top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

OPM Hampir Membunuh Sarwo Edhie Wibowo

Panglima Kodam Cendrawasih ke-4 itu nyaris kehilangan nyawanya saat bertugas di Irian Barat.

10 Des 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo di Papua. (prabowosubianto.com).

KRISTIANI Herrawati cemas dan was-was. Ayahnya, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo, akan menempati pos baru di Irian Barat sebagai Panglima Kodam Cenderawasih. Sarwo memang dipersiapkan untuk misi khusus. Dia harus menjamin penyelenggaraan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua berjalan aman dan berakhir dengan kemenangan di pihak Indonesia.


“Orang-orang melukiskan Irian pada saat itu sebagai sebuah tempat yang mengerikan. Alamnya masih perawan dan berbagai pemberontakan sering terjadi,” tutur Kristiani kepada Alberthiene Endah dalam Kepak Sayap Putri Prajurit.


Yang dikhawatirkan benar terjadi. Pada awal Mei 1969, Sarwo menumpang pesawat kecil Twin Otter milik maskapai Merpati Nusantara Airlines menuju Enarotali, Kabupaten Paniai. Kepergian Sarwo ke Enarotali sehubungan dengan sosialisasi dan kampanye Pepera. Selain Sarwo, AKP Sukanto (Komandan Resort Kepolisian Nabire) dan Mayor Tb. Hasanudin (Komandan Kodim 1705 Nabire) juga berada dalam pesawat yang sama.


Siapa nyana, dalam penerbangan itu, Sarwo hampir kehilangan nyawa. Ketika hendak mendarat, tiba-tiba pesawat digempur tembakan bertubi-tubi dari bawah. Rentetan tembakan menyebabkan tangki bahan bakar bocor. Dari daratan tampak bendera Bintang Kejora milik Organisasi Papua Merdeka (OPM) berkibar.


Pesawat akhirnya mendarat darurat di Nabire setelah terbang terseok-seok karena bahan bakar yang menipis. Sarwo Edhie berhasil menyelamatkan diri. Sementara AKP Sukanto menderita luka-luka akibat terkena tembakan di kakinya.


“Peristiwa penembakan terhadap pesawat Twin Otter MNA oleh anggota Kepolisian putra daerah yang dihasut oleh OPM itu, di kemudian hari dikenal sebagai Peristiwa Enarotali,” tulis jurnalis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.


Peristiwa Enarotali berawal dari rasa kecewa penduduk terhadap pemindahan ibu kota Paniai ke Nabire diikuti dengan pergantian aparat birokrat lokal oleh pendatang. Mereka menghendaki ibu kota kabupaten berada di Enarotali. Mereka juga menolak kehadiran pendatang, termasuk para guru, sukarelawan, dan ABRI yang kemudian menjurus menjadi gerakan antipemerintah.


Menurut Hendro yang saat itu meliput operasi militer di Irian Barat, kekecewaan rakyat Enarotali dimanfaatkan oknum separatis untuk memasukkan ideologi OPM kepada penduduk dan anggota polisi putra daerah. Landasan terbang Wagete dan Enarotali dirusak. ABRI setempat terisolasi. Mereka mengancam agar para petugas dan pendatang meninggalkan Wagete sampai akhir April 1969. Aksi ini kemudian memuncak dengan penembakan terhadap pesawat yang ditumpangi Panglima Kodam Sarwo Edhie Wibowo.


Dalam keterangannya yang dilansir Kompas 13 Mei, 1969, Sarwo mengatakan tak akan membalas aksi kelompok bersenjata itu. “Pradjurit Indonesia adalah pradjurit Pantjasila, bukan pradjurit pembunuh,” kata Sarwo. Pernyataan Sarwo itu merupakan bantahan terhadap siaran oleh radio dan pers luar negeri yang memberitakan operasi militer TNI.


Namun nyatanya, TNI memang menindak tegas para pemberontak di Paniai. Sarwo mengeluarkan perintah tempur kepada anak buahnya dengan melancarkan operasi militer lintas udara. Sebanyak 634 penduduk sipil diindikasikan terbunuh dalam operasi ini.


Kebijakan tangan besi sang panglima tampaknya menjadikan Sarwo sebagai sasaran OPM. Menjelang Pepera, pada 24 Juni aparat keamanan menangkap basah seorang warga Belanda anggota Fund for West Irian (FUNDWI) bernama Hans Reiff. Berdasarkan laporan intelijen, Reiff disinyalir ikut berkomplot dengan kelompok OPM yang kerap menggelar rapat gelap di Jayapura.


Sebuah dokumen yang ikut disita bersama Reif menguak rencana menyabotase Pepera. Nama Sarwo Edhie ikut terseret. Dokumen yang termuat dalam risalah terbitan Departemen Luar Negeri berjudul “Fakta dan Data Perkembangan Gerakan Separatis OPM sampai akhir 1975” itu menyebutkan Sarwo Edhie sebagai salah satu target penculikan dan pembunuhan bersama Fernando Ortis Sanz, delegasi PBB di Papua (UNTEA). 


Tak hanya memburu Sarwo, istrinya Sunarti Sri Hardiyah juga ikut ketiban teror. Sebagaimana dikisahkan Kristiani, semasa Sri mendampingi Sarwo bertugas di Irian Barat, pemandangan laki-laki setempat membawa senjata tajam sering terlihat. Sebagian warga Irian yang enggan bersatu dalam NKRI terus-menerus melancarkan serangan pada pasukan TNI dan keluarganya.


 “Alhamdulilah Papi dan Ibu bisa menjaga keselamatan diri,” ujar Kristiani yang kelak dipersunting istri oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI ke-6. Barangkali karena pengalaman itu pula, SBY cukup tegas terhadap aspirasi rakyat Papua. Selama dua periode pemerintahannya (2004-14), SBY tak pernah mengizinkan rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora.*


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page