top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Just Mercy, Tiada Kata Terlambat untuk Keadilan

    LANGIT mulai temaram saat Walter ‘Johnny D’ McMillian (diperankan Jamie Foxx) berkendara di sebuah jalan sepi di Monroeville, Alabama pada suatu petang di bulan Juni 1987. Perjalanan pulang itu dinikmatinya sambil menghayati lagu “Ode to Billie Joe” yang ditembangkan Martha Reeves & the Vandellas dari radio. Namun, tiba-tiba mobilnya dicegat aparat Kepolisian Monroe County. John n y diciduk begitu saja tanpa dijelaskan kesalahannya, lalu dijebloskan ke penjara. Kenyataan pahit kemudian menghampiri pengusaha pengolahan kayu berkulit hitam itu. Ia didakwa membunuh gadis kulit putih berusia 18 tahun, Ronda Morrison, pada 1 November 1986. Pengadilan distrik memvonis Johnny bersalah walau tanpa bukti. Hakim menghukum mati Johnny sekadar berdasarkan kesaksian amat meragukan dari residivis Ralph Myers (Tim Blake Nelson). Johnny pun dijebloskan ke Lapas Holman dan masuk daftar “ death row ” alias menunggu waktu eksekusi yang belum ditentukan. Baca juga: Richard Jewell dalam Kemelut Bom Olimpiade Begitulah sutradara Destin Daniel Cretton membuka film Just Mercy. Drama biopik berdasarkan kisah nyata ini diadaptasi dari memoar pengacara HAM Bryan Stevenson bertajuk Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Cretton tak bertele-tele dalam menghadirkan sosok Stevenson (Michael B. Jordan) yang tetiba datang untuk jadi juru selamat Johnny pada alur cerita berikutnya. Pengacara muda lulusan Universitas Harvard itu punya motivasi tersendiri dalam membela tahanan yang kasusnya meragukan seperti Johnny. Tokoh Herbert Richardson, veteran Perang Vietnam yang gagal diselamatkan Bryan Stevenson. (Warner Bros.). Dibantu advokat setempat, Eva Ansley (Brie Larson), Stevenson mendirikan lembaga bantuan hukum Equal Justice Initiative yang didanai The Southern Prisoners Defense Committee. Selain Johnny, ada lima klien lain di daftar “ death row ” yang ditangani Stevenson. Salah satunya veteran Perang Vietnam Herbert Richardson (Rob Morgan). Perjuangan Stevenson dan Ansley jelas sarat gangguan. Beragam intimidasi, termasuk ancaman bom, mereka terima walau itu tak menyurutkan niat mereka membantu keenam klien. Konflik keduanya juga terjadi dengan Sheriff Tom Tate (Michael Harding) dan jaksa distrik Tommy Chapman (Rafe Spall) yang cenderung rasis dan bersikeras Johnny bersalah kendati tanpa bukti kuat. Baca juga: Medali Pahlawan Perang Vietnam yang Dipertanyakan Nurani Stevenson makin terpukul ketika upayanya membela Richardson gagal. Veteran Perang Vietnam itu menerima tanggal eksekusi setelah peninjauan kembali (PK) yang diajukan Stevenson ditolak Mahkamah Agung Negara Bagian Alabama. Bagaimana proses dan hasil perjuangan Stevenson agar tak kecolongan lagi dalam menyelamatkan Johnny dari eksekusi mati? Saksikan sendiri kelanjutan drama Just Mercy di aplikasi daring Mola TV. Diskriminasi Hukum Selain menyisipkan lagu-lagu bergenre soul khas Afro-Amerika di era 1980-an, Cretton mengiringi adegan-adegan diskriminatif dengan music scoring orisinil nan mengharukan karya komposer Michael West. Suasana adegan demi adegan tambah terasa nyata karena pengambilan gambarnya dilakukan di Alabama, negara bagian dengan tingkat diskriminasi tinggi. Cretton mencoba menggarapnya seotentik mungkin dengan menulis skenario berdasarkan memoar Stevenson yang juga terjun langsung jadi konsultan. Beberapa cerita tak didramatisir berlebihan dan Cretton mengupayakan adegan-adegan di ruang pengadilan senyata mungkin lewat arahan Stevenson. “Adegan-adegan di ruang pengadilan paling membuat saya dan Michael B. gugup hanya karena kami ingin membuatnya senyata mungkin. Tetapi Michael B. didampingi Stevenson terkait pertanyaan-pertanyaan tertentu dalam menghadapi saksi dan tentunya bahasa tubuh, agar bagaimana dia sebagai pengacara muda Afro-Amerika bisa tetap tegar menghadapi sistem peradilan yang dikuasai orang kulit putih,” ungkap Cretton, dilansir Collider , 29 Desember 2019. Baca juga: Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih Michael B. Jordan (kiri) & Jamie Foxx yang memerankan tokoh utama Bryan Stevenson & Walter 'Johnny D' McMillian. (Warner Bros.). Walau kemasannya semi-dokumenter dengan gaya klasik dan minim plot twist tentang perjuangan mendobrak sistem rasis dan diskriminatif, toh Just Mercy tetap menuai banyak pujian. Selain karena kisah nyatanya inspiratif, Just Mercy cukup laris di pasaran dengan meraup keuntungan dua kali lipat dari budget -nya, 25 juta dolar. Kesuksesan itu antara lain berkat penampilan Foxx dan Michael B. sebagai dua tokoh utama yang berhasil memancing empati penonton. “Tak seperti kebanyakan film berlabel ‘berdasarkan kisah nyata’, Just Mercy tetap setia pada fakta-fakta kasusnya. Terlebih fakta-faktanya sendiri sudah merupakan drama tersendiri,” kata kritikus Ty Burr di Boston Globe , 8 Januari 2020. Walau kisah nyata itu sudah berlalu tiga dekade, isunya sampai kini masih sangat relevan. Mayoritas masyarakat Afro-Amerika di sejumlah negara bagian selatan Amerika mengalami diskriminasi dalam sistem hukum yang dikuasai orang kulit putih. Baca juga: Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7 Just Mercy berhasil membuka kembali problem klasik tentang bagaimana terdakwa dan tahanan Afro-Amerika lazimnya tak mendapatkan hak hukum semestinya. Penderitaan mereka bertambah berat karena sedikit pihak yang mau peduli. Stevenson yang datang dari belahan utara Amerika salah satu yang peduli. Baginya, “tidak ada kata terlambat bagi keadilan.” Perkara serupa yang dialami tokoh Johnny dan Richardson –yang kemudian dieksekusi mati sebelum kasusnya berhasil ditinjau ulang– jadi bukti ketidakberesan sistem hukum bagi orang-orang kulit hitam. Cretton menegaskannya dalam keterangan tersurat di akhir film: “Dari sembilan orang yang masuk daftar ‘ death row ’ dan diseksekusi di Amerika, satu di antaranya terbukti tak bersalah dan dibebaskan, sebuah angka kesalahan (sistem hukum) yang mengejutkan.” To Kill a Mockingbird “Home of ‘To Kill a Mockingbird,’” demikian bunyi tulisan di papan jalan menuju Monroeville. Beberapa orang kulit putih yang ditemui Stevenson selalu menganjurkannya untuk mengunjungi museum yang dinamakan dari novel laris era 1960-an karya Harper Lee itu. Bagi Stevenson, novel itu memuat ironi karena menyelipkan kisah ketidakadilan rasial orang kulit putih terhadap Afro-Amerika. Di kota kecil itulah Johnny D lahir pada 27 Oktober 1941. Sebagaimana umumnya anak-anak Afro-Amerika, Johnny tumbuh jadi pemetik kapas. “Walau dia tinggal di Monroe County sepanjang hidupnya, Walter (Johnny D) McMillian tak pernah mendengar tentang Harper Lee atau To Kill a Mockingbird . Monroeville begitu bangga merayakan buku Harper Lee setelah jadi novel terlaris. Para petinggi kota bahkan mengubah gedung pengadilan tua menjadi museum ‘Mockingbird’,” ungkap Stevenson dalam memoarnya, Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Baca juga: Allied, Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang Johnny tak pernah tahu Harper Lee atau novel larisnya lantaran buku itu sekadar beredar di kalangan kulit putih. Toh Johnny juga tak pernah punya waktu lantaran sejak kecil sudah harus menguras keringat di perkebunan kapas. Saat dewasa dan sudah menikahi Minnie, kondisi ekonomi Johnny membaik karena punya pengolahan kayu. Namun hal itu menyeretnya ke gaya hidup yang menyimpang. Selain terlibat perdagangan ganja, Johnny sering kelayapan ke bar-bar, bahkan selingkuh dengan perempuan kulit putih bernama Karen Kelly. Sosok asli Walter "Johnny D" McMillian (kiri) & Bryan Stevenson. ( eji.org ). Pada 1 November 1986 pagi, pegawai dry-cleaning Jackson Cleaners bernama Ronda Morrison ditemukan tak bernyawa dengan tiga luka tembak di belakang kepalanya oleh beberapa pengunjung. Menurut Pete Earley dalam Circumstantial Evidence: Death, Life, and Justice in a Southern Town , laporan kepolisian dan Alabama Bureau of Investigation (ABI) menyimpulkan Ronda tewas sebagai korban perampokan dan transaksi narkoba. “Teori (kesimpulan) itu sangat pas dengan kasus rekayasa terhadap Johnny D yang mereka klaim adalah seorang bandar ganja yang biasanya melakukan pencucian uang di tempat dry-cleaning ,” ungkap Earley. Baca juga: Race , Kisah Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Selain atas dasar itu, Johnny ditetapkan sebagai tersangka sebagai kulminasi kebencian orang-orang kulit putih terhadapnya. Nama Johnny cukup dikenal karena hobinya masuk bar-bar orang kulit putih dan selingkuh dengan perempuan kulit putih. Betapapun Johnny berulangkali mengungkapkan dirinya sedang di gereja untuk makan malam dengan para jemaat di hari ketika Ronda dibunuh, Sherif Tom Tate dan pihak kejaksaan bersikeras mendakwanya. Kesaksian para anggota jemaat tak dipedulikan otoritas peradilan yang ironisnya justru mempercayai kesaksian seorang kriminal bernama Ralph Myers. Para juri kemudian memutuskan Johnny bersalah dan memvonisnya penjara seumur hidup. Namun hakim Robert E. Lee Key Jr. menolaknya dan meningkatkan hukuman menjadi hukuman mati. Ilustrasi tokoh Atticus Finch yang membela Tom Robinson dalam persidangan. ( imageofjustice.org ). Ketidakberesan kasus itu mendorong Stevenson membantu Johnny agar tak senasib dengan Tom Robinson, tokoh di novel Harper Lee. Stevenson melihat Johnny ibarat Tom yang pada 1930-an didakwa bersalah atas kasus pemerkosaan. Dalam persidangannya, Tom dibela pengacara kulit putih Atticus Finch yang sebelumnya melindungi Tom dari aksi main hakim sendiri para warga kulit putih. “Cerita tentang orang kulit hitam tak bersalah yang dengan berani dibela pengacara kulit putih begitu dikagumi jutaan pembaca. Karakter Atticus Finch dan putrinya yang masih remaja, Scout, memikat pembaca seiring mengkonfrontir mereka dengan realitas dan keadaan tentang ras dan keadilan di selatan,” sambung Stevenson. Baca juga: Seberg Melawan Arus Finch percaya bahwa Tom tidak bersalah memerkosa gadis bernama Mayella Ewell karena Tom cacat pada tangan kirinya. Namun dia nahas, tetap diputus bersalah. Ia tewas ditembak saat berusaha kabur dari penahanannya. Pengalaman pahit Tom itulah yang hendak dihindarkan Stevenson terkait nasib Johnny yang diyakininya tidak bersalah. Ketiadaan motif maupun alat bukti fisik menjadi alasan utama Stevenson. Lantas, siapa pembunuh sebenarnya? Earley yang kala itu berkarier sebagai jurnalis merangkap penulis buku kriminal mengungkapkan, setelah kasus Johnny D diliput program televisi “60 Minutes” yang ditayangkan CBS News , agen-agen ABI membuka kembali arsip-arsip tentang pembunuhan Ronda dan mengubah laporan mereka dari korban perampokan menjadi korban kekerasan seksual. “Kemudian agen-agen ABI Thomas Taylor dan Thomas Greg Cole tiba pada kesimpulan dalam mengidentifikasi tersangka sesungguhnya. Tersangka bernama samaran Howard Denmar. Saya samarkan karena dia belum pernah ditangkap dan didakwa,” imbuh Earley. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Howard tak pernah melarikan diri dan justru menikmati kesenangan kala Johnny D dihukum atas kejahatan yang dilakukan Howard. Earley sempat bertemu Howard karena dia dianggap salah satu warga Monroeville yang paling antusias membicarakan kasus Ronda Morrison. “Ia (Howard) punya obsesi yang aneh soal pembunuhan Ronda. Dia sering memberi teori-teori tertentu tentang pembunuhan itu. Tampaknya setiap ada orang baru yang tertarik pada kasus itu, Howard sudah akan tiba di depan pintu,” lanjutnya. Sebelum Howard diperiksa ABI, Earley sempat mewawancarainya. Kepada Earley, Howard memberi teori yang menyiratkan bahwa dialah pelakunya. Si pelaku, katanya, menelepon Ronda untuk mengancam setelah sehari sebelumnya terlibat pertikaian di Jackson Cleaners. “Oke, ini teori saya. Pada pagi di hari pembunuhan si penelepon mendatangi Ronda. Mungkin dia sebelumnya menelepon untuk menggoda dengan kata-kata cabul. Katakanlah mungkin si penelepon datang ke tempat itu dan Ronda tiba-tiba meneriaki dia di depan wajahnya. Ronda menjadi sangat marah dan mengancam akan telepon polisi. Mungkin si pelaku tak merencanakan untuk mengambil pistolnya dan jadi marah serta kehilangan kendali. Itu terjadi begitu saja karena mungkin orang itu panik,” tutur Howard, dikutip Earley. Setelah wawancara itu, agen ABI mendatangi Earley untuk meminta informasi tentang Howard. Howard akhirnya ditemukan dan diinterogasi walau tak ditahan. “Para agen ABI merekomendasikan Howard untuk didakwa atas pembunuhan Ronda setelah investigasi mereka rampung. Akan tetapi sejumlah pejabat kota menolak dan kemudian Howard keburu kabur ke luar kota. Ia berasal dari keluarga terpandang. Pembunuh Ronda pun tetap bebas dan tuduhan terhadap Johnny D jelas tidak adil dan semua yang mencintai Ronda masih menunggu keadilan ditegakkan,” tandas Earley. Data Film: Judul: Just Mercy| Sutradara: Destin Daniel Cretton | Produser: Gil Netter | Pemain: Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Brie Larson, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, Michael Harding, Karan Kendrick | Produksi: Endeavor Content, One Community, Macro Media, Gil Netter Productions, Outlier Society | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 129 menit | Rilis: 25 Desember 2019, Mola TV Baca juga: Spike Lee Joints , dari Malcolm X hingga Viagra

  • Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

    ANGGOTA Korps Hiu Kencana memanggilnya: Pak Zukov. Orangnya tidak begitu tinggi namun memiliki wajah keras khas Rusia. Berbeda dengan penampakan luarnya yang garang, Zukov yang konon merupakan seorang perwira Angkatan Laut Uni Soviet (soal itu memang sengaja dirahasiakan) keseharian-nya sangat ramah. “Dia mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kapal selam, terutama mengenai detil yang terkait dengan kapal selam kelas Whiskey yang memang dibuat Uni Soviet,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana TNI-AL angkatan awal. Zukov adalah salah satu dari sekira 300 anggota AL Uni Soviet yang sempat “ditugaskan” untuk mengawaki 6 kapal selam jenis Whiskey yang dibeli Indonesia. Ceritanya, sekira Juni 1962, pihak intelijen Indonesia menginformasikan HNMLS Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Kapal induk yang memiliki nomor lambung R81 itu khusus datang dari pangkalan mereka di Den Helder demi memperkuat pertahanan laut militer Belanda di wilayah Irian Barat (sekarang Papua). Informasi itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Soviet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini Perdana Menteri Nikita Krushchev. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Persoalan muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Soviet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Soviet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Suharta. Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Soviet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Soal kehadiran dan peran penting orang-orang Rusia itu diakui juga oleh F.X. Soeyatno. Bahkan tidak sekadar sebagai instruktur, mereka pun terlibat aktif dalam patroli. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu bersaksi jika mereka merupakan prajurit bawah laut yang tangguh. “Saya pernah bertugas bersama mereka mengawasi perairan sepanjang Pantai Utara Irian Barat…” ungkap eks awak kapal selam RI Tjudamani tersebut. Kesan Soeyatno terhadap mereka sangat baik. Walaupun berasal dari negara adidaya, prajurit-prajurit AL Uni Soviet itu jauh dari sikap arogan. Mereka memang tegas saat menjadi instruktur namun dalam keseharian sangat bersahabat. Kendati berbeda bangsa dan bahasa, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerja sama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Selama di Indonesia, orang-orang Rusia itu ditempatkan di Asrama KPALU masuk kawasan Dermaga Ujung, Surabaya. Hidup mereka sehari-hari ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah RI. Menurut Suharta, cukup sulit bagi orang luar untuk menemui mereka. Selain sibuk mengajar calon awak kapal Indonesia, orang-orang Rusia itu pun tidak sembarangan bergaul kecuali dengan para anak didik mereka. Tetapi menurut Kolonel (Purn) Arifin Rosadi, kehadiran tenaga tempur Rusia di pihak Indonesia sempat sampai ke telinga pihak Belanda dan Amerika Serikat (AS). Kedua-nya tentu sangat mengkhawatirkan kehadiran orang-orang Rusia itu di Indonesia akan memantik perang dunia ketiga. Bisa jadi karena pertimbangan itu, Belanda pada akhirnya mau maju ke meja perundingan. “Andaikan Belanda ngeyel dan perang pecah di Irian, tentara Rusia itu akan dicatat dalam sejarah sebagai tentara Blok Timur pertama yang langsung berhadapan dengan Belanda yang mewakili Blok Barat ,” ungkap eks Kepala Kamar Mesin RI Nagabanda itu. Ketika konflik Indonesia-Belanda mulai mereda, sejak Agustus 1962, secara bertahap orang-orang Rusia pun mulai pulang kampung. Ada cerita menarik ketika orang-orang Rusia itu tahu bahwa perang akan berakhir. Alih-alih bergembira, mereka malah agak kecewa. Mengapa? Ternyata mereka telah dijanjikan oleh Perdana Menteri Kruschev: jika mereka kembali ke Uni Soviet dalam keadaan hidup dan lolos dari peperangan yang terjadi di Indonesia, maka mereka akan dimutasikan ke kapal selam nuklir. “Karena peperangan tak jadi meletus, mereka mengira mutasi pun akan dibatalkan,” ungkap Suharta. Tetapi di depan para komandannya, soal itu segera ditutupi. Mereka tetap menunjukan disiplin yang kuat. Namun bisa jadi itu mereka lakukan untuk menghindar dari pengaduan komisaris politik yang ada di setiap kapal selam. Memperlihatkan sikap membangkang pada perintah atasan, bagi tentara Uni Soviet adalah kiamat. Karena bisa jadi dosanya tak terampuni.

  • Setetes Air di Tanah Gersang

    DAHULU kala, sekelompok masyarakat tinggal di kawasan gersang yang kini menjadi Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Kalau musim kemarau angin menjadi lebih kering dari biasanya.  Di area sekitarnya pun tak ada mata air. Padahal mereka hidup dari bercocok tanam. Orang-orang Cepit di masa lalu mengandalkan rumah peribadatan yang kini dikenal sebagai Candi Banyunibo. Nama itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan air ( banyu ) yang jatuh atau menetes ( nibo ). Keberadaan candi ini diharapkan bisa mendatangkan hujan yang membuat sawah dan kebun mereka terus bersemi.  Agar tanah subur dan keluarga mereka hidup sejahtera, mereka juga mengandalkan Hāritī ( Dewi Kesuburan) dan Kuvera atau Atavaka (Dewa Kemakmuran). Kedua sosok ini terpahat di dinding candi. Candi Banyunibo merupakan sebuah gugusan candi. Terdiri dari satu candi induk beratap stupika pada puncaknya. Lalu enam candi perwara (pendamping) berupa stupa berderet di sisi selatan dan timur. Untuk masuk ke ruang candi, orang harus menaiki 14 anak tangga dengan ragam hias kala-makara. Ruang candi sudah kosong. Terdapat tiga relung di dinding utara, timur, dan selatan. Relung sebelah timur ukurannya paling besar dan dihias dengan ukiran kala-makara dengan bingkai berbentuk tapal kuda. “Apa fungsi ketiga relung tersebut, kemungkinan untuk menempatkan arca-arca. Arca di relung timur mungkin arca utama, diapit oleh dua arca dalam relung utara dan selatan. Dugaan ini diperkuat karena tidak ada pentas persajian seperti lazimnya candi-candi Buddha untuk menempatkan singgasana arcanya,” jelas arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa. Hāritī dan Kuvera tak diletakkan pada relung-relung utama itu. Tapi di ambang pintu masuk candi; seakan memberkati siapapun yang masuk. Pemujaan Kuno Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan sudah dipuja manusia sejak Zaman Batu Akhir ( Paleolitikum ). Ia dipercaya punya andil dalam segala hal di alam semesta. Ketika manusia mulai bercocok  tanam, keberadaannya menjadi semakin penting. Pemujaan terhadapnya bisa ditemui di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan seringkali diidentikkan dengan Dewi Sri. Padahal, ada sosok perempuan lain yang memiliki peran yang sama, yakni Dewi Hāritī. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara dalam tugas akhirnya berjudul “Penggambaran Hariti di Jawa dan Bali (Abad ke-7-15 M)”, dalam kajian arkeologis, Hāritī tergolong dewa-dewi pendukung ( minor ), bukan dewa-dewi yang punya kedudukan tinggi ( mayor ). Gambaran tentangnya tersua dalam agama Buddha dan Hindu. Menurut versi agama Buddha aliran Sarvvāstivāda, Hāritī adalah seorang yaksi (manusia setengah dewa) bernama Huanshi dari Rajagrha. Ia memiliki 500 anak. Karena mengalami keguguran, Huanshi menjadi bengis dan suka memangsa anak-anak. Tindakannya membuat penduduk Rajagrha gelisah dan memohon pertolongan Buddha. Agar Huanshi bertobat, Buddha membawa pergi dan menyembunyikan putra bungsu sekaligus anak kesayangannya, Priyankara. Sampai akhirnya datanglah Huanshi yang memohon agar anaknya dikembalikan. Buddha memberi pelajaran kepada Huanshi bahwa kehilangan anak adalah petaka bagi ibu manapun. Huanshi akhirnya bertobat. Ia kemudian ditasbihkan Buddha menjadi Hāritī dan ditugaskan menjadi Dewi Kesuburan dan pelindung anak. Versi agama Hindu menyebut Hāritī dengan nama Vrddhi, yang dalam bahasa Sansekerta artinya berkembang. Ia merupakan istri dari Dewa Kuvera, penjaga arah mata angin utara. Hāritī menjalankan peran sebagai Dewi Kesuburan karena menjadi pendamping dari Dewa Kesuburan pula. Di Indonesia, penggambaran Hāritī dituangkan dalam bentuk arca maupun relief candi dan dapat dijumpai di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Candi Banyunibo, relief Hāritī dipahatkan di dinding lorong pintu masuk sebelah utara. Relief ini terdiri dari tiga bagian yang terpisah diagonal. Perkiraan ukuran panil utuh memiliki panjang 174 cm dan lebar 103 cm. Kondisi sudah tidak utuh dan banyak bagian yang terpotong. Hāritī digambarkan dengan posisi duduk virasana (bersila) dan sikap tangan varamudra (memberi anugerah). Di dekat kakinya, lima anak duduk berjejer; seorang di kanan dan empat di sebelah kiri. Anak-anak itu berjongkok dan merapat satu sama lain, kecuali seorang anak di sebelah kanan yang duduk miring bersandar pada Hāritī. Ada dua anak lain sedang memanjat pohon. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara, penggambaran tersebut mewakili peran serta kedudukan Hāritī sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak. Masyarakat Jawa Kuno mungkin juga menyamakannya dengan Dewi Sri. Sebagian besar masyarakat waktu itu bercocok tanam. Agar lahan pertanian subur dan panen melimpah, peran Hāritī pun dibutuhkan. “Tidak hanya untuk kesuburan perempuan dan kesejahteraan keluarga tetapi juga kesuburan tanah pertanian dan hasil panen,” tulis dia. Jika Hāritī dipahatkan di dinding sisi utara lorong pintu masuk candi, relief Kuvera atau Atavaka yang merupakan Dewa Kemakmuran dipahatkan di dinding sisi selatan lorong pintu masuknya. Maka, lengkap sudah harapan masyarakat Cepit di masa lalu dengan keberadaan dua sosok itu di Candi Banyunibo. Lahan pertanian mereka subur. Anak-anak mereka terlindungi. Hidup mereka makmur dan sejahtera. Pemugaran yang Sulit Candi Banyunibo ditemukan pada 1932 dalam keadaan runtuh. Sebagian besar batu lepas, berserakan, dan tertimbun tanah. Banyak batu asli yang tak bisa ditemukan kembali. Ketika ditemukan, ruang candinya kosong. Tak ada arca pada relung-relungnya. Stupa-stupa pendampingnya pun tak lagi berdiri tegak. Pemugaran sulit dilakukan dan memakan waktu lama. Pemugaran dilakukan dua kali dan selesai pada 1978. Siapa yang membangun Candi Banyunibo belum jelas. Sebab, tak ada prasasti yang menyebut keberadaan candi ini. Namun, menurut Edy Sedyawati, bentuk atap candinya mirip dengan Candi Semar di Kompleks Candi Dieng, candi perwara Candi Gedongsongo III, dan Candi Plaosan Lor. Karenanya, “Diperkirakan Candi Banyunibo berasal dari abad ke-9, yaitu masa pemerintahan Dinasti Sailendra.” Candi Banyunibo telah kembali tegak. Keberadaannya melengkapi khazanah budaya Nusantara yang bisa dinikmati beragam generasi untuk bersantai sekaligus mempelajari sejarah dan kearifan masa lalu. Saat ini di sekeliling Candi Banyunibo terhampar perkebunan tebu dan persawahan yang luas. Jika ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana suasana di Candi Banyunibo, Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation tengah menggelar Candi Darling From Home. Anda bisa menyaksikan penananaman pohon di arena candi dan virtual tour Candi Darling melalui video di channel youtube Siapdarling  dan informasi mengenai kegiatan ini di website  siapdarling.id dan instagram  @siapdarling. Kalau sudah lebih rimbun, candi ini pasti akan semakin nyaman dikunjungi. Maka, Candi Banyunibo pun akan sesuai namanya. Ia seakan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

  • Enam Aktor Asia Pemilik Piala Oscar

    ACADEMY Awards atau kondang disebut Piala Oscar ke-93 pada Minggu (25/4/2021) menghadirkan sejarah tersendiri bagi para pelaku film asal Asia. Dua sutradara dan tiga aktor Asia masuk beragam nominasi. Dua di antara mereka pulang dengan menggenggam trofi penghargaan tertinggi di ajang perfilman global itu. Sineas asal China Chloé Zhao naik ke atas panggung untuk menerima trofi setelah filmnya, Nomadland (2020), jadi film terbaik. Ia mencatatkan diri sebagai sutradara perempuan Asia pertama yang memenangi Piala Oscar. Selain Zhao, Youn Yuh-jung menerima Piala Oscar setelah aktris berusia 73 tahun itu menang di kategori aktris pendukung terbaik di film Minari  (2020). Sementara, Christina Oh (sutradara terbaik/ Minari ), Riz Ahmed (aktor terbaik/ The Sound of Metal ), dan Steven Yeun (aktor terbaik/ Minari ) harus puas sekadar masuk nominasi. Zhào Tíng alias Chloé Zhao yang memenangi film terbaik dan sutradara terbaik untuk film Nomadland  ( oscars.org ) Dari 92 gelaran Piala Oscar, sangat jarang aktor Asia mendapat apresiasi layak. Hingga kini tak lebih dari 20 aktor berdarah Asia yang pernah masuk nominasi. Hanya enam di antaranya membawa pulang trofi, termasuk Youn yang terbaru. Hal itu dianggap takkan mengubah pandangan Hollywood terhadap aktor-aktor Asia. “Hollywood bisa mengklaim bahwa mereka mempromosikan keragaman dengan award itu. Itu bagian dari resume mereka namun itu bukan berarti menjadi indikasi sesungguhnya dari sebuah perubahan besar. Kita bisa bicara tentang sejarah semau kita tetapi bagi saya ‘sejarah’ hanya sekadar jadi trivia, kecuali sejarah itu sendiri bisa mengubah banyak hal secara kultural,” ungkap Brian Hu, kritikus film dan televisi dari San Diego State University, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Isu diskriminasi dan seksis acap jadi penghambat para aktor dan aktris Asia bisa diapresiasi secara layak dalam Piala Oscar sejak pertamakali dihelat pada 1929. Berikut lima di antara pemenangnya selain Youn: Yul Brynner Yuliy Borisovich Bryner alias Yul Brynner yang menang Piala Oscar untuk film The King and I (Vandamm Studios/oscars.org) Lahir di Vladivostok, Uni Soviet (kini Rusia) pada 11 Juli 1920, aktor bernama asli Yuliy Borisovich Bryner punya perpaduan darah Rusia, Jerman, Swiss, dan Mongolia. Aktor beretnis Buryat ini sempat hidup berpindah-pindah dari China hingga Prancis sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat setahun pasca-pecahnya Perang Dunia II. Di Amerika itulah Brynner mulai belajar akting. Debutnya dilakoni di Broadway pada 1941. Butuh delapan tahun baginya untuk bisa tampil perdana di film, Port of New York (1949). Namanya kian melejit setelah mendapatkan peran utama sebagai Raja Mongkut asal Siam (kini Thailand) di film musikal The King and I (1956). Film tersebut mengantarkan Brynner sebagai aktor keturunan Asia pertama yang menang Piala Oscar di kategori aktor terbaik pada 1957. Tetapi hampir sepanjang kariernya Brynner selalu diusik pertanyaan soal asal-usulnya, antara lain tentang benarkah ia keturunan dari salah satu panglima Genghis Khan atau keturunan Gipsi Rumania? Spekulasi berseliweran di sekitarnya. Salah satunya menyebutkan, ayahnya orang Mongolia bernama Taidjie Khan yang lahir di Swiss dan meminjam nama “Bryner” agar dapat pekerjaan. Simpang siur asal-usul itu betebaran lantaran Brynner tak pernah tahu detail garis keluarga dari ayahnya. Kebenaran asal-usul Brynner justru baru disingkap Yul “Rock” Brynner, putra sulungnya dari istri pertama, Virginia Gilmore. Michaelangelo Capua dalam Yul Brynner: A Biography mengungkapkan, Rock mendapati kebenaran bahwa ayahnya merupakan keturunan seorang dokter asal Swiss, Johannes Bruner, dan istrinya, Marie Huber von Windisch. Putra bungsu mereka, Julius Bruner, jadi petualang ke Afrika Utara hingga Jepang. Saat bekerja jadi juru tulis di perusahaan impor di Yokohama, ia mengganti namanya jadi Yulius Bryner. “Yulius kemudian pindah ke Vladivostok dan menikahi Natalya Kurtukova, seorang perempuan berwatak keras dan berkarakter dingin putri dari seorang pangeran Mongolia yang garisnya bisa ditarik sampai ke Genghis Khan. Salah satu dari putra mereka adalah Boris, yang kemudian menikah dengan Marousia Blagovidova. Anak pertama mereka yang lahir 11 Juli 1920 dinamai Youl Borisovitch Bryner alias Yul Brynner,” tandas Capua. Umeki Miyoshi Umeki Miyoshi, aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar ( oscars.org/Metro-Goldwyn-Mayer Inc) Nancy Umeki. Begitu nama panggungnya saat merintis karier sebagai biduan klub malam di Hokkaido pasca-Perang Dunia II. Aktris kelahiran Otaru pada 8 Mei 1929 ini kemudian menseriusi musik pop dan seni peran di teater kabuki. Akhirnya Umeki mendapatkan peran pendukung perempuan di film drama Sayonara (1957) dengan memerankan karakter bernama Katsumi. Sayonara diangkat dari novel bertajuk sama karya James Michener (1954) yang mengisahkan cinta terlarang antara personil militer Amerika dan perempuan Jepang di masa Perang Korea. Film tersebut memetik tiga Piala Oscar, termasuk kategori aktor terbaik atas nama Red Buttons dan aktris terbaik yang dimenangi Umeki. Umeki jadi aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar 1958. “Filmnya menyandingkan suasana kemiliteran dengan eksotisme Jepang: antara pangkalan yang kaku dengan teater kabuki dan rumah-rumah beralaskan tatami ; antara seragam militer dengan kimono; prajurit Amerika bersuara berat dengan perempuan Jepang. Hubungan yang digambarkan antara prajurit dan perempuan Jepang menempatkan hubungan interasial ke era baru yang tidak menyenangkan,” tulis Sarah Kovner dalam Occupying Power: Sex Workers and Servicemen in Japan. Sayonara juga mengumbar “eksotisme” Jepang dalam bentuk kevulgaran perempuan Jepang. Hal ini menjadi sorotan sosiolog Nancy Wang Yuen, bahwa stereotip dan imej eksotis dari peran seperti yang dimainkan Umeki itu terus terbawa di industri film Hollywood hingga kini. “Melihat (karakter) Katsumi memandikan orang kulit putih, kurang lebih seperti itulah cara perempuan Asia yang diumbar seksualitasnya dan dianggap eksotis dalam imajinasi Hollywood. Seksualitas itulah satu-satunya cara aktris Asia bisa memenangkan Piala Oscar dan dia (Umeki) benar-benar mencontohkan masalah-masalah representasi perempuan Asia,” tandas Yuen, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Ben Kingsley Piala Oscar yang diraih Ben Kingsley atas perannya di biopik Gandhi (Columbia Pictures/oscars.org) Bernama lahir Krishna Pandit Bhanji, dia dilahirkan pada 31 Desember 1943. Namun demi memperlancar kariernya di dunia akting, pada medio 1960-an Krishna memilih ganti nama berbau Inggris menjadi Ben Kingsley. Seni peran sudah mendarah daging dalam dirinya, terutama diturunkan dari ibunya, Anna Lyna Mary Goodman. Anna merupakan aktris dan model sebelum dipersunting peneliti asal Gujarat, Dr. Rahimtulla Harji Bhanji. Terjun ke dunia film sejak 1972, Kingsley membintangi 97 film, termasuk yang terakhir Locked Down (2021). Namanya melejit setelah memenangi Piala Oscar 1983 sebagai aktor terbaik dengan memerankan tokoh legendaris Mahatma Gandhi dalam biopik Gandhi (1982). Saat ikut casting , Kingsley sudah punya banyak keunggulan. Selain penampilan fisik dan warna kulitnya mirip dengan Gandhi, Kingsley sudah malang-melintang 15 tahun di seni teater di Royal Shakespeare Company. Saat diumumkan, Kingsley mendapat dukungan dari Indira Gandhi. “Tetapi pekerjaan saya terusik banyak orang. Bahkan satu adegan sederhana saja bisa jadi perhatian. Dua puluh kali dalam sehari orang-orang akan mendesak saya dengan gagasan-gagasan mereka. Dan ketika adegan pemakaman Gandhi dengan 300 ribu (pemeran) ekstra, sayalah sosok yang dilihat semua orang. Saya belajar mendengarkan suara hati saya dengan sabar yang mengatakan untuk jadi diri sendiri,” ujar Kingsley kepada New York Magazine , 20 September 1982. Haing Somnang Ngor Satu-satunya aktor Asia Tenggara yang memenangkan Piala Oscar ( unl.edu/oscars.org ) Sebelum munculnya biopik The Killing Fields (1984), tak satu pun di kalangan perfilman mengenal Haing S. Ngor. Namanya dalam sekejap melejit setelah memerankan tokoh wartawan Kamboja, Dith Pran, dengan latar belakang perang saudara Kamboja dan teror Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Lahir di Samrong Yong pada 22 Maret 1940, Haing berprofesi sebagai dokter kandungan di Pnom Penh hingga Khmer Merah merebut kekuasaan di ibukota Kamboja itu. Pendudukan itu membuat Haing terpaksa menyamar sebagai orang biasa di kamp tawanan lantaran rezim Khmer Merah menargetkan membantai para intelektual dalam rangka eksperimen sosial “Year Zero”. Saking harus mempertahankan “aktingnya” sebagai orang awam, Haing sampai harus mengikhlaskan istri dan anak dalam kandungannya meninggal di kamp. Ia tak bisa membongkar penyamarannya demi melakoni operasi Caesar . Pasca-kejatuhan Khmer Merah, Haing pindah ke Amerika untuk meneruskan kariernya sebagai dokter. Yang tak disangkanya kemudian adalah sutradara Roland Joffé mendekatinya ketika akan menggarap The Killing Fields. “Setelah sebulan casting , dia (Joffé) punya sekumpulan aktor yang menarik. Ada John Malkovich, Sam Waterston, dan Haing S. Ngor awalnya tidak diperhitungkan tapi pertemuan mereka sangat intens. Faktanya memang Haing belum pernah berakting sebelumnya tapi John melihat hal berbeda: dia bilang Haing justru sudah berakting sepanjang hidupnya –Anda harus jadi aktor yang hebat untuk bisa selamat dari Khmer Merah,” kenang aktor Julian Sands kepada The Guardian , 10 November 2014. Meski sempat menolak untuk masuk ke proyek film dan memerankan Dith Pran, Haing kemudian berubah pikiran setelah dibujuk tim produksi. Keputusannya ternyata tak keliru. Pada ajang Academy Awards 1985, Haing memenangkan Piala Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik dan jadi aktor Asia pertama yang memenangkannya di debut film. “Lagipula saya menghabiskan empat tahun di sekolah akting Khmer Merah. Saya ingin memperlihatkan pada dunia betapa dalamnya bencana kelaparan di Kamboja dan berapa banyak orang yang mati di bawah rezim komunis,” ujar Haing, dikutip The Vietnam Experience: A Concise Encyclopedia of American Literature, Songs, and Films. F. Murray Abraham Film Amadeus  meroketkan nama Murray Abraham (Los Angeles Public Library/Orion Pictures Corporation) Sosok kelahiran Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 24 Oktober 1939 ini tak punya darah seni dari ibunya, Josephine Stello, maupun ayahnya, Fahrid Abraham. Namun begitu aktor blasteran Suriah-Italia ini ikut teater sekolah, minatnya pada seni peran tumbuh dengan sendirinya. Hingga kini ia sudah membintangi 73 film. Lewat film Amadeus (1984), ia memenangkan Piala Oscar kategori aktor terbaik di ajang Academy Awards 1985. Di film itu Abraham memerankan komposer Italia Antonio Salieri, yang dari kawan menjadi lawan komposer Wolfgang Amadeus Mozart. Amadeus yand diproduksi dengan biaya hanya 19 juta dolar laris di pasaran dengan meraup laba 90 juta dolar. Capaian tersebut kian sempurna karena Abraham memenangkan Oscar dengan mengalahkan Jeff Bridges ( Starman ), Albert Finney ( Under the Volcano ), Sam Waterston ( The Killing Fields ), dan rekan Abraham sendiri di film Amadeus , Tom Hulce. “ Amadeus jadi film ketujuh dalam sejarah yang menang delapan Oscar (dari 11 nominasi). Penampilan Abraham mengungguli rekannya sendiri, Albert Finney. Sampai lima tahun kemudian Abraham tetap tak menyangka: ‘Piala Oscar adalah event paling penting dalam karier saya. Saya diundang makan malam oleh para raja, pendapatan yang setara dengan para idola saya, memberi kuliah umum di Harvard dan Columbia, serta merasa bangga bisa ambil bagian di perkumpulan seniman internasional terhebat dunia,” kata Abraham, dikutip Anthony Holden dalam The Oscars.

  • Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair

    PADA akhir Mei 1956, Mohammed Benyahia dan Lakhdar Brahimi pergi dari Paris ke Bandung. Kedua pemuda Aljazair itu adalah anggota dari Union Générale des Etudiants Musulmans Algériens (UGEMA), organisasi aktivis mahasiswa yang memiliki koneksi dengan organisasi revolusioner Aljazair, Front de Libération Nationale (FLN). Benyahia baru saja memulai kariernya sebagai pengacara, sementara Brahimi adalah mahasiswa ilmu politik di Paris. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari karier dan sekolah demi mencurahkan waktu dan tenaga untuk perjuangan kemerdekaan Aljazair dengan pergi ke Bandung.

  • Ketika Bung Hatta Mempelajari Nippon Sheishin

    Suatu pagi di bulan September 1943. Mohammad Hatta bergegas menyambut kedatangan seorang Jepang di rumahnya. Dia adalah seorang juru bicara Kempetai (polisi rahasia militer Jepang) bernama Myoshi. Hari itu rencananya Hatta akan diantar memenuhi undangan minum kopi dari wakil ketua Kempetai bernama Murase di kediamannya. Pada waktu itu Hatta sebenarnya sedang menjalankan ibadah puasa. Tetapi karena undangan minum kopi tersebut cukup penting, Hatta memilih tetap datang. Terlebih di antara pemimpin-pemimpin Indonesia hanya tinggal Hatta yang belum bertemu dan berkenalan secara langsung dengan Murase.  Sekira pukul 10, Hatta tiba di kediaman Murase. Setelah dipersilahkan masuk, Hatta dibawa ke sebuah ruangan di belakang rumah, tempat sang tuan rumah berada. Di sana sudah tersedia kopi dan berbagai makanan pendampingnya. Murase ada di balik meja penuh makanan tersebut. Begitu melihat Hatta masuk, dia lantas berdiri dan memberi salam. “Ia menyesal sekali bahwa waktu itu bulan puasa dan aku tidak dapat diajak minum kopi bersama-sama. Tetapi dia sendiri katanya harus menghormati tamunya dalam bulan Ramadhan. Sebab itu dia juga tidak minum apa apa dan tidak memakan kue-kue yang sudah disediakan,” kata Hatta dalam otobiografinya  Memoir . Setelah bertukar salam dan saling menanyakan kabar, Murase masuk ke pembicaraan utama. Dia memulainya dengan menceritakan tentang perkembangan kapitalisme dan imperialisme dunia, termasuk negaranya Jepang. Murase kemudian meminta Hatta mengemukakan pendapatnya tentang masalah tersebut. Dikatakan oleh Hatta bahwa dirinya cukup menyayangkan sikap Jepang yang ikut terpengaruh imperialisme Barat. Sebagai contoh Hatta menyebut tindakan Jepang terhadap Tiongkok yang sangat menyengsarakan. Bagi Hatta, invasi Jepang telah memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat di Negeri Tirai Bambu. Murase segera menyela pembicaraan Hatta. Dia mengatakan bahwa pendirian negaranya sudah tidak seperti itu. Jepang hendak melakukan perubahan di seluruh Asia. Bahkan alasan di balik Jepang memulai Perang Asia Timur Raya adalah untuk membebaskan bangsa-bangsa Asia dari pengaruh imperialisme dan kapitalisme Barat. Wakil ketua Kempetai itu lalu bertanya apakah Hatta pernah menulis karangan anti Jepang. Dijawab oleh Hatta kalau dirinya pernah sekali menulis soal Jepang saat Perang Asia Timur Raya pecah. Karangan itu berisi tentangan atas imperialisme yang dilakukan Negeri Samurai di Asia. “Apakah tuan dipaksa atau dihasut oleh pemerintah kolonial Belanda?” tanya Murase. “Tidak. Aku menulis karangan itu atas keyakinan sendiri. Belanda tidak dapat menghasut aku, sebab Belanda sendiri adalah negara imperialisme kolonial dan aku tentang juga. Aku anggap di waktu itu Jepang mengikuti saja tindakan imperialisme Barat, jadinya serupa saja,” ucap Hatta. “Itu oleh karena tuan belum mempelajari Nippon Sheishin,” jawab Murase tegas. “Apabila tuan kenal Nippon Sheishin, tuan akan mengerti tindakan Jepang, yang pada dasarnya menentang imperialisme Barat dan akan memerdekakan bangsa-bangsa Asia dari imperialisme Barat,” lanjutnya. Dari percakapan tersebut Hatta menyadari tujuan utama Murase membuat undangan minum kopi untuknya, yakni meminta dia mempelajari Nippon Sheishin. Pemerintah Jepang sendiri tahu kalau Hatta adalah intelektual penting dan tokoh pergerakan utama negerinya. Bagi pemerintah militer Jepang, dia salah satu pilihan paling tepat untuk menyampaikan maksud Jepang selama berada di Indonesia. Beberapa hari setelah pertemuan di rumah Murase, muncul berita di surat kabar kalau pemerintah pusat Jepang di Tokyo memerintahkan pemerintahan Jepang di Jawa mengutus dua orang Indonesia datang ke negerinya. Mereka harus berasal dari Cuo Sangi In dan pemimpin Islam di Jawa. Pemerintahan militer Jepang di Jawa menyanggupinya. Mereka lalu membuat permintaan kepada pusat agar diperkenankan menambah satu perwakilan lagi untuk datang ke Jepang. Orang ketiga ini berasal dari kalangan intelektual yang akan mempelajari Nippon Sheishin. Pusat pun menyanggupi. Hatta sudah menduga bahwa orang ketiga yang dimaksud adalah dirinya. Awalnya dia hendak menolak perintah tersebut. Tetapi setelah dipikir ulang, Hatta pun menerimanya. “Dari pada jatuh ke tangan Pemerintah Militer di sini, yang hasilnya pasti aku akan dibunuhnya, lebih baik dibuangnya ke Tokyo. Dibuang dengan tugas mempelajari Nippon Sheishin rasanya tidak berat. Tidak ada bahaya yang mengancam hidupku,” ujar Hatta. “Sekurang-kurangnya aku dapat bersahabat dengan orang-orang besar di sana, bermula dengan minta petunjuk mereka tentang Nippon Sheishin.” Tidak lama setelah itu, pemerintahan Jepang di Jawa mengumumkan ketiga orang yang berangkat: Sukarno (Cuo Sangi In), Ki Bagus Hadikoesoemo (pemimpin Islam Jawa), dan Hatta (intelektual). Sebelum berangkat ketiganya secara bergiliran diberikan arahan oleh Gunseikan. Kepada Hatta dikatakan kalau tugasnya ke Tokyo berbeda dengan dua orang lainnya yang diminta pemerintah pusat. Dia berangkat dengan misi khusus dari pemerintahan Jepang di Jawa. Hatta juga diminta untuk tidak membicarakan persoalan lain selain Nippon Sheishin. Dia diberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikan misinya, atau jika kurang diberi tambahan waktu hingga 10 bulan. “Yang penting ialah apabila aku sudah kembali ke Jawa aku menulis suatu buku tentang Nippon Sheishin yang dapat dibaca oleh bangsa Indonesia,” kata Hatta. Ketiga perutusan dari Indonesia tersebut berangkat pada permulaan November 1943.

  • Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah

    Jalur rempah menghubungkan Maluku yang menjadi sumber rempah dengan laut Jawa, Champa (Kamboja dan Vietnam) di utara, sampai ke Tiongkok. Menghubungkan Selat Malaka, Aceh, dan Srilanka di barat. Dari Aceh terhubung ke Semenanjung Malaysia, Burma, Bangladesh, dan turun di pantai timur India. Dari selatan India, para pelaut yang mengarungi jalur ini pada musim yang tepat bisa berlayar langsung ke Yaman. Ada pula yang melewati pantai barat India hingga ke Persia sampai ke ujung Teluk Persia atau Teluk Arab. Bukan hanya perdagangan dan komoditas, jalur rempah juga menjadi jalur bagi pertukaran budaya. Sebagaimana dikatakan Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universita Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Ahmad Suaedy, jalur ini juga bisa dilihat sebagai jaringan intelektual dan spiritual. Bahkan akar kosmopolitanisme Islam di Nusantara berawal dari jalur rempah. “Jalur rempah selalu dilihat dari komoditas, perdagangan. Padahal [intelektual dan spiritual] tak bisa dipisahkan,” kata Suaedy dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jarngan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021. Hindu, Buddha, dan Islam tiba ke Nusantara melalui jalur rempah. “Sebelum Eropa datang mencari rempah, pelayaran dilakukan oleh orang Persia, Timur Tengah, dan India. Mereka membawa pengaruh spiritual Hindu, Buddha, dan Islam,” lanjut Suaedy.   Tak cuma menerima pengaruh, Nusantara juga dikunjungi orang luar untuk belajar agama. Sriwijaya pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. “Kita tahu dari Tibet ada yang ziarah ke Sriwijaya untuk belajar Buddha. Nusantara didatangi orang lain untuk belajar. Jadi tak hanya menerima tapi pusat pengajaran,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda. Pedagang muslim diperkirakan juga sudah mengunjungi kota pesisir di Sumatra Utara atau Aceh pada abad pertama atau kedua Hijriah (abad ke-7 atau ke-8 M). Barangkali ada juga yang menetap. “Selama ada pergerakan manusia, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan menetap cukup lama, maka saat itu ide-ide pemikiran termasuk agama pun ikut dibawa,” kata Van Bruinessen. Catatan Pertama tentang Islam di Aceh Pada abad ke-8 M, sebuah kota yang majemuk ditemukan di Tiongkok. Kota itu adalah Quanzhou yang oleh banyak sumber disebut Zaitun. “Kita tahu soal kota ini dari catatan pengalaman dua penjelajah besar dunia,” lanjut Van Bruinessen. Marco Polo (1271–1295) adalah pedagang Venesia yang pernah tinggal di Tiongkok selama hampir 20 tahun. Dia mencatat terdapat komunitas muslim yang besar di kota Zaitun. Marco Polo melakukan perjalanan dari kampung halamannya ke Irak, Iran, Afghanistan, menyusuri Jalur Sutra ke Tiongkok. Dia tinggal agak lama di Mongolia sebelum tiba di Tiongkok. “Dia lalu kembali ke Venesia melalui Selat Malaka. Dari catatannya kita dapat kesan waktu itu, 1292 mungkin, belum ada orang Aceh yang jadi muslim. Waktu itu masih pra-Islam,” jelas Van Bruinessen. Lima puluh tahun setelah perjalanannya, Ibnu Battuta (–1354), penjelajah asal Maroko, menyusuri jalur darat mengunjungi banyak wilayah di Asia. Dia bukan pedagang melainkan ulama dan ahli fikih. “Dia meninggalkan catatan menarik tentang Zaitun. Ia bicara tentang orang Islam dari Persia dan Arab. Zaitun itu ada di seberang Taiwan,” jelasnya. Dari Zaitun, Ibnu Battuta pulang lewat jalur laut. Dia melewati Filipina, Kalimantan, dan Selat Malaka. Sempat mampir di Aceh, dia menjadi orang pertama yang mencatat bahwa sudah ada orang Islam di Aceh. “Ibnu Battuta ini sumber pertama kalau di Aceh sudah ada Islam. Jadi antara kunjungan Marco Polo dan Ibnu Battuta itu sekira 1320 (Islam sudah ada di Aceh , red . ),” lanjutnya. Tasawuf dan Tarekat Tasawuf dan tarekat memainkan peran menentukan dalam proses persebaran Islam di Nusantara. Tasawuf dan tarekat selalu memiliki warna lokal tapi membawa ajaran yang universal. Karenanya tarekat lebih mudah menjadi perantara penyebaran Islam yang universal tetapi tetap menyimpan lokalisme. “Orang sufi menerima cara pujian terhadap nabi yang bersifat sangat lokal diiringi musik, bentuk ziarah yang bersifat tradisi sangat lokal. Haul juga mudah diterima orang penganut tasawuf daripada yang men g khususkan diri terhadap fikih dan hadis,” jelas Van Bruinessen. Adapun tarekat yang dikenal di Indonesia ada yang berkembang di Afrika, India, dan Asia Tengah. Semuanya terhubung dengan jaringan yang sangat luas tersebar di seluruh dunia. “Hubungannya melalui jalur rempah atau jalur sutra, jalur maritim maupun darat,” lanjut Van Bruinessen. Pengamatan menarik lainnya, kata Van Bruinessen, orang-orang yang ada di wilayah penyebaran Islam jalur rempah rata-rata menganut mazhab Syafi’i. Sementara masyarakat yang di wilayah penyebaran jalur sutra atau darat menganut mazhab Hanafi. Hal itu sangat mencolok di India. Islam yang datang dari utara, yakni yang menciptakan budaya Mughal, bermazhab Hanafi. Namun yang nampak di wilayah pesisir Samudra Hindia adalah mazhab Syafi’i. “Mazhab Hanafi mungkin lebih sering dipakai sebagai mazhab negara. Mughal dan Utsmani mengambil Hanafi sebagai mazhab. Sedangkan Syafi’i disebarkan secara perseorangan. Tapi faktor kebetulan mungkin lebih penting,” jelas Van Bruinessen. “Jadi maz h ab juga berkaitan dengan jalur perdagangan.” Bahasa Melayu, Bahasa Jalur Rempah Van Bruinessen menyoroti bagaimana para pedagang dan pelayar saling berkomunikasi ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Khususnya ketika menyusuri jalur rempah, para pedagang dan pengembara selalu memilih mengambil perjalanan yang lebih pendek. Mereka harus berpindah kapal untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan. “Bukannya dari Yaman langsung ke Maluku. Harus menunggu musim angin juga,” jelas Van Bruinessen. Di kawasan Nusantara rupanya bahasa Melayu yang dipakai dalam perdagangan antarpulau. “Di daerah pinggiran laut sering mengambil bahasa Melayu sebagai bahasa pertama. Di pedalaman ada bahasa lain,” kata Van Bruinessen. Komunitas berbahasa Melayu bahkan juga ditemukan di Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Srilanka. “Jadi bahasa Melayu punya kaitan erat dengan jalur rempah,” tegasnya. “Jalur rempah di sini ada aspek budaya juga.”

  • Aksi Kapal Selam RI di Palagan Irian

    PERTENGAHAN 1962. Informasi intelijen itu bertiup kencang di kalangan para pejabat militer Republik Indonesia (RI). Sekira Juni, diperkirakan Kapal Induk Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Misi mereka tentu saja untuk memperkuat pertahanan laut di wilayah Hollandia Barat, sebutan orang-orang Belanda untuk Irian Barat (sekarang Papua). Rumor itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Sovyet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini pihak negara Beruang Merah. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Masalah muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Sovyet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Sovyet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana angkatan pertama tersebut. . Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Sovyet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Untuk menghadapi manuver Belanda itu, ALRI kemudian menugaskan 6 kapal selam barunya untuk melakukan patroli sekaligus psywar (perang urat syaraf) di sepanjang pantai utara Irian Barat. Nama kapal selam kelas Whiskey itu masing-masing RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramastra, RI Pasopati, RI Tjudamani dan RI Alugoro. Selain itu, 6 kapal selam tersebut memiliki tugas lain: “…Mengamankan operasi ampibi yang akan dilakukan oleh kesatuan-kesatuan (yang tergabung) dalam Operasi Djajawidjaja I, dari bahaya serangan mendadak bala bantuan asing yang datang dari utara…Mencegat dan menghancurkan sama sekali kapal-kapal perang Belanda yang akan melarikan diri ke utara,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Tersebutlah Letnan Satu (P) F.X. Soeyatno. Dia merupakan salah satu alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 yang ditempatkan dalam kapal selam RI Tjudamani bersama para awak dari Rusia. Kendati berbeda bangsa dan negara, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerjasama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Kendati tidak sempat melakukan kontak senjata dengan kekuatan laut Belanda, namun tak urung kehadiran kapal-kapal selam ALRI itu membuat keder sang musuh. Terlebih, “monster-monster perang bawah laut” itu sering sengaja memunculkan diri di wilayah-wilayah Belanda. “Perang urat syaraf yang kami lakukan memang bisa dikatakan berhasil,” ujar Soeyatno. Satu lagi keberhasilan yang dituai armada kapal selam ALRI di Irian Barat adalah saat mereka melaksanakan Operasi Tjakra II (15—26 Agustus 1962). Operasi militer itu memiliki misi utama mendaratkan 3 tim khusus pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di Tanah Merah, suatu pantai dekat lapangan terbang Sentari. Para prajurit komando Angkatan Darat RI itu ditugaskan untuk melakukan sabotase terhadap obyek-obyek vital musuh. Mereka pun diharapkan bisa menyiapkan kolone ke-5, agar pada waktu pendaratan besar-besaran militer Indonesia nanti, rakyat setempat bisa ikut angkat senjata melawan musuh. “Tim khusus RPKAD untuk tugas sabotase akan didaratkan oleh RI Trisula dan RI Nagarangsang, sedang tim khusus RPKAD untuk tugas (membentuk) pemerintahan sipil (akan didaratkan) oleh RI Tjandrasa,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Dari ketiga kapal selam itu, hanya RI Tjandrasa yang berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD dan seorang sosiolog bernama Wijoso. Sedangkan RI Trisula dan RI Nagarangsang batal mendaratkan tim sabotase karena kedudukan mereka kadung diketahui oleh pihak militer Belanda. “Trisula dan Nagarangsang bahkan katanya sempat ditembaki secara gencar oleh pesawat Neptune dan kapal perusak Belanda,” ungkap Nyoman Suharta. Lantas bagaimana bisa operasi rahasia itu terketahui oleh pihak Belanda? Kapten (P) Assyr Mochtar, salah satu perwira di RI Nagarangsang, menduga itu terjadi karena pihak Belanda berhasil menyadap percakapan radio singkat yang dilakukan oleh atasannya. “Kalau memang mau operasi, kita harus ketat dengan radio silence . Tidak ada alasan untuk bicara dengan siapa pun,” ujarnya seperti dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam bukunya, Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa.

  • Yang Terkubur Amukan Merapi

    HARI itu, tahun 1966, Arjo Wiyono pergi ke sawah seperti biasanya dan mengolah tanah milik Karyoinangun. Saat tengah memacul tanah, mata cangkulnya membentur batu. Ia tak mengira kalau itu batu berukir dan bagian dari reruntuhan sebuah kompleks candi. Penemuan yang tak disangka-sangka di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta itu pun segera ditindaklanjuti oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional (LP2N) di Prambanan. Penggalian arkeologi menyusul kemudian dengan mengajak mahasiswa arkeologi dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Pada 1970-an, penggalian arkeologi dilakukan kembali di situs yang kemudian dinamai Candi Sambisari. Terungkaplah kalau kompleks candi ini terdiri dari candi utama dan tiga candi pendamping ( perwara ). Candi-candi itu telah runtuh dan terkubur sedalam 6,5 m di bawah permukaan tanah. Penggalian selanjutnya, pada 1980-an, menampakkan pagar keliling halaman pusat. Terdapat juga teras dengan tangga naik di setiap sisinya. Selama ekskavasi dan pemugaran Candi Sambisari, ditemukan beberapa benda seperti keramik asing, gerabah, tulang, benda-benda dari perunggu, arca perempuan dari batu andesit, arca Bodhisatwa dari perunggu, lempengan emas bertulisan, serta yoni. Didapati pula kalau kawasan Candi Sambisari terdiri atas tiga halaman bertingkat yang masing-masing dikelilingi tembok. Candinya ada di halaman ketiga, yang merupakan halaman tertinggi. Candi induknya berisi lingga-yoni . “Ukurannya lingga-yoni yang besar tak sebanding dengan ukuran ruang candinya,” kata arkeolog Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia Seri Jawa. Masing-masing ketiga dinding candi utamanya berisi arca. Arca Durga Mahisasuramardhini mengisi relung sebelah utara, Ganesha di timur, dan Agastya di selatan. Keberadaan lingga dan yoni ,juga arca-arca di candi itu menunjukkan bahwa Candi Sambisari berlatar Hindu, khususnya aliran Siwa. Lingga merupakan simbol Dewa Siwa. Sementara yoni melambangkan parwati ,pasangan Siwa. Di luar tubuh candi utama, ada lantai selasar yang dibatasi pagar. Pada lantai selasar terdapat 12 umpak, delapan bulat, dan empat persegi. “Umpak-umpak itu diperkirakan merupakan umpak tiang kayu sebagai penyangga konstruksi atap yang terbuat dari kayu,” jelas Edi. Ketiga candi perwara hanya tersisa bagian kaki dan pagar langkan (tembok penutup lorong yang dibangun di sekeliling candi). Ketiganya berderet di depan candi induk. Kompleks candi dibatasi tembok keliling. Tiap sisinya terdapat sebuah gapura. Candi ini memiliki empat gapura untuk masuk ke halaman candi. Namun orang hanya bisa melalui gapura di sisi barat. Sementara tiga gapura lainnya ditutup susunan batu. Penyelidikan lebih lanjut secara geologis diketahui kalau Candi Sambisari selama ini tersembunyi di bawah timbunan material muntahan Gunung Merapi. Dari Masa Klasik Tua Candi Sambisari dibangun pada era kekuasaan Mataram Kuno di Jawa bagian tengah. Namun, kapan pastinya dan siapa pembangunnya, belum ada data prasasti yang bisa menjawab. Waktu pembangunan Candi Sambisari bisa diperkirakan dengan melihat bentuk dan gaya bangunannya. Ottyawati dalam tugas akhirnya di arkeologi Universitas Indonesia tahun 1981 berjudul “Candi Sambisari” menjelaskan bahwa bentuk kaki candi yang berupa susunan batu polos tanpa hiasan mirip dengan Candi Gunung Wukir, Candi Badut, dan Candi Kalasan yang berasal dari abad ke-8 dan tergolong jenis candi tua. Sementara dari ragam hiasnya mirip candi-candi dari abad ke-9, yakni Candi Plaosan dan Candi Prambanan. Inskripsi pada keping emas di dalam kotak pripih juga bisa dijadikan acuan. Kotak pripih Candi Sambisari ditemukan di bawah batu pipih di lorong candi induk. Keping emas itu bertuliskan mantra om siwa sthana , yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-9. “Kemungkinan Candi Sambisari berasal dari abad ke-8 dan diakhiri pembangunannya pada permulaan abad ke-9,” kata Ottyawati. Dalam mendirikan candi, sang arsitek biasanya punya desain awal yang sesuai dengan ketentuan. Namun rupanya terjadi perombakan bentuk rancangan yang dipaksakan dalam kasus Candi Sambisari. Dua gaya berbeda ditunjukkan pada arca-arca di Candi Sambisari. Arca Ganesha dan Mahakala dibuat dalam bentuk agak gemuk dan pahatan yang halus. Adapun arca Durga, Agastya, dan Nandiswara mempunyai bentuk lebih ramping, dibuat terbuat bahan yang mudah rusak, dan dengan pahatan yang kasar. “Apa yang menyebabkan adanya paksaan dalam perombakan arsitektur candi masih menjadi tanda tanya,” kata Ottyawati. Candi Sambisari pun agaknya belum selesai dibangun ketika ditinggalkan. Ada beberapa hiasan belum selesai diukir. Ditemukan juga batu-batu pipih yang belum selesai dibentuk menjadi bundar. Siapa yang punya proyek membangun Candi Sambisari? Soediman dalam “Candi Sambisari dan Masalah-masalahnya” yang dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi di Cibulan pada 1977 menyebut kemungkinan Rakai Garung. Dia berasal dari wangsa Sanjaya dan memerintah Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan Candi Sambisari tak bisa dilepaskan dari perkembangan politik kala itu. Selama permulaan abad ke-9, wangsa Sailendra berkuasa di daerah Jawa bagian tengah-selatan. Maka, yang dibangun pun kebanyakan candi Buddha seperti Kalasan, Sari, Lumbung, dan Sewu. Sekira tahun 832, terjadi pergantian kekuasaan. Hal ini ditandai dengan terbitnya Prasasti Gandasuli dari 832 M oleh Dang Karayan Patapan Pu Plar, yang diidentifikasi sebagai Rakai Garung. Terbitnya prasasti itu sekaligus menjadi proklamasi kekuasaan dan kedaulatan keturunan Sanjaya. Sejak inilah dibangun candi-candi beragama Siwa, seperti Candi Sambisari dan kompleks Candi Prambanan.   Diamuk Merapi Riwayat Candi Sambisari memang belum begitu jelas. Kisahnya seakan terkubur bersama bangunannya selama berabad-abad. Studi geografi modern kemudian menemukan bahwa materi erupsi Gunung Merapi sempat membuat candi ini terpendam. Di masa lalu Gunung Merapi sering erupsi. Ini menjadi berkah, karena berkat itu wilayah di antara lereng Gunung Merapi di utara, pegunungan kapur di selatan, lembang Sungai Bengawan Solo di timur dan Sungai Progo di barat menjadi dataran vulkanik yang subur. Tak heran kawasan ini pun dipilih sebagai lokasi pembangunan candi-candi Hindu dan Buddha, termasuk Candi Sambisari. Namun di balik berkahnya, bencana pun kerap mengancam. Letusan Merapi seringkali membuat daerah di sekelilingnya dilanda lahar dan pasir. Akibatnya banyak candi di sekitarnya rusak, tertimbun lahar dan pasirnya. Salah satunya Candi Sambisari. Luapan lahar dingin dari Kali Kuning yang tak jauh dari lokasi candi mengubur itu setinggi 6,5 m. Kali Kuning berhulu langsung di kawah Gunung Merapi. Ia adalah lintasan lahar ketika Merapi erupsi, sehingga menjadi ancaman bagi segala sesuatu yang ada di tepi alirannya. Letusan Merapi yang banyak dihubungkan dengan terkuburnya Candi Sambisari adalah yang diduga terjadi pada 1006. Sebagaimana yang ditulis Supriati Dwi Andreastuti dkk dalam makalah hasil penelitian berjudul “Menelusuri kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”, terbit di Jurnal Geologi Indonesia , Vol. 1 No. 4, Desember 2006, letusan 1006 merupakan letusan terawal Gunung Merapi. Namun catatan terperinci mengenai letusan itu tak diketahui. Karenanya kebenaran letusan besar pada tahun itu pun diperdebatkan. “Angka tahun letusan sesungguhnya masih dipertanyakan dan perlu penelitian tentang kebenarannya,” tulisnya. Asumsi terdahulu menyebut letusan Merapi tahun 1006 menyebabkan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letusan Merapi yang dipicu gempa tektonik juga merusak dan menimbun banyak bangunan candi di sekitarnya. Pendapat ini merujuk pada Prasasti Kalkuta atau Prasasti Pucangan yang berangka tahun 963 Saka (1041 M). Prasasti ini menyebutkan adanya bencana besar (pralaya) pada 928 Saka (1006). Namun hal itu disanggah epigraf Boechari. Dalam makalahnya “Some consideration of the problem of the shift of Mataram’s center of government from Central to East Java in the 10th Century A.D.”, termuat di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti ,Boechari mengatakan bahwa Mataram Kuno telah pindah ke Jawa Timur sejak 928 dan menetap di Delta Brantas, wilayah Jawa Timur sekarang. Pendapatnya dibuktikan dengan Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno kala itu, pada 937. Pun di dalam Prasasti Pucangan disebutkan bahwa pralaya di Kerajaan Mataram yang terjadi pada 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram. “Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada 1006 tidak pernah terjadi,” jelas Supriati Dwi Andreastuti, dkk. Kemungkinan letusan Merapi cukup besar terjadi pada 765-911. Letusan ini mendorong Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Selain itu, menghindar dari serangan Kerajaan Sriwijaya dan lokasi perdagangan yang lebih strategis di daerah Delta Brantas juga jadi pertimbangan perpindahan kerajaan. Setelah berabad-abad terkubur akibat letusan Gunung Merapi, Candi Sambisari ditemukan, digali, direkonstruksi kembali, dan kini bisa dinikmati kemegahannya. Jika tertarik berkunjung di candi unik ini, tak perlu ragu. Letak Candi Sambisari tak jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Orang bisa menujunya lewat Jl. Raya Jogja-Solo hingga tiba di pertigaan Bandara Internasional Adisutjipto. Lalu ambil jalan lurus hingga sampai di sebuah pertigaan dan Gedung Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Dari sini, ambil arah kiri. Perjalanan setelahnya tak akan lama. Pintu gerbang kawasan Candi Sambisari akan segera terlihat. Namun candinya tersembunyi, berada di ketinggian yang lebih rendah dari permukaan tanah sekarang. Namun jika masih belum bisa berkunjung langsung ke Candi Sambisari, Anda bisa menikmati secara virtual di kanal youtube Siapdarling (Siap Sadar Lingkungan), sebuah gerakan yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Candi Sambisari menjadi candi kelima yang dihijaukan oleh program Candi Darling (Candi Sadar Lingkungan) setelah Candi Prambanan, Candi Ijo, Situs Ratuboko, dan Candi Gedong Songo. Siapdarling menargetkan seluruh candi di tanah air dihijaukan hingga tahun 2025. Informasi selengkapnya mengenai Siapdarling bisa diakses melalui siapdarling.id .

  • Menyelamatkan Awak Kapal Selam

    SETELAH lebih dari empat hari pencarian untuk menyelamatkan kapal selam (kasel) KRI Nanggala (402) berikut awaknya tak membuahkan hasil, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan berat hati mengubah status Nanggala  dari submiss  (hilang) menjadi subsunk  (tenggelam). Perubahan status itu diambil setelah ditemukannya beberapa puing yang diyakini milik Nanggala  yang dilaporkan berada di kedalaman 850 meter di perairan utara Bali. “Saya atas nama Panglima TNI menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Kita bersama-sama mendoakan supaya proses pencarian ini terus bisa dilaksanakan dan bisa mendapatkan bukti-bukti kuat. TNI AL bersama Kepolisian, Basarnas, KNKT, serta negara sahabat telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan KRI Nanggala-402 ,” ungkap Marsekal Hadi di laman resmi TNI AL , Sabtu (24/4/2021). Nanggala  dilaporkan hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) dini hari dalam rangka gladi resik latihan menembakkan torpedo. Upaya pencarian dan penyelamatan pun dilakukan berpacu dengan waktu. TNI AL tak segan meminta bantuan negara-negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, India, Australia, dan Amerika Serikat, mengingat TNI AL belum memiliki satu pun alutsista penyelamat yang mumpuni. Sejumlah puing yang diyakini berasal dari KRI Nanggala (402).  ( tnial.mil.id ). Kelima negara itu datang memberi pertolongan sebagai lima dari 15 anggota s ystem rescue ISMERLO (International Submarine Escape and Rescue Liaison Office) yang terdekat secara geografis dengan Indonesia. Namun mengingat Nanggala dinyatakan subsink , upaya TNI AL dibantu negara-negara sahabat itu bukan lagi misi penyelamatan, melainkan misi pencarian kasel. Oleh karena begitu dalamnya posisi Nanggala , dibutuhkan peralatan canggih yang sementara ini hanya dimiliki Singapura. Berpegang pada Pakta Perjanjian Kerjasama dan Bantuan Penyelamatan Kasel antara TNI AL dan AL Singapura pada 2012, AL Singapura mengirim MV Swift Rescue -nya dalam misi pencarian bersama KRI Rigel (933) itu. Dilengkapi Deep Search and Rescue 6 (DSAR 6), sejenis Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV) atau kasel penolong yang bisa disambungkan ke palka penyelamat kasel yang hendak ditolong, MV Swift Rescue jadi pendukung utama misi pencarian itu. Namun, sejarah mencatat DSRV belum sekali pun pernah berhasil menyelamatkan awak kasel nahas di masa damai. Salah satu alat penyelamat bawah laut tercanggih itu bahkan gagal menyelamatkan para prajurit kasel nuklir Rusia Kursk K-141 di dasar Laut Barents pada 12 Agustus 2000. MV Swift Rescue milik Angkatan Laut Singapura. ( ismerlo.org ). Penyelamatan yang Berhasil Mengutip Nick Stewart dalam “Submarine Escape and Rescue: A Brief Histori” yang dimuat dalam seri jurnal AL Australia, Semaphore , edisi 7 Juli 2008, nyawa kru kasel dalam situasi genting bisa ditolong lewat dua metode. Pertama , metode menyelamatkan diri dengan sejumlah alat selam. Metode ini tentu hanya bisa dilakoni para kru jika kaselnya tenggelam di perairan dangkal. Kedua , metode penyelamatan dengan melibatkan pihak kedua menggunakan alat atau kapal selam penolong. “Fokus utama pada masa awal kasel modern adalah metode menyelamatkan diri. Escape system -nya sudah muncul sejak 1910 yang terinspirasi dari alat pernafasan para penambang batubara. Sistem itu berhasil untuk pertamakali (menyelamatkan) kru saat tenggelamnya kasel U3 pada 1911 dengan menggunakan alat pernafasan Dräger,” tulis Stewart. Alat pernafasan Dräger (kiri) & kasel SM U-3 Jerman (tengah). ( draeger.com /Library of Congress). Sistem menyelamatkan diri itu lantas diadopsi negara-negara lain yang mengoperasikan kasel, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, mulai tahun 1929. Sistem ini bertahan sampai era 1990-an seiring perkembangan Submarine Escape Immersion Equipment (SEIE), sebuah body suit yang bisa diubah menjadi rakit darurat. SEIE bisa melindungi tubuh awak kasel dari tekanan air sehingga bisa menyelamatkan diri di kedalaman antara 183-185 meter. “Tetapi kru rentan dengan kondisi alam ketika di permukaan, seperti yang terjadi pada (kru kasel) Komsomolets K-278 (7 April) tahun 1989. Dari 69 kru, 34 di antaranya sempat mampu naik ke permukaan tetapi kemudian semua tewas karena hypothermia, gagal jantung atau tenggelam tersapu ombak,” imbuhnya. Kendati begitu, motode penyalatan tersebut merupakan salah satu capaian dari sejarah pengembangan metode penyelamatan sejak 1920-an. Di era awal kasel modern itu alat penyelamat kru kasel baru Kapsul McCann Rescue Chamber (MCRC) atau kapsul penyelamat yang dikaitkan dengan tali atau rantai ke kapal penyelamat di permukaan. Kapsul MCRC yang terinspirasi dari diving bell (bel selam) dikembangkan pada 1929 oleh Mayor Laut Allan R. McCann, Mayor Laut Charles B. Momsen, Letnan Laut Carlton Shugg, dan Sersan Clarence Tibbals. Hingga saat ini, Kapsul MCRC masih jadi satu-satunya alat yang tercatat pernah berhasil menyelamatkan kru kasel, kendati perkembangan DSRV telah pesat. Kasel Amerika Serikat, USS Squalus (S-11)  di pangkalan New Hampshire. ( navy.mil ). Keberhasilan penyelamatan menggunakan Kapsul MCRC itu terjadi pada 23 Mei 1939. Kala itu sejak 12 Mei dua kasel Amerika, USS Squalus dan USS Sculpin, tengah melakoni serangkaian uji selam usai perbaikan besar-besaran di Portsmouth, New Hampshire. Tetapi setelah melakukan 18 kali penyelaman, pada 23 Mei pagi Squalus hilang kontak di Kepulauan Shoals. “Pada 23 Mei pagi di koordinat 42°53′ Utara, 70°37′ barat Squalus mengalami masalah pada katup induksi utama yang menyebabkan ruang torpedo buritan, dua kompertemen mesin dan kabin kru bocor dan kebanjiran. Sebanyak 26 krunya langsung meninggal di tempat,” ungkap Clay Blair Jr. dalam Silent Victory. Squalus beruntung karena saat uji selam kasel itu tetap didampingi Sculpin sehingga titik lokasinya cepat ditemukan. Squalus tenggelam di kedalaman 74 meter. Sculpin pun mengirim komunikasi darurat ke kapal penyapu ranjau dan penyelamat kasel, USS Falcon. Dari informasi Sculpin dan telephone marker buoy atau pelampung komunikasi, para penyelam dari Falcon segera menemukan lokasi Squalus. Setelah dapat kepastian lokasi pada 24 Mei malam, Falcon menurunkan MCRC untuk menyelamatkan sisa 33 kru Squalus yang masih hidup dan diawasi langsung oleh Mayor Laut Charles B. Momsen. “Kapsul itu mirip lonceng atau bel baja besar yang diturunkan dari kapal penyelamat dan bisa dikaitkan ke palka penyelamat kasel. Setelah terkait, kapsul itu bisa mengurangi tekanan udara dan membuka palka demi membebaskan para kru yang terperangkap,” sambung Stewart. Kapsul penyelamat McCann (baris kiri) & upaya penyelamatan kru USS Squalus.  ( navy.mil / mohmuseum.org ). Setelah diturunkan, kapsul penyelamat itu dituntun penyelam William Badders, Orson L. Crandall, James H. McDonald, dan John Mihalowski kemudian disambungkan dengan palka penyelamat di Squalus. “Dengan dipimpin perwira medis senior Dr. Charles Wesley Shilling, keempat penyelam melakukan metode heliox diving schedule untuk mencegah gejala gangguan kognitif saat penyelaman yang dalam,” imbuh Blair Jr. Hasilnya, lewat empat kali misi, ke-33 kru Squalus sukses dipindahkan ke kapsul penyelamat itu dan dinaikkan ke Falcon. Squalus akhirnya juga bisa ditarik ke pelabuhan. Setelah diperbaiki, pada 9 Februari 1940 kasel itu berganti nama menjadi USS Sailfish.

  • Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi

    Bali, pulau yang ketenarannya bahkan melebihi Indonesia itu sendiri, dikenal bukan hanya karena keindahan alam, tetapi juga seni dan budaya. Tari kecak adalah salah satu kesenian yang dikenal luas dan menjadi identitas Bali. Tari kecak adalah pertunjukan drama-tari yang dimainkan oleh puluhan laki-laki. Ciri khas tari ciptaan Wayan Limbak dan pelukis Walter Spies ini adalah para penari duduk melingkar dalam beberapa sap dan menyerukan “cak” secara berulang-ulang seraya menggerakkan tangan ke atas. Para penari saat mementaskan kecak di Uluwatu Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kecak bukan hanya tentang pertunjukan kesenian biasa, namun berkaitan dengan ritual sanghyang dan kisah Ramayana, yaitu ritual tradisi di mana para penarinya tidak dalam kondisi sadar dan diyakini berkomunikasi dengan Tuhan atau roh leluhur. Karena keunikannya, kecak menjadi agenda pentas seni di Uluwatu. Berdiri di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi bersanding dengan keindahan pemandangan pantai Pecatu, Uluwatu menjadi destinasi wisata yang semakin lengkap dengan pementasan kecak. Uluwatu, salah satu tempat pentas kecak hingga kini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pengunjung pura di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bagi warga Uluwatu, keterampilan menari Kecak didapat dan dipelajari secara turun menurun. Inilah alasan mengapa kecak menampilkan penari dari berbagai tingkat usia, dari yang muda hingga yang sudah lanjut.  Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia setidaknya sejak Maret 2020 menyurutkan pariwisata Bali, termasuk pementasan tari kecak. Bangku-bangku penonton pertunjukan kecak yang biasa ramai menjadi lengang akibat pandemi. Tato yang menghiasi tubuh salah satu penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tari kecak yang terus berjuang untuk berkarya kala pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat menyaksikan pertunjukan tari kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, para pelaku seni tari kecak tidak berdiam diri. Mereka terus berlatih dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Kini, para penari kecak sudah kembali tampil, dengan masker, pelindung wajah, dan jumlah penonton yang tidak seramai dulu. Kecak kembali hidup dengan semangat dan bentuk berbeda.  “Saya sendiri sebenarnya sedih dan bahagia melihat kecak sekarang. Dulu kan penonton penuh, sementara sekarang agak sepi begini. Di sisi lain, saya bahagia karena mereka tetap berusaha menari dan menghibur," ujar Tiqa (33), salah satu pengunjung asal Aceh. Dalam gelap, kecak menyalakan api kecil untuk wajah sendiri. Tidak utuh tapi penuh. Kepada jagat, seruan kecak terdengar lamat-lamat membawa pesan" "Kami hidup". Pertunjukan tari kecak yang digelar di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak tato yang menghiasi tubuh salah seorang penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para penari saat mempertunjukan tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang penari bersantai usai pertunjukan kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hanoman salah satu karakter yang sangat ikonik dalam tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Uluwatu yang tak lagi ramai karena pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Hidup di Kapal Selam Whiskey

    JULI 1962. Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) baru saja melengkapi armada tempurnya dengan 12 kapal selam kelas Whiskey (W). Kapal selam buatan Uni Sovyet itu merupakan salah satu perangkat tempur bawah laut tercanggih di zaman-nya. Selain dilengkapi dengan homing torpedo  tipe SAET-50 yang mampu mencari sasaran secara otomatis, kapal selam itu juga dilengkapi meriam penangkis serangan udara kembar 25 mm, radar, sonar pasif dan snorkel . Menurut jurnalis militer Atmadji Sumarkidjo, kala itu hanya Indonesia (tentunya di luar Uni Sovyet) yang memiliki kapal selam kelas W lengkap dengan torpedo canggih-nya tersebut. Dengan merelakan Indonesia untuk memilikinya, sepertinya pimpinan Blok Timur itu ingin menguji keunggulan produk mereka di palagan Irian Barat. “Bila memang dioperasikan, jelas pihak Belanda akan kewalahan, karena torpedo demikian akan mampu melakukan hit  terhadap kapal perang atas air,” ungkap Atmadji dalam bukunya Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa. . Setelah menjadi milik Indonesia, 12 kapal selam W itu pun diberi nama sesuai tradisi ALRI: RI Tjakra (401), RI Nanggala (402), RI Nagabanda (403), RI Trisula (404), RI Nagarangsang (405), RI Tjandrasa (406), RI Alugoro (407), RI Tjumandani (408), RI Widjajadanu (409), RI Pasopati (410), RI Hendradjala (411) dan RI Bramastra (412). Syahdan, seorang jurnalis dari harian Berita Yudha bernama Sunario Sunarsal. Dia pernah mengikuti 3 operasi bawah laut yang dilakukan oleh RI Nanggala pada Desember 1961, KRI Tjudamani pada Agustus 1963 dan KRI Bramastra pada Juni 1966. Pengalaman Sunario selama bergabung dengan 3 kapal kelas W tersebut pernah dituliskannya dalam buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Menurut Sunario, kendati memiliki peralatan canggih, sejatinya kapal-kapal selam kelas W itu tidak dirancang untuk beroperasi di wilayah tropis yang panas. Karena itu wajar jika di dalam lambungnya, alih-alih pendingin udara, yang ada justru alat pemanas (dari listrik hingga uap). Tentunya suasana gerah sangat terasa sekali, kendati putaran kipas angin sudah diarahkan fokus ke tubuh para penumpangnya. “Peluh tetap mengalir deras seperti kain cucian yang diperas,” ungkap Sunario. Jangan pernah berharap bisa mandi di kapal selam W itu. Ketika para prajurit mendapat tugas berlayar selama sebulan, maka sebulan pula mereka harus siap tidak mandi sama sekali. Air tawar sangat dihemat dan khusus untuk minum dan memasak makanan saja. Kadang-kadang kalau tidak kebagian air, kumur-kumur pun dilakukan dengan secangkir teh atau kopi. Mandi secara “normal” baru bisa dilakukan ketika kapal selam naik ke permukaan laut. Itu pun kalau di laut tengah turun hujan. Tak jarang saat “mandi” itu para awak kapal selam harus menahan tamparan keras angin laut. Di atas anjungan itu pula, kesenangan sejenak bisa didapat oleh para awak. Mereka bisa bebas merokok atau melakukan aktifitas (termasuk salat) tanpa harus dibatasi atap yang pengap. Tepat di bawah anjungan terletak ruangan toilet untuk sekadar buang air kecil dan air besar. Semuanya serba “otomatis” karena langsung disalurkan ke laut. “Untuk membersihkan sehabis buang hajat cukup mengambil lidah ombak yang menampar dari arah kiri,kanan dan bawah,” kenang Sunario. Karena sebagian besar keperluan hajat menggunakan air laut, para awak menjuluki diri mereka sebagai “ikan asin”. Terlebih jika mereka tidak pernah mandi selama berminggu-minggu. Pengaruh garam dari air laut pun sangat terasa dan menimbulkan aroma yang seperti bau ikan laut. Namun karena sudah biasa, hal-hal tersebut sama sekali tak diindahkan. Lalu bagaimana dengan tidur mereka? Di dalam kapal selam kelas W, tidur bisa dilakukan di mana saja. Kecuali bagi komandan yang ditempatkan khusus di sebuah kabin kecil ukuran 1,5x2 meter. Biasanya para awak akan tertidur di tempat di mana mereka tengah ditugaskan. Asal badan bisa diletakan meskipun kaki tidak bisa berselonjor. “Tak jarang para awak tidur di gang-gang antar ruangan, bahkan para awak yang melayani torpedo, mereka bisa tidur lelap sambil memeluk senjata-senjata kesayangannya,” tutur Sunario. Yang paling bermasalah selama di dalam kapal selam adalah soal makanan. Kendati itu merupakan hiburan satu-satunya, namun makanan kadang diolah seadanya, bahkan kadang tak jelas rasanya. Hal tersebut masih enak jika persediaan makanan segar (buah-buahan, sayur mayor dan daging) masih tersedia. Namun jika sudah ludes, maka yang ada semua makanan serba instan. “Pokoknya perut diisi tidak peduli bagaimana rasanya, yang penting jangan lupa minum pil vitamin,” ungkap Sunario. Apabila ada perintah menyelam, maka semua pintu kedap ditutup. Setiap komando dan pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan interkom, telepon lokal dan pipa suara. Berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain tidak bisa dilakukan seenaknya, harus seizin komando sentral. Kalau sudah ada dalam posisi tempur, dilarang keras untuk berbicara kecuali komandan dan mereka yang bertugas untuk melaporkan data-data kapal musuh yang tengah diburu dan diintai. Hebatnya, semua “penderitaan” itu dijalankan secara tulus oleh semua awak kapal selam. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh terlebih frustasi. Semua tugas mereka jalankan dengan berpegang teguh kepada motto Korps Hiu Kencana: Tabah sampai akhir!

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page