top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Habis Sudah Sang Antagonis

    PADA 2004, lembaga Frontier Consultant & Riset Jakarta mengadakan survei marketing celebrity image di enam kota besar dengan tiga ribu responden. Juara untuk kategori image antagonis jatuh kepada Torro Margens, aktor senior yang meninggal dunia pada 4 Januari 2019. Ya, karakternya sebagai penjahat yang melekat di benak banyak orang. Torro Margens, bernama asli Sutoro Margono, lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada 5 Juli 1950. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi aktor dan sutradara. “Saya mulai tertarik dengan dunia seni peran karena kecintaan saya pada fim India, pada waktu kecil. Setiap pulang nonton filmnya, selalu saya menirukan gerak akting pemain India di kaca. Lho kok beda? Kenapa tubuh saya yang kelihatan cuma sebagian? Kenapa nggak seperti di film, seluruh tubuh bisa kelihatan. Berangkat dari keinginan tubuh saya kelihatan di film seperti artis India, akhirnya saya menekuni seni teater,” kata Torro dalam wawancara dengan majalah Film tahun 1993. Dalam Festival Film Indonesia 1988 disebutTorro yang hanya lulus SLTA kemudian kursus seni peran di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, workshop acting di Dir. Kes. Dirjen Kebudayaan, dan lokakarya penyutradaraan Dewan Kesenian Jakarta bidang teater. Dia cukup dikenal sebagai pemain teater muda potensial, dan pernah terpilih sebagai aktor terbaik pada festival teater se-DKI Jakarta. Sanggar Prakarya, wadah teater anak-anak muda yang dipimpinnya, berulang kali muncul sebagai yang terbaik dalam festival teater. “Di bidang teater, nama Torro tidak bisa dipandang sebelah mata, permainannya memikat dan mengundang decak kagum penonton pertunjukannya,” demikian komentar majalah Film . Torro juga pernah menjadi seorang dubber film luar. Menurut majalah Film , dia termasuk pen- dubber kelas satu dan cukup mahal setiap suaranya untuk menggantikan suara orang lain. Torro mulai main film pada 1974 dalam Neraka Perempuan . Sepuluh tahun kemudian, dia menyutradarai film perdananya, Bercinta dalam Badai . Dia mengaku cukup puas karena hasil penyutradaraan itu untuk memenuhi syarat menjadi sutradara yang telah ditetapkan organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi). Waktu itu, untuk menjadi sutradara film atau televisi harus lulus sertifikasi dari KFT. “Ketika hasil penyutradaraan pertama saya serahkan ke KFT. KFT langsung mengakui hasil garapan saya bagus. Saya tanpa harus menunggu film kedua dan ketiga, langsung dikukuhkan sebagai sutradara resmi. Itu kebanggaan saya,” kata Torro. Sejak itu, Torro aktif menjadi sutradara sampai tahun 1984. Film yang cukup berhasil dia sutradarai di antaranya Anglingdarma II (1990) dan Saur Sepuh V (1992) .Anglingdarma II punya karakteristik tersendiri dan bertahan hampir dua minggu di bioskop-bioskop kelas B di Jakarta. Saur Sepuh V episode Istana Atap Langit, tidak kalah menariknya dengan garapan sutradara sebelumnya, Imam Tantowi. Apa konsep dan resepnya? “Konsep saya pembaharuan, artinya setiap film yang saya garap selalu harus ada pembaharuannya. Baik artistiknya, kostum maupun trik laga. Jadi penonton tidak bosan,” kata Torro. Film garapannya yang berhasil menjadi nominator dalam Festival Film Indonesia 1987 adalah Pernikahan Berdarah produksi PT Garuda Film. Kendati tak menjadi film terbaik yang direbut Nagabonar , film yang dibintangi Willy Dozan dan Raja Ema (aktris Malaysia) itu sukses di Negeri Jiran. Sehingga Torro pun mendapat tawaran menyutradarai dua film di Malaysia, yaitu Lukisan Berlumuran Darah (1988) dan Cinta Berdarah (1989). “Waktu itu PT Kanta Indah Film tengah menjalin kerja sama dengan PT Cipta Swa Film dari Malaysia. Pihak Cipta Swa, melihat keberhasilan film saya, Pernikahan Berdarah yang dibintangi Raja Ema sukses di Malaysia,” kata Torro. “Ada kebanggaan apalagi di sana saya diminta tidak sekadar sebagai sutradara dan penulis skenario. Tapi juga sebagai produser pelaksana.” Selain sebagai sutradara, Torro juga aktor yang produktif sejak 1970-an hingga jelang akhir hayatnya. Film terakhir yang dia bintangi adalah Love for Sale (2018). Film ini meraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2018 untuk kategori aktor terbaik (Gading Martin), sedangkan Della Dartyan sebagai nominasi aktris terbaik, dan nominasi skenario asli terbaik. Tak hanya film, Torro juga main sinetron, FTV, dan presenter uji nyali Gentayangan di TPI . Suaranya yang serak dan menakutkan membuatnya akan selalu dikenang.

  • Romantisme Keluarga Cemara

    BERSAMA Abah (diperankan Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), dan kakaknya, Euis (Adhisty Zara), Ara (Widuri Puteri) harus memulai kehidupan baru di kampung. Rumah mereka di Jakarta disita debt collector. Rumah itu dijadikan jaminan oleh Abah dan Uwak (Ariyo Wahab) untuk modal usaha properti. Nahas, usaha tersebut bangkrut. Setelah seluruh harta mereka disita untuk melunasi utang, Ara sekeluarga jatuh miskin. Abah terpaksa mencari pekerjaan baru. Mulanya dia mencari kerja di Jakarta tapi ditolak. Akhirnya, abah kerja serabutan, termasuk menjadi kuli bangunan. Sekuat tenaga abah berusaha memperbaiki kondisi keuangan keluarga, sampai kelelahan. Nahas kembali menghampirinya, abah mengalami kecelakaan kerja sehingga kakinya patah. Saat Abah masih kesulitan berjalan, emak menggantikan posisinya dengan berjualan opak. Emak dibantu rekan bisnisnya Ceu Salmah (Asri Welas) dan Euis yang berjualan opak di sekolah. Setelah pindah ke kampung, Euis punya kesempatan untuk lepas rindu dengan teman-temannya yang hendak berkunjung ke kota dekat kampungnya. Emak langsung memberinya izin, tapi abah tak setuju dan malah memarahi Euis. Nekat, Euis pergi ke kota menemui teman-temannya selepas pulang sekolah. Namun, ternyata teman-temannya sudah menemukan pengganti dirinya. Perasaan terombang-ambing di tengah perubahan drastis hidupnya, plus kemarahan abah, membuat Euis melulu menahan kesedihannya. Euis tak tahan dengan sikap abah yang berubah galak dan selalu menutup-nutupi krisis dalam keluarga dengan janji-janji. Bara di dadanya akhirnya terbakar dan meledak. Euis memuntahkan segala kekesalannya. Kerjasama Keluarga Tak ada keluarga yang bebas masalah. Namun masalah tak akan berhasil memecah-belah keluarga bila tiap anggota keluarga bekerjasama menghadapinya. Pesan inilah yang ingin disampaikan film Keluarga Cemara (2019). Garis besar ceritanya tak jauh beda dengan versi serial televisi. Namun fokus cerita bukan pada hidup yang kekurangan uang, melainkan usaha seluruh anggota keluarga mengatasi shock akibat perubahan hidup. Semula, keluarga Cemara (Ara) merupakan kelas menengah atas yang bisa menjangkau fasilitas lengkap. Hal itu seketika berubah menjadi serba kekurangan. Usaha-usaha untuk bisa nrimo ing pandum inilah yang menjadi titik berat cerita. Abah merasa harus memikul tanggung jawab atas segala petaka yang diterima keluarganya. Dengan memikul beban sosial sebagai kepala keluarga, ia mengaggap emak, Euis, dan Ara adalah taggungannya. Rasa bersalah dan tanggung jawab yang dirasakan abah sebetulnya tak pernah digugat oleh emak, Euis, ataupun Ara. Hal ini muncul dari dalam dirinya berkaitan dengan nilai-nilai patriarkis yang ia internalisasi, bahwa lelaki adalah kepala keluarga. Sementara dengan kondisi kaki patah dan tak bisa memberi nafkah pada keluarga, abah mengalami puncak rasa ketidakbergunaannya. Kondisi psikologis abah yang tertekan membuatnya berubah menjadi sosok galak dan suka memarahi Euis. Sosok abah seperti ini tak ditemui dalam Keluarga Cemara versi serial televisi. Kegalakan abah sampai membuat Ara tak ingin tumbuh dewasa.  “Kalau Ara udah umur 13 tahun, abah pasti marah-marahin Ara kayak ke Teteh Euis sekarang,” kata Ara. Euis, anak pertama, juga mengalami pergulatan psikis. Sebagai remaja yang sedang mencari identitas, ia begitu kaget ketika seluruh kesenangan remajanya hilang begitu saja. Pahitnya hidup ia telan pelan-pelan sambil mencoba tegar. Hal ini sangat kontras dengan Ara yang baru masuk SD. Ara belum tahu banyak hal, bahkan tak mengerti arti kata bangkrut. Ia juga digambarkan selalu ceria dan mengaggap tidak ada masalah berarti dalam keluarga. Sementara, emak dalam film Keluarga Cemara (2019) menjadi sumber kebijaksanaan keluarga. Dengan ketenangan dan kesabarannya, emak menemani tiap anggota keluarga melewati momen krisis. Dari emaklah Euis belajar untuk menerima keadaan. Dari emak pula abah belajar bahwa kesulitan keluarga harus dihadapi bersama, bukan ditanggung sendiri oleh kepala keluarga. Pelajaran dari emak membuat abah akhirnya sadar untuk lebih mendengarkan pendapat anak dan istrinya, bukan menjadi sosok yang mau menanggung dan memutuskan semua sendiri. Perubahan abah sesuai dengan motto Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga. Tiap anggota keluarga semestinya saling mendukung, bekerjasama dalam segala kondisi, dan menjadi keluarga yang lebih demokratis. Seiring dengan kemauan abah mendengarkan pendapat anak dan istrinya, kebahagiaan kembali tumbuh dalam keluarga Cemara. Versi Baru Film panjang pertama Yandy Laurens ini mengadaptasi serial televisi populer berjudul sama yang tayang perdana pada 1996 di RCTI (ditayangkan ulang tahun 2004-2005 di TV7 ). Rumah produksi Visinema berhasil mendaur ulang kisah keluarga yang akarnya dari cerita bersambung karya Arswendo Atmowiloto di Majalah Hai. Film ini digarap dengan cukup baik tanpa kehilangan pesan awalnya: masalah keluarga seperti apapun, kalau dihadapi bersama tak akan terasa sulit. Bersama sang produser Gina S Noer, Yandy yang juga duduk sebagai penulis naskah menyajikan konflik psikologis para tokoh untuk menerima perubahan hidup. Yandy berhasil menampilkan kisah Keluarga Cemara yang baru, keluarga yang bangkrut, tanpa terjebak nostalgia manja dan klise tentang kehidupan serba ada sebelum jatuh miskin. Seluruh keluarga selalu berusaha tegar dan menerima meski batin mereka pahit. Konsepsi keluarga Cemara baru itu membuat seluruh pemain berwajah masam, tak lagi ceria seperti di serial televisi. Tawa hanya selingan, kesedihan di wajah pemain mendominasi. Adhisty Zara bermain apik memerankan Euis yang dirundung kesedihan namun tetap tegar hingga mengubahnya menjadi remaja pendiam. Ringgo Agus Rahman juga bermain cukup baik. Jarang-jarang penonton menyaksikan adegan Ringgo marah dan wajah putus asanya. Perubahan konsepsi Keluarga Cemara ini juga menghasilkan beberapa pembaruan. Antara lain, tokoh abah yang dalam serial televisi bekerja sebagai tukang becak, di film merupakan pengemudi ojek online. Abah dalam serial televisi merupakan sosok bijaksana, selalu sabar, dan tidak pernah marah; di film ini abah merupakan sosok pemarah. Simbol kebijaksanaan dan kesabaran dalam film ada pada tokoh emak. Abah dan emak dalam film ditampilkan lebih muda dibanding versi serial televisi. Ini membuat film Keluarga Cemara (2019) makin relevan dengan sasaran tonton mereka: keluarga muda yang masa kecilnya menikmati serial Keluarga Cemara (1990-an). Penggambaran Euis juga laiknya remaja kelas menengah kota besar yang punya hobi dan didukung oleh orang tuanya. Sementara tokoh Agil absen sepanjang film dan baru lahir di akhir cerita. Meski tentang drama keluarga, selipan humor yang dibawakan Ceu Salmah dan Ara di KeluargaCemara (2019) cukup menggelitik. Ia menjadi aksentuasi dari kisah-kisah yang ada dan membuat film lebih kaya warna sekaligus yang terpenting, sukses membuat seluruh penonton bioskop terharu dan menangis berjamaah. Theme song “Harta Berharga ” yang menjadi pembuka serial Keluarga Cemara juga mengalami aransemen ulang di film ini. Bunga Citra Lestari yang menyanyikannya berhasil membawakan dengan nuansa baru tanpa kehilangan roh lagu. “Harta Berharga” mengiringi adegan-adegan romantis, dalam jalinan cerita tentang keluarga sederhana, dengan alur sederhana, namun pendalaman psikis tokoh yang kuat di Keluarga Cemara (2019). Film yang dirilis bersamaan dengan waktu liburan sekolah ini, 3 Januari 2019, recommended untuk dinikmati keluarga di masa liburan awal tahun. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah.

  • Benteng Pertahanan Zaman Kerajaan

    Nambi dilantik sebagai patih amangkubhumi oleh Raden Wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Sang patih difitnah Mahapati tengah membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan untuk melawan Raja Jayanagara, putra Wijaya. Prabu Jayanagara yang percaya bualan itu pun pergi ke Lumajang. Nambi dan sanak saudaranya dibinasakan. Benteng di Pajarakan diduduki. Begitulah pemberontakan Nambi diberitakan dalam Nagarakrtagama, SeratPararaton dan  Kidung Sorandaka. Selain soal pemberontakan, kisah itu juga menggambarkan adanya benteng sebagai sistem pertahanan militer. Dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan sistem benteng telah dikenal masyarakat Nusantara sejak terbentuknya sistem sosial pertama kali. Itu dalam bentuk tanggul tanah berpola melingkar tanpa atau dengan disertai tatanan batu-batu kerakal guna melindungi permukiman atau tempat yang dianggap penting. Bagian luar dari benteng dapat dilengkapi ataupun tanpa disertai parit keliling. Benteng purba yang berbentuk tanggul tanah antara lain dijumpai di Way Sekampung, daerah Lampung dan di Lahat. Benteng semacam itu lazim disebut benteng alam. Ada pula benteng Keraton Buton, yang meski dibuat dari batu, denahnya mengikuti benteng alam yang telah ada. “Tidaklah benar bila dikatakan arsitektur banteng di Nusantara baru ada pada masa kolonial, sebagai buah dari difusi budaya Eropa yang mengenal arsitektur benteng dengan sebutan castile ,” kata Dwi. Penghancur Benteng Pada masa kerajaan Hindu-Buddha bentuk benteng menjadi makin kompleks. Fungsinya kian beragam dan bentuknya mungkin mendapat pengaruh dari perbentengan India, yang telah berkembang lebih awal dan lebih maju. Di India, benteng dikenal sejak masa Pra-Aria. Terbukti dengan ditemukannya jejak benteng purba di beberapa situs tua, seperti Mohenjodaro, Harappa, dan Chanhudaro. Benteng-benteng itu lantas dihancurkan oleh kawanan komunitas semi-nomaden, yang dikenal dengan sebutan bangsa Aria. “Dalam pustaka suci Veddha, sebutan untuk bangsa Aria adalah Puramdhara , yang artinya penghancur benteng,” kata Dwi. Istilah pura dan puri dijumpai dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. Serapan dari bahasa Sanskreta ini secara harafiah berarti “benteng, istana, kerajaan, kota, ibu kota, tempat tinggal raja, atau apartemen perempuan.” Dalam Catatan Sejarah Dinati Tang dari abad ke-7 M terdapat informasi tentang penduduk Kerajaan Kalingga di Jawa yang membuat pertahanan dari Kayu. Di Situs Ratuboko dari abad ke-9 M dengan jelas memperlihatkan model pertahanan yang dilengkapi tanggul terjal berlapis balok-balok batu, pagar keliling dua lapis, parit, pos jaga dan pemantauan gerak lawan maupun lorong penyelamatan. Ratuboko adalah kompleks vihara ( abhayagirivihara ). Bangunan itu merupakan keraton sekaligus benteng di atas bukit yang dipakai Balaputradewa untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi serangan dari kakak tirinya, Pramodhawarddhani, dan iparnya, Rakai Pikatan. “Dalam prasasti Siwagrha (778 S = 896 M) Ratuboko digambarkan sebagi tempat pengungsian, yang dimaksud adalah pengungsian Balaputradewa,” kata Dwi. Benteng Berbagai Kerajaan Berdasarkan catatan I-Tsing, Kerajaan Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Sayangnya, catatan pelawat Tiongkok itu tak mendeskripsikan dengan lengkap bentuk dan bahan bangunan yang digunakan. “Kemungkinan berupa balok-balok kayu atau bambu yang ditutupi semak-semak,” ujar Dwi. Sedangkan Ma Huan dalam Yingya Shenglan yang ditulis pada abad ke-15 M, mendeskripsikan tembok yang mengelilingi kediaman raja di Majapahit. Temboknya berupa bata setinggi lebih dari 9 m dan panjangnya lebih dari 90 m. Gerbangnya dua lapis dan sangat bersih serta terpelihara. Rumah-rumah di dalamnya terletak 9-10 m di atas tanah.  Penggunaan teknologi benteng juga disebutkan dalam data epigrafi. Prasasti Cane (1021 M) dari masa Raja Airlangga, memberitakan penduduk Desa Cane yang memperoleh anugerah sima berkat jasanya menjadi “benteng” di sebelah barat kerajaan. Mereka memperlihatkan ketulusan hati dalam mempersembahkan bakti kepada raja, tak gentar pertaruhkan jiwa raga dalam peperangan agar Sri Maharaja memperoleh kemenangan. “Bisa jadi di Desa Cane terdapat benteng, dalam posisi sebagai ujung tombak untuk menghadapi serangan dari arah barat, mengingat lawan utama yaitu Wurawari, berlokasi di sebelah barat kerajaan,” kata Dwi. Sedangkan keraton Airlangga berada di Wwatan Mas, lereng utara Gunung Penanggungan. Jejak arkeologisnya didapati di situs Jedong, Dusun Wotanmas, Desa Jedong, Ngoro, Mojokerto. “Menilik dua pintu gerbang menghadap ke barat berserta pagar batu berukuran tinggi serta tebal, tanggul terjal berlapis bolok-balok batu, kolam depan di sisi barat situs maupun posisi topografisnya yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal itu menggambarkan arsitektur benteng-keraton,” kata Dwi. Pada 1032 M, Wwatan Mas ditinggalkan lantaran serangan musuh. Selanjutnya dibangun kedatuan baru di Kahuripan. Kendati begitu, bekas kedatuan Airlangga itu terus dimanfaatkan hingga masa keemasan Majapahit. Buktinya, ada kronogram bertarik 1307 saka (1385 M) pada ambang pintu bagian atas gapura I. Kadatawan Wwatan Mas didukung oleh benteng, yang ditempatkan di bagian baratnya, yakni benteng Kuto Giring. Pada masa yang lebh muda (1271 M), berdasarkan kitab Pararaton, Wisnuwarddhana memerintahkan pendirian benteng di tempat stategis, Canggu Lor. Letaknya di jelang percabangan bangawan Brantas, yang memecah menjadi tiga sungai: Kali Mas, Porong dan sebuah kali lainnya yang telah mati. Pembangunan benteng Canggu Lor bagian dari serangan ke Mahibit yang diperkirakan berlokasi di tepi Brantas, dekat Terung. Benteng ini juga kemungkinan besar dibuat untuk melengkapi, melindungi, dan mendukung otoritas operasional pelabuhan transit pada aliran Brantas di Canggu Lor. “Jika benar begitu, artinya telah ada konsep paduan pelabuhan dan benteng sejak masa Hindu-Buddha, yang nantinya pada Islam marak dilakukan,” kata Dwi.  Pada masa Majapahit, selain kota benteng di Pajarakan milik Arya Nambi, juga terdapat di kawasan Nagari Lamajang. Ini dijumpai di situs Biting, Kelurahan Kutorenon, Kecamatan Sukadana, Lumajang. Bentuknya mengikuti empat aliran sungai: Bondoyudo di sisi utara, Winong di sisi timur, Cangkring di sisi selatan, dan Peloso di sisi barat. “Sungai-sungai itu dimanfaatkan sebagai barier alam, semacam parit keliling pelindung benteng,” kata Dwi. Benteng Kutorenon pun dilengkapi dengan enam buah menara intai yang mengingatkan kepada bastion dari benteng bergaya Eropa atau pada baluarti benteng Kraton Yogyakarta. “Boleh jadi benteng ini adalah benteng purba masa Majapahit yang mengalami renovasi pada Masa Perkembangan Islam,” kata Dwi.

  • Kolase Hidup Manusia dalam Perang Dunia

    GELAP. Warna hitam yang ditemani suara beberapa veteran Perang Dunia I (PD I) menjadi scene pembuka film dokumenter besutan sutradara Peter Jackson berjudul They Shall Not Grow Old ini. Satu per satu veteran PD I bertutur secara bergiliran. “Saya menjalani segenap muda saya melakukan sebuah tugas dan melewati sebuah peperangan yang ganas,” tutur seorang veteran dalam rekaman suara itu. “Jika waktu bisa kembali, tentu saya akan mengulangnya lagi karena saya menikmati masa-masa itu,” timpal seorang veteran lain. Menjelang menit pertama, scene berubah. Kesaksian-kesaksian para veteran sudah diiringi rangkaian footage asli hitam-putih. Kolase arsip video, foto maupun pampflet yang bergantian muncul itu baru berubah menjadi berwarna saat menginjak menit ke-25. Sutradara membuka filmnya dengan penggambaran PD I dari “meminjam mulut” ratusan veteran. Tuturan dari 120 veteran itu mengisahkan mengenai apa yang tersisa dari pengalaman mereka dalam perang yang berlangsung selama 1914-1918 itu, bagaimana antusiasme mereka saat bergabung ke kemiliteran, horor dalam perang, hingga apa yang mereka rasakan setelah perang itu usai. Kesaksian mereka juga menjangkau hal yang lebih makro, mulai dari bagaimana Inggris menyatakan perang terhadap Jerman, ajakan dan himbauan kepada para pemuda wajib militer berusia 19-35 tahun, hingga antusiasme mengikuti pendidikan dasar militer. Meski usia wajib militer 19 tahun, banyak yang bergabung justru berusia di bawah antara 15-18 tahun. Salah satu gambar tangkap dari footage arsip asli IWM yang direstorasi Peter Jackson (IWM/Warner Bros. Pictures) Para pemuda yang bergabung ke dalam militer bukan hanya pelajar tapi pemuda dengan beragam latar belakang profesi, mulai dari juru tulis, penjaga toko hingga petani. Mereka rela mengubah gaya hidup mereka dengan rutinitas kemiliteran yang sangat ketat dan kaku demi apa lagi kalau bukan nasionalisme. Antusiasme mereka bertambah saat diberangkatkan ke front Barat, tempat di mana jutaan pemuda Inggris Raya (Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia, Australia, Selandia Baru) belajar menjadi dewasa dengan cara yang keras. Mereka belajar tentang bagaimana bertahan hidup di parit-parit berkondisi buruk yang mengancam kesehatan dan dalam keadaan dihujani tembakan senapan maupun kanon musuh, tentang bagaimana bisa makan seadanya, hingga jatah libur paling lama seminggu di garis belakang. “Setiap habis kembali dari front terdepan, kami diberi (diupah) lima franc. Satu franc setara 10 sen (poundsterling). Jadi kami mendapatkan 50 sen (poundsterling) selama berminggu-minggu di garis depan,” aku seorang veteran. Beberapa veteran juga berkisah tentang bagaimana mereka melakukan sebuah raid yang berhasil di satu kubu pertahanan Jerman. Banyak tawanan yang mereka ciduk. Mereka mulai insyaf bahwa para serdadu Jerman ternyata tak seburuk yang dipropagandakan para perwira mereka. “Aslinya mereka orang-orang baik yang juga sama seperti kami. Orang-orang yang awalnya hanya pekerja biasa dan harus wajib militer,” ujar seorang veteran. “Para tawanan (etnis) Saxon dan Bavaria paling baik dan bisa berbaur dengan kami. Mereka justru membenci para perwira (etnis) Prussia mereka,” timpal veteran lainnya. Kisah perang makin seru saat para veteran mengisahkan sebuah operasi ofensif besar. Dramanya makin terasa karena Peter Jackson mengiringinya dengan tata suara yang pas. Satu per satu veteran kembali mengisahkan tentang bagaimana kegugupan mereka jelang serangan ke parit musuh dengan bayonet terhunus hingga kepedihan mereka saat menceritakan rekan-rekan yang kehilangan nyawa. “Ada seorang teman yang terkena pecahan peluru meriam. Tangan dan kaki kirinya putus. Matanya mengeluarkan darah. Saya harus menembaknya. Saya harus. Dia tetap akan mati perlahan jika saya tidak melakukannya. Saya harus mengakhiri penderitaannya, walaupun melukai hati saya,” tutur seorang veteran seraya menangis. Peter Jackson juga turut memberi peringatan akan penayangan beberapa foto dan footage yang mengerikan (IWM/Warner Bros. Pictures) Jackson melanjutkan narasi filmnya dengan scene pengumuman gencatan senjata 11 November 1918. Momen itu tak disambut gelak tawa, pesta, atau sekadar raut muka ceria para serdadu Inggris. “Suasananya hening. Banyak dari kami justru bingung mau apa setelah perang ini selesai,” ungkap seorang veteran anonim lainnya. Kebingungan para veteran menjadi pilihan Jackson untuk menutup dokumenter berdurasi 99 menit ini. Alih-alih disambut bak pahlawan, para veteran justru mendapati para keluarga mereka minim kepedulian terhadap pengalaman mereka. Mayoritas veteran kesulitan mencari kerja setelah demobilisasi. “Ketika saya berada di sebuah bar, seseorang yang kenal saya sejak lama bertanya pada saya, ‘Ke mana saja selama ini begitu lama menghilang?’,” kata seorang veteran mengenang. Kolase manusia dalam Perang Dunia Dalam kolase foto di film ini, Jackson tidak lupa menyelipkan foto dua kakeknya, Sersan William Jackson dan Sersan Sidney Ruck, serta Letda Thomas Walsh yang merupakan kakek dari istrinya, Fran Walsh. Ketiganya veteran PD I yang bertugas di Angkatan Darat Inggris (Jackson dan Ruck) dan Selandia Baru (Walsh). Bagi penonton awam, film ini akan sangat membosankan dan bikin ngantuk. Selain ketiadaan action laiknya film-film perang box office , hampir seluruh film juga tak diselipi narasi. Semua hanya sekadar penuturan dari 120 veteran. Penonton juga takkan menemukan protagonis atau antagonis dari 120 veteran yang bertutur. Bahkan tak satu veteran pun yang namanya disebutkan. Pun dengan nama lokasi dan waktu. Menurut sineas yang sohor dengan trilogi Lord of the Rings dan The Hobbit itu, dokumenter ini bukan penggambaran satu kisah tentang PD I, juga bukan kisah bersejarah. Jackson juga tak menjanjikan keakuratan sejarah. “Kami memutuskan tidak mengidentifikasi para serdadu (veteran). Karena akan ada sangat banyak nama yang harus dimunculkan setiap kali terdengar rekaman suara mereka. Kami juga membuang referensi tanggal dan tempat karena kami tak ingin film ini hanya berpusar pada momen di satu hari atau di satu tempat. Ada banyak buku yang bisa menjelaskan itu semua. Saya ingin film ini berkisah tentang pengalaman humanis dan agnostik,” kata Jackson dikutip flicks.com.au , 10 November 2018. Proyek cuma-cuma They Shall Not Grow Old sedianya sudah direncanakan dan lantas dieksekusi sejak 2015, di mana Jackson ditawari langsung oleh Imperial War Museum (IWM) yang bekerjasama dengan BBC dalam kerangka program 14-18 NOW. Kendati tak diupah alias cuma-cuma, Jackson tertarik dan lantas memproduksinya di bawah rumah produksi WingNut Films. Menggarap They Shall Not Grow Old memberi keuntungan tersendiri buat Jackson. Dia yang sejak kecil acap didongengi ayahnya tentang kisah kakeknya, William Jackson, yang bertugas di Resimen South Wales Broderers, mendapat gambaran lebih jelas tentang apa yang dialami serdadu Sekutu dalam PD I. Peter Jackson tak lupa memberi gambaran jelas tentang para korban serangan gas yang lazimnya mengalami kebutaan (IWM/Warner Bros. Pictures) Keuntungan lain yang diperoleh Jackson, disuplai oleh IWM footage berdurasi 100 jam dan rekaman suara wawancara 200 veteran (Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat). Maka dengan senang hati Jackson dan timnya merestorasi semua arsip itu kendati hanya 99 menit footage dan 120 rekaman yang dipakai dalam They Shall Not Grow Old. Tim tak hanya merestorasi tapi juga mengedit dan memberi warna footage - footage yang dipilih agar lebih hidup dan bisa dihayati generasi kekinian. Selain tidak menyisipkan suara narasi, Jackson juga tidak menambahkan efek suara senapan, meriam hingga percakapan-percakapan untuk menyesuaikan situasi adegan. “Saya hanya ingin ada suara-suara orang yang mengalami pengalaman itu. Dari rekaman 120 veteran, semua punya cerita yang serupa,” tambah Jackson. Judul They Shall Not Grow Old diambil Jackson dari potongan puisi karya Laurence Binyon tahun 1914, “For the Fallen”. Bait puisi lengkapnya berbunyi: “They shall grow not old, as we are left grow old.” Penayangan premier They Shall Not Grow Old pada 16 Oktober 2018 di British Film Institute London Film Festival turut disaksikan Pangeran William. Dokumenter ini hanya disiarkan luas BBC Two pada 11 November 2018, bertepatan dengan Peringatan Gencatan Senjata 11 November 1918. Di Amerika Serikat, film ini baru ditayangkan secara terbatas pada 17 Desember 2018. Namun respons positif dan kesuksesannya membuat distributor Warner Bros akan menayangkan They Shall Not Grow Old di bioskop-bioskop mulai 11 Januari 2019.

  • Catatan Kasus Hukum di Kesultanan Banten

    PADA 1192 H (1778 M), kadi di Kesultanan Banten mencatat telah memutus dua kasus perceraian: Karibah dan Urip serta Qariyah dan Bayudin. Urip dan Bayudin mengabaikan istrinya selama setahun. Menurut sumber kesaksian Belanda, kadi mengurus masalah hukum di Kesultanan Banten paling tidak sejak 1596 M. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1695) kadi mendapatkan gelar khusus: Kiyahi Peqih Najamuddin. Gelar Kiyahi Peqih Najamuddin, kata Ayang Utriza Yakin,pertama kali diberikan kepada Enthol Kawista pada 1651. Gelar itu baru dipakai ketika seorang kadi berkuasa. Gelar itu dipakai sampai 1855-1856 saat kadi terakhir, Haji Muhammad Adian, wafat.  “Selama 200 tahun institusi hukum di bawah kadi dilestarikan Kesultanan Banten. Ada 13 orang bertanggung jawab dengan gelar kadi agung atau yang menyandang Kiyahi Peqih Najamuddin” kata dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu, dalam seri diskusi naskah Nusantara ke-9 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Jumat (28/12). Dalam praktiknya, kadi tak hanya mengurus perceraian atau masalah perdata lainnya seperti nikah dan waris. Kadi juga menanggapi masalah hukum pidana dan hukum publik.  “Dulu pengadilan kadi meliputi semua kasus hukum. Kalau sekarang pengadilan agama hanya mengurusi hukum keluarga muslim, seperti talak, rujuk, warisan, dan seterusnya,” kata Ayang.  Ayang menyebutkan, kasus utang piutang misalnya, cukup banyak terjadi di Banten, ada 600-an kasus. Lalu talak 90-an kasus, budak 80-an kasus, kesaksian 40-an kasus, dan 40-an lebih kasus lainnya yang ditangani oleh kadi Kiyahi Peqih Najamuddin. Di antara tindak pidana itu, kata Ayang, terdapat kasus penyekapan dan pemerkosaan perempuan. Siku, abdi Ngabehi Jaya Suraga, mengurung seorang perempuan. “Bumi” menjatuhkan hukuman denda 30 reyal kepada Siku pada Senin, 5 Muharam, tahun Wawu 1193 H. "Bumi" juga menjatuhkan hukuman denda 30 reyal kepada Ki Ngarif asal daerah Terate, pada Selasa 10 Jumadilawal, tahun Wawu 1193 H, karena memperkosa seorang perempuan. Denda ini boleh dibayar utang. Menurut Ayang, "Bumi" merujuk pada pejabat bergelar mangkubumi. Dalam struktur politik di Kesultanan Banten, pejabat hukum, selain kadi, dipegang oleh mangkubumi. Mangkubumi ada dua: dalam dan luar. Mangkubumi dalam mengurus kasus-kasus terkait keluarga kerajaan yang tinggal di dalam kawasan keraton. Sementara mangkubumi luar mendampingi kasus hukum bagi keluarga kerajaan yang ada di luar tembok keraton.  “Bumi selalu dikaitkan dengan pengadilan untuk keluarga kerajaan. Di kasus itu pelakunya abdi ngabehi, pembesar kerajaan. Maka dia diadili bumi walaupun kasusnya masih dicatat Kiyahi Peqih Najamuddin”kata Ayang yang tengah menempuh pendidikan posdoktoral di Institut de Recherche-religions, spiritualités, Cultures, Sociétés (RSCS), Université Catholique de Louvain (UCLouvain), Belgia. Sanksi denda paling sering ditemukan dalam menindak terpidana. Hukuman lain yang sering dipakai adalah kerja sosial. “Paling banyak kerja sosial mengambil batu karang satu sampai 20-an perahu. Ambilnya harus masuk ke laut. Batu karang ini untuk membangun kota, istana dan lain-lain. Ini yang paling lazim,” kata Ayang. Sepanjang data yang ada, selama tiga abad Kesultanan Banten berdiri hanya sekali hukuman kejam: potong tangan bagi pencuri perhiasan permaisuri Sultan Ageng Tirtayasa. “Ini berdasarkan laporan utusan diplomatik asing yang ke Banten. Hati-hati tapi mencerna laporan ini, karena pencuri menyentuh milik permaisuri sultan. Ini umum dilakukan penguasa saat itu. Ini hukum sultan. Semau-maunya dia saja,” kata Ayang.  Kasus-kasus yang tercatat Berdasarkan catatan yang ada, pada 1192 H (1778 M) hanya berhasil ditemukan pencatatan kasus selama tiga bulan: Syawal, Zulkakdah, dan Zulhijjah. Masing-masing 26 kasus, 55 kasus, dan 47 kasus.  “Itu tercatat tiap hari senin sampai minggu. Saya membayangkan Kiyahi Peqih Najamuddinitu kaya ustad, kiayi dan ulama sekarang bekerja tiap hari tidak bisa tidak menerima orang yang datang,” kata Ayang.   Sementara pada 1193 H (1779 M) terkumpul catatan selama 12 bulan. Dari Muharram sampai Zulhijjah sebanyak 565 kasus. Rata-rata 40-an kasus perbulan. Kasus juga dicatat setiap hari Minggu hingga Sabtu. Kasus terbanyak terjadi pada hari Sabtu. “Ini mungkin menarik diteliti kenapa catatan terbanyak terjadi pada hari Sabtu,” lanjut Ayang. Pada 1194 H (1780 M) yang diperoleh adalah catatan selama 5 bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, dan Jumadil Tsani. Totalnya ada sebanyak 871 kasus yang bertanggal dan bertahun.  Kasus-kasus hukum yang terjadi di Kesultanan Banten, kata Ayang, melibatkan 400-an penduduk laki-laki dan perempuan 250 orang. “Yang banyak masalah berarti laki-laki. Dan apa? Rupanya banyak laki-laki tak bertanggung jawab yang membuat istri minta cerai,” selorohnya. Sejauh ini, Ayang mengatakan, selain Kesultanan Banten, yang memiliki lembaga pengadilan kadi adalah Kesultanan Aceh. Namun hanya Kesultanan Banten yang meninggalkan catatan hukum secara tertulis. Dokumen ini pun menjadi penting sebagai warisan bagi bangsa Indonesia bahkan Asia Tenggara.   “Di Asia Tenggara tidak ada soalnya, kekurangannya seluruh kesultanan di Indonesia tidak ada yang meninggalkan arsip tertulis. Terutama catatan pengadilan,” kata Ayang.

  • Antara Raket dan Senjata

    KETUA PBSI Wiranto mungkin lupa Menpora Imam Nahrawi pernah berpesan padanya tak lama setelah Wiranto terpilih secara aklamasi menjadi ketua PBSI tahun 2016 lalu. “Sering-sering datang ke pelatnas! Jangan pantau dari jauh, tapi harus hadir melihat sarana dan prasarana olahraga atlet. Harus juga ada sinergi yang lebih baik karena kementerian ini juga memprioritaskan bulutangkis,” pesan Imam kepada para wartawan, 2 November 2016. Kelupaan atau kealpaan Wiranto itu jelas berpengaruh pada prestasi bulutangkis Indonesia. Hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari bulutangkis Indonesia sepanjang 2018. Di Asian Games 2018 di rumah sendiri saja Indonesia gagal jadi juara umum. Pelipur laranya paling banter prestasi ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Duet berjuluk The Minions itu paling mencuri perhatian tahun ini lewat rekor delapan dari 20 gelar juara yang diraih para pemain Indonesia di berbagai event tahun ini, termasuk turnamen nomor wahid All England. Tapi kalau sudah nomor beregu, Indonesia masih dikangkangi Denmark, Cina, bahkan Jepang. Terlebih di Thomas dan Uber Cup, Indonesia belum bisa lagi mengawinkan kedua supremasi tertinggi bulutangkis beregu itu. Setitik embun di padang pasir hanya berupa gelar juara Asia Team Champhionship. Prestasi macam begini harus jadi perhatian khusus sang ketua, Jenderal (Purn) Wiranto. Masih banyak PR yang mesti diselesaikan PBSI. Wiranto mesti terus-menerus dan lebih sering turun ke lapangan, tak peduli meski disibukkan tugas-tugasnya sebagai Menkopolhukam. Pelatnas PBSI Cipayung warisan era Try Sutrisno sejak 1992 yang belum pernah direnovasi hingga kini (badmintonindonesia.org) Untuk perbaikan fasilitas penunjang di Pelatnas PBSI saja, baru sekadar rencana. Sejak dibangun pada 1992 semasa PBSI di ketuai Try Sutrisno, Pelatnas Cipayung belum pernah direnovasi –kecuali gedung asrama. Padahal kalau lebih sering turun ke bawah, Wiranto bisa lebih cepat paham kebutuhan-kebutuhan di pelatnas. Sorotannya terhadap fasilitas baru tergelitik setelah Wiranto melihat fasilitas ‘wah’ milik Jepang. “Terus terang saya cukup iri dengan fasilitas di Pelatnas Jepang. (Sementara, red. ) sarana dan prasarana di Pelatnas Cipayung banyak yang rusak dan butuh perbaikan,” cetus Wiranto, dikutip kantor berita Antara , 10 Desember 2018. Panglima serdadu dan olahraga tepok bulu Rangkap jabatan bukan hal yang terlarang di negeri ini. Permasalahannya, apakah seseorang benar-benar mampu dan cakap untuk memegang lebih dari satu jabatan sekaligus. Kalau iya, hasilnya mesti terasa. Sebagaimana dicontohkan Jenderal (Purn) Try Sutrisno di cabang olahraga bulutangkis. Try Sutrisno rangkap jabatan ketika sebagai wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) dia dipercaya menjadi ketua umum (ketum) PBSI tahun 1985. Tugasnya makin berat saat Try naik jadi panglima ABRI (kini Panglima TNI) pada 1988 dan wakil presiden pada 1993. Mengutip catatan PBSI dalam Sejarah Bulutangkis Indonesia terbitan 2004, sang jenderal terpilih jadi ketum lewat Munas PBSI ke-14 di Surabaya, 23-24 September 1985. Try, yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari Ferry Sonneville, menjadi militer kedua yang memimpin PBSI setelah Letkol Soekamto Sajidiman (1963-1965). Ketika Try memulai jabatannya di PBSI, prestasi bulutangkis Indonesia sedang menukik. Di All England, misalnya, sejak 1983 belum ada pebulutangkis Indonesia yang menjuarainya lagi. Tugas Try jelas tak ringan, dia mesti mendongkrak lagi prestasi Indonesia di panggung dunia. Majalah Bulutangkis edisi November 1985 mengisahkan, di hari pertama saja Try sudah harus meladeni beragam pertanyaan para “nyamuk” alias pers di kantornya. Pertanyaan-pertanyaan yang menghampirinya terutama soal kesibukan rangkap jabatan, prestasi, dan kritik terhadap PBSI. Try Sutrisno saat serah terima jabatan Ketum PBSI kepada dirinya dari Ferry Sonneville (Foto: Repro" Majalah Bulutangkis") “Ditanya sebagai seorang jenderal yang Wakasad tentu sibuk luar biasa mengatur pasukan TNI AD se-Indonesia. Apakah ada waktu untuk bulutangkis? Cak Soe (sapaan Try Sutrisno, red ) menyahut, bahwa dirinya akan berusaha mengatur waktu sebaiknya, ibarat bedil di tangan kanan, raket di tangan kiri,” tulis majalah bernomor 11 tahun I itu. Try juga berharap para wartawan tak segan melontarkan kritik terhadap dirinya meski seorang militer berpangkat tinggi. “Saudara sekalian tidak usah ragu. Bagi saya, kritik itu jamu. Sehingga malah menyehatkan,” ujarnya. Pun begitu, Try sempat terdiam saat seorang wartawan nyeletuk : “Selama ini kita sering mengkritik PBSI begitu keras, Pak. Kalau kritik kita salah, ditangkap ya?” Menggenjot prestasi dunia dengan raket Di awal masa jabatannya, Try ingin membuat pondasi solid untuk kepentingan masa depan bulutangkis. Salah satu program utamanya adalah mendirikan sejumlah pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) untuk pemain sekaligus pelatih di berbagai kota. Tentu hasilnya pun tak bisa langsung dipetik dalam waktu singkat. Sampai 1988, nyaris tak satupun gelar bergengsi internasional diraih para pebulutangkis kita. Piala Thomas gagal dipertahankan pada 1986. Prestasi baru direngkuh Indonesia, bahkan lebih mentereng, dalam periode kedua kepemimpinan Try di PBSI (1989-1993). Pada 1989, Indonesia menjuarai Piala Sudirman di Jakarta. Dari All England, Susi Susanti sukses menjuarai nomor tunggal putri pada 1990, 1991, dan 1993; Ardy Bernardus Wiranata di nomor tunggal putra (1991), dan Hariyanto Arbi (1993). Pasangan kekasih Susi Susanti dan Alan Budikusuma masing-masing berhasil merebut medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona. Di era Try Sutrisno pula fasilitas penunjang pembinaan bulutangkis mendapat lebih banyak perhatian. Paling kentara, pendirian Pusat Bulutangkis Indonesia di Cipayung (kini Pelatnas Cipayung) pada 1992 untuk menggantikan Pelatnas Senayan. “Pusat Bulutangkis Indonesia dibangun dengan fasilitas 21 lapangan dan sarana penunjang seperti ruangan latihan fisik, asrama, perpustakaan, hingga ruang makan. Pusat Bulutangkis Indonesia merupakan hasil monumental kepengurusan PBSI 1989-1993 yang diketuai Try Sutrisno,” tulis wartawan senior Broto Happy Wondomisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia.

  • Bedak Meracunimu

    PABRIK kosmetik Derma Skin Care Beauty digerebek Polda Jawa Timur awal Desember 2018. Sebelumnya, produk Derma Skin Care Beauty dipasarkan di sosial media dengan menggandeng beberapa selebriti seperti Via Vallen, Nella Karisma, dan Nia Ramadhani. Namun, produk Derma Skin Care Beauty yang terdiri atas, pembersih wajah, serum, masker, dan bedak rupanya hanya barang oplosan. Bedak Derma Skin Care Beauty, misalnya, hanya campuran dari bedak Marks dengan beberapa bahan tambahan. Produk ini ditarik karena tidak mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Orang Indonesia kan pintar-pintar-bodoh, kemakan iklan mudah banget. Kalau saya lihat iklan malah geregetan, masak bilang 3 hari bisa putih,” kata Sjarief Wasitaatmadja yang sudah menjadi dokter kulit selama 50 tahun. Kematian Countess of Coventry Penggunaan bedak berbahan dasar logam berat begitu populer di Eropa sejak lama. Di Yunani Kuno dan Romawi, orang-orang membedaki muka mereka dengan bubuk yang dibuat dari timah putih, disebut cerusa. Penggunaan bedak beracun paling terkenal dalam sejarah ditemukan di Inggris era Elizabeth I. Kala itu, kosmetik sangat populer. Ratu Elizabeth I menggunakan cat putih berbahan dasar timbal untuk menutupi bekas cacarnya. Orang Inggris ramai-ramai memoles wajah mereka dengan cat timbal sebagai bagian dari mode dan penunjukkan status sosial. Makin putih wajah menjadi indikasi seseorang bangsawan. Kulit putih pucat itu dipadu dengan ekstrak bery untuk memerahkan pipi juga bibir, membuat penampilan mereka terlihat sangat kontras antara kulit wajah dan pipi. Gaya berdandan semacam ini terekam dalam lukisan-lukisan wajah orang Inggris abad ke-17. Tingginya semangat orang untuk berdandan memunculkan cara-cara alternatif, bahkan seringkali aneh dan meragukan. Ada yang menggunakan cangkang bekicot, campuran kapur barus, cangkang telur, atau madu sebagai bedak. Pilihan lain yang digunakan orang yang enggan membedaki mukanya dengan cat timbal adalah mengoleskan air kencing atau air mawar yang dicampur dengan wine. Pada pertengahan abad ke-18, penyakit kulit sangat dikenal sebagai akibat penggunaan bedak yang asal-asalan dan beracun. Korban paling terkenal di Inggris adalah Maria (Gunning) Coventry seorang Countess of Coventry. Dia meninggal lantaran keracunan bedak yang terlalu banyak dia gunakan pada usia 25 tahun di 1760. Hannah Greig dalam The Beau Monde: Fashionable Society in Georgian London menyebut, bedak yang Maria gunakan tiap hari mengandung racun merkuri. Keracunan logam berat terjadi lantaran Maria tanpa sadar menghirup bedak yang menempel di wajahnya dan masuk ke saluran pernapasan. Di Asia, penggunaan bedak berbahan logam berat ditemukan di Jepang. Seniman Kabuki dan Geisha menggunakan cat putih tebal yang disebut Oshiroi untuk mendandani wajah mereka. Penggunaan bedak berbahan dasar non-logam (Neri Oshiroi), menurut Dominique Buisson dalam Japan Unveiled: Understanding Japan Body Culture, baru muncul sekira akhir abad ke-19. Kebanyakan menggantinya dengan bubuk beras yang dinilai lebih aman. Mencari Jalan Bedak Aman Di Indonesia, campuran bubuk beras dan bunga melati menjadi bahan dasar bedak dingin. Penggunaan beras sebagai bedak kemudian ditiru oleh orang Eropa, salah satunya brand kenamaan Bourjois yang didirikan aktor Prancis Joseph-Albert Ponsin. Bourjois mengeluarkan produk bedak Java Rice Powder pada 1879. Pada abad ke-19, bisnis make up berkembang pesat karena kebutuhan berdandan para aktris opera di atas panggung. Para produsen terus berinovasi untuk membuat make up yang tahan menempel di wajah sembari saat sang aktor berakting di panggung sambil terkena sorotan lampu super terang dan panas. Di samping menyediakan produk untuk kebutuhan opera, produsen kosmetik juga memasarkannya untuk khalayak umum. Selain Posin, Helena Rubinstein juga menjadi salah satu pembuat kosmetik terkemuka sampai-sampai ia dijuluki Ratu Kosmetik Amerika. Sama seperti Posin, Helena mulanya membuat make up untuk kebutuhan artis panggung, namun kemudian produknya dipasarkan untuk umum dengan harga jauh lebih murah. Hingga abad ke-20, ilmu dan seni tata rias berkembang pesat dan produk baru terus bermunculan. Maraknya produk membuat ahli dermatologi modern (dokter kulit) harus turun tangan mengatasi fenomena ini. Dokter tidak hanya merawat kulit yang sakit tapi juga menjadi konsultan keamanan dan kemanjuran kosmetik. “Kalau melihat perkembangan situasi pasar, kami melihat adanya integrasi ‘dermatologi penyakit’ dengan ‘hasrat dermatologi’. Pada tingkat tertentu, dermatologi merupakan campuran dari perawatan penyakit dan hasrat merawat diri,” kata William Philip Werschler, asisten Profesor Dermatologi Klinis di Universitas Washington, sebagaimana diberitakan Medscape . Pelibatan dokter sebagai konsultan keamanan kosmetik juga terjadi di Indonesia sejak 1970-an. Muasalnya dari meningkatnya kelas menengah Indonesia bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat sehingga produk kosmetik makin ramai peminat. Retno Iswari Tranggono, dokter kulit pendiri jurusan Kosmetik-Dermatologi UI, menginisiasi pemeriksaan kosmetik bersama Departemen Kesehatan. “Produk bersangkutan akhirnya dianalisis di ITB dan BATAN. Setelah dilakukan analisis selama satu tahun, ternyata beberapa produk yang beredar mengandung merkuri yang sangat berbahaya,” kata Retno seperti ditulis Jean Couteau dalam The Entrepreneur Behind The Science of Beauty. Retno bersama rekannya sesama dokter kulit, Sjarief Wasitaatmadja, kala itu diminta menjadi staf ahli dan membantu Departemen Kesehatan memonitor efek samping kosmetik sampai ke pembuatan undang-undang. Penggunaan kosmetik, menurut Sjarief, bisa mempengaruhi kulit dan punya efek samping. Oleh karenanya, perawatan kecantikan membutuhkan pengawasan medis. “BPOM juga mengikutsertakan kami (Retno dan Sjarief, red .) untuk memberi arahan tentang penggunaan kosmetik dan bahan berbahaya. Zaman dulu jangankan berbahaya, bahan yang bikin mati saja dipakai,” kata Sjarief sambil terkekeh, kepada Historia .

  • Soeharto di Tengah Dua Jenderal

    JENDERAL Abdul Haris Nasution dan Ahmad Yani bersitegang. Mereka berbeda pandangan dalam berbagai soal. Mulai dari cara pendekatan terhadap Presiden Sukarno, korupsi di tubuh TNI, hingga gaya hidup. Hubungan keduanya merenggang sejak Yani menggantikan Nasution sebagai Kepala Staf AD pada pertengahan 1962.

  • Drama Malam Natalan: Kisah Penangkapan Kolonel Maludin Simbolon

    MEDAN 62 tahun yang lalu. Malam itu, Kolonel Maludin Simbolon menggelar hajatan di kediamannya. Para perwira penting Teritorium I/Bukit Barisan beramai-ramai menyambangi rumah sang panglima yang terletak di Jalan Walikota No. 2 tersebut. Simbolon mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam. Aneka makanan lezat disajikan, mulai dari yang umum sampai penganan khas Batak. “Bagi saya makanan enak terasa hambar, hati tidak tenang. Takut kalau gerakan bocor dan saya ditawan disitu juga,” kata Soegih Arto dalam memoarnya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto . Soegih Arto ketika itu masih letnan kolonel yang menjabat komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan. Pada jamuan hari natal yang seharusnya bersukacita itu, Soegih Arto berencana untuk menangkap Simbolon. Pikirannya begitu kacau karena harus meringkus panglimanya sendiri.  “Sampai-sampai makan pun kesasar ke tempat khusus yang disediakan untuk perwira Batak, karena disitu disajikan sayur (dengan daging) anjing!” kenang Soegih Arto.   Panglima Pembangkang Simbolon adalah perwira dari Batak Toba beragama Kristen. Selepas pengakuan kedaulatan, dia menjadi panglima Teritorium I/Bukit Barisan (BB) pertama dengan wilayah komando Sumatera Utara. Pada pertengahan 1950, kepemimpinan Simbolon mengalami gejolak akibat kesenjangan antara daerah dengan pusat. Namanya sempat mencuat tatkala melakukan praktik penyelundupan di Teluk Nibung guna membiaya pembangunan asrama militer dan kesejahteraan para prajuritnya. Ketidakmerataan pembangunan yang dialami wilayah luar Jawa menyebabkan beberapa panglima daerah mau tidak mau menuntut perbaikan. Pada 16 Desember 1956, Simbolon merumuskan ikrar bersama para perwira Bukit Barisan. Ikrar itu ditandatangani oleh 48 perwira yang menempati jabatan kunci. Inti dari ikrar itu menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas.   Simbolon semakin berani melancarkan kritiknya dengan mendeklarasikan berdirinya Dewan Gajah. Pada 22 Desember 1956, dia berbicara di depan corong RRI Medan dan mengumumkan pemutusan hubungan sementara dengan pusat. Melalui dewan yang dibentuknya, Simbolon mengambil alih pemerintahan di Teritorium I. Meski tidak mengakui pemerintahan Kabinet Ali II, Simbolon masih menyatakan setia kepada Presiden Sukarno. Dia juga menginginkan pemulihan dwitunggal, Sukarno-Hatta.   Alasan Simbolon membentuk Dewan Gajah beririsan dengan kekecewaan pribadi. Simbolon gagal terpilih sebagai KSAD. Saat proses penggodokan calon KSAD, Simbolon bersanding dengan Gatot Subroto dan Zulkifli Lubis. Namun pada akhirnya, pemerintah malah memilih Abdul Haris Nasution. “Kelebihan Simbolon adalah bahwa dialah yang paling senior di antara ketiga orang itu. Dia seorang komandan lapangan yang baik sekali dengan pengalaman staf yang cukup lama dalam Komando seluruh Sumatera di masa perang kemerdekaan,” ungkap Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945—1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Selain itu, menurut Sundhaussen, karier militer Simbolon menuju puncak paripurna terkendala sejumlah celah selayaknya kaum minoritas. Sebagai seorang Batak, Simbolon kurang begitu diterima oleh banyak perwira Jawa. Sebagai seorang Kristen, Simbolon kurang dapat diterima oleh perwira-perwira santri dan banyak politisi Islam dalam koalisi pemerintahan.    “Persoalan yang dihadapi Kolonel Maludin Simbolon bagi pribadinya adalah persoalan kehidupan ber-Pancasila dan ber-Bhineka Tunggal Ika,” tulis Robert Sitinjak dalam tesisnya di Universitas Indonesia “Keterlibatan Orang-orang Batak Toba dalam Pemberontakan PRRI di Sumatera Utara 1958-1961”. Meski bertindak atas dasar koreksi, Simbolon tetap saja dianggap insubordinasi. Tindakannya memisahkan diri dari pemerintah telah melanggar profesionalitas sebagai seorang tentara. Manuver ini membawa karier militernya berada di ujung tanduk.    Perintah Jakarta Apa lacur, pemerintah kadung memberi cap pembangkang kepada Simbolon. Kedudukan Simbolon sebagai panglima diberhentikan secara tidak hormat. Dari Jakarta, Presiden Sukarno mengeluarkan perintah harian. Dia menyerukan bahwa tindakan Simbolon telah menyimpang dari Amanat Panglima Tertinggi, Sumpah Prajurit, dan Sapta Marga. Pemerintah menunjuk Letkol Djamin Gintings yang semula Kepala Staf Bukit Barisan sebagai alternatif pertama pengganti Simbolon. Sementara Abdul Wahab Makmur, komandan Resimen II yang berkedudukan di Pematang Siantar ditunjuk sebagai alternatif kedua. Namun secara sepihak, Abdul Wahab Makmur mengangkat dirinya sebagai panglima dan menggerakkan pasukannya untuk menangkap Simbolon.    Di Medan, sekelompok perwira juga bermufakat untuk menindaklanjuti perintah Jakarta. Komandan KMKB Letkol Soegih Arto bersama kepala stafnya Mayor Ulung Sitepu menyusun rencana menangkap Simbolon dini hari seusai acara jamuan makan pada malam natalan di kediaman Simbolon. Kelompok ini mengerahkan sekompi prajurit-prajurit pendatang dari kavaleri, artileri, dan zeni. “Batalion yang akan ikut serta adalah Batalion Maliki dari Binjai dan Batalion dari Brastagi pimpinan Kapten Slamet Ginting dan Kompi pengawal KMKB di bawah pimpinan Letnan Dua Sempa Sitepu,” ujar Soegih Arto dalam memoarnya.   Ironisnya, perwira-perwira yang hendak meringkus Simbolon adalah mereka yang ikut menandatangani ikrar bersama. Simbolon beruntung. Saat berlangsung acara makan, telepon berdering. Mayor C. Rajagukguk, kepala staf Resimen II yang loyal pada Simbolon, mengabarkan jika pasukan Resimen II sedang dalam perjalanan menuju Medan. Mengetahui ada yang tidak beres, pesta jamuan diakhiri begitu saja. Para perwira diminta siaga kembali ke pos nya masing-masing. Simbolon sendiri mempersiapkan diri meninggalkan rumah. Pagi buta, Simbolon membangunkan anak dan istrinya; memberitahu apa yang terjadi. Sebelum melarikan diri, mereka berdoa. Markas Batalion 132 pimpinan Kapten Sinta Pohan di Kampung Durian menjadi tujuan pelarian. “Kolonel Maludin Simbolon lalu menyuruh padamkan semua lampu di rumahnya dan berangkat dengan membawa regu pengawal kediamannya menuju Markas Batalion 132 pada pukul 4 pagi tanggal 27 Desember 1956,” tulis Payung Bangun dalam Kolonel Maludin Simbolon: Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa Drama penangkapan Panglima Simbolon berakhir dengan kegagalan. Dari Kampung Durian, Simbolon meneruskan pelariannya ke Tapanuli dan membentuk basis perjuangan di sana. Simbolon bersama para panglima pembangkang lainnya kemudian bergabung dalam gerakan pemberontakan Pemerintahan Revolusiner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta yang kelak akan merepotkan pemerintah pusat.

  • Setan Merah Berharap Tuah

    SETELAH dibesut Ole Gunnar Solskjær, Setan Merah bertaji lagi. Babyface yang dipercaya menjadi caretaker pelatih berhasil membuat raksasa Premier League Manchester United (MU) bergairah kembali. “Kedatangan Ole tentu memberi harapan adanya perubahan. Latar belakang sebagai mantan bintang MU juga memberi poin yang bisa memudahkan tugasnya,” tutur pengamat sepakbola Irfan Sudrajat kepada Historia. Kelebihan-kelebihan itu menjadi alasan Chief Executive MU Ed Woodward menunjuk Solskjær. “Ole adalah legenda klub dengan pengalaman baik di lapangan maupun di kepelatihan. Dia punya sejarah di Manchester United dan itu artinya dia hidup dan bernapas dengan kultur klub dan orang-orang di sini sangat senang menerimanya kembali. Kami percaya dia akan menyatukan pemain dan fans seiring menjalani paruh kedua musim ini,” tuturnya dikutip CNN , Kamis 20 Desember 2018. Solskjær yang sempat menjadi pelatih klub Norwegia, Molde FK, tak sendiri mengasuh Paul Pogba dkk.. Dia bersama Mike Phelan, eks asisten pelatih MU Sir Alex Ferguson, yang juga comeback ke Old Trafford. Keduanya diharapkan manajemen mendongkrak lagi posisi MU yang terengah-engah di posisi enam klasemen Premier League pasca pemecatan pelatih flamboyan José Mourinho. “Kami (MU) tak terbiasa di posisi enam, kami terbiasa di posisi memperebutkan gelar liga. Itu yang harus kami tatap dan kami tuju sekarang,” cetus Solskjær di situs resmi klub, manutd.com , Jumat 21 Desember 2018. Perubahan MU begitu jelas di tangan Solskjær. Pada debutnya di laga tandang kontra Cardiff City pada matchday ke-18, 23 Desember 2018, MU langsung mengamuk dan pulang dengan kemenangan 5-1. Hasil dahsyat itu sangat langka di era Mourinho. “Dia punya modal dari aspek kepelatihan selain latar belakangnya sebagai mantan pemain MU. Lalu tentu ada motivasi dalam diri Solskjær terkait tantangan ini. Dari semua aspek tersebut, jelas dia punya potensi untuk sekadar menstabilkan atmosfer (internal tim) dan hasil MU ke depannya,” sambung Irfan yang juga Wapemred Top Skor tersebut. Pembawa Hoki MU tak sembarangan mencari pelatih. Figur Solskjær dipilih tak hanya karena melegenda tapi juga dianggap punya tuah buat MU saat masih berkarier. Sosok kelahiran Kristiansund, Norwegia, 26 Februari 1973 itu pertama kali digaet MU pada 29 Juli 1996 dari Molde. Awalnya, Solskjær hanya opsi alternatif transfer MU lantaran MU gagal membajak Alan Shearer dari Blackburn Rovers yang memilih Newcastle United. Alhasil, di MU Solskjær berada di bawah bayang-bayang duet Eric Cantona dan Andy Cole. Ian Macleay mencatat dalam biografi Solskjær, The Baby Face Assassin: The Biography of Manchester United’s Ole Gunnar Solskjaer , pemain berambut ikal itu menjalani debutnya dalam laga uji coba pramusim 1996-1997 kontra Inter Milan di Old Trafford, 13 Agustus 1996. “United (MU) kalah 0-1 dari Nerazzurri (julukan Inter) tapi si rambut kuning Solskjær tampil impresif,” tulis Macleay. Debut profesionalnya di Premier League terjadi 12 hari berselang di matchday ketiga kontra Blackburn Rovers. Solskjær yang masuk di menit ke-61 menggantikan David May, bikin gol perdananya tujuh menit setelah masuk ke lapangan. Gol Solskjær menyelamatkan MU dari kekalahan, laga berakhir 2-2. Dari sinilah julukan super-sub  mulai melekat padanya. “Saya harus berpikir bagaimana saya bisa merusak pertahanan lawan jika dimainkan. Di bangku cadangan, saya mempelajari, menganalisa permainan mereka, terutama juga memperhatikan kesalahan-kesalahan bek-bek lawan,” kenangnya kepada majalah Josimar edisi Maret 2012. Dari 33 kali tampil di musim perdananya, performa Solskjær moncer lantaran berhasil mencetak 18 gol di liga kendati dia jarang dijadikan starter . Perlahan, media-media Inggris punya julukan baru buatnya, The Baby Face Assassin  alias si “Pembunuh Berwajah Imut” lantaran paras polosnya yang seperti bocah berkebalikan dengan daya bunuhnya di lapangan. Musim 1998-1999 nyaris jadi momen perpisahan Solskjær dengan MU yang menerima tawaran empat juta poundsterling dari rival asal London Utara, Tottenham Hotspur. Namun, pada saat negosiasi antara Spurs dengan MU, Solskjær menolak. Dia memilih tetap ingin memperjuangkan tempatnya meski harus bersaing dari bangku cadangan. Ole Gunnar Solskjær mencetak gol penentu kemenangan Manchester United atas Bayern Munich di Final Liga Champions 1999 Di pengujung musim, MU baru insyaf akan keteguhan Solskjær. MU mendapat hoki kala bersua Bayern Munich di final Liga Champions di Camp Nou, Barcelona, 26 Mei 1999. Di menit ke-81, Solskjær masuk menggantikan Andy Cole dalam kondisi MU tertinggal 0-1. Babak kedua hampir berakhir 1-1 setelah Teddy Sheringham menyamakan kedudukan lewat gol di menit 90+1. Saat Bayern mengira akan memainkan extratime , The Baby Face Assassin  menunjukkan tajinya dengan membunuh Bayern lewat gol di menit 90+3. Ribuan fans MU di berbagai tribun sontak bergemuruh. Solskjær mengubah skor 2-1 hingga akhir laga. Trofi “kuping besar” Liga Champions pun dibawa pulang ke Old Trafford setelah 31 tahun. “Momen gol last minute Solskjær itu memang jadi momentum dalam sepakbola, bahkan menjadi momen bahwa apapun bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan. Ya mungkin saja ada aspek tersebut ketika manajemen MU memilih Solskjær. Mengapa tidak? Bagaimanapun Solskjær datang ke MU dengan membawa sejarah tersebut,” kata Irfan. Caretaker Hoki? Cedera lutut kambuhan membuat Solskjær memilih pensiun pada Agustus 2007. Setahun kemudian, Solskjær mengasuh tim cadangan MU hingga pada 2010 hijrah menangani Molde. Sempat kembali ke Inggris untuk menukangi Cardiff City pada Januari 2014, Solskjær gagal total dan Oktober 2015 Solskjær kembali melatih Molde. Molde mengizinkan Solskjær “disewa” MU. Solskjær diharapkan ikut membawa “hokinya” lagi seperti ketika jadi pemain. “Ada pesan yang ingin disampaikan manajemen MU bahwa jangan menyerah meski dalam situasi sesulit apapun. Seperti pengalaman Solskjær semasa jadi pemain. Kini Solskjær harus membangkitkan lagi keyakinan itu kepada semua bintang MU. Mentalitas inilah yang pertama harus dibangun. Setelah itu baru semua aspek taktik dan strategi,” tandas Irfan.

  • Perkawinan Anak yang Tak Kunjung Hilang

    MARYATI pasrah. Di usianya yang masih 14 tahun, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Ayahnya terlilit utang. Dia hendak menikahkan Maryati dengan seorang lelaki yang jauh lebih tua. Maryati menolak. Dia kabur ke rumah neneknya, mencari perlindungan. Tak sampai di situ, Maryati bahkan sempat mengancam akan bunuh diri. Namun, ayahnya mengancam balik. Dia akan memenjarakan sang ibu jika Maryati menolak dinikahkan. “Dalam alam pikir anak SMP, dia tidak kepikiran kalau seseorang tidak bisa dipenjara tanpa alasan. Akhirnya, Kak Maryati menuruti keinginan ayahnya,” kata Lia Anggiasih, kuasa hukum Koalisi 18+, kepada Historia. Maryati merupakan salah satu penyintas perkawinan anak dari Bengkulu. Maryati tak sendiri. Data Badan Pusat Statistik tahun 2017 menunjukkan, 25,71% perempuan Indonesia usia 20-24 tahun menikah di usia kurang dari 18 tahun. Angka ini dijaring dari 34 provinsi. Kalimantan menempati angka tertinggi, yakni 39,53 %. Sementara, persentase pernikahan anak di seluruh Indonesia berada di atas 10% dan 23 provinsi di antaranya mencapai angka 25%. Dari data ini Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menyimpulkan bahwa 67% wilayah di Indonesia mengalami darurat perkawinan anak. Maryati bersama dua peyintas lain dari Indramayu, Endang Wasrinah dan Rasminah, ikut mengajukan judicial review (JR) pada Mahkamah Konstitusi (MK). Ketiga perempuan penyintas itu  bersama KPI, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA), dan beberapa organisasi lain yang tergabung dalam Koalisi 18+, mengajukan JR pada UU Perkawinan tahun 1974 tentang batas usia perkawinan. “Usaha JR pertama dimulai sejak tahun 2014, tapi waktu itu (sidang tahun 2015, red. ) ditolak. Tahun 2016 kami kembali mengadakan FGD dan penjaringan data untuk pengajuan JR kembali pada 2017,” kata Lia. Pada Kamis, 13 Dsember 2018, Ketua Majelis Hakim MK Anwar Usman memutuskan batas minimal usia perkawinan untuk perempuan harus dinaikkan dari sebelumnya 16 tahun. “Salah satu yang jadi pertimbangan hakim, UU Perkawinan seharusnya sinkron sengan UU Perlindungan Anak. Di sini anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun,” kata Lia. Sebelum putusan MK, berbagai usaha dilakukan seperti pengusulan Perpu ke presiden pada 2016. Usaha ini disambut baik dan diterima oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan Jenderal Purnawirawan Moeldoko dan Sylvana Apituley. Pada pertemuan April 2018, Lia menyaksikan sendiri janji Presiden Joko Widodo untuk mengesahkan Perpu Pencegahan dan Penghentian Perkawinan anak. Ditolak Sejak Lama Nursama, anak perempuan asal Aceh, masih berusia delapan tahun pada 1890 . Gadis belia ini dinikahkan dengan pamannya yang jauh lebih tua, Tanim. Kala itu, pernikahan anak menjadi hal yang jamak ditemui bahkan dianggap bagian dari adat. Nursama mengalami trauma hingga butuh waktu tiga bulan untuk pulih lantaran menikah saat belum siap secara seksual dan mental. Seorang pejabat Belanda yang merasa iba melaporkan Tanim ke pengadilan setempat ( Landraad ). Tanim lantas dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa karena meniduri isterinya yang belum cukup umur. Kasus ini dimuat dalam buku Menikah Muda di Indonesia karya Sita van Bemmelen dan Mies Grijns. Pemerintah Belanda sudah memberi perhatian terhadap penghapusan perkawinan anak sejak 1900-an. Pemerintah memerintahkan tiap residen di Jawa dan Madura untuk membatasi perkawinan anak. Definisi perkawinan anak di masa itu pun mengalami tubrukan dengan adat istiadat. Dalam berbagai adat di Indonesia seorang perempuan masih dikategorikan sebagai anak bila belum mencapai pubertas. Namun definisi anak dalam hukum pernikahan adalah, anak perempuan hanya diperbolehkan menikah ketika usianya mencapai 15 tahun sementara anak laki-laki berusia 18 tahun. Jika keduanya belum mencapai usia 21 tahun, mereka perlu izin dari orang tua atau wali. “Saya rasa aturan pemerintah Belanda tentang batas usia perkawinan dipengaruhi oleh kebijakan dari Inggris yang kala itu menguasai India. Di India juga marak pernikahan anak, bahkan lebih parah dari Indonesia,” kata Sita van Bemmelen kepada Historia . Sebuah riset yang dilakukan pada 1905-1914 menyingkap, pernikahan anak jamak ditemukan di kalangan pribumi. Bahkan, anak yang belum mencapai pubertas pun sudah menjalani pernikahan. “Pemerintah kolonial punya persepsi, kalau dalam bahasa sekarang, pembangunan masyarakat di Jawa tidak bisa maju apabila perkawinan anak terus berlanjut. Karena anak-anak tergantung sama orang tuanya. Kalau orang tuanya juga masih anak-anak, pembangunan itu tidak bisa berjalan,” kata Sita. Penelitian itu memuat pula pandangan sembilan perempuan pribumi. Mayoritas menolak pernikahan anak. Para pejuang seperti Raden Ajoe Soegianto, bidan Djarisah, dan Dewi Sartika sangat mencela perkawinan anak. Mereka mengusulkan agar kebiasaan itu dihapuskan. Dewi Sartika bahkan menyebut perkawinan anak sebagai kanker sosial. “Pemikiran Siti Soendari tentang penghapusan perkawinan anak saya rasa yang paling tajam dan tegas. Ia mengusulkan agar penghapusan pernikahan anak bisa dilakukan lewat pendidikan,” kata Sita. Siti Soendari, lulusan hukum Universitas Leiden dan pemimpin redaksi Wanito Sworo, bahkan tidak hanya mencela perkawinan anak tapi memberikan usulan penananganan masalahnya. Menurut Soendari, langkah-langkah hukum untuk menangani perkawinan anak hanya membuat prosesnya makin sulit karena berbenturan dengan golongan agama. "Pada akhirnya, saya tidak tahu ada senjata lain melawan kebiasaan busuk ini selain pendidikan," kata Soendari. Perempuan Belanda pun khawatir terhadap kebiasaan pernikahan anak. Pada 1917, Kepala Sekolah Kartini di Semarang FA. Schippers menulis surat terbuka di koran kepada istri Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum lantaran prihatin melihat murid-muridnya yang masih belia harus keluar dari sekolah karena dinikahkan oleh orang tua mereka. Ia meminta perempuan nomor satu di Hindia Belanda itu menggunakan pengaruhnya untuk melawan pernikahan anak. Namun, surat Nyonya Schippers tidak mendapat jawaban. Protes terhadap praktik perkawinan anak juga dibahas dalam Kongres Perempuan Pertama, 1928. Nyonya Moega Roemah dari Puteri Indonesia membahasnya dalam pidatonya. Meski mayoritas masalah yang dibahas adalah poligami, urusan perkawinan anak tak dikesampingkan. Keprhatinan Moega Roemah, yang menolak keras praktik perkawinan anak, bermula ketika ia menyaksikan murid-murid perempuan harus berhenti sekolah di usia 11 atau 12 tahun lantaran akan dikawinkan. Anak-anak perempuan yang masih senang-senangnya bermain itu dengan berurai air mata harus menikah dengan laki-laki yang tak dikenal. Dalam pidatonya, Nyonya Moega menjelaskan bahwa dalam dunia anak-anak, konsep pernikahan belum tergambarkan. Ia juga memberi dampak-dampak buruk yang diterima perempuan dalam pernikahan dini, seperti putus sekolah, ketidaksiapan anak menghadapi dunia pernikahan, dan beban yang harus ditanggung anak ketika hamil atau punya anak. “Dapatkah ibu yang kurang umur itu melakukan kewajibannya yang penting dan sukar itu? Perkawinan anak-anak itu suatu masalah penting dan harus kita perhatikan dengan sebaik-baiknya,” kata Moega dalam pidatonya seperti dimuat Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang. Moega menyarankan, karena perkawinan anak bukan termasuk pembahasan utama, agar kongres memberi ruang tersendiri untuk membahas lebih jauh soal perkawinan anak. Ia juga mengusulkan agar gerakan perempuan bersama-sama mendesak majelis agama untuk melarang perkawinan anak. Namun, usul itu tak ditolak mentah-mentah. Hasil kongres pertama hanya mengamanatkan anggotanya untuk membuat propaganda tentang keburukan perkawinan dini dan mendesak pejabat setempat untuk memberikan penerangan tentang efek buruk perkawinan anak. Usaha menghentikan pernikahan dini berlanjut di Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres menyepakati pembentukan Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-anak Indonesia (KPKPAI) yang salah satu tugasnya mempelajari dan mengawasi kondisi anak-anak, termasuk pernikahan anak. KPKPAI pada Kongres III di Bandung diganti menjadi Badan Perlindungan Perempuan dalam Perkawinan (BPPIP). Masalah Batas Usia Pascakemerdekaan, usaha penghapusan pernikahan anak terus berjalan. Pada 1946, tulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia , pemerintah mengeluarkan aturan tentang pencatatan pernikahan. Aturan turunannya berupa Instruksi Menteri Agama No. 4 tahun 1947 yang berisi anjuran pada pegawai pencatatan nikah untuk mencegah perkawinan paksa dan anak. “Sayang, dalam praktiknya baik perkawinan anak maupun perkawinan paksa tidak menurun,” tulis Saskia. Produk hukum itu sepaket dengan aturan pernikahan lain yang tidak memuat tentang larangan poligami. Alhasil, gerakan perempuan menolak UU tersebut. Mereka lalu mengusulkan perumusan UU pernikahan yang adil ke parlemen. Hasilnya, dibentuknya Komisi Nikah Talak dan Rujuk (NTR) pada 1950. Anggotanya, Nani Suwondo, Sujatin Kartowijono, Kwari Sosrosumarto, Maria Ullfah, Mahmudal Mawardi, dan tokoh agama dari kaum pria. Pada Desember 1952, Komisi NTR menyampaikan RUU yang di dalamnya mengatur batas usia perkawinan, perempuan 15 dan lelaki 18 tahun. Batas usia yang tidak berbeda dari hukum Belanda itu merupakan hasil kompromi berbagai pihak. Lantaran merasa kemajuan perumusan UU Perkawinan sangat lambat, Nyonya Sumari bersama para perempuan yang duduk di DPR, mengajukan RUU Perkawinan yang adil pada 1958. Dalam usulan Nyonya Sumari, batas usia pernikahan sama seperti Komisi NTR, yakni 15 untuk perempuan dan 18 untuk lelaki. Usulan batas usia pernikahan mengalami perubahan pada Februari 1973 seiring dengan penggalakan program Keluarga Berencana oleh pemerintah. Usulan ini didapat ketika pemerintah mengadakan public hearing dengan tokoh-tokoh Kowani lewat DPR. Maria Ullfah ikut dalam pertemuan itu. Hasil pertemuan mengusulkan agar batas usia pernikahan menjadi 18 untuk perempuan dan 21 untuk laki-laki. “Umur 21 dianggap sebagai umur ideal untuk pria karena sudah dapat menghidupi diri sendiri. Sementara usia paling dini bagi perempuan untuk menikah adalah 18 tahun,” kata Maria Ullfah dalam ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional, 28 Februari 1981, yang dibukukan dengan judul Perjuangan untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan. Pengawalan terhadap batas usia nikah itu terus dilakukan Maria Ullfah dan rekan-rekannya. Mereka terus mengejar DPR agar segera menyelesaikan UU Perkawinan. Salah seorang yang mereka temui adalah Wakil Ketua DPR Sumiskun. Namun, ketika UU No. 1 tahun 1974 disahkan, usia minimal perkawinan adalah 16 untuk perempuan dan 19 untuk lelaki. Batas usia itu berlaku sejak masa kolonial dan bertahan hingga kini. Putusan MK untuk menaikkan batas usia perkawinan pada Kamis (13/12) lalu menjadi titik cerah meski tenggat yang diberikan cukup lama, tiga tahun. Putusan ini menjadi satu hal yang dinanti sejak seabad lalu. “Putusan MK ini menjadi hadiah bagi 90 tahun perjuangan gerakan perempuan sejak 22 Desember 1928. Namun kami tak puas begitu saja, tenggat tiga tahun itu masih sangat panjang. Padahal, Indonesia sudah mengalami darurat pernikahan anak,” kata Lia.

  • Catatan tentang Islamisasi di Sumatra

    PERDEBATAN soal kapan pertama kali Islam masuk ke Nusantara belumlah khatam. Sebagian percaya Islamisasi dimulai abad ke-7. Lainnya tak yakin dan menilai Islam baru masuk ke Nusantara sekira akhir abad ke-12 M. Arkeolog Uka Tjandrasasmita salah satu yang percaya Islam masuk sejak abad ke-7 M. Sedangkan abad ke-13 M adalah pertumbuhannya menjadi kerajaan bercorak Islam. Namun menurutnya hingga abad ke-13 M tahapan masuknya agama Islam masih terbatas di daerah Selat Malaka. Sebenarnya ada isyarat kalau pada abad ke-7 sampai ke-8 M Islam sudah masuk Sumatra. S.Q. Fatimi pada 1963 lewat jurnalnya berjudul “Two letters from the Maharaja to the Khalifah” dalam Islamic Studies menyebutkan raja Sriwijaya pernah mengirim surat kepada dua raja Arab: Khalifah Muawiyah ibn Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umaiyah (661-680 M), dan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (717-720 M).  Kedua surat itu ditemukan sastrawan al-Jahiz di arsip Dinasti Umayyah. Isinya maharaja Sriwijaya meminta raja Arab mengirim guru untuk mengajar Islam di Sriwijaya. Namun, tak diketahui apakah masing-masing raja Arab itu memenuhi permintaan maharaja Sriwijaya. Yang jelas, kata guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, kedua surat itu menunjukkan kalau para pelaut, pedagang muslim pendatang tidak memperkenalkan Islam kepada maharaja Sriwijaya.  "Sehingga dia merasal perlu meminta guru yang mengajarkan Islam," kata Azra dalam acara Borobudur Writers Cultural Festival ke-7 2018. Azra menyebut periwayatan al-Ramhurmuzi dalam kitab  Ajaib al-Hind  yang ditulis sekira 390 H (1000 M), sumber Timur Tengah paling awal tentang Nusantara. Isinya tentang kunjungan para pedagang muslim di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya). Penuturannya mengindikasikan Islam sudah ada di Nusantara pada abad ke-10 M dengan adanya orang muslim di Sriwijaya.  "Tapi nampaknya muslim itu orang asing. Sebaliknya tak ada indikasi kalau penduduk lokal telah masuk Islam apakah dalam jumlah relatif kecil, apalagi massal," ujar Azra. Lebih lanjut dia menegaskan lebih yakin proses Islamisasi di Nusantara mulai terjadi pada akhir abad ke-12 M. Kesultanan Perlak Keberadaan Kesultanan Perlak yang dipercaya berdiri abad ke-9 M, Uka Tjandrasasmita meragukannya. Dalam makalahnya, “Pasai dalam Dunia Perdagangan” yang terbit di Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi, Uka menulis keberadaan Perlak masih perlu diteliti. Apakah menjelang kedatangan Marco Polo ke sana atau jauh sebelumnya sudah berkembang. Sepulang dari Tiongkok, penjelajah asal Venesia itu singgah di pesisir Selat Malaka pada 1292 M. Dia menceritakan di Ferlec (Perlak), sekarang Aceh timur, sudah terdapat pedagang Saracen yang berdatangan dengan kapal-kapalnya secara teratur. Merekalah yang mengenalkan hukum Islam kepada penduduk Perlak. Dulunya, orang-orang di Perlak adalah penyembah berhala. “Jadi, paling tidak beberapa tahun sebelumnya Perlak sudah didatangi pedagang muslim,” kata Uka. Kendati begitu, menurut Marco Polo, yang berubah kepercayaan rupanya hanya penduduk kota. Mereka yang tinggal di pegunungan hidup seperti binatang dan menyembah berbagai hal. Apapun yang mereka lihat pertama kali ketika bangun tidur di pagi hari, maka itulah yang mereka sembah. Marco Polo menyaksikan kondisi tak berbeda di Samudera atau yang dia sebut dengan Sumatra. Tempat itu yang kemudian menjadi pelabuhan terkemuka bernama Pasai. Dia melewatkan lima bulan di sana. Katanya penduduk di sana adalah penyembah berhala. Orang-orangnya liar. Agaknya 53 tahun kemudian kondisi di Samudera sudah jauh berbeda. Ini disaksikan Ibn Battuta, pelawat Maroko yang mampir ke Samudera Pasai pada 1345. Dalam Rihla Ibnu Batutah , Ibnu Battuta berkisah tentang pertemuannya dengan sultan ketiga Samudera Pasai, Sultan Malik al-Zahir II. Sang sultan merupakan muslim yang saleh, menjalankan Islam dengan penuh semangat. Sementara itu dia tak menyebut Perlak. “Satu hal yang penting, mereka yang menjemput (Ibnu Battuta di pelabuhan, red. ) adalah ulama dari mancanegara, yang dilihat dari namanya berasal dari Persia,” kata Azra. Ketika itu Samudera Pasai merupakan kesultanan yang kosmopolitan. Kendati keislaman di kesultanan sudah kuat, wilayah Pasai masih belum sepenuhnya Islam. Di sana masih banyak warga yang belum Islam. “Dia (sultan, red. ) sering terlibat dalam perang agama melawan orang-orang kafir maupun dalam misi penyerangan. Mereka menguasai orang kafir yang tinggal di daerah sekitar, yang akan membayar pajak kepada mereka demi mempertahankan kedamaian,” tulis Ibnu Battuta. Kesultanan Samudera Pasai Sekira dua abad berikutnya, penjelajah asal Portugis, Tome Pires datang memberikan kesaksian yang lebih lengkap soal Sumatra terutama Samudera Pasai. Perlak tak lagi muncul dalam kesaksiannya. Padahal dia menyebutkan nama-nama kerajaan lainnya di Sumatra.   Menariknya, kata Pires, Pasai dulunya diperintah oleh raja Pagan. Ketika dia datang, 160 tahun seudah berlalu sejak raja pagan itu digulingkan oleh pedagang Moor yang licik. Waktu itu, orang Moor sudah menguasai pesisir pantai. Mereka akhirnya mengangkat seorang raja Moor yang berasal dari kasta Bengal. Mulai saat itu, Pasai selalu dipimpin oleh orang Moor. “Semua penduduknya yang berada di pesisir pantai di sisi Terusan Malaka beragama Moor. Meski demikian, hingga kini mereka masih berlum berhasil mengubah kepercayaan masyarakat pedalaman,” lanjut Pires. Dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia,  Uka Tjandrasasmita menjelaskan munculnya kerajaan Samudera Pasai dapat dihubungkan dengan kondisi politik Kerajaan Sriwijaya yang mulai melemah. Kerajaan maritim itu tak lagi mampu menguasai daerah kekuasaannya. Situasi itu kemudian dipergunakan oleh orang muslim. Tak hanya untuk membentuk perkampungan perdagang yang ersifat ekonomis. Namun juga untuk membentuk struktur pemerintahan, yang menurut cerita tradisi Hikayat Raja Pasai , dengan mengangkat Marah Silu, kepala suku Gampong Samudera, menjadi Sultan Malik as-Salih. Dialah sultan pertama Samudera Pasai. Adapun Perlak sudah merupakan kerajaan bercorak Islam ketika Marco Polo datang dengan sultannya, Marhum Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Pada masa pemerintahan Raja Muhammad Amin Syah (1225-1263 M) terjadi pernikahan antara putri dari Perlak bernama Ganggang Sari dengan Marah Silu yang kemudian mendirikan Kerajaan Samudera Pasai. Tentunya versi cerita tradisi ini agak berbeda dengan penuturan Tome Pires yang menyebut raja Samudera Pasai adalah orang Moor. Namun pastinya bahkan pada masa Samudera Pasai pun mayoritas masyarakat Nusantara belum memeluk Islam. Apalagi di Jawa, Majapahit masih berkuasa. Di Nusantara, pada abad ke-13 M, proses Islamisasi itu masih berlangsung.

bottom of page