- 30 Jun 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 29 Apr
MASA revolusi mempertemukan Hoegeng Iman Santoso dengan Presiden Sukarno. Pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1947 di Yogyakarta, Hoegeng diperbantukan sebagai pengawal Bung Karno. Waktu itu Hoegeng tercatat sebagai mahasiswa Akademi Kepolisian Mertoyudan angkatan pertama (kini Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian).
Suatu hari, Hoegeng ditugaskan komandannya untuk mengawal Sukarno ke suatu tempat. Entah bagaimana ceritanya, dia lupa sarapan saat itu. Jadilah di tengah gegap gempitanya pidato Bung Karno itu, perut Hoegeng keroncongan. Sadar Bung Karno kalau pidato memakan waktu berjam-jam, Hoegeng lantas bersiasat guna memenuhi panggillan alam dari lambungnya.
“Karena saya tahu pidatonya bakal lama sekali, saya memberanikan diri njlintis (menyelinap) ke dapur,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori, 22 Agustus 1992 yang kemudian termuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















