Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ronald Koeman Pahlawan Katalan dari Zaandam
HATI Ronald Koeman berbunga-bunga. Pada Rabu, 19-8-2020, ia “pulang” ke Camp Nou, markas FC Barcelona. Matanya berbinar-binar kala menengok dua foto yang terpajang di sebuah lorong. Foto pertama foto skuad Barça 1991-1992 dengan trofi Liga Champions dan foto kedua, foto tim Barça 1992-1993 dengan trofi La Liga yang di dalamnya terdapat sosok Koeman. Koeman resmi kembali ke Barça sebagai pelatih dengan kontrak dua tahun. Koeman yang punya catatan historis di klub raksasa asal Katalan itu diharapkan bisa membawa perubahan dan membangkitkan Barça pasca-dipermak Bayern Munich, 2-8, di perempatfinal Liga Champions yang berbuntut pemecatan pelatih sebelumnya, Quique Setién. Menurut Irfan Sudrajat, pemimpin redaksi harian olahraga TopSkor , Koeman sudah semestinya berbenah di sektor pertahanan dengan menemukan bek-bek yang secara kualitas di atas rata-rata, macam Sergio Ramos (Real Madrid) atau Virgil van Dijk (Liverpool). Nama terakhir ini pada 2010 diorbitkan Martin Koeman, ayah Ronald, eks pemain dan kemudian jadi pemandu bakat FC Groningen. “Pertahanan salah satu persoalan dari kompleksitas masalah yang ada di Barça. Nah , sebagai pelatih yang latar belakangnya pemain bertahan, saya yakin Koeman sudah bisa melihat persoalan ini. Koeman juga punya kemampuan teknis sebagai pelatih karena begitu banyak pengalaman sebagai pemain, tidak seperti Setién,” kata Irfan kepada Historia. “Bayern contoh lain. Mereka butuhkan waktu yang tidak instan menjadikan duet Jérôme Boateng dan David Alaba. Tapi, untuk situasi Barça saat ini, mereka butuh perubahan cepat karena di atas kertas tak mungkin bintang seperti Lionel Messi terus-terusan melalui musim tanpa gelar,” sambungnya . Gila Bola Koeman yang lahir di Zaandam, 21 Maret 1963, tak asing dengan si kulit bundar sejak kecil. Ayahnya, Martinus Cornelis Koeman, merupakan pesepakbola profesional yang berposisi bek. Sang kakak, Erwin Koeman, yang penggila bola, juga mengikuti jejak ayahnya. Meski begitu, ungkap Jonathan Wilson dalam The Barcelona Inheritance: The Evolution of Winning Soccer Tactics from Cruyff to Guardiola , pengaruh sang ayah terbilang minim dalam mengasah skill Ronald maupun Erwin yang dua tahun lebih tua. Keduanya lebih sering mempertajam kemampuan di jalanan. “Dia (Roland) belajar sepakbola dengan bermain di jalanan dengan kakaknya, Erwin. Keduanya sangat menggilai sepakbola, sampai-sampai sering melewatkan waktu makan siang. Sang ibu, Marijke, kerap harus mengantarkan roti lapis selai kacang ke jalanan untuk mereka. ‘Anak-anak tak ingin melewatkan waktu bermain bola’,” tutur Marijke dikutip Wilson. Keluarga sepakbola Koeman, dari kiri ke kanan: Martinus Cornelis Koeman, Erwin Koeman & Ronald Koeman (Foto: nationaalarchief.nl ) Di usia lima tahun, Ronald bergabung dengan klub VV Helpman sebagai bek, sebagaimana sang kakak, dalam sepakbola amatir. “Ada banyak bocah dan teman-teman kami bermain untuk VV Helpman, makanya kami pun bermain di sana. Ibu yang pertamakali membelikan kostum VV Helpman. Saya masih ingat seperti apa kostumnya saat itu. Setengah biru, setengah lagi putih,” ujar Koeman. Dalam wawancaranya dengan KNVB , induk sepakbola Belanda, 23 Desember 2019 dalam rangka 50 tahun debutnya, Koeman mengenang ia jadi sosok paling reaktif jika kalah dari tim GRC Groningen. “Saya lebih fanatik ketimbang Erwin. Jika kami kalah, Erwin hanya angkat bahu dan mengatakan: ‘Lain waktu, kita akan tampil lebih baik.’ Tetapi saya selalu emosi setelah kalah. Saya akan merajuk dan menjadi sangat merah,” tuturnya. Tapi kemudian Ronald justru membelot dengan bergabung ke GRC Groningen. Pembelotan terjadi setelah dia “disogok” perlengkapan sepakbola baru, mulai dari sepatu sampai kostum. Menginjak usia 17 tahun, Ronald beralih ke level profesional bersama FC Groningen. “Theo Verlangen yang membawanya ke sepakbola profesional. Namun meski awalnya terkesan, Verlangen kemudian sering mencadangkannya karena menganggap Koeman terlalu banyak memegang bola. Koeman muda juga mulai dikenal sebagai sosok pemberontak, tak sabaran, keras kepala, dan percaya diri berlebihan,” sambung Wilson. Ronald Koeman saat berkostum Ajax, PSV, dan Timnas Belanda yang meraih trofi Euro 1988 (Foto: southamptonfc.com ) Koeman membela diri terhadap penilaian itu. Menurutnya, dia merasa bisa bermain dengan baik jika banyak memegang bola. “Rekan-rekan setim Anda juga akan segera maklum. Jika Anda selalu melakukan hal bagus dengan bola, maka bola akan datang kepada Anda secara alamiah,” cetus Koeman dikutip Wilson. Dari posisi awal sebagai gelandang di Groningen, lama-kelamaan posisinya mundur sebagai bek. Namun Koeman tergolong bek yang subur. Hingga tahun terakhirnya di Groningen pada 1983 sebelum pindah ke Ajax Amsterdam, Koeman menyumbang 34 gol dari total 90 laga. Kebanyakan dari bola mati. Skill itu yang membuatnya di kemudian hari dijuluki “Raja Tendangan Bebas” dan dipanggil masuk timnas Belanda pada 1983. Di level internasional, Koeman ikut mengantarkan tim “Oranye” yang merengkuh Euro 1988. Gelar pertama Koeman di profesional dicicipinya di Eredivisie bersama Ajax pada musim 1984/1985. Koeman menjalani musim itu dengan ekstra keras bersama pelatih Johan Cruyff. “Di sesi latihan maupun pertandingan, Anda merasa melihat matanya membara. Saya juga tak terbiasa diteriaki tiada henti. Dalam hati terkadang saya berkata: ‘Tutuplah mulutmu untuk sekali-sekali!’ Namun setelah Anda pulang dan merenunginya, Anda akan berlatih lebih keras lagi di hari berikutnya. Saya rasa setiap pesepakbola mesti menjalani hal itu agar bisa lebih kuat dan tak mudah jatuh mental,” sambung Koeman. Karier Koeman berlanjut bersama PSV Eindhoven pada 1986. Di bawah bimbingan Guus Hiddink, Koeman bersama PSV sukses berat. Dia berandil besar dalam tiga gelar Eredivisie, dua KNVB Cup, dan sekali juara European Cup (kini Liga Champions) pada 1987-1988, sebelum akhirnya reuni dengan Cruyff di FC Barcelona pada 1989. Ronald Koeman (no. punggung 4) cetak gol semata wayang di final Liga Champions 1991/1992 (Foto: fcbarcelona.com ) Jika di Ajax Koeman dijuluki “Tintin” lantaran penampakannya mirip dengan kartun populer ciptaan Georges Prosper Remi itu, di Barcelona Koeman mendapat julukan “Floquet de Neu” alias Gorilla Albino. Julukan itu berangkat dari tak kalah sangarnya Koeman dari barisan depan “Dream Team” Barcelona di gawang lawan. Hingga musim terakhirnya pada 1995, Koeman mencetak 67 gol dalam 192 kali penampilan. Ia dipuja para Culers (fans Barça) sebagai pahlawan lantaran gol tunggalnya ke gawang Sampdoria di final Champions di Stadion Wembley, 20 Mei 1992, mengantarkan Barça meraih piala Champions pertamanya. Sebelum pindah ke Feyenoord Rooterdam pada 1995, Koeman juga meninggalkan warisan empat gelar La Liga, satu Copa del Rey, tiga Supercopa de España , dan satu Piala Super Eropa. Walau tak mencicipi satupun titel bersama Feyenoord, Koeman tetap bek subur. Hingga gantung sepatu pada 1997, ia berhasil menorehkan 19 gol dari 61 pertandingan. Sepanjang kariernya, Koeman mencetak 193 gol dari 533 laga sehingga jadi bek tersubur di dunia setelah melewati rekor Daniel Passarella (182 gol, 556 laga). Ke Tepi Lapangan Tak bisa jauh dari sepakbola, Koeman memilih berkarier menjadi pelatih selepas pensiun. Ia memulainya dengan menjadi salah satu asisten Guus Hiddink di timnas Belanda pada Piala Dunia 1998 dan menjadi asisten pelatih Barça hingga tahun 2000 di bawah bimbingan Bobby Robson dan Louis van Gaal. Vitesse Arnhem pada 2000 menjadi klub pertama yang ditukangi Koeman sebagai pelatih kepala. Setahun kemudian, Koeman melatih Ajax Amsterdam. Di tangan Koeman, Ajax yang melempem “dilahirkan” kembali. Gelar Eredivisie 2001/2002 dan 2003/2004 jadi bukti tangan dingin Koeman mengomando Zlatan Ibrahimović cs. Ronald Koeman (kanan) saat menjadi asisten Louis van Gaal di Barcelona (Foto: fcbarcelona.com ) Namun Koeman mengarsiteki Ajax hanya sampai 2005. Dimasukkannya Van Gaal, eks mentor Koeman, sebagai direktur teknik per Januari 2004 menjadi penyebabnya. Meski awalnya akur, Van Gaal lantas sering campur tangan urusan Koeman sebagai pelatih kepala. Perkara bermula saat Ajax menjalani trainingcamp di Portugal pada jeda musim dingin musim kompetisi 2003/2004. “Saat latih tanding, Van Gaal mengambil kursi plastik dan menempatkannya di garis lapangan. Ia melihat sesi itu dengan sungguh-sungguh seperti pelatih kepala dan menilai setiap pergerakan. Van Gaal lalu bertanya apakah ia bisa ikut diskusi untuk meninjau performa pemain. Koeman mengizinkan asal ia tak ikut bicara,” sambung Wilson. Meski awalnya bisa mengunci mulutnya, Van Gaal gatal untuk membahas performa Zlatan. Koeman yang mencoba menahan diri hanya bisa menundukkan kepala. Di sesi latihan keesokannya, Van Gaal kembali datang dengan kursi plastiknya di pinggir lapangan. Saat Zlatan sedang berpenetrasi mendekati gawang, Van Gaal bertepuk tangan dan meneriakinya. “Sangat memalukan. Para pemain juga perlahan menjadi terganggu dengan kelakuannya,” kata Koeman. Ketegangan Koeman-Van Gaal kian menjadi seiring berlanjutnya musim sampai Van Gaal mengundurkan diri Oktober 2004. Koeman angkat koper dari Amsterdam Arena (kini Johan Cruyff Arena) empat bulan berselang. Koeman lantas menyambung kariernya berturut-turut di SL Benfica (2005), PSV Eindhoven (2006), Valencia (2007), AZ Alkmaar (2009), Feyenoord (2011), Southampton (2011), Everton (2016), dan timnas Belanda (2018 sampai undur diri untuk menerima pinangan Barcelona bulan ini). Ronald Koeman semasa melatih di Ajax periode 2001-2005 (Foto: ajax.nl ) Jalan Koeman di Barça pasti tak mudah. Dia harus lebih dulu membenahi sektor belakang Barça selain mesti meladeni Messi yang diisukan sudah tak betah di Camp Nou. Untuk yang terakhir, Koeman punya pengalaman dengan Zlatan saat di Ajax. “Untuk Messi, hanya sedikit yang bisa dilakukannya, tapi ini sangat penting dan juga tidak mudah. Yaitu mengembalikan kembali sikap Messi untuk menghormati pelatih. Ini yang menjadi sangat sulit. Messi dan pemain lain hanya harus mengikutinya. Selebihnya, dari segi teknis (jika Messi bertahan), Koeman akan memberikan kebebasan kepada Messi di lini depan,” ujar Irfan. Akankah kariernya sebagai pelatih di Barça akan sesukses sebagai pemain? Terlalu dini untuk menjawabnya. “Jika kita membayangkan perubahan itu adalah Barcelona seperti era Josep Guardiola, harapan itu akan sangat sulit. Tapi, Koeman hanya perlu meyakinkan para bintang dunianya seperti Messi bahwa musim ini mereka bisa bersaing meraih gelar dan salah satunya dengan membangun kembali pertahanan mereka,” sambungnya.
- Dilema Suku Tidung dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Suatu sore di pesisir Tawau, Malaysia, pada 1961. Rasid, pemuda dari Suku Tidung yang mendiami Pulau Sebatik, sedang menjual panennya. Dia sudah biasa ke Tawau dan hafal keadaan sekitarnya. Tapi sore itu berbeda. Banyak tentara Malaysia berjaga di beberapa sudut. Setahun berikutnya, Rasid menjual panen di Pulau Nunukan, Indonesia. Kali ini dia melihat banyak tentara Indonesia. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Tentara di mana-mana. Setahun berselang, Rasid baru tahu mengapa tentara muncul di dua pulau itu. Dia mendengar Indonesia mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia setelah Inggris berencana membentuk Federasi Malaysia pada 20 Januari 1963. Rasid tinggal di Pulau Sebatik, gugus pulau terdepan di Kalimantan Utara. Pulau kecil ini terbagi dua. Satu masuk wilayah Indonesia, satu lagi bagian Malaysia. Dia tinggal di Pulau Sebatik wilayah Indonesia. Tempat tinggalnya diapit dua wilayah: Nunukan di barat dan Tawau di timur. Itu dua tempat di mana Rasid menjual panen. Sebab di dua tempat itu penduduknya lebih banyak dan pembangunannya lebih maju ketimbang di Sebatik. Rasid, sebagaimana orang-orang Tidung di Pulau Sebatik, menjalin hubungan erat dengan orang-orang di Nunukan dan Tawau. Sebagian kerabat dan rekan dagang mereka ada di Nunukan, Tawau, dan wilayah Sebatik yang masuk dalam kepemilikan Malaysia. Ini membuat Rasid dan orang Tidung lainnya berada dalam dilema. “Sebagai masyarakat perbatasan, mereka tidak menginginkan adanya konfrontasi,” kata Sugih Biantoro, peneliti sejarah di Puslitbang Kebudayaan, Kemdikbud, kepada historia.id . Sugih meneliti kehidupan Suku Tidung selama masa Konfrontasi. Dia sempat menemui sejumlah penyintas Konfrontasi dari Suku Tidung, termasuk Rasid. Sugih menuturkan, orang-orang Tidung seperti Rasid harus memilih: menegaskan identitasnya sebagai warga negara Indonesia atau sebagai masyarakat perbatasan yang bersaudara. Mereka memilih yang pertama. Tapi mereka menekankan, keterlibatannya dalam berperang bukanlah melawan saudaranya sesama orang Tidung di Malaysia, melainkan terhadap Inggris. “Konfrontasi itu awalnya berkenaan dengan Inggris, orang Malaysia itu bertetangga, kita mengusir Inggris dari Malaysia, kami membantu negara, kalau perang kami siap…” kata Kahar, orang Tidung lainnya penyintas Konfrontasi kepada Sugih dalam tesisnya “ Masyarakat Perbatasan di Sebatik Masa Konfrontasi 1963–1966” di Universitas Indonesia. Sejumlah pemuda Tidung kemudian bergabung ke barisan sukarelawan dan pasukan pembantu. Keduanya sama-sama bersifat sukarela. Perbedaannya terletak pada tanggung jawab. Barisan sukarelawan bertanggung jawab ikut membantu militer Indonesia memasuki wilayah musuh, sedangkan barisan pembantu tak wajib ikut masuk. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh latihan dari pasukan KKO (kini Marinir) TNI AL selama tiga bulan di Nunukan. Materinya dari baris-berbaris, menggunakan senjata api dan granat, pengetahuan berperang, sampai cara menyerang musuh di palagan. Setelah menuntaskan latihan tiga bulan, para pemuda Tidung kembali ke Sebatik. Di sini mereka berlatih lagi. Tapi tak sesering seperti di Nunukan. Seraya kepulangan mereka ke Sebatik, ribuan pasukan KKO mendarat di pulau itu. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh tugas sebagai penunjuk jalan. Mereka menuntun militer Indonesia mempelajari kondisi lapangan dan kekuatan lawan. “Sukarelawan dianggap sebagai pasukan yang paling mengetahui lokasi di lapangan. Hal itu dikarenakan banyak sukarelawan merupakan penduduk lokal,” catat Sugih. Menurut Muhammad Yamin Sani dan Rismawati Isbon dalam “Orang Tidung di Pulau Sebatik” termuat di jurnal Al-Qalam No. 24 Tahun 2018, orang Tidung telah mendiami pulau ini sejak abad ke-17. Sebatik kala itu hampir sepenuhnya tertutup hutan lebat. Tak mudah bagi luar Sebatik masuk ke sini. Hanya orang setempat yang tahu seluk-beluk wilayah ini. Atas tugasnya itu, para sukarelawan dan pasukan pembantu mendapat upah Rp2 uang lama dan Rp25.000 uang baru. Selain itu, ada juga uang makan, beras, dan rokok untuk mereka. Sepanjang bertugas dengan militer Indonesia, Kahar mengaku dua kali berkontak senjata dengan militer Malaysia. “Kita dihantam sama Gurkha. Kita tidak punya senjata. Hanya granat saja. Kami pun lari. Ada yang kena di kaki kena darah,” kenang Kahar. Gurkha adalah kesatuan tentara yang berasal dari Nepal dan berada di bawah militer Inggris. Mereka ikut bertugas di Sebatik selama masa Konfrontasi menghadapi Indonesia. Rombongan Kahar pernah juga dihantam mortir di dalam hutan. Dia dan rombongannya langsung tiarap. Tiga kali mortir menghantam mereka. Mereka semua selamat. Tak ada korban. Tapi setelah kejadian itu, Kahar menangis sendirian di hutan. Betapa dekatnya dia dengan kematian. Dia juga mengingat orang tua dan keluarganya di rumah. Sementara itu, Ibrahim, pemuda Tidung lainnya dalam barisan sukarelawan, mengatakan pernah menyerang pos jaga Malaysia di wilayah Simpang Tiga, Malaysia, bersama 14 orang temannya. “Waktu itu kita menyerang pos Gurkha, ada teman saya sersan Trisno dari KKO tewas. Ada juga yang luka kena tembak di kakinya,” terang Ibrahim. Penduduk Tidung lainnya yang tak bergabung dalam sukarelawan dan pasukan pembantu juga ikut membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Macam-macam bentuk bantuannya. Mereka memberikan lauk pauk dari hasil bumi setempat kepada militer Indonesia untuk ditukar dengan makanan kaleng. “Sayur kangkung ditukar dengan makanan kaleng,” kata Maswari, orang Tidung yang tak ikut dalam sukarelawan dan pasukan pembantu. Hubungan antara orang Tidung dan militer Indonesia cukup baik. Beberapa anggota KKO mempelajari bahasa Tidung sehingga pergaulan lebih lancar. Pasukan KKO juga sempat mendirikan sekolah rakyat. Pengajarnya dua orang. Dua puluh anak Tidung bersekolah di tempat itu. Salah satunya Maswari. Maswari mengatakan, ada kalanya juga orang Tidung agak takut dengan militer Indonesia. Ini sebenarnya berkaitan cerita dari anggota sukarelawan dan pasukan pembantu. Seorang di antara mereka menceritakan ke orang Tidung lainnya tentang hukuman dari anggota KKO jika mereka lalai dalam tugas. Ketika Konfrontasi berakhir pada 1966, pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu kembali menjadi nelayan atau petani. KKO pun berangsur-angsur meninggalkan tanah Tidung. Kegiatan di sekolah buatan KKO tak berlanjut. “Sedih ketika KKO pulang, karena ada yang baik sudah seperti saudara… Anggota KKO masih muda-muda semua,” kenang Maswari. Para pemuda Tidung seperti Rasid, Kahar, dan Ibrahim mengatakan, mereka senang bisa bergabung dan membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Tapi setelah Konfrontasi berakhir, mereka cukup kecewa dengan sikap abai pemerintah terhadap pembangunan Pulau Sebatik. “Dirinya yang dulu ikut bersama-sama berjuang mempertahankan wilayah Indonesia dilepas begitu saja tidak diperhatikan oleh pemerintah,” kata Sugih menirukan pengakuan eks sukarelawan dan pasukan pembantu.
- Pasukan Turki dalam Serangan Aceh ke Kerajaan Batak dan Aru
SELAIN menghadapi Portugis, Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar, juga berambisi untuk menguasai Pulau Sumatra. Penentang utamanya adalah Kerajaan Batak yang luas dan memiliki jalur ke utara dan ke pantai barat Aceh, dengan pusat terletak di wilayah sungai Singkil yang masih dalam wilayah Batak, yakni Tapanuli.
- Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi
DENGAN mendekap selimut dan mantel seadanya, sejumlah tawanan perang Jerman turun dengan hati-hati dari tangga kapal. Udara di Pelabuhan Hoboken, New Jersey, Amerika Serikat di awal Januari 1945 itu dingin dan bersalju. Roman muka muram para tawanan itu seketika berubah kala salah seorang di antara mereka melihat papan iklan di pelabuhan yang sangat familiar buat mereka. Dari kasak-kusuk satu tawanan yang kemudian menyebar, hampir semua takjub dan saling menunjuk ke reklame itu hingga membuat para penjaga keheranan. “Seorang penjaga berteriak memerintahkan para tawanan untuk tenang dan menuntut penjelasan. Seorang tawanan yang bisa berbahasa Inggris menguraikan, ‘kami terkejut. Bahwa kalian juga punya Coca-Cola di sini’,” tulis Mark Pendergrast dalam For God, Country and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink and the Company That Makes It. Anekdot itu, lanjut Pendergrast, populer di antara para bos minuman soda termashyur itu pasca-Perang Dunia II. Para tawanan itu minim pengetahuan tentang Coca-Cola merupakan produk yang lahir di Amerika. “Tetapi cerita yang signifikan sesungguhnya hanya bisa dijelaskan melalui konteks Jermannya Hitler. Demi bisa berjaya di Jerman Nazi, waralaba-waralaba Cola mesti mendongkrak kampanye besar-besaran untuk memisahkan diri mereka dari akar yang berbau Amerika,” lanjutnya. “Sementara soft drink itu menjadi simbol kebebasan Amerika yang selalu jadi dambaan setiap serdadu Amerika yang pergi berperang, logo Coca-Cola yang sama dengan paten bertengger bersebelahan dengan swastika. Kisah Coca-Cola Jerman yang bertahan selama maupun pasca-Perang Dunia II berpusar pada satu sosok sentral –Max Keith, figur yang paling mewakili Coca-Cola sekaligus kolaborator Nazi,” tambah Pendergrast. Booming Berkat Olimpiade Siapa tak meneteskan air liur melihat botol Coca-Cola dingin dengan bulir-bulir air yang menyegarkan? Der Führer Adolf Hitler pun tak kuasa menahannya hingga acap meneguk minuman berkarbonasi itu sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya. Kisah itu takkan ada jika Coca-Cola tak survive di tengah persaingan keras di masa “gelap” itu. Lahir di Amerika pada 1886, Coca-Cola hadir di Jerman sejak 1929 atau empat tahun sebelum Hitler menjabat kanselir. Cabang Coca-Cola di Jerman, Coca-Cola GmbH, dibuka ekspatriat Amerika Ray Rivington Powers. Sepeninggal Powers yang wafat pada 1938, Keith meneruskan perjuangan Powers memimpin Coca-Cola Jerman. Coca-Cola sudah eksis di Jerman sejak 1929 dengan dibawa ekspatriat Amerika Ray Rivingston Powers. ( coca-cola-deutschland.de ). Keith dipercaya sebagai tangan kanan Powers sejak 1933. Sebagai manajer pelaksana, Keith tak menyia-nyiakan Olimpiade Berlin 1936 untuk membesarkan brand -nya. Sponsorship Coca-Cola sejak Olimpiade Amsterdam 1928 dilanjutkannya di Berlin dengan menjadi salah satu sponsor utama pesta olahraga terbesar sejagat itu. “Olahraga menyediakan sebuah kesempatan memperkenalkan Coca-Cola, sebuah cara untuk menyebarkan promosi,” ujar Walter Oppenhoff yang pernah bekerja di bagian legal Coca-Cola GmbH, dikutip Jeff Schutts dalam “Marketing Coca-Cola in Hitler’s Germany” yang dimuat di Selling Modernity: Advertising in Twentieth-Century Germany. Spanduk-spanduk dan papan reklame Coca-Cola pun bertebaran di Berlin. Topi-topi sun-visor para atlet yang dipakai jelang perlombaan pun disediakan Coca-Cola. Bahkan pita garis finis cabang atletik juga menampilkan logo Coca-Cola. Namun, komposisi kafein Coca-Cola dimanfaatkan para kompetitornya untuk menjatuhkan Coca-Cola dengan memanfaatkan aturan larangan mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan kafein berlebihan yang tengah digalakkan Jerman. Akibatnya, Oppenhoff bolak-balik bernegosiasi dengan para birokrat di Kementerian Kesehatan Jerman Nazi. Sementara, Keith meluncurkan kampanye guna menjelaskan bahwa Coca-Cola tak berbahaya untuk kesehatan. Ide kampanye Keith namun justru dianggap kurang tepat oleh Presiden Coca-Cola Robert Woodruff. “Woodruff yang datang ke Olimpiade merespon: ‘Semestinya jangan pernah melakukan kampanye defensif. Itu sama saja memberi martabat pada saingan-saingan Anda dan memperpanjang isu itu sendiri’,” tulis Schutts. Max Keith & salah satu reklame Coca-Cola sebagai sponsor Olimpiade 1936. ( adbranch.com ). Nasihat Woodruff membuat Keith mengubah haluan kampanyenya. Ia menyebarkan brosur-brosur Coca-Cola dengan gaya baru, yang menyantumkan informasi tentang fakta-fakta event dan para atlet di Olimpiade. Sebulan pasca-Olimpiade, pergulatan Coca-Cola dimulai. Hal itu dipicu oleh kebijakan “Four Year Plan” (Rencana Pembangunan Empat Tahun) yang diambil Presiden Reichstag (parlemen Jerman Nazi) Hermann Goering pada September 1936. Kebijakan itu berisi antara lain penghentian ekspor-impor dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. “Keith dan Oppenhoff dalam suratnya kepada Kantor Pendapatan Negara berusaha menjelaskan bahwa Coca-Cola GmbH adalah perusahaan bisnis Jerman, walau faktanya sebagian besar masih dimiliki The Coca-Cola Company (di Amerika) dan soal itu, Oppenhoff juga menguraikan bahwa modal dari asing itu sekadar berupa ‘pinjaman’,” sambung Pendergrast. Kebijakan Goering juga mengakibatkan sulitnya impor bahan baku konsentrat untuk Coca-Cola. Ini membuat Keith kalang kabut. Pasalnya Coca-Cola tengah booming , di mana pada permulaan 1936 mereka sudah bisa menjual satu juta peti Coca-Cola di seluruh pelosok Jerman. Kebijakan Goering membuat Coca-Cola GmbH takkan bisa menjawab permintaan pasar lagi. “Di sinilah Woodruff turun tangan. Melalui koneksi-koneksinya di perbankan New York, Woodruff bergerak di belakang layar untuk memengaruhi Goering. Ia meminta bantuan Henry Mann, perwakilan Jerman untuk sejumlah bank di Amerika, untuk meyakinkan Goering agar beredia mengizinkan impor konsentrat Coca-Cola,” lanjutnya. Walau tak sepenuhnya berhasil, Coca-Cola GmbH diizinkan mengimpor “Merchandise No. 5” dan “7X dari sekian bahan konsentrat dari Amerika. Dua bahan inilah yang lantas jadi bahan pokok untuk Keith memproduksi sendiri bahan konsentratnya. Disukai Hitler Tidak hanya soal negosiasi di bawah tangan dengan Goering yang mesti dilewati Coca-Cola Jerman. Banyak perusahaan soft drink imitasi yang mencoba menjatuhkannya. Salah satunya Afri-Cola, produk minuman serupa Coca-Cola milik Karl Flach. Flach yang juga anggota Deutsche Arbeitsfront (DAF) atau Serikat Buruh Jerman Nazi, menuduh Coca-Cola sebagai perusahaan Yahudi. Segala yang berbau Yahudi haram di Jerman selama di bawah kekuasaan Hitler. “Pada 1936 Flach bersama para perwakilan DAF bertamu ke Amerika dalam rangka tur ke sejumah perindustrian Amerika. Powers juga mengatur kunjungan mereka ke pabrik Coca-Cola di New York, di mana Flach memerhatikan tutup botolnya terdapat tulisan Ibrani mengindikasikan bahwa Coca-Cola adalah produk kosher (halal versi Yahudi, red. ),” ungkap Pendergrast. Cap kosher di tutup botol Coca-Cola itu dibutuhkan untuk memasarkan produk di antara populasi Yahudi yang besar di New York. Itu kemudian difoto oleh Flach dan digunakan untuk membuat pamflet yang kemudian disebar ke berbagai tempat di Jerman. Seiring dengannya, Flach terus mengkampanyekan Coca-Cola adalah perusahaan Yahudi yang dipimpin Yahudi asal Atlanta, Harold Hirsch. “Imbasnya grafik penjualan (Coca-Cola) menukik tajam. Markas Partai Nazi buru-buru membatalkan pesanan rutin mereka. Situasi bisnisnya mulai kacau dan Keith memohon Woodruff untuk mencopot Hirsch dari dewan direksi atau setidaknya mengklarifikasi bahwa dia (Hirsch) bukan pemilik perusahaan. Walau kemudian Woodruff mengklarifikasi fakta terakhir itu, kampanye hitam Flach tetap tak terbendung,” tambahnya. Robert Winship Woodruff, Presiden The Coca-Cola Company periode 1923-1954. ( coca-cola-deutschland.de ). Baru pada 1937 Coca-Cola bisa perlahan bangkit dari keterpurukan. Keith seperti harus memulai dari awal, merelakan sedikit kerugian untuk memproduksi sampel secara massal guna dibagikan gratis di event-event pemuda dan olahraga seperti perlombaan balap sepeda dan parade-parade Hitlerjugend (Pemuda Hitler) . Saat perlombaan sepeda hingga para pemuda (Hitler) berparade dalam formasi militer, truk-truk Coca-Cola selalu mengiringi dengan harapan bisa memancing ketertarikan generasi muda. Ketika Reich Schaffendes Volk menggelar pameran di Düsseldorf pada 1937, Keith mempromosikan berbotol-botol Coca-Cola di spot-spot sentral pamerannya. “Dalam satu waktu ketika Goering berkunjung hingga rehat sejenak dengan meneguk Coca-Cola, fotografer perusahaan (Coca-Cola) yang awas segera menjepret momen itu. Sementara itu walau tak pernah terdokumentasi, Hitler diketahui juga menyukainya dan senantiasa meminumnya sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya,” tulis Pendergrast lagi. Hermann Goering di pembukaan pameran Reich Schaffendes Volk & spot display Coca-Cola (Foto: schaffendesvolk1937.de ) Sejak saat itu grafik penjualan Coca-Cola merangkak naik. Seiring Anschluß (pencaplokan Austria, 12 Maret 1938), Keith melebarkan sayapnya dengan membuka Coca-Cola GmbH cabang Wina. Namun kekhawatiran Keith muncul lagi ketika Jerman Nazi menginvasi Polandia pada 1 September 1939, membuat Prancis dan Inggris mendeklarasikan perang sekaligus menandai dimulainya Perang Dunia II. Selain khawatir akan ditutupnya tirai impor untuk konsentrat 7X, Keith cemas akan nasionalisasi perusahaan asing secara sepihak. Hal itu menjadi latar yang mendorongnya masuk birokrasi pemerintahan Nazi dengan bantuan Oppenhoff. Ia masuk Dinas Properti Musuh untuk mensupervisi semua pabrik minuman ringan, baik di Jerman maupun wilayah-wilayah yang diduduki. Seiring peperangan, sebagaimana para pebisnis lain, Keith turut berkontribusi dengan mensuplai Coca-Cola sebagai minuman ringan para serdadu Jerman. Minuman berkarbonasi itu jadi pelipur lara para prajurit Jerman di berbagai medan perang, termasuk mereka yang akhirnya ditangkap dan jadi tawanan yang dibawa ke Hoboken.
- Saat Pesawat Mata-mata AS Ditembak Jatuh Soviet
Moscow, 19 Agustus 1960. Pengadilan Divisi Militer Mahkamah Agung Uni Soviet menjatuhkan vonis penjara 10 tahun kepada Francis Gary Powers. Pilot AU Amerika Serikat (AS) yang direkrut CIA itu dinyatakan bersalah karena melakukan spionase di wilayah udara Soviet. Penerbangan itu merupakan bagian dari upaya saling mematai antara Blok Barat dan Timur dalam Perang Dingin. AS melakukannya setelah Presiden AS Dwight Eisenhower, dengan dukungan CIA sebagai operator, menyetujui dilancarkannya misi penerbangan mata-mata ( air spionage ) ke wilayah Uni Soviet dengan tujuan memfoto situs militer dan situs-situs penting lain Soviet pada 1954. Langkah itu diambil Ike, sapaan Eisenhower, untuk mendapatkan informasi pasti kekuatan rivalnya. Ike selalu khawatir terhadap ketertinggalan AS dari Soviet dalam pengembangan nuklir dan persenjataan. Kekhawatiran itu bersumber dari ketiadaan informasi tentang Soviet selain dari ucapan-ucapan para pemimpin Soviet sendiri. Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program untuk menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65,000-70,000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Locheed senilai $ 35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson; desainder pesawat, red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Selain menyiapkan pesawatnya, dalam U-2 Program yang mulai berjalan pada 1956 itu CIA merekrut pilot-pilot AU AS (USAF) untuk dijadikan eksekutor. Mereka dikelempokkan ke dalam Detaseman 10-10 yang dikomandani Kolonel Ed Perry. Ketika semua persiapan selesai, pada 1958 Ike meminta izin pada perdana menteri Pakistan untuk mendapatkan tempat guna mendirikan fasilitas intelijen yang bakal digunakan sebagai titik berangkat pesawat-pesawat U-2 menuju sasaran, wilayah Soviet yang berada di Asia Tengah. AS akhirnya mendapatkan Badaber di pinggir Peshawar untuk menjalankan misi air spionage bersandi Operasi Overflight itu. Namun karena khawatir bila pilot AS tertangkap akan dianggap Soviet sebagai agresi, Ike memutuskan untuk menggunakan pilot-pilot AU Inggris (RAF) sebagai eksekutor itu. Dengan begitu AS bisa menyangkal keterlibatan bila pilot misi tersebut tertangkap. Misi pertama Operasi Overflight yang dijalankan dua pilot RAF menggunakan pesawat U-2 berhasil mendapatkan beberapa objek foto yang lalu menyadarkan Washington bahwa kekhawatirannya selama ini salah. Mereka terlalu percaya pada klaim Soviet. Foto-foto udara itu sebagian bahkan menunjukkan AS dalam beberapa hal masih lebih baik ketimbang Soviet. Soviet mengetahui penerbangan mata-mata itu. Namun, keterbatasan kemampuan persenjataannya membuatnya hanya bisa mendiamkan. Namun tidak demikian pada 1960, ketika misi U-2 kembali dijalankan Eisenhower setelah mandek beberapa tahun. Saat itu Soviet telah memiliki rudal permukaan ke udara ( surface to air ) S-75 Dvina yang kemampuan jelajahnya jauh lebih baik. Meski tak menembakkan rudal tersebut pada misi air spionage AS yang dipiloti Bob Ericson pada 9 April 1960, pasukan pertahanan udara Soviet melakukan intersep menggunakan pesawat Mig-19 dan Su-9. Namun upaya tersebut gagal dan Bob berhasil mendarat di Lanud Zahedan, Iran. Misi terakhir dari dua misi Operasi Overflight yang diizinkan Eisenhower sebelum KTT Big Four Power Summit di Paris, 17 Mei 1960 –tempat di mana Eisenhower akan bertemu pemimpin Soviet Nikita Khrushchev guna membahas lebih lanjut soal nuklir dalam kaitan koeksistensi damai– adalah misi yang dijalankan oleh Lettu Francis G. Powers. Dijadwalkan semula pada 28 April, misi tersebut ditunda dua hari karena masalah cuaca. Powers direkrut ke dalam misi oleh perwakilan CIA William Collins pada awal 1956 dengan bayaran 1500 dolar per bulan selama pelatihan dan 2500 dolar per bulan selama misi. “Setelah Anda menyelesaikan pelatihan, Anda akan dikirm ke luar negeri. Bagian dari tugas Anda adalah melakukan penerbangan pengintaian di sepanjang perbatasan di luar Rusia, di atas peralatan sangat sensitif radar pemantau pesawat dan sinyal radio. Tapi itu hanya sebagian. Misi utama Anda adalah terbang di atas Rusia,” kata Collins kepada Powers, dikutip Powers dan Curt Gentry dalam Operation Overflight: A Memoir of the U-2 Incident . Dari pangkalan Detasemen 10-10 di Incirlik, Turki, Powers diterbangkan ke Peshawar untuk memulai misinya. Pukul 6.26 pagi, pesawat U-2 nomor 360 yang dipiloti Powers mengudara. “Mendekati perbatasan, saya merasakan ketegangan meningkat,” kata Powers. Setelah sekitar satu setengah jam penerbangan, Powers telah berada di udara Laut Aral (kini perbatasan Kazakhstan dan Usbekistan). Di sanalah dia melihat di bawah ada jejak kondensasi dari sebuah pesawat jet bermesin tunggal yang bergerak dengan kecepatan supersonik sejajar dengan jalur pesawatnya namun dengan arah berlawanan. Powers yakin keberadaannya diketahui otoritas Soviet namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena U-2 terbang amat tinggi. Sekira 30 mil di timur Laut Aral, tempat situs peluncuran misil balistik antarbenua Tyuratam Cosmodrome berada, Powers melakukan pemotretan udara. Namun tak maksimal karena kendala cuaca. Pun di situs Chelyabinsk-65 yang terletak 50 mil di selatan. Menjelang Sverdlovsk (kini Ekaterinburg), pesawat Powers mengalami masalah. Namun dia memutuskan tetap melanjutkan penerbangan ketimbang kembali. Dia menyusuri pinggiran kota untuk mencari lapangan terbang yang tercantum di peta. Namun, matanya tak dapat menemukan situs yang dicari. Saat terus mengamati sasaran sambil memeriksa panel-panel pesawatnya, Powers tersentak oleh dentuman besar yang membuat pesawatnya tersentak ke depan menimbulkan kilatan cahaya yang memenuhi cockpit-nya. Ledakan itu ternyata merupakan hantaman rudal S-75 Dvina. Meski berusaha tenang dan terus berupaya mengendalikannya, pesawat Powers sudah tak bisa dikendalikan. Dengan susah payah karena ada masalah, dia akhirnya melontarkan diri di ketinggian 15 ribu kaki. Dalam proses penerjunan itulah dia memilih untuk tak menggunakan kapsul sianidanya karena berharap masih dapat melarikan diri. Tak lama setelah mendarat di sebuah ladang pinggir desa, Powers ditangkap. Dia lalu diinterogasi aparat KGB dan kemudian ditahan selama 70 hari sebelum dihadapkan ke pengadilan Divisi Militer Mahkamah Agung Soviet. “Di Uni Soviet semua kasus spionase berada di bawah yurisdiksi divisi militer pengadilan,” kata Mikhail I. Grinev yang menjadi pembela Powers. Sementara menunggu pengadilan, kasus Powers mendapat pemberitaan luas hingga membuat AS terpaksa mengelak dengan mengatakan bahwa pesawat itu merupakan pesawat cuaca yang mendapat masalah sehingga salah arah. Namun bantahan itu dipatahkan Khrushchev saat bertemu Eisenhower di Paris dengan menunjukkan foto-foto Powers berikut reruntuhan pesawatnya. Sebagai bentuk kemarahan, Khrushchev dan rombongan meninggalkan ruang konferensi di Paris dan enggan melanjutkan pembicaraan dengan Eisenhower. Pengadilan yang diketuai Letnan Jenderal Borisoglebsky akhirnya memvonis Powers 10 tahun penahanan (tiga tahun dipenjara, sisanya kerja paksa). Spionase Powers tergolong berat berdasarkan pasal 2 UU Soviet tentang Tanggung Jawab Kriminal untuk Kejahatan Negara. Powers akhirnya dibebaskan pada 1962 setelah Moscow dan Washington menyepakati pertukaran tawanan yang diusulkan advokat James B. Donovan. Powers dibebaskan sebagai tebusan untuk pembebasan Kolonel Rudolf Abel, agen Soviet yang ditangkap di New York pada 1957. “Nasib mereka dengan cepat berubah. Sekembalinya ke Uni Soviet, Abel dianugerahi Order of Lenin, penghargaan sipil tertinggi Soviet, dan negara menetapkan pensiun untuknya. Dia dianggap sebagai pahlawan rakyat Soviet. Sebaliknya, Powers kembali ke Amerika Serikat di bawah kecurigaan,” kata Sergei Khrushchev, putra Nikita Khrushchev, dalam pengantarnya di buku Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War.
- Asal-Usul Suku Tidung
Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 sempat ramai diperbincangkan karena ada yang mengira salah seorang di gambar uang itu mengenakan baju adat China. Padahal, itu adalah baju adat milik Suku Tidung yang mendiami wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Tjilik Riwut, mantan gubernur Kalimantan Tengah, menjelaskan dalam Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur bahwa Suku Tidung merupakan subsuku dari Suku Dayak Murut, salah satu dari tujuh suku besar, yang mendiami bagian utara Kalimantan bagian timur. Enam suku besar Dayak lainnya adalah Ngaju, Apu Kayan, Iban, Klemantan, Punan, dan Ot Danum. Suku Tidung sendiri terbagi lagi menjadi sepuluh suku kecil. Hartatik, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam. Kendati namanya diambil dari kata tiding atau tideng artinya gunung atau bukit. "Nama ini menggambarkan kalau Suku Tidung berasal dari daerah hulu atau daerah pegunungan di wilayah Kalimantan sisi utara-timur (timur-laut)," tulis Hartatik dalam "Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya" yang terbit dalam jurnal Naditira Widya ,Vol. 8 No. 1/2014. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang dinamis. Mereka pindah dari pedalaman Kalimantan, Kabupaten Tanah Tidung hingga ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau. Kedinamisan itu, menurut Hartatik, membuat Suku Tidung mendapat banyak pengaruh dari luar, terutama dari pelaut dan pedagang muslim. Sehingga, kini hampir semua orang Tidung beragama Islam. Masih Kerabat Dayak Arkeolog Balai Arkeologi Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto dalam "Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi" yang terbit dalam Naditira Widya , Vol. 7 No. 2/2013, menyebut bahwaSuku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil sisi timur Kalimantan lainnya. Perkiraannya mereka sudah meninggalkan tempat asalnya hampir 100 tahun yang lalu. Karenanya sudah banyak cerita tutur yang terputus. Salah satunya Suku Tidung tak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul moyangnya sebagaimana masyarakat Dayak lainnya. Khususnya yang meninggali wilayah Nunukan, seperti Tahol, Tenggalan, dan Agabag. K epercayaannya pun berbeda dibanding suku Dayak di Kalimantan Utara lainnya. "Karena Suku Tidung identik dengan muslim, sedangkan suku Dayak lainnya beragama Kristen," tulis Hartatik. Kendati begitu, masih ada tradisi pra-Islam yang tersisa di antara masyarakat Tidung. Ini menjadi salah satu bukti hubungan kekerabatan mereka dengan suku Dayak. "Sebagian dari mereka masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat," tulis Hartatik. Walaupun sudah beragama Islam, kepercayaan adanya roh leluhur merupakan salah satu konsep megalitik yang dikenal oleh Suku Tidung hingga kini. Ada yang dikenal dengan ritual memanggil arwah di Batu Lumampu, membayar nazar di Batu Lumampu dan Batu Kelangkang, serta ritual pengobatan Badewa oleh tokoh adat. "Kepercayaan kepada roh leluhur yang masih berlanjut hingga kini menunjukkan bahwa Suku Tidung dahulu mempunyai kepercayaan yang sama dengan suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan," tulis Hartatik. Nugroho menambahkan bahwa persahabatan Suku Tidung dengan alam yang masih dijaga secara umum mencerminkan spiritual Dayak. Akulturasi antara budaya pendatang dari luar, dalam hal ini Bugis, Melayu, dan Bajau yang mempengaruhi konsep religi mereka. Prosesnya panjang. Unsur budaya dari luar secara perlahan diterima oleh Suku Tidung kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka. Kedatangan Islam Menurut Nugroho, selain sebagai sebuah suku, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa keislaman. Makam Maharaja Dinda I di Desa Sesayap, Kecamatan Sesatap Hilir, Kabupaten Tana Tidung;dan makam tokoh yang dihormati seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Kecamatan Tana Lia, Pulau Mandul, Kabupaten Tana Tidung, menandakan kawasan ini sebagai daerah perpindahan awal orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk "suatu institusi" tradisional. "Kerajaan ini terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang Suku Tidung," tulis Nugroho. "Ada kemungkinan mereka terpisahkan dari keluarga suku induknya, yaitu Suku Dayak Murut." Institusi yang terbentuk ini dipercaya berupa kerajaan kecil. Secara tradisi , komunitas ini berdiri sendiri kemudian dikuasai oleh Kesultanan Bulungan yang mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda. Secara formal, Islam hadir ketika Kesultanan Bulungan menguasai Tidung, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 'Alimuddin (1817–1861). Hal ini ditandai dengan datangnya seorang ulama dari Arab yang singgah dahulu di Demak. Ulama yang melakukan Islamisasi ini dikenal sebagai Said Abdurrahman Bil Faqih. Selain Bil Faqih, beberapa ulama lain ikut mendekatkan Suku Tidung dengan Islam. Buktinya adalah makam penyiar agama, Said Ahmad Maghribi di Desa Salim Batu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Letaknya di lereng tebing, di sebelah barat aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun di nisan, ulama ini wafat pada 1832. Orang Tidung memang lebih mudah menerima budaya luar karena umumnya mereka bermukim di pesisir, bagian hilir sungai dan pantai yang strategis. Jalurnya bisa lewat perdagangan, maupun budaya. " Hubungan Islam dengan Tidung memperkaya identitas mereka," tulis Nugroho . Interaksi antara Suku Tidung dan Islam pun merata di daerah pesisir, muara sungai hingga pulau-pulau kecilnya. Ini ditunjukan dengan letak makam tokoh yang dihormati, seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Pulau Mandul dan makam Maharaja Dinda I, tak jauh dari Sungai Selor yang berhubungan dengan Sungai Sesayap. "Mobilitas Tidung di pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya dibuktikan dengan peninggalan arkeologi terutama makam, antara lain di tepi Sungai Pemusian di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Pulau Sebatik," tulis Nugroho. Sayangnya, persaingan hegemoni politis dengan Kesultanan Bulungan menyebabkan Tidung terabaikan. Itu diperparah dengan kehadiran kolonialis Belanda. Politik adu domba dan campur tangan Belanda atas eksplorasi kekayaan alam minyak bumi dan perkebunan karet membuat Tidung semakin terpuruk. "Dari bukti-bukti arkeologi kekuasaan politis Kerajaan Tidung sangat lemah. Meski begitu, keberadaannya tetap perlu diakui," tegas Nugroho.
- Tugas Berat Ahmad Subardjo
Pasca menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia perlu segera memilih orang-orang untuk menjalankan tugas pemerintahan. Maka dua hari kemudian, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat di Pejambon, Jakarta. Hasilnya, Sukarno ditunjuk sebagai presiden pertama RI, dengan Mohammad Hatta mendampingi sebagai wakil. Undang-undang dasar juga disahkan. “Pada hari-hari pertama setelah proklamasi kemerdekaan, kesibukan ditujukan untuk melengkapi perangkat kenegaraan yang bersifat pokok, seperti memilih presiden dan disusul dengan membentuk kabinet pertama pertama Republik Indonesia,” tulis Iin Nur Insaniwati dalam Mohammad Roem: Karir Politik dan Perjuangannya 1924-1968 . Untuk menjalankan republik, Kabinet Sukarno-Hatta dilengkapi sepuluh departemen dan enam menteri negara. Tugas mereka adalah memastikan seluruh elemen negara berjalan baik. Dicatat Mohammad Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi , semua posisi menteri diisi oleh tokoh-tokoh yang ahli dibidangnya. Seperti Ahamd Subardjo yang menduduki kursi departemen luar negeri. Namun bukan perkara mudah menjalankan tugas menteri di negara yang baru terbentuk. Di dalam otobiografinya Ahmad Subardjo menceritakan bagaimana dia menghadapi kesukaran memenuhi kewajiban di departemen yang dipimpinnya. Terutama ketika harus menghadapi kenyataan bahwa dia belum memiliki kantor beserta alat-alat penunjang tugas. Bahkan pegawai pun tidak ada. Ahmad Subardjo benar-benar memulainya dari nol. “Teman-teman saya beruntung sudah dapat mulai kerja secara normal, mempunyai segala sesuatu untuk memimpin departemen pemerintahan, namun belum banyak hal yang diurusnya. Mereka hanya berkewajiban agar pegawai-pegawainya bersumpah untuk setia kepada pemerintah republik,” tulis Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo memulai tugasnya dengan memasang iklan di Asia Raya untuk mencari pegawai. Dia memasang iklan: “Siapakah yang ingin menjadi pegawai Departemen Luar Negeri?”. Rupanya hanya dalam beberapa hari iklan dipasang, Ahmad Subardjo sudah bisa memulai pekerjaannya. Dia mendapat 10 orang pelamar. Seluruhnya diterima bekerja. Lima orang ditempatkan sebagai sekretaris, lima lainnya diberi tugas mengatur administrasi. Selesai dengan soal kepegawaian, Ahmad Subardjo segera mencari tempat untuk dijadikan kantor. Dia memakai sebuah rumah di Cikini Raya No. 82. Rumah itu hanya sementara digunakan. Departemennya perlu mendapat gedung yang lebih layak, mengingat tugas dan fungsi departemen luar negeri yang begitu penting untuk mempertahkan kedaulatan Indonesia. “Saya yakin bahwa dalam waktu mendatang Departemen Luar Negeri akan menarik banyak peminat untuk mengabdikan diri kepada negara di suatu bidang yang baru dan buat kebanyakan orang Indonesia belum dikenal,” ungkap Ahamd Subardjo. Meski belum mendapat perangkat kerja yang lengkap, Ahmad Subardjo tetap menjalankan semua tugasnya dengan baik. Baginya, keberadaan departemen luar negeri sangat penting dan merupakan sebuah hal mendesak. Kekalahan Jepang bisa menjadi gerbang masuknya kembali Belanda ke Indonesia. Menurut hukum internasional mengenai perang, negara-negara yang menang perang harus melucuti mereka yang kalah dan mengembalikan ke tanah airnya. Penting untuk tidak lengah dalam situasi tersebut karena Belanda bisa kembali masuk ke Indonesia yang masih lemah. Melalui departemen luar negeri, kata Ahmad Subardjo, bangsa ini harus bergerak cepat masuk ke lingkaran politik internasional. Penting untuk mencari sebanyak-banyaknya negara yang bersedia membantu memberi kemerdekaan sesungguhnya bagi Indonesia. Menjalin hubungan baik dengan warga dunia pada masa awal kemerdekaan sebagian sebagian dilakukan secara personal. Indonesia yang belum memiliki perwakilan di luar negeri harus memanfaatkan koneksi tokoh-tokoh mereka dengan tokoh penting di negara lain. Untuk tugas administrasi, departemen luar negerilah yang mempersiapkannya. “Segera setelah Departemen Luar Negeri mulai menunaikan kewajibannya, kami menghadapi soal-soal yang memerlukan penyelesaian dengan cepat dan tepat. Hal demikian membawa kami ke dalam keadaan di mana kami memecahkan soal demi soal asal saja dapat diselesaikan. Tapi kita tidak melupakan dasar dan tujuan revolusi kita,” ungkap Ahmad Subardjo.
- Detik-Detik Usai Proklamasi
Foto tua yang dikeluarkan Dutch Docu Channel itu berbicara banyak. Dari arah belakang, terlihat Mohammad Hatta, Sukarno dan Dokter Muwardi (Pimpinan Barisan Pelopor) tengah menerima penghormatan dari sekelompok pemuda (sebagian besar bersenjata bambu runcing). Dikatakan oleh saluran penyedia tayangan lama tentang sejarah Belanda di situs YouTube tersebut bahwa foto itu diambil saat momen setelah pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak diceritakan. Kisah itu muncul justru dalam buku-nya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dituturkan oleh Sudiro, setelah upacara pembacaan proklamasi selesai, Bung Karno dan Bung Hatta bergegas masuk ke dalam kamar. Namun baru saja mereka memasuki kamar, tetiba dari arah Gambir terdengar suara derap barisan dan nyanyian sekelompok pasukan. Beberapa saat kemudian, datanglah sekira 100 anggota Barisan Pelopor dari Penjaringan pimpinan S. Brata. “Mereka rupanya sangat kecewa karena terlambat datang…” kenang Sudiro. Di halaman rumah Bung Karno Brata kemudian menghentikan barisan. Dengan kondisi basah kuyup bermandikan keringat, dia lantas berteriak lantang meminta Bung Karno untuk membacakan proklamasi sekali lagi. Alasannya, mereka datang jauh-jauh berjalan kaki memang berniat hanya ingin mendengarkan proklamasi dibacakan. Mendengar alasan Brata, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian keluar dari kamar. Rupanya mereka berdua tak sampai hati membiarkan anak-anak muda yang dengan semangat tinggi ingin menyaksikan dan mendengarkan proklamasi kemerdekaan bangsanya. Kendati dalam keadaan sedikit demam, Bung Karno berbicara di depan mikrofon. Dengan suara nada suara lunak namun mengandung ketegasan, dia menyatakan bahwa pembacaan proklamasi tidak bisa diulang. “Karena proklamasi hanya diucapkan satu kali saja, tetapi akan berlaku untuk selama-lamanya,” kata Bung Karno. Brata tidak puas hanya mendengarkan penjelasan Bung Karno. Dia lantas meminta Hatta untuk memberikan amanat singkat . Permintaan itu diluluskan oleh Bung Hatta. Bukti otentik dari kejadian itu terekam dalam dua lembar foto hasil jepretan Mendoer bersaudara dari IPPHOS yang saat ini menjadi koleksi sebuah museum di Belanda. Fakta sejarah kedua terjadi manakala upacara proklamasi sama sekali telah selesai dan Bung Karno sudah akan istirahat di kamarnya. Sementara Hatta sudah pulang ke rumahnya di Jalan Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro). Dalam otobiografinya, Bung Karno mengisahkan saat dirinya duduk di atas kursi dengan kepala pada kedua belah tangannya, tetiba terdengar suara pintu kamar diketuk. Ketika dibuka ternyata itu adalah Sudiro. “Dia melaporkan ada lima opsir Jepang telah menyerondong masuk kamar tengah. Mereka meminta untuk bicara denganku…” kenang Bung Karno. Dalam bukunya, Sudiro masih ingat Bung Karno lantas mengganti piyama dengan pakaian yang sebelumnya dipakai untuk membacakan proklamasi. Begitu melihat Sukarno datang, salah seorang dari orang-orang Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) itu setengah berteriak berkata: “Kami diutus oleh Gunseikan Kakka untuk melarang Sukarno Kakka mengucapkan proklamasi!” “Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Sukarno dalam nada tenang. “Sudahkah?” “Ya sudah…” jawab kembali Sukarno. Bung Karno masih ingat wajah pemimpin utusan itu nampak marah. Tanpa disadarinya, tangan orang Jepang itu naik ke pinggang dan dia akan melangkah hendak mengancam Bung Karno. Namun aksi itu tidak terjadi, manakala komandan Kenpeitai itu melihat sekeliling: ratusan anggota Barisan Pelopor nampak sudah memegang senjata tajam-nya masing-masing seolah siap menerkam mereka. Tanpa permisi, mereka kemudian meninggalkan Pegangsaan Timur. Usai orang-orang Jepang itu pergi, Sukarno lantas mengeluarkan seruan untuk membentuk Barisan Berani Mati. Itu harus dilakukan mengingat prokalmasi kemerdekaan harus dipertahankan sekuat-kiatnya, jika perlu dengan menggunakan kekerasan dan senjata. Seruan itu langsung disambut baik. Orang-orang Indonesia kemudian banyak yang mendaftarkan diri untuk masuk dalam barisan sukarelawan tersebut.
- Di Balik Kisah Raksasa Pemakan Manusia di Ratu Boko
Dahulu kala hiduplah raksasa pemakan manusia bernama Prabu Boko. Setiap hari ia mengirim prajurit untuk mencari manusia untuk dimakan. Jika prajurit itu gagal, ia yang akan dilahap. Teror itu membuat penduduknya mencari perlindungan ke kerajaan tetangga. Penguasanya baik hati. Ia segera mengirim putranya, Bandung Bondowoso untuk melawan raksasa itu. Pertempuran terjadi selama sepuluh hari. Prabu Boko pun kalah. Prabu Boko dipercaya menguasai Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Menurut Veronique Degroot, arkeolog Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) dalam "The Archaeological Ramains of Ratu Boko: From Sri Lankan Buddhism to Hinduism" yang diterbitkan dalam Indonesia and the Malay World, wisatawan Belanda pada abad ke-19 menerima legenda itu tanpa ragu. Mereka menganggap situs yang sudah ada sejak abad ke-8 itu sebagai kompleks keraton dari masa Hindu dan Buddha. Itu juga yang diceritakan oleh Kepala Unit Situs Ratu Boko, Tri Hartini dalam diskusi daring "Menyelisik Keraton Prabu Boko" yang digelar Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY). Menurut legenda, Situs Ratu Boko adalah Keraton Prabu Boko, ayah Roro Jonggrang yang terkenal itu. Roro Jonggrang menolak pinangan Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Roro Jonggrang pun menyuruh Bandung Bondowoso membangun 1000 candi dalam waktu semalam. Mendekati tengah malam percandian yang diminta hampir selesai dibangun. Sudah 999 candi berdiri. Roro Jonggrang segera memerintah para dayang untuk memukul lesung dan membakar jerami. Jin yang membantu Bandung Bondowoso ketakutan karena mereka mengira pagi telah tiba. 1000 candi pun gagal diwujudkan. Bandung Bondowoso marah. Ia lalu mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang ke-1000. "Orang menganggap arca Durga Mahisasuramardhini di Candi Prambanan adalah Roro Jonggrang yang dikutuk. Sementara Situs Ratu Boko dianggap masyarakat sebagai keraton ayahnya Roro Jonggrang,"kata Tri Hartini. Letak Situs Ratu Boko dan Kompleks Candi Prambanan memang tak terlampau jauh. Sama-sama di wilayah yang disebut Siwa Plateu. Penyebutan nama Situs Ratu Boko kemudian didasari atas legenda yang berkembang di masyarakat. Namun, menurut Andi Riana, arkeolog BPCB DIY, legenda ini tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Legenda ini adalah cerita rakyat yang dihubungkan dengan bangunan yang sudah ada sebelumnya. "Secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan hubungannya," kata Andi. Bukan Keraton Kompleks Situs Ratu Boko sangat luas. Diawali gapura tiga pintu, lalu orang mesti berjalan untuk menjumpai gapura kedua dengan lima pintu. Dari situ akan menemukan candi pembakaran di mana dulu ketika diteliti pernah ditemukan abu bekas pembakaran. Di belakangnya ada kolam luas berpagar keliling. Di dekat situ ada kolam yang hingga kini airnya dianggap suci sehingga sering diambil saat kegiatan Tawur Agung di Candi Prambanan. "Ke sana lagi ada tatanan umpak yang bisa diprediksi bangunannya dulu memiliki atap limasan. Dari situ menuju apa yang disebut paseban,"kata Tri Hartini. Sebutan paseban, keputren, merupakan pemberian masyarakat mengikuti penamaan di keraton modern. Namun, sebenarnya penamaan itu hanya analogi. "Tidak berdasarkan temuan arkeologinya. Hanya analogi," kata Andi. Fungsi sebenarnya struktur-struktur itu belum didukung data valid. Selama ini prasasti-prasasti yang ditemukan di lokasi hanya menyebut tentang penguasa ketika Situs Ratu Boko dibangun atau dipakai. "Ada gapura, pendopo, keputren, ada puluhan kolam yang mencerminkan bangunan keraton jadi dibilang keraton," kata Andi. Apalagi jika dikaitkan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. "Ini masih perlu ditelisik lagi," lanjut Andi. Menurut Veronique Degroot tak adanya struktur candi seperti pada umumnya, ditambah banyaknya struktur bangunan yang tak biasa ditemui pada bangunan kuno di Jawa Tengah, memunculkan dugaan kalau situs itu adalah istana kerajaan. "Anggapan ini diperkuat oleh kisah yang dilaporkan oleh penduduk desa," tulisnya. Sangkaan kalau Situs Ratu Boko adalah keraton sudah mendapat banyak sanggahan. J.L.A. Brandes, filolog Belanda, yang pertama mengungkapkan pandangan berbeda. Menurutnya, situs ituadalah gua pertapaan yang luas dengan kuil-kuil yang berkaitan. Sejarawan Belanda, N.J. Krom, menyanggah dengan mengatakan bahwa gua-gua yang ada di kawasan Situs Ratu Boko terlalu kecil untuk bisa disebut gua-biara yang luas. Namun, ia juga mengatakan, sebagian besar bangunannya bisa jadi untuk keperluan agama. Beberapa tahun kemudian, W.F. Stutterheim, arkeolog Belanda, berpendapat bahwa Situs Ratu Boko adalah tempat ibadah. Kendati ia tak bisa memutuskan apakah bersifat Buddhis atau Hindu. Argumennya didasarkan paling tidak pada tiga bangunan yang mungkin adalah candi. Sulitnya air membuat lokasi ini menjadi tak memadai untuk memenuhi kebutuhan populasi yang besar. Gua-gua yang ada di sana kemungkinan dibuat untuk keperluan meditasi. Lagipula terasnya pun terlalu kecil jika dibandingkan dengan keraton Jawa modern. Pandangan Stutterheim itu pada akhirnya diterima pula oleh Krom. Sementara itu, A.J. Bernet Kempers, ahli purbakala Belanda, menduga Situs Ratu Boko dulunya digunakan semacam taman, seperti pesanggrahan milik sultan Jawa di masa yang lebih modern. Menurutnya, jika dulunya merupakan permukiman, situs itu akan tampak lebih seperti tempat peristirahatan. Kalau tidak, benteng untuk digunakan dalam keadaan darurat. Penggunaan situs sebagai benteng pernah diusulkan oleh J.G. de Casparis, ahli epigrafi Belanda, berdasarkan Prasasti Pereng dari 863. "Karena (Situs Ratu Boko, red. ) ada di dataran yang tinggi wajar kalau dibilang itu benteng pertahanan," kata Andi. Miniatur candi di tengah kompleks Situs Ratu Boko. (Sanda Puguh Wibawan/Shutterstock). Mencari Bukti Valid Beberapa prasasti telah ditemukan di Situs Ratu Boko. Prasasti Abhayagiriwihara dari 714 Saka (792) berisi tentang pendirian bangunan suci untuk Avalokitesvara. Prasasti Krttivaso Lingga dari 778 Saka (856) berisi tentang pendirian Lingga Krttivaso oleh Sri Kumbhaja. Prasasti Tryambaka Lingga dari 778 Saka (856) tentang pendirian Lingga Tryambaka oleh Sri Kumbhaja. Prasasti Hara Lingga tanpa angka tahun juga tentang pendirian Lingga Hara oleh Kalasodhbhava. Sedangkan Prasasti Pereng 785 Saka (863)menginformasikan pendirian Candi Bhadraloka oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. "Sampai sekarang yang dimaksud Candi Bhadraloka yang mana, letaknya di mana belum diketahui," kata Andi. Kendati begitu temuan prasasti itu menegaskan adanya dua latar keagamaan. Awalnya situs ini dipakai sebagai vihara oleh umat Buddha. Kemudian sekira 64 tahun kemudian penghuninya adalah umat Hindu yang mendirikan lingga dan candi. "Awalnya vihara selanjutnya menjadi hunian umat beragama Hindu yang dilengkapi sarana peribadatan yakni miniatur candi dan candi pembakaran," kata Andi. Berdasarkan itu, Casparis berhipotesis bahwa di Situs Ratu Boko dulunya pernah terjadi pertempuran antara Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, seorang beragam Hindu, melawan Balaputradewa yang beragama Buddha dari Dinasti Sailendra. Ketika itu, Balaputradewa yang terdesak berlindung di dataran tinggi Boko. Tapi pada akhirnya ia dikalahkan Kumbhayoni. "Namun, sisa-sisa dataran tinggi Ratu Boko lebih tua daripada pertempuran antara Kumbhayoni dan Balaputradewa," tulis Veronique Degroot. Bagaimanapun hingga kini masih banyak versi mengenai bangunan apa sebenarnya yang ada di atas Bukit Boko itu. Pihak terkait mengaku belum bisa maksimal meneliti karena masih banyak penduduk yang tinggal di sekitarnya. "Batu-batu yang terpendam banyak yang dipakai penduduk untuk pondasi dan sebagainya," kata Tri Hartini.
- Perlawanan Liem Koen Hian untuk Kemerdekaan
INDONESIA dengan usia kemerdekaan 75 tahun bulan ini masih menyisakan warisan kolonialisme Belanda bernama sekat rasial. Perlakuan diskriminatif, utamanya terhadap Tionghoa, masih lestari dalam kehidupan masyarakat. Tokoh-tokoh Tionghoa yang punya jasa seperti Liem Koen Hian, misalnya, masih dimarjinalkan. Sejarawan Didi Kwartanada melihat peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momen era baru untuk bebas dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Namun kemerdekaan tak serta-merta dirasakan dengan kebahagiaan untuk orang-orang Tionghoa. “Tapi sebenarnya peristiwa itu (proklamasi) juga merupakan penjungkirbalikan situasi, dimulainya tatanan baru. Di sisi lain, golongan Tionghoa menjadi golongan yang resah karena mereka minoritas perantara, mengingat mereka di masa kolonialisme Belanda (bersama orang-orang Arab) acap jadi masyarakat kelas dua di piramida klasifikasi masyarakat antara orang-orang Belanda dan bumiputera,” ujar Didi dalam webinar yang dihelat Roemah Bhinneka Surabaya bertajuk “Liem Koen Hian: Bapak Bangsa yang Ditolak” , Senin (17/8/2020) malam. Didi mengakui, kalangan Tionghoa memang terbagi tiga golongan dalam pergerakan menuju cita-cita Indonesia yang merdeka. Seperti halnya kalangan bumiputera dan peranakan Arab, di kalangan Tionghoa ada golongan yang berkiblat ke negeri leluhur, setia kepada Belanda, dan berkiblat pada Indonesia merdeka. Di golongan yang terakhir inilah Liem Koen Hian salah satu yang paling menonjol. Pria kelahiran Banjarmasin, 3 November 1897 itu sejak kecil sudah jadi pribadi yang berapi-api jika bicara ketidakadilan di sekitarnya. “Sampai tahun 1910 saja dia dikeluarkan dari ELS (Europeesche Lagere School, setara SD) karena dia mengajak gurunya yang orang Belanda berkelahi. Sejak muda dia memang orang yang idealis, tidak suka melihat ketimpangan sosial di masyarakat. Apa yang dia anggap tidak benar, akan dia tentang, kalau perlu berkelahi,” sambungnya. Pada 1915, Liem mengadu nasib ke Surabaya. Dia lalu bekerja di suratkabar Tjhoen Tjioe . Petualangannya sebagai wartawan pun dimulai. Berturut-turut Liem melebarkan sayapnya dengan menerbitkan sendiri bulanan Soe Liem Poo (1917), mengasuh Sinar Soematra (1917-1923) di Medan, kembali ke Surabaya di bawah naungan koran Pewarta Soerabaia (1921-1925), mendirikan dan memimpin harian Soeara Poeblik (1925-1929), hingga memimpin suratkabar Sin Tit Po (1929-1932). Cita-cita Indonesia merdeka dari diri Liem, lanjut Didi, sudah tumbuh sejak 1928 ketika menuliskan ide kebangsaan, “Indisch Burgerschap”. Ide itu lantas bertransformasi menjadi “Indonesierschap” (kewarganegaraan Indonesia) yang berbunyi: Indonesia adalah negeri jang terdiri dari semoea orang jang menganggap Hindia Belanda sebage tanah-aer mereka dengen aktif membantoe membangoen negara ini. Peranakan adalah satoe integral jang tida terpisahken dari bangsa itoe . “Ide itu dipengaruhi mentor politiknya, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Mirip dengan teori kebangsaan Ernest Renan yang sering dikutip para founding fathers kita, yaitu sekelompok manusia yang ingin bersatu. Mirip juga dengan teori Otto Bauer, yaitu bahwa pengalaman bersama yang menyatukan sekelompok orang ke dalam satu entitas satu bangsa,” lanjutnya. Baginya, yang dimaksud bangsa tak hanya kaum bumiputera. Kalangan peranakan seperti Tionghoa dan Arab sama-sama berhak mencita-citakan Indonesia yang merdeka dengan satu tujuan. Namun saat itu Liem hanya bisa “menggebuk” Belanda lewat media karena periode sejak Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia dibekukan Belanda dari 1926 hingga 1937, tiada satupun partai yang didirikan kaum bumiputera bersedia menerima peranakan sebagai anggota penuh. Melawan Belanda dari Lapangan Liem kemudian memilih melawan kolonialisme dengan sepakbola. “Liem sosok yang cerdik, nekat, pandai memprovokasi. Dari aksi yang digalangnya tentang pemboikotan sepakbola di Surabaya inilah Liem menjadi dikenal luas dan diapresiasi berbagai kalangan,” timpal Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan olahraga cum dosen sejarah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Sepakbola sejak lahirnya PSSI tahun 1930 jadi alat perjuangan. Olahraga yang menyedot banyak penonton ini menjadi alternatif Liem untuk bisa mengumpulkan massa dan bisa dipolitisir. Ia menggunakan sepakbola sebagai salah satu alat meneguhkan awal pijakan Indonesierschap,” lanjutnya. Liem memaksimalkan Sin Tit Po yang dipimpinnya untuk menggalang dukungan. Melalui Comite van Actie Persatoean Bangsa Asia, ia menyerukan boikot kompetisi Stedenwedstrijden, liga antarkota klub-klub milik Belanda se-Hindia Belanda. “Gara-garanya dulu ada jurnalis suratkabar D’Orient bernama Bekker. Dia juga pegawai SVB (Soerabaiasch Voetbalbond), klub milik orang Belanda. Kalau klub bumiputera itu SIVB (Soerabaiasch Indische Voetbalbond, kini Persebaya). Padahal sebelumnya klub bumiputera, Tionghoa, Arab dan Belanda enggak pernah ada perkara seperti di kota-kota lain. Tapi itu berubah karena Bekker mengeluarkan larangan diskriminatif melarang wartawan kulit berwarna untuk meliput,” kata Rojil. Sejak April hingga Mei 1932, Liem membanjiri Sin Tit Po dengan tulisan-tulisan tentang boikot. Provokasinya sukses lantaran golongan peranakan Arab pun larut dalam kemarahan terhadap kebijakan rasis Belanda itu. Alhasil tak hanya Sin Tit Po , Soeara Oemoem yang dipimpin Soetomo pun turut menyerukan boikot. Pun dengan suratkabar golongan Arab Aljaum. Aksi boikot diperkuat oleh Radjamin Nasution yang memimpin SIVB. “Pertandingan Stedenwedstrijden itu dimulai 13 Mei sampai 16 Mei. Nah , Liem dalam seruannya di korannya menyatakan untuk golongan non-Eropa untuk tidak menonton Stredenwedstrijden, melainkan beralih membanjiri laga-laga yang dimainkan SIVB. Ini jadi pelajaran dari Liem dan para tokoh-tokoh di Surabaya terhadap kaum Belanda yang congkak,” imbuhnya. SIVB alias Persebaya, klub sepakbola bumiputera (Foto: Soerabaijasch Handelsblad 22 Mei 1936) Stedenwedstrijden pun sepi penonton. Kerugian NIVB (Nederlandsch Indisch Voetbalbond), induk sepakbola Hindia Belanda yang jadi operator kompetisi, tak tertolong kendati sudah mengkorting harga tiket. Sebaliknya, laga-laga yang dimainkan SIVB dan klub-klub Tionghoa serta Arab penuh sesak oleh penonton. “Menariknya kemudian pendapatan bersih dibagi kepada SIVB 50 persen, kepada Fonds Cooperatie Hap Siem Hwee 25 persen. Untuk pengentasan pengangguran, penyantunan anak yatim, kepada Armunzorg, Kinderzorg, dan Poliklinik Muhammadiyah masing-masing lima persen. Artinya, di samping penuh nilai pergerakan, aksi boikot itu juga menggiatkan kegiatan-kegiatan positif untuk sesama non-Eropa,” kata Rojil. Liem pun dianggap provokator oleh pemerintah dan dijebloskan ke penjara. Namun berkat tuntutan para anggota Volksraad (perwakilan rakyat) di Batavia, salah satunya MH Thamrin, Liem dibebaskan tak lama kemudian. Nestapa di Akhir Hayat Empat bulan pasca-aksi boikot yang digalangnya, Liem memberanikan diri mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). PTI kemudian menginspirasi berdirinya Partai Arab Indonesia (PAI) yang salah satu pendirinya AR Baswedan (kakek Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta saat ini). Baswedan mengenal baik Liem dari aksi boikot sepakbola Belanda. Dia kemudian turut bergabung di Sin Tit Po . Disebutkan Didi, AR Baswedan merupakan tokoh peranakan Arab yang menghendaki egalitariat dan enggan menikmati keistimewaan golongan Arab dari pemerintah kolonial. “Bisa dibilang AR Baswedan murid dari Liem Koen Hian. Ia ingin mengalihkan orang-orang Arab yang berkiblat ke Hadramaut menjadi berkiblat ke Indonesia. Di Sin Tit Po , mereka sangat guyub. Ada chemistry . Karena cita-cita perjuangan yang sama, ingin Indonesia merdeka dan isu agama belum merasuk sampai ke hubungan inter-personal,” ujar Didi. Namun, sifat tempramental Liem membuatnya punya banyak musuh. Kalangan Tionghoa yang berkiblat pada Belanda atau daratan China memusuhinya. “Dari pers-pers Belanda menyebut Liem dengan PTI-nya sebagai tukang hasut, tukang tipu, pemberontak, komunis, dsb. Dari pers Tionghoa Melayu, musuh Liem menjuluki Liem nasionalis China palsu. Berbagai cara dilakukan untuk menjatuhkan moral Liem dan PTI,” tambahnya. “Dari golongan bumiputera juga ada dr. Soetomo. Ketika Soetomo terpukau pada Jepang, Liem menulis artikel bantahan. Soetomo mendebat dengan mengatakan Liem bias karena negeri leluhurnya sedang diduduki Jepang. Dr. Tjipto sampai harus menengahi dengan mengatakan Liem adalah orang Indonesia tanpa peci dan jangan ragukan nasionalisme Liem, sampai akhirnya Soetomo meminta maaf pada Liem,” papar Didi. Salah satu potongan seruan boikot di Sin Tit Po (Foto: Dok. Presentasi RN. Bayu Aji) Di masa pendudukan Jepang (1942-1945), Liem masuk dalam anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tetapi di sini Liem mendapatkan “pukulan” dari para koleganya. Ketika dia mengusulkan keturunan Tionghoa otomatis diberi status warga negara Indonesia (WNI), para anggota lain menolak. Sebagai bentuk kekecewaan, Liem mengajukan surat pengunduran diri. “Setelah Indonesia merdeka, bahkan Liem pernah ditangkap. Ketika Perdana Menteri Soekiman melakukan razia, Liem ditangkap dengan tuduhan simpatisan komunis, pada 16 Agustus 1951. Dia dipenjara di Cipinang tanpa diadili dan baru dibebaskan pada 29 Oktober 1951 dengan keadaan sudah sakit,” urainya. “Liem jengkel karena ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Ditambah banyak kawan-kawannya di PTI juga diperlakukan tak selaiknya. Negeri yang ia ikut perjuangakan berdarah-darah tak mau mengakuinya. Jadilah dia semakin kiri. Saat RRC HUT kemerdekaan, ia mengibarkan bendera RRC di rumahnya dan bikin heboh. Tapi dia mengatakan agar orang Tionghoa lain jangan mengikutinya. Dia hanya ingin jadi martir dan biarlah dia yang menanggung karena tidak diperlakukan laik,” kata Didi. Setelah Liem wafat 4 November 1952 pun Didi masih menemukan penolakan terhadap kiprah Liem. Penolakan itu terdapat pada buku Sejarah Nasional Indonesia di edisi pertama (1975) dan kedua (1977), di mana nama Liem sebagai anggota BPUPKI tak dicantumkan dan hanya disebutkan empat golongan Cina dan empat Arab. “Padahal dari golongan Arab hanya AR Baswedan. Menariknya di edisi keempat, karena edisi ketiga hilang tiada catatan, penyebutan golongan Cina yang empat orang itu hilang. Hanya disebutkan empat orang golongan Arab. Lalu di produk reformasi, Sejarah Nasional Indonesia IV cetakan 2010 yang dimutakhirkan, masih tidak tercantum dan golongan Tionghoanya masih hilang,” sambungnya. Di buku Arus Sejarah Jilid VI cetakan 2012, lanjut Didi, pencantuman golongan Tionghoa maupun penyebutan nama Liem pun masih hilang. Bersama sejarawan Taufiq Tanasaldi, Didi menyampaikan hal itu ke Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid beberapa waktu lalu. “Tapi kebetulan ketika itu terjadi pergantian kabinet. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sekarang kan meniadakan Direktorat Sejarah. Ditambah lagi pandemi (virus) corona yang membuat isu ini terkatung-katung,” tandas Didi.
- Ongkos Pembebasan Irian Barat
Seorang perwira AURI beranekdot tentang legenda rakyat. Di Jawa Barat, sebelum ayam berkokok, Sangkuriang harus sudah membuat perahu dan telaga. Di Jawa Tengah, sebelum ayam berkokok, Bandung Bondowoso harus menyelesaikan candi dengan seribu arca. “Akhirnya, di Indonesia Timur, sebelum ayam berkokok, Irian Barat harus kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” tutur Boediardjo, si perwira AURI itu dalam otobiografinya Siapa Sudi Saya Dongengi . Dua kisah pertama adalah legenda belaka. Lain halnya dengan Irian Barat. Janji itu memang pernah diijabkan oleh Presiden Sukarno ketika berpidato di Palembang, 10 April 1962. “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga,” demikian judul pidatonya. Tidak hanya sekali, Sukarno dalam berbagai kesempatan selalu menyatakan seruan agar panji dwiwarna Merah Putih berkibar di Irian Barat sebelum tahun 1962 berakhir. Berpaut pada komitmen tersebut, Sukarno sedia melakukan apa saja. Berapapun biayanya ditebus demi Irian Barat masuk ke pelukan bumi pertiwi. Serba Uni Soviet Dalam operasional kampanye militer pembebasan Irian Barat, dibentuklah tim logistik bersama. Kolonel Donald Isac Pandjaitan dan Brigjen Soeprapto dari Angkatan Darat. Brigjen Ali Sadikin dari Angkatan Laut. Kolonel Boediardjo dari Angkatan Udara. Kombes Mohamad Hasan dan Kombes Suparno dari Kepolisian. Boediardjo mengenang AURI harus menampung ratusan tenaga teknisi Uni Soviet. Pada saat itu, hanya Uni Soviet yang bersedia memasok senjata berat termutakhir bagi Indonesia. Dari Uni Soviet, angkatan perang Indonesia memperoleh kapal penjelajah raksasa kelas Sverdlov yang dinamai "KRI Irian" dan pesawat bomber jarak jauh Tupolev-16. Senjata inilah yang akan diandalkan untuk mengimbangi bahkan menggempur Belanda di Irian Barat. Pesawat Bomber Tupolev-16. Sumber: Puspen ABRI. Sebagai deputi Panglima AURI bagian logistik, Boediardjo bertugas menyiapkan kebutuhan operasional Angkatan Udara. Mulai dari membeli persenjataan, pesawat tempur, peluru hingga membuat lapangan-lapangan udara darurat dan menyiapkan bahan bakar untuk pesawat tempur. Selain urusan tempur, logistik AURI juga menyiapkan makanan bagi ratusan instruktur asing. Untuk itu, bagian logistik AURI mendirikan pabrik roti Rusia yang menjadi konsumsi sehari-hari para teknisi Uni Soviet. Penyiapan logistik untuk pembebasan Irian Barat cukup luar biasa. Dalam waktu 24 jam, tim logistik harus mampu menyiapkan gudang peralatan perang di pelosok hutan mana pun . Untuk itu disediakan tekonologi Arcon dari Inggris seharga US$ 5 juta dalam penyediaan mesin dan alat konstruksi. Pendaratan pesawat jet tempur MIG-17, memakai sistem steel matting . Sementara itu dalam penyediaan bahan bakar, disiapkan tangki-tangki terapung sistem floating camels dari Jerman. “Semua cepat, semua jadi. Yang istimewa: uang selalu ada,” kata Boediardjo. Beberapa nama pengusaha nasional disebut Boediardjo sebagai penopang logistik baik secara materi maupun finansial. Mereka antara lain Dasaad, Kurwet, T.D. Pardede, Hasjim Ning, Bakrie, dan lainnya. Aristides Katoppo , wartawan Sinar Harapan yang juga kontributor New York Times memperoleh data besaran bantuan Uni Soviet untuk angkapan perang Indonesia. Bila ditotal, nilanya sebesar US$ 2 milyar, anggaran yang sangat besar pada masa itu. Namun menurut Boediardjo angka itu mungkin tidak besar untuk suatu proyek uji kemampuan pesawat dan persenjataan Uni Soviet. Apalagi dilakukan di wilayah tropis untuk menghadapi kekuatan Barat. Selesai Tanpa Berperang Pada Juni 1962, persiapan operasi militer besar-besaran sudah rampung. Operasi itu diberi sandi: “Jayawijaya”. AURI telah siap dengan pesawar bomber strategis TU-16 dan TU-16 KS. Juga dengan pesawat tempur Ilyushin 28 dan MIG-17. Sementara itu, Angkatan Laut telah menggerakan 120 kapal yang tergabung dalam Angkatan Tugas Amphibi 17 (ATA-17). Di bawah pimpinan Komodor Soedomo , ATA-17 siap ke garis depan mendaratkan pasukan ke Irian Barat. Di dalam ATA-17, terdapat Satuan Pendarat 45 (Saprat-45) dengan kekuatan 10.000 anggota marinir Korps Komando AL (KKo AL) di bawah pimpinan Kolonel Suwadji. Selain itu, pasukan pendarat bantuan berkekuatan 20.000 prajurit Angkatan Darat di bawah pimpinan Brigjen U. Rukman tinggal menunggu “lampu hijau” diberangkatkan ke garis depan. Dalam keterangan Ali Sadikin kepada pers, seperti dicatat Rosihan Anwar, saat-saat kritis bagi Komando ATA-17 ialah sekitar tanggal 12-13 Agustus 1962. Untuk memberi makan 30.000 pasukan yang tergabung dalam ATA-17 dikeluarkan biaya Rp 4 juta dan dibutuhkan 40.000 kaleng makan setiap hari. Perang terbuka hanya menanti persetujuan Sukarno selaku panglima tertinggi. Apa yang terjadi kemudian telah banyak diketahui. Invasi ke Irian Barat untuk menyerbu Belanda urung terlaksana. Sengketa Irian Barat berakhir secara politis di meja diplomasi bukan lewat operasi militer. Perjanjian New York yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962 menutup babak konflik Indonesia dan Belanda. Dengan batalnya eksekusi Operasi Jayawiijaya, angkatan perang Indonesia menyimpan kekuatan potensial sekaligus memikul beban. Menurut Pandjaitan, administrasi logistik tampak kurang sempurna selama kegiatan operasi pembebasan Irian Barat. Hal ini disebabkan karena selama Trikora pelaksanaan operasi sangat diutamakan. “Keadaan ekonomi negara memburuk dan inflasi melonjak sebagai akibat konfrontasi dalam masalah Irian Barat yang cukup lama,” tulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan dalam biografi suaminya D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Meski demikian, setidaknya perlengkapan angkatan perang Indonesia tetap utuh serta terhindar dari jatuhnya korban yang lebih banyak. Dalam tempo pendek, Indonesia tampil sebagai kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara. AURI pun disebut-sebut sebagai angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1965 mencatat, Indonesia menjadi salah negara dari tiga negara Asia selain Tiongkok dan Jepang yang memiliki kapal-kapal selam berkekuatan perusak sangat dahsyat. Dengan dimilikinya “Komando Flotila”, maka Indonesia adalah negara pertama di belahan bumi selatan yang memiliki kapal-kapal berpeluru kendali. Pada akhirnya, Papua jatuh ke tangan Indonesia tanpa harus berperang dengan Belanda. Sebagai gantinya, unjuk kekuatan angkatan perang diahlihkan pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1962 dalam wujud parade militer. Pada saat itulah publik dapat menyaksikan Angkatan Perang Indonesia berjaya .
- Nasib Orang Indonesia di Jepang Pasca Perang
Pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 menjadi tanda berakhirnya hubungan tidak resmi Indonesia dan Jepang. Selama kurun tiga tahun (1942-1945), bahkan sejak tahun 1930-an, telah banyak orang Indonesia yang menetap di Jepang. Sebagian besar memilih Negeri Sakura itu sebagai tempat menuntut ilmu. Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia , orang Indonesia pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Jepang adalah Madjid Usman dan Mahjuddin Gaus. Keduanya berasal dari Minangkabau. Permohonan mereka disampaikan pada 1932 oleh konsulat Jepang Naito Keizo kepada Menteri Luar Negeri Uchida Koya di Tokyo. “… Saya mohon agar orang-orang asing seperti ini yang masih belum memahami bahasa Jepang dapat diberi kelonggaran untuk belajar di sekolah Jepang,” tulis Naito. Setelah mereka, semakin banyak orang Indonesia yang belajar ke Jepang. Geliat ekonomi dan industri negara itu begitu memikat warga Asia lain-nya. Bahkan sejumlah pelajar Indonesia secara sukarela mendaftar ke akademi militer Jepang ketika negeri itu kekurangan kekuatan untuk menghadapi perang Pasifik. Dicatat Saari Ibrahim dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang , ada 17 pelajar dari Jawa dan Sumatera yang masuk Rikugun Shikan Gakko, Akademi Militer Angkatan Darat. Namun kabar kekalahan Jepang atas Sekutu, serta kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945, membuat mereka bingung. Berdasar laporan Far Eastern Commission –Badan tertinggi dari Sekutu untuk mengurus hal-hal tentang pendudukan di Jepang– sejarawan Jepang Aiko Kurasawa mencatat ada 107 orang Indonesia di Jepang ketika perang selesai pada Agustus 1945. “Mereka tidak yakin atas nasib diri mereka selanjutnya. Mereka menanyakan kepada diri sendiri: ‘Apakah aku akan dianggap sebagai kolaborator Jepang? Apakah aku bisa pulang ke Indonesia? Bagaimana caranya? Kalau beasiswanya putus, bagimana menjalani kehidupan selanjutnya?’ dan lain-lainnya,” tulis Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia . Dari 107 orang Indonesia di Jepang, imbuh Aiko, mayoritas berstatus mahasiswa. Pemerintah Jepang membaginya menjadi dua kelompok. Pertama , 24 orang yang sudah tinggal di Jepang sebelum pecahnya perang dengan keinginan dan biaya sendiri. Kedua , 83 orang mahasiswa yang dikirim ke Jepang antara tahun 1943 dan 1944 dengan program beasiswa Nantoku dari pemerintah militer Jepang. Orang Indonesia di Jepang sendiri baru mendengar berita proklamasi kemerdekaan pada 19 Agustus 1945. Sejak kabar itu tersebar ke seluruh Jepang, kehidupan warga Indonesia di sana mulai tidak tenang. Hati mereka sungguh terguncang, antara senang atau takut. Mereka takut dampak kemerdekaan itu membuat orang-orang Jepang memberi perlakuan buruk kepada mereka. Banyak orang yang akhirnya berkeinginan untuk kembali ke tanah air. “Sesudah 1946, hampir semua mahasiswa dari wilayah jajahan negara Barat sudah dipulangkan. Yang masih tinggal di Jepang hanya mahasiswa dari Indonesia dan mahasiswa dari Vietnam di mana masing-masing pemimpin nasionalisnya sudah memproklamasikan kemerdekaan,” ungkap Aiko. Meski begitu, pemerintahan Indonesia yang baru dibentuk belum bisa menolong 107 orang yang terlantar di Jepang tersebut. Mereka tidak bisa langsung bernegosiasi dengan pihak Sekutu, maupun pemerintah Jepang untuk mengurus kepulangan warganya. Selain karena Sekutu belum mengakui Indonesia, situasi di dalam negeri juga belum memungkinkan untuk melakukannya. Itulah satu kelemahan negara Indonesia yang baru merdeka. Pemerintah Jepang juga tidak memberatkan keputusan orang-orang Indonesia di negaranya. Bagi mereka yang ingin tinggal, diperbolehkan asalkan menggunakan biaya sendiri. Beasiswa pemerintah Jepang akan sepenuhnya dicabut pada akhir 1946 atas keputusan Sekutu. Begitu juga dengan mereka yang ingin pulang, pemerintah tidak akan menghalangi tetapi mereka harus mencari jalan pulang sendiri. Keinginan orang-orang Indonesia di Jepang rupanya berbeda-beda. Tidak semua ingin kembali. Sebagian memilih bertahan di Jepang dan melanjutkan hidupnya, atau menyelesaikan pendidikannya. Kelompok yang ingin tinggal itu biasanya telah berumah tangga. Sementara sisanya memilih pulang, kendati dengan meminjam jasa pemerintah Belanda dan Sekutu. “Teman-teman negeri tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Birma pulang ke negara asal mereka atas perintah dan fasilitas yang disediakan oleh mantan master kolonial, seperti Inggris dan Amerika, yang kembali dan mulai menjajah lagi,” tulis Aiko.






















