top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • "Ciuman" Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara

    MENDENGAR Ibu Fatmawati Sukarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965. Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu. Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i , ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan. “Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati. “Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana. “Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.” Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu. Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6 . Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya. “Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat. “Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu. “Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.” Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat. Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta. Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.

  • Ironi Operasi CIA di Indonesia

    AWAL April 1958, Kolonel Achmad Yani merencanakan sebuah operasi militer gabungan di ruang makan rumah Letkol Rukminto Hendraningrat di Jalan Lembang, Jakarta. Yani memilih rumah tetangganya itu karena di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tidak aman. Sebelumnya, perintah operasi darinya yang dirancang di MBAD telah disadap pemberontak PRRI/Permesta.

  • Bandung Ibukota Kerajaan Belanda?

    PINDAH ibukota lumrah dilakoni banyak negara. Amerika Serikat, Australia, Brazil dan negeri jiran Malaysia di antaranya. Indonesia bakal menyusul dalam kurun beberapa tahun ke depan, untuk kesekian kalinya. Rencana pindah ibukota sempat muncul baik pada masa Orde Lama dengan Palangka Raya-nya, Orde Baru dengan Jonggol-nya, hingga yang belakangan pemerintahan Jokowi dengan Kalimantan Timur. Namun, Indonesia bukan hanya sempat merencanakan pindah ibukota tapi sudah sempat beberapakali pindah ibukota. Bahkan, sejak masih bernama Hindia Belanda. Di masa kolonial, ibukota pernah diwacanakan “hijrah” ke Surabaya pada abad ke-19 dan dua kali rencana hengkang ke Bandung di awal abad ke-20. Adalah Hendrik Freek Tillema yang menggagasnya dengan meracik studi terkait kondisi kesehatan kota-kota di pesisir Pulau Jawa. Gagasannya itu mendapat dukungan J. Klopper, rektor Technische Hoogeschool (kini Institut Teknologi Bandung/ITB). Gagasan yang diusulkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda JP Graaf van Limburg Stirum pada 1916 itu nyaris terwujud. Selain para pebisnis yang mulai tertarik pindah, beberapa kantor dinas pemerintahan sudah turut dipindah dari Batavia, kecuali Onderwijs en Eredienst (Departemen Pendidikan dan Peribadatan). Pemindahan itu akhirnya gagal akibat depresi ekonomi dekade 1930-an. Namun, 22 tahun berselang, Bandung kembali diusulkan menjadi ibukota Hindia Belanda. Kali ini oleh Burgemeester (walikota) N. Beets. Menurut Haryanto Kunto dalam Balai Agung di Kota Bandung , Walikota Beets melayangkan usulan itu ke pemerintah pusat Hindia Belanda di Batavia pada 12 Januari 1938, mengingat kondisi ekonomi yang mulai pulih. Sebagai penguat usulan, ia memaparkan contoh pemerintah kolonial Inggris yang sudah memindahkan ibukotanya dari Kalkuta ke Delhi dan Australia yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Sydney ke Canberra. Mengingat Batavia sudah mulai sumpek, Bandung dipilih sebagai pengganti karena  keindahan, kesejukan, kenyamanan, dan punya infrastruktur yang lengkap. Selain stasiun besar, Bandung sejak 1921 sudah punya Bandara Andir (kini Bandara Internasional Husein Sastranegara). “Keretaapi cepat empat kali sehari – de Vlugge Vier , hanya membutuhkan dua jam 45 menit untuk trayek 175 km (Bandung-Jakarta, red. ) dan dengan pesawat terbang hanya setengah jam saja,” sambung Haryanto. Kompleks Gedung Sate yang mulanya direncanakan jadi kantor baru gubernur jenderal Hindia Belanda (Foto: Repro "Album Bandoeng Tempo Doeloe") Keseriusan Walikota Beets dibuktikan dengan memerintahkan biro arsitektur Aalbers en de Waal untuk membuat rencana pembangunan Het Jubileumpark seluas 50 hektar sejak 1936 sebagai pengembangan kompleks Departemenplan 1919. “Dalam rancangan besar ini, di sebelah utara Departement van Gouvernementsbedrijven (BUMN-BUMN Hindia Belanda, red. ), istana baru gubernur jenderal, gedung baru Volksraad (DPR, red. ), Hoogerechtshof (Sekolah Tinggi Hukum) secara cuma-cuma dan sebagian biaya pembangunan Departemen Pendidikan dan Peribadatan sebesar 1,1 juta gulden dibayar sebagai uang muka,” lanjut Haryanto. Usulan Ibukota Belanda Pindah ke Bandung Namun, wacana pemindahan ibukota ke Bandung kedua batal akibat Perang Dunia II yang pecah sejak 1 September 1939. Dalam perang itu, negeri Belanda diduduki Jerman sejak Mei 1940. Ratu Wilhelmina sampai mengungsi ke London, Inggris. Di masa itulah muncul usulan memindahkan pemerintahan darurat dari Amsterdam ke Bandung. Gagasan itu datang dari PM Dirk Jan de Geer. Pada Juli 1940, giliran Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang menawarkan Ratu Wilhelmina untuk pindah dari London ke Bandung. Kota berjuluk “Parijs van Java” diprediksi bakal aman dari kancah perang, mengingat dikelilingi basis-basis militer kuat di Cimahi dan polisi di Sukabumi. “Namun ratu berpendapat lain. Dengan dalih kesehatannya yang tidak mengizinkan bertempat tinggal di daerah tropis, meski Bandung sejuk, beliau ingin tinggal dekat Belanda selama peperangan dan bekerjasama dengan Inggris merebut kembali kemerdekaan,” ungkap Haryanto. Alhasil, wacana itu tinggal wacana. Bandung yang tidak pernah jadi ibukota hanya sempat dijadikan basis utama ABDACOM (Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia) sebelum akhirnya dikuasai Jepang. Sebelumnya, 23 April 1941, Bandung hanya menjadi tempat jamuan terhadap rombongan menteri Kabinet Perang Belanda. Rombongan turut disambut Ketua Regentenbond (Persatuan Bupati) Raden Adipati Aria Wiranatakoesoemah. “Marilah kita mohon kepada Allah bahwa kita, putih dan coklat, sampai kapan pun tetap hidup bersama dalam keselarasan dan kedamaian,” kata Wiranatakoesoemah dalam pidatonya yang dikutip Haryanto.

  • Sikap Sukarno Terhadap Kaum Intelektual

    PAGI, 24 April 1961. Sebuah pesawat mendarat di Pangkalan Udara Andrews, Maryland, Amerika Serikat, disambut Presiden John F. Kennedy bersama sejumlah pejabat pemerintah. Orang yang ditunggu-tunggu Kennedy tak lain adalah Presiden Sukarno dari Indonesia yang hari itu memulai kunjungan resmi kenegaraannya ke Amerika Serikat. Sukarno dan rombongan disambut oleh Kennedy dalam suatu upacara resmi. Setelah sedikit bercengkrama, perjamuan kemudian dilanjutkan di White House dalam suasana yang lebih santai. “Ini adalah isyarat sambutan kehormatan luar biasa yang dilakukan Presiden Amerika kepada pemimpin Indonesia,” tulis Walentina Waluyanti de Jonge dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen .

  • Operasi Terakhir Petinggi CIA di Indonesia

    ALFRED C. Ulmer baru saja menempati posisi sebagai kepala divisi CIA untuk Timur Jauh. Sebelumnya, dia menjabat kepala stasiun CIA di Athena, Yunani. Ketika mengambil alih divisi ini, dia hampir tak tahu apa-apa tentang Indonesia. Namun, dia dipercaya penuh oleh Allen Dulles, Direktur CIA. Ulmer mendapatkan tugasnya ketika pada akhir tahun 1956, Frank Gardiner Wisner, Deputi Direktur Perencanaan CIA, mengatakan kepadanya: “sudah waktunya menaikkan suhu panas atas Sukarno dan memanggang kakinya di atas api”.

  • Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir

    Film Gundala (2019) garapan sutradara Joko Anwar tengah tayang di bioskop. Penciptaan Gundala oleh komikus Harya Suraminata disebut-sebut terinspirasi oleh Ki Ageng Selo, tokoh legenda yang diceritakan bisa menangkap petir. Nama Gundala sendiri berasal dari kata "gundolo" yang artinya petir. Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, Ki Ageng Selo merupakan tokoh yang terkenal bisa menangkap petir. Diceritakan, suatu hari Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun, dengan kesaktiannya, dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Selo mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik. Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang. Dari kisah tersebut berkembang mitos kalimat, “ Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo ” yang artinya, “Gandrik, saya ini cucunya Ki Ageng Selo.” Kalimat itu, bagi sebagian penduduk daerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu misalnya, dipercaya dapat menghindarkan mereka dari sambaran petir ketika hujan datang. Sigit Prawoto, dosen Antropologi Sosial dan Etnologi Universitas Brawijaya, dalam bukunya Hegemoni Wacana Politik menyebut, “pernyataan klaim kekeluargaan ini mengandung keyakinan kultural bahwa seseorang yang berasal dari keturunan orang yang memiliki kualitas ( kasekten ) tertentu akan mewarisi kualitas tersebut.” Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada Lawang Bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Ukiran pada daun pintu itu memperlihatkan motif tumbuh-tumbuhan, suluran (lung), jambangan, mahkota mirip stupa, tumpal, camara, dan dua kepala naga yang menyemburkan api. Lawang bledheg sekaligus menjadi prasasti berwujud sengkalan memet ( chronogram ) dibaca “ naga mulat salira wani ” yang menunjukkan angka tahun 1388 S atau 1466 M. Tahun tersebut diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak. Lawang bledheg memiliki makna lain selain sebagai penggambaran kisah Ki Ageng Selo. Supatmo dalam "Ikonografi Ornamen Lawang Bledheg Masjid Agung Demak" yang terbit di Jurnal Imajinasi , September 2018, menyebut Lawang Bledheg berisi makna simbolis nilai-nilai pra-Islam. “Dalam dimensi ikonografis, keberadaan motif-motif tradisi seni hias pra-Islam (Jawa, Hindu, Buddha, dan China) pada ornamen lawang bledheg Masjid Agung Demak merupakan pernyataan simbolis tentang toleransi terhadap pluralitas budaya masyarakat yang berkembang pada masa awal budaya Islam di Jawa (Demak),” tulis Supatmo, dosen Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang. Keturunan Raja Brawijaya Menurut Soetardidalam Pepali Ki Ageng Selo , Ki Ageng Selo merupakan keturunan Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Prabu Brawijaya, dari istrinya yang paling muda yang berasal dari Wandan atau Bandan atau Pulau Banda Neira, mempunyai anak bernama Bondan Kejawen. Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Bondan Kejawen. Ki Ageng Selo hidup di masa Kerajaan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Ki Ageng Selo pernah ditolak menjadi anggota Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak. “Sebabnya dalam ujian mengalahkan banteng, dia memalingkan kepalanya, ketika akibat pukulannya, darah yang menyembur dari kepala banteng, mengenai matanya. Karena memalingkan kepalanya itu, dia dipandang tidak tahan melihat darah, dan karena itu tidak memenuhi syarat,” tulis Soetardi. Penolakan itu membuat Ki Ageng Selo berkeinginan mendirikan kerajaan sendiri. “Bila cita-cita ini tidak dapat tercapai olehnya sendiri, maka dia mengharapkan keturunannyalah yang akan mencapainya,” sebut Soetardi. Ki Ageng Selo kemudian pergi ke sebuah desa di sebelah timur Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Dia hidup sebagai petani dan memperdalam ilmu agama, filsafat serta ilmu untuk memperluas pengaruh kepada rakyat. Dia di kemudian hari benar-benar menjadi orang berpengaruh. Desa tempatnya tinggal kemudian dinamakan Desa Selo. Di desa ini juga Ki Ageng Selo meninggal dan dimakamkan. Keinginannya mendirikan kerajaan sendiri terwujud oleh cicitnya, Sutawijaya. Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar merupakan pendiri Kerajaan Mataram kedua atau Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada 1587-1601 M.

  • Agen CIA dalam Pemberontakan di Sumatra

    USS Thomaston dikawal kapal selam USS Bluegill berangkat dari pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Subic, Filipina. Tiba di Sumatra pada 11 Februari 1958. Kapal itu membawa persenjataan: ratusan pucuk pistol, ribuan senapan submesin, dan jutaan peluru, untuk pemberontak PRRI/Permesta. Operasi mendukung PRRI/Permesta ini bersandi Operasi Haik.

  • Menelisik Sejarah Musik Ilustrasi Film di Indonesia

    GUNDALA, film baru garapan Joko Anwar, tayang di bioskop sejak 28 Agustus 2019. Sebelum penayangan, Joko Anwar mengumumkan musik ilustrasi Gundala. Komponisnya tiga orang: Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle. Ketiganya pernah meraih penghargaan tata musik terbaik pada Festival Film Indonesia 2017 melalui film Pengabdi Setan .

  • Gelar Juara Dunia yang Tak Disangka

    ENAKNYA jadi atlet zaman sekarang, prestasi berbanding lurus dengan bonus. Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan yang belum lama ini menjuarai Kejuaraan Dunia di Basel Swiss, 19-25 Agustus 2019, langsung diguyur bonus oleh Menpora Imam Nahrowi masing-masing Rp240 juta. Nasib keduanya jelas berbeda dari pasangan Christian Hadinata/Ade Chandra kendati  beban yang harus dipikul untuk menjadi juara sama beratnya. Tiada guyuran bonus untuk Christian/Ade setelah juara dunia 39 tahun silam. “Hadiahnya ya medali emas saja sama ucapan terimakasih. Kayak langit dan bumi seperti sekarang. Makanya saya sering guyon , saya lahirnya ‘kecepetan’,” kata Christian kepada Historia. Hati Galau, Pikiran Kacau Bagi Christian, satu memori pahit-manis yang tak pernah lekang dari ingatannya adalah kala ia menyabet gelar Kejuaraan Dunia 1980. Bukan hanya tak pernah menyangka bisa juara, kala itu ia juga masih memegang rekor satu-satunya pebulutangkis Indonesia yang juara di dua nomor dalam satu Kejuaraan Dunia. Pada perhelatan Kejuaraan Dunia di Jakarta, 27 Mei-1 Juni 1980, Christian menyabet dua gelar sekaligus, yakni ganda putra bersama Ade Chandra dan ganda campuran bersama Imelda Wiguna. Rekor ini belum mampu disamai, apalagi dilewati pebulutangkis Indonesia lain hingga detik ini. Pasangan ganda putra Christian Hadinata/Ade Chandra yang turut memenangi Kejuaraan Dunia 1980 (Foto: BWF) Padahal, jarang orang tahu bahwa Christian meraih keduanya tanpa fokus. Saat itu hatinya sangat galau. Kendati tubuhnya berada di lapangan, pikirannya hanya tertuju pada kondisi sang istri, Yoke Anwar. Orang tercintanya itu terkena musibah dua pekan sebelum Kejuaraan Dunia. “Istri saya saat itu hamil sudah bulan kesembilan, sebentar lagi melahirkan anak pertama saya. Istri saya kecelakaan. Dia terpeleset, lalu kaki sebelah kirinya retak. Wah, pikiran saya kacau. Enggak konsen memikirkan istri dan bayi, serta kejuaraan,” Christian berkisah. Christian yang kala itu tinggal di satu kamar khusus atlet pelatnas di Senayan, pun langsung menghadap Ketua PBSI Sudirman. “Pak, saya minta izin. Lebih baik saya mundur saja,” tutur Christian mengenang percakapannya dengan Sudirman. “Lho, kenapa?” tanya sang ketua, heran. “Istri saya kecelakaan. Takut kenapa-kenapa.” “Oh, enggak bisa. Kamu enggak boleh mundur. Kamu harus tetap ikut. Caranya gampang, Chris. Saya siapkan mobil dan driver buat istrimu. Setiap ada keadaan darurat bisa langsung dibawa ke rumahsakit,” kata Sudirman memberi solusi. Sudirman menolak permintaan Christian lantaran saat itu merupakan kali pertama Indonesia jadi tuan rumah Kejuaraan Dunia. Harga diri dia selaku ketum PBSI dan harga diri bangsa dipertaruhkan. Christian Hadinata saat berkisah momen Kejuaraan Dunia 1980 (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Hati Christian sedikit lega mendengar pernyataan Sudirman. “Karena itu keputusan ketum, saya menyerah,” sambung Christian. Kendati sedikit terpaksa, ia tetap rutin mempersiapkan diri. “Teman atlet yang juga berjasa waktu itu Maria Fransiska. Kan kamar kami di lantai dua, harus naik tangga. Tangganya berkelok lagi. Jadi kalau mau naik-turun bawa istri, saya harus panggil dia dulu. Bantu memapah dari dan menuju mobil yang disiapkan Pak Sudirman,” lanjutnya. Saat turnamen bergulir, langkah Christian tak terbendung baik saat berpasangan dengan Ade maupun Imelda. Di final ganda putra, Christian/Ade mengempaskan rekan senegara, Hariamanto Kartono/Rudy Heryanto, 5-15, 15-5, dan 15-7. Di ganda campuran, Christian/Imelda menekuk wakil Inggris Mike Tredgett/Nora Perry 15-12, 15-4. “Puji syukur, saya main enggak konsen, enggak fokus tapi kok ya masih bisa menang. Malah dapat dua gelar. Seperti mimpi saja. Kok tahu-tahu, ini benar juara atau enggak? Karena pikiran saya masih ke istri. Seminggu setelah juara, anak saya yang pertama lahir. Syukur, (kondisi fisiknya, red. ) lengkap, tidak kurang apa-apa,” kata Christian menutup pembicaraan.

  • Agen CIA Pertama di Indonesia

    PADA suatu malam di awal tahun 1950, Rosihan Anwar, pemimpin redaksi harian Pedoman , bertamu ke rumah seorang Amerika Serikat. Orangnya sudah agak berumur, badannya gempal, kepalanya dicukur licin, murah senyum, dan suka tertawa. Dia tinggal sendirian di rumah besar yang agak ke dalam, di pinggir jalan raya Bogor menuju Jakarta. Dia bolak-balik Bogor-Jakarta karena pekerjaannya sebagai atase di Kedutaan Besar Amerika Serikat.

  • Gundala Bukan Jagoan

    Jagat Sinema Bumilangit telah merilis film pertamanya:  Gundala (2019). Film arahan Joko Anwar ini bisa ditonton di bioskop tanah air mulai 28 Agustus 2019. Jagoan karya komikus Harya Suraminata atau Hasmi yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi, ia malah membantahnya. “Aku bukan jagoan,” kata Sancaka. Dia menolak membantu para aktivis pasar melawan preman pasar. Lalu seseorang tiba-tiba memukul Sancaka dengan balok kayu dari belakang, berniat menjajal kekuatan Sancaka. Benar saja, seketika dia pingsan. Sancaka memang manusia biasa. Para aktivis pasar mengira Sancaka memiliki kekuatan super. Dia pernah sekali mengeluarkan petir dari tangannya ketika dikeroyok 30 preman. Namun ternyata itu tidak disengaja Sancaka. Lalu siapa Gundala jika bukan jagoan? Tara Basro memerankan Wulan, aktivis pasar sekaligus teman Sancaka. (Fernando Randy/Historia). Memanusiakan Jagoan Selain karena Sancaka adalah manusia biasa secara fisik, dia juga manusia biasa secara mental. Dia lahir dari kelas sosial paling bawah, seorang anak buruh. Dia lalu tumbuh menjadi anak jalanan dan bertahan hidup di kota yang keras. Kebutuhan untuk bertahan hidup membuatnya menjadi individualis. Sancaka selalu berusaha untuk tidak peduli pada hal sekitar. Dia tak mau terlibat urusan orang lain. Dia layaknya orang biasa yang tinggal di rumah susun dan harus sibuk kerja untuk makan. Meski akhirnya kondisi sosial yang semakin buruk dan menyebabkan berbagai kekacauan membuka kepeduliannya, Sancaka tetap mengalami proses hidup seperti kebanyakan orang. "Kita mementingkan diri sendiri. Yang orang kaya, mereka merasa bisa melanggar hukum karena mereka bisa lepas dari itu (karena) punya uang. Yang di bawah juga seperti itu, mereka melanggar hukum karena mereka mencari uang," kata Joko Anwar, di sela premier Gundala . Ketika telah menjadi Gundala, Sancaka ditanya, “kamu siapa?” “Rakyat,” jawab Gundala. Gala premier film Gundala (2019). (Fernando Randy/Historia). Terlepas dari apakah membawa nama ‘rakyat’ terlalu berlebihan, dia terlihat hanya berusaha untuk tidak di-jagoan-kan. Seperti hendak mengatakan "tak perlu jadi jagoan untuk berbuat baik". Sesederhana itu. "Gundala kan kita semua. Banyak dari kita yang tidak peduli ketidakadilan. Orang di- abuse , dilecehkan di depan kita, kita diam saja. Banyak banget di Indonesia. Sama seperti Sancaka di awalnya," kata Joko Anwar. Joko Anwar juga memasukan drama dan humor yang pas di beberapa adegan. Kadang lugu, kadang lucu, bahkan kadang Sancaka terlihat cupu. Ini membuat Sancaka sangat manusiawi. Selaras dengan itu, tokoh-tokoh di Gundala lainnya juga tidak digambarkan "hitam putih". Pengkor misalnya, sebagai musuh Gundala, bukan berarti dia jahat secara murni. Ada latar belakang kenapa dia menjadi jahat serta ada bagian di mana dia bukanlah orang jahat. Tokoh Pengkor hendak mengatakan bahwa seseorang tidak pernah menjadi jahat sejak orok. Bahkan dia mengajak penonton mempertanyakan ulang mana yang baik dan mana yang buruk. Bront Palarae memerankan Pengkor, musuh Gundala. (Fernando Randy/Historia). Disambar Petir Bicara soal kekuatan Gundala, hubungan Sancaka dengan petir bermula sejak kecil. Sancaka kecil, sangat takut dengan petir. Setiap hujan turun dan petir mulai berkilatan, Sancaka langsung bersembunyi. Ternyata, dia trauma karena pernah disambar petir. Hingga dewasa, petir terus mengikuti Sancaka. Jika dia ada di luar ketika hujan, sudah pasti disambar petir. Untuk mencari tahu persoalan petir itu, dia harus membaca buku. Dia juga belajar bagaimana alam bekerja. Tentu saja, Joko Anwar tidak akan memberi kuliah ilmu fisika di film ini. Tapi dia membuat munculnya kekuatan petir serta keterkaitannya dengan desain kostum Gundala menjadi masuk akal. Komik superhero seringkali dianggap murni fiksi alias tidak ilmiah. Dalam versi komik sendiri, episode Gundala Putra Petir (1969) yang menceritakan awal mula Gundala, Gundala mendapat kekuatannya dari Kaisar Kronz dari Kerajaan Petir. Namun, tidak sepenuhnya cerita dibuat asal-asalan. Anton Kurnia dalam "Komik Superhero Indonesia: Gundala dan Telur Columbus", di harian Sinar Harapan , 2003, mencontohkan komik Gundala episode Dr. Jaka dan Ki Wilawuk yang menurutnya memiliki dasar gagasan yang kuat. Hasmi, menurut Anton, memiliki wawasan dan menggunakan riset untuk membuat episode itu. ”Seperti sekilas terbaca dari Dr. Jaka dan Ki Wilawuk , komik kita ternyata bisa cerdas, intelek, imajinatif dan oleh karenanya memperkaya para pembacanya. Ia membuktikan bahwa tuduhan sebagian orang bahwa komik kita cenderung dangkal, abai terhadap riset dan referensi, tidak mendidik dan membodohkan, ternyata tak sepenuhnya benar,” ungkap Anton. Sedangkan soal wujud petir yang dibuat dengan Computer-generated imagery (CGI) dalam film ini sendiri sudah cukup memuaskan. Nampaknya kurang tepat bila hendak membandingkannya dengan garapan Marvel Studios misalnya. Hanah Al Rasyid memerankan Cantika, salah satu anak buah Pengkor. (Fernando Randy/Historia). Menjawab Zaman Joko Anwar memang hanya meminjam tokoh Gundala. Dia tidak serta merta meniru cerita komik Gundala karya Hasmi yang dibuat sejak 1969 tersebut. Sebagian besar cerita dibuat menyesuaikan konteks Indonesia hari ini. “Kita membuat karakter ini relevan dengan Indonesia sekarang. Concern Indonesia sekarang itu apa? Jadi harus dimasukan. Kalau kita punya tokoh Gundala yang besar banget , orang semua kenal dan kalau kita tidak menggunakannya untuk menyuarakan apa yang tejadi di Indonesia kan sayang banget ,” kata Joko Anwar. Sejak awal Joko Anwar berusaha menyentuh persoalan buruh yang menjadi latar belakang masa kecil Sancaka. Dia kemudian juga menarasikan kehidupan kaum miskin kota serta relasi rakyat, penguasa, dan mafia. “Pak Hasmi dan bapak-bapak yang dulu bikin komik, bikin tokoh-tokoh jagoan ini, mereka ingin bersuara, saya yakin. Cuma zaman dulu kan tidak bebas seperti sekarang. Jadi mereka pakai satir, sindiran, komedi. Di masa kini, kita punya kesempatan bersuara lebih bebas kalau nggak kita suarakan, kita mengkhianati kebebasan itu,” kata Joko Anwar. Joko Anwar, sutradara Gundala (2019). (Fernando Randy/Historia). Abimana Aryasatya, pemeran Gundala, mengaku tidak terlalu sulit menjadi Gundala yang hidup dalam kondisi sosial tersebut. “Emang kamu pikir saya nggak pernah jadi buruh? Hahaha. Tapi nggak mungkin diceritain panjang. Saya (pernah) hidup di level sosial ekonomi yang sama dengan Sancaka. Jadi nggak perlu research terlalu berat,” katanya kepada Historia . Abimana mengaku pernah tinggal di rumah susun yang menjadi rumah Sancaka dalam film. “Rumah susun yang dipakai syuting, saya pernah tinggal di situ. Jadi research -nya juga lebih gampang kan . Jadi nggak perlu gua harus tinggal di sana, gua tinggal recall memori saja,” ungkapnya. Sepanjang 119 menit, penonton disuguhi cerita panjang Gundala dengan berbagai karakter pendukungnya. Beberapa karakter memang hanya mendapat sedikit porsi. Adegan kekerasan yang cukup menggigit nampaknya tidak ramah anak. Sebagai pembuka sekaligus pengantar ke Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya, Gundala terbilang epik.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page