebih dahulu,” demikian menurut buku Brimob: Dulu,Kini dan Esok (disusun oleh Atim Supomo dkk). Penerjunan itu sendiri terpaksa dilakukan, karena di Blitar tidak ada bandar udara yang memungkinkan sebuah pesawat mendarat secara mulus. Begitu Hari-H tiba, berangkatlah sebuah pesawat kecil yang diawaki oleh seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat (AS) dan seorang kopilot berkebangsaan Indonesia. Dalam situasi penuh ketegangan, tibalah pesawat tersebut di atas Blitar. Begitu berada di atas Alun-Alun, pilot memerintahkan ketiga perwira tersebut untuk langsung terjun, namun tak satu pun yang memiliki nyali melakukan itu. Pesawat pun memutar dan bergerak lagi menuju kota Blitar. Namun begitu sampai di atas Alun-Alun, situasi yang sama kembali terjadi: para perwira emoh terjun. Pilot AS itu saking jengkel-nya kemudian menyerahkan kendali pesawat kepada kopilot. Dia lalu bergabung dengan ketiga perwira tersebut. “Ketika kopilot memberikan isyarat untuk terjun, pilot AS itu langsung menendang Soeprapto dan kedua perwira lainnya secara bergilir,” ungkap buku Brimob: Dulu,Kini dan Esok . Soeprapto dan Mayor Islam Salim bisa mendarat dengan selamat di Alun-Alun Blitar. Namun seorang perwira lainnya jatuh agak jauh dari Alun-Alun. Saat mendarat di atap rumah penduduk, orang-orang langsung mengepungnya karena dia dikira mata-mata musuh. Untungnya satu unit MBB bisa menyelamatkannya dan surat perintah pun berhasil diberikan kepada Jasin. Lain pengalaman Kompol Soeprapto lain juga pengalaman Moh. Enoh, seorang bhayangkara yang bertugas mengawal Wakil Presiden Mohammad Hatta. Suatu hari, Enoh tiba di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Dia baru saja pulang dari daerah mengawal Wakil Presiden keliling Jawa Barat selama dua minggu. Demikian dikisahkan oleh H. Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967. Begitu tiba, dia langsung ditugaskan kembali untuk mengganti penjagaan di depan Istana Wakil Presiden. Entah kesal atau iseng saja, begitu sampai di pos penjagaan, Enoh tetiba berpidato menirukan lagak Bung Hatta saat di daerah. “Saudara-Saudara, 15 tahun yang lalu bangsa Indonesia seperti itik yang mati kehausan di kolam dan seperti ayam yang mati kelaparan di dalam lumbung!” teriaknya di depan seorang kawannya. Usai berpidato, Enoh mengomentari sendiri pidato Hatta yang baru saja dia teriakan itu. Dia menggrundel, kalau kolamnya kering ya mati kehausan betul dan kalau lumbungnya kosong ya mati kelaparan. Belum gerundelan -nya selesai, tanpa dinyana, tetiba Bung Hatta keluar dari ruangan dekat pos penjagaan dan tanpa berkomentar langsung masuk ke Istana. Tentu saja, Enoh kaget bukan kepalang. Dia memaki-maki kawannya yang tidak memberitahukan bahwa Bung Hatta ada di dekat mereka saat itu. Alih-alih merasa berdosa, kawan Enoh malah tertawa-tawa gembira. “ Rasain lu !” ujarnya.

  • Kondisi Kesehatan Jakarta di Awal Kemerdekaan

    BAGI Annie Senduk, kepala perawat di asrama kedokteran Jalan Kramat Raya 72 Jakarta, dan para tenaga kesehatan lain, mengatur jalannya layanan kesehatan di tengah krisis perang merupakan tantangan sulit. Selain harus berjibaku melawan penyakit tinggalan Jepang yang diderita rakyat, mereka juga harus siap membantu para pejuang di medan perang. Pada akhir kekuasaan Jepang, disentri merupakan satu dari beberapa penyakit paling banyak menyerang penduduk kota Jakarta. Ia menginfeksi 2.156 orang dengan rata-rata 150-600 orang di antaranya meninggal dunia. Menurut laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Jakarta, banyaknya warga yang terjangkit disebabkan oleh kurangnya bahan makan dan buruknya kebersihan lingkungan. Selama pendudukan Jepang, Bagian Penyakit Rakyat di DKK memiliki total 204.353 pasien. Sebanyak 42.506 di antaranya penderita malaria. Frambosia juga banyak diderita penduduk di kampung-kampung, dengan 26.508 pasien terdaftar. Sementara penyakit Honger Oedeem (busung lapar) dilarang dicatat oleh penguasa meski sebenarnya banyak ditemukan. Belum sempat mengatasi masalah kesehatan yang ditimbulkan pada masa Jepang itu, para tenaga kesehatan dihadapkan pada kedatangan Sekutu yang disusul NICA. Pertempuran yang terjadi kemudian mengharuskan mereka ikut terjun menyelamatkan nyawa para pejuang meski akibatnya para perawat, dokter, mantri, dan bidan berguguran di medan perang. DKK amat kekurangan tenaga kesehatan. Jumlah dokter di Jakarta yang semula 26 orang berkurang karena sebagain memilih berpihak ke NICA, mengungsi ke pedalaman, atau kembali ke negaranya. Alhasil, jumlah dokter pro-republik yang tersisa di Jakarta hanya 14 orang. Mereka bahu-membahu dengan perawat, bidan, mantri, dan mahasiswa kedokteran menjalankan layanan kesehatan. Para tenaga kesehatan yang amat terbatas itu mesti bekerja dengan minimnya alat-alat kedokteran dan obat-obatan. Jumlah rumah sakit saat itu amat sedikit. Para dokter seringkali harus mengeluarkan uang pribadi untuk memenuhi kebutuhan alat praktik. Beruntung ada bantuan Palang Merah sehingga DKK bisa membangun 83 pos pertolongan pertama pada kecelakaan yang tersebar di Jakarta. “Kami dan para mahasiswa kedokteran membentuk regu-regu penolong para korban perang,” kata Annie Senduk testimoninya di kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku bagi Ibu Pertiwi.  Perawat dan mahasiswa kedokteran di Rumah Sakit Cikini, sambung Annie, ikut mengatur pos-pos Palang Merah untuk menangani korban yang berjatuhan. Hotel Du Pavilion digunakan sebagai gudang perbekalan dan obat-obatan. Nahas, lokasi itu kemudian diketahui NICA. Begitu mengetahui NICA hendak merebut Hotel Du Pavilion, para tenaga kesehatan berunding untuk mengatur strategi. Mereka berusaha memindahkan barang-barang ke luar kota karena di Klender dan Bekasi obat dan logistik sedang amat dibutuhkan. Setelah berhasil meminjam mobil dari Rumah Sakit Cikini, dokter-dokter Suwardjono Suryaningrat, Mahar Merdjono, Hussein Odon, Yusuf, dan Alex Kaligis datang untuk menjadi supir.  “Mereka datang dengan baju yang lusuh dan muka yang kuyu karena tidak mandi. Persis seperti supir-supir truk angkutan jarak jauh, kumal,” kata Annie. Sementara, Rumah Sakit Budi Kemulyaan (RSBK) memegang peran penting dalam layanan persalinan. RSBK membuka pelatihan tentang persalinan untuk para gadis. Sepanajang 1945-1947 ada 163 gadis yang mengukuti pendidikan kebidanan di rumah sakit ini. Namun, dari 6 biro konsultasi kebidanan yang dimiliki RSBK pada pertengahan 1946, jumlahnya berkurang karena beberapa biro ditutup lantaran kekurangan pegawai. Selama 20 bulan, RSBK telah menolong 1157 wanita hamil. Selain karena perang, kematian penduduk disebabkan beragam penyakit. Berdasarkan laporan Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Kotapradja Djakarta Raja   Sepanjang   1946 , DKK mencatat ada 25.248 kematian dalam setahun dengan 21.002 di antaranya merupakan orang Indonesia. Kematian karena disentri mencapai 2930 orang dengan 256 di antaranya merupakan bangsa Indonesia. Malaria juga menjadi penyakit mematikan yang mengancam warga Jakarta. Sepanjang 20 bulan setelah kemerdekaan, tercatat ada 421.195 orang berobat karena malaria. Untuk menanggulanginya, DKK akhirnya membagikan kina ke penduduk. Penyakit-penyakit yang juga menyerang warga Jakarta antara lain: typhus abdominalis  (545 pasien), para typhus  (21 pasien), dan frambusia (8574 pasien). RS rakyat Bidara Tjina berperan penting membantu ketersediaan layanan kesehatan dengan menampung pasien-pasien yang tidak mampu ditangani Rumah Sakit Perguruan Tinggi (RSPT). Namun, perjuangan tenaga kesehatan saat itu bukan semata menangani pasien dan penyediaan bantuan kesehatan untuk para pejuang, tapi harus siap mempertahankan kedaulatan kesehatan republik. Seluruh pegawai kesehatan menolak ketika DKK hendak diambil alih Gemeente Batavia pada 18 Januari 1948. Mereka mengancam meninggalkan kantor dan balai-balai pengobatan dan lebih memilih menjalankan pengobatan rakyat di pasar-pasar dibanding bekerja di bawah Gemeente Batavia. Sikap tegas mereka itu disambung dengan munculnya perjanjian Renville yang menggagalkan niat Gemeente Batavia untuk mengambil alih DKK. Usaha keras mereka untuk mempertahankan bagian penting dari pemerintah republik untuk kepentingan masyarakat di kota Jakarta itu kembali terusik ketika Gemeente Djakarta kembali berusaha mengambil alih DKK pada 24 Agustus 1948. Mereka juga diusir setelah RSPT diambil alih oleh NICA. Tenaga kesehatan yang menolak bekerja untuk Belanda diminta untuk angkat kaki dari sana. “Serta-merta seluruh dokter dan pegawai rumah sakit ramai-ramai keluar dari pintu rumah sakit sambil tertawa dan mencemooh tantara Belanda,” kata GA Siwabessy dalam biografinya, Upuleru . Meski DKK sebagai salah satu Djawatan pemerintah Kota Djakata gagal dipertahankan, para dokter tak habis akal. Bersama rekan dokter asli Jakarta yang dengan senang hati menampung, mereka lalu melanjutkan pemberian layanan kesehatan. Siwabessy, yang ditampung di rumah dokter Mursadik, kemudian membuka praktik bersama dokter Sarlono di garasi rumah Sarlono demi kepentingan kesehatan warga Jakarta. Profesor Moh. Ali Hanafiah dan Bahder Djohan juga membuka poliklinik di garasi rumah Hanafiah. “Klinik darurat ini diakui sebagai poliklinik resmi RI,” kata Siwabessy. Di sanalah para dokter RSPT ramai-ramai menyediakan layanan kesehatan di masa krisis perebutan kekuasaan sampai posisi DKK kembali ke tangan Republik setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949.

  • Kisah Hoegeng Disetrap Bung Karno

    Masa revolusi mempertemukan Hoegeng Iman Santoso dengan Presiden Sukarno. Pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1947 di Yogyakarta, Hoegeng diperbantukan sebagai pengawal Bung Karno. Waktu itu Hoegeng tercatat sebagai mahasiswa Akademi Kepolisian Mertoyudan angkatan pertama (kini Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Suatu hari, Hoegeng ditugaskan komandannya untuk mengawal Sukarno ke suatu tempat. Entah bagaimana ceritanya, dia lupa sarapan saat itu. Jadilah di tengah gegap gempitanya pidato Bung Karno itu, perut Hoegeng keroncongan. Sadar Bung Karno kalau pidato memakan waktu berjam-jam, Hoegeng lantas bersiasat guna memenuhi panggillan alam dari lambungnya.    “Karena saya tahu pidatonya bakal lama sekali, saya memberanikan diri njlintis (menyelinap) ke dapur,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori, 22 Agustus 1992 yang kemudian termuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah . Di dapur, Hoegeng bersua dengan Hasan Din. Namun kala itu, dia sepertinya kurang begitu mengenal Hasan Din yang tidak lain ayah dari sang ibu negara Fatmawati. Terjadilah perbincangan singkat antara Hoegeng dan Hasan Din. “Lho, ada apa?” tanya Hasan Din. “Saya lapar,” kata Hoegeng memelas. “Yoo, ayo makan…” sambut Hasan Din dengan ramah tamah. Mendapat kesempatan, Hoegeng pun buru-buru makan. Setelah kenyang Hoegeng kembali ke posisi semula untuk mengawal Bung Karno. Namun Hoegeng tidak menyadari bahwa aksinya tadi tidak luput dari amatan Bung Karno. Pidato kenegaraan akhirnya selesai. Bung Karno lantas memanggil Hoegeng. Ditanyakan kepada Hoegeng alasan dirinya minggat ketika pidato berlangsung. “Darimana tadi?” tanya Bung Karno. “Dari belakang,” jawab Hoegeng. “Mau apa ke belakang?” “Makan.” “Lho, kok makan?" “Saya belum sarapan.” “Nanti malam siapa yang jadi ajudan?” tanya Sukarno lagi. “Saya ndak tahu, Pak,” ujar Hoegeng. “Ya, sudah. Kamu saja yang jadi ajudan lagi,” perintah Bung Karno.    Mendengar perintah Bung Karno, Hoegeng hanya bisa patuh dan pasrah. Namun dalam hatinya, Hoegeng bergumam, “Wuaduh, cilaka! Dus saya disetrap (dihukum) jadi ajudan lagi.” Sejak kejadian itu, Bung Karno selalu ingat pada polisi bernama Hoegeng. Pada 1952, Hoegeng lulus dari PTIK. Dalam acara pelantikan lulusan, Hoegeng kembali bertemu dengan Bung Karno. Para lulusan PTIK beserta istri masing-masing diundang ke Istana Negara. “Saya begitu terkesan padanya, karena dia bersedia berbincang dengan kami satu persatu,” kenang Hoegeng. Lulus dari PTIK, Hoegeng bertugas di Surabaya sebagai kepala Dinas Pengawasan Keselamatan Negara (DPKN) se-Jawa Timur. DPKN merupakan badan intel kepolisian pada zaman itu. Dari Surabaya, Hoegeng hijrah ke Medan pada 1956 sebagai kepala reserse kriminal se-Sumatra Utara. Memasuki 1960, Hoegeng berdinas di luar kepolisian sebagai kepala Jawatan Imigrasi.    Pertemuan Hoegeng dengan Sukarno berlanjut lagi dalam penyusunan Kabinet Dwikora II atau dikenal dengan Kabinet 100 Menteri pada 1966. Kali ini Bung Karno memanggil Hoegeng bukan bukan sebagai ajudan, melainkan untuk mengisi posisi Menteri Iuran Negara (setara dengan  Dirjen Pajak). Hingga kemudian Hoegeng menggapai puncak kariernya sebagai Kepala Kepolisian RI periode 1968—1971.

  • Otto Skorzeny yang Ditakuti

    SOROT mata Otto Skorzeny begitu tajam. Codet di pipi kiri sang hauptsturmführer (kapten) dari pasukan komando Schutzstaffel (SS) Jerman itu menambah kesan garang kala mencoba meyakinkan jenderal polisi Italia Fernando Soleti dengan setengah memaksa. Sang jenderal pun “menurut” dibawa ke sebuah misi penting: menyelamatkan Il Duce Benito Mussolini. Sejak ditangkap Carabinieri (polisi militer) Italia pada 25 Juli 1943, posisi Mussolini sebagai perdana menteri telah dilengserkan. Pelengseran dilakukan setelah Gran Cosiglio del Fascismo (Dewan Fasisme Italia) menetapkan mosi tidak percaya terhadap Mussolini pasca-invasi Sekutu ke Pulau Sisilia dan pemboman terhadap ibukota Roma. Raja Vittorio Emanuele I II pun menetapkan Marsekal Pietro Badoglio untuk menggantikan posisi Mussolini. “Perintah untuk membebaskan Mussolini diberikan kepada Skorzeny oleh Hitler sendiri, sekalipun tindakan itu diambil Hitler lebih didorong pertimbangan politik daripada pertimbangan sentimentil,” tulis P.K. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II . Hitler tahu bahwa Badoglio seorang petinggi militer yang anti-Jerman. Hitler khawatir, lanjut Ojong, Italia tanpa Mussolini justru akan membela ke pihak Sekutu. Sementara petinggi fasis Italia lainnya belum ada yang punya reputasi sebesar Mussolini, sekalipun Hitler memandang rendah “seniornya” itu mengingat minimnya prestasi kombatan Italia dalam pihak Poros di medan perang. Baca juga: Menang atau Mati! Ancaman Mussolini untuk Tim Azzurri Itu salah satu faktor Hitler meminta Skorzeny menyelamatkannya. Begitu mendapat perintah, Skorzeny langsung menemui Generaloberst (kolonel-jenderal) Kurt Student, komandan Divisi Fallschirmjäger (lintas udara) ke-1 yang berbasis di Italia. Rencana pembebasan pun dirancang dengan melibatkan 300 pasukan linud dengan komandan lapangan Mayor Harald Mors dan Oberleutnant Georg Freiherr von Berlepsch, ditambah 16 pasukan SS bawaan Skorzeny. Tetapi sebelum berangkat dari Pangkalan Udara Pratica di Mare pada pagi 12 September 1943, Skorzeny lebih dulu menangkap dan memaksa Soleti ikut serta dalam rombongan dengan pesawat-pesawat peluncur yang akan menuju Gran Sasso, sebuah puncak di Pegunungan Apenina tempat Mussolini ditahan di Hotel Campo Imperatore. Soleti dibawa untuk mencegah agar tak terjadi pertumpahan darah dalam misi di sebuah resor ski itu. Kapten Otto Skorzeny membebaskan Mussolini (atas) untuk kemudian diterbangkan dari Gran Sasso ke Jerman (bawah) (Foto: Bundesarchiv) Kabut di sekitar puncak Gran Sasso yang menyelimut sejak pagi mulai menghilang ketika Skorzeny cs. mendarat pada pukul dua siang. Dari halaman hotel, Skorzeny melihat detasemen penjaga Carabinieri sudah siap mengokang beragam jenis senjata. Baku tembak skala kecil pun terjadi, mengakibatkan dua polisi Italia tewas. Saat itulah Skorzeny menemui Mussolini. “Dengan tergesa-gesa, gugup, keringatnya mengucur dari mukanya, Skorzeny masuk ke kamar tahanan Mussolini. Ia pun memperkenalkan dirinya. ‘ Führer yang siang-malam memikirkan bagaimana dapat membebaskan Tuan, menyerahkan tugas ini kepada saya. Hari ini saya merasa girang dan puas bahwa dengan membebaskan Tuan, saya telah menjalankan tugas yang diberikan Führer kepada saya’,” kata Skorzeny, dikutip Ojong. Setelah membawa Soleti ke muka dan Soleti memerintahkan komandan penjaga untuk menurunkan senjata mereka, tak lama kemudian pesawat penjemput Fieseler Fi-156 “ Storch ” datang. Pesawat diterbangkan Kapten Heinrih Gerlach, pilot pribadi Jenderal Student. Selesailah tugas Skorzeny membawa Mussolini dari pengasingannya ke muka Hitler lewat aksi dramatis itu. Bertambah pula pujian Hitler kepada kapten pemberani yang ditakuti lawan akan reputasi-reputasinya itu. Mantan Atlet Kharismatik Reputasi Skorzeny berhulu pada besarnya jiwa kompetitif sejak belia. Sosok kelahiran Wina, Austria pada 12 Juni 1908 dari keluarga blasteran Polandia-Austria itu sejak muda aktif di olahraga anggar. Codet di pipi kirinya pun didapat Skorzeny saat bertanding. Tetapi dia tak meneruskan karier atletnya selepas lulus kuliah. Dia memilih bergabung ke barisan Sturmabteilung (SA), sayap militer Partai Nazi cabang Wina. Ia turut andil menyelamatkan nyawa eks Presiden Austria Wilhelm Miklas ketika Hitler mencaplok Austria pada 1938. Baca juga: Anggar untuk Hitler Keluarga Otto Skorzeny (kiri) & olahraga anggar yang membuat luka codet di wajahnya (Foto: Youtube ORF/ww2gravestones.com) Diungkapkan Stuart Smith dalam Otto Skorzeny: The Devil’s Disciple , pada 12 Maret 1938 datang sekelompok pasukan SA ke Istana Kepresidenan Reisnerstrasse. Skorzeny mendapati sekelompok SA itu bukan dari cabang Wina, melainkan dari Jerman yang tengah memburu Miklas. Miklas sebelumnya menolak tuntutan Hitler untuk menunjuk tokoh Nazi Arthur Seyss-Inquart menjadi kanselir. Tapi ketika Miklas akhirnya menurut, pasukan SA sudah diperintah Hermann Goering menghabisinya. Skorzeny diminta Ketua Asosiasi Olahraga Austria Bruno Weiss, yang juga kolega Kanselir Seyss-Insquart, untuk menyelamatkan Miklas sebelum terlambat dan meluruskan kesalahpahaman. Benar saja. Ketika Skorzeny dan pasukannya datang ke Istana Presiden, kelompok SA Goering sedang menodongkan senjata ke Miklas dan istrinya. Miklas dan istrinya jejeritan saat ditodong. “’Diam!’ teriak Skorzeny. Lantas terdengar perintah ‘Bersiap!’ dari letnan bawahan Skorzeny, seketika 20 mulut senapan diarahkan ke pasukan Nazi itu. Untuk menenangkan situasi, Skorzeny mengatur pembicaraan antara Miklas dan Seyss-Inquart via telepon,” tulis Smith. Selamatlah nyawa Miklas. Tak seperti pejabat pemerintahan lain semisal eks Kanselir Austria Kurt Schuschnigg yang –belakangan selamat dan kabur ke Amerika Serikat berkat bantuan Albert Goering , adik dari Hermann Goering– ditahan di kamp konsentrasi Dachau. Arsitek Operasi Senyap Saat Perang Dunia II pecah pada 1939, Skorzeny sejatinya ingin mendarmabaktikan diri ke Luftwaffe (AU Jerman), namun ditolak. Selain karena posturnya terlalu tinggi, usianya sudah 31 tahun, sehingga tak lolos syarat pelatihan kru penerbang AU. Tapi lewat koneksinya di Partai Nazi semasa jadi kader SA, Skorzeny bisa masuk barisan Leibstandarte SS Adolf Hitler, unit pasukan pengawal Hitler. Sebagai perwira yang cakap merancang rencana-rencana operasi di belakang garis musuh, Skorzeny diperbantukan ke Divisi Panser ke-2 SS “Das Reich” di Pertempuran Moskwa pada Oktober 1941. Tetapi sejak terkena pecahan peluru artileri Uni Soviet pada Desember 1942, Skorzeny dimutasi ke Reichssicherheitshauptamt (RSHA), semacam lembaga ketahanan dan keamanan nasional di Berlin, di bawah pimpinan Ernst Kaltenbrunner. Di departemen intelijen luar negeri RSHA, Skorzeny membentuk komando pasukan khusus SS, Sonderverband zur besonderen Verwendung Friedenthal. “Pasukan komando ini dilatih untuk menjalani operasi-operasi sabotase, spionase, dan teknik-teknik paramiliter. Di kemudian hari, pasukan setingkat batalyon ini berganti nama menjadi SS Jagdverband 502 pada 1943 dan pada November 1944 berganti lagi menjadi Unit Pusat Pertempuran SS yang puncaknya punya personel hingga lima batalyon,” tulis Samuel W. Mitcham dalam Panzers in Winter: Hitler’s Army and the Battle of the Bulge. Skorzeny yang sudah berpangkat letkol kala menginspeksi pasukan pada Februari 1945 (Foto: Bundesarchiv) Setidaknya tujuh misi operasi senyap pernah dirancang Skorzeny sepanjang Perang Dunia II. Selain misi penyelamatan Mussolini, misi kondang yang dirancang Skorzeny adalah Operasi Greif. Operasi khusus untuk mengacaukan pihak Sekutu di Pertempuran Bulge (16 Desember 1944-25 Januari 1945) itu lantas membuatnya dipromosikan menjadi mayor dan kemudian obersturmbannführer (letnan kolonel). Inti misi operasi yang dilakoni pasukan Brigade Panser 150 yang semua anggotanya mahir berbahasa Inggris itu adalah merebut dan menghancurkan jembatan-jembatan di atas Sungai Meuse di belakang garis pertahanan Sekutu. Dengan begitu, pasukan terdepan Sekutu bakal terputus hubungannya dengan pertahanan belakangnya. Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Misi sabotase itu sukses menimbulkan kekacauan dan kebingungan di pihak Sekutu. Rumor tentang adanya pasukan Jerman berseragam Sekutu untuk membunuh panglima tertinggi Sekutu Jenderal Dwight Eisenhower pun disebarkan para anak buah Skorzeny. Rumor itu bahkan mengakibatkaan rombongan mobil panglima Inggris Marsekal Bernard Law Montgomery nyaris ditembaki petugas jaga tentara Amerika di salah satu pos di Malmédy gara-gara paranoia. Setelah hinggap di Mesir dan Irlandia, Skorzeny (kiri) jadi penasihat Presiden Argentina Juan Domingo Perón (tengah) (Foto: Wikipedia) Pasca-kapitulasi Jerman, Skorzeny ditahan dan diseret ke Pengadilan Dachau, persidangan untuk mengadili penjahat perang. Namun sebelum divonis, pada 27 Juli 1948 dia berhasil melarikan diri dari kamp penahanan di Darmstadt. Ia kabur ke Paris, Madrid, lantas ke Mesir. Di Mesir, Skorzeny direkrut jadi penasihat militer oleh pemerintahan Mohamed Naguib yang banyak merekrut eks-perwira Jerman untuk melatih tentara Mesir. “Skorzeny juga melatih para pengungsi Palestina dengan dasar-dasar kemiliteran. Satu di antara para pengungsi yang dilatih untuk menyusup dan menyerang Israel di Jalur Gaza itu adalah Yasser Arafat (kemudian jadi Ketua Organisasi Pembebasan Palestina 1969-2004),” singkap Glenn B. Infield dalam Skorzeny: Hitler’s Commando. Dari Mesir, petualangan Skorzeny berlabuh di Argentina, tempat dia kemudian menjadi salah satu penasihat Presiden Juan Péron. Hingga hari kematiannya pada 5 Juli1975 karena kanker paru-paru, Skorzeny memanfaatkan jabatannya untuk membantu banyak pelarian Nazi dari Eropa ke Argentina via Madrid. Baca juga: Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler

  • Martin Aleida dan Penjara Tak Bertepi

    21 Oktober 1966. Malam itu, Nurlan Daulay dengan bangga menenteng 50 tusuk satai yang dibeli dari upah pertama sebagai tukang batu. Ia berjalan dua kilometer menuju sebuah rumah persembunyian di Jalan Mangga Besar 101. Di rumah itu, Putu Oka Sukanta, Arifin, Mujio, Zaini, dan T. Iskandar A.S., bernaung dari pengejaran Operasi Kalong. Sepiring satai beralas daun pisang yang tandas malam itu tampaknya menjadi perjamuan terakhir mereka. Ketika mereka telah berbaring di sudut tidur masing-masing, Burhan Kumala Sakti, seorang tukang tunjuk militer menodongkan pisau ke leher Nurlan. Di luar, kiranya satu jeep  tentara telah menunggu. Malam itu juga mereka digelandang ke kamp konsentrasi. Kisah penangkapan itu mengawali memoar Martin Aleida, Romantisme Tahun Kekerasan . Sebuah memoar tentang pemuda Tanjung Balai yang merantau ke Jakarta, menjadi wartawan, dan terjebak peristiwa G30S 1965. Tentang orang-orang di sekitarnya, yang bernasib getir dan tentang penjara yang tak bertepi. Kamp Konsentrasi Martin Aleida masih berusia 22 tahun ketika diminta redaksi Harian Rakjat untuk bertugas sebagai wartawan istana pada Januari 1965. Kala itu, ia masih bernama Nurlan, pemuda yang baru tiga tahun merantau ke Jakarta dari Tanjung Balai, Sumatra Utara. Sempat masuk Akademi Sastra Multatuli yang membawanya menjadi “anak bawang”, seperti dikatakannya sendiri, di lingkaran Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kiranya tujuh bulan lamanya ia meliput orang nomor satu di Indonesia itu. Pengalaman-pegalaman yang boleh dibilang romantis sebagiannya ada pada masa ini. Setelah ia keluar dari Harian Rakjat pada Juli 1965 , dua bulan kemudian badai G30S datang, mengantarnya ke dalam tahun-tahun kekerasan. Nurlan ditangkap pada 21 Oktober 1966 malam, digelandang bak pesakitan dan mendekam di kamp konsentrasi Operasi Kalong yang terletak di Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat. Di tempat inilah, ia menyaksikan kekejaman militer terhadap orang-orang yang dituduh terlibat G30S. Ia menyaksikan misalnya, bagaimana Putu Oka Sukanta harus berhadapan dengan cambuk dari ekor pari. Yang ketika terkena punggung, lumat sudah kulit dan darah. Penyiksaan demi penyiksaan menjadi pemandangan sehari-hari dalam kamp. Sementara itu, para tahanan perempuan dikurung di dalam dapur. Sutarni, istri Njoto, bersama anak-anaknya termasuk yang masih bayi berada dalam penyekapan itu. Juga Sri Sulasmi, kekasih Nurlan, harus mengepel lantai penuh darah di ruang interogasi. Tapi Nurlan juga bersaksi tentang Uyan, seorang sersan mayor yang kemudian turun menjadi wakil komandan kamp konsentrasi, yang berempati terhadap penyiksaan di dalam kamp. Uyan menjadi satu keajaiban di tengah kejinya kekuasaan bersenjata, yang disebut Nurlan, sebagai perwujudan dari seorang prajurit sejati. Kiranya setahun Nurlan mendekam di kamp konsentrasi. Pada hari ia dibebaskan, entah karena surat wasiat orang tuanya yang hendak menunaikan haji atau surat dari kekasihnya di dalam saku celana, Nurlan ternyata tidak mendapati kebebasan yang nyata. Keluar dari kamp, ia merasa masuk ke kamp lain yang lebih besar. “Berdiri di tepi Jalan Thamrin, saya merasa seperti memasuki sebuah kamp konsentrasi yang lebih besar. Sebuah penjara tak bertepi, dilingkung langit. Karena saya yakin tak seorang kawan pun yang tertinggal di dunia bebas ini. Semua sudah diringkus sampai timpas,” tulisnya. Dari Nurlan ke Martin Kebebasan yang diidamkan Nurlan tentu saja bukan seperti yang ia dapati kala itu. Wajib lapor seminggu sekali, terus dimata-matai dan bahkan dicurigai sebagai mata-mata militer. Juga yang lebih berat baginya, ia tak lagi berada di dunia bebas di mana ada kawan secita-cita dan kekasih hati. Keluar dari kamp, Nurlan menumpang di rumah seorang sesama bekas tahanan bernama Rudewo. Ia bekerja di tambak di pagi hari lalu siangnya berjalan menyusuri rel kereta barangkali takdir mempertemukannya pada seorang kawan. Pada masa-masa sulit ini, ternyata nasib membawanya kembali kepada Sri Sulasmi, kekasihnya. Ia menikah dengan Sri di Surakarta. Tanpa ramai-ramai acara pernikahan umumnya tentu saja. Bahkan pengantin muda itu, harus tidur di jembatan bambu di atas Ciliwung karena ditolak saudara setiba di Jakarta. Sempat menjadi pedagang pakaian di pinggir jalan dan menjaga kios, Nurlan akhirnya kembali ke dunia jurnaslime mengikuti nasihat Mula Naibaho, mantan pemimpin redaksi Harian Rakjat . Awalnya, ia mulai menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke majalah Horison . Kemudian masih dalam bayang-bayang stigma komunis, ia melamar ke Ekspress . Tak lama ia keluar. 14 Januari 1971, ia bergabung dengan majalah Tempo yang baru berdiri. Saat itu namanya sudah menjadi Martin Aleida, yang ia gunakan dalam cerpen-cerpennya. Tempo menjadi tempatnya kembali pada jurnalisme yang sulit ia bayangkan sebelumnya, kembali menulis di tengah kuasa Orde Baru. Ia menjadi wartawan majalah pimpinan Goenawan Mohammad itu selama 13 tahun. Martin Aleida tidak menulis autobiografi, ia menulis memoar yang berjejalin dengan kisah orang-orang yang bernasib pahit, tapi kadang manis, juga tentang kedai kopi di Tanjung Balai dengan bualan-bualannya. Ia menulis tentang Charles Bidien sang pahlawan kliping hingga Dr. Gunawan dan cerita obat kanker yang diselundupkan dari Meksiko. Lelaki jangkung berusia 77 tahun itu menutup memoarnya dengan puisi pendek Zawawi Imron yang dibacakan di depan dua perempuan muda di kafetaria Taman Ismail Marzuki. “Perkenalkan, ini Martin Aleida, sahabat Gusdur, Gusdurian. Dia Lekra, komunis, tapi relijius.”

  • Ketika Soeharto Marah pada Menteri

    Pada 1975, sebagai wakil ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), A.R. Soehoed diangkat menjadi ketua tim perunding dengan Jepang untuk Proyek Asahan.

  • Ketika Sumatra Menjadi Pusat Peribadatan Tantrayana

    Di tepi Sungai Batang Hari terhampar gugusan percandian Muaro Jambi. Tak jauh dari Sungai Kampar Kanan di Riau ada lagi kompleks percandian Muara Takus. Semuanya menunjukkan kesamaan latar belakang agama, yakni Buddha Mahayana aliran Vajrayana. Jika diperluas hingga ke Sumatra Utara, ada pula tinggalan yang punya kesamaan latar belakang kepercayaan, yaitu di kawasan PadangLawas dekat aliran Sungai Sirumambe, Sungai Batang Pane, dan Sungai Barumun. “Pada rentang waktu yang sama di Pulau Sumatra ini ada pusat-pusat peribadatan yang dilatarbelakangi agama Buddha Vajrayana,” kata Ery Soedewo, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara, dalam diskusi via zoom tentang “Candi Muara Takus: Dulu, Kini, dan Esok, yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat beberapa waktu lalu. Berkembangnya Sekte Ery menjelaskan, Vajrayana atau Tantrayanamerupakan salah satu sekte dalam Buddha Mahayana. Tantrayana merupakan sekte utama di Sumatra sejak abad ke-8. Waktu keberadaannya bersamaan dengan di Jawa. Menurut John Miksic, arkeolog dan sejarawan Asia Tenggara dari National University of Singapore dalam “The Buddhist-Hindu Divide in Premodern Souhteast Asia” yang terbit di Nalanda-Sriwijaya Centre Working Paper Series No.1 (September 2010) pengaruh Buddha Mahayana sudah tampak dalam Prasasti Talang Tuo dari tahun 684 yang ditemukan di Palembang. Isi prasasti itu tentang harapan penguasa semua yang ada di kebun, termasuk kelapa, pinang, aren, sagu, buah-buahan, bambu, kolam, dan bendungan bisa membawa kesejahteraan semua makhluk. “Keinginan agar pemikiran Bodhi akan lahir pada semua orang, lalu penyebutan tiga permata ( ratna ) dan tubuh intan mahasattva , diakhiri dengan harapan bahwa semua akan mencapai pencerahan, konsep ini dapat dihubungkan dengan Vajrayana atau Tantrayana yang muncul di Nalanda dari sekolah Yogacara tidak lama sebelum tahun ini,” tulis Miksic. Miksic menyebut walaupun pada abad ke-11 hingga ke-13 aliran Theravada terlihat di Situs Kota Cina, timur laut Sumatra, aliran ini tidak berdampak besar. “Arca-arca Buddha, Wisnu, dan Siva lingga ditemukan di sana. Gambar-gambar Buddha menyerupai gaya dari Sri Lanka dan India Selatan, memungkinkan kehadiran Theravada di situs Pelabuhan itu,” jelasnya. Sebaliknya, lanjut Miksic, aliran Vajrayana berkembang di Sumatra selama beberapa abad berikutnya. Selama periode ini, kecuali untuk Kota Cina, semua biara dan kompleks candi yang terkenal dibangun di Sumatra. Sisa-sisa nya memberikan banyak indikasi evolusi lokal. Kendati tetap ada hubungan dengan wilayah India Selatan, ditandai dengan prasasti Tamil. Maraknya aliran itu pun membawa Sumatra sebagai salah satu pusat studi Tantrayana pada masanya. Hingga seorang tokoh penting dalam penyebaran Tantrayana di Tibet, Atisa Dipankara, datang ke Sumatra pada abad ke-11. Atisa berlayar ke Sumatra untuk berguru pada seorang pakar dalam tradisi Boddhisatva yang dikenal sebagai Guru Suvarnadvipa. Seusai menamatkan pendidikannya, Atisa diundang penguasa Tibet untuk meluruskan kesalahpahaman berkaitan dengan ajaran Hinayana, Mahayana, dan Tantrayana. Di Tibet, India Utara, Nepal, dan Bhutan, Buddhisme Tantrayana masih dipraktikkan hingga saat ini. Percandian di Padang Lawas Menurut Miksic, salah satu daerah yang sangat penting untuk melacak jejak ajaran Buddha di Sumatra adalah Padang Lawas. Banyak pakar purbakala sepakat bahwa kepurbakalaan di PadangLawas adalah peninggalan dari peradaban yang banyak dipengaruhi aliran Vajrayana. Sukawati Susetyo, arkeolog Pus at Pene lit ian Arke ologi Nas ional (Puslit Arkenas) yang pernah meneliti Padang Lawas, menjelaskan bahwa stupa, stambha, arca-arca Dhyani buddha, dan Dhyani Boddhisatva di situs itu menunjukkan percandian bernapas ajaran Buddha. L ebih khusus lagi ditemukan Prasasti Tandihat yang bersisi mantra upacara Tantra. Lalu di halaman biaro -nya ditemukan arca raksasi bertaring dengan mata melotot. “Ini mengindikasikan ada unsur Tantra,” kata Sukawati dalam diskusi via zoom tentang “Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya Untuk Kemajian Bangsa” yang diadakan BPCB Aceh. Prasasti Si Sangkilon juga menyebut pemujaan terhadap arca Yamari, tokoh yang sangat dipuja dalam Buddha Tantrayana.Ditambah lagi arca Heruka di Biaro Bahal II. Heruka adalah dewa terpenting dalam Buddha Tantrayana yang dipuja saat upacara Bhairawa. Sementara itu, relief Yaksha menari berbentuk manusia berkepala hewan di Biaro Pulo saat ini masih dijumpai dalam festival keagamaan di Bhutan, Nepal, dan Tibet. “Di Buthan juga terdapat tarian yang menggambarkan pengadilan setelah meninggal. Malaikatnya ada yang digambarkan berkepala hewan,” kata Sukawati. Penduduk di Sepanjang Sungai Batanghari Napas kepercayaan yang sama juga teridentifikasi di situs-situs arkeologi di sepanjang Sungai Batanghari, mulai dari hilir hingga hulu di Dharmasraya, Sumatra Barat. Hampir semua situs menunjukkan masyarakatnyapenganut ajaran Buddha, khususnya Vajrayana. Menurut arkeolog Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo,konon aliran Buddha di sini dipercaya sebagai aliran yang kemudian berkembang di Kepulauan Jepang. Keberadaannya seiring dengan aktivitas pelayaran niaga dengan Tiongkok. Dari Tiongkok, aliran ini dibawa oleh para biksu dalam rombongan saudagar melalui jalan darat, menyebrang ke Kepulauan Jepang. “Keberadaan aliran ini terlihat pada arca-arca Buddha yang ditemukan di DAS Batanghari, terutama arca-arca logamnya,” tulis Bambang dalam Rumah Peradaban Sriwijaya di Muarojambi: Persinggahan Terakhir . Di Muaro Jambi terdapat Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, Candi Astano, dan kepurbakalaan lainnya. Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam “The Structure of Stupas at Muara Jambi” termuat di majalah arkeologi Kalpataru , Vol. 23 No. 2, November 2014,menjelaskantemuan sisa-sisa bata dengan inskiripsi “bija-mantra”, torehan-torehan bunga padma ,dan beberapa arca,menunjukkan Muaro Jambi bernapaskan ajaran Buddha. Khususnya pada Candi Gumpung, ahli epigrafi Boechari pada 1985 pernah membaca inskripsi yang menjadi peripih candi itu. Ia berpendapat bahwa peripih itu berupa susunan dewa-dewa dalam Vajradhatu-mandala. Artinya , Candi Gumpung bersifat Buddha Vajrayana . Entah siapa yang memulai, sekira abad ke-13, penduduk Batanghari rupanya menjalin hubungan dengan Kerajaan Singhasari di Jawa. Pada 1286, Raja Singhasari, Sri Maharaja Kertanegara yang juga menganut Tantrayana mengutus pejabat tingginya untuk membawa dan mempersembahkan arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada rakyat Dharmasraya. Menurut Bambang, persahabatan ini tampaknya terjalin cukup lama. Terindikasi dari gaya seni arca Prajnaparamitha yang ditemukan di reruntuhan Candi Gumpung. Prajnaparamitha adalah dewi ilmu penetahuan dalam ajaran Buddha Mahayana. Gayanya mirip dengan arca tokoh yang sama dari Candi Singhasari. Artefak Vajrayana dari Muara Takus Aliran Vajrayana juga dianut oleh penduduk yang berabad lalu menghuni wilayah sekitar Sungai Kampar Kanan, Riau. Tampak dari hasil penggalian oleh Ery Sadewo dan tim Balai Arkeologi Medan pada 2013. Dari gundukan tanah di kawasan sekitar candi utama Muara Takus, mereka menemukan artefak perunggu berwujud manusia berkepala gajah yang di identifikasi sebagai Ganapati atau Ganesha. Selain itu, cermin perunggu yang salah satu sisinya dilapisi emas dengan presentasi mencapai 83 persen, artinya hampir 24 karat. Temuan lain, vajra adalah alat upacara khas agama Buddha aliran Tantrayana. Bentuknya serupa dengan yang ditemukan di sekitar Candi Borobudur, Jawa Tengah dan di muatan kapal karam di pantai utara Cirebon. Lalu temuan bata bertulis yang secara paleografis menunjukkan pertanggalan antara abad ke-11 hingga ke-13. Isinya mantra Buddha berbunyi: “ om ah bighnanta kr hum phat svaha ”. Menurut Ery, mantra itu adalah varian suatu mantra Amrtakundali(n) , sosok dewa pelindung yang berkaitan dengan Kuvera maupun Vinayaka (Ganesha). Dalam suatu mandala atau diagram magis Buddha Amrtakundali(n) berada di arah mata angin utara. “Nah , artefak-artefak tadi fungsinya apa dalam konsep Buddha Vajrayana?” kata Ery. Ery menjelaskan makna artefak-artefak itu dalam Buddha Vajrayana: cermin adalah simbol kebersihan hati dan vajra (petir atau berlian) adalah simbol pencerahan, sama dengan tokoh Ganapati atau Ganesha. “Dalam tradisi Buddha Mahayanan sosok ini adalah salah satu Boddhisatva yang mendampingi Avalokitesvara,” kata Ery. Maka, jelas candi yang oleh pihaknya disebut sebagai Candi Vajra di Kompleks Percandian Padang Lawas itu adalah candi yang dilatarbelakangi Buddha Mahayana, khususnya sekte Vajrayana. Berdasarkan data arkeologis yang ada di situs-situs tadi, belum bisa dipastikan apakah ada hubungan secara langsung. Namun , situs-situs itu diperkirakan berasal dan punya rentang waktu yang kurang lebih sama. Berdasarkan pertanggalan Candi Vajra di Muara Takus misalnya, diketahui aktivitas di sana terjadi sejak abad ke-10 hingga abad ke-17. Lalu biaro-biaro di Padang Lawas kemungkinan besar sudah ada sejak abad ke-11 hingga abad ke-14. “Apakah (Candi Muara Takus, red. ) difungsikan sebagai rumah ibadah sepanjang masa itu, ini belum bisa ditentukan. Muaro Jambi pun sama, sejak abad ke-10 akhir atau ke-11 awal sampai abad ke-14 M,” kata Ery. Begitupula latar belakang agamanya yang sama. Menurut Ery, ketika masa dibangunnya situs-situs itu, Buddhisme aliran Vajrayana atau Tantrayana memang tengah populer. “Nanti pada masa yang lebih muda lagi itu lebih Tantris lagi sifatnya, lebih demonic , muncul penggambaran-penggambaran raksasa dan sebagainya. Seperti yang di Sumatra Barat di Pulau Sawah, di D h armasraya, kemudian Singhasari di Jawa,” kata Ery.

bottom of page