top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Masa Bersiap dan Ironi Belanda

Orang Belanda kerap mengenang masa bersiap sebagai kejahatan tak terampuni. Namun di Karawang-Bekasi, para pelaku aksi tersebut justru direkrut militer Belanda.

Oleh :
Historia
17 Sep 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Milisi HAMOT, direkrut dari kalangan kriminal. (Arsip Nasional Belanda).

  • 17 Sep 2020
  • 3 menit membaca

Selama Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa.


“Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos?” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?).


Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut.


Di Batavia dalam kurun itu, orang-orang Eropa menghilang, bahkan ketika sedang berada di kota dan pada akhirnya tubuh mereka ditemukan mengambang di salah satu kanal beberapa hari kemudian. Rumah-rumah keluarga kulit putih juga dikepung pada malam hari dan para penghuninya dibunuh tanpa ampun, termasuk anak-anak dan perempuan.


“Molenvliet, suatu kanal panjang yang mengalir dari kota tua ke arah selatan merupakan tempat favorit kaum inlander untuk melakukan penyergapan, seperti halnya jalan utama dari Senen ke Jatinegara,” papar Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni.


Praktek teror itu pada akhirnya menyebar ke seluruh kawasan luar Batavia. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah ommelanden (luar tembok kota) yang tak terlepas dari kegilaan revolusiener orang-orang pribumi. Telan (94), masih ingat bagaimana para pemuda di wilayah Tambun menggerebek rumah orang-orang Tionghoa dalam suatu dini hari.


“Karena orang Belanda sedikit di wilayah itu, para pemuda lalu menjadikan orang-orang Cina sebagai sasaran. Mereka banyak dibunuh dan mayatnya dicempungin ke Sungai Citarum,” ungkap eks anggota sebuah lasykar di Karawang itu.


Telan menyebutkan sebagian pemuda yang terlibat dalam aksi di masa bersiap itu adalah anggota-anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan para jagoan (sekarang dikenal dengan istilah: preman) yang kelak banyak bergabung ke Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR).  


Menurut  jurnalis cum peneliti sejarah Wenri Wanhar, tidak hanya di “kandangnya masing-masing”, para jagoan Karawang-Bekasi itu juga ikut meramaikan aksi gedoran di Depok pada 11 Oktober 1945. Di bawah pimpinan Camat Nata, mereka datang dari arah timur Depok dengan menggunakan kereta api, truk dan gerobak sapi.


“Gerombolan tersebut dengan bebas merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa,” ungkap Wenri dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955.


Pihak intelijen Belanda (NEFIS) meyakini bahwa dengan melihat ciri-cirinya, sangatlah jelas bahwa aksi-aksi itu merupakan aksi kolektif yang terorganisir secara baik. Artinya ada orang atau kelompok tertentu yang mengorganisasi aksi-aksi tersebut.


Berdasarkan keyakinan itu, tidak mustahil jika NEFIS mengantongi nama-nama pelaku kekerasan dalam masa bersiap. Namun ironisnya, sekira dua tahun usai kejadian berdarah itu, alih-alih menangkap mereka dan membawanya ke pengadilan, para komandan di jajaran militer Belanda malah memobilisasi para penjahat itu ke dalam Pasukan Non-organik Milik Sang Ratu (HAMOT). Itu suatu milisi yang berisi “para pembelot” dari kubu Republik yang terdiri dari eks prajurit TNI, oknum kriminal dan eks anggota-anggota LRDR.


“Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri,” ungkap Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia.


Semua kompromi itu terpaksa dilakukan oleh militer Belanda karena adanya keterbatasan personil dan upaya mengefesiensikan pergerakan para serdadu mereka. Para komandan militer Belanda berharap dengan keterlibatan “para kriminal” itu, tingkat kematian dan cidera di kalangan para prajurit kulit putih akibat perang bisa ditekan serendah mungkin.


Hingga November 1947, sepakterjang HAMOT memang kerap menuai sukses dalam berbagai operasi tempur. Selain keberanian mereka, faktor penguasaan medan juga mempengaruhi kemenangan-kemenangan itu. Namun menjelang penutupan tahun 1947, secara cepat para anggota HAMOT kembali kepada perangai lamanya: berbuat brutal dan senang menjarah. Mereka kemudian dikenal sebagai milisi yang selalu melakukan tindakan ekstrem secara kemanusiaan.


“Bahkan di wilayah yang dikuasai oleh Belanda…” ujar Limpach.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Ngalap Berkah Kala Ziarah

Ngalap Berkah Kala Ziarah

Praktik ziarah makam keramat di Nusantara sudah ada sejak zaman purbakala. Maknanya bergonta-ganti dari zaman ke zaman.
27 Maret 1968: Wilhelmus Zakaria Johannes Menjadi Pahlawan Nasional

27 Maret 1968: Wilhelmus Zakaria Johannes Menjadi Pahlawan Nasional

Wilhelmus Zakaria Johannes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional karena berjasa dalam kedokteran khususnya bidang radiologi.
Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II

Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II

Ikut melawan tentara Jerman di Perang Dunia, Michiels meraih bintang Ksatria Belanda. Ditugaskan ke Indonesia bareng pendiri cikal-bakal Kopassus.
Busung Lapar di Tanah Subur

Busung Lapar di Tanah Subur

Banyumas salah satu daerah lumbung padi bagi Jawa Tengah. Musibah banjir dan penyakit malaria sebabkan kelaparan di wilayah tersebut. Masalah ini menjadi perhatian anggota DPR.
Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon

Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon

Setelah Jawa dalam genggaman, Napoleon merebut Alexandria di Mesir. Gubernurnya yang menolak tunduk dihadapkan ke regu tembak.
bottom of page