top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ç'est la vie, Tedjabayu!

    SORE itu kami menemui Tedjabayu di Kedai Sagam (Sang Ahli Gambar), sebuah kedai kopi yang namanya diambil dari julukan ayah Tedja, S. Sudjojono. Seorang kawan tengah mencari informasi tentang kakeknya, dosen UGM yang hilang lalu dibunuh pasca-1965 dan kuburannya ditemukan tahun 2000 oleh YPKP 65 di Wonosobo. Tedjabayu mengenal sang kakek, tapi tak bisa banyak bercerita. Sebagai gantinya, Tedjabayu membagikan pengalamannya yang telah ia tulis menjadi memoar namun masih mencari penerbit. Kisahnya dimulai dari Rabu, 20 Oktober 1965. Hari yang tak pernah disangka-sangka oleh Tedjabayu. Sejak pagi, ia telah berada di gedung Chung Hwa Tjung Hwi (CHTH) di Jalan Sonobudoyo, Yogyakarta. Tedjabayu dan para anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) berjaga untuk mengamankan gedung yang dipinjam Universitas Res Publica (Ureca) itu dari ancaman massa demonstrasi ganyang PKI. Suasana makin riuh siangnya. Massa di depan gedung meneriaki mereka, “ganyang PKI, ganyang PKI, bunuh PKI.” Tak berapa lama kemudian, Tedja dan 126 kawannya ditangkap Batalyon F untuk diamankan dan diserahkan kepada polisi. Mereka lalu digiring ke penjara Wirogunan. “Masih nyanyi-nyanyi. Kita gayanya kayak model zaman aksi sepihak gitu. Aksi sepihak kan mesti nyanyi-nyanyi. Terus sebentar kemudian bebas gitu,” kenang Tedjabayu, 26 Januari 2020 lalu. Tedjabayu dan kawan-kawannya tetap santai karena mengira akan dibebaskan tak lama kemudian. Namun perkiraan mereka meleset. Wirogunan baru permulaan yang kelak membawa mereka dari penjara satu ke penjara lainnya. “Gak tahunya 14 tahun,” katanya sambal terkekeh. Tedjabayu lahir pada 3 April 1944 di Jakarta. Kedua orang tuanya, Sudjojono dan Mia Bustam, sama-sama pelukis dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nama Tedjabayu diberikan oleh Mia Bustam yang terinspirasi kisah Jawa Kuno, Sri Tanjung. Lahir dari ayah dan ibu yang berideologi kiri membawa Tedjabayu muda ke haluan yang sama. Ketika kuliah di UGM, ia bergabung dengan CGMI. Meski demikian, ia membantah CGMI adalah sayap PKI. Menurut Tedjabayu, cap PKI pada CGMI bermula pada Kongres CGMI di Jakarta tahun 1965. Pada kongres itu ditetapkan bahwa CGMI adalah organisasi mahasiswa revolusioner, anggota PKI, dan non-PKI. “Nah terus (CGMI) dicap (PKI). Sudah,” terangnya. Keanggotaannya dalam CGMI kemudian membawa Tedjabayu menjajaki bui demi bui. Dari Wirogunan, ia dilempar ke Ambarawa, Nusakambangan hingga akhirnya ke kamp Pulau Buru. Tedjabayu yang kala itu masih berusia 21 harus menjalani beratnya kehidupan penjara meski ia, sama seperti ribuan tapol lain, tak pernah diadili. Tedjabayu banyak bercerita tentang Nusakambangan. Di Nusakambangan, katanya, para tapol iseng-iseng menghitung jumlah butir jagung yang dibagikan setiap harinya. Makin hari jumlah butirnya menurun. Kadang 160 butir, kadang 150 butir, hingga hanya 130 butir. “Kita rata-rata, unit-unit lain kita tanya, berapa? 144 butir sehari. Karena itu ya ada yang meninggal karena kelaparan,” ungkap Tedjabayu. Di saat sulit seperti itulah Tedjabayu memahami bermacam-macam sifat asli seseorang. Ada yang egois, ada yang militan hingga akhir hayat. Ada yang pelit ketika mendapat kiriman makanan dari keluarga, ada pula yang selalu menjunjung tinggi solidaritas dan perkawanan. Suatu hari, ketika Tedjabayu tengah berada di ruang tempo (ruang untuk orang sakit) karena penyakit kulit scabies, seorang kawan meminta bantuannya untuk dipapah. Tedjabayu mengingatkan bahwa sang kawan masih sakit, jadi lebih baik beristirahat. “ Ora, koyone aku ki wes ora  kuat. Aku arep  pamit karo   konco - konco . (Tidak, sepertinya aku sudah tidak kuat. Aku mau pamit sama teman-teman.),” kata kawan itu. Bersama seorang kawan lainnya Tedjabayu lalu menggandeng orang itu keliling ke kamar-kamar. Namun, baru sampai kamar nomor tiga, orang itu jatuh, esoknya meninggal dunia. “Ada lagi satu yang gila. Sakit keras, kelaparan, tiba-tiba teriak. Tahu nggak lagu apa? Lagu ‘Internasionale’,” kata Tedjabayu. Tedjabayu dan tahanan lain lalu mengingatkannya bahwa lagu ‘Internasionale’ dilarang. Akhirnya ia menyanyi dengan lirih, makin lama makin pelan, kemudian meninggal dunia. Dua peristiwa itu, katanya, akan selalu ia ingat. Tentang bagaimana para pemuda kukuh dengan militansinya. Dari Nusakambangan, Tedjabayu mendapat giliran berangkat ke tanah pembuangan Pulau Buru pada 1970. Sembilan tahun ia diasingkan di sana bersama ribuan tapol lain. Tedjabayu baru dibebaskan pada November 1979. Di Kodim Jakarta Barat, tempat Tedjabayu dan kawan-kawannya dilepaskan, ia melihat sang ibu mengenakan jarit menjemputnya. Tedjabayu mengira ibunya akan menangis cengeng karena kembali bertemu si anak sulung yang 14 tahun tak pulang setelah berpamitan mengamankan gedung Ureca. Tetapi ia salah. “Ya ini hidup, Dja! Gitu. Bahasa Prancis dia bilang: Ç'est la vie, Dja !” kenang Tedjabayu. Itulah pengalaman hidup paling berharga Tedjabayu yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. Bebas dari penjara Orde Baru, Tedjabayu kembali menyambung harapan. Ia sempat bekerja untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Ia juga pernah menjadi komisaris Kantor Berita Radio 68H . Sore itu, Tedjabayu terlihat sehat. Meski rambut dan kumisnya sudah putih, ia tak seperti orangtua yang ringkih. Ingatannya dan minatnya pada beragam topik mengesankan. Kami lalu lanjut mengobrol, dari soal intelijen hingga kopi. Namun, obrolan mengasyikkan seperti itu belum kami dapati lagi sejak itu. Kami justru mendapat kabar mengagetkan: Tedjabayu meninggal dunia pada Kamis, 25 Februari 2021 di Jakarta. Padahal, memoarnya, Mutiara di Padang Ilalang , belum lama terbit. Selamat jalan, Mutiara.*

  • Mengenal Sosok Dewi Cinta Mesopotamia

    Dewi Ishtar atau Inanna di Mesopotamia disembah selama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antar masyarakat, dan cinta seksual.

  • Dari Bagelen ke Purworejo

    DAHULU wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah tanah Bagelen. Sejarahnya mewariskan ide-ide tentang pembangunan desa yang mampu memakmurkan rakyatnya. Para pelancong mencatat Purworejo sebagai kota yang bersih dan apik. Kota kecil dengan 12.000 penduduk pasca Perang Jawa itu telah dikelola dengan sangat baik. “Tidak berkembang begitu saja. Tapi berkembang dengan urban planning,” kata sejarawan Peter Carey dalam diskusi “Perspektif Baru Sejarah Purworejo: 190 Tahun Membangun” yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purworejo yang disiarkan lewat Youtube, Rabu (24/02/2021). Sebelum tahun 1831, Purworejo dikenal sebagai Brengkelan atau Kedung Kebo. Nama terakhir merujuk pada tangsi militer dan benteng Belanda yang didirikan pada awal Perang Jawa (1825–1830).

  • Child 44, Teror Pembunuhan Berantai di Rezim Stalin?

    SUATU hari di Moskow tahun 1953, Kapten Leo Demidov (diperankan Tom Hardy) berusaha menunggu dengan sabar di luar ruangan atasannya. Seraya menunggu, pikirannya melayang ke masa kecilnya yang penuh dinamika. Mulai dari masa dia lari dari panti asuhan semasa Holodomor (bencana kelaparan)hingga jadi pahlawan perang Uni Soviet yang mengibarkan bendera di atas Gedung Reichstag pada Perang Dunia II. Sebuah panggilan lantas membangunkan ke sadar an Leo dari ingatan itu. Di hadapan Mayor Kuzmin (Vincent Cassel), atasannya di polisi rahasia dari Kementerian Keamanan Negara ( MGB ) , Leo diberi tugas memburu dokter hewan bernama Anatoly Brodsky (Jason Clarke) yang menjadi mata-mata yang kerap memberi informasi kepada Kedutaan Inggris di Moskow. Bersama kedua rekan lamanya dari masa perang, Letnan Vasili Nikitin (Joel Kinnaman) dan Letnan Alexei Andreyev (Fares Fares), Demidov melacak dan menangkap Brodsky. Lewat investigasi brutal, Brodsky menyebut tujuh nama terduga mata-mata lain.Yang mengagetkan, salah satu nama terduganya adalah istri Leo, Raisa Demidova (Noomi Rapace). Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Sementara itu, muncul kasus pembunuhan di Moskow yang korbannya adalah putra Alexei, sahabat Leo. Oleh Mayor Kuzmin kematian putra Alexei ditetapkan sebagai kecelakaan tertabrak kereta, bukan pembunuhan. Alexei dan keluarganya yang berduka diminta tutup mulut dan wajib mengakui laporan resmi Kuzmin. Dua kasus itu diparalelkan sineas Daniel Espinosa dalam membuka film thriller misterinya yang bertajuk Child 44 . Film ini diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Tom Rob Smith. Adegan Kapten Leo Demidov yang tak rela menyatakan istrinya sebagai terduga mata-mata (Summit Entertainment) Plot cerita beringsut pada pergulatan nurani Leo yang meminta Alexei tak meneruskan permintaannya untuk menginvestigasi kematian putranya. Pasalnya, pemimpin “Negeri Tirai Besi” Joseph Stalin berjargon bahwa pembunuhan adalah penyakit dari kapitalisme. “Kau harus ingat, Alexei. Tidak ada yang namanya pembunuhan di ‘surga’ (Soviet),” kataLeo mewanti-wanti. Baca juga: The Death of Stalin , Kematian Stalin dalam Banyolan Meski begitu, diam-diam Leo minta bagian forensik melakukan autopsi. Hasilnya mengungkapkan fakta bahwa putra Alexei meninggal karena dibunuh. Sial bagi Leo, hal itu tercium Kuzmin dan Vasili yang iri kepada Leo. Keduanya bersekongkol untuk menyingkirkan Leo. Di sisi lain, Leo menolak menyatakan istrinya terlibat kasus spionase Brodsky. Tetapi karena reputasi Leo sebagai pahlawan perang, ia dan Raisa urung dieksekusi. Keduanya hanya diasingkan dan didemosi dari MGB ke Militsiya (polisi rendahan di Volsk) di bawah pimpinan Jenderal Mikhail Nesterov (Gary Oldman). Adegan Leo Demidov yang sudah didemosi, menuntut dibukanya investigasi kasus pembunuhan berantai kepada Jenderal Nesterov (Summit Entertainment) Di Volsk, Leo menemukan sebuah kasus pembunuhan anak-anak yang anehnya, luka-luka pada bagian tubuhnya sama dengan yang ia temukan di jasad putra Alexei. Namun ketika Leo berasumsi bahwa itu adalah kasus pembunuhan berantai, Nesterov menolak menginvestigasi dengan alasan yang sama meski sudah lebih dari 44 anak jadi korban. “Pembunuhan adalah penyakit kapitalis,” kata Nesterov. Ketika Leo dan Raisa bertamu ke kediaman Nesterov dan istrinya pada suatu malam, Nesterov baru luluh. S ejak kasus pembunuhan berantai itu muncul, Nesterov pun tak lagi berani membiarkan anak-anaknya berangkat sekolah sendiri. Nesterov akhirnya mengizinkan Leo menginvestigasi kasus pembunuhan berantai itu, mulai dari Moskow hingga Rostov , dengan syarat Leo harus melakoni investigasinya secara diam-diam tanpa terendus MGB. Namun, Leo harus berkejaran dengan waktu. Vasili dan Kuzmin tahu Leo mencoba menginvestigasi kasus pembunuhan dan itu artinya Leo dianggap sebagai pengkhianat sehingga terus memburunya. Di tengah pemburuan itu,Leo akhirnya bisa melacak identitas pelakunya, Vladimir Malevich (Paddy Considine). Bagaimana upaya Leo menangkap Malevich dan kelanjutan investigasinya? Akan lebih seru jika Anda saksikan sendiri Child 44 di aplikasi MolaTV. Adaptasi Kisah Nyata Secara sinematografi, Child 44 digarap cukup apik oleh Espinosa yang dibantu editor Pietro Scalia dan Dylan Tichenor. Tone sejumlah adegannya sengaja dibuat muram untuk menggambarkan suasana di negeri komunis di masa jayanya. Suasana itu makin kuat memicu adrenalin pada adegan-adegan kala Leo diburu agen-agen MGB berkat iringan music scoring mendebarkan dari komposer Jon Ekstrand. Meski latarbelakang film dan sinematografinya cukup baik, Child 44 menuai banyak kritik. Pasalnya tak satupun aktor Rusia yang ditonjolkan Epinosa se hingga mengurangi greget nuansa Sovietnya . “Novel laris Tom Rob Smith diadaptasi lewat sebuah film yang berat untuk dicerna. Ditambah aktor-aktor berbahasa Inggris yang mencoba aksen berat Rusia, di mana tak satu pun dari mereka aktor Rusia. Tom Hardy memang sukses membawakan karakter Leo, namun aspek-aspek forensik dan psikisnya datar saja. Tidak ada yang istimewa dalam adegan-adegan pelacakan pelakunya,” tulis kritikus Peter Bradshaw di kolom The Guardian , 16 April 2015. Baca juga: Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK Faktor lain yang mendatangkan kritik adalah, Espinosa mengemas Child 44 dengan sejumlah adegan tambahan heroik yang tak terdapat dalam novel. Adegan yang diingat dalam pikiran Leo di masa Perang Dunia II, salah satunya. Dalam film, Leo dan Alexei digambarkan sebagai dua pahlawan Tentara Merah yang mengibarkan bendera di atas Reichstag yang telah direbut dalam Pertempuran Berlin, 2 Mei 1945. Padahal, faktanya dua pengibar bendera di atas Gedung Reichstag itu adalah prajurit Tentara Merah bernama Aleksei Kovalev dan Abdulkhakim Ismailov. Lebih runyam lagi, Smith tak pernah menyebut Leo dalam novelnya sebagai personel Tentara Merah. Dalam bab-bab awal novel, Smith menciptakansosok Leo sebagai anggota OMSBON, sebuah brigade bermotor khusus yang bertugas di garis belakang sebagai pasukan penyabotase. Brigade yang bernaung di bawah NKVD (polisi rahasia Soviet)itu lazimnya terdiri dari para atlet Soviet yang terpaksa meninggalkan gelanggang olahraga gegara perang. “Selama Perang Patriotik (Perang Dunia II, red. ), dia direkrut unit khusus, OMSBON. Anggotanya dipilih dari Institut Kesehatan Fisik dan Kebudayaan, di mana dia (Leo) jadi siswanya. Perekrutannya berdasarkan keunggulan fisik yang atletis dan dilatih di Kamp Mytishchi, kamp milik NKVD atau polisi rahasia sebelum MGB. Dia jadi pahlawan setelah muncul dalam sebuah foto dengan latar belakang sebuah tank Jerman yang sedang terbakar,” tulis Smith dalam novelnya. Adegan Leo Demidov jadi pahlawan perang dengan mengibarkan bendera di Reichstag (kiri) dan dokumentasi aslinya (kiri) (Summit Entertainment/archive.org)) Terlepas dari banyaknya kritik, Smith mengaku senang dengan hasil film garapan Espinosa yang diadaptasi dari novelnya itu. Smith jadi satu di antara sedikit orang yang ditunjukkan hasil akhir film tersebut oleh rumah produksi Scott Free Productions sebelum resmi dirilis pada April 2015. “Saya senang filmnya. Mereka melakukan pekerjaan yang hebat. Saya sendiri tercengang. Saya mengatakan ini bukan hanya karena saya tak pandai berbohong, tetapi karena saya juga tahu kerja keras mereka. Tidak hanya lega, saya juga merasa bangga,” aku Smith kepada jurnalis Deirdre Molumby yang dimuat di scannain.com . Baca juga: Kursk , Kisah Getir Angkatan Laut Rusia Terlepas dari beberapa fakta yang melenceng, Smith tetap senang karena inti dari cerita novelnya tetap tersampaikan dengan baik. Yakni, tentang sikap aparat hukumSoviet era Stalin yang menutup mata padakasus-kasus pembunuhan. Salah satu pendiaman aparat itu terjadi dalam kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Andrei Chikatilo. Dalam novel dan film, Chikatilo digambarkan lewat sosok Malevich. “Kisahnya memang berdasarkan kasus nyata Andrei Chikatilo. Pembunuh berantai yang bertanggungjawab atas kematian puluhan anak-anak dan perempuan di Uni Soviet. Dia diadili dan didakwa atas 53 kasus pembunuhan. Mulanya dia lolos dari jerat hukum karena negara tempatnya tinggalmenolak adanya kasus pembunuhan. Saat dikonfrontir dengan bukti-bukti nyata kasus pembunuhan, pemerintah menuding orang-orang yang tak disukai sebagai pelakunya, seperti musuh politik, hingga kaum gay,” imbuh Smith. Pembunuh berantai Andrei Romanovich Chikatilo (kiri) yang digambarkan sebagai Vladimir Malevich dalam film (Rostov Police Department/Summit Entertainment) Kasus Chikatiloterjadi di 1970-an. Diungkapkan Peter Conradi dalam The Red Ripper: Inside the Mind of Russia’s Most Brutal Serial Killer , korban pertama Chikatilo yang tercatat dalam investigasi kepolisianadalah gadis cilik berusia sembilan tahun bernama Yelena Zakotnova.Yelena dibunuh pada medio September 1978 di Shakhty. Tubuh korban baru ditemukan pada 24 Desember 1978 di kolong jembatan Sungai Grushevka. Seiring waktu , satu per satu korban berjatuhan . Aparat yang dipimpin Mayor Mikhail Fetisov baru membuka investigasinya pada Januari 1983 . Pada 20 November 1990 , Chikatilo berhasil diciduk di Novocherkassk. Setelah diadili pada 14 April 1992, Chikatilo dinyatakan bersalah atas 52 kasus pembunuhan dan lima kasus pelecehan seksual. Dia dijatuhi eksekusi mati pada 14 Februari 1994. Meski kasus pembunuhan berantai itu terjadi mulai 1970-an, Smith mengadaptasikannya ke era 1950-an ketika Soviet masih dipimpin Stalin. Smith beralasan, dia ingin menciptakan sebuah kontradiksi bagi karakter si pembunuh berantai. “Latar belakangnya adalah periode rezim yang paling berbahaya di negeri itu, di mana saya mencoba menciptakan sebuah counterpoint pada pembunuhnya. Karakter pembunuhnya tak sepenuhnya sama dengan Andrei Chikatilo. Dalam buku, pembunuhnya bekerja seperti sebuah alat untuk mengeksplorasi keadaan negeri itu pada masa itu (rezim Stalin), negeri yang membunuh jutaan orang,” tandas Smith. Data Film: Judul: Child 44 | Sutradara: Daniel Espinosa | Produser: Ridley Scott, Michael Schaefer, Greg Shapiro | Pemain: Tom Hardy, Noomi Rapace, Gary Oldman, Joel Kinnaman, Paddy Considine, Vincent Cassel, Jason Clarke, Charles Dance | Produksi: Scott Free Productions, Worldview Entertainment | Distributor: Summit Entertainment, Lionsgate, Entertainment One, Bontonfilm, Ro Image | Genre: Thriller Misteri | Durasi: 137 menit | Rilis: 17 April 2015, Mola TV Baca juga: Horor Chucky dalam Kehidupan Nyata

  • Industri Gula Praja Mangkunagaran

    DIBANDING gedung-gedung yang ada di sekitar, pabrik itu terlihat menonjol. Bukan saja ukurannya lebih besar, tingginya pun meyakinkan: sekitar sepuluh meter. Bangunan itu berbentuk persegi, didominasi warna putih, dan kokoh berdiri di atas tanah seluas 6,4 hektar, dengan 1,3 hektar di antaranya digunakan untuk bangunan utama pabrik. Begitu masuk ke dalam, berbagai ornamen lama pabrik tersaji dengan rapi. Terawat dengan baik, seolah-olah masih baru. Di bagian tengah bangunan menjulang sebuah cerobong asap. Sementara di bagian depan dan samping terhampar tanah lapang yang ditumbuhi pepohonan, berfungsi sebagai taman, tempat orang-orang duduk bersantai. Pada dinding sebuah bangunan terdapat tulisan “PG COLOMADU TAHUN 1861”. Pabrik gula Colomadu merupakan bangunan bersejarah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Jalan Adi Sucipto, Malangjiwan, kecamatan Colomadu. Dilansir laman Kompas , rupa bangunan pabrik saat ini merupakan hasil revitalisasi tahun 2017 untuk keperluan situs cagar budaya dan wisata di daerah Jawa Tengah. Lantas bagimana pabrik tersebut bisa berdiri? Menurut sejarawan Wasino, pabrik gula Colomadu merupakan bisnis peninggalan Praja Mangkunagaran. Dalam acara Serial Seminar Nasional Sejarah “The Mangkunegara Sugar Industry and Road Infrastructure in The Surakarta Residency”, Jumat (19/02/2021), staf pengajar di Universitas Negeri Semarang itu menyebut jika pabrik didirikan pada 1860 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Untuk mendirikan pabrik, pertama-tama Mangkunegara IV memilih tempat di desa Krambilan, Distrik Malang Jiwan, sebelah utara Kartosura. Pertimbangannya, tanah di tempat itu subur dan ketersediaan air melimpah. Ia lalu memerintahkan R. Kamp, seorang ahli tanaman tebu berkebangsaan Jerman untuk meneliti tanah di sana apakah cocok untuk ditanami tebu atau tidak. Setelah dinilai sesuai, serta mendapat persetujuan dari Residen Surakarta, Nieuwenhuiz, Mangkunegara IV memulai pembangunan pabriknya. Dalam tulisannya di Humaniora Vol. 17, No. 1 tahun 2005, “Mangkunegara IV, Raja-Pengusaha, Pendiri Industri Gula Mangkunagaran (1861-1881)”, Wasino mengatakan bahwa peletakan batu pertama pembangunan pabrik dilakukan pada 8 Desember 1861. Sementara biaya yang dihabiskan seluruhnya mencapai f 400.000, berasal dari pinjaman hasil keuntungan perkebunan kopi Mangkunagaran dan bantuan dari seorang Mayor Cina di Semarang Be Biauw Tjwan, teman dekat Mangkunegara IV. Setelah melalui pembangunan selama setahun, pada 1862 pabrik gula itu siap beroperasi. Dalam sebuah upacara pembukaan pabrik, Mangkunegara IV menamai pabrik pertamanya itu Colo Madu , suatu nama Jawa yang artinya “gunung madu”. “Tidak ada penjelasan resmi mengapa menggunakan istilah itu, tetapi jika dilihat dalam tradisi penguasa Jawa, maka nama itu mengandung suatu harapan agar kehadiran industri gula ini menjadi simpanan kekayaan Praja Mangkunagaran dalam bentuk butiran pasir berjumlah besar hingga menyerupai gunung,” jelas Wasino. Karena Colomadu merupakan perusahaan pribadi, pegelolaan kebun berada di bawah kontrol langsung Mangkunegara IV. Namun pengawasan sehari-hari dilakukan seorang administratur, yang untuk pertama kalinya dipercayakan kepada R. Kamp. Namun ia hanya memegang jabatan selama 8 tahun, karena pada 1870 Mangkunegara memberi tugas perombakan dan perluasan perkebunan kopi kepadanya. R. Kamp lalu digantikan oleh putranya, G. Smith sebagai administratur pabrik gula Colomadu. Berdasar arsip Praja Mangkunagaran, panen perdana pabrik Colomadu tahun 1862 mampu menghasilkan sebanyak 6000 pikul gula dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu. Produksi itu menyamai rata-rata produksi gula per pikul di seluruh Jawa pada 1870. Hasilnya pun ketika itu tidak hanya untuk konsumsi lokal saja, tetapi sudah bisa dijual hingga ke Singapura dan Maluku. “Meskipun ini perusahaan pribumi tetapi jaringan perdagangannya tetap menggunakan jaringan-jaringan yang dibangun oleh perusahaan Belanda dan orang-orang Cina,” kata Wasino. Keberhasilan pabrik gula Colomadu mendorong Mangkunegara IV membangun pabrik keduanya, yakni PG Tasik Madu . Dikisahkan dalam Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Lama Semarang , terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama World Heritage Camp Indonesia, pabrik itu didirikan pada 1871. Lokasinya berada di Distrik Karang Anyar, sebelah barat lereng Gunung Lawu. Sama halnya dengan pabrik pertama, pabrik Tasikmadu juga dikelola secara langsung oleh Mangkunegara IV. Sistem pekerja di sana juga masih sama, yakni digarap oleh petani dari desa-desa sekitar pabrik secara cuma-cuma. Dengan kata lain para petani tebu itu dikenakan kerja wajib tanam tanpa dibayar sesuai dengan kebijakan dari Praja Mangkunagaran. Mulanya sistem produksi di Tasikmadu tidak teratur. Sebagian besar kegiatan produksi gula dilakukan tatkala perkebunan kopi mengalami penurunan keuntungan. Akan tetapi sejak ditandatanganinya kontrak dengan NHM (Nederland Handels Matschappij) di Semarang, produksi gula di Tasikmadu dilakukan secara teratur. Suntikan dana dari kamar dagang pemerintah Belanda itu membuat pabrik mengalami peningkatan jumlah produksi dan pemasaran. Tiap tahun jumlah permintaan gula dari kedua pabrik kian meningkat. Sejalan dengan itu, Praja Mangkunegaran juga segera melakukan perluasan lahan untuk tanaman tebu. Tidak hanya di distrik Karang Anyar, tetapi meluas ke wilayah lain. Selain itu, Praja Mangkunegaran pun dengan cepat membangun akses transportasi, utamanya jalur kereta api, guna memperlancar dan memperluas proses penyaluran hasil produksi. “Keberhasilan industri gula ini sangat membantu penghasilan Praja Mangkunegaran untuk melengkapi sumber pendapatan tradisionalnya dari pajak tanah. Keuntungan yang diperoleh dari pabrik gula sebagian digunakan raja untuk membayar gaji para bangsawan dan sebagian lagi dapat digunakan untuk menebus tanah lungguh  yang belum selesai ditarik kembali,” ujar Wasino. Setelah Mangkunegara IV wafat, segala proses produksi di kedua pabrik gula dilakukan di bawah pimpinan Mangkunegara V.*

  • Saat Pantai Barat Amerika Dibombardir Jepang

    HARI ini, 23 Februari, 79 tahun silam. Kapten Kozo Nishino, komandan kapal selam AL Jepang I-17, mendapat momen emas. Kilang minyak Ellwood Oil Field dekat Santa Barbara, California, Amerika Serikat sudah di depan mata, hanya satu mil dari kapal selamnya. Kesempatan itu tak ingin disia-siakannya untuk menjadikan kilang itu sebagai sasaran balas dendamnya. Nishino pun langsung mempersiapkan serangannya pada pembukaan malam itu.  “Tepat setelah matahari terbenam pada 23 Februari 1942, Komandan Kozo Nishino, komandan I-17, memunculkan kapalnya di Santa Barbara Channel,” tulis Joseph Jeremiah Hagwood Jr. dalam Engineers at the Golden Gate . Sementara Nishino mempersiapkan serangannya, penduduk kota sedang serius di depan radio mereka. Mereka bersiap mendengarkan pidato radio Presiden AS Franklin D. Roosevelt petang itu. “Presiden belum berbicara kepada negara sejak (serangan Jepang terhadap, red .) Pearl Harbor. Selama beberapa minggu dia ingin menyampaikan Fireside Chat lagi, tetapi tekanan pekerjaan membuatnya tidak mungkin –persiapan untuk siaran sepenting itu membutuhkan penelitian selama berhari-hari dan pengulangan retoris,” Nigel Hamilton dalam The Mantle of Command: FDR at War, 1941-1942. Dalam pidatonya, Roosevelt menyinggung tentang Perang Pasifik yang baru dimulai kurang dari dua bulan sebelumnya sebagai Battleground for Civilization. Dia menyeru kepada semua bangsa yang tak ingin civilization  mati agar bahu-membahu melawan negeri-negeri Poros. Dia menganalogikan posisi sulit Sekutu saat itu dengan posisi bertahan yang dilakukan Jenderal Washington di Lembah Forge sekira dua abad sebelumnya. Kendati sulit, itu dapat dilalui jika masing-masing memegang teguh komitmen. “Kita dari Bangsa-bangsa Bersatu setuju pada prinsip-prinsip luas tertentu dalam jenis perdamaian yang kita cari. Piagam Atlantik berlaku tidak hanya untuk bagian dunia yang berbatasan dengan Atlantik tapi juga untuk seluruh dunia; perlucutan senjata para agresor, penentuan nasib sendiri negara-negara dan rakyat mereka, dan empat kebebasan –kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan akan keinginan, dan kebebasan dari rasa takut. Tirani, seperti neraka, sulit ditaklukkan; namun kita memiliki penghiburan bersama ini, bahwa semakin keras pengorbanannya, semakin mulia kemenangannya. Kita tahu bahwa jika kita kalah dalam perang ini, perlu beberapa generasi atau bahkan berabad-abad sebelum konsepsi kita tentang demokrasi dapat hidup kembali. Dan kita bisa kalah dalam perang ini hanya jika kita memperlambat usaha kita, atau jika kita membuang amunisi untuk saling menembak,” kata Roosevelt, dikutip Hamilton. Pidato Roosevelt itu berhasil menarik pendengar di dalam negeri sebanyak 61 juta orang. New York Times  menjuluki pidato itu sebagai “salah satu yang terhebat dalam karier Roosevelt.” Namun, Roosevelt tidak tahu pada saat bersamaan di bagian barat negerinya sebuah kekuatan lawan sedang mempersiapkan serangan terhadap negerinya. Nishino memerintahkan awak kapal selamnya untuk mempersiapkan serangan ke kilang Ellwood. Serangan Nishino itu merupakan bagian dari serangan Armada Keenam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap armada laut Amerika di Pasifik. Pada 10 Desember 1941, sembilan kapal selam Jepang diperintahkan mengejar kapal USS   Enterprise . Sementara, beberapa kapal lain diperintahkan untuk mencapai pesisir barat Amerika Serikat.  “Di sana, mereka akan mendirikan pos-pos patroli untuk menyerang kapal sipil dan militer. Secara khusus, mereka harus menenggelamkan setiap dan semua persediaan dan bala bantuan yang ditujukan untuk bantuan Pearl Harbor,” tulis Hagwood Jr. Kapal I-17  merupakan salah satu dari sekian kapal Jepang yang menuju pantai barat itu. Tugas tersebut dimanfaatkan Nishino untuk membalaskan dendamnya. “Dia telah berlayar ke Ellwood dengan kapal tanker Jepang beberapa kali sebelum Pearl Harbor untuk mengambil minyak mentah untuk armada Jepang. Kunjungan pertama Nishino pada akhir tahun 1930-an merupakan kunjungan yang memalukan,” tulis Robert E. Kallman dan Eugene D. Wheeler dalam  Coastal Crude in a Sea of Conflict. Dalam kunjungan perdananya ke Ellwood, Nishino yang menjadi kapten kapal tangker Jepang terpeleset dan jatuh ke sepetak kebun kaktus pir ketika hendak mendatangi upacara penyambutannya oleh awak kilang. Akibatnya, dia ditertawakan oleh para awak kilang. Penertawaan yang memalukan itu amat membekas di benak Nishino. “Nishino, yang terhina oleh tawa itu, melihat kesempatannya untuk membalas dendam pada Februari 1942,” tulis Air Force Logistics Management Agency dalam Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership . Maka begitu kilang Ellwood sudah tampak di depan mata, pada pukul 18.40 waktu setempat Nishino memerintahkan juru mudi untuk segera menaikkan kapal ke permukaan. Para awak meriam diperintahkannya di posisi mereka. “Sembilan orang awak senapan dek bergegas ke senjata mereka dan mulai menembak pada waktu yang hampir bersamaan ketika Presiden Roosevelt memulai pidato radionya Ini adalah pertama kalinya peluru artileri asing mendarat di Daratan AS sejak Perang 1812,” tulis Steve Horn dalam The Second Attack on Pearl Harbor: Operation K and Other Japanese Attempts to Bomb America in World War II. Tembakan meriam 5,5 inci pertama dari dek I-17  yang dimuntahkan pada pukul 19.07   itu membuat satu dari beberapa petugas penjaga kilang kaget. Mereka mengira suara meriam itu merupakan ledakan kilang sehingga bergegas mendatanginya untuk mengecek dan memperbaikinya. Namun belum sampai tempat yang dituju, mereka kembali dikagetkan suara ledakan lain. Mereka akhirnya sadar bahwa itu merupakan tembakan kanon. Kepastian bahwa kilang mereka diserang datang dari kesaksian salah seorang yang tak sengaja melihat kapal selam besar di lepas pantai. Mereka pun segera berlindung, sementara seorang petugas menghubungi kepolisian setempat. Tembakan I-17  terus berdatangan hingga sekira pukul 19.40. Namun, dari sekira 25 meriam yang ditembakkan itu, mayoritas meleset ke kaki bukit di belakang kilang dan perkebunan di sekitar kilang. Ketidakakuratan tembakan I-17  disebabkan antara lain oleh kesulitan menjaga agar meriam dek kapal selam tetap mengarah ke sasaran sementara kapal terus bergerak. Tak satu pun korban jiwa jatuh akibat serangan itu. Hanya seorang petugas kilang terluka akibat berusaha menjinakkan peluru yang tidak meledak. Kerusakan pada kilang terjadi di satu rig yang perbaikannya memakan biaya 500 dolar.   Kendati secara militer serangan itu gagal akibat tak banyak kerusakan yang ditimbulkan, Nishino merasa cukup untuk menyudahi serangannya. Dia segera memerintahkan juru mudi menyelamkan kembali kapal selamnya. Upaya pengejaran oleh tiga pesawat Army Air Force yang datang kemudian tak berhasil mencapainya. Serangan Nishino itu sukses meneror warga California. “Komandan kapal selam Jepang Kozo Nishino memperoleh kepuasan pribadi dengan menembaki pantai California,”   tulis buku berjudul Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership.*

  • Misi Parman Melobi London

    BRIGJEN TNI Soegih Arto, utusan Presiden Sukarno untuk berunding dengan Kementerian Luar Negeri Inggris transit di Prancis. Soegih Arto diterima oleh Kolonel Sumpono Banyuaji, Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Prancis. Sesampainya di kediaman Atmil, Soegih Arto kaget karena melihat atasannya Mayjen TNI S. Parman juga berada di tempat yang sama.    “Baru lama kemudian, saya mengetahui bahwa Beliau mengemban tugas yang sama, hanya salurannya ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris,” tutur Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Keberadaan Parman di Paris sepertinya sudah berlangsung beberapa hari sejak Soegih Arto tiba disana. Menurut Soegih Arto, Parman punya misi yang sama dengan dirinya, yakni menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia melalui perantaraan Inggris. Bila Soegih Arto diutus ke Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya jaringan ke pejabat tinggi kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Parman dijemput oleh Atmil Indonesia untuk Inggris Kolonel Sasraprawira menuju ke London. Sebagai Asisten I Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) yang memegang bidang intelijen, Parman memiliki jaringan di mana-mana. Selain itu, Parman memang telah lama menjalin koneksi dengan pihak militer Inggris. Sebelum menjabat Asisten I/Intelijen Menpangad, Parman bertugas di Inggris sebagai Atmil selama tiga tahun (1959—1962). “Tugas yang dipikul S. Parman selama menjadi atase militer ini cukup berat,” tulis Sutrisno dalam Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman . “S. Parman sering mengadakan pertemuan, jamuan, atau mengunjungi pejabat-pejabat tertentu di Inggris.” Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sumarti, Parman merupakan utusan Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani sebagai peace feelers  atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Yani memilih jalur Departemen Pertahanan Inggris dengan pertimbangan, pihak Malaysia akan lebih mudah untuk diajak ke meja perundingan jika pemerintah Inggris sudah ikut dilibatkan. Jalur ini dipakai Ahmad Yani dengan mengirimkan asisten intelijennya, S. Parman. Berdasarkan dokumen arsip Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office ), Parman tercatat mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis di Paris pada 9 Oktober 1964. Pembicaraan lanjutan terjadi pada  10 dan 13 Oktober di Paris, kemudian pada 21 Oktober di Kementerian Pertahanan Inggris di London. Kepada Berger, Parman menjelaskan latar belakang penentangan Sukarno terhadap pembentukan negara Federasi Malaysia. Pertama , tindakan Tunku Abdul Rahman membentuk negara federasi dilakukan sebelum laporan komisi penyelidikan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedua , keyakinan bahwa Inggris memaksa wilayah Kalimantan Utara (Borneo) masuk ke dalam negara federasi Malaysia. Ketiga , kehadiran tentara Inggris di Malaysia mengancam keamanan dan keselamatan Indonesia. Parman menerangkan masalah besar yang dihadapi Indonesia untuk menyelesaikan konfrontasi adalah soal menyelamatkan wajah pemerintah Indonesia di kancah internasional. Di samping syarat mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Sarawak, Parman juga mengajukan permintaan supaya Inggris membuat penyataan bersedia menutup pangkalan militernya di Singapura dalam waktu tertentu. Langkah ini, menurut Parman sebagai cara terbaik untuk mengakhiri konfrontasi.  Menanggapi tawaran Parman, Berger menyiratkan bahwa sangat tidak mungkin bagi Inggris untuk menerima tuntutan tersebut. “Tidak ada keharusan bagi pihak Inggris tentang penarikan diri dari Singapura. Orang-orang Indonesia sedang berseluncur di atas es tipis. Aktivitas mereka telah menghasilkan perasaan yang sangat keras di Inggris. Singkatnya, orang-orang Indonesia harus menghentikan agresi mereka sebelum tawaran mereka dapat dipercaya di sini,”demikian jawaban Berger sebagaimana dikutip Linda dari dokumen Foreign Office .   “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” kata Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963-1966”. Misi Parman melobi London mentok dan tidak bersambut. Padahal, Sukarno terus saja menyerukan kampanye Ganyang Malaysia di dalam negeri. Meski demikian, upaya penyelesaian konfrontasi lewat operasi di balik layar tetap dijalankan. Ini bertujuan untuk menghindari Indonesia dari perang terbuka yang kemungkinan akan berhadapan dengan Inggris dan sekutunya.   Di saat yang sama, Ahmad Yani juga memerintahkan Mayjen Soeharto dari Kostrad untuk menjajaki normalisasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia tanpa melalui mediasi pihak ketiga. Soeharto dan rekan-rekannya kemudian membentuk operasi khusus menembus pihak-pihak penting di Malaysia. *

  • Gotti, Mafia Flamboyan yang Dicinta dan Dibenci

    JOHN Gotti Junior (diperankan Spencer Lofranco) mulai gelisah di sebuah ruang tunggu Penjara Federal Springfield, Missouri pada suatu hari tahun 1999. Sebuah kamera DLSR di balik cermin kamuflase sudah siap merekam semua yang ada di ruangan itu. Sosok yang ditunggu Junior akhirnya tiba. Dikawal tiga sipir, John Gotti (John Travolta) datang dengan tangan dan kaki dibelenggu. Wajahnya sudah semarak oleh kerutan. Kepalanya sudah tak lagi bermahkota rambut. Suaranya pun mulai parau akibat kanker tenggorokan. Tetapi kharisma dan wibawa Gotti tak pernah luntur. Pada pertemuan itu, Junior mengungkapkan kepada sang ayah bahwa dia ingin mengajukan pernyataan dirinya bersalah atas sejumlah dakwaan pemerintah federal terhadapnya. Selama ini Junior terlibat atas semua dakwaan yang berhubungan dengan aktivitas dunia hitam keluarga mafia Gambino yang pernah dipimpin ayahnya. Baca juga: Lantai Dansa John Travolta Adegan John Gotti di masa senjakalanya dalam hukuman bui seumur hidup. (Vertical Entertainment). Gotti mengerti bahwa putra sulungnya itu punya niat untuk melindungi keluarganya. Namun, Gotti berusaha membulatkan hati Junior untuk tidak menundukkan kepala meski hukuman bui belasan tahun mengancamnya. Gotti ingin Junior belajar tentang kekuatan karakter seseorang, sebagaimana Gotti yang selalu berusaha menegakkan kepala, kendati sudah dibui dengan hukuman seumur hidup. Adegan mengenai hari-hari terakhir Gotti menjelang ajalnya itu jadi pilihan sineas Kevin Connolly untuk membuka biopik tokoh kriminal bertajuk Gotti . Connolly ingin memperlihatkan sosok gembong mafia ternama itu tetap bertahan dengan prinsipnya meski “dunianya” sudah lama tenggelam. Prinsip itu selama ini berperan besar membuat Gotti bisa menjadi “Godfather”. Baca juga: Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather Alur cerita lalu mundur ke tiga dekade sebelumya. Gotti mulai mendaki tangga “kariernya” di organisasi mafia Gambino sejak 1972. Dia mulai jadi soldato (tukang pukul) yang dimentori underboss Aniello ‘Neil’ Dellacroce (Stacy Keach). Sejak saat itu hingga di era 1980-an, perlahan tapi pasti Gotti naik kelas dari soldato hingga menjadi caporegime. Selama itu juga Gotti kerap ditangkap, diadili, hingga keluar-masuk penjara. Meski di dalam organisasi selalu jadi sosok yang dingin dan brutal, di luar organisasi Gotti justru jadi sosok yang dicinta. Tidak hanya oleh sang istri Victoria (Kelly Preston) dan anak-anaknya, namun juga warga proletar di area yang dikuasainya. Adegan John Gotti saat bersama mentornya, Aniello 'Neil' Dellacroce. (Vertical Entertainment). Kecintaan mereka muncul karena besarnya perhatian Gotti. Ketika sebuah sasana tinju disegel pemerintah karena tak punya uang untuk bayar pajak, Gotti bersedia menanggungnya demi anak-anak muda di lingkungannya jauh dari dunia hitam. Lalu ketika beberapa lansia miskin tak punya biaya untuk ke rumahsakit, Gotti dengan tulus menanggung biaya perawatan mereka. Namun memasuki 1985, gonjang-ganjing terjadi di dalam tubuh Gambino. Sang boss , Paul Castellano, juga mulai dibenci Gotti karena dianggap sosok pemimpin lemah di antara lima keluarga mafia New York. Yang paling bikin Gotti murka adalah, Castellano ingin merombak internal organisasi, termasuk kelompok yang selama ini dipegang Gotti. Baca juga: The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia Bersama rekan terdekatnya, Angelo Ruggiero (Pruitt Taylor Vince), Gotti merencanakan penyingkiran Castellano. Neil yang selama ini jadi mentor Gotti, paham keadaannya dan mendukung. Dia bahkan memberitahu apa tindakan selanjutnya jika Gotti ingin mematangkan rencana membunuh Castellano dan siapa saja orang yang harus didekati. Di antaranya adalah mendekati beberapa capo di organisasi mafia Gambino lain, seperti Frank DeCicco (Chris Mulkey) dan Sammy ‘Bull’ Gravano (William DeMeo), serta melakukan pendekatan kepada lima keluarga mafia di Staten Island, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Manhattan. Namun, Neil tak bisa membiarkan Gotti membunuh Castellano selama Neil masih hidup. Sebab, pembunuhan sesama satu organisasi merupakan aib bagi dunia mafia. Gotti pun terpaksa menuruti dan menunggu hingga tiba hari kematian Neil karena usia tuanya. Gotti kian bertekad membantai Castellano setelah tahu sang bos tertinggi itu tak hadir di prosesi pemakaman Neil. Maka, Castellano pun dibunuh oleh orang-orang suruhan Gotti di depan restoran Sparks Steak House di Manhattan, beberapa hari sebelum perayaan Natal 1985. John Gotti Junior (kanan) yang mengikuti jejak ayahnya masuk "Cosa Nostra". (Vertical Entertainment). Gotti kemudian merayakan tahun baru 1986 sebagai pemimpin Gambino. Tak seperti bos mafia lain, Gotti nan flamboyan justru menikmati sorotan publik. Berbagai media cetak menjulukinya “The Real Godfather”, “The Dapper Don”, atau “The Teflon Don” karena selalu lolos dari jerat hukum berkat pengacara handal. Ia pun mengajak serta Junior yang baru lulus Akademi Militer New York untuk “dibaptis” sebagai soldato. Sayangnya tak ada yang abadi. Masa kejayaan Gotti yang bergelimang harta dan popularitas itu perlahan tenggelam. Penyebabnya, rekan terdekatnya, Ruggiero, keceplosan bicara banyak tentang aktivitas mafia dan terekam alat penyadap FBI. Gotti pun kembali berurusan dengan hukum. Lebih runyam ketika beberapa mantan anak buahnya “bernyanyi” di muka sidang. Bagaimana Gotti mencoba menghindari jeratan hukum itu dan apa yang membuat Gotti bertahan dengan prinsipnya dan enggan tunduk meski masa depan pahit sudah siap menyambutnya? Baiknya Anda saksikan sendiri Gotti di aplikasi daring Mola TV. Sisi Lain Gotti Gotti dikemas dengan tone film yang cukup apik sepanjang tiga dekade riwayat bos mafia flamboyan itu. Editor Jim Flynn bahkan menyelipkan beberapa footage pemberitaan televisi terhadap sosok Gotti di era 1980-an dan 1990-an, termasuk video pemakaman sang “Godfather” usai menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Juni 2002. Biopik ini kian “gurih” karena diiringi music scoring yang berwarna. Mulai dari ritme retro untuk mengiringi adegan-adegan Junior dan Gotti di era 1980-an hingga efek scoring yang membangun nuansa ketegangan kala mengiringi adegan-adegan sadis. Hanya saja, Gotti justru gagal meledak di pasaran. Sejumlah kritik, salah satunya dari kritikus Jordan Mintzer, menyasar pada penulisan alur cerita. “Filmnyanya ditulis dengan buruk, minim scene menegangkan dan sisanya sangat biasa saja. Cerita tentang ayah dan anak sama sekali tak berhasil. Gotti terlalu lama menghabiskan waktu menggambarkan emosi setelah kematian Frank (anak ketiga Gotti). Inti cerita tentang karakter utamanya justru kurang berkesan,” tulis Mintzer di kolom The Hollywood Reporter , 15 Mei 2018. Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan Connolly sang sutradara beralasan bahwa ia memang sengaja mengemasnya cenderung kepada cerita drama, bukan action kriminal. Ia ingin penonton bisa melihat sisi lain Gotti yang selama ini dikenal publik hanya dari luar via pemberitaan televisi maupun media cetak. Meski tangan Gotti “berlumuran darah” oleh aktivitas pemerasan dan pembunuhan, toh di mata masyarakat kelas menengah-bawah ia justru dianggap pahlawan. “Ibu dan ayah saya berasal dari kelas pekerja. Ayah saya seorang sopir truk, namun ironisnya selalu ada sesuatu tentang Gotti yang membuatnya terkesan. Gotti seperti tokoh anti-kemapanan yang dipuja masyarakat kelas pekerja. Saya ingat ayah saya senang terhadap sosoknya dengan mengatakan, ‘Lihatlah orang ini, ia mengacungkan hidungnya terhadap pemerintah.’ Jadi, ya, dia semacam pahlawan lokal bagi kelas pekerja,” ujar Connolly, dikutip Men’s Journal . Aktor utama John Joseph Travolta (kiri) & sosok asli John Joseph Gotti Gotti (Vertical Entertainment/Majalah New York , 19 Februari 1990). Di bagian penutup film, Connolly pun menggambarkan Gotti lewat footage komentar beberapa warga tentang Gotti usai ribuan orang meratapi konvoi kereta jenazahnya di pinggir jalan. “Lingkungan tempat tinggal kami selalu lebih aman ketika Gotti masih berkuasa. Ketika dia dipenjara, tingkat kriminalitas naik drastis karena jalanan mulai dikuasai berandal jalanan,” tutur seorang responden. Baca juga: Robert De Niro Bicara tentang The Godfather: Part II Sama seperti Connolly, Travolta yang memerankan Gotti awalnya juga heran mengapa seorang bos mafia justru disanjung masyarakat kelas menengah dan golongan bawah. Padahal saat sedang disorot publik dan media, Gotti senantiasa tampil perlente dengan jas dan mantelnya yang –atas izin keluarga mendiang Gotti juga dipakai Travolta selama syuting– elegan bak kaum elite. “Mulanya saya tak mengerti karakter Gotti, kenapa dia sangat dicintai dan populer? Jadi saya meriset sendiri dan menemukan bahwa yang dilakukannya: Bisnis ilegal apapun yang dilakoninya, dia akan mengelolanya menjadi dana subsidi (untuk masyarakat) dan mengembalikannya menjadi legal. Jadi dia menjadi sekutu dan nyaris seperti sebuah asuransi keamanan,” ungkap Travolta kepada Phoenix New Times , 15 Juni 2018. Seperti Al Capone, John Gotti gemar jadi media darling.  (Mingguan People , 27 Maret 1989/ The New York Daily News , 11 Juni 2002). Seperti yang digambarkan dalam film, Gotti perhatian kepada lingkungan tempat tinggalnya dan lingkungan tempatnya berkuasa sejak masih jadi capo hingga menjadi bos besar. Gotti kerap berderma pada masyarakat kelas bawah. “Dia orang yang murah hati di lingkungannya. Jika dia melihat beberapa petinju potensial tetapi sasananya ditutup, dia akan membuka kembali sasana itu untuk mereka. Bila sebuah keluarga kesulitan biaya medis, dia akan menanggung tagihan rumahsakitnya. Jadi dia orang yang perhatian. Karena saya tak ingat Al Capone, (John) Dillinger, atau bahkan Whitey (Bulger) dicintai banyak orang. Jadi karena itulah Gotti dicintai dan menjadi sangat berkuasa,” sambungnya. Baca juga: Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather Menurut Jeffrey Sussman dalam Big Apple Gangsters: The Rise and Decline of the Mob in New York , popularitas dan kecintaan kelas menengah dan bawah terhadap Gotti merupakan pelampiasan ketidakpuasan mereka terhadap banyak kebijakan pemerintah di era 1980-an yang tidak pro-rakyat. Gotti pun diusung sebagai sosok idola anti-kemapanan, terlepas ia acap nongol di media-media dengan jas mewah seharga dua ribu dolar dan sepatu impor Italia yang banderolnya tak pernah kurang dari 400 dolar. “Sejak eranya Al Capone, tak pernah ada lagi gangster yang jadi media darling karena semuanya memilih low-profile. Dan John Gotti dan media punya hubungan simbiosis mutualisme dalam hal itu. Dia selalu tampil necis, selalu menegur publik dengan ramah. Saat pejalan kaki menyapa, ‘Hai, John,’ dia akan merespon dengan lambaian tangan dan senyum lebar. Saat makan di restoran pun dia bersedia meladeni permintaan tandatangan fansnya,” tulis Sussman. Kolase iring-iringan jenazah John Gotti yang wafat di usia 61 tahun yang turut diselipkan dalam film Gotti.  (Vertical Entertainment). Gotti juga selalu menghadapi persidangan dengan kepala tegak. Termasuk ketika dimejahijaukan atas kasus pemerasan dan lima pembunuhan dalam kurun Desember 1990-April 1992. Dalam persidangan itu Gotti tak bisa berkelit lagi karena beberapa eks-anak buahnya berkhianat dengan memberi kesaksian berlawanan. Selain didenda 250 ribu dolar, Gotti pun divonis hukuman penjara seumur hidup. Vonis itu membuat ratusan fans Gotti mengamuk di luar gedung pengadilan New York. “Ratusan fans Gotti yang berkumpul di luar gedung pengadilan terhenyak. Mereka merusuh, membalikkan sejumlah mobil, tawuran dengan polisi, dan melantangkan teriakan dukungan kepada Gotti untuk menuntut pembebasannya. Aparat Kepolisian New York sampai harus menurunkan personel dari seluruh polresnya untuk meredam kerusuhan,” tambah Sussman. Setelah Gotti wafat, jenazahnya tak hanya diiringi rombongan keluarga dan kerabat, namun juga para fans-nya. Justru tak satupun perwakilan organisasi mafia yang ikut mengantar Gotti ke peristirahatan terakhirnya. “Gotti dikuburkan di St. John’s Cemetery. Sekitar 20 mobil limo ikut iring-iringan jenazahnya, ditambah ratusan mobil penggemarnya bak sedang mengantar seorang bintang film atau pahlawan penakluk. Ketiadaan utusan keluarga mafia lain diinterpretasikan sebagai penghinaan kepada figur yang berani menantang aparat hukum pemerintah. Iring-iringan itu tak hanya jadi salah satu konvoi paling berwarna dalam sejarah gangster di New York, namun juga menandai permulaan tenggelamnya organisasi mafia Gambino,” tandas Sussman. Data Film: Judul: Gotti | Sutradara: Kevin Connolly | Produser: Randall Emmett, George Furla, Michael Froch, Marc Fiore | Pemain: John Travolta, Spencer Lofranco, Kelly Preston, Stacy Keach, Pruitt Taylor Vince, Willam DeMeo, Chris Mulkey | Produksi: Highland Film Group, EFO Films, Fiore Films | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Biopik Kriminal | Durasi: 110 menit | Rilis: 15 Mei 2018, Mola TV Baca juga: Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia

  • Penerbangan Gelap Nan Mengerikan dr. Soeharto

    DOKTER R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta, senang bukan kepalang. Perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa baru saja diselesaikannya. Perjalanan itu ialah menyertai Bung Karno, Bung Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat menghadap Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi Jepang di Asia Tenggara, di Dalat, Vietnam.

  • Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (1)

    GARUT, 17 April 1952. Kengerian membekap Pesantren Darussalam Cipari malam itu. Ribuan bayangan berkelebat, seolah hantu-hantu pencabut nyawa yang tengah memburu mangsanya. Di tengah suara tembakan gencar yang membahana, terdengar jerit ketakutan para perempuan dan anak-anak. “Saya ingat sekitar 3 batalyon gorombolan DI (Darul Islam) menyerang pesantren kami selepas jam 7 malam. Di bawah pimpinan langsung Mama Ajengan Yusuf (Tauziri) kami melawan mereka sebisanya” kenang Syarif Hidayat, saksi hidup peristiwa tersebut. Penyerangan sekitar 3000 gerilyawan DI tersebut merupakan puncak perseteruan politik antara pimpinan Pesantren Darussalam Cipari Ajengan Yusuf Tauziri dengan imam DI Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Menurut Syarif Hidayat, sejak tahun 1949—1958 sudah sekitar 50 kali pesantren yang terletak di kawasan Wanaraja itu diserang para pengikut Kartosoewirjo.

  • Kisah Romansa Masa Lalu

    KISAH romansa yang muncul pada suatu zaman bisa menunjukkan situasi sosial politik yang sedang berlangsung. Romansa adalah bagian dari situasi politik yang berdampak pada kisah percintaan. “Kita bisa lihat bagaimana romansa merupakan cerminan konstruksi politik, maskulinitas, feminisme juga,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi “Romansa dalam Peradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di kanal Youtube ,   Kamis (18/02/2021). Seno mengambil contoh cerita Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai  karangan Marah Rusli. Novelnya dirilis pada 1922 dan sangat populer. Kisahnya menunjukkan bagaimana ide perjodohan oleh orangtua ditolak. “Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun pilihanmu, kecuali pilihan kami. Ini antara hormat pada orangtua dan kebebasan manusia,   menjadi dilema. Ini menarik dalam proses modernisasi,” kata Seno. Pada masa Orde Baru ada dua tonggak dari karya sastra populer. Pertama, novel Karmila  karya Marga T . Kisahnya tentang seorang perempuan yang diperkosa kemudian menikah dengan pemerkosanya.  Dia bersedia dengan pertimbangan etis, bahwa ini adalah anak orang itu.   “Konflik batin luar biasa,” kata Seno. Kedua , trilogi karya Ashadi Siregar berjudul Cintaku di Kampus Biru ,  Kugapai Cintamu ,   dan  Terminal Cinta Terakhir .   “Ashadi dengan sadar, dalam setiap diskusi selalu mengatakan, ini menyimbolkan orangtua merupakan gambaran kekuasaan,” ujar Seno. “Ingin menyadarkan orang akan adanya kekuasaan yang bisa berlangsung keliru atas nama adat.” Pada masa Reformasi, kata Seno, seolah terjadi pembebasan dengan karya-karya dari Ayu Utami dan Djenar Mahaesa Ayu. Misalnya soal seksualitas tak hanya merupakan ungkapan cinta, tapi juga penindasan dan penyiksaan. Tanda-tanda itu juga bisa ditangkap dari karya-karya kesusastraan pada masa Jawa Kuno. Misalnya pada kisah Ramayana dan Panji. Ramayana dan Kritik Terhadap Kuasa Lelaki Seno mengadaptasi cerita Ramayana dalam karya Kitab Omong Kosong. Ia menandai tiga momen kunci dalam kisah romansa itu. Ketiganya mewakili kritik terhadap pola kekuasaan.  Momen pertama ketika Hanoman,   sang kera putih, diutus Rama ke Alengka menemui Sita yang diculik Rahwana. Ia menemui Sita dengan membawa cincin Rama sebagai bukti sekaligus untuk menguji kesetiaan Sita. “Kalau cincinya pas ketika dipakai Sita artinya masih setia. Jadi kalau nggak setia nggak  cinta lagi gitu? Ini namanya cinta bersyarat dan juga menunjukkan kepentingan lelaki,” ujar Seno. Momen kedua setelah Rama memenangkan peperangannya melawan Rahwana. Sita masih harus membuktikan lagi kesuciannya di   hadapan Rama. Caranya dengan membakar diri.   “Kalau mati bagaimana? Hanya demi cintanya Rama itu?” ujar Seno. Momen ketiga rupanya Rama masih kurang puas dengan kenyataan itu. Rama terus ragu dengan kesucian Sita. Maka, ketika Sita melahirkan putra kembarnya, Lawa dan Kusya, Rama mempertanyakan asal-usul keduanya. “Saya kira Valmiki [pencipta Ramayana] luar biasa, jauh-jauh hari, berabad lalu menunjukkan kritik terhadap kuasa laki-laki dan dia memenangkan perempuan,” ujar Seno. Kisah itu berakhir dengan pembuktian Sita yang paripurna. Sita bersumpah kepada Rama, jika ia tak suci, sebagaimana diduga Rama, maka bumi pun takkan sudi menerimanya. Bumi pun terbelah. Sita pun ditelan, diterima oleh bumi. Panji dan Keberagaman Seksual Sementara itu, keterbukaan pada pluralitas seksual terbaca dalam kisah Panji. Mulanya dari cerita lisan, paling tidak sejak 1400 M.   Secara garis besar, kisahnya merupakan kumpulan cerita tentang kepahlawan Raden Inu Kertapati dan kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana.  Cerita Panji punya banyak versi yang menyebar luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara dan telah dikisahkan ke dalam 13 bahasa. Bentuknya pun beragam. Ada wayang, teater, tarian, lukisan, sastra lisan, tulis, variasi bahasa, bahan, dan variasi ceritanya. Hikayat cinta Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana yang paling terkenal. Mereka diceritakan sempat berpisah dan harus mengatasi banyak rintangan luar biasa hingga akhirnya bersatu kembali. “Pada waktu pengelanaannya itu yang kemudian banyak berkembang versinya,” ujar Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Di dalam pengelanaannya, Panji dan Candra Kirana kerap kali menyamar. Candra Kirana bahkan dikisahkan menyamar sebagai laki-laki. “Ini adegan rawan. Dia tertarik pada Candra Kirana ketika masih berwujud lelaki tanpa tahu ini samarannya,” ujar Seno. “Ini kode tentang pluralitas seksual.” Karenanya, menurut Seno, semua yang kini bisa ditemukan di dalam karya sastra kontemporer, nyatanya sudah ditemukan di dalam sastra lisan Nusantara. “Tema ketersamaran gender ini kembali dan menyeruak,” kata Seno. Panji dan Rama dalam Relief Candi Pada masa Jawa Kuno, kisah Ramayana dan Panji terpahat dalam bentuk relief di candi-candi utama Jawa. Relief kisah Rama dan Sita bisa ditemukan di Candi Siwa dan Brahma di Kompleks Candi Prambanan dari abad ke-9 dan relief candi utama di Kompleks Candi Panataran, Blitar dari masa Majapahit.  Sementara cerita Panji muncul pada banyak candi dari era Majapahit akhir, misalnya Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir.  Kisah Ramayana pada Candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan dimulai dari adegan Rama mengikuti sayembara untuk mendapatkan Sita. “Adegan percintaan dalam relief-relief candi dari abad ke-8 hingga ke-10 masih sangat sopan, hanya duduk berdua di kamar. Tapi pada masa yang lebih kemudian adegannya lebih berani, mangku memangku,” kata Titi. Menurut peneliti kisah Panji dari Jerman, Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit , kenikmatan erotis yang beragam diungkapkan dalam cerita Panji. Pertemuan seksual sering digambarkan dengan cara yang sangat romantis dan realistis. “Pelukisan adegan atau perilaku erotis, emosi, hasrat, keinginan dan kerinduan, cinta seksual, semuanya dimaksudkan agar menimbulkan efek rasa asmara pada penonton,” kata Lydia. “Penonton akan diharu-biru emosi erotis.”*

  • Hukuman Mati bagi Menteri Korup

    EDHY Prabowo dan Juliari Batubara, dua mantan menteri Kabinet Indonesia Maju yang terjerat kasus korupsi terancam hukuman mati. Pernyataan ini dikemukakan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharij Hiariej. Menurutnya, mereka layak dituntut dengan ketentuan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang pemberatannya sampai kepada pidana mati. Seperti diketahui, Edhy Prabowo merupakan tersangka penerima suap izin ekspor benih lobster ketika menjabat menteri kelautan dan perikanan. Sementara itu, Juliari Batubara adalah menteri sosial yang mengkorupsi proyek bantuan sosial (bansos) penangangan Covid-19. Keduanya terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Mereka melakukan kejahatan itu dalam keadaan darurat Covid-19 dan mereka melakukannya dalam jabatan. Dua hal yang memberatkan itu sudah lebih dari cukup untuk diancam dengan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor,” kata Edward dalam seminar nasional  “Telaah Kritis terhadap Arah Pembentukan dan Penegakkan Hukum di Masa Pandemi” pada 16 Februari 2021. Pidana mati terhadap menteri yang korup bukanlah wacana baru. Sepanjang pemerintahan di Republik ini, tercatat seorang menteri pernah divonis mati dengan dakwaan korupsi. Menteri tersebut ialah Jusuf Muda Dalam. Pada era Presiden Sukarno, Jusuf menjabat sebagai menteri urusan bank sentral merangkap sebagai gubernur di Bank Indonesia. Kiprah Jusuf Muda Dalam bermula sejak masa perang kemerdekaan. Dia berjuang di negeri Belanda sebagai jurnalis De Waarheid , harian Partai Komunis Belanda yang memberitakan kemerdekaan Indonesia. Ketika pulang ke Indonesia, Jusuf menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Pada 1956, Direktur Bank Negara Indonesia (BNI) Margono Djojohadikusumo mengajaknya untuk menjalankan bank tersebut. Dari situ, karier Jusuf kian moncer. Pada 1959, dia sudah menduduki jabatan presiden direktur BNI yang kemudian memuluskan jalannya menuju kursi menteri. Jusuf Muda Dalam dikenal sebagai salah seorang menteri terdekat Sukarno. Pada salah salah satu edisi majalah Berita Fakta Indonesia & Internasional  yang terbit tahun 1966, Jusuf Muda Dalam disebutkan berusia 51 tahun dan dilahirkan di Sigli, Aceh. Orangnya banyak senyum, dihiasi oleh kumis kecil ala aktor Hollywood Clark Gable. Pakaiannya selalu necis dan up to date .   Sebagai menteri, kehidupan pribadi Jusuf menuai sorotan miring karena skandalnya dengan banyak perempuan. Aksi demonstrasi mahasiswa pasca peristiwa G30S 1965, kerap kali menyerukan Jusuf sebagai menteri tukang kawin sekaligus menuntutnya untuk diadili. Dalam situasi perekonomian terpuruk akibat inflasi besar-besaran, maka Menteri Jusuf dianggap tidak berempati terhadap penderitaan rakyat. Setelah Surat Perintah 11 Maret 1966 terbit, Jusuf menjadi salah satu dari 15 menteri yang ditangkap. Dalam penangkapan tersebut, Letjen Soeharto pemangku Supersemar yang menjabat panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), menggolongkan Jusuf Muda Dalam pada kategori tiga, yaitu mereka yang hidup amoral dan asosial di atas penderitaan rakyat. Setelah ditangkap, Jusuf Muda Dalam menjadi menteri pertama yang diadili pada Agustus 1966. Persidangannya disaksikan oleh begitu banyak orang yang datang berjubel-jubel. Vishnu Juwono dalam Melawan Korupsi:   Sejarah Pemberantasan Korupsi di Indonesia mencatat Jusuf Muda Dalam didakwa dengan dakwaan berlapis. Gugatan itu antara lain penyelundupan senjata dan amunisinya maupun bahan peledak berbahaya dan menyelewengkan dana revolusi senilai lebih dari Rp 97 miliar. Angka persis uang negara yang digelapkan Menteri Jusuf berdasarkan temuan Tim Penertiban Keuangan (Pekuneg) adalah sebesar Rp97.334.844.515. Jusuf didakwa menyelewengkan duit hasil proses deferred payment . Ini adalah kredit luar negeri dengan jangka waktu satu tahun yang digunakan untuk mengimpor barang-barang. Pemegang izin deferred payment  ini diwajibkan menyetor kepada dana revolusi sejumlah yang ditentukan oleh BNI dalam bentuk uang dan devisa luar negeri. Satu dakwaan lain yang memang diakui Jusuf adalah mengawini lebih dari empat perempuan. “J.M.D ingkari semua tuduhan, kecuali mengenai soal kawin,” tulis berita Kompas , 8 September 1966 seperti dikutip Vishnu. Kendati demikian, penangkapan terhadap Jusuf Muda Dalam tidak lepas dari nuansa politis. Menurut Harold Crouch dalam  Militer dan Politik di Indonesia , semua menteri yang masuk daftar penangkapan lebih karena kesungguhan mereka membantu presiden dan bukannya kegagalan mereka yang menyebabkan mereka ditangkap. Semuanya, kelima belas orang  menteri itu disinyalir mendukung presiden dalam usaha mengembalikan tentara di bawah kontrolnya. Sementara itu, pengadilan terhadap Jusuf Muda Dalam, kata Julius Pour dalam  Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , memang sengaja diselenggarakan secara terbuka oleh penguasa militer. Lewat sosok Jusuf, satu-satunya petunjuk untuk bisa menunjukan keterlibatan Peking dengan aksi petualangan PKI. Hal ini sekaligus bisa dipakai untuk mulai menekan Presiden Sukarno mengingat kehidupan pribadi Bung Karno dan Jusuf banyak memiliki  keterkaitan dan kemiripan.   Dalam pembelaannya, Jusuf mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mendukung aksi revolusioner Sukarno berdasarkan dukungan kabinet. Akhirnya, dia dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Upayanya untuk banding ditolak pada 1967. Belum tiba hari eksekusinya, Jusuf Muda Dalam sudah meninggal dalam tahanan pada 26 Agustus 1976 akibat terkena tetanus. Berakhirlah perkara Jusuf Muda Dalam yang disebut-sebut sebagai menteri paling korup era Orde Lama itu.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page