top of page

Hasil pencarian

9758 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mayor vs Jenderal dalam Sejarah TNI

    Nama Jenderal (Purn.) Moeldoko terseret dalam isu kudeta Partai Demokrat. Inidikasi ini diakui oleh ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam konferensi persnya. AHY mengatakan bahwa ada pihak di lingkaran dalam Istana yang hendak mengambil paksa partainya lewat jalur Kongres Luar Biasa (KLB). Meski tidak lagi aktif, konflik politik ini pun menyinggung latar belakang militer keduanya. Sebelum menjadi ketua umum partai, AHY merupakan eks mayor infantri TNI AD. Sementara itu Moeldoko mantan panglima TNI perwira tinggi bintang empat yang kini menjabat kepala staf kepresidenan. Fenomena perwira menengah menentang atasannya dari kalangan perwira tinggi memang terbilang langka. Struktur komando militer tidak memungkinkan bawahan melawan atasan. Namun sejarah mencatat, anomali dalam ketentaraan seperti itu pernah terjadi di Republik ini. Aksi Boyke Nainggolan Ketika pemerintah melancarkan operasi penumpasan PRRI, Mayor Boyke Nainggolan adalah perwira menengah yang menyatakan ketidaksetujuannya. Boyke adalah wakil kepala staf Teritorium I (TT I) Bukit Barisan. Sebagai bentuk pengecamannya terhadap aksi militer pemerintah pusat itu, dia lantas memutuskan untuk angkat senjata. Pada 15 Maret 1958, Boyke menggerakan pasukan Batalion Infantri 131 untuk menguasai kota Medan. Misi itu dilancarkan dalam tempo sehari. Pangkalan udara Polonia berhasil diduduki. Beberapa pejabat sipil maupun militer yang dianggap menghalangi gerakan ditangkapi. Operasi pertama yang mendukung PRRI ini diberi sandi “Sabang Merauke”. Panglima TT-I/Bukit Barisan Letkol Djamin Gintings sampai melarikan diri ke Tanah Karo. Begitu pula dengan Deputi KSAD Wilayah Sumatra Kolonel Djatiikusumo yang terpaksa mengungsi ke Belawan.   Dalam siaran RRI yang disabotase pasukannya, Boyke mengatasnamakan Komando TT-I menyatakan tidak dapat menyetujui tindakan kekerasan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap daerah Sumatra Tengah (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta). Boyke menuntut Presiden Sukarno untuk memerintahkan penghentian operasi-operasi militer ke daerah tersebut. “Bila tuntutan di atas tidak  dipenuhi, Komando TT-I akan menempuh jalan sendiri untuk menghadapi keadaan dan perkembangan selanjutnya,” seru Boyke Nainggolan dalam siaran RRI dikutip Payung Bangun dalam biografi Kolonel Maludin Simbolon . Aksi Boyke Nainggolan tentu menggemparkan Markas Besar Angkatan Darat. Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution bahkan menganggap Boyke telah melakukan kudeta. Padahal, Boyke Nainggolan termasuk salah satu perwira kesayangan Nasution yang dipersiapkan menjadi penerusnya di masa depan. “Terjadi kejutan baru, yaitu Operasi Sabang-Merauke dari Mayor Boyke Nainggolan di Medan. Laporan tanggal 16 Maret dari Jakarta mengatakan bahwa ‘Medan telah berontak’,” kenang Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Perlawanan Boyke Nainggolan akhirnya tumpas setelah Nasution mengerahkan kekuatan penggempur dari kesatuan RPKAD (kini Kopassus). Setelah PRRI-Permesta dapat ditaklukan, Boyke dipecat dari TNI. Lantaran frustrasi, Boyke mengalami tekanan batin. Dia kemudian mengakhiri hidupnya secara tragis dengan menjatuhkan diri dari sebuah menara. Kendati berhasil membawa tentara mendominasi negara, Nasution kemudian dipinggirkan oleh Presiden Sukarno. Memasuki masa Orde Baru, Nasution tersingkir. Dia bahkan terkena cekal pemerintah karena terlibat dalam kelompok oposisi Petisi 50.   Prabowo vs Benny  Episode lain "mayor menentang jenderal" terjadi di masa Orde Baru. Pada suatu hari yang tenang di bulan Februari 1983, seseorang menyampaikan surat kepada Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf. Surat tersebut dalam biografi Jenderal  M. Jusuf: Panglima Para Prajurit yang disusun Atmadji Sumarkidjo, disebutkan berasal dari “Mayor Anu”. Tertanggal 23 Februari 1983, begini nukilan suratnya. “Bapak yang tercinta. Saat ini adalah detik-detik bersejarah. Bapak terpanggil untuk menyelamatkan Negara. Bapak jangan goyah. Demi TNI kita yang tercinta kalau berdiri teguh sekarang – pasti menang.”    Jusuf kenal baik dengan si mayor. Menurutnya surat tersebut disampikan sehubungan dengan digantikannya Jusuf sebagai panglima ABRI oleh Letjen Benny Moerdani. Sang mayor sejak awal tidak senang dengan Benny Moerdani. Nama si mayor tidak disebut secara gamblang dalam biografi Jusuf. Namun Kivlan Zein dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD mengatakan pada periode itu terjadi konflik antara Benny Moerdani dengan Mayor Prabowo Subianto. Seperti dicatat Kivlan, ketika masih menjadi staf khusus Benny, Prabowo menangkap gelagat atasannya yang berencana untuk membersihkan gerakan-gerakan Islam radikal secara sistematis. “Prabowo Subianto memperoleh informasi ini karena Jenderal Benny Moerdani melihat latar belakang bapaknya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, seorang sosialis, dan ibunya seorang penganut Kristen dari Manado. Namun, Prabowo merasa tidak cocok dengan rencana tersebut,” kata Kivlan. Prabowo kemudian melaporkan hal tersebut kepada Presiden Soeharto yang sekaligus mertuanya. Mulanya Soeharto mengacuhkan, namun berdasarkan informasi lanjutan yang diterima, akhirnya presiden percaya. Kejadian ini, menurut Kivlan, menyebabkan Benny Moerdani marah kepada Prabowo dan mengeluarkannya dari Kopassus menjadi Kepala Staf Kodim (Kasdim). “Suatu jabatan buangan bagi anggota Kopassus,” tutur Kivlan. Sebelum dipindahkan dari Kopassus, Prabowo adalah wakil komandan Detasemen 81 yang merupakan unit pasukan elite dari Kopassus spesial anti-teror. Baru pada 1985, ketika Jenderal Rudini menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, Prabowo ditempatkan sebagai wakil komandan Batalion Infantri Lintas Udara 328. Benny sendiri akhirnya terdepak juga dari kekuasaan. Benny dianggap mengusik kegiatan bisnis anak-anak Soeharto yang menyebabkan sang presiden tersinggung. Karier Benny lambat laun tenggelam. Pada saat Presiden Soeharto melantik para menteri yang duduk di Kabinet Pembangunan VI (periode 1993-1998), sosoknya tidak lagi nampak. Prabowo Subianto sepertinya bernasib lebih baik dari AHY dan Boyke Nainggolan. Dia kini menjabat menteri pertahanan dan sedang memimpin proyek lumbung pangan nasional di Kalimantan Tengah.

  • Rasisme Sejak dalam Pikiran

    Ujaran kebencian berdasarkan rasisme adalah hal yang berbahaya dan masih awet sebagai salah satu warisan kolonial. Hal itu memicu pertanyaan, apakah selama ini masyarakat di negeri ini sudah selesai menjadi bangsa Indonesia sehingga perkara SARA (suku, agama, ras, antargolongan) sudah tidak lagi jadi persoalan dalam berkehidupan sehari-hari? “Jadi kita mewarisi beberapa produk hukum dan aturan setelah Indonesia merdeka dan lebih parah lagi, kita mewarisi cara berpikir kolonial. Tidak dekolonisasi cara berpikir dan produk-produk hukum zaman Belanda masih ada imbasnya,” ujar Bonnie Triyana, sejarawan pemimpin redaksi  historia.id .  dalam dialog sejarah live  “Melacak Akar Rasisme di Indonesia” di akun Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa (9/2/2021) siang. Sependapat dengannya, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Didi Kwartanada menyatakan bahwa jika menarik benang sejarahnya ke belakang, rasisme di Nusantara, rasisme di antara masyarakat berakar kuat sejak munculnya produk hukum Regerings Reglement (RR) tahun 1854. Lewat aturan tersebut pemerintah kolonial Belanda mengkotak-kotakkan golongan masyarakat. Disebutkan Didi, kebijakan RR tahun 1854 itu khususnya untuk memecah-belah status penduduk berdasarkan golongan hukum. Penduduk dibagi menjadi tiga golongan yang berbentuk piramida. Paling atas tentunya golongan Eropa dan Indo Belanda, di tengah-tengah ada golongan timur asing, dan yang paling bawah adalah inlander alias pribumi. “Nah, ini ada kata ‘asing’, aneh sekali. Pembagian ada orang Eropa, paling bawah pribumi. Di tengah kok timurnya timur asing. Jadi sudah dari sananya diasingkan. Memang diposisikan kolonial Belanda jangan sampai si golongan tengah ini menjadi pribumi atau Eropa. Jadinya di tengah-tengah itu ditambah label ‘asing’. Jadi predikat ‘asing’ ini yang selamanya dipertahankan,” kata Didi menimpali. Orang Tionghoa dijadikan minoritas perantara cum kepanjangan tangan kolonial sebagai Majoor de Chinezen of Medan, Khoe Tjin Tek (kiri) dan gambaran rumah besar Majoor de Chinezen of Batavia, Khow Kim An (nationaalarchief/Randy Wirayudha-Historia) Golongan Timur Asing meliputi masyarakat Tionghoa yang berkulit kuning dan bermata sipit. Hanya saja, lanjut Didi, klasifikasi golongan tengah itu tak berlaku pada orang Jepang yang penggambaran fisiknya nyaris serupa dengan orang-orang Tionghoa. “Tetapi klasifikasi itu enggak konsisten. Orang Jepang berkulit kuning, bermata sipit, dimasukkan golongan Eropa. Itu menyulut kejengkelan orang-orang Tionghoa di awal abad ke-20. Seperti kasus ada nelayan Jepang yang ditangkap, atau pekerja seks komersial Jepang yang melakukan kesalahan, itu diadili di pengadilan orang Eropa. Sementara orang Tionghoa masuk ke pengadilan yang sama dengan pribumi, yaitu Landraad ,” imbuh salah satu penulis buku Dilema Minoritas di Indonesia: Ragam, Dinamika, dan Kontroversi tersebut. Dalam praktiknya, diskriminasi rasial itu tidak hanya persoalan hukum. Ayah Didi merasakannya di lapangan pekerjaan. Meski ayahnya punya pendidikan setara SMA di era kolonial Belanda, gajinya sebagai pegawai sebuah hotel terbesar di Jakarta saat itu hanya separuh dari gaji pegawai lain yang berasal dari kalangan Indo-Belanda meski pendidikan mereka hanya setara SMP. “Jadi memang masyarakat di Hindia Belanda dibedakan dari warna kulit dan itu diperkuat diskriminasi yang dibuat golongan Eropa. Di ranah politik juga, orang-orang Indo Belanda punya partai yang rasis, Indo-Europeesch Verbond (IEV). Dari golongan Eropa ‘totok’ pun memiliki Vaderlandsche Club, dedengkot yang sangat memusuhi nasionalisme Indonesia,” tambah Didi. Ironisnya, pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 rasisme itu sendiri juga tak sirna hingga kini. Padahal dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, Sukarno kembali menggaungkan pemikirannya tentang nasionalisme modern untuk masa depan bangsa Indonesia. Pemikiran itu pernah ditulisnya pada 1926 di Soeloeh Indonesia Moeda dengan judul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. “Bangsa itu menurut pujangga ini (Ernest Renan, red. ), adalah suatu nyawa, suatu asas-akal, yang terjadi dari dua hal: pertama , rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat; kedua , rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu. Bukannya jenis (ras), bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya persamaan butuh, bukannya pula batas-batas negeri yang menjadikan ‘bangsa’ itu,” ungkap Bung Karno. Tionghoa Sasaran Empuk Dari serangkaian peristiwa rasisme yang tercatat sepanjang sejarah di Nusantara, orang-orang Tionghoa paling empuk jadi sasaran isu rasisme. Sentimen rasialis itu biasanya dilancarkan pihak tertentu lewat agenda politik identitas demi keuntungan. Pasca-Reformasi pun praktik tersebut masih banyak terjadi. Contoh paling kentara adalah isu tersebut dijadikan “senjata” demi melancarkan agenda tersebut lewat beragam slogan rasis seperti “Aseng”. “Rasisme ini sayang sekali, orang Indonesia menghancurkan kolonialisme tapi di saat yang sama tidak mendekolonisasi pemikirannya. Malah dilanjutkan kita semua. Seperti sekarang ketika politik identitas sedang kencang, kok tiba-tiba seorang gubernur ketika dilantik memberikan pidato (bahwa) pribumi harus jadi tuan di Indonesia. Padahal pribumi itu adalah inlander di masa kolonial. Itu kan membawa permasalahan lama yang sebetulnya sudah dikubur di masa Reformasi tapi atas nama politik identitas, dihidupkan lagi,” sambung Didi. Jika terus dilestarikan dan dipelihara kelompok tertentu, isu rasisme, khususnya terhadap orang-orang Tionghoa, dikhawatirkan akan jadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Itu akan mengulang tragedi-tragedi di masa silam, seperti Geger Pacinan (1740-1743), kerusuhan anti-Cina di Kudus 1918, kerusuhan Tionghoa Benteng di Tangerang pada 1946, persekusi pasca-Peristiwa 1965, dan terakhir pada kerusuhan Mei 1998. Penyebab terjadinya hal itu tak lain adalah dari kebijakan era kolonial, di mana orang-orang Tionghoa diposisikan di golongan tengah sebagai minoritas perantara. Seringkali etnis Tionghoa diposisikan tak hanya sebagai pedagang yang menjembatani antara penyedia barang-barang kebutuhan yang diproduksi orang-orang Eropa kepada masyarakat bumiputera sebagai konsumen, namun dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial dengan pemberian pangkat majoor , kapitein , maupun luitenant der chinezen . “Mungkin akar dari peyoratif atau sebutan ‘Aseng’ dari posisi orang Tionghoa itu sendiri. Middleman minority kalau dalam teori-teori ilmu sosial adalah sekelompok etnis tertentu yang menjalankan pekerjaan kotor di suatu wilayah. Mereka mengisi ceruk yang tidak berkenan dilakukan orang-orang mayoritas karena dianggap profesi yang kotor. Ketika terjadi krisis ekonomi, yang disalahkan juga semua orang Cinanya. Jadi dia rentan karena dihubungkan sebagai economic animal yang memikirkan uang saja,” lanjutnya. Ilustrasi Geger Pacinan pada tahun 1740 (Rijksmuseum) Fenomena rasisme terhadap etnis Tionghoa itu sendiri tak hanya terjadi di Indonesia. Di Malaysia pun rasisme berdasarkan etnis masih sangat kental, tidak hanya terhadap orang Tionghoa, melainkan juga pada pendatang dari India. Rasisme itu justru ikut dipelihara partai penguasa pemerintahan, UMNO (United Malays National Organisation). Sebagaimana Belanda di Indonesia, Malaysia pun melestarikan produk hukum masa kolonial Inggris lewat Article 153 of the Constitution of Malaysia (Undang-Undang Dasar Malaysia, Pasal 153). Pasal tersebut melestarikan mayoritas pribumi Melayu untuk tetap jadi “tuan” di negerinya sendiri. Salah satu ayatnya merinci penerapan kuota untuk penerimaan pegawai pemerintah, penerima beasiswa dan penerimaan di institusi-institusi pendidikan. Tentu mayoritas Melayu diistimewakan ketimbang peranakan Tionghoa maupun India. Akibatnya, klasifikasi masyarakat begitu terasa. Salah satu muara darinya adalah, kerusuhan rasial antara pribumi dan Tionghoa pada 1969 maupun pada 2001. Namun, dalam tataran formal Indonesia selangkah lebih maju. Jika kebijakan rasis di Malaysia masih lestari dalam legislasi, Indonesia justru sudah memiliki Undang-Undang Anti-Diskriminasi Nomor 40 Tahun 2008. “Mungkin secara formal (diskriminasi) sudah tidak ada. Tapi itu tadi, pikiran ditambah politik identitas itu memang jadi bom waktu betul ya. UU-nya sudah ada tapi pola pikirnya justru menghidupkan lagi hantu yang sudah mati. Mestinya Reformasi ini kan segala urusan soal Tionghoa dan non-Tionghoa sudah selesai secara legal. Tapi penegakan hukumnya belum jelas. UU Nomor 40 belum dipatuhi dan konsisten,” sambung Didi. Dari catatannya, Didi belum menemukan satu kasus yang pelakunya dijerat UU Nomor 40 Tahun 2008 itu. Jika pun muncul ujaran kebencian bernada rasis, lazimnya diselesaikan dengan kekeluargaan lewat permintaan maaf dan dirampungkan dengan materai Rp6 ribu. Kalaupun ada, lebih jamak pelakunya dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), mengingat ujarannya dilayangkan melalui media sosial. “Kalau di Amerika ada Anti-Defamation League (ADL). Jadi kalau menghina orang Yahudi atau membangkitkan naziisme, bisa dilaporkan ke situ. Lalu mereka (ADL) mengambil tindakan melaporkannya ke pemerintah. Payung hukumnya jelas. Sementara kita masih abu-abu. Masih bisa minta maaf, posting -an dihapus, seolah-olah selesai,” kata Didi. Sejarawan UGM, Didi Kwartanada ( Historia.id ) Kasus rasisme dan diskriminasi berdasarkan etnis di beraneka sendi kehidupan memang masih terlalu kusut untuk dibenahi. Solutif yang bisa dilakukan untuk memutus rasisme yang lahir dari memori kolektif sejak masa kolonial adalah dengan memberikan kurikulum tambahan di sekolah-sekolah. Dengan memulainya dari usia dini, diharapkan rasisme dalam kehidupan sehari-hari bisa pelan-pelan dihancurkan. Pasalnya isu rasisme di ranah politik juga masih berkaitan dengan segala aktivitas masyarakat sehari-hari yang lazimnya, muncul dari lelucon dan perundungan bernada body shaming. “Dalam keseharian, dalam pertandingan olahraga, tampak perekat kita sebagai bangsa makin kendor, seolah kita tidak saling mengenal satu sama lain. Mungkin ada baiknya isu rasisme ini diajarkan di sekolah-sekolah dalam bentuk kurikulum. Di dalamnya diajarkan bahwa rasisme itu melanggar hukum, bukan bahan candaan. Merundung body shaming lama-lama merambat ke isu rasis yang kulitnya hitam atau matanya sipit. Sebaiknya ditanamkan sedini mungkin di sekolah,” ujarnya. Soal tersebut, Didi teringat dengan pengalamannya saat tinggal Singapura selama beberapa waktu. Didi terkesan dengan kurikulum tentang kemajemukan yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ketika tiba Hari Raya Idul Adha, misalnya, murid-murid non-muslim ikut diajak ke masjid. Di sana sang guru menerangkan dengan bijaksana tentang mengapa umat Islam merayakan hari raya itu. Sebaliknya, murid-murid muslim diterangkan tentang Hari Raya Imlek. “Kita sepertinya terlalu banyak mata pelajaran, sehingga justru yang esensial seperti ini enggak ada. Tujuannya untuk saling memahami dengan lebih baik dan bukan hanya slogan di mulut saja. Padahal harus ditekankan, misalnya, dalam bentuk pelajaran kebhinekaan, di dalamnya dimasukkan bahwa rasisme itu melanggar hukum, jadi bukan joke atau candaan,” papar Didi. Solusi itu, tambah Didi, juga mesti berjalan beriringan dengan kemauan pemerintah menegakkan hukumnya, serta membuka dialog atau diskusi secara terbuka di ruang publik. Menurutnya, ujaran-ujaran kebencian yang belakangan bertebaran di jagat maya adalah efek dari kurangnya forum-forum yang menghadirkan tokoh-tokoh bangsa berbeda etnis untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, berdialog, untuk saling mengenal. “Harus berjalan beriringan ya. Pelajaran di sekolah sampai penegakan hukumnya. Selain itu juga kembali ke pola pikir. Apakah karena kita terlalu sibuk urusan ekonomi jadi masalah national building seperti ini tidak dikawal?” tandasnya.

  • A.A. Maramis

    Ditunjuk sebagai Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia secara de facto, ia menyusun organisasi Kementerian Keuangan dan memprakarsai pencetakan ORI.

  • Mata Uang Asing di Nusantara

    Penangkapan Zaim Saidi, pendiri pasar muamalah di Depok, Jawa Barat, mengundang perbincangan panjang di media sosial. Beberapa orang menolak sangkaan polisi bahwa Zaim menggunakan mata uang selain rupiah. Sebagian lagi menilai Zaim menggunakan mata uang selain rupiah untuk bertransaksi di pasar muamalah, yaitu Dinar dan Dirham. Hari ini, mata uang asing jamak beredar di Indonesia. Dari dinar dan dirham Bahrain, dolar Amerika Serikat, Euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, sampai yuan Tiongkok. Semuanya dapat dibeli dan dijual di tempat penukaran uang. Tapi uang itu tak bisa dipakai untuk transaksi di wilayah Indonesia. Ini berbeda dari masa kurun niaga pada abad 16–18. Kurun niaga adalah sebutan untuk masa maraknya perdagangan rempah di Kepulauan Melayu-Nusantara selama abad 16–18. Penemuan rempah-rempah di wilayah timur Hindia mendorong kedatangan pedagang India, Tiongkok, Burma, Arab, Persia, Turki, dan Eropa ke sejumlah kota pelabuhan di Nusantara. Baca juga:  Merentang Sejarah Uang Para pedagang datang dengan barang dagangan khas dari negeri asalnya untuk ditukar dengan rempah-rempah. Selain itu, mereka juga membawa mata uangnya masing-masing untuk membeli rempah-rempah. Kedatangan mereka membuat Nusantara penuh dengan beragam mata uang asing. Picis Tiongkok Pedagang Tiongkok membawa mata uang chien dan caixa . Chien terbuat dari tembaga, sedangkan caixa berasal dari timah hitam. Dua mata uang ini beredar secara luas di kawasan Asia Tenggara. “Setidak-tidaknya dari masa aktifnya perdagangan Dinasti Ming pada awal abad ke-15, mata uang tembaga Cina banyak diimpor ke Asia Tenggara,” ungkap Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga . Di kalangan para pedagang di pelabuhan Jawa, mata uang caixa mendapat tempat sebagai alat pembayaran. “Di sana tidak ada mata uang selain mata uang Cina yang dibuat dari tembaga dan dinamakan caixa ,” catat Jan Huygen van Linchosten dalam Itenerario seperti dikutip oleh Ninie Soesanti dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Baca juga:  Mata Uang Emas di Nusantara Mata uang Persia, Spanyol, dan Jepang di Batavia. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Sementara di Banten, mata uang Tiongkok dari timah hitam lazim berada di tangan para pedagang. Orang tempatan menyebutnya mata uang picis, sedangkan pedagang Eropa dan Melayu menamainya cash atau cas . Menurut Erwien Kusuma, penulis buku Uang Indonesia Sejarah dan Perkembangannya , penggunaan mata uang ini kali pertama disebutkan pada 1350. Seiring meningkatnya hubungan dagang Nusantara-Tiongkok, mata uang Tiongkok kian populer. Lebih populer daripada mata uang emas. Saking populernya, dua mata uang ini jadi sasaran pemalsuan. Sebab proses pembuatan mata uang picis asli tak terlalu sulit. Peredaran luas mata uang Tiongkok di kalangan para pedagang kemungkinan karena dua sebab. Pertama , mata uang ini “sangat murah sehingga dapat dijangkau oleh rakyat biasa,” ungkap Ninie dan Irmawati. Kedua , para pedagang Tiongkok menyebarkan mata uang ini hingga ke pedalaman untuk membeli cengkeh langsung ke petani. Mata Uang Eropa Setelah picis, mata uang asing lainnya ialah real Belanda. Mata uang ini dibawa oleh para pedagang Belanda dalam Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Bahannya dari perak. Peredaran real Belanda tak seluas picis. Sebab real Belanda memiliki nilai intrinsik tinggi. Tak cocok untuk transaksi kebutuhan sehari-hari. Biasanya real Belanda untuk membeli komoditas dalam jumlah besar. Mata uang Eropa lainnya juga beredar di Nusantara. Namanya cruzado dan berasal dari pedagang Portugis. Cruzado tersebar luas di Maluku. Nilai cruzado lebih tinggi daripada picis atau cash . 1 cruzado setara 500 cash . Untuk penggunaannya, 3 cruzado dapat menebus 1 bahar lada. Berat 1 bahar setara dengan 4 kuintal. Pedagang dari Spanyol tak mau kalah dengan dua rivalnya. Mereka mengedarkan mata uang real dan piaster Spanyol. Real untuk transaksi kecil-kecilan, sedangkan piaster untuk transaksi besar-besaran. Baca juga:  Uang Kuno bukan Sembarang Uang Mata uang kuno di Batavia. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Yang unik penggunaan real pernah tercatat di Jawa pada 1650-an. “Sultan Amangkurat I memberi hadiah kepada keluarganya dalam bentuk uang yang jumlahnya 10.000 real ,” ungkap Ninie dan Irmawati. Kesultanan Mataram juga menggunakan real untuk membayar ganti rugi kepada VOC. Pedagang-pedagang Inggris dalam Kongsi Dagang Hindia Timur (EIC) ikut meramaikan peredaran mata uang asing di Nusantara. Mereka memperkenalkan mata uang EIC. Bahan pembuat mata uang EIC terdiri dari empat macam logam: emas, perak, tembaga, dan timah. Yang paling banyak beredar berbahan tembaga. Saat beredar di Sumatra pada awal abad ke-17, uang EIC bermotif aksara Arab dengan bahasa Melayu. Tujuannya agar orang tempatan menerima uang ini. Lambang EIC turut hadir untuk menunjukkan kekuasaannya. Jasa Penukaran Uang Selain mata uang Eropa, mata uang dari Arab dan Persia juga beredar di Nusantara. Mata uang Arab bernama dinar dan dirham, sedangkan mata uang Persia disebut larrins . Dinar dan dirham terbuat dari logam emas, sedangkan larrins dari perak. Keduanya beredar di Kesultanan Pasai, Pedir (Pidie), dan Aceh. Tiga Kesultanan ini kemudian membuat mata uang sendiri dari bahan serupa. Baca juga:  Uang Aceh Tak Pernah Lemah Keberagaman mata uang di Nusantara memunculkan jasa penukaran uang. William Dampier, pelaut Inggris, mencatat aktivitas penukaran uang di Pidie. “Penukar uang yang kebanyakan terdiri dari perempuan, yang duduk-duduk di pasar-pasar, di sudut-sudut jalan dengan tumpukan uangnya yang disebut cash dibuat dari timah,” terang Dampier seperti dikutip Uka Tjandrasasmita dalam Kota-Kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi. Seiring surutnya perdagangan rempah pada akhir abad ke-18, matauang asing di Nusantara berangsur menghilang. Setelah abad ke-18, mata uang gulden Belanda menjadi satu-satunya yang harus digunakan untuk bertransaksi demi menjamin kekuasaan Belanda di Hindia.

  • Lantai Dansa John Travolta

    USIANYA sudah tak lagi muda. Gaya rambut klimis berjambulnya pun sudah tak lagi ada. Namun dengan kepala plontos dan kumis serta janggut sekarang, penampilan aktor watak John Travolta makin berwibawa di usia kepala enam. Kharismanya masih sangat terasa. Siapa tak mengenal John Travolta? Publik mengingatnya sebagai sosok ikonik di film-film komedi dan musikal nan legendaris macam Saturday Night Fever  (1977) dan Grease (1978). Jebolan Broadway itu sepanjang lima dekade terakhir sudah membintangi 15 serial televisi dan 65 film, termasuk dokumenter dan film pendek. Meski semua genre pernah ia mainkan, Travolta mengaku paling menikmati peran-perannya di genre komedi dan musikal. “Karena saya menikmati menjadi karakter yang lucu, bernyanyi, dan berdansa ketimbang karakter apapun. Sangat menyenangkan bisa membuat orang-orang ikut tertawa, bernyanyi, dan berdansa bersama,” aku Travolta dalam diskusi “Mola Living Live: John Travolta Speaks to Indonesia” di aplikasi daring Mola TV ,  Jumat (5/2/2021) malam. John Travolta dalam diskusi Mola Living Live. (Tangkapan layar Mola TV). Lahir di Englewood, New Jersey, Amerika Serikat pada 18 February 1954, anak bungsu dari enam bersaudara pasangan keturunan Italia-Irlandia, Salvatore Travolta dan Helen Cecilia Burke itu sejak kecil sudah gemar mengikuti sang ibu yang sejak muda merupakan aktris dan penyanyi teater dan radio sekaligus guru drama di sebuah SMA. Tak hanya Travolta kecil, empat kakaknya pun mengikuti jejak ibunya dengan masuk panggung drama teater. Maka ketika Travolta memutuskan untuk keluar dari SMA Dwight Morrow demi menseriusi dunia seni peran, sang ibu mendukungnya. “ Well , saya tumbuh di keluarga teatrikal. Jadi sejak kecil impian akan masa depan tak pernah jauh dari dunia teater. Setelah drop out (DO) dari sekolah, saya berharap bisa mencari nafkah sebagai aktor di televisi. Namun seiring waktu, pada akhirnya saya lebih nyaman di layar lebar daripada teater,” imbuh suami dari mendiang aktris dan model Kelly Preston itu. Travolta lantas meniti kariernya ke New York, tepatnya ke panggung teater Broadway. Ia mendapatkan peran pertamanya di drama teater Grease pada Juni 1972. Travolta saat itu mendapat peran pendukung, Doody, bukan tokoh utama Danny Zuko kelak dalam versi layar peraknya. Pada September tahun yang sama, Travolta juga melakoni debutnya di layar kaca lewat drama seri Emergency! Season 2 dalam episode ke-13 bertajuk “Kids” yang ditayangkan stasiun televisi NBC . Kiprahnya di layar lebar baru terjadi tiga tahun kemudian lewat peran pendukung dalam film The Devil’s Rain (1975). Melejit Lewat Musikal Karier Travolta yang biasa-biasa saja itu baru berubah drastis setelah memerankan tokoh utama di film drama musikal Saturday Night Fever (1977) garapan John Badham. Meski berongkos produksi kecil, film itu meledak di pasaran. Karakter Tony Manero si “raja disko” yang dimainkan Travolta dari film itu ia kembangkan lagi ketika membintangi film musikal Grease (1978) sebagai tokoh utama Danny Zuko. “John Travolta menciptakan kembali perannya sebagai Tony Manero (protagonis dalam Saturday Night Fever ) dan judul lagu Grease 100 persen adalah disko; oleh karenanya meski filmnya di- setting era 1950-an, pada dasarnya film ( Grease ) ini adalah Saturday Night Fever II ,” ujar kritikus Stephen Saban, dikutip Peter Krämer dalam ‘Grease Is the Word’: Exploring a Cultural Phenomenon . Sebagaimana Saturday Night Fever , Grease juga meledak di pasaran. Kedua film itu kemudian bahkan menjadi pembentuk pop-culture baru yang mengglobal setelah booming -nya era Elvis Presley pada 1960-an. Selain mem- booming -kan disko, gaya rambut klimis berjambul dan fesyen Danny Zuko yang diperankan Travolta di film itu pun jadi trend-setter buat generasi muda hingga 1980-an. “Padahal awalnya film Saturday Night Fever hanya diharapkan sebagai film drama musikal kecil. Saya sendiri terkejut sampai menjadi fenomena kultur global. Berbeda dengan Grease . Saya tidak terkejut karena memang punya ekspektasi besar filmnya meledak, sebagaimana kesuksesannya di panggung teater Broadway. Saya selalu percaya bahwa Grease akan sukses,” sambung Travolta. Di film itu bahkan Travolta mendapat dua nominasi kategori aktor terbaik di Piala Oscar 1978. Namun sayangnya, penghargaan itu jatuh ke Richard Dreyfuss yang membintangi The Goodbye Girl . “Ketika pertama kali saya dinominasikan dan tak menang, ibu saya berkata: ‘baguslah, nak.’ Ternyata ibu menginginkan saya selalu punya sesuatu untuk dikejar, agar saya bisa terus mengembangkan kemampuan saya dalam berakting,” tambah duda beranak tiga itu. Karier John Travolta meroket lewat film Saturday Night Fever  (kiri) & Grease . (Paramount Pictures). Akan tetapi saat memasuki 1980-an, sebagian film yang dibintangi Travolta justru menuai kritik. Termasuk sekuel Grease bertajuk Staying Alive (1983) yang disutradarai Sylvester Stallone. Travolta mengakui era itu kariernya sedang terjun bebas. Karier Travolta baru bangkit pada 1990-an. Itu dimulainya dari menerima tawaran sineas Quentin Tarantino untuk main di film komedi-kriminal Pulp Fiction (1994). Tak mengherankan bila film yang dibintangi jajaran para aktor kondang itu sukses di pasaran. Selain Travolta, Pulp Fiction juga dimainkan Uma Thurman, Samuel L. Jackson, Harvey Keitel, Christopher Walken, hingga Bruce Willis. Di film itu, Travolta dipercaya memainkan peran utama Vincent Vega, kendati bukan pilihan pertama Tarantino maupun produser Harvey Weinstein. Weinstein awalnya menginginkan Daniel Day-Lewis untuk memerankan Vincent Vega, sementara Tarantino menginginkan Michael Madsen. Namun, Madsen menolak karena sudah memilih film lain. Tarantino akhirnya menjatuhkan pilihan pada Travolta. “Saya belum kenal dekat dengan Quentin saat dia menawari saya peran di PulpFiction . Tapi saya terkesan dengan fantasinya terhadap bagaimana ia akan menggarapnya. Dia meng- casting saya sambil makan di restoran Thailand. Seperti bermain dalam sebuah game sembari menguji daya analisis saya dalam hal finansial, jadi semacam audisi saat itu. Akhirnya dia bilang bahwa saya harus memerankan karakter (Vincent Vega) itu,” kenang Travolta. Meledak film itu membuat karier Travolta kembali meroket dan bertahan hingga sekarang yang memposisikan Travolta sebagai satu dari jajaran aktor legenda hidup. Travolta bahkan menerima penghargaan Golden Globe sebagai aktor terbaik di film (komedi) berikutnya, Get Shorty (1996). Setelah sempat turun pamor, karier John Travolta melejit lagi lewat Pulp Fiction  (kiri) & Phenomenon.  (Miramax/Buena Vista Pictures). Tak ayal ia pun kebanjiran tawaran film yang mesti ia tolak. Film-filmnya yang kemudian tak kalah laris di pasar global adalah American Gigolo (1980), yang dimainkannya dengan Richard Gere; Saving Private Ryan (1998) dan The Green Mile (1999) dengan Tom Hanks-nya. “Saya tidak menyesal menolak film-film itu karena saya mendapat gantinya dengan film yang tak kalah bagus. Saya bukan ingin menolak cerita yang dituliskan untuk saya. Tetapi saya ikut senang Richard Gere dan Tom Hanks punya karier yang hebat karena saya beberapa kali menolak tawaran film-film itu,” cetusnya seraya berkelakar. Dari beraneka genre yang pernah ia mainkan, ada satu film drama yang baginya paling berkesan, yakni Phenomenon (1996). Di film ini Travolta beradu akting dengan aktor kawakan Robert Duvall. Travolta memainkan karakter George Malley, pria yang hidupnya berubah karena punya kemampuan telekinetik. “Sangat mudah beradu akting dengan Robert Duvall. Secara otomatis Anda akan bisa hanyut ke dalam zona dirinya. Filmnya sendiri sangat menyentuh dan membuat saya menangis saat membaca naskahnya. Benar-benar menguras emosi si karakternya. Saya senang dengan karakternya. Saya menangis saat membaca naskahnya dan saat menonton ulang filmnya,” paparnya. Film Trading Paint , The Poison Rose , dan The Fanatic jadi tiga film terakhir Travolta yang dibintanginya pada 2019. Meski belum berniat pensiun, Travolta mengaku ingin vakum setahun terakhir. Terutama sejak meninggalnya sang istri Kelly Preston pada 12 Juli 2020. “Dengan berat hati saya beritahukan bahwa istri saya Kelly telah meninggal setelah bertarung dengan kanker payudara. Dia bertahan dengan berani ditemani cinta dan dukungan banyak orang. Keluarga dan saya pribadi sangat berterimakasih kepada para dokter dan perawat di MD Anderson Cancer Center yang telah membantu di sisinya. Cinta dan hidup Kelly akan selalu dikenang. Saya butuh waktu bersama anak-anak saya yang kehilangan seorang ibu, jadi saya minta maaf jika tak mendengar kabar saya lagi dalam waktu lama. JT,” tulisnya di akun Instagram @johntravolta , 13 Juli 2020. Dansa dengan Putri Diana Selain film, Travolta juga menikmati karier di dunia tarik suara. Sejak 1974 Travolta sudah punya 11 album yang sebagian besar punya benang merah dengan kegemarannya menembangkan musik disko pasca-kesuksesan Grease . Travolta tak tahu bahwa ternyata nyanyian dan tariannya di film itu turut dikagumi mendiang Putri Diana. Mengenang momen itu, Travolta menguraikan bahwa ia pernah mengajak Putri Diana turun ke lantai dansa meski sama sekali tak pernah merencanakannya. Momen itu terjadi di aula pesta Gedung Putih ketika dirinya diundang ke gala makan malam yang dihelat Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan beserta ibu negara Nancy Reagan dalam rangka menjamu kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana, 9 November 1985. “Waktu itu tahun 1985, karier saya sedang turun. Tetapi saya tetap dihubungi Gedung Putih dan mengundang saya untuk bertemu keluarga Kerajaan Inggris. Saya diundang makan malam bersama beberapa selebritas lain. Jujur saya terkesan karena sama sekali tak pernah meminta diundang,” kenang Travolta. Momen dansa itu bisa terjadi atas prakarsa Nancy Reagan. Travolta masih ingat betul ketika ia dihampiri Nancy. “Jam 10 malam itu, Nancy Reagan menepuk pundak saya dan bilang: ‘Bisakah saya bicara sebentar dengan Anda?’ Saya menjawab, tentu saja. Awalnya saya mengira telah melakukan suatu kesalahan. Tetapi dia bilang lagi: ‘Tahukah Anda bahwa sang Putri punya fantasi untuk berdansa dengan Anda? Maukah Anda berdansa dengannya malam ini?’” papar Travolta menirukan Nancy. Tentu saja Travolta bersedia. Nancy Reagan yang akan “mengaturnya”. Dikatakannya bahwa menjelang tengah malam dia akan kembali lagi menghampiri Travolta untuk kemudian mengantarnya menemui Putri Diana. Saat sudah di hadapannya, Travolta diharapkan bisa mengajak Putri Diana ke lantai dansa dengan tutur kata yang sopan. Momen John Travolta berdansa dengan Putri Diana di Gedung Putih. ( utexas.edu ). Hampir dua jam setelah berbicara dengan Nancy, Travolta mengaku bingung ia harus bersikap seperti apa saat nanti berdansa. Ia pun kembali mencoba mengingat gerakan-gerakan untuk berdansa secara formal sebagaimana yang pernah diajarkan instrukturnya dahulu, mengingat ia akan berdansa secara formal dengan iringan musik klasik. “Lalu tengah malam tiba dan Nancy Reagan menepuk pundak saya lagi. Katanya, ‘Sudah waktunya.’ Jantung saya masih berdegup kencang. Nancy lalu mengantar saya dan ketika sudah berhadapan dengan Putri Diana, saya mengatakan, ‘Apakah Anda bersedia berdansa dengan saya?’ Dia mengatakan bersedia,” lanjutnya. Ada kesan berbeda ketika Travolta sudah memegang tangan sang putri. Meski postur mereka hampir sama, toh Travolta tetap merasa “kerdil”. “Tinggi saya enam kaki, beliau hampir sama sebetulnya tapi saya merasa dia punya postur seperti 10 kaki. Mulanya di aula lantai dansa itu ada 10 pasangan, tetapi ketika saya mengajak Putri Diana, semuanya menepi dan membiarkan saya berdansa 15 menit dengan Putri Diana sendirian. Itu momen yang paling saya kenang. Putri Diana terlihat lebih cantik dan berkharisma ketimbang saya melihatnya di layar kaca. Saya merasakan besarnya ketokohan beliau saat itu dan jelas ada sesuatu dalam dirinya hingga bisa dicintai semua orang di dunia,” tandas Travolta.

  • Seks dalam Karya Pujangga Jawa

    Pada masa Jawa Baru, banyak pujangga menulis teks-teks bermuatan seks. Dari hubungan asmara, tata cara bersenggama, hingga jenis-jenis penyimpangan seks.

  • Meninjau Kembali Proses Masuknya Islam ke Nusantara

    Banyak yang meyakini Barus di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, salah satu bandar tertua di mana Islam pertama kali berlabuh. Pelabuhan Barus dikenal sejak masa awal masehi dan semakin berkembang pada era kenabian Muhammad Saw. abad ke-7.   Claudius Ptolemeus, ahli geografi Romawi pada 100–170 M, mencatat keberadaan Barousai . Kata Claude Guillot, arkeolog Prancis, dalam Lobu Tua: Sejarah Awal Barus , itu jika disepakati kalau Barousai yang ditulis Ptolemeus sebagai Barus. Sayangnya, tidak ada penemuan yang tegas soal awal mula kedatangan Islam di Nusantara membuat pembahasannya belum tuntas. Selama ini pendapat soal kapan Islam menyebar dan dari mana datangnya selalu berputar pada hasil penelitian asing. “Kita bisa melihatnya lagi sebagai orang yang tinggal di kepulauan Nusantara ini,” kata Bastian Zulyeno, ahli kajian Persia Universitas Indonesia, dalam dialog sejarah “Riwayat Masuknya Islam ke Nusantara” live  di kanal Youtube  dan Facebook   Historia.id . Menyebar Bertahap Hingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli mengenai kapan tepatnya Islam masuk ke Barus. “ Bagaimana Islam hadir di Nusantara? Menurut sumber sudah cukup lama. Ada yang menganut sejak abad ke-7, tapi ini pembuktiannya bukan arkeologis,” kata Irmawati Marwoto, arkeolog Universitas Indonesia. Tetapi berita Tiongkok yang mencatat hal itu. W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , menyebutkan kalau Ta-shih  atau olehnya disebut Da-zi,  merupakan nama yang umum digunakan untuk bangsa Arab dalam catatan-catatan sejarah Tiongkok. Groeneveldt menjelaskan Da-zi berada di pantai barat Sumatra. Lokasi ini tak pernah dijelaskan dalam literatur geografi Tiongkok. Sepertinya tak ada perdagangan atau kontak dengan wilayah itu. Maka, ketika wilayah ini dijelaskan, seringkali disamakan dengan Persia atau mayoritas dengan Arabia. “Sepertinya, permukiman Arab telah ada di pantai barat Sumatra sejak lama. Akibatnya, sejumlah penulis Tionghoa menyamakan negara ini dengan Arabia,” tulis Groeneveldt. Irma menjelaskan, permukiman Arab atau Persia berawal dari para pedagang yang menetap. Setelah menetap, pedagang-pedagang muslim itu membutuhkan tempat ibadah, karenanya membangun masjid di permukimannya.  “Jadi , ada proses cukup lama bagaimana Islam masuk ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Irma. Islam berkembang hingga abad ke-11 dibuktikan oleh nisan-nisan kuno di Barus. Ini diperkuat dengan keberadaan naskah-naskah dari masa Kerajaan Kadiri.“Sudah ada pengaruh bahasa Arab, sudah masuk di situ,” jelas Irma. Pada abad ke-13, Islam mulai membentuk sistem kerajaan. Dibuktikan dengan adanya nisan Pasai dari 1297.“Pertama kali kerajaan Islam di Indonesia adalah Samudra Pasai. Sudah disebutkan ‘sultan’. Islam di sini sudah masuk secara politis,” kata Irma. Kemudian pada abad ke-15 mulai berdatangan para ulama. “Misalnya di Pasai ada ulama Persia datang, menjadi ulama di sana. Di Jawa juga ada,” kata Irma. Dalam penelitiannya, batu nisan terawal dari masa masuknya Islam di Nusantara menunjukkan gaya budaya luar yang kental. Makin muda, nisan-nisan di makam Islam lebih bergaya Indonesia. “Islam sudah datang untuk berdagang pada abad ke-7, membentuk kerajaan pada abad ke-13, berkembang ke seluruh Indonesia pada abad ke-15-16,” kata Irma. “ Jadi, kita harus membedakan antara kapan Islam datang dan kapan Islam menyebar.” Arab ke Persia Hingga Barus Lalu dari mana datangnya? Menurut Bastian, dari fakta historis, artefak nisan, dan manuskrip, pengaruh Persia sangat kental. “Kita juga kenal serapan dari bahasa Persia: nakhoda, jangkar, bandar, nisan. Ini menyerap dari bahasa Persia,” ujar Bastian. Di Barus, jejak budaya Persia terlihat pada nisan-nisan tuanya. “Dalam bahasa Persia, nisan artinya tanda, secara umum ya,” kata Bastian. Nisan bergaya Persia dibagi menjadi dua kategori: pra-Islam dan setelah kedatangan Islam. Bastian dan Ghilman Assilmi, arkeolog Universitas Indonesia, dalam “Representation and Identity of Persian Islamic Culture in Ancient Graves of Barus, North Sumatra”, termuat d alam International Review of Humanities Studies Vol. 3 No. 2 Juli 2018 , menyebutkan bahwa sebagian besar batu nisan dari periode Islam memiliki ciri khusus. Misalnya bertuliskan ayat Al-Qur ’ an, kaligrafi jenis Kufi , dan gambar datar. Lalu ada juga nisan berbentuk pilar yang berdiri seperti mihrab. Nisan ini bisa ditemukan di wilayah Uzbekistan dan Azarbeijan dengan bentuk dan ornamen yang sama.Sementara hampir semua nisan tokoh-tokoh agama penting di Barus memiliki pilar tinggi berbentuk mihrab.  Beberapa nisan di Barus ditulis dalam aksara Arab dengan tata bahasa Persia. “Beberapa batu nisan teridentifikasi memiliki dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan Persia,” jelas Bastian dan Ghilman. Misalnya, makam Syekh Mahmud di dalam Kompleks Makam Papan Tinggi, Barus Utara. Pada batu nisan di sisi selatan inskripsinya ditulis dalam bahasa Arab. “Syekh Mahmud, semoga Allah menyucikan jiwanya!” tulis sebagian inskripsi itu. Sementara batu nisan di sisi utara ditulis dengan bahasa Persia. Tertulis di sana, kalau hingga 829H/1425–6 M, makan ini tersembunyi di dunia gaib. Penggalan inskripsinya berbunyi: “Makam ini makam Syekh Mahmud. Dan setiap hari, keajaiban timbul bagi yang minta pertolongan.” Pada nisan itu juga terdapat prasasti yang menampilkan puisi klasik Persia dari abad ke-11. Puisi ini karya penyair bernama Firdawsi yang terdapat dalam buku Shah Nameh atau ( Risalah Para Raja ),bab pertempuran antara Rostam dan Esfandiyar. “Dunia adalah laluan, kita akan kembali. Tidak ada yang tersisa dari manusia kecuali kemanusiaannya,” demikian bunyi puisi itu sebagaimana dikutip Bastian.  Bastian dan Ghilman menjelaskan,Firdawsi dalam kesusastraan Persia disebut sebagai Bapak Bahasa Persia. Mahakaryanya, Shah Nameh adalah tonggak sejarah kebangkitan bahasa Persia setelah kurang lebih tiga abad berada dalam bayangan bahasa Arab. Sejak Islam muncul dan berkembang pertama kali di jazirah Arab, mulai muncul tantangan bagi para mubalig untuk membawa ajaran Islam keluar wilayah. Contoh penaklukkan wilayah yang dilakukan Islam secara masif adalah di Persia. Rencana penaklukkan atas wilayah ini bahkan sudah muncul pada masa kenabian Muhammad Saw. “Zaman keemasan Islam ketika Islam berhasil menaklukkan Persia,” kata Bastian. Persia merupakan peradaban yang sudah tua sekaligus kuat. Pada 2.500 SM mereka telah menjadi empire (kekaisaran). Itu pada saat di dunia hanya dikenal empat empire besar, yakni Romawi, Yunani, Tiongkok, dan Persia. Menurut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, ekspansi Islam ke Persia dan Anak Benua India sepanjang masa Dinasti Umayah (660–749) memberikan dorongan baru kepada pelayaran Arab-Persia untuk menjelajah sampai ke Timur Jauh.  “Persia sampai abad ke-16, sebelum ditaklukkan Dinasti Safawiah, masih sebagai pusat ortodoksi Suni. Banyak ulama Suni itu orang Persia,” kata Bastian. Mayoritas orang di Persia, kata Bastian , sebelum menjadi Syiah, menganut maz h ab Syafi’i dan Hanafi. Orang Indonesia akhirnya pun banyak merujuk pada ilmuan Persia, seperti Al-Ghazali.

  • Tembok Tebal Bernama Sudarno

    KABUT duka kembali menghinggapi persepakbolaan Indonesia pekan ini. Sudarno, salah satu kiper legendaris Persija dan Timnas Indonesia, berpulang. Dedikasinya pada sepakbola dikenang tak hanya oleh klub berjuluk Macan Kemayoran itu tapi juga oleh PSSI. Sudarno mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (3/2/2021) dalam usia 64 tahun. Hingga tulisan ini dimuat, belum diketahui penyebab wafatnya kiper era 1970-an itu. “Innalillahi wa innailaihi rojiun. Keluarga besar Persija mengucapkan bela sungkawa atas berpulanganya salah satu mantan penjaga gawang Tim Nasional dan Persija era Perserikatan, Sudarno. Doa terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan,” demikian pernyataan Persija di akun Twitter -nya @Persija_Jkt . Ketua Umum PSSI Komjen Pol. Mochamad Iriawan alias Iwan Bule melayangkan ungkapan dukanya di akun Twitter -nya, @iriawan84 . “Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Sudarno (Legenda Penjaga Gawang Timnas). Semoga almarhum mendapat tempat yang mulia di sisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran,” cuitnya. Sepenelusuran Historia, hanya sedikit sumber yang menyebutkan bagaimana kiper kelahiran 1953 itu pertamakali terjun ke persepakbolaan nasional. Hanya jamak diketahui, sebelum berdiri di bawah mistar Persija, Sudarno acap jadi andalan PS Jayakarta, satu klub yang acap jadi langganan juara di kompetisi Divisi I Persija. Menjelang kompetisi Perserikatan 1975, nama Sudarno turut dipanggil untuk memperkuat Persija. Diungkapkan Ario Yosia dkk. dalam Gue Persija , Sudarno bersaing dengan tiga kiper lain dari delapan klub yang dinaungi Persija, yakni: Husein (Hercules), Ronny Pasla (UMS), dan AA Rake (Angkasa). Jayakarta sendiri jadi klub penyumbang pemain terbanyak tim yang diasuh Sinyo Aliandoe itu, terdiri dari: Sudarno, Sutan Harhara, Sofyan Hadi, Iswadi Idris, dan Anjas Asmara. Di awal kompetisi, Sudarno berposisi sebagai kiper cadangan pertama. Pelatih Sinyo Aliandoe masih memilih Ronny Pasla sebagai kiper utama. Namun itu berubah begitu Persija menginjak babak delapan besar. “Berlangsung di Stadion Senayan jelas keuntungan buat Persija sebagai juara bertahan. Namun di luar dugaan, Persija kalah dari Persipura dengan skor ‘wah’ 2-4. Gara-gara hasil pertandingan mengecewakan, posisi kiper utama Ronny Paslah berpindah ke tangan Sudarno,” tulis Ario. Susunan pemain Persija di final Perserikatan 1975 dengan Sudarno di bawah mistar gawangnya ( Gue Persija ) Sudarno tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia jadi tembok tebal bagi Persija. Salah satu penyelamatan fenomenalnya ialah kala Persija bersua Persebaya di babak semifinal, 6 November 1975. Meski Persija terbilang mendominasi, sesekali tim “Bajul Ijo” punya peluang membahayakan. “Persebaya sesekali mengancam gawang Persija yang dikawal Sudarno. Satu peluang emas, yakni saat Waskito tinggal berhadapan dengan kiper Sudarno. Tendangan Waskito berhasil ditinju Sudarno,” imbuh Ario. Persija pun melaju ke final berbekal kemenangan 2-0 atas Persebaya itu. Nama Sudarno kembali diplot sebagai pengawal mistar utama di partai puncak yang mempertemukan Persija kontra PSMS. Laga tersebut menjadi bersejarah karena jumlah penonton yang hadir di Stadion Utama Senayan mencapai 125 ribu penonton. Partai sengit itu bikin Sudarno pontang-panting di bawah mistar. Ia bahkan kebobolan ketika PSMS membuka gol lewat kaki Parlin Siagian di menit ke-10. Persija baru terselamatkan oleh gol penyama kedudukan lewat sundulan Sofyan Hadi. Namun, laga kedua tim berujung ricuh hingga diputuskan Persija dan PSMS menjadi juara bersama. Namun, posisi kiper utama itu beralih lagi ke tangan Ronny Pasla kala Persija menjalani kompetisi Perserikatan 1978. Pelatih asal Polandia Marek Janota lebih memilih Ronny Pasla ketimbang Sudarno, yang kembali dipanggil ke tim sebagai kiper cadangan. Kendati begitu, Sudarno tetap dipanggil ke Timnas PSSI meski Ssaat itu banyak kiper hebat, baik kiper muda maupun veteran yang masih aktif. Namun beruntung bagi Sudarno, PSSI saat itu membentuk banyak tim untuk mengikuti beragam kompetisi resmi maupun non-resmi, seperti Merdeka Games atau King’s Cup. Sebagaimana dikutip dari Kiprah Sepak Bola Nasional Menerobos Piala Dunia , PSSI pada 1978 punya dua tim, yakni PSSI Utama dan PSSI Pratama. Sementara Ronny Pasla dipanggil ke tim PSSI Utama untuk Merdeka Games, Sudarno  dipanggil ke tim PSSI Pratama untuk berlaga di Pra Piala Asia Grup III di Bangkok, 1-14 Mei 1979. Sudarno bersaing dengan Novrizal Chai dan Purwono dalam memperebutkan posisi itu. Tersandung Suap? Namun kiprah Sudarno sempat tercoreng oleh urusan luar lapangan. Ditengarai, ia dan beberapa pemain timnas tersandung kasus suap. Tepatnya kala memperkuat PS Jayakarta di kompetisi semi-pro Galatama I musim 1979-1980. Galatama dihelat sebagai kompetisi profesional pertama yang banyak tim pesertanya  berada di bawah naungan klub-klub Perserikatan. Untuk mewakili Jakarta, ada Indonesia Muda, Warna Agung, Tunas Inti, Arseto, Perkesa ’78, Cahaya Kita, dan Buana Putra. Sebelumnya semua klub itu berlaga di kompetisi Persija Divisi I. Sudarno kembali ke Jayakarta untuk tampil di Galatama I. Mirisnya, Galatama turut dicengkeram perjudian bola dan skandal suap. Tak hanya melibatkan klub-klub besar seperti Perkesa, Mercu Buana, hingga Warna Agung yang keluar sebagai juara perdana, namun juga sejumlah pemain timnas. Tak terkecuali Sudarno. Sebagaimana disitat dalam buku Kisah Panjang Suap Sepakbola Indonesia , nama Sudarno turut didengungkan kala seorang whistleblower dengan nama samaran Eddy “bernyanyi” di media hingga menarik perhatian PSSI. Eddy disebutkan seorang karyawan Telkom Tanjung Karang cum salah satu pembina tim Provinsi Lampung untuk cabang sepakbola PON X 1981. Mayoritas anggota tim Lampung yang tengah dipersiapkan untuk PON saat itu berasal dari klub Jaka Utama. Jaka Utama sering kalah tak wajar di Galatama, termasuk kalah dari Indonesia Muda dan Jayakarta yang keluar sebagai runner-up Galatama I. Eddy yang heran atas kekalahan tak wajar Jaka Utama, pada suatu malam menyadap sebuah sambungan telepon interlokal seorang bandar judi bernama A Hong di Tanjung Karang dengan Sudarno di Jakarta. “Dalam pembicaraan itu, A Hong ditagih oleh pemain nasional Sudarno untuk segera mengirimkan uang Rp.4 juta yang telah disetujui lewat Budi Santoso dari Jaka Utama. Saya kecewa betul melihat permainan anak-anak Jaka Utama yang juga menjadi pemain inti tim PON X Lampung. Saya sudah curiga mereka disogok. Cuma saya tak punya bukti (sebelumnya),” aku Eddy. Sudarno (kedua dari kiri) di Skuad Timnas PSSI. ( indonesianjuniorleague.com ). Setelah mendapatkan bukti, Eddy mengadukan hasil penyadapannya ke pemilik Jaka Utama sekaligus penanggungjawab tim PON X Lampung, Marzuli Waranegara. Dari Marzuli, laporan itu diteruskan ke Gubernur Lampung Yasir Hadibroto dengan tembusan ke PSSI. Sayangnya PSSI seolah tutup mata. Eddy akhirnya memutuskan untuk buka suara ke media massa. Dari pengakuan Eddy, para pemain Jaka Utama yang terlibat dalam skandal dengan tukang judi A Hong itu adalah Budi Santoso, Bujang Nasril, M. Asyik, serta pemain lain, Sudarno (Jayakarta), dan Haryanto (Tidar Sakti). Akan tetapi tetap saja beberapa nama itu terlepas dari jeratan hukum, kecuali untuk sang bandar judi A Hong yang diciduk, diadili, dan dibui. “Hukuman PSSI tetap ada, bahkan bisa lebih berat daripada yang dijatuhkan klub. Tergantung persoalannya. Namun Bujang Nasril, Sudarno, dan Haryanto adalah pemain nasional,” ujar juru bicara PSSI Uteh Riza Yahya. Sejak saat itu, nama Sudarno mulai tenggelam dan tergantikan oleh kiper-kiper muda. Setelah gantung sarung tangan awal 1990-an, Sudarno memilih menjadi pelatih. Disitat dari laman Indonesia Junior League (IJL) , Rabu (3/2/2021), Sudarno lebih dulu membantu timnas sebagai staf pelatih kiper pada periode 2002-2007 dan 2008-2010, untuk kemudian menghabiskan masa senjanya dengan mencari bibit-bibit masa depan di Indonesia Muda, klub yang turut berkompetisi di IJL. “IJL sangat kehilangan dan turut berbelasungkawa atas wafatnya coach Sudarno. Semoga ada generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan Mbah Darno dari bawah mistar gawang. Selamat jalan, legenda,” tandas CEO IJL Rezza Mahaputra Lubis.

  • Kisah Lucu di Tengah Liburan Bung Karno Bareng Pelukis

    Tak lama setelah Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dibentuk pada 1943, pelukis Sudjojono dipanggil Bung Karno, satu dari Empat Serangkai yang menjadi pemimpin PUTERA. Sudjojono diminta Bung Karno membantunya di lembaga era pendudukan Jepang itu. “Mas Djon ditarik bekerja di PUTERA oleh Bung Karno, yang telah mengenalnya melalui karikatur-karikaturnya di harian Pikiran Rakyat,”  kata Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Sudjojono   dan Aku . Di lembaga yang bertugas untuk menghimpun segenap potensi bangsa Indonesia guna mendukung kepentingan Perang Asia Timur Raya itu, Sudjojono ditempatkan di Bagian Kesenian. “Bagian Seni PUTERA diketuai oleh mantan anggota PERSAGI, Sudjojono, bersama Agus Djaja, Otto Djaja, Suromo, dan Kartono Yudhokusumo,” tulis M. Dwi Marianto dalam Surealisme Yogyakarta . Tugas Sudjojono, sebagaimana diminta Bung Karno, menarik para pelukis yang tidak tergabung ke dalam Keimin Bunka Shidoso (Badan Kebudayaan) masuk ke Bagian Kesenian di PUTERA. Salah satu pelukis yang ditariknya bergabung ke PUTERA adalah Affandi. Hubungan para pemimpin PUTERA dan anggota sangat cair. Terlebih Bung Karno, sangat karib dengan para anggota yang seniman. "Sejak tahun ’35-an Bung Karno sudah menjalin hubungan dengan seniman, khususnya dengan pelukis," tulis Iman Toto K. Rahardjo dalam  Bung Karno, Bapakku, Guruku, Sahabatku, Pemimpinku: Kenangan 100 Tahun Bung Karno . Seingat Mia, Bung Karno kerap mengundang para pelukis ke rumahnya di Pegangsaan. Di masa pendudukan Jepang, ketika Bung Karno mendapatkan rumah peristirahatan di daerah Tugu, Puncak, Bogor, para pelukis kerap diundang berlibur ke sana.  Vila bekas milik Profesor Reddingius itu dinamakannya Pesanggrahan Kiara Payung. Di tangan Bung Karno, vila itu diperindah dengan taman yang dirancang menurut selera seninya. “Alangkah indah taman bunga itu ditatanya. Selera Bung Karno memang sangat artistik. Di taman Bung Karno semua tumbuhan perdu dibiarkan tumbuh alamiah. Hanya jika perlu saja di sana-sini dipangkas, sekadar untuk pantas-pantas. Semuanya dicampur menjadi satu, tumbuh bersama. Anyelir, margrit, pensee, verbena, gerbera, aster . Semuanya dicampur, tapi juga tidak terkesan ngawur. Tinggi rendah tanaman masing-masing diperhatikan, demikian juga perpaduan warna-warninya dibuat serasi. Di taman ini mataku benar-benar berpesta,” kata Mia mengenang keindahan taman hasil rancangan Bung Karno itu. Ke vila itulah Bung Karno mengundang para pelukis berlibur di tahun 1944. Selain Sudjojono dan dirinya, seingat Mia, yang diundang Bung Karno antara lain Tjiroto, Ernest Dezentje, dan beberapa pelukis yang Mia lupa namanya.  Selepas makan malam, di dekat perapian mereka dijamu Bung Karno musik kecapi yang penampilnya selalu ditanggap Bung Karno setiap kali beristirahat di sana. Setelah kroket yang dibuat Fatmawati dan Mia sebagai hidangan teman ngobrol disajikan, Dezentje pun mulai bercerita. “ Zus Fat meringkuk di dipan, mendengarkan Dezentje bercerita macam-macam. Ia memang pandai mendongeng,” kata Mia. Dezentje merupakan pelukis pengusung “Mooie Indie”. Ia, sebagaimana ditulis Aoh Kartahadimadja dalam Beberapa Paham Angkatan ’45 , pernah meraih medali emas dalam pameran di New York. “Ernest Dezentje lahir di Jatinegara, Jakarta pada 17 Agustus 1885 dari sebuah keluarga kaya. Ayahnya merupakan Belanda keturunan Prancis, ibunya seorang Indonesia keturunan Belanda. Dia baru mulai melukis di usia 30-an tahun,” tulis Agus Dermawan T dalam A Collector’s Journey: Modern Painting in Indonesia .   Cerita Dezentje sukses membuat Fatmawati larut ke dalamnya. Bahkan, Fatmawati sampai meringkuk ke dalam selimut ketika mendengarkan cerita seramnya. Esok paginya, usai menikmati kopi pagi para tamu diajak Bung Karno ke Telaga Warna. Hanya Fatmawati dan Mia yang tidak diajak karena keduanya sedang hamil. Momen itu kemudian digunakan Fatmawati untuk menyiapkan sarapan. Ditemani Mia, Fatmawati membuat nasi goreng. Namun belum lagi proses memasak itu selesai, suara Bung Karno mengatakan “tamu-tamumu sudah lapar” terdengar dari dapur. Fatmawati pun menjawab agar menunggu sebentar. “Nasi gorengnya kurang asin,” kata Fatmawati yang langsung menaburkan garam ke dalam penggorengan. “Apa tidak perlu dihaluskan dulu, Zus ?” kata Mia yang bingung kepada Fatmawati. “Apa tidak bisa hancur sendiri?” kata Fatmawati balik bertanya. Begitu selesai, nasi goreng pun dihidangkan. Para tamu menikmatinya tanpa suara. Selain lapar di tengah hawa yang dingin itu, mereka lelah usai berjalan ke telaga. Namun tak berapa lama kemudian, suara Bung Karno memecah santap pagi yang tenang itu. “Waduh! Apa ini kok garam masih utuh?” kata Bung Karno.

  • Akhiri Ganyang Malaysia Lewat Belakang

    Waktu menjabat Konsul Jenderal RI di Singapura, Soegih Arto pernah mengantarkan seorang perempuan ke Jakarta. Nyonya Felice Leon Soh, perempuan paruh baya warga Singapura itu mengaku ingin bertemu Presiden Sukarno. Atas bantuan Menteri Luar Negeri Soebandrio, pertemuan itupun dapat terjalin. Nyonya Felice Leon Soh mengenakan baju Malaya berwarna merah menyolok. Pembicaraan dengan Bung Karno berlangsung selama setengah jam. “Bagi Nyonya Felice pertemuan dengan Bung Karno merupakan pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan selama hayat dikandung badan,” kenang Soegih Arto dalam  Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto.   Si nyonya rupanya terkagum-kagum dengan pesona Sukarno. " What a great man and he is so charming ," kata Leon Soh kepada Soegih Arto. Kesan senada sayangnya tidak berlaku bagi Bung Karno. Ketika Soegih Arto hendak pamit, Bung Karno bercanda dalam bahasa Jawa, “ Mbok nek gawa wong ki sing enom tur ayu (kalau membawa seseorang, bawalah yang muda dan cantik).” Kendati demikian, Sukarno puas juga dengan pertemuan itu. Dia memerintahkan Soegih Arto untuk selalu berhubungan dengan Nyonya Felice Leon Soh. Felice Leon Soh adalah wanita pebisnis warga negara Singapura sekaligus politisi yang berasal dari Singapore Partij. Kelak, pada 1964, ketika konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia memanas, Nyonya Felice Leon Soh inilah yang berperan menjadi perantara untuk misi Soegih Arto. Misi rahasia tersebut merupakan perintah Sukarno untuk menghentikan konfrontasi lewat jalur belakang. Sukarno secara senyap mengutus Soegih Arto berunding dengan Kementerian Luar Negeri Kerajaan Inggris. Menembus Pihak Inggris Dengan bekal sangu sebesar US$350, Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Di Paris, Ny. Leon Soh telah menanti. Kepadanyalah segala keperluan Soegih Arto akan diurus, termasuk soal saluran diplomatik. Setibanya di London, tutur Soegih Arto, yang ada hanya seorang Kuasa Usaha. Orang ini pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Indonesia. Soegih Arto meminta kepadanya dibuatkan teks bahasa Inggris yang akan digunakan sebagai bahan perundingan. Pertemuan itu telah diatur sedemikian rupa oleh Ny. Leon Soh sehingga Soegih Arto tidak perlu buang waktu lebih banyak.  Soegih Arto kemudian dipertemukan dengan seseorang bernama Mr. Silver (entah nama sebenarnya atau nama samaran) di salah satu restoran pilihan Ny. Leon Soh. Kejutan terjadi ketika Mr. Silver menertawakan niatan Soegih Arto. Dia mengatakan bahwa Indonesia sudah kelabakan sampai harus meminta-minta Inggris menyelesaikan konfrontasi. Kendati demikian, Mr. Silver berjanji untuk menyampaikan masalah itu kepada atasannya dan akan memberikan jawaban secepatnya. Sekira 2-3 hari Soegi Arto menanti. Jawaban dari pihak Inggris maupun Mr. Silver tidak kunjung datang. Lantaran kesal, Soegih Arto kembali ke Indonesia. Ini berarti bahwa Inggris telah menolak gagasan Sukarno. Menanggapi misi Soegih Arto tersebut, menurut peneliti politik UGM Hidayat Mukmin, kemungkinan pihak Inggris punya banyak pertimbangan. Bisa jadi Inggris menilai pemerintah Indonesia tidak sungguh-sungguh dengan gagasan penyelesaian konfrontasi. Lobi ini ditafsirkan pula sebagai tanda kapitulasi Indonesia menyerah kalah mengganyang Malaysia. “Atau Inggris justru ingin memberikan ‘pelajaran’ kepada Indonesia,” tulis Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia .     Melacak Jejak Sejarah Versi lebih gamblang mengenai misi Soegih Arto diteliti oleh sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti dalam disertasinya. Menurut Linda, dalam dokumen Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office  ) terdapat beberapa keterangan tentang seorang utusan Sukarno yang datang untuk melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan mengakhiri konfrontasi. Dalam penelitian Linda terlihat Ny. Leon Soh berperan lebih jauh sebagai penghubung antara Indonesia dan Inggris. Pada 14 Oktober 1964, Leon Soh menghubungi Sir N. Pritchard dari Kementerian Luar Negeri Inggris. Leon Soh menjelaskan bahwa Indonesia masih berminat menyelesaikan konfrontasi melalui perundingan. Leon Soh kemudian meneruskan pesan Sukarno yang disampaikan kepada Soegih Arto. Sekiranya Inggris membantu Indonesia menyelesaikan konfliknya dengan Indonesia, Sukarno berjanji akan mengembalikan semua aset Inggris yang dinasionalisasi, termasuk ganti rugi. Leon Soh mengemukakan dua alternatif untuk mengakhiri konfrontasi. Pertama, mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Serawak, setelah itu Sukarno akan menerima putusan referendum tersebut. Alternatif selanjutnya adalah dengan mengadakan pertemuan puncak antara pimpinan Indonesia, Malaysia, dan Inggris, setelahnya kantor konsulat akan dibuka di masing-masing negara. Sejajar dengan itu, Indonesia akan menarik mundur tentaranya dan mengakhiri konfrontasi. Bagaimana reaksi pihak Inggris? Dalam catatan arsip Inggris yang dikutip Linda, Pritchard menegaskan bahwa posisinya hanya mendengarkan. Selanjutnya, dia akan melaporkan kepada pemerintahnya dan bila diperlukan akan meminta pertimbangan Malaysia. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris memberitahukan adanya pertemuan antara Leon Soh dan Pritchard kepada Wakil Komisaris Tinggi Malaysia di London. Namun, perdebatan alot justru terjadi di Kementerian Luar Negeri Inggris.    Felice Leon Soh. Sumber: Singapore Press Holdings. “Kementrian Luar Negeri Inggris ternyata tidak begitu terkesan dengan penampilan Leon Soh, bahkan menilainya sebagai tipikal oportunis,” ungkap Linda dalam disertasinya “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Sementara itu tawaran Sukarno mengembalikan aset Inggris dinilai sebagai sebuah tawaran yang naif. Mengenai rencana pertemuan puncak, pihak Inggris menanggapinya sebagai alat untuk membuktikan tuduhan Sukarno bahwa Malaysia adalah boneka Inggris. Apalagi Kementerian Luar Negeri Inggris menerima masukan dari Andrew Gilchrist, duta besar Inggris di Jakarta yang tidak begitu yakin akan ketulusan Sukarno. Pada intinya, pihak Inggris meragukan niat baik pemerintah Indonesia. Perbincangan inilah yang menyebabkan Soegih Arto menanti jawaban yang tidak kunjung datang. Dalam otobiografinya, Soegih Arto mengakui misinya menuai kegagalan. Malahan dirinya merasa dipermalukan dengan sikap orang Inggris itu. “Usaha saya gagal seperti itu juga kegagalan yang saya alami dalam usaha membeli Irian Barat,” kata Soegih Arto. Pernyataan Soegih Arto, kata Linda, memang diperkuat dengan dokumen-dokumen milik Inggris yang menyatakan adanya utusan Sukarno yang bernama Soegih Arto dan Leon Soh. Menurut Hidayat Mukmin, kesediaan Sukarno untuk berunding dengan Inggris tidak perlu ditafisrkan sebagai kelemahan. Sebagai ahli politik kawakan, Sukarno sejatinya telah melepaskan balon percobaan. Dengan mengutus Soegih Arto ke London, Sukarno dapat mengetahui siapa sebenarnya yang menjadi penentu dalam Federasi Malaysia. Selain itu, Sukarno ingin menjajaki sejauh mana Inggris bersedia berkompromi. “Apabila rakyat memang menginginkan rujuk dengan menyelesaikan konfrontasi secara cepat, Sukarno pun telah siap sedia,” ungkap Hidayat. Di balik seruan garang “ganyang Malaysia”, Sukarno sejatinya ingin menyelesaikan konfrontasi secara terhormat tanpa kehilangan muka. Namun, karena pihak Inggris belum menanggapinya dengan serius, Sukarno mengerahkan saluran-saluran diplomatik non formal yang lain. Sementara itu, tentara yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani pun mempersiapkan operasi khusus intelijen untuk kepentingan yang sama. Salah satunya adalah misi rahasia Jenderal S. Parman. (Bersambung)

  • Mata Uang Emas di Nusantara

    Transaksi jual beli menggunakan koin emas di Depok, Jawa Barat, berbuntut panjang. Polisi menahan Zaim Saidi, pendiri pasar Muamalah. Menurut polisi, Zaim terkena dua pasal pidana: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Transaksi jual beli memakai uang emas telah lama jarang terjadi di Indonesia. Kalaupun ada, aktivitasnya terbatas pada kelompok kecil masyarakat. Tapi secara historis, transaksi jual beli dengan uang emas pernah marak semasa kerajaan Hindu-Buddha dan kesultanan Islam pada abad 8-17 M. Penggunaan emas sebagai alat pembayaran paling jamak berlangsung di wilayah Sumatra. Sebab, di sini banyak tambang emas. “Sumber Arab paling kuno yang berkaitan dengan Asia Tenggara, Akhbar al-Sin wa-l-Hind (851 M) mencatat bahwa tambang-tambang emas ditemukan di wilayah tersebut,” ungkap Claude Guillot dkk. dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu. Baca juga:  Merentang Sejarah Uang Saking banyaknya tambang emas, Sumatra disebut Suvarnadipa atau Suvarnabhumi. Tome Pires, pelaut Portugis yang hidup pada abad ke-15, menguatkan sebutan itu. “Dalam pengembaraannya di Sumatra, Tome Pires, sepertinya melihat emas di mana-mana di pulau ini,” lanjut Guillot. Pires menjelaskan dalam bukunya, Suma Oriental , emas tersua di barat Sumatra, Kerajaan Pirada, Aru, Arcat, Rokan, Purim, Siak, Jambi, Minangkabau, Palembang, Panah Malaio, Sekampung, dan Tulang Bawang. Di semua wilayah itu, emas berfungsi sebagai perhiasan keluarga kerajaan dan alat pembayaran.   Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi depan. Ketiganya bermotif bunga Cendana seperti motif mata uang perak di Jawa. (Repro  Barus Seribu Tahun yang Lalu) Uang emas berbentuk lingkaran dengan ukuran dan motif ukiran yang beragam. Tergantung dari mana dan kapan uang emas itu berasal. Misalnya di Barus, uang emasnya terdiri atas empat ukuran berbeda: kecil, sedang, besar, dan besar sekali. Selain itu, ada pengaruh Jawa yang kuat dalam mata uang emas Barus. “Mata uang emas dari Barus memakai jenis bunga cendana yang ada pada mata uang perak di Jawa,” catat Guillot. Baca juga:  Emas Kegemaran Bangsawan Jawa Pengaruh ini kemungkinan berpangkal dari hubungan dagang Barus (masa Lobu Tua) dan Jawa antara pertengahan abad ke-9 dan akhir abad ke-11. Sementara itu di Samudra Pasai, uang emasnya menggunakan huruf Arab. Tak ada keterangan angka tahun keluar, tetapi tampak nama sultan yang tengah berkuasa ketika uang emas itu dikeluarkan. “Bentuknya kecil dengan garis tengah kira-kira 10 mm,” tulis Ninie Soesanti Yulianto dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Nama mata uangnya drama . Meski berbeda ragam ukiran dan ukuran, mata uang emas di Sumatra berasal dari dua tambang emas besar: Lebong dan Minangkabau. Dua daerah ini sohor sebagai penyuplai emas ke berbagai wilayah Sumatra dan luar Sumatra, termasuk ke Jawa. Kualitas emas di sini lebih baik daripada emas di wilayah lain. Baca juga:  Uang Aceh Tak Pernah Lemah Ekspor emas ke Jawa ini untuk memenuhi kebutuhan emas yang tinggi di Jawa. Uang emas memang banyak beredar di Sumatra, tetapi Jawa lebih dulu menggunakan uang emas untuk alat pembayaran dagang dan denda pada masa Mataram Kuno abad ke-8 M. “Semua pelanggaran hukum dikenai denda dalam bentuk mata uang emas yang besarnya disesuaikan dengan berat ringannya tindak pidana yang dilakukan,” ungkap Irmawati Marwoto dalam Peranan Mata Uang di Beberapa Wilayah Indonesia pada Sekitar Abad ke-13–17 M. Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi belakang. Nomor 1 dan 2 bermotif aksara tulisan dewanagari, sedangkan nomor 3 agak kabur.. (Repro  Barus Seribu Tahun yang Lalu) Yang unik, para pekerja tambang emas di Sumatra dipelopori oleh orang-orang India. “Orang dari India Selatan –kita sudah mengetahui bahwa masyarakat yang berasal dari India Selatan tinggal di Lobu Tua– telah lama menguasai teknik-teknik pertambangan di wilayah mereka sendiri,” catat Guillot. Baca juga:  Uang Kuno bukan Sembarang Uan Untuk memperoleh emas, para pekerja tambang harus bekerja keras. “Kerja menambang emas sangat melelahkan, sangat berbahaya, dan banyak dilanda penyakit,” terang Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680. Setelah memperoleh emas, tukang cor mencetaknya dengan cetakan dari terakota. Ini untuk uang emas yang beredar di Barus. Sedangkan untuk wilayah lain, emas dikirim tanpa dicetak. Dengan demikian, orang India menjadi mata rantai tak terpisahkan dalam suplai bahan uang emas di wilayah Sumatra dan Jawa. Meski penggunaan uang emas marak di Sumatra dan Jawa, penggunaannya di pasar untuk kebutuhan sehari-hari sangat sedikit. “Koin emas dan perak terlalu tinggi untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di pasar,” tulis Erwien Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Penggunaan uang emas lazimnya untuk pembayaran barang dan denda dalam jumlah besar, pajak tanah, hadiah, dan ritual dalam kuil. Tak jarang pula uang emas menjadi jimat berkekuatan magis. Seiring tumbuhnya perdagangan rempah dan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara pada abad ke-17, penggunaan uang emas semakin terbatas pada beberapa kesultanan dan transaksi. Orang lebih banyak menggunakan uang picis atau uang koin Tiongkok.   Baca juga:  Pulau Emas di Barat Nusantara

  • Ketika Pelukis Sudjojono Angkat Senjata

    DARI tempat pengungsiannya di Desa Bogem, Prambanan, Yogyakarta, Sudjojono berkunjung ke kota Yogyakarta sekira tanggal 16 atau 17 Desember 1948. Kepergian “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” ke ibukota republik itu adalah untuk membicarakan persiapan pameran tunggalnya. “Sebanyak 45 buah lukisan akan dipamerkan seluruhnya. Sebagian dari zaman PERSAGI, sebagian dari zaman Jepang, sebagian dari Biro Perjuangan, dan sebuah dua yang dibuatnya di Bogem,” ujar Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Aku dan Sudjojono . Namun, pameran tersebut batal dilaksanakan karena pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Kedua dan menduduki Yogyakarta. Lukisan-lukisan Sudjojono yang bakal dipamerkan sendiri musnah ketika disembunyikan. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Dosen FSRD ITB Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah di Historia  bertajuk “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya, 21 Juli 2020. Sudjojono baru berhasil berkumpul kembali dengan keluarganya pada 20 Desember. Mereka lalu mengungsi ke Desa Kragan di utara Bogem malam itu juga. Di sana mereka ditampung Dirjo Pawiro yang menjabat sebagai Kamitua desa. Di rumah itu pula kemudian bermarkas sepasukan Tentara Pelajar (TP). Di utara Kragan, terdapat markas Militaire Academie (MA) atau Akademi Militer Yogyakarta (AMY). Pada suatu malam, para kadet MA bergabung dengan para prajurit TP merencanakan penyergapan markas Belanda di Bogem. Mengetahui rencana itu, Sudjojono ikut bergabung. “Mas Djon ikut bersama mereka, membawa sepucuk karaben pasukan MA yang tersisa. Ia pamit padaku, muncul dengan berikat kepala. Aku tertawa geli melihatnya. Ia lebih mirip penari ngremo, yang tampil membuka lakon di panggung ludruk, ketimbang seorang gerilyaawan yang siap bertempur,” kenang Mia. Sudjojono bukan satu-satunya seniman yang ikut angkat senjata. Dalam Perang Kemerdekaan, banyak seniman yang ikut angkat senjata. Meski tak semua bertempur, mereka berjuang dengan beragam cara, seperti menjadi telik sandi, pendukung kerja teknis, atau penghibur. Selain Sudjojono, seniman-seniman di Yogya yang ikut angkat senjata antara lain pelukis Haryadi dan pelukis Supono. “Supono harus mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya. Dalam mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya itu, dia melukis bersama Moh. Affandi sebuah jembatan yang sering mereka lalui telah hancur karena diledakkan sendiri oleh pasukan gerilya,” tulis Tashadi dalam Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta . Setelah berpesan kepada bapaknya, Sindudharmo, agar menjaga anak-istrinya, Sudjojono pun berangkat. Di tengah perjalanan, Sudjojono baru mengetahui bahwa Pak Sindu ternyata ikut serta dalam penyergapan itu dengan berbekal golok dan granat gombyok –granat buatan sendiri berupa bahan peledak yang dimasukkan ke dalam bumbung dan diujungnya diikatkan seutas tali. Sudjojono jelas tak bisa melarangnya apalagi marah. Sudjojono tahu bapaknya memendam kesumat terhadap Belanda sejak masih menjadi kuli kontrak di sebuah perkebunan di Sumatera Utara. Perlawanan dilakukan para gerilyawan dengan cara hit and run . Saat malam, mereka menyerang dan ketika siang mereka menghilang. “Serangan terbatas secara sporadis dilakukan oleh gerilyawan di sekitar kota Yogya, penghadangan konvoi Belanda di jalan raya dan penyergapan pos Belanda yang terpencil,” tulis buku berjudul Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta: Latar Belakang dan Pengaruhnya . Akibatnya, Belanda kerepotan dan mengamuk. Desa-desa di sekitar wilayah penyerangan biasanya langsung “dibersihkan”. Sasaran yang dipilih pasukan Belanda seringkali asal. Penduduk acap menjadi korban. Terlebih bila yang melakukan serangan adalah pesawat “cocor merah” Mustang. Pos PMI di Sleman Timur bahkan tak luput jadi sasaran serangan itu. “Selama Januari dan Pebruari 1949 musuh aktif melancarkan penyerbuan dan pembersihan di bagian-bagian selatan, mulai dari Yogya dan Maguwo –Prambanan sampai ke onderdistrik-onderdistrik Bantul yang terselatan,” tulis AH Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Perang Gerilya Semesta II . Suatu kali, Gufron Dwipayana –kelak menjadi brigadir jenderal dan memimpin Perusahaan Produksi Film Negara– dari TP kembali ke desa dengan sedih. Sebelas kawannya gugur dimangsa pesawat Belanda, katanya. “Di tengah sawah itu terjadi. Aku sendiri selamat, tapi tak bisa apa-apa, karena aku membenamkan diri di lumpur,” kata Dwipayana, dikutip Mia yang ikut menangani dapur umum di Kragan. Kendati begitu, para pejuang Indonesia tidak pernah menyerah. Meski serangan dari kedua belah pihak sempat mereda pada Februari-Maret, pertempuran kembali sengit pada April. Belanda kembali “kalap”, terlebih setelah kota Yogya diserang dalam Serangan Umum. Pada 11 April 1949. Sleman Timur, termasuk Kragan di dalamnya, dibombardir dari segala penjuru. Sudjojono segera pulang untuk menyelamatkan sketsa-sketsanya dan dokumen-dokumen penting miliknya. Setelah selesai menyelamatkan barang-barang berharganya, dia kembali kabur bersama Gulam Mohamad, desertiran pasukan Sekutu-Inggris, dan Pak Sindu. Mereka pulang pada petang hari. Mia bersama ketiga anaknya mengantar sampai ke perbatasan desa. Mereka lalu kembali pergi. Sudjojono membawa sketsa-sketsanya, Pak Sindu membawa dokumennya, dan Gulam membawa buntalan yang isinya hanya dia yang tahu. Mereka berlarian di bawah hujan tembakan lawan. Di jalan yang agak menanjak dan terbuka, Gulam masuk ke parit di tepi kanan jalan sementara Sudjojono dan Pak Sindu terus berlari. Dalam pelarian itu, tiba-tiba Sudjojono mendengar bapaknya berkata tertembak dan kemudian menutup matanya dan roboh. Tubuh Pak Sindu langsung dibalikkannya. Meski tak banyak mengeluarkan darah, dada Pak Sindu mengeluarkan suara aneh. Sudjojono langsung mencium sang bapak sambil berbisik lirih, “Pak, Bapak masih mendengar aku?” Pertanyaannya hanya berjawab anggukan lemah. Melihat kondisi kritis bapaknya, Sudjojono segera mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibawa Pak Sindu dan menciumnya. “Pak, Bapak terpaksa kutinggal di sini. Sket-sket dan dokumen ini harus aku selamatkan. Kalau Bapak haus, di kanan jalan ada parit. Airnya bening. Bapak bisa minum,” kata Sudjojono sebagaimana dikisahkan Mia. Lagi-lagi kalimat Sudjojono hanya berbalas anggukan lemah. Kondisi Pak Sindu kian kritis. “Pak, umpama Bapak mati, bukan mati konyol. Bapak mati berjuang melawan Belanda. Menyelamatkan dokumen juga perjuangan, Pak. Sudah, Pak. Selamat, Pak. Aku terpaksa dan harus cepat-cepat pergi,” Sudjojono melanjutkan percakapan. Setelah mencium kembali sang bapak, Sudjojono langsung berlari sambil sesekali tiarap menghindari peluru Belanda. Semak-semak di tepi jalan kerap dia jadikan sebagai tempat perlindungan dalam pelarian itu. Ketika sudah aman, Sudjojono kembali ke tempat ayahnya tertembak. Namun, dia tak mendapatkan yang dicarinya. Seseorang yang ada di sana lalu mendekati Sudjojono. “Pak Djon mencari Pak Sindu? Sudah dibawa ke Jolanan. Orang menemukan Pak Sindu telungkup di pinggir parit,” kata orang itu. Menjelang senja, Sudjojono tiba di rumah. Dengan sedih dia memberitahu istrinya. “Bapak telah gugur, Jeng. Kena tembak,” katanya pada sang istri Mia. “Aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ingatanku kembali pada beberapa hari lalu, ketika bapak kuantar dengan pandang mataku di batas desa. Bapak sangat mengasihi aku. Kuikuti dengan mata langkah-langkah bapak yang agak terbungkuk-bungkuk. Di tikungan jalan, Bapak dan Minah berhenti, sebentar menoleh sambil melambaikan tangan. Aku sama sekali tidak menangkap firasat, ketika itulah saat pertemuan kami terakhir dengan bapak,” kenang Mia.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page