Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi
SENDIRI dalam sepi meringkuk di penjara di Ramla, Israel, Adolf Eichmann hanya bisa pasrah. Malam itu, 31 Mei 1962, jadi malam terakhirnya. Takkan sempat ia melihat lagi matahari terbit saat berganti bulan pada 1 Juni lantaran dini hari itu ia akan menuju tiang gantung, sebagai gembong Nazi terakhir dan pertama yang diadili di Israel. Sebelumnya, Eichman ditangkap di Argentina. Ia dihadapkan ke muka pengadilan di Yerusalem, Israel. Ia divonis hukuman gantung pada 15 Desember 1961 atas sejumlah dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengajuan banding hingga amnestinya kepada Presiden Israel Yitzak Ben-Zvi sejak Januari 1962 mentah semua. Setelah bertemu istrinya, Veronika Liebl, untuk kali terakhir, Eichmann menanti akhir hidupnya hanya ditemani pendeta Protestan asal Kanada, William Lovel Hull, dan Rafi Eitan, agen Mossad (Intel Israel) yang mengarsiteki penangkapan Eichmann di Argentina. “Jayalah Jerman. Jayalah Argentina. Jayalah Austria. Tiga negara yang sangat berkesan dan takkan saya lupakan. Saya menyapa istri, keluarga, dan teman-teman saya. Saya siap. Kita akan segera bertemu lagi karena kematian adalah hal yang pasti. Saya mati dengan menyakini pada Tuhan saya,” demikian kata-kata terakhir Eichmann sebagaimana yang dikenang Pendeta Hull, dikutip David Cesarani dalam Eichmann: His Life and Crimes. Eichmann di Penjara Ayalon di kota Ramla menjelang eksekusi di tiang gantung (Foto: Israel Government Press Office) Seiring nyawanya melayang di simpul tiang gantung, pengadilan hingga eksekusinya menjadi pengingat akan holocaust yang 10 tahun pasca-Perang Dunia II berakhir isunya tenggelam akibat meningkatnya tensi Perang Dingin. Bagi dua negeri adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, perkara Jerman Nazi sudah rampung dengan Pengadilan Nuremberg yang melelahkan (30 September 1945-1 Oktober 1946). Israel sendirian memburu para gembong Nazi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Holocaust, di mana Eichmann jadi salah satu motor penggeraknya, jadi sejarah kelam yang takkan sembuh dengan cepat di dalam masyarakat Yahudi. Adik Kelas Hitler Meski lahir di Solingen, Jerman, pada 19 Maret 1906 dari pasangan suami-istri Adolf Karl Eichmann dan Maria Schefferling, Eichmann dan keluarganya pindah ke Linz, Austria saat usia tujuh tahun. Ayahnya pindah lantaran mengambil pekerjaan di sebuah perusahaan trem listrik di Linz. Di Linz, Eichmann bersekolah di Staatsoberrealschule (sekolah menengah) Kaiser Franz Joseph. Di sekolah itu pula 17 tahun sebelumnya Hitler mengenyam pendidikan. Eichmann bersentuhan dengan politik sayap kanan sejak 1927 kala sudah bekerja sebagai agen Vacuum Oil Company AG. “Selama itu (sebagai agen minyak) dia bergabung dengan Jungfrontkampfervereinugung, organisasi pemuda pergerakan sayap kanan pimpinan Hermann Hiltl. Dia juga mulai asyik membaca koran-koran terbitan NSDAP (Partai Nazi) yang punya tujuan menjatuhkan Republik Weimar di Jerman,” sambung Cesarani. Eichmann (kiri dilingkari merah) semasa belia & semasa muda sebagai agen perusahaan minyak (Foto: holocaustresearchproject.org/remember.org ) Dari situ pula Eichmann berkawan dengan Ernst Kaltenbrunner, pemimpin Schutzstaffel (SS/paramiliter Partai Nazi) di Distrik Linz, hingga Eichmann bergabung ke SS pada April 1932. Dua tahun berselang, Eichmann mulai bertualang di Sicherheitdienst (SD/Dinas Intel SS) dengan pangkat schürfuhrer (kopral). Minatnya pada hal-hal berbau Freemason dan segala ritual Yahudi membuat Eichmann ditransfer ke Departemen Yahudi di SD, Berlin. Tugasnya meriset sejumlah pergerakan dan organisasi Yahudi global dan menjadikannya dalam bentuk laporan. Ia jadi satu-satunya orang di SS dengan spesialisasi tentang Yahudi. Ketika Hitler jadi kanselir pada Januari 1933, Unterstürmfuhrer (letnan dua) Eichmann terlibat dalam pelaksanaan teknis migrasi Yahudi Jerman ke Palestina sesuai Perjanjian Haavara (25 Agustus 1933). Empat tahun kemudian atas perintah Kepala SD Brigadeführer Reinhard Heydrich, ia jadi ujung tombak Jerman Nazi untuk bernegosiasi di bawah meja terkait pembatasan migrasi Yahudi Jerman ke Palestina. “Heydrich menganggap eksodus ke Palestina di satu sisi justru akan memunculkan bahaya tersendiri karena bisa menciptakan pusat strategis Yahudi internasional berupa negara Yahudi. Heydrich mengizinkan Eichmann bersama Herbert Hagen mengunjungi Palestina pada musim gugur 1937 untuk bertemu kontak penghubung Haganah (Paramiliter Yahudi, cikal-bakal pasukan Israel/IDF) Feivel Polkes,” tulis Saul Friedlander dalam Nazi Germany and the Jews: The Years of Persecution: 1933-1939. Eichmann di awal bergabung dengan SS (kiri) & sudah berpangkat oberscharführer (Foto: US National Archives/remember.org) Misi klandestin itu gagal akibat pemerintah Inggris tak mengizinkan Eichmann dan Hagen menginjak Palestina lebih dari satu hari. Meski begitu, Eichmann mendapat jaringan pihak Zionis. “Di kemudian hari Eichmann ikut mengatur operasi senyap bersama para utusan Zionis, memindahkan para imigran Yahudi ke pelabuhan-pelabuhan di Yugoslavia dan Rumania, di mana mereka bisa menyeberang sendiri melalui Laut Hitam menuju Palestina,” imbuh Friedlander. Invasi Jerman Nazi ke Polandia pada September 1939 yang membuka Perang Dunia II menggugurkan Perjanjian Haavara. Kebijakan SS pun berubah dari imigrasi Yahudi menjadi deportasi paksa. Ini jadi tugas baru Eichmann setelah menjabat Kepala RSHA Referat IV B4 (Sub-Departemen IV-B4 Kantor Keamanan Negara yang berwenang atas kebijakan di atas). Heydrich yang menganggap Eichmann sebagai ahli Yahudi memberi kewenangan penuh atas proses deportasi, mulai dari pengerahan pasukan polisi hingga menggerakkan aneka moda transportasi untuk mengangkut sekira 600 ribu Yahudi Jerman ke ghetto - ghetto di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman. Eichmann pun mengatur penyitaan sejumlah aset dan properti para Yahudi yang dideportasi. Holocaust dari Belakang Meja Pendeportasian Yahudi ke ghetto-ghetto untuk dikerjapaksakan itu lantas menimbulkan permasalahan buat rezim Nazi. Para gubernur pemerintahan pendudukan sering menuntut solusi tentang itu. Pusat (Berlin) lalu menjawabnya dengan solusi pertama yang dikeluarkan Kepala Departemen Yahudi di Kementerian Luar Negeri Jerman Nazi Franz Rademacher pada Juni 1940. Solusi itu yakni, membuang para Yahudi ke Pulau Madagaskar yang dijaga ketat SS lewat Proyek Madagaskar. Setelah disetujui Hitler, Eichmann merilis memo resmi, “Reichssicherheitshauptamt: Madagaskar Projekt”. Isinya adalah rencana pengaturan pemindahan para Yahudi secara berangsur-angsur: satu juta Yahudi per tahun. Masalahnya kemudian, proyek ini bergantung pada menang-tidaknya perjudian Reichsmarschall Hermann Goering, deputi Hitler, di Pertempuran Udara Inggris (10 Juli-31 Oktober 1940). Jika berhasil menang, Operasi Singa Laut (invasi ke Inggris) bisa dilancarkan sesuai keinginan Hitler dan kapal-kapal dagang plus kapal-kapal kargo Inggris bisa diambilalih untuk kunci Proyek Madagaskar. Jika gagal, Operasi Singa Laut sulit diwujudkan. Dan faktanya, Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang dibanggakan Goering “keok”. Invasi ke Inggris pun batal, begitu pula Proyek Madagaskar. Solusi kedua, adalah pembantaian. Rencana keji ini bermula dari Goering yang memberi kewenangan Heydrich untuk menyiapkan “Solusi Final untuk Perkara Yahudi”, ibarat akta kelahiran holocaust . Heydrich kemudian memerintahkan Eichmann untuk mengatur rapat rembukan para pejabat perwakilan pemerintahan Jerman Nazi di Konferensi Wannsee, 20 Januari 1942. “Konferensinya diketuai Heydrich sendiri dan Eichmann yang menyiapkan catatan resmi tentang data-data berupa angka jumlah Yahudi di seantero Eropa, serta statistik deportasi yang selama ini telah digulirkan,” sambung Cesarani. Konferensi memutuskan “Solusi Final” akan dilancarkan dengan metode deportasi jutaan Yahudi ke kamp-kamp pemusnahan yang akan dibangun di Bełżec, Sobibor, Treblinka, Auschwitz dll. Mereka akan dihabiskan di kamar-kamar gas serta ruangan-ruangan kremasi. Rombongan Yahudi Hungaria menjelang maut tengah digiring masuk ke Kamp Auschwitz-Birkenau II pada Juli 1944 (Foto: yadvashem.org ) Di situlah tangan Obersturmbannführer (letkol) Eichmann “berlumuran darah”. Meski arsitek holocaust adalah Kepala SS Reichsführer Heinrich Himmler dan Heydrich, motor penggeraknya adalah Eichmann. Dia yang mengubah konsep menjadi operasi (aksi). Dengan kewenangan dari Heydrich, Eichmann lalu menggerakkan semua moda transportasi darat untuk memindahkan jutaan Yahudi dari ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi ke kamar-kamar gas maupun ruangan-ruangan kremasi. Seiring mulai intensnya tekanan internasional terhadap pemerintah Hungaria terkait deportasi Yahudi dan terdesaknya Jerman-Nazi oleh Sekutu dan Soviet, Eichmann melihat kesempatan itu untuk “cari nama” ke pihak Yahudi Internasional. Ia memulainya dengan menemui Joel Brand, anggota RRC (Komite Pengungsian dan Penyelamatan Yahudi), pada 25 April 1944 di Budapest. Dalam negosiasinya, Eichmann menuntut barter 10 ribu truk untuk satu juta jiwa Yahudi. Brand mengisahkan, sebagaimana diungkapkan PK. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II , ia harus lebih dulu menyampaikan tuntutan itu ke komunitas Yahudi di Swiss, Istanbul, Kairo, dan Yerusalem. Eichmann mengizinkan dengan syarat anak-anak dan istri Brand disandera sebagai agunan. “Tuan Brand, berangkatlah besok (16 Mei 1944). Sebuah pesawat disediakan untuk Tuan dan harus selesaikan urusan ini secepat mungkin. Saya tak bisa menunggu lama. Mulai hari ini, pembuangan orang Yahudi telah dimulai lagi sebanyak 12 ribu orang akan dibuang tiap hari, akan tetapi saya bersedia mengirim mereka ke Austria, bukan ke Auschwitz dan akan saya tahan sebagian di Slovakia. Di situ mereka menunggu sampai Tuan kembali. Jika tidak kembali pada waktunya, mereka semua akan pergi ke (kamp pemusnahan) Auschwitz,” kata Eichmann mengancam Brand, dikutip Ojong. Dokumen identitas samaran Eichmann sebagai Ricardo Klement di Argentina (kiri) & saat disidang di Yerusalem pada 1961 (Foto: Fundacion Memoria del Holocausto/Israel Government Press Office) Misi itu membawa Brand bertualang dari Istanbul, Yerusalem, hingga Aleppo. Namun, di Aleppo Brand ditangkap pemerintah Inggris. Buyarlah proposal Eichmann sehingga mengakibatkan 437 ribu Yahudi Hungaria tewas dalam kurun Mei-Juli 1944. Selain dengan Brand, Eichmann juga bernegosiasi dengan tokoh Yahudi Rudolf Kasztner, medio Juni 1944. Kali ini negosiasi Eichmann berhasil menyelamatkan 1.684 jiwa Yahudi yang ditukar dengan tiga koper berlian, emas, dan sejumlah uang. Eichmann lalu kabur ke Berlin kala Soviet kian mendekati Budapest. Pasca-kapitulasi Jerman Nazi kepada Sekutu, Eichmann menyamar sebagai Otto Eckmann. Dia tak dikenali sebagai salah satu organisator holocaust saat ditangkap pasukan Amerika Serikat. Dia lalu ditahan di kamp tawanan. Ketika identitas Eichmann dibongkar Rudolf Höss, komandan penjaga Kamp Auschwitz, di Pengadilan Nuremberg, Eichmann sudah kabur ke Argentina atas bantuan Uskup Alois Hudal dan para simpatisan Nazi di Austria dan Italia menggunakan nama samaran Ricardo Klement. Penyamaran dalam pelariannya akhirnya terhenti ketika pada 11 Mei 1960 para agen Mossad dan Shin Bet (Dinas Keamanan Israel) menculiknya dari Buenos Aires. Eichmann lalu diseret ke pengadilan di Yerusalem yang lantas memvonisnya hukuman mati.
- Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani
KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.
- Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?
Kemunculan film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan perdebatan terkait keberadaan khilafah di Nusantara. Perbincangan mengenai khilafah di Nusantara kembali ramai. Benarkah ada khilafah di Nusantara? Apa itu khilafah dan hubungannya dengan Nusantara? Dalam Dialog Sejarah “Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Jejaknya?“ di Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 25 Agustus 2020, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Oman menyebut bahwa definisi jejak khilafah sendiri belum jelas. Jika yang dimaksud adalah bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara pernah menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan khilafah, menurutnya itu tidak benar. “Saya mengkaji sejumlah manuskrip dari Aceh, dari Palembang, dari Jawa juga, dari mana-mana, tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara itu bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu kalau mau disebut khilafah,” kata Oman. Oman tidak meragukan adanya hubungan diplomatik maupun jaringan ulama Nusantara, terutama Aceh dengan Dinasti Utsmaniah. Namun sebelum masuk lebih jauh, menurutnya masih menjadi pertanyaan juga, apakah Utsmani adalah representasi dari khilafah itu sendiri. “Kalaupun ada hubungan itu, maka pertanyaannya apakah dinasti Utsmani itu, Ottoman Empire itu bisa dianggap merepresentasikan apa yang diyakini sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Ini kan perdebatannya panjang,” terangnya. Menurutnya, dari Khulafaur Rasyidin atau empat kekhalifahan yang berdiri sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, hanya dua yang dianggap merepresentasikan nilai Syuro, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika memasuki kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga Abassiyah muncul, pertanyaan apakah kepemimpinan mereka merepresentasikan nilai-nilai kekhilafahan. “Saya kira itu tuh pertanyaan, mungkin kita harus bertanya ke diri sendiri yang dimaksud jejak khilafah di Nusantara itu apa. Saya sudah menjawab, kalau yang dimaksud adalah dalam sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, misalnya, saya kira tidak,” ungkapnya. Tapi, lanjutnya, “kalau mau menyebutnya itu bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, peradaban Islam dari Mesir, peradaban Islam dari Timur Tengah, itu sangat ada.” Nabi Muhammad SAW dan Islam sendiri, kata Oman, tidak menunjukkan bahwa khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan. Khilafah yang dimaksud menurutnya adalah serangkaian nilai-nilai, bukan sistem pemerintahan. Kembali ke tafsir soal bahwa kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara itu adalah bagian dari Khilafah Utsmani, Oman menyebut ada dua poin penting. Pertama , memang ada hubungan diplomatik antara kesultanan di Nusantara dengan Truki Utsmani. “Bahwa ada kontak diplomatik, misalnya, gitu ya dengan katakanlah Turki Utsmani pada masa itu saya kira itu, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu saya punya bukti yang banyak memang tentang adanya kontak, khusunya Aceh tentu saja,” jelasnya. Yang kedua , hubungan diplomatik tersebut tidak serta-merta menjadikan kesultanan-kesultanan itu sebagai bagian dari kekhalifahan. “Sekali lagi, kalau mengklaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmaniah itu, persatuan Islam sedunia yang sudah dimusnahkan tahun 1924, lalu kita harus kembali ke zaman itu untuk keagungan Islam misalnya, saya kira itu terlalu mengglorifikasi ya,” tegasnya.
- Tiga Jurnalis Peliput Proklamasi
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia yang ke-75, di jagad maya beredar luas sejumlah foto tua yang menggambarkan suasana pembacaan proklamasi dari sudut yang lain. Padahal selama ini, foto bertajuk sejenis hanyalah berjumlah 3 lembar yang merupakan karya fotografer Indonesia Pers Photo Service (IPPHOS) Frans Soemarto Mendoer. Munculnya “foto lama tapi baru” itu mengundang sejumlah pertanyaan dari warganet: Berapa orangkah sebenarnya jurnalis yang meliput peristiwa bersejarah tersebut? Siapakah saja mereka? Dan dari media mana saja? Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak begitu banyak diceritakan. Informasi mengenai kehadiran jurnalis dalam pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, justru muncul dalam bukunya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dikisahkan oleh Sudiro, beberapa menit menjelang upacara pembacaan proklamasi dimulai, dirinya menyaksikan seorang lelaki yang tak dikenal duduk di beranda depan rumah Bung Karno. Para anggota Barisan Pelopor (BP) bahkan sudah memantau gerak-geriknya sejak awal. Mereka mencurigai laki-laki itu sebagai mata-mata militer Jepang. “Ternyata kami keliru. Dia adalah wartawan Domei (menjadi Kantor Berita Antara di era Indonesia merdeka). Namanya Suroto…” ungkap Sudiro. Bisa jadi via Suroto inilah kemudian berita tentang proklamasi diteruskan ke redaksi Domei . Dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, S idik Kertapati menyebut begitu mendapat berita dari lapangan, dua awak Domei lainnya yakni Sjahrudin dan Sundoro langsung menyiarkannya. Bak kebakaran jenggot, pemerintah militer Jepang langsung bereaksi atas pemberitaan itu. Mereka memerintahkan para awak Domei membuat kontra berita yang membantah berita proklamasi itu. Namun karena kegigihan para awak Domei yang sebagian besar pro terhadap kemerdekaan bangsanya, kontra berita itu berhasil ditunda-tunda hingga pada akhirnya sama sekali tidak jadi disiarkan. Selain reporter, Domei pun mengirimkan fotografernya untuk meliput momen proklamasi. Tak tanggung-tanggung mereka mengutus Alex Mendoer, kepala bagian fotonya. Tapi Alex bukan satu-satunya fotografer yang hadir dalam peristiwa proklamasi tersebut. Diam-diam dia mengajak adiknya Frans Mendoer (fotografer harian Asia Raya) untuk ikut serta meliput. Menurut buku Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur) karya Wiwi Kuswiah, dituturkan bahwa Alex sendiri kali pertama mengetahu berita rencana akan diadakan proklamasi berasal dari rekannya di Domei yang bernama Zahrudi. Alex tahu betul nilai berita proklamasi. Dia sangat yakin peristiwa tersebut akan menjadi sejarah penting bangsa Indonesia. Berbekal keyakinan itulah, di pagi buta 17 Agustus 1945, dia sudah keluar dari rumahnya di Jalan Batu Tulis No.42. Bersama Frans, mereka pergi ke Jalan Pegangsaan Timur sambil mengendap-endap supaya tak tertangkap serdadu Jepang. Sesampai di rumah bernomor 56, mereka menemukan situasi pagi itu sudah sangat ramai. Mayoritas yang hadir adalah para pemuda dan pemudi yang terlihat tak sabar lagi menantikan detik-detik pembacaan proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta. Seiring persiapan teknis penyelenggaraan prokamasi dilakukan, Alex dan Frans secara cepat menyiapkan pula kamera Leica masing-masing. Mereka kemudian memilih sudut pengambilan sesuai selera. Begitu upacara pembacaan proklamasi dimulai, kedua fotografer itu pun langsung beraksi. Singkat cerita, pembacaan proklamasi berlangsung sukses. Begitu massa sudah mulai meninggalkan rumah Bung Karno, Alex pulang ke kantornya sedangkan Frans langsung pulang ke rumahnya. Di Kantor Berita Domei Alex langsung memproses pencetakan foto. Saat itulah serdadu Jepang datang lantas mengambil negatif film yang sedang dikeringkan, sementara Alex sendiri saat itu sedang tidak di tempat. “Padahal Alex Mendoer-lah sebenarnya yang paling banyak memotret detik-detik proklamasi sampai habis satu roll film penuh yang berisi 36,” ungkap Lexi Rudolp Mendur, anak ke-2 dari Alex Mendoer. Frans Mendur lebih beruntung dibanding kakaknya. Begitu sampai di rumah, tanpa banyak pikir dia langsung menyembunyikan roll film itu lewat cara menanamnya di halaman depan rumah. Sejarah kemudian mengisahkan foto-foto pembacaan proklamasi karya Frans-lah yang kemudian beredar dan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Namun apakah hasil liputan tersebut hanya sebatas 3 lembar foto saja? Menurut Wiwi, sejatinya masih ada beberapa lembar negatif film yang berhasil disembunyikan oleh Frans itu. Tetapi hanya sedikit yang berhasil diamankan oleh Arsip Departemen Penerangan (saat itu masih ada) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sisanya raib tanpa jejak, entah diambil oleh siapa. Sejarawan Rushdy Hoesein memiliki pendapat yang menarik terkait dengan beredarnya foto-foto sekitar proklamasi (selain 3 foto karya Frans Mendoer) di jagad maya beberapa waktu lalu. Menurutnya ada dua kemungkinan, foto-foto tersebut berasal dari negatif film milik Frans Mendoer yang raib atau berasal dari negatif film milik Alex Mendoer yang sempat dirampas militer Jepang. “Bisa saja kan setelah jatuh ke tangan Jepang, lalu orang-orang Belanda ketika datang bersama Sekutu pada 1945 mengambilnya dan membawanya ke negeri mereka lalu mempublikasikannya sekarang,” ujar Rushdy.
- Samudera Pasai dan Dinasti Abbasiyah
SELURUH sultan di dunia Islam menyatakan baiat kepada Khilafah Abbasiyah semenjak gelombang badai Mongol dihentikan oleh Dinasti Mamluk. Pusat Dinasti Abbasiyah pun pindah ke Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global.
- Nahas Pasukan Parang di Palagan Tiga Binanga
Letnan Dua Raja Sjahnan menyiagakan pasukannya. Komandan Kompi III Batalion XV itu mendapat perintah untuk menyerang pasukan Belanda di Tiga Binanga, Tanah Karo. Kabar baiknya, pasukan Republik itu akan mendapat tambahan pasukan sukarela yang berasal dari veteran Perang Aceh. Pada 20 Desember 1947, pasukan bantuan datang dari Blangkejeren, Aceh Tenggara. Mereka dipimpin oleh Kapten Maaris dengan jumlah pasukan sebanyak dua seksi (satu seksi sama dengan setengah peleton atau sekira 10—20 orang). Pasukan sukarela ini dinamakan “Pasukan Parang”. Anggotanya terdiri atas orang-orang yang sudah berumur agak lanjut. “Tapi katanya berani menghampiri musuh dengan parang atau pedangnya. Mereka bertekad akan membunuh orang Belanda, yang dianggapya tetap menjadi musuh sejak zaman Belanda dahulu,” tutur Raja Sjahnan dal am Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan. Sebagai prajurit militan, reputasi pasukan parang dari Aceh ini bukan isapan jempol belaka. Mereka dikenal bernyali dengan bekal ilmu kelahi secara fisik. Di masa kolonial, Belanda cukup kewalahan menghadapi keganasan Pasukan Parang. Untuk meredam serangan pasukan Aceh yang ditakuti itu, yang sekali ayun dapat membelah bahu orang miring sampai ke jantungnya, “para prajurit Belanda mengenakan baju zirah primitif berupa lempengan kaleng rata pada tutup bahu seragamnya,” kata sejarawan militer Nino Oktorino dalam Seri Nusantara Membara: Perang Terang Terlama Belanda . Dalam perang kemerdekaan, pejuang Aceh terpanggil kembali untuk bertempur melawan Belanda. Apalagi ketika Belanda menduduki kota Medan, mereka datang menjemput lawan dengan berjalan kaki dari Aceh. Mereka turun ke berbagai front, mulai dari Tanah Karo hingga kawasan pinggiran kota Medan. Di Medan Area, mereka sohor dengan nama “Kompi Parang Berdarah”. Sebagai komandan kompi, Raja Sjahnan merasa gembira dengan kedatangan Pasukan Parang ke tengah frontnya di Tanah Karo. Raja Sjahnan sendiri sempat bertanya dalam hati, apakah pejuang gaek ini mengetahui sistem pertempuran modern yang tentu berbeda dengan zaman Perang Aceh. Meski demikian, dia yakin saja Kapten Maaris akan mampu mengarahkan Pasukan Parang. Uji coba pertama terjadi pada 24 Desember 1947. Pasukan Parang diminta mendahului penyerangan ke Tiga Binanga dan kampung Kuala dibantu satu seksi pasukan Kompi III. Penyerangan yang sedianya dilancarkan pada pukul 00.00 itu gagal lantaran terhadang oleh keadaan alam. Sungai yang akan diseberangi dalam keadaan banjir sehingga jalanan licin dan sulit untuk dilalui. Pukul 04.30, Pasukan Parang kembali ke basisnya di kampung Balang Dua karena hari mulai terang. Penyerangan kembali direncanakan pada 30 Desember 1947. Pasukan Belanda di Tiga Binanga berjumlah sekira satu kompi (150-200 orang). Sekitar pos mereka terdapat benteng-benteng yang dilengkapi senjata otomatis. Setelah mendapat informasi itu, pasukan Kompi III dan Pasukan Parang bersiap melancarkan serangan. Pukul 01.00 terjadilah tembak menembak dengan pasukan Belanda selama dua jam. Pasukan Parang bergerak dari sebelah utara. Sewaktu bergerak mendekati rumah sekolah, keberadaan Pasukan Parang digonggongi oleh anjing penjaga. Akibatnya, keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda yang segera memberondongnya dengan serentetan tembakan. Di tengah desing peluru, Pasukan Parang terpaksa mundur dan berlindung di jurang tepi sungai. Waktu menunjukkan pukul 03.45 dan hari mulai terang. Letnan Raja Sjahnan memutuskan untuk menghentikan penyerangan. Pukul 04.00 pasukan diperintahkan undur diri ke Kampung Gunung dan tiba di kampung Kemkem pukul 05.00. Pada penyerangan yang gagal itu, seorang Tentara Republik dan seorang Pasukan Parang terluka akibat serangan balik Belanda. Selain itu, 3 orang Pasukan Parang terluka akibat jatuh ke jurang. Menurut Raja Sjahnan, Pasukan Parang kesulitan bergerak di malam hari karena faktor usia. Keadaan tersebut dapat dipahami lantaran Pasukan Parang tidak berpengalaman dalam pertempuran jarak jauh maupun latihan perang modern. Semula Pasukan Parang menyangka cara berperang yang akan dilakoni sama seperti zaman dulu yakni perkelahian satu lawan satu. Ketika bersitirahat, Raja Sjahnan mendatangi Kapten Maaris beserta pasukannya. Mereka bertukar pikiran membahas kegagalan serangan Pasukan Parang. Salah seorang anggota Pasukan Parang itu angkat suara mengenai kelemahan pasukannya. “Bagaimanalah Nak, anggota Pasukan Parang ini umurnya sudah lanjut, sudah tua-tua, banyak yang sudah batuk-batuk. Bila kami bergerak, akan ribut, tentu ketahuan sama musuh lalu ditembaki dengan senapang mesin dari jauh. Bila kami bergerak pada siang hari, takut kapal terbang, malam hari tidak melihat dengan baik lagi. Oleh karena itu, Pasukan Parang ini lebih baik kembali saja ke kampung,” kata pejuang Aceh itu ditirukan Raja Sjahnan. Setelah berdiskusi dengan Kapten Maaris, akhirnya diputuskan bahwa Pasukan Parang boleh kembali ke Kota Cane dan terus ke Blangkejeren. “Mereka sebagai pejuang, patut dihargai walaupun usianya sudah lanjut, tapi mempunyai semangat juang yang tinggi,” kenang Raja Sjahnan.
- Lima Pelatih Barcelona dari Belanda
POSTER besar berwarna kuning bertuliskan “Ben Tornat a Casa! Koeman” (terj. “selamat datang di rumah”) itu begitu mencolok. Sosok yang wajahnya digambar di poster itu, Ronald Koeman, segera membubuhkan tandatangannya. Kembalinya pahlawan FC Barcelona era 1990-an itu diharapkan jadi juru selamat Barça dari jurang keterpurukan. Setelah merampungkan segenap formalitas kontrak dua tahunnya sebagai entrenador (pelatih) anyar, langkah kaki Koeman mengantarkannya ke lorong menuju lapangan di Stadion Camp Nou. Sejenak, ia memarkirkan bokongnya di barisan bangku cadangan. Kebahagiaan membuncah dari matanya kendati tugas berat menanti mantan defensor (bek) Barça (1989-1995) yang jadi pahlawan Barça musim kala meraih trofi Champions 1991/1992 itu. Entah gaya permainan seperti apa yang bakal diusung Koeman yang menjadi bagian dari sejarah total football ketika masih bermain. “Kabar bahwa Koeman akan membawa kembali total football ke Barcelona jadi bagian yang menarik. Namun dari trek kepelatihannya selama ini, baik di Ajax Amsterdam atau Everton, kita tidak pernah mendengar tentang total football dari klub asuhan Koeman,” sebut Pemimpin Redaksi TopSkor Irfan Sudrajat kepada Historia . “Saya justru melihat dia generasi yang tidak total dalam total football. Karakteristik kepelatihan Koeman itu gabungan antara Cruyff dan Van Gaal. Kedua pelatih inilah yang memberikan pengaruh kuat kepada Koeman,” sambungnya. Ronald Koeman dengan latarbelakang poster dirinya kala resmi jadi pelatih Barcelona kelima asal Belanda (Foto: fcbarcelona.com ) Koeman, lanjut Irfan, punya gabungan antara imajinasi Cruyff dan pragmatisme Van Gaal. Itu tak lepas dari latarbelakangnya sebagai salah satu bek andalan Cruyff saat mengarsiteki “The Dream Team” Barcelona (1988-1996) dan sebagai asisten pelatih Van Gaal pada tahun 2000. “Sementara dengan Rijkaard tidak sama karakternya. Namun untuk kebutuhan Barça saat ini, dia pelatih yang pas mengatasi situasi Barcelona saat ini. Dia memahami total football tapi dia juga sangat concern pentingnya tim punya pertahanan kuat. Koeman sosok yang sangat tenang tapi memiliki isi yang lebih berbobot dibandingkan dengan (pelatih sebelumnya, Quique) Setién tentunya,” tambahnya. Yang pasti, Koeman jadi pelatih berpaspor Belanda kelima penerus “ Dutch Connection ” yang menukangi Azulgrana (julukan Barça). Sebelum Koeman ada Rinus Michels, Johan Cruyff, Louis van Gaal, dan Frank Rijkaard. Berikut keempat pelatih sebelum Koeman: Rinus Michels Marinus Jacobus Hendricus 'Rinus' Michels: 1971-1975 & 1976-1978 (Foto: uefa.com ) Untuk era sepakbola modern dewasa ini, total football – adalah taktik di mana setiap pemain harus serba-bisa mengambilalih peran pemain lain– sulit diterapkan lagi. Namun di era 1960-an-1970-an, gaya bermain inovatif ini jadi momok buat banyak tim mapan setelah diperkenalkan Michels kala membesut Ajax sejak 1965. Gaya ini kemudian dibawa Michels saat pindah mengasuh Barça pada 1971 menggantikan Vic Buckingham asal Inggris. Barça saat itu tengah melempem dan sudah satu dekade puasa gelar Primera División (kini La Liga) meski sudah 12 kali ganti pelatih setelah terakhir juara liga pada 1960 . Sebelum Michels datang, Barça hanya bisa tiga kali juara Copa del Rey. “Jika pelatih banyak tak bertahan lama di klub ini, berarti ada yang tidak beres. Oleh karenanya saya ingin jadi pengecualian dan bisa mengulangi kesuksesan saya di Ajax,” ujar Michels dikutip El Mundo Deportivo , 12 Juli 1971. Semasa dibesut Michels, Ajax mengecap sukses dengan empat gelar Eredivisie, tiga titel KNVB Cup, serta satu European Cup (kini Liga Champions). Namun eksperimen Michels dengan total football di Barca gagal di musim pertama. Total football Michels mulai berhasil di akhir musim 1971-1972 dengan hasil Barça posisi tiga di klasemen. Musim berikutnya, Barça menjadi runner-up . Manisnya gelar liga akhirnya bisa dinikmati di musim 1973-1974. Itupun setelah Michels “membajak” anak emasnya, Cruyff, dari Ajax dengan mahar 6 juta gulden (USD2 juta) yang jadi rekor transfer pemain termahal masa itu. Cruyff adalah kunci dari total football -nya Michels sejak di Ajax “Michels bisa mewujudkan inovasi-inovasinya di lapangan karena Cruyff. Dia punya ide yang sama tentang sepakbola, mereka saling percaya satu sama lain. Dia tahu Cruyff mampu menyampaikan pesan ke rekan-rekannya tentang bagaimana mengatasi situasi-situasi tertentu,” tulis Sanjeev Shetti dalam Total Football: A Graphic History of the World’s Most Iconic Soccer Tactics. Johan Cruyff Hendrik Johannes 'Johan' Cruyff: 1973-1978 (Foto: fcbarcelona.com ) Total football Michels dilanjutkan Cruyff ketika melatih Barça musim 1988/1989, usai gantung sepatu pada 1984. Seperti halnya Michels, Cruyff datang setelah mengasah karier kepelatihannya di Ajax dengan torehan dua trofi KNVB Cup dan satu UEFA Winners Cup. Seperti Michels, Cruyff juga menanggung beban tak enteng di awal kepelatihannya. “Saat Cruyff mengambilalih kepelatihan, Barcelona di akhir 1980-an adalah klub yang tenggelam dalam utang dan krisis. Atmosfernya jelek, animo suporter menurun, bahkan hubungan presiden klub Josep Lluís Núñez dan Presiden otonomi daerah Katalan Jordi Pujol memburuk. Memang tidak seketika itu juga Cruyff bisa memulihkan reputasinya semasa jadi pemain. Dia mengambil risiko dan hasilnya mengikuti kemudian,” ungkap Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona, Real Madrid, and The World’s Greatest Sports Rivalry. Dibantu mantan rekan setimnya, Carlex Rexach, sebagai asisten, Cruyff membangun tim dengan memodifikasi filosofi total football Michels. Salah satu kebijakan kunci yang jadi keberhasilan Cruyff adalah tim akademi La Masia wajib mengikuti gaya bermain menyerang dan indah, serta menghibur di tim senior. Alasannya agar jika dibutuhkan untuk naik kelas, para pemain muda itu sudah tak kaget dan bisa langsung ‘ngeklik’ dengan arahan Cruyff. “Saya mengenal klub ini dan saya tak ingin sejarah berulang dengan sendirinya. Jika kita ingin perubahan, kita harus mengubah sejarah,” tutur Cruyff sebelum membangun “The Dream Team”, dikutip laman resmi klub . Hasilnya pun tak mengkhianati kerja keras. Dengan memadukan para jebolan La Masia seperti Josep Guardiola dan para pemain asing seperti Ronald Koeman, Michael Laudrup, Romário Faria, Gheorghe Hagi, hingga Hristo Stoichkov, Cruyff berhasil membentuk “Tim Impian” yang dalam periode 1988-1996 memboyong empat gelar La Liga, satu Copa del Rey, tiga Supercopa de España , serta masing-masing satu Winners Cup, Liga Champions, dan UEFA Super Cup. Louis van Gaal Aloysius Paulus Maria 'Louis' van Gaal: 1997-2000 & 2002-2003 (Foto: fcbarcelona.com ) Kejayaan Barcelona saat ditangani Cruyff jadi harapan manajemen klub ketika kembali memercayakan kursi kepelatihan ke Van Gaal yang menggantikan Bobby Robson pada 1997. Kegagalan di Champions Cup dan La Liga jadi alasan pemecatan Robson kendati di musim terakhirnya (1996/1997) masih memberi Barcelona Copa del Rey dan UEFA Winners Cup. Namun, Van Gaal dengan gaya pragmatisnya sejak menangani Ajax (1991-1997) bukanlah Cruyff dengan sepakbola indahnya hasil modifikasi total football . Meski tak semenghibur pendahulunya, Van Gaal berhasil memancing minat Presiden Barça Núñez yang mendambakan timnya bergelimang gelar seperti era Cruyff. Di Ajax, Van Gaal punya rapor manis: tiga gelar Eredivisie, satu KNVB Cup, dan satu trofi Liga Champions, gelar raja Eropa yang tak bisa dicapai Robson. “Tapi harga yang harus dibayar adalah, dia harus bergelut untuk membuat para pemainnya memahami visi sepakbolanya yang unik. Keyakinannya atas taktik yang kaku membuatnya berkonflik dengan banyak pemain dan keti d akmampuannya menyampaikan ide-idenya ke media-media lokal dan fans membuatnya berada di ujung tanduk,” tulis Maarten Meijer dalam Louis van Gaal: The Biography . Hingga masa kepelatihannya berakhir, Van Gaal tergolong sukses di dua musim pertama dengan dua gelar La Liga, serta masing-masing satu Copa del Rey dan UEFA Super Cup. “Terlebih Van Gaal memberikan rakyat Katalan hasil yang paling diinginkan, kemenangan di El Clásico atas Real Madrid di ibukota. Taktik hit-and-run yang diterapkan menghancurkan start tak terkalahkan Madrid lewat kemenangan 3-2,” sambungnya. Di musim ketiganya, Van Gaal justru tambah musuh. Media dan fans Barça sendiri memusuhinya. “Berikutnya saat presiden klub melihat saputangan putih pertanda dari fans serta teriakan ‘ entrenador fuerra ’ (pecat pelatih, red .), jelas presiden akan memecatnya sebelum fans memaksa sang presiden turun jabatan,” kata Maarten. Ketegangan Van Gaal dengan media dan fans dipicu oleh hubungan tak harmonisnya dengan sang bintang, Rivaldo Ferreira. Ketidakharmonisan itu dimulai ketika Rivaldo ngambek karena sering dipaksa Van Gaal bermain di sayap kiri, bukan di posisi aslinya gelandang tengah. Klimaksnya, Rivaldo angkat kaki. Hal itu membuat media dan fans menekan Van Gaal sehingga dia juga angkat koper pada 20 Mei 2000. Mereka tak peduli Van Gaal berperan mengorbitkan banyak jebolan La Masia yang kelak jadi pilar penting kejayaan Barça dan timnas Spanyol: Carles Puyol, Xavi Hernández, Víctor Valdés, dan Andrés Iniesta. Van Gaal sempat comeback pada musim 2002-2003. Tapi performa inkonsisten Barça kembali membuat kursinya panas. Di jeda musim dingin, 28 Januari 2003, manajemen klub melepasnya setelah Barça terperosok ke urutan ke-12 di klasemen La Liga. Frank Rijkaard Franklin Edmundo 'Frank' Rijkaard: 2003-2008 (Foto: Twitter @ChampionsLeague) Kendati hanya lima musim melatih Barça (2003-2008), capaian Rijkaard masih berkesan bagi presiden klub, Josep Bartomeu. Kepada La Repubblica , 11 Januari 2016, Bartomeu menyatakan, “Kami tak ingin menang menghalalkan segala cara. Ini (Barça) adalah sekolah Belanda dari Michels, Cruyff, Van Gaal, dan Rijkaard. Bola menjadi inti setiap keputusan; jika Anda memperlakukannya dengan baik, Anda akan mendapat hasilnya. Kami klub global yang dihormati dan dikagumi dengan misi untuk menghibur.” Yang dimaksud Bartomeu adalah sepakbola tiki-taka yang fondasinya dibangun Rijkaard dan diteruskan Guardiola (2008-2012) dan berhasil jadi masa kejayaan Barca. Di masa Rijkaardlah tulang punggung Barça-nya Guardiola hadir: Xavi, Iniesta, Lionel Messi, dan Ronaldinho. Padahal, penunjukan Rijkaard untuk menggantikan Radomir Antić pada 2003 sendiri terbilang gambling . “Pemilihan Rijkaard atas saran Cruyff ini mendapat tentangan dari fans. Selain karena membenamkan Sparta Rotterdam ke jurang degradasi, Rijkaard dinilai minim pengalaman,” tulis Astri Novia dan Rockin Marvin dalam El Llibre del Barça: Meretas Jejak Klub Terbaik dari Tanah Katalan. Tekanan berat sempat membuat Rijkaard goyah di paruh pertama musim 2003-2004. Suatu waktu, posisi Barça pernah terjun ke posisi 13 di klasemen. Tapi seiring taktiknya mulai klop dengan masing-masing karakter pemain jebolan La Masia serta para bintang baru (Samuel Eto’o, Deco de Souza, Ronaldinho, dan Ludovic Giuly), perlahan tekanan fans berbalik jadi dukungan positif. “Publik Camp Nou mulai jatuh cinta dengan pola Rijkaard, 4-3-3, pressing dan permainan passing cepat ala Cruyff,” ungkap Graham Hunter dalam Barça: The Making of the Greatest Team in the World. Gelar La Liga dan Supercopa de Espana pun diraih Barca sebagai hasilnya. Klimaksnya, juara Liga Champions 2005-2006. Yang lebih spesial, Rijkaard mampu membawa Barça mempecundangi Real Madrid dua kali berturut-turut di kandang musuh, Stadion Santiago Bernabéu. Saat itu belum ada satupun entrenador dengan capaian serupa Rijkaard. Namun sayangnya di musim 2007-2008 Barça puasa gelar sama sekali. Meski Rijkaard bersikeras ingin bertahan, pada 8 Mei dewan direksi klub satu suara untuk memutus kerjasama dengan Rijkaard.
- Aceh Dibantu Turki Menaklukkan Aru dan Johor
KESULTANAN Aceh dibantu pasukan Turki berhasil mengalahkan Kerajaan Batak pada 1539 dan Kerajaan Aru pada 1540. Pasukan Turki itu diduga tentara bayaran karena diberi imbalan empat kapal lada dan didatangkan oleh para pedagang Turki di Aceh.
- Nasib Mahasiswa Indonesia di Jepang Pasca Perang
Pada 19 Agustus 1945, kabar kemerdekaan Indonesia sampai juga di Jepang. Perasaan senang, sedih, bingung, bercampur di benak semua warga Indonesia di sana. Mereka cukup sulit merespon kabar tersebut. Salah-salah mereka akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Jepang. Sebagian kecil orang memilih diam. Seolah tidak pernah mendengar kabar tersebut. Kelompok itu umumnya hidup nyaman, dan telah membangun keluarga di Jepang. Seoarang alumni sekolah di Jepang, Sudibjo Tjokronolo, dimuat Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang , menyebut banyak mahasiswa yang terlanjur senang hidup di negeri para Samurai tersebut. Jepang yang berhasil memukul mundur Rusia dianggap sejajar dengan bangsa Eropa. Semangat nasionalisme mereka disebut menjadi contoh yang baik. Sementara bagi kelompok lain, Jepang tidak bisa begitu saja menggantikan Indonesia. Mereka tetap berhasrat untuk kembali ke keluarga di tanah air. Kelompok ini bersedia memakai segala cara untuk pulang. Meski harus dengan cara tercepat nan berbahaya: meminta bantuan pihak Sekutu. Sejarawan Aiko Kurasawa mencatat keberadaan mereka lebih besar dibanding kelompok yang ingin menetap. Dalam bukunya Sisi Gelap Perang Asia, Aiko menyebut repatriasi orang-orang Indonesia itu melalui proses yang tidak mudah. Mereka harus bisa meyakinkan pemerintah Belanda kalau Jepang tidak memengaruhi mereka untuk melawan pihak Sekutu.Pada 22 September 1945, Letjen Oyen dari KNIL mengirim sepucuk surat dari Manila, Filipina kepada General Head Quarter (Markas Besar) tentara Sekutu di Tokyo. “Banyak orang Indonesia pergi ke Jepang untuk belajar secara sukarela. Diharapkan bahwa pemerintah Hindia Belanda jangan memulangkan mereka bersama dengan tawanan perang dan orang sipil yang diinternir, tetapi menahan di Jepang sampai diadakan screening terhadap masing-masing orang,” demikian bunyi surat itu. Proses screening pada dasarnya dilakukan untuk melihat sejauh mana keterlibatan orang-orang Indonesia dengan pihak Jepang. Sekutu mencoba menjauhkan para mahasiswa itu dari propaganda Jepang. Di lain pihak, proses itu juga dilakukan untuk membatasi orang-orang yang pro-Indonesia, terutama bagi mereka yang sebelum ke Jepang telah terlibat di dalam gerakan politik tertentu. Berdasar hasil survei badan intelijen Sekutu di Jepang, diketahui ada dua orang Indonesia yang berbahaya karena anti-Belanda, yakni Majid Usman dan Mahjuddin Gaus. Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia , keduanya berasal dari Sumatera Barat. Usman belajar ilmu hukum di Universitas Meiji, sedangkan Gaus belajar kedokteran di Universitas Jikei. Mereka sangat vokal menyuarakan pandangan tentang orang-orang Belanda. Aktivitasnya membuat golongan anti-Belanda semakin besar di Jepang. “Mereka pasti dipengaruhi oleh fasisme anti-Belanda selama tinggal di Jepang. Mungkin tidak masalah kalau memulangkan kaum intelektual ini ke Jawa dan Sumatera. Lagi pula, kalau kaum yang dimobilisasi oleh musuh bisa pulang tanpa kesulitan, hal ini akan menimbulkan kejutan bagi pihak yang ditindas oleh penjajah dan menderita,” tulis Menteri Dalam Negeri Hindia Belanda seperti dikutip Aiko. Menjadi Warga Jajahan Satu syarat penting yang harus dipenuhi para mahasiswa Indonesia jika ingin keluar dari Jepang adalah memiliki paspor untuk urusan imigrasi. Sayangnya mereka yang datang ke Jepang selama perang tidak mempunyai paspor atau surat semacam itu. Kebanyakan dari mereka datang bersamaan dengan urusan pemerintah Jepang, sehingga di masa lalu syarat itu tidak wajib dipenuhi. Pemerintah Indonesia juga tidak bisa berbuat banyak. Tidak adanya kantor perwakilan di Jepang membuat pemerintah tidak bisa turun tangan mengatasi persoalan tersebut. Sadar akan kekurangan negara barunya, kata Aiko, warga Indonesia di Jepang telah lama mencari informasi melalui Kedutaan Besar Swedia yang mewakili kepentingan Belanda sebelum adanya Kantor Misi Militer Belanda di Jepang. “Mereka hanya bisa mohon untuk memperoleh paspor Belanda. Untuk itulah, mereka harus datang ke Kantor Misi Militer Belanda dan mengakukan diri sendiri sebagai onderdaan (baca: warga di bawah kuasa Belanda). Namun, ada kelompok yang menganggap hal itu tidak pantas. Keraguan pun menyebar di antara mahasiswa Indonesia,” kata Aiko. Tentang menjadi onderdaan Belanda, perwakilan Serikat Indonesia di Jepang pernah mengirimi Perdana Menteri Sutan Sjahrir surat pada September 1946. Dia menanyakan apakah jika status onderdaan diterima mereka dianggap melawan kesetiaan negara dan dicap sebagai pengkhianat negara atau tidak. Mengingat tidak ada lagi cara untuk mereka pulang ke Indonesia. Ironisnya, surat itu tidak pernah berbalas. Aiko menduga surat dari Serikat Indonesia itu sampai terlebih dahulu di tangan perwakilan Belanda, sehingga tidak pernah tersampaikan ke pemerintah Indonesia. Menumpang Kapal Belanda Pada November 1946, melalui Perjanjian Linggarjati, Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia di Jawa dan Sumatera. Di sinilah kesempatan mahasiswa Indonesia untuk pulang. Belanda secara remsi memperbolehkan para mahasiswa di Jepang ke Tanah Airnya. Kesempatan ini menjadi yang terakhir dan satu-satunya. Jika terlewat, mereka harus tinggal di Jepang tanpa bantuan biaya apapun. Pemerintah Belanda menyiapkan kapal dari Java China Paketvaart Lijen, bernama Cibadak . Kapal itu direncanakan berangkat sebanyak empat kali dari wilayah Kobe sepanjang 1947 (Februari, Maret, Mei, dan Agustus). Kepulangan terbesar mahasiswa Indonesia, hampir 100 orang, terjadi di bulan Februari. Sementara sisanya tersebar di tiga kloter selanjutnya. “Di antara mahasiswa Indonesia, masih ada rasa keberatan untuk pulang dengan kapal Belanda, tetapi di lain pihak, juga ada yang berpendapat bahwa mereka wajib pulang secepat mungkin dengan paspor Belanda agar bisa menyumbang perjuangan kemerdekaan,” tulis Aiko. Berdasar hasil wawancara dengan mahasiswa yang menumpang kapal Cibadak, Aiko Kurasawa memperoleh informasi bahwa selama di kapal mahasiswa Indonesia ditempatkan di dek kapal. Nahkoda kapal mengira mereka adalah romusha . Setelah melakukan protes keras, akhirnya mereka dipindahkan ke kabin. Kapal Cibadak tiba di Tanjung Priok sekitar akhir 1947. Para penumpang asal Indonesia langsung diserahkan kepada Palang Merang Indonesia. Mereka dikembalikan ke daerahnya masing-masing. Ken’ichi Goto mencatat sejumlah mahasiswa segera menyumbangkan diri ke pemerintah RI. Diketahui empat orang di antaranya menjadi anggota TNI. Menurutnya, hal itu membuktikan semangat patriotisme mahasiswa Indonesia dari Jepang. Lantas bagaimana nasib mahasiswa yang tidak ikut pulang pada 1947? Menurut Aiko Kurasawa kebanyakan dari mereka berhasil menamatkan pendidikan di Jepang sambil bekerja di kantor-kantor Sekutu. Sewaktu pulang ke Indonesia tahun 1950-an, setelah penyerahan kedaulatan, mereka mendapat sambutan baik dari pemerintah Indonesia. Juga memperoleh posisi baik di pemerintahan, karena pemilik gelar sarjana masih cukup langka. “Mereka mengambil peranan penting dalam hubungan dengan Jepang pada tahun 1950-an,” kata Aiko.
- Ketika Tas Sukarno Digondol Maling
Selepas dari pengasingan di Bengkulu pada awal Maret 1942, Belanda mencoba untuk membawa Sukarno dan Inggit Garnasih ke Australia. Hal itu terpaksa dilakukan karena pihak Belanda khawatir jika pemimpin rakyat Indonesia tersebut akan digunakan sebagai propagandis oleh bala tentara Dai Nippon. Namun dalam kenyataannya kekuatan militer KNIL di Sumatra tak berdaya saat harus berhadapan dengan Tentara Ke-25 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Alih-alih menyelamatkan Sukarno dan membawanya ke Australia, mereka justru sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. “Mereka seperti pengecut: lari terpontang-panting…Dan membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan besar dari mereka,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia. Sukarno dan seluruh keluarganya lantas terdampar di Padang. Untuk sementara mereka tinggal di rumah salah seorang kenalan baik Sukarno bernama Woworuntu. Dan seperti yang ditakutkan oleh pihak Belanda, militer Jepang ternyata benar-benar mendatangi Sukarno dan mengundangnya untuk datang ke markas besar mereka di Bukittinggi. Pimpinan tentara Jepang Kolonel Fujiyama mengajak Sukarno untuk membantu mereka selama bercokol di Hindia Belanda. Sebaliknya, Sukarno sendiri memiliki pemikiran jika dia pun harus memanfaatkan Jepang demi kemerdekaan bangsanya. Maka terbentuklah kesepakatan antara Kolonel Fujiyama dengan Sukarno. Suatu hari Sukarno mendengar berita bahwa seorang kawan baiknya bernama Anwar Sutan Saidi telah ditangkap Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) di Bukittinggi. Anwar dituduh telah bersekongkol akan melawan kekuasaan bala tentara Jepang. Demi menolong Anwar, Sukarno memutuskan untuk menghadap Kolonel Fujiyama. Begitu sampai di Bukittinggi, Sukarno lantas menuju rumah Munadji di Jalan Syekh Bantam. Di rumah salah seorang kawan Minang-nya itu, dia lantas menitipkan tas yang berisi kalung emas dan liontin berlian kepunyaan Inggit Garnasih. Sukarno sendiri lalu bergegas menemui para pembesar militer Jepang di markasnya dan berhasil membebaskan Anwar hari itu juga. Tetapi alangkah kagetnya Sukarno. Usai mengurus pembebasan Anwar, dia menemukan kenyataan tas miliknya raib digondol maling. Munadji dan Anwar yang merasa malu atas kejadian itu lantas meminta pertolongan kepada seorang ulama bernama Inyik Djambek, panggilan hormat orang Bukittinggi kepada Syekh Mohammad Djamil Djambek. Ajaib. Berkat bantuan sang ulama yang masih kerabat dekat dari Mohammad Hatta itu, tas milik Sukarno bisa kembali. Disebutkan, sang maling seorang laki-laki Tionghoa mengembalikan sendiri tas itu lewat cara menaruhnya di sudut suatu sawah. Tas itu kemudian diambil oleh Inyik Djambek dan diserahkan secara langsung olehnya kepada Sukarno. Benarkah pencuri tas itu adalah seorang Tionghoa? Hasjim Ning, salah satu keponakan Hatta meragukan cerita itu. Dalam otobiografinya yang disusun olehA.A. Navis , Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Hasjim pernah mengonfirmasi cerita tersebut kepada orang-orang Bukittinggi yang tahu akan kejadian itu. Jawaban mereka sangat mengejutkan. “Ah yang mencurinya memang orang awak . Karena malu pada Bung Karno, dikatakanlah yang mencurinya orang Cina. Padahal mana berani Cina di sana menjadi pencuri. Apalagi mencuri milik Bung Karno, seorang pemimpin yang sangat dihormati rakyat…” ungkap salah seorang dari mereka. Menurut Hasjim, kejadian sebenarnya adalah begitu mendapat laporan tas milik Bung Karno digondol maling, Inyik Djambek berinsiatif memanggil pimpinan penjahat paling ditakuti di Bukittinggi. Dengan marah, Inyik Djambek menyuruh sang pemimpin dunia hitam itu untuk ikut bertanggungjawab. “Malu awak , tolonglah carikan!” katanya. Merasa segan kepada sang ulama dan Bung Karno, "sang bos" kemudian mencari “maling kelas teri” tersebut. Tidak perlu waktu berjam-jam, orang itu berhasil ditemukan. Persoalan baru datang: seluruh isi tas tersebut sudah terlanjur berpindah tangan kepada para penadah di pasar gelap. “(Baru) dua hari kemudian, kopor itu diserahkan kepada Inyik Djambek lengkap beserta isinya,” ungkap Hasjim. Rupanya keterlambatan itu terjadi karena sang maling harus ekstra keras mengambil kembali barang-barang hasil curiannya itu kepada para penadah.
- Dajal dalam Proklamasi Kemerdekaan
Melalui siaran Radio Domei oleh Jusuf Ronodipuro, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 berhasil mengudara hingga ke luar negeri. Namun, sebelum proklamasi dibacakan jam 10.00 hari itu, usaha-usaha menyiarkannya telah dilakukan pemuda-pemuda di Jakarta. Salah satunya oleh regu Dajal dari kelompok Prapatan 10. Kala itu, pemuda-pemuda di Jakarta tergabung dalam beberapa kelompok, seperti Menteng 31, Cikini 71, hingga Prapatan 10. Nama-nama kelompok ini diambil dari lokasi markas mereka. Prapatan 10 menjadi julukan untuk kelompok mahasiswa yang tinggal di Asrama Prapatan no. 10, dekat Stasiun Senen. Pentolannya antara lain Eri Sudewo, Sudarpo Sastrosatomo, dan Sudjatmoko. Menurut Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku dan Saksi, Asrama Prapatan 10 telah dibuka sejak Oktober 1943 untuk mahasiswa kedokteran Ika Daigaku, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba. Asrama ini dihuni oleh mayoritas mahasiswa asal luar Jakarta. Pada 17 Agustus pagi, di Prapatan 10 telah dibentuk regu-regu dengan pekerjaan masing-masing. Ada regu penggempur untuk mengamankan proklamasi, ada pula regu palang merah yang bersiap jika terjadi pertumpahan darah. “Tidaklah sukar mengatur mahasiswa-mahasiswa yang baru keluar dari latihan ketentaraan Peta. Tugas telah diberikan dan diterima. Sebagian yang masuk barisan penggempur sudah berangkat ke Pegangsaan Timur 56, tempat dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Selain regu penggempur dan palang merah, ada regu dengan nama yang menarik: Regu Dajal. Tak diketahui mengapa dinamai Regu Dajal, yang jelas tugasnya adalah melakukan propaganda dan menjaga asrama sebagai markas komando. Selain itu, ada tugas khusus untuk Regu Dajal, yakni merebut gedung radio Hosokyuku agar proklamasi dapat disiarkan secara langsung. Empat orang dari Regu Dajal yang diutus yakni Radja Tjut Rachman, Rahadi, Usman, dan Ridwan. Masing-masing dibekali sebuah pistol. “Kedatangan regu mahasiswa itu memang sudah diatur sebelumnya oleh buruh dan pegawai yang bekerja di tempat itu. Mereka masuk melalui jalan belakang dan seperempat jalan menjelang jam 10.00 sudah berada di gang depan kamar siaran,” tulis Sidik. Sayangnya, rencana penyerobotan radio ternyata telah bocor. Mereka diketahui petugas kemananan Jepang sehingga kemudian terjadi keributan. Mobil lapis baja dan sepasukan kempeitai datang tak lama kemudian. Usaha menyiarkan proklamasi secara langsung pun gagal. Menurut Soejono Martosewojo dalam Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdian 1, kegagalan misi itu juga disebabkan oleh jatuhnya pistol Ridwan. Karena menimbulkan bunyi keras, mereka pun panik dan akhirnya mundur. “Kelompok mahasiswa ini lari meninggalkan studi radio, akhirnya pulang ke asrama dengan penuh rasa kecewa. Sesampainya di asrama para mahasiswa ini segera melaporkan kegagalan tugas yang dibebankan kepada mereka sehingga perlu diusahakan penyiarannya melalui cara lain,” tulis Soejono. Karena kegagalan itu, regu Dajal juga kehilangan satu mobil yang diparkirkan di dekat kantor radio. Beruntung mobil pengganti berhasil didapatkan dan kemudian dipakai untuk membawa Sukarno ke rapat besar di Lapangan Ikada. Tugas Regu Dajal selanjutnya adalah menyebarkan pamflet-pamflet propaganda kemerdekaan. Pamflet distensil di kantor Domei lalu disebarkan ke khalayak sambil berteriak, “Indonesia telah Medeka!” Malamnya, mereka juga mencorat-coret tembok dengan tulisan berbahasa Indonesia dan Inggris serta karikatur. Selain tembok, mereka menyasar trem kota, gerbong kereta api. “Merdeka atau mati!” Sekali merdeka tetap merdeka!”, “Indonesia never again the lifeblood of any nation,” begitu bunyi tulisan para pemuda itu.
- Kisah Pengungsian Sukarno ke Sukanagara
Sepakterjang Sukarno di era pemerintah militer Jepang di Indonesia (1942-1945) ternyata sempat direkam oleh pihak Sekutu. Sejarah mencatat, bersama Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh nasional lainnya, Sukarno pernah memilih jalur kooperatif kala bala tentara Dai Nippon menguasai Indonesia. “Pada waktu itu tidak ada yang mengetahui, apakah pengadilan penjahat perang mungkin melibatkan pemimpin utama Indonesia. Dalam hal ini, Sukarno dan Hatta jelas dalam bahaya…” ungkap sejarawan Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia.























