top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Secuil Kisah Penerjunan Pasukan Komando

Operasi Tegas yang dilakukan RPKAD untuk merebut Lanud Simpang Tiga diwarnai hal-hal janggal yang memicu gelak tawa.

3 Sep 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pangab Jenderal L.B. Moerdani merintis kariernya dan mendapat prestasi di RPKAD, kesatuannya saat memimpin operasi perebutan Lanud Simpang Tiga. (Repro Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando).

Letnan II Benny Moerdani mesti menghadapi perjudian nasib di tengah gelap langit Pekanbaru pada dini hari 12 Maret 1958. Dalam pembukaan Operasi Tegas untuk merebut Pangkalan Udara Simpang Tiga yang dikuasai pasukan PRRI itu, dia mesti memimpin terjun pasukan Kompi A RPKAD (kini Kopassus). Lucunya, hanya Benny seorang yang belum pernah merasakan terjun.


Benny tak sempat mendapat latihan terjun payung sebab saat rekan-rekannya mendapat latihan terjun di Margahayu, Jawa Barat, dia sakit. Sebulan terbaring di rumahsakit membuatnya kehilangan kesempatan meraih kualifikasi para.


Maka kerisauan membalut hatinya begitu pesawat C-47 Skytrain mengudara mengangkut dia dan pasukannya menuju Pekanbaru. Briefing singkat oleh wakilnya, Letnan II Soeweno, di pinggir landasan sebelum terbang menjadi satu-satunya bekal Benny untuk terjun.


Pada akhirnya Benny terjun juga. Meski hanya dibekali satu payung udara dan kondisi cuaca saat itu buruk, Benny dan pasukannya sukses mendarat di semak-semak pinggir runway lanud. Lantaran tak ada perlawanan dari pasukan lawan, mereka pun segera menguasai lanud tersebut.


Benny lalu mengajak Soeweno untuk berfoto menggunakan kamera yang dibawa Letnan II Dading Kalbuadi, yang punya tugas tambahan sebagai juru dokumentasi. Dadinglah yang meminta Soeweno memasangkan wing penerjun kepada Benny.


“Soeweno mengambil wing dari saku dan menyematkan ke dada Benny,”  tulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. “Ben, kamu sekarang menjadi penerjun sungguhan. Selamat ya,” kata Soeweno dalam bahasa Jawa kepada Benny.


Keanehan dalam operasi itu tak hanya soal penerjunan Benny yang baru mendapatkan wing usai terjun –berkebalikan dengan penerjunan pada umumnya. Ketika pasukan Benny –yang diterjunkan bersama dua kompi PGT– mendarat pun, tak ada perlawanan dari pasukan PRRI yang menguasai lanud tersebut.


Bahkan, ketika para personil RPKAD mengecek lanud, tak satu pun serdadu PRRI di lanud itu menampakkan batang hidung. Benny dan anak buahnya justru dibuat bingung oleh barisan truk dan pick up berisi peti di pinggir landasan. Peti-peti itu ternyata berisi persenjataan modern dan uang. Mereka tak tahu asal peti-peti itu dan mengapa ditinggalkan begitu saja oleh pasukan lawan.


Benny tak peduli pada keanehan yang ditemukannya itu. Dia tahunya menjalankan perintah. Maka begitu Wakil Komandan Operasi Tegas Letkol Udara Wiriadinata tiba dan memerintahkannya ke pusat kota Pekanbaru, Benny langsung berangkat meski tahu tak satupun anak buahnya pernah bertugas di sana.


Benny berangkat menggunakan jip ditemani wakilnya Letda Soeweno, Letda Dading Kalbuadi, shooter Kopral Sihombing, dan liaison officer Sukma. Mereka mendahului pasukan yang berjalan kaki ke sasaran dengan rute melambung.


Dalam perjalanan dari lanud ke pusat kota itu, mereka tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Jalan amat sepi. Mereka khawatir lawan sengaja membuat perangkap dengan keadaan itu. Maka demi keamanan, Soeweno memasangkan antena walkie talkie rampasan di jip untuk menakut-nakuti lawan bila bertemu di lanan, seolah jip itu memiliki dukungan keamanan dari pesawat AURI.


“Kami pura-pura saja ngomong dengan mereka. Sebenarnya, cara pakainya saja, sama sekali belum kami pelajari. Tapi, yah....kami ngomong tidak karuan. Sebab memang tidak ada kontak,” kata Soeweno sebagaimana dikutip Julius Pour.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Sudomo Sumber Berita

Sudomo Sumber Berita

Sudomo merupakan pejabat tinggi Orde Baru yang paling sering berurusan dengan wartawan. Pernyataan hingga ocehannya jadi bahan pemberitaan.
Keruntuhan Bisnis Dasaad

Keruntuhan Bisnis Dasaad

Pada masanya, Agus Musin Dasaad mencapai puncak kejayaan bisnis pribumi. Kedekatannya dengan kekuasaan membuka banyak peluang sekaligus risiko. Ketika lanskap politik berubah, bisnisnya pun ikut goyah.
bottom of page