top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ngalap Berkah Kala Ziarah

Praktik ziarah makam keramat di Nusantara sudah ada sejak zaman purbakala. Maknanya bergonta-ganti dari zaman ke zaman.

27 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum (jakarta.go.id)

  • 5 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

HARI Raya Idul Fitri atau lebaran tak hanya kental dengan tradisi silaturahim dengan tetangga, keluarga, kerabat, dan sahabat. Di beberapa daerah, di masa lebaran juga kental dengan tradisi ziarah ke makam keluarga, leluhur, maupun makam orang-orang besar yang dikeramatkan demi minta berkah.


Menurut sejarawan Johan Wahyudhi dalam program Dialog Sejarah bertajuk “Kisah di Balik Budaya Ziarah Makam Keramat di Jakarta” di kanal Youtube Historia.ID, 28 Februari 2026, tradisi itu sudah eksis di Nusantara sejak era pra-Hindu. Ziarah kubur sudah dipraktikkan masyarakat pra-Islam sejak zaman purba hingga masa Hindu-Buddha


“Tradisi mengunjungi (makam) orang suci kalau kita runut sudah ada sejak zaman purbakala, di mana misalnya kita melihat peninggalan-peninggalan seperti punden berundak. Kemudian kenapa makam-makam atau tempat-tempat yang dikeramatkan selalu berhubungan dengan posisi yang ada di atas secara geografis, di gunung atau di lereng bukit dan lain-lain, karena memang ada semacam aura positif ketika seseorang itu dekat ke tempat-tempat yang di atas yang dianggap suc. Maka itu menentramkan batin. Kemudian menyambungkan secara spiritual dengan para leluhur,” ujarnya.


Di zaman Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha, contohnya. Dalam kakawin Nagarakretagama diceritakan Raja Hayam Wuruk sampai enam kali berperjalanan ke Pajang, Lasem, Lodaya, Lumajang, Tirib Sompur, Palah Blitar, dan Simping kurun 1353-1363 Masehi. Dalam rangkaian perjalanan itu, ia menyertainya dengan ziarah ke makam-makam orang-orang besar, salah satunya ke patung Siwa Buddha yang jadi perwujudan Raja Kertanagara di Singhasari. Pun di Candi Singhasari, Hayam Wuruk mempersembahkan sesaji-sesaji berupa harta, makanan, dan bunga sebagai dharma bagi leluhurnya, Sri Rajasa.


“Dan ketika Islam datang, tradisi itu kemudian bergeser ke arah yang berbau Islami dengan adanya doa-doa seperti tahlil, tahmid dan lain-lain,” lanjut Johan yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.


Bagi umat Islam sendiri, ziarah mulanya dilarang Nabi Muhammad SAW. Baru kemudian ziarah diperbolehkan. Fungsinya menurut sebuah hadist adalah agar umat Islam ingat pada mati dan akhirat.


Hanya saja di Indonesia dan khususnya di Jakarta, ziarah kubur atau tabarruk yang populer disebut “ngalap berkah”, terkadang ditempuh dengan jalan keliru. Bukan untuk mengingat kehidupan setelah kematian tapi malah “menyembah” demi meminta hal-hal duniawi yang cenderung kepada perbuatan syirik.


“Di Jakarta ada beberapa makam-makam yang hingga kini masih menjadi magnet umat Islam untuk ngalap berkah, mendapatkan semacam pencerahan rohani yang mana pencerahan itu kadang-kadang tidak bisa mereka dapatkan hanya mengandalkan ibadah rutin. Ada nuansa batin tersendiri kalau kita sering ziarah karena di situ kita bisa napak tilas sehingga sepertinya masyarakat masih membutuhkan itu untuk menciptakan gairah spiritual baru yang kemudian itu berdampak positif bagi kehidupan mereka,” tambahnya.


Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudhi (Historia.ID)
Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudhi (Historia.ID)

Makam Pangeran Jayakarta hingga Mufti Betawi

Di Jakarta ada beberapa situs makam yang dianggap keramat dan biasa dijadikan tempat “ngalap berkah”. Di antaranya makam Pangeran Achmad Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Tokoh yang dihormati tersebut merupakan penguasa Jayakarta sebelum kedatangan Belanda.


“Dia semasa hidup sebagai penguasa Jayakarta yang menggerakkan perekonomian, kemudian mendorong adanya budaya pesisir Jakarta yang juga sangat kuat itu prakolonial. Sekitar tiga bulan lalu saya ke sana memperhatikan, memang maksud orang macam-macam. Ada yang meminta sesuatu, ada yang dia bawa wewangian sendiri, bawa dupa sendiri dari rumah, dan dia berzikir dengan khusyuk. Ada yang hanya duduk membaca tahlil, membuka Al-Quran,” imbuh Johan. “Jadi gaya orang berziarah itu macam-macam dan mereka menghormati karena kebesarannya. Kekeramatannya mungkin masih kita bisa perdebatkanlah. Tapi yang tidak bisa kita nafikan itu adalah pengaruh besar di masanya. Pangeran Jayakarta sebagai penguasa sebelum kolonial yang punya pengaruh besar yang juga sangat dihormati oleh penguasa Banten ataupun penguasa Cirebon.”


Situs lain yang juga banyak diziarahi adalah Masjid Jami Keramat Luar Batang yang terdapat makam Habib Busain bin Abu Bakar Alaydrus alias Habib Luar Batang. Sosok tersebut adalah pendiri surau pada 1739 yang diubah jadi masjid pada 1827 itu. Letaknya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.


“Masjid ini pada awalnya sama saja dengan masjid-masjid di Betawi pada umumnya. Masjid Luar Batang menjadi terkenal karena di halaman masjid itu dimakamkan Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus yang tutup usia pada 24 Juni 1756. Sejak dimakamkannya di sana, masjid tersebut menjadi banyak disinggahi orang untuk berziarah. Dan bahkan di antaranya tak jarang yang bermalam di sana sampai 7 hari,” kata buku Ziarah Masjid dan Makam terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2006.


Johan punya pengalaman pribadi. Sewaktu remaja dan menjelang ujian nasional, ayahnya membawanya untuk ziarah ke masjid dan makam Habib Luar Batang. Di sana, ayahnya mengajaknya untuk berzikir, membaca tahlil, dan surat Yasin.


“Tapi lambat laun ketika saya ke sana lagi, kemudian saya melihat apa sih sebenarnya yang dicari orang-orang ini? Ternyata memang luar biasa sekali ya. Orang mendapat pencerahan, bahkan banyak yang merasa hajatnya itu terkabul ketika sudah berkunjung ke Luar Batang,” urai Johan.


Makam pemuka Islam keturunan Arab yang juga sering diziarahi adalah makam Habib Utsman bin Yahya yang kondang dikenal sebagai Mufti Betawi. Lokasinya berada di kompleks Masjid Abidin, Pondok Bambu, Jakarta Timur.


“Dahulu Habib Utsman ‘dilabeli’ –yang masih diperdebatkan– sebagai ulama yang dekat dengan kepentingan kolonial. Tapi orang-orang Arab punya strategi tersendiri, di antaranya Habib Utsman menyediakan karya-karyanya dicetak dengan stensilan yang murah agar bisa dimanfaatkan dan disebaruaskan. Ini saya kira yang masih perlu kita bicarakan lebih jauh ya tentang keterlibatan Habib Utsman dalam mendorong literasi Islam di Batavia dan sekitarnya,” tandasnya.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Ngalap Berkah Kala Ziarah

Ngalap Berkah Kala Ziarah

Praktik ziarah makam keramat di Nusantara sudah ada sejak zaman purbakala. Maknanya bergonta-ganti dari zaman ke zaman.
Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II

Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II

Ikut melawan tentara Jerman di Perang Dunia, Michiels meraih bintang Ksatria Belanda. Ditugaskan ke Indonesia bareng pendiri cikal-bakal Kopassus.
Busung Lapar di Tanah Subur

Busung Lapar di Tanah Subur

Banyumas salah satu daerah lumbung padi bagi Jawa Tengah. Musibah banjir dan penyakit malaria sebabkan kelaparan di wilayah tersebut. Masalah ini menjadi perhatian anggota DPR.
Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon

Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon

Setelah Jawa dalam genggaman, Napoleon merebut Alexandria di Mesir. Gubernurnya yang menolak tunduk dihadapkan ke regu tembak.
Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja getol ikut memperjuangkan agar buruh bisa berlebaran dengan ceria seperti sekarang.
bottom of page