- 28 Mei 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 29 Jun
SAAT sedang sibuk mengkoordinir pertahanan di daerah tempat tinggalnya, Cianjur, Hasjim Ning mendapat telepon dari Bupati Mohammad Jasin pada suatu hari di awal Oktober 1945. Pengusaha yang merupakan keponakan Bung Hatta itu diminta segera datang ke kantor bupati karena ditunggu Menteri Dalam Negeri R.A.A. Wiranatakusumah.
Hasjim dijelaskan bahwa situasi keamanan Jakarta makin tak menentu. Desas-desus Sukarno akan ditangkap dan diadili sebagai penjahat perang atas kolaborasinya dengan Jepang kian sering terdengar.
Meski tak bisa dilacak kebenarannya, desas-desas itu bahkan telah muncul pada awal 1945. Sukarno mengalaminya ketika bersama Hatta berkunjung ke Makassar pada Maret 1945. “Kota Makassar menjadi sasaran pemboman terus-menerus, karena pihak Sekutu rupanya mengetahui bahwa Sukarno berada di sana. Sudah tidak ragu lagi bahwa mereka mengejar Sukarno. Sebenarnya aku tidak bisa menyalahkan mereka, oleh karena memang Sekutu menganggapku sebagai penjahat-perang,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















