top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

    SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Di hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu. Schmeling dag-dig-dug. Ia sengaja berperjalanan hampir tujuh ribu kilometer dari Hamburg hanya untuk bisa bertemu sang tuan rumah. “Tak lama kemudian saat pintu terbuka muncullah sosok bertubuh besar yang biasa dijuluki ‘Brown Bomber’. Dialah Joe Louis. Posturnya lebih gemuk dan rambutnya tak selebat dulu, seingat sang tamu,” ungkap Patrick Myler dalam Ring of Hate: Joe Louis vs Max Schmeling. Pertemuan Maximilian Adolph Otto Siegfried Schmeling (kiri) & Joseph 'Joe' Louis Barrow saat reuni pada 1954 (Foto: Library of Congress) Louis terkejut melihat Schmeling duduk di ruang tamu rumahnya dan kemudian berdiri. Namun, sekejap kemudian dua musuh lama itu saling mengumbar senyum tulus. Louis sontak menjatuhkan tas golfnya lalu mendekat untuk memeluk erat Schmeling. “Max, betapa senangnya bisa bertemu Anda lagi,” cetus Louis yang yang terakhir kali bertemu Schmeling 16 tahun sebelumnya. Bedanya, pertemuan ketiga di antara dua petinju legendaris itu tak terjadi di atas ring dan tidak dengan suasana penuh kebencian untuk saling “membunuh” gegara dikompori isu politik. Representasi Paman Sam vs Swastika Sebagaimana Muhammad Ali-Joe Frazier, Mike Tyson-Evander Holyfield, atau Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr., rivalitas antara Joe Louis dan Max Schmeling adalah cerita perseteruan terbesar di atas ring tinju. Faktor penyebabnya  adalah isu politik antara Jerman Nazi dan Amerika sebagai tanah kebebasan pada 1930-an. Rivalitas bermula dari petualangan Schmeling pada 1928 untuk merintis reputasi di Amerika, kiblat tinju profesional. Pesatnya prestasi Schmeling membuahkan sabuk gelar dunia pertama kelas berat versi NBA (kini WBA) dua tahun berselang. Namun,  pada 1932 ia kehilangan gelar itu usai dikalahkan Jack Sharkey. Pertemuan perdananya dengan Louis tak lepas dari ambisi Schmeling merebut gelar lagi yang pada 1936 tengah dipegang James Braddock. Untuk jadi penantang utama Braddock, Schmeling mesti lebih dulu berhadapan dengan Louis yang juga membidik gelarnya. “Pertarungan keduanya mengimplikasikan masa depan terkait relasi ras dan prestis dua negara kuat. Setiap petarung menanggung beban lebih daripada atlet lainnya di pundaknya,” tulis David Margolick dalam Beyond Glory: Joe Louis vs Max Schmeling, and a World on the Brink. “Louis merepresentasikan demokrasi dalam bentuk paling murni: bocah Negro yang meretas jalan menuju juara dunia dengan mengesampingkan ras atau warna kulit. Schmeling merepresentasikan sebuah negara yang tak mengakui gagasan dan idealisme itu,” tambahnya. Satu dari sekian ilustrasi promosi duel Louis vs Schmeling di suratkabar New York Evening Journal edisi 15 Juli 1935 Pertarungan itu lalu diwujudkan oleh Joe Jacobs, manajer Schmeling asal Hungaria yang berdarah Yahudi. Kesepakatannya dicapai pada 1935 dan laga dijadwalkan pada 19 Juni 1936 di Yankee Stadium, New York. Louis yang tengah berada di puncak kariernya, mengumbar kepercayaan diri mengingat statistik Schmeling yang sudah punya catatan tujuh kali kalahsepanjang karier profesionalnya. “Saya rasa dia tak terlalu tangguh. Dari foto-fotonya tampak dia bisa memukul dengan kedua tangannya tapi saya pikir meski ia bisa melayangkan pukulan, setidaknya takkan terlalu menyakiti saya,” tutur Louis, dikutip David L. Hudson Jr. dalam Boxing in America: An Autopsy. Dalam persiapannya di kamp milik Madame Bey di Lakewood, New Jersey, Schmeling tak hanya menggenjot fisik tapi juga mempelajari setiap gerakan Louis dari sejumlah rekaman film laga-laga Louis. Schmeling berupaya mencari celah dan kelemahan yang jarang dicermati lawan-lawan Louis sebelumnya. “Setiap kali setelah Joe melepaskan hook kiri pendeknya yang berbahaya, seringkali itu juga dia menurunkan tangan kirinya. Hal itu hampir luput dari pengamatan kecuali jika dipelajari dengan pengamatan yang sistematik. Kebiasaan ini berarti untuk sepersekian detik, sisi kiri wajah Louis akan terbuka untuk pukulan tangan kanan,” kata Schmeling dalam Max Schmeling: An Autobiography. Butuh 12 ronde bagi Max Schmeling menganvaskan Joe Louis pada duel jilid I pada 1936 (Foto: max-schmeling-stiftung.de ) Sementara, Louis yang over-‘pede’ justru tak berlatih sekeras Schmeling. Dalam Joe Louis: The Life of a Heavyweight, Lew Freedman menyebutkan Louis malah lebih sering main golf yang jadi hobi barunya ketimbang menguras keringat dengan pelatih Jack Blackburn di kamp latihannya. “Louis terlena dengan puja-puji yang dituliskan di koran-koran, bahwa dia petinju yang tak terkalahkan, seorang Superman-nya ring tinju. Untuk pertamakali dalam kariernya Louis tak mendengarkan pelatihnya. Tak banyak berdoa seperti sebelumnya. Kamp latihannya malah seperti kamp musim panas,” tulis Freedman. Dua Pukulan KO Hari-H duel Schmeling-Louis, 19 Juni 1936, di Yankee Stadium. Tiket terjual habis untuk 40 ribu penonton. Pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Arthur Donovan itu mulanya berjalan monoton. Schmeling melancarkan taktik counter-attack dan berusaha sabar menanti kans-kans di celah pergerakan Louis untuk melepaskan serangkaian jab yang diselingi pukulan cross ke dagu Louis. Ronde demi ronde, taktik Schmeling membuahkan luka di salah satu mata Louis. Di ronde ke-12, Louis mulai jadi bulan-bulanan Schmeling. Nafsu Louis untuk membalas kemudian justru menguras energinya. Walau stamina keduanya sudah menurun, Schmeling melihat satu kesempatan untuk menghabisi rivalnya. “Ketika Louis tengah mencoba melepaskan hook kirinya, Schmeling melontarkan pukulan ke sisi kanan tubuh Louis dan disusul pukulan kanan lagi ke rahang Louis. Louis terlempar ke tali ring tinju, Schmeling melepaskan pukulan lagi bertubi-tubi hingga Louis tersungkur ke kanvas,” lanjut Freedman. Hitungan ke-10 wasit Donovan di menit kedua lebih 29 detik pada ronde ke-12 menandai berakhirnya duel sengit tersebut dengan kemenangan KO Schmeling. Publik Jerman bereuforia. Schmeling pulang sebagai pahlawan. Sementara imbas kekalahan Louis meninggalkan kepedihan hebat di seantero Amerika yang memperparah situasi depresi ekonominya. “Kekalahannya (Louis) menjadi duka nasional. Di jalan-jalan saya melihat pria-pria dewasa menangis seperti anak-anak, para wanita terduduk di trotoar dengan menundukkan kepala. Di seluruh negeri di malam ketika Joe kalah KO, semua menangis,” kenang aktivis Afro-Amerika Langston Hughes yang menonton langsung duel itu dalam otobiografinya, The Collected Works of Langston Hughes. Bagi Schmeling, kemenangan itu mestinya jadi penentu bahwa dia berhak jadi penantang utama gelar melawan Braddock. Namun lantaran Schmeling diperalat Adolf Hitler sebagai simbol supremasi ras Arya Jerman Nazi, New York State Athletic Commission berpikir ulang untuk memberi lampu hijau duel Schmeling kontra Braddock di Amerika. Yankee Stadium yang berkapasitas 70 ribu penonton, venue duel Louis vs Schmeling pada 1936 dan 1938 (Foto: Repro "War in the Ring") Kalkulasi ekonomis juga jadi faktor yang jadi pertimbangan. Kian gencarnya anti-semitisme di Jerman terhadap Yahudi, duel Braddock-Schmeling bakal dihadapkan pada boikot lantaran sekira 75 persen penonton setia tinju di New York adalah orang Yahudi. Schmeling yang marah berupaya dengan segala cara untuk bernegosiasi agar Braddock mau bertarung di Jerman. “Promotor Walter Rothenburg juga menawarkan Braddock dan (manajer Joe) Gould uang pertarungan USD350 ribu di rekening bank non-Jerman, hak siar film dan radio, hak memilih wasit dan juri-juri Amerika. Namun Gould melunjak dan meminta bayaran lebih dan kebijakan yang lebih setara untuk orang-orang Yahudi di Jerman,” ungkap Randy Roberts dalam Joe Louis. Tuntutan balik manajer Braddock itu jelas ditolak promotor yang merupakan kolega dekat Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels. Akhirnya, Schmeling gagal berebut gelar dan Louislah yang akhirnya mendapat kans merebut gelar dari Braddock. Langkah Schmeling di jalur hukum juga tak membuahkan hasil. “Setelah kegagalan (melawan) Braddock, sudah jelas bagi saya. Seorang juara dunia Jerman di tahun 1931 mungkin masih bisa ditoleransi, namun juara dunia dari Jermannya Hitler tak bisa diterima oleh siapapun,” tutur Schmeling yang murka. Max Schmeling sempat protes lantaran tak mendapat haknya menjadi penantang gelar (Foto: ushmm.org ) Louis sukses menganvaskan Braddock di ronde kedelapan dalam duelnya pada 22 Juni 1937. Meski sudah melingkarkan sabuk gelar kelas berat NBA di pinggangnya, Louis mengaku belum bisa berpuas diri. Dia masih menyimpan dendam terhadap Schmeling. “Saya tak ingin siapapun menyebut saya seorang juara sampai saya bisa mengalahkan Schmeling,” kata Louis dikutip Hudson Jr. Baru setelah dua kali meladeni dua pertarungan wajib mempertahankan gelar, Louis bisa berkesempatan satu ring lagi dengan Schmeling. Pertarungan yang oleh sejumlah media disebut sebagai “Pertarungan Abad Ini” itu dijadwalkan dihelat 22 Juni 1938 di Yankee Stadium. Duel jelang Perang Dunia II itu sudah sarat politik. Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt sampai mengunjungi kamp latihan Louis. “Joe, kami semua mengandalkan otot-otot Anda demi Amerika,” kata Roosevelt. Dukungan Roosevelt membuat Louis paham bahwa duel itu takkan sekadar jadi duel tinju. “Seluruh negeri ini bergantung pada saya. Saya tak hanya bertarung demi dendam yang menodai rekor saya, namun juga demi Amerika terhadap penyerbu asing, Max Schmeling. Duel ini tak sekadar antara Joe Louis melawan Max Schmeling; duel ini adalah pertarungan USA melawan Jerman,” tutur Louis. Jika di duel pertama dimenangi Schmeling, pada pertarungan keduanya di 1938 dimenangi Louis dengan KO di ronde pertama (Foto: wbaboxing.com/loc.gov ) Schmeling juga insyaf bahwa kali ini teror publik di Yankee Stadium bakal lebih intimidatif terhadapnya. Maka Schmeling menyiapkan mentalnya lebih keras. Begitu hari-H, saat Schmeling masuk dari lorong ke ring, ia dilempari sampah dari tribun-tribun penonton. Mimpi buruk Schmeling dilengkapi dengan kekalahannya ketika ronde pertama baru bergulir dua menit empat detik. Louis sejak detik pertama yang terus menekan dan mencecar, mendapati salah satu pukulannya dengan telak mengenai ginjal Schmeling. Sontak Schmeling kolaps dan tak mampu bangkit lagi. Kemenangan KO tercepat di masa itu tersebut sekaligus jadi penebusan Louis. Setahun berselang, Perang Dunia II pecah. Louis mengajukan diri jadi sukarelawan di Angkatan Darat Amerika, sedangkan Schmeling masuk wajib militer jadi pasukan payung di Angkatan Udara Jerman Nazi sebagai ganti penolakannya masuk anggota Partai Nazi. Merenungi masa lalunya yang dibayang-bayangi panji swastika, Schmeling mengakui dia bersyukur kalah dari Louis. “Bayangkan jika saya kembali ke Jerman dengan kemenangan. Saya tak punya hubungan apapun dengan Nazi, tetapi mereka akan memberi saya medali. Setelah perang mungkin saya akan dianggap sebagai penjahat perang,” kenang Schmeling. Di Perang Dunia II, Louis mengabdi di AD Amerika & Schmeling di pasukan payung AU Jerman (Foto: National Archives/Bundesarchiv) Sejak saat itu mereka tak pernah lagi bersua hingga pada 1954 ketika Schmeling memberanikan diri mengunjungi kediaman Louis di Chicago. Setelah saling berpelukan, Schmeling dan Louis pun larut dalam perbincangan cair dan hangat sambil menyeruput kopi dan berlanjut makan malam bersama di sebuah restoran. “Schmeling ingin mengklarifikasi bahwa sejumlah pernyataan di media-media Jerman menyoal duel pada 1936 dan 1938 bukanlah pernyataan dari mulutnya, melainkan rekayasa propaganda Nazi. Seperti pernyataan ‘Orang kulit hitam akan selalu gentar menghadapi saya. Dia (Louis) petinju inferior,’ atau pernyataan ‘Hitler mengirim Schmeling ke Amerika untuk menghancurkan Louis berkeping-keping’,” sambung Myler. “Louis kemudian merespon untuk menenangkannya. ‘Lupakan semua itu. Sejak lama banyak orang mencoba hal yang sama. Mungkin saat itu saya percaya apa yang dituliskan di media. Namun sekarang saya lebih paham’,” lanjutnya. Seperti janji mereka saat makan malam itu usai, Schmeling dan Louis beberapakali lagi bereuni di luar ring tinju. Persahabatan yang terjalin kian hangat dan erat. Schmeling bahkan acap menyokong Louis kala tertimpa masalah finansial dan kesehatan. Persahabatan itu baru berakhir kala Louis wafat karena serangan jantung pada 12 April 1981, di mana pemakamannya di Arlington National Cemetery dibiayai penuh oleh Schmeling.

  • Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor

    Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, iseng membeli pakaian ke akun yang diduga melakukan penipuan. Kaesang memberikan alamat pengiriman ke Istana Kepresidenan Bogor. Warganet pun menanggapinya sehingga Istana Bogor menjadi trending topic . Kaesang meminta maaf sambil beralasan kalau dikirim ke rumah pribadi, tidak ada orang karena tidak ada yang menempati. “Maaf pak saya baru tau kalo saya gak boleh kirim paketan ke Istana Bogor. Lain kali saya marahin ibu saya karena beliau sering kirim kerupuk dari Solo ke Istana Bogor,” cuit Kaesang ( @kaesangp , 7/9/2020). Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan. Sejarahnya bermula ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) merasa gerah dengan panasnya Batavia. Ia jalan-jalan ke Bogor dan terpana oleh kawasan sejuk yang mengingatkan pada tempat kelahirannya. “Imhoff lalu menamakan daerah ini Buitenzorg, rangkaian kata buiten  dan zorg  yang artinya ‘keluar (dari zona) peduli’,” tulis Agus Dermawan T., kritikus dan kurator seni rupa, dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden . Sementara itu, sejarawan Saleh Danasasmita (1933–1986) memberikan penjelasan berbeda bahwa Imhoff sebenarnya tidak pernah merencanakan bangunan permanen di tempat itu.Ia merencanakannya di Cipanas. “Bangunan sederhana yang didirikannya pada lokasi Istana Bogor mulanyadimaksudkan untuk singgah beristirahat dalam perjalanan dari benteng Batavia ke Cipanas,” tulis Saleh dalam Sejarah Bogor Bagian 1 . Istana Bogor tahun 1971. (Arsip Nasional Belanda/Wikimedia Commons). Saleh menyebut Imhoff termasuk tipe kaum elite terpelajar Eropa Barat yang cenderung kepada liberalisme Prancis dan menganut romantisme ajaran filsuf Jean Jacques Rousseauyang menganjurkan manusia kembali ke alam. Oleh karena itu, mereka mencari daerah yang sebisa mungkin belum terjamah peradaban. “Mereka mencari tempat-tempat yang sepi dari urusan, mencari persembunyian di mana kesibukan tidak mungkin mengejarnya,” tulis Saleh. Mereka membangun vila sederhana yang mungil dan serasi dengan alam. Tempat-tempat semacam itu dinamakan sanssouci , sebuah kata Prancis yang berarti “tanpa kesibukan” atau “tanpa urusan”.Orang-orang Belanda menerjemahkannya menjadi buitenzorg . “Demikianlah bangunan sederhana yang didirikan Van Imhoff pada lokasi Istana Bogor yang sekarang diberinya nama Buitenzorg menurut mode yang sedang musim di negaranya,” tulis Saleh. Para gubernur jenderal sangat suka dengan Vila Buitenzorg itu sebagai tempat beristirahat darikesibukan, kesesakan, dan kepengapan udara benteng Batavia. Dengan Surat Keputusan Dewan Direksi VOC di Amsterdam tanggal 7 Juni 1745, Imhoff mengusulkan lahan di sekitar Buitenzorg sebagai eigendom dan para gubernur jenderal selanjutnya in officio . “ Dengan demikian tanah Buitenzorg itu dijadikan semacam tanah bengkok yang harus dibeli oleh tiap g ubernur jenderal baru kepada pejabat lama yang diganti,” tulis Saleh. Namun, penjelasan Agus Dermawan menunjukkan bahwa Vila Buitenzorg bukan bangunan sederhana. “Imhoff merancang bangunan di lahan seluas hampir 30 hektar.Sketsa planologi dan bentuk gedung ia buat sendiri. Bangunan yang digarap ditengarai meniru arsitektur Blenheim Palace, Istana Adipati (Duke, red .) Malborough di dekat Oxford, Inggris,” tulis Agus Dermawan. Namun, ada yang mengatakan bahwaImhoff mengadopsi arsitektur Sanssouci di Potsdam, dekat Berlin, Jerman, lantaran ia punya darah Jerman. “Sanssouci adalah nama istana Kaisar Frederick Agung di Jerman. Tentunya, si tuan tanah ingin hidup seperti seorang kaisar,” tulis Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe. Sanssouci, istana musim panas Kaisar Prusia Frederick Agung di Potsdam, Berlin, Jerman, sekitar tahun 1900. (Library of Congress/Wikimedia Commons). Menurut Agus Dermawan, Imhoff tak sempat menikmati hasilnya karena meninggal pada 1750. Proyeknya diteruskan Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Gedung cantik itu pun berdiri. Konsep Imhoff yang menstatuskan Vila Buitenzorg sebagai tempat istirahat dipertahankan. Itu sebabnya para gubernur jenderal yang berkuasa di Batavia berturut-turut memakai gedung ini sebagai tempat mengaso. Vila Buitenzorg mengalami perkembangan baik fisik maupun fungsi seiring pergantian gubernur jenderal. Pada 1809, Herman Willem Daendels memperluas dan menjadikannya istana resmi gubernur jenderal.   Agus Dermawan menyebut ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa di Jawa (1811–1816), ia merenovasi sejumlah bangunan. Ia juga mendatangkan enam pasang rusa yang biasa hidup di perbatasan dari Nepal. Rusa-rusa itu beranak pinak jadi sekitar 700 ekor.Bahkan, ia membuka lahan baru berupa hutan buatan yang ditanami ribuan jenis pohon sebagai tempat penelitian botani, selain sebagai paru-paru kota. Hutan ini kemudian disebut Kebun Raya Bogor . Rusa yang bebas berkeliaran di Istana Bogor. (Wikimedia Commons). Renovasi istana itu berikutnya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Van der Capellen pada 1818. Sayangnya, istana itu hancur karena gempa bumi besar pada 1834. “Pada 1850, bekasnya direnovasi dengan gaya arsitektur neoklasik, yang memakai barisan tiang tebal dan fronton segitiga. Bangunan megah yang dikelilingi taman hijau yang luas dan menghadap ke utara ke arah Batavia ini tetap berfungsi sebagai rumah dinas gubernur jenderal Hindia Belanda,” tulis Olivier. Menurut Agus Dermawan ketika Jepang menduduki Indonesia dan Jenderal Imamura berdiam di istana itu, seluruh dinding luarnya dicat cokelat dan hitam agar tak terlihat pesawat musuh. Kolam-kolamnya dikeringkan agar tidak memantulkan cahaya. Tanaman dibiarkan tumbuh liar sebagai kamuflase seperti ladang tak terurus. Hikmahnya, ladang liar itu menyelamatkan rusa-rusa dari kematian. Presiden Sukarno mewarisi istana itu pada 1949. Ia mulai merenovasinya pada 1952. Sambil dibenahi, ia mengisi sudut-sudut ruangan dengan patung-patung keramik. Dinding-dindingnya dihiasi koleksi lukisan-lukisannya yang berkualitas hebat. “Spirit Sukarno ini dipertahankan sampai sekarang,” tulis Agus Dermawan. “Karena itu, mengunjungi Istana Bogor seperti memasuki istana seni dengan dominasi tema perempuan. Sukarno memang meneruskan konsep Imhoff.”

  • Kisah Pengkhianatan di Palagan Garut

    Suasana Desa Parentas (masuk dalam Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya) mendadak ramai dini hari itu. Para penduduk dikejutkan oleh suara tembakan bersahutan dari arah Legok Dora yang merupakan basis Markas Besar Gerilja Galoenggoeng (MBGG), kelompok gerilyawan pro Indonesia di Garut-Tasikmalaya. “Kami kaget karena sebelum kejadian itu, wilayah desa kami aman-aman saja dan tak pernah terjamah tentara Belanda,” ungkap Kojo (92), penduduk Desa Parentas. Arsip Nasional Belanda bernomor akses 2.24.04.01 menyebut operasi militer di kaki Gunung Dora itu berlangsung pada 25-26 Oktober 1948. Tujuannya adalah memburu sejumlah “pimpinan teroris” yang terdiri dari eks tentara Jepang (empat di antaranya berkebangsaan Korea). Sebagai gugus tugas dipilihlah Batalyon ke-3 dari Resimen Infanteri ke-14 (3-14-RI). Operasi perburuan itu bisa dikatakan sangat sukses. Tim buru sergap 3-14-RI berhasil menewaskan 3 orang Jepang dan meringkus Guk Jae-man alias Shiro Yama alias Soebardjo, Masharo Aoki alias Aboe Bakar, Yang Chil Sung alias Yanagawa alias Komaroedin, Hasegawa Katsuo alias Oesman dan Djoeana Sasmita (Komandan MBGG). Namun menjelang siang, Soebardjo mencoba lari dan langsung dieksekusi. “(Soebardjo) tertembak mati…” tulis Djoeana dalam selembar catatan hariannya. Cukanglantaran digrebeknya basis MBGG di Gunung Dora sudah bisa dipastikan adalah karena pengkhianatan. Menurut Ojo Soepardjo, eks anggota MBGG, pembocor posisi basis pasukannya tak lain seorang kawan sendiri yang berhasil secara diam-diam direkrut oleh intelijen militer Belanda. “Begitu para komandan tertangkap, tiga hari kemudian orang itu juga berhasil kami ringkus dan langsung disembelih,” kenang Ojo yang pada beberapa bulan lalu baru saja wafat. Menurut Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia , sebelum Operasi Gunung Dora, pihak militer Belanda telah memberikan iming-iming hadiah sebesar 1.000 Gulden bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi keberadaan orang-orang Jepang dan Korea tersebut. “Alhasil seorang istri prajurit Indonesia melaporkannya,” ungkap Aiko. Namun ada versi lebih menarik terkait kasus pengkhianatan itu. Datangnya dari Kim Moon Hwan, peneliti sejarah asal Korea Selatan yang sudah hampir belasan tahun menelisik soal keberadaan orang-orang Korea dalam revolusi Indonesia. Dari salah seorang sumber lokal yang berhasil diwawancarai-nya pada 2012, Kim Moon Hwan mendapat informasi bahwa pelaku pengkhianatan itu adalah seorang gadis Garut sendiri bernama Eha. Menurut  narsumbernya, Eha sejatinya adalah bagian dari kaum gerilyawan. Dia bahkan memiliki kedekatan dengan salah seorang eks tentara Jepang asal Korea yakni Yang Chil Sung alias Komarudin. “Namun tidak tahu bagaimana ceritanya, hubungan Yang Chil Sung dengan Eha menjadi tidak baik. Kata narasumber saya, Chil Sung menolak cinta Eha dan itu membuatnya sakit hati lalu membocorkan keberadaan basis MBGG di Gunung Dora,” ungkap Kim Moon Hwan kepada saya. Kalaupun cerita yang disampaikan oleh narasumber Kim Moon Hwan itu benar, sepertinya jaringan intelijen yang dibangun oleh militer Belanda tersebut melibatkan beberapa agen. Pertanyaannya, siapa agen yang langsung turun ke lapangan untuk menyertai operasi perburuan itu? Emen (93), salah seorang penduduk Kampung Pamengpeuk yang terletak di bawah Desa Parentas membenarkan adanya seorang penduduk lokal yang terlihat bersama rombongan tentara Belanda yang menangkap para gerilyawan MBGG. Bahkan menurutnya, ketika tentara Belanda sepulang dari Legok Dora melakukan aksi pembakaran rumah-rumah penduduk yang dicurigai memiliki hubungan dengan MBGG, dia melihat sendiri sang penduduk lokal itulah yang  menunjukan rumah mana saja yang harus dibakar atau tidak. “Kami tahu dia orang Panyeredan (tetangga Pameungpeuk). Tak kami sangka ternyata dia anjing Belanda,”ujar Emen dalam nada geram. Seterusnya 4 gerilyawan MBGG yang menjadi tawanan tersebut dibawa ke Ciharus (markas tentara Belanda di wilayah Wanaraja). Dari sana mereka kemudian dipindahkan ke Jakarta. Menurut catatan harian Djoeana, mereka kemudian dipisahkan: Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman ditahan di Penjara Glodok sedangkan Djoeana dijebloskan ke Penjara Cipinang. * GARUT, Februari 1949, Bijzonder Krijgsgerecht (Pengadilan Militer Luar Biasa)  dibawah Oditur Militer Letnan Kolonel W. Supheert  telah memutuskan Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman dihukum mati sedangkan Djoeana hanya mendapat hukuman penjara seumur hidup. “Mereka dinyatakan bersalah karena dianggap telah melanggar kesepakatan Perjanjian Renville dengan secara sadar tetap tinggal di wilayah Jawa-Barat sambil menjalankan aksi-aksi mengacaukan keamanan. Mereka juga diyakini mempunyai rencana akan memimpin aksi gerakan penyerangan besar-besaran ke Garut dan Tasikmalaya pada 1 Januari 1949, atas instruksi dari Yogyakarta,” demikian menurut De Locomotief , 22 Februari 1949. Sejak vonis itu diputuskan, ketiga eks tentara Jepang itu tidak lagi dibawa ke Penjara Glodok, namun dititipkan  di Penjara Garut. Menurut Yoyo Dasrio salah seorang jurnalis Garut yang sempat menelusuri kisah ini, dua hari menjelang hukuman mati dilangsungkan mereka bertiga membuat permintaan terakhir. “Saya dengar sendiri dari Lebe (penghulu agama Islam) yang mengurus mereka bertiga menjelang kematian, saat menjalani hukuman mati mereka ingin berpenampilan seperti bendera Republik Indonesia: memakai sarung merah dan baju serta celana berwarna putih,”ungkap Yoyo kepada saya pada 2015. Sabtu, 21 Mei 1949 (berdasarkan berita yang dilansir dari surat kabar Het Dagblad , 24 Mei 1949 dan Nieuwe Courant , 24 Juni 1949), Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman digiring ke kawasan komplek pemakaman Belanda (Kerkof) di Garut. Tepat di pinggir Sungai Cimanuk, mereka ditembak mati dalam penampilan seperti bendera Merah-Putih. Jasad mereka kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pasirpogor, sebelum pada 1975 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut.

  • Cheng Ho dan Bajak Laut Buronan di Palembang

    CHEN Zuyi, kepala negara Ku-Kang (Palembang) telah lama menjadi bajak laut. Cheng Ho atau Zheng He mengirim utusan yang membawa pesan Kaisar Yongle untuk memanggilnya. Chen Zuyi pura-pura menurut. Ternyata, ia berencana merampok Cheng Ho. Rencananya gagal dan ia ditangkap.

  • Kolonel Djati Nyaris Ditembak Anak Buah "Benny" Moerdani

    Setelah menolak tawaran menjadi wakil KSAD dari KSAD Mayjen AH Nasution, Kolonel Djatikusumo mendapat tugas khusus pada akhir 1957. Tugas tersebut terkait dengan kekisruhan di Sumatera menyusul perampasan jabatan gubernur Sumatera Tengah oleh Kolonel Ahmad Husein dari tangan Ruslan Muljohardjo pada Desember 1956. “Pada waktu itu saya adalah Direktur Zeni AD. Untuk mengatasi Sumatera, maka Nasution (sebagai KSAD, pen.) memerlukan seorang senior. Karena harus mengatasi Jamin Gintings, Simbolon, dan Ahmad Husein. Akhirnya saya dijadikan Koordinator Operasi-operasi militer di Sumatera. Jabatan ini tanpa besluit , karena resminya saya masih menjabat Direktur Zeni,” ujar Djatikusumo kepada Solichin Salam yang menuliskannya dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo, Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Selain mendapat tugas sebagai koordinator operasi militer di Sumatera, Djati juga mendapat tugas khusus lain. “Saya diberi tugas khusus membawa pasukan dari Medan ke Bukittinggi, mendampingi Mayor Raja Syahnan,” sambungnya. Djati pun bertolak ke Sumatera pada 1957 dengan membawa serta beberapa taruna Atekad. Keputusannya untuk memberi pengalaman tempur pada para taruna itu sempat mengundang pertanyaan dari KSAD. KSAD akhirnya memaklumi setelah diberi penjelasan. Di antara taruna Atekad yang ikut serta adalah Try Sutrisno (kelak menjadi wakil presiden). Try amat terkesan dengan model penugasan yang dibuat Djati. “Praktik lapangan yang paling berkesan adalah pelibatan para taruna Atekad dalam tugas operasi Sumatera Barat. Dari situ kami para taruna dapat menerapkan ilmu dan seni kepemimpinan prajurit, maupun merasakan dan menghayati secara langsung dinamika pelaksanaan operasi, dalam situasi dan kondisi yang sebenarnya. Penugasan operasi semasa taruna di dalam periode kepemimpinan Pak Djati merupakan pengalaman langka dan sangat berharga,” kata Try dalam testimoninya, “Pak Jati di Mata Saya”.   Namun kehadiran Djati di Sumatera beriringan dengan makin menguatnya komplotan perwira daerah penentang pusat yang berujung pada pembentukan PRRI (Februari 1958). Maka ketika pasukan yang dipimpin Mayor Boyke Nainggolan menguasai Medan, Djati terpaksa menyingkir ke Pelabuhan Belawan. Keadaan genting itu membuat KSAD mengirim jawaban dengan melancarkan Operasi Tegas, Maret 1958, di bawah pimpinan Letkol Kaharuddin Nasution. Operasi tersebut berintikan tiga kompi, salah satunya Kompi A RPKAD di bawah pimpinan Letda “Benny” Moerdani yang beberapa hari sebelumnya berhasil merebut Lanud Simpang Tiga, Pekanbaru. Dalam operasi merebut Medan, TNI hanya mengerahkan dua kompi: satu, Kompi Benny, satu lagi kompi PGT AURI. Penerjunan dilakukan siang hari dan kedatangannya sengaja dibocorkan. Namun karena pembocoran itulah mungkin pasukan Boyke menyingkir. Maka ketika mengangkut Kompi Benny untuk penerjunan itu, pilot Kapten Udara Pribadi bingung melihat kota Medan sepi. Keadaan berbeda terlihat di Belawan dari udara. Di sana aktivitas berjalan ramai. Keretaapi masih beroperasi. Karena itulah Benny meminta diterjunkan di sana. Sebelum terjun, dia memberi perintah kepada anak buahnya agar menembak siapapun yang terlihat mengenakan baju hijau. “Dia tidak berani mengambil risiko. Sebab dia sadar, kali ini kemungkinan besar musuh sudah menghadang di bawah,” kata Julius Pour dalam biografi LB Moerdani, Tragedi Seorang Loyalis . Benar saja, ketika Benny dan pasukannya terus turun mendekati stasiun, tampak seorang pria mengenakan baju hijau sedang melambaikan tangan. Benny menajamkan pandangannya dan mendapatkan pria itu mengenakan seragam militer. Shooter Kopral Sihombing segera membidiknya. Namun, pelatuk senapan belum kunjung ditekan Sihombing. Seiring makin rendahnya parasut-parasut yang mengangkut pasukan Benny, sasaran semakin jelas terlihat. Benny buru-buru memerintahkan Sihombing agar jangan menembak. “Sekilas dia baru sadar, lelaki kurus dengan wajah bersih yang sedang melambai tersebut justru Kolonel Djatikusumo,” sambung Julius Pour. Maka selamatlah Djatikusumo.

  • Tan Sam Cai, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon

    “ DI sini ada kuburannya Tumenggung Aria Wira Tjoela. Ia Tan Sam Tjaij Kong orang Tiongkok yang dikasih pangkat dan gelaran nama Tumenggung Aria Wira Tjoela oleh kanjeng Sultan Kasepuhan dan dikasih tanah Sukalila. Wafatnya hari Senin tanggal 24 tahun Jawa 1739 dan dikubur tana Sukalila. Mufakatnya Major Tan Tjin Ki tanah kuburnya Tumenggung di perceel dan ditembok. ” Begitulah bunyi inskripsi pada sebuah nisan yang menempati lahan seluas 300m² di Jalan Sukalila Utara (belakang Pasar Pagi), Kota Cirebon, Jawa Barat. Warga Cirebon mungkin sudah tidak asing dengan makam berciri Tiongkok berukuran 5x5m tersebut. Pemiliknya adalah seorang Tionghoa Muslim yang pernah mengabdi di Kesultanan Cirebon bernama Tan Sam Cai Kong alias Syafi’I alias Tumenggung Arya Dipa Wira Cula. Nama Tan Sam Cai jarang disebutkan dalam catatan sejarah Cirebon. Keberadaannya seolah terabaikan, meski pernah berperan penting dalam pembangunan Kesultanan Cirebon. Namun arkeolog Rusyanti dalam penelitiannya Peran Tan Sam Cai Kong dalam Sejarah Cirebon  menyebut jika peranan tokoh ini secara lisan cukup moncer di kalangan masyarakat Tionghoa Cirebon. Mereka yakin bahwa Sam Cai banyak berperan membantu sultan, khususnya pada masa Sunan Gunung Jati dan setelahnya. “Tokoh ini juga sering dikaitkan sebagai arsitek pembangunan Tamansari Gua Sunyaragi dan Bendaharawan ulung pada masanya. Sumber sejarah yang membahas tokoh ini tidak banyak dan dengan versinya masing-masing,” tulis Rusyanti. Di dalam catatan sejarawan M.C. Ricklefs, Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: Antara Historisitas dan Mitos , Sam Cai merupakan keponakan penghulu Tionghoa Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi alias Adipati Wirya Sanjaya –vasal Kesultanan Cirebon yang berkedudukan di Kadipaten dengan kekuasaan hingga Samudera Hindia. Tidak ada informasi jelas mengenai tempat dan waktu kelahiran Sam Cai, maupun silsilah keluarganya. Tetapi menurut Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara , dia pernah bekerja di bawah Tan Eng Hoat sebagai pengawal pribadi putrinya yang akan dijadikan permaisuri sultan pertama Cirebon. Berdasar catatan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari , Ricklefs menyebut jika Sam Cai digambarkan sebagai administrator yang baik. Dia masuk ke dalam lingkaran pejabat istana antara 1569 sampai 1585. Sam Cai pernah menjabat menteri keuangan Kesultanan Cirebon sepeninggalan Sunan Gunung Jati (1568). Satu catatan penting mengenai Sam Cai adalah dia dicap sebagai seorang yang murtad. Di dalam berbagai penelitian menyebut bahwa dirinya seorang Muslim. Tetapi dia tidak bisa melepaskan kebiasaan untuk pergi ke kelenteng. Sam Cai, kata Muljana, setia mengunjungi kelenteng Talang, dan membakar hio (dupa Cina). “Walaupun demikian, Tan Sam Cai sangat besar berjasa memperkuat Kesultanan Cirebon dengan keuangannya sehingga dia tetap dipertahankan,” tulis Slamet Muljana. Tahun 1585, Tan Sam Cai wafat. Ada dugaan dia diracun di kediamannya sendiri yang terletak di Sunjaragi. Akibat berselisih dengan Haji Kung Sem Pak alias Muhammad Murdjani, seorang penjaga pekuburan pembesar-pembesar Kesultanan Cirebon di Sembung, jasad Sam Cai ditolak dimakamkan di sana. Menurut Tan Ta Sen dalam Cheng Ho and Islam in Southeast Asia , atas permintaan sang istri, Nurleila binti Abdullah Nazir Loa Sek Cong, Sam Cai akhirnya dipusarakan di pekarangan rumahnya sendiri secara Islam. Meski telah dimakamkan secara Islam, masyarakat Tionghoa non-Muslim di Cirebon tetap mengadakan upacara naik arwah untuk Sam Cai di Kelenteng Talang. Namanya ditulis dengan huruf kanji Cina di atas kertas merah, agar selamanya tersimpan di Kelenteng Talang. “Dia menjadi setengah dewa dengan nama Sam Cai Kong yang plakatnya ditempatkan pada posisi paling menonjol di altar leluhur. Dia menjadi orang suci yang menjawab doa jika cukup banyak dupa dibakar untuknya. Jadi pembakaran dupa adalah untuk berkomunikasi dengan dewa atau roh dirinya,” ungkap Tan Ta Sen.*

  • Horor Warsawa dari Mata Lensa Pewarta

    SERIBU kata mungkin takkan cukup untuk menggambarkan horor di Polandia pada 13 September 1939. Namun satu gambar saja sudah berbicara ribuan makna. Julien Bryan percaya itu. Sambil menahan pedih sejauh mata memandang di sebuah perkebunan kentang di pinggiran Warsawa, Bryan susah-payah menekan nuraninya untuk membuka lensa kameranya. Di perkebunan dekat Jalan Ostroroga itu, mata Bryan menangkap sesosok jasad wanita. Darah kental mengucur dari dadanya. Sementara gadis cilik di sampingnya histeris tak tahu harus berbuat apa selain mencoba membangunkannya. Tangisnya begitu menusuk hati Bryan. Bryan insyaf tragedi semacam itu akan jadi pesan sangat kuat untuk para pemimpin di dunia Barat agar bertindak lebih dari sekadar menyatakan perang terhadap Jermannya Adolf Hitler. Sambil menguatkan hatinya, Bryan pun mengarahkan lensa kamera Leica-nya ke arah mereka. “Saat kami (Bryan dan penerjemah Stefan Radlinski serta dua perwira pengawal Polandia) berkendara ke perkebunan kecil di tepi kota (Warsawa), kami hanya terlambat beberapa menit untuk menjadi saksi mata kejadian tragis. Tujuh perempuan tengah memanen kentang saat tetiba pesawat-pesawat Jerman menjatuhkan bom-bomnya hanya 200 yard dari sebuah rumah kecil,” Bryan mengisahkan dalam bukunya, Siege . “Dua wanita di rumah itu tewas. Para pemanen kentang lainnya tiarap berharap tak terdeteksi (pesawat Jerman). Namun setelah mereka kembali bekerja, para pilot Nazi yang tak puas kembali lagi menyapu daratan dengan senapan mesinnya. Dua dari tujuh wanita itu tewas. Saat saya memotret jasad-jasad itu, seorang gadis kecil berlari dan mendekati salah satu jasad korban,” tambahnya. Kolase foto Kazimiera Mika yang meratapi kematian kakaknya di ladang kentang yang dijepret Julien Bryan. ( ushmm.org / ipn.gov ). Di kemudian hari, identitas sang gadis diketahui sebagai Kazimiera Mika. Sementara perempuan yang tergolek tak bernyawa di rerumputan dan tubuhnya sudah memerah adalah Andzia Mika, kakak Kazimiera. Dari ledakan tangisnya, Kazimiera diasumsikan Bryan tak pernah mengalami kengerian seperti hari itu sebelumnya. Saat Bryan mendekat, Kazimiera menatap Bryan dengan tatapan kosong walau air matanya tak berhenti mengalir. “Sang gadis melihat kami dengan kebingungan. Saya spontan merangkulnya erat, berusaha menenangkannya. Dia terus menangis. Saya pun dan dua perwira Polandia yang ikut bersama saya ikut menangis,” kenang Bryan. Baca juga: Josef Mengele Dokter Keji Nazi Keguncangan yang dialami Kazimiera hanya satu dari kengerian yang dialami anak-anak dan warga Warsawa lainnya di pekan kedua September itu. Sejak 1 September 1939, mesin-mesin perang Jerman Nazi menerobos perbatasan Polandia. Tidak hanya dengan 66 divisi di daratan, namun juga lebih dari dua ribu pesawat turut dikerahkan. PK. Ojong dalam Perang Eropa Jilid I menguraikan, Jerman untuk pertamakali melancarkan Blitzkrieg (serangan kilat) dengan skema menjepit dengan dua sayap pasukannya. Dari jurusan Prusia ada Heeresgruppe Nord (Angkatan Darat/AD Grup Utara) pimpinan Generaloberst (Kolonel-Jenderal) Fedor von Bock yang mengandalkan Tentara AD ke-3 dan ke-4. Dari jurusan Silesia ada Grup AD Selatan yang dikomando Generaloberst Gerd von Rundstedt. Adapun Reichsmarschall Hermann Goering mengirim ribuan pesawatnya untuk menguasai angkasa Polandia sebagai penyempurna Blitzkrieg. Adolf Hitler memantau invasi ke Polandia dari tepi Sungai Vistula. (Bundesarchiv). “Setelah hampir semua tentara Polandia terkurung, nasib Warsawa sudah nyata: jatuhnya soal waktu saja. Hitler memberi titah membombardir ibukota yang sudah tak berdaya itu. Hitler hendak mencapai suatu tujuan politik. Dia tak sudi melihat kota itu jatuh ke tangah Soviet Rusia (Uni Soviet, red .),” tulis Ojong. Nahas bagi Polandia. Pada 17 September, Soviet latah menginvasi Polandia dari timur. Sekira 800 ribu Tentara Merah membanjiri wilayah-wilayah timur Polandia yang otomatis menghanguskan Pakta Perdamaian Riga (1921) dan Pakta Non-Agresi Polandia-Soviet (1932). Dikeroyok Jerman dan Soviet, Polandia pun bertekuk lutut pada 6 Oktober. Akibatnya, Polandia ibarat kue yang dibagi dua oleh Berlin dan Moskow. Jurnalis Asing Satu-satunya Gambaran di atas merupakan garis besar yang jadi pengetahuan para pemimpin Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Namun mereka belum mengetahui kengerian yang tertinggal saat terjadinya dan setelah invasi Jerman itu. Ketidaktahuan mereka itu baru “lunas” setelah melihat foto-foto jepretan Bryan. Jurnalis foto perang asal Amerika yang sejak Perang Dunia I sering berkeliling Eropa itu kebetulan pada 1 September 1939 sedang berperjalanan dengan keretaapi dari Venezia (Italia) dan tiba di Warsawa 7 September 1939. Setibanya di Warsawa, Bryan menemukan kekacauan di mana-mana. Warga sipil, para diplomat negara-negara asing, dan bahkan para wartawan asing melarikan diri. Bryan tergerak mencari tahu lebih detail ke Kedutaan Amerika di Warsawa namun kantor kedutaan sudah kosong. Para stafnya sudah kabur hampir berbarengan dengan para pejabat pemerintahan pusat Polandia. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Presiden Polandia Ignacy Mościcki dan Panglima Pasukan Polandia Marsekal Edward Rydz-Śmigły menyingkir ke Zaleshiki dekat perbatasan Rumania sejak 6 September. Akibatnya, kekacauan sporadis terjadi di Warsawa yang hanya dijaga aparat kepolisian dan pemerintah kota. “Sejauh mata memandang, ada ratusan orang berjalan kaki, dengan sepeda, mendorong gerobak, dan bahkan kereta bayi yang diisi barang-barang pribadi dan makanan. Setiap pukul 5.30 petang Nazi selalu mengirimkan pesawat-pesawat pembom dan setiap pagi ada saja sudut kota yang dihancurkan. Mungkin semestinya saya juga berusaha keluar dari Warsawa secepatnya,” kata Bryan. Kehancuran kota Warsawa oleh pemboman pesawat-pesawat Luftwaffe (AU Jerman). ( nac.gov.pl ). Bryan akhirnya memilih bertahan untuk sementara di Warsawa. Selain para jurnalis propaganda Jerman, tiada jurnalis asing yang mau merelakan nyawa guna mendokumentasikan kebrutalan Jerman Nazi terhadap Warsawa dan warganya. Maka dari kedutaan, Bryan segera menemui Walikota Warsawa Stefan Starzyński dengan bermodalkan kamera foto Leica dan kamera video Bell & Howell. “Gambar-gambar yang Anda ambil mungkin bisa jadi bukti bahwa ini peristiwa penting. Agar dunia tahu apa yang telah terjadi di sini,” ujar Walikota Stefan kepada Bryan, dikutip Roger Moorhouse dalam Poland 1939: The Outbreak of World War II . Baca juga: Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani Selain memberikan surat izin untuk mengambil gambar jika di lapangan ditanya polisi dan tentara Polandia, Starzyński juga menyediakan sebuah mobil Adler Trumpf beserta sopir dan seorang penerjemah. Nyaris di setiap sudut yang terdapat objek memilukan, Bryan memerintahkan sopir untuk menghentikan mobil guna mengambil gambar foto maupun video. Kisah Kazimiera dan para wanita korban kekejaman pesawat Jerman di perkebunan kentang salah satunya. Horor-horor nirmanusiawi itu merupakan buah kebiadaban Hitler. Awalnya, beberapa jenderal Jerman hanya ingin mengepung Warsawa dan membiarkan kota itu menyerah tanpa pertumpahan darah. Aliran-aliran gas, listrik, dan air pun sempat diputus. Namun, Hitler memutuskan kota itu harus diluluhlantakkan. Maka pada 9 September mesin-mesin perang Jerman menyerang Warsawa dan melakukan pengepungan total pada 13 September. Julien Bryan saat memfilmkan situasi horor saat pengepungan Warsawa walau nyawa taruhannya. ( ushmm.org ). Teror dari pesawat-pesawat Jerman tak hanya datang dari tembakan senapan mesin secara acak, namun juga dari ratusan ton bom yang dijatuhkan. Pembom tukik Junkers Ju 86 “Stuka” jadi momok yang paling ditakuti. Bunyi lantang “siulan” mesinnya kian menambah teror bagi para korban. “Jasad-jasad tak bernyawa jadi pemandangan tak mengenakkan. Saya tak bisa lupa melihat para wanita yang tubuhnya hancur dan kadang tanpa kepala, tangan, atau kaki. Dalam fotografi biasanya kami memikirkan komposisi akan keindahan suatu pemandangan. Tapi tidak ada keindahan di sini,” ungkap Bryan. “Wanita dan anak-anak jadi korban bom-bom musuh. Saya tidak sedang membuat catatan perjalanan. Suka atau tidak, saya berada di Warsawa, membuat rekaman bersejarah tentang apa yang terjadi dalam perang modern. Orang-orang mungkin takkan percaya cerita saya jika lewat kata-kata. Namun semua orang akan percaya dengan gambar-gambar saya,” sambungnya. Baca juga: Reinhard Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi Selama mengambil gambar, Bryan berdiam di kantor Konsulat Jenderal Amerika bersama warga Amerika dan warga negara-negara asing netral. Itu berlangsung hingga 21 September, saat militer Jerman menetapkan gencatan senjata sementara untuk mengizinkan warga-warga negara netral keluar dari Warsawa. Momen itu jadi kesempatan Bryan untuk keluar. Namun, sebelum keluar ia lebih dulu menyembunyikan rol-rol film foto di kaleng masker gas dan rol-rol video di dadanya dengan direkatkan melingkar dan ditutupi pakaian berlapis. Pasalnya, jika tidak begitu, film-film itu akan disita militer Jerman yang hanya membolehkan para pengungsi warga asing keluar dari Warsawa dengan bawaan satu koper. “Ketika rombongan kami (pengungsi) mengarah ke utara, kami melewati lalu-lalang yang ramai dari dua arah: kebanyakan konvoi kendaraan senjata, amunisi dan truk-truk berisi tentara menuju Warsawa. Kami melintasi desa-desa Polandia yang sudah rata dengan tanah. Para serdadu Jerman berjaga-jaga di tempat-tempat itu,” papar Bryan yang dikutip Glenn Kurtz dalam Three Minutes in Poland. Kolase potret memilukan yang ditangkap mata kamera Julien Bryan dan dimuat di media-media di Amerika. ( ushmm.org ). Truk yang membawa Bryan dan para warga asing lain lantas diturunkan di Stasiun Nasielsk, 45 kilometer di utara Warsawa. Beruntung, sekira 300 dokumentasi penting Bryan tak ditemukan saat pemeriksaan oleh serdadu Jerman. Kondisi film-film itu aman hingga sampai di Königsberg, Prusia Timur (kini Kaliningrad, Rusia). Medio Oktober 1939, Bryan akhirnya menjejakkan kakinya di New York setelah melalui perjalanan panjang via Swedia dan Norwegia. Jutaan pasang mata publik Amerika akhirnya menyaksikan sendiri bukti kebrutalan invasi Jerman ke Polandia lewat puluhan foto Bryan yang dimuat Majalah Life edisi 23 Oktober 1939 dan majalah Look , 5 Desember 1939. Sementara, dokumentasi video pada 1940 digarap Bryan menjadi film berdurasi 10 menit bertajuk Siege . Di tahun yang sama, Bryan turut memperlihatkan dokumentasi film utuh berdurasi 80 menit kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt. Meski begitu, Amerika baru menyatakan perang terhadap Jerman Nazi pada 11 Desember 1941, bersamaan dengan deklarasi perang terhadap Jepang. Baca juga: Kolberg , Film Perang di Tengah Perang

  • Secuil Kisah Penerjunan Pasukan Komando

    Letnan II Benny Moerdani mesti menghadapi perjudian nasib di tengah gelap langit Pekanbaru pada dini hari 12 Maret 1958. Dalam pembukaan Operasi Tegas untuk merebut Pangkalan Udara Simpang Tiga yang dikuasai pasukan PRRI itu, dia mesti memimpin terjun pasukan Kompi A RPKAD (kini Kopassus). Lucunya, hanya Benny seorang yang belum pernah merasakan terjun. Benny tak sempat mendapat latihan terjun payung sebab saat rekan-rekannya mendapat latihan terjun di Margahayu, Jawa Barat, dia sakit. Sebulan terbaring di rumahsakit membuatnya kehilangan kesempatan meraih kualifikasi para. Maka kerisauan membalut hatinya begitu pesawat C-47 Skytrain mengudara mengangkut dia dan pasukannya menuju Pekanbaru. Briefing singkat oleh wakilnya, Letnan II Soeweno, di pinggir landasan sebelum terbang menjadi satu-satunya bekal Benny untuk terjun. Pada akhirnya Benny terjun juga. Meski hanya dibekali satu payung udara dan kondisi cuaca saat itu buruk, Benny dan pasukannya sukses mendarat di semak-semak pinggir runway lanud. Lantaran tak ada perlawanan dari pasukan lawan, mereka pun segera menguasai lanud tersebut. Benny lalu mengajak Soeweno untuk berfoto menggunakan kamera yang dibawa Letnan II Dading Kalbuadi, yang punya tugas tambahan sebagai juru dokumentasi. Dadinglah yang meminta Soeweno memasangkan wing penerjun kepada Benny. “Soeweno mengambil wing dari saku dan menyematkan ke dada Benny,”  tulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. “Ben, kamu sekarang menjadi penerjun sungguhan. Selamat ya,” kata Soeweno dalam bahasa Jawa kepada Benny. Keanehan dalam operasi itu tak hanya soal penerjunan Benny yang baru mendapatkan wing usai terjun –berkebalikan dengan penerjunan pada umumnya. Ketika pasukan Benny –yang diterjunkan bersama dua kompi PGT– mendarat pun, tak ada perlawanan dari pasukan PRRI yang menguasai lanud tersebut. Bahkan, ketika para personil RPKAD mengecek lanud, tak satu pun serdadu PRRI di lanud itu menampakkan batang hidung. Benny dan anak buahnya justru dibuat bingung oleh barisan truk dan pick up berisi peti di pinggir landasan. Peti-peti itu ternyata berisi persenjataan modern dan uang. Mereka tak tahu asal peti-peti itu dan mengapa ditinggalkan begitu saja oleh pasukan lawan. Benny tak peduli pada keanehan yang ditemukannya itu. Dia tahunya menjalankan perintah. Maka begitu Wakil Komandan Operasi Tegas Letkol Udara Wiriadinata tiba dan memerintahkannya ke pusat kota Pekanbaru, Benny langsung berangkat meski tahu tak satupun anak buahnya pernah bertugas di sana. Benny berangkat menggunakan jip ditemani wakilnya Letda Soeweno, Letda Dading Kalbuadi, shooter Kopral Sihombing, dan liaison officer Sukma. Mereka mendahului pasukan yang berjalan kaki ke sasaran dengan rute melambung. Dalam perjalanan dari lanud ke pusat kota itu, mereka tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Jalan amat sepi. Mereka khawatir lawan sengaja membuat perangkap dengan keadaan itu. Maka demi keamanan, Soeweno memasangkan antena walkie talkie rampasan di jip untuk menakut-nakuti lawan bila bertemu di lanan, seolah jip itu memiliki dukungan keamanan dari pesawat AURI. “Kami pura-pura saja ngomong dengan mereka. Sebenarnya, cara pakainya saja, sama sekali belum kami pelajari. Tapi, yah....kami ngomong tidak karuan. Sebab memang tidak ada kontak,” kata Soeweno sebagaimana dikutip Julius Pour.

  • Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi

    SEBAGAIMANA Brasil, Jerman tak pernah kehabisan talenta di lapangan hijau. Tidak hanya pemain, raksasa sepakbola Eropa itu dari masa ke masa juga senantiasa melahirkan pelatih-pelatih hebat. Selain Hans-Dieter ‘Hansi’ Flick yang membawa Bayern Munich juara Liga Champions musim 2019/2020, ada Thomas Tuchel yang bersama Paris Saint-Germain (PSG) dikalahkan Munich di final. Di level internasional, Jerman punya seabrek pelatih jempolan yang mengasuh tim nasional Jerman. Dua di antaranya Franz Beckenbauer yang sukses di Piala Dunia 1990 dan Joachim Löw yang membawa juara di Piala Dunia 2014. Baca juga: Piala Dunia yang Tak Diakui Deretan nama pelatih top Jerman itu merupakan buah dari pendidikan pelatih yang dikembangkan Deutsche Sporthochschule atau Universitas Olahraga, Köln sejak 1 November 1947. Bila menyebut Deutsche Sporthochschule, tentu tak bisa dipisahkan dari nama Sepp Herberger. Figur yang mempopulerkan idiom sohor “Bola itu bundar” ini merupakan penggagas Deutsche Sporthoch. Namun, kala penulis bertandang ke Deutsches Fußballmuseum di Dortmund pada Agustus 2016, tour guide tak membeberkan banyak tentang sosok Herberger kendati foto besarnya ada di hadapan. Sang pemandu hanya menjelaskan bagaimana Herberger berhasil mengangkat moril rakyat di negeri yang porak-poranda oleh Perang Dunia II itu dan selanjutnya mengantarkan timnas Jerman Barat (Jerbar) Piala Dunia 1954. Salinan Entlastungs-Zeugnis yang menyatakan Herberger telah melalui proses denazifikasi. (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Ternyata, berdasarkan deskripsi yang tertera di bawah foto Herberger, ketidakmauan guide mengisahkan panjang-lebar mengenai Herberger terkait dengan masa lalu kelam sang pelatih. “Herberger bergabung dengan NSDAP (Partai Nazi, red .) tahun 1933 dan ditunjuk sebagai pelatih timnas pada 1937. Tahun 1947 para pemain Jerman dan saksi lainnya menyatakan bahwa dia tidak mendukung ideologi rezim Nazi. Dia diperintahkan membayar 500 reichsmarks sebagai penebusan,” demikian menurut keterangan tersebut. Penebusan yang dimaksud itu adalah semacam uang untuk membersihkan namanya setelah pemerintah Jerman Barat mengeluarkan Entlastungs-Zeugnis atau Sertifikat Bersih. Salinan Entlastungs-Zeugnis milik Herberger turut di- display di museum itu . Sepakbola Pelipur Lara Sepp Herberger yang lahir di Mannheim-Waldhof pada 28 Maret 1897 sebagai anak bontot dari delapan bersaudara hasil pernikahan Josef dengan Lina Kretzler, sejak kecil sudah akrab dengan pergulatan hidup. Sepp sudah harus ikut membantu menafkahi keluarga sejak usia 12 tahun. Menukil biografi Sepp Herberger: Ein Lieben, Eine Legende (terj: A Life, A Legend ) karya Jürgen Leinemann, di usia yang masih sangat muda Herberger sudah jadi anak yatim setelah ayahnya, buruh pabrik kaca Saint-Goban, meninggal karena influenza. “Selepas lulus sekolah dasar tahun 1911 Herberger harus bekerja menafkahi keluarga di proyek konstruksi. Hanya dengan begitu ia bisa menampung ibu dan saudara dan saudarinya di Spiegelkolonie (pemukiman pekerja),” ungkap Leinemann. Baca juga: Ronald Koeman Pahlawan Katalan dari Zaandam Hanya si kulit bundar yang jadi pelipur lara di waktu luang Herberger di tengah kerja kasar yang ia lakoni. Dari sepakbola jalanan, Herberger mengasah skill- nya sebagai penyerang di level amatir bersama tim akademi Waldhof Mannheim. Namun, panggilan wajib militer menyeretnya ke Perang Dunia I. Pada Maret 1916, beberapa hari sebelum usianya menginjak 19 tahun, Herberger masuk Resimen Grenadier Baden Ke-2 “Kaiser Wilhelm I” sebagai operator radio. Baru pada 1919 Herberger bisa pulang dan melanjutkan karier sepakbolanya ke klub lamanya, SV Waldhof. Otto Nerz (tengah berdiri) mentor Sepp Herberger. (Repro Deutsches Fußballmuseum ). Sejak saat itu Herberger meninggalkan pekerjaannya di proyek konstruksi dan fokus ke sepakbola. Alhasil, pada 1921 Herberger sudah masuk timnas Jerman. Di bawah asuhan Otto Nerz, seniornya di VfR Mannheim dan Borussia Berlin, dua tim yang diperkuatnya setelah Waldhof, Herberger juga belajar banyak tentang kepelatihan. Nerz bersikap layaknya ayah kepada Herberger. Dia tak hanya menurunkan ilmu tentang sepakbola namun juga membiayai kuliah Herberger di Deutsche Hochschule für Leibesübungen (Universitas Pendidikan Fisik), Berlin pada 1927. Sambil kuliah, Herberger merumput bersama Borussia Berlin. Tim ini kemudian dia latih dengan status “pemain-pelatih” hingga 1932. Di tahun inilah dia mengakhiri kariernya sebagai pemain karena diminta Nerz jadi asistennya dalam melatih timnas Jerman. Di Bawah Panji Swastika Sejak Adolf Hitler berkuasa sebagai kanselir pada Januari 1933, situasi sepakbola di Jerman berubah. Setiap tim yang awalnya berada di bawah naungan negara bagian, mulai saat itu semua menjadi di bawah Nationalsozialistische Reichsbund für Leibesübungen (NSRL), semacam KONI. Semua anggota pengurus induk olahraga pun mesti terdaftar sebagai anggota partai. Herberger tak luput dari keterpaksaan mendaftar sebagai anggota Partai Nazi. Dia mendaftar pada 1 Mei 1933, sebagaimana Otto Nerz dan Presiden DFB (Induk Sepakbola Jerman) Felix Linnemann. Beban di pundak Herberger kian berat saat diminta menggantikan Nerz yang dipecat menjelang Piala Dunia 1938 gara-gara Jerman kalah dari Norwegia di Olimpiade Berlin. Kekalahan itu disaksikan langsung Hitler di stadion. Baca juga: Etalase Nazi di Olimpiade Berlin 1936 Mau-tak mau, Herberger membangun tim dari sisa kejayaan duetnya bersama Nerz di Piala Dunia 1934. Hans Jakob, Paul Janes, Reinhold Münzenberg, Ludwig Goldbrunner, Ernst Lehner, Otto Siffling, dan Fritz Szepan masih tetap dijadikan andalannya. Namun sial bagi Herberger. Persiapan timnya untuk Piala Dunia 1938 di Prancis direcoki urusan politik oleh Reichsführer Heinrich Himmler, utamanya pasca-pencaplokan Austria pada Maret 1938. “Bersatunya Austria yang kembali ke pangkuan Jerman harus diperlihatkan ke mata dunia. Hanya satu tim yang bisa ke Prancis dan satu tim itu adalah tim Jerman Raya. Reichsfuhrer menginginkan sebuah tim utama berisi perbandingan (pemain Jerman dan Austria) 6:5 atau 5:6. Sejarah akan mencatat nama kita,” ujar Linnemann memberi perintah pada Herberger, dikutip Hardy Greens dalam 1933 to 1945: Victories for the Führer . Sepp Herberger (kanan) bersama Fritz Walter, pemain timnas Jerman yang ia coba selamatkan dari horor Perang Dunia II. (Stiftung Sepp Herberger). Alhasil, Jerman gagal total. Di babak pertama saja sudah gugur setelah kalah dari Swiss, 4-2. Beban para pemain kian bertambah dengan teror penonton di Stadion Parc des Princes yang melempari mereka dengan botol hingga batu. Pegalaman pahit itu jadi kali terakhir kali Herberger menangani timnas Jerman di laga-laga resmi lantaran pada 1 September 1939 Jerman mengobarkan Perang Dunia II dimulai dan setahun kemudian FIFA menghapus keanggotaan DFB. Herberger tetap memegang jabatan pelatih hingga 1942. Namun di balik itu, Herberger sibuk melobi sejumlah petinggi partai dan militer. Tujuannya untuk menjauhkan sejumlah pemain kesayangannya dari tugas tempur. Maklum, banyak dari mereka ditarik ke berbagai kesatuan di Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman Nazi) dan ditempatkan di berbagai palagan. “Dia berusaha menjaga para pemain internasional (Jerman) dengan segenap kemampuannya. Salah satunya dengan terlibat sebagai konsultan dalam film bertema sepakbola, Das Grosse Spiel, pada musim panas 1941. Herberger setidaknya mampu membawa kembali 19 pemainnya dari garis depan untuk menjadi pemeran pendukung,” sebut Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football . Baca juga: Fritz Walter, dari Perang Dunia ke Piala Dunia Upaya lain Herberger adalah memasukkan pemain-pemainnya ke tim-tim milik militer, seperti Rote Jäger. Kesebelasan milik Brigade Lintas Udara ke-26 Luftwaffe (AU Jerman) ini dipimpin Mayor Hermann Graf, mantan anak asuh Herberger. Graf menyanggupi permintaan Herberger untuk memasukkan sejumlah pemainnya, salah satunya Fritz Walter, ke unitnya. Kelak Walter jadi andalan Herberger dalam membangun timnas Jerbar di Piala Dunia 1954. Sebagai pelatih, Herberger acap membawa timnya tur ke negara-negara sekutu Jerman Nazi seperti Hungaria dan negara-negara pendudukan macam Prancis dan Polandia. Pembangunan tim itu terhenti pada 1944 seiring makin suramnya nasib Jerman. Herberger sendiri dipanggil jadi sukarelawan di Luftnachrichtenschule 6 (Akademi Intelijen AU Jerman) di Pangkalan Udara Dievenow pada September 1944. Lima tahun pasca-Perang Dunia II Sepp Herberger kembali menukangi Timnas Jerman. ( dhm.de / fifa.com ). Untungnya, hingga kapitulasi Jerman Herberger berada jauh dari Berlin dan lebih sering di kampung halamannya, Mannheim. Nasibnya berbeda jauh dari Otto Nerz yang ditangkap Uni Soviet di Berlin dan wafat di dalam Kamp Tahanan Sachsenhausen pada 1949. Setelah menyelesaikan proses denazifikasi pada 1947, Herberger kembali ke kursi pada Februari 1950. Dia melatih Jerbar seiring dikembalikannya keanggotaan DFB di FIFA pada September 1950. Tugas berat di bab baru kariernya pun menanti, yakni mempersiapkan tim untuk Piala Dunia 1954. Baca juga: Kiper Manchester Bekas Pemuda Hitler Fritz Walter sudah pasti masuk dalam tim Herberger. Untuk menutupi kekurangan pemainnya, Herberger hunting ke liga-liga di setiap negara bagian. Untuk posisi kiper utama, Herberger ingin memulangkan Bert Trautmann dari Inggris, yang sempat jadi tawanan perang di Inggris dan setelahnya berkarier di Manchester City. “Pada 1953 Trautmann bertemu Sepp Herberger untuk mau memperkuat timnas Jerman. Tetapi Herberger kemudian menjelaskan bahwa kerumitan politis mencegahnya membawa Trautmann pulang dan Herberger tak bisa memasukkan namanya karena dia tak bermain di salah satu liga di Jerman,” tulis Alan Rowlands dalam Trautmann: The Biography. Sepp Herberger pulang dari Piala Dunia 1954 sebagai pahlawan. ( dfb.de ). Meski tanpa Trautmann, Herberger bersama timnya berangkat ke Swiss mengikuti Piala Dunia 1954. Di luar dugaan, timnya tampil memukau. Lolos dari Grup 2, Herberger membawa “Die Mannschaft” (julukan timnas Jerman) menekuk Yugoslavia 2-0 di perempatfinal dan menggebuk Austria 6-1 di semifinal. Di final, yang dimainkan di Stadion Wankdorf, Bern, 4 Juli 1954, Jerbar kembali bertemu Hungaria yang membantainya 8-3 di laga Grup 2. Tak disangka, Fritz Walter dkk. mampu membalikkan perkiraan publik. Hungaria dengan Ferenc Puskásnya dipaksa menelan getir kekalahan 2-3 di laga dengan kondisi hujan lebat dan lapangan becek itu. Baca juga:  Final Jerman v Hungaria Berujung Gempita dan Prahara “Itu cuacanya Fritz Walter,” cetus Herberger merujuk kecemerlangan Walter sebagai dinamo tim yang cakap kala bermain dalam kondisi hujan lebat. Herberger membesut tim Jermbar hingga 1964. Dia wafat di Weinheim-Hohensachen pada 28 April 1977 di usia 80 tahun karena pneumonia . Walau hanya prestasi satu-satunya, “Keajaiban Bern” membersihkan namanya dari bayang-bayang Nazi. Prestasi itu juga menjadi momen pertama DFB mencicipi Piala Dunia. Tongkat estafet prestasi tersebut dilanjutkan Helmut Schön, eks anak asuh Herberger, di Piala Dunia 1974, Franz Beckenbauer di Piala Dunia 1990, dan Joachim Löw di Piala Dunia 2014.

  • Cabai dari Amerika ke Nusantara

    Dikenal sebagai bahan pemedas dalam makanan, cabai menyebar ke seantero dunia.

  • Empat Gerilyawan Korea di Palagan Garut

    Nama Yang Chil Sung alias Komarudin saat ini sudah mulai dikenal banyak orang Indonesia. Sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea, kiprahnya mulai terangkat tiga tahun belakangan ini, ketika beberapa media asal Korea Selatan seperti Radio KBS  dan MBC TV  membuat liputan khusus tentang kisah hidup lelaki asal kota Wanju tersebut selama berjuang sebagai gerilyawan Indonesia di Garut. Bahkan kepada Metro TV  beberapa waktu lalu, Bupati Garut Rudy Gunawan pernah menyatakan akan memasukan Yang Chil Sung sebagai pahlawan lokal sekaligus menabalkan namanya untuk satu ruas jalan di kota Garut. “Beliau pantas mendapatkan penghormatan sehingga namanya akan kami abadikan sebagai nama jalan (di kota Garut),” ujarnya. Namun sejatinya, Yang Chil Sung bukanlah satu-satunya orang Korea yang terdampar di Garut dan menggabungkan diri dalam gerakan pembebasan tanah air orang-orang Indonesia. Dalam catatan saya, ada sekitar 3 orang Korea lain di tubuh Pasukan Pangeran Papak (kemudian melebur dalam Markas Besar Gerilja Galoenggoeng). “Peran mereka pun, saya kira tak kalah penting,” ungkap Kim Moon Hwan, sejarawan publik asal Korea Selatan. Berikut nama-nama orang-orang Korea yang aktif di front Garut selama 1946-1948. Yang Chil Sung Sosok Yang Chil Sung kali pertama muncul di media Indonesia ketika wartawan senior asal Garut Yoyo Dasriyo menulis kisah kehidupannya di sebuah media online Jawa Barat pada 2013. Namanya kemudian semakin dikenal khalayak (terutama di dunia maya), saat pada 2015 wartawan dari Radio KBS (Korea Selatan) Chae-eui Hong datang ke Garut dan membuat suatu liputan panjang mengenai kiprah lelaki yang memiliki nama Jepang “Yanagawa” itu. Seperti dikatakan oleh Rostineu, pengamat sejarah orang-orang Korea di Indonesia, Yang Chil Sung datang kali pertama ke Indonesia pada sekitar 1943 bersama ribuan phorokamsiwon (penjaga tawanan perang). Pada sekira 1946, dia bersama kawan-kawan Jepang-nya kemudian bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak, organ gerilyawan Indonesia asal Garut. Aktif sebagai pejuang Indonesia dan memimpin unit Regu Putih (khusus mengurusi soal sabotase), Yang Chil Sung lebih dikenal orang-orang Garut dengan nama lokal-nya yakni Komarudin. Dalam suatu penggerebekan oleh militer Belanda di Gunung Dora, Tasikmalaya pada akhir Oktober 1948, Yang Chil Sung tertangkap. Tujuh bulan kemudian, dia dihukum mati oleh pihak militer Belanda dan kemudian dimakamkan di Garut. Guk Jae-man Di kalangan para pejuang Garut, Guk Jae-man lebih dikenal sebagai Soebardjo. Dalam struktur organisasi MBGG, namanya disebut-sebut sebagai koordinator bagian intelijen. Kendati sangat sedikit informasi mengenai Jae-man ini, namun namanya sempat dibahas oleh Utsumi Aiko dalam buku  Aka michi shita no choosonin banran  (Pemberontakan Rakyat Joseon di Bawah Garis Khatulistiwa). Utsumi yang menemui istrinya bernama Maria pada 1981, sempat mendapatkan surat terakhir Jae-man kepada keluarganya. Dalam surat tersebut, tergambar betapa lelaki Korea itu sangat kesepian, putus asa dan memendam rasa rindu yang sangat kepada keluarganya selama berpetualang di hutan-hutan Garut dan Tasikmalaya. Jae-man tewas di ujung bedil para serdadu Belanda pada suatu siang, 26 Oktober 1948. Bersama rekan-rekan lainnya yakni Djoeana Sasmita, Masharo Aoki, Hasegawa Katsuo dan Yang Chil Sung, dia sebenarnya tertangkap hidup-hidup. “Namun menurut bapak saya, saat ditawan itu dia berusaha lari lalu ditembak mati waktu itu juga,” ujar Kandar, putra pertama dari Djoeana Sasmita. Saat ditangkap, pihak militer Belanda merampas sebuah catatan harian dari tangan Jae-man. Lee Gil Dong Sosok ini masih merupakan misteri. Kendati namanya sempat disebut oleh Utsumi Aiko dalam bukunya, namun secara terperinci sepakterjangnya kurang termunculkan. Dalam catatan hariannya, Djoeana Sasmita menyebut nama Gil Dong sebagai Oemar. Di kalangan orang-orang Wanaraja (pangkalan awal Pasukan Pangeran Papak), Oemar dikenal sebagai “orang Jepang yang selalu mengobati orang sakit”. Namun dalam suatu dokumen NEFIS (Pelayanan Informasi Intelijen Belanda), saya menemukan peran Oemar adalah sebagai koordinator voorlichting (bagian informasi). Saat Insiden Gunung Dora, nasib Oemar tidaklah jelas. Kim Moon Hwan dan Utsumi Aiko menyebut lelaki Korea itu langsung tewas saat penggerebekan dimulai pada jam 1 dini hari, 26 Oktober 1948. Namun dalam catatan hariannya, Djoeana menyebut Oemar berhasil lolos. Woo Jong Soo Saat tinggal di Gunung Dora, lelaki Korea ini dikenal luas oleh para penduduk di Desa Parentas (kaki Gunung Dora), Tasikmalaya dengan nama lokal: Adiwirio. Alih-alih sebagai petempur, sosoknya lebih dikenang sebagai pejuang yang pandai bertani. Haji Udin (87), masih ingat bagaimana Adiwirio mengajarkan penduduk untuk menanam kol, kentang dan sayuran lainnya. Dia pun dikenal sebagai pemasok logistik bagi para gerilyawan MBGG. “Keahliannya bertani benar-benar hebat,” kenang lelaki yang waktu bocah besar di Desa Parentas itu. Jong Soo termasuk gerilyawan yang lolos dari Insiden Gunung Dora pada 26 Oktober 1948. Dia berhasil meluputkan diri ke hutan. Keterangan Haji Udin itu terkonfirmasi oleh catatan harian Djoeana yang menyebut Jong Soo bisa hidup sampai usia senja dan kemudian meninggal di Cianjur pada pertengahan 1980-an.

  • Tentang Anjay dan Kata-kata Umpatan

    WARGANET ramai-ramai mencuit kata "anjay" sehingga menjadi trending topic . Mereka merespons siaran pers dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengajak untuk menghentikan penggunaan kata "anjay". Kata "anjay" biasa digunakan dalam percakapan di antara teman sepergaulan untuk menunjukan suasana keakraban. Namun, menurut Komnas PA, jika kata "anjay" atau "anjing" digunakan kepada orang yang tidak dikenal dan lebih dewasa bisa mengandung unsur kekerasan verbal ( bullying ) dan merendahkan martabat seseorang, sehingga dapat dilaporkan sebagai tindak pidana. Seperti zaman Majapahit saja yang menghukum orang yang melakukan penghinaan atau caci maki ( wakparusya ). Pada umumnya dihukum denda berupa uang kecuali wakparusya  yang dilakukan seorang candala  kepada brahmana (pendeta), diancam dengan hukuman mati. Candala  adalah masyarakat dari lapisan sosial paling rendah, di bawah sudra , jadi tergolong paria  atau tanpa kasta. Susanto Pudjomartono, mantan wartawan dan diplomat, dalam tulisan bahasa berjudul "Bangsat" di majalah Tempo , 2 Juni 2002, membagi kata-kata umpatan dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah kata-kata umpatan yang paling sering dipakai yaitu nama binatang yang dianggap rendah atau nista. Dalam kategori ini, anjing tidak sendirian. Binatang-binatang yang senasib dengan anjing di antaranya babi, monyet, kunyuk, bangsat (kutu busuk), kambing, kucing, kerbau, kampret, dan lain-lain; belakangan buah dari persaingan politik, umpatan kampret punya lawan yaitu cebong. Tidak puas dengan hanya umpatan binatang itu, manusia menambahkan predikat tertentu, misalnya "(dasar) tampang monyet", "kerbau dungu", "kambing congek", dan "kucing kurap" (koreng). "Umpatan babi dan anjing paling populer, mungkin karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang menganggap kedua binatang tersebut najis," tulis Susanto. Sastrawan Hasif Amini dalam tulisannya "Fauna Bahasa" di majalah Tempo , 12 Februari 2017, menambahkan bahwa kata "binatang" sendiri dalam beberapa pemakaian berkonotasi negatif, misalnya "binatang ekonomi" dan "binatang politik". Begitu pula kata "hewan" yang terasa lebih ilmiah dan netral, tak jarang menunjuk kualitas negatif, misalnya dalam frasa "sifat-sifat hewani". Konotasi positif atau negatif bisa berbeda-beda antara satu lingkungan budaya dan yang lain. Hasif menyontohkan kata dog  tak menjadi umpatan yang lazim dalam Bahasa Inggris karena dalam lingkungan itu, anjing umumnya binatang piaraan yang patuh, setia, dan disayangi. Bahkan, kata dog  mengandung makna positif, misalnya dalam ungkapan working like a dog yang berarti kerja keras tak kenal lelah. Kalau di Indonesia, belakangan muncul ungkapan "kerja keras bagai kuda" yang sepertinya diambil dari lirik lagu Koes Plus berjudul "Ku Jemu". Dog  memang tidak lazim jadi kata umpatan, tapi dalam Bahasa Inggris (slang) ada kata bitch (jalang) yang secara harfiah artinya "anjing betina". Kata umpatan ini digunakan untuk merendahkan perempuan. Menurut Oxford English Dictionary , istilah bitch berasal dari kata Inggris Kuno, bicce  atau bicge , yang berarti "anjing betina". Leluhur kata itu kemungkinan dari Bahasa Norse Lama atau Bahasa Skandinavia Kuno, yaitu bikkja , yang juga berarti "anjing betina". Akar sejarah bagaimana anjing digunakan untuk merendahkan perempuan dapat dilacak sampai zaman Yunani Kuno. Kategori kedua adalah kata-kata umpatan yang berhubungan dengan seks. Misalnya, kata umpatan khas Jawa Timuran, jancuk  atau jancok  dari kata diancuk  ( ancuk  artinya bersetubuh). Karena dirasa kasar, jancuk  atau jancok  kemudian dipelesetkan menjadi jangkrik. Ada yang percaya kalau jancuk atau  jancok berasal dari kata "Jan Cox" yang tertulis pada badan sebuah tank ketika Belanda berusaha menduduki kembali Indonesia. Padahal, menurut penelusuran komunitas Surabaya Tempo Dulu+ , Jan Cox adalah nama seniman Belanda yang dijadikan nama tank Stuart M3 yang merupakan kendaraan Kapten Nix, komandan Eskadron 1 Vechwagens KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Eskadron ini mulai beroperasi pada 1946 di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Sebelumnya, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, orang-orang Belanda menyamakan orang pribumi dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, biasa tertulis: Verboden voor Honden   en Inlanders  (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi). Kategori ketiga adalah kata-kata umpatan yang berasal dari sesuatu yang dianggap hina atau merugikan, seperti setan, laknat, bajingan, goblok, bodoh, sialan, dan lain-lain. Saat kata-kata umpatan dirasa kasar, maka dibuatlah pelesetannya. Susanto menyontohkan sastrawan Danarto yang dikenal santun selalu menulis "siwalan" (buah lontar) sebagai pelesetan dari "sialan". Bacalah di bukunya, Catatan Perjalanan Haji Danarto, Orang Jawa Naik Haji : "Tiba-tiba sepercik pikiran menyelinap di benak: ingin saya mencuri Alquran. Habis, bergeletak bertumpuk-tumpuk begitu banyak. Saya pikir bagus sekali untuk kenangan, Alquran curian dari Masjid Nabi, hmmm, nggak  apa deh biar buta huruf juga. Saya pikir, pikiran ini muncul akibat pergaulan buruk di Taman Ismail Marzuki, yang seenak udelnya saja mengarang-ngarang fatwa: mencuri buku adalah seindah-indahnya perbuatan. Siwalan bener! (He, he, he, orang lain disalah-salahin...)." Bila Danarto memelesetkan "sialan" jadi "siwalan", bukankah anak-anak muda juga memelesetkan "anjing" jadi "anjay". Barangkali tak ada binatang yang dijadikan umpatan selain anjing yang paling banyak pelesetannya. Dengan mengubah tiga huruf terakhir dari kata anjing, lahirlah kata anjir, anjim, anjrit, anjrot, dan lain-lain. Jadi, bila "anjay" dilarang, penggantinya masih banyak.*

bottom of page