top of page

Hasil pencarian

9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Perjuangan Mirabal Bersaudari untuk Hak Asasi

    Hujan lebat mengiringi perjalanan pulang kakak-beradik Patria Mercedes Mirabal (1924-1960), Minerva Argentina Mirabal (1927-1960), dan Maria Teresa Mirabal (1935-1960) pada 25 November 1960. Mereka habis menjenguk Manuel “Manolo” Tavarez Justo, suami Minerva, dan Pedro A. Gonzales, suami Patria, yang masih dipenjara oleh diktator Republik Dominika Rafael Leonidas Trujillo di Penjara San Felipe, Puerto Plata. Dalam perjalanan pulang menuju Salcedo, tempat asal mereka, itu mereka disetop sekelompok orang di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Para penyetop ternyata merupakan polisi rahasia yang ditugaskan langsung oleh Presiden Trujillo yang terkenal korup dan anti-kritik. Kendati tak mengetahui alasan penyetopan itu, Mirabal Bersaudari mungkin menyadari penyetopan itu terkait dengan aktivitas politik mereka. Mirabal Bersaudari merupakan penentang rezim Trujillo terpopuler. Mereka merupakan anak pasangan Enrique Mirabal Fernandez dan Mercedes Reyes. Enrique merupakan pengusaha lokal di Salcedo yang bidang usahanya meliputi perkebunan kopi, pabrik pengolahan kopi dan beras, pergudangan, peternakan, dan toko daging. Kekayaan Enrique membuat keempat putrinya, termasuk Belgica Adela Mirabal Reyes (anak kedua, biasa dipanggil Dede), bisa bersekolah di El Colegio de la Imaculada di kota La Vega hingga tingkat menengah atas. Sekolah Katolik itu merupakan salah satu sekolah asrama swasta paling bergengsi di Dominika. Minerva menjadi anak yang paling menonjol di antara saudari-saudarinya. Dia amat suka membaca. “Minerva yang lahir pada 12 Maret menunjukkan tanda-tanda kecerdasan luar biasa sejak usia sangat dini. Pada saat baru berusia tujuh tahun, dia bisa membacakan sajak-sajak penyair Prancis. Dia juga pada usia 12 tahun, dikirim ke Sekolah Menengah Katolik Inmaculada Conception bersama saudarinya Patria dan Dede. Seperti saudarinya Patria, dia juga menghargai dan menikmati seni terutama karya Pablo Picasso, kecintaan utamanya adalah menulis dan membaca puisi dan menyukai Juan Pablo Neruda,” demikian The Real Dominican Republic ( menuliskannya dalam “Who Were the Mirabal Sisters?” yang didokumentasikan web.archive.org , 17 Desember 2013. Ketertarikan Minerva pada politik dimulai di sekolah menengah atas. Itu dilatarbelakangi oleh pengalaman pahit teman-temannya. Sejumlah temannya mengaku punya kerabat yang ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh oleh aparat rezim Trujillo. Pengalaman itu mendorong Minerva terjun ke dunia politik dengan menjadi aktivis anti-Trujillo bawah tanah. Minerva menjadi orang pertama di antara saudari-saudarinya yang terjun ke politik.  Pengetahuan Minerva akan bobroknya rezim Trujillo membuatnya tak hanya mengandalkan bacaan untuk mendapat informasi yang lebih baik. Siaran radio-radio “ilegal” dari luar negeri juga dijadikannya bagian dari keseharian. “Sejak awal, Minerva menunjukkan semangat patriotik, keyakinan, dan kepemimpinan yang paling kuat. Dia adalah seorang pembaca rakus yang memverifikasi validitas berita yang diterbitkan di suratkabar-suratkabar lokal dengan mendengarkan stasiun-stasiun radio dari Kuba dan Venezuela, yang dia rasa memberikan perspektif lebih baik tentang politik,” tulis Serafin Mendez-Mendez, Gail Cueto, dan Neysa Rodriguez Deynes dalam Notable Caribbeans and Caribbean Americans: A Biographical Dictionary . Aktivitas politik itu mengakibatkan Minerva menjadi tahanan rumah bersama ibunya pada Oktober 1942, sementara ayahnya dipenjara. Perkaranya dimulai ketika keluarga Mirabal menghadiri pesta yang diadakan Trujillo di San Cristobal untuk mengenang penemuan Benua Amerika oleh Christophorus Columbus. Hujan mulai turun ketika pesta luar-ruang itu baru dimulai. Enrique langsung memanfaatkannya untuk mengajak anggota keluarganya pulang. Di luar dugaan mereka, hal itu membuat Trujillo marah. “Aturan etiket khusus Trujillo tidak mengizinkan siapapun meninggalkan kegiatannya tanpa izinnya atau sebelum kepergiannya. Hari berikutnya, dalam tindakan yang diulang berkali-kali, Enrique Mirabal dipenjara dan istrinya serta Minerva ditahan di sebuah hotel lokal sebagai tahanan rumah. Salah satu syarat untuk pembebasan Minerva adalah dia harus menulis surat permintaan maaf kepada diktator, yang tidak pernah dia lakukan,” sambung Serafin, Gail, dan Neysa. Ketidakmauan Minerva menulis surat permintaan maaf membuatnya harus menjalani interogasi setelah dipindah ke Benteng Ozama. Minerva diinterogasi tentang aktivitas politiknya langsung oleh dua orang kepercayaan Trujillo paling ganas. “Minerva dituduh komunis dan interogatornya adalah dua orang Trujillo paling ganas, bernama Fausto Caaman Medina dan Manuel de Moya,” tulis The Real Dominican Republic. Kendati terus dipaksa untuk menulis surat permintaan maaf, Minerva menolak. Dia tetap ditahan. Namun karena keluarga Mirabal cukup dihormati, Trujillo yang amat butuh citra positif publik akhirnya membebaskan mereka. Kendati secara politis amat berseberangan, Minerva tetaplah gadis berpenampilan menarik. Trujillo “Si Bandot Tua” amat terobsesi mendapatkan Minerva sebagaimana dia terobsesi pada gadis-gadis lain sebelumnya. Trujillo dikenal suka membangun rumah di seluruh negeri untuk ditempati gadis-gadis simpanannya. “Pemerintahan Trujillo sangat buruk bagi perempuan. Dia akan mengirim ‘ BeautyScout’ ke seluruh negeri untuk menemukan perempuan dan mengundang mereka ke pestanya atau, jika gagal, menculik mereka,” kata Hannah Jewell dalam 100 Nasty Women of History: Brilliant, Badass and Completely Fearless Women Everyone Should Know. Trujillo ingin memperlakukan Minerva sebagaimana gadis-gadis lain yang telah didapatnya. Pada suatu hari di tahun 1949, Trujillo mengundang Minerva dan saudari-saudarinya ke pesta yang dihelatnya. Di pesta yang dihadiri Mirabal bersaudari itu Trujillo melamar Minerva. Namun, lamaran itu bertepuk sebelah tangan. Trujillo amat marah. Segala upaya kemudian dilakukannya untuk mendapatkan Minerva. “Di lain waktu, ketika Minerva dan ibunya menginap di sebuah hotel, mereka dikunci di kamar mereka dan diberitahu bahwa mereka tidak akan diizinkan keluar sampai Minerva setuju untuk tidur dengan Trujillo,” sambung Hannah Jewell. Kebencian Minerva terhadap Trujillo pun kian menggelora. Terlebih keluarganya silih berganti keluar-masuk penjara. Perlawanannya pun kian kencang. Akibatnya, dia menjadi musuh rezim. Ditambah soal makalahnya untuk tugas akhir kuliahnya yang berisi saran agar ada perubahan hukum dalam pemerintahan, Minerva terpaksa kehilangan kuliahnya pada 1952. Dia memilih dikeluarkan dari kampus ketimbang tetap kuliah namun harus memenuhi persyaratan dari Trujillo berupa berpidato dengan isi memuji-muji Trujillo. Kendati menganggur, aktivitas politik Minerva tetap berlanjut. Dia bahkan acap ke Santo Domingo untuk menemui rekan-rekanya sesama aktivis anti-Trujillo. Kiprah politik Minerva amat mempengaruhi Maria adiknya. Berbeda dari Patria yang mulai terjun ke dunia politik setelah melihat pembantaian yang dilakukan anak buah Trujillo di sebuah kegiatan keagamaan, Maria terjun ke politik setelah tinggal di rumah Minerva. Ketiga bersaudari itu lalu bersatu dengan para aktivis anti-Trujillo lain di berbagai kota terus menyuarakan ideologi yang mempromosikan kebebasan, kesetaraan, pendidikan, serta kebebasan memilih dan berkehendak. Mirabal Bersaudari, yang dijuluki “Kupu-Kupu”, pada akhirnya menjadi idola kelas menengah dan bawah rakyat Dominika. Banyak orang, kata Susan K. Opt dan Mark A. Gring dalam The Rhetoric of Social Intervention: An Introduction , menghentikan mereka ketika bertemu di jalan, gereja, atau toko hanya untuk berterima kasih karena berani melawan hierarki sosial-politik di Dominika yang dipuncaki Trujillo. Mereka mendoakan agar Mirabal Bersaudari baik-baik. “Intervensi Mirabal Bersaudari membentuk bagaimana orang lain melihat peran mereka dalam sistem sosial. Semakin banyak orang mulai menyadari bahwa mereka dapat menukar kehidupan yang mereka miliki dengan interpretasi Mirabal Bersaudari untuk mencapai negara yang lebih baik melalui perdamaian, kebebasan, kesetaraan, pendidikan, dan sebagainya,” tulis Susan dan Mark. Mirabal Bersaudari memainkan peran penting dalam Gerakan 14 Juni 1959 yang dikepalai Manolo, suami Minerva. Gerakan tersebut menjadwalkan hari itu sebagai hari-H Luperon Invasion, operasi pengiriman para anggota Dominican Liberation Movement (DLM) ke kota-kota Constanza, Estero Hondo, dan Maimon di bawah komando Enrique Jimenez Moya. DLM terdiri dari eksil-eksil Dominika yang didatangkan untuk invasi tersebut. Namun, invasi itu mati sebelum lahir karena rezim Trujillo sudah menciumnya. Akibatnya, lebih dari 100 anggota Gerakan 14 Juni ditangkap aparat dan kebanyakan ditahan di Penjara “angker” La Cuarenta untuk kemudian disiksa dan dibunuh. Setelah Manolo dan Minerva, keluarga Mirabal berikutnya yang ditahan adalah Maria dan Leandro, diikuti Pedro A. Gonzales. Hanya Patria yang tidak ditahan, kendati suami dan anaknya ikut ditahan. Selain ditahan, keluarga Mirabal mesti rela dimiskinkan rezim Trujillo dengan penyitaan tanah, mobil, dan rumah mereka. Toh, tindakan Trujillo tidak menciutkan nyali Patria dan saudari-saudarinya yang ditahan. “Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam rezim yang korup dan tiran ini, kita harus melawannya, dan saya bersedia menyerahkan segalanya, termasuk hidup saya jika perlu,” demikian kalimat terpopuler Patria. Sebagaimana Mirabal Bersaudari, nyali para pemuda dan rakyat kebanyakan juga semakin tersulut dengan sikap kejam yang dilakukan aparat Trujillo. Perlawanan terhadap rezim terus berlangsung. Gereja Katolik bahkan ikut bergabung. “Iklim politik saat ini berubah dan semakin banyak kaum muda kelas menengah Dominika mulai menentang Trujillo dan rezimnya yang ditakuti,” tulis The Real Dominican Republic. Perlawanan terhadap Trujillo semakin besar setelah negara-negara di kawasan Karibia dan Amerika mulai memberi perhatian dan dukungan. Negara-negara di kawasan bahkan mengirim utusan-utusan mereka untuk melihat realitas di Dominika yang banyak kehilangan nyawa rakyatnya akibat tindakan kejam Trujillo. Venezuela dan Amerika Serikat yang tadinya merupakan sekutu Dominika berbalik menjadi lawan. Kuba di bawah Fidel Castro menjadi penyokong utama gerakan perlawanan terhadap Trujillo. “Saya katakan bahwa dari setiap seratus pemuda yang berusia lima belas tahun pada 1956, sembilan puluh sembilan akan bermimpi menjadi Fidel Castro,” kata Juan Bosch, lawan politik Trujillo, dikutip Alex von Tunzelmann dalam Red Heat: Conspiracy, Murder and the Cold War in the Caribbean. Dukungan Castro membuat Trujillo berang. Dia segera menugaskan Johhny Abbes Garcia, orang kepercayaannya. “Trujillo memberi tugas kepada Abbes untuk menyingkirkan Fidel,” sambung Tunzelmann. Namun, Trujillo tidak pernah berhasil menundukkan Casrto. Sebaliknya, tekanan negara-negara lain membuatnya harus melunak. Minerva dan Maria tidak pernah disiksa lagi sejak itu. Padahal, sebelumnya Trujillo amat kejam terhadap tahanannya. Mirabal Bersaudari “kenyang” mengalaminya. “Anak buah Trujillo menyiksa saya di dalam La 40. Mereka menahan saya dan menusuk saya dengan tongkat listrik. Saya berteriak dan rasa sakitnya sangat buruk. Semua penjaga malu pada diri mereka sendiri. Aku berjalan keluar sendirian,” kata Maria dalam diary -nya tanggal 11 April 1960. Tekanan negara lain pula yang membuat Trujillo membebaskan Minerva dan Maria pada 8 Agustus 1960. Alhasil, dari keluarga Mirabal yang tersisa di penjara hanya suami-suami mereka: Manolo dan Pedro di La Cuarenta lalu dipindah ke Penjara San Felipe, sedangkan Leandro di Penjara La Victoria di Santo Domingo. Mirabal Bersaudari juga diberi hak menjenguk suami-suami mereka kendati amat jarang dan terbatas durasinya. Kesempatan itu dimanfaatkan Mirabal Bersaudari untuk menengok Pedro dan Manolo di Puerto Plata. Dalam perjalanan pulang usai menjenguk pada 25 November 1960 itulah mereka dihentikan oleh sekelompok polisi rahasia di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Setelah dipaksa keluar dari mobil di tengah hujan lebat yang turun malam itu, mereka digiring ke pinggir jurang. “Setelah menghentikan mereka, kami membawa mereka ke tempat di dekat jurang di mana saya memerintahkan Rojas untuk mengambil beberapa tongkat dan mengambil salah satu gadis, dia mematuhi perintah dan mengambil salah satunya, yang memiliki rambut kepang panjang, itu adalah Maria. Alfonso Cruz mengambil yang tertinggi, yaitu Minerva, dan Malleta mengambil pengemudi, Rufino de la Cruz. Saya perintahkan masing-masing untuk pergi ke kebun tebu di pinggir jalan, masing-masing dipisahkan agar para korban tidak merasakan eksekusi satu sama lain, saya perintahkan Perez Terrero untuk tetap di tempat dan melihat apakah ada orang datang yang bisa mengetahui situasi. Itulah kebenaran situasinya,” ujar Ciriaco de la Rosa, pemimpin polisi rahasia yang ditugaskan langsung Trujillo itu, dikutip The Real Dominican Republic . Mirabal Bersaudari dan sopir Rufino lalu dipukuli kemudian dicekik hingga tewas malam itu juga. Jasad mereka lalu dimasukkan ke dalam mobil yang digunakan sebelumnya. Mobil itu kemudian didorong ke dalam jurang sehingga kematian mereka terkesan alami akibat kecelakaan. Namun, publik yang marah tetap meyakini kematian mereka dilakukan olah orang-orang suruhan Trujillo. Kematian mereka, yang pada 1999 dijadikan Majelis Umum PBB sebagai International Day for the Elimination of Violence against Women, membawa Trujillo memasuki masa akhir kekuasaannya. “Pembunuhan Mirabal Bersaudari membuat marah mayoritas penduduk dan dianggap sebagai salah satu peristiwa yang membantu mendorong sentimen anti-Trujillo yang menyebabkan pembunuhannya enam bulan kemudian,” tulis Serafin, Gail, dan Neysa.

  • Dari Pemuda Patriotik Menjadi Pemuda Pancasila

    AKBP Dermawan Karosekali, Kepala Bagian Operasi Ditlantas Polda Metro Jaya, dikeroyok anggota Pemuda Pancasila yang berdemonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2021). 20 anggota Pemuda Pancasila ditangkap, 15 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi pun mengultimatum agar Pemuda Pancasila menyerahkan anggotanya yang terlibat pengeroyokan atau akan dikejar. Sejarah resmi Pemuda Pancasila mencatat bahwa cikal bakalnya adalah Pemuda Patriotik yang didirikan oleh Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) pada 28 Oktober 1959. Organisasi ini dibentuk guna mendukung Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. Ketika Pemuda Patriotik berdiri, seperti juga organisasi lainnya, harus setia kepada Presiden Sukarno. Pemuda Patriotik tidak bisa mengelak, karena ia memang masih onderbouw (organisasi sayap) IPKI yang didirikan oleh Jenderal TNI A.H. Nasution. “Setelah sekian lama Pemuda Patriotik berjalan, dalam Kongres IPKI ke IV tahun 1964, nama Pemuda Patriotik diubah menjadi Pemuda Pancasila,” tulis Japto S. Soerjosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila sejak 1981, dalam “Pemuda Pancasila Dulu, Kini, dan Akan Datang”, yang termuat dalam Percikan Pemikiran Yapto S. Soerjosoemarno . Baca juga:  IPKI: Ini Partai Kolonel Indonesia Perubahan nama ini, lanjut Japto, juga didorong oleh idealisme untuk menjaga keutuhan ideologi Pancasila. Sebab, di pengujung tahun 1964, Pemuda Patriotik sudah mencium ada kelompok tertentu, dalam hal ini PKI, yang hendak mengusik Pancasila. Sementara itu, versi lain pembentukan Pemuda Pancasila diungkapkan oleh Spero Goni, yang mengeklaim sebagai pendiri dan ketua Pemuda Pancasila, dalam Sejarah Singkat Lahirnya Pemuda Pancasila  (Jakarta: Yayasan Amal Pembangunan Pejuang Kemerdekaan Indonesia, 1993). “Buku ini tidak didistribusikan –atau disahkan– oleh Pengurus Pusat Pemuda Pancasila,” tulis Loren Ryter dalam “Pemuda Pancasila: the Last Loyalist Free Men of Suharto’s Order?” Indonesia  66 (Oktober 1998). Baca juga:  Jaringan Preman Sisa Orde Baru Spero Goni menyebutkan, sebagaimana dikutip Loren: “[28 Oktober 1959] adalah tanggal yang saya berikan kepada Bapak Yapto Soerjosoemarno SH, di Menado, sebagai tanggal lahir Pemuda Pancasila seperti sekarang telah menjadi sejarah ‘ulang tahun’ Pemuda Pancasila.” “Anehnya, dorongan untuk membuat organisasi pemuda yang militan dan berbasis massa muncul dari kontes kecantikan,” tulis Loren. Hal itu diceritakan oleh Phill M. Sulu dalam buku tersebut dan biografinya, Permesta dalam Romantika, Kemelut & Misteri . Pada Desember 1961, Phill dan Freddy Mongdong lari dari kamp Dinoyo, tempat rehabilitasi mantan pejuang Permesta, menuju rumah Spero Goni di Menteng Raya 60 Jakarta Pusat. Baca juga:  Preman Medan dari Zaman ke Zaman Setibanya di Stasiun Gambir, mereka disambut poster-poster yang membakar semangat merebut Irian Barat. Namun, di tengah panasnya suhu politik itu, tampak sejumlah poster bertema glamor tentang akan diselenggarakannya pemilihan Ratu Peragawati Indonesia di Jakarta. Kegiatan ini mengundang reaksi pro dan kontra. Momentum penyelenggaraannya dianggap melawan arus. “Sebab, dalam situasi negara berada dalam persiapan perang, tentu agak janggal ketika tampil festival keayuan wanita dalam berbusana, sementara kaum pria sibuk mempersiapkan busana yuda (perang),” kata Phill. “Tapi bagiku,” lanjut Phill, “yang lebih mengejutkan adalah bahwa pemrakarsanya bernama Spero Goni, orang sekampungku dari Tomohon, yang cukup kukenal dekat. Lebih lagi, karena ia adalah paman dari Freddy Mongdong, rekan sepelarian dari Dinoyo.” Baca juga: Lenggang Kontes di Tengah Protes Acara pemilihan Ratu Peragawati Indonesia batal. Pemerintah kota Jakarta mencabut izin penyelenggaraan karena pagelaran itu dianggap tidak sesuai dengan situasi bangsa yang sedang berjuang merebut Irian Barat. "Setelah Sukarno secara terbuka mencela kontes tersebut dengan alasan tidak sesuai dengan karakter bangsa, Pemuda Rakyat (sayap pemuda PKI) di seluruh Jakarta merobohkan poster dan spanduk publisitas," tulis Loren. Menurut Phill, untungnya Spero Goni tidak kehilangan akal. Untuk menepis tuduhan lawan politik, seakan markas Menteng Raya 60 hanya mampu menampilkan atraksi kaum selebritas, sebuah rencana disusun untuk membuktikan kemampuan lain menampilkan kekuatan pejuang. Baca juga:  Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan Spero Goni mengusulkan untuk membentuk organisasi pemuda yang siap dikirim ke Irian Barat. "Pada 4 Januari 1962, ia memimpin kelompok ke Markas Besar Front Nasional, di mana mereka menyerahkan surat dukungan kepada Trikora (Tri Komando Rakyat)," tulis Loren. Spero Goni terilhami cerita Phill dan Freddy bahwa para bekas pejuang Permesta yang berada di kamp-kamp rehabilitasi di Jawa Timur dan sebagian di Jawa Tengah pada umumnya kecewa. Merekalah yang akan menjadi anggota organisasi pemuda ini.  “Setelah mendengar gagasan Spero Goni, kami pun sepakat,” kata Phill. Untuk lebih legal sesuai dengan sistem keormasan zaman itu, organisasi pemuda yang akan dibentuk harus bernaung di bawah salah satu partai politik yang sah. Karena pembentukannya berlangsung di Markas Besar Partai IPKI, organisasi pemuda yang akan dibentuk ini pun menginduk ke Partai IPKI. “Di waktu itu, Partai IPKI sudah memiliki organisasi pemuda yang bernama Pemuda Patriotik,” kata Phill. Tetapi organisasi pemuda ini, baru berada di tingkat pusat. Konsolidasinya belum mapan, sehingga belum terorganisasi sampai ke tingkat wilayah dan basis di seluruh Indonesia. Baca juga:  Menganyam Fakta dan Fiksi dalam The Act of Killing “Setelah mempelajari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Partai IPKI, satu-satunya partai yang mencantumkan Pancasila sebagai ideologi partai, kami pun sepakat membentuk organisasi pemuda yang dinamakan Pemuda Pancasila,” kata Phill. “Secara kebetulan, nama pasukan kami di WK (Wehrkreise) III Brigade Pancasila. Pasukan kami menggunakan lambang kesatuan, berbentuk perisai Pancasila. Lambang ini pula yang menjadi kesepakatan kami, menjadi lambang Pemuda Pancasila. Pada waktu itu, yang menjadi Ketua Partai IPKI adalah Ibu Ratu Aminah Hidayat, istri dari Jenderal TNI Hidayat.” Loren Ryter menyebut bahwa Ratu Aminah Hidayat, yang mengaku pengagum Sukarno, terpilih menjadi Ketua Umum IPKI dalam Kongres IPKI ketiga di Surabaya pada Juli 1961. Ia kemudian menempati kantor IPKI di Menteng Raya, Jakarta. Pengangkatannya tidak diterima oleh Soegirman, Ketua Umum IPKI sebelumnya, yang menganggap Ratu Aminah Hidayat dekat dengan Moskow karena posisinya di Komite Perdamaian Indonesia-Rusia. Soegirman kemudian mundur bersama kubunya ke kediaman pribadinya di Kebon Sirih, Jakarta. “Kelompok Soegirman memiliki organisasi kepemudaan sendiri, Pemuda Patriotik, tetapi kronologi dan hubungannya dengan Pemuda Pancasila masih diperdebatkan,” tulis Loren. Baca juga:  Memahami "Preman" yang Diberantas Gajah Mada Menurut Loren, semua versi sepakat bahwa Pemuda Pancasila pertama kali diresmikan sebagai onderbouw IPKI pada Kongres Surabaya, tetapi tidak ada kesepakatan tentang bagaimana Pemuda Pancasila muncul atau apa yang terjadi dengan Pemuda Patriotik. Anggota kelompok Ratu Aminah Hidayat mengatakan bahwa sebelumnya ada sesuatu yang disebut Pemuda Patriotik, kemudian pada 1959 melebur menjadi Pemuda Pancasila, yang keberadaannya tidak diresmikan oleh IPKI sampai kongres tahun 1961. Sementara itu, para pendiri Pemuda Patriotik mengatakan bahwa mereka baru berkumpul pada 1960 atas permintaan A.H. Nasution, dan Pemuda Pancasila tidak pernah ada sebelum mereka menyetujui perubahan nama di Kongres Surabaya. “Alasan yang disampaikan dalam kongres bahwa perubahan nama itu karena nama ‘Patriotik’ berbau komunisme,” tulis Loren. Menurut Loren, Pemuda Patriotik terus mempertahankan eksistensinya yang terpisah, tidak pernah dalam praktiknya menyatu dengan Pemuda Pancasila di bawah orbit IPKI Ratu Aminah Hidayat, sampai setelah peristiwa 30 September 1965, ketika Jenderal TNI Soeharto menjadikan PKI sebagai musuh nasional bersama. “Setelah September 1965, Pemuda Pancasila di Medan dan Aceh khususnya aktif dalam membantai orang-orang yang dicurigai komunis, bisa dibilang mengambil peran utama di Sumatra Utara,” tulis Loren.*

  • Watford, Klub Semenjana Kesayangan Elton John

    SEBULAN jelang Boxing Day , Liga Inggris musim 2021-2022 sudah sarat kejutan. Salah satunya datang dari tim mapan dan kaya pemain bintang yang sedang “gangguan mental”, Manchester United (MU). Dibekuk Aston Villa 0-1, Leicester City 2-4, Liverpool 0-5, dan Manchester City 0-2, Sabtu (20/11/2021) lalu giliran MU kehilangan muka akibat dikalahkan Watford FC, 1-4. Vicarage Road, kandang “The Hornets” (julukan Watford), jadi saksi bisu bagaimana gawang Manchester United yang dikawal David De Gea jadi lumbung gol tim semenjana yang pernah dipimpin musisi flamboyan legendaris Sir Elton John itu. Jika pelatih “Setan Merah” Ole Gunnar Solskjær makin dihempas isu pemecatan, pelatih Watford Claudio Ranieri mengaku puas mendulang tiga poin penting demi bisa menghindari zona merah. “Sungguh performa yang fantastis. Babak pertama kami bermain luar biasa. Kami terus menekan dan bisa mencetak banyak gol dan pada akhirnya kami menang. Tiga poin ini sangat penting,” kata Ranieri di laman klub , Sabtu (20/11/2021). Di pekan ke-12, Watford bertengger di urutan 16 klasemen. Ia hanya berjarak satu posisi dari zona degradasi. Watford butuh konsistensi performa jika tak ingin langsung jatuh lagi ke kasta kedua. Pasalnya, Watford musim lalu baru promosi ke Premier League. Terlebih Watford dalam sejarahnya termasuk tim medioker yang paling sering “numpang lewat” di divisi teratas. “Kemenangan (atas Manchester) ini sangat penting namun saya ingin melihat konsistensi dalam performa berikutnya. Kami tak mendapatkan konsistensi itu sejak menang dari Everton ( 23 Oktober 2021), jadi saya butuh para pemain menunjukkan bahwa mereka telah belajar akan filosofi permainan ketika kami menghadapi laga berikutnya,” tandas eks-pelatih Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan tersebut. Baca juga: Setan Merah Berharap Tuah Claudio Ranieri (kanan) saat mendampingi timnya membantai MU 4-1 ( watfordfc.com ) Hasil Amalgamasi Watford Football Club (FC) yang diklaim lahir pada 1881 adalah tim hasil amalgamasi atau peleburan dua tim amatir pada akhir abad ke-19, yakni Watford Rovers dan Watford St. Mary. Menukil Oliver Phillips dalam The Official Centenary History of Watford FC 1881-1991 , Watford Rovers lahir dari gagasan sekelompok remaja kota Hertfordshire, Inggris, seperti Henry Grover dan Charlie Peacock. Sebagaimana warga Hertfordshire, Grover cs. mulanya bangga akan tim sepakbola kota mereka, Hertfordshire Rangers, yang punya prestasi lumayan sejak lahirnya pada 1865. Sayangnya Rangers di era akhir 1870-an mulai menukik bersamaan animo warganya. Itulah yang membuat Grover dan teman-temannya ingin menggalakkan kembali sepakbola. Kebetulan, mereka didukung George Devereux de Vere Capell alias Earl, bangsawan setempat bergelar Earl of Essex. Sang Earl kemudian mengizinkan Grover dkk. memainkan sepakbola di lahannya di Cassiobury Park. Pada 1881, para remaja itu sepakat mendirikan Watford Rovers. Seiring bubarnya Rangers pada 1882, Rovers didongkrak dengan pemberitaan media lokal Watford Observer yang juga didirikan Peacock. “Selama lima tahun pertama, tim (Watford Rovers) berpartisipasi secara eksklusif dalam laga-laga persahabatan melawan tim sekolah-sekolah dan klub-klub lokal. Pada musim 1888-1887, Watford Rovers berpartisipasi di FA Cup untuk pertamakali walau mereka langsung tersisih di pertandingan pembuka,” ungkap Phillips. Baca juga: Balada Klub Antah Berantah Como 1907 Stadion Vicarage Road, dulu (atas) dan kini ( watfordfc.com ) Tetapi pada 1891, reorganisasi terjadi. Watford Rovers dijadikan bagian dari sebuah perkumpulan olahraga bernama West Hertfordshire Club and Ground. Rovers yang mulanya tampil khusus di sepakbola, berubah nama jadi West Herts pada 1893 dan pindah markas tim dari Cassiobury Park ke Cassio Road. Setelah beberapa lama hanya tampil di beberapa turnamen lokal, West Herts, yang sudah berevolusi dari tim amatir menjadi profesional, mulai mentas di kompetisi kasta ketujuh, Southern Football League pada 1896. Sementara, di Hertfordshire juga muncul satu tim yang performanya mencolok, yakni Watford St. Mary. Watford St. Mary yang lahir pada 1893 langsung jadi runner-up di turnamen Hertfordshire Senior Cup 1894-1895. Para petinggi kedua klub lalu mulai melakukan pembicaraan amalgamasi. Suratkabar Watford Observer pada 7 Mei 1898 mengungkapkan, kedua klub pada 15 April 1898 sepakat untuk beramalgamasi dengan penetapan nama klub: Watford Football Club. Baca juga: Aston Villa Punya Cerita Skuad Watford St. Mary pada 1898 jelang beramalgamasi menjadi Watford FC ( Watford Observer  9 April 1898) Sejarah Baru di Tangan Elton John Tak pernah ada prestasi istimewa bagi Watford dari awal 1900-an sampai 1970-an. Tim yang berbasis di Vicarage Road itu berulangkali hanya wara-wiri di kasta kedua, ketiga, bahkan keempat. Angan-angan Watford tampil di kompetisi teratas First Division (kini Premier League) bagai pungguk merindukan bulan. Namun Watford memijak sejarah baru setelah dibeli musisi Reginald Kenneth Dwight alias Elton John pada 1976. Elton yang lahir di Pinner pada 25 Maret 1947 mengaku sejak kecil sudah fans Watford. “Seperti lazimnya orang Inggris, dia mencintai sepakbola. Dia tumbuh menyaksikan tim lokal (Watford) dari tribun dan ketika dia mencapai level superstardom, dia berinvestasi pada klub dan masuk dalam jajaran direktur. Elton penggemar terbesar dan paling terkenal bagi Warford. Setiap ia datang menonton, kerumunan penonton memujanya, walau saya yakin di dalam hatinya, ia hanya ingin hadir sebagai penggemar biasa,” tulis fotografer Terry O’Neill dalam Elton John by Terry O’Neill: The Definitive Portrait with Unseen Images. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Elton John (kiri) & Graham Taylor ( watfordfc.com ) Elton punya ambisi membawa Watford mencapai level teratas. Karena itulah Elton tak sembarangan mencari orang untuk menangani tim. Terlebih, Elton juga punya misi dan visi baru di mana klub, terutama para pemainnya, mesti bisa lebih terbuka dan dekat dengan fans dan warga sekitar. Visi dan misi ini sejalan dengan Graham Taylor, pelatih yang menggantikan George Kirby. “Taylor yang menjadi manajer Watford mulai 1977, paham bahwa aktivitas sosial para pemain bisa meningkatkan image klub bagi warga kota, membuat para pemain bisa lebih bertanggungjawab kepada fans dan ikatan kepada klub. Para pemain punya klausul dalam kontrak-kontrak mereka yang mewajibkan mereka ikut pekerjaan sosial-kemasyarakatan selama beberapa jam dalam sepekan,” singkap Andrew Ward dan John Williams dalam Football Nation: Sixty Years of the Beautiful Game. Perlahan tapi pasti, animo warga kota melonjak lagi. Di awal-awal kepemimpinan Elton di kursi ketua dan Taylor sebagai manajer, tingkat keterisian Vicarage Road melonjak dari rata-rata lima ribu penonton menjadi 20 ribu. Elton juga jadi saksi kala Watford bikin gempar Old Trafford, kandang Manchester United, dengan mengalahkan tuan rumah 2-1 dan menyisihkannya dari League Cup pada 4 Oktober 1978. “Malam di mana kami menyingkirkan Manchester United dari League Cup di Old Trafford, saat kami masih berada di divisi ketiga, media massa yang biasanya tak pernah peduli, mulai menulis tentang Watford dan memberi julukan ‘Elton John’s Rocket Men’ keesokan paginya,” kenang Sir Elton dalam otobiografinya, Me: Elton John. Baca juga: Kisah Sean Connery Menolak Pinangan Manchester United Watford menekuk Man. Utd 2-1 di Ronde Ketiga League Cup 1983-1984 ( watfordfc.com ) Momen yang dinantikan pun tiba. Watford sukses promosi ke First Division pada 1982 setelah menjadi runner-up Second Division. Elton cukup puas ketika Watford mampu mencapai final FA Cup 1984 kendati harus mengakui keperkasaan Everton, 2-0, di Stadion Wembley, 18 Mei 1984. Elton cukup emosional melihat lonjakan performa Watford. “Jika bukan karena klub, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada saya. Saya rasa Watford menyelamatkan hidup saya. Saya menjadi ketua klub seiring periode terburuk hidup saya: kecanduan, ketidakbahagiaan, hubungan yang kandas, kesepakatan bisnis yang buruk, urusan hukum. Di balik itu semua Watford menjadi sumber kebahagiaan yang konstan,” imbuhnya. Tiga tahun berselang, seiring kesibukannya di dunia hiburan sehingga tak bisa membagi waktu, Elton menjual Watford kepada pebisnis otomotif Sir Jack Petchey. Kendati begitu, Elton tetap diberi status presiden kehormatan klub sampai saat ini. Kecintaannya pada Watford tak pernah luntur kendati performa tim kembali labil dan naik-turun di kasta pertama dan kedua pada era 1990-an. Elton jadi salah satu orang paling bahagia saat Watford kembali mentas di Premier League musim 2021-2022. “Watford selalu ada di hati saya, jiwa saya, Anda tak bisa menyingkirkannya. Gairah saya terhadap klub ini tak pernah mati dan saya sangat bangga,” tandasnya di laman klub , 12 Mei 2021. Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Sir Elton John bersama skuad Watford FC 2021-2022 ( watfordfc.com )

  • Misteri Insiden Memali

    Hari ini, 19 November, 36 tahun lalu. Ustad  Marzuki tidak mengajar di sekolah desanya di Desa Memali, Baling, Kedah, Malaysia. Hari itu dia mengajar di sebuah sekolah di distrik lain. Namun karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, dia menyempatkan pulang sejenak saat jam istirahat tiba. “(Saat, red .) Tragedi itu terjadi, saya sedang dalam perjalanan pulang ke Memali, karena saya sedang jam istirahat sekolah, saya mengajar di distrik lain dan ingin pulang sebentar, ujar Marzuki sebagaimana dikutip Dina Zaman, penulis-aktivis Malaysia, dalam Holy Men, Holy Women: A Journey Into the Faiths of Malaysians and Other Essays . Tragedi yang dikatakan Marzuki adalah Memali Incident. Insiden tersebut dipicu upaya penangkapan Ustad  Ibrahim Mahmud alias Ibrahim Libya oleh aparat kepolisian yang dibantu militer Malaysia. Ibrahim merupakan seorang guru di Memali yang usianya sedikit lebih tua dari Marzuki. Setelah lulus dari Sekolah Agama Ittifaqiah Kampung Carok Putih dan Pondok AL-Khariah di Seberang Perai, dia melanjutkan studinya ke berbagai negara. Selain ke India dan Al-Azhar (Mesir), Ibrahim berkuliah di University of Tripoli, Libya – nama yang kemudian dilekatkan padanya menjadi nama alias. Sepulang dari kuliah, Ibrahim memboyong keluargnya ke Kuala Lumpur. Di sana dia bekerja di Pusat Islam. Ibrahim mendapat tugas berdakhwah mengenai Islam. Dia bahkan kerap tampil di televisi. Namun, gaya hidup materialistis di Kuala Lumpur membuatnya tidak nyaman. Ibrahim mencoba mengubah keadaan namun tak banyak berhasil. Terlebih, Pusat Islam tidak bisa membantunya lebih banyak. “Mimpinya adalah untuk menyebarkan pesan Islam, dan bekerja di Pusat Islam tidak memberinya kebebasan untuk berdakwah dan melakukan apa yang dia inginkan,” sambung Marzuki. Baca juga:  Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Ibrahim lalu memboyong anak-istrinya ke Memali. Kemampuannya bercerita dan humor di samping mampu berkomunikasi dengan pemuda menggunakan bahasa mereka amat baik. Ibrahim mampu dan mau mendengarkan curhatan mereka yang umumnya hanya petani miskin, dia mengerti apa yang menjadi mimpi mereka. Itu semua membuatnya disukai banyak orang. Kondisi tersebut membuat Ibrahim mendapatkan suasana yang memungkinkannya untuk berdakwah dengan berkeliling memberi ceramah kepada masyarakat. “Sejujurnya, dia bukan seorang politisi atau politikus. Tapi dia sangat bersemangat tentang Islam dan kemerosotan kehidupan Muslim di Malaysia. Dan dia juga mengamati anak-anak di sekitar desa, dan keputusasaan dan pengangguran mereka. Orang Memali tidak kaya. Kehidupan dulu dan sekarang sama saja. Tidak ada yang berubah,” kata Marzuki. Pada 1982, Ibrahim mulai terjun sebagai penceramah. Seturut waktu, namanya semakin populer di Memali dan sekitarnya. “Orang-orang dari jauh dalam jumlah besar mendengar tentang Ibrahim, dan terkadang sekira seribu orang menghadiri ceramahnya,” tulis Dina. Popularitas Ibrahim didapat dari keadaan Malaysia yang sedang “dimeriahkan” oleh kebangkitan Islam. Masifnya desakan budaya pop seperti dance dan punk di kota-kota besar Malaysia membuat masyarakat, terutama yang konservatif, “haus” akan ha-hal spiritualitas. Di Baling, yang banyak dihuni petani miskin, nilai-nilai Islam seperti keadilan mendapat banyak pendukung. Hal itu bertemu dengan keinginan para aktivis-mahasiswa yang memperjuangkan keadilan. Akibatnya, kebangkitan Islam di Baling cukup signifikan. “Di selatan Thailand di Malaysia, Anwar Ibrahim dan aktivis mahasiswa lain yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin membentuk gerakan Islam Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) pada 1971. Pada 1974 ABIM mengumpulkan pemuda pedesaan yang miskin di Baling untuk memprotes kondisi serupa dengan yang dialami oleh Melayu-Muslim miskin, diskriminasi pemerintah, kurangnya perwakilan politik. Perambahan wilayah tradisional Melayu-Muslim oleh petani Utara dan Timur Laut sebagai desakan dari pemerintah pusat ditambah dengan kehilangan hak, pemuda terdidik membantu menelurkan gelombang kedua. Identitas Islam gelombang kedua tidak dimulai di provinsi selatan tetapi diperkenalkan dan didorong oleh aktor dan peristiwa eksternal yang telah saya uraikan di atas. Pendidikan di luar negeri memungkinkan siswa Melayu-Muslim berjejaring dengan siswa lain di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang mereka kunjungi. Melalui jaringan ini terbentuk hubungan dengan kelompok-kelompok Islamis seperti Liga Arab, Organisasi Pembebasan Palestina, Sekretariat Islam, dan Parti Islam,” ujar Sara A. Jones dalam tesisnya di Ohio University, “Framing the Violence in Southern Thailand: Three Waves of Malay-Muslim Separatism”, dimuat dalam https://etd.ohiolink.edu . Gerakan kebangkitan Islam di Malaysia makin besar setelah Revolusi Islam di Iran pecah pada 1979. “Revolusi Iran 1979 mungkin juga telah mengilhami ideologi Islamis di dalam separatis Melayu-Muslim, karena ini adalah gerakan Islam pertama yang berhasil yang kemudian menginspirasi lebih banyak lagi di seluruh dunia,” sambung Sara. Dalam suasana seperti itulah Ibrahim terjun sebagai pendakwah. Dia berkeliling ke Memali dan sekitarnya untuk memberi “pencerahan” kepada masyarakat di tengah desakan dance , punk dan beragam budaya pop lain di kota-kota besar Malaysia. Ibrahim kemudian juga mendirikan sekolah untuk masyarakat. Alhasil, Ibrahim mendapat penerimaan luar biasa. “Ia adalah ustadz kontemporer populer versi 1980-an seperti Mohd Asri Zainul Abidin dan Juanda Jaya. Popularitasnya segera mencapai pusat kota Kedah, dan berita mencapai tingkat federal. Saat itu, Mahathir Mohamad adalah perdana menteri,” tulis Dina. Baca juga:  Kontingen SEA Games Indonesia Tanpa Sambutan di Malaysia Ibrahim menjadi sosok yang diperhatikan pemerintah pusat. Terlebih, ia dan penduduk Memali punya hubungan dekat dengan partai Islam PAS, oposisi utama UMNO (United Malays National Organisation) yang berkuasa. Ibrahim pernah mencalonkan diri sebagai wakil rakyat asal PAS untuk Bayu-Baling dalam pemilu 1978. Pemerintah pusat pun mewaspadainya. Suatu ketika, Ibrahim melontarkan kritik terhadap Internal Security Act (ISA/). Dalam pandangannya, undang-undang “super” tersebut tidak sesuai dengan Islam. “Ibrahim hanya keberatan dengan undang-undang, yang memberi pemerintah kekuatan untuk menahan siapapun tanpa pengadilan,” kata mantan senator asal PAS Datuk Muhamad Yusuf Husin sebagaimana dikutip Adie Suri Zulkefli dalam tulisannya di nst.com.my edisi 12 Januari 2018, “Memali Tragedy: ‘It Was Caused by anti-ISA Sentiment’”. Kritikan Ibrahim membuat panas telinga pemerintah pusat. Berbagai tindakan untuk mencoreng citra positif Ibrahim pun dibuat oleh berbagai “pemain” politik di pusat. “Suami saya hanya menentang Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri, karena itu adalah undang-undang kejam yang bertentangan dengan prinsip Islam, tetapi pihak berwenang telah melukiskan gambaran bahwa dia adalah seorang ekstremis yang mengobarkan perang untuk menggulingkan pemerintah. Dia bersumpah bahwa dia lebih baik mati daripada ditahan di bawah hukum yang menindas, tetapi malah dituduh memimpin revolusi bersenjata melawan pihak berwenang,” kata Soleha Husin, istri Ibrahim, dikutip New Straits Times di lamannya, nst.com.my , 11 Januari 2018. Tuduhan terhadap Ibrahim kemudian diikuti dengan pengawasan ketat aparat keamanan. “Perlahan-lahan penduduk desa melihat tambahan satu atau dua polisi datang ke desa. Tidak ada yang terjadi, tetapi orang-orang Memali merasa ada yang tidak beres,” tulis Dina. Baca juga:  Ketika Aparat Bertindak di Luar Batas Kendati awalnya hanya pasif terhadap Ibrahim dan desa tempat tinggalnya, pengawasan aparat keamanan kemudian menjadi aktif. Suatu kali, mereka menghentikan serombongan petani yang diangkut sebuah van dan meminta mereka menjelaskan diri masing-masing. Namun ketika para petani yang membawa cangkul dan kapak itu menjelaskan bahwa mereka akan ke ladang, aparat melepaskan mereka. “Namun kebencian terhadap polisi bertumbuh. Ada banyak sentimen anti-UMNO,” tulis Dina. Penduduk Memali, yang amat mencurigai polisi, marah ketika rumah Ibrahim digeledah pada 2 September 1984. Dengan menggunakan senjata seadanya, mereka siap mempertaruhkan jiwa menghadapi aparat. “Operasi Polisi untuk menangkap dan menahan Ibrahim bin Mahmood berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri 1960 berlangsung pada pukul 01.00 tanggal 2 September 1984 di rumahnya di Kampung Memali. Upaya itu ditentang oleh sekitar 100 pengikut Ibrahim bin Mahmood. Mereka melompat keluar dari semua rumah, bersenjatakan bambu runcing dan meneriakkan ‘ Allahu Akbar. ’ Ibrahim bin Mahmood yang berada di rumah pada saat itu tinggal di balik pintu yang terkunci dan menolak untuk keluar ketika diminta untuk menyerahkan diri. Suasana menjadi tegang. Dengan mempertimbangkan keamanan publik, dan untuk menghindari masalah dan kemungkinan bentrokan, Polisi memutuskan untuk menunda operasi penangkapan Ibrahim bin Mahmood,” tulis Tunku Muszaffar Bin Tunku Ibrahim, aparat kepolisian yang ikut dalam operasi tersebut, dalam memoarnya, Memali: A Policeman Remembers . Seturut pergantian hari, situasi semakin panas di Memali. Ceramah besar yang diadakan pada September 1985 mendapat perhatian lebih dari polisi. Selain mengerahkan jauh lebih banyak personelnya, polisi memasang barikade. Dalam suasana panas itulah upaya penangkapan Ibrahim oleh sepasukan polisi yang dibantu tentara menggunakan sejumlah truk dan panser terjadi pada 19 November 1985. Mengetahui ustad mereka akan ditangkap, para penduduk Memali melawan. Bentrokan bersenjata pun terjadi. Akibatnya, 14 penduduk dan empat aparat kepolisian tewas, sementara lebih dari 100 orang terluka. Baca juga:  Ulah Komunis Jepang di Kuala Lumpur Polisi menahan lebih dari 150 orang, termasuk perempuan dan anak-anak dan Datuk Muhamad Yusuf Husin, setelah insiden. Bentrokan berdarah itu yang diabadikan oleh aparat keamanan juga disiarkan di televisi nasional. Lebih jauh, pemerintah membuat “Buku Putih” yang menyebut para penduduk Memali sebagai para kriminal. “Ini semua salah paham, saya pikir. Ada lagi ustadz di Baling yang agak populer, tetapi popularitas Arwah (almarhum) Ibrahim Libya mengalahkannya. Dan ustadz itu kebetulan adalah orang UMNO. Semua ini dipolitisasi! Anda tahu, persaingan. Setidaknya ini pengamatan saya. Yang satu anggota UMNO, yang lain mewakili PAS. Arwah bukanlah pria kejam. Saya pikir itu adalah (disebabkan oleh, red .) kecemburuan. Dia (Ibrahim) bisa berbicara, dan dia memiliki banyak pengikut di kalangan anak muda. Dan dia adalah seorang joker. Dia bercanda dengan semua orang, pria, wanita. Jadi, saya pikir orang lain itu pasti sudah mengadu ke kepala UMNO Baling saat itu, dan semua ini terjadi,” kata Marzuki, dikutip Dina. Hingga kini, Insiden Memali masih tertutup tabir gelap. Nama Ibrahim masih “hitam” dalam sejarah. Akibatnya, Soleha Husin, istri Ibrahim, masih terus berupaya memperjuangkan keadilan bagi mendiang suaminya. “Yang saya inginkan adalah kebenaran terungkap dan nama suami saya dibersihkan dari semua kejahatan dan tuduhan palsu yang dilontarkan oleh mereka yang bertanggung jawab atas insiden itu. Sebelum saya meninggal, saya ingin mendapatkan keadilan untuk mendiang suami saya,” kata Soleha, dikutip nst.com.my , 11 Januari 2018.

  • Ruang Kosong Historiografi Parlemen Indonesia

    Sejarah nasional telah mengabaikan peran penting parlemen dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Posisi parlemen yang strategis itu terlupakan dan tersingkirkan dari penulisan sejarah Indonesia. Padahal, parlemen menjadi tonggak penting dalam meletakan bentuk negara. Museum DPR RI menggelar diskusi bertajuk “Posisi DPR RI dalam Historiografi Indonesia” pada Rabu, 17 November 2021, yang disiarkan secara langsung di channel Youtube Historia.id . Seminar ini bagian penutupan pameran sejarah parlemen Indonesia, yang diadakan oleh Museum DPR RI sejak Oktober 2021. Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang menjadi embrio dari sejarah parlemen Indonesia, dikupas tuntas oleh tiga pembicara: Susanto Zuhdi, Bambang Purwanto, dan Amelia Fauzia. Baca juga:  Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia Bambang Purwanto, sejarawan Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan kenyataan yang ironi, bahwa parlemen tidak dianggap sebagai arus utama dalam sejarah politik Indonesia sejak awal kemerdekaan. Ia menyebut parlemen bukan hanya tidak mendapatkan tempat dalam historiografi Indonesia, tetapi memang dianggap tidak pernah ada. “Kita tahu sejarah nasional dipenuhi oleh presiden, pemerintah, dan partai politik sebagai aktor. Sementara parlemen hanya hadir ketika membangun relasi dengan ketiga elemen dominan itu. Mirip historiografi kolonial, dalam belajar sejarah Indonesia, yang melihat seperti geladak. Geladaknya presiden, geladaknya pemerintah, geladaknya partai politik. Sehingga, kita kehilangan banyak sekali hal menarik,” kata Bambang. Suasana sidang KNIP tahun 1947. (ANRI). Satu contoh menarik, seperti ditampilkan oleh sejarawan Universitas Indonesia, Susanto Zuhdi, ketika menerangkan penulisan buku Seabad Rakyat Indonesia Berparlemen: Sejarah Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia, 1918–2018 . Dalam buku yang terdiri dari lima jilid dengan lebih dari 2.000 halaman itu, Susanto menceritakan hal penting dan menarik yang luput dari historiografi, seperti tentang Mohammad Hatta yang dikabarkan “marah” kepada KNIP yang menolak meratifikasi Perjanjian Linggarjati. Sisi menarik lain, diungkapkan Susanto, misalnya terkait Petisi Soetardjo, “Mosi Orang Seberang”, yang menunjukkan dikotomi antara Jawa dan luar Jawa, masih berlaku hingga saat ini. “Anggota Volksraad pertama bukan hanya orang Jawa, tapi juga ada orang Ambon, Sumatra dan sebagainya. Ada juga anggota dari kalangan perempuan,” kata Susanto. Baca juga:  Perempuan Pertama di Parlemen Bandung Begitu juga dengan posisi perempuan dalam parlemen, seperti diungkapkan oleh Amelia Fauzia, Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa peran perempuan belum mendapatkan representasi dalam sejarah DPR. Menurut Amelia, sejarah ditulis lebih banyak ke pihak yang berkuasa. Kelompok minoritas jarang sekali mendapatkan tempat dalam penulisan sejarah, termasuk kelompok perempuan. “Perempuan itu minoritas, walaupun kiprahnya di DPR ada perempuan,” kata Amelia. Meski kecil, peran perempuan mesti ditulis, agar perannya diakui oleh sejarah. Menurutnya, bila tidak ditulis, sekecil apa pun, peran perempuan akan absen dalam historiografi perlemen Indonesia. Dua perempuan anggota KNIP sedang mengikuti persidangan. (ANRI). Isu-isu penting lain yang terlewatkan dalam penulisan sejarah parlemen pada periode 1945, yaitu ketika parlemen berada dalam situasi darurat dan sementara. Sejak terbentuk, parlemen Indonesia berusia pendek. Parlemen Indonesia hasil Pemilu pertama tahun 1955 disahkan pada 25 Maret 1956, lalu keluar Dekrit Presiden 1959 yang membubarkan parlemen. Lalu parlemen hadir lagi pada 28 Oktober 1971. Padahal, dinamika parlemen di masa darurat tersebut menjadi elemen sangat penting untuk memahami realitas keindonesiaan. Baca juga:  "Gentong Babi" di Parlemen Pembentukan KNIP pada 29 Agustus 1945, yang oleh DPR RI ditetapkan sebagai hari jadi, sesungguhnya ada masalah. Menurut Bambang, dari dokumen-dokumen yang ia baca, parlemen Indonesia bukan seperti yang ditulis dalam buku-buku sejarah, dengan menyebut KNIP, namun ditulis Komite Nasional Pusat (KNP). Bambang merujuk aturan peralihan UUD ’45 tentang KNP sebagai hasil rapat Badang Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP), yang salah satu fungsinya menjalankan tugas DPR dan MPR terkait garis-garis besar haluan negara. Fungsi KNP inilah yang menarik untuk dilihat, menurut Bambang, karena saat KNP didirikan telah terjadi intervensi –walau direkomendasikan juga dari sidang KNP, dimulai sebuah Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, tentang pembentukan Badan Pekerja yang menjalankan pekerjaan sehari-hari KNP. Anggota Badan Pekerja sekitar 28 orang yang dipimpin Sutan Sjahrir. “Kalau kita perhatikan di dalam keputusan itu, maklumat ini kemudian diikuti oleh penjelasan atas Maklumat Wakil Presiden yang ditandatangani Sutan Sjahrir, Badan Pekerja ini bersama presiden berhak dan wajib ikut serta dalam penetapan garis-garis besar haluan negara dan undang-undang yang berkaitan dengan urasan pemerintah. Di sinilah Badan Pekerja tak hanya menjalankan fungsi DPR, tapi juga MPR,” kata Bambang. Baca juga:  Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen Realitas politik Indonesia yang menarik itu tidak dipahami dalam historiografi Indonesia, karena menurut Bambang, parlemen tidak dilihat langsung sebagai spotlight , fokus utama. Bambang melanjutkan, jika parlemen menjadi fokus utama dalam historiografi, maka akan bisa mengungkap tentang dinamika sejarah dalam parlemen. Parlemen, lembaga yang sifatnya sementara, tetapi sangat dominan saat itu. “Bayangkan sebuah Badan Pekerja, bukan badan utamanya, itu bisa mengubah praktik ketatanegaraan Indonesia, mengubah betuk pemerintahan negara. Padahal, konstitusi UUD ‘45 tidak mengenal Perdana Menteri, seharusnya menteri bertanggung jawab kepada presiden, tetapi kabinet harus bertanggung jawab kepada Komite Nasional Pusat. Ini dinamika bukan biasa. Ini luar biasa,” kata Bambang. Baca juga:  Serangan Terhadap Anggota Parlemen Sebuah negara, yang pernah dipimpin oleh Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan, semestinya pusat kegiatan politik ada di parlemen, namun historiografi Indonesia periode 1950-an hingga pertengahan 1960-an, lebih mengutamakan pembahasan presiden, pemerintah atau kabinet, dan partai politik. Inilah, kata Bambang, parlemen terus dieksklusi atau dikooptasi. “Selama Orde Baru, ketika itu Golkar dominan, militer dominan, parlemen dikooptasi di dalamnya. Maka, saya melihat hal ini menimbulkan disorientasi historiografi. Praktik penyusunan undang-undang tidak pernah menjadi arus utama dalam penulisan sejarah. Akibatnya, sejarah fungsi DPR sebagai representasi wakil rakyat tidak menjadi cara berpikir metodologis dalam sejarah penulisan parlemen,” kata Bambang.

  • Kisah Padi Pak Jagus

    DALAM amanatnya pada peringatan ulang tahun ke-19 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1965, Presiden Sukarno berkisah tentang Pak Jagus. Sukarno bertemu Pak Jagus ketika ibu kota berada di Yogyakarta. Ia menugasi petani dari Klaten itu untuk mengembangkan padi jenis baru. Kepada Pak Jagus, Sukarno memberi tiga syarat dalam mengembangkan padi jenis baru ini. Pertama, padi tidak boleh menghabiskan banyak air. Kedua, meski minim air, hasil panennya harus sama dengan padi sawah biasa. Ketiga, padi baru ini rasanya harus enak. Suatu hari, Pak Jagus datang menemui Sukarno. Ia membawa padi jenis baru hasil penelitiannya. Sukarno memerintahkan padi baru itu ditanam secara luas dan diberikan kepada rakyat untuk dicoba. Namun, ternyata hasilnya tidak memuaskan. “Jawabnya yang makan nasi model baru ini: Ya betul Pak, padi ini tidak memerlukan air banyak, betul produksinya hampir dua kali, betul, tapi rasanya kok baik untuk diberikan kepada kuda saja,” kata Sukarno dalam amanat berjudul “P.W.I. Benar-Benar Mendjadi Alat Revolusi”   itu. Pak Jagus kemudian mengembangkan padinya lagi agar rasanya enak. Lalu pada suatu hari, ia memberanikan diri datang menghadap Sukarno dengan padi jenis baru lagi. Pak Jagus melaporkan telah berhasil membuat padi yang diharapkan Sukarno. “Malahan sekaligus saya perintahkan supaya bibit yang dibawa oleh Pak Jagus ini ditanak, dimasak, di dapur Istana dan saya coba, rasanya memang lezat,” ucap Sukarno. Sukarno kemudian memerintahkan Departemen Pertanian agar mempopulerkan padi yang dikembangkan Pak Jagus itu. Saking senangnya, Sukarno kemudian bernyanyi: Siapa bilang aku ini orang Blitar, Aku ini orang Prambanan, Siapa bilang rakyat kita lapar, Rakyat kita cukup makanan. Lirik itu belakangan populer sebagai bagian dari lagu Bersuka Ria. Lagu berirama lenso itu digubah oleh musikus Jack Lesmana dan menjadi satu-satunya lagu yang dikarang oleh Sukarno. Pak Jagus memang bukan petani biasa. Ia merupakan anggota Barisan Tani Indonesia (BTI). Menurut Bintang Timur , 2 September 1959, Pak Jagus merupakan pimpinan Lembaga Seleksi Tanaman di Klaten. Seturut laporan anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) Dr. Tjokronegoro, penelitian padi di Klaten sendiri setidaknya telah dilakukan sejak 1941. “Mulai tahun ‘41 butir-butir padi dalam setiap malai (tangkai) berhasil ditambah dari jumlah 350 butir menjadi 500 butir,” tulis Bintang Timur . Pengembangan bibit padi terus berlanjut dan menghasilkan jenis-jenis baru pada 1944, 1947, 1955, dan 1956.  Pada 1959, gabah kering berukuran 16 mm dari Lembaga Seleksi Tanaman Klaten memiliki berat 51 gram, di mana rata-rata berat padi biasa saat itu adalah 29 gram. Padi baru ini disebut memecahkan rekor padi dari Italia dengan berat 49 gram. Lembaga Seleksi Tanaman yang dimaksud Bintang Timur ,   merujuk artikel Grace Leksana “Jagus dan Hilangnya Kedaulatan Pangan Kita” yang diterbitkan indoprogress.com ,   adalah Jajasan Lembaga Penjelidikan Keilmiahan Pertanian dan Pembibitan (JLPKPP) Klaten yang dipimpin oleh Pak Jagus. Grace Leksana menyebut bahwa Jagus sendiri telah melakukan riset seleksi tembakau pada 1935. Ia kemudian mulai meriset padi dan mengembangkan jumlah butir padi pada 1941. Beragam penemuan Jagus kemudian menarik perhatian Sukarno pada 1947. Hingga pada 1959, dengan dukungan Sukarno melalui Dr. Tjokronegoro, JLPKPP didirikan. “Di sinilah pada 1961, Jagus dan para koleganya menemukan empat varietas berikutnya, yaitu Bintang Ladang, Bimokurdo, Bimopakso, dan Retnodumilah. Jagus pun sempat menerima kunjungan Presiden Sukarno di rumahnya di Klaten,” tulis Grace. Pak Jagus (kiri) bersama seorang ahli pertanian Republik Rakyat Tiongkok. ( Minggu Pagi , 27 September 1964). Pak Jagus tak hanya menarik perhatian Sukarno. Menurut Rex Mortimer dalam Indonesian Communism Under Sukarno Ideology and Politics, 1959–1965, keberhasilan Pak Jagus ini kemudian juga menjadi inspirasi Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam program meningkatkan produksi sandang dan pangan. “Meminjam dari slogan-slogan dan kebijakan China, PKI meminta para anggotanya dan kaum tani untuk ‘membajak dalam-dalam, menanam lebih dekat, menggunakan lebih banyak pupuk, meningkatkan benih dan irigasi’, dan meniru karya perintis para inovator pertanian seperti Dr. Tjokronegoro dan Pak Jagus,” tulis Rex. Dalam wawancara yang diterbitkan Bintang Timur, 20 November 1959, Ketua CC PKI D.N. Aidit mengatakan bahwa ia telah mengikuti perkembangan penelitian Pak Jagus dan Dr. Tjokronegoro selama bertahun-tahun melalui BTI Klaten. “Mereka berhasil karena ada kerja sama yang akrab antara Sdr. Jagus yang sangat kaya pengalaman dengan Dr. Tjokronegoro yang rajin mempelajari teori ahli botani Mitjurin (ahli botani Ivan Vladimirovich Michurin,  red ). Sukses-sukses mereka adalah demonstrasi daripada perlunya ada perpaduan teori dengan praktik,” kata Aidit. Pada awal 1962, program sandang pangan PKI berkembang menjadi “Gerakan 1001” yang menunjukan bahwa banyak cara kecil yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi sandang dan pangan. Pada tahun yang sama, menurut laporan Mingguan Djaja  Isu 11-20, bibit padi Pak Jagus telah ditanam di Ciracas, Pasar Rebo oleh Yayasan Balai Pendidikan Tani. Bibit yang dinamai Sridono itu merupakan hasil penyilangan bibit Si Gadis dan Sridorodasih yang sebelumnya juga dikembangkan Pak Jagus. Bibit Sridono menghasillam 58 kg padi pada tanah percobaan 100 m2. “Hasil yang dicapai itu bukan merupakan hasil maksimum, mengingat bahwa penanaman percobaan itu tidak dilakukan seintensif-intensifnya,” tulis Mingguan Djaja. Pada saat yang sama, di Klaten, bibit padi Sridono telah menghasilkan 100 kwintal padi pada tanah seluas satu hektar. Tahun 1965 tampaknya menjadi titik balik bagi Pak Jagus. Menurut Grace Leksana, Pak Jagus turut ditangkap bersama ratusan ribu orang yang dituding terlibat G30S. “Tuduhannya tidak jelas, namun hampir pasti hal tersebut terjadi karena keterlibatannya dalam BTI. Nasibnya bisa dikatakan lebih baik, karena ia dilepaskan dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun. Detail penahanan Jagus belum terlalu jelas,” tulis Grace. Meski masih disebut-sebut dan dibanggakan Sukarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada 15 Januari 1966, nama Pak Jagus kemudian hilang sejak Orde Baru berkuasa. Padi-padi Pak Jagus juga tak dikenal hingga hari ini. Pak Jagus meninggal dunia pada 5 Oktober 1975 di Klaten.*

  • Mengirim Peti Mati

    PADA 29 Desember 1947, pesawat Dakota RI-002 milik Bobby Earl Freeberg, mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat, yang disewa pemerintah Indonesia, mengangkut peti mati dari Yogyakarta menuju Manila, Filipina. Manifes pesawat RI-002 mencantumkan awak pesawat: kapten pilot Bob Freeberg, navigator Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo, operator radio Opsir Udara Muda II Boediardjo, dan juru mesin Letnan I Sunaryo, anggota TNI Angkatan Darat dari Divisi V Ronggolawe Djatikusumo yang dipinjam Angkatan Udara. Selain mengangkut peti mati, pesawat RI-002 juga mengangkut penumpang antara lain Mayjen TNI Abdulkadir, Opsir Udara II Suyono dan istri, Opsir Udara III Iskandar dan istri, serta 20 siswa penerbang yang akan dilatih di India. Sebagai juru mesin, Sunaryo seharusnya duduk di kokpit,   tetapi dia duduk di ruang penumpang bagian depan. Kakinya tidak bisa merentang karena terhalang peti mati yang memenuhi bagian tengah pesawat. "Dan dari sana pulalah datangnya bau busuk sejak tadi, bau mayat yang rasanya semakin menusuk hidung," kata Sunaryo dalam "Kisah Sebuah Peti Mati Penuh Misteri", yang termuat dalam Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar Zaman Singapura 1945–1950 . Bau mayat itu membuat Sunaryo mual ingin muntah. "Bahwa aku tidak muntah, sebenarnya hanyalah karena tak tahu di mana aku harus muntah," kata Sunaryo. “Serba sulit. Maka tak ada jalan lain kecuali bertahan mati-matian." Rute penerbangan pesawat RI-002 ditetapkan: Yogyakarta, Pekanbaru, Labuhan, dan Manila. Karena cuaca berkabut, Bob Freeberg tidak menemukan Pekanbaru. Pesawat terpaksa mendarat darurat di Singapura. Petugas setempat mencurigai peti mati dan menyelidikanya. "Cerita yang kami sampaikan adalah 'itu jenazah seorang pangeran dari Sumatra yang berjuang dan gugur di Jawa'. Mereka percaya dan cerita ini sempat masuk koran-koran Singapura," kata Boediardjo dalam biografinya, Siapa Sudi Saya Dongengi . Selama dalam penahanan sementara, Boediardjo menggunakan kesempatan itu untuk menjual "barang gelap", yaitu candu. "Saya sendiri membawa barang 'haram' tersebut langsung ke Pecinan di tempat-tempat orang nyeret . Uang hasil penjualan saya serahkan kepada KBRI Singapura sebagai dana perjuangan. Karena memang candu yang kami selundupkan itu 'milik' pemerintah RI. Yang dikemas dalam kaleng-kaleng terpatri dan disembunyikan dalam sebagian rongga-rongga sayap pesawat," kata Boediardjo. Sementara itu, Sunaryo "ditanam" di Singapura untuk menjadi communication link  dalam operasi Muharto. Dia juga ditugaskan mewakili AURI dalam kegiatan klandestin Republik Indonesia di pusat kesibukan penyelundupan di Asia Tenggara itu. Tugasnya mencari peralatan radio untuk membangun sistem komunikasi di Sumatra. Dia menggunakan nama samaran Hasan, karena terlalu umum, diganti Nursyaf. Berbagai cerita sempat berkembang di Singapura seputar peti mati yang misterius itu, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media massa. Ada yang mengatakan, peti mati itu berisi barang selundupan seperti emas dan candu. "Ada pula yang menduga peti itu berisi jenazah Presiden Sukarno, tokoh politik Tan Malaka dan lain-lain," kata Sunaryo. Beberapa hari kemudian, pesawat RI-002 dibebaskan pihak berwenang Singapura. Para penumpang melanjutkan perjalanan. Sementara pesawat RI-002 dengan awak Bob Freeberg, Boediardjo, dan Muharto, meneruskan penerbangan menuju Manila melalui Labuhan. Di Labuhan, sekali lagi petugas menanyakan kargo peti mati itu. "Di sini kami memberikan cerita lain, yaitu 'kami datang dari Yogyakarta membawa jenazah seorang pejuang volunteer  (sukarelawan) dari Filipina yang gugur di Jawa'," kata Boediardjo. Petugas percaya karena koran Singapura yang memuat cerita "peti mati itu berisi jenazah seorang pangeran dari Sumatra yang berjuang dan gugur di Jawa" belum beredar di Labuhan. Akhirnya, pesawat RI-002 mendarat selamat di Manila, Filipina. Jadi, jenazah siapakah dalam peti mati itu? "Peti itu berisi jenazah seorang perwira Filipina, namanya Kapten Igning yang bertugas di Indonesia. Dia ditemukan tewas di kamar Hotel Garuda, Yogyakarta. Jenazahnya dikirim ke Manila untuk diserahkan kepada keluarganya," kata Sunaryo. Boediradjo mengatakan, betapapun dengan was-was menyerahkan jenazah Kapten Ignacio Espina alias Igning kepada Dinas Intelijen Filipina, "sungguh saya menghargai Petit Muharto yang berani membawa jenazah Igning pulang ke Manila. Sedang kakaknya terbunuh dalam insiden yang amat tragis itu." Kakak Muharto, Kapten Deddy Muhardi Kartodirdjo dari Angkatan Laut, mendampingi Igning melatih Tentara Pelajar dan Tentara Genie Pelajar. Tragisnya, Deddy tewas tertembak oleh Igning ketika berusaha mencegahnya bunuh diri. Igning kemudian bunuh diri karena frustrasi. Kendati pihak militer Filipina sempat tidak percaya Igning bunuh diri karena frustrasi dan curiga dia dibunuh oleh agen komunis, kejadian tragis ini tidak mengganggu hubungan Indonesia dan Filipina. "Persahabatan dan solidaritas Indonesia-Filipina tetap terjaga," kata Boediardjo.*

  • Kisah Seorang Cucu Serdadu Desertir Jepang

    Prasetyo Nur Mujahid membuka koleksi album foto keluarganya. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari Satya –pangilan akrabnya– dengan orang-orang Indonesia kebanyakan. Namun, foto-foto sang kakek mengingatkan kembali Satya akan asal-usul dirinya. “Sejak kecil saya tahu, saya memiliki garis keturunan Jepang dari ayah. Kakek saya adalah bekas tentara Jepang yang kemudian beralih profesi menjadi seorang fotografer dan memiliki studio foto di Bengkulu,” kata Satya dalam dokumentaria Serdadu yang Tak Kembali: Kisah Sebuah Pilihan,  kolaborasi antara Historia.id  dengan Yayasan Warga Persahabatan.  Darah Jepang pada diri Satya berasal dari kakeknya, Masashi Hara. Sayangnya, Satya tidak tahu persis seperti apa kiprah sang kakek. Masashi Hara meninggal pada 1982, bahkan sebelum Supratman Hara dan Agustia Widiastuti –ayah dan ibu Satya– menikah. Jejak memori Satya dengan kakeknya makin terputus ketika Supratman Hara meninggal ketika Satya masih berusia sembilan tahun. Pengetahuan yang serba terbatas itulah yang menuntun Satya mencari tuturan sejarah tentang kakeknya. Baca juga:  Yang Terbuang Setelah Perang Seperti melintasi lorong waktu, Satya mencari tahu dari satu orang ke orang lain; dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari tuturan ibunya, tantenya di Bengkulu, Yayasan Warga Persahabatan, hingga sejarawan Didi Kwartanada.  Cerita-cerita yang tercecer itu memberikan informasi siapa sosok Masashi Hara dan alasannya tidak kembali ke Jepang.    Dari sang ibu, Widiastuti, diperoleh keterangan awal bahwa Masashi Hara adalah satu dari seribu serdadu Jepang yang memilih berjuang bersama tentara Indonesia setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Semula, pemuda Masashi Hara bekerja sebagai pegawai perusahaan percetakan foto Fuji. Ketika Perang Asia Timur Raya bergolak, Masashi terkena wajib militer pemerintah Jepang. Ia kemudian menjadi bagian dari tentara Angkatan Darat Jepang ke-25 yang bertugas di Palembang pada Februari 1942. Keterangan lebih lanjut diperoleh Satya dari tantenya, Wati Hara, yang tinggal di Bengkulu. Tante dan keponakan itu bersua sekaligus berziarah ke makam ayah dan kakek mereka, Masashi Hara. Dari Wati Hara diketahui bahwa Masashi melakukan desersi ketika kapitulasi Jepang pada 1945. Pelarian itu terjadi di Tanjung Karang, Bandar Lampung pada hari rombongan Masashi Nisihara akan dipulangkan ke Jepang. Baca juga:  Desersi Jepang Masa Perang Kemerdekaan “Waktu melarikan diri itulah kakek sekalian masuk Islam, jadi mualaf. Kakek bersama teman-temannya sekitar tujuh orang masuk Islam di sana. Nama kakek langsung berubah menjadi Muhammad Supardi Hara,” tutur Wati Hara pada Satya.   Masashi Hara yang telah bersalin nama itu kemudian menggabungkan diri dengan tentara Indonesia di Palembang. Dia terlibat dalam pertempuran tiga hari-tiga malam di Palembang membantu pasukan Indonesia menghadapi tentara Sekutu. Dari Palembang, Supardi Hara berpindah-pindah titik gerilya. Dari Baturaja, Lubuk Linggau, hingga Bengkulu terus berjuang bersama orang-orang Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Di Bengkulu pula Muhammad Supardi bertemu Fatimah, wanita asal Kediri yang kelak menjadi istrinya. Setelah menikah, Supardi membuka studio foto sementara Fatimah mengelola perkebunan kopi. Hingga wafatnya, mereka menetap di daerah Kepahiang, Bengkulu. Baca juga:  Abu Bakar, Gerilyawan Indonesia dari Jepang Penuturan Wati Hara selaras dengan penelitian sejarawan Jepang Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia . Menurut Aiko, sebagian kecil tentara Jepang yang memihak ke Indonesia terdorong untuk merealisasikan kemerdekaan yang dijanjikan Jepang. Namun, alasan yang banyak diungkapkan mengapa prajurit Jepang melarikan diri adalah karena mereka sudah mempunyai istri. Apalagi, pada masa pendudukan Jepang ada peraturan dari pemerintah yang tidak mengizinkan tentara Jepang menikah di Indonesia. “Oleh karena itu, mereka terpaksa melarikan diri dari kamp interniran dan menyembunyikan diri di dalam kampung istri,” kata Aiko.    Atas jasanya, Supardi Hara sebenarnya layak dimakamkan di taman makam pahlawan. Pada 1958, pemerintah Indonesia menganugerahinya Bintang Gerilya. Dalam piagam tanda jasa itu, Supardi Hara tercatat berpangkat terakhir sersan mayor dengan jabatan sebagai komandan Seksi I, Kompi I, Batalion XXIV Gamas. Namun, atas permintaan keluarga, Supardi dimakamkan di pekuburan umum Kepahiang. Meski di pemakaman biasa, penghormatan secara militer mengiringi prosesi pemakamannya. Baca juga:  Shigeru Ono, Pejuang Jepang Telah Berpulang Dari Bengkulu, Satya melanjutkan pencariannya ke Yayasan Warga Persahabatan, komunitas warga keturunan Jepang di Indonesia yang berada di Tebet, Jakarta Selatan. Di sana, Satya bertemu dengan Rikiyama, cucu dari dari eks serdadu Jepang Hideo Fujiyama. Siapa nyana, kakek mereka ternyata sahabat seperjuangan yang sama-sama desersi dan mengabdikan dirinya untuk Republik Indonesia. Seperti Supardi Hara, Fujiyama telah bersalin kewarganegaraan dengan nama Indonesia menjadi Husen. Bedanya, Fujiyama alias Husen dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.   Perkenalan Satya dan Yama kemudian menghubungkan mereka dengan sejarawan Didi Kwartanada yang mendalami sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Husen Hideo Fujiyama disebut Didi pernah menyelamatkan nyawa seorang Tionghoa yang hampir dibunuh kelompok pemuda lantaran dituduh sebagai mata-mata. Keterangan itu diperoleh Didi dari buku Prajurit Jepang yang Tidak kembali karya Hitoshi Kato. Namun, tidak diperoleh keterangan ketika Satya menanyakan tentang kakeknya Supardi Hara. Minimnya informasi itu, ungkap Didi, karena penelitian zaman pendudukan Jepang masih terfokus di Jawa. Menurut Didi, para serdadu Jepang yang memilih desersi berada dalam posisi terjepit. Sebagai pihak yang kalah perang, mereka harus menerima konsekuensi direpatiasi ke negeri asalnya. Apalagi Belanda yang datang kembali ke Indonesia tidak suka dengan desertir Jepang yang menggabungkan diri dengan pejuang Indonesia. Jenderal Mabuchi selaku pemegang otoritas tertinggi Jepang di Indonesia bahkan mengeluarkan maklumat agar tentara Jepang yang “minggat” itu ditolak oleh pemerintah Indonesia. Tapi, itulah resiko yang mesti ditempuh mereka untuk menjadi bagian dari bangsa yang ingin merdeka. Sumbangsih mereka pada akhirnya membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan semua golongan masyarakat tanpa pilah-pilih ras, suku, dan agama. Baca juga:  Cerita Para Desersi Jepang “Jadi, bekas-bekas tentara Jepang itu juga menyumbangkan darah, keringat, dan air mata mereka untuk kemerdekaan Indonesia,” kata Didi.  Perjalanan Satya berakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata tatkala menemani Yama berziarah ke makam kakeknya. Pencarian Satya pun pungkas. Di hamparan nisan para pahlawan itu, Satya menatap lurus penuh makna seolah telah menemukan jejak sang kakek. Dia tidak hanya memperoleh gambaran mengenai sosok kakeknya tapi juga arti dari sebuah pilihan hidup yang telah diambil kakeknya, Supardi Hara. Secercah rasa bangga mengiringi langkahnya kembali ke rumah.

  • Cikal Bakal Batas Internasional Indonesia-Papua New Guinea

    Pada Minggu pertama November 2021, pihak keamanan Papua New Guinea, melaporkan sekitar dua ratus orang Papua, korban konflik di Intan Jaya, melintasi perbatasan. Penduduk Papua melintasi batas negara Indonesia- Papua New Guinea untuk mengungsi karena konflik berkepanjangan. Tak jarang, perbatasan kedua wilayah itu menjadi persoalan. Lalu, bagaimana kedua wilayah itu dipisahkan dengan garis batas negara? Perbatasan dua wilayah Indonesia-Papua New Guinea dirancang saat masih di bawah kekuasaan kolonial. Pada 1828, Belanda masuk ke pantai barat daya New Guinea dan memproklamasikan kedaulatan atas wilayah tersebut. Dua puluh tahun kemudian, pada 1848 pemerintah Hindia Belanda mengeklaim wilayah West New Guinea yang terletak di 141 derajat garis bujur. Pada 1884, Inggris Raya mendeklarasikan wilayahnya di Pantai Selatan New Guinea, dan wilayah ini dikenal dengan British New Guinea. Tahun yang sama Jerman mengibarkan bendera di pantai utara dan menamainya German New Guinea. Pada 1906, Inggris menyerahkan wilayahnya kepada Australia, yang kemudian menamai bekas koloni itu dengan nama Papua –Papua New Guinea. Sejak itu, kekuatan Australia merangsek ke bagian koloni lain. Pada 1914, pasukan Australia menguasai German New Guinea. Lalu, Australia mendapatkan mandat otoritas wilayah itu dari Liga Bangsa-Bangsa (kini Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada 1920. Kedua wilayah itu kemudian dikelola terpisah oleh pemerintahan Australia, kemudian pada 1949 kedua wilayah disatukan dalam satu administrasi pemerintahan.   Baca juga:  Ongkos Pembebasan Irian Barat Australia membuka kembali soal batas internasional setelah wilayah itu mereda dari ketegangan perang di kawasan Pasifik, di antaranya pendudukan Jepang pada 1942–1945. Menurut John C. Macartney, senior surveyor dari Port Moresby, Papua New Guinea, dan R.G. Matheson, dalam laporan Survey of International Border beetween West Irian and The Territory of Papua dan New Guinea , yang diterbitkan pada The Australian Surveyor , Desember 1968, perbatasan internasional dibicarakan intensif setelah perundingan sengketa wilayah di bagian barat, antara Belanda dan Indonesia pada 1962, menghasilkan kesepakatan New York Agreement: otoritas wilayah di bawah UNTEA dan administrasi pemerintahan dipegang pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan Act Free Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969. Namun, pada 1963, Indonesia mengeklaim wilayah itu bagian utuh dari Indonesia dan menamainya Irian Barat (West Irian). Penandatanganan laporan hasil survei gabungan Australia-Indonesia mengenai perbatasan Papua New Guinea dan Irian Barat di Canberra, pada 12 Februari 1970. (Repro The Australian Surveyor ). Laporan Macartney itu dilengkapi laporan R.G. Matheson, suveryor general dari pemerintah Papua New Guinea. Keduanya terlibat langsung dalam pertemuan-pertemuaan antardelegasi Australia-Indonesia, dalam membahas penentuan garis batas internasional Papua New Guinea-Indonesia, yang laporannya diterbitkan dalam Australian Surveyor pada Desember 1964, berjudul Internasional Border Between West Irian and the Territories of Papua dan New Guinea , dan pada Juni 1970 berjudul Join Report of Australian and Indonesian Survey Authorites od Survey of the Border Between the Territories of Papua dan New Guinea and West Irian . Pertemuan pertama Australia dan Indonesia digelar di Jakarta pada 31 Juli–4 Agustus 1964. Agenda pertama ini dirancang oleh kedua menteri luar negeri yang bertemu di Jakarta pada Juni 1964, membahas perbatasan internasional untuk kedua wilayah teritorial yang pemerintahannya dikuasai oleh Australia dan Indonesia.  Baca juga:  Silang Pendapat tentang Irian Barat Pertemuan pertama itu dihadiri oleh para ahli topografi. Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Topografi Angkatan Darat Brigjen TNI Soerjosoemarno, dan delegasi Australia dipimpin B.P. Lambert, Direktur Pemetaan Nasional, serta dua ahli surveyor dari pemerintah Papua New Guinea, R.G. Matheson dan J.C. Macartney. Dalam pertemuan itu, para delegasi menyetujui proposal demarkasi permanen batas internasional Australia dan Indonesia yang diajukan masing-masing negara, yang selanjutnya menjadi acuan dalam pelaksanaan survei. Beberapa keputusan dihasilkan dalam pertemuan itu. Baca juga:  Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat Keputusan paling penting adalah perjanjian deskripsi teknis batas meridian yang terletak pada 141 derajat bujur timur sebagai perbatasan antara pantai utara dan persimpangan utara dari meridian itu dengan Fly River, melewati bagian tengah muara Bensbach River, yang diadopsi bersama sebagai perbatasan permanen antara pantai selatan dan persimpangan selatan dari meridian ini dengan Fly River. Pertemuan itu juga menyepakati empat belas titik untuk dibuat tanda batas dari pantai ke pantai, dan dibangun monumen perbatasan di darat.  Dua tahun kemudian, Mei 1966, pertemuan soal batas internasional dilanjutkan di kota Canberra, Australia, yang menghasilkan kesepakatan dan rekomendasi pelakasanaan suvei meridian pada demarkasi perbatasan dan disetujuinya pembangunan tiap titik perbatasan di darat yang telah ditentukan dengan monumen permanen.  Tim survei gabungan Australia-Indonesia menyelesaikan monumen permanen batas internasional. (Repro The Australian Surveyor ). Untuk merealisasikannya, kedua negara melalukan ekspedisi gabungan, yang selama 1966, telah menyelesaikan enam penanda. Sisanya, sebanyak delapan penanda akan diselesaikan setelah pertemuan ketiga, yang berlangsung di Jakarta, pada Januari–Februari 1967, yang di antaranya menyepakati garis-garis batas meridian yang telah ditandai harus dilakukan foto udara untuk memastikan akurasinya, sekaligus memastikan dengan jelas penanda itu berada di titik lokasi awal yang disepakati. Pertemuan ketiga ini telah menyepakati untuk menggelar pertemuan lagi untuk menetapkan laporan survei gabungan perbatasan internasional ini, setelah penyelesaian delapan tanda dalam ekspedisi lanjutan selama 1967. Setelah pertemuan ketiga ini, situasi konflik kedua negara sempat memanas, dipengaruhi oleh situasi politik terkait sengketa wilayah Irian Barat antara Indonesia dan Belanda, di mana pemerintah Indonesia menjadi penyelenggara Pepera yang menjadi bagian kesepakatan New York Agreement. Baca juga:  Duri dalam Daging Bernama Irian Barat Jadi, praktis 1967 hingga 1969, Indonesia berfokus pada perhelatan politik penentuan Irian Barat, yang hasilnya, telah dipastikan wilayah itu masuk ke Indonesia. Pemerintah Indonesia menerapkan sistem “musyawarah mufakat” atau perwakilan, yang telah ditentukan atau diseleksi wakil-wakil dari 800.000 penduduk Papua, sebagian besar 1.025 wakil dipilih untuk memilih ikut pemerintah Indonesia daripada pemerintahan sendiri. Hasil Pepera itu terus digugat oleh orang Papua karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan New York Agreement, seperti prinsip “one man one vote”.  Setelah status wilayah Irian Barat diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia, maka hasil laporan terakhir terkait kesepakatan-kesepakatan perbatasan internasional, wilayah Papua New Guinea dan Irian Barat oleh pemerintah Australia-Indonesia, ditetapkan bersama di Canberra, Australia, pada 12 Februari 1970.  Laporan akhir hasil kesepakatan-kesepakatan itu ditandatangani oleh masing-masing otoritas survei. Brigjen TNI Pranoto Asmori, Direktur Topografi Indonesia mewakili pihak Indonesia, sementara Australia diwakili oleh B.P. Lambert, Direktur Pemetaan Nasional. Disaksikan oleh Agus Jaman dan KBRI di Australia, dan A.J. Easment C.B.E dan William Granger, masing-masing dari departemen teritorial dan urusan eksternal Australia. Baca juga:  Suap di Balik Upaya Pembebasan Irian Barat Kesepakatan hasil kerja tim gabungan batas internasional kedua negara ini telah menjadi cikal bakal sejarah batas internasional Papua New Guinea dengan Indonesia, meskipun akan mengalami ratifikasi dan perbaikan, misalnya, penentuan batas laut yang menghasilkan “Perjanjian 1971”.  Perjanjian itu pun masih menyisakan persoalan terkait garis batas darat, garis batas laut wilayah dan garis batas dasar laut di Selatan Papua, lahirlah perjanjian baru Australia dan Indonesia pada 12 Februari 1973. Garis batas internasional Indonesia-Papua New Guinea kembali diratifikasi setelah Papua New Guinea merdeka pada 1975. Selain karena Papua New Guinea telah menjadi negara merdeka, soal lain yang memicu perundingan batas negara, terutama lintas batas negara, adalah saat ribuan warga Papua mengungsi ke Papua New Guinea selama kemelut konflik berlangsung pada 1980-an.

  • Dendam di Balik Peledakan Pesawat United Airlines 629

    John ‘Jack’ Gilbert Graham cemas petang, 1 November 1955, itu. Kemacetan lalu lintas membuatnya tertahan untuk bisa segera sampai di Bandara Stapleton, Denver, Colorado. Padahal, masih banyak urusan mesti dia selesaikan di bandara agar ibunya, Daisie Eldora King, seorang pengusaha restoran, tidak tertinggal penerbangan. Jack akhirnya sampai di bandara. Bersama Daisie, Gloria istrinya, dan Allen anaknya, Jack langsung menuju terminal keberangkatan. Sementara anak, istri, dan ibunya diperintahkannya menunggu di ruang tunggu, Jack kembali ke tempat parkir tanpa alasan jelas di tengah sempitnya waktu. “Jack Gilbert Graham memiliki tempat unik dalam sejarah penerbangan Amerika. Dia bukan pilot. Dia juga bukan penumpang pada hari yang menentukan di musim gugur 1955,” tulis kriminolog cum penulis R. Barri Flowers dalam Mass Murder in the Sky: The Bombing of Flight 629 (Historical True Crime Short) . Jack merupakan putra Daisie dengan suami keduanya, William Henry Graham. Jack yang dilahirkan di Denver pada 23 Januari 1932 menjadi yatim setelah ayahnya meninggal pada 1937. Kasih sayang Jack pun didapat hanya dari Daisie, dan berlangsung tidak lama. Memburuknya perekonomian keluarga sepeninggal William membuat Daisie terpaksa bekerja. Jack dan kakak tirinya, Helen Ruth –putri Daisie dari suami pertama, lalu dititipkan ke nenek mereka (ibu Daisie). Lantaran ibu Daisie meninggal dunia pada 1938, Helen dan Jack dititipkan ke panti asuhan. Kehidupan ekonomi Daisie baru membaik setelah dia menikah dengan Earl King, seorang peternak kaya di Toponas, pada 1941. Daisie bahkan menjadi kaya setelah menerima warisan King yang meninggal pada 1954. Dengan warisan itu Daisie membuka restoran Crown-A Drive-in Dinner. Daisie begitu menikmati kehidupan barunya dan “lupa” kepada anaknya sehingga anak-anaknya tetap di panti. Sikap Daisie itu menimbulkan kesan mendalam di benak Jack. “Putranya, John ‘Jack’ Graham, membencinya karena meninggalkannya dan kebencian itu semakin membara sejak dia bergabung kembali dengannya,” tulis Philip Jett, seorang pengacara yang beralih menjadi penulis, dalam “United Flight 629: America’s First Mass Murder in the Sky”, dimuat criminalelement . com , 21 Maret 2019. Usai keluar panti, Jack harus bergonta-ganti pekerjaan untuk menghidupi dirinya. Dari mulai menjadi personel US Coast Guard hingga juru gaji di sebuah pabrik manufaktur di Denver. Namun, dia tidak pernah punya prestasi dan sebaliknya, malah terlibat bermacam tindak kriminal hingga menjadi buron. Baca juga:  Kisah Buronan Sekutu Pada 1951, Jack tertangkap dalam pelariannya. Namun, dia dilepaskan dan dikembalikan ke Colorado tak lama kemudian karena ditebus Daisie; Jack hanya menjalani hukuman masa percobaan sebentar. Pada 1953, Jack menikahi Gloria kemudian tinggal di Western Slope Colorado. Pada saat itulah Jack dibujuk Daisie untuk tinggal bersama di rumah-peternakan ( ranch ) Daisie di Mississippi Avenue, Denver. Jack juga diminta bekerja di restoran milik ibunya. “Menggunakan tawaran untuk membeli rumah sebagai penjamin, Daisie King membujuk putranya untuk pindah kembali ke Denver dan mendaftar ulang dalam program malam di kampus pusat kota University of Denver (di mana dia sebelumnya telah menyelesaikan dua perempat kelas),” tulis jurnalis Andrew J. Field dalam Mainliner Denver: The Bombing of Flight 629 . Jack memenuhi permintaan ibunya. Namun, keharmonisan hubungannya dengan Daisie hanya sebentar. Masalah uang membuat keduanya bak kucing dan anjing. “Hal-hal menjadi buruk antara Graham dan ibunya ketika dia dipaksa untuk membayar kembali uang yang telah ibunya kumpulkan untuk mencegahnya masuk penjara. Ibunya juga menegaskan bahwa dia membayar sewa untuk tinggal di rumahnya. Saksi mata mencatat bahwa ibu dan anak itu terus-menerus berdebat tentang masalah uang,” tulis Barri Flowers. Jack kembali menceburkan diri ke dunia hitam untuk bisa mendapat uang guna melunasi utang-utangnya kepada Daisie. Pada awal 1955, dia sengaja meninggalkan truknya di rel sehingga truknya tertabrak keretaapi. Dari “akal-akalan” itu, Jack menerima ribuan dolar pembayaran asuransi atas kehilangan truknya. “Beberapa di antaranya diserahkan kepada ibunya untuk membayar utang, yang hampir lunas pada Oktober tahun itu,” sambung Barri. Lalu, pada September 1955, Jack terlibat dalam sebuah ledakan di resto milik Daisie. Dari kesaksian beberapa karyawan resto, Jack sengaja melakukannya demi mendapatkan asuransi. Baca juga:  Sejarah Bisnis Asuransi di Indonesia Jack memanfaatkan momen ketika pada musim gugur 1955 Daisie merencanakan liburan ke Alaska untuk menengok Helen sekaligus menyalurkan hobi berburunya. Daisie membeli tiket pesawat United Airlines (UAL) dan mendapatkan penerbangan no. 629 yang dijadwalkan berangkat dari Denver tanggal 1 November 1955 pukul 18.44 menggunakan pesawat DC-6B “Mainliner”. “United Air Lines Penerbangan 629 dijadwalkan setiap hari antara Bandara LaGuardia, New York, dan Seattle, Washington. Ada pemberhentian terjadwal untuk rute ini di Chicago, Illinois; Denver, Colorado; dan Portland, Oregon, dengan pergantian kru di Chicago dan Denver. Pada 1 November 1956, operasional rutin ini ke Denver dan mendarat pada pukul 18.11, 11 menit terlambat karena beberapa penundaan darat singkat,” tulis Civil Aeronautics Board (CAB) dalam laporannya yang diterbitkan pada 14 Mei 1956, Accident Investigation Report . Pilot Kapten Lee H. Hall, yang –merupakan veteran Perang Dunia II– akan memimpin penerbangan dari Denver, telah tiba di Bandara Stapleton jauh sebelum pesawat UAL 629 tiba dari Chicago. Kedatangan lebih awal itu untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga. Pasalnya, saat itu pemogokan teknisi UAL yang dimulai pada 23 Oktober masih berlangsung. Pemogokan itu membuat banyak orang terkena imbas. Salah satunya, pasangan muda Brad dan Carol Bynum, yang merayakan ulang tahun pernikahan ke Denver. Pasangan itu sampai menunda kepulangan mereka ke Portland beberapa hari sebelumnya karena penerbangan yang ingin mereka tumpangi dibatalkan. Terpaksa memperpanjang waktu di Denver, pasangan Bynum lega ketika akhirnya mendapat tiket UAL 629 dan tidak ada pengumuman pembatalan hingga hari keberangkatan. “Para teknisi yang mogok berharap untuk dapat menyebabkan lebih banyak gangguan seperti yang dialami Bynum. Dalam upaya untuk memberi lebih banyak tekanan pada maskapai, Serikat Teknisi Penerbangan baru-baru ini meminta Serikat Teamster (salah satu serikat buruh terbesar UAL, red .) untuk mendukung pemogokan dengan memotong semua pengiriman bahan bakar ke United. Ketegangan antara para teknisi dan maskapai meningkat dengan cepat, dan United telah menempatkan pasukan keamanan dari Burns Detective Agency di Stapleton Airfield untuk ‘mencegah kekerasan’ dan ‘melindungi properti perusahaan’,” tulis Andrew J. Field. Baca juga:  Pemogokan Buruh Kereta Api di Bulan Puasa Pada 1 November itu, Jack juga sibuk. Menurut Gloria, suaminya hari itu sibuk mencari hadiah natal untuk ibunya. Hadiah itu lalu disatukan dengan barang bawaan Daisie, termasuk beberapa kotak peluru dan amunisi untuk berburu, ke dalam tiga koper saat Daisie mengemasi barang-barang bawaannya di ruang bawah tanah rumah. Ketiga koper itu kemudian diangkat Jack ke mobil Plymouth 1951 yang petang harinya mereka gunakan ke bandara. Kemacetan lalu lintas membuat mereka tiba dengan waktu mepet dari keberangkatan pesawat. Kendati begitu, Jack masih punya waktu untuk mengurus segala keperluan penerbangan ibunya. Dia sempat membeli tali untuk mengikat satu koper Daisie yang rusak lalu mengirimkan ke bagian bagasi penerbangan. Atas permintaan Daisie pula, Jack sempat membeli tiga polis asuransi untuk Daisie, Helen Ruth, dan Helen Smith adik Daisie. Setelah semua urusan selesai, mereka masih mengobrol ketika panggilan boarding terdengar tak lama berselang. Daisie langsung menciumi satu persatu anggota keluarganya itu lalu mengucapkan selamat tinggal dan masuk ke ruang menuju pesawat. Jack lalu mengajak anaknya ke lantai dua untuk melihat pesawat UAL 629 mengudara. “Graham mengatakan dia dan putranya menyaksikan pesawat lepas landas dan tetap berada di dek observasi sampai pesawat itu menghilang dari pandangan. Kembali ke dalam, mereka bergabung kembali dengan Gloria untuk makan malam ringan di kedai kopi di lantai pertama,” tulis jurnalis Andrew J. Field. Pukul 18.44 waktu setempat, UAL 629 take off dengan mulus menuju Portland. Sesuai manifesnya, pesawat itu mengangkut 39 penumpang plus lima awak. Beberapa menit kemudian pesawat itu telah mencapai ketinggian 4.000 kaki. “Para penumpang memperhatikan tanda-tanda yang memberi mereka lampu hijau untuk melepaskan sabuk pengaman dan merokok jika mereka mau, kemungkinan memanfaatkan kesempatan itu. Mereka siap untuk bersantai, menerima minuman, dan menikmati sisa perjalanan,” tulis Barri Flowers. Pengawas di menara ATC terus melakukan komunikasi radio dengan UAL 629. Pada pukul 18.56 pilot Hall menginformasikan pesawatnya telah melewati Denver Omni. Itu menjadi komunikasi terakhir Hall dengan pengawas. Sebab, pada pukul 19.03 pengawas ATC melihat kilatan cahaya yang menerangi langit di barat yang disusul cahaya serupa tak lama kemudian. Hal itulah yang membuat pengawas segera mengontak semua penerbangan yang berangkat dari Stapleton, dan hanya pilot UAL 629 yang tidak menjawab. Suara dari cahaya itu pula yang didengar di sebuah rumah-pertanian di Longmont, 31 mil utara Denver. Conrad Hopp, 18 tahun, sedang makan malam bersama keluarganya ketika mendengar suara itu. “Dan kemudian kami mendengar ledakan keras yang mengguncang semua jendela di rumah. Kami melihat ke luar, dan kami bisa mendengar deru mesin –begitulah cara Anda tahu itu pesawat– dan bola api muncul di udara,” ujarnya sebagaimana diberitakan thedenverchannel . com pada 1 November 2019. Baca juga:  Saat Pesawat Sipil Dihantam Misil Bersama kakaknya, Conrad segera berbegas ke lokasi menggunakan mobil Chevy ’54 ayahnya. Mereka menggunakan jalur yang aman dari puing-puing pesawat yang berjatuhan. Mereka lalu menghampiri Martha, pacar Conrad. “Dan ketika kami melihat sekeliling, setiap jalan terang. Di atas bukit, ke manapun Anda melihat ada cahaya karena semua orang melakukan hal sama –untuk melihat apa yang terjadi,” kata Martha, dikutip thedenverchannel.com . Di dekat lokasi jatuhnya sebagian badan pesawat, mereka berhenti untuk memeriksa. Ketika Conrad kembali ke mobil, dia melihat sebuah kursi bagian depan pesawat berikut sesosok mayat yang masih terikat sabuk pengaman di kursinya. Hampir semua penduduk Longmont keluar rumah malam itu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Banyak dari mereka kemudian menjadi sukarelawan yang membantu aparat kepolisian mencari reruntuhan pesawat dan para korban di dalamnya yang tersebar di areal seluas enam mil persegi. Sekira pukul 9 malam usai kejadian, Unit Pertama Baterei B Artileri Lapangan ke-168 Garda Nasional Longmont dikerahkan ke lokasi untuk membantu aparat kepolisian dan petugas patroli yang bertugas. Selain Conrad dan kakak serta pacarnya, orang paling awal yang tiba di lokasi kejadian adalah wartawan Jim Matlack dari Longmont Times-Call . Begitu tiba, Matlack bergabung dengan petani bernama Jake Heil mencari para korban yang mungkin bisa diselamatkan. “Tidak ada yang kami lakukan selain menutupi mayat-mayat itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan,” kata Matlack, dikutip timescall . com , 31 Oktober 2021. Sementara tak satupun dari penumpang dan awak yang ditemukan hidup, puing-puing dan barang-barang bawaan penumpang yang ditemukan langsung dibawa ke gudang bandara oleh para petugas investigasi dari CAB malam itu juga. Puing-puing itu lalu dirangkai ulang. “Ini satu-satunya cara untuk memvisualisasikan sepenuhnya di mana sumber ledakan di pesawat itu,” tulis thedenverchannel.com mengutip Jeff Guzzetti. Beberapa jam kemudian, para penyelidik CAB mengeluarkan kesimpulan. Penyebab kecelakaan, kata mereka, bukanlah kerusakan ataupun kelalaian awak, tapi ledakan dengan intensitas besar dari kompartemen bagasi No.4 tempat tiga koper Daisie berada. “Rekonstruksi dan pemeriksaan badan belakang pesawat membuktikan bahwa kekuatan yang menyebabkan disintegrasi (tubuh pesawat, red .) awal terpancar dari titik di dalam ruang kargo nomor 4. Intensifikasi yang sangat nyata dalam keparahan fragmentasi dari segala arah menuju titik ini membuktikan bahwa disintegrasi badan belakang pesawat disebabkan oleh ledakan sangat dahsyat yang berasal dari sumber yang sangat lokal. Kekerasan itu jelas ditunjukkan oleh pecahan-pecahan yang telah diproyeksikan melalui dinding dan langit-langit kompartemen kargo serta dengan merobek, penyok, dan melengkung dari struktur yang berdekatan. Bukti ini sangat kontras dengan kerusakan akibat ledakan dari penyalaan bahan mudah terbakar yang dibawa dan digunakan selama pengoperasian pesawat. Analisis laboratorium mengkonfirmasi hal ini dan menentukan bahan peledak adalah dinamit,” demikian bunyi laporan CAB, Accident Investigation Report . Sepekan kemudian, CAB menghubungi FBI. Pemeriksaan pun memasuki ranah kriminal. Serpihan koper Daisie yang berada di kompartemen bagasi nomor 4 diyakini sebagai tempat asal ledakan. Bertolak dari hasil temuan CAB, FBI memeriksa banyak saksi. Kejanggalan demi kejanggalan mulai didapati setelah menginterogasi Jack dan Gloria. Terlebih setelah Gloria memberi keterangan yang mematahkan keterangan Jack. “Graham, kenang istrinya kepada FBI, membawa paket itu ke dalam rumah dan membawanya ke ruang bawah tanah, tempat ibunya mengemasi barang bawaannya,” kata Gloria, dikutip thedenverchannel.com, 1 November 2019. Ditambah dengan temuan polis asuransi dan kabel –yang identik dengan sisa kabel yang digunakan untuk merangkai dinamit yang ditemukan di reruntuhan pesawat– di saku baju Jack yang diperiksa di kamarnya, para agen FBI akhirnya mengerucutkan kecurigaan pada Jack. Kendati terus menyangkal, setahap demi setahap Jack mengakui perbuatannya. Puncaknya, dia mengakui sebagai peledak United Air Lines 629. “Dia mengatakan membuat bom waktu, dengan 25 batang dinamit yang dibeli di Kremmling, dua tutup primer listrik, timer, dan baterai enam volt,” tulis thedenverchannel.com . FBI melimpahkan kasus tersebut ke Jaksa Distrik Denver Bert Keating. Pada April 1956, kasus tersebut masuk ke pengadilan. Lantaran belum ada legislasi federal tentang kejahatan peledakan pesawat komersil, pengadilan akhirnya memvonis Jack dengan kasus pembunuhan berencana biasa dengan sasaran Daisie kendati 44 jiwa menjadi korban. Pada 5 Mei 1956, majelis hakim memutuskan Jack bersalah dan merekomendasikan hukuman mati. Keputusan itu lalu diadopsi hakim yang memimpin persidangan terakhir, Agustus 1956. Pada 11 Januari 1957, Jack menajani hukuman mati di kamar gas LP Negara Bagian Colorado. Kasus peledakan UAL 629 menjadi pembunuhan massal pertama di udara yang terjadi di Amerika Serikat. “Dampak (kejahatan, red .) Jack Graham adalah sebuah pembunuh massal. Dia menanam bom dinamit di bagasi milik ibunya, yang mengambil penerbangan dari Denver, Colorado ke Portland, Oregon, dengan tujuan utamanya adalah Alaska untuk mengunjungi putrinya. Ibu Graham tidak pernah sampai ke tujuannya, begitu pula penumpang dan awak lain. Motivasi Jack Graham rupanya untuk mengumpulkan asuransi atas kematian ibunya, meskipun beberapa orang percaya hubungan sulit antara Graham dan ibunya yang menyebabkan tragedi itu,” tulis Barri Flowers. Kasus itu mendorong pemerintahan Eisenhower memberi perhatian lebih terhadap penerbangan sipil.  " Pengeboman itu mendorong Presiden Eisenhower untuk menandatangani rancangan undang-undang yang menjadikannya kejahatan federal yang dapat dihukum mati atau penjara seumur hidup bagi seseorang yang 'menempatkan... bahan peledak atau bahan perusak lain di dalam pesawat terbang atau kendaraan bermotor yang digunakan dalam perdagangan antarnegara bagian yang menyebabkan kematian,' " tulis  Philip Jett.

  • Race, Islam and Power Bukan Catatan Perjalanan Biasa

    LANGIT Palmerah sudah digelayuti mendung saat Andreas Harsono, wartawan cum  aktivis kemanusiaan, mengantar Historia  sampai muka lobi apartemen. Sebelum berpisah, ia sempat mengisahkan sebuah kejadian tak mengenakkan di tempat yang sama. Kejadiannya tahun 2009, katanya, tanpa bisa mengingat tanggal atau bulannya. Kala itu datang orang tak dikenal mencarinya dengan tujuan yang buruk walau orang itu menyapa sopan ke resepsionis dan security  di lobi. “Dia datang ke lobi, minta cari saya. Orangnya sopan seperti Anda. Ditanya, maksudnya ada keperluan apa. Katanya, ‘saya mau bunuh dia.’ Lalu dia nyamperin  ke (Yayasan) Pantau juga. Security  sini lalu lapor ke polsek,” kata Andreas mengenang. Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Saat kejadian, Andreas kebetulan sedang di luar kota. Dia hanya tahu soal itu dari pihak security . Rupanya, kejadian itu merupakan salah satu imbas dari aktivitasnya sebagai aktivis HAM cum jurnalis sepanjang menginvestigasi tentang pembantaian massal etnis Madura di Kalimantan pada 1997 dan 2001. Kala itu, Andreas mewawancarai banyak narsumber, mulai dari penjagal hingga pihak keluarga korban. Kisah-kisah getir konflik etnis Madura-Melayu dan Madura-Dayak itu merupakan satu dari sekian catatan perjalanan Andreas sampai ke empat titik terluar perbatasan Indonesia. Sejurus mata angin, perbatasan-perbatasan itu yakni Pulau Rondo di ujung barat, Desa Wutung di perbatasan paling timur, Pulau Miangas di tapal batas utara, dan Rote di ujung selatan. Butuh 15 tahun buat Andreas untuk merangkum dan membukukan petualangannya yang dilakoni sejak 2003 itu dengan tajuk Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia . “(Alasannya) waktu. Waktu kan uang,” kata Andreas menjelaskan soal waktu penyelesaian bukunya. Baca juga: Tembang Gerilya Seorang Menteri Negara Sedikitnya waktu yang dimiliki Andreas disebabkan karena dia juga aktif di Human Rights Watch selain sebagai jurnalis di media-media asing berbahasa Inggris. Perjalanannya sendiri memakan waktu lima tahun (2003-2008), ditambah banyak riset dan proses penyelesaian dengan pihak penerbit. Sekilas, Race, Islam and Power ibarat travelogue atau catatan pelesiran. Lima pulau besar dan dua kepulauan, yakni Maluku dan Nusa Tenggara, yang dikunjungi Andreas. Kisah-kisah dari masing-masing tempat itu lalu dibagi ke dalam tujuh bab. Semua punya “surga” tersendiri. Bab pertama, tentang Aceh, misalnya. Di bagian pembuka, pembaca disuguhkan keindahan alam Sabang dengan lautan biru serta kicauan burung-burung camar. Imajinasi pembaca bahkan bisa lebih luas karena penulisnya menyuguhkan gambaran tempat yang sama dari kacamata penjelajah Inggris Sir Thomas Stamford Raffles pada 1819 dan wartawan Djamaluddin Adinegoro. Saat itu, abad ke-19, Sabang jadi salah satu kota-pelabuhan terbuka dengan fasilitas mumpuni. Baca juga: Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar Hanya saja, Sabang gagal menyaingi Singapura karena letaknya kalah strategis di samping perhatian terhadapnya terus menurun usai pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, kini yang tersisa dari Sabang hanya keindahannya. Sabang sebagai kota pelabuhan sudah jauh tertinggal, bahkan sempat mati suri setelah ditutup pemerintah pada 1985. Kuliner yang menggugah selerasebagai bagian kekayaan budaya juga dikisahkan Andreas dalam buku ini. Tak ketinggalan, Andreas juga mendeskripsikan beraneka jenis transportasi yang digunakannya sampai ke destinasi di pedalaman pulau-pulau itu. “Transportasinya memang macam-macam. Ada perahu dongdong di Sambas (Kalimantan Barat). Itu ngeri sekali. Ada barang dan motor di atas kabin. Itu kalau jatuh gimana? Di Gunung Kelimutu (Nusa Tenggara Timur) saya kecelakaan sekali. Naik motor jatuh. Lukanya hanya lecet tapi anak yang nyetir patah tulang,” tambahnya. Andreas Harsono, aktivis, jurnalis dan penulis Race, Islam and Power:  Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia  (Randy Wirayudha/Historia) Tetapi Race, Islam and Power bukanlah travelogue biasa. Buku setebal 280 halaman ini mengungkap banyak cerita yang tertinggal setelah konflik-konflik atas nama etnis, agama, dan kekuasaan. Konflik-konflik itu meledak setelah Presiden Soeharto lengser kendati punya akar historis jauh ke belakang. Andreas memulainya dari Aceh, bertolak dari hasil liputannya pada 2003 untuk suratkabar Malaysia, The Star, yang terbit sampai 16 halaman. “Sampai sekarang The Star belum pernah bikin laporan lebih panjang daripada tulisan saya. Judulnya ‘Starting From Kilometer Zero’. Sambutannya bagus. Bahkan editor saya memberi tahu, waktu itu PM Mahathir Mohamad memuji laporan itu. Karena sambutannya bagus, beberapa orang bilang, kenapa enggak di- expand dengan gaya perjalanan begini? Walaupun dia travelogue , dia sebetulnya kan sebuah esai,” sambung salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Institut Studi Arus Informasi tersebut. Andreas melanjutkannya dengan disponsori Ford Foundation sebesar 100 ribu dolar Amerika. Dari pertemuannya dengan orang-orang Gerakan Acheh Merdeka (GAM), pihak TNI, intelektual Aceh, Andreas menguak banyak cerita tentang ketidakadilan dan ketidakpuasan orang-orang Aceh terhadap pemerintah pusat, diskriminasi terhadap kaum minoritas dan perempuan, hingga kajian akar konflik sejak masa kolonial. Baca juga: Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad Konflik Aceh, yang banyak tidak dipahami publik, amat berbeda dari yang ditulis dalam buku-buku sejarah umum, terutama keluaran resmi pemerintah era Orde Baru. Dalam buku ini Andreas hendak menjelaskan konflik itu dari sudut non-versi pemerintah. Menurutnya, konflik Aceh punya keterkaitan historis erat dengan Perang Aceh. Itu tercermin antara lain dari pemahaman pentolan GAM Hasan di Tiro, yang masih keturunan Teuku Chik di Tiro, panglima semasa Perang Aceh. Bagi Hasan, Kesultanan Aceh tak pernah benar-benar tunduk pada Belanda. Oleh karenanya ketika penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, Aceh tak semestinya jadi wilayah yang turut diserahkan kepada republik baru yang didominasi etnis Jawa itu. Aceh, menurut Hasan, bersedia masuk menjadi bagian dari Indonesia karena dijanjikan otonomi khusus oleh Presiden Sukarno yang baru ditepati pada 1961. Itupun baru terjadi setelah terjadi pergolakan lebih dulu oleh Daud Beureueh. Baca juga: Rasisme Sejak dalam Pikiran Faktor ketidakadilan ekonomi yang timbul kemudian makin memperparah hubungan Aceh-Jakarta. Kala Hasan menanyakan Gubernur Muzakkir Walad tentang konsesi hutan dan kontrak penambangan gas alam dengan Exxon Mobil, dia tak mendapatkan jawaban apa-apa. Aceh, apalagi rakyatnya, tak punya hak menikmati kekayaan alam mereka tanpa persetujuan Jakarta. Akibatnya, sentimen anti-pemerintah pusat dan etnis Jawa makin terasa pada 1970-an dan itu masih terasa hingga kini. Berangkat dari kondisi sosial-politik yang ada itulah Andreas seakan memberikan tips kepada pembaca, terutama yang kurang memahami situasi Aceh, agar menghindari panggunaan lema “Mas” dan memilih lema “Bang” jika bertemu orang-orang setempat di wilayah-wilayah yang dulu dikuasai GAM semisal Tiro di Kabupaten Pidie. Hal serupa tapi tidak sama pun ia temukan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Timor Timur, Papua, dan bahkan di Pulau Jawa. Gejolak kekerasan itu mencapai klimaksnya setelah rezim Orde Baru runtuh. Baca juga: Bandul Stigma yang Berbahaya Alhasil, di pedalaman pulau-pulau itu sentimen antaretnis dan agama masih terasahingga kini. Di Sambas, misalnya, sampai saat ini orang Madura belum diperbolehkan masuk wilayah kabupaten itu. Atau di Ambon, yang bahkan persnya terpecah antara yang bersimpati dengan Muslim dan Kristiani. Andreas merekam semuanya menggunakan dua pendekatan: jurnalistik dan riset. Risetnya mencakup historis, sosiologis, hingga antropologis. Ketiga studi itu dibutuhkannya untuk memahi identitas, bangsa, dan nasionalisme yang berkelindan dengan banyak konflik akibat diskriminasi dan kekerasan yang klimaksnya sampai pembunuhan massal atas nama etnis atau agama. Dari beberapa yang dikisahkan di buku ini, aparat sebagai kepanjangan tangan negara “tidak bisa” atau “tidak berkenan” meredam kekerasan. “Ketika pusat itu goyang, sebagian daerah yang diperlakukan tidak adil oleh pusat ingin mendapatkan kekuasaan lebih besar, mengatur diri mereka lebih besar, entah sosial, politik, ekonomi. Nah bila cara-cara biasa, (seperti) kampanye, advokasi tidak berhasil, mereka lakukan kekerasan. Saya ingin merekam bagaimana kekerasan ini terjadi ketika kekuasaan pusat sedang goyang dan mereka melakukan kekerasan,” lanjutnya. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Pendekatan jurnalistik dan multidisipliner yang digunakan Andreas membuat semua yang dikisahkan bisa lebih mudah dibayangkan dan dipahami oleh pembaca. Buku ini menyajikan premis bahwa apa yang tampak apik dari suatu daerah ternyata menyimpan banyak pengalaman kelam di baliknya. Namun, pengalaman kelam itu hanya diketahui dari segelintir orang yang mengalami, entah para pelaku ataupun korban pembunuhan massal. Betapapun pahitnya pengalaman-pengalaman itu, tetapi itulah realitasnya. Publik, terutama yang di luar pulau-pulau itu, perlu diberitahu. Dengan begitu, mereka bisa lebih memahami realitas yang ada. Dengan memahami, mereka bisa lebih bijak dalam merawat ke-bhineka-an yang menjadi ciri “endemik” Indonesia. Oleh karenanya, menurut Andreas, buku ini penting untuk mengubah perspektif para pengambil kebijakan dan pemimpin politik agar kekerasan, terlebih konflik yang berujung pembunuhan massal, tak terjadi lagi ketika krisis global kembali menghantam. “Kemarin saya diajak rapat sama Kantor Staf Presiden. Buku ini menurut mereka penting untuk punya perspektif. This is to sit back and think. Jadi saya juga mau ngajak orang Indonesia, terutama elitelah, untuk berpikir bahwa bila terjadi krisis lagi, kita bisa bunuh-bunuhan lagi. Bila Anda baca sejarah Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, kawasan ini bergolak setiap kali ada krisis global,” jelasnya. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Secara keseluruhan, Andreas mengakui buku initidaklah sempurna. Karena keterbatasan ruang, beberapa isu yang juga menimbulkan gejolak nyaris tak termuat. Antara lain isu perempuan dan lingkungan. “Anak saya juga bilang ini kurang isu perempuan dan buat saya (kurang isu) HAM. Ada soal isu lingkungan tentang perkebunan sawit di Riau dan Jambi, dianggap (penerbit) membuat fokusnya bergeser, maka dihilangin. Banyak hal yang enggak masuk dan dipotong. Kira-kira dari 130 ribu kata dipotong jadi 90 ribu, tapi kemudian ditambah lagi 10 ribu, khusus tentang saya mendirikan AJI dan kasus Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, red .) di Bab Jawa,” katanya. Hal lain yang juga membedakan buku ini dari travelogue umum adalah dokumentasi foto. Setiap bab buku ini sekadar menampilkan beberapa peta pulau yang dilukis. Padahaladanya dokumentasi foto, terutama tentang keindahan bentang alam yang didatangi penulis, bisa menyuguhkan kontras dengan aneka kisah getir di baliknyapada para pembaca. “Saya enggak mikir sih. Baru mikir sekarang yang Anda tanya (soal foto). Dokumentasi foto-foto ada. Di blog saya (andreasharsono.net) juga ada. Benar, banyak di Indonesia, banyak sekali pantai indah. Penerbit dan desainernya enggak mau ada foto. Saya enggak tahu pertimbangan mereka apa,” jelas Andreas. Terakhir, soal edisi, sampai saat ini Race, Islam and Power baru tersedia dalam bahasa Inggris. “Itu pertanyaan bagus tapi saya enggak tahu menjawabnya. Saya memang menulis dalam dua bahasa. Alasan yang paling masuk akal karena memang ditulis untuk The Star . Lalu merembet yang lain-lain. Ada bagian tentang Sulawesi terbit di Newsbreak Filipina, bagian yang Timor-Timur terbit di Amerika juga bahasa Inggris. Tapi pasti akan saya kerjakan (edisi) bahasa Indonesianya. Cuma lagi-lagi soal waktu dan uang ya,” tandasnya. Data Buku: Judul: Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto|Penulis: Andreas Harsono | Penerbit: Monash University Publishing, Clayton, Victoria (Australia) | Tahun: 2019, Cetakan Pertama | Tebal: 281 hlm.

  • Binjai, dari Kota Rambutan sampai Kedebong Pisang

    Paris Pernandes mengambil sikap hormat. Kepada para penonton, dia menghaturkan sapaan ramah, “Salam dari Binjai.” Sejurus kemudian, jejaka ini langsung menggebuk pokok pisang sampai tumbang bak petinju di atas ring. Entah, apa salah pohon pisang itu. Tapi, aksinya itu malah berhasil menarik perhatian publik di jagad sosial media. Orang-orang jadi latah mengucapkan “Salam dari Binjai” lalu meninju pohon pisang dengan aneka gaya. Kota Binjai pun dikaitkan dengan pisang. Padahal, sejak lama Binjai dijuluki sebagai Kota Rambutan. Binjai terletak 22 km di sebelah barat kota Medan. Ihwal toponimi Binjai sendiri setidaknya terjejaki dari catatan penjelajah Skotlandia John Anderson. Pada 1823, Anderson mengunjungi pantai timur Sumatra untuk membuka hubungan perdagangan atas perintah Gubernur Jenderal Inggris W.E. Philip. Ketika memasuki pedalaman, Anderson memasuki sebuah perkampungan kecil di pinggir Sungai Bingai. Di sana, seperti ditulis Anderson dalam Mission to The East coast of Sumatra 1823, berpenduduk 50 keluarga dan rumah mereka dibangun di bawah pohon binjai yang rindang dan berbatang besar. Versi lain menyebutkan Binjai bertautan erat dengan mobilitas suku Karo di masa lalu. Berdasarkan cerita turun-temurun, daerah Binjai merupakan jalur dagang orang Karo yang ingin membarter hasil bumi dengan garam ke kawasan pesisir. Perjalanan itu membutuhkan waktu lama sehingga para pedagang mesti bermalam atau beristirahat. Dari sinilah kemudian lahir istilah “ ben-ijai ”, yang dalam bahasa Karo berarti “singgah di sini.” Lambat laun, dari tempat singgah, Kuta Benjei  berkembang menjadi bandar perdangangan. Lada yang menjadi komoditas utama bahkan sampai di ekspor ke Penang, Malaya. Baca juga:  Djamin Gintings, Pahlawan Nasional dari Tanah Karo Pada masa kolonial, Binjai masuk ke dalam wilayah konsesi perkebunan tembakau. Namun, untuk mewujudkan itu, pemerintah Belanda harus menaklukkan penguasa setempat. Adalah Datuk Sunggal yang tegas menentang penyerahan konsesi tanah kepada Belanda yang dilakukan Kesultanan Deli. Pertentangan inilah yang kemudian mengakibatkan Perang Sunggal. Pejuang Sunggal membangun benteng pertahanan di Timbang Langkat yang saat ini menjadi kawasan Binjai Timur. Pada 17 Mei 1872, terjadilah pertempuran sengit antara pejuang Sunggal dengan pasukan Belanda yang hendak menjebol benteng itu. Penanggalan tersebut sampai hari ini ditetapkan sebagai hari jadi kota Binjai. Namun, sejarawan Universitas Negeri Medan, Phil Ichwan Azhari, menyanggah perihal hari jadi kota Binjai.    Baca juga:  Raja yang Diasingkan Menurut Ichwan, bukan 17 Mei 1872, melainkan tanggal 27 Juni 1917-lah hari jadi kota Binjai. Seperti dilansir medanbisnidaily.com , Perang Sunggal tidak punya hubungan historis dengan pembentukan kota Binjai. Sebagai pembanding, Ichwan mengutip catatan arsip kolonial yang menyebutkan pada 27 Juni 1917, pemerintah kolonial menetapkan status Binjai sebagai gementee atau kotamadya. Sejak ditetapkan menjadi gementee , Binjai bertumbuh jadi kota modern mengikuti Medan. Skripsi berjudul “Gementee Binjai (1917--1942)” yang ditulis Melisa di Universitas Sumatra Utara menyebutkan, antara tahun 1917 hingga 1942 terjadi perkembangan dalam bidang infrastruktur di Binjai. Untuk memenuhi kebutuhan warganya, beberapa sekolah dibangun baik untuk penduduk Eropa, Timur Asing, maupun pribumi. Selain itu, Binjai juga memiliki jaringan air bersih dan jaringan listrik yang dikelola oleh Nederlandsche Indische Gas Maatschappij . Dalam hal kesehatan, Binjai telah memiliki rumah sakit bernama Centraal Hospitaal dan Bangkattan Hospitaal ,keduanya masih ada sampai sekarang.   Pada masa pendudukan Jepang, terjadi peristiwa toleransi beragama yang patut dicontoh. Seperti umum diketahui, di bawah pemerintahan militer Jepang, masyarakat dipaksa untuk melakukan “ seikere” sebagai wujud pemuliaan kepada kaisar. Lantaran dianggap bid’ah, banyak pihak menolak upacara tersebut, terutama kalangan agamawan. Kelompok masyarakat berbeda agama pun saling tolong-menolong dalam menghadapi tekanan Jepang. Baca juga:  Langsa Diancam, Gubernur Hasan Bertindak Cepat “Satu peristiwa simbolik yang patut dicatat dalam toleransi itu ialah pelaksanaan ibadat golongan Kristen di Binjai pada zaman Jepang dilakukan buat pertama kali di sekolah Muhamadiyah,” tulis tim peneliti Depdikbud dalam Sejarah Daerah Sumatra Utara . Binjai jadi saksi pula pada masa perjuangan revolusi mempertahankan kemerdekaan. Selain Medan, menurut Edisaputra dalam Sumatra dalam Perang Kemerdekaan , Binjai merupakan pusat kegiatan pasukan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA), khususnya yang didatangkan dari Aceh. Itulah sebabnya pada Agresi Militer Pertama, 21 Juli 1947, Belanda melacarkan serangan udara memborbardir Binjai.   “Jumlah korban semuanya, 26 orang bangsa Indonesia gugur, yang luka-luka berat 30 orang,” tulis Edisaputra. Baca juga:  Gerilyawan Aceh di Medan Area Memasuki periode Indonesia merdeka, Binjai menjadi ibukota Kabupaten Langkat. Perannya sebagai kota penyangga membuat Binjai selalu berada di bawah bayang-bayang Medan. Binjai seolah jadi pintu gerbang Medan menuju Aceh. Letaknya yang strategis, menurut pakar sejarah kota Universitas Indonesia Tri Wahyuning M. Irsyam, membuat Binjai masuk kategori kota yang berkembang dengan mengikuti kota lain yang berdekatan. “Binjai di utara Medan, Cimahi di barat laut Bandung, Sidoarjo di selatan Surabaya, dan Depok di selatan Jakarta. Kota-kota semacam ini disebut sebagai kota satelit,” kata Tri Wahyuning dalam Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950--1990-an . Sebagai kota satelit, bukan berarti Binjai tidak punya ciri khas. Kota ini dikenal dengan rambutannya yang legit dan manis. Binjai adalah daerah yang subur sehingga memungkinkan rambutan bertumbuh dan berbuah dengan baik. Kesuburan tanah ini dipengaruhi letaknya yang berada di sepanjang Sungai Bingai yang setiap waktu mengalirkan lumpur humus yang kaya unsur hara. Tidak hanya di Medan, rambutan Binjai ini kesohor di seluruh Indonesia karena rasanya yang lezat. Baca juga:  Gerilyawan Tertolong Pohon Rambutan Selain itu, beberapa tokoh nasional juga berasal dari Binjai. Beberapa di antaranya yakni Mohammad Isa, gubernur pertama Sumatra Selatan, dan sutradara kondang Bachtiar Siagian. Di kalangan generasi milinial ada Paris Pernandes, si petinju pohon pisang yang jadi artis dadakan karena mempopulerkan “Salam dari Binjai”.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page