Hasil pencarian
9864 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pejabat Harus dapat Membuat Puisi
Setiap orang terdidik diharapkan dapat menulis puisi. Keahlian berpuisi merupakan bagian dari pendidikan umum yang harus diikuti oleh setiap pegawai istana pada masa lalu. Pakar kesusastraan Jawa Kuno, P.J. Zoetmulder menerangkan, pejabat istana yang ideal, apalagi seorang raja, pangeran, atau bangsawan bukan hanya harus dapat menikmati keindahan puisi dan membawakannya. Mereka juga harus dapat menulis puisi sendiri dan mengekspresikan perasaannya tanpa kesukaran secara spontan. Kedudukan penyair dan puisinya dalam kebudayaan Jawa Kuno, khususnya dalam kehidupan keraton, begitu terpandang. Hal itu pun digambarkan dalam berbagai kisah fiksi pada masa itu. “Tak mungkin membayangkan tokoh-tokoh utama dalam kisah-kisah fiksi epik yang justru dimaksudkan untuk menampilkan tokoh idaman, tidak sungguh terdidik dalam bidang puisi,” tulis Zoetmulder dalam Kalangwan. Misalnya, dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit, disebutkan seorang pangeran muda suka bergaul dengan para kawi agar dapat menjadikan mereka teladan dalam membuat syair ( pralapita). Ada pula tokoh Panji. Dalam penggambaran sastra kidung, dia begitu digilai perempuan. Bukan hanya karena daya tariknya yang tak tertahankan, melainkan juga karena Panji pandai menulis puisi dan menabuh gamelan. Lalu dalam suatu bagian panjang dari Kakawin Sumanasantaka menyajikan kisah sayembara Putri Indumati. Kisah yang sama, juga dijumpai dalam Raghuvamsa karangan Kalidasa. “Sampai di sini syair Jawa dan India berjalan paralel, tetapi yang tak disebut dalam versi India, ialah reaksi khas dari para pelamar yang ditolak,” jelas Zoetmulder. Raja Angga, misalnya, mencoba mencari pelipur lara dalam sebuah palambang yang terdiri atas dua bait yang ditulis pada pegangan takhtanya. Di sampingnya, Raja Awanti menyatakan cintanya kepada sang putri dengan menuangkannya ke dalam papan tulis dan kepandaiannya dalam menggerakan alat tulis berupa tanah yang lancip. “Dia dapat mengungkapkan cintanya dalam syair-syair yang demikian sempurna, sehingga sesuai dengan sebuah lambang,” kata Zoetmulder. Namun, ketika Raja Awanti juga ditolak, dia menyatakan rasa putus asanya dalam sebuah syair bhasa yang mengharukan. Itu ditulisnya pada sarung kerisnya. Raja lainnya, Pratipa pun kemudian mencatat tiga bait dari sebuah kakawin di atas sebuah pudak . Itu untuk sekadar menyalurkan rasa malunya ketika sang putri lewat tanpa tergerak sedikit pun. “Dengan mengubah cerita dari India itu sedemikian rupa, terbuktilah dengan terang, betapa kepandaian seorang pangeran sebagai seorang penyair dihargai dalam kehidupan keraton di Jawa pada zaman dulu,” jelas Zoetmulder. Tak hanya dalam karya fiksi, Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama mengisahkan Hayam Wuruk yang melakukan perjalanan ke Lumajang sempat mencatat keindahan yang dilihatnya dalam bentuk syair bhasa dan kidung. Kemudian dalam epilognya di Bharatayuddha, Mpu Panuluh mengisahkan sedikit Raja Jayabhaya. Syair-syair sang raja begitu indah dan manis tanpa cacat. Dia seorang penyair yang tak ada tandingannya. Pantas dipilih sebagai guru dan sebuah sumber bagi inspirasi puitis. Adapun Mpu Monaguna, yang menggubah Sumanasantaka , juga menceritakan hal serupa pada akhir syairnya. Sri Baginda Warsajaya, pernah menjadi gurunya dalam seni puisi dan membimbingnya dengan penuh kesabaran seperti layaknya seorang raja. Ada juga Jayakatwang, pangeran Kadiri yang menyerang Singhasari. Menurut Pararaton , dia pernah menggubah sebuah kidung menjelang ajalnya dalam tawanan. Judulnya, Wukir Polaman. Apakah hasil karya mereka juga pantas ditempatkan dalam sastra Jawa Kuno? Menurut Zoetmulder ini masalah lain. Pasalnya, di antara syair-syair Jawa Kuno yang sampai pada masa kini tak ada satu pun yang menyebutkan seorang raja atau pangeran sebagai penciptanya. “Berlainan dengan sastra Jawa di kemudian hari, yaitu periode Surakarta (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 M, red . ), yang dapat menunjukkan raja-raja di antara para penyairnya, seperti Pakubuwono III dan IV,” jelas Zoetmulder. Bukan cuma bagi para pangeran dan raja. Kemampuan dan pengalaman dalam aneka cabang kesenian juga sangat dihargai untuk dimiliki para dayang yang melayani seorang putri raja. Dalam Sumanasantaka diketahui mereka diberikan penghargaan sesuai dengan kemajuannya. Bila mereka sampai pada tingkat seorang kawi dan mahir dalam setiap bentuk kegiatan artistik, mereka dihadiahi sebuah cincin. Kendati begitu, penggambaran seorang kawi atau penyair tak selalu positif. Itu terkait cap ketidaksetiaan yang melekat dalam diri seorang penyair. Mpu Tanakung dalam Wrttasancaya mengisahkan seorang penyair dan kekasihnya yang terpisah sementara karena sang penyair berkelana di tengah hutan untuk mencari ilham. Namun di sisi lain penyair itu disindir, bahwa keindahan seorang perempuan yang menyebabkan dia tak setia dan memikatnya sehingga dia jauh dari istrinya yang sah.
- Kaiin Meregang Nyawa di Tangerang
KAMPUNG Pangkalan, Teluk Naga, Tangerang ramai pada 10 Februari 1924. Hari itu, Kaiin Bapak Kayah –disebut demikian karena ayah Kaiin bernama Bapak Kayah– menggelar pesta sunatan anak tirinya. Tamu yang datang jumlahnya banyak, bukan hanya penduduk setempat atau orang kampung sebelah. Maklum, Kaiin merupakan tokoh yang dipandang di Pangkalan meski dia hanya petani. Pesta itu tak semata untuk merayakan sunatan anak tirinya, Kaiin menjadikan momen untuk menggalang massa. Di pesta itu pula Kaiin akan mengumumkan hal penting yang akan menentukan nasib penduduk setempat, yang umumnya miskin, dan orang-orang yang senasib. Merebut tanah “leluhur” Lahir tahun 1884 di Kampung Pangkalan, Kaiin datang dari keluarga biasa. Seperti umumnya anak-anak Betawi, penghuni mayoritas Pangkalan, saat kanak-kanak Kaiin belajar mengaji sekaligus main pukulan (baca: silat). Bocah pendiam itu merupakan anak yang taat kepada orangtuanya. Seperti lelaki sebaya di kampungnya, begitu beranjak dewasa Kaiin bertani. “Status petaninya sebagai bujang sawah (buruh) dan pernah menjadi petani bagi hasil,” tulis Suhartono W. Pranoto dalam Bandit-Bandit Pedesaan di Jawa: Studi Historis 1850-1942 . Dia tinggal di gubuk sederhananya yang didirikan di tanah sewaan kakaknya, Maiah. Berbeda dari kakaknya yang secara teratur membayar sewa tanah kepada sang pemilik Lie Kim Liong, Kaiin seringkali telat membayar kompenian , uang yang harus dibayar penduduk untuk membiayai ronda, perbaikan jalan, dan jembatan. Beruntung, Lie seorang yang baik dan dermawan sehingga Kaiin tak diusir. Kaiin dikenal saleh dan jago main pukulan. Seorang tuan tanah Tionghoa lalu mempekerjakan Kaiin jadi mandor di perkebunan miliknya. Namun, Kaiin yang amat muak pada ketidakadilan dan terobsesi menolong si lemah, tak tahan melihat pemerasan yang dilakukan tuan tanah sehingga mengundurkan diri. Kaiin kemudian merantau ke Teluk Naga dan bekerja sebagai pembantu polisi. Pekerjaan ini tak lama dijalaninya. Pada 1913, Kaiin merantau ke Batavia dan bekerja sebagai opas seorang komisaris polisi. Lantaran tak betah, Kaiin pulang ke Pangkalan. Dia kemudian menghidupi dirinya dengan menjadi pembantu seorang dalang di Mauk. Dari situlah Kaiin belajar mendalang hingga akhirnya berhasil menjadi dalang populer di daerah Kebayoran. “Saat menjadi dalang ini pola kehidupan Kaiin Bapak Kayah mengalami transformasi menjadi tokoh paham nativisme, terlebih setelah berguru kepada Sairin alias Bapak Cungok dari Cawang tentang elmu kawedukan dan elmu keslametan ,” tulis G.J. Nawi dalam Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi . Kaiin tak hanya belajar kepada seorang guru. Kyai Mohammad Santri di lereng Gunung Salak juga kerap dikunjunginya. Kaiin menganggap kyai itu bisa melindungi rencananya. Sebaliknya, sang kyai menganggap Kaiin sebagai jelmaan Pangeran Alibasah yang dipercaya sebagai pembebas atau imam mahdi. Penilaian sang guru menguatkan keyakinan Kaiin untuk mewujudkan gerakan merebut tanah-tanah yang dikuasai para tuan tanah Tionghoa dan mengembalikan ke para petani. Memanfaatkan popularitasnya, Kaiin lalu menanamkan pemikirannya kepada teman-temannya agar mendukung gerakan merebut tanah Pangkalan. Tanah itu menurut Kaiin merupakan milik mereka yang diwariskan dari leluhur. Untuk itulah, tulis Suhartono, “pengikutnya harus mencari ilmu sakti dan kebal pada guru sakti dan keramat.” Berbeda dari pemikiran para pemimpin gerakan serupa, Kaiin tak anti-pemerintah. Gerakan untuk merebut tanah Pangkalan perlu bantuan petinggi pemerintah di Buitenzorg (kini Bogor), bila perlu dari ratu Belanda. Di tengah pergulatan batinnya, Kaiin melepas masa lajangnya dengan menikahi janda Tionghoa kaya, Tan Teng Nio pada 1922. Meski janda yang kemudian masuk Islam itu mencukupi kebutuhan materinya, hasrat Kaiin untuk membantu kaum tertindas dan merebut kembali tanah Pangkalan makin besar. “Setelah tahun 1922, ia berubah menjadi seorang pendiam dan serius. Tanah Pangkalan adalah milik mereka sejak leluhurnya, karena itu orang Cina harus diusir dan tanahnya dirampas,” tulis Suhartono. “Tanah-tanah perkebunan yang dikuasai para tuan tanah dari etnis Cina harus dikembalikan kepada para petani sebagai pemilik awal keturunan Pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning,” tulis GJ Nawi. Dalam sebuah pertunjukan wayang di Parangkurad, Kaiin yang membawakan lakon "Penggiring Sari" dan "Soklawijaya" mengalami trance di tengah pertunjukan. Di tengah ketidaksadarannya itu dia menyebut dirinya keturunan raja-raja Sunda dan akan dinobatkan sebagai Ratu Rabulalamin. Di waktu hampir bersamaan, Sairin guru Kaiin melakukan ziarah dan ritual dengan membagikan jimat serta ilmu kebal kepada para pengikut Kaiin. Kepada mereka Sairin memerintahkan agar mengenakan pakaian putih dan topi anyaman, bambu atau pandang, Tangerang ketika melakukan gerakan. Gerakan yang diimpikan Kaiin perencanaannya dimantapkan saat dia menyunatkan anaknya, 10 Februari 1924, di mana tamu yang hadir amat banyak dari bermacam tempat. “Kaiin Bapak Kayah mengusung pola gerakan yang memanfaatkan gerakan protes dan pertentangan golongan petani terhadap golongan tuan tanah,” lanjut GJ Nawi. Dalam rapat itu ditetapkan, gerakan akan dimulai pada Selasa, 19 Februari, dengan sasaran awal tanah partikelir Pangkalan. Kaiin di rapat itu juga mengumumkan akan menghapuskan cuke (pajak) dan kompenian bila berhasil menjadi raja di Pangkalan dan Tanah Melayu. Dia juga berjanji akan mengusir orang Tionghoa. “Yang berjanji akan pulang ke negerinya, dibebaskan,” tulis Suhartono. Maka ketika tanggal 19 Februari tiba, Kaiin dan 39 pengikutnya (empat di antaranya perempuan) yang berpakaian serba putih dengan membawa bermacam senjata pun bergerak menyerang rumah-rumah tuan tanah dan kantor Kongsi. Selain menghancurkan bangunan dan membakar arsip-arsip, mereka menangkap para tuan tanah Tionghoa. Seorang pemilik warung Tionghoa diancam dan seorang mandor Jawa diserang. Komplotan selanjutnya melanjutkan gerak-maju ke Tangerang untuk kemudian ke Buitenzorg. Sebelum ke Tangerang, mereka singgah ke rumah Asisten Wedana Teluk Naga R. Toewoeh. Kaiin memberitahukan niatnya hendak menyerang Batavia dan sebelum ke Batavia mereka memerlukan ke Buitenzorg menggunakan kereta api dari Tangerang untuk mendapatkan izin mengusir orang Tionghoa dari petinggi kolonial. “Ia harus pergi ke Bogor karena ayahnya, Prabu Siliwangi, telah mendatanginya dalam mimpi dan memintanya untuk naik ‘takhta’,” tulis Marieke Bloembergen dalam Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan . Toewoeh berusaha tenang menangani masalah itu. Sambil menunggu aparat keamanan tiba, dia mengulur waktu dengan mengajak Kaiin minum teh dan memberi mereka rokok. Sekira pukul 9.30, delapan agen polisi berkuda tiba di rumah itu. Dengan perlindugnan polisi bersenjata, kontrolir mencoba membujuk Kaiin agar mengurungkan niatnya. Upaya itu gagal. Pada tengah hari, Asisten Residen Van Helsdingen dan tiga mobil berisi rombongan pejabat kepolisian dan marsose tiba di lokasi. Keengganan Helsdingen menggunakan kekerasan membuat upaya penaklukan Kaiin berjalan lambat. “Setelah gagal memisahkan Kaiin dari rombongan pengikutnya, Van Helsdingen memutuskan untuk menjalankan tindakan alternatif, yaitu untuk membuat rombongan ini kelelahan dan mencari kesempatan terbaik untuk melucuti mereka tanpa kekerasan,” tulis Marieke. Para personil keamanan pun menyertai perjalanan komplotan Kaiin menuju Tangerang. Di dekat Tanah Tinggi, Helsdingen meminta Kaiin agar memerintahkan pengikutnya beristirahat di kebun kelapa di selatan jalan. Kaiin sendiri lalu ke mobil asisten residen yang diparkir di utara jalan. Di sana sudah menunggu Scheepmaker (komandan reserse) dan May yang sudah diplot akan melucuti Kaiin. Di antara mobil dan pengikut Kaiin, Kapten Marsose Reterink menempatkan pasukan Marsose dan Polisi Lapangan. Belum lagi masuk ke mobil, Kaiin keburu ditangkap Scheepmaker dan May. Mengetahui hal itu, seorang perempuan pengikut Kaiin langsung melompat dan berteriak. Para pengikut Kaiin yang lain pun langsung bangkit dari duduk. Salvo tembakan dan tebasan kelewang dan beragam senjata tajam lain langsung meramaikan lokasi. Pertarungan tak imbang yang berjalan hanya sekira lima menit itu akhirnya mewaskan Kaiin dan 19 pengikutnya serta melukai 17 lainnya. Aparat kolonial menderita kerugian dua korban jiwa: Scheepmaker yang tewas tertebas senjata tajam di punggung, dan personil Polisi Lapangan Darsono. Insiden tersebut mengguncang masyarakat maupun para pejabat di pemerintahan pusat. Sejumlah anggota Volksraad mengecam aparat keamanan dalam aksi berdarah tersebut. RAA Said mempertanyakan mengapa pejabat bumiputra tak diikutsertakan dalam penangangan peristiwa itu. Padahal, katanya, dengan pengetahuan dan kewibawaan atas masyarakat bumiputra, pejabat bumiputra dapat mencegah memburuknya situasi. “Kenyataan bahwa kemunculan pergerakan ini tidak dapat dicegah oleh Polisi Lapangan Tangerang padahal mereka melakukan patroli harian secara rutin menunjukkan bahwa kinerja kepolisian modern sebagai sarana beradab dan seharusnya efisien sangatlah buruk,” tulis Marieke.
- Ulah Sukarno Pasca Dibui
SETELAH bebas dari penjara, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dikabarkan rehat dari panggung politik. Ada yang bilang, mantan gubernur DKI Jakarta ini kembali pada profesi lamanya, yakni pengusaha. BTP juga disebut-sebut akan mencoba peruntungan baru di dunia hiburan dengan membuat gelar wicara bertajuk “BTP Show” sekaligus menjadi seorang video blogger . Namun yang menjadi perbincangan banyak orang adalah kabar seputar rencana BTP untuk menikah lagi pada 15 Februari mendatang.
- Resep Sebuah Pengalaman
KLINIK Tong Fang pernah menjadi topik pembicaraan dan bahan guyonan di dunia maya. Namun, jangan tertawa dulu. Klinik pengobatan ala Tiongkok ini bukanlah fenomena kemarin sore. Ia sudah eksis sedari dulu. Dokumentasi pertama pengobatan tradisional Tiongkok tertulis pada kitab Huangdi Neijing atau Pertanyaan Dasar mengenai Penyakit Dalam. Ada beragam pendapat tentang asal buku ini, antara 200 dan 800 SM. Namun yang jelas, ia kemudian jadi pedoman dan rujukan pengobatan, termasuk ramuan dan akupunktur. Teknik pengobatan ini terbawa ke Nusantara bersama gelombang kedatangan imigran Tiongkok yang kemudian tinggal, menetap, dan berbaur dengan penduduk. Umumnya bahan yang digunakan berasal dari Tiongkok, kendati tak jarang pula dicampur dengan bahan lokal. Sebaliknya, bahan-bahan dan tekniknya mempengaruhi pengobatan tradisional di Indonesia. Menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on The Colonial Market , karena pembatasan yang ketat di masa kolonial, orang-orang Tionghoa memiliki fasilitas medis sendiri: sinse, apotek, dan rumah sakit. Dokter-dokter Eropa tak mengakui keberadaan mereka, kendati diam-diam mencoba mempelajari dan menerapkan untuk pasiennya. Sementara para sinse selalu merahasiakan resep mereka; kadang mereka mau menjual dengan harga mahal, kadang tidak. Terjadilah persaingan. Tak jarang ada sinse yang menipu demi mendapatkan banyak uang. Ada pula yang gagal mengobati pasien. Namun banyak pula yang ikut berperan dalam memerangi beragam penyakit kala itu. Pengobatan tradisional ini mampu melewati waktu, hingga kini. Beberapa kampus mulai mempelajarinya, terutama akupunktur.
- Bonnie dan Clyde, Pasangan Kriminal Kharismatik
SEPASANG suami-istri terpidana kasus terorisme di Australia, Sameh Bayda dan Alo-Bridget Namoa, akan dibebaskan bersyarat oleh Mahkamah Agung Negara Bagian New South Wales (MA NSW), Australia. Keduanya pernah dengan bangga menyebut diri mereka sebagai Bonnie dan Clyde-nya muslim. Tiga tahun lalu, pasutri muda itu ditangkap Kepolisian Sydney lantaran merencanakan serangan teror di malam pergantian tahun 2016 walau akhirnya urung dilakoni. Keduanya juga terbukti memiliki dokumen berbahasa Arab terkait pembuatan bom dan kepemilikan bendera ISIS. Bayda dan Namoa baru divonis pada Oktober 2018. Bayda divonis empat tahun penjara dipotong masa tahanan dan Namoa tiga tahun sembilan bulan penjara dipotong masa tahanan. Lantaran masa tahanan non-pembebasan bersyaratnya sudah kadaluarsa sejak 25 Januari 2019, MA NSW memperbolehkan keduanya dibebaskan bersyarat. Sameh Bayda & Alo-Bridget Namoa yang menjuluki diri mereka sendiri sebagai Bonnie dan Clyde-nya muslim (abc.net/facebook). Dikutip dari kantor berita ABC , Kamis (31/1/2019), Hakim Des Fagan menyatakan sejak di masa tahanan, keduanya juga sudah mulai direhabilitasi. Semenjak Desember 2018 Namoa sudah tak lagi berhijab, bahkan sudah beralih kepercayaan dari Islam ke Kristen. Dia tak lagi fanatik dan membanggakan diri bahwa dia dan suaminya ibarat Bonnie dan Clyde versi muslim. Meski membanggakan diri dengan menganalogikan sebagai Bonnie dan Clyde versi muslim bukan perbuatan melawan hukum, Bayda dan Namoa terlalu jauh jika dibandingkan dengan Bonnie dan Clyde, sepasang kriminal paling ternama dalam sejarah di Amerika Serikat (AS). Satu contoh, Bonnie dan Clyde tak pernah melakoni kejahatan atas nama agama. Siapa Bonnie dan Clyde? Lahir di Rowena, Texas, AS pada 1 Oktober 1910, Bonnie Elizabeth Parker sudah jadi anak yatim sejak usia empat tahun. Bonnie kecil hidup sederhana. Ibunya, Emma Krause-Parker, menghidupi diri dan anaknya dengan menjadi tukang jahit. John Neal Phillips dalam Running with Bonnie & Clyde: The Ten Fast Years of Ralph Fults menulis, Bonnie menikah di usia 15 tahun, dengan Roy Thornton. Tapi tak lama setelah pernikahan itu, sang suami dipenjara lantaran kasus pembunuhan. Sejak Januari 1929, Bonnie dan Roy berpisah walau tak pernah bercerai. Bonnie memilih kembali tinggal dengan ibunya. Clyde Chestnut (Champion) Barrow & Bonnie Elizabeth Parker. (US Library of Congress). Awalnya, Bonnie punya pekerjaan normal, sebagai pelayan sebuah kafe di Dallas, Texas. Hidupnya segera berubah saat bersua Clyde Chesnut Barrow (di dokumen FBI ditulis Clyde Champion Barrow) setahun berselang. Clyde merupakan pria kelahiran Ellis County, Texas pada 24 Maret 1909. Anak kelima dari tujuh bersaudara itu berasal dari keluarga miskin. Sejak belia, Clyde sudah jadi kriminal. Pada 1926, Clyde bersama saudaranya, Buck Barrow, ditahan Kepolisian West Dallas setelah mencuri beberapa kalkun. Aksi kriminal pertama Clyde itu membuatnya dipenjara beberapa minggu. Namun alih-alih insyaf, Clyde justru lebih penasaran untuk kembali jadi maling. Sepanjang 1928-1929, berulang-kali Clyde keluar-masuk penjara sampai akhirnya dibui di penjara berkeamanan medium, Eastham Prison Farm, pada April 1930. Bersatu dalam kriminalitas Kendati banyak versi mengenai kapan dan di mana Bonnie dan Clyde pertamakali bersua, yang paling dipercaya adalah memoar keluarga yang ditulis Emma Krause-Parker, Nell Barrow Cowan, dan Jan I. Fortune, The True Story of Bonnie and Clyde. Memoar itu menyebutkan, Bonnie dan Clyde pertama bertemu pada 5 Januari 1930 di rumah Clarence Clay, salah satu teman Clyde di West Dallas. Bonnie saat itu sedang di sana untuk membantu merawat temannya yang juga istri Clay, pasca-mengalami patah tulang tangan. Sejak itu, keduanya saling suka kendati Bonnie masih berstatus istri orang. Sayang, cinta mereka kembali dipisahkan oleh jeruji besi. Clyde meringkuk di penjara lantaran terlibat pencurian. Sempat kabur dari penjara pada 11 Maret 1930 berbekal senjata yang diselundupkan Bonnie, Clyde tertangkap lagi sepekan kemudian dan dikirim ke Penjara Eastham Prison Farm yang terkenal brutal. Di Eastham, medio April 1930, Clyde tercatat melakukan pembunuhan pertama. Menggunakan potongan pipa, Clyde membunuh seorang tahanan lain yang acap melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Pun begitu, Clyde tak mendapat hukuman tambahan. Sementara, demi menghindari kerja paksa di ladang, Clyde meminta rekan tahanan lain untuk membacok dua jari kakinya menggunakan kapak. Upayanya berhasil, tapi seumur hidup Clyde mengalami kepincangan. Meski divonis awal empat tahun, pada Februari 1932 Clyde sudah bebas bersyarat. Tapi bukannya tobat, Clyde berulah lagi jadi perampok. Tidak hanya mengajak geng-nya (Ray Hamilton, W. D. Jones, Buck Barrow, Blance Barrow, Henry Methvin), Clyde juga mengajak Bonnie. Medio Maret 1932 jadi “debut” Bonnie ikut aksi perampokan Clyde dkk ke sebuah toko di Kaufman, Texas. Sayang, upaya itu sedikit kacau dan Bonnie tertinggal sehingga ditahan polisi walau akhirnya dilepaskan karena tak cukup bukti. Sejak itu, Bonnie senantiasa ikut Clyde dalam beragam aksi perampokan dengan kekerasan. Tidak hanya di Texas, perampokan mereka sampai ke Minnesota, Indiana, hingga Louisiana. Catatan FBI bernomor: I.C. #26-31672 (Biro Penyelidikan Federal AS) tertanggal 14 Desember 1934 menyatakan, setidaknya geng Bonnie dan Clyde membunuh 13 orang dalam serangkaian aksi perampokan dan penculikan mereka. Perburuan oleh FBI baru menemui titik terang pada 21 Mei 1934, saat FBI bersama sejumlah polisi Louisiana dan Texas mengetahui tempat persembunyian Bonnie dan Clyde di Black Lake, Louisiana. Meski begitu, mereka baru berhasil menyergap Bonnie dan Clyde pada 23 Mei 1934. Mobil Bonnie & Clyde yang penuh bekas tembakan jadi tontonan masyarakat setempat. (fbi.gov). “Barisan pagar betis polisi dari Louisiana dan Texas, termasuk seorang Texas Ranger, Frank Hamer, bersembunyi di semak-semak di sebuah jalan dekat Sailes, Louisiana, sejak dini hari 23 Mei 1934. Bonnie dan Clyde baru muncul dengan mobil pagi harinya. Saat mencoba kabur, para polisi membuka tembakan. Bonnie dan Clyde tewas di tempat,” demikian dimuat sebuah dokumen FBI. Teror perampokan geng Bonnie dan Clyde pun berakhir. Kendati begitu, kisah cinta berkalang kriminal mereka justru sohor, sampai beberapa kali diangkat ke layar lebar: The Bonnie Parker Story (1958), Bonnie and Clyde (1967), Bonnie and Clyde vs Dracula (2008). Kisah mereka juga diangkat ke pentas teater dan miniseri sejarah di Gibsland, Louisana, acap digelar The Bonnie and Clyde Festival.
- Mencari Letak Kerajaan Kanjuruhan
Kerajaan Kanjuruhan membuka peradaban Hindu-Buddha di Jawa bagian Timur. Ketika itu Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Jawa Barat dan Kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Namun, riwayat Kanjuruhan tak banyak dibahas termasuk soal di mana keratonnya berdiri. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Kaladesa mengungkapkan, Kerajaan Kanjuruhan terletak di dataran tinggi Malang, di pedalaman Jawa bagian timur. Pusatnya berada di selatan gugusan Gunung Arjuno, Anjasmara, Welirang, dan Penanggungan. “Gunung-gunung itu memang tak lebih tinggi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Namun, dalam sejarah perkembangan peradaban selanjutnya, wilayah di sekitar pegunungan Arjuno-Anjasmara tampil dan berperan penting dalam sejarah kuno Indonesia,” tulis Agus. Di mana letak pastinya? Nama Kanjuruhan disinyalir pada masa kemudian berubah menjadi nama Dusun Kejuron. Letaknya tak jauh dari Dinoyo, di tepi Kali Metro. Dusun itu menjadi salah satu tempat ditemukannya fragmen Prasasti Dinoyo. Sejauh ini prasasti itu satu-satunya sumber mengenai Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti bertarikh 682 Saka (760 M) ini ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Bagian tengah yang terbesar ditemukan di Desa Dinoyo, Malang. Sedangkan bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari dan Dusun Kejuron, Desa Karangbesuki, Malang. Di dekat lokasi penemuan Prasasti Dinoyo di Desa Kejuron, sampai sekarang masih berdiri Candi Hindu dengan ciri arsitektur abad ke-8 M. Masyarakat menamainya Candi Badut. Tempat di mana ditemukan Prasasti Dinoyo dan Candi Badut, terdapat dua aliran sungai yang saling bertemu: Sungai Metro dan Sungai Brantas. Agus menjelaskan, dalam konsep Hindu-Buddha suatu wilayah yang banyak dialiri oleh sungai dianggap sebagai daerah tempat dewa bersemayam. “Tidak mengherankan pula apabila ditemukan Prasasti Dinoyo karena wilayah itu merupakan tempat yang direstui dewa-dewa dan kekuatan dewata berkumpul di aliran sungai yang saling berpadu satu dengan lainnya,” lanjut Agus. Di wilayah yang sama terdapat reruntuhan bangunan kuno lain, yang oleh penduduk setempat dinamakan Candi Besuki (Wasuki) atau Candi Urung. Sisa kepurbakalaan Candi Besuki yang tertinggal hanyalah pecahan bata besar yang berserakan di tepi tanah garapan penduduk di lahan yang agak sedikit membukit. Belum dapat dipastikan apakah itu merupakan bangunan candi atau bangunan lain, seperti dharmasala atau asrama untuk para pendeta. “Bisa juga dahulu merupakan bangunan berupa batur terbuka tanpa dinding dengan atap yang terbuat dari bahan cepat rusak sebagai tempat kaum agamawan menyepi dan mengasingkan diri, sedang ritual diadakan di Candi Badut,” jelas Agus. Namun, menurut Suwardono dalam Sejarah Indonesia Masa Hindu Buddha , nama Kanjuruhan menjadi nama Kejuron sekarang rupanya kurang tepat. Dukuh Kejuron letaknya di tepi Sungai Metro di sebelah selatan Candi Badut. Sejak penemuan Prasasti Dinoyo hingga sekarang di Kejuron tidak pernah ditemukan sisa-sisa kepurbakalaan. “Justru penemuan berkali-kali muncul hinga kini di Kawasan Dinoyo-Merjosari-Tlogomas, seperti situs dan frgamen bangunan candi, Patirtan yang sekarang menjadi tendon air PDAM Dinoyo, pondasi bata, fragmen umpak dari sebuah bangunan, arca-arca, serta benda-benda logam dari emas dan perunggu,” katanya. Menurut Suwardono, Kejuron berasal dari kata “juru”, nama suatu jabatan pada masa lampau. Hal ini dikuatkan dengan adanya Dukuh Kajeksan, sekitar 500 m sebelah utara dekat Kejuron. “Oleh masyarakat sekarang diucapkan nDesan,” lanjutnya. Dengan begini, letak pasti pusat kerajaan Hindu-Buddha pertama di Jawa Timur itu pun masih perlu ditelurusi lebih lanjut.
- Enam Nomor yang Dipensiunkan di Lintasan
NICKY Hayden memang tak menjalani masa-masa akhir kariernya di MotoGP sebagaimana pembalap pada umumnya lantaran ajal keburu menjemputnya. Namun, bukan berarti pentas balapan kuda besi paling populer itu tak menganggapnya sebagai legenda. Pihak MotoGP akan memensiunkan nomor keramatnya, 69, untuk menghormati mendiang racer asal Amerika Serikat itu. “Hayden salah satu aset terbesar di paddock (MotoGP) dan teladan yang fantastis sebagai seorang pembalap, baik di dalam maupun di luar lintasan. Suatu keistimewaan buat saya menghormati warisannya dan memastikan nomor 69 tetap milik seorang legenda dan seorang juara,” tutur Carmelo Ezpeleta, bos Dorna Sports yang menaungi MotoGP, sebagaimana dimuat situs resmi MotoGP, 26 Januari 2019. Secara resmi, penghormatan itu akan dihelat berbarengan dengan seri ketiga musim 2019 di Sirkuit Red Bull Grand Prix of The Americas, Austin, Texas, 14 April 2019 mendatang. Earl Hayden sang ayah tersanjung mengetahui mendiang putranya akan dihormati di negerinya. “Untuk saya pribadi, penghormatan ini begitu spesial karena nomor 69 juga pernah saya pakai saat masih balapan dulu dan saya bangga Nicky memakainya ketika ia juga balapan. Atas nama keluarga, saya sangat berterimakasih pada Dorna yang menghormati Nicky dengan cara istimewa ini,” ujar Earl Hayden. Nicky yang lahir di Owensboro, Kentucky, pada 30 Juli 1981, berasal dari keluarga pembalap. Puncak prestasi dipetik Nicky di musim 2006 bersama tim Repsol Honda, dia tampil cemerlang sepanjang musim dan menutupnya dengan gelar juara MotoGP. Satu dekade berselang jadi momen terakhir pembalap berjuluk “The Kentucky Kid” itu di MotoGP, karena dia pindah ke pentas Superbike. Namun tragis, pada 17 Mei 2017, Hayden ditabrak mobil saat sedang bersepeda dekat Kota Rimini, Italia. Meski dirawat intensif di Rumah Sakit Maurizio Bufalini, Cesena, Hayden meninggal pada 22 Mei 2017, di usia 35 tahun. Sosoknya dihormati lantaran prestasi dan perangainya. Hayden tak pernah tersandung skandal. Dia dianggap para pesaingnya sebagai pembalap paling ramah dan rendah hati. Tak heran, sosoknya sangat dihormati dan nomor keramatnya akan dipensiunkan sebagaimana lima legenda MotoGP lain. Berikut mereka yang nomornya diabadikan: Kevin Schwantz – #34 Kevin Schwantz saat merayakan gelar juara MotoGP 1993 (Foto: motogp.com) Di era 1980-an, MotoGP “diinvasi” para pembalap Amerika Serikat. Satu di antaranya Kevin Schwantz yang kini dianggap salah satu legenda hidup paling dihormati di MotoGP. Di awal 1990-an, pembalap tim Lucky Strike Suzuki itu acap terlibat perseteruan sengit di lintasan dengan sesama racer AS, Wayne Rainey dari tim Marlboro Yamaha. “Keseruan persaingan mereka berakhir setelah Rainey kecelakaan di Misano, GP Italia 1993,” tulis Jeffrey Zuehlke dalam Motorcycle Road Racing . Schwantz yang sepanjang kiprahnya dijuluki “The Texan Lion”, mengukir klimaks kariernya di MotoGP musim 1993 dengan merebut titel juara dunia kelas 500cc. Schwantz pensiun dua tahun berselang, pasca-serangkaian kecelakaan pada 1994 hingga awal 1995. Majalah American Motorcyclist edisi Maret 1996 menulis, pada gelaran FIM Prize Giving Ceremony, medio Februari 1996, Schwantz dianugerahi FIM Motorcycle Merit Silver Medal. Penganugerahan itu sekaligus meresmikan pensiunnya nomor 34 yang –berasal dari nomor keramat pamannya, Darryl Hurst, eks pembalap motor dirt-track– selalu dipakai Schwantz saat balapan. Loris Capirossi – #65 Loris Capirossi saat menunggangi motor tim Ducati Marlboro (Foto: motogp.com) Kendati namanya tak sementereng Randy Mamola, Max Biaggi, atau Valentino Rossi, Capirossi merupakan satu dari skrup penting roda perubahan yang terjadi di MotoGP. Sejak debutnya di MotoGP (kelas 125cc) pada 1990 hingga pensiun di kelas 500cc pada 2011, pembalap berjuluk “Capirex” itu sudah mencicipi lima motor berbeda: Honda, Yamaha, Aprilia, Ducati, dan Suzuki. Kendati bergonta-ganti motor, nomor yang digunakannya tetap 65. “Saat saya mulai balapan, otoritas (FIM/Federasi Balapan Internasional) memberi saya nomor 65 dan saya langsung menang di balapan perdana saya. Semenjak itu nomor itu tak pernah saya ganti,” ujar Capirossi saat diwawancara motorsport.com . Sepanjang kariernya di MotoGP, Capirossi memenangi 29 dari 328 seri yang dijalaninya. Dua kali ia juara dunia MotoGP kelas 125cc (1990, 1991), sekali juara kelas 250cc (1998), dan dua kali juara tiga kelas teratas MotoGP. Capirossi pensiun pada 2011. MotoGP lantas memensiunkan nomornya, 65. Setelah pensiun, Capirossi langsung digandeng otoritas MotoGP (FIM dan Dorna Sports) untuk dijadikan anggota panel Race Direction dan penasihat keselamatan balapan. Daijiro Kato – #74 Daijiro Kato, rising star Jepang yang tragisnya meninggal di usia muda (Foto: motogp.com) Dari sekian pembalap MotoGP asal Jepang, nama Daijiro Kato jadi satu yang paling dihormati. Kato memulai balapan profesionalnya pada 1993 di All Kyushu Area Championship. Bakat dan kerja keras membawa racer kelahiran Saitama, 4 Juli 1976 itu ke MotoGP pada 1996 di mana dia bergabung dengan tim Honda di kelas 250cc. Musim 2001 jadi momen terbaiknya, Kato juara dunia kelas 250cc dan semusim berselang promosi ke kelas 500cc. Tapi malang buat Kato kala baru menjalani seri pertama musim 2003, di GP Jepang yang dihelat di Sirkuit Suzuka pada 6 April. Kato, menurut laporan Daijiro Kato Accident Investigation Committee yang dirilis November 2003, kehilangan kendali atas motornya di lap ketiga hingga menabrak dinding pembatas. Tubuhnya terpental dan mendarat dengan wajah menghantam aspal. Meski sudah dirawat intensif di Mie Prefectural General Medical Center, nyawa Kato tak tertolong dan dinyatakan meninggal pada 20 April 2003. Untuk menghormatinya, FIM memensiunkan nomor 74 dan dilarang dipakai pembalap di kelas manapun. Shoya Tomizawa – #48 Shoya Tomizawa yang sempat punya prospek cerah, namun ironisnya bak bunga yang gugur sebelum berkembang (Foto: motogp.com) Namanya masuk buku sejarah MotoGP sebagai pemilik pole position pertama dan peraih podium tertinggi Moto2 pada seri pertama GP Qatar yang digelar di Sirkuit Losail, 11 April 2010. Momen itu menandai diluncurkannya kelas Moto2 sebagai pengganti kelas 250cc dan Moto3 sebagai pengganti kelas 125cc di MotoGP. Ironisnya, beberapa bulan setelah itu Tomizawa mengalami kecelakaan hebat di lap ke-12 saat mengikuti GP San Marino di Sirkuit Misano pada 5 September 2010. Menukil Moto Matters , 5 September 2010, Tomizawa yang tergelincir dari trek dan terhantam motor Alex de Angelis dan Scott Redding yang tak mampu menghindar. Tomizawa dilarikan ke rumah sakit di Riccione, namun nyawanya tak tertolong dan dinyatakan tewas di hari yang sama. Segenap stakeholder MotoGP berduka untuk racer tim Suter Technomag-CIP berusia 19 tahun itu. Dua pekan berselang di GP Aragón, dihelat hening cipta untuk mengenangnya. FIM dan Dorna juga memensiunkan nomor 48 khusus di kelas Moto2. Di akhir musim 2010, semua pembalap mem- voting nama Tomizawa sebagai pemilik Trofi Michel Métraux, penghargaan yang diberikan setahun sekali untuk pembalap terbaik Moto2. Redding mengenang sosoknya dengan membuat tato nomor 48. “Ini nomor miliknya (Tomizawa), jadi kami akan selalu bersama melaju ke arah yang sama. Dia bersama saya, mendukung saya dan kami akan selalu balapan bersama,” ujar Redding, dikutip Reuters , 27 Maret 2014. Marco Simoncelli – #58 Marco Simoncelli sempat digadang jadi penerus Valentino Rossi (Foto: motogp.com) Selain nyentrik, Marco Simoncelli punya bakat menjanjikan. Pembalap berambut kribo itu digadang-gadang sebagai pengganti Valentino Rossi. Nahas, pembalap yang sering nekat saat bermanuver di lintasan itu justru keburu tewas di usia muda, 24 tahun. “Super Sic”, julukan SImoncelli, tewas di Sirkuit Sepang saat GP Malaysia, 23 Oktober 2011. Tragedi itu bikin geger. Ucapan duka juga mengalir dari gelanggang Formula One hingga arena sepakbola Serie A Italia. Pembalap tim San Carlo Honda Gresini bernomor 58 itu tergelincir di lap kedua, kepala dan tubuhnya terhantam motor Rossi dan Colin Edwards. Race Direction di situs MotoGP, 24 Oktober 2011, menyatakan nyawa Simoncelli tak tertolong meski sudah dilakukan beragam upaya selama 45 menit di klinik Sirkuit Sepang. “Ia mengalami trauma hebat di bagian kepala, leher, dan dada. Kami harus menyatakan ia tewas pada pukul 16.56,” kata Michele Macchiagodena, anggota tim dokter FIM. Untuk menghormatinya, Dorna Sports memensiunkan nomor 58 khusus di kelas MotoGP, medio September 2016, atau lima tahun setelah peresmian pengabadian nama Simoncelli di Sirkuit Misano menjadi Misano World Circuit Marco Simoncelli. “Nomor ini (58) mulai sekarang milik keluarga Simoncelli. Kami tidak akan menggunakannya untuk siapapun, kecuali keluarga memutuskan seseorang diberi keistimewaan menggunakan nomor ini,” ujar Carmelo Ezpeleta, CEO Dorna Sports, dikutip Fox Sports , 9 September 2016.
- Keributan di Kongres Perempuan
MARIA Ullfah, perempuan Indonesia pertama yang jadi menteri sosial, tak pernah lupa perdebatan sengit yang mewarnai Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, Juli 1935. Perdebatan itu dipicu oleh silang pendapat antara pihak pro poligini dan pihak anti poligini. “Wah, itu ramai sekali. Istri Sedar kan fanatik menentang poligini, baru belakangan akhirnya mau ikut kongres. Tapi di kongres itu ada juga Ratna Sari dari organisasi wanita Islam yang jadi pembicara. Jadi ini kesalahan panitia yang mengatur pembicara,” kata Maria Ullfah dalam rekaman arsip sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia. Ratna Sari merupakan wakil dari organisasi perempuan sayap Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang menjadi pembicara dalam kongres tersebut. Dalam pidatonya yang berapi-api, dia menjelaskan tentang poligini dan kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan Islam dari sudut pandang yang ortodoks. Ratna, tulis Gadis Rasyid dalam Maria Ullfah Pembela Kaumnya , seolah-olah mendukung poligini dan menganjurkan perempuan untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Pidato Ratna kontan membuat panas suasana kongres. Suwarni Pringgodigdo, pemimpin Istri Sedar dan wakil pemimpin kongres, marah karena isi ceramah Ratna sangat bertentangan dengan pendirian organisasinya. Istri Sedar mulanya enggan bergabung dengan KPI lantaran terlalu beragamnya pandangan dalam KPI akan menyulitkan gerakan perempuan sendiri. Atas desakan Sri Wulandari (Nyonya Mangunsarkoro), pemimpin KPI II, Istri Sedar akhirnya mau hadir dalam kongres. Suwarni bahkan duduk sebagai wakil pemimpin kongres. Maka begitu Suwarni mendapat gilran pidato, dia langsung mendebat pernyataan Ratna. Menurutnya praktik poligini sangat merendahkan perempuan. “Kaum laki-laki tindak-tanduknya seperti ayam jago,” kata Suwarni menggambarkan tindak-tanduk lelaki yang beristri banyak. Ucapan itu membuat beberapa lelaki yang menghadiri kongres menanggapinya dengan serentak berteriak “Kukuruyuuk!” tiap Suwarni mengatakan ayam jago. Alhasil, suasana makin ribut dan kacau karena peserta perempuan tak bisa menahan tawa. Melihat beberapa peserta kongres riuh menirukan suara ayam sambil tertawa, Suwarni merasa diledek. Dia tak terima. Di akhir pidato, Suwarni menyatakan Istri Sedar keluar dari KPI. Pemimpin kongres Sri Wulandari pun berusaha menenangkan peserta yang kadung panas. Maria Ullfah yang duduk sebagai penasihat kongres mengusulkan agar prasaran dari Ratna Sari tidak dibahas lagi. “Lebih baik tidak dibahas lagi dan jangan ambil keputusan. Lagipula kalau kita ambil keputusan dan terjadi perpecahan, Belanda akan senang,” kata Maria Ullfah. KPI II kemudian menganjurkan para anggotanya memperlajari hukum perkawinan dan lebih banyak membahas tentang nasib buruh perempuan dan angka buta huruf. Mereka mengeluarkan program untuk menyelidiki kesejahteraan buruh perempuan lewat Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI). Sementara untuk pengentasan buta huruf, ditargetkan bisa mengajari baca-tulis-hitung pada 5000 perempuan dewasa dalam tiga tahun. Masalah poligini dan hak perempuan dalam pernikahan dibahas mendalam di luar kongres untuk menghindari kericuhan. Masalah perkawinan yang dibahas antara lain ketiadaan hak dan jaminan keselamatan bagi perempuan dalam ruang paling privatnya. Tidak adanya pencatatan pernikahan membuat perempuan tidak bisa menuntut haknya. Perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk kemudian menikah lagi dengan perempuan baru menjadi hal yang jamak ditemui saat itu. Mbok Iman (Darsiyah), misalnya. Perempuan asal Yogyakarta ini ditinggal kabur suaminya yang pamit untuk berperang saat revolusi. Alih-alih benar-benar terjun ke medan tempur, si suami rupanya malah menikah lagi dengan perempuan di desa sebelah sampai mempunyai dua anak. Galuh Ambar Sasi dalam Gelora di Tanah Raja menyebut, hati Mbok Iman hancur, menuntut pun tak bisa sebab tak ada pencatatan perkawinan. Mbok Iman hanya satu dari sekian perempuan yang bernasib buruk dalam perkawinan. Padahal, itu bukan satu-satunya masalah. Di lapangan, masalah jauh lebih banyak, seperti poligini sewenang-wenang, talak yang hanya bisa dijatuhkan oleh lelaki sementara perempuan tidak bisa menolaknya, belum lagi masalah perkawinan anak dan perkawinan paksa. Dua tahun setelah KPI II, para perempuan mendirikan Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-anak (KPKPAI) yang diketuai Sri Wulandari. KPKPAI bertugas menyosialisasikan penghapusan perkawinan anak dan perkawinan paksa. Mereka juga mengajukan tuntutan pada Raad Agama agar para penghulu menolak menikahkan anak di bawah umur. Di bawah KPKPAI, menurut buku Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, dibentuk pula Biro Konsultasi yang diketuai Maria Ullfah. Tugas Biro Konsultasi selain mempelajari hukum perkawinan Islam, Kristen, dan agama-agama lain adalah menerima keluhan dari para perempuan dalam perkawinan. Mayoritas pengadu ingin cerai lantaran dimadu dan meminta Biro Konsultasi untuk membantu mengurus prosesnya. Meski kegiatan Biro Konsultasi tidak mendapat protes dari gerakan perempuan Islam, kegiatannya tak disenangi para ulama. Pasalnya, penghasilan ulama kala itu datang dari mengurusi kawin-cerai, bukan gaji bulanan. “Para anggota Raad Agama sebetulnya tak begitu senang…. Dengan segala macam sikap mereka memperlihatkan ketidaksenangannya dan membikin Maria Ullfah sebal dan sakit hati,” tulis Gadis Rasyid.
- Sang Orator Keluar dari Penjara
BASUKI Tjahaja Purnama (BTP) akhirnya bebas setelah menjalani masa kurungan penjara dua tahun. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini jadi terhukum karena didakwa melakukan penistaan agama. Kebebasan BTP disambut sukacita oleh para pendukungnya. Namun dari sekian banyak yang menanti kebebasan BTP, tak tampak sang istri Veronica Tan. Keduanya memutuskan bercerai ketika BTP masih dalam penjara.
- Cinta Kasih Susi Susanti untuk Negeri
SIAPA tak kenal Susi Susanti? Ikon bulutangkis tunggal putri negeri ini yang jadi idola banyak manusia. Namanya bertengger paling puncak di ranah olahraga saat Olimpiade Barcelona 1992, di mana Susi mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di ajang olahraga multicabang terakbar itu. Prestasi itu sudah umum diketahui masyarakat. Pun dengan kisah kasih Susi dengan Alan Budikusuma, pebulutangkis putra yang juga mempersembahkan emas untuk Indonesia di pesta olahraga yang sama. Namun, tidak banyak orang tahu bagaimana perjuangan Susi dan Alan yang menguras keringat dan air mata di balik prestasi mereka. Sisi-sisi itulah yang akan jadi highlight dalam kisah Susi Susanti yang akan diangkat ke layar lebar dengan judul Susi Susanti: Love All oleh Damn! I Love Indonesia bekerjasama dengan Oreima Films dan East West Synergy. Selain diproduseri Daniel Mananta, Susi Susanti: Love All disutradarai sineas muda Sim F. “Film ini ingin menyampaikan bahwa mengasihi adalah jawaban dari semua tantangan yang dialami oleh seorang Susi menjadi seorang juara dunia dan dirinya sendiri. Film ini harus ditonton karena akan banyak hal yang tidak pernah masyarakat tahu latar belakang Susi yang bisa menjadi seorang juara dunia dan legenda,” ungkap Sim F ketika dihubungi Historia, Kamis, 24 Januari 2019. Susi Susanti: Love All berawal dari obsesi Daniel. Idenya sudah mulai eksis di kepala mantan VJ MTV itu sejak 2012, tapi baru bisa direalisasikan pada 2018. “Bisa dibilang lebih ke passion gue punya sebuah misi menyebarkan cerita tentang cinta. Susi Susanti punya cerita tentang cinta terhadap negara, keluarga, olahraga yang digelutinya, terhadap pasangannya (Alan Budikusuma, red. ),” kata Daniel, dilansir Kumparan , 20 September 2018. Setelah beberapa kali menemui sejumlah sutradara, Daniel mempercayakan project ini kepada Sim F yang sudah malang melintang menggarap iklan dan video music . “Ya, ini project -nya Daniel Mananta dan dia menawarkannya ke saya untuk men- direct film ini. Bagi saya, Susi dan Alan adalah sosok yang sangat luar biasa dedikasi hidup mereka untuk bulutangkis dan negara ini,” ujar Sim F. Laura Basuki dirasa paling pas memerankan Susi Susanti. (Instagram @laurabas) Untuk pemilihan para pemeran Susi Susanti Love All , Sim F menangani hampir semuanya. Dia lalu memilih Laura Basuki untuk memerankan Susi dan Dion Wiyoko untuk peran Alan. Untuk memerankan Susi, Laura tak setengah-setengah. Sampai berminggu-minggu dia latihan bulutangkis dilatih langsung oleh Liang Chiu Hsia, pelatih asli Susi Susanti. “Laura sanggup membuat tokoh legenda yang kita banggakan ini, real di mata saya. Bahkan energi yang diberikan Laura untuk memerankan Susi begitu luar biasa kerja kerasnya. Dion juga kerja keras memerankan Alan. Mereka berdua riset dan bertemu sendiri dengan Susi dan Alan,” lanjutnya. Perjuangan dan Pengorbanan Susi dan Alan Selain Laura dan Dion, Susi Susanti: Love All akan diramaikan aktris Jenny Zhang, yang berperan sebagai pelatih Susi, Liang Chiu Hsia; Kelly Tandiono sebagai Sarwendah Kusumawardhani, pesaing terberat Susi; dan Farhan (Muhammad Farhan) sebagai Ketua PBSI 1985-1993 Jenderal Try Sutrisno. “Sebetulnya negara ini berutang banyak pada Alan dan Susi. Nanti di film kita akan tahu utang apa yang lama tidak kita lunasi pada mereka. Saya sendiri merepresentasikan pemerintah, Ketua PBSI,” timpal Farhan, dikutip Kumparan , 22 September 2018. Sudah jadi rahasia umum bahwa di masa Try Sutrisno memimpin PBSI, banyak keluhan yang keluar dari para pebulutangkis. Pasalnya, pendapatan mereka, baik prize money (pendapatan hasil kejuaraan) maupun uang saku, dipotong 50 persen untuk menyehatkan neraca keuangan PBSI. Beberapa pemain lalu memilih keluar, sementara Susi dan Alan bertahan. “Ya itu keadaan yang harus kita terima waktu itu. Gaji, prize money di- cut separuh. Ya kita enggak bisa banyak protes, kan. Tapi kami berdua sampai dalam pemikiran bahwa jangan sampai dikalahkan dan menyalahkan situasi. Itu prinsip saya sama Susi. Apapun yang terjadi, saya sama Susi tetap commit karena sudah dipilih dalam Pelatnas,” terang Alan saat ditemui Historia , 15 Januari 2019. Tapi yang menjadi masalah bagi Susi, Alan, dan banyak pemain lain bukan hanya soal pendapatan dan tantangan fisik jelang Olimpiade 1992. Diskriminasi lantaran mereka berasal dari etnis Tionghoa juga menyusahkan sepanjang karier mereka. Alan ingat, hal paling pahit adalah kebijakan negara yang mewajibkan setiap orang Tionghoa memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) sebagai bukti nasionalisme mereka. “Terus terang saya kecewa. Kita kan juga lahir di Indonesia. Orangtua kami juga lahir di sini. Kita pun kelak ingin meninggal di Indonesia. Makanya saya selalu mempertanyakan, SBKRI kenapa harus ada? Kenapa kami dipertanyakan tidak nasionalis? Padahal kami nasionalis dan bangga dengan Indonesia,” kata Alan dengan mata berkaca-kaca. Sebagai sosok yang juga lantang berbicara mengenai diskriminasi rasialis, produser Daniel agaknya bakal memberi porsi lebih terhadap soal tekanan mental yang dialami Susi dan Alan dalam Susi Susanti: Love All . “Untuk detailnya, belum bisa saya sampaikan. Intinya, film ini biopik Susi Susanti sebagai seorang atlet bulutangkis. Untuk cerita, mereka (Susi dan Alan) menyerahkan semuanya ke kita. Mereka membantu kita banyak hal,” tambah Sim F. Dalam menggarap film ini, Sim serius melakukan riset, antara lain dengan menemui langsung dua pasutri pemenang Olimpiade Barcelona 1992 itu. Tantangannya adalah soal keotentikan tempat dan lokasi. Proses shooting -nya tak hanya di Jakarta, tapi juga di Tasikmalaya hingga Barcelona. “Susi dan Alan sangat membantu. Semakin riset, semakin tahu latar belakang kehidupan Susi. Yang tersulit adalah membawa era 1980-1990-an ke dalam film karena banyak lokasi yang sudah berubah, bahkan sudah enggak ada,” tambahnya. Film yang diprediksi bakal meledak ini diharapkan bisa menginspirasi agar semakin banyak film biopik bertema olahraga. Susi Susanti: Love All sendiri tercatat akan jadi film biopik bertema olahraga kedua setelah 3 Srikandi (2016) yang menggambarkan perjalanan tiga atlet panahan peraih medali pertama (perak) Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Sayang, kendati proses penggarapan Susi Susanti: Love All sudah selesai Oktober 2018 lalu, masyarakat mesti bersabar karena jadwal tayangnya belum diketahui. “Belum bisa diinfokan. Yang pasti akan ada di bioskop 2019 ini,” kata sang sutradara.
- Jadi Tentara karena Jailangkung
Setiap tentara memiliki motivasi masing-masing menjadi anggota TNI. Namun, Jenderal TNI (Purn.) Soemitro memutuskan menjadi tentara dengan alasan yang nyeleneh: petunjuk jailangkung. Soemitro lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Waktu kecil, dia bercita-cita menjadi insinyur. Namun, ketika dia menginjak usia 15 tahun, ada sesuatu yang membelokkan cita-citanya dari insinyur menjadi tentara. Ketika itu, tentara Jepang baru masuk Indonesia. Dia dan Gatot Supangkat, kawan pondokan di Surabaya, iseng-iseng main jailangkung. “Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘besok saya akan jadi apa?’ Sang jailangkung menjawab dengan menunjuk huruf-huruf M A J O R,” kata Soemitro dalam memoarnya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. “Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara.” Soemitro masuk menjadi anggota Peta (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Ketika mengikuti pendidikan perwira Peta di Bogor, dia dikenal paling nakal. Dia sering keluar pagar asrama untuk cari makan dan mencuri makanan di dapur atau di kamar sidhokan (instruktur). Pada suatu malam, Soemitro bersama Sukaryadi dan Ponidi keluar asrama untuk mencari makan di luar. Waktu kembali, Soemitro dan Ponidi berhasil kembali ke asrama. Sedangkan Sukaryadi tertangkap oleh Yanagawa, komandan pendidikan perwira Peta. Sukaryadi dihukum saseng (hukum bersila) selama satu minggu, siang hari harus kendo (bela diri dengan pedang kayu), dan juken jutsu (bela diri dengan bayonet) . Ditanya siapa dua kawannya yang lain, dia selalu mengatakan tidak tahu bahkan dia mengatakan mungkin dari kesatuan lain, yaitu cutai (kompi) 1 dan 2. Sampai selesai hukuman dia tetap kuat bungkam walau dihukum berat. “Saya respek sama dia dan berutang budi,” kata Soemitro. “Umpama dia menyebut nama kita berdua (Ponidi dan saya) tentu kita bertiga akan dikeluarkan dan saya tidak akan jadi jenderal.” Karier militer Soemitro melampaui petunjuk jailangkung yang menyebut mayor. Dia sampai menjadi jenderal dengan jabatan di berbagai posisi, dari Pangdam V Brawijaya di Surabaya, Pangdam VI/Mulawarman di Kalimantan, sampai Pangkopkamtib (Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Soemitro meninggal dunia pada 10 Mei 1998.
- Misi Soeharto di Papua
PROGRAM pemerintah untuk membangun jalan Trans-Papua diperkirakan rampung tahun ini. Hingga akhir 2018, telah tercapai pembangunan ruas jalan sepanjang sepanjang 1.982 km dari total target 4.330 km. Proyek ini menjadi program unggulan pembangunan infrastruktur periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.





















