Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Peter Carey dan Takdir Menemukan Diponegoro
PETER Carey barangkali satu-satunya indonesianis yang totalitas meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro. Karya monumentalnya KuasaRamalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011)menjadi rujukan otoritatif bagi siapa saja yang ingin mengetahui sosok paling epik dalam Perang Jawa itu. Siapa nyana, persinggungan Peter Carey dengan Diponegoro justru hanya berawal dari sekilas pandang. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Saya terpana oleh sosok Diponegoro yang agak misterius. Saya ingin mendalami sosok itu sebab saya tak bisa lihat wajahnya,” kata Peter Carey kepada Historia di sela-sela acara peluncuran buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, 30 Januari 2019. Bermula dari sketsa Diponegoro karya Mayor Francois de Stuers yang termuat dalam bab tulisan sejarawan Belanda terkemuka H.J. de Graaf mengenai Perang Jawa. Sketsa itulah yang disaksikan Peter sekira tahun 1969 saat menempuh studi doktoral kajian Asia Tenggara di Cornell University. Terinsipirasi dengan cara demikian, Peter lantas menjatuhkan pilihan untuk meneliti riwayat hidup Diponegoro sebagai topik disertasinya. Sayang, profesornya di Cornell kurang mengapresiasi. Peluncuran buku Urip iku Urub : Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey. (Martin Sitompul/Historia). Peter menyadari, saat itu buku dan litaratur mengenai Diponegoro begitu terbatas. Namun bagi Peter, semacam ada panggilan untuk menelusuri lebih lanjut sisi historis sang pangeran. Dia berkelakar, Diponegoro akan lebih menyukai orang Inggris sebagai penulis biografinya ketimbang orang Belanda. Keputusan itu membawa Peter kepada petualangan menjejaki memori tentang Diponegoro. Pada 1970, Peter memulai proses pencarian sumber-sumber sejarah. Mulai dari merambah arsip-arsip berbahasa Belanda di Leiden, Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, kitab-kitab babad di perpustakaan Keraton Yogya, hingga napak tilas ke tempat-tempat yang pernah dilalui Diponegoro tatkala menggelorakan perang melawan Belanda. Tak heran bila Peter jadi bule yang mahir berbahasa Jawa dan memahami budayanya. “Hidup seperti masuk ke laut yang dangkal. Kita masuk tapi kita tidak sadar bawah itu akan betul-betul dalam sekali. Tiba-tiba kita sudah masuk tanpa direncanakan. Itu yang saya katakan sebagai panggilan,” ujar Peter. Menyinari Historiografi Pada 1975, Peter Carey merampungkan disertasinya di Oxford University, Inggris. Disertasi itu diberi judul “Pangeran Dipanegara and the Making of the Java War, 1825-30 (Pangeran Diponegoro dan Asal-usul Perang Jawa, 1825-30)” setebal dua jilid. Jilid pertama membahas sejarah Yogya antara 1792-1825. Jilid kedua berupa teks dan terjemahan dalam bahasa Inggris dari Babad Dipanegara versi Surakarta yang kemungkinan ditulis pada awal Perang Jawa. Seorang penguji (informal) Merle Calvin Ricklefs , mengatakan disertasi itu bisa menjadi kajian yang paling penting dalam sejarah modern Indonesia. Tiga dekade lebih berselang, disertasi Peter akhirnya diterbitkan oleh KITLV. Buku itu diberi judul The Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 (2007), (versi Indonesia: Kuasa Ramalan ). Tebalnya hampir seribu halaman. “Buku itu segera diakui sebagai karya agung yang luar biasa. Sebuah kontribusi kepada pengertian kita mengenai sejarah Indonesia yang amat penting,” tulis Ricklefs dalam prakata Urib iku Urub . Pangeran Diponegoro menunggang kuda dan dikelilingi pengikutnya. Sketsa karya Mayor Francois de Stuers ini yang menginspirasi Peter Carey meneliti Pangeran Diponegoro Takzim yang senada juga disampaikan cendekiawan politik, Daniel Dhakidae. Menurut Daniel, Peter adalah sejarawan yang melibatkan dirinya dalam konteks sosial kultural dari objek yang ditelitinya. Dalam hal ini adalah Diponegoro. Karya dedikatif Peter Carey ini memberikan sumbangan penting dalam historiografi Indonesia. Dia membuat sejarah itu hidup dan relevan; mengangkat sejarah itu menjadi politik masa kini. “(Peter) menghidupkan tokohnya itu dan bertutur mengajak orang tour dari suatu tempat ke tempat lain yang pernah dilewati Pangeran Diponegoro. Memperkenalkan relik, seperti keris dan perlengkapan perang yang berhubungan dengan sang pangeran. Mengajak anak-anak muda untuk berdialog dengan tokoh itu. Itu tentu saja sesuatu yang baru dalam tradisi akademik di Indonesia,”kata Daniel Dhakidae. Sebagai sejarawan, Peter tak hanya merekam peristiwa masa lalu yang dia kaji secara tekstual. Tapi dia juga membumikan karyanya sedekat mungkin kepada publik. Penelitiannya mengenai Diponegoro dan Perang Jawa bahkan telah diadaptasi menjadi pertunjukan drama hingga film pendek.*
- Keributan di Kongres Perempuan
MARIA Ullfah, perempuan Indonesia pertama yang jadi menteri sosial, tak pernah lupa perdebatan sengit yang mewarnai Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, Juli 1935. Perdebatan itu dipicu oleh silang pendapat antara pihak pro poligini dan pihak anti poligini. “Wah, itu ramai sekali. Istri Sedar kan fanatik menentang poligini, baru belakangan akhirnya mau ikut kongres. Tapi di kongres itu ada juga Ratna Sari dari organisasi wanita Islam yang jadi pembicara. Jadi ini kesalahan panitia yang mengatur pembicara,” kata Maria Ullfah dalam rekaman arsip sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia. Ratna Sari merupakan wakil dari organisasi perempuan sayap Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang menjadi pembicara dalam kongres tersebut. Dalam pidatonya yang berapi-api, dia menjelaskan tentang poligini dan kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan Islam dari sudut pandang yang ortodoks. Ratna, tulis Gadis Rasyid dalam Maria Ullfah Pembela Kaumnya , seolah-olah mendukung poligini dan menganjurkan perempuan untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Pidato Ratna kontan membuat panas suasana kongres. Suwarni Pringgodigdo, pemimpin Istri Sedar dan wakil pemimpin kongres, marah karena isi ceramah Ratna sangat bertentangan dengan pendirian organisasinya. Istri Sedar mulanya enggan bergabung dengan KPI lantaran terlalu beragamnya pandangan dalam KPI akan menyulitkan gerakan perempuan sendiri. Atas desakan Sri Wulandari (Nyonya Mangunsarkoro), pemimpin KPI II, Istri Sedar akhirnya mau hadir dalam kongres. Suwarni bahkan duduk sebagai wakil pemimpin kongres. Maka begitu Suwarni mendapat gilran pidato, dia langsung mendebat pernyataan Ratna. Menurutnya praktik poligini sangat merendahkan perempuan. “Kaum laki-laki tindak-tanduknya seperti ayam jago,” kata Suwarni menggambarkan tindak-tanduk lelaki yang beristri banyak. Ucapan itu membuat beberapa lelaki yang menghadiri kongres menanggapinya dengan serentak berteriak “Kukuruyuuk!” tiap Suwarni mengatakan ayam jago. Alhasil, suasana makin ribut dan kacau karena peserta perempuan tak bisa menahan tawa. Melihat beberapa peserta kongres riuh menirukan suara ayam sambil tertawa, Suwarni merasa diledek. Dia tak terima. Di akhir pidato, Suwarni menyatakan Istri Sedar keluar dari KPI. Pemimpin kongres Sri Wulandari pun berusaha menenangkan peserta yang kadung panas. Maria Ullfah yang duduk sebagai penasihat kongres mengusulkan agar prasaran dari Ratna Sari tidak dibahas lagi. “Lebih baik tidak dibahas lagi dan jangan ambil keputusan. Lagipula kalau kita ambil keputusan dan terjadi perpecahan, Belanda akan senang,” kata Maria Ullfah. KPI II kemudian menganjurkan para anggotanya memperlajari hukum perkawinan dan lebih banyak membahas tentang nasib buruh perempuan dan angka buta huruf. Mereka mengeluarkan program untuk menyelidiki kesejahteraan buruh perempuan lewat Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI). Sementara untuk pengentasan buta huruf, ditargetkan bisa mengajari baca-tulis-hitung pada 5000 perempuan dewasa dalam tiga tahun. Masalah poligini dan hak perempuan dalam pernikahan dibahas mendalam di luar kongres untuk menghindari kericuhan. Masalah perkawinan yang dibahas antara lain ketiadaan hak dan jaminan keselamatan bagi perempuan dalam ruang paling privatnya. Tidak adanya pencatatan pernikahan membuat perempuan tidak bisa menuntut haknya. Perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk kemudian menikah lagi dengan perempuan baru menjadi hal yang jamak ditemui saat itu. Mbok Iman (Darsiyah), misalnya. Perempuan asal Yogyakarta ini ditinggal kabur suaminya yang pamit untuk berperang saat revolusi. Alih-alih benar-benar terjun ke medan tempur, si suami rupanya malah menikah lagi dengan perempuan di desa sebelah sampai mempunyai dua anak. Galuh Ambar Sasi dalam Gelora di Tanah Raja menyebut, hati Mbok Iman hancur, menuntut pun tak bisa sebab tak ada pencatatan perkawinan. Mbok Iman hanya satu dari sekian perempuan yang bernasib buruk dalam perkawinan. Padahal, itu bukan satu-satunya masalah. Di lapangan, masalah jauh lebih banyak, seperti poligini sewenang-wenang, talak yang hanya bisa dijatuhkan oleh lelaki sementara perempuan tidak bisa menolaknya, belum lagi masalah perkawinan anak dan perkawinan paksa. Dua tahun setelah KPI II, para perempuan mendirikan Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-anak (KPKPAI) yang diketuai Sri Wulandari. KPKPAI bertugas menyosialisasikan penghapusan perkawinan anak dan perkawinan paksa. Mereka juga mengajukan tuntutan pada Raad Agama agar para penghulu menolak menikahkan anak di bawah umur. Di bawah KPKPAI, menurut buku Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, dibentuk pula Biro Konsultasi yang diketuai Maria Ullfah. Tugas Biro Konsultasi selain mempelajari hukum perkawinan Islam, Kristen, dan agama-agama lain adalah menerima keluhan dari para perempuan dalam perkawinan. Mayoritas pengadu ingin cerai lantaran dimadu dan meminta Biro Konsultasi untuk membantu mengurus prosesnya. Meski kegiatan Biro Konsultasi tidak mendapat protes dari gerakan perempuan Islam, kegiatannya tak disenangi para ulama. Pasalnya, penghasilan ulama kala itu datang dari mengurusi kawin-cerai, bukan gaji bulanan. “Para anggota Raad Agama sebetulnya tak begitu senang…. Dengan segala macam sikap mereka memperlihatkan ketidaksenangannya dan membikin Maria Ullfah sebal dan sakit hati,” tulis Gadis Rasyid.
- Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian II – Habis)
SEJAK 1950-an sampai kini, bulutangkis masih jadi olahraga paling mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Kontinuitas prestasi yang tercetak tak hanya berkat pembinaan, melainkan juga karena garis keturunan dari orangtua ke anak ataupun dari kakak ke adik. Tak heran bila dalam bulutangkis, sebagaimana dalam sepakbola, terdapat banyak pemain satu darah yang acap menghasilkan prestasi di era berbeda. Setidaknya ada 10 yang tercatat mendirikan “dinasti” bulutangkis, lima di antaranya sudah diuraikan di bagian pertama. Berikut lima keluarga bulutangkis lainnya: Keluarga Pongoh Lius Pongoh sedari kecil sudah digembleng ayahnya sendiri, Darius Pongoh (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Kendati memiliki postur yang gempal dan terbilang pendek untuk ukuran pebulutangkis, Lius Pongoh memiliki daya juang luar biasa. Ke manapun bola diarahkan lawan, Lius tak pernah putus asa mengejar. Alhasil, dia dijuluki “si Bola Karet”. Pemain langganan Pelatnas PBSI era 1980-an dan dua kali ikut tim Thomas Cup (1982 dan 1986) itu kerap menjuarai turnamen terbuka di luar negeri. Walau begitu, Lius merasa momen paling dikenangnya adalah Indonesia Open 1984. Dia menjuarai event itu meski sedang kehilangan orang yang dikasihinya, Kartin, sang ibunda tercinta. Lius adalah anak sulung dari empat bersaudara. Putra pasangan Darius Pongoh dan Kartin kelahiran 3 Desember 1960 itu tertular bulutangkis dari ayahnya yang juga pebulutangkis. Namun, tak banyak info tentang karier bulutangkis Darius. Nama Darius lebih banyak dikenal sebagai pencetak para pemain juara, saat jadi pelatih PB 56, PB Tangkas, dan kemudian PB Djarum. Darius pula yang pertama menggembleng bakat bulutangkis Lius, sejak usia Lius lima tahun. Tapi setelah itu Darius tak pernah lagi melatih Lius yang kemudian bergabung dengan PB Anggara dan PB Garuda Jaya. “Dari Garuda Jaya ke PB Tangkas. Ayah saya melatih di PB Djarum di GOR Petamburan,” ujar Lius kepada Historia. Selain Lius, anak Darius yang lain, Elen Pongoh, juga berkiprah di bulutangkis. Tapi Elen hanya sampai level nasional. Prestasi tertinggi Elen adalah runner-up Indonesia Open Junior 1983. Keluarga Arbi Kiri ke kanan: Hariyanto Arbi, Hastomo Arbi & Eddy Hartono (Foto: Dok. Hariyanto Arbi) Kota Kudus, Jawa Tengah sejak 1970-an hingga 1990-an melahirkan keluarga bulutangkis dengan beragam prestasi mentereng. Prestasi kaliber dunia lahir dari tiga bersaudara: Hastomo Arbi, Eddy Hartono, dan Hariyanto Arbi. Ketiganya putra kebanggaan pasangan Arbi (Ang Tjin Bik) dan Sri Hastuti (Goei Giok Nio). “Ayah saya dulu langganan juara di Kudus. Paman-paman saya juga pemain semua. Jadi kami lahir dari keluarga pemain. Dari orangtua juga kita dikenalkan bulutangkis. Saya dari kecil sudah sering diadu sama teman-temannya ayah saya,” kenang Hastomo saat ditemui Historia di GOR Jati, Kudus, medio Desember 2018. Capaian prestasi tertinggi Hastomo, yang spesialis tunggal putra, adalah ketika menjadi pahlawan perebutan Thomas Cup 1984. Sementara, sang adik Eddy Hartono yang spesialis ganda putra dan campuran, selain juara All England 1992 juga turut merebut medali perak Olimpiade Barcelona 1992 bersama duetnya, Rudy Gunawan. Namun, pamor keduanya kalah dari sang adik Hariyanto Arbi. Pemain berjuluk “ Smash 100 Watt” itu merupakan juara All England 1993 dan 1994, juara dunia 1995, dan ikut memperkuat tim Indonesia merebut Thomas Cup 1994, 1996, 1998, dan 2000. Hariyanto lebih mengidolakan Liem Swie King ketimbang dua kakaknya. “Idola saya Om Swie King. Tapi memang inspirasi smash itu selain dari Liem Swie King juga dari Hastomo. Kalau sama Eddy, beda usia saya juga jauh ya. Waktu saya masih di (PB Djarum) Kudus, dia sudah di Pelatnas PBSI. Tapi Eddy sering kasih masukan, terlebih setelah dia sering bertanding ke luar negeri. Sering kasih pengetahuan tentang perkembangan bulutangkis di mancanegara,” kata Hariyanto kala ditemui Historia di Kebayoran Baru, Jakarta, 8 Januari 2019. Selain ketiganya, Keluarga Arbi masih memiliki jagoan lain kendati prestasinya tak moncer, yakni Eddy Purnomo. Dia masih berhubungan sepupu dengan ketiganya. Ibu dari Eddy Purnomo adalah adik dari Sri Hastuti, ibu dari Hastomo, Eddy Hartono, dan Hariyanto. Eddy masuk PB Djarum di “angkatan pertama” pada 1969, seangkatan Liem Swie King, Hastomo Arbi, dan Agus Susanto, ayah Hermawan Susanto. Meski tak berprestasi sebagai pemain, Eddy jadi salah satu pembina PB Djarum di GOR Jati hingga kini. Keluarga Icuk Sugiarto Tommy Sugiarto (kiri) & Jauza Fadhilla Sugiarto (Foto: Instagram @jauzafadhilla) Icuk Sugiarto merintis kiprahnya sejak usia 12 tahun dengan dilatih orangtuanya, Harjo Sudarmo dan Ciptaningsih. Sepanjang kariernya, Icuk mengukir prestasi di beragam ajang. Selain Asian Games (1982), SEA Games (1985, 1987, 1989), juara dunia 1983, dan menjadi anggota tim Thomas Cup 1984-1990, Icuk langganan juara di beragam turnamen terbuka. Buku karya Justian Suhandinata berjudul Tangkas: 67 Tahun Berkomitmen Mencetak Jawara Bulutangkis menginformasikan, Icuk melepas masa lajang dengan mempersunting pebulutangkis Nina Yaroh pada 5 Juli 1983. Keduanya dianugerahi tiga anak: Natassia Octaviani Sugiarto, Tommy Sugiarto, dan Jauza Fadhilla Sugiarto. Tommy dan Jauza mengikuti jejak ayah-ibunya menjadi pebulutangkis. Tommy yang sudah malang-melintang di Pelatnas PBSI Cipayung sejak 2000-an, bertabur prestasi. Selain medali emas kategori beregu putra di SEA Games 2009 dan 2011, dia menjuarai Kejuaraan Asia Beregu 2016. Sementara, Jauza saat ini masih meniti kariernya di nomor ganda putri bersama Ribka Sugiarto. Capaian tertingginya runner-up Kejuaraan Dunia Junior 2014, 2015, dan 2017 serta runner-up Kejuaraan Junior Asia 2017. Dinasti Mainaky Keluarga Mainaky (Foto: Djarum) Siapa tak kenal Mainaky bersaudara? Satu-satunya dinasti bulutangkis dari Indonesia Timur, tepatnya dari Ternate, Maluku Utara. Mereka adalah Richard Leonard Mainaky, Rionny Frederik Lambertus Mainaky, Rexy Ronald Mainaky, Marleve Mario Mainaky, dan Karel Leopold Mainaky. Darah bulutangkis mereka mengalir dari sang ayah, Jantje Rudolf Mainaky, pebulutangkis daerah era 1960-an. “Papi saya itu juara bulutangkis se-Maluku. Jadi papi saya kirim kita semua main bulutangkis di Jakarta,” kata Richard Mainaky saat ditemui Historia di Pelatnas PBSI Cipayung, 11 Januari 2019. Richard merupakan pionir dari Mainaky bersaudara di bulutangkis kendati prestasinya sebagai pemain kurang mentereng. Kariernya lebih menonjol sebagai pelatih. Dialah yang membesut pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang punya segudang prestasi. Selain Icad, sapaan Richard, ada Rionny Mainaky. Sebagaimana Icad, prestasi Rionny lebih cemerlang sebagai pelatih ketimbang sebagai pemain. Rionny melatih timnas Jepang satu dekade terakhir. Hasilnya, tim Jepang sukses hingga menjadi runner-up Thomas Cup dan juara Uber Cup 2018. Rexy Mainaky merupakan anggota “Dinasti Mainaky” yang namanya paling menonjol. Segudang prestasi ganda putra berhasil diraih Rexy dan pasangannya, Ricky Subagdja. Raihan terbaiknya apalagi kalau bukan medali emas ganda putra Olimpiade Atlanta 1996. Rexy kini melatih tim Thailand. Selain Rexy, ada Marleve dan Karel Mainaky. Marleve ikut memenangi Thomas Cup 2000 dan 2002 serta meraih perak Asian Games 2002. Sejak 2013, Marleve juga melatih di Pelatnas PBSI. Sementara, Karel Mainaky kariernya kurang cemerlang, hanya menjuarai German Open Junior dan Dutch Open Junior pada 1995, serta Jakarta International Satellite 1998 dan 2001. Setelah pensiun, Karel melatih salah satu klub di Jepang. Kendati generasi kedua Mainaky bersaudara sudah pensiun, keluarga Mainaky belum habis. Anak-anak mereka kini mengikuti jejak. Selain Maria Natalia Kartika Mainaky (putri sulung Icad), ada Marvin Pessa Tambara Mainaky dan Mario Verdiano Ben Oni (putra-putra Marinus), serta Lyanny Alessandra Mainaky dan Yehetzkiel Frityz Mainaky (putra-putri Rionny). Markis Kido Bersaudara Pia Zebadiah Bernadet (kiri) & Markis Kido (Foto: badmintonindonesia.org) Sepanjang 2007, nama Markis Kido dan Hendra Setiawan bertengger di peringkat satu dunia (BWF) nomor ganda putra. Kido si anak perantau Minang ini selain juara dunia pada 2007, juara pula di Kejuaraan Asia 2005 dan merebut emas Olimpiade 2008 serta emas Asian Games 2010. Adiknya, Bona Septano, juga terjun ke bulutangkis nomor ganda putra. Selain menggondol juara di beberapa turnamen terbuka, Bona memetik sekeping emas SEA Games 2009 dan dua emas SEA Games 2011. Di SEA Games 2011, di sektor individu Bona –dan pasangannya Mohammad Ahsan– merebut emas setelah memenangi “perang saudara” melawan Markis Kido/Hendra Setiawan. Namun, Bona pensiun dini pada 2014 dan lantas beralih jadi pilot maskapai Sriwijaya Air. Adik bungsu Markis dan Bona, Pia Zebadiah Bernadet, juga berkiprah di olahraga tepok bulu, spesialis ganda putri dan campuran. Sejak 2013, Pia acap berpasangan dengan Markis Kido. Selain menjuarai turnamen-turnamen terbuka, prestasi Pia ialah turut memetik emas SEA Games 2007 dan perunggu Asian Games 2010.
- Sang Orator Keluar dari Penjara
BASUKI Tjahaja Purnama (BTP) akhirnya bebas setelah menjalani masa kurungan penjara dua tahun. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini jadi terhukum karena didakwa melakukan penistaan agama. Kebebasan BTP disambut sukacita oleh para pendukungnya. Namun dari sekian banyak yang menanti kebebasan BTP, tak tampak sang istri Veronica Tan. Keduanya memutuskan bercerai ketika BTP masih dalam penjara.
- Cinta Kasih Susi Susanti untuk Negeri
SIAPA tak kenal Susi Susanti? Ikon bulutangkis tunggal putri negeri ini yang jadi idola banyak manusia. Namanya bertengger paling puncak di ranah olahraga saat Olimpiade Barcelona 1992, di mana Susi mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di ajang olahraga multicabang terakbar itu. Prestasi itu sudah umum diketahui masyarakat. Pun dengan kisah kasih Susi dengan Alan Budikusuma, pebulutangkis putra yang juga mempersembahkan emas untuk Indonesia di pesta olahraga yang sama. Namun, tidak banyak orang tahu bagaimana perjuangan Susi dan Alan yang menguras keringat dan air mata di balik prestasi mereka. Sisi-sisi itulah yang akan jadi highlight dalam kisah Susi Susanti yang akan diangkat ke layar lebar dengan judul Susi Susanti: Love All oleh Damn! I Love Indonesia bekerjasama dengan Oreima Films dan East West Synergy. Selain diproduseri Daniel Mananta, Susi Susanti: Love All disutradarai sineas muda Sim F. “Film ini ingin menyampaikan bahwa mengasihi adalah jawaban dari semua tantangan yang dialami oleh seorang Susi menjadi seorang juara dunia dan dirinya sendiri. Film ini harus ditonton karena akan banyak hal yang tidak pernah masyarakat tahu latar belakang Susi yang bisa menjadi seorang juara dunia dan legenda,” ungkap Sim F ketika dihubungi Historia, Kamis, 24 Januari 2019. Susi Susanti: Love All berawal dari obsesi Daniel. Idenya sudah mulai eksis di kepala mantan VJ MTV itu sejak 2012, tapi baru bisa direalisasikan pada 2018. “Bisa dibilang lebih ke passion gue punya sebuah misi menyebarkan cerita tentang cinta. Susi Susanti punya cerita tentang cinta terhadap negara, keluarga, olahraga yang digelutinya, terhadap pasangannya (Alan Budikusuma, red. ),” kata Daniel, dilansir Kumparan , 20 September 2018. Setelah beberapa kali menemui sejumlah sutradara, Daniel mempercayakan project ini kepada Sim F yang sudah malang melintang menggarap iklan dan video music . “Ya, ini project -nya Daniel Mananta dan dia menawarkannya ke saya untuk men- direct film ini. Bagi saya, Susi dan Alan adalah sosok yang sangat luar biasa dedikasi hidup mereka untuk bulutangkis dan negara ini,” ujar Sim F. Laura Basuki dirasa paling pas memerankan Susi Susanti. (Instagram @laurabas) Untuk pemilihan para pemeran Susi Susanti Love All , Sim F menangani hampir semuanya. Dia lalu memilih Laura Basuki untuk memerankan Susi dan Dion Wiyoko untuk peran Alan. Untuk memerankan Susi, Laura tak setengah-setengah. Sampai berminggu-minggu dia latihan bulutangkis dilatih langsung oleh Liang Chiu Hsia, pelatih asli Susi Susanti. “Laura sanggup membuat tokoh legenda yang kita banggakan ini, real di mata saya. Bahkan energi yang diberikan Laura untuk memerankan Susi begitu luar biasa kerja kerasnya. Dion juga kerja keras memerankan Alan. Mereka berdua riset dan bertemu sendiri dengan Susi dan Alan,” lanjutnya. Perjuangan dan Pengorbanan Susi dan Alan Selain Laura dan Dion, Susi Susanti: Love All akan diramaikan aktris Jenny Zhang, yang berperan sebagai pelatih Susi, Liang Chiu Hsia; Kelly Tandiono sebagai Sarwendah Kusumawardhani, pesaing terberat Susi; dan Farhan (Muhammad Farhan) sebagai Ketua PBSI 1985-1993 Jenderal Try Sutrisno. “Sebetulnya negara ini berutang banyak pada Alan dan Susi. Nanti di film kita akan tahu utang apa yang lama tidak kita lunasi pada mereka. Saya sendiri merepresentasikan pemerintah, Ketua PBSI,” timpal Farhan, dikutip Kumparan , 22 September 2018. Sudah jadi rahasia umum bahwa di masa Try Sutrisno memimpin PBSI, banyak keluhan yang keluar dari para pebulutangkis. Pasalnya, pendapatan mereka, baik prize money (pendapatan hasil kejuaraan) maupun uang saku, dipotong 50 persen untuk menyehatkan neraca keuangan PBSI. Beberapa pemain lalu memilih keluar, sementara Susi dan Alan bertahan. “Ya itu keadaan yang harus kita terima waktu itu. Gaji, prize money di- cut separuh. Ya kita enggak bisa banyak protes, kan. Tapi kami berdua sampai dalam pemikiran bahwa jangan sampai dikalahkan dan menyalahkan situasi. Itu prinsip saya sama Susi. Apapun yang terjadi, saya sama Susi tetap commit karena sudah dipilih dalam Pelatnas,” terang Alan saat ditemui Historia , 15 Januari 2019. Tapi yang menjadi masalah bagi Susi, Alan, dan banyak pemain lain bukan hanya soal pendapatan dan tantangan fisik jelang Olimpiade 1992. Diskriminasi lantaran mereka berasal dari etnis Tionghoa juga menyusahkan sepanjang karier mereka. Alan ingat, hal paling pahit adalah kebijakan negara yang mewajibkan setiap orang Tionghoa memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) sebagai bukti nasionalisme mereka. “Terus terang saya kecewa. Kita kan juga lahir di Indonesia. Orangtua kami juga lahir di sini. Kita pun kelak ingin meninggal di Indonesia. Makanya saya selalu mempertanyakan, SBKRI kenapa harus ada? Kenapa kami dipertanyakan tidak nasionalis? Padahal kami nasionalis dan bangga dengan Indonesia,” kata Alan dengan mata berkaca-kaca. Sebagai sosok yang juga lantang berbicara mengenai diskriminasi rasialis, produser Daniel agaknya bakal memberi porsi lebih terhadap soal tekanan mental yang dialami Susi dan Alan dalam Susi Susanti: Love All . “Untuk detailnya, belum bisa saya sampaikan. Intinya, film ini biopik Susi Susanti sebagai seorang atlet bulutangkis. Untuk cerita, mereka (Susi dan Alan) menyerahkan semuanya ke kita. Mereka membantu kita banyak hal,” tambah Sim F. Dalam menggarap film ini, Sim serius melakukan riset, antara lain dengan menemui langsung dua pasutri pemenang Olimpiade Barcelona 1992 itu. Tantangannya adalah soal keotentikan tempat dan lokasi. Proses shooting -nya tak hanya di Jakarta, tapi juga di Tasikmalaya hingga Barcelona. “Susi dan Alan sangat membantu. Semakin riset, semakin tahu latar belakang kehidupan Susi. Yang tersulit adalah membawa era 1980-1990-an ke dalam film karena banyak lokasi yang sudah berubah, bahkan sudah enggak ada,” tambahnya. Film yang diprediksi bakal meledak ini diharapkan bisa menginspirasi agar semakin banyak film biopik bertema olahraga. Susi Susanti: Love All sendiri tercatat akan jadi film biopik bertema olahraga kedua setelah 3 Srikandi (2016) yang menggambarkan perjalanan tiga atlet panahan peraih medali pertama (perak) Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Sayang, kendati proses penggarapan Susi Susanti: Love All sudah selesai Oktober 2018 lalu, masyarakat mesti bersabar karena jadwal tayangnya belum diketahui. “Belum bisa diinfokan. Yang pasti akan ada di bioskop 2019 ini,” kata sang sutradara.
- Jadi Tentara karena Jailangkung
Setiap tentara memiliki motivasi masing-masing menjadi anggota TNI. Namun, Jenderal TNI (Purn.) Soemitro memutuskan menjadi tentara dengan alasan yang nyeleneh: petunjuk jailangkung. Soemitro lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Waktu kecil, dia bercita-cita menjadi insinyur. Namun, ketika dia menginjak usia 15 tahun, ada sesuatu yang membelokkan cita-citanya dari insinyur menjadi tentara. Ketika itu, tentara Jepang baru masuk Indonesia. Dia dan Gatot Supangkat, kawan pondokan di Surabaya, iseng-iseng main jailangkung. “Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘besok saya akan jadi apa?’ Sang jailangkung menjawab dengan menunjuk huruf-huruf M A J O R,” kata Soemitro dalam memoarnya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. “Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara.” Soemitro masuk menjadi anggota Peta (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Ketika mengikuti pendidikan perwira Peta di Bogor, dia dikenal paling nakal. Dia sering keluar pagar asrama untuk cari makan dan mencuri makanan di dapur atau di kamar sidhokan (instruktur). Pada suatu malam, Soemitro bersama Sukaryadi dan Ponidi keluar asrama untuk mencari makan di luar. Waktu kembali, Soemitro dan Ponidi berhasil kembali ke asrama. Sedangkan Sukaryadi tertangkap oleh Yanagawa, komandan pendidikan perwira Peta. Sukaryadi dihukum saseng (hukum bersila) selama satu minggu, siang hari harus kendo (bela diri dengan pedang kayu), dan juken jutsu (bela diri dengan bayonet) . Ditanya siapa dua kawannya yang lain, dia selalu mengatakan tidak tahu bahkan dia mengatakan mungkin dari kesatuan lain, yaitu cutai (kompi) 1 dan 2. Sampai selesai hukuman dia tetap kuat bungkam walau dihukum berat. “Saya respek sama dia dan berutang budi,” kata Soemitro. “Umpama dia menyebut nama kita berdua (Ponidi dan saya) tentu kita bertiga akan dikeluarkan dan saya tidak akan jadi jenderal.” Karier militer Soemitro melampaui petunjuk jailangkung yang menyebut mayor. Dia sampai menjadi jenderal dengan jabatan di berbagai posisi, dari Pangdam V Brawijaya di Surabaya, Pangdam VI/Mulawarman di Kalimantan, sampai Pangkopkamtib (Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Soemitro meninggal dunia pada 10 Mei 1998.
- Misi Soeharto di Papua
PROGRAM pemerintah untuk membangun jalan Trans-Papua diperkirakan rampung tahun ini. Hingga akhir 2018, telah tercapai pembangunan ruas jalan sepanjang sepanjang 1.982 km dari total target 4.330 km. Proyek ini menjadi program unggulan pembangunan infrastruktur periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.
- Romansa dalam Relief Candi
Seorang gadis berambut panjang tergerai berbaring di dipan. Para inang menemaninya. Perempuan muda itu terlihat sedang sakit. Sakit rindu akibat terlalu lama berpisah dengan kekasihnya. Adegan berlanjut memperlihatkan seorang lelaki bertopi tekes, yang sering dikenali sebagai Panji, tengah duduk di bawah pohon memegang gulungan surat. Di depannya menanti seekor burung berjambul dan berparuh bengkok. Bentuknya mirip burung kakak tua berjambul. Burung itu kemudian terbang jauh melewati perairan yang luas. Paruhnya menggigit surat milik Panji hingga akhirnya berhasil tiba di hadapan perempuan yang tengah sakit rindu itu . Melihat si burung, perempuan itu bangkit dengan gembira. D ia terima surat dari sang kekasih yang berada jauh darinya dengan penuh suka cita. Kira-kira begitulah kisah cinta Panji dan kekasihnya yang bisa dibayangkan ketika membaca relief di dinding Candi Panataran, Blitar. Mereka akhirnya kembali dipertemukan dan saling menumpahkan kerinduan. Dalam puncak asmara, keduanya saling bermesraan.Panji memangku kekasihnya, meremas payudaranya. Kerinduan dalam kisah-kisah cinta Jawa Kuno sering digambarkan dengan ekspresi sakit rindu. “Dalam bahasa Jawa Baru, sakit yang demikian dinamai atau, yang artinya sakit rindu sebagai wujud dari psikosomatis lantaran cinta yang terhalang,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang. Hal itu juga yang digambarkan dalam relief Sri Tanjung. Kisah ini ditemukan di kaki Candi Jabung yang terletak di Probolinggo. Di sana terpahat seorang perempuan, bisa jadi Sri Tanjung, tangan kirinya membawa sesuatu. Menurut Dwi perempuan itu mungkin memegang imbalan untuk seekor burung yang ditugaskan mengantar surat. Surat itu baru diterimanya dari sang suami, Patih Sidapaksa, yang jauh darinya. Relief Angling Dharma di Candi Jago. (Risa Herdahita Putri/Historia). Adegan percintaan lainnya dikisahkan dalam relief Angling Dharma yang ada di dinding Candi Jago, Malang. Angling Dharma bertemu kembali dengan penjelmaan istrinya dalam wujud Ambarawati, yang kemudian menjadi istri keduanya. Mereka bertemu ketika Angling Dharma dihukum buang ke hutan. Setelah melalui beragam cobaan dalam pembuangannya, keduanya pun bersatu. Adegan asmara kedua tokoh ini digambarkan lewat tokoh Angling Dharma yang seakan merengkuh mesra kekasihnya, Ambarawati. Perantara pesan cinta Relief Panji dan Sri Tanjung menggambarkan sejak masa Hindu-Buddha komunikasi antarkekasih yang terpisah menggunakan surat. Bedanya, burung dalam relief Sri Tanjung seperti merpati terlihat dariparuhnya yang lurus dan lancip. Menurut Dwi, terkait merpati sebagai burung pos tergambar pada arca Dewi Ratih, istri Dewa Kama, sang dewa asmara. Merpati merupakan kendaraan Dewi Ratih. “Kama dan Ratih sebagai dewa dewi asmara dalam kaitan dengan burung dara (merpati) yang bisa mengemban tugas sebagai burung pos, karenanya terkait dengan surat cinta,” kata Dwi. Perantara sepasang kekasih juga ditunjukkan dalam kisah Ramayana berupa cincin bukan burung. Dalam relief Ramayana yang dipahat pada dinding candi induk Panataran terlihat kera putih Hanoman diutus Rama untuk menemui kekasihnya, Dewi Sinta. Dengan susah payah Hanoman masuk ke penyekapan Sinta di negeri Alengka yang dijaga tentara raksasa. Sebagai bukti utusan Rama, Hanoman menyerahkan cincin milik Sinta yang dibuang di hutan ketika diculik Rahwana. Cincin itu ditemukan oleh Rama. Hanoman membujuk Sinta agar meninggalkan Alengka. Namun, dia menolak karena berharap kekasihnya sendiri yang menjemputnya. Dia pun meminta sang kera putih kembali untuk menyampaikan keinginannya itu . Sayangnya, berbeda dengan kisah-kisah lain, kisah Rama dan Sinta tak berakhir bahagia. Sinta memilih ditelan bumi demi membuktikan kesuciannya pada Rama.
- Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian I)
BULUTANGKIS sudah puluhan tahun mendarah daging di Indonesia. Hampir setiap keluarga di perkampungan maupun perkotaan memainkannya, sebagaimana digambarkan Koko Koswara dalam lagu “Badminton”. Wajar bila banyak bintang bulutangkis, lawas maupun kini, yang punya hubungan keluarga baik satu darah ataupun lewat pernikahan. Dari 10 keluarga bulutangkis yang melahirkan bintang dengan prestasi membanggakan buat negeri ini, beberapa di antaranya berdarah Tionghoa. Mayoritas dari Pulau Jawa, sementara satu “dinasti” lainnya datang dari Indonesia Timur. Siapa saja mereka? Berikut rangkuman ke-10 keluarga bulutangkis tanah air sepanjang sejarah: Rudy Hartono Bersaudara Rudy Hartono (kiri) bersama adik (tengah) Utami Dewi dan suaminya, Chris Kinard. (Wikimedia) Rudy Hartono (kiri) bersama adik (tengah) Utami Dewi dan suaminya, Chris Kinard. (Wikimedia). Siapa tak kenal Rudy Hartono? Pemegang rekor juara tunggal putra All England terbanyak ini merupakan putra dari pengasuh PB Suryanaga Surabaya Zulkarnain Kurniawan (Nio Siek In). Bersama seluruh adiknya, Utami Dewi, Eliza Laksmi Dewi, Freddy Harsono, Diana Veronica, dan Tjosi Hartanto, Rudy berkecimpung di dunia yang sama. Namun, hanya Rudy dan Utami Dewi yang punya prestasi bergengsi. Utami anggota tim Indonesia yang memenangkan Uber Cup 1975. Selain itu, dia berbagai event daerah dan nasional. Belakangan, Utami menikah dengan pebulutangkis Amerika Serikat (AS) Chris Kinard dan berpindah kewarganegaraan sejak 1978. Selain berlatar keluarga bulutangkis, Rudy juga punya hubungan keluarga dengan Christian Hadinata, legenda ganda putra Indonesia. “Jadi istrinya Rudy (Jane Anwar) dengan istri saya (Yoke Anwar) kakak-beradik. Riwayatnya saya bertemu pacar yang kemudian jadi istri juga dikenalkan lewat Rudy,” kata Christian Hadinata kepada , 7 Januari 2019. Liem Swie King Bersaudara Liem Swie King punya dua saudari yang juga pebulutangkis: Megah Inawati dan Megah Idawati. (Randy Wirayudha/Historia). Sebagaimana Rudy Hartono, maestro bulutangkis Indonesia Liem Swie King juga memiliki darah bulutangkis. Langganan juara All England, Kejuaraan Dunia, dan beragam kejuaraan era 1970an-1980an itu dikenalkan bulutangkis oleh dua kakaknya, Megah Inawati dan Megah Idawati. “Kakak-kakak saya pemain nasional zamannya Minarni (Soedarjanto). Lama-lama saya ketularan, jadi sering ikut-ikutan main, jadi hobi,” ujar Liem Swie King saat ditemui , 9 Januari 2019. Baik Inawati maupun Idawati merupakan anggota tim Uber Cup 1966 bersama Minarni, Retno Koestijah, dan Corry Kawilarang. Selain kedua kakaknya, kerabat King yang berkecimpung di dunia bulutangkis adalah pemain tunggal putra era 1980-an Hermawan Susanto. Hermawan merupakan putra sulung pasangan Agus Susanto, pembulutangkis era 1960-an, dan Megah Idawati. Jadi, Hermawan merupakan keponakan King. Tjun Tjun Bersaudara Tjun Tjun, adik dari pemain dan pelatih legendaris Liang Chiu Hsia. Buat generasi kekinian, nama Tjun Tjun jelas asing didengar ketimbang Rudy Hartono atau Liem Swie King. Padahal, dikutip dari karya Pat Davis, Tjun Tjun punya “segambreng” prestasi top di nomor ganda putra dan ganda campuran. Selain peraih medali emas SEA Games (1977), dia merupakan peraih emas Asian Games (1974), juara All England (1975, 1977-1980), dan tiga kali ikut memenangkan Thomas Cup (1973, 1976 dan 1979). Pebulutangkis kelahiran Cirebon, 4 Oktober 1952 itu adalah adik dari Liang Chiu Hsia, pelatih para srikandi Indonesia era 1990-an macam Susi Susanti hingga Yuni Kartika di Pelatnas PBSI. “Dia kakaknya Tjun Tjun. Sempat pindah ke China dan kembali melatih saya di PB Djarum dan kemudian Pelatnas. Termasuk yang menggembleng saya, Susi, Yuliani (Santosa), dan Mia Audina di tim Uber Cup 1994. dilatih sama dia, ampun , sadis, …,” ujar Yuni Kartika kepada , 15 Januari 2019. Berbeda dari Tjun Tjun, Liang Chiu Hsia (kadang ditulis Liang Qiuxia) berkewarganegaraan China meski lahir di Cirebon, 9 September 1950. Liang Chiu Hsia pindah ke China pada 1960 bersama sekitar 100 ribu etnis Tionghoa setelah kerusuhan rasial di Cibadak tahun 1959. Dalam kariernya sebagai pemain, Liang meraih medali emas Asian Games 1974 dan Kejuaraan Asia serta Asian Games 1978 di tunggal putri. Pada 1987 dia kembali ke Indonesia untuk melatih di PB Djarum dan kemudian Pelatnas PBSI. Keluarga Besar Hermawan Susanto Hermawan Susanto bersama istri, Sarwendah Kusumawardhani dan putranya Andrew Susanto. (Sarwendah Badminton Club). Kendati kalah menonjol dari pebulutangkis seangkatannya macam Alan Budikusuma atau Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto bukanlah pebulutangkis sembarangan. Di eranya, mengutip , selain langganan juara sejumlah turnamen terbuka, Hermawan juga berkalung medali perunggu Olimpiade 1992, serta turut meraih Thomas Cup 1994. Darah bulutangkis pria kelahiran Kudus, 24 September 1967 itu mengalir dari kedua orangtuanya, Agus Susanto dan Megah Idawati. Agus merupakan salah satu pionir bulutangkis Indonesia dan anggota tim Indonesia di Thomas Cup 1967, tim yang dikerjai ofisial bernama Herbert Scheele. Agus juga merupakan satu dari dua pelatih awal Swie King di PB Djarum, sejak 1971. Sementara, Idawati bersama kakaknya, Megah Inawati, merupakan anggota tim Indonesia di Uber Cup 1966. Idawati bersaudari merupakan adik Liem Swie King. Hermawan kemudian menikahi ratu bulutangkis Sarwendah Kusumawardhani pada 5 Mei 1995 sebelum gantung raket dua tahun kemudian. Sarwendah merupakan “wakil” Susi Susanti di nomor tunggal putri. Prestasinya antara lain ikut menjuarai Piala Sudirman 1989, juara Kejuaraan Dunia 1990, dan emas SEA Games (1989, 1991,1993). Jejak mereka kini tengah diteruskan putranya, Andrew Susanto. Jejak Kiprah Denny Kantono Denny Kantono dan putrinya, Serena Kani. (pbdjarum.org). Pamornya memang tak sementereng Hariyanto Arbi atau Alan Budikusuma. Pun begitu, Denny Kantono tetap dianggap salah satu legenda PB Djarum. Fotonya terpampang di deretan 20 figur Hall of Fame di GOR Jati, Kudus kala bertandang ke pusat pelatihan bulutangkis terbaik se-Asia itu medio Desember 2018. Prestasi atlet kelahiran Samarinda, 12 Januari 1970 itu meliputi emas SEA Games (1995), Thomas Cup (1996 dan 2000), Kejuaraan Dunia (1995), dan perunggu Olimpiade Atlanta 1996. Selain itu, juara kejuaraan terbuka di Polandia, Prancis (1993), dan Indonesia (1996). Jejak bulutangkis Denny menurun ke putrinya, Serena Kani, yang kini masih jadi atlet binaan PB Djarum. “Aku main bulutangkis awalnya ingin seperti papa, jalan-jalan terus ke luar negeri. Juara-juara. Awalnya hanya main-main tapi akhirnya malah senang dengan bulutangkis,” sebut Serena, dilansir , 23 Februari 2012.
- Awal Kejayaan Pasar Swalayan
Senin sore 23 Agustus 1971 menjadi saat bersejarah bagi pasangan suami-istri Muhamad Saleh Kurnia dan Nurhajati. Mereka membuka supermarket pertama di Indonesia bernama HERO Mini Supermarket. “Belum pernah ada pedagang yang merintis atau mengelolanya,” kata Nurhajati kepada Wong Tung To dalam Perintis Ritel Modern Indonesia : Memoar Pendiri Grup HERO. Pesta kecil pun digelar. Kurnia dan Nurhajati mengundang sahabat, teman, dan mantan guru SMA-nya ke HERO di Jalan Falatehan 1 No. 23, Jakarta Selatan. Mereka bersulang cocktail dan melambungkan harapan untuk HERO. “Semoga laris manis dan banyak untung,” kata mereka. Mewujudkan harapan tersebut tak semudah mengucapkannya. HERO masih asing bagi sebagian besar orang Jakarta. Para produsen dan pemasok barang lokal belum mengenal HERO. Kurnia dan Nurhajati harus mengejar produsen dan pemasok hingga ke Singapura. Ini berarti supermarket tak bisa langsung meraih hasil untung. Tapi tantangan tersebut tak menyurutkan pengusaha lain untuk meramaikan bisnis supermarket . Nurhajati mengisahkan sebuah toko P&D di seberang HERO berubah konsep menjadi supermarket pada 1972. P&D merupakan kependekan dari Provisien&Dranken . Istilah ini berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut toko ritel makanan dan minuman di pinggir jalan ramai. Nurhajati tidak menyebut nama supermarket tersebut dalam bukunya. Historia menelusuri bahwa supermarket tersebut bernama Gelael. Pendirinya Dick Gelael. Dia pemilik toko P&D di Jalan Falatehan sejak 1957. “Ia banyak mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk belajar mengelola supermarket ,” tulis Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia . Pembeli kelas menengah Setelah HERO dan Gelael, supermarket lain bermunculan. Sebut saja Sarinah Jaya, Grasera, Tomang Tol, dan Metro pada 1970-an. Lalu ada Golden Truly pada 14 Januari 1984. Mereka disebut ritel berskala besar karena modal tetapnya bernilai Rp100 juta dengan luas bangunan sekira 1000 meter persegi. Berbelanja ke supermarket adalah pengalaman baru bagi banyak orang Indonesia pada awal 1970-an. Sebelum masa ini orang terbiasa membeli barang kebutuhan sehari-hari seperti bahan pangan, daging, sayur, bebuahan, dan minuman ke warung terdekat, pasar tradisional, dan pedagang keliling. Tegur sapa dan tawar-menawar antara pembeli dengan penjual adalah kemestian. Sekelompok kecil orang telah mengenal supermarket dari bahan bacaan dan pengalaman mereka di luar negeri. Kelompok inilah target utama supermarket . Mereka terdiri atas kelas menengah kota dan pekerja asing. “Saat itu penduduk lokal masih belum mencapai taraf berbelanja seperti ini,” kata Nurhayati. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 1968 telah membentuk dan memperluas kelas menengah di kota-kota besar seperti Jakarta ketimbang di kota lainnya. Gambaran ini terlihat dari tingkat pendapatan mereka. “Penerimaan per kapita di kota Jakarta yang dilaporkan 11 persen lebih tinggi daripada rata-rata kota lain,” tulis Anne Booth dan R.M. Sundrum dalam “Distribusi Pendapatan” termuat di Ekonomi Orde Baru . Kenaikan pendapatan kelas menengah kota berasal dari penerimaan negara di sektor minyak dan gas. Pegawai-pegawai yang menangani penjualan minyak dan gas mendadak jadi orang kaya baru. Bersama itu gaya hidup mereka ikut berubah. Mereka ingin berbelanja dengan nyaman dan praktis. Dan supermarket menawarkan dua hal tersebut. Kemunculan kelas menengah kota dan pekerja asing ditopang pula oleh kehadiran usaha manufaktur di sekitar Jakarta. Rata-rata investasi manufaktur berasal dari modal asing. Pekerja asing pun turut masuk ke Jakarta. Sekaligus juga mencipratkan “Keuntungan kepada mereka yang berpendidikan lebih tinggi.” Begitu menurut Anne dan Sundrum. Dari kondisi itulah supermarket menerapkan kebijakan penyediaan barang dan penentuan harga. Barang-barang yang dijual berbeda dari kebutuhan masyarakat pada umumnya. Hampir 90 persen barang impor, menurut Kompas , 15 Juli 1974. Barang-barang tersebut mengikuti selera dan kebutuhan kelas menengah kota dan pekerja asing. Harganya juga berada di atas jangkauan orang kebanyakan. Maka muncul anggapan dari banyak orang bahwa supermarket ditujukan hanya untuk segelintir orang berduit. Mau masuk ke sana pun harus berpakaian necis. Demikian gambaran sejumlah orang tentang supermarket, tersua dalam Kompas , 7 November 1977. Ali Sadikin, gubernur Jakarta 1966-1977, juga mengakui hal serupa. “Toko serba ada di Indonesia saat ini hanya untuk orang-orang berduit saja,” kata Ali dalam Kompas , 15 Juli 1974 ketika menghadiri peresmian cabang kedua HERO di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Perkataan Ali Sadikin mengaburkan batas antara supermarket dan department store (toserba). Ini bisa dimaklumi mengingat sejumlah supermarket di berbagai negara maju pun telah menjual barang-barang khas toserba seperti pakaian dan alat-alat rumah tangga. Begitu pula sebaliknya: toserba menjual barang khas supermarket . Ali Sadikin menganggap penting kehadiran supermarket dan toserba. “Sebagai salah satu sumber penghasilan negara,” kata Ali dalam Kompas , 15 Juli 1974. Dia berupaya menciptakan iklim yang nyaman bagi kehadiran supermarket dan toserba. Tetapi Ali Sadikin tak mau pemerintah daerah ikut-ikutan berbisnis supermarket dan toserba, mengacu pada pengalaman kegagalan Pemerintah mengelola Toserba Sarinah. Masalah supermarket Berbeda dari Ali Sadikin, Tjokropranolo (gubernur Jakarta 1977-1982) justru merisaukan kehadiran supermarket. “Akibat sosialnya lebih besar daripada pajak yang diterima pemerintah,” kata Bang Nolly, panggilan akrab Tjokropranolo, dalam Kompas , 7 November 1977. Bang Nolly menganggap supermarket menghilangkan pekerjaan tukang sayur. Asumsi Bang Nolly berangkat dari barang-barang jualan di supermarket : sayur, buah, dan daging. Barang-barang yang juga dijual oleh tukang sayur keliling. Tapi pengusaha supermarket menolak klaim Bang Nolly. Mereka bilang target pasar mereka berbeda dari tukang sayur. Target mereka ialah orang-orang menengah atas kota dan pekerja asing. Masing-masing sudah punya pasar sendiri. Lagipula, menurut mereka, supermarket memperoleh pasokan sayur dari petani dan pedagang di pasar tradisional. Jumlah supermarket di Jakarta mencapai 26 gerai memasuki 1980-an. Mereka mulai mendesak pasar tradisional. “Kini karena adanya persaingan antar supermarket itu sendiri, harga barang dengan mutu dan ukuran yang sama, jauh lebih murah di supermarket dibandingkan dengan di pedagang pengecer di luar supermarket , bahkan di kaki lima,” kata Tini Hadad, dulu sebagai sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) dalam Prisma, No 7, Juli 1987. S upermarket yang berani banting harga adalah Golden Truly. Pendirinya Sudwikatmono, pengusaha yang dekat dengan Presiden Soeharto dan taipan Liem Sioe Liong (Sudono Salim) yang memiliki bisnis makanan dari hulu ke hilir. Strategi Golden Truly tak hanya mengancam pengusaha supermarket lain, tapi juga peritel skala kecil dan menengah. Pemerintah daerah Jakarta mulai menerapkan aturan main untuk supermarket . Tercatat dua Surat Keputusan Gubernur keluar pada 1983 dan 1985. Pertama , SK No 240/1983 tentang kewajiban pengusaha supermarket menyediakan ruang usaha bagi pedagang golongan ekonomi lemah di bangunan supermarket . Kedua, SK No 241/1985 tentang ketentuan pendirian supermarket . Misalnya supermarket harus berbadan hukum. Ada pula ketentuan jarak antara pasar swalayan dan pasar tradisional. Berkisar dari 500 meter hingga dua kilometer. Tergantung besar kecilnya pasar tradisional tersebut. Selain itu ada larangan penggunaan istilah supermarket . Istilah penggantinya adalah pasar swalayan. Seiring waktu dan perubahan keruangan kota, aturan tersebut tak relevan lagi. Pasar swalayan pun mulai muncul di berbagai kota di luar Jakarta. Letaknya suka-suka. Seringkali berada di permukiman. Atau berdekatan dengan pasar tradisional dan usaha peritel skala kecil dan menengah.
- Skandal Polisi Curup
INSPEKTUR kepala JJ Harlingen bersemangat. Setelah “diistirahatkan” cukup lama, dia mendapat tugas baru sebagai komandan detasemen Polisi Lapangan (Veldpolitie) di Curup, Rejang Lebong, Bengkulu. “Korps Polisi Lapangan dan Dinas Reserse Daerah didirikan dalam tahun 1920. Adapun maksud pembentukan Polisi Lapangan adalah untuk menyelenggarakan keamanan di daerah luar kota,” tulis Soeparno Soeriaatmadja dalam Sedjarah Perkembangan Kepolisian dari Zaman Klasik-Modern . Tugas baru itu menjadi kesempatan emas buat Harlingen, yang dikenal reputasinya sebagai polisi intelek, membuktikan kecakapannya sebagai polisi. Tugas itu sekaligus tempat untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dalam penugasan sebelumnya di Muara Enim. Di Muara Enim, Harlingen kehilangan muka akibat lalai dalam tugas. Kelalaiannya membuat para bawahannya leluasa menggunakan kekerasan, hal yang penggunaannya hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat, dan melakukan perampasan kebebasan secara melawan hukum. Kepolisian dan pemerintah pusat di Batavia dibuat malu. Jaksa agung langsung mencopot Harlingen dari jabatannya. Affair Harlingen memulai tugasnya di Curup pada Februari 1935. Selain bertanggung jawab atas keamanan 30 bawahan langsungnya dan wilayah Curup, dia bertanggung jawab mengawasi detasemen Polisi Lapangan yang ditempatkan di Moeara Anam dan Kroe. Beratnya tugas Harlingen tak semata berasal dari luas dan terpencilnya wilayah kerja saja. Penduduk setempat, yang hidup dalam kelompok-kelompok kecil bernama marga yang dipimpin pasirah , memandang sebelah mata Polisi Lapangan dan penduduk Curup juga dikenal Harlingen, berdasarkan gambaran negatif dari pemerintah, sebagai masyarakat yang gemar merampok dan membunuh. Tantangan berat itu memicu semangat Harlingen untuk membuktikan kinerjanya. Dalam waktu sembilan bulan, Polisi Lapangan berhasil menuntaskan 76 kasus yang terkatung-katung penyelesaiannya sembari terus mengungkap kasus-kasus baru. Dengan bangga Harlingen menuliskan 15 kasus pembunuhan yang diungkap detasemennya di Majalah DePolitie edisi Desember 1935. Mayoritas pembunuhan, menurutnya, dilakukan penduduk Redjang dengan korban pendatang asal Jawa yang dikontrak untuk menggarap perkebunan. Motif pembunuhan umumnya masalah ekonomi dan kecemburuan sosial. Kasus pertama yang berhasil diungkap Polisi Lapangan adalah pembunuhan perempuan Jawa bernama Mar oleh pria Redjang bernama Moer. Kasus paling spektakuler dari kinerja anak buah Harlingen itu rekonstruksinya diabadikan menggunakan foto dan pelakunya menunjukkan tengkorak korban yang disembunyikan di bawah sebuah pohon. Tengkorak itu lalu diambil Harlingen dan diletakkan di meja kerjanya. “Tengkorak Ibu Mar menjadi perlambang dari keberhasilan Harlingen. Itulah yang menjadi titik tolak bagi ikhtiarnya untuk membersihkan untuk selamanya wilayah Redjang dari gerombolan penjahat yang dalam bayangannya sudah menjadi ancaman mengakar yang serius,” tulis Marieke Bloembergen dalam Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan . Namun, upaya Harlingen memajang tengkorak Ibu Mar justru menjadi blunder. “Tengkorak itu kerap digunakan oleh Harlingen untuk mengancam dan menakut-nakuti tersangka atau saksi, yakni agar mereka mau mengaku atau memberi keterangan yang diperlukan dalam penyidikan.” Pers mencium ketidakberesan penanganan kasus-kasus oleh detasemen Harlingen. Selain berangkat dari kecurigaan pada banyaknya kasus yang berhasil diungkap Polisi Lapangan dalam waktu relatif singkat, pers juga curiga terhadap banyaknya laporan saksi kepada jaksa agung mengenai banyak nama orang yang disebut sebagai korban pembunuhan ternyata masih segar-bugar. Pers mencurigai kasus-kasus yang diungkap Polisi Lapangan sebagai kasus fiktif. Hal itu diperkuat dengan tidak adanya korban yang berhasil ditemukan setelah Ibu Mar. Dalam pembuktian kasus-kasusnya, Harlingen hanya menyebut keterangan para saksi dan tersangka. Dari laporan para saksi dan tersangka, pers juga mendapati penggunaan kekerasan oleh polisi kepada saksi atau tersangka selama proses penyidikan. Sorotan terhadap kinerja Polisi Lapangan makin tajam saat sebuah kasus diberitakan Javabode edisi 20 Oktober 1935. Kasus itu bermula dari penangkapan seorang tersangka. Saat digelandang ke markas Polisi Lapangan untuk diinterogasi, tersangka mencoba melarikan diri. Polisi terpaksa menangkap dan memukulinya sampai pingsan dan darah keluar dari hidung dan telinganya. Tersangka itu lalu dimasukkan ke dalam sel. Keesokan harinya, dia ditemukan tewas. Berita yang tersebar, tahanan itu kemungkinan bunuh diri. Kabar kematian tahanan itu membuat geger pemerintah di Batavia. Anggota Volksraad Soetardjo Kartohadikoesoemo pada 30 Oktober mendesak pemerintah menyelidiki kasus tersebut plus kinerja kepolisian Curup. Jaksa agung, yang sebelumnya kerap menerima surat aduan dari penduduk di Redjang, langsung menindaklanjutinya dengan memerintahkan Residen Bengkulu (dulu Bengkoelen) W. Groeneveldt untuk menyelidiki dan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Curup. Laporan Groeneveldt tidak memuaskan pemerintah pusat. Pada awal 1936, jaksa agung mengirim wakilnya, Van Maanen, untuk mengambilalih penanganan kasus di Curup. Begitu tiba di lokasi pada pertengahan Januari 1936, Van Maanen langsung melekakukan investigasi. Dia mewawancarai banyak orang: Harlingen, anggota Polisi Lapangan, pejabat kulit putih dan pribumi, korban, saksi, dan para pengirim surat aduan. Van Maanen juga memeriksa berkas-berkas terkait, mulai berita acara pemeriksaan polisi, buku register harian kepolisian, hingga berita acara Rapat atau perkumpulan yang terdiri dari pasirah dan masyarakat Redjang. Banyak kejanggalan dan pelanggaran serius oleh kepolisian dan pengadilan yang ditemukan Van Maanen. Namun, dia kesulitan memastikan apa yang sebenarnya terjadi di Curup. “Tidak ada satu pihak pun yang berdiri netral dalam kasus Tjoeroep. Semua pihak, para kepala marga, informan-mata-mata polisi, reserse, tersangka, saksi-saksi, para pelapor –bahkan juga komandan kepolisian setempat dan pemerintah Eropa (residen Van der Poel dan komisaris besar polisi, Wilten, keduanya lalai mengawasi kinerja polisi lapangan dan peradilan), memiliki agenda dan kepentingan yang berbeda-beda,” tulis Marieke. Meski dengan sangat hati-hati, Van Maanen menuliskan laporannya secara teliti dan kritis. Ada beberapa poin yang dilaporkannya. Antara lain, Polisi Lapangan Curup menggunakan metode penyidikan yang amat menyimpang dari prosedur, Polisi Lapangan menggunakan kewenangannya untuk merampas kebebasan secara melawan hukum, sembarangan dalam menetapkan status tersangka dan saksi, korup, intimidatif, dan intervensif terhadap proses pengadilan. Dari penyelidikan itu pula Van Maanen menemukan banyak kasus pengungkapan kasus pembunuhan yang dibanggakan Harlingen sebenarnya tidak pernah terjadi. “Van Maanen setidak-tidaknya mengungkap dua kasus laporan palsu. Salah satunya berkenaan dengan kasus pembunuhan Ibu Mar: rekonstruksi foto pembunuhan tersebut ternyata diperoleh berdasarkan keterangan seorang tersangka yang mendapat tekanan dan itu pun kemudian ia terbukti bukan pelakunya,” tulis Marieke. Atas temuan itu, Van Maanen merekomendasikan agar Harlingen dimutasi dan dihadapkan ke pengadilan pidana. Sementara mendiskusikan rekomendasi Van Maanen, jaksa agung memutuskan untuk membatalkan proses pemeriksaan pengadilan yang sedang berjalan dari kasus-kasus pembunuhan di Curup karena dianggap tidak berkekuatan hukum. Pemerintah pusat sepakat menganggap Skandal Curup mencemari kewibawaan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, para petinggi di pusat menjatuhkan sanksi administratif ringan kepada para pejabat pemerintahan lokal. Harlingen sendiri dipindahtugaskan ke Bengkulu pada Februari 1936 dan hanya diberi kewenangan mengerjakan pekerjaan administratif sementara tuntutan pidana terhadapnya tetap berjalan. Harlingen menjalani sidangnya di Raad van Justitie (pengadilan untuk golongan Eropa) Padang selama 14 hari pada Desember 1937. Meski jumlahnya sudah dikurangi, dakwaan terhadapnya meliputi tiga hal. Pertama , merampas kemerdekaan secara melawan hukum; kedua , pemalsuan surat; ketiga , menggunakan paksaan atau ancaman kekerasan untuk mendapat pengakuan. Pengadilan akhirnya memutus bebas Harlingen karena menganggap dakwaan yang dituduhkan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Pemerintah, tulis Marieke, akhirnya menyelesaikan perkara Harlingen dengan cara yang kerap dipergunakan untuk menutup kasus-kasus serupa. Pada awal 1939, Harlingen diberitahu akhir April harus sudah berhenti atau mundur dari kedinasan. Kesempatan emas itu dimanfaatkan Harlingen dengan mengajukan pengunduran diri. Dia mendapatkan pemberhentian dengan hormat. Nama baiknya selamat dari pencorengan publik. "Dengan mengambil tindakan setengah hati dan menyapu ‘cara kerja kepolisian yang jorok’ ke bawah karpet, negara kolonial berhasil mencegah eskalasi afair di atas menjadi skandal publik,” tulis Marieke.
- Tukang Pukul dari Ternate
TANPA kenal lelah, tangan kanan Richard Mainaky terus mengayunkan raket untuk memukul kok yang diumpan tangan kirinya. Laju demi laju deras kok itu lalu mengarah ke Gloria Emanuelle Widjaja yang berada di seberang net. Begitu intensnya Richard menggojlok skill antisipasi anak asuhnya itu sampai tumpukan kok yang ada ludes. Gloria merupakan satu dari beberapa anak didik Icad (sapaan akrab Richard Mainaky) di Pelatnas PBSI, di mana dia sudah lebih dari dua dekade jadi spesialis pelatih ganda campuran. Pagi itu, Jumat 11 Januari 2019, Icad sedang tidak membesut pasangan top Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir lantaran keduanya sedang rehat untuk menghadapi Indonesia Masters 2019, yang –dihelat pada 22-27 Januari– akan jadi turnamen perpisahan Liliyana sebelum pensiun. Kendati usianya sudah 53 tahun, Icad masih segar dan fisiknya masih tegap dan kekar bak tukang pukul. Kerasnya genggaman saat bersalaman menandai reputasinya, yang kadang dijuluki “pelatih bertangan besi” atau “raja tega” oleh beberapa pemain binaannya. “Saya prinsip begini. Sebenarnya pelatih itu bukan pintar ya. Dia harus mau tegas, disiplin, kerja keras. Itu yang membuat atlet berhasil. Kalau pelatih cuma pintar tapi tidak tegas dan kerja keras, mau pemain bagaimanapun, akan sulit. Jadi saya punya prinsip harus tegas, agar pemain punya disiplin dan semua harus jalan,” ujarnya kepada Historia. Perantau dari Indonesia Timur Lahir di Ternate, Maluku Utara pada 23 Januari 1965, Richard Leonard Mainaky memiliki perangai keras. Icad gemar bertualang, berburu kelelawar, hingga berkelahi. Dalam 50 Kisah Sukses dan Inspiratif Diaspora Indonesia karya Fairuz Mumtaz disebutkan, Icad jadi anggota Dinasti Mainaky pertama yang lantas jadi panutan empat dari enam adiknya: Rionny Frederik Lambertus Mainaky, Rexy Ronald Mainaky, Marleve Mario Mainaky, dan Karel Leopold Mainaky. Richard Leonard Mainaky saat ditemui di Pelatnas PBSI. (Randy Wirayudha/Historia) Icad dan adik-adiknya dikenalkan bulutangkis oleh ayahnya, Jantje Rudolf Mainaky. “Papi saya itu juara bulutangkis se-Maluku. Jadi Papi saya kirim kita semua main bulutangkis. Padahal dulu zaman kecil, bukan itu cita-cita kami. Saya ingin jadi tentara. Rexy sebenarnya hobi sepakbola, Marleve senangnya tinju,” kenang Icad. Icad diarahkan bulutangkis oleh pamannya saat sudah diajak merantau ke Jakarta. Dia lalu masuk PB 56 dan dilatih Darius Pongoh, ayah dari pebulutangkis era 1980-an Lius Pongoh. Saat PB 56 bubar, Icad dibawa Darius ke PB Tangkas hingga mampu menembus Pelatnas PBSI Senayan pada 1989. Sayang, di Pelatnas kariernya kurang moncer. Penyababnya, tulis Broto Happy Windomisnowo dalam BaktikuBagiIndonesia , kemungkinan lantaran pelatih Christian Hadinata dan Atik Djauhari kerap membongkar-pasang Icad. Hingga awal 1990, Icad bergonta-ganti spesialisasi dari tunggal putra ke ganda putra, lantas ke ganda campuran. Dari gonta-ganti itu pula Icad punya banyak pasangan. Bermula dari Joko Mardianto, Icad lalu berpasangan dengan Icuk Sugiarto, Aryono Miranat, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Thomas Indratjaya, hingga Ricky Subagdja. Tapi sampai diduetkan dengan Ricky, karier Icad pun sulit terdongkrak. Prestasi terbaik Icad bersama Ricky hanya menjuarai Polish International pada 1991. Tiga tahun berselang Icad, mundur dari Pelatnas. Dari debt collector ke pencetak juara Setelah pensiun dari Pelatnas, Icad ikut melatih di PB Tangkas selama dua tahun. Tapi lantaran masih banyak waktu luang, Icad sering ikut pamannya jadi debt collector alias penagih hutang. “Sambil melatih kan banyak lowong (waktu) ya. Ya namanya kita dari Maluku, kan . Kebetulan ada saudara saya, Om saya, semua kan memang pekerjaannya begitu. Ada yang jadi bodyguard lah, ada yang jadi preman lah, ada yang jadi tim debt collector.Nah , saya sempat ikut nagih-nagih hutang,” tutur Icad. Pada 1996, Icad kembali terjun ke dunia bulutangkis dengan menjadi pelatih di Pelatnas. “Awalnya sudah mulai keenakan jadi debt collector , tapi lalu dipanggil Koh Chris (Christian Hadinata). Ya saya senang. Beruntunglah saya. Kalau Koh Chris enggak panggil, mungkin ya bisa keterusan. Bisa-bisa jadi kayak John Kei, hahahaha …,” ujar Icad sambil bercanda. Selain banyak belajar dari Christian Hadinata, Icad mengaku mengandalkan insting dalam melatih. Takdir mengatakan, Icad ternyata lebih sukses jadi pelatih ketimbang jadi pemain. Kesuksesan Icad melatih dibuktikan antara lain dari prestasi duet ganda campuran Tri Kusharjanto/Minarti Timur yang prestasi tertingginya meraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 dan keberhasilan Nova Widiyanto/Liliyana Natsir juara dunia tahun 2005. Icad kemudian membesut Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet). Keduanya berhasil juara All England, Kejuaraan Dunia, dan yang paling membanggakan, meraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Hampir bersamaan dengan masuknya Liliyana Natsir ke PB Djarum, Icad juga turut bergabung ke PB Djarum. Sejak 2018, Icad turut membantu memantau bibit-bibit muda di Audisi Umum PB Djarum selain sibuk mempersiapkan pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti untuk jadi penerus Owi/Butet.






















