Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Guru Pak Dirman
RUMAH di Jalan Pangadegan Jakarta Selatan ini tampak biasa-biasa saja. Bangunannya sudah tua. Namun, ada kemewahan yang sulit dinikmati di rumah-rumah di Jakarta. Pekarangannya luas, dengan pepohonan dan rumput hijau. Udara segar tersebar dengan baik bagi penghuninya. Di rumah itu, Poppy Julianti tinggal bersama anaknya, Miranti Soetjipto-Hirschmann, yang dikenal sebagai seorang wartawan. Dulu tentu rumah itu lebih ramai. Tidak hanya semua anaknya tinggal di sana, tapi juga ayah dan ibunya, Soewardjo Tirtosoepono dan Markamah, yang tinggal di salah satu pavilion rumah itu. Kenangan tentang Soewardjo, yang tutup usia tahun 1992, masih hidup dalam memori Poppy dan Miranti. Bertahun-tahun mereka membuatkan kronik riwayat hidup Soewardjo. Tak lupa mereka menyimpan dan merawat semua kenangan dari Soewardjo: catatan tangan, surat penghargaan, kartu-kartu. Tidak semua orang mengenal sosok Soewardjo Tirtosoepono. Tapi jika menyebut salah satu muridnya, semua orang pasti tahu: Soedirman.
- General Soedirman's Teacher
A HOUSE on Jalan Pangadegan, South Jakarta, looks unassuming. The building is old, but it has something considered luxuries to typical houses in Jakarta: a wide yard filled with lush trees and green grass, with a breeze of crisp fresh air. Residing inside the house are Poppy Julianti and her daughter, Miranti Soetjipto-Hirschmann, a journalist. The house, for sure, was more alive in the past. Poppy and all of her siblings lived there with their parents, Soewardjo Tirtosoepono and Markamah, who resided in one of the house's pavilions. The memory of Soewardjo, who died in 1992, is still fresh in Poppy and Miranti's mind. For years, they wrote a chronicle of Soewardjo's life story and kept and maintained all of Soewardjo's aide-mémoire: handwritten notes, letters of appreciation, and cards.
- Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung
PERJANJIAN Roem-Royen disepakati oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut. “Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa menghindar dan terpaksa menyetujuinya. Maka, pada 29 Juni 1949, secara berangsur, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka disusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.
- Kisah Pematung Jenderal Soedirman di Usia Senja
INDONESIA memiliki banyak sekolah atau kampus seni di berbagai daerah yang sudah berdiri sejak lama. Banyak alumnusnya mewarnai sejarah seni Indonesia. Salah satunya Azmir Azhari, seniman patung realis, kelahiran 1953 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Pria yang memiliki puluhan kucing ini dikenal karena patung-patung figur tokoh terkenal seperti Jenderal Soedirman di Purbalingga hingga patung Taufik Kiemas. Azmir tertarik dengan dunia seni sejak kecil. “Saya sejak SD sudah suka melukis, hingga kalau melihat gundukan tanah liat saya bikin patung, hingga lulus SMA tahun 1973 saya kuliah di ASRI di Yogyakarta sekarang namanya ISI, Awalnya saya ambil jurusan seni Lukis,” katanya.
- Raden Suprapto, Kawan Perjuangan Jenderal Soedirman yang Berakhir Mengenaskan
MASIH ingat film Pengkhianatan G30S/PKI? Dalam salah satu adegannya, ada seorang jenderal kesulitan tidur karena sakit kepala. Sang jenderal lalu membuat sketsa di atas kertas putih. Ketika istrinya menanyakannya sedang menggambar apa, jenderal tersebut menjawab sedang menggambar rencana Museum Perjuangan di Yogyakarta. Namun karena gambarnya dianggap aneh, sang istri pun berkomentar. “Kok kaya kuburan?” Jenderal yang digambarkan dalam film itu pun terdiam. Dialah Jenderal (Anumerta) Suprapto, satu dari enam perwira tinggi yang gugur oleh sepasukan Tjakrabirawa beberapa jam setelah adegan tersebut. Raden Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 20 Juni 1920 dari pasangan Raden Pusposeno dan Raden Ajeng Alimah. Bungsu dari sepuluh bersaudara itu memiliki lima saudara lak-laki dan empat saudara perempuan.
- Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali
HARI ini TNI AU berdirgahayu ke-75. Garda langit NKRI itu lahir di masa revolusi fisik pada 9 April 1946 dengan nama Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) Oedara. Sebelumnya, TRI Oedara menyandang nama Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Djawatan Oedara. Matra udara militer Indonesia itu kekuatannya dibangun dengan sisa-sisa pesawat bekas Jepang. Salah satunya pernah digunakan untuk menerbangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman hingga ke Bali. Pada akhir 28 April 1946, sang jenderal melakonis itu punya agenda tugas ke Malang, Jawa Timur. Mengutip Taufik Abdullah dkk. dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1965, Panglima Soedirman akan menginspeksi tawanan tentara Jepang yang sudah dilucuti TRI.
- Kisah Jenderal Soedirman dan 80 Perompak
JUMAT, 1 November 1946. Udara pagi Jakarta mulai menghangat, saat serangkaian kereta api istimewa memasuki Stasiun Manggarai. Begitu berhenti, ribuan orang yang memenuhi ruang tunggu mulai ramai bersuara. Suasana mulai histeris manakala dari salah satu gerbong muncul dua orang yang ditunggu: Panglima Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) Jenderal Soedirman dan Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. “Pekik merdeka kembali berdengung di Jakarta, menyambut kedatangan Pak Dirman,” ujar mantan Menteri Pertambangan di era Orde Baru Soebroto, seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1959.
- Soedirman, Guru Kecil Jadi Panglima Besar
KETIKA muda, Soedirman aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Dia pernah menjadi pemimpin Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah daerah Banyumas. Selain itu, dia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, dia terpilih menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah cabang Banyumas, kemudian Jawa Tengah. Bagi Soedirman, berorganisasi adalah pengabdian, bukan tempat mencari penghidupan. Dia kadangkala mengutamakan kepentingan organisasi daripada keluarga. Karena itu, kendati menjadi pemimpin, rumah tangganya serba kekurangan. Orang pun heran. Namun, baginya itu wajar saja. “Bukankah yang besar itu adalah organisasi. Besarnya dan mekarnya organisasi bukan berarti harus besar dan mewahnya si pemimpin. Untuk mencukupi biaya hidupnya, dia aktif sebagai guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap,” demikian tertulis dalam biografi Sudirman Prajurit TNI Teladan. HIS (Hollandsch Inlandsche School) adalah sekolah dasar dengan masa belajar tujuh tahun.
- Soedirman Suka Main Sepakbola
SUATU hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta pengertian istrinya, Siti Alfiah. Namun, Alfiah mengkhawatirkannya karena mata sebelah kiri suaminya itu kurang terang. “Lalu, kaki mas yang terkilir waktu main bola itu…” “Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap ibu berhati mantap,” kata Soedirman. Dialog itu termuat dalam biografi Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman karya Soekanto S.A. seperti dicuplik buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir garapan tim majalah Tempo.
- Jenderal Soedirman Menjadi Tawanan
PADA masa perjuangan muncul suasana saling mencurigai. Sampai-sampai rombongan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah ditawan oleh Batalion 102 pada 23 Desember 1948 di Bendo, kurang lebih 24 kilometer dari Tulungagung. Kapten Soepardjo, ajudan merangkap sekretaris pribadi Soedirman, dibawa ke markas batalion. Sedangkan Soedirman tetap di dalam mobil dengan pasukan pengawal yang telah dilucuti. Di markas batalion, Soepardjo hanya bertemu beberapa perwira yang tak dikenali. Dia pun meminta bertemu dengan komandan batalion, Kapten Zainal Fanani. Seorang perwira menjawab sulit bagi tawanan bertemu dengan komandan.
- Sang Jenderal Soedirman Berpulang
PERFILMAN Indonesia berduka dalam dua hari berturut-turut. Setelah Amoroso Katamsi wafat pada Selasa (17/4/2018) dini hari, menyusul aktor senior lainnya, Deddy Sutomo yang mengembuskan napas terakhir pada Rabu (18/4/2018) pagi. Deddy meninggal di kediamannya pada usia 76 tahun. Deddy lahir di Jakarta pada 26 Juni 1941. Menggeluti dunia peran sejak duduk di SMA. Bersama kartunis GM Sudarta, dia mendirikan Teater Akbar. Anggotanya kebanyakan dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Teater Akbar sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam). Dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 tercatat, setelah tamat SMA, Deddy sempat mengikuti kursus jurnalistik. Selain bergiat di Lembaga Seni Surakarta, dia pernah menjadi guru pelajaran prakarya di SMA dan SMEA di Klaten. Dia juga pernah menjadi deklamator "Sajak dan Pembahasan" di RRI Solo.
- Jenderal “Suci” Soedirman
DUA pria beda generasi itu bersitegang. Yang muda, Soedirman (diperankan Adipati Dolken), meminta yang lebih tua, Sukarno (Baim Wong), untuk ikut bergerilya dengannya. Mohammad Hatta (Nugie), yang berdiri di samping Sukarno, hanya mendengarkan. Soedirman khawatir akan keselamatan Sukarno dan Hatta setelah pendudukan Belanda atas ibukota Yogyakarta. Sukarno menolak. Baginya, hutan lebih berbahaya bagi keselamatannya ketimbang di kota di mana banyak orang mengenalnya. Hutan juga tempat bagi Soedirman dan anak buahnya (tentara) berjuang. Sukarno dan Hatta sebagai pemimpin politik akan tetap di kota untuk melanjutkan perjuangan menjalankan negeri. Raut wajah Soedirman menunjukkan kekecewaan. Sukarno-Hatta ingkar. Padahal, mereka sudah berjanji ikut bergerilya apabila Belanda kembali menyerang.




















