Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Siapa Sebenarnya Bangsa Indonesia?
Suatu hari, Truman Simanjuntak mengikuti seminar tentang Austronesia. Arkeolog senior yang banyak meneliti manusia prasejarah ini kemudian dirubung wartawan. Seorang wartawan mengajukan pertanyaan tak terduga: Siapa sebenarnya bangsa Indonesia? “Jawaban saya waktu itu rasanya kurang memuaskan. Ini lalu menjadi tantangan saya untuk menjawabnya,” kata Truman dalam bedah buku terbarunya, Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Truman menilai arkeologi bisa menjawab pertanyaan itu. Ilmu ini bisa menggali masa lampau tanpa batas, selama ada interaksi manusia dengan lingkungan yang kemudian menyimpan data hingga kini. “Nilai-nilai yang tercermin itu kemudian menjadi pondasi masyarakat masa sekarang dan masa yang akan datang,” ujar Truman. Truman memerlukan waktu lima tahun untuk menyarikan semua temuannya menjadi jawaban pertanyaan wartawan itu. Ia tuangkan jawabannya dalam buku yang menjelaskan perjalanan Indonesia sejak dihuni manusia pertama hingga kini. Baca juga: Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara Menurut Truman, ada empat kata yang mengantarkan Indonesia pada kondisi masa kini. “Ada proses migrasi, adaptasi, interaksi, kemudian berevolusi hingga pada Indonesia yang kita punyai kini,” katanya. Dari proses itu, kata Truman, Indonesia sarat dengan nilai-nilai dan capaian para leluhur. Misalnya, ada Homo erectus yang punya ide dalam menciptakan bentuk hiasan geometris pada cangkang kerang. Belum lagi gambar cadas tertua yang usianya puluhan ribu tahun, yang lawannya hanya ada di Spanyol. “Indonesia harusnya leading peradaban global,” tegas Truman. Ketika melakukan perjalanan ke pelosok Nusantara, Truman menemukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal terutama dalam interaksi dengan lingkungan, keuletan, dan gotong royong. Inilah yang mestinya menjadi landasan dalam berbangsa dan bernegara. “Semua nilai itu dipres oleh para pendahulu kita menjadi Pancasila,” kata Truman.“Pancasila bukan begitu saja muncul pada sekitar kemerdekaan, perumusannya iya, tapi nilainya sudah ada jauh sejak ribuan tahun.” Kesadaran Multietnik Sementara itu, peneliti utama Balai Arkeologi Yogyakarta, Harry Widianto, mengungkapkan bahwa perjalanan evolusi Homo sapiens yang rumit menjadi awal terbentuknya populasi yang mendiami kepulauan Nusantara. Diaspora Sapiens atau manusia modern dimulai sejak pertama kali mereka keluar dari Afrika, kemudian menjangkau berbagai wilayah yang jauh, termasuk Indonesia. Setidaknya, sejak 70 ribu tahun lalu kepulauan Nusantara sudah disinggahi manusia modern awal. Ras Australomelanesid ini mendiami Indonesia bagian timur. Di antara mereka kemudian ada yang bermigrasi ke barat melalui Nusa Tenggara Barat dan Timur. “Perjalanan dimulai 40 ribu tahun lalu,” kata Harry. Jejak mereka kemudian bercampur dengan ras Mongoloid di wilayah NTT dan NTB. Ras Mongoloid inimengisi bagian barat, seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, juga Asia Tenggara. “Ini saudara kita datang dari utara menempati kepulauan Indonesia bagian barat,” kata Harry. “Manusia yang ketemu di NTT-NTB itu percampuran.” Baca juga: Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan Menurut Harry, pengetahuan ini penting bagi kesadaran multietnik masyarakat Indonesia. Kendati berbeda secara fisik, tapi secara historis orang-orang di Indonesia bagian timur sangat dekat dengan masyarakat bagian barat. “Kita punya tiga warna, di timur, NTB-NTT, dan barat. Kita ini berangkai. Ini penting untuk memahami diversitas untuk kedamaian bangsa,” kata Harry. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengamini kalau keberagaman Indonesia telah ditunjukkan oleh populasi awal yang mendiaminya. Selain yang sudah dibahas dalam buku Truman, Daud menjelaskan bahwa hasil penelitian genetika terbaru semakin menunjukkan itu, bahwa Australomelanesid yang cukup lama mendiami kepulauan Nusantara rupanya memiliki ciri yang berbeda-beda. “Kalau saya membaca deskripsi Australomelanesid (dalam buku karya Truman, red. ) yang cukup lama tinggal di Indonesia memberi kesan jenis manusia ini mempunyai ciri yang sama di daerah-daerah huniannya. Penelitian genetika akhir-akhir ini, Australomelanesid punya ciri beda,” kata Daud. Baca juga: Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara Di wilayah barat, ras Australomelanesid tak memiliki genetika Denisovan, yaitu manusia Neanderthal yang pernah hidup di Asia Timur dan Eropa Timur. Genetika ini hanya ditemukan pada ras Australomelanesid yang mendiami wilayah timur Indonesia. “Bagaimana mereka masih menyimpan gen itu sampai sekarang? Ini bukti keunikan kepulauan Indonesia. Pembahasan ini akan memperkaya soal keragaman tadi,” kata Daud. Bagi Daud, evolusi budaya tak selalu berjalan linier dan sama di semua tempat. Proses perubahannya multilinier, bahkan ke segala arah. “Daya serap budaya luar maupun kemampuan dan kebutuhan berinovasi beda-beda, bergantung pada komunitas yang menjalaninya,” ujar Daud. Baca juga: Leluhur Orang Papua Contohnya sikap orang Baduy yang tidak ingin menyerap modernitas. Padahal, mereka berada tak jauh dari hingar bingar Jakarta. Komunitas pengguna kubur megalitik di Gunung Kidul dan pendukung kubur kalang di Bojonegoro diyakini masih eksis ketika Kerajaan Mataram Hindu mendirikan candi-candi megahnya. “Seakan tersisih padahal mereka bagian dari kerajaan itu. Mereka tetap teguh pada prinsipnya. Saya kira ini hampir terjadi di setiap perjalanan budaya di segala zaman,” kata Daud. Ini yang kemudian memunculkan bercak-bercak budaya di negara kepulauan Indonesia. Ini pula yang akan menambah keyakinan akan adanya keragaman. “Di Indonesia tidak pernah ada yang mendominasi. Selalu terjadi percampuran persamaan kebersamaan,” ujar Daud. Karakter Luhur Manusia Indonesia Hidup di wilayah kepulauan Nusantara memunculkan karakter masyarakat yang khas. Menurut Daud, lingkungan kepulauan akan membentuk budaya yang jarang ditemukan di wilayah lain. “Saya berharap kajian adaptasi lingkungan kepulauan dibahas lebih banyak di buku ini, walaupun di dalam buku sudah disebut kekhasan kita adalah kepulauan,” kata Daud . Nilai luhur manusia Indonesia, lanjut Daud, berpangkal pada proses adaptasi terhadap lingkungan kepulauan. Karenanya orang Indonesia lebih mengenal sebutan tanah air ketimbang mother land atau father land. Baca juga: Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan Ini yang menjadi ciri budaya Nusantara, bahwa masyarakatnya sangat menghargai perpaduan tanah dan air sebagai sumber kehidupan. “Makanya pasti ada inovasi yang muncul dalam lingkungan yang khas ini,” ujar Daud. Tinggal di lingkungan kepulauan juga memunculkan sifat keterbukaan. Para leluhur bangsa Indonesia terbiasa bertualang, singgah ke berbagai tempat, bertemu ragam manusia dan budaya yang berbeda. “Mereka selalu bertemu manusia dan hal baru di lingkungan yang baru. Jadi tidak mungkin jadi orang tertutup,” ujar Daud. Baca juga: Indonesia Penutur Austronesia Terbesar Kebiasaan bertualang mencari hal baru itu menumbuhkan kepercayaanpada kekuatan di luar dirinya. Misalnya, ketidakpastian di laut menyebabkan mereka lebih religius. “Mengapa Pancasila, sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?” tanya Daud. “Akarnya adalah perjalanan panjang para penghuni kepulauan yang penuh bahaya, lebih berisiko daripada kalau di daratan.” Sifat tak kenal menyerah untuk menemukan hal baru juga menjadi karakter orang kepulauan. Ini muncul dari tradisi leluhur untuk mengkoloni daerah baru, menjelajah dari satu pulau ke pulau lainnya. Baca juga: Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika Peribahasa seperti bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, menurut Daud, juga mencerminkan jiwa para penutur Austronesia. “Tradisi mereka berlayar menentang angin dulu, susah dulu, tapi kalau tak menemukan tempat baru, mereka hanya akan kembali mengikuti arusnya, kembali pulang,” lanjut Daud. Daud menilai Truman telah menginisiasi upaya untuk tak hanya bercerita tentang masa lalu lewat data arkeologi. Tapi karya terbarunya ini telah merumuskan lebih jauh bagaimana nilai luhur yang berasal dari masa prasejarah ditransmisikan ke masa kini. Termasuk, bagaimana ciri keindonesiaan yang bineka tunggal ika terbentuk. “Pesan seperti itu jarang kita temui dalam buku arkeologi,” kata Daud.“Ini memberikan contoh kerja arkeologi yang bermanfaat lebih nyata, di mana kita bisa ikut membentuk kebangsaan kita.”
- Masa Bersiap dan Ironi Belanda
Selama Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa. “Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “ De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos? ” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?). Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut. Di Batavia dalam kurun itu, orang-orang Eropa menghilang, bahkan ketika sedang berada di kota dan pada akhirnya tubuh mereka ditemukan mengambang di salah satu kanal beberapa hari kemudian. Rumah-rumah keluarga kulit putih juga dikepung pada malam hari dan para penghuninya dibunuh tanpa ampun, termasuk anak-anak dan perempuan. “Molenvliet, suatu kanal panjang yang mengalir dari kota tua ke arah selatan merupakan tempat favorit kaum inlander untuk melakukan penyergapan, seperti halnya jalan utama dari Senen ke Jatinegara,” papar Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Praktek teror itu pada akhirnya menyebar ke seluruh kawasan luar Batavia. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah ommelanden (luar tembok kota) yang tak terlepas dari kegilaan revolusiener orang-orang pribumi. Telan (94), masih ingat bagaimana para pemuda di wilayah Tambun menggerebek rumah orang-orang Tionghoa dalam suatu dini hari. “Karena orang Belanda sedikit di wilayah itu, para pemuda lalu menjadikan orang-orang Cina sebagai sasaran. Mereka banyak dibunuh dan mayatnya dicempungin ke Sungai Citarum,” ungkap eks anggota sebuah lasykar di Karawang itu. Telan menyebutkan sebagian pemuda yang terlibat dalam aksi di masa bersiap itu adalah anggota-anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan para jagoan (sekarang dikenal dengan istilah: preman) yang kelak banyak bergabung ke Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR). Menurut jurnalis cum peneliti sejarah Wenri Wanhar, tidak hanya di “kandangnya masing-masing”, para jagoan Karawang-Bekasi itu juga ikut meramaikan aksi gedoran di Depok pada 11 Oktober 1945. Di bawah pimpinan Camat Nata, mereka datang dari arah timur Depok dengan menggunakan kereta api, truk dan gerobak sapi. “Gerombolan tersebut dengan bebas merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa,” ungkap Wenri dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 . Pihak intelijen Belanda (NEFIS) meyakini bahwa dengan melihat ciri-cirinya, sangatlah jelas bahwa aksi-aksi itu merupakan aksi kolektif yang terorganisir secara baik. Artinya ada orang atau kelompok tertentu yang mengorganisasi aksi-aksi tersebut. Berdasarkan keyakinan itu, tidak mustahil jika NEFIS mengantongi nama-nama pelaku kekerasan dalam masa bersiap. Namun ironisnya, sekira dua tahun usai kejadian berdarah itu, alih-alih menangkap mereka dan membawanya ke pengadilan, para komandan di jajaran militer Belanda malah memobilisasi para penjahat itu ke dalam Pasukan Non-organik Milik Sang Ratu (HAMOT). Itu suatu milisi yang berisi “para pembelot” dari kubu Republik yang terdiri dari eks prajurit TNI, oknum kriminal dan eks anggota-anggota LRDR. “Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri,” ungkap Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia. Semua kompromi itu terpaksa dilakukan oleh militer Belanda karena adanya keterbatasan personil dan upaya mengefesiensikan pergerakan para serdadu mereka. Para komandan militer Belanda berharap dengan keterlibatan “para kriminal” itu, tingkat kematian dan cidera di kalangan para prajurit kulit putih akibat perang bisa ditekan serendah mungkin. Hingga November 1947, sepakterjang HAMOT memang kerap menuai sukses dalam berbagai operasi tempur. Selain keberanian mereka, faktor penguasaan medan juga mempengaruhi kemenangan-kemenangan itu. Namun menjelang penutupan tahun 1947, secara cepat para anggota HAMOT kembali kepada perangai lamanya: berbuat brutal dan senang menjarah. Mereka kemudian dikenal sebagai milisi yang selalu melakukan tindakan ekstrem secara kemanusiaan. “Bahkan di wilayah yang dikuasai oleh Belanda…” ujar Limpach.
- The Old Guard, Misteri Ksatria Abadi dalam Lorong Sejarah
SEJAK awal, Andy (diperankan Charlize Theron) sudah punya perasaan tak enak. Ia ingin menolak karena pantang bagi kelompok mereka menerima misi dua kali dari orang yang sama. Namun Booker (Matthias Schoenaerts) meyakininya bahwa misi yang mereka terima betul-betul hanya mereka yang bisa menjalaninya. Misi itu datang dari mantan agen CIA James Copley (Chiwetel Ejiofor). Copley meminta bantuan Andy cs. untuk menyelamatkan sejumlah gadis yang disekap kelompok teroris di Sudan Selatan. Lantaran terenyuh mengetahui detail misi itu, Andy akhirnya setuju. Dua sisa rekannya, Nicky (Luca Marinelli) dan Joe (Marwan Kenzari), pun turut diterbangkan dari Maroko ke Sudan, lokasi misi. Namun di lokasi, alih-alih para korban penyekapan yang mereka temui, mereka malah bertemu sekelompok orang bersenjata yang menjebak. Seketika kuartet Andy-Booker-Nicky-Joe tumbang setelah bertubi-tubi diteembus timah panas. Tanpa dinyana, keempatnya bangkit. Mereka hidup lagi. Belasan kelompok tak dikenal itu pun jadi sasaran amuk. Copley pun jadi target balas dendam Andy dkk. Adegan dahsyat itu jadi pembuka film laga bertajuk The Old Guard. Film garapan Gina Prince-Bythewood dengan action yang penuh greget ini diadaptasi dari komik dengan judul serupa karangan Greg Rucka. Sang penulis komiknya juga terlibat dalam film sebagai penulis naskah. Alur maju-mundur yang diterapkan Prince-Bythewood seolah ingin membuat penonton mudah menikmati film dengan pengungkapan sejarah di balik keempat pahlawan super tanpa jubah itu. Andy alias Andromache of Scythia jadi yang tertua sekaligus pemimpin di kuartet pembunuh bayaran itu. Disebutkan, usianya sudah lebih dari enam ribu tahun. Nicky atau Nicolò dari Genoa dan Joe alias Yusuf al-Kaysani berasal dari era Perang Salib I. Mereka berasal dari dua pasukan bermusuhan namun akhirnya berteman dan bahkan saling mencintai sebagai sesama jenis. Lantas ada Booker atau Sebastian Le Livre yang berasal dari abad ke-19. Ia dulunya salah satu prajurit di pasukan Kaisar Prancis Napoléon Bonaparte yang turut dalam kampanye menaklukkan Rusia pada 1812. Dalam perjalanan memburu Copley, keempatnya mendapat tambahan kombatan. Yakni, Nile Freeman (KiKi Layne) yang prajurit marinir perempuan Amerika yang bertempur di Afghanistan. Yang menarik, kekuatan mereka tak serupa superhero kebanyakan. Mereka tak bisa terbang. Tak pula sanggup menahan peluru dengan biji mata bak Superman. Namun, seperti yang dikisahkan di intro The Old Guard , mereka tak bisa mati. Jika memang belum “waktunya”, mereka takkan mati. Walau ditembus peluru atau ditebas benda tajam pun, mereka akan hidup lagi. Mirip superhero Hancock atau Deadpool, kira-kira. Pertanyaannya, siapa mereka? “Mengapa mereka bisa terlahir seperti itu” jadi pertanyaan besar bagi keempatnya yang oleh Andy pun belum bisa dimengerti. Jawabannya akan mereka temukan seiring berjalannya di film. Oleh karenanya, saksikan saja sendiri. Aksi-aksi kerennya bisa disaksikan via daring di Netflix sejak film ini rilis pada 10 Juli 2020. Nile Freeman, anggota termuda dalam kumpulan kombatan "The Old Guard". ( skydance.com ). Mitos Perempuan Pejuang Untuk menunjang adegan-adegan laganya dengan tone gelap, The Old Guard memadukan music scoring klasik dan modern garapan komposer Volker Bertelmann dan Dustin O’Halloran. Kombinasinya kian meningkatkan sensasi yang bisa menghanyutkan perasaan penonton, utamanya dalam scene masa lalu sosok Andromache (Andy). Siapa sebenarnya Andromache? Bertolak dari mana Rucka dan ilustrator Leandro Fernández melahirkan karakternya? “(Komik) The Old Guard (bertolak, red .) dari ide tentang cerita-cerita hantu terkait prajurit yang tak bisa mati. Cerita-cerita itu ada di hampir semua budaya militer. Beberapa unsur mitologi juga muncul dalam ide itu, di mana ada seorang wanita yang secara usia sangat tua namun dia tak bisa mati dan menjadi pejuang yang berbahaya di dunia karena dia punya pengalaman bertempur selama tujuh ribu tahun,” tutur Rucka kepada Esquire , 12 Juli 2020. Rucka juga mengemukakan, alur kisahnya tentang ambisi seorang hartawan dan pemilik kerajaan teknologi. Dari masa ke masa orang-orang semacam itu, yang digambarkan Rucka dalam sosok antagonis Steven Merrick, selalu berhasrat untuk mencari rahasia untuk hidup abadi demi menikmati kekayaannya. “Saya cukup yakin bahaw pertamakali Homo sapiens mengetahui kematian, artinya segala urusan orang itu sudah berakhir. Pemikiran berikutnya adalah, apa yang terjadi jika mereka tidak mati? Kita, manusia, memimpikan keabadian sejak mengetahui apa itu kematian,” lanjutnya. “Kita hidup di era di mana kita hidup tidak sehat tapi ingin hidup lebih lama. Teknologi kemudian terlibat, dan bukan rahasia lagi beberapa konglomerat di planet ini mungkin sedang mencari cara untuk hidup selamanya. Kematian memang menakutkan tapi itulah siklus alam. Jika kita bisa hidup selamanya, muncul pertanyaan siapa yang berhak hidup abadi? Apakah kaum kaya? Karena jika itu terjadi, dia hanya akan bertambah kaya,” sambungnya. Lukisan Andromache tengah meratapi kematian suaminya, Hector, karya Jacques-Louis David tahun 1783. (Louvre Museum). Rucka turut terinspirasi dari mitologi Yunani dalam menciptakan karakter utama Andromache. Dalam mitologi Yunani, setidaknya ada dua perempuan yang menyandang nama itu ribuan tahun silam, sebelum Masehi. Pertama adalah Andromache dari Troya. Ia adalah istri Hector, putra mahkota Kerajaan Troya, yang tewas dalam duel kontra petarung Yunani Achilles di Perang Troya (antara 1260-1180 SM). “Setelah Hector tewas, Troya direbut pasukan Yunani dan Astyanax, putra Andromache dan Hector dibunuh dengan dilemparkan dari tembok kota. Andromache kemudian dijadikan selir Neoptolemus, putra Achilles. Karakter Andromache merepresentasikan penderitaan para perempuan Troya selama dan setelah perang,” ungkap Luke dan Monica Roman dalam Encyclopedia of Greek and Roman Mythology. Selain kebajikannya, Andromache dikenal karena kesetiaannya. Meski kemudian menikahi Helenus, adik Hector pasca-kematian Neoptolemus, Andromache yang sudah menjadi Ratu Epirus membangun banyak monumen Hector. Di monumen Hector, setiap hari Andromache datang membawa persembahan sembari meratap hingga Andromache meninggal karena usia yang sudah renta. Karakter setia dan penuh lara Andromache di masa lalunya digambarkan Rucka dalam komik The Old Guard sebagai Andy yang juga punya kepedihan masa lalu. Andy hidup abadi namun kerap meratapi kekasihnya, Lykon, yang lebih dulu meninggal. Andromache kedua dalam mitologi Yunani yakni, ksatria perempuan Amazon. Rucka menjadikannya sebagai inspirasi untuk mendeskripsikan ketangkasan dan keperkasaan Andy dalam bertarung. Amazon yang dimaksud tentu bukan yang di Brasil, melainkan nama suku yang dalam mitologi Yunani berasal dari Asia Minor (Semenanjung Anatolia, Turki). Kisah Andromache asal Amazon ini tergambar dalam lukisan karya Timiades yang menghiasi sebuah bejana Thyrrenian kuno dari tahun 570 SM. Lukisan tersebut mengisahkan Perang Attic yang mempertemukan Andromache melawan Herakles alias Hercules, putra Dewa Zeus. “Lukisan di bejana itu menggambarkan Herakles tengah menggenggam tangan Andromache saat sang ksatria perempuan itu ingin menghindar. Dikisahkan walau bertarung dengan sengit, Andromache dikalahkan Herakles, walau dalam bejana itu digambarkan juga perempuan Amazon lainnya, Panariste, mengalahkan petarung Yunani lainnya,” tulis Emma Stafford dalam Herakles. Lukisan duel antara Andromache vs Herakles dalam bejana dari era 570 SM-560 SM (kiri) & penggambaran Andromache dalam film. (Perseus Digital Library/ netflix.com ). Sementara, soal “Scythia” di belakang nama Andy dalam The Old Guard merujuk pada suku bangsa nomaden asal Siberia Selatan di era sekitar abad ke-11 SM hingga abad ke-2 M. Seperti halnya bangsa Mongol, orang Scythia juga merupakan bangsa petarung yang biasa bertualang dari Siberia ke Stepa Eurasia hingga Pegunungan Carpathia. Dari mitos-mitos dan dongeng masa kuno itulah Rucka menciptakan latarbelakang Andy ketika merampungkan komik The Old Guard jilid pertamanya pada 2017. “Latar belakang Andy berakar jauh dalam sejarah, berdasarkan kisah-kisah petarung perempuan Amazon. Para petarung ini bermunculan dari wilayah Kaukasus dan mengembara ke mana-mana dari ujung utara Eropa hingga Mediterania, bahkan hingga Afrika Utara,” tandas Rucka. Namun, inti kisah The Old Guard bukanlah soal rahasia bisa hidup abadi, melainkan bagaimana kelima ksatria “abadi” itu bisa jadi kunci atas keseimbangan atas apa yang terjadi di dunia dari zaman ke zaman. Rucka menguraikannya lewat karakter Copley yang memantau aksi-aksi Andi cs. Setiap anak yang diselamatkan Andy cs. dalam peristiwa-peristiwa bersejarah terdahulu, ternyata jadi “juru selamat” bagi dunia. Mereka menjadi mesias melalui beragam cara, entah ketika dewasa menjadi dokter, penemu vaksin, ataupun relawan kemanusiaan yang menyelamatkan banyak nyawa. Data film Judul: The Old Guard | Sutradara: Gina Prince-Bythewood | Produser: Charlize Theron, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, AJ Dix, Beth Kono, Marc Evans| Pemain: Charlize Theron, KiKi Layne, Marwan Kenzari, Luca Marinelli, Matthias Schoenaerts, Chiwetel Ejiofor, Harry Melling, Veronica Ngo | Produksi: Skydance Media, Denver and Delilah Productions, Marc Evans Productions | Durasi: 125 Menit | Rilis: 10 Juli 2020 (Netflix).
- Kekuatan Volvo di Indonesia
Volvo menjadi trending topic karena tak apa-apa setelah ditabrak oleh Fortuner dari belakang di tol dalam kota arah ke Tanjung Priuk, Jakarta, Selasa (15/9). Volvo 960GL tahun 1997 itu hanya penyok sedikit, sedangkan muka Fortuner hancur. Warganet pun membandingkan ketangguhan mobil Eropa dan Jepang. Volvo masuk Indonesia sejak setengah abad lalu. Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Volvo adalah PT Central Sole Agency milik Salim Group, perusahaan yang didirikan oleh Liem Sioe Liong alias Sudono Salim yang dekat dengan Presiden Soeharto. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil impor harus dirakit di dalam negeri, Salim Group mendirikan PT ISMAC (Indo-Swedish Motor Assembly Corporation), perusahaan patungan bersama PT. Pembangunan Jaya dan A.B. Volvo. Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX meresmikan pabrik perakitan Volvo PT ISMAC di Ancol, Jakarta pada 22 Oktober 1975. Investasi pembangunan pabrik menelan biaya 9 juta dolar. Tanah untuk pabrik itu dihitung sebagai saham PT Pembangunan Jaya. Baca juga: Laporan Khusus: Berdiri di Atas Mobil Sendiri Bondan Winarno dalam Tantangan Jadi Peluang: Kegagalan dan Sukses Pembangunan Jaya Selama 25 Tahun , menyebut Volvo sendiri sudah mulai dipasarkan di Indonesia sejak 1968, dan baru pada 1975 mulai dirakit di sini dengan berdirinya PT ISMAC. “Volvo pertama rakitan PT ISMAC mulai meluncur di jalanan Indonesia pada 1975. Kini (1987, red .), bus dan mobil sedan Volvo di Indonesia sepenuhnya dirakit oleh ISMAC,” tulis Bondan. Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto , usaha ini menyuplai kendaraan bagi para pejabat dan perwira tinggi. Sayangnya, perusahaan tertatih-tatih dalam mencetak untung, sebagian besarnya karena mayoritas konsumen adalah pemerintah. Bagaimana caranya minta uang kepada para jenderal? Mereka berharap negara membayari, padahal pemerintah mungkin saja tidak punya anggaran. Banyak Volvo untuk para pejabat senior, tetapi perusahaan tidak mendapat uang dari mereka. Baca juga: Liem Sioe Liong Sang Taipan Mi Instan “Banyak sekali Volvo terjual untuk para pejabat tinggi Angkatan Bersenjata, polisi, dan pemerintah, tetapi tidak dibayar. Karena itu tidak mengherankan jika perakitan Volvo adalah bisnis merugi. Ini sangat memukul Albert Salim [anak Liem Sioe Liong) yang jelas tidak senang dihubungkan dengan bisnis bikin rugi. Bertahun-tahun kemudian dia menyatakan bahwa sangat sulit mendapatkan uang dengan menjual Volvo pada masa itu,” tulis Richard dan Nancy. Kendati demikian, keadaan itu tak menghentikan Salim Group ekspansi di bidang otomotif. Salim Group sempat memegang keagenan BMW tapi pada akhir 1970-an dijual ke Astra. Pada 1980, Salim Group membeli keagenan mobil Mazda, truk Hino, dan Land Rover dari pengusaha Hasjim Ning. Baca juga: Sejarah Mobil Timor Tommy Soeharto Salim Group juga membeli perusahaan milik pengusaha kasino, Atang Latief, yang memegang keagenan Suzuki, yaitu Indomobil Utama dan Indohero Steel & Engineering. Yang menjalankan bisnis Suzuki adalah Soebronto Laras. Salim Group kemudian menambahkan merek Datsun (Nissan) dan merek-merek lain ke Indomobil. Menurut Richard dan Nancy, Salim Group membeli Indomobil dengan syarat yang tidak diungkapkan, tetapi belakangan Soebronto mengatakan bahwa syarat itu termasuk kesepakatan dirinya tetap di situ. “Dengan ditutupnya kasino, kami harus bergantung pada sebuah kelompok besar, dan mereka membutuhkan mitra yang sudah berkembang baik… sudah menjajal itu betul, tetapi tidak mengembangkannya,” kata Soebronto. Peresmian pabrik perakitan Volvo di Ancol, Jakarta, 22 Oktober 1975. (Perpusnas RI). Dalam otobiografinya, Meretas Dunia Automotif Indonesia , Soebronto menceritakan bagaimana membangun kembali imej Volvo. Dia yakin masih bisa menyelamatkan Volvo karena masih bisa berjalan sendiri. Show room Volvo dihidupkan kembali . Tetapi, untuk mengangkat kembali citra Volvo memang sulit. Harus membuat perhitungan yang sangat matang dalam membangun kembali Volvo. H arus melewati banyak kesulitan terutama mencari pemasaran. “Hanya saja, kami sangat yakin dengan kualitas prima sedan Volvo produksi Swedia ini,” kata Soebronto.“Kami sangat yakin, sebenarnya Volvo juga memiliki pasar di Indonesia.” Soebronto melakukan gebrakan penjualan pada 1987. Dalam acara pameran Volvo di berbagai negara, di Indonesia diadakan di Ballroom Hotel Hilton Internasional pada 19 Oktober 1987 . Indomobil mendapat biaya promosi iklan dari agen tunggal Volvo, Volvo Car Corporation, melalui perwakilan Volvo untuk Asia yang berkedudukan di Singapura. Dalam iklan diperlihatkan bagaimana animo orang di luar negeri terhadap Volvo. “Di Taiwan, malah mobil Volvo disusun tujuh untuk membuktikan Volvo sangat kuat dan tahan benturan,” kata Soebronto. Baca juga: Cerita Pahit Mobil Rakyat Mazda MR 90 Soebronto mengundang 200 tamu eksekutif yang dianggap potensial untuk membeli Volvo mewah.Hasilnya luar biasa. Ciputra saja membeli enam mobil Volvo 740 jenis Classic 2.3. “ Bayangkan saja, hanya dalam waktu beberapa jam mampu menjual Volvo 75 unit atau memasukkan uang Rp4,5 miliar ,” kata Soebronto. Volvo berjaya pada masa Orde Baru. Volvo menjadi kendaraan dinas para menteri dan pemimpin lembaga negara. Bahkan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok di Jakarta pada 1992, Volvo termasuk kendaraan yang dipilih pemerintah untuk para pemimpin negara-negara peserta konferensi. Setelah Orde Baru berakhir, Volvo masih bertahan sebagai kendaraan para menteri dan pemimpin lembaga negara sampai era Presiden Megawati Sukarnoputri. Setelah itu, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (2004–2009), kendaraan menteri diganti Toyota Camry. Baca juga: Tergoda Mobil Chevy Menurut Hamid Awaludin dalam Solusi JK: Logis, Spontan, Tegas, dan Jenaka , kabarnya, JK meminta kepada SBY agar soal kendaraan para anggota kabinet diserahkan kepadanya. Saat itu, Volvo masih dipertimbangkan untuk kembali dipakai. Namun, JK menghitung Volvo terlampau mahal. JK memilih sedan Toyota Camry. Dia mau membeli sekitar 40 unit tapi harganya Rp275 juta per unit, jauh di bawah harga jual, Rp425 juta. Alasannya, dengan dipakai para menteri dan pemimpin lembaga negara mobil itu dengan sendirinya diiklankan. “Masa jabatan menteri kan lima tahun. Jadi, selama lima tahun tersebut, menteri-menteri memakai Camry. Artinya, Anda sudah dipasarkan dengan sendirinya oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya,” kata JK. “Banyak pengusaha mobil dari berbagai merek datang untuk menawarkan produknya, termasuk Volvo,” lanjut JK. “Jadi, kalau Anda tertarik dengan tawaran saya, oke, kali ini kita mulai sejarah baru bahwa para menteri dan pejabat lembaga negara lainnya akan menggunakan Toyota. Ini sebuah era baru bagi Toyota.” Baca juga: Benarkah Ketok Magic Memakai Kekuatan Gaib? Tawaran JK diterima oleh Toyota Astra Motor. Para menteri dan pemimpin lembaga negara pun memakai Toyota Camry.Pada periode kedua SBY-JK (2009–2014), para menteri dan pemimpin lembaga negara masih memakai Toyota tapi di atas Camry, yaitu Crown Royal Saloon G. “Prediksi JK tidak meleset. Begitu para menteri memakai sedan Camry, pelan-pelan para pejabat daerah pun mulai ikut memakai Camry. Sektor swasta pun demikian. Dan hingga kini (2009, red .) omset penjualan Camry, dari berbagai jenis dan kelas, tetap saja digemari orang di Indonesia,” tulis Hamid. Tak lagi digunakan sebagai kendaraan dinas oleh menteri dan pemimpin lembaga negara seakan menjadi akhir dari era Volvo. Indomobil pun melepaskan Volvo. Sejak Januari 2017, Garasindo Group menjadi pemegang tunggal Volvo di Indonesia.
- Djatikusumo Bungkam Panglima RAF
Pada suatu hari di tahun 1958, Kolonel Djatikusumo dipanggil Presiden Sukarno ke Istana Merdeka. Oleh presiden, mantan KSAD itu diberi tugas yang di luar bidang profesinya. “Heh, Djati. Kamu mau saya jadikan Konjen di Singapura!” kata Sukarno. “Pekerjaan Konjen itu apa sih, Bung?” jawab Djati. “Tidak tahu!” “Lalu suruh apa?” “Tahu sendiri!” Itulah dialog Djati dengan presiden di Istana yang dituliskan Solichin Salam dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo: Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Djati akhirnya memenuhi permintaan tersebut. Dia menjabat sebagai konsul jenderal di Singapura merangkap konsul di Sarawak, Brunei dan Tawao dari 1958 sampai 1959. Selama masa jabatannya, Djati memainkan peran penting. Antara lain, sebagaimana yang dikatakan KSAD Nasution, membantu Lee Kuan Yew dalam memenangkan pemilihan umum. Bantuan itulah yang membuatnya dekat dengan Lee. Saking dekatnya, Djati sampai pernah mengadukan soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata yang digunakan untuk kombatan PRRI dan itu merugikan Indonesia. “Singapura, ternyata dijadikan tempat penjualan senjata kalangan Barat untuk mensuplai senjata kepada gerakan separatis itu. Kepada Letjen Djatikusumo, konsul jenderal Indonesia di Singapura, Lee Kuan Yew mengatakan, bahwa kalau ia nanti berkuasa, para pedagang senjata ( arms dealers ) itu akan dikeluarkan dari Singapura,” tulis Sulastomo dalam Lengser Keprabon . Soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata itu bahkan dipermasalahkan Djati sejak awal. Dia mengemukakannya kepada Mr. David, sekretaris Gubernur Singapura William A.C Goode, saat menyerahkan exequatur (surat resmi dari pemerintah Indonesia untuk meminta izin memulai tugas di negeri bersangkutan). Dalam pertemuan tersebut, David menanyakan Djati apa permasalahan Singapura-Indonesia yang bisa diselesaikan saat itu. Pertanyaan itu menjadi kesempatan buat Djati untuk mengutarakan kedongkolannya. “Itu ada penyelundup-penyelundup mbok ditindak. Itu ada teman-teman pemberontak, mbok itu jangan dikasih visa,” kata Djati menjawab pertanyaan David, dikutip Solichin. “Di sini tidak ada penyelundup, yang ada pedagang,” kata David. “Saya mengerti, orang Indonesia yang sudah meninggalkan perairan wilayah indonesia, di Singapura itu sudah orang dagang. Saya tahu, kembalinya mereka membawa senjata. Apa ini tidak bisa ditindak?” Permintaan Djati ditolak David lantaran pada prinsipnya Singapura tidak bisa menindak seseorang bila tidak melakukan sesuatu yang melanggar undang-undang. Singapura tak peduli bila orang itu melanggar aturan hukum di negeri asalnya. Pernyataan itu membuat Djati mencari akal. “Bolehkah saya ambil tindakan di wilayah Indonesia sendiri?” tanyanya. “Yah, itu hak Saudara,” jawab David. Jawaban David menjadi acuan Djati untuk mengambil tindakan terhadap pesawat-pesawat RAF yang digunakan untuk mendrop senjata ke kombatan PRRI. “Maka ia pun kirim surat kepada KSAD AH Nasution dan KSAU Suryadarma dengan permintaan, coba pasang mitraliyur ukuran 12,7 di pulau depan Singapura. Dengan pesan, kalau ada pesawat RAF terbang rendah, tembak! Tapi jangan sampai kena. Kalau kena, repot. Hanya sebagai peringatan saja, bahwa mereka telah melanggar wilayah Indonesia,” tulis Solichin. Tiga hari setelah mengirim surat kepada KSAD dan KSAU, Djati mendengar suara tembakan dari rumahnya ketika sedang makan siang. Saat kembali ke kantornya, dia mendapat telepon dari David dan diminta datang karena ada hal serius yang mesti dibicarakan. Djati pun menyanggupinya. David menginformasikan, dia ditelepon panglima RAF (AU Inggris) di Singapura Marsekal Udara Earl of Bandon dan diberitahu pesawat-pesawatnya ditembaki serdadu-serdadu Indonesia. David meminta Djati menanganinya karena RAF merupakan organisasi militer resmi, bukan gerombolan atau milisi. Mendengar keterangan David, Djati dengan enteng memberi jawaban. “Ya, memang begitu,” kata Djati yang membuat David bingung dan kesal. David pun kembali melontarkan pertanyaan mengapa bisa begitu tindakan yang diambil Indonesia. “Katanya kemarin saya boleh ambil tindakan di rumah saya sendiri. Dan sekarang ada pesawat terbang asing terbang rendah di wilayah kita, kita suruh tembak. Itu kan hak kita,” Djati menjawab. David yang kesal lalu menjelaskan bahwa pesawat RAF diizinkan terbang rendah di wilayah Indonesia sejak masa Hindia Belanda. Penjelasan itu menjadi blunder buatnya karena Djati langsung menjawab bahwa sepengetahuannya tidak ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Inggris terkait izin terbang rendah pesawat RAF di wilayah Indonesia. Kegagalan David mengatasi masalah tersebut membuat panglima RAF di Singapura turun tangan menyelesaikannya. Dia mengundang Djati makan malam hari itu juga dan dipenuhi Djati. Pertanyaan kenapa pesawat-pesawat RAF ditembaki personil APRI langsung dikeluarkan tuan rumah. Djati menceritakan obrolannya dengan David siangnya, sebagai jawaban terhadap pertanyaan Bandon. Penjelasan Djati membuat panglima RAF itu menjadi paham. “Orang-orang sipil itu tidak mengerti apa-apa. Nanti saya urus. Tapi besok pagi, pesawat saya jangan ditembaki lagi!” ujar Bandon. Djati pun menyanggupi permintaan Bandon. Sejak keesokan harinya, tak ada lagi penembakan terhadap pesawat-pesawat RAF. Sebaliknya, penyelundupan senjata menggunakan pesawat-pesawat RAF juga tak ada lagi sejak itu.
- Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan
PEMUKA agama Syekh Ali Jaber diserang seorang pemuda kala menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Alquran di Masjid Falahudin, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020) sore. Syekh Ali Jaber ditusuk sebilah pisau oleh pemuda tak dikenal saat berbincang dengan dua jamaahnya di acara tersebut. Nyawanya masih utuh lantaran pisau pelaku terbenam di bahu sang ulama, bukan di bagian tubuh yang vital. Dengan demikian, penusukan Syekh Ali Jaber tak seperti yang dialami Khalifah bin al-Khattab 13 abad sebelumnya. Umar ditusuk berkali-kali pada 23 Dzulhijjah 23 Hijriah (6 Oktober 644 M) ketika tengah mendirikan shalat. Kisah Islam di bawah Kekhalifahan Umar, disebutkan Peter Crawford dalam The War of the Three Gods: Romans, Persians, and the Rise of Islam , adalah cerita permulaan kejayaan Islam. Di bawah Kekhalifahan Umarlah ajaran Islam menyebar ke luar Jazirah Arab. Utamanya ke barat dengan menaklukkan Romawi Timur dan ke timur lewat penaklukkan Persia. “Di bawah (Kekhalifahan) Umar ajaran itu menyebar ke hampir semua penjuru mata angin. Beliau juga bertanggungjawab atas kuatnya organisasi pemerintahan yang membuat kekhalifahan bisa mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah-wilayah baru yang telah ditaklukkan,” tulis Crawford. Wilayah-wilayah taklukan Umar di sepanjang Suriah, Palestina, Mesopotamia, dan Persia lalu dibagi menjadi provinsi. Tiap provinsi yang dikepalai gubernur pilihan Umar memiliki hierarki kepemimpinan masing-masing untuk menegakkan hukum dan keadilan, serta mengumpulkan pajak-pajak. “Di masa Umar pula pada tahun 639 ditetapkan penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah, peristiwa kala Nabi Muhammad pindah dari Mekkah ke Madinah,” sambungnya. Upaya Pembunuhan Khalifah Umar Kendati Umar berusaha memerintah dengan seadil-adilnya menurut syariat Islam, tak semua orang senang terhadapnya. Terutama, orang-orang dari negeri yang ditaklukkan, semisal Persia. Piruz Nahavandi alias Abu Lu’lu’ah salah satunya. Dalam History of the Caliphs karya Rasul Ja’fariyan disebutkan, Abu Lu’lu’ah adalah pelaku tunggal pembunuhan terhadap Khalifah Umar. Motifnya adalah kejengkelan Abu Lu’lu’ah karena merasa ‘curhatnya’ terhadap Khalifah Umar terkait pajak yang membebaninya sebagai budak dari Al-Mughirah bin Syu’bah, Duta Besar Kekhalifahan untuk Persia, tidak mendapat jawaban yang memuaskannya. “Mulanya Umar tak mengizinkan orang non-Arab untuk masuk Madinah. Namun Mughira bersurat kepada Umar yang mengatakan bahwa ia punya budak yang juga seorang pelukis, pandai besi, dan tukang kayu handal dan akan berfaedah bagi rakyat di Madinah. Umar pun setuju Mughirah membawa Abu Lu’lu’ah ke Madinah,” tulis Ja’fariyan. Baca juga: Suatu Hari Khalifah Umar di Yerussalem Tetapi ketika bertemu Umar, Abu Lu’lu’ah komplain. Ia merasa terbebani dengan pajak dua dirham per hari yang mesti dibayarkannya sebagai budak kepada tuannya, Mughirah. Umar, sambung Ja’fariyan, lalu menjawab. “‘Apa pekerjaanmu?’ Abu Lu’lu’ah menjelaskan dia seniman, pandai besi, dan tukang kayu. ‘Mengingat pekerjaanmu, pajakmu tidaklah berat.’ Umar sejatinya berniat untuk membicarakannya pula kepada Mughirah. Namun Abu Lu’lu’ah sudah terlebih dulu memendam kedengkian.” Beberapa hari kemudian, Umar meminta Abu Lu’lu’ah membuatkannya kincir angin. Permintaan itu dijawab Abu Lu’lu’ah dengan mengatakan, dia akan membuatkan kincir angin yang akan dibicarakan semua orang di dunia. “Umar sebenarnya sudah mencium ancaman dari kata-kata itu, tetapi memilih untuk diam,” tambah Ja’fariyan. Penggambaran konspirasi membunuh Khalifah Umar berdasarkan kesaksian Abdul Rahman Abu Bakar (Foto: Tarikhuna bi-uslub qasasi) Abu Lu’lu’ah yang murka lalu mulai merencanakan untuk membunuh Umar dengan belati bermata dua yang ia buat sendiri dan ia lumuri dengan bisa ular. Pada 23 Dzulhijjah 23 H (31 Oktober 644 M), Abu Lu’lu’ah membulatkan tekadnya untuk menikam Umar saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi. “Abu Lu’lu’ah ikut salat persis di belakang Umar. Seperti biasa, setelah iqamah dilantunkan, Umar menasihati para makmum, ‘Luruskanlah barisan kalian!’ Saat Umar melakukan takbiratul ihram, Abu Lu’lu’ah menikam pundak Umar dari arah belakang dan merobek perutnya dengan belati bermata dua. Umar pun terjatuh,” tulis Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Al-Khathab. Abu Lu’lu’ah total menghujamkan senjata tajamnya enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya ke arah pusar yang mengakibatkan luka fatal. Sembari berusaha kabur, Abu Lu’lu’ah menyempatkan membunuh 15 makmum, 12 makmum lain terluka. Abu Lu’lu’ah akhirnya terpojok di satu sudut di luar masjid. Enggan ditangkap dan diadili, dia memilih bunuh diri. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Khalifah Umar Umar yang terluka lalu dirawat. Dalam sakitnya, ia masih mengeluarkan perintah agar digelar musyawarah di antara para sahabat nabi demi menentukan penggantinya. Sementara musyawarah masih digelar, Umar memberi mandat kepada Suhayb ar-Rumi sebagai khalifah sementara. Suhayb akan memimpin hingga putusan hasil musyawarah terkait siapa khalifah dikeluarkan. Umar juga melarang Said bin Zaid, sepupu sekaligus adik iparnya, ikut dalam musyawarah. Larangan itu terkait kebijakan Umar menolak penunjukan sosok pengganti pemimpin Islam yang masih punya hubungan darah, tak peduli meski orang itu punya kualifikasi yang laik. Tiga hari menjalani perawatan, Umar akhirnya wafat pada 26 Dzulhijjah 23 H (3 November 644 M). Sesuai wasiatnya, jenazahnya dikebumikan dekat Masjid Nabawi, berdekatan dengan makam Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar. Umar Korban Konspirasi? Penusukan Umar membuat putra bungsunya, Ubaidullah bin Umar, tak terima. Ia bikin perhitungan, ingin menghabisi semua orang Persia di Madinah. Hurmuzan, orang Persia yang jadi mualaf, jadi target pertama Ubaidullah. Target berikutnya adalah Jafinah (di beberapa sumber disebut Jufaina), orang Nasrani kawan Hurmuzan, dan seorang putri Abu Lu’lu’ah. Ubaidullah menyasarkan pembalasannya terhadap Hurmuzan bukan tanpa alasan. Disebutkan Tayeb el-Hibri dalam Parable and Politics in Early Islamic History , kesaksian Abdul Rahman bin Abu Bakar memunculkan kecurigaan besar bahwa Hurmuzan terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap Umar yang dilakoni Abu Lu’Lu’ah. “Abdul Rahman dalam pernyataannya mengaku melihat pertemuan pada malam sebelum pembunuhan antara Hurmuzan, Abu Lu’lu’ah, dan Jafinah. Dikatakan bahwa dalam pertemuan itu, Hurmuzan tampak memeriksa belati bermata dua yang identik dengan yang dipakai pelaku untuk menusuk Umar. Saat memeriksanya, Hurmuzan menjatuhkan belatinya hingga kemudian ia sadar telah dipantau banyak orang,” tulis El-Hibri. Baca juga: Pesan Terakhir Nabi Rumor konspirasi itu, lanjut El Hibri, meluaskan kecurigaan lebih besar terhadap konspirasi orang-orang Persia di Madinah dan menciptakan pertikaian antara orang-orang Arab dan para mualaf non-Arab. Kecurigaan merujuk kepada para simpatisan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Hurmuzan salah satu yang dicurigai. Hurmuzan seperti disebut oleh Mughirah sebelum status budak Abu Lu’lu’ah dialihkan kepadanya pasca-Persia takluk, merupakan gubernur Khuzestan, provinsi milik Kekaisaran Sasaniah yang menguasai Persia. Hurmuzan kemudian ditangkap dan ditawan pasca-Pertempuran Al-Qadisiyyah (636 M). “Hurmuzan sering berdebat dengan Umar tak hanya mengatasnamakan orang-orang Persia di Madinah, namun juga mengatasnamakan Ali. Hurmuzan sering membanding-bandingkan kebijakan Umar dengan Ali di antara kaum Anshar,” lanjutnya. Deskripsi Pertempuran Siffrin, salah satu pertempuran terbesar dalam Perang Saudara I (Foto: Smithsonian Institution) Fakta itu ditambah kesaksian Abdul Rahman membuat Ubaidullah membunuh Hurmuzan. Amuk Ubaidullah baru reda setelah dinasihati Gubernur Mesir Amr bin al-Ash. Umar yang sempat mendengar hal itu menjelang ajalnya, memerintahkan putra bungsunya itu dijebloskan ke penjara. Namun, perintah itu tak dilaksanakan Utsman bin Affan yang terpilih menjadi khalifah empat hari pasca-Umar wafat. Utsman pula yang menyarankan Ubaidullah pindah dari Madinah ke Kufa untuk menghindari utang “nyawa dibayar nyawa” akibat membunuh Hurmuzan, saat terjadi peralihan kekuasaan ke Khalifah Ali (656 M). Ubaidullah lalu terbunuh di hari kedua Pertempuran Siffin (26-28 Juli 657 M) sebagai bagian dari Perang Saudara I. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China
- Lagu Odading
Odading Mang Soleh di Jalan Baranang Siang No. 5 Pasar Kosambi, Bandung, menjadi terkenal berkat video viral seorang lelaki yang mengulas ( review ) dengan khas dan ngegas . Seperti ini ulasannya: “Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu (di sini) karena lamun teu ngadahar (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu (kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget.” Odading adalah roti atau kue goreng khas Bandung. Makanan ini juga ada di berbagai daerah dengan nama beda-beda. Baca juga: Odading Rasa Iron Man Sastrawan dan ahli bahasa Remy Sylado, mengungkap asal-usul nama odading dalam bukunya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa . Remy menyebut odading berasal dari seruan kaget seorang nyonya Belanda. Anaknya menangis meminta dibelikan kue yang dijajakan oleh anak kampung. Kue itu tidak bernama, sebab hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran, lantas memanggil ujang (panggilan anak lelaki) penjual kue itu, menyuruhnya membuka daun pisang yang menutup kue di atas nyiru. Begitu melihat kue itu, berkatalah sang nyonya kepada anaknya, “ O, dat ding ?” Artinya, “O, barang itu?” Kue goreng itu pun akhirnya punya nama: odading. Tangkapan layar video viral Odading Mang Oleh. Di era digital, video viral menjadi cara efektif untuk membuat orang penasaran dengan Odading Mang Oleh. Beda dengan zaman baheula ketika si ujang harus keliling menjual odading. Si ujang menawarkan odading dengan menyanyikannya. " Ding Odading , nyanyian penjual kue odading di Bandung, biasanya dinyanyikan oleh anak lelaki," sebut Ensiklopedi Musik: A-L . Begini kata-kata lagu Ding Odading : Ding, odading, odading, ding (Ding, odading, odading, ding) Haraneut keneh yeuh, oda-oda, ding (Masih hangat nih, oda-oda, ding) Mangga atuh odading, ding, ding (Silakan odading, ding, ding) Baca juga: Klepon, Makanan Istana Ensiklopedi Musik: A-L juga mengentri lagu odading lain yang menjadi lagu mainan anak- anak di sekitar Bandung. Lagu ini dimulai dari nyanyian seorang babu (pengasuh) Belanda setiap sinyonya menangis . Dari kata odading ( o, dat ding ), babu itu menciptakan lagu Jang Odading . Jang, odading keur sinyo (Jang, odading untuk sinyo) Kadieu Jang , zoet lief (Kemari Jang, manis manis) Kadieu, ulah huilen (Kemari, jangan menangis) Adakah orang Sunda yang tahu lagu odading ini?
- Kencan Ajudan Presiden Sukarno
Sudah menjadi rahasia umum jika Presiden Sukarno merupakan pengagum perempuan cantik. Hal itu dikatakan bukan saja oleh kawan-kawan dekatnya, namun juga diakui Bung Karno sendiri. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi perempuan cantik”, ungkapnya seperti dikutip Cindy Adams dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Kendati demikian, Bung Karno tidak mau menyimpan kebiasaannya itu untuk diri sendiri. Kepada orang-orang terdekatnya, dia pun kerap mendorong untuk mencari pasangan yang cantik dan menarik. Salah satu “korban” Bung Karno adalah ajudannya: Mayor KKo Bambang Widjanarko. Demikian diceritakan oleh Bambang Widjanarko dalam otobiografinya, Sewindu Dekat Bung Karno . Syahdan, suatu hari di tahun 1963, Bung Karno berserta rombongan (termasuk Bambang Widjanarko) bertolak menuju Wina, Austria. Maksud kunjungan tersebut tidaklah berkaitan dengan soal kenegaran, melainkan untuk menemui seorang profesor yang bisa mengobati penyakit kencing batunya sang presiden. Setelah beberapa hari berada di Wina, dalam suatu acara sarapan pagi, tetiba Bung Karno menanyakan secara khusus kepada Bambang: apakah selama di Wina dia sudah berkunjung ke klab malam? Ketika dijawab “belum” oleh Bambang, wajah Bung Karno memperlihatkan rasa herannya. “Mbang, malam ini saya perintahkan kamu pergi ke nightclub . Santailah sepuas hatimu!” “Baik, Pak!” “Tapi ada syaratnya, Mbang: pertama kamu harus mencari partner seorang gadis lokal, gadis Austria. Kedua, besok pagi kamu harus menceritakan seluruh pengalamanmu di waktu makan pagi seperti ini,” kata Bung Karno. Mendengar perintah tersebut, kontan semua anggota rombongan yang lain meledak tawanya. Mereka tahu, sang presiden tengah muncul kebiasaan isengnya. “Pak, jika Bambang harus ke nightclub nanti malam dan harus menceritakan segala pengalamannya besok pagi, ia harus punya uang cukup…” celetuk Dasaad, sahabat Bung Karno yang dikenal sebagai pengusaha kaya saat itu. “Baik, sebentar,” jawab Bung Karno. Dia kemudian berdiri dan masuk ke kamar tidur. Begitu keluar, dia langsung memanggil Bambang. “Sini Mbang, ini untukmu guna ke nightclub nanti malam,” kata Bung Karno. Setelah menerima pemberian itu, Bambang pun mengucapkan terimakasih. “Mbang, berapa dikasih Bapak?!” seru Dasaad sambil tersenyum. “Lima puluh dollar, Pak.” “Wah itu kurang…” ujar Dasaad. “Betulkah Das?” tanya Bung Karno. Dasaad kemudian menuturkan bahwa harga-harga di kota Wina memang cukup mahal. Sebagai contoh, harga satu botol champagne saja adalah 50 dollar. Jadi, kata Dasaad, jika Bung Karno memberikan uang hanya 50 dollar itu hanya cukup untuk minum saja. “Nah, kalau begitu, berilah dia tambahan yang cukup ya, Das,” kata Bung Karno, disambut tawa yang lain. Rupanya Dasaad pun telah menjadi “korban” keisengan Bung Karno. Singkat kata, malam itu Bambang berhasil mendapatkan teman kencan seorang gadis bule yang mengaku sebagai warga negara Austria bernama Renata. Bukan main senangnya ajudan Bung Karno itu. Dia membayangkan besok pagi dia dapat bercerita dan yang paling penting adalah bisa memenuhi misi yang dimandatkan Bung Karno. Sepanjang malam itu, Bambang dan Renata cepat akrab. Dalam bahasa Inggris, mereka lantas berbicara banyak soal kisah hidup mereka masing-masing. Renata berkisah bahwa dirinya dilahirkan di sebuah tempat bernama Clateen. “Di mana itu?” tanya Bambang. “Tidak tahu saya, pokoknya sebuah tempat di Timur, tepatnya di Jawa,” jawab Renata. “Ai, nanti dulu. Kamu bilang tadi di Jawa?” "Ya, Jawa. Di manakah itu?” "Oh Tuhan!" Bambang berkata setengah berteriak, "Jadi kamu adalah seorang gadis Belanda yang dilahirkan di Pulau Jawa. Itu termasuk Indonesia, negaraku dan kamu bukan lahir di Clateen tetapi Klaten di Jawa Tengah.” Ketika kisah kencan semalam itu diceritakan di hadapan Bung Karno dan para koleganya, pecahlah tawa mereka. Bambang melihat Bung Karno bahkan sampai terpingkal-pingkal dan merah wajahnya. “Mbang… Mbang… Jadi kamu jauh-jauh dari tanah air mencari gadis lokal Austria yang didapat malah noni Belanda dari Klaten…” ujar Bung Karno, masih dalam keadaan tertawa.
- Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama
Jakob Oetama masih bekerja di majalah Penabur , mingguan berhaluan Katolik, ketika pertama kali jumpa dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan mereka terjadi pada 1958. Jakob mengenal Ojong sebagai pemimpin redaksi majalah bermutu dan populer Star Weekly . Jakob datang berguru kepada Ojong. “Ketika terbetik berita Star Weekly akan ditutup, ia mendekati saya, apakah bersedia meneruskannya. Ia sempat ke Yogya, kami bersama menyaksikan Sendratari Ramayana di Prambanan,” tutur Jakob dalam Kompas , 2 Juni 1980. Jakob saat itu sedang menyelesaikan studi tahun terakhir pada Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Ojong lebih tua 11 tahun dari Jakob. Namun, mereka nyambung dalam bertukar pikiran karena sama-sama berlatar belakang sebagai guru. Pada awal 1960, Ojong sering bertemu dengan Jakob dalam gerakan asimilasi. Kemudian, mereka juga duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Pada 1963, Ojong dan Jakob mendirikan majalah ilmu pengetahuan Intisari . Dua tahun kemudian bermodalkan uang Rp100.000 (sebagian dari keuntungan Intisari) pada 26 Juni 1965 lahirlah harian Kompas . Dalam susunan redaksi, Jakob Oetama menjadi pimpinan sedangkan nama Ojong tidak tercantum. Nama Ojong tabu untuk periode politik saat itu lantaran kurang disukai pemerintah. Awak redaksi Kompas mula-mula hanya berjumlah tujuh orang dan masih belum berpengalaman. Di tangan mereka, Kompas mengusung slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat”. Baca juga: Cara Orba Kuasai Berita Dalam menjalankan Kompas , Jakob memusatkan perhatiannya dalam redaksional. Sementara itu, Ojong mengurusi bidang tata usaha. Kendati demikian, Ojong aktif menulis opini dalam kolom “Kompasiana” rubrik yang sangat digemari pembaca. “Ojong dan saya sebenarnya sama-sama tidak suka tampil. Setelah 1966, kami melakukan pembagian kerja. Sebagai pemimpin redaksi, mau tidak mau saya yang kebagian untuk tampil,” kata Jakob seperti dikutip Helen Iswara dalam Hidup Berpikir Mulia: P.K. Ojong Satu dari Dua Pendiri Kompas Gramedia. Pada 1968, tiras Kompas melampaui Sinar Harapan sehingga menduduki peringkat kedua. Sementara di peringkat pertama bertengger Berita Yudha , suratkabar yang berafiliasi dengan ABRI. Memasuki dekade 1970, tiras Kompas melampaui koran lain di Indonesia dengan jumlah mendekati 100.000 eksemplar per hari. Dari Jalan Pintu Besar Selatan, markas Kompas pindah ke Jalan Palmerah Selatan lengkap dengan percetakan sendiri. Mesti diakui Ojong begitu gigih membangun citra dan reputasi Kompas . Baginya nama baik dan konsistensi tidak dapat ditawar. Untuk itu, kesejahteraan para wartawan maupun karyawan lainnya amat diperhatikan. Namun, Ojong bisa menjadi sangat tegas bahkan keras dalam menyikapi kelalaian. Jakob yang lebih kalem biasanya menjadi penyejuk. “Kalau bukan karena Jakob, sejak awal saya sudah berhenti,” kata P. Swantoro kepada Helen Iswara. Swantoro merupakan wakil pemimpin redaksi dan menjadi orang ketiga dalam jajaran Kompas . Baca juga: Indonesia Raya , Independensi yang Memihak Badai datang pada 1978. Pada 19-20 Januari, Kompas menulis tajuk tentang gerakan mahasiswa yang menginginkan agar Soeharto jangan lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Pada 21 Januari, Kompas terkena bredel alias dilarang terbit oleh pemerintah. Selain Kompas , koran yang kerap bersuara kritis seperti Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis dan Pedoman pimpinan Rosihan Anwar juga ikut dibredel. Pemerintah kemudian menawarkan pengampunan dengan serangkaian syarat yang patut dituruti. Ojong yang saklek ragu-ragu menerima tawaran pemerintah. Adalah Jakob Utama yang pasang badan menandatangani “pengampunan” itu. Akhirnya, pada 6 Februari 1978, Kompas diperkenankan terbit kembali. Beberapa wartawan Indonesia Raya dan Pedoman masuk ke Kompas setelah koran mereka dipaku mati rezim Soeharto. Menurut Jakob, dengan masih hidup, Kompas masih bisa bergulat; masih bisa bergerilya menegakkan demokrasi. Asalkan tidak menggadaikan suara hati saja. Meski terlihat pragmatis, pertimbangan Jakob pun dilandasi rasa kemanusiaan. Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama, pendiri harian Kompas. (Jitet/Wikimedia Commons). Seperti diungkap St. Sularto dalam Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama , Kompas saat itu mempekerjakan sebanyak 2.000-an orang karyawan. Mereka terancam kehilangan pekerjaan apabila koran ini dibredel. Belum lagi orang-orang yang memperoleh berkah dari produk Kompas secara tidak langsung. Penutupan akan menjadi bencana bagi mata pencaharian dan mengakibatkan masalah yang beranak pinak. Ojong kemudian menghormati keputusan itu. Setelah luput dari badai bredel, keluarga besar Kompas dirundung duka. P.K. Ojong wafat pada 31 Mei 1980. Di depan jenazah Ojong, Jakob berkata, “Engkau terlalu pagi meninggalkan kami,” katanya. Meski demikian, mendiang Ojong sempat merumuskan cetak biru Kompas yang kemudian disempurnakan menjadi falsafah perusahaan. Baca juga: Aksi Koran Indonesia Raya Bikin Kejutan April Mop Sepeninggal Ojong, tiras Kompas telah mencapai 312.589 eksemplar dan pada Desember 1980 mencapai 325.485 eksemplar. Selain itu, Kompas juga telah memancangkan tonggak di sektor bisnis lain. Orang tentu mengenal toko buku Gramedia, radio Sonora dan hotel Santika. Itu semua merupakan diversifikasi produk bisnis yang bernaung di bawah grup Kompas . Tanggung jawab redaksi dan bisnis selanjutnya beralih kepada Jakob Oetama. Dengan fondasi kokoh yang dibangun bersama Ojong, Jakob kemudian membawa Kompas merajai industri media di Indonesia. Namun, Jakob menakhodai Kompas dengan siasat main aman khususnya dalam berhadapan dengan penguasa. Ibarat kepiting, ada saatnya maju, ada saatnya menyamping ( mlipir ), ada saatnya menarik mundur. Maka tidak heran, Kompas di bawah pimpinan Jakob identik dengan istilah "jurnalisme kepiting". Julukan itu setidaknya bertahan hingga rezim Orde Baru tumbang. "Cara ini sulit dan makan hati, sebab dengan gampang dicap pengecut, sehingga tagline bisnis Kompas mata hati kata hati pun pernah dipelesetkan tinggal Kompas hati-hati ," tulis Sularto. Baca juga: Pers Mahasiswa Menggugat Orde Baru Hati-hati. Ya, dengan kata itulah Jakob bisa membesarkan Kompas jadi media raksasa. Ketika banyak koran terpuruk dan gulung tikar, Kompas kian tak tertandingi. Dengan oplah rata-rata 500 ribu eksemplar perhari, Kompas merupakan koran dengan sirkulasi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, serta menempati peringkat lima dalam jajaran suratkabar papan atas dunia. Di luar media cetak, Jakob Oetama melebarkan sayap bisnis Kompas ke berbagai lini usaha di bawah bendera Kompas Gramedia Grup. Media televisi dirambah dengan kehadiran Kompas TV dan sektor pendidikan dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Sektor lainnya seperti properti, jaringan hotel yang tersebar di berbagai kota, lembaga bahasa asing, sampai tisu juga menggeliat. Bila ditotal, semuanya berjumlah 400 jaringan usaha. Baca juga: Komik Strip Panji Koming Merekam Zaman Kendati demikian, Jakob Oetama bukanlah pribadi yang tanpa cela. P. Swantoro –wafat pada 11 Agustus 2019– yang tergolong orang dekat Jakob mengungkapnya dalam pengantar biografi Jakob yang disusun St. Sularto. Selama bertahun-tahun mendampingi Jakob, Swantoro mendapati bahwa dia kadang kurang tegas, dan kebapakannya sering disalahgunakan oleh anak buah. Orang luar barangkali melihat Jakob hidup enak, serba cukup dan terhormat. “Namun saya yang puluhan tahun menjadi pendampingnya mengetahui betapa berat hidup seorang Jakob,” ujar Swantoro. Terlepas dari betapa berpeluh dirinya, Jakob menganggap keberhasilan Kompas perpaduan dari kerja sama, keberuntungan, dan rahmat Sang Khalik. Untuk yang terakhir itu, Jakob suka menyebutnya dalam bahasa latin Providentia dei (penyelenggaraan ilahi). Hingga sepuhnya, Jakob masih aktif di harian Kompas sebagai pemimpin umum. Dunia jurnalistik memang menjadi panggilan hidupnya. Dari hari ke hari Jakob kian renta. Setelah setengah abad lebih membangun dan memimpin Kompas, Jakob akhirnya beristirahat dari semua jerih lelah kehidupan. Menyusul para sahabatnya Ojong dan Swantoro yang telah mendahului. Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020 dalam usia 88 tahun.
- Kisah Penangkapan Ahmad Subardjo
Pada 4 Januari 1946, ibu kota Republik Indonesia resmi berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Presiden dan wakil presiden, beserta jajaran menteri, membawa serta keluarga mereka ke sana. Pemerintahan Indonesia pun seluruhnya dijalankan di kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono tersebut. Turut hadir di Yogyakarta, meski sudah tidak menjabat menteri, Ahmad Subardjo. Mantan Menteri Luar Negeri pertama RI itu datang terpisah dari rombongan presiden. Dia tinggal bersama istri dan keempat anaknya di dalam benteng keraton, di tempat kerabatnya. Subardjo ketika itu menjabat penasihat Sutan Sjahrir di departemen luar negeri. Namanya pun ada dalam daftar hitam pemerintah Belanda. Suatu waktu di tahun 1949, Rohman, putra Subardjo menderita sakit pencernaan. Subardjo pun segera membawanya ke dokter Sim Ki Ay, kawannya ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Oleh sang dokter Subardjo disarankan merujuk putranya ke rumah sakit di Jalan Gondokusuman. Putranya itu harus segera menjalankan operasi pengangkatan usus buntu. Dia pun segera membawa putranya ke sana. Namun berhubung jarak dari rumah ke Gondokusuman jauh, juga karena namanya masuk dalam daftar polisi Belanda, Subardjo memutuskan membawa semua keluarganya tinggal di rumah sakit. Itu dilakukan agar dia dan keluarganya tidak mondar-mandir di jalanan yang dijaga ketat polisi Belanda. “Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Rohman berhasil dioperasi perutnya dengan selamat. Di rumah sakit itu banyak ruangan yang kosong, tempo-tempo mendengar suara senapan dan mitraliur karena ada pertempuran di Jalan Gondokusuma itu,” tulis Subardjo dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi . Pada satu hari, saat sedang menunggu putranya, Subardjo izin mencari udara segar kepada istrinya. Dia pun memilih pergi ke perpustakaan dekat rumah sakit. Belum sempat menyelesaikan satu judul buku di tangannya, seorang polisi Belanda berpakaian sipil masuk ke ruangan tempat Subardjo duduk. Dia pun dengan sopan mendekat. “Apakah anda saudara Subardjo?” tanya dia dalam bahasa Belanda. “Betul saya adalah Subardjo,” jawab Subardjo yang sudah menduga pria di depannya seorang polisi. Rupanya informasi tentang keberadaan Subardjo di perpustakaan itu terendus oleh badan intelijen Belanda. Polisi pun segera bergerak untuk menangkapnya. Subardjo kemudian dipersilahkan naik mobil. Dia dibawa ke kantor polisi militer Belanda. Si polisi juga mengatakan kalau Subardjo akan ditahan sampai waktu yang tidak ditentukan. “Kalau begitu bawalah saya ke tempat kediaman keluarga saya dulu,” kata Subardjo. Permintaan itu dikabulkan. Subardjo dibawa ke rumah sakit, tempat keluarganya berada. Dia lalu menceritakan tentang penangkapan itu kepada istrinya. Istrinya berusaha tegar dan membantu mempersiapkan segala kebutuhan suaminya. Sambil menenangkan anak-anaknya yang menangis mengetahu ayahnya dibawa pihak Belanda, Subardjo meminta keluarganya tetap berada di tempat aman dan tenang dalam menunggu kepulangannya. Di kantor polisi militer, Subardjo dimasukkan ke sebuah kamar. Di sana rupanya sudah cukup banyak orang Indonesia ditahan, salah satunya kenalan Subardjo, Pangeran Prodjokusumo. Sekira sepuluh hari berada di kantor polisi militer, Subardjo dan tahanan lain dibawa ke Ambarawa. Mereka dimasukkan ke sebuah benteng. Di sana ada lebih banyak lagi orang Indonesia yang ditahan, antara lain Adam Malik. Setelah hampir enam bulan ditahan di Amabarawa, Subardjo mendapat kabar bahwa para tahanan akan dibebaskan. Berdasar resolusi PBB, semua tahanan politik akan dikembalikan ke rumah masing-masing. Subardjo bersama beberapa kawan dinaikkan ke sebuah truk menuju Yogyakarta. Setiba di depan Hotel Merdeka, mereka disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. “Saudara-saudara! Sekarang pertikaian dengan Belanda telah berakhir dan saya menyampaikan selamat atas kebeabasan saudara-saudara,” ucap Sri Sultan.
- Selamat Jalan Alfred Riedl
Menjelang akhir 2010, asa pendukung tim nasional sepakbola Indonesia melambung. Dalam helatan piala AFF 2010, Timnas Garuda tampil memikat di bawah asuhan Alfred Riedl. Serangannya bagai badai tornado dan pertahanannya menjadi serapat beton. Kuku Garuda benar-benar bikin Laos porak poranda, Malaysia hancur lebur, dan Thailand minta ampun di babak penyisihan. Filipina, sang kuda hitam, ngos-ngosan tak kuasa melawan kuku Garuda di semifinal. Ekspresi Alfred Riedl saat memimpin latihan timnas Indonesia di Jakarta. (Fernando Randy/Historia.id). Nama Alfred Riedl pun dielu-elukan. Fans timnas menaruh harapan besar padanya untuk membantu Indonesia merengkuh gelar Piala AFF untuk kali pertama. Tapi menjelang pertandingan final melawan Malaysia, fans dikejutkan oleh keputusan Riedl mencoret salah satu bintang Timnas, Boaz Solossa. Alfred Riedl pelatih yang memimpin timnas Indonesia selama tiga periode. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl mengatakan Boaz telah berbuat indisipliner. Dia tak peduli Boaz seorang bintang. Hukum adalah hukum. Harus ditegakkan biarpun bumi runtuh. Siapa yang melanggar, harus dihukum. Banyak orang menuding keputusan itu sebagai sebab kekalahan timnas di final Piala AFF 2010. Riedl mengatakan kekalahan Timnas tidaklah ditentukan oleh satu atau dua orang. Tapi dia mengakui, kekalahan timnas adalah tanggung jawabnya. Kiri: Boaz Solossa sosok yang pernah dicoret Riedl. Kanan: Riedl memimpin latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Disiplin dan tegas adalah ciri khas dari Alfred Riedl. (Fernando Randy/ Historia.id ). Itulah Riedl. Sosok pelatih berambut putih asal Austria. Dia dikenal bertanggung jawab dan sangat tegas pada siapapun. Bahkan terkesan dingin. Tapi cukup menyenangkan dalam memberikan informasi kepada para jurnalis. Pernah suatu hari, saya sebagai fotografer dan seorang kawan reporter mewawancarainya pada 2012. Kami menghubungi Riedl via email untuk membuat janji. Riedl sepakat menerima kami di Hotel Kempinski, Jakarta. Kami parkir motor di lantai bawah tanah. Jauh dari tempat pertemuan. Akibatnya, kami terlambat lima menit. Riedl pun menyemprot kami. "Kalian terlambat lima menit. Sebagai wartawan, kalian harus lebih menghargai waktu," katanya saat kali pertama bertemu kami. Untungnya, dia mau mengerti alasan kami. Wawancara pun berjalan lancar. Alfred Riedl saat menjalani sesi wawancara khusus. (Fernando Randy/ Historia.id ). Jurnalis lain dari bolalob.id yang juga rekan saya, Kukuh Wahyudi, punya kesan yang sama terhadap Riedl. Dia sering berinteraksi dengan Riedl. “Riedl sosok yang menyenangkan bagi jurnalis. Komentarnya selalu tegas, tak sekadar normatif. Sangat membantu dalam menyampaikan informasi secara jelas kepada pembaca,” kata Kukuh. Riedl saat memimpin latihan Irfan Bachdim dan Ruben Sanadi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Alfred Riedl saat memimpin latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl sang juru taktik dari Austria. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl tercatat menangani timnas dalam tiga helatan Piala AFF: 2010, 2014, dan 2016. Hasilnya, dua kali masuk final dan sekali tersungkur di babak penyisihan. Sebagai pelatih yang telah beberapa kali menangani timnas, dia hafal luar dalam kelemahan dan kelebihan pemain timnas. Kelemahan mendasarnya ketahanan fisik. Sedangkan untuk kelebihannya, dia melihat pada kemampuan individual para pemain. Riedl dan asistennya Wolfgang Pikal. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hansamu Yama saat mencetak gol di semifinal Piala AFF 2016 kontra Vietnam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl menyalami M. Ridwan dan Hariono usai bertanding melawan Suriah di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Setelah menangani timnas, Riedl pulang kampung ke Austria. Kabarnya tak banyak terdengar lagi. Sampai akhirnya kabar duka itu datang. Alfred Riedl meninggal dunia dalam usia 70 tahun di Austria pada 8 September 2020. Persatuan sepakbola Palestina, Vietnam, dan Laos menyatakan berduka cita. Di sanalah Riedl pernah pula memberikan jasanya selain pada Indonesia. Pemain timnas seperti Evan Dimas, Irfan Bachdim, Ahmad Bustomi, dan Boaz Solossa tak ketinggalan ikut menyatakan duka. Riedl saat berjalan menuju lapangan untuk memulai latihan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Alfred Riedl memang belum pernah memberikan gelar juara pada Indonesia. Tapi namanya akan terus dikenang dalam sejarah sepakbola Indonesia. Selamat jalan, Alfred Riedl. Ekspresi Alfred Riedl saat di lapangan latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Pendiri Bangsa Cerita tentang Sepeda
Semangat bersepeda menjalar ke kota-kota besar di Indonesia selama pandemi Covid-19. Permintaan sepeda melonjak. Pabrik sepeda kewalahan menyediakan sepeda. Rakyat jelata, selebritas, politikus, dan tokoh masyarakat gemar berfoto dengan sepeda dan mengunggah ke media sosial. Bersepeda memang menyenangkan. Para pendiri bangsa pun punya cerita tentang sepeda. Mulai dari Sukarno. Dia pernah gandrung dengan sepeda. Saat itu dia masih menjadi siswa HBS (setingkat sekolah menengah atas) di Surabaya pada akhir tahun 1910-an. Jarak rumah kosnya dengan sekolah sekira satu kilometer. Dia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki atau membonceng sepeda temannya. “Setiap anak mepunyai sepeda. Aku sendiri yang tidak,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sukarno kepingin juga punya sepeda seperti teman-temannya. Tapi uang di kantongnya tak cukup. Maka dia mulai menabung hari demi hari. Akhirnya dia berhasil membeli sepeda seharga delapan rupiah. “Kubeli fongers yang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda,” lanjut Sukarno. Dia bangga sekali dengan sepedanya. Baca juga: Budaya Sepeda Orang Indonesia Fongers salah satu sepeda sohor masa Hindia Belanda. Sepeda buatan Belanda lainnya berjenama Batavus, Sparta, dan Gazelle. Sepeda dari Inggris juga ada. Antara lain Raleigh, Humber, dan Phillips. Secara kualitas, semuanya hampir mirip. Harganya tak beda jauh. Sangat mahal bagi kebanyakan orang. “Hampir sama dengan 1 ons emas. Oleh karena itu, masyarakat biasa hanya mampu membeli sepeda bekas atau menunggu harga sepeda turun,” sebut Hermanu dalam Seri Lawasan Piet Onthel . Dari semua merk tadi, Fongers memegang penjualan terbaik di Hindia Belanda. “Sangat digandrungi orang setelah sepeda merk Raleigh keluaran Inggris,” ungkap Hasyim Ning dalam Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Baca juga: Aturan Bersepeda pada Masa Lampau Sukarno merawat sepeda Fongers hasil menabung itu sepenuh hati. Dia merawatnya bagai seorang ibu menyayangi anaknya. “Ia ku gosok-gosok. Ku pegang-pegang. Ku belai-belai,” kata Sukarno. Karena itu, Fongers miliknya selalu tampak kinclong dan memikat orang sekitar. Salah satunya Harsono, anak H.O.S. Tjokroaminoto, pemilik rumah kos. Harsono berusia 7 tahun, 10 tahun lebih muda dari Sukarno. Dia menggunakan Fongers diam-diam. Tapi nahas, dia kurang mahir bersepeda sehingga menabrak pohon. Fongers itu pun rusak. Sukarno marah besar mengetahui sepeda kesayangannya rusak parah. Sukarno menyepak pantat Harsono sampai membuatnya menangis. Tapi setelah itu, Sukarno justru merasa bersalah. Dia menabung lagi dan membelikan sepeda jenama lain seharga 8 rupiah untuk Harsono. Sepeda pertama milik Mohammad Hatta dipajang di Museum Kelahiran Bung Hatta. ( indonesiakaya.com ). Mohammad Hatta Tokoh penggemar sepeda lainnya ialah Mohammad Hatta. Dia gemar bersepeda sejak kecil. Sebuah foto dalam otobiografinya, Memoir , menampilkan Hatta ketika berusia 7 tahun memegang sepeda dengan diapit dua orang penunggang kerbau di kanan dan kirinya. Semasa bersekolah di Jakarta, Hatta kerap pergi kesana-kemari dengan sepeda. Padahal dia pemuda rantau. Kebanyakan pemuda rantau susah memperoleh sepeda. Uang mereka habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah pula harga sepeda mahal untuk ukuran mereka. Tapi Hatta cukup beruntung. “Di Jakarta Hatta banyak mempunyai kaum keluarga yang menyayangi dan membantunya. Oleh karena itu tidak heran kalau ia mempunyai sepeda yang merupakan kendaraan yang penting dan terhormat waktu itu,” tulis Bahder Djohan dalam Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Baca juga: Sejarah Lajur Khusus Sepeda di Indonesia Bahder Djohan adalah anak rantau dari Sumatra sekaligus pelajar Stovia (Sekolah Dokter Bumiputra). Dia sahabatan dengan Hatta di Jakarta. Mereka sering pergi menghabiskan waktu bersama-sama. Setelah mengantarnya pulang, Hatta pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda. Kebiasaan Hatta bersepeda masih bertahan ketika dia sudah menjadi wakil presiden. “Di Yogya dan di Jakarta tiap pagi setelah sembahyang subuh, Bung Hatta berkeliling kota naik sepeda, sambil melihat keadaan kota dan untuk sport ,” beber Yus Sudarso dalam Pribadi Manusia Hatta: Hatta dan Sumpahnya . Haji Agus Salim Selain Sukarno dan Hatta, Haji Agus Salim juga punya cerita menarik yang berhubungan dengan fungsi dan hakikat sepeda. Dia adalah mentor bagi banyak pemuda pada masa pergerakan nasional seperti Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo. Suatu hari pada masa pergerakan nasional, Haji Agus Salim mendapat kunjungan dari para pemuda. Beberapa di antaranya menggunakan sepeda. Rumah Haji Agus Salim terletak di Tanah Tinggi, Batavia. Bila hujan tiba, tanah itu lembek dan debel (tanah lengket habis hujan). Itu membuat ban sepeda tak bisa berputar. Sehingga, Kasman Singodimedjo harus membopong sepedanyahingga ke hadapan Haji Agus Salim. Baca juga: Soeharto dan Sepeda Turangga “Saya ditunggangi sepeda,” kata Kasman seperti diceritakan kepada Mohamad Roem dalam “Memimpin Adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim”, termuat di Manusia dalam Kemelut Sejarah. Beberapa hari kemudian, Kasman dan kawan-kawannya datang bertamu lagi ke rumah Haji Agus Salim. Kali ini tanahnya kering. Dia bersepeda seperti biasa dan mudah melewati tanah tersebut hingga ke rumah Haji Agus Salim. Menyambut kedatangan mereka, Haji Agus Salim berkata, “Hari ini Anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik.” Cerita Haji Agus Salim masih relevan pada masa sekarang. Ketika orang-orang justru banyak “ditunggangi” sepeda dan mengubah fungsi serta hakikat sepeda. Orang-orang membelanjakan apa saja demi sepedanya. Sehingga benda justru memperbudak manusia. Bukan sebaliknya.






















