top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hoegeng Membuka Buku Hitam

    MANTAN Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo, terdakwa pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, selalu membawa buku bersampul hitam termasuk saat menjalani persidangan. Buku Hitam itu berisi catatan pribadi Sambo sejak Kombes sampai menjalani kasus hukum. Kuasa Hukum Sambo, Rasamala Aritonang mengaku tidak mengetahui secara spesifik isi Buku Hitam milik kliennya itu. Namun, dikutip dari cnnindonesia.com , Rasamala menyatakan jika ada informasi penting dalam Buku Hitam itu dan berguna untuk memperbaiki situasi dan keadaan dalam Polri, maka hal itu bisa saja disampaikan Sambo. Dalam sejarah kepolisian, dua Kapolri pernah menyebut Buku Hitam. Pertama, Jenderal Pol. Awaloedin Djamin (1927–2019), Kapolri kedelapan (1978–1982), menyebut “Buku Hitam” untuk buku saku yang berisi pengetahuan dasar kepolisian sehingga mudah dibawa kemana saja oleh anggota polisi.

  • Aksi Penyamaran Hoegeng

    PERNAHKAH Anda membayangkan seorang Kepala Kepolisian RI mengenakan wig panjang dan kemeja bunga-bunga berikut syal di leher, lalu menghisap rokok kretek sambil pura-pura teler? Aksi demikian pernah dilakukan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968-1971. “Itulah pekerjaan gila yang pernah saya lakukan ketika saya menjabat kepala polisi, menyamar jadi hippies dan bergaul di antara para pecandu narkotik,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori pada 22 Agustus 1992, yang dimuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah . Hoegeng terpaksa menyamar. Peredaran narkotika di kalangan anak muda telah sampai tahap yang meresahkan. Hoegeng tentu sadar tindakannya penuh resiko dan membahayakan diri.

  • Ada Rolls-Royce di Medan Laga

    SALAH satu aset yang disita Kejaksaan Agung atas nama Harvey Moeis, yang merupakan –suami selebriti Sandra Dewi– salah satu tersangka kasus korupsi timah yang berpotensi merugikan negara hingga Rp271 triliun, adalah mobil SUV Rolls-Royce Cullinan. Pabrikan kondang Inggris itu nyatanya tak hanya memproduksi berbagai model mobil mewah langganan kaum bangsawan dan crazy rich, termasuk Ratu Elizabeth II yang sejak 1950 punya tunggangan Rolls-Royce Phantom IV sebagai kendaraan VIP-nya. Menariknya, Rolls-Royce rupanya juga berperan memasok kebutuhan alutsista militer Inggris saat Perang Dunia I (1914-1918). Mulai dari mesin pesawat, kendaraan tempur (ranpur), hingga meriam anti-udara. Pun dalam Perang Dunia II (1939-1945), Rolls-Royce memasok mesin-mesin pesawat tempur yang sangat vital mempertahankan ruang udara Inggris. Utamanya saat pesawat-pesawat Spitfire, Hurricane, Mosquito, Mustang, dan Lancaster Angkatan Udara (AU) Inggris, RAF, memenangi serangkaian duel udara untuk mementahkan serangan-serangan Luftwaffe (AU Jerman) dalam Pertempuran Britania/Pertempuran Inggris Raya (10 Juli-31 Oktober 1940).

  • Rolls-Royce Punya Cerita

    SEBUAH mobil mewah nan gagah pabrikan Inggris itu terparkir di muka Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (3/4/2024). Untuk sementara, kendaraan roda empat berwarna hitam dengan dimensi panjang 5,3 meter dan lebar 2,1 meter itu tak lagi membersamai pemiliknya, pasutri Harvey Moeis-Sandra Dewi. Mobil Rolls-Royce Cullinan bertipe SUV (sport utility vehicle) itu jadi salah satu aset yang disita dari kediamannya di Pakubuwono, Jakarta Selatan. Selain mobil Rolls-Royce Cullinan, satu unit mobil lainnya, MINI Cooper, juga ikut diangkut ke Kejaksaan Agung. Keduanya jadi barang sitaan atas kasus tindak pidana korupsi tata niaga timah wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk tahun 2015-2022 dengan kerugian Rp271 triliun yang menjerat tersangka Harvey Moeis dan crazy rich Pantai Indah Kapuk (PIK) Helena Lim. Mobil Rolls-Royce Cullinan itu diketahui merupakan kado ulangtahun dari Harvey untuk istrinya yang menginjak usia 40 tahun pada Agustus lalu. Mobilnya pun dipesan khusus dengan hiasan custom bertuliskan “Specially Ordered for SDW”.

  • Fraksi ABRI Riwayatnya Dulu

    WACANA mengembalikan peran politik militer mengemuka. Hal itu bermula dari perubahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang digodok Mabes TNI. Dalam penggodokan itu, ada usulan penambahan delapan kementerian dan lembaga negara yang dapat diduduki oleh prajurit aktif. Padahal, dalam pasal 47 ayat 2 UU TNI, sudah ada sepuluh kementerian dan lembaga negara yang dapat diduduki prajurit aktif. Hal tersebut sontak memantik perdebatan. Ketua Centra Initiative Al Araf menyatakan, perluasan jabatan-jabatan sipil yang dapat diduduki oleh perwira TNI aktif membuka ruang kembalinya doktrin Dwifungsi ABRI seperti yang dipraktikan di rezim Orde Baru. “Hal ini tentunya menjadi kemunduran jalannya reformasi dan proses demokrasi tahun 1998 di Indonesia yang telah menempatkan militer sebagai alat pertahanan negara,” ujar Al Araf, dikutip kompas . com , 11 Mei 2023.

  • Juragan Besi Tua Asal Manado

    TIDAK jauh dari Patung Schwarz di pusat Distrik Langowan, ada beberapa permakaman terkenal. Ada makam Kapitan Benjamin Thomas Sigar yang merupakan leluhur Prabowo Subianto di Desa Wolaang. Di permakaman lain di Desa Waliure, terdapat makam seorang terkenal bernama Laurens Fritz Saerang. Namanya mirip seorang penata rambut kenamaan yang salonnya tersebar di mana-mana, Peter F. Saerang. Di nisan makam Laurens tercatat meninggal di Jakarta pada 11 Desember 1990. Laurens tidak lahir di Langowan, melainkan di Muara Teweh, Kalimantan Timur pada 27 Maret 1920. Artinya, dia terlahir sebagai anak orang Minahasa perantauan. Seperti Peter Saerang, Laurens Saerang juga pengusaha. Tentu saja di zaman yang berbeda. Sebelum jadi pengusaha, Laurens adalah tentara. Sebelum 1950, dia merupakan anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL).

  • Dokter Indonesia Pertama Ahli Radiologi

    MENJADI yang pertama sudah pasti luar biasa. Dalam bidang kedokteran, Mas Asmaoen adalah orang Indonesia pertama yang menjadi dokter dari Universitas Amsterdam, lulus tahun 1908. Sedangkan Raden Mas Notokworo adalah orang Indonesia pertama yang menjadi dokter dari Universitas Leiden tanpa lebih dulu mengikuti pendidikan STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra) di Hindia Belanda. Mas Asmaoen lebih dulu masuk STOVIA kemudian melanjutkan ke Belanda. Notokworo, lahir di Yogyakarta pada 17 April 1886, anak tertua Pangeran Notodirodjo, kakak Pakoe Alam VI sekaligus penasihat dan pembantu utama sang raja Pakualaman. Notodirodjo menganggap pendidikan Barat sangat penting bagi generasi muda tanpa harus melupakan budaya Jawa. Dia pun menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda (ELS dan HBS) di Semarang. Bahkan mereka tinggal dengan keluarga Belanda.

  • Alasan Sarwo Edhie Wibowo Memimpin Penumpasan PKI

    PASCA peristiwa Gerakan 30 September 1965, terjadi pembantaian massal terhadap anggota, simpatisan, dan orang-orang yang dituduh PKI. Bahkan, orang-orang yang tidak terkait dengan PKI pun, seperti kaum nasionalis atau Sukarnois, juga menjadi korbannya. Jumlah korban yang diumumkan oleh tim penyelidik Fact Finding Commision, sebanyak 78.000 orang. Namun, Rum Aly, redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia , menyebutkan perkiraan moderat korban sekitar 500.000 jiwa. Perhitungan lain antara satu sampai dua juta. "Tetapi Sarwo Edhie, yang berada di lapangan pasca peristiwa, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun di Bali, suatu ketika pernah menyebut angka tiga juta jiwa,” tulis Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966.

  • Ziarah ke Makam Sarwo Edhie

    DI DEPAN sebuah pendopo beratap limas itu, sebuah prasasti berdiri. Warna terangnya kontras dengan warna pedestalnya yang berbahan granit gelap. Inskripsi yang ada padanya, dengan lambang Kartika Eka Paksi di atas, menunjukkan si empunya merupakan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo. Di sanalah, mendiang Sarwo Edhie, mantan komandan RPKAD (kini Kopassus) yang memimpin penumpasan PKI pasca Peristiwa G30S, dan mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta beberapa leluhurnya dimakamkan. Kompleks pemakaman itu terletak di Purworejo, Jawa Tengah. Purworejo sebagai kota berpredikat kota pensiunan punya beberapa kawasan yang usianya cukup tua. Salah satunya Pangenjurutengah. Pangenjurutengah adalah salah satu kelurahan di pusat kota Purworejo. Di sini pernah ada Kampung Afrika.

  • Menziarahi Raja Ali Haji

    USAI bermalam menunggu jadwal sandar, pada Jumat pagi, 5 Juli 2024, KRI Dewaruci  mulai mendekati dermaga Lantamal Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Ketika dermaga makin dekat, Kelasi Dua Robi Nugraha melemparkan tali kecil ke arah dermaga sehingga kapal bisa ditambatkan ke dermaga. Kapal pun kemudian bisa merapat dengan sempurna di dermaga. Setelah disambut dengan pemberian kerudung dan tanjak (ikat kepala khas Melayu), komandan Dewaruci dan para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) disuguhi musik dan tari rakyat Melayu nan enerjik dan gembira di gedung serbaguna Kompleks Lantamal. Setelahnya, para peserta MBJR naik bus menuju Tanjung Pinang. Perjalanan Tanjung Uban-Tanjung Pinang memakan waktu sekitar satu jam dengan menyusuri pesisir barat Pulau Bintan. Sesampai di Tanjung Pinang, para peserta MBJR naik kapal kecil yang disebut Kepompong. Tujuannya adalah Pulau Penyengat, yang berjarak sekira 1,5 km dari Pulau Bintan. Perjalanan laut ini memakan waktu 15 menit saja.

  • Bisnis Candu Kompeni Belanda

    PEKERJAAN rumah besar menanti Gustaaf Willem van Imhoff (1705-1750) kala dirinya ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur) di Batavia pada 1743. Van Imhoff dituntut melakukan reformasi ekonomi oleh Heeren XVII , dewan direksi pemegang saham terbesar VOC. Saat itu, efek huru-hara di Batavia yang berujung pembantaian 10.000 orang Tionghoa membuat perekonomian Batavia pincang. Profit dagang intra-Asia VOC stagnan. Rempah-rempah VOC tidak lagi menjadi primadona setelah komoditas baru seperti tekstil India, teh Cina, dan kopi Arab mulai masuk pasaran.

  • Ngalap Berkah Kala Ziarah

    HARI Raya Idul Fitri atau lebaran tak hanya kental dengan tradisi silaturahim dengan tetangga, keluarga, kerabat, dan sahabat. Di beberapa daerah, di masa lebaran juga kental dengan tradisi ziarah ke makam keluarga, leluhur, maupun makam orang-orang besar yang dikeramatkan demi minta berkah. Menurut sejarawan Johan Wahyudhi dalam program Dialog Sejarah bertajuk “Kisah di Balik Budaya Ziarah Makam Keramat di Jakarta” di kanal Youtube Historia.ID , 28 Februari 2026, tradisi itu sudah eksis di Nusantara sejak era pra-Hindu. Ziarah kubur sudah dipraktikkan masyarakat pra-Islam sejak zaman purba hingga masa Hindu-Buddha “Tradisi mengunjungi (makam) orang suci kalau kita runut sudah ada sejak zaman purbakala, di mana misalnya kita melihat peninggalan-peninggalan seperti punden berundak. Kemudian kenapa makam-makam atau tempat-tempat yang dikeramatkan selalu berhubungan dengan posisi yang ada di atas secara geografis, di gunung atau di lereng bukit dan lain-lain, karena memang ada semacam aura positif ketika seseorang itu dekat ke tempat-tempat yang di atas yang dianggap suc. Maka itu menentramkan batin. Kemudian menyambungkan secara spiritual dengan para leluhur,” ujarnya. Di zaman Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha, contohnya. Dalam kakawin Nagarakretagama diceritakan Raja Hayam Wuruk sampai enam kali berperjalanan ke Pajang, Lasem, Lodaya, Lumajang, Tirib Sompur, Palah Blitar, dan Simping kurun 1353-1363 Masehi. Dalam rangkaian perjalanan itu, ia menyertainya dengan ziarah ke makam-makam orang-orang besar, salah satunya ke patung Siwa Buddha yang jadi perwujudan Raja Kertanagara di Singhasari. Pun di Candi Singhasari, Hayam Wuruk mempersembahkan sesaji-sesaji berupa harta, makanan, dan bunga sebagai dharma bagi leluhurnya, Sri Rajasa. “Dan ketika Islam datang, tradisi itu kemudian bergeser ke arah yang berbau Islami dengan adanya doa-doa seperti tahlil, tahmid dan lain-lain,” lanjut Johan yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Bagi umat Islam sendiri, ziarah mulanya dilarang Nabi Muhammad SAW. Baru kemudian ziarah diperbolehkan. Fungsinya menurut sebuah hadist adalah agar umat Islam ingat pada mati dan akhirat. Hanya saja di Indonesia dan khususnya di Jakarta, ziarah kubur atau tabarruk yang populer disebut “ngalap berkah”, terkadang ditempuh dengan jalan keliru. Bukan untuk mengingat kehidupan setelah kematian tapi malah “menyembah” demi meminta hal-hal duniawi yang cenderung kepada perbuatan syirik. “Di Jakarta ada beberapa makam-makam yang hingga kini masih menjadi magnet umat Islam untuk ngalap berkah, mendapatkan semacam pencerahan rohani yang mana pencerahan itu kadang-kadang tidak bisa mereka dapatkan hanya mengandalkan ibadah rutin. Ada nuansa batin tersendiri kalau kita sering ziarah karena di situ kita bisa napak tilas sehingga sepertinya masyarakat masih membutuhkan itu untuk menciptakan gairah spiritual baru yang kemudian itu berdampak positif bagi kehidupan mereka,” tambahnya. Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudhi ( Historia.ID ) Makam Pangeran Jayakarta hingga Mufti Betawi Di Jakarta ada beberapa situs makam yang dianggap keramat dan biasa dijadikan tempat “ngalap berkah”. Di antaranya makam Pangeran Achmad Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Tokoh yang dihormati tersebut merupakan penguasa Jayakarta sebelum kedatangan Belanda. “Dia semasa hidup sebagai penguasa Jayakarta yang menggerakkan perekonomian, kemudian mendorong adanya budaya pesisir Jakarta yang juga sangat kuat itu prakolonial. Sekitar tiga bulan lalu saya ke sana memperhatikan, memang maksud orang macam-macam. Ada yang meminta sesuatu, ada yang dia bawa wewangian sendiri, bawa dupa sendiri dari rumah, dan dia berzikir dengan khusyuk. Ada yang hanya duduk membaca tahlil, membuka Al-Quran,” imbuh Johan. “Jadi gaya orang berziarah itu macam-macam dan mereka menghormati karena kebesarannya. Kekeramatannya mungkin masih kita bisa perdebatkanlah. Tapi yang tidak bisa kita nafikan itu adalah pengaruh besar di masanya. Pangeran Jayakarta sebagai penguasa sebelum kolonial yang punya pengaruh besar yang juga sangat dihormati oleh penguasa Banten ataupun penguasa Cirebon.” Situs lain yang juga banyak diziarahi adalah Masjid Jami Keramat Luar Batang yang terdapat makam Habib Busain bin Abu Bakar Alaydrus alias Habib Luar Batang. Sosok tersebut adalah pendiri surau pada 1739 yang diubah jadi masjid pada 1827 itu. Letaknya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. “Masjid ini pada awalnya sama saja dengan masjid-masjid di Betawi pada umumnya. Masjid Luar Batang menjadi terkenal karena di halaman masjid itu dimakamkan Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus yang tutup usia pada 24 Juni 1756. Sejak dimakamkannya di sana, masjid tersebut menjadi banyak disinggahi orang untuk berziarah. Dan bahkan di antaranya tak jarang yang bermalam di sana sampai 7 hari,” kata buku Ziarah Masjid dan Makam terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2006. Johan punya pengalaman pribadi. Sewaktu remaja dan menjelang ujian nasional, ayahnya membawanya untuk ziarah ke masjid dan makam Habib Luar Batang. Di sana, ayahnya mengajaknya untuk berzikir, membaca tahlil, dan surat Yasin. “Tapi lambat laun ketika saya ke sana lagi, kemudian saya melihat apa sih sebenarnya yang dicari orang-orang ini? Ternyata memang luar biasa sekali ya. Orang mendapat pencerahan, bahkan banyak yang merasa hajatnya itu terkabul ketika sudah berkunjung ke Luar Batang,” urai Johan. Makam pemuka Islam keturunan Arab yang juga sering diziarahi adalah makam Habib Utsman bin Yahya yang kondang dikenal sebagai Mufti Betawi. Lokasinya berada di kompleks Masjid Abidin, Pondok Bambu, Jakarta Timur. “Dahulu Habib Utsman ‘dilabeli’ –yang masih diperdebatkan– sebagai ulama yang dekat dengan kepentingan kolonial. Tapi orang-orang Arab punya strategi tersendiri, di antaranya Habib Utsman menyediakan karya-karyanya dicetak dengan stensilan yang murah agar bisa dimanfaatkan dan disebaruaskan. Ini saya kira yang masih perlu kita bicarakan lebih jauh ya tentang keterlibatan Habib Utsman dalam mendorong literasi Islam di Batavia dan sekitarnya,” tandasnya.

bottom of page