top of page

Aksi Sarwo Edhie Wibowo di Papua

Eks komandan RPKAD itu memulai kiprah militernya lagi di bumi Cendrawasih. Selain operasi tempur dia pun terlibat aktif dalam penggalangan teritorial dan misi intelijen.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sarwo Edhie Wibowo (paling kanan). Foto: Dok. Keluarga Idjon Djanbi.

1 Agu 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 25 Jul

BRIGJEN TNI Sarwo Edhie Wibowo sempat ketar-ketir mendengar kabar dirinya akan ditugaskan ke Moskow sebagai duta besar untuk Uni Soviet. Karier militernya seakan sudah tamat.


Namun, rasa suram di benak mantan komandan RPKAD (kini Kopassus) ini mendadak sirna. Presiden Soeharto menugaskannya ke Irian Barat sebagai Panglima Kodam XVII/Cenderawasih. Semangat militer terbetik lagi dalam diri Sarwo. 


“Papi terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan saat ia mendengar akan dikirim ke Moskow,” kenang putri ketiga Sarwo, Kristiani Herawati, dalam biografinya Kepak Sayap Putri Prajurit yang ditulis Alberthiene Endah. Menurut perempuan yang lebih dikenal sebagai Ani Yudhoyono tersebut, tugas di Irian sebetulnya lebih berat daripada di Moskow. Risikonya pun lebih besar.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page