Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Akar Sejarah Yogurt
Kata ‘yogurt’ berasal dari bahasa Turki, bermakna ‘yang akan dibekukan atau digumpalkan’. Berkembang ke seantero jagad karena dipandang sebagai makanan sehat.
- Suara Angklung dari Timur
DI bawah guyuran hujan, ratusan pelajar dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas adu kebolehan di atas panggung. Mereka berusaha tampil atraktif dan penuh semangat dalam memainkan angklung. Berlompatan di atas panggung, atau melompat sambil memukulkan dua kentongan bambu sehingga menghasilkan tampilan unik. Bukan hanya permainan musik yang rancak. Mereka juga beradu menebak dan menembang gending (lagu) asli Banyuwangi seperti Thong-thong Bolong, Padang Ulan, Mak Ucuk, Pethetan, Bang Cilang-Cilung, Peteg-peteg Suku, dan Untring-untring. Tak ketinggalan pula jogedan dan celotehan-celotehan lucu yang mengocok perut penonton. Para penonton pun senang dan tertawa menyaksikan aksi para peserta Festival Angklung Caruk Pelajar di Gesibu, Banyuwangi, awal 2018. Angklung caruk adalah salah satu kesenian khas yang tumbuh di masyarakat Banyuwangi. “Caruk” artinya bertemu. Sekurang-kurangnya dua kelompok saling caruk untuk bertanding memainkan angklung. Mereka juga memiliki suporter untuk memberi dukungan jagoannya dan menjatuhkan mental lawan. Festival Angklung Caruk merupakan salah satu acara yang masuk dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival. Setelah angklung caruk, beberapa bulan kemudian giliran Festival Angklung Paglak digelar di hamparan hijau Bandara Banyuwangi. Dalam festival ini, para pemusik berusaha menghasilkan alunan musik yang terbaik. Mereka unjuk kemahiran memainkan angklung di atas paglak atau menara bambu. Semakin kencang pukulannya, menara bambu ikut bergoyang kian kencang. Inilah ciri khas kesenian ini. ”Angklung paglak adalah salah satu kesenian tertua di Banyuwangi. Ini kearifan lokal warga yang luar biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, tapi masa depan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di laman Pemkab Banyuwangi. Ekspresi Pak Tani Banyak orang mengenal angklung berasal dari daerah Jawa Barat. Alat musik bambu yang kini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini lekat dengan orang Sunda. Namun, angklung ternyata juga berkembang di ujung timur Jawa. Jika angklung Sunda dijinjing dan digoyang untuk memainkannya, angklung Banyuwangi harus diletakkan atau disangga dengan perut dan dimainkan dengan cara dipukul. Ukurannya juga lebih besar dan terdiri dari dua angklung yang berpasangan. Penyangganya berukir naga atau kepala Gatotkaca. Tak diketahui sejak kapan angklung muncul, baik di tatar Sunda maupun Banyuwangi. Alat musik bambu memang telah digunakan dalam berbagai kebudayaan Nusantara pra-Hindu. Berkembang di berbagai daerah dan menemukan bentuknya sendiri. Paul Arthur Wolbers dalam “Gandrung and Angklung from Banyuwangi: Remnants of a Past Shared with Bali” di jurnal Asian Music Vol. 18 No. 1 tahun 1986 menyebut instrumen bambu di Banyuwangi awalnya berbentuk seperti kentongan yang dipasang pada paglak . Kentongan ini digunakan sebagai alat komunikasi antardesa serta untuk mengusir harimau dan hantu. Bambu sebagai alat musik tampaknya kemudian digunakan dalam upacara panen padi. Perkusi bambu menjadi pengiring ritual sekaligus hiburan bagi para petani. Sedangkan dari bentuknya, Wolbers menyebut angklung Banyuwangi memiliki hubungan dengan gamelan angklung dari Bali. “Beberapa xilofon bambu ada di Jawa, tapi tak ada yang mendekati bentuk keseluruhan dari angklung Banyuwangi. Satu-satunya instrumen yang terlihat mirip adalah grantang langka dari Bali,” sebut Wolbers. Grantang pernah memainkan peran dalam angklung gamelan Bali yang dapat dibandingkan dengan orkestra angklung dari Banyuwangi. Kemunculan kesenian angklung tak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Osing saat musim panen. Alat musik dari bambu dimainkan di atas paglak sebagai undangan dari pemilik sawah kepada warga agar ikut membantu sekaligus menghibur para petani. Selain itu, alunan musik angklung juga berguna untuk mengusir burung. Menurut Budhisantoso dkk dalam Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur , masyarakat Osing menyebut tradisi saat panen itu sebagai upacara “ngampung”. Para petani yang mampu biasanya nanggap kesenian “angklung sawahan” atau istilah yang lebih populer angklung paglak. “Kesenian ‘angklung sawahan’ ini dipertunjukkan di lokasi sawah yang sedang panen sehingga menambah suasana gembira dan semangat kerja bagi pemanen,” tulis Budhisantoso dkk. Ragam Angklung Dari permainan yang sederhana, angklung berkembang menjadi sebuah kesenian yang bisa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian. Di Desa Kemiren, terdapat dua jenis kesenian angklung, yakni angklung pelangi sutra dan angklung caruk. Angklung pelangi sutra menampilkan tarian yang dibawakan beberapa orang dan diselingi lawakan –juga sandiwara bila diminta. Sedangkan angklung caruk mempertandingkan kebolehan para pemain dari sekurang-kurangnya dua kelompok seni. Dalam angklung caruk juga disajikan tarian seperti tari jangeran, tari gandrungan, cakilan, hingga kuntulan. Menurut Wolbers, latar belakang angklung caruk dapat ditemukan dalam beberapa tradisi yang telah punah. Salah satunya adalah tarian tarung menggunakan tongkat rotan yang dimainkan selama musim kemarau di beberapa daerah di Jawa Timur. Permainan ini diiringi oleh sekolompok pemusik. Di dekat Banyuwangi, pernah pula terdapat gitikan , hiburan yang menampilkan dua lelaki berusaha saling memukul dengan cambuk panjang terbuat dari serat daun kelapa. Pertunjukan itu diiringi oleh dua angklung yang repertoar musiknya sama dengan gandrung . “Kebiasaan lain yang mungkin telah berkontribusi pada angklung caruk ditemukan dalam apa yang Pigeaud sebut prang desa , ‘perang desa’," sebut Paul Arthur Wolbers dalam “Account of Angklung Caruk July 28, 1985” di jurnal Indonesia April 1987. Ayu Sutarto dalam makalahnya pada acara Jelajah Budaya berjudul “Sekilas tentang Masyarakat Using” menyebut angklung caruk berasal dari kesenian legong Bali. “Kecepatan irama musik dan lagu-lagu yang dimainkannya sangat dipengaruhi oleh nuansa musik angklung ritmis dari Bali. Namun dalam kesenian ini terdapat juga perpaduan antara nada dan gamelan slendro dari Jawa yang melahirkan kreativitas estetik,” tulis Ayu. Namun, Ayu memasukkan angklung caruk sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “angklung daerah” yang bisa dipakai untuk mengiringi gending (lagu) dan tari. Jenis angklung daerah adalah angklung paglak, angklung caruk, angklung tetak, angklung dwi laras, dan angklung Blambangan. Angklung tetak merupakan pengembangan dari angklung paglak, dengan perubahan pada bahan instrumen dan nada. Angklung dwi laras merupakan pengembangan dari angklung tetak. Disebut angklung dwi laras karena angklung jenis ini menggabungkan komposisi dua nada, yaitu laras pelog dan laras slendro. Sementara angklung Blambangan merupakan pengembangan terakhir angklung di Banyuwangi. Ada beberapa gending yang biasa dimainkan dalam angklung daerah. Antara lain Jaran Ucul, Tetak-tetak, Gelang Alit, Mak Ucuk, Sing Duwe Rupo, Congoatang, Ulan Andung-andung, Mata Walangan, Ngetaki, Selendang Sutera, dan Padhang Ulan. Angklung dan Genjer-genjer Ada varian kesenian angklung yang pernah berkembang pada 1950-an. Ia disebut angklung modern tapi lebih dikenal sebagai genjer-genjer. Nama ini bukan hanya merujuk pada judul lagu Genjer-genjer. Melainkan digunakan sebagai sebutan untuk setiap gubahan dari sebuah kelompok angklung bernama Sri Muda. Bahkan Sri Muda sebagai kelompok musik pun sering disebut sebagai Genjer-genjer. Dalam Lekra Tak Membakar Buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menyebut, Sri Muda merupakan kelompok angklung modern yang populer pada 1950-an hingga 1960-an. Ia bermula dari organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk yang dibentuk tahun 1954 dengan nama Sri Tanjung. Dari Sri Tanjung, lahir konsepsi musik angklung baru. Kematangan revolusioner Sri Tanjung kian meluas dan membumi. Mereka mendorong para pemuda untuk menggunakan angklung sebagai senjata dalam bermusik. “Sri Tanjung pun lebur menjadi Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Pemuda). Lagu-lagu yang dibawakannya, terutama ciptaan Arief (Muhammad Arief, pencipta lagu Genjer-genjer, -red ), masih disukai. Bukan saja karena iramanya yang khas, tapi juga isinya progresif,” sebut Rhoma dan Muhidin. Lagu Genjer-genjer menjadi yang paling populer. Dari situlah Genjer-genjer bergeser menjadi sebutan konsepsi angklung modern Sri Muda dan sebutan untuk Sri Mudanya sendiri. Pada 1960-an berkembang pula tarian padangulan atau kadang disebut tari angklung. Diciptakan dari kebiasaan masyarakat Banyuwangi, terutama yang berdiam di sekitar pantai, beramai-ramai keluar rumah dan berjalan-jalan di pantai bila bulan purnama. Gerak dasar tarian banyak mengambil unsur pada pertunjukan gandrung, baik dari penari gandrung maupun pemajunya. Ditarikan anak laki-laki dan perempuan dengan perpasangan. Jumlah pasangan tidak terbatas. Menurut buku Ensiklopedi Tari Indonesia , t arian padangulan dipopulerkan tahun 1964. Semula digarap Wim Arimaya, seorang penari di daerah itu. Pada mulanya banyak mengambil unsur-unsur gerak tarian Melayu. Lalu disempurnakan hingga mencapai bentuknya sekarang oleh seniman-seniman tari muda, antara lain Sumitro Hadi. Setelah 1965, stigma negatif membuat redup dunia perkembangan kesenian angklung di Banyuwangi. Namun perlahan ia kembali muncul dan populer sebagai hiburan atau tontonan pada acara hajatan seperti perkawinan, khitanan, atau perayaan lainnya. Kini, lebih dari setengah abad setelah masa kejayaan angklung modern, berbagai festival angklung diadakan di Banyuwangi. Dari Fertival Angklung Caruk Pelajar hingga Festival Angklung Paglak yang dimainkan di atas menara bambu paglak diadakan untuk membangkitkan kembali tradisi angklung dari timur ini. Angklung paglak khas Banyuwangi yang telah mendarah daging nantinya juga melahirkan kesenian musik lokal semacam Kendang Kempul.
- Berpacu dalam Kendang Kempul
SIAPA tak kenal Ikke Nurjanah? Penyanyi dangdut bersuara merdu dan berpenampilan sopan ini pernah kondang di blantikan musik Indonesia. Sejak usia remaja, dia memang sudah menjadi penyanyi profesional dan meluncurkan sejumlah album. Namun, sebelum dikenal sebagai penyanyi dangdut, Ikke identik dengan lagu-lagu Jawa. Hal ini tak bisa dilepaskan dari kesuksesan album Ojo Lali . Bahkan berkat album itu pula namanya melejit. Setelah itu sederet album Jawa pun dirilisnya. Salah satunya album Gelang Alit . Album Gelang Alit diproduksi MSC Records dan dirilis tahun 1996 saat Ikke masih kuliah. Menariknya, di album ini, Ikke mencoba menginterpretasi lagu berbahasa Osing dari Banyuwangi berjudul “Gelang Alit” karya Fatrah Abal atau Faturahman Abu Ali. Kendati liriknya sudah diubah ke dalam bahasa Indonesia, aransemennya masih kental nuansa Banyuwangi. Tumbuh indah di taman hati Laut Ketapang airnya keruh Pinggir kota Banyuwangi Siang malam kurindu Hati rasa setiap hari Album Gelang Alit cukup mendapat sambutan dari penggemar musik tanah air. Album itu juga mengangkat kembali musik etnik Banyuwangi ke ranah musik nasional. “Dan Ikke Nurjanah, penyanyi dangdut, memiliki hit nasional pada 1997 dengan sebuah lagu kendang kempul, yang merupakan sumber kebanggaan utama bagi banyak orang di Banyuwangi,” tulis Bernad Arps dalam “Osing Kids and the banners of Blambangan” di jurnal Wacana , April 2009. “Tampaknya ini adalah ungkapan keinginan untuk sebuah pengakuan.” Kendang kempul adalah sebutan untuk musik etnik yang lahir dan berkembang di Banyuwangi, Jawa Timur. Dari Gandrung Musik kendang kempul tumbuh dan berkembang dari kesenian gandrung Banyuwangi. Alat musik yang digunakan pun dipakai pada kesenian gandrung. Ada yang menyebut kendang kempul telah ada dan berkembang pada 1920-an dengan munculnya lagu-lagu yang diciptakan untuk mengiringi kesenian gandrung. “Musik kendang kempul pada awalnya disebut dengan kendang gong, yakni seni musik yang tumbuh dan berkembang dari tradisi kesenian gandrung,” tulis Ginanjar Wahyu Raka Siwi dalam tugas akhirnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan judul “Musik Populer Kendang Kempul Banyuwangi”. Namun, lagu-lagu gandrung dirasa kurang memanjakan telinga. Maka, sejumlah seniman mulai menciptakan lagu-lagu bertema alam dan rakyat kecil. “ Nah, setelah itu mulai berkembang lagu-lagu Banyuwangi dengan iringan angklung,” ujar Hasan Singodimayan, mantan aktivis Himpunan Seniman dan Budayawan Islam yang berafiliasi dengan partai Masyumi, dikutip Ikwan Setiawan dalam artikel “Merah Berpendar di Brang Wetan: Tegangan Politik 65 dan Implikasinya terhadap Industri Musik Banyuwangen”. Salah satu lagu yang kemudian populer adalah Genjer-genjer, diciptakan musisi Mohamad Arief, pada 1953. Lagu ini menggambarkan kesulitan hidup pada masa pendudukan Jepang sehingga memaksa penduduk di Banyuwangi makan genjer yang dianggap pakan ternak –karenanya ada yang menyebut lagu ini diciptakan masa Jepang. Sejak gabung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Mohammad Arief mendirikan grup angklung Srimuda (Seni Rakyat Indonesia Muda). Pada 1960-an, ketika singgah di Banyuwangi dan disuguhi pertunjukan angklung dengan lagu penutup Genjer-genjer, petinggi PKI dan Lekra Njoto berucap: “Lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional!” Terbukti lagu itu populer. Disiarkan RRI dan TVRI . Dinyanyikan penyanyi-penyanyi nasional. Selain Mohammad Arif, ada banyak seniman Banyuwangi era itu yang menulis lagu seperti Andang C.Y., Nasikin, B.S. Nurdian, Mahfud Hariyanto, Endro Wilis, A.K. Armaya, dan Fatrah Abal. Mereka umumnya bergabung dengan lembaga-lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai politik saat itu. “Musik lokal Banyuwangi pada awalnya adalah kreativitas para seniman musik yang didorong oleh kepekaan sosial. Realitas sosial yang terjadi pada masyarakat Banyuwangi yang diungkapkan oleh seniman dalam bentuk syair lagu,” tulis Hervina Nurullita dalam “Stigmatisasi terhadap Tiga Jenis Seni Pertunjukan di Banyuwangi” di Jurnal Kajian Seni , November 2015. Perkembangan musik lokal Banyuwangi surut setelah Peristiwa 1965. Lekatnya lagu Genjer-genjer dengan PKI berimbas pada stigma kiri terhadap semua musik Banyuwangi. Beberapa seniman yang selamat mengalami stigma, trauma, dan ketakutan. Kendang kempul berkembang dari kesenian gandrung Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Adaptif Pada 1970-an, A.K. Armaya kembali ke Banyuwangi dari perantauannya di Jakarta. Dia mendapati suasana ketakutan masih membayangi para seniman untuk membuat lagu-lagu Banyuwangi. Sementara masyarakat Banyuwangi lebih familiar dengan musik-musik beraliran pop hingga dangdut. Armaya berhasrat untuk menghidupkan kembali lagu-lagu Banyuwangi. Inisiatifnya mendapat dukungan dari Bupati Joko Supaat Slamet. “Hingga pada tahun 1975-an Banyuwangi sudah mulai berani merekam lagu-lagu berbahasa Osing namun dengan pengawasan dan fasilitas dari pemerintah,” tulis Akbar Satria Putra Mahendra dan Agus Trilaksana dalam “Musik Kendang Kempul Tahun 1980-2008” di jurnal Avatara , Oktober 2018. “Pelukan mesra pendopo”, begitu istilah yang dipakai Ikwan, berwujud merekam lagu-lagu Banyuwangen karya mantan seniman Lekra maupun bukan dengan instrumen yang mengkolaborasikan angklung dan gandrung karena kedua jenis instrumen tersebut sangat populer. “Dipakainya lagu-lagu ciptaan para seniman kiri menandakan bahwa persoalan stigma politis untuk sementara bisa diatasi, meskipun kontrol memang masih begitu ketat,” tulis Ikwan. Terlepas dari kontrol rezim terhadap perkembangan kesenian Banyuwangen, lanjut Ikwan, nyatanya para seniman punya mekanisme sendiri untuk mengembangkan kesenian tradisi-lokal di Banyuwangi. Mereka tetap berkarya, meskipun harus bersiasat terus-menerus. “Industri rekaman yang dibina oleh Pendopo, ternyata mempunyai peran strategis untuk menyemarakkan kembali kesenian beraroma rakyat di tengah-tengah masyarakat,” tulis Ikwan. Sebenarnya, setelah 1965, dunia musik di Banyuwangi tetaplah semarak. Menurut Akbar dan Agus, sejarah musik di Banyuwangi pasca 1965 berawal dari grup orkes Gavilas yang digadang-gadang sebagai pionir orkes musik Melayu di Banyuwangi. Grup ini juga populer saat itu. Eksistensi Gavilas mendorong munculnya grup orkes lainnya. Salah satunya Arbas (Arek Banyuwangi Asli) pimpinan Sutrisno. Pada 1980-an Sutrisno dan teman-temannya mempopulerkan kendang kempul namun dengan balutan musik yang berkembang saat itu. Mereka menggabungkan unsur instrumen dalam gandrung dengan peralatan musik modern untuk mendapatkan warna baru yang nantinya akan menjadi identitas khas Banyuwangi. Nama kendang-kempul diambil karena dalam musik yang dibuat ada kendang dan kempul sebagai instrumen utama. Alat musik itulah yang membedakannya dari musik etnik lainnya. Kemudian ditambahkan organ, biola, dan gitar yang merupakan alat musik modern. Kekuatan utamanya terletak pada lirik-lirik lagunya yang berbahasa Osing. Ini pula yang membuat kendang kempul bisa diterima, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pada dasarnya, ujar Sutrisno kepada Ikwan, kendang kempul itu orkes versi Osing dengan memasukkan kendang dan kempul. Upaya Sutrisno dan kawan-kawan rupanya mendapat tempat di hati masyarakat Banyuwangi. “ Ketika sekitar 1980 kendang Kempul dibuat kira-kira dalam bentuknya yang sekarang, yaitu musik pop, ini adalah langkah yang cukup radikal,” tulis Arps. Eksistensi kendang kempul di pentas nasional mencuat setelah “Ratu Kendang Kempul” Mbok Sumiati membuat album dengan pelawak kenamaan Jakarta, Doyok dan Cahyono. “Walaupun mereka dari background komedi, namun untuk masalah olah vokal, mereka tak kalah dengan penyanyi dangdut papan atas. Warna vokal dan basa Osing Mbok Sumiati lah tetap yang mendominasi keunikan dari lagu-lagu yang mereka bawakan. Sebagai contoh, lagu Kenal Lare Osing yang dibawakan Doyok dan Sumiati dalam album Cinta Modal Sepeda ,” tulis Akbar dan Agus. Perkembangan ini kian menyemarakkan dunia musik Banyuwangi. Industri rekaman lokal pun tumbuh. Album rekaman dalam format VCD dibuat dan didistribusikan ke lapak-lapak penjual. Penjualannya pun lumayan. Lagu-lagunya, sebagian besar bertema cinta meski ada juga bermuatan “patriotisme”, mewarnai siaran-siaran radio di wilayah Banyuwangi. Bahkan pada 1990-an lagu-lagunya digemari untuk karaoke, baik pada perayaan maupun kontes. “Bernyanyi kendang kempul adalah hobi populer di kalangan anak sekolah menengah. Saya telah berbicara dengan beberapa orang yang pikirannya menjadi salah satu ciri utama menjadi Laré Using adalah dapat menyanyikan kendhang kempul dan mengetahui lagu tersebut,” ujar Arps. Namun badai melanda industri musik di manapun karena adanya perkembangan teknologi informasi, terutama internet. Akibatnya penjualan VCD turun. Mau tak mau, para produser rekaman pun merambah dunia digital. Siasat lain dilakukan dengan bergeser ke genre dangdut koplo yang lagi tren. Maklum, masa keemasan lagu Banyuwangi sempat turun pada 2006. Sandi Record, misalnya, berkreasi dengan mengkolaborasikan musik Banyuwangi dengan berbagai genre seperti koplo, house dan disco. Kreasi Sandi Record ternyata diterima pasar. Album-album yang diproduksinya kembali meledak. Selain menggarap lagu-lagu Banyuwangi, dia mulai merambah pasar dangdut. Sandi Record membidik diva dangdut seperti Elvi Sukaesih dan Ikke Nurjanah untuk rekaman. “Lagu dangdut ini untuk nutupin kalau lagu Banyuwangi sepi,” ujarnya, dikutip Lokadata . Kendati muncul kritik, kecenderungan semacam itu menunjukkan betapa dinamisnya musik Banyuwangi. Hal itu pula yang membuat kendang kempul bisa bertahan. Bagaimanapun, kendang kempul sudah didapuk sebagai musik daerah Banyuwangi. Upaya untuk melestarikan dan mengembankannya pun terus dilestarikan. Antara lain melalui Festival Gending Osing yang kembali digelar Pemkab Banyuwangi pada akhir tahun lalu. “Kami semua sangat bersyukur musik Banyuwangi terus berkembang. Dan yang paling penting, tak hanya bergema di daerahnya, bahkan musik Banyuwangi mudah kita temui di daerah lain. Surabaya contohnya. Saya itu kerap terdengar musik Banyuwangi diputar atau dimainkan musisi jalanan jika berkunjung ke wilayah Jawa Timur lain,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip laman Pemkab Banyuwangi. Yuk, ikut berdendang.
- Serangan Aktivis Kiri di Bandara Lod Israel
HARI ini, 30 Mei , 48 tahun silam, Pablo Tirado-Ayala mendapati kenyataan amat berbeda di Bandara Lod (kini Bandara Internasional Ben Gurion), Tel Aviv, Israel. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan spiritual dengan mengikuti wisata religi ziarah ke “Tanah Suci” itu, pria Puerto Riko yang menjadi warga negara Amerika Serikat tersebut justru tak pernah mendapatkannya karena hanya bisa sampai bandara. Kerusuhan mengerikan di bandara itu tak “mengizinkannya” sampai ke “Tanah Suci” dan justru membawanya ke fase kehidupan berbeda yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pablo tak mau bicara, di rumah ia hampir selalu berada di kamarnya, ia hanya akan keluar selama beberapa menit, dan dia tak akan bicara, dan dia akan kembali ke kamarnya,” ujar Angel Ramirez Colon, anak angkat semata wayang pasangan Pablo dan Antonia, dalam kesaksiannya tentang sang ayah yang diutarakan dalam persidangan di United States District Court for the District of Puerto Ricopada 2008, dimuat di laman osenlaw.com . Pablo mengalami gangguan jiwa berat akibat terluka oleh tembakan tak lama setelah pesawatnya mendarat di Bandara Lod, dikenal dengan Pembantaian Bandara Lod (Lod Airport Massacre). Kerusuhan itu dilakukan tiga teroris Jepang anggota Japanese Red Army (JRA), organisasi ultra-kiri pecahan Red Army Faction (FAR) yang didirikan Fusako Shigenobu. Menurut Sara Dissanayake dalam “Japan” yang termuat di buku Handbook of Terrorism in the Asia-Pasific , FAR beroperasi dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan monarki di Jepang serta menggerakkan revolusi di dunia. “Anggota kesatuan itu terlibat dalam berbagai tindakan kriminal di Jepang, termasuk serangan terhadap kantor polisi dan serangan bank. Pada 31 Maret 1970, sembilan anggota RAF membajak sebuah penerbangan Japan Airlines dan memerintahkan pilotnya menerbangkan pesawat ke Korea Utara, di mana mereka diberi perlindungan dan tempat tinggal,” tulis pakar terorisme itu. Akibatnya, pemerintah Jepang mengambil tindakan keras. Tindakan keras pemerintahan Jepang terhadap kelompok kiri pada 1970-1971 dan adanya persaingan sengit antar-kelompok kiri memaksa Shigenobu dan beberapa anggota militan lain menyingkir ke luar negeri. Mereka memilih Lebanon, tempat Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) bermarkas, sebagai tempat pelarian. Shigenobu dan kawan-kawan disambut hangat rekan internasionalnya dalam perjuangan melawan imperialisme itu. “Kedatangan Shigenobu di Timur Tengah amat tepat sesuai dengan keinginan yang tumbuh dalam orang-orang Palestina untuk mencari dukungan luar kegiatan anti-Israel mereka. Meskipun Palestina telah lama berjuang melawan Israel, mereka melakukannya dengan sedikit keberhasilan,” tulis Aileen Gallagher, investigator lepas dan penulis, dalam The Japanese Red Army . Kekalahan Arab dalam Perang Arab-Israel 1967 membuat para pemimpin perjuangan Palestina mengubah taktik. Perang konvensinal tak mungkin mereka lakukan lagi karena Israel terlalu kuat dengan dukungan AS. “Terorisme dan perang gerilya kini dianggap satu-satunya harapan warga Palestina untuk menyingkirkan Israel dari tanah yang mereka anggap milik mereka. Orang-orang Palestina mulai mencari inspirasi dan bantuan dari kelompok lain di seluruh dunia yang telah berjuang untuk menggulingkan pemerintah,” sambung Aileen. Setelah Shigenobu mendirikan JRA di Lembah Bekaa, kerjasama para militan kiri Jepang itu dengan PFLP kian intensif. Satu aksi penting yang mereka rencanakan adalah menyerang bandara Lod di ibukota Israel. “Serangan itu sebenarnya dikoordinir PFLP tetapi dieksekusi oleh tiga anggota JRA,” kata Sara. Pemilihan anggota JRA sebagai eksekutor diusulkan Shigenobu untuk menghilangkan kecurigaan pihak keamanan bandara Israel yang sedang gencar mengawasi pendatang Arab. Meski sempat meragukan, pimpinan PFLP akhirnya menerima usulan Shigenobu. “JRA adalah semangat kekeluargaan sempurna dan mitra yang sukarela,” tulis Aileen. Setelah perencaan dibuat, mereka mencari eksekutor. Salah satu yang bersedia, Kozo Okamoto. Setibanya di Beirut setelah beberapa bulan menjalani penerbangan estafet dari Tokyo via Amerika, Okamoto menjalani pelatihan sembilan minggu. Misi dijalankan oleh tiga eksekutor: Kozo Okamoto, Takeshi Okudaira (suami Shigenobu), dan Yasuyuki Yasuda. Mereka menyamar sebagai turis Jepang. Mereka hanya membawa sedikit koper, berisi senapan semi-otomatis dan granat. Setelah pelesir ke Paris, mereka tur ke Roma. Tiga hari di Roma, mereka lalu terbang ke Tel Aviv menggunakan pesawat Air France dengan nomor pererbangan 132 dari Paris yang transit di Roma. Pada saat-saat itulah Pablo Tirado-Ayala di Amerika amat bahagia karena waktu wisatanya ke “Tanah Suci” makin dekat. “Itu adalah topik utama obrolan di rumah. Antonia tidak mau bergabung dengan Pablo karena Angel masih di rumah (pada saat itu berusia 16) dan dia tidak ingin meninggalkannya sendirian,” kata Angel Ramirez, anak-angkat Pablo. Pablo akhirnya berangkat ke Tel Aviv bersama 16 wisatawan-peziarah lain dari Puerto Rico. Mereka tiba di Bandara Lod pada 30 Mei. Begitu turun dari pesawat, mereka mengantri di ruang bagasi untuk mengambil barang-barang bawaan. Saat itulah, tulis Aileen, “Tiga lelaki Asia mengambil tas dan pindah ke dinding yang jauh, berpura-pura mencari sesuatu di koper mereka. Tiba-tiba, tembakan memenuhi ruangan itu.” Ketiga teroris terus memberondongkan senapannya secara membabi buta ke arah kerumanan orang di ruang bagasi bandara. Salah satu teroris lalu melemparkan granat ke beberapa kelompok orang yang berkerumun. Mereka tak puas dan memperluas wilayah ke serangan ke ruang tunggu di luar. Okudaira bahkan memasuki landas-pacu dan memberondong sebuah pesawat. Ketika pelurunya habis, dia melemparkan granat yang tersisa dan tubuhnya hancur bersamaan dengan kepingan-kepingan granat itu. Banyak orang menganggap itu sebagai aksi bom-bunuh dirinya, namun banyak saksi mengatakan dia terpeleset dan jatuh ke arah granat yang dilemparnya. Teroris kedua, Yasuda, tewas tertembak tak lama berselang. Sebagian saksi menyatakan dia terkena friendly fire , namun banyak saksi meyakini dia tertembak oleh aparat keamanan bandara. Sementara, Okamoto, lari keluar untuk melemparkan granat ke arah pesawat setelah kehabisan peluru. Okamoto tak melawan saat dibekuk petugas keamanan. Dia bahkan berharap dihukum mati aparat keamanan Israel meski hal itu tak pernah dikabulkan. Meski hanya beberapa menit, serangan tiga teroris JRA itu menewaskan 26 orang. Salah satunya, Profesor Aharon Katzir, ahli bio-fisika Israel. Sementara, 80 orang lain mengalamai luka-luka akibat serangan itu. “Misi ini akan tercatat dalam sejarah sebagai tindakan paling berdarah JRA, yang akan menempatkannya di antara organisasi teroris yang paling ditakuti di dunia,” tulis Aileen. Salah satu korban adalah Ros Sloboda. Perempuan asal London yang saat itu bekerja di Tel Aviv itu tertembak salah satu kakinya. Dia bahkan sempat yakin dirinya bakal tewas ditembak lebih lanjut oleh salah seorang teroris yang dilihatnya. Namun, keyakinan itu meleset. Nyawanya selamat. Meski nyawanya juga selamat, Pablo mengalami gangguan mental berat. Dia berhasil pulang ke Puerto Rico, namun tidak pulang sebagai Pablo sebelumnya yang ceria, ramah, perhatian, dan penyayang. Gangguan mental berat membuatnya murung dan mengurung diri sepanjang hari di kamarnya. Dia tak bisa tidur tanpa minum obat. Di tengah tidurnya, dia sering terbangun dan berteriak. Upaya pengobatan yang dilakukan Antonia istrinya dengan membawanya ke instalasi perawatan mental selama sebulan, tak banyak membantu. Pembantaian Bandara Lod telah mengubah kepribadian Pablo. “Dia tak mudah didekati lagi seperti sebelumnya,” kata Angel. Perubahan itu juga amat menyedihkan Antonia. “Karena dia tempat diajak bicara, yang akan menghabiskan waktunya bersama kami, orang yang mengajak kami pergi, seorang penyedia utama, (tapi) dia tak ada lagi,” ujar Antonia.
- Sejarah Panjang Kopi Lanang
NGOPI di kafe itu biasa. Tapi menikmati secangkir kopi di tengah perkebunan yang sejuk berbalut pemandangan indah tentu jauh lebih nikmat. Apalagi jika di tempat itu tersedia kopi lanang yang memiliki rasa lebih lembut, tekstur padat, dan aroma harum. Jika Anda ingin mencobanya, datanglah ke Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana ada Wisata Kuliner Kopi Lanang, destinasi yang menggabungkan konsep wisata alam sekaligus edukasi, yang berada di tengah perkebunan Malangsari. Anda bisa menikmati kopi premium kualitas ekspor. Selain itu sajian kuliner yang diolah dengan aroma kopi lanang. Dari wedang ronde hingga es degan. Dari watu lempit hingga getuk gulung rasa. Gagasan Wisata Kuliner Kopi Lanang yang berlokasi di Dusun Ledoksari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru ini muncul setelah acara ekspor perdana kopi robusta Malangsari ke sejumlah negara. Seperti diketahui, perkebunan Malangsari adalah salah satu sentra penghasil kopi robusta terbaik di Nusantara. Produknya sudah diekspor ke Italia, Jepang, Inggris, hingga Swiss. “Pada kesempatan yang sama, wisata ini menawarkan edukasi petik hingga penyajian kopi bersama para pakar. Sehingga wisata ini menjadi pusat edukasi yang lengkap bagi wisatawan dan para pelajar,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip laman Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, akhir tahun lalu. Anas mengaku senang Wisata Kuliner Kopi Lanang akhirnya bisa dibuka lewat kerjasama dengan Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Pembukaan tempat ini bagian dari upaya bersama untuk mengembalikan citra Banyuwangi sebagai penghasil kopi berkualitas. Kopi Robusta Kopi berakar kuat di Banyuwangi. Banyuwangi kaya kopi. Sejak zaman Belanda kopi sudah dikembangkan di perkebunan-perkebunan kopi milik penjajah Belanda. Biji kopi pertama di Banyuwangi berasal dari Clement de Harris, residen pertama Besuki, pada 1788. Besuki terdiri atas empat afdeeling (kabupaten): Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Dari keempatnya, Banyuwangi mempunyai pegunungan luas bernama Ijen. Cocok untuk pertumbuhan kopi. De Harris pun menanamnya di Sukaraja, utara Banyuwangi –kini masuk wilayah Kecamatan Giri . Masa tanam paksa 1830-1870 mendorong perluasan kebun-kebun kopi di Banyuwangi ke arah selatan. Wilayah itu mencakup Songgon, Wongsorejo, Glagah, Licin, Kalipuro, Pesanggaran, Glenmore, dan Kalibaru (Malangsari). Wilayah ini pun mulai dikenal sebagai penghasil kopi di Jawa selain wilayah Priangan di Jawa Barat. Menurut Upik Wira Marlin Djalins dalam “Subject, Lawmaking and Land Rights: Agrarian Regime and State Formation in Late-Colonial Netherlands East Indies”, disertasi di Universitas Cornell tahun 2012, di bawah pengawasan kepala desa, kebun-kebun kopi ditanam dan dirawat penduduk setempat dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi Belanda. Kopi Banyuwangi bahkan terkenal di Belanda dan sangat dicari. “Kemasyhuran kopi Banyuwangi menarik perhatian para pengusaha yang bercita-cita tinggi dan tersebar di wilayah Jawa Timur,” tulis Upik. Sejumlah pengusaha mencoba peruntungan dengan membuka perkebunan kopi. Terlebih setelah penghapusan Sistem Tanam Paksa yang memungkinkan budidaya kopi dikelola swasta. Pada 1959 dan 1960, perusahaan perkebunan milik Belanda dinasionalisasi. Mereka dimasukkan dalam satu wadah dan kini menjadi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Mulanya banyak perkebunan menanam varietas kopi arabica. Namun berjangkitnya penyakit tanaman kopi menyebabkan penurunan produksi kopi secara drastis. Maka, diperkenalkanlah varietas kopi robusta di Jawa yang lebih tahan penyakit dan produktivitasnya tinggi. Hasilnya, pertumbuhan kopi robusta melampaui produksi kopi Arabica. “Introduksi kopi robusta ini ternyata telah menjadi titik awal dari perubahan sejarah industri kopi di Indonesia. Penanaman dan pengembangan kopi jenis ini bukan saja telah mengubah negeri kita dari produsen kopi arabika menjadi produsen kopi robusta, tetapi lebih penting lagi jenis kopi ini telah menyelamatkan kelangsungan negeri ini sebagai salah satu penghasil kopi dunia,” tulis Latifatul Izzah dalam Dataran Tinggi Ijen: Potongan Tanah Surga untuk Java Coffee. Kopi robusta merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Malangsari. Malangsari menempati lahan seluas 2.665,92 hektar yang mencakup delapan wilayah: Besaran, Watulempit, Mulyosari, Kampung Tengah, Tretes, Gunungsari, Pacurejo, dan Ledoksari. Kopi robusta kerap dibilang kopi kelas dua. “Lebih pahit dan sedikit asam daripada jenis Arabica. Kadar kafeinnya juga lebih banyak,” ujar Jaenal Arifin, alumnus program studi sejarah Universitas Jember, yang pernah meneliti tentang perkebunan kopi Malangsari. Namun siapa sangka dari kopi robusta muncul kopi bernilai tinggi yang dikenal dengan sebutan kopi lanang . Mendongrak Gairah Perluasan kebun kopi mempengaruhi perilaku orang-orang di Banyuwangi. Mereka bukan saja mengenal budidaya kopi, tapi juga bagaimana menghayati kopi dengan caranya sendiri. Kopi merekatkan mereka. “Sekali seduh, kita bersaudara,” demikian slogan mereka turun-temurun. Tapi produksi dan budaya kopi di Banyuwangi belum cukup untuk mendongkrak citra kopi Banyuwangi. Padahal sejak lama Banyuwangi merupakan salah satu sentra produksi kopi di Jawa. Rasa kopi Banyuwangi juga cukup khas. Misalnya saja kopi lanang Malangsari. Kopi ini disebut lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dari kopi lainnya. Bentuknya tunggal dan bulat, sedangkan biji kopi lainnya terbelah dan berbiji dua (dikotil). Bentuk kopi lanang juga lebih kecil. Lanang berasal dari bahasa Jawa, artinya lelaki. Di pasar internasional ia biasa disebut peaberry coffee . Kopi lanang terbaik muncul dari pohon kopi robusta berumur 10 tahun ke atas. Pohon itu harus tumbuh di tanah yang gembur, subur, mengandung banyak humus, berjenis andosol atau latosol, dan bertekstur baik. Genealogi pohon kopi tersebut berasal dari kebun percobaan di Kaliwining pada 1930-an. Anakannya tahan terhadap parasit Pratylenchus coffee dan Radopholus similis serta kekeringan. Ketinggian tempat ikut berpengaruh terhadap kualitas robusta. Pegunungan Meru Betiri mempunyai ketinggian 450-700 meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi menghadap ke timur sehingga memperoleh sinar matahari pagi yang lebih dari cukup. Selain itu, perkebunan kopi memperoleh angin laut dari selatan. Kondisi ideal untuk robusta. Menurut tuturan orang tempatan, kopi lanang diperoleh secara tidak sengaja. Para pekerja semula mengira kopi lanang sebagai kopi gagal. Bentuknya berbeda dari kebanyakan kopi. Tapi setelah dikumpulkan, jumlahnya 2-5 persen dari total panen. Sayang kalau dibuang. “Kopi gagal” itu pun diolah. Rasanya ternyata lebih nendang daripada sebagian besar kopi panenan. Sejak itu penelitian tentang kopi lanang muncul. Setelah diadakan penelitian oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, kopi itu justru jadi komoditas unggulan Perkebunan Malangsari. Kandungan kafein kopi lanang lebih tinggi 2,1 persen dibandingkan kopi lain. Rasanya mirip kopi luwak dengan aroma kuat dan agak asam. Mitosnya, kopi lanang mampu meningkatkan stamina dan gairah seksual lelaki. Biji kopi lanang mengandung senyawa tribulus terrestris untuk meningkatkan testoteron dan dehidroepiandrosteron (DHEA), sejenis steroid alami yang ada dalam tubuh orang. Tapi ini bukan berarti kopi lanang hanya cocok dikonsumsi lelaki. Perempuan pun bisa mengonsumsinya untuk menambah stamina bekerja. Untuk memperoleh kopi lanang perlu penyortiran dari hasil panen kopi robusta yang berbiji bulat dan tunggal. “Karena kelangkaan dan kerumitan pengolahannya itulah yang membuat kopi lanang lumayan mahal harganya,” ujar Jaenal Arifin. Pengembangan Kopi Lanang Belakangan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan PTPN XII bertekad mengangkat citra kopi lanang dengan berbagai program. Antara lain ekspor kopi lanang ke Italia dan pembukaan wisata kuliner kopi lanang. Kopi lanang dianggap bisa bersaing dengan kopi dari daerah lain. Harganya Rp150-160 ribu per kilogramnya. Lebih mahal daripada kopi robusta biasa. Sebab, untuk memperolehnya, butuh usaha lebih. Puluhan ribu biji kopi disortir tiap kali panen. Hasilnya 2-5 persen saja yang dipilih sebagai kopi lanang. Dari 2.100 ton kopi, hanya 110 ton yang termasuk kopi lanang. Sisanya dijual sebagai robusta. Kebanyakan pekerja penyortiran adalah perempuan dengan menggunakan tempeh, ayakan bulat dari bambu. Para pengunjung wisata kuliner kopi lanang dapat melihat langsung penyortiran itu. Kalau Anda belum tergoda dengan destinasi wisata di Malangsari, cobalah menjajal rasa kopi lanang dan membuktikan sendiri mitosnya.
- Legenda Kota Suci Demak
Konon, para wali mendirikan Masjid Agung Demak hanya dalam satu malam. Empat tiang utama, soko guru, ditegakkan untuk menyokong atapnya. Yang tiga terbuat dari balok kayu utuh. Satu lagi adalah tiang yang disusun Sunan Kalijaga dengan potongan-potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali lainnya. Malam itu sang wali datang terlambat. Karenanya ia pun tak dapat membuat tiang dengan kayu yang utuh. Di masjid itu pula Sunan Kalijaga memperoleh baju wasiat “Antakusuma”. Kabarnya, secara ajaib baju “Antakusma” jatuh dari langit di dalam masjid ketika para wali sedang bermusyarawah. Baju “Antakusuma” kemudian menjadi salah satu pusaka raja-raja Jawa. Panembahan Senopati, raja Mataram pertama, mendapatkan baju itu dari ahli waris Sunan Kalijaga, seorang pandita di Kadilangu. Berkat baju gaib itu, Senopati bisa mengalahkan Pangeran Madiun. Baju Antakusuma membuatnya kebal. Kisah ini seolah mengatakan wahyu raja-raja Mataram dan Jawa Tengah lahir di Masjid Agung Demak. Mukjizat lain terjadi pada Ki Ageng Selo yang dimuliakan sebagai moyang keluarga raja Mataram. Suatu hari ketika berada di ladang, ia menangkap petir lalu membawanya ke Masjid Agung Demak atau kepada Sultan Demak. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada Lawang Bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Lawang bledheg sekaligus menjadi sengkalan memet (kronogram) yang dibaca “ naga mulat salira wani ” atau menunjukkan tahun 1388 Saka (1466). Konon, pada tahun itulah Masjid Agung Demak didirikan. Menurut sejarawan Belanda, H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa, legenda dan cerita-cerita tradisi tadi mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak di alam pikiran orang Jawa Islam. Khususnya pada abad ke-17 sampai ke-19. De Graaf dan Pigeaud menyebut bahwa Masjid Agung Demak adalah pusat kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah. Bahkan, hingga abad ke-19 Masjid Agung Demak menjadi pusat bagi muslim kuno di kawasan itu. Kalau menurut Babad Jaka Tingkir Masjid Agung Demak adalah pusat dari seluruh pusaka para raja Jawa. “Mungkin sekali raja-raja Demak menganggap Masjid Demak sebagai simbol kerajaan Islam mereka. Masjid Demak pada abad-abad berikutnya menjadi penting sekali dalam dunia Jawa,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kekuasaan Imam Masjid Masjid Agung Demak berdiri saat perkembangan Islam di Jawa mencapai puncak pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Ditandai dengan munculnya Kerajaan Islam Demak. Kemunculan Kerajaan Demak bersamaan dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Lalu muncul kekuatan-kekuatan baru di daerah pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang secara bertahap menggantikan kedudukan Kerajaan Hindu kuno itu. “Kekuatan baru ini adalah Kerajaan Demak,” tulis arkeolog Hasan Djafar dalam Girindrawarddhana dan Beberapa Masalah Majapahit Akhir . Babad Tanah Jawi mengisahkan pendirian kerajaan itu dimulai dari hutan bernama Bintara. Sunan Ampel Denta (Surabaya), tempat Raden Patah dan saudaranya, Raden Husen berguru, adalah tokoh yang memberi petunjuk pembukaan hutan itu. Di situlah Raden Patah bertempat tinggal. Tak lama setelahnya banyak orang datang ikut membangun rumah di sana, membabat hutan, dan mendirikan masjid. Pembangunan Masjid Agung Demak dan munculnya jamaah di sana, merupakan permulaan pengislaman Pulau Jawa. Masjid pun menjadi salah satu pusat keislaman. Kedudukan ulama atau para wali pun menjadi lebih besar. Menurut guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII , itu terdorong oleh kebutuhan para penguasa yang baru masuk Islam untuk menerjemahkan beberapa doktrin syariat ke dalam organisasi sosiopolitik dalam kerajaan. Begitu pula di Kerajaan Demak, para imam masjid kemudian mendapatkan kekuasaan lebih. Itu berawal dengan jalan memimpin salat wajib lima waktu. “Kekuasaan rohani para imam masjid ini sudah sejak zaman awal penyebaran agama Islam meluas meliputi bidang kehidupan masyarakat,” jelas De Graaf dan Pigeaud. Cerita tentang lima imam Masjid Agung Demak termuat dalam Hikayat Hasanuddin yang berisi sejarah singkat raja Banten. Kelima imam itu menjabat selama pemerintahan tiga atau empat raja Kerajaan Demak. Mereka adalah Pangeran Bonang (1490–1506/1512), Makdum Sampang (1506/1512–1515), Kiai Pambayun (1515–1521), Penghulu Rahmatullah (1521–1524) yang dilantik oleh Adipati Sabrang Lor, dan Sunan Kudus (1524–?) yang dinobatkan oleh Syekh Nurullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati. Imam keempat yang pertama diberi sebutan penghulu. Menurut De Graaf dan Pigeaud, itu mungkin dapat dihubungkan dengan pergantian fungsi. Dengan gelar itu, raja mungkin hendak menambahkan tanggung jawab lain. Di Jawa para imam masjid hampir selalu disebut penghulu. Kata ini di tanah Melayu berarti “kepala” tanpa arti khusus di bidang rohani. Ini menunjukkan sejak masa awal perkembangan Islam di Jawa, jabatan pemangku hukum syariat dan imam masjid berhubungan erat. “Gelar penghulu yang sudah dipakai oleh imam-imam di Demak mungkin suatu bukti betapa besarnya kekuasaan yang mereka peroleh, juga di bidang hukum,” jelas De Graaf dan Pigeaud. De Graaf dan Pigeaud menyimpulkan, kedudukan imam amat bergantung pada raja-raja Demak, pelindung mereka. Mungkin waktu kekuasaan duniawi mereka atas jamaah di sekitar masjid makin bertambah besar, mereka bersikap agak lebih bebas. “Yang disebut paling akhir dari daftar imam itu, menurut cerita tradisi Jawa, memegang peranan penting dalam merebut kota Kerajaan Majapahit,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kendati begitu keberadaan para imam tak disebutkan dalam catatan pelaut Portugis, Tomé Pires dan catatan Belanda pada masa kemudian. “Cerita tradisi membuktikan bahwa pada zaman itu masjid beserta para pengurusnya sangat terpandang,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kesetiaan Kepada Para Wali Legenda dan cerita tradisi banyak menghubungkan Masjid Agung Demak dengan Wali Songo . Ada Pangeran Kudus dan dua sanak keluarganya yang lebih tua, Sunan Ngampel Denta dan Sunan Bonang. De Graaf dan Pigeaud menyebut legenda-legenda itu memang tercipta untuk menghormati orang-orang suci itu. Terutama Sunan Kalijaga sebagai wali dan pelindung generasi penguasa Jawa Tengah. Menurut De Graaf dan Pigeaud dalam Islamic States in Java 1500–1700 orang Jawa yang saleh pada abad ke-17 dan masa kemudian, percaya kalau Islam disebarkan di Jawa oleh Wali Songo yang berpusat di masjid suci Demak. Karenanya tak heran, kesetiaan yang berurat terhadap para wali itu membuat Masjid Demak tetap merupakan pusat kehidupan agama di Jawa Tengah. Meskipun kekuasaan raja-raja Demak jatuh pada paruh kedua abad ke-16. Saking pentingnya, ada anggapan kalau mengunjungi Kota Demak dan makam orang-orang suci di sana dapat disamakan dengan naik haji ke Makkah. Di banyak daerah di tanah Jawa rasa hormat muslim pada Masjid Demak masih bertahan sampai abad ke-19. Kota Demak dipandang sebagai tanah suci. “Itulah yang terutama menyebabkan nama Demak dalam sejarah Jawa tetap tidak terlupakan di samping nama Majapahit,” tulis De Graaf dan Pigeaud.
- Mengembara Mencari Ilmu
Pada masa awal penyebarannya di Nusantara, agama Islam diajarkan secara informal. Anak-anak dan orang dewasa belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an dari orang-orang kampung yang telah lebih dulu menguasainya. Sejarawan Martin van Bruinessen menjelaskan bahkan sebelum abad ke-20 di Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok belum ada lembaga semacam pesantren. Jadi, kalau ada seorang haji atau pedagang Arab mampir ke suatu desa di pulau-pulau itu, ia akan diminta singgah beberapa hari. Kemudian ia akan mengajarkan kitab agama di masjid seusai salat. “Ulama setempat di beberapa daerah juga memberikan pengajian umum kepada masyarakat di masjid,” tulis Martin dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat . Murid-murid yang sangat berminat akan mendatangi ulama itu di rumahnya dan bahkan tinggal di sana untuk belajar agama. Sementara murid-murid yang ingin belajar lebih lanjut, biasanya pergi mondok ke Jawa. Bahkan, jika memungkinkan mereka akan langsung belajar ke Makkah. “Itulah juga kiranya situasi yang ada di Jawa dan Sumatra selama abad-abad pertama penyebaran Islam,” jelasnya. Datang Berguru Martin menduga pesantren belum ada sebelum abad ke-18. Penyiaran agama Islam di Jawa awalnya dilakukan lewat paguron atau padepokan . “ Serat Centhini yang kadang membicarakan perguruan, tidak menyebutnya pesantren melainkan paguron atau padepokan ,” tulis Martin. Dikisahkan sebuah perguruan terkenal di Banten bernama Karang. Letaknya mungkin di sekitar Gunung Karang, sebelah barat Pandeglang. Seorang pertapa, Danadarma, belajar di Karang selama tiga tahun di bawah bimbingan Seh Kadir Jalena. “Mungkin maksudnya ia belajar ilmu yang dikaitkan dengan sufi besar Abd Al-Qadir Al-Jailani,” jelas Martin. Tokoh lain, Jayengresmi atau Among Raga juga belajar di Karang. Ia dibimbing seorang guru Arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang lebih dikenal dengan Ki Ageng Karang. Dari Karang, Jayengresmi pergi ke paguron besar lainnya di sebuah desa di Jawa Timur. Perguruan itu dipimpin oleh Ki Baji Panutra. Sang guru dikisahkan menguasai kitab-kitab ortodoks dengan sangat mendalam. Namun, Jayengresmi menurut Serat Centhini hidup sezaman dengan Sultan Agung Mataram, yaitu paruh pertama abad ke-17. Sedangkan serat ini baru disusun pada awal abad ke-19. Serat Centhini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura dan Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. “Gegabahlah menganggap bahwa keterangannya benar untuk masa jauh sebelum Serat Centhini disusun,” jelas Martin. Soal keberadaan kegiatan keagamaandi Karangitu, kata Martin, dibahas pula dalam primbon Jawa dari Kabupaten Banyumas. Namun yang disebutkan hanya keberadaan guru di Karang. Dikisahkan Seh Bari Karang (Seh Bari ing Kawis) yang konon telah menyebarkan ajaran para wali Jawa. “Naskah dari Banyumas itu tidak menyinggung sebuah perguruan. Hanya menyebutkan sang syaikh,” kata Martin. Alih-alih perguruan, baik di Karang maupun di tempat lain, sumber Sajarah Banten yang disusun pada abad ke-17 justru menyebut adanya tempat yang banyak didatangi orang untuk bertapa. Satu-satunya pengajaran agama yang disebutkan di kitab ini adalah pendidikan pribadi putra mahkota di tangan Kiai Dukuh dan qadhi kesultanan. “Jadi pada abad ke-16 dan ke-17 yang ada adalah guru yang mengajarkan agama Islam di masjid atau istana dan ahli tasawuf yang berpusat di tempat pertapaan atau di dekat makam keramat,” jelas Martin. Dai Kelana Selain murid yang mencari guru, dai kelana juga memainkan peran dalam mengislamkan dan mengajar penduduk. Menurut Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII , mereka kebanyakan adalah orang sufi. Kedatangan para dai di Sulawesi jauh lebih akhir dibandingkan dengan bagian barat Nusantara. Guru keliling dari Aceh, Minangkabau, Kalimantan Selatan, Jawa, Semenanjung Melayu, dan Timur Tengah, datang ke Sulawesi pada awal abad ke-17. “Mereka mengislamkan sejumlah besar penduduk Sul a wesi, mencapai keberhasilan jauh lebih besar setelah para penguasa setempat memeluk Islam,” tulis Azyumardi. Salah satunya adalah Yusuf al-Makassari. Ia memperoleh pendidikan dari para dai kelana. Pada waktu itu, Islam sudah mengakar kuat di Sulawesi Selatan. Mulanya, Yusufbelajar membaca Al-Qur’an dengan guru Daeng ri Tasammang. Ia lalu belajar bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tasawuf dengan Sayid Ba‘Alwi bin ‘Abd Allah al-‘Allamah al-Thahir, seorang dai Arab yang tinggal di Bontoala, wilayah di Makassar. Ketika umur 15 tahun, Yusuf melanjutkan pelajarannya di Cikoang, sebuah desa di Sulawesi Selatan. Ia belajar kepada Jalal al-Din al-Aydid, seorang guru keliling. “Guru keliling yang diriwayatkan datang dari Aceh ke Kutai, Kalimantan, sebelum akhirnya menetap di Cikoang,” kata Azyumardi. Seusai belajar dari para guru itu, Yusufkemudian menuntut ilmu ke Timur Tengah. Ia berguru pada banyak ulama terkemuka di berbagai negara. Transmisi keilmuan tak berhenti sampai di sana. Banyak murid yang berkeliling mencari ilmu nantinya akan menjadi pengajar. Menurut Azyumardi, sumber-sumber Gowa menyebut Yusuf di Makkah telah mulai mengajar. Ia kemudian membawa ilmunya ke Nusantara hingga ikut membesarkan keislaman di Kesultanan Banten. “Ketika al-Makassari kembali dengan membawa keunggulan keilmuan, Sultan Ageng Tirtayasa dengan segala cara termasuk lewat tali perkawinan, berusaha menahannya di Banten,” jelas Azyumardi. Abdurrauf as-Singkili kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di Aceh. Namun, sebelumnya ia meninggalkan Sumatra sekira 1642 dan mengembara mencari ilmu di banyak tempat di Timur Tengah. Hal itu membuatnya tak pulang selama 20 tahun. Menurut Carool Kersten, dosen senior Studi Islam dan Dunia Islam di King’s College London, dalam Mengislamkan Indonesia, Sejarah Peradaban Islam di Nusantara , ulama ini kemudian membangun reputasinya sebagai penyambung jejaring ulama yang memperoleh ilmu agama yang luas dan mendalam. Itu lewat puluhan tahun perjalanan dan pembelajaran di pusat-pusat pendidikan Islam di seluruh dunia. “Asia Tenggara maritim sudah terintegrasi ke dalam jejaring intelektual dunia Islam yang lebih luas,” kata Kersten. Utamanya Aceh, pada awal abad ke-17 adalah pos terdepan di zona Samudera Hindia. Ia telah mendapat reputasi sebagai pusat pendidikan Islam dan tempat berkumpulnya para ulama. Bukan hanya dari tempat di sebelah timur namun juga dari barat. Model transmisi keilmuan itu masih berlanjut hingga abad-abad berikutnya. Ini nantinya merangsang kemunculan sistem lembaga pendidikan Islam awal di Nusantara. Sementara itu, menurut Azyumardi Azra dalam Surau Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modern, sistem pengajaran agama di Sumatra Barat berkembang dari Surau. Salah satu yang terkenal berada di Batuhampar, Payakumbuh, Sumatra Barat. Awalnya didirikan oleh kakek Mohammad Hatta, Syaikh Abdurrahman (1777–1899) setelah 48 tahun berkelana menuntut ilmu kepada berbagai ulama terkemuka di Sumatra. Di sana, ia mengajarkan membaca Al-Qur’an. Banyak murid mendatanginya karena telah dikenal sebagai qari terkemuka. Murid-muridnya berdatangan dari dalam maupun luar Minangkabau, seperti Jambi, Palembang, dan Bangka. Banyaknya murid memunculkan gagasan untuk membangun kompleks pendidikan Islam dengan fasilitas memadai. Kersten menyimpulkan bahwa kontak antarulama yang ikut serta dalam jejaring yang melintasi Samud e ra Hindia menimbulkan interaksi antarulama yang makin intens. Ini pun merangsang pertukaran ilmu Islam. Pertukaran itu ikut mengembangkan budaya menulis muslim baru di Asia Tenggara menggunakan bahasa lokal. Lalu merangsang cara baru melegitimasi kekuasaan politik dan patronase kerajaan untuk pendidikan agama. Jejaring ulama itu kemudian ikut memunculkan pula sistem pendidikan Islam, seperti pesantren. Azyumardi berpendapat, berkembangnya pendidikan Islam juga terdorong oleh keyakinan bahwa pendidikan atau pengajaran merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Banyak ayat Al-Qur’an, termasuk ayat pertama, menjelaskan kewajiban muslim menuntut pendidikan dan pengajaran di mana pun dan kapan pun. “Karenanya dalam sejarah kaum muslim tradisi pengajaran selalu menempati posisi sangat penting,” katanya .
- Sang Jenderal Jadi Tukang Nasi
SEJAK tahun 1960, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie kerap wara-wiri Bandung-Bogor-Jakarta. Statusnya sebagai panglima Komando Daerah Militer VI Siliwangi (Kodam VI Siliwangi) mengharuskan dirinya kapan pun siap dipanggil oleh Presiden Sukarno. “Ada saja perintah untuk datang jika kebetulan Bung Karno sedang ada di Riung Gunung Puncak atau Istana Bogor bahkan tak jarang juga dipanggil langsung ke Jakarta,” ungkap Kiki Adjie, salah satu putra dari Ibrahim Adjie. Menurut Kikie, di tengah perjalanan itulah Ibrahim kadang minta berhenti di sebuah kawasan yang sangat strategis dan pemandangannya indah. Dia akan turun di sana sekadar untuk menikmati suasana. “Kadang lama juga ayah saya diam di situ,” ujar Kikie. Rupanya kebiasaan berhenti di kawasan Puncak itu diam-diam memunculkan ide bisnis di benak sang jenderal. Belasan tahun kemudian, saat sudah pensiun sebagai tentara, dia mendirikan Rindu Alam, restoran legendaris yang mulai beroperasi sejak 1979. Sejak kemunculannya, Rindu Alam langsung diminati banyak orang. Begitu ramai-nya, hingga tak jarang Ibrahim pun turun langsung melayani para pengunjung. Kikie masih ingat, ayahnya tak segan berpakaian layaknya pramusaji ketika ikut melayani para pelanggan. “ Enggak apa-apa. Ayeuna mah jenderal-na oge jadi tukang sangu euy (Sekarang jenderal-nya juga sudah jadi tukang nasi),” katanya suatu hari saat beberapa pegawainya risih dan secara sopan mengingatkan Ibrahim bahwa dia adalah eks Panglima Kodam Siliwangi. Ada suatu kejadian lucu. Suatu hari, seorang perwira menengah dari Kodam Siliwangi datang bersama keluarganya mengunjungi Rindu Alam. Mereka memesan banyak makanan yang tentunya harus melibatkan lebih dari dua orang untuk menyajikannya. “Dengan memakai celemek, ayah saya pun memutuskan untuk langsung turun tangan dengan ikut membawa beberapa hidangan,” kenang Kikie. Begitu tahu yang menghidangkan makanan untuk dia dan keluarganya adalah seorang eks Panglima Kodam Siliwangi, sang perwira pun dengan sigap langsung berdiri tegap seraya memberikan hormat secara militer. Ibrahim hanya tertawa dan menyuruh sang perwira kembali duduk. “Tidak usah begitu. Sekarang kamu jadi raja buat saya, jadi kamu duduk saja yang enak,” ujar Ibrahim. Ibrahim memang termasuk santai dalam menghadapi para bawahannya. Dia lebih banyak berlaku layaknya seorang bapak dibandingkan seorang komandan tentara. Tak aneh jika di kalangan anak buahnya, nama Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie begitu populis. Begitu dekatnya, hingga Adjie tak segan-segan turun langsung ke palagan sekalipun. “Waktu Operasi Pagar Betis pada awal 1960-an, ayah saya tak jarang menyertai langsung para prajurit yang tengah menghadapi gerilyawan Darul Islam pimpinan Kartosoewirjo di hutan-hutan Jawa Barat,” ujar Kiki Adjie. Kendati seorang panglima, Ibrahim tak pernah berlaku sok berwibawa. Alih-alih jaim , ia justru sangat berbaur dan berusaha “tak berjarak” dengan para prajuritnya. Adjie sadar, para prajurit adalah garda terdepan saat menghadapi musuh-musuh negara. Karena itu apresiasi dan penghargaan seorang komandan mutlak harus dijalankan kepada mereka. Ada lagi sebuah kisah yang mencerminkan kedekatan Adjie dengan para anak buahnya. Ceritanya, pada 1962, Adjie mengundang semua atase militer asing di Jakarta untuk melihat Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pembuktian kepada perwakilan negara-negara di dunia bahwa wilayah Jawa Barat sudah aman dari gangguan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Rute perjalanan rombongan panglima dan para atase militer asing itu dimulai dari Bandung lalu sampai ke Pangandaran. Jalan yang masih jelek berbatu menjadikan hampir sebagian besar anggota rombongan kelelahan. Mengetahui itu, begitu sampai di Kalipucang, Ibrahim memerintahkan rombongan untuk beristirahat sejenak. Nasi berbungkus daun pisang lantas dibagikan kepada pengawal dan anggota rombongan termasuk panglima Divisi Siliwangi yang juga mendapat sebungkus. Acara makan dilakukan secara bersama-sama. Tak ada batas antara perwira, bintara dan tamtama, semuanya menyatu. Saat acara makan baru dimulai, Ibrahim menengok bungkus nasi salah seorang prajurit pengawal yang sedang asyik menyantap jatah nasi bungkusnya. “ Geuningan sangu maneh mah euweuh dagingan (Kok nasi bungkus milik kamu tidak ada dagingnya?)," kata panglima. Menyaksikan hal tersebut, Adjie kemudian menyodorkan jatah nasi bungkusnya kepada prajurit itu: “Ini saja makan sama kamu,” katanya. Ditawari secara tiba-tiba oleh panglimanya, prajurit itu sigap berdiri menerima nasi bungkus sambil berseru: “Siappp!” lalu ia terbatuk-batuk dan mulutnya menghamburkan nasi yang sedang dikunyah. “ Euh, maneh mah (Halah, kamu ini),” kata Adjie sambil menyodorkan air minum. Ajudan panglima yang bernama Kapten Ramdhani menjadi jengkel. Setengah memaki, dia berkata kepada prajurit itu: “ Maneh mah, ari samutut tong ngajawab! (Kamu ini, kalau mulut lagi penuh makanan ya jangan jawab!). Semua anggota rombongan kontan tertawa menyaksikan kejadian itu.
- Menemukan Wong Osing
PEMANDANGAN tak biasa akan Anda jumpai ketika mendarat di Bandar Udara Internasional Banyuwangi. Tak seperti bandara lainnya di Indonesia, terminal di bandara Banyuwangi mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan –yang pertama di Indonesia. Terminal bandara mengedepankan konsep rumah tropis dengan penghawaan dan pencahayaan alami. Semilir angin dan sinar matahari masuk lewat kisi-kisinya yang terbuat dari kayu ulin bekas. Desain interior yang minim sekat juga memperlancar sirkulasi. Selain itu, kolam-kolam ikan di setiap sudut terminal membuat suasana lebih nyaman dan sejuk. Sementara di atap gedung terminal terhampar rerumputan hijau nan luas. Ventilasinya dihiasi tanaman menjuntai. Menariknya lagi, ia mengadopsi konsep atap rumah Osing atau ada yang menuliskannya Using, suku asli Banyuwangi. Terdapat dua atap dengan arah berlawanan, yang menandakan keberangkatan dan kedatangan. Lalu terdapat pula killing , kincir angin khas Osing, di depan bandara. Banyuwangi memang membuat banyak perubahan. Citranya kian mentereng. Jika dulu hanya dikenal sebagai kota singgah sebelum bertolak ke Bali, kini menjadi kota incaran para pelancong. Salah satunya karena puluhan festival yang menghadirkan ragam budaya, seni, dan tradisi di Banyuwangi yang multikultural. Banyuwangi sejak masa lalu memang dihuni beragam etnis. Sebagaimana daerah pesisir, Banyuwangi mendapat pengaruh kebudayaan dari para pendatang yang kemudian menetap di sini. Namun Suku Osing, yang diyakini sebagai pewaris kultural Blambangan masa lalu, merupakan aktor penting dalam membentuk identitas Banyuwangi masa kini. “Peneguhan identitas Osing tak bisa tak dipengaruhi oleh politik kebudayaan Orde Baru awal 1970-an, berkaitan dengan revitalisasi tradisi dan kebudayaan lokal,” ujar Wiwin Indiarti, pengajar PGRI Banyuwangi, kepada Historia . Identitas yang Samar Suku Osing menempati beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan utara. Terutama di Kecamatan Banyuwangi, Rogojampi, Sempu, Glagah Singojuruh, Giri, Kalipuro, dan Songgon. Ia memiliki bahasa sendiri, yakni bahasa Osing. Namun, sebelum abad ke-20, Osing adalah identitas yang samar. Bahkan Osing sebagai identitas etnis tak pernah dipakai untuk menyebut masyarakat “asli” di wilayah ujung timur Jawa ini. Dalam manuskripnya yang terbit tahun 1849, Franz Epp, dokter berkebangsaan Jerman yang pernah bertugas di Banyuwangi, menyebut penduduk asli sebagai “orang Jawa” dan sebutan lainnya, yakni Blambangers (orang Blambangan). Begitu pula dalam hal bahasa. Hal itu dicatat Tjandranagara, seorang bangsawan yang juga penulis kisah perjalanan, yang mengunjungi daerah Banyuwangi pada 1860-an. Dia menulis bahwa penduduk setempat berbahasa Jawa walaupun dengan cara desa. Sementara lebih dari tiga dekade kemudian, ahli bahasa HN van der Tuuk memasukkan kekhasan bahasa itu yang disebutnya sebagai “dialek Banyuwangi” serta “Balambangansch Javaansch”. Istilah Osing untuk menyebut bahasa di Banyuwangi dan penuturnya kali pertama muncul dalam tulisan C. Lekkerkerker berjudul “Balambangan” yang terbit di De Indische Gids tahun 1923. Dia memberi deskripsi mengenai mereka yang disebut “orang Using” ( Oesingers ). Lekkerkerker juga mencatat bahwa “kepribadian, bahasa, dan adat orang Using berbeda dari orang Jawa lainnya”. Kendat demikian, “Pada zaman itu, kelompok ini dianggap –dan kemungkinan besar menganggap dirinya– orang Jawa,” tulis Bernard Arps dalam “Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di Dalamnya (Selayang Pandang, 1970-2009)” pada buku Geliat Bahasa Selaras Zaman . “Sampai kira-kira tahun 1970 mereka masih lazim digolongkan sebagai orang Jawa, dan sekarang pun kategorisasi ini masih terdengar, terutama di lingkungan pedesaan.” Istilah Osing untuk penduduk “asli” Banyuwangi dibuat oleh para imigran dari Jawa Tengah, Madura, Bali, Bugis dan Mandar. Mereka didatangkan Belanda untuk bekerja di perkebunan-perkebunan. Kata “osing” sendiri dalam bahasa Osing berarti “tidak”; merujuk pada keengganan mereka dikaitkan dengan orang Jawa atau Bali. Orang-orang Banyuwangi sendiri saat itu lebih suka disebut Wong Wetanan (orang timur) sementara para pendatang disebut Wong Kulonan (orang barat) –sebutan yang masih dipakai hingga kini. “Hal ini mengindikasikan bahwa istilah Osing pada mulanya merupakan cemoohan atau olok-olok, sebentuk diskriminasi terhadap kelompok lain yang dikonstruksi sebagai liyan (bukan bagian dari kelompok),” tulis Wiwin Indiarti dalam “Wong Osing: Jejak Mula Identitas dalam Sengkarut Makna dan Kuasa” di laman Matatimoer Institute. Pada 1970-an, seiring kebijakan politik budaya Orde Baru untuk merevitalisasi tradisi sebagai counter terhadap westernisasi budaya dan kampanye antikomunis, ada upaya menemukan identitas lokal di Banyuwangi. Pencarian dimulai dari aspek bahasa. Dimulai dari penerbitan buku Selayang Pandang Blambangan tahun 1976. “Pada era itu aktor-aktornya adalah seniman atau budayawan yang notabene pegawai pemerintah,” ujar Wiwin Indiarti. Salah satu yang memainkan peranan kunci adalah Hasan Ali, yang kala itu menjabat kepala bagian Kesra Kabupaten Banyuwangi. Dia bertanggungjawab atas bab bahasa dalam buku Selayang Pandang Blambangan , yang meneguhkan bahasa Osing sebagai bahasa tersendiri dan bukan bagian dari dialek bahasa Jawa. Argumentasi Hasan Ali diperkuat disertasi Suparman Herusantoso di Universitas Indonesia tahun 1987 berjudul Bahasa Using di Banyuwangi . Disertasi itu menyimpulkan, berdasarkan perbandingan kosakata, bahasa Osing dan Jawa sejajar secara genealogis bahasa. Keduanya merupakan perkembangan dari bahasa Jawa Kuno. Artinya, bahasa Osing memiliki status sama dengan bahasa Jawa. Keberadaan bahasa Osing diteguhkan dengan terbitnya Tata Bahasa Baku Bahasa Using (1997) dan Kamus Bahasa Using (2002). Lalu, mendapat legitimasi dengan terbitnya Perda Kabupaten Banyuwangi No. 5 tahun 2007 mengenai pembelajaran bahasa daerah pada jenjang pendidikan dasar yang “mengakomodasi bahasa Osing sebagai bahasa utama”. “Perubahan ini adalah hasil sebuah proses politik yang mengambil waktu beberapa dasawarsa. Bagi orang dan lembaga yang memprakarsai dan memotorinya, proses ini boleh disebut sebuah perjuangan,” tulis Bernard Arp dalam “Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di Dalamnya” pada buku Geliat Bahasa Selaras Zaman . Menguatkan Identitas Selain bahasa, peneguhan identitas Osing menyentuh aspek kultural lainnya. Dari seni, tradisi, ritual, hingga pakaian adat. Hal ini bukan tanpa alasan. Masy a rakat Osing memiliki kekayaan seni budaya dan tradisi. “Mereka benar-benar membe r d a yakan bahasa Using dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali karya seni baik berupa puisi, mantra, macapat, atau lagu yang ditulis dengan menggunakan bahasa Using sehingga menimbulkan kesan tertentu yang sangat kuat. Karya seni ini semakin mempertebal rasa cinta mereka terhadap identitas kedaerahannya,” tulis Arif Izzak dkk dalam Pesona Jawa Timur . Pada 1970-an, banyak seniman Banyuwangi mulai berani menciptakan dan merekam lagu-lagu berbahasa Osing. Sejumlah kesenian tradisional seperti gandrung pun digiatkan dan direvitalisasi. Stigma kiri yang pernah menerpa kesenian Banyuwangi perlahan luntur. Identitas Osing menemukan momentumnya ketika Samsul Hadi, bupati Banyuwangi (2000-2005). mengeluarkan kebijakan Banyuwangi Jenggirat Tangi alias “kebangkitan Banyuwangi”. Dari istilahnya saja ini bernuansa Osing-sentris. Salah satunya diwujudkan dengan penetapan gandrung, kesenian khas Osing, sebagai maskot pariwisata. Maka dimulailah secara masif pembangunan patung gandrung di sudut-sudut kota dan berbagai titik utama di Banyuwangi. Hal itu berlanjut pada era Bupati Abdullah Azwar Anas yang menjadikan kesenian gandrung sebagai proyek komodifikasi budaya dalam bentuk pentas kolosal bertajuk Gandrung Sewu. Anas juga mengubah citra Banyuwangi menjadi daerah destinasi wisata berjuluk The Sunrise of Java . Hal ini didukung oleh pesona bentang alam, seni, dan tradisi lokal di wilayah ini. Keindahan alam dan budaya juga dihadirkan dalam event tahunan Banyuwangi Festival sejak 2012. Pada event itu banyak ritual dan kesenian Osing dihadirkan. Identitas Osing makin kental dengan banyaknya pembangunan, dari bandara hingga pabrik kereta api, yang mengusung arsitektur ala Osing. “Era otonomi daerah pascareformasi adalah semacam perayaan bagi identitas Osing,” ujar Wiwin Indiarti. Tertarik untuk melihat lebih banyak kekhasan seni dan budaya Osing di Banyuwangi? Semoga Anda tak menjawab “tidak”.
- New Normal ala Zaman Jepang
New Normal . Istilah ini lagi populer di mana-mana. Dari belahan bumi Barat sampai ke bumi Timur. New Normal mengacu pada suatu tatanan hidup baru yang penuh protokol kesehatan dari pemerintah seiring perkembangan pandemi Covid-19. Cara orang bersekolah, bekerja, berbelanja, dan berinteraksi tidak akan lagi sama seperti sebelum Maret 2020. Di Indonesia, Hidup Baru kemungkinan mulai berlangsung pada Juni 2020. Pemerintah telah bersiap mengizinkan pembukaan mal, sekolah, kantor pemerintahan, dan sejumlah sektor usaha. Pemerintah berupaya mengkampanyekan Hidup Baru lewat berbagai corong media. Pengelola sekolah, manajemen perusahaan, mal, dan pusat keramaian tengah ikut membantu menjabarkan apa itu Hidup Baru. Istilah ini tampak menjadi sebuah gerakan bersama. Tapi Indonesia bukan kali pertama ini mengalami gerakan Hidup Baru. Mari mundur ke masa pendudukan Jepang. Masa ini memperlihatkan adanya persiapan masyarakat untuk menyongsong hidup baru. Memasuki 1945, posisi Jepang di Indonesia mulai keteteran. Ini berawal dari kekalahan mereka di palagan Pasifik sepanjang 1944. Jepang butuh dukungan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kedudukannya di Asia. Caranya dengan melempar janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Koiso pada September 1944 dan mempropagandakan Gerakan Hidoep Baroe. Gagasan Gerakan Hidoep Baroe muncul dalam dialog antara Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi) dengan sejumlah anggota dewan Chuo Sangi-In pada 20 Februari 1945. Panglima tertingg bertanya bagaimana caranya memenangkan peperangan. Para anggota dewan menjawab peperangan hanya bisa diraih dengan mewujudkan penghidupan baru bagi masyarakat Indonesia, yaitu kemerdekaan. Menurut anggota dewan, kemerdekaan berarti kebebasan dari luar dan dalam. Kebebasan dari luar berarti merdeka dari Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Sedangkan kebebasan dari dalam adalah merdeka dari Jepang. Panglima tertinggi bertanya lagi tentang maksud penghidupan baru. Seorang anggota dewan menjawab bahwa penghidupan baru ialah “bagaimana memperbaiki pemerintah, baik melalui rohani maupun jasmani sehingga sesuai dengan panggilan zaman.” Demikian kutipan Asia Raja , 21 Februari 1945 . Kemudian dialog itu menjadi pembahasan serius dalam sidang ketujuh Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat –semacam DPR masa Jepang) pada 21 Februari 1945. Mr. Soedjono dan R.H. Fathoerachman, anggota dewan, mengusulkan perlunya rakyat belajar menerapkan perilaku baru dan membuang semua sikap lemah pada masa penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia akan memasuki zaman baru. Dan zaman baru harus laras dengan cara pandang dan perilaku baru. “Maka untuk mencapai tujuan di atas insaflah kita, bahwa suatu gerakan pembaruan penghidupan harus dilaksanakan, yang akan memberi dasar baru kepada budi-pekerti dan masyarakat rakyat yang dihidupkan oleh suatu jiwa baru. Dengan semangat yang menyala-nyala kita masukilah Gerakan Hidoep Baroe,” demikian pernyataan Chuuoo Sangi-In dalam Pandji Poestaka, No 5 Tahun Showa 2605 (1945). Gerakan Hidoep Baroe berisi 33 butir pedoman. Antara lain meliputi semangat berkhidmat kepada tanah air dan Asia Timur Raya, bersifat ksatria, beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berdisiplin terhadap diri, menghormati orang tua, terbiasa hidup bersih dan sehat lahir dan batin, berhemat, giat bekerja, cinta ilmu pengetahuan, suka menanam, dan memuliakan kerja tangan. Semua butir pedoman termaksud merupakan gagasan anggota dewan dari berbagai kelompok bangsa Indonesia. “Program ini dapat dikatakan luar biasa, karena sama sekali tidak menguraikan ide-ide atau slogan-slogan Jepang,” catat Arniati Prasedyawati Herkusumo dalam Chuo Sangi-In: Dewan Pertimbangan Pusat pada Masa Pendudukan Jepang. Dalam pidato penutup sidang, Sukarno sebagai ketua dewan mengatakan Gerakan Hidoep Baroe ibarat udara segar bagi orang sakit. Dia memandang masyarakat di seluruh negeri sedang sakit. Mereka perlu terapi selekasnya. “Maka oleh karena itu, perlu maha-perlu, laksana udara buat napas kita, kita harus membongkar segala penyakit yang ada di dalam tubuh masyarakat kita itu, dan menegakkan satu Hidoep Baroe, yang sehat dan rasional,” kata Sukarno, termuat di Kan Po , No. 62 tahun 2605 (1945). Sukarno juga menegaskan, Gerakan Hidoep Baroe tidak cukup jadi jargon. Ia tidak boleh sekadar menjadi anjuran pemerintah atau pelajaran di sekolah. Ia mesti pula mewujud dalam tindakan. Dan beban itu pertama-tama terletak pada para pemimpin yang membuatnya. “Kita sebagai pemimpin wajib memberi contoh. Marilah kita menjadi pelopor rakyat, juga di atas lapangan pembaruan jiwa dan moral itu,” lanjut Sukarno. Pemerintah Jepang mengaku menerima isi Gerakan Hidoep Baroe. Mereka berjanji akan membantu mempropagandakan seluruh isi Gerakan Hidoep Baroe ke pelosok negeri. Kenyataannya, Jepang hanya berminat pada empat isi Gerakan Hidoep Baroe. Tentang penanaman, cinta tanah air, bakti Asia Timur Raya, dan memuliakan kerja tangan. Keempatnya berkaitan langsung dengan kepentingan Jepang. Sisanya tidak. Tapi anggota dewan meminta isi Gerakan Hidoep Baroe tetap disebarluaskan kepada seluruh bangsa Indonesia. Caranya beragam. Dari memuat selebaran di media massa, membikin poster, sampai membuat lagu. Perang soedah sampai di poentjak tingkatan Hidoep baroe lekaslah dilaksanakan… Oentoek menjoesoen negara Indonesia Jang pasti merdeka Begitu potongan lirik lagu “Hidoep Baroe” karangan R. Harta dalam suatu edisi Djawa Baroe tanpa keterangan waktu publikasi. Lagu itu diiringi komposisi musik karya Ismail Marzuki. Gerakan Hidup Baru terus bergaung ke antero negeri. Ia memperoleh tempat lapang di kalangan organisasi. Masyumi, melalui Soeara Moeslimin edisi 1 Maret 1945, memperlihatkan dukungannya pada Gerakan Hidoep Baroe. “Masyumi memandang sudah selayaknya ikut menggerakkan segala macam gerakan rakyat yang menuju perbaikan dasar-dasar negeri dan bangsa kita,” tulis Soeara Moeslimin seperti dikutip Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir. Jawa Hokokai , organisasi kebaktian Jawa, turut mempublikasikan secara luas Gerakan Hidoep Baroe. Sukarno sebagai ketua Jawa Hokokai berkeliling Jawa untuk mengajak rakyat melaksanakan Gerakan Hidoep Baroe. Rosihan Anwar, seorang jurnalis muda, menyaksikan langsung pidato Sukarno di Pati, Jawa Tengah, yang berisi anjuran melaksanakan Gerakan Hidoep Baroe. Dia berseberangan pendapat dengan sebagian besar kaum nasionalis. Dia berada satu kelompok dengan Sutan Sjahrir, pemimpin perlawanan kelompok non-kolaborator atau anti-Jepang. Rosihan menilai Gerakan Hidoep Baroe cuma propaganda murahan bikinan Jepang. “Terdesak akibat serangan tentara Sekutu di bawah Jenderal MacArthur,” tulis Rosihan dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Volume 1. Sementara Sjahrir bersikap dingin terhadap Gerakan Hidoep Baroe. Dia lebih banyak membahas penderitaan rakyat ketimbang berbicara Gerakan Hidoep Baroe. Pada akhirnya, gaung Gerakan Hidoep Baroe mengecil. Ia tak pernah lagi didengung-dengungkan. Sebagian gagasannya lesap ke dalam pembahasan dasar negara, undang-undang dasar, dan naskah persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI sepanjang Mei-Juni 1945.
- Kenduri Massal di Kemiren
BARONG-barong menari. Di sekelilingnya warga desa asyik menonton sembari mengarak barong. Dengan membawa obor berkaki empat, warga desa mengiringi rombongan barong sebagai bagian dari perayaan Tumpeng Sewu. Setiap rumah setidaknya mengeluarkan satu hidangan tumpeng untuk dimakan bersama-sama. Diterangi obor, orang-orang duduk bersila di depan rumah. Di hadapan mereka tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang, lengkap dengan lauk khas Kemiren: pecel pitik dan sayur lalapan. Begitu doa selesai dipanjatkan, kenduri massal dimulai. Tumpeng Sewu adalah tradisi adat warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Disebut Tumpeng Sewu karena jumlah tumpeng yang disajikan amat banyak. Dalam kultur Jawa, kata “sewu” merupakan metafor untuk menggambarkan jumlah yang tak terhitung. Perayaan ini merupakan ritual bersih desa yang dilakukan satu tahun sekali seminggu sebelum Idul Adha. Tradisi ini sudah hidup di masyarakat Osing Desa Kemiren sejak berpuluh-puluh tahun. Buyut Cili Tumpeng Sewu merupakan upacara slametan warga Kemiren, yang ditetapkan sebagai Desa Wisata Osing, untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus selamatan tolak bala. Tradisi ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan makam Buyut Cili, dhanyang atau pendiri Desa Kemiren. Sosok Buyut Cili hidup dalam tradisi lisan. Konon, Buyut Cili yang bernama asli Marjanah adalah seorang petani. Bersama istrinya, ia melarikan diri dari Kerajaan Macan Putih (kini letaknya di sekitar Rogojampi) agar tak dijadikan makanan bagi macan piaraan penguasa. “Dalam istilah Osing mereka menyingkir atau ngili ,” tulis Siti Maria dalam Komunitas Adat Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi . Pelarian Marjanah berhenti di sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pohon durian dan kemiri. Di situlah dia membabat alas, mengubah hutan jadi sebuah desa. Kini desa itu dinamakan Kemiren. “Karena ia pernah ngili , lantas masyarakat menyebutnya Buyut Cili atau Bo Cili,” tulis Siti Maria. Versi lain menyebut Buyut Cili semula seorang patih Mataram yang mengungsi ( ngili )ke Blambangan setelah terjadi geger Mataram. Setiba di Blambangan, ia mengabdikan diri di Kerajaan Macan Putih. Di kerajaan ini terdapat tradisi bahwa setiap tahun raja memakan manusia, khususnya perempuan bertubuh tinggi dan gemuk. Karena istrinya masuk daftar tumbal, Buyut Cili dan istrinya mengungsi. Varian dari cerita tutur menyebut Buyut Cili sebagai orang sakti Majapahit yang beragama Hindu, pendeta, atau begawan. Terlepas dari beragam versi itu, Buyut Cili dipercaya masyarakat Kemiren sebagai pendiri sekaligus penunggu desa. Untuk menghormatinya, warga Kemiren kerap berziarah ke makam Buyut Cili untuk meminta berkah. Begitu pula jika ada pesta atau selamatan desa seperti Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Menurut Dwi Ratna Nurhajarini dalam “Selametan Desa Tumpeng Sewu” di buku antologi Satu Bendera Beda Warna , ritual Tumpeng Sewu belum lama hadir di masyarakat Kemiren. Semula masyarakat memiliki tradisi selamatan desa yang dilakukan setiap hari Kamis atau Minggu sore pada minggu pertama Bulan Besar atau Bulan Haji. Hari Kamis dan Minggu sore dalam perhitungan Jawa sudah masuk hari Jumat dan Senin. Selamatan dilakukan sebagai ucap syukur kepada Yang Kuasa, yang telah menjauhkan warga Kemiren dari segala marabahaya. Selamatan juga diniatkan sebagai persembahan kepada Buyut Cili yang telah menjaga desa. Semula kegiatan itu melibatkan warga satu lingkungan terdekat. Namun kemudian berubah menjadi ritual satu desa yang dilakukan serentak. “Acara yang semula hanya berupa selamatan pecel pithik yang digelar tiap lingkungan, kemudian dijadikan satu dan serentak dengan ruang utama di sepanjang jalan utama Desa Kemiren dan jalan-jalan kecil yang menghubungkan Kemiren dengan daerah lain,” tulis Dwi. Sarat Makna Persiapan acara dilakukan sejak dini hari. Pada pukul enam pagi, para lelaki di Desa Kemiren sibuk mengupas kelapa. Setelahnya para ibu mulai memasak dan menyiapkan hidangan untuk perayaan Tumpeng Sewu. Selain menyiapkan makanan, pada tengah hari warga desa menjemur kasur ( mepe kasur ) di halaman masing-masing. Tradisi ini diyakini bisa mengusir penyakit. Sebab, masyarakat Osing percaya sumber penyakit datangnya dari tempat tidur. Kasur warga Kemiren berbeda dari kasur di tempat lain karena warnanya yang unik, yaitu merah dan hitam. Warna merah menyimbolkan keberanian sementara warna hitam melambangkan ketenteraman atau kelanggengan. “Secara umum warna merah hitam merupakan perlambang agar orang yang berumah tangga berani menghadapi tantangan kehidupan dan menjaga ketenteraman rumah tangganya,” tulis Wiwin Indiarti dkk dalam penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas PGRI Banyuwangi tahun 2013. Keluarga kelompok barong yang akan tampil pada acara Tumpeng Sewu adalah pihak yang paling sibuk. Mereka harus menyiapkan sesaji sebagai syarat utama ritual. Masyarakat percaya sesaji yang kurang lengkap bisa berdampak buruk. Begitu tenda untuk perayaan Tumpeng Sewu dibangun, sesaji sudah siap di depan rumah dan gending Kebo Giro akan terus ditabuh hingga arak-arakan dilakukan. Pada siang hari, dengan membawa sesaji, keluarga kelompok barong berziarah ke makam Buyut Cili untuk meminta izin. Sesaji makam Buyut Cili dihidangkan sego gurih yang ditata di atas tampah beralas daun pisang. Di atasnya ditutup daun pisang untuk menaruh lauk, seperti gimbal jagung, telur dadar, sate aseman daging sapi, abon ayam, irisan mentimun, paha dan sayap ayam goreng masing-masing dua dan ditata dalam empat penjuru mata angin. Ada pula jeroan ayam goreng yang diletakkan di tengah dan kerupuk rambak. Semua hidangan ini ditutup lagi dengan daun pisang yang bagian pinggirnya disemat dengan lidi sehingga tertutup. Penataan ayam yang menghadap empat penjuru mata angin, menurut Wiwin Indiarti dalam “Makna Kultural: Ritual Hidangan Tumpeng Sewu di Kemiren” dalam buku antologi Jagat Osing , menyimbolkan keyakinan mengenai dulur papat lima pancer hang bareng lahir sedina. Maksudnya, manusia konon terdiri atas empat anasir, yakni getih abyang (api), getih putih (air), getih kuning (udara), dan getih cemeng (tanah). Dari situlah wujud kasar yang mewadahi sukma manusia dibentuk. Harapannya, orang yang memakan hidangan tersebut akan punya keharmonisan antara empat unsur tersebut dan sukma. Pada sore hari dilakukanlah arak-arakan barong mengelilingi desa. Setelah itu diadakan selamatan barong dengan menu utama tumpeng serakat yang bentuknya tak kerucut sempurna. Tumpeng ini dialasi daun ilalang, klampes, dan sriwangkat. Tiap daun mengandung pengharapan berbeda. Daun ilalang menjadi simbol doa agar warga Kemiren dapat mengatasi masalah dengan baik. Daun klampes bermakna agar tak mengalami apes . Dan daun Sriwangkat bermakna agar selalu mengalami keberhasilan. Tumpeng serakat yang habis dimakan warga juga dimaknai sebagai lenyapnya malapetaka. Sebab ada idiom ilango serakate kariyo selamete ( malapetaka hilang dan kita selamat). Puncak acara adalah selamatan Tumpeng Sewu setelah Maghrib. Setiap rumah mengeluarkan minimal satu tumpeng yang di letakkan di depan rumah. Lauk khasnya: pecel pitik. Bentuk tumpeng yang mengerucut punya makna pengabdian pada Sang Pencipta. Sementara pecel pitik punya arti “ ngucel-ucel barang sithik ”. Wiwin Indiarti menyebut, pecel pitik punya beragam makna yang hidup di masyarakat Osing. Ada yang mengartikannya sebagai meski hanya sedikit, orang harus senantiasa bersyukur dan berhemat. Ada pula yang memaknainya sebagai “mugo-mugo barang hang diucelucel dadio barang hang apik” (semoga segala yang diupayakan membuahkan hasil baik). Hidangan lain yang umum ditemui dalam peringatan Tumpeng Sewu ialah ayam kampung kuah lembarang, jenang merah putih, dan jajan pasar, seperti rengginang, peyek kacang, onde-onde, nagasari, dan lain-lain. Ritual Tumpeng Sewu, yang dulu dilakukan di lingkungan terbatas, sudah berubah penuh kemeriahan tanpa mengurangi makna ritual itu sendiri. Pada 2013, tradisi Tumpeng Sewu diangkat dalam agenda pariwisata Banyuwangi Festival. Sejumlah wisatawan baik asing maupun dalam negeri bisa ikut menikmati tradisi ini. Mereka berbaur dengan warga menikmati pecel pitik. Warga pun tak sungkan menyambut mereka dan mengajak makan bersama.
- Hasjim "Keki" Gara-gara Bung Karno Ngungsi Tak Bawa Koki
SAAT sedang sibuk mengkoordinir pertahanan di daerah tempat tinggalnya, Cianjur, Hasjim Ning mendapat telepon dari Bupati Mohammad Jasin pada suatu hari di awal Oktober 1945. Pengusaha yang merupakan keponakan Bung Hatta itu diminta segera datang ke kantor bupati karena ditunggu Menteri Dalam Negeri R.A.A. Wiranatakusumah. Hasjim dijelaskan bahwa situasi keamanan Jakarta makin tak menentu. Desas-desus Sukarno akan ditangkap dan diadili sebagai penjahat perang atas kolaborasinya dengan Jepang kian sering terdengar. Meski tak bisa dilacak kebenarannya, desas-desas itu bahkan telah muncul pada awal 1945. Sukarno mengalaminya ketika bersama Hatta berkunjung ke Makassar pada Maret 1945. “Kota Makassar menjadi sasaran pemboman terus-menerus, karena pihak Sekutu rupanya mengetahui bahwa Sukarno berada di sana. Sudah tidak ragu lagi bahwa mereka mengejar Sukarno. Sebenarnya aku tidak bisa menyalahkan mereka, oleh karena memang Sekutu menganggapku sebagai penjahat-perang,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Isu penangkapan itu membuat kabinet memutuskan untuk mengungsikan Presiden Sukarno ke Cianjur sementara waktu sambil mencari informasi langsung ke pihak Sekutu. Untuk itulah Wiranatakusumah ke Cianjur untuk memberitahu Hasjim yang saat itu merupakan kepala Polisi Tentara di Cianjur. Presiden dan keluarganya akan diungsikan di rumah Kyai Ahmad Basyari atau populer sebagai Kyai Ajengan, pendiri Pesantren Al-Basyariyah. “Rumah tersebut pilihan Bung Karno sendiri. Mereka sudah berkenalan lama. Setahuku, pada zaman Jepang Bung Karno beberapa kali mengunjungi kiai itu,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Selain itu, dipilihnya rumah Kyai Ajengan di Desa Sukanagara karena pertimbangan keamanan. “Desa Sukanegara terletak di tengah-tengah perkebunan teh dan kina. Yang sangat penting ialah, setiap kendaraan yang datang ke Sukanegara akan terlihat dengan segera dari kejauhan. Karena jalan yang ditempuh berada di tengah-tengah pohon teh yang rendah. Dan apabila terlihat gejala yang tidak baik, Bung Karno akan dapat diungsikan ke tempat yang lebih jauh.” Jaminan kesanggupan menyediakan pengamanan misi pengungsian rahasia itu dari Hasjim membuat Wiranatakusumah mengabarkan Jakarta bahwa misi bisa berjalan. Sementara, Hasjim bergerak cepat mengajak sahabat-sahabatnya untuk mengatur pengamanan lebih. Bersama Kosasih, dia pergi ke Sindang Barang di pantai selatan. Kepada camat setempat yang dikenalnya baik, Hasjim meminta disiapkan kapal untuk misi rahasia yang tidak dia terangkan. Langkah itu diambil Hasjim untuk berjaga-jaga bila terjadi hal buruk pada presiden dan jalur darat tertutup untuk evakuasi. Sekira tengah hari besoknya, Hasjim kembali mendapat telepon dari Bupati Jasin bahwa Bung Karno sudah tiba. Hasjim pun langsung menuju ke kediaman bupati. “Aku masuk ke rumah Bupati. Bung Karno menyambutku tanpa berdiri dari kursinya. Kelihatannya ia letih. Tidak seperti biasanya kalau ia bertemu aku,” kata Hasjim. Usai sholat zuhur, mereka berangkat ke rumah Kyai Ajengan di Sukanagara. Mobil yang ditumpangi presiden dari Jakarta hanya berisi Ibu Fatmawati dan putranya karena Bung Karno, ditemani ajudan Muntoyo, memilih naik mobil yang dibawa Hasjim. Entah bergurau atau serius, Bung Karno di dalam mobil buka suara tentang alasannya memilih Sukanagara sebagai tempat pengungsian. Menurutnya, Sukanagara dipilih karena dia tidak bisa membawa koki dan di sana dia bisa mendapatkan makanan yang sesuai seleranya lantaran ada Itje (Siti Indun) yang kenal betul seleranya. “Itje adalah istriku. Bung Karno sering mampir makan siang di rumah kami di Pacet bila beliau kembali dari Bandung. Itje berasal dari Sunda. Karena menikah dengan aku, ia juga belajar masakan Padang. Bung Karno senang masakan Padang yang dibikin oleh Itje. Dan itu berarti Bung Karno menyuruh aku mengirimkan lauk-pauk kesukaannya setiap hari ke Sukanegara,” kata Hasjim.





















