Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ahmad Yani dalam Seragam PETA
MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho (komandan kompi, red. ) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan dengan daidan lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka. “Pada saat pemberontakan PETA Blitar meletus, seluruh Daidan dijaga, dikonsinyir oleh Jepang selama dua hari. Kepada para perwira diajukan pertanyaan-pertanyaan oleh Jepang dalam usahanya menjaga sikap anggota-anggota PETA,” tulis tim Dinas Sejarah Militer dalam Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro . Ahmad Yani dan Sarwo Edhie juga termasuk di antara perwira PETA yang ditanyai. Keduanya akhirnya dimutasi dari Prembun ke Bogor, markas PETA tempat awal mereka ditempa satu setengah tahun sebelumnya. Memutasi beberapa perwira PETA menjadi salah satu langkah preventif Jepang agar peristiwa serupa tak terulang. “Yani, Sarwo Edhie dan Sudarmadji kembali (ditempatkan) ke Bogor dan diwajibkan belajar bahasa Jepang lagi. Belakangan mereka sadari sebenarnya ketiganya termasuk orang-orang yang dicurigai Jepang. Karena perkembangan itu seluruh satuan PETA dilucuti dan Yani dan kawan-kawannya mendapat tugas untuk menjaga asrama-asrama PETA (Bogor) tanpa peluru,” kata Amelia Yani mengisahkan pengalaman ayahnya, mendiang pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani, semasa berseragam PETA dalam Profil Seorang Prajurit TNI. Kisah Lucu Ahmad Yani di Markas PETA Kala Jepang masuk Indonesia pada 1942, hidup Ahmad Yani ikut berubah. Ia yang sebelumnya baru menyelesaikan pendidikan topografi di Topografische Dienst di Malang, tak bisa melanjutkan sekolahnya lagi di AMS B (Algemeene Middelbare School, afdeling B) di Batavia. Maka setelah pulang kampung ke Purworejo, Ahmad Yani tak punya pilihan selain melanjutkan pendidikannya ke institusi-institusi yang didirikan Jepang. Jawa Boei Gyugun Kanbu Renseitai , semacam sekolah pendidikan militer di Magelang, jadi pilihannya pada pertengahan 1943. Sekolah itu juga dimasuki Sarwo Edhie dan Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal Raden Adjeng Kartini. Di sana, pemuda Yani mendapat pelatihan fisik dan latihan yang bersifat akademik. Mengetik dengan mesin tik salah satunya. Demi melancarkan keterampilannya di mesin tik, Yani kursus mengetik di sanggar ARTI di Purworejo. Di sini pula Yani berkenalan dengan Yayuk Ruliyah Sutodiwiryo, perempuan yang kemudian dinikahinya. Diorama pendidikan perwira PETA di Museum PETA Bogor (Randy Wirayudha/Historia) Dari Renseitai , Ahmad Yani didaftarkan untuk ditempa lagi sebagai calon perwira berpangkat shodancho di Bogor pada Oktober 1943 bersama sekira 100 jebolan Renseitai Magelang, termasuk Sarwo Edhie. Di Bogor, Yani berkenalan dengan banyak pemuda yang kelak jadi petinggi TNI di masa perjuangan, seperti Zulkifli Lubis yang datang dari Renseitai Cimahi. “Selama pendidikan shodancho berjalan, regu bapak dinilai oleh pelatih Jepang maupun kawan-kawannya lebih maju daripada yang lain. Sebagai bekas Renseitai dan regunya dinilai cukup baik, regu Yani tak lagi ikut merangkak dalam latihan fisik tetapi lebih sering jadi pembantu pelatih. Biasanya memerankan kelompok musuh dan saat menunggu latihan serangan kepada kelompok Yani, dipakai untuk mencari kopi. Saat siswa menyerbu, regu Yani sudah menghabiskan kopi mereka semua,” sambung Amelia. Anekdot lain datang dari kerapnya Yani memanfaatkan “reputasinya” sebagai salah satu calon perwira terbaik dari penilaian Jepang dengan sejumlah aksi akal-akalan demi mengisi perutnya. Aksi itu dilakukannya karena jatah makan di markas selalu dibatasi Jepang. “Biasanya pada malam hari, apabila dapur sudah dikunci, Yani gemar mencuri roti yang besar dan keras, namanya roche brood , yang ditaruh di bakul bambu di ujung dapur, jauh dari pintu. Untuk mengambilnya harus pakai galah. Yani selalu berhasil mengambilnya tetapi tak pernah tertangkap atau ketahuan,” ujar mantan duta besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina tersebut. Parade Serdadu PETA didikan Jepang (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Yani dikenal kawan-kawan seasramanya sebagai orang yang langganan kelayapan ke luar markas tanpa izin Jepang. Itu dilakukan Yani dengan lompat pagar. Sebagai imbalan tutup mulut buat kawan-kawannya, Yani selalu membawakan “buah tangan” berupa singkong atau pisang goreng. Yani dan kawan-kawannya baru kena batunya tepat sehari sebelum dilantik untuk kelulusan pendidikan mereka. Kisahnya berawal dari hilangnya arloji milik Tresno, kawan Yani. Kejadian yang dianggap memalukan itu berujung pada hukuman berjaga semalam suntuk bagi seluruh peleton. Untuk menanggulangi serangan kantuk, Yani dan kawan-kawannya mengakalinya saat sedang tidak diawasi serdadu Jepang. Dalam kurun waktu tertentu, setiap kawannya akan bergantian bergantian untuk terjaga agar yang lain bisa tidur. Akal-akalan itu akhirnya terpergok gegara kecerobohan Yani. “Tiba giliran Yani kira-kira pukul tiga pagi. Yani sambil tiarap di pinggir tempat tidurnya, menungging mengintip dari celah bawah pintu, kalau-kalau melihat ada kaki (serdadu) Jepang lewat. Celakanya saat pengawas Jepang lewat, Yani ternyata tak memberi aba-aba apapun. Tentu saja mereka harus mengulangi hukuman berat, saling menempeleng satu sama lain. Setelah pengawas pergi, seluruh peleton menggerutu: ‘ Sopo sing jogo mau (siapa yang giliran jaga tadi)?’ Yani menjawab: ‘Aku! Tapi turu (tapi tidur)!’” lanjut Amelia. Pelantikan para perwira PETA di Lapangan Gambir (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Keesokannya, mereka tetap dilantik di Lapangan Gambir dan resmi menyandang pangkat shodancho . Shodancho Yani kemudian ditempatkan ke Daidan Prembun (Kebumen), membuatnya bisa dekat lagi dengan kekasihnya, Yayuk, di Purworejo. Keduanya kemudian menikah pada 5 Desember 1944. “Tentu saja Yani tidak melapor karena ada peraturan bahwa seorang shodancho dalam kurun waktu tertentu belum boleh menikah. Oleh karenanya pada 6 Desember subuh Yani sudah harus meninggalkan pengantin barunya,” tambah mantan politikus Partai Hanura tersebut. Namun, kehidupan Shodancho Yani di Daidan Prembun justru lebih memprihatinkan ketimbang saat masih di asrama PETA Bogor. Situasi Jepang yang makin pelik di Perang Pasifik berimbas pada minimnya jatah makanan layak bagi para perwira PETA. “Keadaan ekonomi juga merosot terus. Tentara PETA di Prembun mulai hanya memakai baju sobek-sobek. Hem (kemeja) putih di dalamnya tinggal kerahnya saja. Makan pagi biasanya berupa bubur lem atau kanji. Hanya makan siang dan malam mereka mendapat nasi. Sekali-sekali mereka mendapat jatah ayam goreng. Supaya ayam goreng Yani tidak dicuri temannya, biasanya diidoni disik (diludahi dulu) supaya tak ada yang tega mencurinya,” tandas Amelia.
- Orang Tionghoa Indonesia di Tengah Pandemi Flu Spanyol
TAHUN 1918, pandemi influenza membuat gempar dunia. Jutaan orang meninggal dunia setelah diserang flu tersebut. Belum diketahui secara pasti dari mana wabah ini bermula. Ada yang menyebut berasal dari Amerika, ada yang menyebut dari Swedia dan Rusia, ada pula yang menduga virus dibawa buruh Tiongkok dan Vietnam. Media Spanyol yang secara besar-besaran memberitakan wabah ini kemudian membuat wabah ini dikenal sebagai Flu Spanyol. Flu Spanyol menyerang hampir ke seluruh pelosok dunia. Hindia Belanda tak luput darinya. Menurut Priyanto Wibowo dkk dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , wabah di Hindia Belanda menyebar dari Cina melalui Hongkong dan Singapura lewat kapal-kapal dari Cina yang diduga membawa orang-orang yang sudah terpapar virus. Meski telah mendapat peringatan-peringatan, pemerintah Hindia Belanda ternyata abai. Pada Juli 1918, rumah sakit di Batavia mulai melaporkan adanya pasien-pasien influenza. “Pada akhir November 1918, Pemerintah Hindia Belanda telah menerima laporan bahwa penyakit itu telah melanda Jawa Tengah dan memasuki wilayah Jawa Barat,” tulis Priyanto dkk. Dalam waktu singkat, wabah tersebut kemudian dilaporkan telah menjangkiti Surabaya, Banjarmasin, hingga Buleleng. Wabah terus menyebar, korban terus berjatuhan. Arakan-arakan Sementara sistem kesehatan tak memadahi, orang-orang dirundung bingung. Penduduk Tionghoa di beberapa daerah, menurut Ravando Lie dalam Perang Melwan Influenza, Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919, memilih melakukan ritual tolak bala dengan mengarak toapekong . Di Karawang, misalnya, penduduk Tionghoa mengarak barongsai, liong, dan patung dewa-dewa dengan diiringi tetabuhan selama beberapa hari. “Tampaknya perarakan ini adalah yang pertama kali diadakan di wilayah Indonesia kolonial dengan tujuan spesifik untuk mengusir Flu Spanyol,” tulis Ravando. Sepenelusuran Ravando, ritual-ritual lain juga dilakukan penduduk Tionghoa di berbagai kota. Di Bandung, penduduk mengadakan upacara meminta keselamatan ( Ping An ) disertai arak-arakan toapekong . Sementara, di Sukabumi seorang Tionghoa menyerukan ke perkampungan Tionghoa agar melaksanakan sembahyang hioto serentak. Arak-arakan toapekong juga dilakukan di Tulungagung dan Medan. Di Medan, pertunjukan wayang tiotjiee bahkan digelar tiga hari tiga malam. Namun, arak-arakan tersebut hampir diwarnai bentrokan dengan penduduk bumiputra. Jika di Medan bentrokan dapat dihindari, tidak demikian dengan arak-arakan toapekong di Kudus. Menurut Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, saat itu penduduk Tionghoa Kudus khawatir wabah semakin menjadi-jadi. Mereka lalu mengadakan arak-arakan toapekong yang justru berakhir dengan kerusuhan. “Peristiwa kerusuhan ini diawali dengan perkelahian antara sejumlah pemuda Tionghoa yang sedang melakukan prosesi arak-arakan gotong Tepekong dengan sekelompok pemuda SI (Sarekat Islam, red. ),” tulis Benny. Sentimen anti-Tionghoa meluas. Puncak kerusuhan pun terjadi pada Kamis malam, 31 Oktober 1918. Permukiman dan toko milik Tionghoa dijarah dan dibakar. Ribuan orang Tionghoa mengungsi ke Semarang. Peristiwa ini dikenal sebagai “Peristiwa Peroesoehan di Koedoes.” Peranan Sin Po Dalam kekacauan karena pandemi itu, pers memiliki peranan penting. Suratkabar Tionghoa Sin Po menjadi salah satu media yang banyak berontribusi. Menurut Ravando, Sin Po merupakan suratkabar modern yang mengedepankan rasionalitas. Sin Po seringkali menepis kabar bohong maupun menanggapi tindakan-tindakan takhayul yang tak berpengaruh pada ganasnya pandemi. Menanggapi arak-arakan toapekong yang disebut dapat mengusir pandemi, misalnya, seperti dikutip Ravando, Sin Po, 11 November 1918 menulis, “Orang jang bisa berpikir sedikit pandjang tentoe aken mengarti bagimana tida bergoenanja diboewang oeang boeat itoe oeroesan.” Sin Po juga mengkritik tindakan-tindakan yang memperburuk pandemi. Di Surabaya, pemerintah daerah malah mengadakan pesta Oranjedag paling meriah sejak puluhan tahun sebelumnya. Ada pula pertandingan sepakbola di Petak Sinkian, Batavia dan di Surabaya yang dapat mempercepat penularan virus. Sin Po juga memperingatkan Keraton Solo untuk tidak mengadakan Sekaten demi menekan angka penularan. Kabar bohong tumbuh subur di masa pandemi. Di Purwokerto, seorang bernama Prawadrana mengaku didatangi Nyi Loro Kidul lalu mempromosikan siapa yang ingin ditolong harus datang ke rumahnya dengan memberi sedekah 50 sen. Orang Tionghoa di Tasikmalaya mengatakan bahwa mereka dilindungi oleh Kwan Sing Tee Koen (Kwan Kong) sehingga terbebas dari Flu Spanyol. Sementara di Tulungagung, potret Tan Tik Soe yang diklaim sebagai titisan dewa dan bisa menyebuhkan penyakit, dijual. Semua dibantah Sin Po. “Menurut Sin Po tidakan tersebut merupakan sebuah lelucon yang menunjukan kebodohan dan ketidakrasionalan manusia. Satu-satunya cara untuk bisa sembuh dari suatu penyakit adalah dengan berobat ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Tionghoa maupun Eropa,” jelas Ravando. Obat Tradisional Pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Eropa menjadi pilihan paling masuk akal. Namun, Kirsty Walker dalam “The Influenza Pandemic of 1918 in Southeast Asia” yang termuat dalam Histories of Health in Southeast Asia, menyebut bahwa sebagian besar penduduk Hindia Belanda tidak bisa mendapat akses obat-obatan Barat. Mereka kemudian datang ke dukun atau mengkonsumsi ramuan tradisional. Selain tidak bisa diakses rakyat miskin, rumahsakit dan obat-obatan Barat juga kurang dipercaya oleh masyarakat. Orang justru lebih memilih pengobatan tradisional Tionghoa sebagai alternatif. Pengobatan tradisional Tionghoa telah dikenal sejak 2000 tahun silam. Menurut Peter Boomgaard dalam “The Development of Colonial Health Care in Java; An exploratory Introduction” yang termuat dalam Health Care in Java, pengobatan tradisional Tionghoa juga telah memberi pengaruh pada pengobatan tradisional di Nusantara. Sementara dokter-dokter bumiputra juga membuat racikan obat influenza, sinshe-sinshe di berbagai kota tak mau ketinggalan. Ravando mencatat, Phoa Tjong Kwan, shinse terkemuka di Wonogiri, mempublikasikan resep dan bagaimana cara mengobati pasien Flu Spanyol. Di Madiun, obat racikan Tan Bing In dianggap manjur menurunkan panas Flu Spanyol yang semakin mengganas menjangkiti ratusan orang Tionghoa dan bumiputra. Di Batavia dan Bogor, resep Tan Tik Sio dari Tulungagung tersebar luas untuk para penderita Flu Spanyol. Sementara sinshe ternama, Yap Goan Thay, membuat racikan obat influenza dari daun-daun berkhasiat yang direbus dengan campuran gula atau gula batu. “Di tengah kekalutan masyarakat akibat pandemi Flu Spanyol, tidak bisa dipungkiri bahwa obat-obatan tradisional tersebut menjadi jalan keluar khususnya bagi masayarakat yang kurang mampu atau yang masih asing dengan metode pengobatan Barat,” tulis Ravando. Ravando melanjutkan, ramuan tradisonal menjadi jalan keluar dari diskriminasi yang sering diterima ketika mereka mencoba berobat ke rumahsakit atau poliklinik yang dikelola orang Belanda. Namun, obat-obat tersebut tentu tidak lagi ampuh jika gejala Flu Spanyol yang ganas itu sudah menunjukkan beragam komplikasi.*
- Lika-liku Perayaan Imlek di Indonesia.
Perayaan Imlek di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak orang-orang Tionghoa bermigrasi ke Nusantara.
- Kala Perempuan Memberi Pelajaran Tuan Perkebunan
LARI dari rumah karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang tak menarik hatinya membuat Marijem, ibu kandung “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” Sudjojono, berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam pencarian itulah suatu ketika kala sedang istirahat dia bertemu seorang pria yang menawarinya pekerjaan. Dia diminta mengikuti pria itu dan menurutinya. Marijem menyimak dengan seksama begitu pria tersebut memberi penjelasan bahwa dia dan beberapa orang lain akan dipekerjakan sebagai buruh perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Mereka akan dipekerjakan selama minimal lima tahun. Meski diberi waktu untuk menimbang sebelum mengambil keputusan, Marijem pilih menyetujuinya. “Pikirnya, kalau aku tinggal di kota ini tanpa tahu lor-kidul dan tidak kenal orang, hidupku akan tidak menentu. Lebih baik aku terima kontrak itu, meski tempatnya jauh. Setidaknya aku akan selalu mempunyai uang,” tulis Mia Bustam, menantu Marijem, menggambarkan alasan Marijem menerima kontrak jadi buruh perkebunan, dalam Sudjojono dan Aku . Kendati harus berjuang seharian penuh melintasi jalan tanah berbatu dari pelabuhan menuju lokasi perkebunan, Marijem dan rombongan buruh baru itu akhirnya tiba di tempat kerja mereka pada tahun-tahun awal abad ke-20 itu. Tugas mereka mulai dari menanam benih karet hingga merawat. Pekerjaan itu tak terlalu sulit bagi Marijem yang di kampungnya, Jawa Tengah, rutin membantu ibunya me- ngangsu air. Maka dalam tempo tak terlalu lama, Marijem sudah diangkat menjadi kepala regu buruh perempuan. Tugasnya adalah berkeliling memeriksa bibit-bibit yang telah ditanam, mengatasi bila ada hama, dan mengamankan dari tanaman liar. Sebagaimana banyak perempuan buruh di perkebunan Deli, kesulitan yang dialami Marijem justru datang dari para tuan Belanda, entah yang menjadi atasan langsung atau yang lebih tinggi jabatannya. Banyak dari para tuan itu gemar melecehkan para perempuan buruh. Laiknya budak, para buruh tak memiliki hak untuk menolak perintah majikan kulit putih. Apabila mereka dipanggil tuan saat jam kerja, hampir dipastikan mereka diminta untuk memuaskan nafsu si tuan. Para tuan tak peduli perempuan yang dipanggil sudah bersuami atau belum. Para perempuan buruh umumnya tidak berani melawan. Selain secara legal, yang diatur lewat Koeli Ordonantie, mereka diwajibkan patuh pada perintah perusahaan, mereka juga mesti siap menanggung siksaan bila kedapatan melawan, yang diatur dalam Poenale Sanctie (sanksi pidana). Penyiksaan menjadi hal jamak di perkebunan Deli. J. Van den Brand, pengacara di Medan, bahkan sampai menuliskan penyiksaan yang dilihatnya ke dalam buku berjudul De Millioenen uit Deli . Penyiksaan itu dilihatnya ketika sedang mengunjungi rumah seorang pemilik kebun. Tanpa sengaja dia mendengar suara kesakitan seorang perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran menuntunnya mendatangi sumber suara. Ketika mendapati sumber suara, dia kaget suara itu ternyata berasal dari seorang gadis yang tengah disiksa dengan disalib dalam keadaan tanpa busana. “Bagi saya pemukulan terhadap wanita itu sudah mengerikan, dan tentunya dalam kasus ini, di mana pantatnya menunjukkan keadaan yang kotor, dekil, bernanah, dan berdarah. Tuan Kooreman mungkin berpikir hal seperti itu adalah hal paling umum di dunia, tampak mengerikan bagi saya dan orang lain,” tulis Van den Brand. Pelecehan juga didapati Marijem dan kawan-kawannya di kebun mereka. Meski mayoritas kawan-kawannya diam tak berani melawan, tidak demikian dengan Marijem. Dia memutuskan melawan. Kawan-kawannya di regunya lalu diajaknya untuk membalas kelakuan asusila opseter (pengawas) Belanda mereka yang kerap melecehkan. Tempat untuk aksi pembalasan pun ditetapkan, yakni lokasi yang jauh dari kantor dan barak-barak buruh. Suatu ketika, mereka mendapati momen yang tepat. Mereka segera bersembunyi di balik semak-semak sambil menunggu si pengawas lewat. Begitu si pengawas tiba, mereka langsung menyergapnya. Setelah si pengawas kerempeng itu dirubuhkan, Marijem dan kawan-kawannya langsung mengelitikinya di hampir semua bagian tubuhnya, tak terkecuali di bagian kemaluannya. Pengawas itu hanya bisa kegelian sambil berteriak-teriak memaki dan minta aksi itu dihentikan bahkan berteriak minta tolong. Marijem dan kawan-kawannya tak mempedulikannya. Mereka terus mengelitiki pengawas keparat itu. Beberapa kawan Marijem bahkan sampai menekan kaki dan tangan mereka kuat-kuat sambil menertawakan dan mengumpat pengawas nahas itu. Begitu si pengawas sudah lemas, mereka langsung melepaskannya dan meninggalkannya dengan perasaan puas. “Hari-hari berikutnya tidak terjadi apa-apa atas srikandi-srikandi kebun itu. Rupanya si opseter Belanda itu malu untuk melaporkan mereka pada bosnya. Bayangkan, dia, seorang tuan kulit putih, dihina oleh perempuan-perempuan Inlander jelek berkulit coklat! Marijem dan kawan-kawan masih sering terkikik-kikik kalau mereka ingat perbuatan mereka yang sebenarnya luar biasa nekad itu. Dan yang terpenting bagi mereka, opseter itu selanjutnya menjaga mulutnya apabila berpapasan dengan para buruh perempuan, juga tidak pernah lagi mengganggu mereka,” tulis Mia.*
- Punahnya Kesultanan Banjar
Setelah meletusnya Perang Banjar (1859--1905), serangan demi serangan terus dilancarkan rakyat tanpa henti. Para pemimpin Banjar silih berganti memimpin penyerangan pos-pos pertahanan Belanda di seluruh wilayah Banjarmasin. Pemerintah kolonial dibuat kewalahan dalam menghadapi gempuran yang tiada habis tersebut. Kegigihan rakyat akhirnya membuat Belanda lelah. Mereka segera mengupayakan cara diplomasi. Perang Banjar sendiri masih mencatatkan diri sebagai perang terbesar di Kalimantan Selatan, bahkan seluruh Kalimantan, pada abad ke-19. Kerusakan yang ditimbulkannya begitu masif. Korban jiwa tak terhitung besarnya. Perang juga meliputi wilayah yang amat luas. Hampir tak ada tempat yang terhindar dari api peperangan. Kerugian akibat perang tidak hanya dirasakan rakyat Banjar, tetapi juga pihak Kolonial. Perang telah membuat keuangan mereka terpuruk. Pemerintah pusat di Batavia juga sudah tidak banyak memberikan bantuan, mengingat sebelum Perang Banjar mereka harus menghadapi pemberontakan di Jawa. Maka untuk menghindari kerugian yang lebih jauh, Belanda mencoba menerapkan cara-cara non militer. Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4, langkah pertama yang dilakukan pemerintah kolonial dalam menerapkan taktik baru tersebut adalah mendatangkan serdadu-serdadu Belanda dari Jawa di bawah pimpinan Kolonel Andresen. Dia ditugasi merebut Martapura untuk kemudian membuka jalan menuju Pengaron, lokasi tambang batu arang Orange Nassau . Selain mencari infromasi mengenai sebab terjadinya perlawanan rakyat. Namun itu bukan pekerjaan mudah. Adresen yang hanya membawa 100 orang dijegal oleh kurang lebih 6000 laskar Pangeran Antasari. Bahkan kapal perang miliknya dibuat kandas oleh suatu serangan besar. “Sebab itu pada mulanya Andresen tidak berani menggunakan kekerasan, dan mengutamakan taktik politik yang lebih hemat dan menguntungkan,” terang Idwar Saleh dalam Pangeran Antasari . Pada Juni 1859, usaha Andresen menduduki Martapura berbuah hasil. Sultan Tamjidillah yang telah lama dibenci rakyatnya sendiri karena dianggap boneka Belanda memutuskan turun takhta. Kekosongan pun terjadi di Kesultanan Banjar. Andresen sementara mengambil alih pemerintahan kota sampai pejabat pusat memilih pemimpin baru. Setelah menerima kekuasaan, Andresen mempelajari surat-menyurat di dalam istana. Dia mendapati fakta bahwa Pangeran Hidayat yang selama ini dianggap dalang di balik penyerangan terhadap Belanda ternyata sama sekali tidak terlibat. Upaya pemberontakan sepenuhnya direncanakan oleh Pangeran Antasari dan Pangeran Aminollah. Dia terhindar dari tuduhan ikut campur dalam persiapan perang terhadap Belanda. “Karena itulah Kolonel Andresen selaku komisaris berkuasa penuh pemerintah Hindia Belanda memberi kesempatan kepada Pangeran Hidayat untuk menjadi Sultan agar wibawanya bisa digunakan untuk menentramkan rakyat yang telah bangkit melawan Belanda,” ungkap Idwar. Andresen berusaha menjalin hubungan baik dengan Pangeran Hidayat. Dia beberapa kali meminta sang pangeran datang menemuinya di Banjarmasin. Tapi tak pernah dipenuhi. Diceritakan dalam Republik Indonesia: Kalimantan, terbitan Kementerian Penerangan, Pangeran Hidayat khawatir jika dia mendapat pengkhianatan dari pemerintah Belanda, seperti yang dialami Prabu Anom. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Andresen mengirim 20 orang utusan ke hadapan Pangeran Hidayat di Amuntai. Mereka menyampaikan jika HIndia Belanda bersedia menyerahkan Kesultanan Banjar kepadanya, asalkan dia bersedia kembali dan tinggal di Banjarmasin. Namun melihat besarnya perlawanan rakyat, serta pengaruh pasukan Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat menolak syarat itu. Dia tidak ingin terpengaruh siasat Belanda terhadap kekuasaannya. Rupanya pemerintah pusat di Batavia tidak terlalu senang dengan siasat Andresen. Cara-cara yang dia gunakan terlalu lemah. Pemerintah pusat menghendaki keputusan yang cepat. Akhirnya pada November 1859, Andresen dipindahkan ke tempat lain. Sebagai gantinya, bertugaslah F.N. Nieuwenhuizen, yang secara penuh mengendalikan pemerintahan di Banjarmasin. “Nieuwenhuizen mengadakan pertemuan dengan Pangeran dan Alim Ulama di Martapura untuk membicarakan sumpah dan kutuk yang mengancam runtuhnya kerajaan Banjarmasin, sebagai yang tersebut dalam surat wasiat almarhum Sultan Adam, yang akhirnya diputuskan bahwa segala kutuk dan sumpah itu dianggap tidak terjadi sebab semuanya bertentangan dengan agama Islam,” tulis buku terbitan Kementerian Penerangan RI itu. Nieuwenhuizen lalu meminta pemerintah pusat menerbitkan surat berisi ulitmatum kepada Pangeran Hidayat agar dirinya menyerahkan diri. Jika menolak, Kesultanan Banjarmasin akan diambil alih dan dihapuskan. Namun pemerintah Batavia sendiri telah memutuskan jika penghapusan Kesultanan Banjarmasin akan dilakukan meski tidak ada respon dari Pangeran Hidayat. Maka pada Desember 1859, melalui surat putusan pemerintah Belanda di Batavia, Kesultanan Banjarmasin secara resmi dihapus dan pemerintahan di kota itu seluruhnya dikendalikan Nieuwenhuizen. Setelah merampas seluruh hak Kesultanan Banjarmasin, pihak kolonial mengadakan pengepungan dan pembersihan pasukan-pasukan Banjar pimpinan Demang Lehman, Pangeran Antaludin, dan Pangeran Aminullah. Mereka juga tak henti-hentinya mengirim serdadu-serdadu-nya ke semua wilayah yang dianggap masih berpotensi melakukan pemberontakan. Pada Juni 1860, pihak Hindia Belanda mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjarmasin secara luas ke seluruh Kalimantan Selatan. Maka punahlah salah satu kesultanan terbesar di Kalimantan itu. Kesultanan Banjarmasin pada akhirnya dibagi oleh Hindia Nelanda menjadi tiga afdeling , yakni Kuwin, Martapura, dan Amuntai. Masing-masing dibagi ke dalam beberapa distrik, yang dikepalai oleh perutusan dari Batavia.
- Sudut Ring Leon Spinks
LONCENG terakhir di ring kehidupan Leon Spinks Jr. sudah berbunyi. Pertarungannya melawan kanker prostat yang dideritanya sejak 2019 berakhir di sebuah rumahsakit di Henderson, Nevada, Amerika Serikat, Jumat (5/2/2021) malam waktu setempat. Legenda tinju kelas berat dunia itu wafat di usia 67 tahun. Pengumuman meninggalnya Spinks baru disampaikan sang istri, Brenda Glur Spinks, pada Sabtu (6/2/2021) pagi. Sejumlah tokoh tinju dunia pun melayangkan ungkapan duka cita terhadap satu dari lima petinju yang pernah mengalahkan petinju legendaris Muhammad Ali itu. Salah satunya Bob Arum, promotor gaek yang mengenang kemenangan Spinks atas Ali dalam pertarungan yang diatur Arum. “Itu salah satu hal yang paling tidak bisa dipercaya, di mana Ali setuju melawan dia karena jika Anda melihat pertarungannya, dia (Spinks) bahkan bukan penantang gelar. Dia hanya lawan biasa yang kemudian menemukan caranya sendiri untuk menang,” kenang Arum sebagaimana disitat The Guardian , Minggu (7/2/2021). Sebelum namanya meroket gegara mengalahkan Ali, Spinks hanyalah petinju muda yang sedang mencari arah dalam karier tinjunya. Pertarungan melawan Ali pun berlangsung Spinks baru setahun sejak dia menginjak level profesional. Bocah Korban Perundungan Spinks Jr. yang lahir pada 11 Juli 1953 di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat merupakan anak sulung dari delapan bersaudara pasangan Kay dan Leon Spinks Sr. Sejak kecil, Spinks dan tujuh saudaranya terbiasa hidup miskin setelah ayah dan ibunya bercerai. Sang ibu membesarkan Spinks dan adik-adiknya sebagai ibu tunggal dengan penghasilan USD135 dolar per pekan. Spinks kecil acap jadi sasaran perundungan teman-teman sekolahnya karena punya kelemahan pada fisiknya karena mengidap tekanan darah rendah dan asma. Bahkan, Spinks juga kerap dirundung anak perempuan tomboy bernama Booby di sekolahnya. “Setiap hari dia (Booby) memukuli saya. Tetapi ketika dia sedang mem- bully saya, tak seorang pun berani ikut-ikutan karena semuanya juga takut padanya,” ujar Spinks. Leon Spinks Jr. (kanan) bersama ibunya, Kay (tengah) dan adiknya Michael Spinks ( Ebony , edisi Mei 1978) Maka untuk membekali putra sulungnya itu, sang ibu memasukkan Spinks dan adiknya, Michael Spinks, ke sasana tinju Capri Recreation Center. Lantaran semakin tertarik pada tinju, Spinks menseriusinya hingga memutuskan untuk putus sekolah kala duduk di kelas 10 (setara SMP). Sebagai pendidikan alternatif, Spinks memilih mendaftarkan diri ke Korps Marinir Amerika Serikat pada 1973. Keputusan itu diambilnya juga karena ingin menjauhkan diri dari perang antar-geng dan narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. “Saya masuk Marinir untuk menghindari diri dari narkoba. Saya masuk di hari ulang tahun saya. Saya tak pernah menyangka betapa beruntungnya saya (masuk Marinir). Saya menikmati masa tugas dan itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan seorang anak muda saat itu,” imbuhnya. Dari Kamp Marinir ke Pentas Dunia Menukil laman resmi Kementerian Pertahanan Amerika , 18 Agustus 2020, disebutkan Spinks masuk Marinir di Marine Corps Recruit Depot di San Diego pada medio 1973. Dia kemudian menjalani pendidikan dasar selama 13 pekan. Masuk ke kesatuan Peleton 3090, ia lulus dengan pangkat prajurit dua pada Desember 1973 dan kemudian ditempatkan di tim tinju All-Marine di Markas USMC Lejeune, North Carolina. Di Kamp Lejeune, Spinks diasuh J. C. Davies, pelatih berkulit hitam pertama di tim All-Marine. Hanya dalam 15 detik melihat Spinks saat sparring , Davis sudah yakin Spinks kelak bakal jadi petinju besar. “Leon melakukan (pukulan) kombinasi itu –boom, boom– dan lawan sparring -nya pun tersungkur. Saat saya melihat catatan waktunya, saya pun berkata kepada pelatih lain, ‘Sial! Kita punya seorang juara di sini’,” kenang Davis sebagaimana ditulis laman Kemenhan Amerika itu. Leon Spinks Jr. (baris atas, keempat dari kanan) di kesatuan Peleton 3090 Korps Marinir Amerika Serikat. ( defense.gov ). Dari kamp Marinir itu juga karier tinju amatir Spinks meroket. Tak hanya tiga kali menenangkan gelar kelas berat-ringan AAU (Amateur Athletic Union) sepanjang 1974-1976, Spinks juga masuk tim tinju Amerika untuk Olimpiade Montréal 1976. Di olimpiade itu, Spinks merebut medali emas kelas berat-ringan, bersamaan dengan sang adik Michael Spinks di kelas menengah. Selepas olimpiade, Spinks keluar dari Korps Marinir dengan pangkat kopral. Sejak 1973, Spinks bersiap masuk ke tinju profesional dengan catatan 178 kali menang, di mana 133 di antaranya menang KO, dan tujuh kali kalah. Catatan itu membuatnya percaya diri untuk menjalani debut profesionalnya di kelas berat pada 15 Januari 1977. Pertarungan perdana melawan Bob Smith di Las Vegas itu pun ia menangi dengan KO. Spinks lalu melakoni satu tahun pertamanya di level pro dengan lima kemenangan lagi dan satu hasil imbang. Namun sepanjang tahun pertama itu, publik mulai melihatnya sebagai petinju muda Afro-Amerika yang berambisi mengikuti jejak Ali. Spinks menolak anggapan itu karena ia lebih mengidolakan karakter petinju fiktif Rocky Balboa dari serial film Rocky yang diperankan Sylvester Stallone. Selain sering menyetel lagu-lagu dari soundtrack film itu saat tidur hingga latihan, Spinks juga mengikuti rutinitas Rocky yang gemar mengonsumsi telur mentah. “Saya tahu apapun yang saya lakukan, orang-orang berpikir saya ingin mengikuti Ali. Namun saya ingin melakukan hal yang berbeda, sesuatu yang bisa jadi dedikasi saya untuk generasi muda lain,” sambung Spinks. Kolase pertarungan Leon Spinks vs Muhammad Ali jilid I. ( Ebony , Mei 1978/ wbcboxing.com ). Tetapi secara kebetulan nasib lantas mempertemukannya dengan Ali pada akhir 1977. Ali sedang membutuhkan pertarungan pemanasan untuk pertarungan keempatnya melawan Ken Norton, salah satu musuh bebuyutannya, guna mempertahankan gelar kelas berat versi WBA dan WBC. Bob Arum, promotor kondang Top Rank yang menaungi Ali, lalu meminta tangan kanannya, Butch Lewis, untuk mencarikan lawan. Dia menemukan Spinks. Pertarungan pun kemudian diatur di Hotel Hilton, Las Vegas, 15 Februari 1978. Spinks menerima mencoba peruntungan itu. Dia tak peduli meski hanya akan mendapat USD320 ribu, berbanding USD3,5 juta yang akan dikantongi Ali. Ali yang memandang remeh Spinks, sama sekali tak melakoni persiapan serius. Hasilnya, di atas ring Ali kewalahan meladeni Spinks yang 11 tahun lebih muda darinya. Jab-jab cepat yang dilancarkan Spinks, sebagaimana arahan pelatihnya, bikin Ali kerap mati kutu dan terpojok ke sisi-sisi tali ring. Pertarungan sengit itu pun berjalan hingga menghabiskan 15 ronde. Dilaporkan suratkabar The New York Times , 16 Februari 1978, Spinks diputuskan sebagai pemenangnya lewat split decision . Dua juri, Lou Tabat dan Harold Buck, memberi angka 145-140 dan 144-141 untuk Spinks. Hanya juri Art Lurie yang memberi angka 143-142 untuk Ali. Gelar dunia kelas berat WBA dan WBC pun berpindah dari pinggang Ali ke pinggang Spinks. “Jika saya kehilangan gelar, saya senang kalah dari seorang pria sejati,” ujar Ali yang sportif menyanjung Spinks. Rematch atau pertarungan Leon Spinks vs Muhammad Ali jilid II. ( boxrec.com / ringtv.com ). Ali langsung menghampiri Arum, bersikeras agar Arum segera mengatur rematch kontra Spinks. Sementara Spinks yang mulai jumawa, tak keberatan melawan Ali lagi kendati kemudian ia harus rela gelar WBC-nya dicabut dewan tinju WBC. Pasalnya dengan menerima pertarungan ulang melawan Ali, Spinks dianggap mangkir dari pertarungan wajib mempertahankan gelar melawan Ken Norton. Spinks kemudian meneken kontrak pertarungan ulang yang nilainya jauh lebih besar, 5 juta dolar, karena sebagai juara bertahan WBA. Situasi jelang pertarungan kembali justru berbalik 180 derajat dibandingkan pertarungan pertamanya. Spinks hidup foya-foya, di sisi lain Ali lebih serius mempersiapkan diri. Hasilnya terlihat jelas ketika laga jilid II dihelat di Superdome, New Orleans, 15 September 1978. Ali yang berusia 36 tahun mampu bertarung sebagaimana di usia 20-an. Menari di atas ring ke sana-ke mari untuk melontarkan sengatan-sengatan jab yang jadi bumerang bagi Spinks. Meski Spinks bertahan hingga 15 ronde, kali ini dia kalah unanimous decision alias angka mutlak untuk Ali. Gelar WBA kembali ke pangkuan Ali. “Rencana (strategi) Ali sederhana. Melayangkan jab-jab, melepaskan pukulan kanan dan merangkul. Saat Spinks goyah, Ali melepaskan hook kiri, lalu merangkul lagi. Sangat efektif membatasi perlawanan Spinks. Dan Ali terus menari di atas ring. Dia merangkul kemudian menari, berputar ke kiri dan ke kanan. Ali sudah merencanakan itu semua,” tulis jurnalis Pat Putnam dalam laporannya di majalah Sports Illustrated , 25 September 1978. Di masa senja Leon Spinks mulai mengidap berbagai penyakit dari penyusutan otak hingga kanker prostat. ( wbcboxing.com / defense.gov ). Keinginan Spinks untuk menantang Ali lewat pertarungan jilid III kandas lantaran Ali memutuskan pensiun –walau dua tahun kemudian Ali comeback ke atas ring. Sejak saat itu, karier Spinks tak pernah pulih kendati dia mencoba beralih ke kelas jelajah sekalipun. Spinks lantas memutuskan gantung sarung tinju pasca-kekalahan di pertarungan terakhir profesionalnya melawan Fred Houpe, 4 Desember 1995. Spinks memilih menepi dari dunia tinju meski sesekali datang ke Kamp Marinir Lejeune sebagai motivator. Jejaknya di dunia tinju kemudian diikuti dua putranya, Cory Spinks dan Leon Calvin Spinks. Efek kariernya semasa muda mulai dirasakan Spinks menggerogoti kesehatannya pada 2012. Di tahun itu ia didiagnosa penyusutan otak sebagai akumulasi dampak pukulan di kepalanya. Spinks juga menderita masalah pencernaan pada 2011 hingga naik meja operasi. Kondisinya kesehatannya diperparah dengan kanker prostat pada 2019 hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
- Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra
Kamasutra karya penulis India, Vatsyayana, banyak dipahami sebagai teks yang berisi tentang seksual belaka. Lebih dari itu, karya ini memuat cara mencapai kesempurnaan kama , yakni salah satu dari empat tujuan hidup manusia ( Catur Purusa ) dalam Hinduisme. Riley Winters dalam “The Kama Sutra: Setting the Record Straight” terbit di Ancient Origins menjelaskan kama dalam arti kata yang paling umum dapat merujuk pada kasih sayang, cinta, rangsangan estetika, atau keinginan. “Tidak selalu berhubungan dengan seksualitas,” jelasnya. Kamasutra menjadi karya yang memiliki pengaruh luar biasa dalam kesusastraan umum dan kehidupan artistik India. Ia menjadi dasar bagi banyak tulisan India pada periode berikutnya mengenai cinta. Termasuk di antaranya puisi cinta sanskerta. K.M Panikkar, sejarawan India, dalam kata pengantar buku Kamasutra yang diterjemahkan dari The Kamasutra of Vatsyayana, menjelaskan, pengaruh Vatsyayana tak hanya terbatas pada bagian tertentu India. Pengaruhnya merambah dari Kashmir sampai Tanjung Comorin dan dari Bengal sampai Gujarat. “Pengaruh itu juga menyebar di manapun peradaban India menyebar. Di Kamboja misalnya, Vatsyayana dikutip langsung namanya sebagai sebuah otoritas dalam ilmu cinta,” jelas Panikkar. Namun, pengaruh ajaran Kamasutra paling terlihat di dalam seni pahat. Contohnya bisa ditemukan pada relief-relief di beberapa candi dan kuil terkenal di India. Era Kemakmuran Budaya Menurut pakar sejarah gender dan seksualitas, Ruth Vanita dalam “Vatsyayana’s Kamasutra ”, yang terbit di Same-Sex Love in India , tampaknya Vatsyayana adalah seorang sarjana Brahman yang tinggal di Kota Pataliputra (kini Patna). Ia hidup pada sekira abad ke-4 M, yakni pada masa pemerintahan raja-raja Gupta. “Ini adalah periode kemakmuran materi dan budaya yang luar biasa untuk wilayah itu,” tulis Vanita. Sementara itu, Panikkar memperkirakan Kamasutra ditulis antara abad pertama dan ke-4 M. Perkiraannya berdasarkan adanya kiasan yang dipakai Vatsyayana tentang kejadian yang berkaitan dengan Raja Kuntala yang berkuasa pada abad pertama Masehi. Adapun Kalisada, penyair dan penulis sandiwara klasik India yang hidup pada akhir abad ke-4 hingga awal abad ke-5, menunjukkan pengetahuannya yang sangat mendalam mengenai Kamasutra. “Meskipun sulit menentukan tanggal yang pasti untuk karya itu, sangat jelas bahwa Vatsyayana hidup pada suatu masa setelah pemerintahan Kuntala Satakarni dan sebelum Kalisada, mugkin sebelum abad ke-4 M,” jelas Panikkar. Seks Simbol Penciptaan Dunia Pandangan masyarakat Hindu tentang seks berbeda secara fundamental dari pandangan dunia modern. Seks tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang normal dan perlu. Namun hampir merupakan sesuatu yang sakral. Seks merupakan persekutuan antara Purusha (materi) dan Prakriti (energi). Itu disimbolkan lewat persekutuan antara Siva dan Shakti- nya, Parvati yang kemudian menciptakan dunia. Simbol Siva merupakan alat kelamin laki-laki dan simbol Shakti- nya adalah alat kelamin perempuan. Untuk alasan inilah setiap aspek kedewaan dalam Hinduisme digambarkan dengan seorang pasangan perempuan ( shakti ). “Seks dianggap sebagai simbol penciptaan dan simbolisme religius masyarakat Hindu memperlihatkan hal itu pada semua level,” jelasnya. Ajaran Hindu memandang segala sesuatu dalam aspek dua oposisi biner. Itu bahwa alam mewujudkan prinsip laki-laki dan perempuan. Maithuna atau tindakan bersetubuh menggambarkan secara simbolis doktrin religius yang menjadi dasar dalam Hinduisme. “Persatuan antara laki-laki dan perempuan dipandang sebagai simbol penciptaan bukan kemunduran moral. Tidak hanya ada dalam pemujaan Tantris Hindu, melainkan dalam perkembangan tertentu Buddhisme,” jelas Panikkar. Salah satu bagian dari relief dinding di Candi Khajuraho di India. Pengaruh Vatsyayana bisa terlihat dalam pose tokoh-tokoh di dalam relief. (Wikipedia) Kama, Satu dari Tujuan Hidup Kendati begitu menganggap teks Kamasutra sebagai buku panduan ritual yang berkaitan dengan seks Tantra merupakan kesalahpahaman dalam pandangan budaya non-timur. Itu kata Riley Winters. Tantra, dalam istilah yang paling sederhana adalah keadaan yang mengacu pada penguasaan diri. Dalam budaya Barat kerap dikaitkan dengan penguasaan diri yang tinggi dalam ritual seksual. Sementara kata Winters, Kamasutra sama sekali tidak berhubungan dengan ritual atau praktik Tantra. Pun bukan doktrin sakral dari ritual seksual. Kesalahpahaman umum adalah bahwa ketujuh bab Kamasutra mengajarkan tentang hubungan seksual. Padahal hanya satu bab yang berbicara tentang posisi seksual. Sementara masing-masing bab menjelaskan bentuk kesenangan yang berbeda. Dengan itu seseorang dapat mencapai kama . “Secara sederhana, fokus teks bukanlah tindakan fisik dalam bercinta, tetapi lebih pada pencapaian cinta dan kesenangan dalam hubungan dan kehidupan,” tulis Winters. Dalam Hinduisme, kama merupakan satu dari empat hal utama yang menjadi tujuan kehidupan ( Catur Purusa ). Empat dasar dan tujuan hidup manusia di dalam Catur Purusa , yaitu dharma (sifat religius), artha (kekayaan materi), kama (cinta, hasrat, kenikmatan, kesenangan hidup), dan moksa ( puncak kelepasan dan kebahagiaan sejati ). Kama, artha dan dharma merupakan tiga unsur tunggal. Ketiganya harus dipegang teguh jika ingin mencapai moksa . “Teks itu mencontohkan bagaimana hasrat dapat membantu melepaskan seluruh kekuatan pribadi seseorang. Ini lebih dimaksudkan sebagai pedoman untuk hidup yang bajik,” jelas Winters. Dibandingkan itu, kama di dalam konsep modern sudah banyak berubah. Kata Panikkar, dalam penelitian modern kama sering disamakan dengan hasrat, nafsu, atau cinta fisik. Karenanya Kamasutra umumnya dipandang sebagai buku yang bergelut tentang hal erotis atau sesuatu yang tak pantas untuk dikaji serius. “Ini [ Kamasutra ] jauh dari hal semacam itu,” tegas Panikkar. Pengaruh Kamasutra Pengaruh Kamasutra paling mencolok terlihat di dalamseni pahat. Contohnya bisa ditemukan sebagai relief dinding Candi Konark, Khajuraho, Belur, Halebid, dan candi-candi terkenal lainnya dari abad pertengahan. Bagi orang Barat, karya ini awalnya hanya sebatas pada keingintahuan mengapa di candi Hindu yang terkenal harus menampilkan relief adegan seks pada dindingnya. “Ini bukan merupakan ciri khas semata-mata dari candi-candi abad pertengahan,” kata Panikkar. Menurut Pa nikkar , sebuah studi cermat terhadap arca-arca di Konark, Khajuraho, dan candi terkenal lainnya memperlihatkan betapa seniman telah mengikuti teks Kamasutra . “Pengaruh Vatsyayana dalam seni pahat ini bisa dilihat dalam perilaku dan pose tokoh-tokoh di dalam relief,” jelasnya. Panikkarmencatat, di Nagarjunikonda terdapat banyak ukiran kayu yang menggambarkan adegan percintaan. Nagarjunikonda adalah pusat arsitektur dan seni pahat Buddha yang paling terkenal. Ukiran-ukiran yang ada di sana kemudian diidentifikasikan sebagai versi seni pahat dari teks karya Vatsyayana. “Pada dinding-dinding kuil Jain juga ditemukan ukiran perempuan telanjang,” lanjut Panikkar. Dengan melihat itu, menurut Panikkar tak mungkin jika para pendiri candi bermaksud merusak moral atau hanya sekadar ingin memanjakan selera suatu masyarakat yang moralnya merosot. “Jelas sekali mereka mengekspresikan aspek fundamental dari kepercayaan religius India,” tegasnya. Bagaimanapun Kamasutra ditulis atas kehendak Yang Maha Kuasa untuk kepentingan dunia oleh Vatsyayana. Itu sembari dirinya menjalani kehidupan sebagai seorang siswa keagamaan yang seluruh hidupnya terikat di dalam proses merenungi Dewa. Setidaknya demikianlah kata sang penulis pada bagian akhir karyanya.
- Kisah Hubungan Banjar dengan Bangsa Eropa
Suatu hari pada abad ke-17. Sebuah kapal asing tiba-tiba muncul di wilayah perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bentuknya tampak asing bagi penduduk di sana. Begitu kapal merapat, para pedagang mengenalinya sebagai kapal milik maskapai dagang Belanda (VOC). Sejarah mencatat, peristiwa itu menjadi awal masuknya VOC dalam masalah-malasaj yang terjadi di Kesultanan Banjar. Mulanya kapal pimpinan Gillis Michiel itu diterima dengan baik oleh penguasa Banjar, Sultan Suriansyah. Mereka diberi izin merapatkan kapal ke dermaga dan berinteraksi dengan penduduk Banjar. Namun lama-kelamaan orang-orang Belanda ini malah berbuat onar. Sultan pun tidak tinggal diam. Dia lalu memerintahkan pasukannya menumpas habis para pendatang tersebut. Gagal dengan percobaan pertama, Belanda kembali mengirim pasukannya ke Banjarmasin. Mereka bersikeras mengadakan hubungan dagang dengan Kesultanan Banjar yang terkenal akan pala dan lada berkualitas baik. Dua kali mencoba, dua kali pula pemerintah Kolonial mengalami kegagalan. Sultan belum merasa perlu menjalin hubungan dengan Belanda. Perdagangan dengan saudagar Timur Tengah masih menguntungkan bagi negerinya. Pada 1612, pertempuran besar meletus di Banjarmasin. Pasukan dari Kerajaan Mataram melakukan serangan mendadak ke wilayah kekuasaan Sultan Suriansyah. Penyebabnya, sang sultan melanggar janji pembayaran upeti kepada penguasa di sana. Menurut Idwar Saleh, dkk dalam Sejarah Daerah Kalimantan Selatan , huru-hara tersebut langsung dimanfaatkan Belanda untuk melakukan pembalasan atas pembantaian sebelumnya. Akibatnya kota dapat diduduki tentara Belanda. Sultan pun terpaksa mengungsi ke Kayu Tangi Martapura dan mendirikan pemerintahan di tempat itu. “Di pertengahan abad ke-17, akibat perebutan kekuasaan, ibukota terpisah menjadi dua, yang Banjarmasin di bawah Sultan Agung, dan di Martapura di bawah Panembahan Ratu,” ungkap Saleh, dkk. Setelah Sultan Suriansyah wafat, putranya Sultan Rachmatullah menduduki takhta. Dia berhasil membawa kemajuan bagi Kesultanan Banjar. Jalur perdagangan sudah semakin terbuka, siapa pun bisa membeli rempah dari negerinya. Hubungan dengan Belanda juga mulai membaik. Tetapi pada 1630, kerusuhan lagi-lagi terjadi di Banjarmasin. Kali ini dilakukan oleh rakyat Banjar sendiri. Mereka merasa tidak puas dengan keberadaan orang-orang Belanda di kota tersebut yang kerap menyulitkan penduduk. Tiga tahun berselang, kota dapat dibangun kembali. Kondisinya jauh lebih tentram setelah banyak bangsa Belanda yang pergi ke Batavia. Sebagaimana diceritakan dalam Republik Indonesia: Kalimantan , terbitan Kementerian Penerangan, Pelabuhan Banjarmasin pun semakin ramai didatangi. Kapal-kapal bangsa asing penuh sesak merapat di sana. Pedagang Inggris dan Portugis mulai secara terang-terangan melakukan kegiatan dagang. Sementara kehadiran para pedagang Belanda hampir tidak ada. “Rupanya telah menjadi tabiat atau memang sudah menjadi adat kebiasaan bangsa Belanda yang selalu iri hati dalam persaiangan dagang yang banyak menderita kekalahan, tiba-tiba Kompeni Belanda mengirim enam buah kapal perang ke Banjarmasin untuk memusnahkan semua kapal dagang asing yang berada di Pelabuhan Banjarmasin,” tulis buku tersebut. Setelah menciptakan kegemparan, Belanda mengadakan perjanjian dagang dengan Sultan Rachmatullah, dengan ketentuan bahwa penjualan rempah-rempah hanya boleh dilakukan melalui VOC. Jika melanggar, hukuman berat menanti. Setelah perjanjian ditandatangani, pada 1636, VOC mendirikan kantor dagang di Banjarmasin. Praktis semua rakyat harus menjual hasil buminya kepada mereka. Harga juga sudah ditentukan. Nilainya amat memberatkan. Kembalinya para penjajah itu membuat kemalangan bagi rakyat Banjar. Kondisi semacam itu tidak didiamkan saja oleh rakyat Banjar. Kemarahan mereka sudah memuncak. Pada 1638, pemberontakan meletus di pusat Banjarmasin. Seluruh harta benda milik orang-orang Belanda dibakar, termasuk kapal yang bersandar di Kotawaringin. Para pegawai dan serdadu dihabisi. Total ada 64 orang Belanda yang tewas. VOC yang murka segera menghimpun kekuatan. Tetapi saat hendak melancarkan serangan ke dalam kota, mereka seketika mengubah taktiknya.VOC hanya menyiagakan kapal-kapal mereka di lautan. Tujuannya adalah menyergap dan merampas perahu-perahu Banjar yang membawa muatan dagangan. Akibat memanasnya hubungan kedua kubu, perjanjian dagang pun dibatalkan. Inggris yang mengetahui hal itu segera mendekatkan diri. Di bawah pimpinan Sultan Mustainullah, Kesultanan Banjar sepakat menjalin kerja sama dengan Inggris. Tidak lama, Belanda kembali ke Banjarmasin. Diberikannya kesepakat baru, yang salah satu isinya tidak akan melakukan pembalasan atau tuntutan atas peristiwa pemberontakan yang lalu. Belanda juga akan memberikan harga pembelian yang lebih pantas. Sultan setuju dan hubungan dengan Belanda terjalin lagi. Inggris yang juga menjalin hubungan dagang dengan Banjar mendirikan sebuah benteng dan kantor dagang di sepanjang sungai di Martapura. Inggris berusaha memantau pergerakan kapal yang masuk ke Martapura. Di bawah kuasa Sultan Saidillah, Inggris mendapat keleluasaan memonopoli perdagangan lada. Namun ketika Sultan Saidillah digantikan Sultan Tahlilullah, huru-hara terhadap Inggris mulai terjadi. Menurut Vera Damayanti dalam “Identifikasi Struktur dan Perubahan Lanskap Kota Banjarmasin di Masa Kesultanan” dimuat Jurnal Arsitektur Lanskap Vol. 5, Oktober 2019, kantor dagang dan benteng Inggris itu dibinasakan sultan dan rakyat Martapura pada 1707. “Melihat keadaan yang demikian itu, kompeni Belanda sangat bergembira dan dengan demikian Belanda tidak usah mendirikan kantor dagangnya lagi di Banjarmasin untuk mengganti kepunyaan bangsa Inggris sebab mereka yakin bahwa sesudah rusaknya urusan dagang bangsa Inggris, tentu Sultan akan mengirimkan dagangannya ke Batavia, jadi cukuplah menunggu di Batavia saja,” jelas Kementerian Penerangan. Benar saja, sultan segera memutus kontrak dagang dengan Inggris dan menjadikan Belanda satu-satunya mitra dagang mereka. Belanda secara leluasa memonopoli perdagangan rempah di Banjarmasin. Keadaan itu bertahan hingga memasuki abad ke-19. Berakhir ketika Perang Banjar pecah pada 1859.
- Rasisme Sejak dalam Pikiran
Ujaran kebencian berdasarkan rasisme adalah hal yang berbahaya dan masih awet sebagai salah satu warisan kolonial. Hal itu memicu pertanyaan, apakah selama ini masyarakat di negeri ini sudah selesai menjadi bangsa Indonesia sehingga perkara SARA (suku, agama, ras, antargolongan) sudah tidak lagi jadi persoalan dalam berkehidupan sehari-hari? “Jadi kita mewarisi beberapa produk hukum dan aturan setelah Indonesia merdeka dan lebih parah lagi, kita mewarisi cara berpikir kolonial. Tidak dekolonisasi cara berpikir dan produk-produk hukum zaman Belanda masih ada imbasnya,” ujar Bonnie Triyana, sejarawan pemimpin redaksi historia.id . dalam dialog sejarah live “Melacak Akar Rasisme di Indonesia” di akun Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa (9/2/2021) siang. Sependapat dengannya, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Didi Kwartanada menyatakan bahwa jika menarik benang sejarahnya ke belakang, rasisme di Nusantara, rasisme di antara masyarakat berakar kuat sejak munculnya produk hukum Regerings Reglement (RR) tahun 1854. Lewat aturan tersebut pemerintah kolonial Belanda mengkotak-kotakkan golongan masyarakat. Disebutkan Didi, kebijakan RR tahun 1854 itu khususnya untuk memecah-belah status penduduk berdasarkan golongan hukum. Penduduk dibagi menjadi tiga golongan yang berbentuk piramida. Paling atas tentunya golongan Eropa dan Indo Belanda, di tengah-tengah ada golongan timur asing, dan yang paling bawah adalah inlander alias pribumi. “Nah, ini ada kata ‘asing’, aneh sekali. Pembagian ada orang Eropa, paling bawah pribumi. Di tengah kok timurnya timur asing. Jadi sudah dari sananya diasingkan. Memang diposisikan kolonial Belanda jangan sampai si golongan tengah ini menjadi pribumi atau Eropa. Jadinya di tengah-tengah itu ditambah label ‘asing’. Jadi predikat ‘asing’ ini yang selamanya dipertahankan,” kata Didi menimpali. Orang Tionghoa dijadikan minoritas perantara cum kepanjangan tangan kolonial sebagai Majoor de Chinezen of Medan, Khoe Tjin Tek (kiri) dan gambaran rumah besar Majoor de Chinezen of Batavia, Khow Kim An (nationaalarchief/Randy Wirayudha-Historia) Golongan Timur Asing meliputi masyarakat Tionghoa yang berkulit kuning dan bermata sipit. Hanya saja, lanjut Didi, klasifikasi golongan tengah itu tak berlaku pada orang Jepang yang penggambaran fisiknya nyaris serupa dengan orang-orang Tionghoa. “Tetapi klasifikasi itu enggak konsisten. Orang Jepang berkulit kuning, bermata sipit, dimasukkan golongan Eropa. Itu menyulut kejengkelan orang-orang Tionghoa di awal abad ke-20. Seperti kasus ada nelayan Jepang yang ditangkap, atau pekerja seks komersial Jepang yang melakukan kesalahan, itu diadili di pengadilan orang Eropa. Sementara orang Tionghoa masuk ke pengadilan yang sama dengan pribumi, yaitu Landraad ,” imbuh salah satu penulis buku Dilema Minoritas di Indonesia: Ragam, Dinamika, dan Kontroversi tersebut. Dalam praktiknya, diskriminasi rasial itu tidak hanya persoalan hukum. Ayah Didi merasakannya di lapangan pekerjaan. Meski ayahnya punya pendidikan setara SMA di era kolonial Belanda, gajinya sebagai pegawai sebuah hotel terbesar di Jakarta saat itu hanya separuh dari gaji pegawai lain yang berasal dari kalangan Indo-Belanda meski pendidikan mereka hanya setara SMP. “Jadi memang masyarakat di Hindia Belanda dibedakan dari warna kulit dan itu diperkuat diskriminasi yang dibuat golongan Eropa. Di ranah politik juga, orang-orang Indo Belanda punya partai yang rasis, Indo-Europeesch Verbond (IEV). Dari golongan Eropa ‘totok’ pun memiliki Vaderlandsche Club, dedengkot yang sangat memusuhi nasionalisme Indonesia,” tambah Didi. Ironisnya, pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 rasisme itu sendiri juga tak sirna hingga kini. Padahal dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, Sukarno kembali menggaungkan pemikirannya tentang nasionalisme modern untuk masa depan bangsa Indonesia. Pemikiran itu pernah ditulisnya pada 1926 di Soeloeh Indonesia Moeda dengan judul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. “Bangsa itu menurut pujangga ini (Ernest Renan, red. ), adalah suatu nyawa, suatu asas-akal, yang terjadi dari dua hal: pertama , rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat; kedua , rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu. Bukannya jenis (ras), bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya persamaan butuh, bukannya pula batas-batas negeri yang menjadikan ‘bangsa’ itu,” ungkap Bung Karno. Tionghoa Sasaran Empuk Dari serangkaian peristiwa rasisme yang tercatat sepanjang sejarah di Nusantara, orang-orang Tionghoa paling empuk jadi sasaran isu rasisme. Sentimen rasialis itu biasanya dilancarkan pihak tertentu lewat agenda politik identitas demi keuntungan. Pasca-Reformasi pun praktik tersebut masih banyak terjadi. Contoh paling kentara adalah isu tersebut dijadikan “senjata” demi melancarkan agenda tersebut lewat beragam slogan rasis seperti “Aseng”. “Rasisme ini sayang sekali, orang Indonesia menghancurkan kolonialisme tapi di saat yang sama tidak mendekolonisasi pemikirannya. Malah dilanjutkan kita semua. Seperti sekarang ketika politik identitas sedang kencang, kok tiba-tiba seorang gubernur ketika dilantik memberikan pidato (bahwa) pribumi harus jadi tuan di Indonesia. Padahal pribumi itu adalah inlander di masa kolonial. Itu kan membawa permasalahan lama yang sebetulnya sudah dikubur di masa Reformasi tapi atas nama politik identitas, dihidupkan lagi,” sambung Didi. Jika terus dilestarikan dan dipelihara kelompok tertentu, isu rasisme, khususnya terhadap orang-orang Tionghoa, dikhawatirkan akan jadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Itu akan mengulang tragedi-tragedi di masa silam, seperti Geger Pacinan (1740-1743), kerusuhan anti-Cina di Kudus 1918, kerusuhan Tionghoa Benteng di Tangerang pada 1946, persekusi pasca-Peristiwa 1965, dan terakhir pada kerusuhan Mei 1998. Penyebab terjadinya hal itu tak lain adalah dari kebijakan era kolonial, di mana orang-orang Tionghoa diposisikan di golongan tengah sebagai minoritas perantara. Seringkali etnis Tionghoa diposisikan tak hanya sebagai pedagang yang menjembatani antara penyedia barang-barang kebutuhan yang diproduksi orang-orang Eropa kepada masyarakat bumiputera sebagai konsumen, namun dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial dengan pemberian pangkat majoor , kapitein , maupun luitenant der chinezen . “Mungkin akar dari peyoratif atau sebutan ‘Aseng’ dari posisi orang Tionghoa itu sendiri. Middleman minority kalau dalam teori-teori ilmu sosial adalah sekelompok etnis tertentu yang menjalankan pekerjaan kotor di suatu wilayah. Mereka mengisi ceruk yang tidak berkenan dilakukan orang-orang mayoritas karena dianggap profesi yang kotor. Ketika terjadi krisis ekonomi, yang disalahkan juga semua orang Cinanya. Jadi dia rentan karena dihubungkan sebagai economic animal yang memikirkan uang saja,” lanjutnya. Ilustrasi Geger Pacinan pada tahun 1740 (Rijksmuseum) Fenomena rasisme terhadap etnis Tionghoa itu sendiri tak hanya terjadi di Indonesia. Di Malaysia pun rasisme berdasarkan etnis masih sangat kental, tidak hanya terhadap orang Tionghoa, melainkan juga pada pendatang dari India. Rasisme itu justru ikut dipelihara partai penguasa pemerintahan, UMNO (United Malays National Organisation). Sebagaimana Belanda di Indonesia, Malaysia pun melestarikan produk hukum masa kolonial Inggris lewat Article 153 of the Constitution of Malaysia (Undang-Undang Dasar Malaysia, Pasal 153). Pasal tersebut melestarikan mayoritas pribumi Melayu untuk tetap jadi “tuan” di negerinya sendiri. Salah satu ayatnya merinci penerapan kuota untuk penerimaan pegawai pemerintah, penerima beasiswa dan penerimaan di institusi-institusi pendidikan. Tentu mayoritas Melayu diistimewakan ketimbang peranakan Tionghoa maupun India. Akibatnya, klasifikasi masyarakat begitu terasa. Salah satu muara darinya adalah, kerusuhan rasial antara pribumi dan Tionghoa pada 1969 maupun pada 2001. Namun, dalam tataran formal Indonesia selangkah lebih maju. Jika kebijakan rasis di Malaysia masih lestari dalam legislasi, Indonesia justru sudah memiliki Undang-Undang Anti-Diskriminasi Nomor 40 Tahun 2008. “Mungkin secara formal (diskriminasi) sudah tidak ada. Tapi itu tadi, pikiran ditambah politik identitas itu memang jadi bom waktu betul ya. UU-nya sudah ada tapi pola pikirnya justru menghidupkan lagi hantu yang sudah mati. Mestinya Reformasi ini kan segala urusan soal Tionghoa dan non-Tionghoa sudah selesai secara legal. Tapi penegakan hukumnya belum jelas. UU Nomor 40 belum dipatuhi dan konsisten,” sambung Didi. Dari catatannya, Didi belum menemukan satu kasus yang pelakunya dijerat UU Nomor 40 Tahun 2008 itu. Jika pun muncul ujaran kebencian bernada rasis, lazimnya diselesaikan dengan kekeluargaan lewat permintaan maaf dan dirampungkan dengan materai Rp6 ribu. Kalaupun ada, lebih jamak pelakunya dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), mengingat ujarannya dilayangkan melalui media sosial. “Kalau di Amerika ada Anti-Defamation League (ADL). Jadi kalau menghina orang Yahudi atau membangkitkan naziisme, bisa dilaporkan ke situ. Lalu mereka (ADL) mengambil tindakan melaporkannya ke pemerintah. Payung hukumnya jelas. Sementara kita masih abu-abu. Masih bisa minta maaf, posting -an dihapus, seolah-olah selesai,” kata Didi. Sejarawan UGM, Didi Kwartanada ( Historia.id ) Kasus rasisme dan diskriminasi berdasarkan etnis di beraneka sendi kehidupan memang masih terlalu kusut untuk dibenahi. Solutif yang bisa dilakukan untuk memutus rasisme yang lahir dari memori kolektif sejak masa kolonial adalah dengan memberikan kurikulum tambahan di sekolah-sekolah. Dengan memulainya dari usia dini, diharapkan rasisme dalam kehidupan sehari-hari bisa pelan-pelan dihancurkan. Pasalnya isu rasisme di ranah politik juga masih berkaitan dengan segala aktivitas masyarakat sehari-hari yang lazimnya, muncul dari lelucon dan perundungan bernada body shaming. “Dalam keseharian, dalam pertandingan olahraga, tampak perekat kita sebagai bangsa makin kendor, seolah kita tidak saling mengenal satu sama lain. Mungkin ada baiknya isu rasisme ini diajarkan di sekolah-sekolah dalam bentuk kurikulum. Di dalamnya diajarkan bahwa rasisme itu melanggar hukum, bukan bahan candaan. Merundung body shaming lama-lama merambat ke isu rasis yang kulitnya hitam atau matanya sipit. Sebaiknya ditanamkan sedini mungkin di sekolah,” ujarnya. Soal tersebut, Didi teringat dengan pengalamannya saat tinggal Singapura selama beberapa waktu. Didi terkesan dengan kurikulum tentang kemajemukan yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ketika tiba Hari Raya Idul Adha, misalnya, murid-murid non-muslim ikut diajak ke masjid. Di sana sang guru menerangkan dengan bijaksana tentang mengapa umat Islam merayakan hari raya itu. Sebaliknya, murid-murid muslim diterangkan tentang Hari Raya Imlek. “Kita sepertinya terlalu banyak mata pelajaran, sehingga justru yang esensial seperti ini enggak ada. Tujuannya untuk saling memahami dengan lebih baik dan bukan hanya slogan di mulut saja. Padahal harus ditekankan, misalnya, dalam bentuk pelajaran kebhinekaan, di dalamnya dimasukkan bahwa rasisme itu melanggar hukum, jadi bukan joke atau candaan,” papar Didi. Solusi itu, tambah Didi, juga mesti berjalan beriringan dengan kemauan pemerintah menegakkan hukumnya, serta membuka dialog atau diskusi secara terbuka di ruang publik. Menurutnya, ujaran-ujaran kebencian yang belakangan bertebaran di jagat maya adalah efek dari kurangnya forum-forum yang menghadirkan tokoh-tokoh bangsa berbeda etnis untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, berdialog, untuk saling mengenal. “Harus berjalan beriringan ya. Pelajaran di sekolah sampai penegakan hukumnya. Selain itu juga kembali ke pola pikir. Apakah karena kita terlalu sibuk urusan ekonomi jadi masalah national building seperti ini tidak dikawal?” tandasnya.
- A.A. Maramis
Ditunjuk sebagai Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia secara de facto, ia menyusun organisasi Kementerian Keuangan dan memprakarsai pencetakan ORI.
- Mata Uang Asing di Nusantara
Penangkapan Zaim Saidi, pendiri pasar muamalah di Depok, Jawa Barat, mengundang perbincangan panjang di media sosial. Beberapa orang menolak sangkaan polisi bahwa Zaim menggunakan mata uang selain rupiah. Sebagian lagi menilai Zaim menggunakan mata uang selain rupiah untuk bertransaksi di pasar muamalah, yaitu Dinar dan Dirham. Hari ini, mata uang asing jamak beredar di Indonesia. Dari dinar dan dirham Bahrain, dolar Amerika Serikat, Euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, sampai yuan Tiongkok. Semuanya dapat dibeli dan dijual di tempat penukaran uang. Tapi uang itu tak bisa dipakai untuk transaksi di wilayah Indonesia. Ini berbeda dari masa kurun niaga pada abad 16–18. Kurun niaga adalah sebutan untuk masa maraknya perdagangan rempah di Kepulauan Melayu-Nusantara selama abad 16–18. Penemuan rempah-rempah di wilayah timur Hindia mendorong kedatangan pedagang India, Tiongkok, Burma, Arab, Persia, Turki, dan Eropa ke sejumlah kota pelabuhan di Nusantara. Baca juga: Merentang Sejarah Uang Para pedagang datang dengan barang dagangan khas dari negeri asalnya untuk ditukar dengan rempah-rempah. Selain itu, mereka juga membawa mata uangnya masing-masing untuk membeli rempah-rempah. Kedatangan mereka membuat Nusantara penuh dengan beragam mata uang asing. Picis Tiongkok Pedagang Tiongkok membawa mata uang chien dan caixa . Chien terbuat dari tembaga, sedangkan caixa berasal dari timah hitam. Dua mata uang ini beredar secara luas di kawasan Asia Tenggara. “Setidak-tidaknya dari masa aktifnya perdagangan Dinasti Ming pada awal abad ke-15, mata uang tembaga Cina banyak diimpor ke Asia Tenggara,” ungkap Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga . Di kalangan para pedagang di pelabuhan Jawa, mata uang caixa mendapat tempat sebagai alat pembayaran. “Di sana tidak ada mata uang selain mata uang Cina yang dibuat dari tembaga dan dinamakan caixa ,” catat Jan Huygen van Linchosten dalam Itenerario seperti dikutip oleh Ninie Soesanti dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Baca juga: Mata Uang Emas di Nusantara Mata uang Persia, Spanyol, dan Jepang di Batavia. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Sementara di Banten, mata uang Tiongkok dari timah hitam lazim berada di tangan para pedagang. Orang tempatan menyebutnya mata uang picis, sedangkan pedagang Eropa dan Melayu menamainya cash atau cas . Menurut Erwien Kusuma, penulis buku Uang Indonesia Sejarah dan Perkembangannya , penggunaan mata uang ini kali pertama disebutkan pada 1350. Seiring meningkatnya hubungan dagang Nusantara-Tiongkok, mata uang Tiongkok kian populer. Lebih populer daripada mata uang emas. Saking populernya, dua mata uang ini jadi sasaran pemalsuan. Sebab proses pembuatan mata uang picis asli tak terlalu sulit. Peredaran luas mata uang Tiongkok di kalangan para pedagang kemungkinan karena dua sebab. Pertama , mata uang ini “sangat murah sehingga dapat dijangkau oleh rakyat biasa,” ungkap Ninie dan Irmawati. Kedua , para pedagang Tiongkok menyebarkan mata uang ini hingga ke pedalaman untuk membeli cengkeh langsung ke petani. Mata Uang Eropa Setelah picis, mata uang asing lainnya ialah real Belanda. Mata uang ini dibawa oleh para pedagang Belanda dalam Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Bahannya dari perak. Peredaran real Belanda tak seluas picis. Sebab real Belanda memiliki nilai intrinsik tinggi. Tak cocok untuk transaksi kebutuhan sehari-hari. Biasanya real Belanda untuk membeli komoditas dalam jumlah besar. Mata uang Eropa lainnya juga beredar di Nusantara. Namanya cruzado dan berasal dari pedagang Portugis. Cruzado tersebar luas di Maluku. Nilai cruzado lebih tinggi daripada picis atau cash . 1 cruzado setara 500 cash . Untuk penggunaannya, 3 cruzado dapat menebus 1 bahar lada. Berat 1 bahar setara dengan 4 kuintal. Pedagang dari Spanyol tak mau kalah dengan dua rivalnya. Mereka mengedarkan mata uang real dan piaster Spanyol. Real untuk transaksi kecil-kecilan, sedangkan piaster untuk transaksi besar-besaran. Baca juga: Uang Kuno bukan Sembarang Uang Mata uang kuno di Batavia. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Yang unik penggunaan real pernah tercatat di Jawa pada 1650-an. “Sultan Amangkurat I memberi hadiah kepada keluarganya dalam bentuk uang yang jumlahnya 10.000 real ,” ungkap Ninie dan Irmawati. Kesultanan Mataram juga menggunakan real untuk membayar ganti rugi kepada VOC. Pedagang-pedagang Inggris dalam Kongsi Dagang Hindia Timur (EIC) ikut meramaikan peredaran mata uang asing di Nusantara. Mereka memperkenalkan mata uang EIC. Bahan pembuat mata uang EIC terdiri dari empat macam logam: emas, perak, tembaga, dan timah. Yang paling banyak beredar berbahan tembaga. Saat beredar di Sumatra pada awal abad ke-17, uang EIC bermotif aksara Arab dengan bahasa Melayu. Tujuannya agar orang tempatan menerima uang ini. Lambang EIC turut hadir untuk menunjukkan kekuasaannya. Jasa Penukaran Uang Selain mata uang Eropa, mata uang dari Arab dan Persia juga beredar di Nusantara. Mata uang Arab bernama dinar dan dirham, sedangkan mata uang Persia disebut larrins . Dinar dan dirham terbuat dari logam emas, sedangkan larrins dari perak. Keduanya beredar di Kesultanan Pasai, Pedir (Pidie), dan Aceh. Tiga Kesultanan ini kemudian membuat mata uang sendiri dari bahan serupa. Baca juga: Uang Aceh Tak Pernah Lemah Keberagaman mata uang di Nusantara memunculkan jasa penukaran uang. William Dampier, pelaut Inggris, mencatat aktivitas penukaran uang di Pidie. “Penukar uang yang kebanyakan terdiri dari perempuan, yang duduk-duduk di pasar-pasar, di sudut-sudut jalan dengan tumpukan uangnya yang disebut cash dibuat dari timah,” terang Dampier seperti dikutip Uka Tjandrasasmita dalam Kota-Kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi. Seiring surutnya perdagangan rempah pada akhir abad ke-18, matauang asing di Nusantara berangsur menghilang. Setelah abad ke-18, mata uang gulden Belanda menjadi satu-satunya yang harus digunakan untuk bertransaksi demi menjamin kekuasaan Belanda di Hindia.
- Lantai Dansa John Travolta
USIANYA sudah tak lagi muda. Gaya rambut klimis berjambulnya pun sudah tak lagi ada. Namun dengan kepala plontos dan kumis serta janggut sekarang, penampilan aktor watak John Travolta makin berwibawa di usia kepala enam. Kharismanya masih sangat terasa. Siapa tak mengenal John Travolta? Publik mengingatnya sebagai sosok ikonik di film-film komedi dan musikal nan legendaris macam Saturday Night Fever (1977) dan Grease (1978). Jebolan Broadway itu sepanjang lima dekade terakhir sudah membintangi 15 serial televisi dan 65 film, termasuk dokumenter dan film pendek. Meski semua genre pernah ia mainkan, Travolta mengaku paling menikmati peran-perannya di genre komedi dan musikal. “Karena saya menikmati menjadi karakter yang lucu, bernyanyi, dan berdansa ketimbang karakter apapun. Sangat menyenangkan bisa membuat orang-orang ikut tertawa, bernyanyi, dan berdansa bersama,” aku Travolta dalam diskusi “Mola Living Live: John Travolta Speaks to Indonesia” di aplikasi daring Mola TV , Jumat (5/2/2021) malam. John Travolta dalam diskusi Mola Living Live. (Tangkapan layar Mola TV). Lahir di Englewood, New Jersey, Amerika Serikat pada 18 February 1954, anak bungsu dari enam bersaudara pasangan keturunan Italia-Irlandia, Salvatore Travolta dan Helen Cecilia Burke itu sejak kecil sudah gemar mengikuti sang ibu yang sejak muda merupakan aktris dan penyanyi teater dan radio sekaligus guru drama di sebuah SMA. Tak hanya Travolta kecil, empat kakaknya pun mengikuti jejak ibunya dengan masuk panggung drama teater. Maka ketika Travolta memutuskan untuk keluar dari SMA Dwight Morrow demi menseriusi dunia seni peran, sang ibu mendukungnya. “ Well , saya tumbuh di keluarga teatrikal. Jadi sejak kecil impian akan masa depan tak pernah jauh dari dunia teater. Setelah drop out (DO) dari sekolah, saya berharap bisa mencari nafkah sebagai aktor di televisi. Namun seiring waktu, pada akhirnya saya lebih nyaman di layar lebar daripada teater,” imbuh suami dari mendiang aktris dan model Kelly Preston itu. Travolta lantas meniti kariernya ke New York, tepatnya ke panggung teater Broadway. Ia mendapatkan peran pertamanya di drama teater Grease pada Juni 1972. Travolta saat itu mendapat peran pendukung, Doody, bukan tokoh utama Danny Zuko kelak dalam versi layar peraknya. Pada September tahun yang sama, Travolta juga melakoni debutnya di layar kaca lewat drama seri Emergency! Season 2 dalam episode ke-13 bertajuk “Kids” yang ditayangkan stasiun televisi NBC . Kiprahnya di layar lebar baru terjadi tiga tahun kemudian lewat peran pendukung dalam film The Devil’s Rain (1975). Melejit Lewat Musikal Karier Travolta yang biasa-biasa saja itu baru berubah drastis setelah memerankan tokoh utama di film drama musikal Saturday Night Fever (1977) garapan John Badham. Meski berongkos produksi kecil, film itu meledak di pasaran. Karakter Tony Manero si “raja disko” yang dimainkan Travolta dari film itu ia kembangkan lagi ketika membintangi film musikal Grease (1978) sebagai tokoh utama Danny Zuko. “John Travolta menciptakan kembali perannya sebagai Tony Manero (protagonis dalam Saturday Night Fever ) dan judul lagu Grease 100 persen adalah disko; oleh karenanya meski filmnya di- setting era 1950-an, pada dasarnya film ( Grease ) ini adalah Saturday Night Fever II ,” ujar kritikus Stephen Saban, dikutip Peter Krämer dalam ‘Grease Is the Word’: Exploring a Cultural Phenomenon . Sebagaimana Saturday Night Fever , Grease juga meledak di pasaran. Kedua film itu kemudian bahkan menjadi pembentuk pop-culture baru yang mengglobal setelah booming -nya era Elvis Presley pada 1960-an. Selain mem- booming -kan disko, gaya rambut klimis berjambul dan fesyen Danny Zuko yang diperankan Travolta di film itu pun jadi trend-setter buat generasi muda hingga 1980-an. “Padahal awalnya film Saturday Night Fever hanya diharapkan sebagai film drama musikal kecil. Saya sendiri terkejut sampai menjadi fenomena kultur global. Berbeda dengan Grease . Saya tidak terkejut karena memang punya ekspektasi besar filmnya meledak, sebagaimana kesuksesannya di panggung teater Broadway. Saya selalu percaya bahwa Grease akan sukses,” sambung Travolta. Di film itu bahkan Travolta mendapat dua nominasi kategori aktor terbaik di Piala Oscar 1978. Namun sayangnya, penghargaan itu jatuh ke Richard Dreyfuss yang membintangi The Goodbye Girl . “Ketika pertama kali saya dinominasikan dan tak menang, ibu saya berkata: ‘baguslah, nak.’ Ternyata ibu menginginkan saya selalu punya sesuatu untuk dikejar, agar saya bisa terus mengembangkan kemampuan saya dalam berakting,” tambah duda beranak tiga itu. Karier John Travolta meroket lewat film Saturday Night Fever (kiri) & Grease . (Paramount Pictures). Akan tetapi saat memasuki 1980-an, sebagian film yang dibintangi Travolta justru menuai kritik. Termasuk sekuel Grease bertajuk Staying Alive (1983) yang disutradarai Sylvester Stallone. Travolta mengakui era itu kariernya sedang terjun bebas. Karier Travolta baru bangkit pada 1990-an. Itu dimulainya dari menerima tawaran sineas Quentin Tarantino untuk main di film komedi-kriminal Pulp Fiction (1994). Tak mengherankan bila film yang dibintangi jajaran para aktor kondang itu sukses di pasaran. Selain Travolta, Pulp Fiction juga dimainkan Uma Thurman, Samuel L. Jackson, Harvey Keitel, Christopher Walken, hingga Bruce Willis. Di film itu, Travolta dipercaya memainkan peran utama Vincent Vega, kendati bukan pilihan pertama Tarantino maupun produser Harvey Weinstein. Weinstein awalnya menginginkan Daniel Day-Lewis untuk memerankan Vincent Vega, sementara Tarantino menginginkan Michael Madsen. Namun, Madsen menolak karena sudah memilih film lain. Tarantino akhirnya menjatuhkan pilihan pada Travolta. “Saya belum kenal dekat dengan Quentin saat dia menawari saya peran di PulpFiction . Tapi saya terkesan dengan fantasinya terhadap bagaimana ia akan menggarapnya. Dia meng- casting saya sambil makan di restoran Thailand. Seperti bermain dalam sebuah game sembari menguji daya analisis saya dalam hal finansial, jadi semacam audisi saat itu. Akhirnya dia bilang bahwa saya harus memerankan karakter (Vincent Vega) itu,” kenang Travolta. Meledak film itu membuat karier Travolta kembali meroket dan bertahan hingga sekarang yang memposisikan Travolta sebagai satu dari jajaran aktor legenda hidup. Travolta bahkan menerima penghargaan Golden Globe sebagai aktor terbaik di film (komedi) berikutnya, Get Shorty (1996). Setelah sempat turun pamor, karier John Travolta melejit lagi lewat Pulp Fiction (kiri) & Phenomenon. (Miramax/Buena Vista Pictures). Tak ayal ia pun kebanjiran tawaran film yang mesti ia tolak. Film-filmnya yang kemudian tak kalah laris di pasar global adalah American Gigolo (1980), yang dimainkannya dengan Richard Gere; Saving Private Ryan (1998) dan The Green Mile (1999) dengan Tom Hanks-nya. “Saya tidak menyesal menolak film-film itu karena saya mendapat gantinya dengan film yang tak kalah bagus. Saya bukan ingin menolak cerita yang dituliskan untuk saya. Tetapi saya ikut senang Richard Gere dan Tom Hanks punya karier yang hebat karena saya beberapa kali menolak tawaran film-film itu,” cetusnya seraya berkelakar. Dari beraneka genre yang pernah ia mainkan, ada satu film drama yang baginya paling berkesan, yakni Phenomenon (1996). Di film ini Travolta beradu akting dengan aktor kawakan Robert Duvall. Travolta memainkan karakter George Malley, pria yang hidupnya berubah karena punya kemampuan telekinetik. “Sangat mudah beradu akting dengan Robert Duvall. Secara otomatis Anda akan bisa hanyut ke dalam zona dirinya. Filmnya sendiri sangat menyentuh dan membuat saya menangis saat membaca naskahnya. Benar-benar menguras emosi si karakternya. Saya senang dengan karakternya. Saya menangis saat membaca naskahnya dan saat menonton ulang filmnya,” paparnya. Film Trading Paint , The Poison Rose , dan The Fanatic jadi tiga film terakhir Travolta yang dibintanginya pada 2019. Meski belum berniat pensiun, Travolta mengaku ingin vakum setahun terakhir. Terutama sejak meninggalnya sang istri Kelly Preston pada 12 Juli 2020. “Dengan berat hati saya beritahukan bahwa istri saya Kelly telah meninggal setelah bertarung dengan kanker payudara. Dia bertahan dengan berani ditemani cinta dan dukungan banyak orang. Keluarga dan saya pribadi sangat berterimakasih kepada para dokter dan perawat di MD Anderson Cancer Center yang telah membantu di sisinya. Cinta dan hidup Kelly akan selalu dikenang. Saya butuh waktu bersama anak-anak saya yang kehilangan seorang ibu, jadi saya minta maaf jika tak mendengar kabar saya lagi dalam waktu lama. JT,” tulisnya di akun Instagram @johntravolta , 13 Juli 2020. Dansa dengan Putri Diana Selain film, Travolta juga menikmati karier di dunia tarik suara. Sejak 1974 Travolta sudah punya 11 album yang sebagian besar punya benang merah dengan kegemarannya menembangkan musik disko pasca-kesuksesan Grease . Travolta tak tahu bahwa ternyata nyanyian dan tariannya di film itu turut dikagumi mendiang Putri Diana. Mengenang momen itu, Travolta menguraikan bahwa ia pernah mengajak Putri Diana turun ke lantai dansa meski sama sekali tak pernah merencanakannya. Momen itu terjadi di aula pesta Gedung Putih ketika dirinya diundang ke gala makan malam yang dihelat Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan beserta ibu negara Nancy Reagan dalam rangka menjamu kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana, 9 November 1985. “Waktu itu tahun 1985, karier saya sedang turun. Tetapi saya tetap dihubungi Gedung Putih dan mengundang saya untuk bertemu keluarga Kerajaan Inggris. Saya diundang makan malam bersama beberapa selebritas lain. Jujur saya terkesan karena sama sekali tak pernah meminta diundang,” kenang Travolta. Momen dansa itu bisa terjadi atas prakarsa Nancy Reagan. Travolta masih ingat betul ketika ia dihampiri Nancy. “Jam 10 malam itu, Nancy Reagan menepuk pundak saya dan bilang: ‘Bisakah saya bicara sebentar dengan Anda?’ Saya menjawab, tentu saja. Awalnya saya mengira telah melakukan suatu kesalahan. Tetapi dia bilang lagi: ‘Tahukah Anda bahwa sang Putri punya fantasi untuk berdansa dengan Anda? Maukah Anda berdansa dengannya malam ini?’” papar Travolta menirukan Nancy. Tentu saja Travolta bersedia. Nancy Reagan yang akan “mengaturnya”. Dikatakannya bahwa menjelang tengah malam dia akan kembali lagi menghampiri Travolta untuk kemudian mengantarnya menemui Putri Diana. Saat sudah di hadapannya, Travolta diharapkan bisa mengajak Putri Diana ke lantai dansa dengan tutur kata yang sopan. Momen John Travolta berdansa dengan Putri Diana di Gedung Putih. ( utexas.edu ). Hampir dua jam setelah berbicara dengan Nancy, Travolta mengaku bingung ia harus bersikap seperti apa saat nanti berdansa. Ia pun kembali mencoba mengingat gerakan-gerakan untuk berdansa secara formal sebagaimana yang pernah diajarkan instrukturnya dahulu, mengingat ia akan berdansa secara formal dengan iringan musik klasik. “Lalu tengah malam tiba dan Nancy Reagan menepuk pundak saya lagi. Katanya, ‘Sudah waktunya.’ Jantung saya masih berdegup kencang. Nancy lalu mengantar saya dan ketika sudah berhadapan dengan Putri Diana, saya mengatakan, ‘Apakah Anda bersedia berdansa dengan saya?’ Dia mengatakan bersedia,” lanjutnya. Ada kesan berbeda ketika Travolta sudah memegang tangan sang putri. Meski postur mereka hampir sama, toh Travolta tetap merasa “kerdil”. “Tinggi saya enam kaki, beliau hampir sama sebetulnya tapi saya merasa dia punya postur seperti 10 kaki. Mulanya di aula lantai dansa itu ada 10 pasangan, tetapi ketika saya mengajak Putri Diana, semuanya menepi dan membiarkan saya berdansa 15 menit dengan Putri Diana sendirian. Itu momen yang paling saya kenang. Putri Diana terlihat lebih cantik dan berkharisma ketimbang saya melihatnya di layar kaca. Saya merasakan besarnya ketokohan beliau saat itu dan jelas ada sesuatu dalam dirinya hingga bisa dicintai semua orang di dunia,” tandas Travolta.





















