- 20 Feb 2021
- 3 menit membaca
GARUT, 17 April 1952. Kengerian membekap Pesantren Darussalam Cipari malam itu. Ribuan bayangan berkelebat, seolah hantu-hantu pencabut nyawa yang tengah memburu mangsanya. Di tengah suara tembakan gencar yang membahana, terdengar jerit ketakutan para perempuan dan anak-anak.
“Saya ingat sekitar 3 batalyon gorombolan DI (Darul Islam) menyerang pesantren kami selepas jam 7 malam. Di bawah pimpinan langsung Mama Ajengan Yusuf (Tauziri) kami melawan mereka sebisanya” kenang Syarif Hidayat, saksi hidup peristiwa tersebut.
Penyerangan sekitar 3000 gerilyawan DI tersebut merupakan puncak perseteruan politik antara pimpinan Pesantren Darussalam Cipari Ajengan Yusuf Tauziri dengan imam DI Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Menurut Syarif Hidayat, sejak tahun 1949—1958 sudah sekitar 50 kali pesantren yang terletak di kawasan Wanaraja itu diserang para pengikut Kartosoewirjo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















