Hasil pencarian
9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bidan Rebut Pendapatan Dokter di Negeri Jajahan
KEDATANGAN bidan Eropa ke Hindia Belanda pada abad ke-19 membawa sedikit berkah bagi para ibu pribumi hamil. Kasus kelahiran sulit bisa diatasi dengan lebih hiegenis sehingga mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Para bidan kulit putih itu biasanya ditempatkan di tiga kota besar di Jawa: Batavia, Surabaya, dan Semarang. Bidan yang telah memegang izin praktek sering dimintai bantuan oleh penduduk sekitar. Bidan Eropa diwajibkan memberi layanan gratis pada kasus kelahiran sulit bagi perempuan miskin dari segala ras. Kebijakan yang terlihat mulia ini sebetulnya kampanye dari Dinas Kesehatan Sipil. Dinas ingin perempuan pribumi ramai-ramai menggunakan jasa bidan sekaligus tertarik mendaftar ke sekolah kebidanan. Peter Bloomgard dalam “The Development of Colonial Healthcare in Java” menyebut, Dinas Kesehatan Publik sudah seperti negara dalam negara. Mereka melakukan kampanye kesehatan, seperti manajerial rumahsakit, riset nutrisi dan medis, dan pelatihan pada tenaga kesehatan. Agenda-agenda ini cukup berhasil mengingat banyaknya bidan kulit putih yang hijrah ke tanah Indies. Sekolah kebidanan di Belanda menelurkan 60-70 bidan terlatih tiap tahunnya. Para bidan ini tak semua bisa bekerja di Belanda. Sementara, kabar tingginya pendapatan di negeri jajahan sudah tersebar ke Belanda. Liesbeth Heseelink dalam Healers on the Colonial Market menyebut, upah di Hindia-Belanda selama sebulan setara gaji bidan di Belanda selama setahun. Karena itulah, banyak bidan Eropa rela menyeberangi lautan untuk membuka praktik di negeri jajahan. Beberapa pensiunan bidan memilih bekerja sebagai bidan pribadi bagi keluarga-keluarga kaya Eropa. Para bidan amat senang mengurus keluarga Eropa karena upah yang mereka terima cukup banyak, juga dilayani dengan baik oleh babu dan jongos mereka. Lebih dari itu, bidan Eropa menikmati privilege dan rasa hormat yang diberikan baik oleh masyarakat Eropa, pribumi, maupun Tionghoa. Kepuasan masyarakat Eropa di Hinda-Belanda pada kinerja bidan pribadi cukup tinggi. Saran para bidan amat didengar para nyonya kulit putih. Bahkan, pada beberapa keluarga Eropa, bidan punya pengaruh lebih besar dibanding dokter Eropa yang notabene laki-laki. Di masa ini, yang boleh jadi dokter hanya lelaki. Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Belanda, saja baru lulus pada 1879. Dokter H van Buuren pernah mengeluhkan ibu hamil Eropa yang menjadi pasiennya lebih banyak mendengarkan nasihat bidan berpengalaman dibanding dirinya yang seorang dokter dengan pengetahuan ilmiah. Liesbeth menyebut, Van Buuren menceritakan pengalamannya ini dengan rasa kesal dan nada merendahkan. Van Buuren menilai tindakan para bidan sudah melangkahi ranah dokter dan tidak bisa diterima. Ia juga menyayangkan mereka tak mendapat sanksi. Rebutan pasien inilah yang jadi salah satu pemicu ketegangan hubungan antara bidan dan dokter. “Mereka berani menggunakan segala metode untuk membantu persalinan, meresepkan obat, dan mereka memandang rendah para dokter yang dipanggil untuk membantu persalinan. Daripada mendengarkan saran dokter yang berdasar pengetahuan ilmiah, mereka lebih bersandar pada pengalamannya sendiri,” kata van Buuren. Pada 1849, terdapat aturan bahwa obat hanya boleh diresepkan oleh dokter. Orang tidak memenuhi syarat yang mempraktikkan pengobatan Barat akan diberi sanksi. Namun, aturan ini lebih sering tidak dijalankan lantaran minimnya tenaga medis di negeri jajahan. Pada 1951, pemerintah kolonial mendirikan sekolah medis di Batavia untuk mengatasi masalah kurangnya ahli kesehatan. Satu Sekolah Dokter Djawa untuk jejaka pribumi yang lulusannya jadi mantri, satu lagi sekolah kebidanan untuk gadis Jawa. Ide pendirian sekolah ini dicetuskan Kepala Layanan Medis dokter W. Bosch. Sebelum mengusulkan pendirian sekolah dokter Jawa, Bosch lebih dulu mengusulkan pendirian sekolah kebidanan. Tujuan pendirian dua instansi pendidikan ini sama, meningkatkan kualitas layanan medis negeri jajahan dan menyingkirkan pengobatan lokal. Lebih jauh, kata Liesbeth dalam disertasinya, tujuan pendirian sekolah itu untuk merebut pasar pengobatan di negeri jajahan. Namun apa daya, yang berebut malah sesama tenaga medis kulit putih. Tiap perempuan yang lulus ujian masuk sekolah bidan akan mendapat bonus 50 gulden. Namun pada 1899, sekolah kebidanan terpaksa ditutup. Ada dua alasan yang menjadi penyebab penutupan itu sebagaimana ditulis dokter MPH van Kol dalam laporannya. Alasan yang beredar di muka umum ialah minimnya jumlah peminat. Namun alasan utamanya, pengelola pendidikan medis ingin memperluas Sekolah Dokter Djawa sehingga sekolah kebidanan yang muridnya sedikit ditiadakan agar bangunannya bisa digunakan.
- Riwayat Islam di Bali
MAJAPAHIT tidak pernah mati di Bali. Pengaruh kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara itu begitu besar di sana. Hampir semua bidang kehidupan, utamanya setelah ekspansi besar Maha Patih Gajah Mada di Bali pada 1343, terpengaruh oleh kebudayaan Jawa yang dibawa Majapahit. Begitu kentalnya pengaruh tersebut, hingga penyebaran pertama agama Islam di Pulau Dewata itu juga tidak terlepas dari campur tangan Prabu Hayam Wuruk (1350–1389), raja yang membawa Majapahit pada puncak kejayaannya. Syahdan, di wilayah pemerintahan Majapahit, komunitas Muslim telah mendapat tempat yang cukup kuat. Menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar, dalam tulisannya “Beberapa Catatan Mengenai Keagamaan pada Masa Majapahit Akhir” dimuat Pertemuan Arkeologi IV , di bawah kekuasaan Hayam Wuruk banyak penduduk Majapahit yang sudah memeluk Islam. Sebagai bukti, para arkeolog telah berhasil menunjuk pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. “Mengingat pemakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, dapat disimpulkan ini adalah pemakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” ungkap Hasan. Menetap di Bali Masyarakat Muslim di Bali muncul berkat hubungan diplomatik yang baik antara Majapahit sebagai negara penguasa dengan Bali sebagai negara vasal (negara yang dikuasai). Ketika Hayam Wuruk memerintah, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460), putra raja pertama Samprangan Sri Aji Krisna Kepakisan alias Dalem Sri Kresna Kepakisan (memerintah 1352), mendapat undangan berkunjung ke Keraton Majapahit pada 1380-an. Saat itu, Hayam Wuruk sedang mengadakan konferensi di kerajaannya. Turut diundang dalam acara tersebut negara-negara koloni Majapahit dari seluruh wilayah Nusantara. Dalem Ngalesir datang mewakili Kerajaan Gelgel, pecahan dari Kerajaan Samprangan yang dikuasai kakak tertuanya. Dalam buku Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang , peneliti senior Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Dhurorudin Mashad menceritakan bahwa ketika kembali ke Gelgel, Dalem Ngalesir mendapat pengawalan dari pemerintah Majapahit. Ia diberi 40 orang pengiring dalam perjalanan pulangnya itu. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai tentara, sementara sisanya berkerja sebagai juru kapal dan juru masak. Yang menarik, para pengawal tersebut seluruhnya beragama Islam. Spekulasi pun akhirnya muncul di antara para ahli. Banyak yang beranggapan Hayam Wuruk ingin mengurangi jumlah populasi Muslim yang terus berkembang di pusat pemerintahannya. Ia khawatir kaum minoritas itu akan mendominasi daerah kekuasaannya. Mengingat Majapahit adalah kerajaan Syiwa-Buddha. “Realitas itu tentu menjadi fakta yang sangat aneh dan memerlukan kajian historis secara lebih mendalam,” tulis Dhurorudin. Setelah sampai, 40 orang Islam itu enggan kembali ke wilayah Majapahit dan memilih untuk tinggal di Bali. Akhirnya oleh Dalem Ngalesir mereka diberi satu daerah pemukiman khusus di Gelgel. Keempat puluh orang itu pun diperintahkan mengabdi kepada Kerajaan Gelgel, tanpa syarat apapun. Artinya mereka tidak harus berpindah kepercayaan mengikuti agama yang berkembang di Gelgel. Sehingga praktis agama Islam pun memulai perjalanannya di Bali. “Rombongan muhibah (harta yang tidak berwujud) politik kaum Muslim generasi pertama di Bali akhirnya menetap dan kawin mawin dengan wanita Bali,” tulis Dhurorudin. Komunitas Muslim pertama Bali itu lalu membangun masjid di Gelgel, yang sekarang dikenal sebagai masjid tertua di tanah Bali. Sejak saat itu Islam mulai melakukan aktivitasnya. Menghalau Pengaruh Islam Setelah Dalem Ngalesir melepaskan takhtanya, Kerajaan Gelgel-Klungkung diperintah oleh Dalem Waturenggong (1460/1480--1550). Masa ini juga menjadi puncak kejayaan Islam di Nusantara. Sementara Hindu-Buddha, termasuk Majapahit, pengaruhnya kian surut akibat banyak kerajaan yang mulai menerima keberadaan agama Islam di wilayahnya. Majapahit sendiri mendapat serangan dari Kesultanan Demak pada 1518. Akhirnya keruntuhan kerajaan besar itupun tidak lagi dapat dihindari. Momen kehancuran Majapahit lalu dimanfaatkan oleh Dalem Waturenggong untuk memerdekakan wilayah Bali dan memperluas wilayah kekuasaannya. Berhasil merebut dan mengislamkan wilayah Majapahit di Jawa, Demak pun berencana melancarkan aksi serupa di Bali. Namun kali ini mereka tidak menggunakan jalan penaklukkan, tetapi melalui perdamaian. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521-1546), Demak mengirim utusan ke Kerajaan Gelgel-Klungkung. Menurut Dhurorudin ekspedisi damai itu bertujuan menjalin hubungan baik sebagai sesama mantan vasal Kerajaan Majapahit. “Namun, intinya tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam,” tulis Dhurorudin. Tetapi Dalem Waturenggong tidak tertarik dengan misi Islamisasi di wilayah kekuasaannya. Sang raja lalu menyusun berbagai macam rencana untuk menghalau pengaruh Islam di Bali. Sementara utusan dari Demak yang tidak diterima raja memilih bergabung dengan komunitas Muslim yang sudah ada di Gelgel guna memperkuat posisi Islam di wilayah Bali. Menurut Dhurorudin alasan Gelgel tidak dapat menerima pengaruh Islam di Bali adalah ikatan historis emosional dengan Majapahit. Meski terbebas dari kuasa vasal Majapahit, tetapi penyerangan Demak tidak bisa begitu saja diterima. “Mereka (para pangeran dan mantan pejabat Majapahit) yang lari ke Bali tentu menyebarkan informasi tentang nasib tragis mereka ke penduduk lokal, sehingga ikut menjadi kurang bisa menerima Islam,” tulis Dhurorudin. Dalam Babad Dalem: Warih Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan karya Tjokorda Raka Putra disebutkan bahwa setelah menjadi negeri merdeka, Waturenggong segera memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Ia berhasil menguasai ketiga wilayah itu antara tahun 1512 sampai 1520. Menurut I Made Sumarja, dkk. dalam Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangan Pemukiman Islam di Desa Kecicang Kabupaten Karangasem Provinsi Bali perluasan wilayah Kerajaan Gelgel-Klungkung hingga ke Lombok merupakan usaha lain Waturenggong menghadang penyebaran ajaran Islam di negerinya. Lombok menjadi pilihan terbaik bagi Waturenggong untuk menghentikan Islam masuk ke Bali. Dengan menguasai Lombok, yang sejak 1500-an telah menerima keberadaan agama Islam, maka Gelgel-Klungkung terhindar dari pengepungan. Mereka dapat fokus kepada Islam Demak yang datang dari Jawa. Namun selepas Dalem Waturenggong, tidak ada lagi raja yang mampu membangun Gelgel-Klungkung. Kerajaan itu pun akhirnya terpecah dan mulai menunjukkan kemunduran. Akibatnya, kekuasaan mereka di Lombok berhasil diruntuhkan. Penguasa Klungkung selanjutnya memilih menjalin hubungan baik dengan Lombok, bukan menaklukkan dengan paksaan. Setelah itu penyebaran masyarakat Muslim dari Lombok ke Bali mulai gencar terjadi. Meski pengaruhnya di masyarakat tidak dapat menggeser dominasi Hindu, yang telah berabad-abad menjadi kepercayaan utama rakyat Bali. “Lama-lama terjadi akulturasi komunitas Hindu-Muslim, terbangun kultur perekat yang lebih menonjolkan kesamaan serta saling menghargai dan menghormati,” tulis Dhurorudin
- "Ciuman" Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara
MENDENGAR Ibu Fatmawati Sukarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965. Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu. Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i , ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan. “Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati. “Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana. “Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.” Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu. Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6 . Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya. “Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat. “Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu. “Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.” Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat. Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta. Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.
- Ironi Operasi CIA di Indonesia
AWAL April 1958, Kolonel Achmad Yani merencanakan sebuah operasi militer gabungan di ruang makan rumah Letkol Rukminto Hendraningrat di Jalan Lembang, Jakarta. Yani memilih rumah tetangganya itu karena di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tidak aman. Sebelumnya, perintah operasi darinya yang dirancang di MBAD telah disadap pemberontak PRRI/Permesta.
- Bandung Ibukota Kerajaan Belanda?
PINDAH ibukota lumrah dilakoni banyak negara. Amerika Serikat, Australia, Brazil dan negeri jiran Malaysia di antaranya. Indonesia bakal menyusul dalam kurun beberapa tahun ke depan, untuk kesekian kalinya. Rencana pindah ibukota sempat muncul baik pada masa Orde Lama dengan Palangka Raya-nya, Orde Baru dengan Jonggol-nya, hingga yang belakangan pemerintahan Jokowi dengan Kalimantan Timur. Namun, Indonesia bukan hanya sempat merencanakan pindah ibukota tapi sudah sempat beberapakali pindah ibukota. Bahkan, sejak masih bernama Hindia Belanda. Di masa kolonial, ibukota pernah diwacanakan “hijrah” ke Surabaya pada abad ke-19 dan dua kali rencana hengkang ke Bandung di awal abad ke-20. Adalah Hendrik Freek Tillema yang menggagasnya dengan meracik studi terkait kondisi kesehatan kota-kota di pesisir Pulau Jawa. Gagasannya itu mendapat dukungan J. Klopper, rektor Technische Hoogeschool (kini Institut Teknologi Bandung/ITB). Gagasan yang diusulkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda JP Graaf van Limburg Stirum pada 1916 itu nyaris terwujud. Selain para pebisnis yang mulai tertarik pindah, beberapa kantor dinas pemerintahan sudah turut dipindah dari Batavia, kecuali Onderwijs en Eredienst (Departemen Pendidikan dan Peribadatan). Pemindahan itu akhirnya gagal akibat depresi ekonomi dekade 1930-an. Namun, 22 tahun berselang, Bandung kembali diusulkan menjadi ibukota Hindia Belanda. Kali ini oleh Burgemeester (walikota) N. Beets. Menurut Haryanto Kunto dalam Balai Agung di Kota Bandung , Walikota Beets melayangkan usulan itu ke pemerintah pusat Hindia Belanda di Batavia pada 12 Januari 1938, mengingat kondisi ekonomi yang mulai pulih. Sebagai penguat usulan, ia memaparkan contoh pemerintah kolonial Inggris yang sudah memindahkan ibukotanya dari Kalkuta ke Delhi dan Australia yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Sydney ke Canberra. Mengingat Batavia sudah mulai sumpek, Bandung dipilih sebagai pengganti karena keindahan, kesejukan, kenyamanan, dan punya infrastruktur yang lengkap. Selain stasiun besar, Bandung sejak 1921 sudah punya Bandara Andir (kini Bandara Internasional Husein Sastranegara). “Keretaapi cepat empat kali sehari – de Vlugge Vier , hanya membutuhkan dua jam 45 menit untuk trayek 175 km (Bandung-Jakarta, red. ) dan dengan pesawat terbang hanya setengah jam saja,” sambung Haryanto. Kompleks Gedung Sate yang mulanya direncanakan jadi kantor baru gubernur jenderal Hindia Belanda (Foto: Repro "Album Bandoeng Tempo Doeloe") Keseriusan Walikota Beets dibuktikan dengan memerintahkan biro arsitektur Aalbers en de Waal untuk membuat rencana pembangunan Het Jubileumpark seluas 50 hektar sejak 1936 sebagai pengembangan kompleks Departemenplan 1919. “Dalam rancangan besar ini, di sebelah utara Departement van Gouvernementsbedrijven (BUMN-BUMN Hindia Belanda, red. ), istana baru gubernur jenderal, gedung baru Volksraad (DPR, red. ), Hoogerechtshof (Sekolah Tinggi Hukum) secara cuma-cuma dan sebagian biaya pembangunan Departemen Pendidikan dan Peribadatan sebesar 1,1 juta gulden dibayar sebagai uang muka,” lanjut Haryanto. Usulan Ibukota Belanda Pindah ke Bandung Namun, wacana pemindahan ibukota ke Bandung kedua batal akibat Perang Dunia II yang pecah sejak 1 September 1939. Dalam perang itu, negeri Belanda diduduki Jerman sejak Mei 1940. Ratu Wilhelmina sampai mengungsi ke London, Inggris. Di masa itulah muncul usulan memindahkan pemerintahan darurat dari Amsterdam ke Bandung. Gagasan itu datang dari PM Dirk Jan de Geer. Pada Juli 1940, giliran Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang menawarkan Ratu Wilhelmina untuk pindah dari London ke Bandung. Kota berjuluk “Parijs van Java” diprediksi bakal aman dari kancah perang, mengingat dikelilingi basis-basis militer kuat di Cimahi dan polisi di Sukabumi. “Namun ratu berpendapat lain. Dengan dalih kesehatannya yang tidak mengizinkan bertempat tinggal di daerah tropis, meski Bandung sejuk, beliau ingin tinggal dekat Belanda selama peperangan dan bekerjasama dengan Inggris merebut kembali kemerdekaan,” ungkap Haryanto. Alhasil, wacana itu tinggal wacana. Bandung yang tidak pernah jadi ibukota hanya sempat dijadikan basis utama ABDACOM (Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia) sebelum akhirnya dikuasai Jepang. Sebelumnya, 23 April 1941, Bandung hanya menjadi tempat jamuan terhadap rombongan menteri Kabinet Perang Belanda. Rombongan turut disambut Ketua Regentenbond (Persatuan Bupati) Raden Adipati Aria Wiranatakoesoemah. “Marilah kita mohon kepada Allah bahwa kita, putih dan coklat, sampai kapan pun tetap hidup bersama dalam keselarasan dan kedamaian,” kata Wiranatakoesoemah dalam pidatonya yang dikutip Haryanto.
- Sikap Sukarno Terhadap Kaum Intelektual
PAGI, 24 April 1961. Sebuah pesawat mendarat di Pangkalan Udara Andrews, Maryland, Amerika Serikat, disambut Presiden John F. Kennedy bersama sejumlah pejabat pemerintah. Orang yang ditunggu-tunggu Kennedy tak lain adalah Presiden Sukarno dari Indonesia yang hari itu memulai kunjungan resmi kenegaraannya ke Amerika Serikat. Sukarno dan rombongan disambut oleh Kennedy dalam suatu upacara resmi. Setelah sedikit bercengkrama, perjamuan kemudian dilanjutkan di White House dalam suasana yang lebih santai. “Ini adalah isyarat sambutan kehormatan luar biasa yang dilakukan Presiden Amerika kepada pemimpin Indonesia,” tulis Walentina Waluyanti de Jonge dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen .
- Ketika Kolonel D.I. Pandjaitan Mengangkat Orang Jerman Jadi Intel
BONN, kompleks Kedutaan Besar RI di Jerman Barat. Di kamar kerjanya, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan tekun menulis. Atase militer Indonesia untuk Jerman itu kerap merancang brosur dan pamflet propaganda. Isinya mengemukakan keinginan penduduk asli Irian Barat (kini Papua) untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pandjaitan berencana akan menyebarkannya di negeri Belanda. “Siapa yang akan menyebarkan pamflet dan brosur itu nanti? Felix Metternich...,” ujar Marieke Pandjaitan br. Tambunan, istri Pandjaitan dalam biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Felix Metternich adalah orang Jerman yang dikaryakan di Kedubes RI bagian Atase Militer (Atmil). Dia telah bekerja di sana sejak Kolonel Askari – pendahulu Pandjaitan – menjabat Atmil. Pandjaitan mulai menjabat Atmil pada 1956. Ketika konflik Irian Barat bergolak, Pandjaitan memakai jasa Metternich dalam serangkaian operasi rahasia. Menurut Marieke, Pandjaitan memang sengaja memilih Metternich untuk menjalankan misi intelijen. Sengketa Irian Barat membuat otoritas imigrasi Belanda menolak paspor warga negara Indonesia. Orang Indonesia tidak diperkenankan masuk, kecuali mereka yang telah lama menetap atau sudah menjadi warga Belanda. Itulah sebabnya, Pandjaitan menyusupkan Metternich ke Belanda guna menyokong kampanye pembebasan Irian Barat. Apa yang dilakukan Pandjaitan merupakan bagian dari Operasi C. Perintah ini langsung diinstruksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution. Operasi A dilakukan dengan infiltrasi ke daratan Irian Barat. Operasi B menghimpun dan mengkaderasasi putra-putra Irian Barat. Sementara Operasi C adalah kegiatan “diplomasi senyap” yang dilancarkan perwira TNI di luar negeri. “Para atase militer di Eropa Barat, Kartakusumah di Paris, S. Parman di London, dan Pandjaitan di Bonn merupakan pendukung usaha ini,” ujar Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama . Tiba di Belanda, Metternich membagi-bagikan brosur dan pamflet tentang Irian Barat kepada golongan tertentu. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang dapat membentuk opini masyarakat Belanda soal Irian Barat. Metternich juga sering bertugas memposkan surat-surat rahasia dari pemerintah Indonesia kepada tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Surat-surat itu diposkan dengan mencantumkan alamat pengiriman di wilayah Belgia. Demikianlah caranya untuk menghindari pengguntingan sepihak oleh dinas intelijen Belanda. Dari semua misi, tugas memasuki pelabuhan yang dikelola oleh Angkatan Laut Belanda merupakan upaya paling beresiko bagi Metternich. Pandjaitan pernah meminta Metternich untuk memotret kapal perang milik Kerajaan Belanda, terutama kapal induk bernama Karel Doorman. Memasuki tahun 1960, santer diberitakan bahwa Karel Doorman akan berlayar ke perairan Irian Barat guna memperkuat pertahanan Belanda. Dengan menggunakan kamera mini, Metternich berhasil memotret Karel Doorman dan kapal-kapal perang yang lain. Pandjaitan kemudian mengirimkan foto-foto jepretan Metternich ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) di Jakarta. Dan benar saja, pemerintah Belanda mendatangkan Karel Doorman pada akhir Mei 1960. Setelah mengetahui besaran kekuatan armada laut Belanda, TNI mempersiapkan diri menghadapinya dengan kapal penjelajah kelas berat bernama KRI Irian yang dibeli dari Uni Soviet. Selain itu, kekuatan AL Indonesia semakin lengkap dengan didatangkannya selusin kapal selam, belasan kapal roket cepat, pesawat-pesawat AL, helikopter-helikopter dan peralatan amfibi. Walhasil, TNI AL menjelma sebagai kekuatan laut yang terkuat di belahan bumi selatan. Metternich juga menjadi saksi bagaimana Pandjaitan memainkan perannya melobi dalam diplomasi senyap. Dengan pendekatan personal, Pandjaitan kerap mengundang Profesor Willem Duynstee ahli hukum tata negara Universitas Nijmegen berkunjung ke kediamannya untuk bertukar pikiran. Duynstee seperti dicatat Ganis Harsono dalam Cakrwala Politik Era Sukarno , pada 3 Agustus 1961, memelopori gerakan anti perang antara Indonesia dan Belanda. Selain itu, Pandjaitan sering mengatur pertemuan rahasia antara wakil-wakil Indonesia dengan tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Biasanya pertemuan berlangsung di tempat netral yang ada di wilayah Jerman. Salah satu keberhasilan Pandjaitan ialah mempertemukan para pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja dari Belanda dengan Jenderal Nasution di Bonn. “Sudah barang tentu bantuan Metternich kepada suami saya pantas dihargai. Gagasan dan ide tertentu Atmil (Pandjaitan) dapat dilaksanakan olehnya,” kenang Marieke. Pada 1962, Pandjaitan mengakhiri dinasnya sebagai Atmil di Jerman. Tugas baru menantinya sebagai Asisten IV/logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. Di Jakarta TNI mengalami reorganisasi. Jenderal Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata sedangkan Letnan Jenderal Ahmad Yani naik sebagai orang nomor di jajaran AD. Yani-lah yang memilih Pandjaitan sebagai Asisten IV yang membidangi urusan logistik. Setelah Pandjaitan pulang ke Indonesia, Metternich tetap bekerja di Kedubes RI. Metternich masih terus membantu para Atmil Indonesia di Jerman. Mereka antara lain: Kolonel Wadly, Kolonel Sunggoro, dan Kolonel Abdullah. Tidak kurang dari 17 tahun lamanya "Si Intel Jerman” ini menjadi staf Atmil di Bonn hingga tahun 1972.
- Kala Panglima Siliwangi Distop Polisi
SETELAH beberapa saat dirawat di RS Boromeus, Fatmawati Sukarno akhirnya memilih tinggal di luar rumahsakit. Bukan pelayanan tim dokter yang membuat Ibu Fat, sapaan akrab Fatmawati, tidak betah tinggal di rumahsakit itu. “Terus terang, Ibu sulit tidur. Kalau terus-menerus begini, semuanya jadi repot,” kata first lady pertama Indonesia itu sebagaimana dimuat dalam buku Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i . Ibu Fat yang saat itu sedang mengalami darah tinggi parah dan sedikit depresi menahun pasca-keluar Istana, lanjut Kadjat, butuh tempat tinggal tenang untuk memulihkan kesehatannya. Dalimin Rono Atmodjo, personil Brimob yang jadi komanda regu di Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Resimen Tjakrabirawa, lalu mendapatkan Wisma Siliwangi III. Ibu Fat pun pindah ke sana pada akhir Agustus 1965. Wisma Siliwangi III dipilih Ibu Fat selain kondisinya bersih juga lantaran letaknya tak jauh dari tempat tinggal Guntur Sukarnoputra yang saat itu masih kuliah di ITB. Ibu Fat bisa lebih sering bertemu dengan putra sulungnya itu. Selain ditemani para pengawal, Ibu Fat juga mendatangkan juru masaknya dari Jalan Sriwijaya, Jakarta. “Perempuan berusia 35-an tersebut sudah cukup lama ikut Bu Fat sehingga tahu persis selera atau kesukaan Bu Fat,” tulis Kadjat. Praktis, Bu Fat tidak kesepian lantaran orang-orang dekat selalu siap di sekelilingnyanya. Kendati demikian, ketenangan merupakan hal paling dibutuhkan Bu Fat. Hal itulah yang membuatnya mengeluh ketika suatu malam suara tukang sate keliling mengusik istirahatnya. Kepada Dalimin, Bu Fat langsung meminta agar tukang sate menjauh dari rumahnya ketika berdagang. Dalimin pun langsung mengejar tukang satu yang sudah agak jauh itu. Didahului permintaan maaf, Dalimin langsung menerangkan duduk perkara dan meminta tukang sate itu tidak berisik lagi ketika melintas di depan Wisma Siliwangi III. Si tukang sate yang terperangah ketika mengetahui ada first lady di dalam wisma itu pun langsung menyanggupi permintaan Dalimin. “Mulai besok saya ndak teriak-teriak te..te... lagi. Sampaikan maaf saya kepada Ibu Fatmawati. Kalau beliau ingin makan sate, mari saya bikinkan,” kata tukang sate asal Madura itu. Dalimin lalu mengusulkan pola pengamanan sementara di sekitar Wisma Siliwangi III ke Istana dan Polri. Hasilnya, semua kendaraan maupun tukang jualan dilarang melintas di jalan yang melintasi depan Wisma Siliwangi III. Namun karena aturan tersebut tidak disosialisasikan, Pangdam Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie pun kena batunya. Suatu malam, mobil yang membawa Adjie dan istrinya melintas. Di depan Wisma Siliwangi III, seorang polisi anggota DKP langsung menyetopnya. Adjie pun kaget. “Ada apa,” tanya Adjie. “Maaf, Pak. Semua kendaraan dilarang masuk jalan ini,” jawab sang petugas. “Siapa yang perintah ini?” Adjie kembali bertanya dengan nada meninggi. “Ibu Fatmawati sedang dirawat dan tinggal di Wisma Siliwangi III, Pak. Ibu Fat membutuhkan sekali ketenangan. Jadi jalan ini ditutup untuk lalu lintas umum.” “Baik, katakan kepada komandan regumu supaya besok menemui saya di kantor,” kata Adjie menutup pembicaraan. Adjie merupakan salah satu jenderal kesayangan Presiden Sukarno. Dua hari setelah G30S pecah yang disusul kondisi keamanan memburuk, Sukarno mengirimkan surat kepada Adjie berisi permintaan untuk menjaga keamanan diri dan keluarganya. “Hal ini menunjukkan kecintaan Bung Karno secara pribadi kepada Siliwangi dan kepada panglimanya, Mayor Jendral Ibrahim Adjie,” tulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang . Maka, polisi yang menghentikan mobil Adjie tadi pun langsung melaporkan apa yang dialaminya kepada Dalimin. Mendengar laporan itu, Dalimin jelas khawatir. Dia tahu orang yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. “Dia siap dimarahi karena berani menghentikan mobil panglima daerah,” tulis Kadjat. Keesokan paginya, Dalimin pun menghadap Adjie. Setelah menghormat dan meminta maaf terlebih dulu, Dalimin langsung menjelaskan duduk perkaranya kepada Adjie. “Ini perintah dari Istana dan sudah dikoordinasikan dengan kepolisian di sini, Pak,” kata Dalimin. “Oke, silakan ikuti perintah. Saya bangga kamu tetap memegang disiplin,” kata Adjie.
- Memercayakan Kelahiran pada Bidan
DJASMINAH panik. Perempuan yang baru jadi bidan itu mendapati masalah yang belum pernah ditemuinya kala diminta membantu persalinan perempuan Tionghoa di Kediri. Ibu yang hendak ditolong persaliannya sudah kehilangan banyak darah akibat jalur kelahiran si bayi tertutup oleh ari-ari ( placenta previa ). Djasminah lantas mengabari mentornya, dokter HB van Buuren, untuk segera datang memberi pendampingan kendati jarak rumah van Buuren ke tempat pasien sekira 20 km. Sembari menunggu kedatangan gurunya, Djasminah berusaha mengatasi pendarahan si ibu. Begitu tiba, Van Buuren bersama Djasminah langsung membantu pesalinan. Keadaan genting berhasil diatasi. Menurut Van Buuren, itu berkat kecekatan Djasminah dalam mengatasi pendarahan. Sejak sekolah kebidanan dibangun pada medio abad ke-19, bantuan bidan dalam persalinan mulai digunakan ibu-ibu pribumi. Para siswa kebidanan biasanya diberi tugas jaga di rumahsakit. Mereka bergantian shift dengan perawat bila tidak ada rekan sesama bidan. Sedangkan siswa yang telah lulus bekerja untuk pemerintah. Biasanya, Dinas Kesehatan Sipil menempatkan para bidan muda ini di wilayah asal mereka agar lebih paham medan. Selain dimentori oleh dokter Eropa yang berdinas di kota, para bidan muda ini tidak diperbolehkan menangani kasus kelahiran sulit seorang diri alias harus ada dokter Eropa yang mendampingi untuk menghindari kesalahan penanganan. Menurut catatan van Buuren, dari 1850-1909, ada sedikit perubahan dalam praktik persalinan di Hinda-Belanda meski belum signifikan. Dinas Kesehatan Sipil mengalami kesulitan membiasakan penduduk untuk melahirkan dengan bantuan bidan. Beberapa penduduk bahkan meragukan kemampuan bidan dan lebih mempercayai dukun beranak. Hal ini sempat dialami bidan Markati pada 1898. Makarti ditempatkan di Mojowarno, di bawah pengawasan dokter misionaris H Bervoets. Suatu hari, ia dipanggil asisten kepala distrik untuk membatu persalinan istrinya. Si raden ayu mengalami pendarahan pasca-melahirkan. Begitu tiba, Markati dan Bervoets mendapati kerumunan pelayan yang panik mengahadapi hal tersebut. Tanpa disangka, raden ayu enggan menerima bantuan Bervoets. Maka si dokter mempercayakan muridnya untuk menangani pasien itu, sementara Bervoets sendiri mengawasi dari luar tirai. Raden ayu tetap menolak bantuan Makarti sampai akhirnya diperingatkan kalau nyawanya terancam bila tidak segera dirawat. Markati juga meyakinkan, meski ia dididik dokter misionaris dari Eropa, ia tetap perempuan Jawa dan hampir sama seperti dukun beranak. Sikap raden ayu hanyalah satu contoh keraguan masyarakat pada kemampuan bidan. Sikap ini pula yang jadi penyebab sebagian siswa pelatihan bidan mundur dari profesi mereka. Pemerintah kolonial kemudian memberikan subsidi bagi para bidan agar pendapatan mereka tak minim. Jumlahnya bervariasi, antara 10 hingga 25 gulden sebulan, tergantung domisili. Liesbeth Heeselink dalam The Early Years of Nursing in The Dutch East Indies menyebut beberapa bidan bernasib mujur. Jasanya laris manis. Para bidan yang aktif membuka praktik umumnya memperoleh 253 gulden sebulan meski kadang cuma dibayar terima kasih. Nyi Astijem di Purwakarta, misalnya, dalam sebulan membantu 17 prsalinan. Lima di antaranya pasien pribumi miskin sehingga ia maklum jika tidak diberi uang. Sekira lima lainnya perempuan Eropa kaya. Dari sinilah sebagian besar sumber pendapatan Nyi Astijem. Sankum, rekan Astijem yang berdinas di Amurang, Sulawesi, tercatat membantu kelahiran 127 bayi. Dari seluruh bantuan yang ia berikan, Sankum diupah 25 gulden per persalinan dan hanya satu yang ia gratiskan. Peter Bloomgard dalam The Development of Colonial Health Care in Java menyebut, upah yang lumayan ini menarik minat para orang tua. Mereka pikir, daripada memasukkan anak gadis mereka ke sekolah perawat lebih baik menjadi bidan. Toh, seperti penilaian Bervoets pada Markati, para bidan pribumi bekerja cukup baik. Mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di situasi sulit.
- Operasi Terakhir Petinggi CIA di Indonesia
ALFRED C. Ulmer baru saja menempati posisi sebagai kepala divisi CIA untuk Timur Jauh. Sebelumnya, dia menjabat kepala stasiun CIA di Athena, Yunani. Ketika mengambil alih divisi ini, dia hampir tak tahu apa-apa tentang Indonesia. Namun, dia dipercaya penuh oleh Allen Dulles, Direktur CIA. Ulmer mendapatkan tugasnya ketika pada akhir tahun 1956, Frank Gardiner Wisner, Deputi Direktur Perencanaan CIA, mengatakan kepadanya: “sudah waktunya menaikkan suhu panas atas Sukarno dan memanggang kakinya di atas api”.






















