Hasil pencarian
9727 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Awal Mula Profesi Calo Angkot
LAJU kendaraan bermotor di depan pusat belanja Depok Town Square, Jawa Barat, terhambat. Sebuah angkot mendadak banting setir ke kiri untuk berhenti menunggu penumpang. Seorang pemuda menghampiri angkot dan berteriak, “Ayo, Bang! Pal… Pal. Ayo, Bang! Pal… Pal… Jalan duluan!”Angkot pun penuh penumpang. Pemuda menyuruh sopir lekas tancap gas. Sopir memberi pemuda itu Rp2.000. Pemuda mencatat waktu ke berangkatan angkot di buku. Para sopir menyebut si pemuda sebagai timer . Tokoh ini jamak terjumpa di terminal bayangan bus dan angkot di kota-kota besar. Mereka kali pertama muncul di Jakarta pada dekade 1950-an. Bersamaan dengan penggunaan angkutan umum bermotor di Jakarta seperti oplet, taksi, dan bus. “…Pangkalan oplet dan taksi di Jakarta tentu mesti ada calok,” tulis Sunday Courier , 2 Agustus 1953. Majalah Sunday Courier menjadi media pertama yang menggunakan kata “calok” dalam pemberitaan tentang profesi tersebut. Sementara itu Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer menulisnya “calo” tanpa huruf “k”. Calo beroperasi di pangkalan Harmoni, Kebon Jeruk, Sawah Besar, dan Jatinegara. Mereka bekerja dalam kelompok. Bergantian dari pagi hingga malam. Kebanyakan mereka pengangguran. Tekanan ekonomi menjadi alasan mereka menempuh laku sebagai calok. Calo berarti memanggil. “Istilah ini tentu asing buat orang di luar Jakarta. Memang istilah calok cuma spesifik Jakarta… Perkataan sehari-hari orang Jakarta,” tulis Minggu Pagi , 10 Mei 1959. Calo mengandalkan teriakan lantang untuk memanggil penumpang naik oplet. Kesempatan ini terbuka lantaran oplet tak menyediakan papan petunjuk trayek. Calo memandang dirinya sebagai penolong sopir dan penumpang. Sopir terbantu mendapat penumpang, dan penumpang terhindar tersasar atau salah naik angkutan umum.Atas jasa itu, calok meminta bayaran dari sopir. Sopir biasanya menarik ongkos lebih dari penumpang untuk menutup ongkos calo. Kadangkala penumpang menolak membayar ongkos lebih. Ini berarti sopir harus merelakan sebagian penghasilannya untuk calo. Penghasilan calok mencapai Rp50 per hari atau sepertiga dari penghasilan sopir. Calo berkuasa menentukan kapan bus, oplet, dan taksi harus jalan. “Calok berhak menunjuk oplet mana yang harus diisi penuh dulu,” tulis Minggu Pagi. Sopir mesti menurut. Jika melawan, calok bakal memboikot angkutan umum berhenti atau mengambil penumpang di wilayahnya. Calo punya banyak rekan untuk memboikot sopir. Mereka tak segan pakai pendekatan fisik. Sopir angkutan umum dan penumpang menilai kehadiran calo meresahkan. “Lalu-lintas akan lebih aman tanpa calok. Uang pun tidak mesti terbuang ke saku calok, sebab itu bukan semata-mata uang sopir, melainkan uang penumpang juga,” tulis Djaja , 27 April 1963. Menghadapi protes sopir dan penumpang, calo membela diri. “Mesti ada calok, sebab tanpa calok penumpang tidak akan tahu mana bemo yang ke Priok, mana yang Mester atau Harmoni!” tulis Djaja . Pihak berwenang berusaha menghapus calok dengan memberi angkutan umum papan petunjuk trayek. Tapi calok masih bermunculan. Pihak berwenang menempuh cara lain. Mereka menangkap para calo di pangkalan angkutan umum. Lagi-lagi calo bisa berkelit. Calo memindahkan wilayah operasinya. “Di pinggiran kota, misalnya rute Grogol-Tangerang, pemeras-pemeras itu masih merajalela. Bukan saja bus dan oplet, tapi bahkan juga truk-truk menjadi makanan empuk bagi calok yang enak saja menyetop kendaraan dan kemudian menggantikan kenek..,” tulis Kompas , 11 Mei 1968. Memasuki 1990-an, istilah calo berganti timer . “ Timer bermunculan di terminal serta pangkalan kendaraan angkutan umum dalam kota Bekasi,” tulis Kompas , 6 September 1991. Perubahan istilah menandai pula perubahan cara kerja mereka. Tak lagi hanya berteriak memanggil penumpang, melainkan juga mencatat waktu keberangkatan tiap angkutan umum.
- Berburu Teripang ke Negeri Kanguru
BENTUK teripang lonjong dan berlendir, menjijikan bagi kebanyakan orang. Tapi teripang telah menjadi komoditas mahal sejak berabad-abad silam. Dan karena itu pelaut Nusantara mencarinya hingga ke negeri seberang. Juni 1841, Kapten Owen Stanley bersama koleganya, George Windsor Earl, menyusuri perairan utara Australia. Tujuannya meningkatkan aktivitas perdagangan di wilayah permukiman yang baru saja mereka rintis, Port Essington, Semenanjung Cobourg, utara Australia. Mereka sampai di desa Dobbo, utara kepulauan Aru, pada 23 Juni 1841. Di sana mereka bertemu pedagang Makassar dengan perahu besarnya memuat hasil-hasil laut yang akan dijual di Makassar. Salah satunya teripang yang berasal dari Kepulauan Aru dan pantai utara Australia. Sekira 38 tahun sebelumnya, Matthew Flinder, seorang navigator dan pembuat peta, bertemu secara tak sengaja dengan enam perahu di sekitar pantai Arnhem Land sebelah utara Australia. Dia baru saja mengitari perairan tersebut untuk merampungkan pembuatan peta. Berkat bantuan penerjemah, dia berhasil menggali keterangan dari awak perahu. “Pelaut Makassar dengan baik hati menunda perjalanan pulangnya agar bisa memberikan informasi tentang aktivitas pelayarannya,” tulis Denise Russel dalam “Aboriginal-Makassan Interactions in the Eighteenth and Nineteent Centuries in Northern Australia and Contemporary Sea Right Claims”, Australian Aboriginal Studies , 2004/1. Findler lalu mencatat pertemuan tersebut dalam jurnal hariannya yang diterbitkan dengan judul A Voyage to Terra Australis pada 1814. Jurnal itu menjadi catatan awal pertemuan orang Barat dengan pelaut Makassar yang mencari teripang hingga ke pantai utara Australia. Dalam catatannya, Findler melihat pelaut-pelaut itu akrab dengan orang-orang Aborigin. Mereka barter barang. Aktivitas inilah yang membuat beberapa arkeolog dan antropolog, misalnya Baudin, menduga kontak antara orang Makassar dan Aborigin telah terjalin selama beberapa abad sebelumnya. Pendapat ini disandarkan pada bukti arkeologis berupa lukisan perahu dan pelaut Makassar dalam susunan batu di wilayah Yirkalla, di daerah Arnhem Land. A.A Cense dan H.J. Heeren termasuk sejarawan yang meyakini pencarian teripang di pantai utara Australia telah dimulai sejak abad ke-17 atau sebelumnya. Sejarawan maritim A.B. Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan NusantaraAbad ke-16 dan 17 menyebutkan, pada masa itu jejak kembara pelaut Makassar memang telah hampir meliputi seluruh perairan Nusantara. Aceh, Kedah, Kamboja, Kei (Kepulauan Aru) Ternate, Berau (Kalimantan), dan Sulu (Filipina) adalah beberapa wilayah yang dijelajahi pelaut Makassar. Ada kemungkinan mereka juga berlayar sampai Australia dan bertemu dengan orang-orang Aborigin, jauh sebelum orang Barat menemukan benua Australia. Penjelajahan luas pelaut Makassar diakui Anthony Reid, ahli sejarah Asia Tenggara. Tapi pencarian teripang hanya mungkin dimulai ketika pedagang Tionghoa telah mengunjungi Makassar. Sebab, mereka merupakan pembeli utama teripang dari pantai utara Australia itu. “Tidak ada bukti yang menunjukkan pedagang-pedagang Cina pernah berkunjung ke Sulawesi Selatan sebelum abad ke-17,” tulis Anthony Reid dalam Sejarah Modern Awal Asia Tenggara . Pedagang Tionghoa mengunjungi Makassar pada mula abad ke-17 saat Makassar tumbuh sebagai pelabuhan dagang internasional. Pedagang Tionghoa mempercayai khasiat teripang sebagai obat. Selain itu, mereka mengonsumsi teripang sebagai makanan yang bercita rasa ciamik. Mereka berani membeli teripang dengan harga sangat tinggi setelah mengetahui kegunaannya sejak tahun 1500-an. Sementara itu, pelaut Makassar sedia berlayar ke negeri seberang untuk mencarinya. Mereka menyiapkan perahu di musim hujan kala angin bertiup ke arah barat laut, di penghujung tahun, November atau Desember. Mereka mempunyai keahlian membaca arah. Orangtua mereka mengajarkannya secara turun-temurun. Kompas mereka adalah bintang sedangkan petanya bisa berupa intuisi. Mereka juga dibekali dengan kotika tilliq , naskah-naskah dalam bahasa daerah yang membantu mereka mengenali perahu jahat atau baik. Setibanya di Marege –sebutan pelaut Makassar untuk pantai utara Australia– mereka tak selalu disambut dengan baik oleh orang-orang Aborigin. Orang Aborigin di sepanjang pantai utara Australia, dari Cape York hingga Kimberley dan sekitarnya, bukan merupakan kesatuan. Mereka terdiri dari beragam sub-Aborigin. Daerah pulau Melville begitu waspada dengan orang asing dan melarang orang Makassar mencari teripang. Di pulau Tiwi lebih gawat lagi; beberapa orang Makassar terbunuh akibat konflik dengan Aborigin. Sedangkan di Arnhem Land, orang Aborigin menjalin hubungan baik dengan para pelaut Makassar. Orang Makassar mengandalkan kemampuan menyelam orang Aborigin untuk mendapatkan teripang. Selain memakai tenaga orang Aborigin, pelaut Makassar mencari sendiri teripang dengan cara menombak dari perahu. Perairan pantai utara Australia termasuk dangkal. Teripang terbaik seringkali tampak jelas di permukaan sehingga mudah ditombak. Teripang hasil tangkapan kemudian dibelah, dibersihkan, direbus, dan diasapi. Pekerjaan mencari teripang berlangsung selama sekira empat-lima bulan. Para pelaut Makassar bekerja sembari berkomunikasi dengan orang Aborigin. Ini kelak menciptakan peninggalan budaya Makassar di komunitas Aborigin hingga sekarang. Dari bahasa, orang Aborigin mengadopsi kata Balanda untuk memanggil orang kulit putih. Selain itu, kebiasaan orang Makassar memasang tiang layar saat akan pulang di bulan Juli dan Agustus diterapkan orang Aborigin dalam upacara kematian. Sementara orang Aborigin mengajari orang Makassar, yang mereka sebut Manggadjara atau Munanga, cara berburu. Interaksi ini merentang waktu hingga tiga abad lamanya. Heather Sutherland, profesor dari Universitas Vrije, Amsterdam, dalam “Trepang and Wangkang: The China Trade of Eighteenth Century Makassar c 1720s-1840s”, Journal KITLV volume 156 tahun 2000, menyajikan data pengangkutan teripang dari pelabuhan Makassar ke Amoy, sebuah daerah di Tiongkok. Tiap sepuluh tahun jumlah pengangkutan itu meningkat hingga abad ke-19. Melihat peningkatan jumlah itu, Inggris yang telah menjadikan Australia sebagai koloni segera mengeluarkan pembatasan pencarian teripang bagi pelaut dari luar Australia. Inggris memberlakukan surat izin pencarian teripang mulai 1882 dan melarangnya pada 1906. Sejak itu berakhirlah pencarian teripang pelaut Makassar di pantai utara Australia. Meski begitu, mengkonsumsi teripang masih dilakukan sampai sekarang. Harganya pun cukup mahal.
- Saputangan Tanda Cinta
Pada 1927, di usia 19 tahun, Hamka pergi ke Mekah naik kapal Karimata dari pelabuhan Belawan. Di perjalanan, dia mendekati Kulsum, janda muda nan cantik asal Cianjur, yang berdiri di tepi kapal. Keduanya lantas membisu karena tak mengerti bahasa masing-masing. “Namun penglihatan yang sayu dari kedua belah pihak dapatlah menggambarkan apa gerangan yang menggelora dalam hati masing-masing,” kata Hamka dalam otobiografinya, Kenang-kenangan Hidup Jilid I . Hamka kemudian mencabut sehelai saputangan putih yang terlipat rapi dari saku bajunya lalu memberikan kepada Kulsum. Esok harinya, giliran Kulsum yang memberikan saputangan putih berpinggir biru. Sukarta, jemaah asal Cianjur, mendorong Hamka untuk meminang Kulsum. Dia menggaransi orangtuanya yang ada di kapal, pasti akan merestuinya. Namun Hamka tak melakukannya. Saputangan. Ya, ia pernah menjadi tanda cinta sepasang kekasih. Asal-usul saputangan, menurut Stephie Kleden Beetz dalam “Riwayat saputangan, kancing baju, kipas dan payung” Kompas , 21 Agustus 1983, bermula dari para raja, sultan, dan bangsawan di Orient (sebutan tradisional untuk apapun yang dimiliki dunia Timur dalam kaitannya dengan Eropa). Mereka memakai sehelai kain untuk menutupi kepala dari sengatan matahari. Kalau tak dipakai, kain itu diselipkan pada ikat pinggang. Para pelaut memperkenalkannya ke Italia dan Prancis. Di Italia disebut fazzoletto, yang menyebar ke negeri-negeri berbahasa Jerman dengan sebutan fazilettlein sekira tahun 1520. Dua abad kemudian mereka menyebutnya sacktuch , dan pada abad ke-19 kata Jerman untuk saputangan yang dikenal sampai sekarang ialah taschentuch (kain saku). Di Prancis, penamaan saputangan masih berarti sama dengan di Orient, yaitu penutup kepala (couvrir chef). Saputangan kemudian menjadi mode dan menyebar ke Inggris. Lidah Inggris mengubah couvrir chef menjadi kerchief . Namun, mereka bertanya, mana bisa kain sepotong itu untuk menutup kepala dari hawa dingin? Mereka lalu memakai saputangan dengan cara lain; memegang-megangnya di tangan dan sesekali dipakai menyeka hidung dan dahi. “Cara memakai saputangan semacam inilah yang melahirkan kata handkerchief yang terjemahan lurusnya berarti penutup tangan-kepala,” tulis Beetz. “Apakah di Indonesia juga saputangan mula-mula berarti penutup kepala, kurang jelas.” Saputangan untuk menyeka daerah sekitar wajah kemudian menjadi tanda cinta. Hal ini diduga berawal dari drama tragedi Othello yang digubah William Shakespeare, sastrawan tersohor Inggris, sekitar tahun 1603. Saputangan menjadi simbol dominan dalam keseluruhan drama ini. “Othello memberikan saputangan kepada Desdemona sebagai hadiah pertama dan tanda cintanya,” termuat dalam shmoop.com . Tokoh utama Othello, seorang jenderal Moor (Muslim Afrika) yang memimpin pasukan Venesia, menikahi Desdemona. Iago, letnan muda di pasukan Othello sebagai sosok antagonis, membenci Othello karena mempromosikan seorang pemuda, Michael Cassio, menjadi atasannya. Tahu bahwa saputangan itu sangat berharga dan Othello akan marah bila Desdemona tak menyimpannya, Iago membujuk Emilia, istrinya yang jadi pelayan Desdemona, untuk mencuri saputangan itu. Iago juga mengatakan kepada Othello bahwa Cassio dan Desdemona menjalin asmara, dengan bukti sebuah saputangan. Othello percaya dan membunuh Desdemona. Emilia sadar telah diperalat suaminya dan menceritakan semuanya. Othello menyesali perbuatannya dan bunuh diri. Sedangkan Iago diadili dan Cassio diangkat menjadi gubernur Siprus. Drama Othello pernah dipentaskan pada peresmian Gedung Teater Kota ( Stadsshouwburg ) –kini Gedung Kesenian Jakarta– pada Desember 1921. Sebagai simbol cinta, saputangan juga tersua dalam berbagai karya seni. Sebut saja novel Cinta Tanah Air (1944) karya Nur Sutan Iskandar, lagu Saputangan dari Bandung Selatan (1946) karya Ismail Marzuki, dan film Saputangan (1949) besutan sutradara Fred Young. Saputangan sebagai tanda cinta bertahan lama, namun kemudian berakhir. Sebuah mitos dimunculkan bahwa hubungan akan putus bila sepasang kekasih bertukar kain, seperti saputangan. Barangkali mitos ini mengacu pada kisah tragis Othello.
- Kiamat Kian Dekat
RENCANA besar Amerika Serikat untuk memodernisasi persenjataan nuklirnya, sebagai respons atas gencarnya intervensi Rusia di Ukraina sejak Februari 2014, membuat para ilmuwan Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) memajukan waktu “jam kiamat” menuju pukul 23:57. “Masalah perubahan iklim yang kian tak teratasi, modernisasi senjata-senjata nuklir secara global, dan penyimpanan senjata-senjata nuklir yang kian besar menimbulkan ancaman luar biasa dan tak terhindarkan bagi kelangsungan hidup umat manusia, dan para pemimpin dunia telah gagal untuk bertindak cepat dalam skala yang dibutuhkan untuk melindungi rakyatnya dari potensi kehancuran massal,” demikian pernyataan BAS dalam “2015: It is 3 Minutes to Midnight” dimuat situs resminya, thebulletin.org (2/2). Jam kiamat (Doomsday Clock) ialah instrumen kiasan para ilmuwan atom di BAS untuk menunjukkan sudah sedekat mana kehancuran peradaban manusia. Para ilmuwan yang tergabung dalam sebuah dewan, termasuk di dalamnya para penerima hadiah Nobel, mendasarkan tiap keputusannya dengan melihat situasi politik dan dinamika persenjataan nuklir dunia. Jika jarum jam sudah menunjukkan tengah malam atau pukul 24.00 tepat, mereka menafsirkannya sebagai pertanda kehancuran umat manusia yang sesungguhnya. Sejarahnya bermula selepas Perang Dunia II. Merespons tingginya minat terhadap isu bom atom selepas kejadian di Hiroshima dan Nagasaki, sekumpulan ilmuwan yang sebelumnya terlibat dalam proyek Manhattan menerbitkan jurnal sebagai sarana pencerahan publik. Jurnal berbentuk buletin tersebut, BAS , kemudian didirikan pada 1945 di Universitas Chicago, Amerika Serikat, dengan konten utama mengenai isu-isu nonteknis dan perkembangan teknologi nuklir. Jam kiamat mulai diperkenalkan pada 1947 sebagai sampul depan buletin dengan waktu awal pukul 23:53. Sejak diperkenalkan, publik sudah diberitahukan betapa dekatnya mereka dengan malapetaka. Menyusul semakin tingginya tensi Perang Dingin, jarum menit kian dekat dengan tengah malam. Pada 1949, BAS memutuskan mengubah waktu ke pukul 23:57 usai Uni Soviet melakukan ujiledak bom atom pertama. Tahun 1953, bergerak lagi ke pukul 23:58 sebagai respons atas serangkaian ujicoba bom termonuklir oleh Amerika dan Soviet. Sebaliknya, ketika tensi Perang Dingin mulai menurun pada 1990-an, jarum jam pun mundur ke belakang. “Dari tahun 1991 sampai awal 1998, jarum jam berubah-ubah dari 14 sampai 17 menit sebelum tengah malam, yang secara simbolis menunjukkan kelegaan bahwa kita (umat manusia) tidak lagi berada di ujung tanduk peperangan,” tulis Paul Halpern dalam Countdown to Apocalypse: A Scientific Exploration of the End of the World . Memasuki abad ke-21, jarum jam kembali maju setelah negara-negara Dunia Ketiga seperti India, Pakistan, dan Korea Utara mulai aktif mempersenjatai diri dengan teknologi nuklir. Ditambah, pada 2007 perubahan iklim global yang kian rawan turut disertakan sebagai salah satu sumber potensi kehancuran umat manusia, 60 tahun setelah jam kiamat kali pertama diperkenalkan. “Mereka menyebut ancaman pemanasan global sebagai ‘zaman nuklir kedua’, yang menegaskan bahaya perubahan iklim ‘sama mengerikannya dengan ancaman senjata nuklir’,” tulis Paul Dukes dalam Minutes to Midnight: History and the Anthropocene Era from 1763 . Saat ini, waktu telah diatur menunjukkan 3 menit sebelum tengah malam; salah satu yang terburuk di masa kontemporer. Terakhir kali jam kiamat diatur pada waktu tersebut adalah tahun 1984, ketika hubungan Amerika dan Soviet memanas akibat perang di Afghanistan. Apakah ini berarti umat manusia memang sudah begitu dekat dengan kehancuran? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
- Pertokoan Mati di Cikini
PAGI hingga sore, pertokoan Hias Rias Cikini sepi. Namun, di malam hari, halaman depan pertokoan tua tersebut ramai oleh para pedagang yang berjualan ragam kuliner. Mereka menjajakan makanan dan minuman di tenda-tenda lesehan. Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an mengenang, pertokoan Hias Rias Cikini dibangun di atas lahan bekas Pasar Cikini lama yang pindah ke Pasar Cikini baru yang kini menjadi perkantoran, pertokoan emas, Pasar Kembang, serta pasar kebutuhan pokok yang berada di basement Cikini Gold Center. Pertokoan Hias Rias Cikini dibangun awal 1960-an pada masa Gubernur DKI Jakarta Soemarno Sosroatmodjo. Pemerintah daerah (pemda) bekerjasama dengan pihak swasta gencar melakukan pembangunan, terutama untuk menunjang kegiatan ekonomi. Soemarno membentuk Panitia Pembangunan Pasar dan Toko sebagai upaya mendorong pertumbuhan perdagangan eceran. Panitia tersebut diketuai H. Tb. Mansur. Dalam otobiografinya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya , Soemarno menjelaskan, proyek pembangunan pertokoan didanai pemda dan dikelola Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang baru berdiri dengan modal dari pemda dan perusahaan asuransi Bumiputera. Sementara itu, menurut buku Jakarta: 50 Tahun dalam Pengembangan dan Penataan Kota yang disusun Dinas Tata Kota DKI Jakarta, pembangunan pertokoan Hias Rias Cikini sendiri dilaksanakan PN Pembangunan Perumahan. Pada masa kejayaannya, pertokoan yang berada tak jauh dari Stasiun Cikini ini menjadi salah satu pusat butik pakaian, sepatu, dan alat-alat kecantikan. Selain itu, terdapat pula toko eceran dan sarana perbankan sebagai penunjang. Memasuki tahun 1990-an, maraknya pusat perbelanjaan modern mematikan pusat pertokoan lama, termasuk Hias Rias Cikini, yang kalah bersaing. Kini, pertokoan Hias Rias Cikini tak lagi beraktivitas. Bangunan tua yang tidak terawat itu hanya menyisakan poster-poster iklan dan papan neonbox toko yang tak lagi menyala. Rencananya, pertokoan ini akan diperbaiki untuk kemudian dijadikan kantor PD Pasar Jaya yang sejak berdiri tahun 1966 menjadi pemegang wewenang pengurusan pasar serta fasilitas perpasaran di wilayah DKI Jakarta.
- Nurtanio, Patriot Udara Indonesia
PADA 1 Agustus 1959, FAR Eastern Aero Technical Institute (FEATI), Manila, Filipina, memberi penghargaan kepada alumninya asal Indonesia, Kolonel Nurtanio Pringgoadisurjo, berupa Distinguish Achievement Medal. Penghargaan disematkan Wakil Presiden FEATI G.Y. Zara. “Keahlian dan prestasi yang ditunjukkan oleh Kolonel Nurtanio telah membangkitkan rasa bangga, bukan saja bagi rakyat Indonesia, bahkan juga bagi rakyat-rakyat Asia umumnya serta mengangkat tinggi martabat dan gengsi bangsa Indonesia khususnya,” ujar Zara, diberitakan majalah Varia , Januari 1965. Nurtanio lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, pada 3 Desember 1923. Sejak kecil, dia tertarik dunia teknik. Dia memilih keluar saat duduk kelas dua Algemeene Middlebare School (AMS) atau sekolah menengah atas di Semarang pada 1940 untuk masuk Sekolah Teknik (Instituut voor Electrotechnisch Vak Onderwijs/IVEVO). Dia lulus pada 1945. Nurtanio bergabung dengan AURI pada Desember 1945. Dengan pangkat Opsir Muda Udara setara Letnan Udara II, dia ditempatkan pada bagian Rentjana/Konstruksi di Maospati, Madiun. Bersama Wiweko Soepeno –kelak menjadi pionir pencipta pesawat berkokpit tiga awak– dan J. Sumarsono, dia mengubah gudang kapuk di Magetan menjadi bengkel. Di tempat inilah mereka menghasilkan pesawat layang Zogling dengan kode NWG-1 (Nurtanio-Wiweko Glider). Nurtanio sukses mengujicoba pesawat tersebut. Melihat bakat dan tekad Nurtanio, AURI mengirimnya ke Filipina pada Juli 1948. Dua tahun kemudian, setelah menggondol Bachelor in Aeronotical Science dari FEATI, dia kembali ke tanah air dan pindah tugas ke Djawatan Tehnik Udara di lanud Husein Sastranegara dengan pangkat letnan I. Pada 1954, Nurtanio berhasil membuat Si Kumbang, pesawat dalam negeri pertama yang bahannya seratus persen logam. Pesawat tempur antigerilya itu diproduksi tiga buah. Tes terbang perdananya pada 1 Agustus 1954. “Si Kumbang diterbangkan untuk pertama kalinya oleh seorang ‘test pilot’ profesional berkebangsaan Amerika,” tulis Chappy Hakim dalam Awas Ketabrak Pesawat. Nurtanio menciptakan pesawat latih Belalang pada 1958 untuk pendidikan penerbangan. Dia menguji terbang pada 26 April 1958. Dia memperbaiki kekurangan-kekurangannya sehingga kecepatannya mencapai 144 km per jam. Setelah itu, tiga Belalang diproduksi dan dikirim ke sekolah penerbangan AU di Yogyakarta dan Curug, Tangerang, dan sekolah penerbangan AD di Semarang. PAda tahun yang sama, Nurtanio juga menciptakan pesawat Si Kunang untuk olahraga. Pesawat berbadan kayu ini menggunakan mesin Volkswagen 25HP berkapasitas 1190cc. Eksperimen Nurtanio berlanjut dengan beberapa pesawat ciptaannya seperti Gelatik, Benson ( gyrocopter ), dan helikopter Kepik. Pencapaian itu berbanding lurus dengan kariernya. Setahun setelah pulang dari Filipina, dia memegang berbagai jabatan: mulai dari kepala Djawatan Tehnik Udara sampai anggota Dewan Perancang Nasional. Bersama beberapa perwira AURI lain, seperti Wiweko Soepono dan Halim Perdanakusuma serta dibantu Prof. Rooseno, dia membenahi tata kepangkatan AURI. Atas pencapaian-pencapaian itu, Kementerian Pertahanan memberinya penghargaan pada 17 Februari 1959. Sewaktu Menteri/KSAU Suryadi Suryadarma membentuk Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (Lapip) pada 1 Agustus 1960, Nurtanio menjadi salah satu pendirinya. Bersama perwira-perwira lain dari berbagai angkatan, dia juga dipercaya membesarkan Panitia Industri Angkatan Perang yang didirikan KASAB Nasution. Nurtanio merintis kerjasama dengan berbagai pihak, yang terpenting dengan CEKOP, pabrik pesawat terbang Polandia. Kontrak kerjasama itu berjalan setelah pemerintah membentuk Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat Terbang (Kopelapip) –terdiri dari Lapip dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari– pada 1965. Kesepakatan dalam kontrak kerjasama itu meliputi pembangunan pabrik, pelatihan karyawan, dan lisensi produksi pesawat PZL-104 Wilga. Selain dengan CEKOP, Kopelapip juga bekerjasama dengan Fokker, perusahaan pesawat terbang Belanda. Kopelapip memproduksi pesawat Gelatik, nama Indonesia PZL-104 Wilga yang diberikan Presiden Sukarno, sebanyak 44 unit. Meski mengotaki beberapa pesawat buatan dalam negeri, Nurtanio tetap rajin menerbangkan pesawat. Bahkan, dia bercita-cita terbang nonstop Sabang-Merauke. Pada 21 Maret 1966, dia dan kopilot Soepadio mengudara dengan Super Aero-45, berkeliling kota Bandung. Namun baru tiga menit di udara, satu mesin tiba-tiba mati sehingga pesawat kehilangan tenaga. Pesawat menghantam bangunan dan pecah berkeping-keping. Nurtanio dan Soepadio tewas seketika. Dunia penerbangan kehilangan dua pionir penerbangannya. B.J. Habibie, yang kemudian dipercaya pemerintahan Soeharto mengembangkan industri penerbangan, mengabadikan nama Nurtanio untuk lembaga yang dipimpinnya: Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).
- Sitor Situmorang Kembali ke Tanah Kelahiran
Tiba di Indonesia Senen lalu (29/12), jenazah penyair Sitor Situmorang disemayamkan di Galeri Nasional, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sebelum dibawa ke tanah kelahirannya. Kerabat, rekan seniman, dan menteri menyambut jenazahnya. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan Sitor Situmorang adalah salah satu tokoh yang terimbas pertarungan ideologi di Indonesia pada 1960-an. Meski demikian, kepulangan jenazahnya ke Indonesia menjadi penyatu dari perbedaan. “Pikiran boleh beda, ideologi boleh beda. Dan kita di sini untuk menghormati Sitor. Atas nama pemerintah Indonesia, kami menyampaikan duka mendalam,” ujar Anies. Setelah sambutan Anies, sahabat dan rekan bergantian mengucap kata perpisahan. Sukmawati Sukarnoputri, putri Sukarno, membacakan puisi Sitor yang ditujukan kepada ibunya Fatmawati berjudul "Jakarta Dinihari 17 Agustus 45": … Lama didambakan/menjadi kenyataan/wajar, bebas/seperti embun/seperti sinar matahari/menerangi bumi/di hari pagi/Kemanusiaan/Indonesia Merdeka/17 Agustus 1945 . Sitor lahir pada 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Pendidikannya sekolah dasar pribumi (Hollands Inlandse School) di Sibolga, sekolah menengah pertama (Meer Uitgebreid Lager Ondewijs) di Tarutung, dan sekolah menengah atas (Algemeene Middelbare School) di Jakarta. Pada awal kemerdekaan, Sitor memulai karier sebagai wartawan. Pada 1947, dia menjadi pemimpin redaksi harian Waspada di Medan. Saat bekerja di Waspada , dia bertugas sebagai koresponden untuk mengikuti perundingan Indonesia-Belanda di Yogyakarta pada 1948. Dia terseret dalam revolusi kemerdekaan ketika agresi Belanda II. Dia ditangkap Belanda dan dibui di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Pada 1950, Sitor pergi ke Belanda dan tinggal di Amsterdam selama setahun. Lalu dia bekerja di kedutaan Indonesia di Paris. Sekembalinya ke Indonesia pada 1953, dia melahirkan banyak puisi. Dia menerbitkan antologi puisi Surat Kertas Hidjau (1953) dan setahun kemudian antologi puisi Dalam Sadjak dan Wadjah Tak Bernama . Puisi “Lagu Gadis Itali” dalam Surat Kertas Hidjau , melukiskan keindahan teluk Napoli. Penyair Taufik Ismail membuktikan sendiri keindahan teluk itu saat berkesempatan ke Amerika Serikat, sekira September 1956. “Kelas 3 SMA dapat beasiswa ke Amerika. Ke sana naik kapal laut, kemudian bertukar kapal di Napoli. Begitu masuk Napoli, buku Sitor saya pegang, dan saya baca. Indah sekali,” kenang Taufik kepada Historia . Taufik, yang pernah berseberangan ideologi, merasa kehilangan Sitor. Menurut Maman S. Mahayana dalam Akar Melayu , ciri khas puisi-puisi Sitor adalah tema-tema yang menggambarkan keterasingan dirinya dalam memasuki kembali dunia masa lalunya. “Sitor merasa keasingan dan kesepian yang mendalam, seperti bunga di atas batu/dibakar sepi (“Bunga”) atau sunyi terbagi/jadi percakapan seorang diri/antara mata (“Kawan”). Beberapa puisi pendeknya juga mengisyaratkan hal demikian,” tulis Maman. Tidak hanya puisi, Sitor juga menulis drama berjudul Jalan Mutiara (1954). Cerpennya Pertempuran dan Salju di Paris (1956) memperoleh penghargaan Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada 1955-1956. Sitor kemudian berpolitik praktis. Dia menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), dan pada 1959 membentuk dan memimpin Lembaga Kebudayaan Nasional, underbouw PNI. Hal ini, menurut Ajip Rosidi, mempengaruhi karya-karyanya. "Kelincahan dan kemerduan yang tadinya terdapat dalam sajak-sajaknya diganti dengan bahasa bombastis dan slogan-slogan murah. Hal mana nampak sekali dalam sajak-sajaknya yang terkumpul dalam kumpulan yang berjudul Zaman Baru (1962)," tulis Ajip dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia . Pasca Gerakan 30 September 1965, Sitor yang Sukarnois dipenjara selama delapan tahun (1967-1975) oleh rezim Orde Baru tanpa pengadilan. “Bapak mertua saya selalu menceritakan sosok Sitor Situmorang. Kalau tidak salah dia juga mendorong pembebasan Sitor dari penjara,” kenang Nano Riantiarno, pendiri teater Koma yang juga menantu tokoh nasionalis Abdul Madjid. Usai dibebaskan, Sitor kembali berkarya. Kumpulan puisinya Dinding Waktu terbit pada 1976. Kumpulan sajaknya Peta Perjalanan (1977) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1976-1977). Sejak 1984 Sitor bermukim di Belanda bersama istri keduanya, Barbara Brouwer. Sesekali kembali ke Indonesia. Dia masih terus menulis hingga usia 80-an. Dia meninggal dunia pada 21 Desember lalu dan akan dimakamkan sesuai wasiatnya dalam sajak "Tatanan Pesan Bunda": Bila nanti ajalku tiba/ Kubur abuku di tanah Toba/ Di tanah danau perkasa/ Terbujur di samping Bunda.
- Cerita Panji di Candi Miri Gambar
SEMULA penduduk desa Miri Gambar, kecamatan Kali Dawir, Tulungagung selatan, meyakini relief pada panel Candi Miri Gambar menceritakan Anglingdharma , kisah seorang raja yang mengerti bahasa hewan. Hal itu disandarkan dari relief pada dinding teras II yang memuat adegan cerita binatang. Keyakinan itu diperteguh hasil identifikasi Maria J. Klokke, arkeolog Belanda, pada 1990, terhadap tiga panel relief dinding II yang menggambarkan adegan hewan: burung bangau, ikan, dan kepiting. Menurutnya dalam The Tantri Relief on Ancient Javanese Candi , adegan itu mungkin berasal dari cerita Tantri Kamandaka . Pada dasarnya Tantri Kamandaka , yang berisi ajaran moral dalam bentuk cerita binatang, merupakan salah satu naskah Jawa berbentuk prosa yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan. Naskah ini kemudian diterjemahkan C. Hooykaas ke dalam bahasa Belanda dan diterbitkan dalam Bibliotheca Javanica 2 tahun 1931. Selain Tantri Kamandaka , Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan terdapat pula cerita Panji yang dipahatkan pada relief di dinding teras I sisi utara bagian depan candi itu. Terdapat empat figur: dua perempuan di tengah saling berhadapan dan dua sosok pria masing-masing berada di belakangnya. Salah satu figur pria yang berada pada bingkai bagian kanan memiliki gambaran khas dengan penutup kepala tekes (mirip blangkon tapi tanpa tonjolan di belakang). Relief itu menggambarkan salah satu episode cerita Panji. Simpulan itu didapatkan setelah membandingkan figur pria dengan penutup kepala tekes dan adegan-adegan sejenis di Candi Gajah Mungkur dan Candi Kendalisada di Mojokerto, Jawa Timur. “Hanya saja belum dapat diidentifikasi secara khusus kisah Panji mana yang menjadi acuannya, mengingat cukup banyak versi cerita Panji yang ada,” tulis Agus Munandar, “Tinjaun Ringkas Candi Miri Gambar,” termuat dalam Catusphata Arkeologi Majapahit . Dari tinggalan arkeologis secara jelas dibuktikan bahwa kisah Panji telah dikenal pada zaman Majapahit. Data itu tersua pada relief cerita pada candi-candi era Majapahit. Belum ditemukan data arkeologis yang lebih tua dari zaman itu. “Relief cerita Panji tertua yang dapat diketahui dipahatkan di Candi Miri Gambar, Tulungagung,” tulis Agus Munandar. Candi Miri Gambar diperkirakan dikenal sejak awal berdirinya Majapahit, dan terus digunakan melampaui zaman kegemilangan, hingga periode awal kemerosotan Majapahit di bawah kekuasaan Wikramawarddhana (1389-1429 M), menantu Hayam Wuruk. N.J. Krom, ahli Jawa Kuno berkebangsaan Belanda, dalam Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst , menyatakan pernah ditemukan prasasti tembaga di sekitar Candi Miri Gambar yang menyebut nama raja Wikramawarddhana dari Majapahit, namun prasasti itu tidak pernah diketahui lagi keberadaanya. “Kisah panji yang paling awal sangat mungkin dituliskan dalam zaman keemasan Majapahit atau segera sesudahnya, penyebarannya ke luar Jawa bagian timur sangat mungkin berlangsung di akhir zaman Majapahit dan zaman-zaman sesudahnya,” tulis Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji Dalam Perbandingan . Agaknya sejak zaman keemasan Majapahit terdapat suatu genre susatra baru yang bukan saduran dari epos Ramayana dan Mahabharata India, bukan pula menguraikan kisah para ksatria India, “melainkan kisah tentang para ksatrya Jawa Kuno sendiri, di alam geografi Jawa dan uraian peristiwanya tentang putra-putri raja-raja Jawa, itulah cerita Panji,” tulis Agus Munandar dalam “Makna Kisah Panji” dikutip dari Prosiding Cerita Panji Sebagai Warisan Dunia . Tokoh utama dalam cerita Panji adalah Panji (Inu Kertapati), seorang pangeran dari Jenggala, dan Sekartaji atau Candrakirana, putri kedaton Kadhiri, dengan latar tempat Jenggala, Kadhiri, Urawan, Singasari, dan Gagelang. Nama Panji berasal dari kata panji atau apanji atau mapanji , yang dalam bahasa Jawa Kuna merupakan gelar bangsawan tertinggi. Beberapa tokoh historis yang menggunakan gelar itu ialah Panji Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang, serta Sang Mapanji Angragani, patih Singhasari yang memimpin Pamalayu pada zaman Kretanagara, raja terakhir Singhasari.
- Sarengat yang Melesat
INDONESIA pernah mengalami “zaman perunggu” ketika hanya berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Asian Games. Namun semuanya berubah pada 1962. Salah satunya berkat medali emas yang disumbangkan Mohammad Sarengat. Sorip Harahap, penulis buku Asian Games I-X (KONI Pusat, 1987), menyebut “zaman perunggu” untuk merujuk tiga Asian Games yang diikuti Indonesia sebelum 1962. Zaman itu berubah ketika Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Peringkat Indonesia melonjak dari 14 pada Asian Games III di Tokyo menjadi runner up dengan 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Ini melampaui target yang dipatok; hanya lima besar. Sprinter Mohammad Sarengat menyumbangkan dua medali emas dalam cabang lari 100 meter dan lari gawang 110 meter serta perunggu di nomor 200 meter. Selain menjadi pelari tercepat di Asia, dia memecahkan rekor Asia untuk lari gawang 110 meter dengan waktu 14,4 detik dan lari 100 meter dengan 10,5 detik, mematahkan rekor sprinter Pakistan, Abdul Khalik, dengan 10,6 detik pada Asian Games II di Manila, Filipina. “Bertahun-tahun nama Sarengat melegendaris di dunia atletik, dan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia,” tulis buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah 1945-1965. Sarengat lahir di Banyumas, 28 Oktober 1940. Dia menyelesaikan sekolah dasar dan menengah pertama di Pekalongan, lalu melanjutkan sekolah menengah atas di Jakarta. Sejak SD hingga SMA, dia menjadi kiper kesebelasan sepakbola di sekolahnya. Karena jenuh kerap menghuni bangku cadangan di klub Indonesia Muda Surabaya, dia iseng terjun ke atletik. Ternyata di cabang ini bakatnya. Kegigihannya berlatih, apalagi ketika ikut pelatnas untuk Olimpiade 1960, membuatnya tidak lulus SMA pada 1959. Dia baru lulus SMA pada 1961. Menurut Ensiklopedi Jakarta , Sarengat bingung melanjutkan pendidikannya karena masalah biaya. Letnan Jenderal GPH Djatikusumo, mantan kepala staf Angkatan Darat (AD) pertama, menyarankan Sarengat masuk dinas AD. Sarengat pun mendapatkan beasiswa masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di tahun pertama tidak naik tingkat karena ikut Asian Games IV. Dia baru menyelesaikan pendidikan dokter pada 1971. Sarengat adalah contoh atlet yang baik. Dia berpretasi dalam bidangnya dan menyelesaikan pendidikan dokter. Sarengat mundur dari gelanggang atletik sejak Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada 1963 di Jakarta. Dia kemudian menjadi dokter tentara AD dengan pangkat terakhir kolonel CKM (Corps Kesehatan Militer). Ketua tim dokter kepresidenan, Brigjen dr. Rubyono Kertapati, mengusulkan tiga dokter, salah satunya Sarengat, sebagai dokter pribadi Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978) dan kemudian Wakil Presiden Adam Malik (1978-1983). Selepas itu, Sarengat kembali berkiprah dalam dunia keolahragaan. Kali ini, dia sebagai ketua bidang pembinaan prestasi PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dan sekretaris jenderal KONI Pusat (1986-1990). Di juga pernah menduduki kursi anggota MPR RI tahun 1987. Sarengat mendirikan Sports Campus Wijaya Kusuma (SCWK), klinik rehabilitasi pengguna narkoba. Klinik ini dia bangun setelah anak lelakinya terjerat narkoba dan berhasil disembuhkan. “Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Mahaesa karena telah menyelamatkan anak saya, saya akan mendedikasikan hidup untuk membantu dan mencegah orang lain menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” kata Sarengat, dikutip The Jakarta Post , 19 Oktober 2001. SCWK menekankan pentingnya olahraga sebagai bagian penting dari proses rehabilitasi. Penghuni klinik dapat memilih olahraga basket, sepakbola, bolavoli, tenis, dan beladiri. “Kami sangat percaya pada filsafat mensana in copore sano (jiwa yang sehat berada dalam badan yang sehat),” kata Sarengat. Pada 2009, Sarengat terserang stroke dan komplikasi penyakit. Dia, yang pernah menjadi manusia tercepat di Asia, wafat pada 13 Oktober 2014.
- Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen
SEJAK era reformasi, nama-nama gedung di kompleks DPR/MPR bernama Nusantara I sampai V. Pada masa pemerintahan Soeharto, yang kental dengan nuansa Jawa, nama-nama gedung dan ruangan itu berasal dari Sanskerta. Gedung DPR/MPR dibangun atas perintah Sukarno. Semula ditujukan untuk penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefo). Proyeknya digarap pemenang sayembara, yaitu tim dari Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang dipimpin Sujudi Wirjoatmodjo, arsitek jebolan Technische Universitat Berlin Barat. Pemancangan tiang pertama pada 19 April 1965. Pembangunan terhenti karena meletus peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pada 9 November 1966, Soeharto, sebagai ketua Presidium Kabinet Ampera, menginstruksikan untuk melanjutkan proyek gedung Conefo, namun peruntukkannya akan menjadi gedung parlemen. Keputusan ini diambil setelah proyek peremajaan gedung DPR GR di Lapangan Banteng, terhenti. Menteri Pekerjaan Umum menerjemahkan instruksi Soeharto dengan membubarkan Komando Proyek New Emerging Force dan membentuk badan pelaksana bernama Proyek Pembangunan Gedung DPR/MPR RI. Secara bertahap, pembangunan gedung selesai dan diserahkan kepada Sekretariat Jenderal DPR: Main Conference Building pada Maret 1968, Secretariat Building dan Gedung Balai Kesehatan (Maret 1978), Auditorium Building (September 1982), dan Banquet Building (Februari 1983). Pemberian nama gedung yang semua pakai bahasa Inggris kemudian diubah menggunakan bahasa Sansekerta: Grahatama, Lokawirabasha Tama, Pustakaloka, Grahakarana, dan Samania Sasanagraha. “Yang jelas semua menggunakan bahasa Sanskerta yang amat sulit bahkan untuk orang Jawa, apalagi mereka yang datang dari seberang,” tulis Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi . Tak jarang, nama-nama ruangan ini salah diucapkan oleh anggota parlemen. Salim Said mencontohkan Ismail Hassan Metareum, ketua Partai Persatuan Pembangunan yang juga wakil ketua DPR/MPR, dalam sebuah sidang salah menyebut ruang utama paripurna sebagai ruang Kartasasmita , yang disambut tawa anggota parlemen. Maklum, Kartasasmita adalah nama keluarga Ginandjar, tokoh politik terkemuka saat itu. Pada 1998, gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa, Orde Baru pun tumbang. Semua hal yang berbau Orde Baru mulai digugat. Termasuk dominasi bahasa Jawa. Beberapa waktu berselang, muncul usulan dari anggota DPR/MPR untuk mengubah nama-nama gedung dan ruangan tersebut. “Saya mengusulkan perubahan dan penyederhanaan nama ruang rapat di gedung DPR,” tulis Salim Said, yang di awal reformasi menjadi anggota Badan Pekerja MPR. Salim Said lalu membuat dan mengedarkan petisi mengenai perubahan nama. Setelah berhasil menghimpun hampir 300 tanda tangan anggota parlemen, dia menyerahkan petisi itu kepada Afif Ma’roef, sekretaris jenderal DPR/MPR, pada September 1998. Menurut Afif Ma’roef, usulan perubahan nama itu sudah tercetus sejak keanggotaan DPR/MPR periode 1992/1997. “Sudah diusulkan, cuma tidak terlalu direspons, jadi dibiarkan saja,” ujar Afif kepada Panji Masyarakat terbitan tahun 1999. Rapat pimpinan DPR pada 18 November 1998 memutuskan membentuk Tim Penggantian Nama-nama Gedung MPR/DPR RI yang dipimpin Wakli Ketua DPR Korkesra Fatimah Achmad. Tim segera bekerja. Rapat terakhir pada 14 Desember 1998 memutuskan menyetujui penggantian nama gedung-gedung DPR/MPR. Maka, gedung-gedung yang menggunakan bahasa Sansekerta pun berubah: Grahatama menjadi Gedung Nusantara, Lokawirasabha Tama (Gedung Nusantara I), Ganagraha (Gedung Nusantara II), Lokawirasabha (Gedung Nusantara III), Pustakaloka (Gedung Nusantara IV), Grahakarana (Gedung Nusantara V), Samania Sasanagraha (Gedung Sekretariat Jenderal DPR RI), dan Mekanik Graha (Gedung Mekanik). Perubahan juga terjadi pada nama ruangan, yang cukup menyebut ruang sidang atau ruang fraksi, komisi, dan paripurna.
- Petani Gulingkan Dinasti
PADA 209 SM, Chen Sheng, petani asal Yangcheng, memimpin 900 orang untuk melakukan kerja paksa pembangunan megaproyek Kaisar Qin. Tujuan mereka, kota Yuyang, masih jauh. Mereka harus bergegas. Sebab, menurut hukum Dinasti Qin/Chin (221-206 SM), siapapun yang telat akan dihukum mati. Nahas, baru sampai di desa Dazexiang, hujan deras turun selama beberapa hari. Banjir memaksa mereka berkemah dan menghentikan perjalanan. Mereka gelisah. Dalam kegelisahan itu, Chen Seng bertemu dengan Wu Guang, yang juga mengawasi dan memimpin 900 orang untuk kerjapaksa. Kesamaan nasib membuat mereka menjadi akrab. “Kita masih beribu-ribu li jauhnya dari Yuyang. Apakah kita akan membiarkan diri kita dibunuh?” ujar Chen, dikutip Lin Handa dan Cao Yuzhang dalam Kisah-Kisah dari 5000 Tahun Sejarah China, Jilid 1 . Wu mengajak Chen kabur, namun Chen tak menyetujuinya. Ketimbang kabur, Chen memilih memberontak terhadap penguasa lalim. Memberontak baginya lebih terhormat, meski risikonya juga hukuman mati. Wu setuju. Kaisar Qin berupaya mewujudkan mimpinya membangun banyak bangunan, seperti Istana Efang dan Tembok Raksasa. Untuk itu, kaisar merekrut para petani, termasuk dari enam kerajaan terakhir yang ditaklukkan, melalui sistem perpajakan terpusat yang dia buat. “Jumlah petani yang diambil Qin Shi Huangdi untuk membangun Istana Efang dan Tembok Raksasa dan yang direkrut sebagai tentara untuk pertahanan perbatasan melebihi dua juta jiwa,” tulis Xiaobing Li dalam China At War: An Encyclopedia . Kesewenang-wenangan kaisar menimbulkan kebencian di hati petani dan rakyat kebanyakan, termasuk Chen. Chen dan Wu segera menyusun siasat. Yang paling awal, dia memanfaatkan takhayul. Di atas sehelai sutra putih, Chen menuliskan “Chen Sheng adalah raja.” Kain itu lalu dimasukkan ke perut ikan yang selanjutnya dijual. Kebetulan, pembelinya adalah beberapa prajurit di kesatuan yang dipimpinnya. Mereka terheran-heran. Siasat kedua, dalam kegelapan malam, Wu mengendap ke kuil di sekitar perkemahan. Sembari menirukan lolongan serigala, Wu berteriak mengatakan: Chu Raya bangkit dan Chen Sheng adalah raja. Keesokan harinya, Chen menjadi buah bibir di antara rombongan. Namun, siasat itu masih belum cukup menginformasikan mayoritas akan rencana gerakan Chen. Setelah membunuh pejabat pengawas, Chen berorasi di hadapan rombongannya mengenai rencana pemberontakan. “Orang-orang bersumpah kepada para dewa bahwa mereka akan berperang bersama untuk menggulingkan Dinasti Qin. Mereka juga bersumpah setia kepada Chen Sheng dan Wu Guang,” tulis Lin Handa dan Cao Yuzhang. Setelah menguasai desa Dazexiang dan Chenxian (Huaiyang) di Provinsi Henan, Chen dan Wu mengumumkan berdirinya sebuah rezim baru bernama Zhangchu di mana Chen menjadi raja dan Wu panglima militernya. Keduanya mengatasnamakan Pangeran Fusu –pewaris sah Dinasti Qin yang bunuh diri akibat tipudaya– dan Jenderal Xiang Yan yang dicintai rakyat. Selanjutnya, mereka menguasai desa Qi, Zhi, Cus, Ku, Zhe, dan Qiao. Ketika merebut desa Chen, kekuatan mereka menjadi berlipat; mencakup puluhan ribu infantri, seribu kavaleri, dan 600-700 kereta kuda. Di sinilah para kepala desa mendaulat Chen menjadi raja dengan gelar “Pembesar Chu.” Chen dan Wu terus menyerukan kepada petani di berbagai tempat untuk memberontak terhadap Dinasti Qin. Mereka juga mengirim balabantuan pasukan dan peralatan. Dalam sekejap, semua wilayah yang menderita di bawah Dinasti Qin memberontak. Namun, pengkhianatan menewaskan Chen dan Wu. Perlawanan petani tetap berlanjut. “Setelah kematian Chen dan Wu,” tulis Xiaobing Li, “Liu Bang, salah seorang pemimpin petani, akhirnya menggulingkan Qin dan mendirikan Dinasti Han.”
- Kekayaan Vatikan dan Perompakan
VATIKAN pernah terlibat dalam perebutan harta warisan salah satu uskupnya. Hal ini disebutkan dokumen yang baru-baru ini dikeluarkan untuk publik. Dokumen tersebut juga menyebutkan soal bajak laut yang mencoba merampas harta tersebut ketika dikirim dari Portugal ke Prancis. “Sebagian besar dari dokumen ini berkaitan dengan aktivitas rekening dan inventarisasi Camera Apostolica (lembaga keuangan kepausan). Dari dokumen ini kita bisa melacak aktivitas para pengumpul dana kepausan dan mengetahui berbagai ‘peninggalan’ yang mereka wariskan setelah wafat,” tulis Charles Donahue Jr. dalam The Spoils of the Pope and the Pirates, 1357: The Complete Legal Dossier from the Vatican Archives . Buku ini berisi dokumen-dokumen Vatikan yang baru saja diterbitkan. Seperti dilansir livescience.com (3/10), kisah tersebut bermula ketika kapal Sao Vicente berangkat dari Lisboa, Portugal, pada awal 1357 menuju Avignon, Prancis, tempat Paus Avignon VI menetap. Kala itu, pusat pemerintahan kepausan dipindahkan ke Prancis karena ketidakstabilan politik di Italia. Kapal itu memuat kargo termasuk emas, perak, permata, dan perhiasan mahal lainnya yang sebelumnya dimiliki Thibaud de Castillon, uskup utusan Vatikan yang baru meninggal. Selama masa tugasnya di Portugal, Castillon menumpuk kekayaan dengan cara berbisnis dengan pedagang-pedagang di Prancis. Beberapa bahkan dilakukan dengan cara-cara tidak lazim dan dianggap perbuatan dosa oleh gereja, seperti mengambil untung besar (riba) dari bisnis lintah darat. Untuk mengelak tuduhan gereja, Castillon mengatakan bahwa kekayaannya adalah milik mitra bisnisnya di Montpellier Prancis, yakni Peire Laugautru dan Guilhem Parayre. Gereja menutup mata terhadap bisnis Castillon. Tapi ketika dia meninggal, Camera Apostolica bergerak cepat menyita harta peninggalannya. Untuk itu, kapal Sao Vicente dikirim. Ketika berlayar di dekat Cartagena, Spanyol, kapal diserang dua kapal bajak laut pimpinan Antonio “Botafoc” (Si Kentut Api) dan Martin Yanes. Menurut Daniel Williman dan Karen Ann Corsano, editor buku tersebut, kapal Botafoc bersenjata lengkap sehingga awak kapal Sao Vicente terpaksa menyerahkan muatannya. Tetapi Botafoc dan krunya tidak beruntung karena kapalnya karam di dekat kota Aigues-Mortes, Prancis. Tentara setempat menangkap mereka. “Para awak kapal Botafoc dihukum gantung. Sebab, dalam tradisi saat itu, mereka para bajak laut adalah hostes humani generis , musuh masyarakat yang tidak memiliki perlindungan hukum,” tutur Williman dan Corsano. Botafoc sendiri dan perwiranya dipenjara di Montpellier. Mereka lolos dari maut setelah menyogok seorang uskup dari kota Turin yang kebetulan sedang berada di Montpellier. Harta De Castillon yang berhasil direbut kembali didaftarkan sebagai harta kekayaan Vatikan. Sebagian besar kemudian digunakan untuk membayar gaji staf Vatikan dan hadiah untuk kaum bangsawan Eropa.






















