top of page

Mata Uang Emas di Nusantara

Penggunaan mata uang emas di kerajaan dan kesultanan Nusantara. Tak hanya buat alat bayar, tapi juga untuk jimat.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 5 Feb 2021
  • 3 menit membaca

Transaksi jual beli menggunakan koin emas di Depok, Jawa Barat, berbuntut panjang. Polisi menahan Zaim Saidi, pendiri pasar Muamalah. Menurut polisi, Zaim terkena dua pasal pidana: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.


Transaksi jual beli memakai uang emas telah lama jarang terjadi di Indonesia. Kalaupun ada, aktivitasnya terbatas pada kelompok kecil masyarakat. Tapi secara historis, transaksi jual beli dengan uang emas pernah marak semasa kerajaan Hindu-Buddha dan kesultanan Islam pada abad 8-17 M.


Penggunaan emas sebagai alat pembayaran paling jamak berlangsung di wilayah Sumatra. Sebab, di sini banyak tambang emas. “Sumber Arab paling kuno yang berkaitan dengan Asia Tenggara, Akhbar al-Sin wa-l-Hind (851 M) mencatat bahwa tambang-tambang emas ditemukan di wilayah tersebut,” ungkap Claude Guillot dkk. dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu.



Saking banyaknya tambang emas, Sumatra disebut Suvarnadipa atau Suvarnabhumi. Tome Pires, pelaut Portugis yang hidup pada abad ke-15, menguatkan sebutan itu. “Dalam pengembaraannya di Sumatra, Tome Pires, sepertinya melihat emas di mana-mana di pulau ini,” lanjut Guillot.


Pires menjelaskan dalam bukunya, Suma Oriental, emas tersua di barat Sumatra, Kerajaan Pirada, Aru, Arcat, Rokan, Purim, Siak, Jambi, Minangkabau, Palembang, Panah Malaio, Sekampung, dan Tulang Bawang. Di semua wilayah itu, emas berfungsi sebagai perhiasan keluarga kerajaan dan alat pembayaran.  


Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi depan. Ketiganya bermotif bunga Cendana seperti motif mata uang perak di Jawa. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu)
Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi depan. Ketiganya bermotif bunga Cendana seperti motif mata uang perak di Jawa. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu)

Uang emas berbentuk lingkaran dengan ukuran dan motif ukiran yang beragam. Tergantung dari mana dan kapan uang emas itu berasal. Misalnya di Barus, uang emasnya terdiri atas empat ukuran berbeda: kecil, sedang, besar, dan besar sekali. Selain itu, ada pengaruh Jawa yang kuat dalam mata uang emas Barus. “Mata uang emas dari Barus memakai jenis bunga cendana yang ada pada mata uang perak di Jawa,” catat Guillot.



Pengaruh ini kemungkinan berpangkal dari hubungan dagang Barus (masa Lobu Tua) dan Jawa antara pertengahan abad ke-9 dan akhir abad ke-11. Sementara itu di Samudra Pasai, uang emasnya menggunakan huruf Arab. Tak ada keterangan angka tahun keluar, tetapi tampak nama sultan yang tengah berkuasa ketika uang emas itu dikeluarkan.


“Bentuknya kecil dengan garis tengah kira-kira 10 mm,” tulis Ninie Soesanti Yulianto dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Nama mata uangnya drama.


Meski berbeda ragam ukiran dan ukuran, mata uang emas di Sumatra berasal dari dua tambang emas besar: Lebong dan Minangkabau. Dua daerah ini sohor sebagai penyuplai emas ke berbagai wilayah Sumatra dan luar Sumatra, termasuk ke Jawa. Kualitas emas di sini lebih baik daripada emas di wilayah lain.



Ekspor emas ke Jawa ini untuk memenuhi kebutuhan emas yang tinggi di Jawa. Uang emas memang banyak beredar di Sumatra, tetapi Jawa lebih dulu menggunakan uang emas untuk alat pembayaran dagang dan denda pada masa Mataram Kuno abad ke-8 M.


“Semua pelanggaran hukum dikenai denda dalam bentuk mata uang emas yang besarnya disesuaikan dengan berat ringannya tindak pidana yang dilakukan,” ungkap Irmawati Marwoto dalam Peranan Mata Uang di Beberapa Wilayah Indonesia pada Sekitar Abad ke-13–17 M.


Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi belakang. Nomor 1 dan 2 bermotif aksara tulisan dewanagari, sedangkan nomor 3 agak kabur.. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu)
Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi belakang. Nomor 1 dan 2 bermotif aksara tulisan dewanagari, sedangkan nomor 3 agak kabur.. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu)

Yang unik, para pekerja tambang emas di Sumatra dipelopori oleh orang-orang India. “Orang dari India Selatan –kita sudah mengetahui bahwa masyarakat yang berasal dari India Selatan tinggal di Lobu Tua– telah lama menguasai teknik-teknik pertambangan di wilayah mereka sendiri,” catat Guillot.



Untuk memperoleh emas, para pekerja tambang harus bekerja keras. “Kerja menambang emas sangat melelahkan, sangat berbahaya, dan banyak dilanda penyakit,” terang Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680.


Setelah memperoleh emas, tukang cor mencetaknya dengan cetakan dari terakota. Ini untuk uang emas yang beredar di Barus. Sedangkan untuk wilayah lain, emas dikirim tanpa dicetak. Dengan demikian, orang India menjadi mata rantai tak terpisahkan dalam suplai bahan uang emas di wilayah Sumatra dan Jawa.


Meski penggunaan uang emas marak di Sumatra dan Jawa, penggunaannya di pasar untuk kebutuhan sehari-hari sangat sedikit. “Koin emas dan perak terlalu tinggi untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di pasar,” tulis Erwien Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya.


Penggunaan uang emas lazimnya untuk pembayaran barang dan denda dalam jumlah besar, pajak tanah, hadiah, dan ritual dalam kuil. Tak jarang pula uang emas menjadi jimat berkekuatan magis.


Seiring tumbuhnya perdagangan rempah dan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara pada abad ke-17, penggunaan uang emas semakin terbatas pada beberapa kesultanan dan transaksi. Orang lebih banyak menggunakan uang picis atau uang koin Tiongkok.  


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
transparant.png
bottom of page