top of page

Hasil pencarian

9793 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Setelah Serangan Umum 1 Maret

    MELALUI Serangan Umum, selama enam jam kota Yogyakarta direbut oleh TNI dan rakyat yang bergerak serentak sejak pukul enam pagi 1 Maret 1949. Itu membuktikan bahwa Republik Indonesia belum habis, dan tersiar hingga seantero dunia. Meski pada siang hari serdadu Belanda berhasil menguasai kembali Yogya, pukulan telak pada Belanda datang dari medan diplomasi. Di medan pertempuran, Belanda memang mampu mendatangkan bala bantuan dari Magelang pada tengah hari. Mengutip Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro , Komandan Batalyon Infantri V KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) “Andjing NICA” Kolonel Adrianus van Zanten yang mendengar Yogya diserang, segera minta bantuan ke Semarang. Maka datanglah Yonif X “Gadjah Merah” dengan satuan lapis bajanya . K onvoi me reka berangkat dari Magelang ke Yogya pukul 11 siang. “Jam 12 berkobar pertempuran sengit. Pasukan-pasukan kita diperintahkan mundur mengingat perhitungan-perhitungan taktis dan pertimbangan terhadap keselamatan rakyat. Pasukan Andjing Nica ini bila masuk kampung tidak pandang bulu. Siapa saja yang tampak tentu dibunuh walaupun anak kecil yang masih berumur 11-12 tahun,” tulis tim sejarah militer Kodam Diponegoro itu. Kolonel Adrianus van Zanten, Danyon "Andjing NICA" meminta bantuan pasukan "Gadjah Merah" (kiri) untuk merebut kembali Yogyakarta. ( nationaalarchief.nl ). Baca juga: Peringatan Serangan Umum 1 Maret Menuju Hari Besar Nasional Berbekal i nformasi dari peng intai an oleh sebuah pesawat Auster Belanda yang melayang di atas langit Yogya sejak pukul sembilan pagi , dua batalyon Belanda dengan satuan lapis bajanya itu segera mengamankan sejumlah area strategis setelah pertempuran. Sejumlah akses keluar-masuk kota Yogya j u ga diamankan hingga mengakibatkan sejumlah pasukan dari Sub-Wehrkreise (SWK) 105 terjebak di dalam kota. “Masih banyak prajurit yang berkeliaran dan terpaksa menempuh jalan keluar melalui saluran-saluran air bawah tanah atau sembunyi dan bermalam di tengah-tengah penduduk kota, untuk keluar esok harinya. Pasukan-pasukan SWK 105 baru mengundurkan diri dari Maguwo dan Tanjungtirto keesokan harinya, tanggal 2 Maret. Tetapi toh ternyata SO (Serangan Oemoem, red .) ini membawa hasil yang lebih daripada yang diharapkan. Hasilnya mempunyai keuntungan berganda baik dalam bidang psikologis, militer, maupun politik,” tulis tim sejarah itu. KMB Zonder PBB B eredarnya kabar Serangan Umum 1 Maret berdampak kian terpojoknya Belanda di meja diplomasi. Pemerintah Belanda yang sejak Agresi Militer II ( 19 Desember 1948 ) acap mengabaikan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB), mulai kepayahan mempertahankan propagandanya di d un ia internasional bahwa RI sudah musnah. Padahal,pada24 Desember 1948DK-PBB mengeluarkan Resolusi 63. DK-PBB memberi tekanan lagi lewat Resolusi 67 tertanggal 28 Januari 1949. Inti dua resolusi itu adalah Belanda mesti menarik pasukannya dari Yogya, mengembalikan para pemimpin RI, dan menarik garis demarkasi sebagaimana Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Saking kesalnya dengan kebebalan Belanda yang enggan mem atuh i resolusi DK-PBB, Parlemen Amerika Serikat sampai menggugat bantuan “Marshall Plan” pemerintah Amerika kepada Belanda. Pada 7 Februari 1949 , Senator Negara Bagian Maine Ralph Owen Brewster be rsama sembilan senator lain mengajukan resolusi ke hadapan Senat Amerika, agar pemerintah Amerika menyetop bantuan apapun kepada Belanda untuk sementara waktu. “Aksi Belanda (Agresi II, red .) ibarat serangan diam-diam sebagaimana Jepang membokong Pearl Harbor, seperti serangan Jerman Nazi ke Belanda sendiri…apakah kita berniat mendukung imperialisme Belanda-Inggris-Prancis di Asia yang justru akan menciptakan iklim sempurna untuk komunisme? Atau kita berniat mendukung para nasionalis republik yang moderat di seantero Asia?” kata Brewster dalam pidatonya di hadapan Senat Amerika, dikutip Paul F. Gardner dalam Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations. Baca juga: Agar Perlawanan Yogya Didengar Dunia Senator Ralph Owen Brewster dari Negara Bagian Maine. (Library of Congress). Tekanan juga datang dari negara-negara boneka bentukan Belanda (BFO/Bijeenkomst voor Federaal Overleg).Lewat sebuah komunike pada15 Februari 1949, lima fraksi BFO menuntut Perdana Menteri (PM) BelandaWillem Dreesagar pemerintah Belanda mau tunduk pada Resolusi 67 DK-PBB. Mereka juga menuntut pemindahan Presiden Sukarno dan para pimpinan republik laindari Prapat ke Pulau Bangka dan tak lagi distatuskan sebagai tawanan. Tekanan itu membat PM Drees memanggil Wakil Tinggi Mahkota Louis Beel pada pertengahan Februari. “Di Belanda, Dr. Beel mengadakan sejumlah pertemuan, tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan Parlemen Belanda. Beel dikritik atas sikapnya terhadap seorang petinggi UNCI yang menyalahi etika diplomasi,” ungkap Batara R. Hutagalung dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian I) Namun, PM Drees dibantu Beel masih memutar otak mencari cara agar Indonesia tak lepas begitu saja namun di sisi lain Belandaterlihat tetap mematuhi resolusi DK-PBB. Drees lantas mengeluarkan beleid (kebijakan) dalam empat poin: Pertama , Sukarno dkk. akan diberi kebebasan sesuai yang diperlukan untuk bisa berunding. Kedua , Belanda tetap takkan mengembalikan wilayah RI sesuai Perjanjian Renville. Ketiga , Beel diperintahkan membentuk sebuah pemerintahan interim tanpa keterlibatan para pemimpin RI. Keempat , kedaulatan akan diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kepada Negara Indonesia Serikat (NIS). Pada 23 Februari, skenario Belanda untuk menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) pun disusun Beel. KMB “versi Belanda” itu rencananya akan dihelat pada 12 Maret 1949 dengan mengundang Sukarno namun zonder campur tangan Komisi PBB. Pemerintah Belanda sekadar memberi notifikasi terkait KMB itu. Setibanya kembali Beel ke Jakarta pada 26 Februari, datang komunike dari Den Haag. “Keputusan penting mengenai sikap mengenai masalah Indonesia. Pemerintah yakin penyelesaian memuaskan semua masalah bergantung pada jalan yang setepat-tepatnya, yaitu mempercepat penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia kepada suatu pemerintahan federal yang representatif. Agar penyerahan kedaulatan tersebut, yang menurut resolusi dewan keamanan (PBB) tertanggal 28 Januari, harus terlaksana selambat-lambatnya 1 Juni 1950, akan dilakukan jauh lebih cepat dari tanggal ini,” demikian komunike itu, dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid 3: Diplomasi Sambil Bertempur. PM Belanda Willem Drees (kiri) & Wakil Tinggi Mahkota Louis Joseph Maria Beel. ( nationaalarchief.nl ). Maksud dari penyerahan kedaulatan lebih cepat dari tuntutan DK-PBB dalam Resolusi 67adalah Belanda hendak mengoperkedaulatan kepada NIS yang direncanakan pada 15 Juni 1949. Namun,KMB versi Belandaitu kuncinya terletak pada kesediaan Sukarno. “Beel mengisyaratkan mengalah dan akan melaksanakan resolusi DK PBB tanggal 28 Januari 1949, namun dengan cara Belanda dan tanpa melibatkan UNCI. Upaya mengulur waktu terus dilakukan, yakni menunda pengembalian presiden, wakil presiden, dan pembesar Indonesia lainnya ke Yogyakarta,” s ambung Batara. Baca juga: Tentara Kolonial Belanda dalam Pusaran Masa Untuk membujuk Sukarno, Beel melakukannya lewat suratnya kepada Sukarno. Di surat itu alamat penerimanya dituliskan: “Presiden Republik Indonesia”. Surat itu lantas ia titipkan pada Dr. Peter John Koets untuk disampaikan langsung pada Sukarno. “Niat baik” Beel itu diharapkannya akan disambut hangat Sukarno. Dr. Koets tiba di Bangka pada 28 Februari dan menyerahkan surat dari Beel sekaligus undangan KMB di Den Haag. Surat Beel untuk Sukarno itu membicarakan soal penyerahan kedaulatan kepada NIS pada 15 Juni 1949, rencana penarikan pasukan Belanda, dan sisanya akan distatuskan sebagaipasukan asing yang hanya akan bergerak sesuai permintaan pemerintahan NIS. Juga dibicarakan rencana pembentukan Uni Belanda-Indonesia sebagai badan kerjasama terkait kepentingan NIS dan Belanda. Rencana licik Beel itu kandas. Sukarno menolak. Pasalnya, tuntutan agar ibukota RI di Yogyakarta dan pemulangan dirinya dan para pembesar RI kembali ke Yogyakartaenggan dituruti Beel. Sukarno lalumemberikan alasannya lewat surat balasankepada Beel. “Mengingat kedudukan saya dan anggota-anggota pemerintah Indonesia di Bangka sekarang, yaitu terputus dari negara dan rakyatnya dan terpisah dari dasar kekuasaannya selaku pemerintah, saya secara resmi tidak dapat memutuskan untuk menghadiri konferensi itu atau untuk mengirim delegasi atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia. Andaikata kami menerima, kami hanya akan dapat menghadiri konferensi itu selaku orang-orang partikulir. Tanggung jawab seperti itu hanya dapat dipikul oleh pemerintah RI yang dapat menjalankan kekuasaan sepenuhnya di daerahnya dan berkedudukan di Yogyakarta,” kataSukarno, dikutip Batara. Baca juga: Negara Indonesia Timur Dengan berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949, para delegasi BFO mulai insyaf bahwa perlawanan RI masih terus bergulir dan fakta itu kontradiktif dengan propaganda Belanda selama ini. Sebelum tersiarnya Serangan Umum, para anggota BFO di luar Jawaminim informasi tentang situasi dan perkembangan perjuangan yang terjadi di Jawa. Mereka baru mendengar penguasaan Yogya selama enam jam dari siaran-siaran luar negeri pada 1 Maret 1949. Sejumlah delegasi BFO yang menjenguk Presiden Sukarno di Pulau Bangka pada 15 Maret 1949. BFO menggelar sidang pada 3 Maret 1949 dan mengasilkan resolusi yang mendesak Beel memulangkan para pimpinan RI ke Yogyakarta. Mereka juga menentang Beel yang bersikeras akan menghelat KMB pada 12 Maret 1949 tanpa keikutsertaan delegasi RI. “Ini tidak berarti bahwa wakil-wakil negara federal tersebut tidak lagi mengharapkan dibentuknya negara federasi yang dengan dukungan Belanda mereka akan menjadi dominan. Tetapi mereka merasa bahwa hal ini tidak akan tercapai kecuali jika pihak (republik) Indonesia diikutsertakan sebagai peserta minoritas (KMB),” ungkap George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia . Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian II–Habis) Rencana KMB skenario Beel itu kian runyam setelah dia tahu BFO kembali bersidang pada 10 Maret 1949. Otomatis, KMB pada 12 Maret batal digelar. Selain BFO menolak turut serta karena tuntutan mereka untuk memulangkan Sukarno dkk. ke Yogya masih ditolak, Belanda mustahil membawa seluruh delegasi BFO dari Jakarta ke Den Haag dalam waktu semepet itu. “Dengan jawaban Presiden Sukarno kepada Beel, sirna sudah harapan Beel mengajak Sukarno-Hatta menghadiri KMB tersebut. Rencana Belanda untuk tetap menggelar KMB ‘versi Belanda’ (12 Maret) juga gagal total setelah Suriname dan Curaçao, salah satu bagian dari Kerajaan Belanda, menolak mengirim delegasi. Ini adalah pukulan terbesar bagi Belanda,” tandas Batara.

  • Melacak Ekonomi Syariah di Indonesia

    BANK Syariah Indonesia (BSI) resmi beroperasi pada 1 Februari 2021. Presiden Joko Widodo berkesempatan membuka langsung operasional bank hasil merger tiga bank syariah BUMN itu. “Hari yang bersejarah bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia,” kata Jokowi lewat siaran video.

  • Terjebak di Plataran (1)

    Perbatasan Ciamis—Tasikmalaya, awal Maret 1949. Kabar sedih itu datang begitu tiba-tiba. Dari seorang rekannya di MBT (Markas Besar Tentara) Yogyakarta, Letnan Dua Sayidiman Suryohadiprojo mendengar karibnya Letnan Dua Utoyo Notodirjo telah tewas dalam suatu operasi penyerangan yang dilakukan oleh militer Belanda pada 24 Februari 1949 di dukuh Plataran (masuk dalam wilayah Desa Gatak di wilayah Sleman, Yogyakarta). “Sejujurnya saya merasa kehilangan dan langsung menitikan air mata ketika mendapat berita Utoyo telah gugur,” kenang eks kadet Akademi Militer Yogyakarta (MA) angkatan pertama tersebut. Sama seperti Sayidiman, Utoyo merupakan salah satu 5 lulusan terbaik angkatan pertama MA pada 1948. Ketika gugur di Plataran, lelaki yang masih kerabat dekat Kesultanan Solo itu tercatat sebagai perwira penghubung di SWK (Sub Wehrkreise) ke-104, di mana pasukan MA berada. “Dia kerap bolak-balik pelosok-kota Yogya untuk menghadap Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto dan Sri Sultan di Istana atau menyampaikan pesan kepada Kapten Marsudi, komandan gerilya kota Yogyakarta,” ungkap sejarawan Moehkardi. Keberadaan Letnan Utoyo di Plataran pada hari nahas itu bisa dikatakan sebagai suatu peristiwa yang tidak disengaja. Dia rencananya hanya singgah sebentar. Karena itu kendati dalam pertempuran tersebut Utoyo merupakan salah satu prajurit TNI yang paling tinggi pangkatnya, namun dia tak memiliki wewenang komando dan kurang dikenal oleh kesatuan-kesatuan yang lain. “Lain cerita jika dia merupakan komandan dari seluruh kesatuan yang ada di Plataran saat itu: saya yakin dia akan lebih bisa memimpin perlawanan secara lebih teratur dan korban di pihak kita tidak harus jatuh begitu banyak,” kata Sayidiman. Insiden di Plataran berawal dengan jatuhnya buku harian seorang VC (Vaandrig Cadet) bernama Abdul Djalil ke tangan militer Belanda. Sang empu buku harian sendiri tewas dalam pertempuran antara pasukan MA dari Peleton H2 dengan pasukan Belanda di Desa Sambiroto pada 22 Februari 1949. Menurut Moehkardi, sejatinya militer Belanda sudah lama mengincar pasukan MA yang mereka anggap sebagai pasukan pilihan ( keur-troepen ). Penyebutan itu dilontarkan oleh Letnan Kolonel F. Scheers, komandan Batalyon I Resimen Infanteri ke-15 Tentara Kerajaan Belanda (KL) dalam bukunya yang berjudul Djokjakarta . “Dengan terampasnya buku harian V.C. Abdul Djalil oleh militer Belanda, jalan untuk menemukan pasukan MA dan menghancurkannya menjadi terang,” ujar eks dosen sejarah di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) itu. Buku harian sang kadet itu memang secara gamblang menyebut posisi-posisi pasukan TNI yang ada di bawah komando Wehrkreise III. Di antaranya dia menulis bahwa markas SWK 104 ada di Kringinan. Dan memang Desa Kringinan itu kemudian menjadi sasaran utama gerakan pembersihan yang dilakukan anak buah Letnan Kolonel J.Scheers, sebelum kemudian mereka melakukan pengejaran ke Plataran. Soal kemungkinan terjadinya gerakan pembersihan itu bukannya tidak disadari oleh pimpinan SWK 104 Mayor Soekasno.  Dalam rapat yang dilakukan pada 23 Februari 1949, Soekasno telah memutuskan untuk memindahkan markas SWK 104 ke Desa Gatak. Diputuskan pula, sambil melakukan gerakan pindah mereka akan melakukan serangan terhadap suatu pos penjagaan militer Belanda di Bogem pada dini hari 24 Februari 1949 . “Kepada para kadet diperintahkan untuk langsung mencari basis baru di utara sehabis serangan ke Bogem itu,” ungkap Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945—1949. Singkat cerita, begitu selesai menyerang Bogem, Peleton Z  Pasukan MA melaksanakan perintah itu. Namun dalam kenyataannya perintah tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan. Sebagian kadet MA masih juga ada yang kembali ke Kaliwaru. Sesampainya di markas lama mereka tersebut, karena rasa capek dan mengantuk yang sangat luar biasa, mereka tidur dan beristirahat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Peleton H. Alih-alih bergegas pindah dari Selomartini, Desa Ngasem, mereka masih sempat tidur-tiduran dan duduk-duduk sembari menunggu hidangan kopi hangat yang tengah dibuat oleh Ibu Carik Selomartini. Dalm situasi seperti itulah tetiba sekira jam 05.30, terdengar serentetan tembakan dari arah barat daya, pertanda patroli Belanda tengah menjalankan aksi. Penghuni dukuh (termasuk Bapak dan Ibu Carik Selomartini) langsung bergegas mengungsi ke arah utara. Para kadet sendiri yang baru beberapa menit beristirahat langsung menyebar. Sementara itu, ketika tembakan dari pihak militer Belanda itu berbunyi, Peleton H2 pimpinan V.C. Nawawi tengah berjalan menuju basisnya di Desa Sindon. Melihat anak buahnya sudah terlihat payah dan kelelahan, maka diputuskan untuk mengirim 10 sukarelawan ke arah sumber tembakan itu. Regu kecil tersebut dipimpin oleh Wakil Komandan Peleton H2, V.C. B. Sormin. Begitu sampai di Desa Gatak, rombongan kecil pimpinan Sormin bertemu dengan Peleton Z. Selanjutnya mereka sama-sama  bergerak ke arah utara hingga sampailah di Plataran. Beberapa saat sebelum tembakan berbunyi, Mayor Soekasno baru saja tiba di Desa Gatak. Dia lantas memerintahkan Kopral Pardi untuk menjerang air. Air masih mengepul ketika terdengar letusan senjata yang cukup nyaring. Cepat-cepat Mayor Sukasno memerintahkan Kopral Pardi untuk menyelidiki dari mana asal tembakan itu. Belum 15 menit berlalu, Kopral Pardi sudah kembali dengan tangan berlumur darah karena terkena tembakan. “Belanda menyerang, Pak!” ujarnya sambil menahan rasa sakit. Mayor Sukasno langsung memerintahkan semua staf-nya (termasuk Letnan Dua Utoyo) agar mundur ke utara, ke arah Kalibulus. Di arah selatan, tembakan terdengar semakin ramai pertanda posisi tentara Belanda semakin mendekat. Begitu rombongan terakhir staf SWK 104 yang dipimpin oleh Letnan Dua Utoyo tiba di Plataran, dari Desa Gatak tentara Belanda yang berasal dari Kompi ke-3 Batalyon 1-15 RI menghujani mereka dengan tembakan gencar. Pasukan MA yang sudah berada di Plataran, secara spontan membalas tembakan itu. Terjadilah pertempuran yang sangat seru. Di tengah hujan peluru itulah terjadi perdebatan sengit di antara para kadet: apakah akan bertahan atau melakukan gerakan mundur. Kedua keputusan itu memang sama sulitnya. Jika bertahan mereka jelas kekurangan orang dan kalah persenjataan. Tapi jika pun melakukan gerakan mundur, mereka mau tidak mau harus melewati medan terbuka  berupa sawah yang akan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk tembakan dari darat dan udara. Dalam kondisi panik itu, tetiba muncullah sebuah pesawat Capung (Piper Cub) di atas pertahanan mereka. Setelah berputar-putar mengawasi keadaan di bawah, pesawat kecil lalu menghujani Pasukan MA dengan granat. Otomatis situasi semakin tak terkendali. Tanpa komando, Pasukan MA bergerak panik ke segala arah. “Mengapa tidak kalian tembak saja Capung itu!” teriak Letna Dua Utoyo. Dia merasa kesal dan geregetan dengan situasi yang dilihatnya. Namun untuk mengambilalih komando, jelas Utoyo tidak berwenang. (Bersambung)

  • Politik Dua Kaki Francisco Franco

    GENERALÍSIMO Francisco Franco tersenyum puas. Di markasnya di kota Burgos, diktator fasis Spanyol itu telah menerima kabar resmi dari menteri luar negerinya, Jenderal Francisco Gómez-Jordana, bahwa pemerintah Inggris dan Prancis pada 27 Februari 1939 kompak mengakui dirinya sebagai kepala negara Spanyol yang sah. Sejak Januari, Katalan yang jadi basis kaum Republik sudah direbut golongan Nasionalis. Walau Perang Saudara Spanyol belum usai, Perdana Menteri (PM) Inggris Neville Chamberlain dan PM Prancis Édouard Daladier sudah menyatakan hal di atas kepada masing-masing parlemen pada 27 Februari 1939. Kabar itu disampaikan kuasa usaha Inggris di Burgos, Sir Robert Hodgson, kepada Jenderal Jordana yang meneruskannya ke kuping Franco. “Kemarin malam saat berbicara di Burgos, Jenderal Franco menyatakan: ‘Waktunya telah tiba. Hari ini, Inggris mengakui (pemerintahan) kita. Esok akan tiba giliran seluruh dunia’,” demikian laporan suratkabar The Manchester Guardian , 30 Februari 1939. Dua negara besar itu mulanya berpihak pada kaum Republik secara tidak langsung. Sejak 1936 Prancis bahkan membuka pintu perbatasannya untuk ratusan ribu pengungsi kaum Republik dari Katalan. Baca juga: Anarkisme dalam Perang Sipil Spanyol 1936 Francisco Franco seolah menjalankan politik dua kaki di antara Sekutu dan Blok Poros. (Biblioteca Virtual de Defensa). Ekonomi menjadi faktor utama yang membuat Franco tak memutus hubungannya dengan Inggris. Franco masih butuh menggandeng Inggris dan Amerika Serikat demi memulihkan negerinya usai tiga tahun dilanda perang saudara. Terlebih, di pemerintahannya masih banyak bercokol golongan aristokrat yang terbagi antara pro-Inggris dan pro-Jerman. Jerman dan sekutunya, Italia, banyak membantu langsung Franco dalam perang saudara. Sementara di sisi lain, Amerika dan Inggris jadi mitra dagang lewat ekspor-impor terbesar bagi Spanyol. Dengan pengakuan tersebut, Inggris dan Prancis jadi yang terakhir mengakui kedudukan Franco atas Spanyol sebelum pecahnya Perang Dunia II. Hal itu membuat Franco bangga. Kebanggaan Franco kian lengkap setelah merampungkan Perang Saudara Spanyol tepat pada 1 April 1939 sehingga mengak h iri Republik Spanyol II secara total. Suap Inggris dan Kejengkelan Hitler Saat mesin-mesin perang Jerman sudah mendobrak perbatasan Polandia pada 1 September 1939 yang membuka Perang Dunia II, Franco masih belum menentukan sikap. Ia sekadar menyatakan simpatinya kepada sesama pemimpin fasis, Hitler dan Benito Mussolini, kendati belum mau ikut Blok Poros. Ketika Prancis mulai diinvasi Jerman pada Mei 1940, Franco menetapkan kebijakan netral walau tetap bersimpati pada Hitler dan Mussolini. Pada 19 Juni, Franco mengirim surat kepada Hitler yang isinya adalah kemungkinan Spanyol untuk ikut ke Blok Poros meski dengan mengajukan syarat. Saat itu Franco sudah berniat merebut kembali Gibraltar dari Inggris. Itu hanya mungkin dilakukannya jika Spanyol mendapat bantuan besar dari Jerman. Pun dengan nafsu Franco untuk mencaplok Kepulauan Canary, Maroko Utara, dan Koloni Prancis di Kamerun. Hitler tentu senang jika sang generalísimo mau bergabung dengannya di Blok Poros. Melalui kawat, kedutaan besar masing-masing lalu mengatur hari-H pertemuan antara Franco dan Hitler. Hanya saja, Hitler tak mengendus kedutaan dan dinas intelijen Inggris, MI6, berusaha keras menarik Franco agar tak meninggalkan kebijakan netralnya. Baca juga: Spanyol 1936 Catatan laporan MI6 perihal itu baru dibuka ke publik pada 2013. Sebagaimana yang dihimpun The Guardian , 23 Mei 2013, laporan itu berisi komunike Duta Besar Inggris untuk Spanyol, Sir Samuel Hoare, kepada Kementerian Luar Negeri Inggris sejak Juni 1940, seiring munculnya niat Franco berpihak pada Hitler. “Saya pribadi mendesak pemerintah untuk memberi izin tanpa halangan lagi, dan jika Anda ragu, mohon dikonsultasikan dengan perdana menteri. Masuknya Spanyol dalam perang akan bergantung pada tindakan cepat kita,” tulis Dubes Hoare dalam salah satu dokumen yang dipublikasikan itu. Dubes Inggris untuk Spanyol, Sir Samuel Hoare (kiri) & Juan Alberto March Ordinas. (Library of Congress/ canverga.com ). Hoare dan agen-agen MI6 yang berkeliaran di Spanyol sudah membidik sekitar 30 jenderal di lingkaran terdekat Franco untuk disuap. Namun usaha itu perlu modal yang mencapai 14 juta dolar Amerika (kini sekira 200 juta dolar). Rencananya, uang suap itu akan dialirkan lebih dulu ke sebuah rekening bank Swiss di New York. Aliran dananya akan diatur Juan March, pengusaha cum agen ganda Spanyol-Inggris, untuk kemudian dikirim lagi ke rekannya di Madrid, Jose Jorro Andreo dan Rasado Silva Torres, sebelum dibagi-bagikan kepada 30 jenderal. “Aliran 14 juta dolar itu sempat tertahan di New York. Otoritas Amerika sempat menyangka uang itu akan digunakan March untuk mendukung Hitler. Tetapi Duta Besar Inggris di Washington meyakinkan Presiden (Franklin D.) Roosevelt bahwa kepentingan militer Inggris bergantung pada dibukanya aliran dana itu,” tulis sejarawan Pere Ferrer dalam Juan March: El hombre más misterioso del mundo (terj. Juan March: The Most Mysterious Man in the World ). Baca juga: Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi Hampir dua tahun beku, aliran dana di rekening milik March itu akhirnya cair setelah pemerintah Amerika membuka rekening tersebut pada 1942. Setelah itu barulah upaya penyuapan 30 jenderal dicoba. Namun, hanya kurang dari setengah mereka yang berkenan mengantongi uang suap yang besarnya antara 3-5 juta dolar untuk masing-masing. Ketika aliran uang itu masih dibekukan pihak Amerika, Franco dan Hitler sudah sempat bertemu di Gare d’Hendaye, sebuah stasiun dekat perbatasan Spanyol-Prancis, pada 23 Oktober 1940. Pertemuan delapan mata yang berlangsung selama tujuh jam itu turut dihadiri Menlu Ramón Serrano Súñer (Spanyol) dan Joachim von Ribbentrop (Jerman). Adu monolog menyeret pertemuan Hitler dengan Franco hingga tujuh jam. (EFE). Hitler percaya diri bisa menarik Franco ke kubunya dalam perang melawan Sekutu. Toh dia punya piutang budi pada Franco berupa dukungan militer (darat, laut, udara) terhadap Franco ketika Perang Saudara Spanyol. Yang tak diperkirakan Hitler, Franco ternyata lihai bermonolog sebagaimana dirinya. “Dia (Súñer) memulai diskusinya dengan menyatakan: ‘Spanyol tidak bisa memasuki peperangan hanya untuk bersenang-senang.’ Dia ingin ada jaminan di muka. Dia juga berterimakasih kepada Hitler atas jasa Jerman terhadap Spanyol dalam perang saudara,” tulis Stanley G. Payne dalam Franco and Hitler: Spain, Germany, and World War II . Saat gilirannya berbicara, Hitler bermonolog bahwa Spanyol harus memutus hubungan diplomatiknya dengan Inggris mengingat sebentar lagi Inggris akan ambruk. Inggris hanya bisa bertahan jika Amerika mulai mengintervensi. Kemungkinan kekalahan Inggris akan membuka segala kemungkinan tentang kepentingan kedua negara di gugus-gugus kepulauan di Atlantik dan Afrika Utara. Baca juga: Halt Order dari Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk Hitler paham bahwa Franco menuntut bisa mencaplok Maroko Utara dan koloni Prancis di Kamerun. Namun Hitler menegaskan kepada Franco bahwa Jerman masih terikat persekutuan dengan Prancis Vichy yang masih memegang koloni-koloninya di Afrika, termasuk Kamerun. Hitler ingin Franco tak mengganggu gugat Vichy karena dibutuhkan untuk melawan Sekutu. “Yang tidak diduga, Franco juga membalas monolog panjang. Dia mengungkit sisi historis Spanyol di Maroko. Franco juga bermonolog tentang pengalaman militernya selama di Maroko, sampai membuat Hitler tampak bosan. Akhirnya pembicaraan panjang itu berakhir dengan diikuti makan malam di gerbong makan Hitler,” imbuh Payne. Hasil yang didapat Hitler dari pertemuan panjang itu nyaris nihil. Keduanya hanya bertukar tanda tangan di atas perjanjian rahasia. Franco berkomitmen akan memasuki perang yang waktunya akan ditentukannya sendiri. Sementara, Hitler sekadar diizinkan menggunakan pelabuhan-pelabuhan di Spanyol untuk armada kapal perang dan kapal selam Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman). Hal itu bikin jengkel Hitler. Beberapa hari setelahnya, Hitler pun “curhat” pada koleganya, Benito Mussolini, tentang pembicaraan membosankannya dengan Franco. “Saya lebih baik dicabut tiga atau empat gigi daripada berurusan dan bicara dengan orang itu (Franco, red. ) lagi!” ujar Hitler kepada Mussolini, dikutip Payne. Divisi Sukarelawan Spanyol Franco pada akhirnya tak secara resmi bergabung ke Blok Poros. Sebagai balas budinya atas bantuan Jerman dalam Perang Saudara, Franco memberi restu dibentuknya satu divisi sukarelawan, División Azul (Divisi Biru). Divisi yang dibentuk pada Juni 1941 itu berisi 18 ribu personel. Mayoritas merupakan kader Falange (Fasis Spanyol) dan para kadet Sekolah Militer Zaragoza, ditambah kekuatan udara Escuadrilla Azul (Skadron Biru). Divisi ini dikomandani Jenderal Agustín Muñoz Grandes. “Gagasan sebuah unit sukarelawan itu diajukan Suñer, menteri luar negeri yang juga presiden Komite Sentral Politik Falange. Pembentukannya punya dua tujuan: memerangi komunisme dan di saat yang sama, meningkatkan pengaruh Falange di Eropa,” ungkap Carlos Caballero Jurado dalam Blue Division Soldier 1041-1945: Spanish Volunteer on the Eastern Front. Baca juga: Laskar Muslim Hitler di Afrika Utara Sesuai tujuan awal pembentukannya, Súñer menegaskan ke pihak Jerman bahwa divisi ini khusus untuk memerangi Uni Soviet dan bukan Sekutu, karena Spanyol masih punya hubungan dagang dengan Amerika dan Inggris. Divisi berjuluk “Banderas” itu diberangkatkan dari Madrid ke Grafenwöhr, Jerman pada 13 Juli 1941. “Kawan-kawan seperjuangan! Menjelang keberangkatan kalian, kami datang untuk perpisahan ini dengan rasa bahagia dan iri, karena kalian akan membalas kematian para saudara kita; karena kalian akan mempertahankan nasib peradaban; karena kalian akan menghancurkan sistem barbar jahat dan tidak manusiawi dari komunisme Rusia… Heroisme Divisi Biru akan menumbuhkan lima mawar (Falange) di tanah Rusia yang gersang. Arriba España ! Viva Franco!” seru Súñer dalam pidatonya, dikutip Jurado. Pemberangkatan División Azul untuk dilatih di Jerman. (Kutxa Fototeka). Setibanya di Grafenwöhr, “Banderas” dilatih selama lima pekan sebelum dilebur ke Divisi Infantri ke-250 Angkatan Darat Jerman, yang jadi bagian Grup AD Tengah. Mereka mulanya akan diikutsertakan ke Pertempuran Moskow, namun pada September 1941 mereka “dimutasi” ke pasukan AD ke-16 yang jadi bagian Grup AD Utara, untuk diperbantukan dalam Pengepungan Leningrad (8 September 1941-27 Januari 1944). Seiring waktu, Divisi Biru terus ketambahan pasukan dari Madrid hingga puncaknya punya 45 ribu personel. Namun mulai musim semi 1943, mereka terpaksa dipulangkan Franco. Selain karena tekanan dari para jenderalnya yang telah disuap Inggris, keputusan Franco itu juga merupakan kulminasi dari desakan Vatikan, serta ancaman Amerika dan Inggris yang akan mengembargo Spanyol. Baca juga: Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman Surat edaran resmi pemerintah Spanyol untuk menarik mundur Divisi Biru baru keluar pada 3 November 1943. Kendati begitu, tak semua prajurit di Divisi Biru mau dipulangkan. Dari sekira 45 ribu personel miliknya, Divisi Biru kehilangan hampir lima ribu personil karena tewas di pertempuran. Sekira tiga ribu di antaranya yang merupakan simpatisan Falange, tetap bertahan dengan rekan-rekan Jerman mereka. Pasukan sukarelawan Spanyol dalam Pengepungan Leningrad. (Biblioteca Virtual de Defensa). Tiga ribu yang tersisa itu lantas membentuk unit baru, Legión Azul (Legiun Biru), dan ditempatkan di bawah Waffen-SS (paramiliter Jerman). Para anggota di masing-masing peleton lalu disebar lagi ke Latvia. Di sana mereka bertempur bersama Resimen Brandenburger, unit bentukan Abwehr (intelijen Jerman), Divisi Infantri ke-121, dan Divisi Grenadier SS ke-28 “Wallonien”. Sementara yang lainnya tetap di Leningrad bersama Divisi Gunung ke-3. Tak hanya para jenderal Jerman, Hitler pun terkesan dengan kegigihan para sukarelawan Spanyol yang tersisa itu. Pada Januari 1944, Hitler menganugerahkan mereka Erinnerungsmedaille für die Spanischen Freiwilingen im Kampf gegen den Bolschewismus (Medali Sukarelawan Spanyol). Baca juga: Neraka Hitler di Stalingrad “Serdadu Spanyol tak pernah mundur satu inci pun dari tanah yang mereka pertahankan. Tak terbayangkan betapa pemberaninya mereka. Mereka jarang bersembunyi, mereka menjemput maut. Saya tahu bahwa pasukan kami selalu senang memiliki saudara Spanyol di sektor mereka masing-masing,” puji Hitler, dikutip Heinrich Heim, Henry Picker, dan Martin Borman dalam Tischgespräche im Führerhauptquartier (terj. Hitler’s Table Talk ). Hingga akhir perang, dari tiga ribu sukarelawan Spanyol itu hanya tersisa 372 serdadu hidup. Sebanyak 286 di antara mereka sempat ditawan Uni Soviet, sebelum akhirnya dipulangkan pada 2 April 1954.

  • Menggali Pengetahuan Lokal dari Tanaman

    HUBUNGAN masyarakat lokal dengan tanaman menjelma dalam lingkup spiritual, filosofis, dan pemikiran. Pengetahuan tradisional itu tercermin dalam penamaan lokal tanam-tanaman. "Biasanya masyarakat mengidentifikasi tumbuhan dari bau, rasa, atau hal-hal menonjol dari tumbuhan itu. Ini membuat kita memahami alam pikirannya,” kata Fathi   Royyani ,  peneliti etnobotani pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam acara ngobrol bareng peneliti dengan judul “Strategi Mengatasi Kepunahan Bahasa Daerah Melalui Koleksi Tumbuhan” yang diselenggarakan LIPI,  live di Instagram, Kamis (25/02/2021).  Tumbuhan penting bagi kehidupan sebagai sumber bahan pangan, papan, sandang, obat, kerajinan, dan kegiatan sosial. Namun, tumbuhan juga berperan penting dalam perkembangan budaya masyarakat. Setiap masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang berbeda dalam menggunakan dan mengelola sumber daya alam sesuai adat dan budayanya. “Kita orang Indonesia, bangsa ilmu pengetahuan, yang sudah kuat ilmu pengetahuannya,” kata Fathi.  Kisah di Balik Penamaan Lokal Fathi menceritakan kisah lokal satu jenis tanaman. Dahulu, seorang naturalis Belanda datang ke Jawa Barat. Dia pergi ke hutan membawa orang setempat sebagai pemandu. Lalu dia melihat satu tumbuhan. “Orang Belanda itu bertanya, 'ini apa?' Pemandu lapangannya tak ada yang berani menjawab,” kata Fathi.  Ternyata, kata Fathi, nama tumbuhan itu menurut orang Sunda tak pantas untuk diucapkan. “Ada yang nyeletuk : ‘ Pada era , sir !’  Era , bahasa Sunda artinya malu, jadi pada malu maksudnya,” kata Fathi. Mendengar perkataa itu dicatatlah nama tanamannya sebagaimana yang didengar orang Belanda, yakni Paederia foetida . Tanaman tak berkayu ini berasal dari Asia Timur dan Asia Selatan. Ia tumbuh merambat di permukaan tanah, pagar, atau pohon inang.  Fathi mengatakan, tumbuhan yang dimaksud lebih dikenal dengan sebutan daun kentut. Dalam bahasa Sunda, ia disebut daun kahitutan karena daunnya mengeluarkan bau tak sedap seperti kentut. “Ceritanya begitu. Karena pemandunya pada malu ngomong  kentut, tak ada yang mau menjawab. Mungkin dulu etikanya begitu,” kata Fathi. Kisah lain tentang maja, buah bulat berwarna hijau yang berkaitan dengan asal-usul Kerajaan Majapahit. Nama ini muncul dalam Serat Pararaton . Waktu Raden Wijaya membabat alas Trik untuk permukiman, pengikutnya memakan buah maja muda yang rasanya pahit. Daerah itu pun kemudian dinamakan Majapahit. "Dulu mungkin dinamai sambil marah-marah karena pahit. Kini menjadi nama toponimi dan kebanggaan karena daerah itu tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan kuat," kata Fathi. Kontribusi nama daerah di Nusantara terhadap nama ilmiah tumbuhan begitu banyak. Misalnya, nama ilmiah durian, Durio zibethinus , diambil dari bahasa lokal, yakni “durian” .  “Karena sangat mudah diucapkan. Jadi kita harus bangga,” ujar Fathi. Pengetahuan lokal tak hanya ditemukan dari bagaimana mereka menyebut jenis tanaman. Tapi juga berkaitan dengan budaya agraris. Misalnya, orang Jawa menyebut alat membajak sawah dengan istilah luku. Sementara Luku atau Lintang Luku dipahami masyarakat Jawa sebagai patokan datangnya musim untuk memulai menanam benih pertanian di lahan tadah hujan. Lintang Luku  dalam ilmu astronomi dikenal sebagai rasi Orion. “ Luku adalah gambaran dari orang dulu ketika musim tanam. Saat itu mereka baru mulai bertani, membajak sawah, dan lainnya,” kata Fathi.  Penyebutan nama tanaman atau istilah pertanian bisa jadi berbeda di setiap daerah. Ini menandakan ekspresi pengetahuan yang berbeda. “Ini terkait dengan banyak hal sebagai ekspresi pengetahuan tradisional yang luar biasa,” kata Fathi.  Refleksi Pengetahuan Lokal Fanny Henry Tondo, peneliti etnolingustik pada Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, menambahkan, istilah lokal pada tanaman juga meliputi bagian-bagian tanaman itu. “Seperti pohon kelapa, ada puluhan, mulai dari ujung daun ada istilah berbeda sampai di akar,” kata Fanny.  Dalam tulisannya berjudul “Bahasa Minoritas Hamap dalam Perkebunan Jagung: Tinjauan Etnolinguistik”, yang terbit di Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan  Vol. 18 No. 2, Juni 2012, Fanny menjelaskan bahwa bahasa menjadi refleksi dari pengelolaan perkebunan jagung yang masih sangat tradisional. Fanny menunjukkan bagaimana bahasa lokal Hamap masih tetap dipakai dalam budidaya tanaman jagung di masyarakat itu. Itu baik dalam proses penanaman jagung, peralatan yang digunakan, bagian-bagian tanaman, jenis jagung yang ditanam, sampai pada nyanyian tradisional yang dituturkan pada saat menanam jagung.  Padahal bahasa Hamap dikategorikan sebagai bahasa minoritas yang terancam punah. Disebut minoritas karena jumlah penuturnya saat ini diperkirakan tinggal sekira 1.000 orang, yakni bahasa Hamap yang berada di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Pengetahuan tentang istilah dalam proses penanaman jagung masih tetap dipertahankan dan ada dalam kognisi orang Hamap sebagai stock of knowledge ,” tulis Fanny.  Perkebunan merupakan salah satu yang terpenting dalam rantai perekonomian orang Hamap. Pada umumnya orang Hamap yang tinggal di Pulau Alor mempunyai mata pencaharian sebagai petani.  Jagung atau yang mereka sebut bate  adalah sumber bahan makanan pokok. Melalui perkebunan jagung orang Hamap bisa menopang ekonomi keluarganya. “Selain untuk dimakan sendiri, jagung juga biasanya dijual ke pasar,” kata Fanny. Nasihat Hidup dan Kearifan Lokal Kedekatan manusia dengan tanaman membuat nilai tanaman tak lagi sebagai penyokong kebutuhan pokok dan ekonomi. Seperti ditulis Imam Budi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan ,   bahwa hubungan tumbuhan dengan masyarakat mendorong peningkatan pemahaman terhadap makna yang di kandungnya. Orang Jawa menjadikan tanaman sebagai nasihat dan kearifan hidup. “Diangkat dari hasil pengkajian mereka terhadap sikap perilaku tumbuhan yang hidup sekitarnya,” tulis Imam. Misalnya dalam peribahasa Jawa banyak ditemukan simbolisasi tumbuhan. Enggak-Enggok lumbu artinya bergoyang-goyangnya daun keladi. Peribahasa ini menggambarkan orang yang tak punya pendapat pribadi yang kokoh. “Sebuah sikap yang dinilai buruk di Jawa,” tulis Imam.  Jamur tuwuh ing waton berarti cendawan tumbuh di bebatuan. Jamur merupakan salah satu tumbuhan yang menyimbolkan kebahagiaan. Peribahasa ini menyiratkan bahwa kebahagiaan mustahil didapat jika hanya bermodal kemampuan ala kadarnya. Karenanya, kata Fathi, pengetahuan lokal terbaik bisa digali dari bahasa daerah masing-masing. Melestarikan istilah dalam tanaman adalah salah satu cara menjaga bahasa daerah dari kepunahan. “Galilah filosofinya karena ada rekaman sains di sana. Kita bisa gali, meriset apapun dari sana,” kata Fathi.*

  • Ç'est la vie, Tedjabayu!

    SORE itu kami menemui Tedjabayu di Kedai Sagam (Sang Ahli Gambar), sebuah kedai kopi yang namanya diambil dari julukan ayah Tedja, S. Sudjojono. Seorang kawan tengah mencari informasi tentang kakeknya, dosen UGM yang hilang lalu dibunuh pasca-1965 dan kuburannya ditemukan tahun 2000 oleh YPKP 65 di Wonosobo. Tedjabayu mengenal sang kakek, tapi tak bisa banyak bercerita. Sebagai gantinya, Tedjabayu membagikan pengalamannya yang telah ia tulis menjadi memoar namun masih mencari penerbit. Kisahnya dimulai dari Rabu, 20 Oktober 1965. Hari yang tak pernah disangka-sangka oleh Tedjabayu. Sejak pagi, ia telah berada di gedung Chung Hwa Tjung Hwi (CHTH) di Jalan Sonobudoyo, Yogyakarta. Tedjabayu dan para anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) berjaga untuk mengamankan gedung yang dipinjam Universitas Res Publica (Ureca) itu dari ancaman massa demonstrasi ganyang PKI. Suasana makin riuh siangnya. Massa di depan gedung meneriaki mereka, “ganyang PKI, ganyang PKI, bunuh PKI.” Tak berapa lama kemudian, Tedja dan 126 kawannya ditangkap Batalyon F untuk diamankan dan diserahkan kepada polisi. Mereka lalu digiring ke penjara Wirogunan. “Masih nyanyi-nyanyi. Kita gayanya kayak model zaman aksi sepihak gitu. Aksi sepihak kan mesti nyanyi-nyanyi. Terus sebentar kemudian bebas gitu,” kenang Tedjabayu, 26 Januari 2020 lalu. Tedjabayu dan kawan-kawannya tetap santai karena mengira akan dibebaskan tak lama kemudian. Namun perkiraan mereka meleset. Wirogunan baru permulaan yang kelak membawa mereka dari penjara satu ke penjara lainnya. “Gak tahunya 14 tahun,” katanya sambal terkekeh. Tedjabayu lahir pada 3 April 1944 di Jakarta. Kedua orang tuanya, Sudjojono dan Mia Bustam, sama-sama pelukis dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nama Tedjabayu diberikan oleh Mia Bustam yang terinspirasi kisah Jawa Kuno, Sri Tanjung. Lahir dari ayah dan ibu yang berideologi kiri membawa Tedjabayu muda ke haluan yang sama. Ketika kuliah di UGM, ia bergabung dengan CGMI. Meski demikian, ia membantah CGMI adalah sayap PKI. Menurut Tedjabayu, cap PKI pada CGMI bermula pada Kongres CGMI di Jakarta tahun 1965. Pada kongres itu ditetapkan bahwa CGMI adalah organisasi mahasiswa revolusioner, anggota PKI, dan non-PKI. “Nah terus (CGMI) dicap (PKI). Sudah,” terangnya. Keanggotaannya dalam CGMI kemudian membawa Tedjabayu menjajaki bui demi bui. Dari Wirogunan, ia dilempar ke Ambarawa, Nusakambangan hingga akhirnya ke kamp Pulau Buru. Tedjabayu yang kala itu masih berusia 21 harus menjalani beratnya kehidupan penjara meski ia, sama seperti ribuan tapol lain, tak pernah diadili. Tedjabayu banyak bercerita tentang Nusakambangan. Di Nusakambangan, katanya, para tapol iseng-iseng menghitung jumlah butir jagung yang dibagikan setiap harinya. Makin hari jumlah butirnya menurun. Kadang 160 butir, kadang 150 butir, hingga hanya 130 butir. “Kita rata-rata, unit-unit lain kita tanya, berapa? 144 butir sehari. Karena itu ya ada yang meninggal karena kelaparan,” ungkap Tedjabayu. Di saat sulit seperti itulah Tedjabayu memahami bermacam-macam sifat asli seseorang. Ada yang egois, ada yang militan hingga akhir hayat. Ada yang pelit ketika mendapat kiriman makanan dari keluarga, ada pula yang selalu menjunjung tinggi solidaritas dan perkawanan. Suatu hari, ketika Tedjabayu tengah berada di ruang tempo (ruang untuk orang sakit) karena penyakit kulit scabies, seorang kawan meminta bantuannya untuk dipapah. Tedjabayu mengingatkan bahwa sang kawan masih sakit, jadi lebih baik beristirahat. “ Ora, koyone aku ki wes ora  kuat. Aku arep  pamit karo   konco - konco . (Tidak, sepertinya aku sudah tidak kuat. Aku mau pamit sama teman-teman.),” kata kawan itu. Bersama seorang kawan lainnya Tedjabayu lalu menggandeng orang itu keliling ke kamar-kamar. Namun, baru sampai kamar nomor tiga, orang itu jatuh, esoknya meninggal dunia. “Ada lagi satu yang gila. Sakit keras, kelaparan, tiba-tiba teriak. Tahu nggak lagu apa? Lagu ‘Internasionale’,” kata Tedjabayu. Tedjabayu dan tahanan lain lalu mengingatkannya bahwa lagu ‘Internasionale’ dilarang. Akhirnya ia menyanyi dengan lirih, makin lama makin pelan, kemudian meninggal dunia. Dua peristiwa itu, katanya, akan selalu ia ingat. Tentang bagaimana para pemuda kukuh dengan militansinya. Dari Nusakambangan, Tedjabayu mendapat giliran berangkat ke tanah pembuangan Pulau Buru pada 1970. Sembilan tahun ia diasingkan di sana bersama ribuan tapol lain. Tedjabayu baru dibebaskan pada November 1979. Di Kodim Jakarta Barat, tempat Tedjabayu dan kawan-kawannya dilepaskan, ia melihat sang ibu mengenakan jarit menjemputnya. Tedjabayu mengira ibunya akan menangis cengeng karena kembali bertemu si anak sulung yang 14 tahun tak pulang setelah berpamitan mengamankan gedung Ureca. Tetapi ia salah. “Ya ini hidup, Dja! Gitu. Bahasa Prancis dia bilang: Ç'est la vie, Dja !” kenang Tedjabayu. Itulah pengalaman hidup paling berharga Tedjabayu yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. Bebas dari penjara Orde Baru, Tedjabayu kembali menyambung harapan. Ia sempat bekerja untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Ia juga pernah menjadi komisaris Kantor Berita Radio 68H . Sore itu, Tedjabayu terlihat sehat. Meski rambut dan kumisnya sudah putih, ia tak seperti orangtua yang ringkih. Ingatannya dan minatnya pada beragam topik mengesankan. Kami lalu lanjut mengobrol, dari soal intelijen hingga kopi. Namun, obrolan mengasyikkan seperti itu belum kami dapati lagi sejak itu. Kami justru mendapat kabar mengagetkan: Tedjabayu meninggal dunia pada Kamis, 25 Februari 2021 di Jakarta. Padahal, memoarnya, Mutiara di Padang Ilalang , belum lama terbit. Selamat jalan, Mutiara.*

  • Mengenal Sosok Dewi Cinta Mesopotamia

    Dewi Ishtar atau Inanna di Mesopotamia disembah selama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antar masyarakat, dan cinta seksual.

  • Dari Bagelen ke Purworejo

    DAHULU wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah tanah Bagelen. Sejarahnya mewariskan ide-ide tentang pembangunan desa yang mampu memakmurkan rakyatnya. Para pelancong mencatat Purworejo sebagai kota yang bersih dan apik. Kota kecil dengan 12.000 penduduk pasca Perang Jawa itu telah dikelola dengan sangat baik. “Tidak berkembang begitu saja. Tapi berkembang dengan urban planning,” kata sejarawan Peter Carey dalam diskusi “Perspektif Baru Sejarah Purworejo: 190 Tahun Membangun” yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purworejo yang disiarkan lewat Youtube, Rabu (24/02/2021). Sebelum tahun 1831, Purworejo dikenal sebagai Brengkelan atau Kedung Kebo. Nama terakhir merujuk pada tangsi militer dan benteng Belanda yang didirikan pada awal Perang Jawa (1825–1830).

  • Child 44, Teror Pembunuhan Berantai di Rezim Stalin?

    SUATU hari di Moskow tahun 1953, Kapten Leo Demidov (diperankan Tom Hardy) berusaha menunggu dengan sabar di luar ruangan atasannya. Seraya menunggu, pikirannya melayang ke masa kecilnya yang penuh dinamika. Mulai dari masa dia lari dari panti asuhan semasa Holodomor (bencana kelaparan)hingga jadi pahlawan perang Uni Soviet yang mengibarkan bendera di atas Gedung Reichstag pada Perang Dunia II. Sebuah panggilan lantas membangunkan ke sadar an Leo dari ingatan itu. Di hadapan Mayor Kuzmin (Vincent Cassel), atasannya di polisi rahasia dari Kementerian Keamanan Negara ( MGB ) , Leo diberi tugas memburu dokter hewan bernama Anatoly Brodsky (Jason Clarke) yang menjadi mata-mata yang kerap memberi informasi kepada Kedutaan Inggris di Moskow. Bersama kedua rekan lamanya dari masa perang, Letnan Vasili Nikitin (Joel Kinnaman) dan Letnan Alexei Andreyev (Fares Fares), Demidov melacak dan menangkap Brodsky. Lewat investigasi brutal, Brodsky menyebut tujuh nama terduga mata-mata lain.Yang mengagetkan, salah satu nama terduganya adalah istri Leo, Raisa Demidova (Noomi Rapace). Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Sementara itu, muncul kasus pembunuhan di Moskow yang korbannya adalah putra Alexei, sahabat Leo. Oleh Mayor Kuzmin kematian putra Alexei ditetapkan sebagai kecelakaan tertabrak kereta, bukan pembunuhan. Alexei dan keluarganya yang berduka diminta tutup mulut dan wajib mengakui laporan resmi Kuzmin. Dua kasus itu diparalelkan sineas Daniel Espinosa dalam membuka film thriller misterinya yang bertajuk Child 44 . Film ini diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Tom Rob Smith. Adegan Kapten Leo Demidov yang tak rela menyatakan istrinya sebagai terduga mata-mata (Summit Entertainment) Plot cerita beringsut pada pergulatan nurani Leo yang meminta Alexei tak meneruskan permintaannya untuk menginvestigasi kematian putranya. Pasalnya, pemimpin “Negeri Tirai Besi” Joseph Stalin berjargon bahwa pembunuhan adalah penyakit dari kapitalisme. “Kau harus ingat, Alexei. Tidak ada yang namanya pembunuhan di ‘surga’ (Soviet),” kataLeo mewanti-wanti. Baca juga: The Death of Stalin , Kematian Stalin dalam Banyolan Meski begitu, diam-diam Leo minta bagian forensik melakukan autopsi. Hasilnya mengungkapkan fakta bahwa putra Alexei meninggal karena dibunuh. Sial bagi Leo, hal itu tercium Kuzmin dan Vasili yang iri kepada Leo. Keduanya bersekongkol untuk menyingkirkan Leo. Di sisi lain, Leo menolak menyatakan istrinya terlibat kasus spionase Brodsky. Tetapi karena reputasi Leo sebagai pahlawan perang, ia dan Raisa urung dieksekusi. Keduanya hanya diasingkan dan didemosi dari MGB ke Militsiya (polisi rendahan di Volsk) di bawah pimpinan Jenderal Mikhail Nesterov (Gary Oldman). Adegan Leo Demidov yang sudah didemosi, menuntut dibukanya investigasi kasus pembunuhan berantai kepada Jenderal Nesterov (Summit Entertainment) Di Volsk, Leo menemukan sebuah kasus pembunuhan anak-anak yang anehnya, luka-luka pada bagian tubuhnya sama dengan yang ia temukan di jasad putra Alexei. Namun ketika Leo berasumsi bahwa itu adalah kasus pembunuhan berantai, Nesterov menolak menginvestigasi dengan alasan yang sama meski sudah lebih dari 44 anak jadi korban. “Pembunuhan adalah penyakit kapitalis,” kata Nesterov. Ketika Leo dan Raisa bertamu ke kediaman Nesterov dan istrinya pada suatu malam, Nesterov baru luluh. S ejak kasus pembunuhan berantai itu muncul, Nesterov pun tak lagi berani membiarkan anak-anaknya berangkat sekolah sendiri. Nesterov akhirnya mengizinkan Leo menginvestigasi kasus pembunuhan berantai itu, mulai dari Moskow hingga Rostov , dengan syarat Leo harus melakoni investigasinya secara diam-diam tanpa terendus MGB. Namun, Leo harus berkejaran dengan waktu. Vasili dan Kuzmin tahu Leo mencoba menginvestigasi kasus pembunuhan dan itu artinya Leo dianggap sebagai pengkhianat sehingga terus memburunya. Di tengah pemburuan itu,Leo akhirnya bisa melacak identitas pelakunya, Vladimir Malevich (Paddy Considine). Bagaimana upaya Leo menangkap Malevich dan kelanjutan investigasinya? Akan lebih seru jika Anda saksikan sendiri Child 44 di aplikasi MolaTV. Adaptasi Kisah Nyata Secara sinematografi, Child 44 digarap cukup apik oleh Espinosa yang dibantu editor Pietro Scalia dan Dylan Tichenor. Tone sejumlah adegannya sengaja dibuat muram untuk menggambarkan suasana di negeri komunis di masa jayanya. Suasana itu makin kuat memicu adrenalin pada adegan-adegan kala Leo diburu agen-agen MGB berkat iringan music scoring mendebarkan dari komposer Jon Ekstrand. Meski latarbelakang film dan sinematografinya cukup baik, Child 44 menuai banyak kritik. Pasalnya tak satupun aktor Rusia yang ditonjolkan Epinosa se hingga mengurangi greget nuansa Sovietnya . “Novel laris Tom Rob Smith diadaptasi lewat sebuah film yang berat untuk dicerna. Ditambah aktor-aktor berbahasa Inggris yang mencoba aksen berat Rusia, di mana tak satu pun dari mereka aktor Rusia. Tom Hardy memang sukses membawakan karakter Leo, namun aspek-aspek forensik dan psikisnya datar saja. Tidak ada yang istimewa dalam adegan-adegan pelacakan pelakunya,” tulis kritikus Peter Bradshaw di kolom The Guardian , 16 April 2015. Baca juga: Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK Faktor lain yang mendatangkan kritik adalah, Espinosa mengemas Child 44 dengan sejumlah adegan tambahan heroik yang tak terdapat dalam novel. Adegan yang diingat dalam pikiran Leo di masa Perang Dunia II, salah satunya. Dalam film, Leo dan Alexei digambarkan sebagai dua pahlawan Tentara Merah yang mengibarkan bendera di atas Reichstag yang telah direbut dalam Pertempuran Berlin, 2 Mei 1945. Padahal, faktanya dua pengibar bendera di atas Gedung Reichstag itu adalah prajurit Tentara Merah bernama Aleksei Kovalev dan Abdulkhakim Ismailov. Lebih runyam lagi, Smith tak pernah menyebut Leo dalam novelnya sebagai personel Tentara Merah. Dalam bab-bab awal novel, Smith menciptakansosok Leo sebagai anggota OMSBON, sebuah brigade bermotor khusus yang bertugas di garis belakang sebagai pasukan penyabotase. Brigade yang bernaung di bawah NKVD (polisi rahasia Soviet)itu lazimnya terdiri dari para atlet Soviet yang terpaksa meninggalkan gelanggang olahraga gegara perang. “Selama Perang Patriotik (Perang Dunia II, red. ), dia direkrut unit khusus, OMSBON. Anggotanya dipilih dari Institut Kesehatan Fisik dan Kebudayaan, di mana dia (Leo) jadi siswanya. Perekrutannya berdasarkan keunggulan fisik yang atletis dan dilatih di Kamp Mytishchi, kamp milik NKVD atau polisi rahasia sebelum MGB. Dia jadi pahlawan setelah muncul dalam sebuah foto dengan latar belakang sebuah tank Jerman yang sedang terbakar,” tulis Smith dalam novelnya. Adegan Leo Demidov jadi pahlawan perang dengan mengibarkan bendera di Reichstag (kiri) dan dokumentasi aslinya (kiri) (Summit Entertainment/archive.org)) Terlepas dari banyaknya kritik, Smith mengaku senang dengan hasil film garapan Espinosa yang diadaptasi dari novelnya itu. Smith jadi satu di antara sedikit orang yang ditunjukkan hasil akhir film tersebut oleh rumah produksi Scott Free Productions sebelum resmi dirilis pada April 2015. “Saya senang filmnya. Mereka melakukan pekerjaan yang hebat. Saya sendiri tercengang. Saya mengatakan ini bukan hanya karena saya tak pandai berbohong, tetapi karena saya juga tahu kerja keras mereka. Tidak hanya lega, saya juga merasa bangga,” aku Smith kepada jurnalis Deirdre Molumby yang dimuat di scannain.com . Baca juga: Kursk , Kisah Getir Angkatan Laut Rusia Terlepas dari beberapa fakta yang melenceng, Smith tetap senang karena inti dari cerita novelnya tetap tersampaikan dengan baik. Yakni, tentang sikap aparat hukumSoviet era Stalin yang menutup mata padakasus-kasus pembunuhan. Salah satu pendiaman aparat itu terjadi dalam kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Andrei Chikatilo. Dalam novel dan film, Chikatilo digambarkan lewat sosok Malevich. “Kisahnya memang berdasarkan kasus nyata Andrei Chikatilo. Pembunuh berantai yang bertanggungjawab atas kematian puluhan anak-anak dan perempuan di Uni Soviet. Dia diadili dan didakwa atas 53 kasus pembunuhan. Mulanya dia lolos dari jerat hukum karena negara tempatnya tinggalmenolak adanya kasus pembunuhan. Saat dikonfrontir dengan bukti-bukti nyata kasus pembunuhan, pemerintah menuding orang-orang yang tak disukai sebagai pelakunya, seperti musuh politik, hingga kaum gay,” imbuh Smith. Pembunuh berantai Andrei Romanovich Chikatilo (kiri) yang digambarkan sebagai Vladimir Malevich dalam film (Rostov Police Department/Summit Entertainment) Kasus Chikatiloterjadi di 1970-an. Diungkapkan Peter Conradi dalam The Red Ripper: Inside the Mind of Russia’s Most Brutal Serial Killer , korban pertama Chikatilo yang tercatat dalam investigasi kepolisianadalah gadis cilik berusia sembilan tahun bernama Yelena Zakotnova.Yelena dibunuh pada medio September 1978 di Shakhty. Tubuh korban baru ditemukan pada 24 Desember 1978 di kolong jembatan Sungai Grushevka. Seiring waktu , satu per satu korban berjatuhan . Aparat yang dipimpin Mayor Mikhail Fetisov baru membuka investigasinya pada Januari 1983 . Pada 20 November 1990 , Chikatilo berhasil diciduk di Novocherkassk. Setelah diadili pada 14 April 1992, Chikatilo dinyatakan bersalah atas 52 kasus pembunuhan dan lima kasus pelecehan seksual. Dia dijatuhi eksekusi mati pada 14 Februari 1994. Meski kasus pembunuhan berantai itu terjadi mulai 1970-an, Smith mengadaptasikannya ke era 1950-an ketika Soviet masih dipimpin Stalin. Smith beralasan, dia ingin menciptakan sebuah kontradiksi bagi karakter si pembunuh berantai. “Latar belakangnya adalah periode rezim yang paling berbahaya di negeri itu, di mana saya mencoba menciptakan sebuah counterpoint pada pembunuhnya. Karakter pembunuhnya tak sepenuhnya sama dengan Andrei Chikatilo. Dalam buku, pembunuhnya bekerja seperti sebuah alat untuk mengeksplorasi keadaan negeri itu pada masa itu (rezim Stalin), negeri yang membunuh jutaan orang,” tandas Smith. Data Film: Judul: Child 44 | Sutradara: Daniel Espinosa | Produser: Ridley Scott, Michael Schaefer, Greg Shapiro | Pemain: Tom Hardy, Noomi Rapace, Gary Oldman, Joel Kinnaman, Paddy Considine, Vincent Cassel, Jason Clarke, Charles Dance | Produksi: Scott Free Productions, Worldview Entertainment | Distributor: Summit Entertainment, Lionsgate, Entertainment One, Bontonfilm, Ro Image | Genre: Thriller Misteri | Durasi: 137 menit | Rilis: 17 April 2015, Mola TV Baca juga: Horor Chucky dalam Kehidupan Nyata

  • Industri Gula Praja Mangkunagaran

    DIBANDING gedung-gedung yang ada di sekitar, pabrik itu terlihat menonjol. Bukan saja ukurannya lebih besar, tingginya pun meyakinkan: sekitar sepuluh meter. Bangunan itu berbentuk persegi, didominasi warna putih, dan kokoh berdiri di atas tanah seluas 6,4 hektar, dengan 1,3 hektar di antaranya digunakan untuk bangunan utama pabrik. Begitu masuk ke dalam, berbagai ornamen lama pabrik tersaji dengan rapi. Terawat dengan baik, seolah-olah masih baru. Di bagian tengah bangunan menjulang sebuah cerobong asap. Sementara di bagian depan dan samping terhampar tanah lapang yang ditumbuhi pepohonan, berfungsi sebagai taman, tempat orang-orang duduk bersantai. Pada dinding sebuah bangunan terdapat tulisan “PG COLOMADU TAHUN 1861”. Pabrik gula Colomadu merupakan bangunan bersejarah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Jalan Adi Sucipto, Malangjiwan, kecamatan Colomadu. Dilansir laman Kompas , rupa bangunan pabrik saat ini merupakan hasil revitalisasi tahun 2017 untuk keperluan situs cagar budaya dan wisata di daerah Jawa Tengah. Lantas bagimana pabrik tersebut bisa berdiri? Menurut sejarawan Wasino, pabrik gula Colomadu merupakan bisnis peninggalan Praja Mangkunagaran. Dalam acara Serial Seminar Nasional Sejarah “The Mangkunegara Sugar Industry and Road Infrastructure in The Surakarta Residency”, Jumat (19/02/2021), staf pengajar di Universitas Negeri Semarang itu menyebut jika pabrik didirikan pada 1860 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Untuk mendirikan pabrik, pertama-tama Mangkunegara IV memilih tempat di desa Krambilan, Distrik Malang Jiwan, sebelah utara Kartosura. Pertimbangannya, tanah di tempat itu subur dan ketersediaan air melimpah. Ia lalu memerintahkan R. Kamp, seorang ahli tanaman tebu berkebangsaan Jerman untuk meneliti tanah di sana apakah cocok untuk ditanami tebu atau tidak. Setelah dinilai sesuai, serta mendapat persetujuan dari Residen Surakarta, Nieuwenhuiz, Mangkunegara IV memulai pembangunan pabriknya. Dalam tulisannya di Humaniora Vol. 17, No. 1 tahun 2005, “Mangkunegara IV, Raja-Pengusaha, Pendiri Industri Gula Mangkunagaran (1861-1881)”, Wasino mengatakan bahwa peletakan batu pertama pembangunan pabrik dilakukan pada 8 Desember 1861. Sementara biaya yang dihabiskan seluruhnya mencapai f 400.000, berasal dari pinjaman hasil keuntungan perkebunan kopi Mangkunagaran dan bantuan dari seorang Mayor Cina di Semarang Be Biauw Tjwan, teman dekat Mangkunegara IV. Setelah melalui pembangunan selama setahun, pada 1862 pabrik gula itu siap beroperasi. Dalam sebuah upacara pembukaan pabrik, Mangkunegara IV menamai pabrik pertamanya itu Colo Madu , suatu nama Jawa yang artinya “gunung madu”. “Tidak ada penjelasan resmi mengapa menggunakan istilah itu, tetapi jika dilihat dalam tradisi penguasa Jawa, maka nama itu mengandung suatu harapan agar kehadiran industri gula ini menjadi simpanan kekayaan Praja Mangkunagaran dalam bentuk butiran pasir berjumlah besar hingga menyerupai gunung,” jelas Wasino. Karena Colomadu merupakan perusahaan pribadi, pegelolaan kebun berada di bawah kontrol langsung Mangkunegara IV. Namun pengawasan sehari-hari dilakukan seorang administratur, yang untuk pertama kalinya dipercayakan kepada R. Kamp. Namun ia hanya memegang jabatan selama 8 tahun, karena pada 1870 Mangkunegara memberi tugas perombakan dan perluasan perkebunan kopi kepadanya. R. Kamp lalu digantikan oleh putranya, G. Smith sebagai administratur pabrik gula Colomadu. Berdasar arsip Praja Mangkunagaran, panen perdana pabrik Colomadu tahun 1862 mampu menghasilkan sebanyak 6000 pikul gula dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu. Produksi itu menyamai rata-rata produksi gula per pikul di seluruh Jawa pada 1870. Hasilnya pun ketika itu tidak hanya untuk konsumsi lokal saja, tetapi sudah bisa dijual hingga ke Singapura dan Maluku. “Meskipun ini perusahaan pribumi tetapi jaringan perdagangannya tetap menggunakan jaringan-jaringan yang dibangun oleh perusahaan Belanda dan orang-orang Cina,” kata Wasino. Keberhasilan pabrik gula Colomadu mendorong Mangkunegara IV membangun pabrik keduanya, yakni PG Tasik Madu . Dikisahkan dalam Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Lama Semarang , terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama World Heritage Camp Indonesia, pabrik itu didirikan pada 1871. Lokasinya berada di Distrik Karang Anyar, sebelah barat lereng Gunung Lawu. Sama halnya dengan pabrik pertama, pabrik Tasikmadu juga dikelola secara langsung oleh Mangkunegara IV. Sistem pekerja di sana juga masih sama, yakni digarap oleh petani dari desa-desa sekitar pabrik secara cuma-cuma. Dengan kata lain para petani tebu itu dikenakan kerja wajib tanam tanpa dibayar sesuai dengan kebijakan dari Praja Mangkunagaran. Mulanya sistem produksi di Tasikmadu tidak teratur. Sebagian besar kegiatan produksi gula dilakukan tatkala perkebunan kopi mengalami penurunan keuntungan. Akan tetapi sejak ditandatanganinya kontrak dengan NHM (Nederland Handels Matschappij) di Semarang, produksi gula di Tasikmadu dilakukan secara teratur. Suntikan dana dari kamar dagang pemerintah Belanda itu membuat pabrik mengalami peningkatan jumlah produksi dan pemasaran. Tiap tahun jumlah permintaan gula dari kedua pabrik kian meningkat. Sejalan dengan itu, Praja Mangkunegaran juga segera melakukan perluasan lahan untuk tanaman tebu. Tidak hanya di distrik Karang Anyar, tetapi meluas ke wilayah lain. Selain itu, Praja Mangkunegaran pun dengan cepat membangun akses transportasi, utamanya jalur kereta api, guna memperlancar dan memperluas proses penyaluran hasil produksi. “Keberhasilan industri gula ini sangat membantu penghasilan Praja Mangkunegaran untuk melengkapi sumber pendapatan tradisionalnya dari pajak tanah. Keuntungan yang diperoleh dari pabrik gula sebagian digunakan raja untuk membayar gaji para bangsawan dan sebagian lagi dapat digunakan untuk menebus tanah lungguh  yang belum selesai ditarik kembali,” ujar Wasino. Setelah Mangkunegara IV wafat, segala proses produksi di kedua pabrik gula dilakukan di bawah pimpinan Mangkunegara V.*

  • Saat Pantai Barat Amerika Dibombardir Jepang

    HARI ini, 23 Februari, 79 tahun silam. Kapten Kozo Nishino, komandan kapal selam AL Jepang I-17, mendapat momen emas. Kilang minyak Ellwood Oil Field dekat Santa Barbara, California, Amerika Serikat sudah di depan mata, hanya satu mil dari kapal selamnya. Kesempatan itu tak ingin disia-siakannya untuk menjadikan kilang itu sebagai sasaran balas dendamnya. Nishino pun langsung mempersiapkan serangannya pada pembukaan malam itu.  “Tepat setelah matahari terbenam pada 23 Februari 1942, Komandan Kozo Nishino, komandan I-17, memunculkan kapalnya di Santa Barbara Channel,” tulis Joseph Jeremiah Hagwood Jr. dalam Engineers at the Golden Gate . Sementara Nishino mempersiapkan serangannya, penduduk kota sedang serius di depan radio mereka. Mereka bersiap mendengarkan pidato radio Presiden AS Franklin D. Roosevelt petang itu. “Presiden belum berbicara kepada negara sejak (serangan Jepang terhadap, red .) Pearl Harbor. Selama beberapa minggu dia ingin menyampaikan Fireside Chat lagi, tetapi tekanan pekerjaan membuatnya tidak mungkin –persiapan untuk siaran sepenting itu membutuhkan penelitian selama berhari-hari dan pengulangan retoris,” Nigel Hamilton dalam The Mantle of Command: FDR at War, 1941-1942. Dalam pidatonya, Roosevelt menyinggung tentang Perang Pasifik yang baru dimulai kurang dari dua bulan sebelumnya sebagai Battleground for Civilization. Dia menyeru kepada semua bangsa yang tak ingin civilization  mati agar bahu-membahu melawan negeri-negeri Poros. Dia menganalogikan posisi sulit Sekutu saat itu dengan posisi bertahan yang dilakukan Jenderal Washington di Lembah Forge sekira dua abad sebelumnya. Kendati sulit, itu dapat dilalui jika masing-masing memegang teguh komitmen. “Kita dari Bangsa-bangsa Bersatu setuju pada prinsip-prinsip luas tertentu dalam jenis perdamaian yang kita cari. Piagam Atlantik berlaku tidak hanya untuk bagian dunia yang berbatasan dengan Atlantik tapi juga untuk seluruh dunia; perlucutan senjata para agresor, penentuan nasib sendiri negara-negara dan rakyat mereka, dan empat kebebasan –kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan akan keinginan, dan kebebasan dari rasa takut. Tirani, seperti neraka, sulit ditaklukkan; namun kita memiliki penghiburan bersama ini, bahwa semakin keras pengorbanannya, semakin mulia kemenangannya. Kita tahu bahwa jika kita kalah dalam perang ini, perlu beberapa generasi atau bahkan berabad-abad sebelum konsepsi kita tentang demokrasi dapat hidup kembali. Dan kita bisa kalah dalam perang ini hanya jika kita memperlambat usaha kita, atau jika kita membuang amunisi untuk saling menembak,” kata Roosevelt, dikutip Hamilton. Pidato Roosevelt itu berhasil menarik pendengar di dalam negeri sebanyak 61 juta orang. New York Times  menjuluki pidato itu sebagai “salah satu yang terhebat dalam karier Roosevelt.” Namun, Roosevelt tidak tahu pada saat bersamaan di bagian barat negerinya sebuah kekuatan lawan sedang mempersiapkan serangan terhadap negerinya. Nishino memerintahkan awak kapal selamnya untuk mempersiapkan serangan ke kilang Ellwood. Serangan Nishino itu merupakan bagian dari serangan Armada Keenam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap armada laut Amerika di Pasifik. Pada 10 Desember 1941, sembilan kapal selam Jepang diperintahkan mengejar kapal USS   Enterprise . Sementara, beberapa kapal lain diperintahkan untuk mencapai pesisir barat Amerika Serikat.  “Di sana, mereka akan mendirikan pos-pos patroli untuk menyerang kapal sipil dan militer. Secara khusus, mereka harus menenggelamkan setiap dan semua persediaan dan bala bantuan yang ditujukan untuk bantuan Pearl Harbor,” tulis Hagwood Jr. Kapal I-17  merupakan salah satu dari sekian kapal Jepang yang menuju pantai barat itu. Tugas tersebut dimanfaatkan Nishino untuk membalaskan dendamnya. “Dia telah berlayar ke Ellwood dengan kapal tanker Jepang beberapa kali sebelum Pearl Harbor untuk mengambil minyak mentah untuk armada Jepang. Kunjungan pertama Nishino pada akhir tahun 1930-an merupakan kunjungan yang memalukan,” tulis Robert E. Kallman dan Eugene D. Wheeler dalam  Coastal Crude in a Sea of Conflict. Dalam kunjungan perdananya ke Ellwood, Nishino yang menjadi kapten kapal tangker Jepang terpeleset dan jatuh ke sepetak kebun kaktus pir ketika hendak mendatangi upacara penyambutannya oleh awak kilang. Akibatnya, dia ditertawakan oleh para awak kilang. Penertawaan yang memalukan itu amat membekas di benak Nishino. “Nishino, yang terhina oleh tawa itu, melihat kesempatannya untuk membalas dendam pada Februari 1942,” tulis Air Force Logistics Management Agency dalam Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership . Maka begitu kilang Ellwood sudah tampak di depan mata, pada pukul 18.40 waktu setempat Nishino memerintahkan juru mudi untuk segera menaikkan kapal ke permukaan. Para awak meriam diperintahkannya di posisi mereka. “Sembilan orang awak senapan dek bergegas ke senjata mereka dan mulai menembak pada waktu yang hampir bersamaan ketika Presiden Roosevelt memulai pidato radionya Ini adalah pertama kalinya peluru artileri asing mendarat di Daratan AS sejak Perang 1812,” tulis Steve Horn dalam The Second Attack on Pearl Harbor: Operation K and Other Japanese Attempts to Bomb America in World War II. Tembakan meriam 5,5 inci pertama dari dek I-17  yang dimuntahkan pada pukul 19.07   itu membuat satu dari beberapa petugas penjaga kilang kaget. Mereka mengira suara meriam itu merupakan ledakan kilang sehingga bergegas mendatanginya untuk mengecek dan memperbaikinya. Namun belum sampai tempat yang dituju, mereka kembali dikagetkan suara ledakan lain. Mereka akhirnya sadar bahwa itu merupakan tembakan kanon. Kepastian bahwa kilang mereka diserang datang dari kesaksian salah seorang yang tak sengaja melihat kapal selam besar di lepas pantai. Mereka pun segera berlindung, sementara seorang petugas menghubungi kepolisian setempat. Tembakan I-17  terus berdatangan hingga sekira pukul 19.40. Namun, dari sekira 25 meriam yang ditembakkan itu, mayoritas meleset ke kaki bukit di belakang kilang dan perkebunan di sekitar kilang. Ketidakakuratan tembakan I-17  disebabkan antara lain oleh kesulitan menjaga agar meriam dek kapal selam tetap mengarah ke sasaran sementara kapal terus bergerak. Tak satu pun korban jiwa jatuh akibat serangan itu. Hanya seorang petugas kilang terluka akibat berusaha menjinakkan peluru yang tidak meledak. Kerusakan pada kilang terjadi di satu rig yang perbaikannya memakan biaya 500 dolar.   Kendati secara militer serangan itu gagal akibat tak banyak kerusakan yang ditimbulkan, Nishino merasa cukup untuk menyudahi serangannya. Dia segera memerintahkan juru mudi menyelamkan kembali kapal selamnya. Upaya pengejaran oleh tiga pesawat Army Air Force yang datang kemudian tak berhasil mencapainya. Serangan Nishino itu sukses meneror warga California. “Komandan kapal selam Jepang Kozo Nishino memperoleh kepuasan pribadi dengan menembaki pantai California,”   tulis buku berjudul Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership.*

  • Bagaimana Belanda Mengurus Banjir di Batavia?

    SEPERTI awal tahun 2020 lalu, awal tahun 2021 Jakarta kembali dilanda banjir. Sejumlah wilayah, terutama di Jakarta Selatan, tergenang pada Sabtu, 20 Februari lalu. Banjir seakan-akan menjadi momok rutin tahunan bagi warga Jakarta dan tak kunjung terselesaikan sejak dulu. Bagaimana orang Belanda menangani banjir kala Jakarta masih bernama Batavia? Sejarawan Bondan Kanumoyoso menjelaskan dalam Dialog Sejarah “Banjir di Jakarta Riwayatmu Dulu” di saluran Youtube  dan Facebook   Historia , Selasa, 23 Februari 2021 bahwa karakteristik wilayah Jakarta sejak awal memang berpotensi banjir. Bukan hanya dari zaman kolonialisme Belanda, melainkan sudah sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Hal itu, sambung Bondan,  mendorong Raja Purnawarman memerintahkan pembangunan sebuah bendungan untuk mencegah banjir. “Jadi banjir itu merupakan suatu hal yang terjadi sejak bahkan sebelum kota ini menjadi kota pelabuhan yang ramai. Ini karena karakteristik geologi dan geomorfologi dari Jakarta,” terang Bondan. Jakarta yang berdiri di atas delta sungai memang rawan banjir. Paling tidak ada 13 sungai yang melalui kota ini dan berpotensi meluap ketika hujan. Selain itu, tanah Jakarta juga tidak stabil dan cenderung cekung karena tanahnya merupakan tanah hasil sedimentasi. Ketika orang-orang Belanda tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, jelas Bondan, mereka sudah mengenali karakterisitik wilayah ini. Namun, orang Belanda telah terbiasa. Secara geografis, wilayah Jayakarta mirip dengan Belanda yang sebagian wilayahnya berada di bawah garis permukaan laut. Mereka menganggap wilayah yang berpotensi banjir ini bukan berarti tidak ideal untuk ditinggali. Di negeri asal, orang Belanda telah terbiasa merekayasa sistem irigasi dan kanal. Kenyataan-kenyataan itu membuat Jan Pieterszoon Coen menetapkan Jayakarta sebagai ibukota atau pusat kegiatan VOC di Asia. Coen kemudian meminta tolong pada arsitek Belanda bernama Simon Stevin untuk merancang kota dengan sistem kanal seperti kota-kota di Belanda. “Jadi bagi mereka situasi Batavia itu bukan sesuatu yang asing dan itu yang kemudian mereka coba terapkan teknologi yang mereka punya,” jelas Bondan. Upaya-upaya merekayasa kota dengan banyak sungai inipun dikerjakan. Misalnya, ada upaya untuk meluruskan sungai ciliwung dan menambahkan kanal-kanal agar luapan air dapat tersebar. Upaya ini cukup berhasil sampai sekitar tahun 1630-an. Namun ketika Gunung Salak meletus pada 1696, banjir besar kemudian mengikutinya. Material yang dihasilkan Gunung Salak terbawa banjir hingga ke Batavia. Akibatnya, garis pantai dilaporkan bertambah hingga 15 kilometer dalam satu tahun karena endapan lumpur. Mengetahui bahwa endapat lumpur menjadi salah satu penyebab banjir, setiap musim kemarau orang-orang dari pantau utara Jawa dipanggil untuk mengeruk lumpur. Sungai-sungai yang dangkal digali dan kanal-kanal dibersihkan dari sampah dan limbah industri gula. Bondan menyebut bahwa Belanda memilih mengeruk sungai karena air tidak bisa begitu saja menyerap ke dalam tanah. “Itu yang dilakukan Belanda. Dan itu ada ratusan orang tiap tahun yang ditugaskan untuk mengeruk sungai,” kata Bondan. VOC juga memiliki lembaga bernama Heemraden yang tugasnya khusus mengurusi masalah infrastruktur berkaitan dengan air. “Nah ini yang kita nggak pernah punya di kota-kota kita,” ujar Bondan. Bondan, yang telah meneliti lembaga ini, menyebut bahwa tak ada lembaga serupa di seluruh Asia kala itu. Heemraden hanya ada di Batavia dan mengurusi wilayah ommelanden  yang sekarang sepadan dengan Jabodetabek. Menjelang berakhirnya kekuasaan VOC, Batavia menjadi kurang terurus. VOC dilikuidasi dan dinyatakan bangkrut. Banyak lembaga pengurus kota yang kemudian tidak aktif sehingga pengerukan sungai juga berhenti. Kota terbengkalai. Beberapa keberhasilan VOC bukan berarti menunjukan bahwa orang Belanda telah melakukan pekerjaan sempurna. Bondan menyebut mereka hanya mengurusi wilayah dengan pemukim orang-orang Belanda. “Itu sebabnya di Jakarta ini centang-perenang gitu ya. Karena wilayah yang diatur dulu itu hanya wilayah yang dihuni oleh orang Eropa, khususnya Belanda. Jadi hanya di dalam kota. Di wilayah di luar itu mereka nggak mau urus,” sambungnya. Hal itu, kata Bondan, dikarenakan VOC merupakan perusahaan. Dalam setiap kebijakan yang dibuatnya tentu lebih mementingkan untung-rugi, bukan masalah kesejahteraan penduduk. Selain itu, sumber daya manusia saat itu juga masih terbatas. Masalah yang datang juga tidak hanya itu. Batavia dan Belanda barangkali mirip. Namun, kedua wilayah ini tidak serta-merta sama dan orang Belanda bisa menduplikasi Amsterdam ke sebuah delta sungai di Jawa. Yang paling kentara, misalnya, perbedaan curah hujan di Belanda dan Batavia. Jika di Belanda hujan turun setiap hari namun hanya gerimis, di Batavia curah hujan dan jumlah air yang tumpah begitu tinggi. Banjir lagi-lagi tak bisa dihindari. Pada awal abad-20, upaya menanggulangi banjir kembali dilakukan. Insinyur Herman van Breen adalah salah satu insinyur yang menyiapkan rancangan untuk mengatasi banjir. Ia membuat dua banjir kanal, yakni Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Selain itu ia juga membuat beberapa pintu air. “Sebetulnya berhasil untuk mengatasi banjir pada masanya. Kalau sekarang, tentu perlu direvitalisasi, perlu ditingkatkan lagi, dan perlu dianalisa ulang karena kan daerah pemukiman dan tingkat daripada kepadatan penduduk dan juga karakteristik wilayah sudah berubah,” ungkap Bondan. Apa yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan buah dari pemikiran orang-orang di dalamnya yang serba ingin moden sehingga meninggalkan kearifan lokal dan lebih cenderung eksploitatif. Menurut Bondan, sifat eksploitatif kita sebagian besar merupakan hasil dari mencontoh orang Belanda yang eksploitatif terhadap alam. Oleh karena itu, sebagai solusi untuk mengatasi banjir di Jakarta yang telah menjadi masalah sejak dulu, Bondan mengingatkan, bagaimana Belanda menangani banjir bisa menjadi satu rujukan dalam merancang kebijakan. Penanganan jangka panjang dan komprhensif perlu dilakukan dari hulu ke hilir. Bukan hanya melalui infrastruktur, melainkan juga menanamkan kembali hubungan manusia dengan alam yang harmonis dan tidak eksploitatif.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page