- 30 Jun
- 9 menit membaca
SENIN pagi, 28 Juni 1926. Padang Panjang sedang berada pada denyut paling sibuknya. Hari itu hari pekan, ketika masyarakat dari Batipuh, X Koto, Agam, hingga Tanah Datar berbondong-bondong memenuhi Pasar Serikat Padang Panjang Batipuh X Koto.
Di kota berhawa sejuk yang terjepit di antara Gunung Marapi dan Singgalang itu, aktivitas niaga berlangsung seperti biasa. Pedagang menata dagangan, pembeli menawar harga, sementara percakapan dan senda gurau mengalir dari kedai-kedai kopi di sekitar pasar. Sebagai simpul jalur kereta api dan pusat perdagangan di Dataran Tinggi Padang (Padangsche Bovenlanden), Padang Panjang kala itu merupakan salah satu kota paling hidup dan kosmopolitan di pedalaman Sumatra's Westkust.
Tatkala jarum jam menunjuk angka 10 lewat 4 menit 28 detik, bumi Padang Panjang tiba-tiba mengentak keras. Kemudian datang gempa kedua pukul 12 lewat 56 menit 47 detik siang yang berkekuatan lebih besar.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















