top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menjaga Marwah Pendidikan Sejarah

    RENCANA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran pilihan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) menuai kritik. Sebagaimana diatur dalam Kurikulum 2013, sejarah seharunya menjadi salah satu mata pelajaran wajib seluruh siswa di jenjang SMA, baik jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maupun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun tahun depan hal itu tidak berlaku. Diberitakan CNN Indonesia , Kemendikbud berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib bagi siswa SMA/SMK sederajat. Tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021, sejarah untuk kelas 10 akan digabung dengan mata pelajaran IPS. Sementara untuk kelas 11 dan 12, sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang sifatnya tidak wajib. “Saya berharap itu sekedar wacana dan akan dikaji lebih mendalam dari kementerian, perwakilan guru, maupun akademisi,” tutur Faizal Firdaus, guru sejarah SMA Negeri 3 Jakarta kepada Historia . “Menurut saya jika diganti menjadi mata pelajaran pilihan, generasi muda selanjutnya akan kehilangan salah satu akses untuk mengenal bangsanya, membangun jiwa nasionalisme maupun kesempatan belajar dari masa lampau,” lanjutnya. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) memberikan reaksi terkait rencana tersebut dengan membuat sebuah petisi. Dilansir Change.org , hingga Jumat (18/09/2020), sudah lebih dari 12 ribu orang menandatangani petisi “Kembalikan posisi mata pelajaran sejarah sebagai mapel wajib bagi seluruh anak bangsa” yang diajukan AGSI kepada Presiden Joko Widodo. Dalam petisi itu AGSI menyebut jika bangsa yang tidak mengenal sejarah bisa diibaratkan sebagai seorang yang pikun atau sakit jiwa, yang akan kehilangan identitas atau kepirbadiannya. Menurut AGSI mata pelajaran sejarah merupakan media paling ampuh dalam proses penguatan jati diri dan karakter manusia, juga menjadi alat pemersatu sebuah bangsa. Sementara guru sejarah adalah ujung tombak, sekaligus benteng peradaban. “Bagaimana memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya ditransformasikan melalui pembelajaran serta keteladanan di ruang-ruang kelas,” tulis AGSI di dalam petisinya. “Mari kita selamatkan generasi muda kita dari amnesia sejarah, mari kita selamatkan bangsa ini dari gerbang kehancuran. Sesungguhnya belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan, bukan merupakan pilihan!”. Rencana Kemendikbud itu pun menjadi perbincangan hangat masyarakat di jagat maya. Banyak yang menilai keputusan itu tidak tepat. Mereka khawatir jika sejarah menjadi mata pelajaran yang tidak wajib diajarkan, generasi muda akan kehilangan pengetahuan sejarah bangsanya. Mereka amat menyayangkan jika kisah-kisah heroik para pahlawan bangsa ini harus hilang. Merespons hal itu, Kemendikbud menegaskan bahwa rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan masih terus dikaji dengan berbagai pihak guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Melalui Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No. 264/Sipres/A6/IX/2020, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah keluar dari kurikulum tidak benar. Pelajaran sejarah, ujar Totok, akan tetap diajarkan dan diterapkan di setiap generasi. “Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang,” ucapnya. “Sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa.” Membangun Identitas Bangsa Menanggapi rencana Kemendikbud tersebut, Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan webinar berjudul “Matinya Sejarah: Kritik atas Rancangan Kurikulum 2020” pada Kamis (17/09/2020). Di sana berkumpul para akademisi yang mengkritisi rencana pemerintah terhadap pendidikan sejarah di Indonesia. Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI, yang juga Ketua Tim Pengembang Kurikulum 2013 Said Hamid Hasan mengatakan bahwa banyak alasan yang menjadikan pembelajaran sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Di antaranya sejarah bisa menjadi alat untuk mengembangkan jatidiri bangsa, menjadi wadah bagi ingatan kolektif berbagai peristiwa yang pernah dilalui masyarakat Indonesia, membangun nasionalisme, serta memberi teladan dari perjuangan para tokoh. Menurut Said, sejarah bisa memberi inspirasi. Dengan mempelajarai berbagai peristiwa sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana para tokoh berjuang, dan cara menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hal itu juga nantinya akan mengembangkan kepedulian sosial bangsa dalam menghadapi beragam peristiwa. “Para guru sejarah harus sadari dari apa yang sudah mereka (para pahlawan) lakukan bisa mengembangkan kreativitas kita sehingga dalam menghadapi peristiwa sekarang ini kita bisa menyelesaikannya,” ujar Said. Menurut Edy Suparjan dalam Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa , dalam proses pengembangan karakter keberadaan sejarah amat penting. Sejarah bisa menjadi media untuk mewarisi seluruh akhlak baik para pendahulu bagi kemajuan dan pembentukan mental bangsa. Melalui kisah-kisah heroik para pahlawan di masa perjuangan, generasi muda bisa belajar soal pentingnya hak asasi manusia, patriotisme, persamaan, kebebasan, dan keadilan. “Selain pengetahuan kesejarahan, pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk pembentukan kesadaran sejarah, kepibadian bangsa, dan sikap,” tulis Suparjan. Membangun Minat Sejarah Upaya bangsa Indonesia dalam menjaga identitas melalui sejarah sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1950-an. Secara resmi para akademisi yang menaruh fokus pada sejarah berkumpul. Di Yogyakarta tahun 1957, kegiatan formal itu mencoba menghasilkan pada yang disebut sebagai “sejarah nasional Indonesia”, yang berisi kisah-kisah sejarah milik bangsa Indonesia. “Permasalahan sudut pandang dalam kaitannya dengan wawasan kebangsaan menjadi masalah mendesak, yang pada waktu itu masih dihadapkan pada kenyataan dominannya peredaran tulisan-tulisan mengenai sejarah berbagai kerajaan di Indonesia oleh para sejarawan Belanda, yang secara sengaja ataupun tidak sering kali menampilkan visi kolonial dalam melihat sejarah kita,” tertulis dalam Kongres Nasional Sejarah 1996 . Tahun 1970, para akademisi kembali berkumpul di Yogyakarta untuk mengadakan acara Seminar Sejarah Nasional II. Melalui kepemimpinan sejarawan Sartono Kartodirdjo, didirikan organisasi profesi bagi sejarawan. Pada kesempatan itu pula permasalahan periodisasi sejarah Indonesia dibahas secara khsus. Usaha nyata dilakukan dengan perencanaan pembuatan buku yang menjadi referensi utama sejarah Indonesia, yang diterbitkan beberapa tahun setelahnya.*

  • Lyudmila Pavlichenko Sang Bidadari Pencabut Nyawa

    LYUDMILA Pavlichenko tak habis pikir. Dalam perjalanannya di kota-kota besar Amerika Serikat sepanjang September 1942, letnan Uni Soviet berparas anggun itu tak henti-hentinya dihujani pertanyaan dari wartawan-wartawan Amerika. Baginya itu konyol. Maka sekuat tenaga ia menahan diri supaya tak “meledak” yang bisa mengacaukan misi yang diembannya dari diktator Soviet Josef Stalin. Pavlichenko datang ke Amerika pada akhir Agustus 1942. Perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang ditempuhnya dari Moskow ke Kairo lalu Miami, Florida. Dari Miami ke Washington DC perjalanannya dilakukan menggunakan keretaapi ekspres. Sejak Juni 1942, Lyuda, panggilan Pavlichenko, ditarik dari medan perang untuk mengemban misi propaganda. Tujuan utamanya agar Amerika mau membuka front kedua di Eropa demi mendesak Jerman Nazi. Maka dikirimlah delegasi mahasiswa Soviet bersama Pavlichenko sebagai primadonanya. Namun, di Amerika Lyuda benar-benar keheranan. Entah ketika di Washington DC, New York, atau Chicago, dia lebih sering ditanya wartawan Amerika hal-hal yang baginya sangat sepele. “Saya terkesima tentang pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan perempuan di Washington. Mereka menanyakan hal-hal konyol seperti apakah saya memakai bedak, pemerah pipi, cat kuku, dan apakah saya mengkritingkan rambut. Seorang reporter bahkan berani mengkritik rok panjang saya dengan mengatakan perempuan Amerika biasanya mengenakan rok pendek dan seragam saya membuat saya tampak gemuk,” kata Lyuda kepada Time , 28 September 1942. “Itu semua membuat saya marah. Saya mengenakan seragam saya secara terhormat. Seragam yang tersemat (medali) Order of Lenin yang sering tertutup bercak darah di pertempuran. Sangat jelas bagi perempuan Amerika lebih mementingkan apakah mereka memakai celana dalam sutera di balik seragam mereka. Namun mereka belum mengerti makna dari seragam itu sendiri,” sambungnya. Terlepas dari komentarnya yang sarkas, Lyuda menjalani tur ke Amerika dengan sukses. Selain akhirnya Sekutu membuka front kedua bagi Jerman lewat Afrika Utara lalu ke Italia, Lyuda juga membawa pulang oleh-oleh persahabatan dengan Eleanor Roosevelt. Ibu negara Amerika itu sempat mempersilakan Lyuda dkk. menginap di Gedung Putih selama kunjungan di Washington DC. Mahasiswa Sejarah Jago Tembak Kecantikan tak pernah masuk dalam kamusnya. Lingkaran hidupnya yang sarat pergulatan membuatnya jadi sosok yang dingin. Semasa muda, cewek tomboy kelahiran Bila Tserkva, Ukraina, 12 Juli 1916 itu sembari bersekolah juga mesti menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik senjata di Kyiv. “Karena tak punya skill , awalnya butuh waktu setengah tahun bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di pabrik dan mendapatkan pertemanan dengan para buruh lain. Saya juga kemudian diterima masuk di Liga Pemuda Komunis,” kenang Lyuda dalam memoarnya, Lady Death: The Memoirs of Stalin’s Sniper . Di pabrik senjata itulah Lyuda mulai mengenal senjata dan menjajal menembakkannya. Orang pertama yang mengajari dan mengetahui ternyata Lyuda punya “bakat alam” dalam menembak adalah Fyodor Kushchenko. Ia anggota Liga Pemuda Komunis yang jadi salah satu instruktur dalam uji tembak senapan di pabrik itu. “Fyodor memberi saya sepucuk senapan TOZ-8 buatan Pabrik Senjata Tula yang diproduksi antara 1932-1946. Senapan sederhana dengan amunisi 5,6x11 milimeter yang tak hanya biasa disuplai untuk militer, namun juga untuk olahraga menembak dan untuk berburu,” ujar Lyuda. Lyudmila 'Lyuda' Pavlichenko dari mahasiswi sejarah, anggota Liga Pemuda Komunis hingga kombatan Tentara Merah. ( loc.gov /Repro Lady Death ). Sebelum memegang senapan itu untuk kali pertama, Lyuda mendapat briefing singkat tentang cara memegang, mengarahkan, dan membidik sasaran dari Kushchenko. Usai briefing , Kushchenko mengecek semuanya dan memasukkan amunisinya. Dor! Saat Lyuda menekan picunya, ia terkejut bukan main. Tak hanya oleh bisingnya suara letusan senapan yang belum familiar di telinganya, namun juga popor senapan yang menghentak lengannya. “Kushchenko tersenyum melihat saya. ‘Itu karena Anda belum terbiasa. Tembak lagi! Anda pasti bisa,’ katanya. Lalu saya mengunci pundak dengan lebih erat dan menembak tiga kali lagi. Saat melihat kertas yang jadi sasaran, ia terkesan. ‘Untuk seorang pemula, hasilnya lumayan bagus. Jelas Anda punya bakat’,” ungkapnya. Sejak saat itu, setiap Sabtu Lyuda selalu berlatih menembak dengan instrukturnya selepas jam kerja. Mulai 1936 Lyuda menyambung sekolahnya ke Universitas Kyiv lewat program pendidikan Liga Pemuda Komunis. Sesuai minatnya pada sejarah, ia masuk jurusan Sejarah Arkeologi dan Etnografi Uni Soviet. Di pandai di kelas, Lyuda mahasiswa yang cakap dalam olahraga baik sebagai sprinter maupun pelompat tinggi. Lyuda turut dalam program sekolah sniper Tentara Merah pada 1939. Pendidikan ini berisi kelas politik, latihan baris-berbaris, pertarungan tangan kosong, dan 220 jam kelas latihan menembak, di mana 30 jam di antaranya latihan menembak taktis. Lyuda juga diperkenalkan senjata-senjata baru macam Simonov AVS-36 dan Tokarev SVT-38 dengan teleskop PE 4x. Salah satu potret propaganda tentang heroisme Lyuda di front Timur. ( Majalah Smena , No.12 tahun 1942). Namun ketika kuliahnya di Universitas Kyiv menginjak tahun keempat, Jerman  menginvasi Uni Soviet lewat Operasi Barbarossa (Juni 1941). Sebagai anggota Liga Pemuda Komunis, Lyuda pun mengajukan diri masuk Tentara Merah. Ia bersikeras ingin masuk infantri dan menolak ditugaskan sebagai perawat hanya karena dia perempuan. Tetapi setelah menunjukkan surat-surat dan sertifikat sekolah menembaknya, Lyuda diizinkan masuk unit infantri di Resimen Senapan ke-54 “Stenka Razin”, Divisi ke-25 Tentara Merah. Ia jadi satu di antara dua ribu kombatan perempuan yang diterima masuk ke infantri. Namun karena minimnya pasokan senjata, Lyuda pertamakali maju ke medan perang di front Odessa hanya dibekali sebutir granat. “Sungguh membuat frustrasi hanya bisa memantau pertempuran dengan sebutir granat di satu tangan. Tetapi getir rasanya menunggu rekan di samping Anda terluka agar senapannya bisa diberikan kepada Anda. Pada akhirnya sebuah pecahan bom melukai seorang kolega yang sedang berlindung di parit dan memberikan saya senapannya karena dia terlalu terluka untuk bisa menggunakannya,” kenangnya. Hingga Mei 1942, Lyuda punya catatan konfirmasi "kill" sebanyak 309 walau diyakini angkanya lebih dari itu. ( orlova-center.ru ). Medio Agustus 1941 jadi momen “pembaptisan” Lyuda menewaskan musuh dengan senapannya. Kala itu, ia yang sudah memegang senapan, turun dalam kubu pertahanan di sebuah bukit di Odessa. Mulanya ia hanya bertugas untuk mengintai dan hanya boleh menembak sesuai perintah atasannya. “Saya melihat pasukan Rumania (Sekutu Jerman Nazi) sedang menggali parit hanya berjarak 300-400 yard dari tempat persembunyian saya. Kami dilarang keras komandan untuk menembak tanpa perintah. Saya pun mengirim pesan: ‘Bolehkah saya menembak?’ Saya menunggu dengan sabar, hingga akhirnya komandan membalas: ‘Anda yakin bisa mengenai mereka?’ Saya jawab dengan yakin, ‘Iya.’ Lalu komandan menjawab: ‘Kalau begitu, tembaklah!’” tulis Lyuda dalam catatan bertajuk “Kill the Enemy”, termuat di buletin informasi Kedutaan Besar Uni Soviet untuk Amerika, Volume II tahun 1942. “Lalu saya menenangkan diri dan berhati-hati kala membidik dan tembak! Sasaran pasukan Rumania saya tumbang. Rekannya yang mencoba menolong juga saya bidik dan kena. Juga satu lagi tewas oleh peluru saya. Tetapi tiga orang dalam ‘pembaptisan’ saya hanya terhitung tembakan percobaan, walau kemudian mulai saat itu saya dimasukkan di unit sniper ,” tambahnya. Pada Oktober 1941 Lyuda dipindah ke Sevastopol. Di sinilah, pada Pengepungan Sevastopol (30 Oktober 1941-Juli 1942), Lyuda mencetak kelegendarisannya. Hingga Mei 1942, Letnan Lyuda yang berjuluk “Lady Death” mencatatkan angka kill resmi sebanyak 309 nyawa, 36 di antaranya penembak runduk pasukan Axis. Nestapa di Balik Kebanggaan Lyuda dijadikan alat propaganda kesayangan Stalin untuk menyuntik moril jutaan serdadu Soviet di berbagai front. Pada Juni 1942, ia terluka akibat terkena pecahan mortir. Stalin pun memilih menariknya dari medan pertempuran. Setelah Lyuda pulih, Stalin menjadikannya “duta perang” keliling Amerika hingga Inggris sepanjang Agustus-November 1942. Lyuda mengemban misi agar Sekutu lekas membuka front baru agar perang di Eropa tak hanya ditanggung Soviet. “Hadirin. Usia saya 25 tahun dan saya telah membunuh 309 penyerbu fasis. Apakah hadirin tak merasa bahwa kalian sudah terlalu lama bersembunyi di balik punggung saya?” kata Lyuda dalam pidatonya fenomenalnya di Chicago yang mengundang decak kagum ribuan orang. Sontak ia jadi primadona di Amerika. Ia menjalin persahabatan dengan Ibu negara Eleanor Roosevelt dan namanya bahkan diabadikan dengan lagu karangan Woody Guthrie bertajuk “Miss Pavlichenko”. Sekembalinya ke Soviet, Lyuda dipromosikan dengan pangkat mayor sebagai imbalan kesediaannya untuk tetap di garis belakang. Lyuda berkontribusi sebagai instruktur penembak runduk hingga berakhirnya Perang Dunia II. Usai perang, Lyuda melanjutkan studi sejarahnya di Universitas Kyiv sampai 1953. Setelah lulus, ia menunaikan cita-citanya sebagai sejarawan sembari jadi asisten peneliti di markas Angkatan Laut Soviet. Eleanor, sahabatnya yang mantan ibu negara Amerika, dua kali mengunjunginya di Moskva, pada 1957 dan 1958. Lyuda (tengah) saat bersua Anna Eleanor Roosevelt (kanan) pada 1942 dan terus bersahabat sampai akhir hayat. ( loc.gov ). Sebagai perempuan, Lyuda berusaha jadi ibu yang baik untuk Rostislav, putra semata wayangnya. Dia amat bangga Rotislav mengikuti jejaknya menjadi perwira. “Rostislav seorang anak yang baik dan karakternya mirip ayah saya. Tinggi, rambut gelap, dan bermata coklat. Dia melanjutkan tradisi di dinas militer. Slava lulus dengan baik dari Fakultas Hukum Universitas Moskva dan Sekolah KGB (Intelijen Soviet). Dia menyandang pangkat perwiranya dengan kehormatan. Saya bangga padanya,” tutur Lyuda dalam memoarnya. Namun di balik kebanggaan itu, terpendam nestapa. Di sisa hidupnya, Lyuda menderita Post-Traumatic Stress Disorder atau kelainan jiwa yang banyak diderita veteran perang. Akibatnya, Lyuda menjadi alkoholik hingga tutup usia karena stroke pada 10 Oktober 1974 di usia 58 tahun.

  • Soe Hok Gie dan Perploncoan di UI

    PERPLONCOAN lazim dialami oleh mahasiswa baru di perguruan tinggi. Bahasa formalnya orientasi studi dan pengengalan kampus atau kerap disebut ospek.  Kegiatan itu sudah jadi rutinitas ketika memasuki tahun ajaran baru. Namun, sederet stigma miring melekat kala mendengar kata “diplonco”. Mulai dari senioritas, intimidasi, hingga kekerasan kerap terjadi dalam perploncoan. Itulah yang terjadi baru-baru ini di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Walaupun pada masa pandemi seperti sekarang, perploncoan tetap dilaksanakan secara daring. Dalam sekejap, kegiatan itu menjadi sorotan publik lantaran terlihat beberapa senior membentaki juniornya. Aksi bentak-bentak itu muncul di media sosial, jadi viral, dan menuai banyak kecaman. Merentang ke belakang, perploncoan memang sudah menjadi tradisi dari masa-masa. Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa terkemuka itupun pernah merasakannya. Dalam catatan hariannya Soe Hok Gie menuangkan pengalamannya diplonco bahkan dirundung oleh seniornya.      Mahasiswa Jurusan Sejarah Pengumuman ujian selesai. Setelah menyandang predikat lulus, Soe Hok Gie pun resmi menjadi alumnus SMA Kanisius. Gie kemudian mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Semula Soe Hok Gie diterima di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta (kini UNJ). Tapi, dia mencoba peruntungan juga di Universitas Indonesia. Pilihan pertamanya jurusan psikologi tapi gagal. Soe Hok Gie diterima pada pilihan kedua, yaitu jurusan sejarah. Resmilah Soe Hok Gie jadi mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UI angkatan 1961. Kampusnya masih di Rawamangun. Sebelum mulai kuliah, diadakan masa perploncoan dari tanggal 27 September sampai 1 Oktober. “Ketika baru diplonco kami dibentak-bentak, ditendang tas kami dan dimaki-maki,” catat Soe Hok Gie tanggal 20 Oktober 1961 dalam catatan hariannya yang dibukukan Catatan Seorang Demonstran . Soe Hok Gie menyaksikan dirinya dan kawan-kawan seangkatan diperlakukan seperti binatang. Berbagai risakan terlontar dari lisan senior. Misalnya, “jelek lu”, “muka lu lihat dulu”, “gigi lu kuning”, dan sebagainya. Pada awalnya, Soe Hok Gie menganggap perploncoan itu sia-sia belaka tiada guna. Tetapi kemudian dia melihat sisi positifnya. Khususnya bagi "anak-anak borjuis" atau yang mereka tidak bepikiran dewasa. Ketika diplonco, Soe Hok Gie mengingat salah satu kawannya bernama Nurul Komari. Dia mendapat kesan bahwa kawannya itu seorang “anak mami” karena sangat tergantung dengan ibunya. Dalam perploncoan, dia menangis karena dimaki-maki. “Di sinilah adanya unsur positif dari perploncoan, setidak-tidaknya kita dicoba (biar cuma lima hari), untuk menghadapi situasi nyata atas beban sendiri,” kata Soe Hok Gie. Seorang anak, lanjutnya, mau tidak mau menjadi dewasa. Dia harus berani dan sadar untuk melepaskan diri dari pelindungnya, dalam hal ini orang tuanya. Menurut Soe Hok Gie, dalam perploncoan ada dua jenis manusia. Sebagian berani menghadapi kenyataaan dengan bersikap sesuai. Dia termasuk dalam golongan ini. Waktu diplonco, Soe Hok Gie ketawa-ketawa saja sehingga ada seniornya yang bilang kalau dia senang diplonco. Sebagian lagi marah-marah dan mendendam. Dalam keadaan demikian, perploncoan ibarat malapetaka bagi mereka. Mereka adalah orang-orang konyol, demikian tulis Soe Hok Gie dalam catatannya. Dalam perploncoan, Soe Hok Gie mendapat kawan-kawan senior yang menjadi akrab. (Richard Zakaria) Leirissa (sejarah tingkat II) seorang yang baik hati dan mau membimbing. Ong Hok Ham (sejarah tingkat II) seorang yang pandai dan berkata supaya Soe Hok Gie merasakan hidup kemahasiswaan yang sedalam-dalamnya. Di kemudian hari, R.Z. Leirissa dan Ong Hok Ham menjadi sejawaran beken Indonesia lewat karya-karya mereka.     Plonco di Mapala Pada waktunya, Soe Hok Gie pun naik tingkat menjadi senior. Meski demikian, dia tidak ikutan memplonco anak baru. Dalam catatan hariannya tanggal 4 Oktober 1962, dia sebenarnya mengakui punya ketertarikan untuk ikut sebagai senior dalam masa perkelanan. Tujuannya semata-mata ingin mengetahui perangai mahasiswa baru dan memberikan pandangan postif bagi mereka. Tapi pada akhirnya, dia lebih memilih bergumul dengan alam dengan membentuk komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Mapala UI didirikan pada 1964 sebagai organisasi internal mahasiswa UI. Kegiatannya berupa perkemahan, perjalanan, dan pendakian gunung, termasuk konservasi alam. Mapala juga menjadi penampungan bagi mahasiswa yang jenuh dari hiruk pikuk politik kampus yang melibatkan organisasi kampus dengan partai politik tertentu. Soe Hok Gie merupakan salah satu perintisnya di Fakultas Sastra. Sudah jadi tradisi pula jika calon anggota Mapala mesti “ditatar” terlebih dahulu sebelum resmi diterima sebagai anggota. Pada Desember 1969, Mapala melakukan pendakian ke Gunung Semeru, Jawa Timur.  Dalam daftar rombongan, tercatat beberapa nama pentolan pencinta alam. Soe Hok Gie salah satu di antaranya. Saat itu, dia telah menjadi dosen muda di kampusnya. Selain itu, dia juga dikenal sebagai penulis, aktivis, dan tokoh pergerakan mahasiswa di zaman awal Orde Baru. Dalam kumpulan tulisan Soe Hok Gie Sekali Lagi,  Rudy Badil mengenang waktu itu masih mahasiswa tingkat persiapan jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI. Seingat Badil, Maman (ketua Mapala) dan Soe Hok Gie kemungkinan besar akan melantiknya dan diberi nomor anggota Mapala FS-UI kalau dirinya yang perilakunya dianggap pembangkang bisa perform lumayan. “Ingat,  elo  kami plonco di hutan gunung supaya lebih dewasa dan tidak ngotot dan melawan senior-senior, ya,” kira-kira begitu kata Soe Hok Gie sebagaimana dikisahkan Badil dalam artike “Antar Hok-Gie dan Idhan ke Atas”. Soe Hok Gie menasihati Badil supaya mengurangi sedikit perilaku hura-hura. Beberapa senior Mapala Fakultas Sastra kurang begitu menyukai Badil. Saat itu dia tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Djakarta yang kerap diplesetkan Ikatan Mahasiswa Dansa yang katanya borjuis. Di sela-sela perjalanan, Soe Hok Gie pernah berujar, “Ingat Dil, elo harus punya kepribadian ya.” Wejangan Soe Hok Gie itu begitu membekas bagi Rudy Badil. Lelaki yang kemudian menjadi jurnalis itu tak menyangka jika pendakian itu menjadi kebersamaan terakhir mereka.*

  • Siapa Sebenarnya Bangsa Indonesia?

    Suatu hari, Truman Simanjuntak mengikuti seminar tentang Austronesia. Arkeolog senior yang banyak meneliti manusia prasejarah ini kemudian dirubung wartawan. Seorang wartawan mengajukan pertanyaan tak terduga: Siapa sebenarnya bangsa Indonesia? “Jawaban saya waktu itu rasanya kurang memuaskan. Ini lalu menjadi tantangan saya untuk menjawabnya,” kata Truman dalam bedah buku terbarunya, Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Truman menilai arkeologi bisa menjawab pertanyaan itu. Ilmu ini bisa menggali masa lampau tanpa batas, selama ada interaksi manusia dengan lingkungan yang kemudian menyimpan data hingga kini. “Nilai-nilai yang tercermin itu kemudian menjadi pondasi masyarakat masa sekarang dan masa yang akan datang,” ujar Truman. Truman memerlukan waktu lima tahun untuk menyarikan semua temuannya menjadi jawaban pertanyaan wartawan itu. Ia tuangkan jawabannya dalam buku yang menjelaskan perjalanan Indonesia sejak dihuni manusia pertama hingga kini. Baca juga:  Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara Menurut Truman, ada empat kata yang mengantarkan Indonesia pada kondisi masa kini. “Ada proses migrasi, adaptasi, interaksi, kemudian berevolusi hingga pada Indonesia yang kita punyai kini,” katanya. Dari proses itu, kata Truman, Indonesia sarat dengan nilai-nilai dan capaian para leluhur. Misalnya, ada Homo erectus yang punya ide dalam menciptakan bentuk hiasan geometris pada cangkang kerang. Belum lagi gambar cadas tertua yang usianya puluhan ribu tahun, yang lawannya hanya ada di Spanyol. “Indonesia harusnya leading peradaban global,” tegas Truman. Ketika melakukan perjalanan ke pelosok Nusantara, Truman menemukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal terutama dalam interaksi dengan lingkungan, keuletan, dan gotong royong. Inilah yang mestinya menjadi landasan dalam berbangsa dan bernegara. “Semua nilai itu dipres oleh para pendahulu kita menjadi Pancasila,” kata Truman.“Pancasila bukan begitu saja muncul pada sekitar kemerdekaan, perumusannya iya, tapi nilainya sudah ada jauh sejak ribuan tahun.” Kesadaran Multietnik Sementara itu, peneliti utama Balai Arkeologi Yogyakarta, Harry Widianto, mengungkapkan bahwa perjalanan evolusi Homo sapiens yang rumit menjadi awal terbentuknya populasi yang mendiami kepulauan Nusantara. Diaspora Sapiens atau manusia modern dimulai sejak pertama kali mereka keluar dari Afrika, kemudian menjangkau berbagai wilayah yang jauh, termasuk Indonesia. Setidaknya, sejak 70 ribu tahun lalu kepulauan Nusantara sudah disinggahi manusia modern awal. Ras Australomelanesid ini mendiami Indonesia bagian timur. Di antara mereka kemudian ada yang bermigrasi ke barat melalui Nusa Tenggara Barat dan Timur. “Perjalanan dimulai 40 ribu tahun lalu,” kata Harry. Jejak mereka kemudian bercampur dengan ras Mongoloid di wilayah NTT dan NTB. Ras Mongoloid inimengisi bagian barat, seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, juga Asia Tenggara. “Ini saudara kita datang dari utara menempati kepulauan Indonesia bagian barat,” kata Harry. “Manusia yang ketemu di NTT-NTB itu percampuran.” Baca juga:  Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan Menurut Harry, pengetahuan ini penting bagi kesadaran multietnik masyarakat Indonesia. Kendati berbeda secara fisik, tapi secara historis orang-orang di Indonesia bagian timur sangat dekat dengan masyarakat bagian barat. “Kita punya tiga warna, di timur, NTB-NTT, dan barat. Kita ini berangkai. Ini penting untuk memahami diversitas untuk kedamaian bangsa,” kata Harry. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengamini kalau keberagaman Indonesia telah ditunjukkan oleh populasi awal yang mendiaminya. Selain yang sudah dibahas dalam buku Truman, Daud menjelaskan bahwa hasil penelitian genetika terbaru semakin menunjukkan itu, bahwa Australomelanesid yang cukup lama mendiami kepulauan Nusantara rupanya memiliki ciri yang berbeda-beda. “Kalau saya membaca deskripsi Australomelanesid (dalam buku karya Truman, red. ) yang cukup lama tinggal di Indonesia memberi kesan jenis manusia ini mempunyai ciri yang sama di daerah-daerah huniannya. Penelitian genetika akhir-akhir ini, Australomelanesid punya ciri beda,” kata Daud. Baca juga:  Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara Di wilayah barat, ras Australomelanesid tak memiliki genetika Denisovan, yaitu manusia Neanderthal yang pernah hidup di Asia Timur dan Eropa Timur. Genetika ini hanya ditemukan pada ras Australomelanesid yang mendiami wilayah timur Indonesia. “Bagaimana mereka masih menyimpan gen itu sampai sekarang? Ini bukti keunikan kepulauan Indonesia. Pembahasan ini akan memperkaya soal keragaman tadi,” kata Daud. Bagi Daud, evolusi budaya tak selalu berjalan linier dan sama di semua tempat. Proses perubahannya multilinier, bahkan ke segala arah. “Daya serap budaya luar maupun kemampuan dan kebutuhan berinovasi beda-beda, bergantung pada komunitas yang menjalaninya,” ujar Daud. Baca juga:  Leluhur Orang Papua Contohnya sikap orang Baduy yang tidak ingin menyerap modernitas. Padahal, mereka berada tak jauh dari hingar bingar Jakarta. Komunitas pengguna kubur megalitik di Gunung Kidul dan pendukung kubur kalang di Bojonegoro diyakini masih eksis ketika Kerajaan Mataram Hindu mendirikan candi-candi megahnya. “Seakan tersisih padahal mereka bagian dari kerajaan itu. Mereka tetap teguh pada prinsipnya. Saya kira ini hampir terjadi di setiap perjalanan budaya di segala zaman,” kata Daud. Ini yang kemudian memunculkan bercak-bercak budaya di negara kepulauan Indonesia. Ini pula yang akan menambah keyakinan akan adanya keragaman. “Di Indonesia tidak pernah ada yang mendominasi. Selalu terjadi percampuran persamaan kebersamaan,” ujar Daud. Karakter Luhur Manusia Indonesia Hidup di wilayah kepulauan Nusantara memunculkan karakter masyarakat yang khas. Menurut Daud, lingkungan kepulauan akan membentuk budaya yang jarang ditemukan di wilayah lain. “Saya berharap kajian adaptasi lingkungan kepulauan dibahas lebih banyak di buku ini, walaupun di dalam buku sudah disebut kekhasan kita adalah kepulauan,” kata Daud . Nilai luhur manusia Indonesia, lanjut Daud, berpangkal pada proses adaptasi terhadap lingkungan kepulauan. Karenanya orang Indonesia lebih mengenal sebutan tanah air ketimbang mother land atau father land. Baca juga:  Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan Ini yang menjadi ciri budaya Nusantara, bahwa masyarakatnya sangat menghargai perpaduan tanah dan air sebagai sumber kehidupan. “Makanya pasti ada inovasi yang muncul dalam lingkungan yang khas ini,” ujar Daud. Tinggal di lingkungan kepulauan juga memunculkan sifat keterbukaan. Para leluhur bangsa Indonesia terbiasa bertualang, singgah ke berbagai tempat, bertemu ragam manusia dan budaya yang berbeda. “Mereka selalu bertemu manusia dan hal baru di lingkungan yang baru. Jadi tidak mungkin jadi orang tertutup,” ujar Daud. Baca juga:  Indonesia Penutur Austronesia Terbesar Kebiasaan bertualang mencari hal baru itu menumbuhkan kepercayaanpada kekuatan di luar dirinya. Misalnya, ketidakpastian di laut menyebabkan mereka lebih religius. “Mengapa Pancasila, sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?” tanya Daud. “Akarnya adalah perjalanan panjang para penghuni kepulauan yang penuh bahaya, lebih berisiko daripada kalau di daratan.” Sifat tak kenal menyerah untuk menemukan hal baru juga menjadi karakter orang kepulauan. Ini muncul dari tradisi leluhur untuk mengkoloni daerah baru, menjelajah dari satu pulau ke pulau lainnya. Baca juga:  Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika Peribahasa seperti bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, menurut Daud, juga mencerminkan jiwa para penutur Austronesia. “Tradisi mereka berlayar menentang angin dulu, susah dulu, tapi kalau tak menemukan tempat baru, mereka hanya akan kembali mengikuti arusnya, kembali pulang,” lanjut Daud. Daud menilai Truman telah menginisiasi upaya untuk tak hanya bercerita tentang masa lalu lewat data arkeologi. Tapi karya terbarunya ini telah merumuskan lebih jauh bagaimana nilai luhur yang berasal dari masa prasejarah ditransmisikan ke masa kini. Termasuk, bagaimana ciri keindonesiaan yang bineka tunggal ika terbentuk. “Pesan seperti itu jarang kita temui dalam buku arkeologi,” kata Daud.“Ini memberikan contoh kerja arkeologi yang bermanfaat lebih nyata, di mana kita bisa ikut membentuk kebangsaan kita.”

  • Masa Bersiap dan Ironi Belanda

    Selama Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa. “Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “ De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos? ” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?). Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut. Di Batavia dalam kurun itu, orang-orang Eropa menghilang, bahkan ketika sedang berada di kota dan pada akhirnya tubuh mereka ditemukan mengambang di salah satu kanal beberapa hari kemudian. Rumah-rumah keluarga kulit putih juga dikepung pada malam hari dan para penghuninya dibunuh tanpa ampun, termasuk anak-anak dan perempuan. “Molenvliet, suatu kanal panjang yang mengalir dari kota tua ke arah selatan merupakan tempat favorit kaum inlander untuk melakukan penyergapan, seperti halnya jalan utama dari Senen ke Jatinegara,” papar Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Praktek teror itu pada akhirnya menyebar ke seluruh kawasan luar Batavia. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah ommelanden (luar tembok kota) yang tak terlepas dari kegilaan revolusiener orang-orang pribumi. Telan (94), masih ingat bagaimana para pemuda di wilayah Tambun menggerebek rumah orang-orang Tionghoa dalam suatu dini hari. “Karena orang Belanda sedikit di wilayah itu, para pemuda lalu menjadikan orang-orang Cina sebagai sasaran. Mereka banyak dibunuh dan mayatnya dicempungin ke Sungai Citarum,” ungkap eks anggota sebuah lasykar di Karawang itu. Telan menyebutkan sebagian pemuda yang terlibat dalam aksi di masa bersiap itu adalah anggota-anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan para jagoan (sekarang dikenal dengan istilah: preman) yang kelak banyak bergabung ke Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR).   Menurut  jurnalis cum peneliti sejarah Wenri Wanhar, tidak hanya di “kandangnya masing-masing”, para jagoan Karawang-Bekasi itu juga ikut meramaikan aksi gedoran di Depok pada 11 Oktober 1945. Di bawah pimpinan Camat Nata, mereka datang dari arah timur Depok dengan menggunakan kereta api, truk dan gerobak sapi. “Gerombolan tersebut dengan bebas merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa,” ungkap Wenri dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 . Pihak intelijen Belanda (NEFIS) meyakini bahwa dengan melihat ciri-cirinya, sangatlah jelas bahwa aksi-aksi itu merupakan aksi kolektif yang terorganisir secara baik. Artinya ada orang atau kelompok tertentu yang mengorganisasi aksi-aksi tersebut. Berdasarkan keyakinan itu, tidak mustahil jika NEFIS mengantongi nama-nama pelaku kekerasan dalam masa bersiap. Namun ironisnya, sekira dua tahun usai kejadian berdarah itu, alih-alih menangkap mereka dan membawanya ke pengadilan, para komandan di jajaran militer Belanda malah memobilisasi para penjahat itu ke dalam Pasukan Non-organik Milik Sang Ratu (HAMOT). Itu suatu milisi yang berisi “para pembelot” dari kubu Republik yang terdiri dari eks prajurit TNI, oknum kriminal dan eks anggota-anggota LRDR. “Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri,” ungkap Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia. Semua kompromi itu terpaksa dilakukan oleh militer Belanda karena adanya keterbatasan personil dan upaya mengefesiensikan pergerakan para serdadu mereka. Para komandan militer Belanda berharap dengan keterlibatan “para kriminal” itu, tingkat kematian dan cidera di kalangan para prajurit kulit putih akibat perang bisa ditekan serendah mungkin. Hingga November 1947, sepakterjang HAMOT memang kerap menuai sukses dalam berbagai operasi tempur. Selain keberanian mereka, faktor penguasaan medan juga mempengaruhi kemenangan-kemenangan itu. Namun menjelang penutupan tahun 1947, secara cepat para anggota HAMOT kembali kepada perangai lamanya: berbuat brutal dan senang menjarah. Mereka kemudian dikenal sebagai milisi yang selalu melakukan tindakan ekstrem secara kemanusiaan. “Bahkan di wilayah yang dikuasai oleh Belanda…” ujar Limpach.

  • The Old Guard, Misteri Ksatria Abadi dalam Lorong Sejarah

    SEJAK awal, Andy (diperankan Charlize Theron) sudah punya perasaan tak enak. Ia ingin menolak karena pantang bagi kelompok mereka menerima misi dua kali dari orang yang sama. Namun Booker (Matthias Schoenaerts) meyakininya bahwa misi yang mereka terima betul-betul hanya mereka yang bisa menjalaninya. Misi itu datang dari mantan agen CIA James Copley (Chiwetel Ejiofor). Copley meminta bantuan Andy cs. untuk menyelamatkan sejumlah gadis yang disekap kelompok teroris di Sudan Selatan. Lantaran terenyuh mengetahui detail misi itu, Andy akhirnya setuju. Dua sisa rekannya, Nicky (Luca Marinelli) dan Joe (Marwan Kenzari), pun turut diterbangkan dari Maroko ke Sudan, lokasi misi. Namun di lokasi, alih-alih para korban penyekapan yang mereka temui, mereka malah bertemu sekelompok orang bersenjata yang menjebak. Seketika kuartet Andy-Booker-Nicky-Joe tumbang setelah bertubi-tubi diteembus timah panas. Tanpa dinyana, keempatnya bangkit. Mereka hidup lagi. Belasan kelompok tak dikenal itu pun jadi sasaran amuk. Copley pun jadi target balas dendam Andy dkk. Adegan dahsyat itu jadi pembuka film laga bertajuk The Old Guard. Film garapan Gina Prince-Bythewood dengan action yang penuh greget ini diadaptasi dari komik dengan judul serupa karangan Greg Rucka. Sang penulis komiknya juga terlibat dalam film sebagai penulis naskah. Alur maju-mundur yang diterapkan Prince-Bythewood seolah ingin membuat penonton mudah menikmati film dengan pengungkapan sejarah di balik keempat pahlawan super tanpa jubah itu. Andy alias Andromache of Scythia jadi yang tertua sekaligus pemimpin di kuartet pembunuh bayaran itu. Disebutkan, usianya sudah lebih dari enam ribu tahun. Nicky atau Nicolò dari Genoa dan Joe alias Yusuf al-Kaysani berasal dari era Perang Salib I. Mereka berasal dari dua pasukan bermusuhan namun akhirnya berteman dan bahkan saling mencintai sebagai sesama jenis. Lantas ada Booker atau Sebastian Le Livre yang berasal dari abad ke-19. Ia dulunya salah satu prajurit di pasukan Kaisar Prancis Napoléon Bonaparte yang turut dalam kampanye menaklukkan Rusia pada 1812. Dalam perjalanan memburu Copley, keempatnya mendapat tambahan kombatan. Yakni, Nile Freeman (KiKi Layne) yang prajurit marinir perempuan Amerika yang bertempur di Afghanistan. Yang menarik, kekuatan mereka tak serupa superhero kebanyakan. Mereka tak bisa terbang. Tak pula sanggup menahan peluru dengan biji mata bak Superman. Namun, seperti yang dikisahkan di intro The Old Guard , mereka tak bisa mati. Jika memang belum “waktunya”, mereka takkan mati. Walau ditembus peluru atau ditebas benda tajam pun, mereka akan hidup lagi. Mirip superhero Hancock atau Deadpool, kira-kira. Pertanyaannya, siapa mereka? “Mengapa mereka bisa terlahir seperti itu” jadi pertanyaan besar bagi keempatnya yang oleh Andy pun belum bisa dimengerti. Jawabannya akan mereka temukan seiring berjalannya di film. Oleh karenanya, saksikan saja sendiri. Aksi-aksi kerennya bisa disaksikan via daring di Netflix sejak film ini rilis pada 10 Juli 2020. Nile Freeman, anggota termuda dalam kumpulan kombatan "The Old Guard". ( skydance.com ). Mitos Perempuan Pejuang Untuk menunjang adegan-adegan laganya dengan tone gelap, The Old Guard memadukan music scoring klasik dan modern garapan komposer Volker Bertelmann dan Dustin O’Halloran. Kombinasinya kian meningkatkan sensasi yang bisa menghanyutkan perasaan penonton, utamanya dalam scene masa lalu sosok Andromache (Andy). Siapa sebenarnya Andromache? Bertolak dari mana Rucka dan ilustrator Leandro Fernández melahirkan karakternya? “(Komik) The Old Guard (bertolak, red .) dari ide tentang cerita-cerita hantu terkait prajurit yang tak bisa mati. Cerita-cerita itu ada di hampir semua budaya militer. Beberapa unsur mitologi juga muncul dalam ide itu, di mana ada seorang wanita yang secara usia sangat tua namun dia tak bisa mati dan menjadi pejuang yang berbahaya di dunia karena dia punya pengalaman bertempur selama tujuh ribu tahun,” tutur Rucka kepada Esquire , 12 Juli 2020. Rucka juga mengemukakan, alur kisahnya tentang ambisi seorang hartawan dan pemilik kerajaan teknologi. Dari masa ke masa orang-orang semacam itu, yang digambarkan Rucka dalam sosok antagonis Steven Merrick, selalu berhasrat untuk mencari rahasia untuk hidup abadi demi menikmati kekayaannya. “Saya cukup yakin bahaw pertamakali Homo sapiens mengetahui kematian, artinya segala urusan orang itu sudah berakhir. Pemikiran berikutnya adalah, apa yang terjadi jika mereka tidak mati? Kita, manusia, memimpikan keabadian sejak mengetahui apa itu kematian,” lanjutnya. “Kita hidup di era di mana kita hidup tidak sehat tapi ingin hidup lebih lama. Teknologi kemudian terlibat, dan bukan rahasia lagi beberapa konglomerat di planet ini mungkin sedang mencari cara untuk hidup selamanya. Kematian memang menakutkan tapi itulah siklus alam. Jika kita bisa hidup selamanya, muncul pertanyaan siapa yang berhak hidup abadi? Apakah kaum kaya? Karena jika itu terjadi, dia hanya akan bertambah kaya,” sambungnya. Lukisan Andromache tengah meratapi kematian suaminya, Hector, karya Jacques-Louis David tahun 1783. (Louvre Museum). Rucka turut terinspirasi dari mitologi Yunani dalam menciptakan karakter utama Andromache. Dalam mitologi Yunani, setidaknya ada dua perempuan yang menyandang nama itu ribuan tahun silam, sebelum Masehi. Pertama adalah Andromache dari Troya. Ia adalah istri Hector, putra mahkota Kerajaan Troya, yang tewas dalam duel kontra petarung Yunani Achilles di Perang Troya (antara 1260-1180 SM). “Setelah Hector tewas, Troya direbut pasukan Yunani dan Astyanax, putra Andromache dan Hector dibunuh dengan dilemparkan dari tembok kota. Andromache kemudian dijadikan selir Neoptolemus, putra Achilles. Karakter Andromache merepresentasikan penderitaan para perempuan Troya selama dan setelah perang,” ungkap Luke dan Monica Roman dalam Encyclopedia of Greek and Roman Mythology. Selain kebajikannya, Andromache dikenal karena kesetiaannya. Meski kemudian menikahi Helenus, adik Hector pasca-kematian Neoptolemus, Andromache yang sudah menjadi Ratu Epirus membangun banyak monumen Hector. Di monumen Hector, setiap hari Andromache datang membawa persembahan sembari meratap hingga Andromache meninggal karena usia yang sudah renta. Karakter setia dan penuh lara Andromache di masa lalunya digambarkan Rucka dalam komik The Old Guard sebagai Andy yang juga punya kepedihan masa lalu. Andy hidup abadi namun kerap meratapi kekasihnya, Lykon, yang lebih dulu meninggal. Andromache kedua dalam mitologi Yunani yakni, ksatria perempuan Amazon. Rucka menjadikannya sebagai inspirasi untuk mendeskripsikan ketangkasan dan keperkasaan Andy dalam bertarung. Amazon yang dimaksud tentu bukan yang di Brasil, melainkan nama suku yang dalam mitologi Yunani berasal dari Asia Minor (Semenanjung Anatolia, Turki). Kisah Andromache asal Amazon ini tergambar dalam lukisan karya Timiades yang menghiasi sebuah bejana Thyrrenian kuno dari tahun 570 SM. Lukisan tersebut mengisahkan Perang Attic yang mempertemukan Andromache melawan Herakles alias Hercules, putra Dewa Zeus. “Lukisan di bejana itu menggambarkan Herakles tengah menggenggam tangan Andromache saat sang ksatria perempuan itu ingin menghindar. Dikisahkan walau bertarung dengan sengit, Andromache dikalahkan Herakles, walau dalam bejana itu digambarkan juga perempuan Amazon lainnya, Panariste, mengalahkan petarung Yunani lainnya,” tulis Emma Stafford dalam Herakles. Lukisan duel antara Andromache vs Herakles dalam bejana dari era 570 SM-560 SM (kiri) & penggambaran Andromache dalam film. (Perseus Digital Library/ netflix.com ). Sementara, soal “Scythia” di belakang nama Andy dalam The Old Guard merujuk pada suku bangsa nomaden asal Siberia Selatan di era sekitar abad ke-11 SM hingga abad ke-2 M. Seperti halnya bangsa Mongol, orang Scythia juga merupakan bangsa petarung yang biasa bertualang dari Siberia ke Stepa Eurasia hingga Pegunungan Carpathia. Dari mitos-mitos dan dongeng masa kuno itulah Rucka menciptakan latarbelakang Andy ketika merampungkan komik The Old Guard jilid pertamanya pada 2017. “Latar belakang Andy berakar jauh dalam sejarah, berdasarkan kisah-kisah petarung perempuan Amazon. Para petarung ini bermunculan dari wilayah Kaukasus dan mengembara ke mana-mana dari ujung utara Eropa hingga Mediterania, bahkan hingga Afrika Utara,” tandas Rucka. Namun, inti kisah The Old Guard bukanlah soal rahasia bisa hidup abadi, melainkan bagaimana kelima ksatria “abadi” itu bisa jadi kunci atas keseimbangan atas apa yang terjadi di dunia dari zaman ke zaman. Rucka menguraikannya lewat karakter Copley yang memantau aksi-aksi Andi cs. Setiap anak yang diselamatkan Andy cs. dalam peristiwa-peristiwa bersejarah terdahulu, ternyata jadi “juru selamat” bagi dunia. Mereka menjadi mesias melalui beragam cara, entah ketika dewasa menjadi dokter, penemu vaksin, ataupun relawan kemanusiaan yang menyelamatkan banyak nyawa. Data film Judul: The Old Guard | Sutradara: Gina Prince-Bythewood | Produser: Charlize Theron, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, AJ Dix, Beth Kono, Marc Evans| Pemain: Charlize Theron, KiKi Layne, Marwan Kenzari, Luca Marinelli, Matthias Schoenaerts, Chiwetel Ejiofor, Harry Melling, Veronica Ngo | Produksi: Skydance Media, Denver and Delilah Productions, Marc Evans Productions | Durasi: 125 Menit | Rilis: 10 Juli 2020 (Netflix).

  • Kekuatan Volvo di Indonesia

    Volvo menjadi trending topic karena tak apa-apa setelah ditabrak oleh Fortuner dari belakang di tol dalam kota arah ke Tanjung Priuk, Jakarta, Selasa (15/9). Volvo 960GL tahun 1997 itu hanya penyok sedikit, sedangkan muka Fortuner hancur. Warganet pun membandingkan ketangguhan mobil Eropa dan Jepang. Volvo masuk Indonesia sejak setengah abad lalu. Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Volvo adalah PT Central Sole Agency milik Salim Group, perusahaan yang didirikan oleh Liem Sioe Liong alias Sudono Salim yang dekat dengan Presiden Soeharto. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil impor harus dirakit di dalam negeri, Salim Group mendirikan PT ISMAC (Indo-Swedish Motor Assembly Corporation), perusahaan patungan bersama PT. Pembangunan Jaya dan A.B. Volvo. Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX meresmikan pabrik perakitan Volvo PT ISMAC di Ancol, Jakarta pada 22 Oktober 1975. Investasi pembangunan pabrik menelan biaya 9 juta dolar. Tanah untuk pabrik itu dihitung sebagai saham PT Pembangunan Jaya. Baca juga:  Laporan Khusus: Berdiri di Atas Mobil Sendiri Bondan Winarno dalam Tantangan Jadi Peluang: Kegagalan dan Sukses Pembangunan Jaya Selama 25 Tahun , menyebut Volvo sendiri sudah mulai dipasarkan di Indonesia sejak 1968, dan baru pada 1975 mulai dirakit di sini dengan berdirinya PT ISMAC. “Volvo pertama rakitan PT ISMAC mulai meluncur di jalanan Indonesia pada 1975. Kini (1987, red .), bus dan mobil sedan Volvo di Indonesia sepenuhnya dirakit oleh ISMAC,” tulis Bondan. Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto , usaha ini menyuplai kendaraan bagi para pejabat dan perwira tinggi. Sayangnya, perusahaan tertatih-tatih dalam mencetak untung, sebagian besarnya karena mayoritas konsumen adalah pemerintah. Bagaimana caranya minta uang kepada para jenderal? Mereka berharap negara membayari, padahal pemerintah mungkin saja tidak punya anggaran. Banyak Volvo untuk para pejabat senior, tetapi perusahaan tidak mendapat uang dari mereka. Baca juga:  Liem Sioe Liong Sang Taipan Mi Instan “Banyak sekali Volvo terjual untuk para pejabat tinggi Angkatan Bersenjata, polisi, dan pemerintah, tetapi tidak dibayar. Karena itu tidak mengherankan jika perakitan Volvo adalah bisnis merugi. Ini sangat memukul Albert Salim [anak Liem Sioe Liong) yang jelas tidak senang dihubungkan dengan bisnis bikin rugi. Bertahun-tahun kemudian dia menyatakan bahwa sangat sulit mendapatkan uang dengan menjual Volvo pada masa itu,” tulis Richard dan Nancy. Kendati demikian, keadaan itu tak menghentikan Salim Group ekspansi di bidang otomotif. Salim Group sempat memegang keagenan BMW tapi pada akhir 1970-an dijual ke Astra. Pada 1980, Salim Group membeli keagenan mobil Mazda, truk Hino, dan Land Rover dari pengusaha Hasjim Ning. Baca juga:  Sejarah Mobil Timor Tommy Soeharto Salim Group juga membeli perusahaan milik pengusaha kasino, Atang Latief, yang memegang keagenan Suzuki, yaitu Indomobil Utama dan Indohero Steel & Engineering. Yang menjalankan bisnis Suzuki adalah Soebronto Laras. Salim Group kemudian menambahkan merek Datsun (Nissan) dan merek-merek lain ke Indomobil. Menurut Richard dan Nancy, Salim Group membeli Indomobil dengan syarat yang tidak diungkapkan, tetapi belakangan Soebronto mengatakan bahwa syarat itu termasuk kesepakatan dirinya tetap di situ. “Dengan ditutupnya kasino, kami harus bergantung pada sebuah kelompok besar, dan mereka membutuhkan mitra yang sudah berkembang baik… sudah menjajal itu betul, tetapi tidak mengembangkannya,” kata Soebronto. Peresmian pabrik perakitan Volvo di Ancol, Jakarta, 22 Oktober 1975. (Perpusnas RI). Dalam otobiografinya, Meretas Dunia Automotif Indonesia , Soebronto menceritakan bagaimana membangun kembali imej Volvo. Dia yakin masih bisa menyelamatkan Volvo karena masih bisa berjalan sendiri. Show room Volvo dihidupkan kembali . Tetapi, untuk mengangkat kembali citra Volvo memang sulit. Harus membuat perhitungan yang sangat matang dalam membangun kembali Volvo. H arus melewati banyak kesulitan terutama mencari pemasaran. “Hanya saja, kami sangat yakin dengan kualitas prima sedan Volvo produksi Swedia ini,” kata Soebronto.“Kami sangat yakin, sebenarnya Volvo juga memiliki pasar di Indonesia.” Soebronto melakukan gebrakan penjualan pada 1987. Dalam acara pameran Volvo di berbagai negara, di Indonesia diadakan di Ballroom Hotel Hilton Internasional pada 19 Oktober 1987 . Indomobil mendapat biaya promosi iklan dari agen tunggal Volvo, Volvo Car Corporation, melalui perwakilan Volvo untuk Asia yang berkedudukan di Singapura. Dalam iklan diperlihatkan bagaimana animo orang di luar negeri terhadap Volvo. “Di Taiwan, malah mobil Volvo disusun tujuh untuk membuktikan Volvo sangat kuat dan tahan benturan,” kata Soebronto. Baca juga:  Cerita Pahit Mobil Rakyat Mazda MR 90 Soebronto mengundang 200 tamu eksekutif yang dianggap potensial untuk membeli Volvo mewah.Hasilnya luar biasa. Ciputra saja membeli enam mobil Volvo 740 jenis Classic 2.3. “ Bayangkan saja, hanya dalam waktu beberapa jam mampu menjual Volvo 75 unit atau memasukkan uang Rp4,5 miliar ,” kata Soebronto. Volvo berjaya pada masa Orde Baru. Volvo menjadi kendaraan dinas para menteri dan pemimpin lembaga negara. Bahkan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok di Jakarta pada 1992, Volvo termasuk kendaraan yang dipilih pemerintah untuk para pemimpin negara-negara peserta konferensi. Setelah Orde Baru berakhir, Volvo masih bertahan sebagai kendaraan para menteri dan pemimpin lembaga negara sampai era Presiden Megawati Sukarnoputri. Setelah itu, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (2004–2009), kendaraan menteri diganti Toyota Camry. Baca juga:  Tergoda Mobil Chevy Menurut Hamid Awaludin dalam Solusi JK: Logis, Spontan, Tegas, dan Jenaka , kabarnya, JK meminta kepada SBY agar soal kendaraan para anggota kabinet diserahkan kepadanya. Saat itu, Volvo masih dipertimbangkan untuk kembali dipakai. Namun, JK menghitung Volvo terlampau mahal. JK memilih sedan Toyota Camry. Dia mau membeli sekitar 40 unit tapi harganya Rp275 juta per unit, jauh di bawah harga jual, Rp425 juta. Alasannya, dengan dipakai para menteri dan pemimpin lembaga negara mobil itu dengan sendirinya diiklankan. “Masa jabatan menteri kan lima tahun. Jadi, selama lima tahun tersebut, menteri-menteri memakai Camry. Artinya, Anda sudah dipasarkan dengan sendirinya oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya,” kata JK. “Banyak pengusaha mobil dari berbagai merek datang untuk menawarkan produknya, termasuk Volvo,” lanjut JK. “Jadi, kalau Anda tertarik dengan tawaran saya, oke, kali ini kita mulai sejarah baru bahwa para menteri dan pejabat lembaga negara lainnya akan menggunakan Toyota. Ini sebuah era baru bagi Toyota.” Baca juga:  Benarkah Ketok Magic Memakai Kekuatan Gaib? Tawaran JK diterima oleh Toyota Astra Motor. Para menteri dan pemimpin lembaga negara pun memakai Toyota Camry.Pada periode kedua SBY-JK (2009–2014), para menteri dan pemimpin lembaga negara masih memakai Toyota tapi di atas Camry, yaitu Crown Royal Saloon G. “Prediksi JK tidak meleset. Begitu para menteri memakai sedan Camry, pelan-pelan para pejabat daerah pun mulai ikut memakai Camry. Sektor swasta pun demikian. Dan hingga kini (2009, red .) omset penjualan Camry, dari berbagai jenis dan kelas, tetap saja digemari orang di Indonesia,” tulis Hamid. Tak lagi digunakan sebagai kendaraan dinas oleh menteri dan pemimpin lembaga negara seakan menjadi akhir dari era Volvo. Indomobil pun melepaskan Volvo. Sejak Januari 2017, Garasindo Group menjadi pemegang tunggal Volvo di Indonesia.

  • Djatikusumo Bungkam Panglima RAF

    Pada suatu hari di tahun 1958, Kolonel Djatikusumo dipanggil Presiden Sukarno ke Istana Merdeka. Oleh presiden, mantan KSAD itu diberi tugas yang di luar bidang profesinya. “Heh, Djati. Kamu mau saya jadikan Konjen di Singapura!” kata Sukarno. “Pekerjaan Konjen itu apa sih, Bung?” jawab Djati. “Tidak tahu!” “Lalu suruh apa?” “Tahu sendiri!” Itulah dialog Djati dengan presiden di Istana yang dituliskan Solichin Salam dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo: Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Djati akhirnya memenuhi permintaan tersebut. Dia menjabat sebagai konsul jenderal di Singapura merangkap konsul di Sarawak, Brunei dan Tawao dari 1958 sampai 1959. Selama masa jabatannya, Djati memainkan peran penting. Antara lain, sebagaimana yang dikatakan KSAD Nasution, membantu Lee Kuan Yew dalam memenangkan pemilihan umum. Bantuan itulah yang membuatnya dekat dengan Lee. Saking dekatnya, Djati sampai pernah mengadukan soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata yang digunakan untuk kombatan PRRI dan itu merugikan Indonesia. “Singapura, ternyata dijadikan tempat penjualan senjata kalangan Barat untuk mensuplai senjata kepada gerakan separatis itu. Kepada Letjen Djatikusumo, konsul jenderal Indonesia di Singapura, Lee Kuan Yew mengatakan, bahwa kalau ia nanti berkuasa, para pedagang senjata ( arms dealers ) itu akan dikeluarkan dari Singapura,” tulis Sulastomo dalam Lengser Keprabon . Soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata itu bahkan dipermasalahkan Djati sejak awal. Dia mengemukakannya kepada Mr. David, sekretaris Gubernur Singapura William A.C Goode, saat menyerahkan exequatur (surat resmi dari pemerintah Indonesia untuk meminta izin memulai tugas di negeri bersangkutan). Dalam pertemuan tersebut, David menanyakan Djati apa permasalahan Singapura-Indonesia yang bisa diselesaikan saat itu. Pertanyaan itu menjadi kesempatan buat Djati untuk mengutarakan kedongkolannya. “Itu ada penyelundup-penyelundup mbok ditindak. Itu ada teman-teman pemberontak, mbok itu jangan dikasih visa,” kata Djati menjawab pertanyaan David, dikutip Solichin. “Di sini tidak ada penyelundup, yang ada pedagang,” kata David. “Saya mengerti, orang Indonesia yang sudah meninggalkan perairan wilayah indonesia, di Singapura itu sudah orang dagang. Saya tahu, kembalinya mereka membawa senjata. Apa ini tidak bisa ditindak?” Permintaan Djati ditolak David lantaran pada prinsipnya Singapura tidak bisa menindak seseorang bila tidak melakukan sesuatu yang melanggar undang-undang. Singapura tak peduli bila orang itu melanggar aturan hukum di negeri asalnya. Pernyataan itu membuat Djati mencari akal. “Bolehkah saya ambil tindakan di wilayah Indonesia sendiri?” tanyanya. “Yah, itu hak Saudara,” jawab David. Jawaban David menjadi acuan Djati untuk mengambil tindakan terhadap pesawat-pesawat RAF yang digunakan untuk mendrop senjata ke kombatan PRRI. “Maka ia pun kirim surat kepada KSAD AH Nasution dan KSAU Suryadarma dengan permintaan, coba pasang mitraliyur ukuran 12,7 di pulau depan Singapura. Dengan pesan, kalau ada pesawat RAF terbang rendah, tembak! Tapi jangan sampai kena. Kalau kena, repot. Hanya sebagai peringatan saja, bahwa mereka telah melanggar wilayah Indonesia,” tulis Solichin. Tiga hari setelah mengirim surat kepada KSAD dan KSAU, Djati mendengar suara tembakan dari rumahnya ketika sedang makan siang. Saat kembali ke kantornya, dia mendapat telepon dari David dan diminta datang karena ada hal serius yang mesti dibicarakan. Djati pun menyanggupinya. David menginformasikan, dia ditelepon panglima RAF (AU Inggris) di Singapura Marsekal Udara Earl of Bandon dan diberitahu pesawat-pesawatnya ditembaki serdadu-serdadu Indonesia. David meminta Djati menanganinya karena RAF merupakan organisasi militer resmi, bukan gerombolan atau milisi. Mendengar keterangan David, Djati dengan enteng memberi jawaban. “Ya, memang begitu,” kata Djati yang membuat David bingung dan kesal. David pun kembali melontarkan pertanyaan mengapa bisa begitu tindakan yang diambil Indonesia. “Katanya kemarin saya boleh ambil tindakan di rumah saya sendiri. Dan sekarang ada pesawat terbang asing terbang rendah di wilayah kita, kita suruh tembak. Itu kan hak kita,” Djati menjawab. David yang kesal lalu menjelaskan bahwa pesawat RAF diizinkan terbang rendah di wilayah Indonesia sejak masa Hindia Belanda. Penjelasan itu menjadi blunder buatnya karena Djati langsung menjawab bahwa sepengetahuannya tidak ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Inggris terkait izin terbang rendah pesawat RAF di wilayah Indonesia. Kegagalan David mengatasi masalah tersebut membuat panglima RAF di Singapura turun tangan menyelesaikannya. Dia mengundang Djati makan malam hari itu juga dan dipenuhi Djati. Pertanyaan kenapa pesawat-pesawat RAF ditembaki personil APRI langsung dikeluarkan tuan rumah. Djati menceritakan obrolannya dengan David siangnya, sebagai jawaban terhadap pertanyaan Bandon. Penjelasan Djati membuat panglima RAF itu menjadi paham. “Orang-orang sipil itu tidak mengerti apa-apa. Nanti saya urus. Tapi besok pagi, pesawat saya jangan ditembaki lagi!” ujar Bandon. Djati pun menyanggupi permintaan Bandon. Sejak keesokan harinya, tak ada lagi penembakan terhadap pesawat-pesawat RAF. Sebaliknya, penyelundupan senjata menggunakan pesawat-pesawat RAF juga tak ada lagi sejak itu.

  • Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan

    PEMUKA agama Syekh Ali Jaber diserang seorang pemuda kala menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Alquran di Masjid Falahudin, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020) sore. Syekh Ali Jaber ditusuk sebilah pisau oleh pemuda tak dikenal saat berbincang dengan dua jamaahnya di acara tersebut. Nyawanya masih utuh lantaran pisau pelaku terbenam di bahu sang ulama, bukan di bagian tubuh yang vital. Dengan demikian, penusukan Syekh Ali Jaber tak seperti yang dialami Khalifah bin al-Khattab 13 abad sebelumnya. Umar ditusuk berkali-kali pada 23 Dzulhijjah 23 Hijriah (6 Oktober 644 M) ketika tengah mendirikan shalat. Kisah Islam di bawah Kekhalifahan Umar, disebutkan Peter Crawford dalam The War of the Three Gods: Romans, Persians, and the Rise of Islam , adalah cerita permulaan kejayaan Islam. Di bawah Kekhalifahan Umarlah ajaran Islam menyebar ke luar Jazirah Arab. Utamanya ke barat dengan menaklukkan Romawi Timur dan ke timur lewat penaklukkan Persia. “Di bawah (Kekhalifahan) Umar ajaran itu menyebar ke hampir semua penjuru mata angin. Beliau juga bertanggungjawab atas kuatnya organisasi pemerintahan yang membuat kekhalifahan bisa mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah-wilayah baru yang telah ditaklukkan,” tulis Crawford. Wilayah-wilayah taklukan Umar di sepanjang Suriah, Palestina, Mesopotamia, dan Persia lalu dibagi menjadi provinsi. Tiap provinsi yang dikepalai gubernur pilihan Umar memiliki hierarki kepemimpinan masing-masing untuk menegakkan hukum dan keadilan, serta mengumpulkan pajak-pajak. “Di masa Umar pula pada tahun 639 ditetapkan penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah, peristiwa kala Nabi Muhammad pindah dari Mekkah ke Madinah,” sambungnya. Upaya Pembunuhan Khalifah Umar Kendati Umar berusaha memerintah dengan seadil-adilnya menurut syariat Islam, tak semua orang senang terhadapnya. Terutama, orang-orang dari negeri yang ditaklukkan, semisal Persia. Piruz Nahavandi alias Abu Lu’lu’ah salah satunya. Dalam History of the Caliphs karya Rasul Ja’fariyan disebutkan, Abu Lu’lu’ah adalah pelaku tunggal pembunuhan terhadap Khalifah Umar. Motifnya adalah kejengkelan Abu Lu’lu’ah karena merasa ‘curhatnya’ terhadap Khalifah Umar terkait pajak yang membebaninya sebagai budak dari Al-Mughirah bin Syu’bah, Duta Besar Kekhalifahan untuk Persia, tidak mendapat jawaban yang memuaskannya. “Mulanya Umar tak mengizinkan orang non-Arab untuk masuk Madinah. Namun Mughira bersurat kepada Umar yang mengatakan bahwa ia punya budak yang juga seorang pelukis, pandai besi, dan tukang kayu handal dan akan berfaedah bagi rakyat di Madinah. Umar pun setuju Mughirah membawa Abu Lu’lu’ah ke Madinah,” tulis Ja’fariyan. Baca juga: Suatu Hari Khalifah Umar di Yerussalem Tetapi ketika bertemu Umar, Abu Lu’lu’ah komplain. Ia merasa terbebani dengan pajak dua dirham per hari yang mesti dibayarkannya sebagai budak kepada tuannya, Mughirah. Umar, sambung Ja’fariyan, lalu menjawab. “‘Apa pekerjaanmu?’ Abu Lu’lu’ah menjelaskan dia seniman, pandai besi, dan tukang kayu. ‘Mengingat pekerjaanmu, pajakmu tidaklah berat.’ Umar sejatinya berniat untuk membicarakannya pula kepada Mughirah. Namun Abu Lu’lu’ah sudah terlebih dulu memendam kedengkian.” Beberapa hari kemudian, Umar meminta Abu Lu’lu’ah membuatkannya kincir angin. Permintaan itu dijawab Abu Lu’lu’ah dengan mengatakan, dia akan membuatkan kincir angin yang akan dibicarakan semua orang di dunia. “Umar sebenarnya sudah mencium ancaman dari kata-kata itu, tetapi memilih untuk diam,” tambah Ja’fariyan. Penggambaran konspirasi membunuh Khalifah Umar berdasarkan kesaksian Abdul Rahman Abu Bakar (Foto: Tarikhuna bi-uslub qasasi) Abu Lu’lu’ah yang murka lalu mulai merencanakan untuk membunuh Umar dengan belati bermata dua yang ia buat sendiri dan ia lumuri dengan bisa ular. Pada 23 Dzulhijjah 23 H (31 Oktober 644 M), Abu Lu’lu’ah membulatkan tekadnya untuk menikam Umar saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi. “Abu Lu’lu’ah ikut salat persis di belakang Umar. Seperti biasa, setelah iqamah dilantunkan, Umar menasihati para makmum, ‘Luruskanlah barisan kalian!’ Saat Umar melakukan takbiratul ihram, Abu Lu’lu’ah menikam pundak Umar dari arah belakang dan merobek perutnya dengan belati bermata dua. Umar pun terjatuh,” tulis Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Al-Khathab. Abu Lu’lu’ah total menghujamkan senjata tajamnya enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya ke arah pusar yang mengakibatkan luka fatal. Sembari berusaha kabur, Abu Lu’lu’ah menyempatkan membunuh 15 makmum, 12 makmum lain terluka. Abu Lu’lu’ah akhirnya terpojok di satu sudut di luar masjid. Enggan ditangkap dan diadili, dia memilih bunuh diri. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Khalifah Umar Umar yang terluka lalu dirawat. Dalam sakitnya, ia masih mengeluarkan perintah agar digelar musyawarah di antara para sahabat nabi demi menentukan penggantinya. Sementara musyawarah masih digelar, Umar memberi mandat kepada Suhayb ar-Rumi sebagai khalifah sementara. Suhayb akan memimpin hingga putusan hasil musyawarah terkait siapa khalifah dikeluarkan. Umar juga melarang Said bin Zaid, sepupu sekaligus adik iparnya, ikut dalam musyawarah. Larangan itu terkait kebijakan Umar menolak penunjukan sosok pengganti pemimpin Islam yang masih punya hubungan darah, tak peduli meski orang itu punya kualifikasi yang laik. Tiga hari menjalani perawatan, Umar akhirnya wafat pada 26 Dzulhijjah 23 H (3 November 644 M). Sesuai wasiatnya, jenazahnya dikebumikan dekat Masjid Nabawi, berdekatan dengan makam Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar. Umar Korban Konspirasi? Penusukan Umar membuat putra bungsunya, Ubaidullah bin Umar, tak terima. Ia bikin perhitungan, ingin menghabisi semua orang Persia di Madinah. Hurmuzan, orang Persia yang jadi mualaf, jadi target pertama Ubaidullah. Target berikutnya adalah Jafinah (di beberapa sumber disebut Jufaina), orang Nasrani kawan Hurmuzan, dan seorang putri Abu Lu’lu’ah. Ubaidullah menyasarkan pembalasannya terhadap Hurmuzan bukan tanpa alasan. Disebutkan Tayeb el-Hibri dalam Parable and Politics in Early Islamic History , kesaksian Abdul Rahman bin Abu Bakar memunculkan kecurigaan besar bahwa Hurmuzan terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap Umar yang dilakoni Abu Lu’Lu’ah. “Abdul Rahman dalam pernyataannya mengaku melihat pertemuan pada malam sebelum pembunuhan antara Hurmuzan, Abu Lu’lu’ah, dan Jafinah. Dikatakan bahwa dalam pertemuan itu, Hurmuzan tampak memeriksa belati bermata dua yang identik dengan yang dipakai pelaku untuk menusuk Umar. Saat memeriksanya, Hurmuzan menjatuhkan belatinya hingga kemudian ia sadar telah dipantau banyak orang,” tulis El-Hibri. Baca juga: Pesan Terakhir Nabi Rumor konspirasi itu, lanjut El Hibri, meluaskan kecurigaan lebih besar terhadap konspirasi orang-orang Persia di Madinah dan menciptakan pertikaian antara orang-orang Arab dan para mualaf non-Arab. Kecurigaan merujuk kepada para simpatisan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Hurmuzan salah satu yang dicurigai. Hurmuzan seperti disebut oleh Mughirah sebelum status budak Abu Lu’lu’ah dialihkan kepadanya pasca-Persia takluk, merupakan gubernur Khuzestan, provinsi milik Kekaisaran Sasaniah yang menguasai Persia. Hurmuzan kemudian ditangkap dan ditawan pasca-Pertempuran Al-Qadisiyyah (636 M). “Hurmuzan sering berdebat dengan Umar tak hanya mengatasnamakan orang-orang Persia di Madinah, namun juga mengatasnamakan Ali. Hurmuzan sering membanding-bandingkan kebijakan Umar dengan Ali di antara kaum Anshar,” lanjutnya. Deskripsi Pertempuran Siffrin, salah satu pertempuran terbesar dalam Perang Saudara I (Foto: Smithsonian Institution) Fakta itu ditambah kesaksian Abdul Rahman membuat Ubaidullah membunuh Hurmuzan. Amuk Ubaidullah baru reda setelah dinasihati Gubernur Mesir Amr bin al-Ash. Umar yang sempat mendengar hal itu menjelang ajalnya, memerintahkan putra bungsunya itu dijebloskan ke penjara. Namun, perintah itu tak dilaksanakan Utsman bin Affan yang terpilih menjadi khalifah empat hari pasca-Umar wafat. Utsman pula yang menyarankan Ubaidullah pindah dari Madinah ke Kufa untuk menghindari utang “nyawa dibayar nyawa” akibat membunuh Hurmuzan, saat terjadi peralihan kekuasaan ke Khalifah Ali (656 M). Ubaidullah lalu terbunuh di hari kedua Pertempuran Siffin (26-28 Juli 657 M) sebagai bagian dari Perang Saudara I. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China

  • Lagu Odading

    Odading Mang Soleh di Jalan Baranang Siang No. 5 Pasar Kosambi, Bandung, menjadi terkenal berkat video viral seorang lelaki yang mengulas ( review ) dengan khas dan ngegas . Seperti ini ulasannya: “Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu (di sini) karena lamun teu ngadahar (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu (kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget.” Odading adalah roti atau kue goreng khas Bandung. Makanan ini juga ada di berbagai daerah dengan nama beda-beda. Baca juga:  Odading Rasa Iron Man Sastrawan dan ahli bahasa Remy Sylado, mengungkap asal-usul nama odading dalam bukunya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa . Remy menyebut odading berasal dari seruan kaget seorang nyonya Belanda. Anaknya menangis meminta dibelikan kue yang dijajakan oleh anak kampung. Kue itu tidak bernama, sebab hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran, lantas memanggil ujang (panggilan anak lelaki) penjual kue itu, menyuruhnya membuka daun pisang yang menutup kue di atas nyiru. Begitu melihat kue itu, berkatalah sang nyonya kepada anaknya, “ O, dat ding ?” Artinya, “O, barang itu?” Kue goreng itu pun akhirnya punya nama: odading. Tangkapan layar video viral Odading Mang Oleh. Di era digital, video viral menjadi cara efektif untuk membuat orang penasaran dengan Odading Mang Oleh. Beda dengan zaman baheula ketika si ujang harus keliling menjual odading. Si ujang menawarkan odading dengan menyanyikannya. " Ding Odading , nyanyian penjual kue odading di Bandung, biasanya dinyanyikan oleh anak lelaki,"  sebut Ensiklopedi Musik: A-L . Begini kata-kata lagu Ding Odading : Ding, odading, odading, ding (Ding, odading, odading, ding) Haraneut keneh yeuh, oda-oda, ding (Masih hangat nih, oda-oda, ding) Mangga atuh odading, ding, ding (Silakan odading, ding, ding) Baca juga:  Klepon, Makanan Istana Ensiklopedi Musik: A-L juga mengentri lagu odading lain yang menjadi lagu mainan anak- anak di sekitar Bandung. Lagu ini dimulai dari nyanyian seorang babu (pengasuh) Belanda setiap sinyonya menangis . Dari kata odading ( o, dat ding ), babu itu menciptakan lagu Jang Odading . Jang, odading keur sinyo (Jang, odading untuk sinyo) Kadieu Jang , zoet lief (Kemari Jang, manis manis) Kadieu, ulah huilen (Kemari, jangan menangis) Adakah orang Sunda yang tahu lagu odading ini?

  • Kencan Ajudan Presiden Sukarno

    Sudah menjadi rahasia umum jika Presiden Sukarno merupakan pengagum perempuan cantik. Hal itu dikatakan bukan saja oleh kawan-kawan dekatnya, namun juga diakui Bung Karno sendiri. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi perempuan cantik”, ungkapnya seperti dikutip Cindy Adams dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Kendati demikian, Bung Karno tidak mau menyimpan kebiasaannya itu untuk diri sendiri. Kepada orang-orang terdekatnya, dia pun kerap mendorong untuk mencari pasangan yang cantik dan menarik. Salah satu “korban” Bung Karno adalah ajudannya: Mayor KKo Bambang Widjanarko. Demikian diceritakan oleh Bambang Widjanarko dalam otobiografinya, Sewindu Dekat Bung Karno . Syahdan, suatu hari di tahun 1963, Bung Karno berserta rombongan (termasuk Bambang Widjanarko) bertolak menuju Wina, Austria. Maksud kunjungan tersebut tidaklah berkaitan dengan soal kenegaran, melainkan untuk menemui seorang profesor yang bisa mengobati penyakit kencing batunya sang presiden. Setelah beberapa hari berada di Wina, dalam suatu acara sarapan pagi, tetiba Bung Karno menanyakan secara khusus kepada Bambang: apakah selama di Wina dia sudah berkunjung ke klab malam? Ketika dijawab “belum” oleh Bambang, wajah Bung Karno memperlihatkan rasa herannya. “Mbang, malam ini saya perintahkan kamu pergi ke nightclub . Santailah sepuas hatimu!” “Baik, Pak!” “Tapi ada syaratnya, Mbang: pertama kamu harus mencari partner seorang gadis lokal, gadis Austria. Kedua, besok pagi kamu harus menceritakan seluruh pengalamanmu di waktu makan pagi seperti ini,” kata Bung Karno. Mendengar perintah tersebut, kontan semua anggota rombongan yang lain meledak tawanya. Mereka tahu, sang presiden tengah muncul kebiasaan isengnya. “Pak, jika Bambang harus ke nightclub nanti malam dan harus menceritakan segala pengalamannya besok pagi, ia harus punya uang cukup…” celetuk Dasaad, sahabat Bung Karno yang dikenal sebagai pengusaha kaya saat itu. “Baik, sebentar,” jawab Bung Karno. Dia kemudian berdiri dan masuk ke kamar tidur. Begitu keluar, dia langsung memanggil Bambang. “Sini Mbang, ini untukmu guna ke nightclub nanti malam,” kata Bung Karno. Setelah menerima pemberian itu, Bambang pun mengucapkan terimakasih. “Mbang, berapa dikasih Bapak?!” seru Dasaad sambil tersenyum. “Lima puluh dollar, Pak.” “Wah itu kurang…” ujar Dasaad. “Betulkah Das?” tanya Bung Karno. Dasaad kemudian menuturkan bahwa harga-harga di kota Wina memang cukup mahal. Sebagai contoh, harga satu botol champagne saja adalah 50 dollar. Jadi, kata Dasaad, jika Bung Karno memberikan uang hanya 50 dollar itu hanya cukup untuk minum saja. “Nah, kalau begitu, berilah dia tambahan yang cukup ya, Das,” kata Bung Karno, disambut tawa yang lain. Rupanya Dasaad pun telah menjadi “korban” keisengan Bung Karno. Singkat kata, malam itu Bambang berhasil mendapatkan teman kencan seorang gadis bule yang mengaku sebagai warga negara Austria bernama Renata. Bukan main senangnya ajudan Bung Karno itu. Dia membayangkan besok pagi dia dapat bercerita dan yang paling penting adalah bisa memenuhi misi yang dimandatkan Bung Karno. Sepanjang malam itu, Bambang dan Renata cepat akrab. Dalam bahasa Inggris, mereka lantas berbicara banyak soal kisah hidup mereka masing-masing. Renata berkisah bahwa dirinya dilahirkan di sebuah tempat bernama Clateen. “Di mana itu?” tanya Bambang. “Tidak tahu saya, pokoknya sebuah tempat di Timur, tepatnya di Jawa,” jawab Renata. “Ai, nanti dulu. Kamu bilang tadi di Jawa?” "Ya, Jawa. Di manakah itu?” "Oh Tuhan!" Bambang berkata setengah berteriak, "Jadi kamu adalah seorang gadis Belanda yang dilahirkan di Pulau Jawa. Itu termasuk Indonesia, negaraku dan kamu bukan lahir di Clateen tetapi Klaten di Jawa Tengah.” Ketika kisah kencan semalam itu diceritakan di hadapan Bung Karno dan para koleganya, pecahlah tawa mereka. Bambang melihat Bung Karno bahkan sampai terpingkal-pingkal dan merah wajahnya. “Mbang… Mbang… Jadi kamu jauh-jauh dari tanah air mencari gadis lokal Austria yang didapat malah noni Belanda dari Klaten…” ujar Bung Karno, masih dalam keadaan tertawa.

  • Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama

    Jakob Oetama masih bekerja di majalah Penabur , mingguan berhaluan Katolik, ketika pertama kali jumpa dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan mereka terjadi pada 1958. Jakob mengenal Ojong sebagai pemimpin redaksi majalah bermutu dan populer Star Weekly . Jakob datang berguru kepada Ojong. “Ketika terbetik berita Star Weekly akan ditutup, ia mendekati saya, apakah bersedia meneruskannya. Ia sempat ke Yogya, kami bersama menyaksikan Sendratari Ramayana di Prambanan,” tutur Jakob dalam Kompas , 2 Juni 1980. Jakob saat itu sedang menyelesaikan studi tahun terakhir pada Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Ojong lebih tua 11 tahun dari Jakob. Namun, mereka nyambung dalam bertukar pikiran karena sama-sama berlatar belakang sebagai guru. Pada awal 1960, Ojong sering bertemu dengan Jakob dalam gerakan asimilasi. Kemudian, mereka juga duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.  Pada 1963, Ojong dan Jakob mendirikan majalah ilmu pengetahuan Intisari . Dua tahun kemudian bermodalkan uang Rp100.000 (sebagian dari keuntungan  Intisari)  pada 26 Juni 1965 lahirlah harian Kompas . Dalam susunan redaksi, Jakob Oetama menjadi pimpinan sedangkan nama Ojong tidak tercantum. Nama Ojong tabu untuk periode politik saat itu lantaran kurang disukai pemerintah. Awak redaksi Kompas mula-mula hanya berjumlah tujuh orang dan masih belum berpengalaman. Di tangan mereka, Kompas mengusung slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat”. Baca juga:  Cara Orba Kuasai Berita Dalam menjalankan Kompas , Jakob memusatkan perhatiannya dalam redaksional. Sementara itu, Ojong mengurusi bidang tata usaha. Kendati demikian, Ojong aktif menulis opini dalam kolom “Kompasiana” rubrik yang sangat digemari pembaca. “Ojong dan saya sebenarnya sama-sama tidak suka tampil. Setelah 1966, kami melakukan pembagian kerja. Sebagai pemimpin redaksi, mau tidak mau saya yang kebagian untuk tampil,” kata Jakob seperti dikutip Helen Iswara dalam Hidup Berpikir Mulia: P.K. Ojong Satu dari Dua Pendiri Kompas Gramedia. Pada 1968, tiras Kompas melampaui Sinar Harapan sehingga menduduki peringkat kedua. Sementara di peringkat pertama bertengger Berita Yudha , suratkabar yang berafiliasi dengan ABRI. Memasuki dekade 1970, tiras Kompas melampaui koran lain di Indonesia dengan jumlah mendekati 100.000 eksemplar per hari. Dari Jalan Pintu Besar Selatan, markas Kompas pindah ke Jalan Palmerah Selatan lengkap dengan percetakan sendiri. Mesti diakui Ojong begitu gigih membangun citra dan reputasi Kompas . Baginya nama baik dan konsistensi tidak dapat ditawar. Untuk itu, kesejahteraan para wartawan maupun karyawan lainnya amat diperhatikan. Namun, Ojong bisa menjadi sangat tegas bahkan keras dalam menyikapi kelalaian. Jakob yang lebih kalem biasanya menjadi penyejuk. “Kalau bukan karena Jakob, sejak awal saya sudah berhenti,” kata P. Swantoro kepada Helen Iswara. Swantoro merupakan wakil pemimpin redaksi dan menjadi orang ketiga dalam jajaran Kompas . Baca juga:  Indonesia Raya , Independensi yang Memihak Badai datang pada 1978. Pada 19-20 Januari, Kompas menulis tajuk tentang gerakan mahasiswa yang menginginkan agar Soeharto jangan lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Pada 21 Januari, Kompas terkena bredel alias dilarang terbit oleh pemerintah. Selain Kompas , koran yang kerap bersuara kritis seperti Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis dan Pedoman pimpinan Rosihan Anwar juga ikut dibredel. Pemerintah kemudian menawarkan pengampunan dengan serangkaian syarat yang patut dituruti. Ojong yang saklek ragu-ragu menerima tawaran pemerintah. Adalah Jakob Utama yang pasang badan menandatangani “pengampunan” itu. Akhirnya, pada 6 Februari 1978, Kompas diperkenankan terbit kembali. Beberapa wartawan Indonesia Raya dan Pedoman masuk ke Kompas setelah koran mereka dipaku mati rezim Soeharto. Menurut Jakob, dengan masih hidup, Kompas masih bisa bergulat; masih bisa bergerilya menegakkan demokrasi. Asalkan tidak menggadaikan suara hati saja. Meski terlihat pragmatis, pertimbangan Jakob pun dilandasi rasa kemanusiaan. Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama, pendiri harian Kompas.  (Jitet/Wikimedia Commons). Seperti diungkap St. Sularto dalam Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama , Kompas saat itu mempekerjakan sebanyak 2.000-an orang karyawan. Mereka terancam kehilangan pekerjaan apabila koran ini dibredel. Belum lagi orang-orang yang memperoleh berkah dari produk Kompas secara tidak langsung. Penutupan akan menjadi bencana bagi mata pencaharian dan mengakibatkan masalah yang beranak pinak. Ojong kemudian menghormati keputusan itu. Setelah luput dari badai bredel, keluarga besar Kompas dirundung duka. P.K. Ojong wafat pada 31 Mei 1980. Di depan jenazah Ojong, Jakob berkata, “Engkau terlalu pagi meninggalkan kami,” katanya. Meski demikian, mendiang Ojong sempat merumuskan cetak biru Kompas yang kemudian disempurnakan menjadi falsafah perusahaan. Baca juga:  Aksi Koran Indonesia Raya Bikin Kejutan April Mop Sepeninggal Ojong, tiras Kompas telah mencapai 312.589 eksemplar dan pada Desember 1980 mencapai 325.485 eksemplar. Selain itu, Kompas juga telah memancangkan tonggak di sektor bisnis lain. Orang tentu mengenal toko buku Gramedia, radio Sonora dan hotel Santika. Itu semua merupakan diversifikasi produk bisnis yang bernaung di bawah grup Kompas . Tanggung jawab redaksi dan bisnis selanjutnya beralih kepada Jakob Oetama. Dengan fondasi kokoh yang dibangun bersama Ojong, Jakob kemudian membawa Kompas merajai industri media di Indonesia. Namun, Jakob menakhodai Kompas dengan siasat main aman khususnya dalam berhadapan dengan penguasa. Ibarat kepiting, ada saatnya maju, ada saatnya menyamping ( mlipir ), ada saatnya menarik mundur. Maka tidak heran, Kompas di bawah pimpinan Jakob identik dengan istilah "jurnalisme kepiting". Julukan itu setidaknya bertahan hingga rezim Orde Baru tumbang. "Cara ini sulit dan makan hati, sebab dengan gampang dicap pengecut, sehingga tagline bisnis Kompas mata hati kata hati  pun pernah dipelesetkan tinggal Kompas hati-hati ," tulis Sularto. Baca juga:  Pers Mahasiswa Menggugat Orde Baru Hati-hati. Ya, dengan kata itulah Jakob bisa membesarkan Kompas jadi media raksasa. Ketika banyak koran terpuruk dan gulung tikar, Kompas kian tak tertandingi. Dengan oplah rata-rata 500 ribu eksemplar perhari, Kompas merupakan koran dengan sirkulasi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, serta menempati peringkat lima dalam jajaran suratkabar papan atas dunia. Di luar media cetak, Jakob Oetama melebarkan sayap bisnis Kompas ke berbagai lini usaha di bawah bendera Kompas Gramedia Grup. Media televisi dirambah dengan kehadiran Kompas TV dan sektor pendidikan dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Sektor lainnya seperti properti, jaringan hotel yang tersebar di berbagai kota, lembaga bahasa asing, sampai tisu juga menggeliat. Bila ditotal, semuanya berjumlah 400 jaringan usaha. Baca juga:  Komik Strip Panji Koming Merekam Zaman Kendati demikian, Jakob Oetama bukanlah pribadi yang tanpa cela. P. Swantoro –wafat pada 11 Agustus 2019– yang tergolong orang dekat Jakob mengungkapnya dalam pengantar biografi Jakob yang disusun St. Sularto. Selama bertahun-tahun mendampingi Jakob, Swantoro mendapati bahwa dia kadang kurang tegas, dan kebapakannya sering disalahgunakan oleh anak buah. Orang luar barangkali melihat Jakob hidup enak, serba cukup dan terhormat. “Namun saya yang puluhan tahun menjadi pendampingnya mengetahui betapa berat hidup seorang Jakob,” ujar Swantoro. Terlepas dari betapa berpeluh dirinya, Jakob menganggap keberhasilan Kompas perpaduan dari kerja sama, keberuntungan, dan rahmat Sang Khalik. Untuk yang terakhir itu, Jakob suka menyebutnya dalam bahasa latin Providentia dei (penyelenggaraan ilahi). Hingga sepuhnya, Jakob masih aktif di harian Kompas sebagai pemimpin umum. Dunia jurnalistik memang menjadi panggilan hidupnya. Dari hari ke hari Jakob kian renta. Setelah setengah abad lebih membangun dan memimpin Kompas, Jakob akhirnya beristirahat dari semua jerih lelah kehidupan. Menyusul para sahabatnya Ojong dan Swantoro yang telah mendahului. Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020 dalam usia 88 tahun.

bottom of page