Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi
PEMERINTAH telah menyerahkan draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ke DPR pada pertengahan Februari 2020. RUU itu memuat revisi sejumlah pasal dalam hampir 80-an undang-undang di bidang ekonomi, pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, dan banyak lagi. Bersama penyerahan itu, salinan RUU mulai tersebar dan dibaca oleh masyarakat.
- Santo Iker di Bawah Mistar
MASIH ingat Iker Casillas? Penjaga gawang Real Madrid sepanjang era Galácticos (2000-2014) itu selalu menjadi pembeda dari rekan-rekannya yang garang kala menghadapi lawan. Casillas selalu tampil menawan dengan kharisma dan perilakunya yang jauh dari kata arogan. Bak santo, ia enggan mengekspresikan rasa sakitnya ke publik kala dibuang dari klub yang dibelanya selama 25 tahun pada 2015. Padahal Casillas punya saham dalam mendatangkan lima gelar La Liga, dua Copa del Rey, empat Supercopa de España, dan tiga gelar Liga Champions dalam titimangsa 2000-2014. Namun itulah Madrid dengan presidennya Florentino Pérez. Yang menguntungkan, bakal dibintangkan. Tapi sebanyak apapun prestasi yang disumbangkan seorang bintang, klub tak menganggapnya dan bakal membuang kalau tak lagi menguntungkan. Casillas masih untung karena klub Portugal FC Porto mau menampungnya. Di Portugal, Casillas membuktikan belum habis. Ia membantu Porto mendulang gelar Primeira Liga musim 2017-2018. Sejak Mei 2019 Casillas mengidap penyakit jantung dan kini ia tutup buku untuk karier bermainnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sayangnya sejak Mei 2019 Casillas mulai jarang tampil gegara didiagnosa punya penyakit jantung. Tahun ini jadi tahun terakhir Casillas mentas di lapangan hijau, di usia 39 tahun. “Sebelum mengumumkan pencalonannya (Presiden RFEF), Casillas menemui saya untuk memberitahu keputusannya mengakhiri karier,” ujar Presiden FC Porto Jorge Nuno Pinto da Costa, dikutip Sportstar , 18 Februari 2020. Ramalan Sejak Masa Kehamilan Sebagai penerus estafet kiper hebat Spanyol, Casillas punya prestasi paling mentereng dibanding empat pendahulunya. Ricardo Zamora, Antoni Ramallets, Luis Arconada, sampai Andoni Zubizarreta belum pernah merasakan gelar yang didapat Casillas. Lahir di Madrid pada 20 Mei 1981 dengan nama Iker Casillas Fernandéz, Casillas merupakan putra dari pasangan José Luis Casillas dan María del Carmen Fernández González. Jose merupakan pegawai di Kementerian Pendidikan Spanyol dan Maria seorang penata rambut. Iker Casillas di masa jadul kala meniti karier di akademi Real Madrid "La Fábrica" (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sebagaimana dikisahkan Enrique Ortego dalam biografi Iker Casillas: La Humildad del Campeón , Casillas memiliki darah Basque. Kakeknya dari pihak ayah merupakan seorang perwira guardia civil , semacam polisi militer asal Bilbao. Ada kisah menarik tentang prediksi masa depan Casillas meski ia belum lahir ke dunia. “Suatu hari, seorang tukang sepatu dekat apartemen mereka meramalkan bahwa putra mereka akan jadi pemain hebat dan dia akan bermain untuk menaklukkan semua tantangan yang ada sekaligus mensejajarkan diri dengan para kiper hebat Basque,” tulis Jonathan Wilson dalam The Outsider: A History of the Goalkeeper. Prediksi tukang sepatu itu terbukti. Casillas bahkan sukses di tingkat internasional. Selain mengantarkan Spanyol merebut Piala Eropa 2008 dan 2012, Spanyol di masa Casillas akhirnya mampu mencicipi juara Piala Dunia pada 2010. “Casillas sebagai kapten di tiga sukses besar itu,” sambung Wilson. Momen paten Casillas di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 (Foto: uefa.com/fifa.com ) Fans Madrid dan timnas Spanyol menjulukinya San Iker alias Santo Iker atau Iker si Orang Suci. “Persahabatannya dengan Xavi (kapten Barcelona) sejak di timnas muda Spanyol menjadi faktor besar dalam meredakan perseteruan Madrid-Barcelona yang bisa merusak spirit skuad timnas, mengingat rivalitas kedua tim saat itu di bawah asuhan José Mourinho dan Pep Guardiola,” ungkap entrenador Spanyol di Piala Dunia 2010, Vicente del Bosque, dikutip Wilson. Ikon Abadi Madrid Namun sebelum sampai ke kegemilangan itu, Casillas merintisnya dengan susah-payah. Sebagai anak introvert , ia lebih sering bermain sepakbola dengan ayahnya ketimbang anak-anak sebayanya. Itu disebabkan karena ayahnya sering dimutasi sehingga Casillas tak pernah punya teman dekat yang bertahan lama. Dari bersepakbola dengan ayahnya itulah Casillas mulai menyukai posisi kiper gegara setiap bermain di taman dia yang selalu jadi penangkap bola yang ditendang ayahnya. Sang ayah yang melihat bakat Casillas lalu coba memasukkan Casillas ke program ujicoba Real Madrid saat mereka pindah ke Madrid. Setiap tahun Real Madrid menggelar serangkaian ujicoba terbuka untuk anak-anak. Casillas mengikutinya saat berusia 10 tahun dan dia lulus di tes pertama. Namun pada tes kedua yang merupakan tes sparring, Casillas kebobolan tujuh gol. “Meski timnya kalah 7-1, Kepala Seksi Pemain Muda Madrid Antonio Mezquito melihat potensi dalam diri Casillas dan memutuskan untuk mengajaknya masuk akademi muda Real Madrid, La Fábrica,” sambung Ortego dalam biografi Casillas. Di tahun 1990 itulah karier Casillas dirintis. Meski posturnya enggak tinggi-tinggi amat, tapi Kak Casillas punya refleks yang cekatan untuk menjaga kesucian gawangnya (Foto: realmadrid.com ) Tuhan seolah sudah menata hidup Casillas untuk cemerlang di bawah mistar. Enam tahun setelah masuk La Fábrica dan bahkan belum menembus Real Madrid C, Casillas sudah terpilih masuk skuad Timnas Spanyol U-15 dan pada 1997 sudah turut memenangi Euro (Piala Eropa) U-16 di Jerman. “Hal terhebat tentang Iker adalah cara natural yang dia punya untuk selalu menghadapi banyak tantangan. Kedewasaan memberi dia ketenangan saat sedang bermain. Ketenangan yang berbuah manis,” ujar eks kiper Madrid dan timnas Spanyol yang melatih Casillas di La Fábrica, Paco Buyo, dikutip Wilson. Alhasil, pada akhir November 1997 Casillas sudah dipanggil ke tim senior Real Madrid. Usianya masih 16 tahun dan bahkan belum resmi masuk Real Madrid C lantaran ia masih menyelingi titian kariernya dengan pendidikan SMA di Instituto Cañaveral de Móstoles. Casillas, sebagaimana dimuat laman UEFA , 9 Februari 2019, mengenang momen itu. Jelang pemanggilan itu, Casillas dan teman-temannya tengah larut dalam obrolan tentang Madrid. Tiba-tiba kepala sekolah (kepsek) masuk ke ruangan kelasnya dan meminta Casillas segera menyusul ibunya ke Bandara Madrid-Barajas. “Itu sebuah anekdot yang bagus. Pak kepsek bilang, ‘Iker, kamu sebaiknya cepat panggil taksi dan bergegas ke (bandara) Barajas karena Real Madrid baru saja menelepon ibumu dan ibumu menelepon kami. Segeralah kamu pergi karena kamu akan ke Norwegia’,” ungkap Casillas mengingat momen dadakan jelang laga Liga Champions kontra Rosenborg itu. Pemanggilan Casillas itu atas permintaan entrenador Jupp Heynckes. Pasalnya kala itu kiper utama Bodo Illgner dan kiper kedua Santiago Cañizares tengah cedera. Casillas dibutuhkan sebagai kiper cadangan untuk melapisi kiper Madrid lainnya, Pedro Contreras. Meski akhirnya tak dimainkan, Casillas sudah cukup girang jadi penonton di bangku cadangan. “Saya bisa berada di tempat yang sama dengan Fernando Morientes, Clarence Seedorf, Fernando Sanz, Predrag Mijatović, Davor Šuker, dan Raúl González. Suatu hal yang magis dan akan selalu saya ingat,” tambahnya. Penampilannya yang top markotop di final Liga Champions 2002 memastikan posisinya sebagai portero permanen Madrid seterusnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Usai lulus SMA, Casillas full menseriusi kariernya di Real Madrid C pada 1998, kemudian Real Madrid B sebagai kiper utama, hingga menembus tim utama Madrid. Debutnya di tim utama berlangsung pada 12 September 1999, kala Madrid bertandang ke Stadion San Mamés untuk menghadapi Athletic Bilbao di pentas La Liga. Tiga hari berselang, Casillas mencatatkan rekor sebagai pemain termuda di Liga Champions (18 tahun, 177 hari) kala dibawa pelatih Toshack meladeni Olympiakos Piraeus. Namun yang menjadi titik penting kariernya di Los Blancos adalah final Liga Champions musim 2001-2002 kontra Bayer Leverkusen di Stadion Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, 15 Mei 2002. Kala itu Casillas masuk di menit ke-68 menggantikan César Sánchez yang cedera. “Ia dengan reflek-reflek cepat dan penyelamatan-penyelamatannya yang tangkas, serta kecerdasannya untuk membaca antisipasi pemain lawan, membantu Madrid mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Sejak saat itu posisinya di bawah mistar tim utama Madrid menjadi permanen,” singkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorit Sport. Habis karier manis Casillas, sepah dibuang Real Madrid yang rasanya sakit tapi tak berdarah (Foto: realmadrid.com ) Sejak itulah nama Casillas senantiasa terpampang di starting eleven tiap laga Madrid, hingga mencetak 700 penampilan. Tak terhingga pula penghargaan pribadi yang ia sabet. Kegemilangan Casillas sempat bikin celamitan klub-klub kaya di Inggris dengan niat meminangnya. Beruntung, Casillas yang rupawan pilih setia pada Madrid. Sialnya, loyalitas Casillas justru dibalas Madrid dengan pembuangan. Pembuangan itu memang bukan tanpa alasan. Sejak 2013, penampilan Casillas mulai tak stabil setelah cedera parah. Akibatnya entrenador José Mourinho dan penggantinya, Carlo Ancelotti, memilih kiper lain ketimbang Casillas selepas ia pulih. Perlakuan Madrid melego Casillas ke FC Porto pada 11 Juli 2015 itu mendatangkan banjir kecaman. Sebaliknya, Casillas kebanjiran simpati. Salah satunya dari kiper legendaris Italia Gianluigi Buffon. “Anda akan selalu menjadi ikon Real Madrid. Tapi di atas itu semua, Anda adalah salah satu representasi terbaik seorang kiper. Semoga beruntung dalam petualangan baru, akan sangat aneh melihat Anda dengan seragam lain. Semangat Iker!” kata Buffon dinukil Marca , 13 Juli 2015.
- Dokter Pribumi Menolak Diskriminasi Gaji
ABDUL Rivai kesal. Kualifikasi medis lokalnya hanya memungkinkan untuk mendaftar di posisi rendah dalam layanan medis kolonial. Gaji yang ia dapat bahkan kurang dari setengah gaji rekan-rekan Eropanya. Ia pun memprotes kebijakan diskriminatif pada dokter pribumi. Protes soal gaji juga pernah diutarakan dokter Tjipto Mangunkusumo. Tjipto tak hanya memprotes soal gaji dokter pribumi, tetapi juga gaji mantri Jawa. Protes gaji mantri dilakukan Tjipto saat dia dan dokter Eropa JT Terburgh, dibantu sepuluh mantri, ditugaskan menangani epidemi malaria yang melanda Jawa. Para mantri rupanya dibayar amat rendah. Mereka mengeluhkan hal itu pada Tjipto sebagai dokter pribumi sekaligus atasan mereka. Begitu mendengar hal itu, Tjipto langsung melapor ke pejabat Eropa setempat. Terburgh menyanggah Tjipto dengan mengatakan para mantri Jawa hanya mau bekerja jika dibayar di atas standar upah. Lebih jauh Terburgh menuduh Tjipto dan para mantri Jawa tidak paham dengan kerja kemanusiaan. Jelas saja Tjipto tidak terima dengan tuduhan itu. Pasalnya, ia merupakan salah satu dokter yang berani masuk ke kampung-kampung kala pes mewabah di Jawa Timur sementara para dokter Eropa ogah turun tangan. Tjipto pun mengancam akan mengundurkan diri kalau permintaan kenaikan gaji tidak dikabulkan. Benar saja, Tjipto mengundurkan diri ketika Terburgh menolak protesnya. Penilaian tentang dokter pribumi lulusan negeri jajahan lebih rendah dari lulusan Eropa membuat pemerintah kolonial menggaji mereka setengah atau lebih rendah dari para dokter Eropa. Para dokter pribumi juga ditempatkan di pedalaman atau bagian medis di mana dokter Eropa ogah menempati. Hans Pols dalam Nurturing Indonesia menyebut, penjajah Eropa umumnya berangggapan bahwa dokter dan pribumi terpelajar lain sebagai orang yang terlalu ambisius dan lupa akan tempatnya di sistem kolonial. Para dokter Eropa sangat memusuhi mereka, meski sebenarnya mereka sangat terbantu dengan kehadiran dokter pribumi. Pengalaman diskiminatif dan penyingkiran inilah yang memantik kesadaran politik para dokter pribumi. Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dengan gerakan nasionalis, semisal Tjipto, Bahder Djohan, dan Abul Rivai yang selain melancarkan protes soal diksriminasi gaji juga aktif dalam gerakan politik. Protes soal diskriminasi gaji mereka utarakan lewat Asosiasi Dokter Hindia ( Vereeniging van Inlandsche Geneeskundingen, VIG) yang beridiri pada 1911. Resistensi terus tumbuh hingga mereka didukung oleh Sarekat Islam. Beberapa cabang mendukung usulan aksi mogok para dokter Jawa. Protes itu akhirnya didengar pemerintah kolonial. Pada minggu kedua November 1919, pemerintah mengirim banyak proposal anggaran 1920 ke Volksraad. Isinya antara lain mengenai usulan anggaran 1920, usulan dewan kabupaten, dan prinsip sistem remunerasi baru, dan proposal tentang kenaikan gaji untuk dokter di Hindia. Langkah Dewan Rakyat menaikkan gaji dokter pribumi berhasil meredakan gelombang protes. Dewan Rakyat juga meminta pemerintah untuk mengubah jumlah kenaikan gaji tahunan dan penggantian biaya perjalanan. Namun, rupanya kenaikan itu tak signifikan. Ketika Bahder Djohan lulus dari STOVIA dan menjadi dokter pada 1927, gaji dokter pribumi masih setengah dari gaji dokter Eropa. Sebagai Indische Arts, gaji Bahder hanya 250 gulden sebulan, sedangkan teman Belandanya mendapat 500 gulden meskipun keahlian dan diplomanya sama. Padahal, Bahder memegang banyak pekerjaan. Ia bertanggung jawab atas dua bangsal: III dan IV. Tiap bangsal dihuni 10-15 pasien. Belum lagi ketika ada pasien TBC atau lepra yang datang, dialah yang harus menangani. Gaji yang sedikit itu bahkan tidak cukup untuk membayar langganan jurnal medis Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (GTNI) yang cukup mahal. Kepincangan itu juga dialami rekan sejawat Bahder yang pribumi. “Hal ini terang sekali memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membedakan antara bangsanya sendiri dangan anak jajahannya meskipun memiliki pendidikan dan pekerjaan yang sama,” kata Bahder dalam otobiografinya, Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Menurut Bahder, masalah kepincangan gaji merupakan bentuk diskriminasi nyata di depan mata dan mencerminkan bagaimana pemerintah kolonial memandang petugas medis pribumi. Lebih jauh ia mengatakan, persoalan ini bukan semata soal uang, melainkan apresiasi kerja dan martabatnya.
- Mata-Mata Pembunuh Sultan Demak
Pada suatu hari di tahun 1549. Raja Jipang Arya Penangsang memberikan perintah kepada Ki Rangkud, seorang kajineman (telik sandi, mata-mata, atau polisi rahasia). "Hai Rangkud. Bunuhlah Kakanda Pangeran Prawata. Pakailah keris pusakaku ini." Ki Rangkud menyanggupi, menerima keris pusaka bernama Kyai Setan Kober, lalu berangkat. Ketika dia sampai di Demak, Sunan Prawata sedang sakit dan bersandar pada permaisurinya. "Siapakah kau ini?" tanya Sunan Prawata. Ki Rangkud menyampaikan maksud kedatangannya. "Saya utusan Pangeran Arya Penangsang, disuruh membunuh tuanku." "Silakan, tetapi biarlah aku sendiri saja yang kau bunuh," kata Sunan Prawata. Ki Rangkud menusukkan keris Kyai Setan Kober ke dada Sunan Prawata yang juga melukai istrinya. Sunan Prawata murka, mencabut kerisnya, Kyai Bethok, lalu melemparkannya ke Ki Rangkud. "Kulit Rangkud tergores sedikit (menurut Serat Kandha : kakinya). Tetapi, goresan sebuah keris sakti cukup membuat penjahat itu tewas. Sunan Prawata dan permaisurinya pun tewas," tulis H.J. de Graaf, ahli sejarah Jawa, dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati . Cerita pembunuhan Sunan Prawata itu terdapat dalam Babad Tanah Jawi . Menurut De Graaf, saudara perempuan Sunan Prawata, Ratu Kalinyamat, tidak tinggal diam atas pembunuhan kakaknya. Dia dan suaminya, Pangeran Kalinyamat, menghadap Sunan Kudus untuk meminta pelakunya diadili, karena Sunan Kudus adalah guru Arya Penangsang. Dalam perjalanan pulang, keduanya diserang oleh para kajineman Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat terbunuh. Setelah itu, Ratu Kalinyamat bertapa di Gunung Danareja, dalam keadaan telanjang, hanya rambutnya yang terurai menjadi pakaiannya. Dia bersumpah tidak akan memakai kain sebelum Arya Penangsang mati. Dia juga akan mengabdi dan memberikan semua hartanya kepada siapa saja yang dapat membunuh Arya Penangsang. Dendam dan Kekuasaan De Graaf menguraikan bahwa Sultan Demak pertama, Raden Patah, digantikan oleh putranya yang tertua, Pangeran Sabrang Lor. Dia mati pada 1521 dalam usia muda dan tidak memiliki anak. Yang seharusnya menggantikannya adalah putra Raden Patah berikutnya, Pangeran Seda Lepen. Namun, malah digantikan oleh adiknya, Raden Trenggana, yang memegang kekuasaan sampai terbunuh pada 1546. Dia digantikan oleh putranya, Pangeran Prawata. Pangeran Seda Lepen dan putranya, Arya Penangsang, sakit hati karena hak mereka dilangkahi. Kemarahan Arya Penangsang memuncak ketika mengetahui bahwa sebelum menjadi sultan Demak, Pangeran Prawata memerintahkan Surayata untuk membunuh ayahnya, Pangeran Seda Lepen. Jadi, Sunan Prawata bukan hanya merebut kekuasaan, yang menurut hak harus diwariskan kepada Arya Penangsang, tetapi juga menyuruh orang membunuh ayahnya. "Maka, mudah dimengerti jika sejak itu Arya Penangsang akan menggunakan jalan apa pun, tidak hanya untuk membalas dendam, tetapi juga merebut kekuasaan," tulis De Graaf. Oleh karena itu, Arya Penangsang berusaha menghabisi keturunan dan kerabat Sultan Trenggana. Setelah berhasil membunuh Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat, dia berusaha membunuh Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggana. Arya Penangsang mengirim empat orang kajineman untuk membunuh Jaka Tingkir. Mereka berusaha menikam Jaka Tingkir yang sedang tidur. Jaka Tingkir menyingkapkan dodot -nya (pakaian panjang yang dipakai para raja yang juga digunakan sebagai selimut tidur) sehingga membuat mereka terjatuh. Jaka Tingkir mengampuni mereka bahkan memberinya uang (masing-masing 15 rial) dan pakaian. Kemungkinan Jaka Tingkir sengaja membiarkan mereka hidup agar menjadi pesan bagi Arya Penangsang. Setelah menerima laporan kegagalan kajineman , Arya Penangsang merasa khawatir. Dia meminta Sunan Kudus memanggil muridnya, Jaka Tingkir. Jaka Tingkir memenuhi panggilan itu. Arya Penangsang dan Jaka Tingkir sempat saling menghunus keris. Namun, Sunan Kudus menasihati dan menyuruh mereka pulang. Jaka Tingkir juga pernah akan dibunuh oleh kajineman karena mengambil istrinya. Dia memintanya kepada Ratu Kalinyamat untuk dijadikan selir. "Adimas, jangankan dua puteri itu, negara Kalinyamat dan Prawata dan kekayaanku semua kuberikan. Asalkan kamu memenuhi permintaanku." "Mbakyu, jangan khawatir sampeyan. Arya Jipang mesti mati oleh saya," kata Jaka Tingkir. "Baik, Adimas, siapa yang kupercaya lagi selain dirimu?" Kajineman yang istirnya dibawa Jaka Tingkir tak terima. Dia bersama teman-temannya menyerang Jaka Tingkir yang sedang tidur. Namun, tidak mempan. Jaka Tingkir bangun dan mengampuni mereka. Kajineman pun merelakan istrinya. Jaka Tingkir menepati janjinya kepada Ratu Kalinyamat. Dia berhasil membunuh Arya Penangsang. Kerajaan Demak pun berakhir setelah Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaannya ke Pajang. * Tulisan ini direvisi pada 23 Februari 2020 .
- Galuh, Kekuatan di Timur Tatar Sunda
Pada abad ke-7, Kerajaan Tarumanegara (abad ke-4 sampai abad ke-7), salah satu kerajaan Hindu-Budha tertua di Nusantara, resmi kehilangan kuasa atas Tatar Sunda. Tarumanegara masa pemerintahan Raja Tarusbawa (669-670 M) tidak lagi dapat meredam konflik di dalam kerajaannya yang semakin meluas. Rakyat pun dilanda kecemasan. Namun keadaan tersebut tidak benar-benar buruk. Bagi kerajaan-kerajaan vasal (taklukan) Tarumanegara, konflik itu merupakan kesempatan untuk memerdekakan wilayahnya. Seperti yang dilakukan penguasa Kendan, Wretikendayun, pada abad ke-7. Upaya pemisahan diri itu berhasil ia lakukan tanpa menimbulkan konflik dengan penguasa Tarumanegara. Begitu Tarumanegara hancur sepenuhnya, Wretikendayun menolak ikut ambil bagian dalam pembangunan kerajaan baru pengganti Tarumanegara. Bersama para pengikutnya, Wretikendayun mendirikan kerajaan baru. Karena daerah Kendan tidak memadai untuk pendirian pusat pemerintahan, ia pun memindahkan pemerintahannya ke daerah Karangkamulyan, (Ciamis sekarang). Pada 669, berdirilah kerajaan Galuh sebagai lanjutan dari pemerintahan Kendan, dengan raja pertamanya Wretikendayun. Sementara itu, menurut Mumuh Muhsin Z dalam Ciamis atau Galuh , di bekas wilayah kerajaan Tarumanegara juga didirikan pemerintahan baru bernama Kerajaan Sunda. Di bawah kuasa Tarusbawa, Sunda berperan penting melanjutkan politik Tarumanegara, dengan menjalankan pemerintahan di bekas daerah yang ditinggalkan. Baik Sunda maupun Galuh sama-sama memegang pengaruh besar di Tatar Sunda. “Jadi Galuh dan Sunda lahir secara bersamaan,” kata Sejarawan Budiansyah kepada Historia . Demi menjaga keamanan di kedua kerajaan tersebut, Wretikendayun dan Tarusbawa sepakat melakukan perundingan untuk menentukan batas kekuasaan masing-masing. Mereka, kata Budiansyah, sampai pada kesepakatan bahwa Sungai Citarum menjadi batas pemisah antara kedua kerajaan yang terlahir dari kehancuran Tarumanegara itu. “Citarum ke arah timur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh, lalu dari Citarum ke arah barat menjadi milik Kerajaan Sunda,” katanya. Kekuasaan di Galuh Salah satu sumber yang banyak memberikan informasi terkait Galuh adalah sebuah naskah yang dibuat pada akhir abad ke-16, yakni Carita Parahiyangan. Dalam Tjarita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi , disebutkan bahwa seorang raja bernama Sena pernah berkuasa di Galuh. Kekuasaannya itu lalu digantikan oleh kemenakannya, Sanjaya. Proses naiknya Sanjaya ke takhta tertinggi Galuh ini pernuh dengan konflik. Ia diketahui berselisih dengan pamannya (saudara seibu Sena), Rahyang Purbasora, yang berusaha menguasai Galuh dari tangan Sena. Setelah berhasil bertakhta, Purbasora mengasingkan Sena bersama keluarganya ke Gunung Merapi. Menurut Nugroho Notosusanto, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid II , Gunung Merapi yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan bukan gunung yang terletak di Jawa Tengah sekarang, tetapi sebuah bukit bernama Merapi yang terletak di daerah Kuningan, Jawa Barat. Hal itu didasarkan pada penamaan tempat di Carita Parahiyangan yang umumnya menggunakan nama tempat di wilayah Sunda bagian timur. “Oleh karena itu, berangkali dapat diajukan keberatan atas usaha yang pernah dilakukan untuk ‘memindahkan’ panggung peristiwa masa itu ke daerah Jawa Tengah seluruhnya,” tulis Notosusanto. Sanjaya sendiri ikut dalam pengasingan bersama Sena. Setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya yang berdiam di Denuh. Carita Parahiyangan kemudian mengisahkan kemenangan Sanjaya dalam merebut kekuasaan dari Rahyang Purbasora. Ia lalu mengangkat dirinya menjadi raja di Galuh. Bertahta pada pertengahan abad ke-8. Keberadaan Galuh sempat lama hilang. Hal itu terjadi karena sedikitnya sumber yang membahas tentang kerajaan ini. Barulah pada abad ke-11, melalui Prasasti Sanghyang Tapak, berangka tahun 1030 M, nama Galuh kembali muncul. Prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi ini menyebut nama Maharaja Sri Jayabhupati yang berkuasa di daerah bernama Prahajyan Sunda. Berdasar penelitian sejarawan Nugorho Notosusanto, dkk, diketahui bahwa tokoh Sri Jayabhupati ini sama dengan Rakeyan Darmasiksa (1033-1183) yang diceritakan dalam Naskah Carita Parahiyangan sebagai Raja Galuh. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa ini pusat pemerintahan Galuh berada di wilayah bernama Prahajyan. “Tentang apa sebabnya Rakeyan Darmasiksa dapat cukup lama memerintah, yaitu karena ia memperoleh berkah dari para pendeta yang berpegang teguh kepada milik asli Sunda, yaitu Sanghyang Darma dan Sanghyang Siksa,” ungkap Notosusanto. Galuh-Sunda Bersatu Rupanya antara Galuh dengan Sunda tidak selalu terlibat dalam konflik. Menurut Budimansyah, antara Sunda dan Galuh pernah bersatu menjadi kerajaan tunggal. Bukan hanya sekali tetapi dua kali, yakni pada masa pemerintahan Maharaja Sanjaya (723-732 M), dan masa Prabu Jayadewata dengan gelar Sri Baduga Maharaja (1482-1521). Kedua kerajaan besar di Tatar Sunda ini dipersatukan melalui jalan pernikahan. “Galuh dan Sunda adakalanya dipersatukan melalui jalan pernikahan putra dan putri mahkota. Untuk nama kerajaan yang dipilih adalah Sunda,” ucap Budimansyah. Terbentuknya kerajaan Sunda-Galuh pada masa Sanjaya terjadi ketika sang raja memperistri putri Raja Sunda Tarusbawa. Sanjaya lalu mendapat gelar Tohaan (Yang Dipertuan) di Sunda. Bergabungnya Sunda ke Galuh memberi keuntungan yang besar bagi keduanya. Mereka sama-sama melebarkan pengaruh sehingga kekuasaannya dapat mencakup wilayah Tatar Sunda yang begitu luas. Sementara pada proses penggabungan yang kedua, Galuh sudah memerintah dari wilayah Kawali, Ciamis. Pusat Pemerintahan Terakhir Berdasar keterangan dalam Carita Parahiyangan , daerah Kawali, Ciamis menjadi pemberhentian terakhir para penguasa Galuh. Menurut Notosusanto, keterangan mengenai pada zaman pemerintahan siapa pusat pemerintahan Galuh dipindah ke Kawali, tidak dapat dipastikan dengan jelas. Namun menurut prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar kawasan Kawali diketahui bahwa pada masa pemerintahan Prabu Raja Wastu (Niskala Wastu Kancana) pusat kuasa Galuh telah berada di Kawali. Ia membangun sebuah kraton yang dikenal sebagai Kraton Surawisesa. “Ia mengharapkan agar orang-orang yang datang kemudian berbuat kebajikan sehingga dengan demikian dapat hidup lama dan berbahagia di dunia. Pengharapan seperti itu ternyata juga dapat ditemukan dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis tahun 1518 Masehi,” tulis Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat . Prabu Raja Wastu pada prasasti Kawali ini adalah tokoh yang sama dengan nama Rahyang Niskala Wastu Kancana pada prasasti Batutulis dan Kebantenan. Ia dikenal sebagai kakek dari penguasa Sunda, Sri Baduga Maharaja. Dari informasi tersebut dapat diketahui bahwa Niskala Wastu Kancana menjalankan pemerintahannya di Kawali. Sebelum akhirnya digantikan oleh putranya, Rahyang Ningrat Kancana (Rahyang Dewa Niskala). Dalam Carita Parahiyangan , Rahyang Ningrat Kancana disebut sebagai “Tohaan di Galuh” (Yang Dipertuan di Galuh). “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampai pada masa pemerintahannya, pusat Kerajaan Sunda masih terletak di Gauh, tepatnya di sekitar kota Kawali sekarang,” tulis Notosusanto. Ketika masa pemerintahan Prabu Jawadewata, Kerajaan Sunda dan Galuh telah bersatu. Kerajaannya menjadi satu dari sedikit pemerintahan Hindu-Budha yang masih bertahan di tengah kepungan pengaruh Islam. Demi menjaga ajaran Hindu-Budha tetap lesatri, Prabu Jayadewata kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Kawali ke Pakuan Pajajaran (di wilayah Bogor sekarang). Kerajaan itu dikenal sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran. Kekuasaannya berjalan hingga 1579, sebelum akhirnya hancur oleh serangan pasukan Islam.
- Ketika Soebandrio Diancam John F. Kennedy
Suasana “panas” meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, Amerika Serikat. Perang urat syaraf berlaku antara Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio dengan Duta Besar Belanda untuk PBB Herman van Rooijen. Keduanya merupakan ketua delegasi negara masing-masing dalam merundingkan sengketa Irian Barat (kini Papua). Pertemuan tersebut adalah lanjutan dari perundingan yang telah dihelat beberapa hari sebelumnya di kota Middleburg. “Tanggal 25 Juli 1962, van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Irian Barat. “Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia.” Saat itu Soebandrio berhalangan datang ke tempat perundingan netral yang sedianya dilangsungkan di Middleburg. Soalnya, Soebandrio sedang dalam pemulihan pasca operasi infeksi kaki sehingga megalami kesulitan saat berjalan.
- Bukti Sejarah Kerajaan Galuh
Budayawan Betawi Ridwan Saidi kembali membuat geger. Setelah sebelumnya menyebut Sriwijaya fiktif, kali ini giliran kerajaan di Jawa Barat yang disasar. Dalam video unggahan kanal YouTube “Macan Idealis”, Babe, panggilan akrab Ridwan Saidi, menyebut jika di Ciamis tidak ada kerajaan. Menurutnya daerah Ciamis tidak memiliki indikator eksistensi adanya kerajaan, yakni indikator ekonomi. Babe mempertanyakan sumber penghasilan Ciamis untuk pembiayaan kerajaannya, mengingat daerah itu tidak memiliki pelabuhan dagang. Ia juga meragukan sumber-sumber tentang Ciamis yang sudah ditemukan, seperti bekas bangunan dan punden berundak. Hal tersebut, kata Babe, perlu diteliti karena bisa jadi itu bekas bangunan biasa atau hanya Kabuyutan (tempat berkumpul) saja. “Sunda-Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena Galuh artinya ‘brutal’,” ucapnya. Ucapan Babe itu mendapat tanggapan yang beragam. Kalangan masyarakat Sunda, khususnya warga Ciamis, merasa pernyataan itu keliru. Ridwan Saidi dianggap telah menyebarkan informasi yang salah tentang sejarah. Mereka meminta Babe menarik ucapannya dan segera meminta maaf kepada masyarakat Ciamis. Namun pada unggahan lain (14 Februari 2020), Ridwan Saidi mencoba mengklarifikasi ucapannya tentang sejarah Ciamis dan kerajaan Galuh. Ia membuka percakapan di dalam video tersebut dengan permintaan maaf atas kegaduhan yang dibuatnya. “Saya tidak bermaksud membuat sensasi sejarah, tapi rekonstruksi sejarah. Kalau ini membuat heboh sementara pihak ya saya minta maaf, karena memang begitulah perjuangan untuk merekonstruksi sejarah dalam rangka persatuan Indonesia dan dalam rangka memotivasi generasi baru untuk maju ke depan menghadapi tantangan zaman,” ucapnya. “Tetapi terus terang, kutipan dari (kamus) Armenian-English itu ga bisa saya ubah,” lanjut Ridwan Saidi. “Mengenai arti Galuh itu.” Lantas apakah ucapan Ridwan Saidi tentang Galuh itu benar adanya? Membuktikan Keberadaan Galuh Pada 1970-an, para sejarawan yang tergabung dalam Tim Peneliti Sejarah Galuh berhasil mengumpulkan informasi terkait kedudukan Galuh dalam narasi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam laporan tahun 1972, Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah , tim peneliti tersebut berhasil mengumpulkan nama-nama kerajaan yang masih berkaitan dengan Galuh. Menurut Mumuh Muhsin Z, dalam Ciamis atau Galuh, kata “ galuh” secara bahasa mengandung tiga makna. Pertama, kata galuh berasal dari bahasa Sansekerta galu , yang berarti “permata yang paling baik”. Kedua, kata galuh berasal dari kata aga , berarti “gunung” dan lwah, berarti “bengawan, sungai, laut”. Ketiga, kata galuh bisa dimaknai juga galeuh (bahasa Sunda) yang berarti “bagian di dalam pohon yang paling keras”. "Arti-arti kata tersebut jelas sangat simbolis dan sarat muatan makna yang sangat dalam,” ucap sejarawan dari Universitas Padjadjaran itu. Ada lebih dari 10 nama kerajaan yang terkait dengan Galuh. Lokasinya pun tidak hanya di Jawa Barat sebagai daerah yang diyakini sebagai wilayah kekuasaan kerajaan Galuh. Berikut beberapa di antaranya: Kerajaan Galuh Sindula, berlokasi di Lakbok, ibukota Medang Gili; Kerajaan Galuh Rahyang, berlokasi di Brebes, ibukota Medang Pangramesan; Galuh Kalangon, berlokasi di Roban, ibukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean, berlokasi di Cilacap, ibukota Medang Kamulan; Galuh Pakuan, ibukota di Kawali; Galuh Kalingga, Galuh Tanduran, dan sebagainya. Berdasar informasi tersebut para peneliti meyakini jika Galuh adalah sebuah kerajaan dengan ibukota yang berpindah-pindah. Mereka tidak menetap di satu wilayah saja. Sejalan dengan itu, Nugroho Notosusanto dan para peneliti sejarah, dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid II , juga menyebut Galuh sebagai pusat kerajaan yang berpindah. “… maka nama Galuh, Pakuan Pajajaran, atau Pajajaran kemungkinan besar adalah nama pusat kerajaan yang telah mengalami perpindahan beberapa kali,” tulis Notosusanto. Hasil penelusuran Notosusanto juga mendapati bahwa secara umum kerajaan di Jawa bagian barat, selepas runtuhnya kekuasaan Tarumanegara, hanya ada satu sebutan, yakni Sunda. Namun nama tersebut tidak terikat oleh satu kerajaan semata. Informasi itu didapat dari berbagai sumber, mulai dari prasasti, naskah, catatan perjalanan, dan keterangan bangsa asing yang pernah mengunjungi Tatar Sunda. Prasasti tertua yang mengungkap hal tersebut adalah prasasti Rakryan Juru Pangambat, berangka tahun 932 Masehi, ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor. Prasasti lainnya ada Sang Hyang Tapak dan Sang Hyang Tapak II, berangka tahun 1030 Masehi. Sedangkan Carita Parahiyangan (akhir abad ke-16) menyebut Sunda sebagai nama kawasan. Berita Cina, dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , pada zaman dinasti Ming juga menyebut adanya penguasa bernama Sun-la . “Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah Jawa Barat sebenarnya umum dikenal dengan nama Sunda. Sedang nama-nama lain yang berhubungan juga dengan daerah ini adalah nama pusat kerajaan atau ibukota. Misalnya Galuh yang berkali-kali disebutkan dalan Carita Parahiyangan,” ungkap Notosusanto. Sementara sejarawan Sunda Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat , mengungkapkan jika penyebutan nama kerajaan di dalam sumber sejarah bisa saja berubah-ubah. Terutama karena adanya kebiasaan dari negara-negara di Asia Tenggara untuk menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya. “Jadi kalau sebuah sumber menyebut nama kerajaan Galuh, itu bisa berarti kerajaan Sunda yang beribukota di Galuh,” ucapnya. Berdirinya Kerajaan Galuh Untuk membuktikan secara historis kapan kerajaan Galuh berdiri, keberadaan prasasti dan berita-berita sezaman amat penting. Ada beberapa prasasti yang memuat informasi mengenai Galuh, meski sebagian ditemukan tanpa penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, seorang raja bernama Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam prasasti Siman, berangka tahun 943, terdapat nama Galuh yang berkuasa atas sebuah wilayah. Sementara pada naskah Carita Parahiyangan, dalam Carita Parahiyangan: Naskah Tititlar Karuhun Urang Sunda abad ka-16 , kisah tentang kerajaan Galuh dimulai ketika era politik kerajaan Tarumanegara di Tatar Sunda berakhir. Ketika para penguasa bekas Tarumanegara mendirikan Sunda, beberapa orang menolak bergabung. Di bawah pimpinan Wretikendayun, mereka pun akhirnya mendirikan kerajaan yang kemudian berpusat di Galuh (Ciamis) pada abad ke-7. Menurut sejarawan Sunda Budimansyah, Wretikendayun dan penerus kerajaan Tarumanegara, Trarusbawa, sepakat membagi wilayah Tatar Sunda menjadi dua bagian dengan batas kekuasaan di Sungai Citarum. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan kedua kerajaan itu dari pertikaian dan kepentingan politik lainnya. “Citarum ke arah timur, sampai Ciserayu di selatan dan Cipamali di utara, menjadi wilayah kerajaan Galuh. Lalu dari Citarum ke arah barat menjadi wilayah kerajaan Sunda. Jadi Galuh dan Sunda (Pakuan Pajajaran) lahir secara bersamaan,” ucap Budiansyah kepada Historia . Di dalam naskah Carita Parahiyangan juga diceritakan tentang raja-raja yang pernah berkuasa di Galuh. Termasuk intrik yang terjadi antara para penguasa Galuh. Seperti cerita tentang Raja Sena, penguasa ke-4 Galuh yang dikalahkan oleh Rahyang Purbasora, saudaranya sendiri. Akibatnya Sena diasingkan ke Gunung Merapi bersama keluarganya. Beberapa tahun kemudian penerus Sena, Sanjaya, berhasil membalaskan dendam pendahulunya. Nama Galuh sebagai pusat kerajaan disebut berkali-kali dalam Carita Parahiyangan. Nama-nama tempat yang disebutkan di naskah ini juga umumnya terletak di Jawa Barat bagian timur, yang merupakan wilayah Galuh sesuai perjanjian dengan penerus Tarumanegara. Jadi, kata Nina, dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-8 M pernah ada Raja Sanjaya yang berkuasa di Galuh.
- Witan Sulaeman dan Mula Sepakbola Serbia
EROPA Timur lagi-lagi jadi tujuan pesepakbola Indonesia merintis karier. Setelah Egy Maulana Vikri di Polandia (Lechia Gdańsk), kini ada Witan Sulaeman yang mencoba peruntungannya di Serbia. Sejak 11 Februari 2020, Witan, jebolan PSIM Yogyakarta cum gelandang Timnas Indonesia U-19, dikontrak klub papan tengah Superliga Serbia FK Radnik Surdulica dengan masa percobaan enam bulan. Bila penampilan Witan di klub yang didirikan pengusaha sepatu Gradimir Antić itu bagus, ia berpotensi mendapatkan penambahan durasi kontrak tiga tahun. “Witan akan bergabung di tim utama Radnik. Semoga ini jalan yang terbaik. Dia harus bekerja keras dan mengambil kesempatan ini dengan cara terbaik,” kata Dusan Bogdanovic, agen Witan, sebagaimana dikutip Kumparan , 11 Februari 2020. Namun selain kerja keras dan skill mumpuni, Witan juga mesti punya mental baja untuk bisa sukses. Eropa Timur pada umumnya dan Serbia khususnya, dikenal sebagai negeri yang subur bagi rasisme. Egy sendiri pernah mengalaminya di Polandia pada Maret 2018 dan sukses melaluinya. “Saya pikir dengan Egy berani masuk ke Eropa Timur, dia mestinya sudah siap mental. Karena di Eropa, khususnya Eropa Timur, masyarakatnya terdiri dari banyak bangsa,” ujar Timo Scheunemann, mantan pelatih klub Liga Indonesia berdarah Jerman, kepada Historia medio Maret 2018. “(Rasisme) berakar dari konflik yang pernah terjadi, baik Perang Dunia I, II maupun perang-perang sebelumnya. Apalagi yang notabene Eropa Timur, di mana pendidikan kebanyakan masyarakatnya masih di bawah negara-negara Eropa Barat,” tambah pria yang kini tengah menemani tim Garuda Select di Inggris sebagai penerjemah. Bola Sepak dari Mahasiswa Yahudi Meski usianya nyaris seabad(didirikan tahun 1926), FK Radnik yang berbasis di kota Surdulica bukan perkumpulan sepakbola pertama Serbia. Klub sepakbola pertama yang teroganisir di Serbia bernama Bácska Szabadkai Athletikai Club (kini FK Bačka), berdiri pada 3 Agustus 1901. Bácska berbasis di Subotica, kota perbatasan utara negeri itu dengan Astro-Hungaria. Maka namanya pun berbau Hungaria. Klub itu lalu terdaftar di otoritas olahraga Kekaisaran Austria-Hungaria setelah wilayah Subotica diduduki. Perkumpulan olahraga Soko di Beograd pada 1912, di mana klub ini jadi yang pertama memainkan sepakbola di Serbia sejak 1896 Sepakbola sendiri pertamakali diperkenalkan ke Kerajaan Serbia oleh mahasiswa berdarah Yahudi, Hugo Buli yang dijuluki “Bapak Sepakbola Serbia”. Dipaparkan Dejan N. Zec dalam risetnya “The Origins of Soccer in Serbia: Serbian Studiesvolume 24” yang dimuat di On the Very Edge: Modernism and Modernity in the Arts and Architecture of Interwar Serbia (1918-1941) , Hugo Buli adalah pelajar asal Beograd dari keluarga saudagar dan bankir Yahudi nan kaya dan mengenyam pendidikannya di Berlin. Saat bersekolah di Berlin itulah ia mengenal sepakbola. Ia lantas bermain di klub BFC Germania yang berbasis di Distrik Tempelhof kurun 1892. Sepulangnya dari Jerman, ia memperkenalkan sepakbola ke perkumpulan olahraga Soko pada 1896. “Dia seorang yang antusias terhadap sepakbola dan merasa punya misi mengenalkannya ke publik di Serbia. Setelah kembali dari Jerman, dia menggelar pertandingan persahabatan antara dua tim yang berisi teman-temannya dan para atlet perkumpulan Soko pada 19 Mei 1896 di salah satu taman di Beograd, setelah lebih dulu memberi briefing singkat tentang aturan main sepakbola,” ungkap Zec. Kendati laga itu diliput banyak wartawan, publik Serbia belum banyak yang kepincut permainan 22 pria berebut sebutir bola itu. Para penonton yang belum paham betul permainan si kulit bundar heran mengapa permainan itu hanya boleh dimainkan dengan kaki. “Meski begitu, Buli dan perkumpulan Soko terus mempromosikan olahraga anyar itu dan beberapa tahun kemudian, tim amatir pertama didirikan. Pada 1899, anggota-anggota Soko: Buli, Mihajlo Živadinović, Bernar Robiček, Velizar Mitrović, Marko Milutinović, dan Blaža Barlovac, membentuk Prvo srpsko društvo za igru loptom (perkumpulan Serbia pertama yang bermain sepakbola),” lanjut Zec. Namun kesebelasan itu sekadar perkumpulan di bawah naungan Soko, bukan klub sepakbola yang berdiri sendiri. Maka ia tak bisa dihitung sebagai klub tertua Serbia . Hugo Buli, "Bapak Sepakbola Serbia" yang nahasnya tewas di kamp konsentrasi Nazi di Beograd pada 1941 (Foto: geni.com/yadvashem.org ) Klub yang didirikan Buli cs. itu tak didukung pemerintah kerajaan. Akibatnya, sepakbola berkembang lambat. Tapi sepakbola menarik minat beberapa pihak yang lantas turut mendirikan klub, meski tetap bernaung di bawah perkumpulan olahraga lain laiknya Soko. Selain FK Bačka pada 1901, klub-klub awal di Serbia yang berdiri adalah Concordia (1903), Šumadija (1904), Srpski mač (1905), Dušan Silni (1908), Vihor, dan Deligrad (1909). “Jelang Perang Dunia I, sepakbola baru tumbuh dengan sangat cepat, baik di Beograd maupun kota-kota lain. Pada 1914 saja angka pesepakbola aktif sudah sekitar tiga ribu pemain yang tersebar di kota-kota seperti Čačak, Leskovac, Sokobanja, Smederevska Palanka, Natalinci, Zaječar, serta Niš. Beogradski Sport Klub (BSK) dan Velika Srbija (keduanya berdiri 1911) kemudian jadi dua klub paling sukses dan populer dalam sejarah Serbia pra-komunis,” sambung Zec. Velika Srbija yang di kemudian hari berubah nama menjadi SK Jugoslavija dan bubar pada 1945, jadi klub pertama yang memenangkan kejuaraan resmi antarklub Serbia, sebuah kejuaraan yang digelar Komite Olimpiade Serbia pada musim semi 1914. Ironisnya, tak lama kemudian Kekaisaran Austria-Hungaria mendeklarasikan perang terhadap Serbia, mengakibatkan roda kegiatan sepakbola Serbia terhenti. Zaman Edan Sepakbola Serbia Hingga Perang Dunia I pecah, Serbia belum sempat mendirikan federasi sepakbola. Kesempatan memiliki federasi sepakbola sendiri hilang karena pasca-Perang Dunia I Serbia jadi bagian Yugoslavia bersama Kroasia, Bosnia, Herzegovina, dan Slovenia. Alhasil, Beogradski loptački podsavez atau Sub-asosiasi Sepakbola Beograd yang berdiri pada 12 Maret 1920, bernaung di bawah FSJ (Asosiasi Sepakbola Yugoslavia). Namun sub-asosiasi Beograd turut membentuk timnas Yugoslavia pertama untuk ikut Olimpiade Antwerp 1920. Sejak 1923, sub-asosiasi Beograd juga turut menyertakan tim-tim Serbia dalam Liga Utama Yugoslavia. Kolase Milovan Jakšić, kiper andalan Timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1930 yang merupakan jebolan klub Soko (Foto: fifa.com ) Geliat sepakbola di Serbia vakum lagi dengan pecahnya Perang Dunia II. Banyak pemainnya tinggal nama, baik karena ikut angkat senjata bersama barisan Partizan dan Chetnik maupun akibat ditahan di kamp konsentrasi Nazi-Jerman. Buli si “Bapak Sepakbola Yugoslavia” salah satunya. Ia dimasukkan ke kamp konsentrasi Topovske Šupe di Beograd pada 1941 dan jadi korban holocaust . Usai Perang Dunia II, para pemain Serbia menjadi tulang punggung timnas Yugoslavia. Mereka turut menikmati rangkaian prestasi medali perak Olimpiade 1948 dan 1952, serta runner-up Piala Eropa 1960 dan 1968. Namun memanasnya situasi politik yang berbuah konflik pada 1990-an membawa sepakbola Serbia memasuki “zaman edan”. Dalam How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menguraikan, pada 1990-an terdapat dua klub paling sengit rivalitasnya yang lazimnya memuncak pada aksi-aksi anarkisme suporter, yakni Red Star Beograd dan Partizan Beograd. Red Star juga berseteru dengan Kroasia. “Orang Kroasia, polisi, tidak ada bedanya. Akan saya habisi mereka semua,” kata Krle, pentolan Ultras Bad Boys, suporter fanatik Red Star, saat ditanya Foer tentang siapa yang paling mereka benci. Suporter Red Star Beograd (kini FK Crvena Zvezda) yang dikenal sangar di seantero Serbia (Foto: crvenazvezdafk.com ) Kroasia mereka benci lantaran Perang Yugoslavia (1991-1999). Sementara, polisi mereka benci lantaran memonopoli kepemilikan klub sepakbola bersama militer. Lucunya, Red Star sendiri dimiliki Kepolisian Serbia, Sementara musuhnya, Partizan Beograd, dimiliki militer. Dua tim sekota inilah yang paling dahsyat rivalitasnya, acap berimbas pada aksi kekerasan di luar stadion. “Fans Partizan pernah membunuh suporter Red Star berumur 15 tahun. Ia sedang duduk di stadion, mereka tembak dadanya. Monster-monster itu membunuh si bocah. Mereka tak tahu batas,” imbuh Krle menguraikan mula perseteruan mereka dengan suporter Partizan. Kejadian itu sekadar puncak gunung es dari “api dalam sekam” rivalitas kedua klub. Kebencian para suporter Red Star yang merupakan kaum nasionalis, sudah mencapai ranah harga diri dan ideologis sehingga menstimulasi aksi fisik saat Yugoslavia memasuki perpecahan. “Tentara melambangkan musuh dari cita-cita mereka. Ideologi tentara komunis menolak gagasan identitas separatis Serbia. Haram bagi soliditas buruh dan kerukunan etnis. Para pengikut Josip Broz Tito yang namanya dipakai untuk kesebelasan tentara (Partizan Beograd), telah membunuh Chetnik, pasukan nasionalis Serbia yang juga telah memerangi Nazi. Red Star pun jadi wadah bagi nasionalis Serbia yang bercita-cita merebut kembali martabat bangsanya,” sambung Foer. Željko ‘Arkan’ Ražnatović, penjahat perang dalam Konflik Balkan cum pentolan kelompok suporter Delije (Foto: dnevnik.ba/fcobilik.co.rs ) Situasi makin runyam karena pemerintah dan aparat keamanan Serbia mendukung suporter-suporter garis keras macam hooligan Inggris itu. Selain Ultras yang beranggotakan campuran dari beragam kalangan, mulai pekerja kantoran hingga mantan tukang pukul dan anggota geng, kelompok yang paling dihormati adalah Delije. Basis suporter ini dikomando Željko ‘Arkan’ Ražnatović, yang dalam Perang Balkan membentuk milisi SDG (Garda Sukarela Serbia). Lewat SDG itulah kelompok Arkan angkat senjata dalam Perang Balkan. Arkan kemudian ditetapkan sebagai penjahat perang karena membantai banyak sipil Bosnia. Saat ini, ketika Serbia telah menjadi negeri sendiri, rasisme di dalam sepakbola tetap bertahan. Sebagaimana dikatakan Coach Timo, rasisme jadi “jalan” lain aksi kekerasan suporter di sana. Di level timnas pun masih acap terjadi. Pada September 2019 dalam Kualifikasi Euro 2020, contohnya. Kala Serbia menjamu Portugal di Stadion Rajko Mitić itu, fans Serbia melancarkan teror rasisme nyaris sepanjang laga kepada para pemain berkulit hitam Portugal. Akibatnya Federasi Sepakbola Serbia didenda 33.250 euro dan dihukum dengan memainkan dua laga kandang berikutnya tanpa penonton. Semoga Witan punya mental sekuat baja seandainya diteror rasisme baik dari suporter lawan maupun suporter FK Radnik itu sendiri.
- Makanan Kaleng Merentang Zaman
PEMERINTAH Prancis mendeklarasikan sebuah sayembara unik pada 1795. Isinya: dicari orang yang mampu mengawetkan makanan. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, yakni uang sejumlah 12.000 franc (setara 167 juta dalam kurs rupiah saat ini). Penggagas hajatan itu adalah Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis terkemuka. Saat itu, Napoleon membutuhkan metode pengawetan makanan untuk menyokong logistik konsumsi pasukannya dalam persiapan menginvasi berbagai negara.
- Israel Nyaris Tenggelamkan Kapal Angkatan Laut AS
RABU (8 Juni 1967) pagi yang tenang di geladak kapal riset dan intelijen maritim AL AS USSLiberty seketika berubah mencekam ketika “tamu tak dikenal” mendekatinya. “Sesaat sebelum pukul 09.00 (waktu setempat), dua pesawat jet bermesin tunggal dan bersayap delta, mengorbit dekat Liberty tiga kali pada posisi 31-27Utara, 34-00Timur. Ketinggian pesawat diperkirakan 5.000 kaki, berjarak sekitar dua mil. Liberty memberitahu Komando atasannya, Armada Keenam dan yang lainnya tentang pengintaian ini, dan menyatakan bahwa identifikasi tidak diketahui dan belum ada laporan penguat yang akan diajukan,” tulis William D. Gerhard dalam Attack on the USS Liberty . Laut tempat Liberty berlayar itu, 13 mil lepas pantai Semenanjung Sinai, Mesir, merupakan area pertempuran pihak Israel dan pihak negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari. Saat itu perang tersebut memasuki hari ketiga. Meski AS menyatakan netral dalam perang tersebut, negeri “Paman Sam” tetap berkepentingan terhadap daerah itu sehingga mengirim Liberty untuk melakukan misi pengumpulan sinyal intelijen. “Washington menghabiskan pagi 8 Juni seperti hari-hari sebelumnya, memantau perang dari jarak aman,” tulis Michael B. Oren dalam Six Days of War: June 1967 and the Making of the Modern Middle East . Liberty yang mondar-mandir antara Al-Arish dan Port Said itu berlayar sendirian. Permintaan pengawalan menggunakan kapal perusak (destroyer) yang diminta Komandan Liberty William L McGonagle, ditolak Panglima Armada ke-6, berbasis di Mediterania, Laksamana William Martin. Menurut Martin, semua atribut yang dimiliki cukup untuk menunjukkan Liberty sebagai kapal AS dan jalur pelayaran yang digunakan Liberty merupakan perairan internasional. Dengan dua indikator tersebut, Liberty dianggapnya cukup aman dari penargetan serangan pihak-pihak yang berperang. Alhasil, Liberty mesti berlayar sendiri di jalur lalu lintas niaga internasional yang sebetulnya telah ditutup oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser sejak perang pecah. Pelayaran Liberty akhirnya mencurigakan pihak Israel. Selain karena Liberty tak memberitahukan keberadaannya, perwakilan AS di Israel juga tak pernah memberitahukan keberadaan kapal itu. Padahal saat hari pertama perang, Panglima AU Israel Jenderal Yitzhak Rabin memberitahu atase AL AS di Tel Aviv Ernest Carl Castle agar AS mengevakuasi semua kepentingannya dari wilayah pertempuran atau minimal memberitahukan keberadaan kapal-kapalnya di area itu. Maka setelah beberapa penerbangan pengintaian dilakukan AL Israel sejak pagi 8 Juni, Markas AL Israel di Haifa menandai Liberty dengan titik merah alias kapal tak dikenal. Kecurigaan Israel makin besar lantaran dari semua misi pengintaian yang dibuatnya tak satu pun pilot melaporkan telah melihat bendera Amerika berukuran lima kali delapan kaki berkibar di Liberty . Misi pengintaian Israel itu jelas diketahui para awak Liberty. Pesawat-pesawat Israel itu bahkan bisa diidentifikasi dengan jelas. Namun para awak Liberty tak menaruh curiga karena mengira pesawat-pesawat Israel itu sedang mencari kapal selam Mesir yang belum lama melintas dekat Liberty . Para awak Liberty , termasuk Komandan McGonagle, tak pernah tahu hari itu merupakan jadwal Israel melancarkan operasi pengamanan pantainya. Misi itu hanya diketahui oleh Atase AL Castle, yang diberitahu Rabin beberapa saat sebelum operasi itu dimulai. Dalam pemberitahuan itu, Rabin menyarankan Castle agar AS memindahkan semua kapalnya dari perairan sebelum operasi dimulai, sebab semua kapal tak dikenal yang berlayar lebih dari 20 knot –kecepatan yang saat itu hanya bisa dijangkau oleh kapal perang– akan dimusnahkan. Peberitahuan Rabin itu tidak sampai ke awak Liberty . Ketika sebuah ledakan besar mengguncang pesisir Al-Arish pukul 11.26 waktu setempat, Israel mengganggapnya sebagai serangan pasukan Mesir terhadap pasukannya di darat sebagai pendahuluan bagi pendaratan pasukan amfibi Mesir. Israel meresponnya dengan mengirimkan tiga kapal torpedo dari Skadron 914, yang disandikan Pagoda, ke lokasi pada pukul 12.05. Celakanya, ke tempat itulah Liberty melanjutkan pelayarannya. Pukul 13.41, Aharon Yifrah, perwira informasi tempur di kapal T-204 Skuadron Pagoda, memberitahu Komandan Moshe Oren atasannya bahwa sebuah kapal tak dikenal terlihat di 22 mil timur-laut dari Al Arish. Kecepatan kapal itu, kata Yifrah, 30 knot dan bergerak ke arah Mesir. Informasi itu, tulis Michael B. Oren, “membuat Oren menyimpulkan bahwa ini adalah kapal musuh yang melarikan diri ke pelabuhan asalnya setelah menembaki posisi Israel.” Tiga kapal torpedo AL Israel pun memburu Liberty . Pemburu Liberty bertambah setelah kepala Operasi AL Israel meminta dukungan udara kepada AU Israel, yang menindaklanjutinya dengan mengirim dua pesawat tempur Mirage III. Menjelang pukul 14.00, jet-jet tempur Israel telah mendapati posisi Liberty . Sepanjang komunikasinya dengan kapal-kapal Skuadron Pagoda, para pilot jet tempur Israel terus mengidentifikasi Liberty untuk mendapatkan kepastian ia bukan kapal Soviet atau kapal Amerika. Para petugas di kapal-kapal torpedo Israel menyimpulkan, kapal buruan mereka merupakan kapal logistik Mesir El Quseir . Sementara itu, kata Oren, “(Iftah, red .) Spector (salah satu pilot AU Israel) mendapati kapal (buruannya) dan mengidentifikasinya pada ketinggian 3.000 kaki. Yang dilihatnya ‘sebuah kapal militer, kapal perang abu-abu dengan empat senapan, dengan haluan mengarah ke Port Said ... satu tiang berikut satu cerobong asap.’ Terlepas dari beberapa ‘huruf hitam’ di lambung, kapal itu tidak punya tanda-tanda lain. Deknya tidak dicat dengan salib biru dan putih yang membedakan semua kapal Israel. Pilot menyimpulkan bahwa ini adalah "Z", atau perusak kelas Hunt ( destroyer Mesir buatan Inggris), dan karena pesawatnya hanya dipersenjatai dengan kanon, ia meminta jet tambahan yang sarat dengan bom besi.” Di geladak Liberty , para awak baru saja menyelesaikan latihan penanganan serangan kimia yang rutin digelar sejak bulan sebelumnya. Karena status kesiapan ditetapkan pada Mode 3, di empat senapan mesin kalibaer 50 yang dimiliki Liberty pun diisi kru yang bersiaga. Para kru lain juga bersiaga memasok amunisi untuk senjata-senjata lainnya. Pada saat itulah dua Mirage III Israel menurunkan ketinggian dan mendekati Liberty. Komandan McGonagle terus mengamatinya dari jembatan Liberty menggunakan binokular. “Komandan McGonagle mengamati sebuah pesawat jet bermesin tunggal yang tampak serupa, jika tidak identik, dengan yang terlihat sebelumnya pada hari itu. Dengan sebuah pesawat yang diamati lewat teropongnya, komandan tak menyadari ada pesawat kedua yang melintas dari sisi kiri untuk meluncurkan roket yang diarahkan ke jembatan. Ketika roket itu meledak dua tingkat di bawah jembatannya, McGonagle memerintahkan agar sirene dibunyikan,” tulis Gerhard. Setelah meroket Liberty , Mirage-Mirage Israel itu memberondong kapal nahas itu. Badan Liberty langsung dipenuhi ratusan lubang dan tong bahan bakar di geladaknya meledak akibat berondongan itu. "Adegan di Liberty adalah neraka. Orang-orang dengan luka bakar mengerikan, tubuh mereka terkoyak pecahan peluru, berebut ke ruang tunggu ke ruang kecil yang telah diubah menjadi rumah sakit darurat. Para pelaut berbadan sehat lainnya dengan panik membakar kertas-kertas rahasia dan mengibarkan bendera besar Amerika, untuk menggantikan bendera angkatan laut asli yang telah rusak ditembak. Tak satu pun dari mereka yang tahu siapa penyerang itu. Kebanyakan mengira mereka pesawat-pesawat MiG Mesir," tulis Oren. Sembilan awak Liberty tewas seketika –versi lain menyebut 8– dan 75 lainnya luka-luka, beberapa di antaranya kemudian tewas karena luka terlalu parah. Komandan McGonagle sendiri tertembak lengan dan paha kanannya. Alih-alih menerima perawatan medis di ruang pengobatan, McGonagle memilih untuk melanjutkan tugasnya dengan memerintahkan para kru senjata melakukan tembakan balasan. Dia lalu mengirim kawat ke Armada ke-6 agar segera mengirim bantuan karena kapalnya diserang. Tembakan balasan Liberty membuat kapal-kapal torpedo Israel balik menembak. Tembakan kanonnya langsung menewaskan juru mudi Liberty. Beberapa saat kemudian, lime torpedo dilepaskan kapal-kapal Israel. Satu di antaranya langsung menembus sisi kanan bangunan utama Liberty dan menghancurkan ruang penelitian. Dua puluh lima prajurit, mayoritas dari bagian intelijen, langsung tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat torpedo itu. Para pilot dan pelaut Israel lalu dibuat heran. Selain sejak awal kapal buruannya tak pernah memberi respon, tembakan balasan pun hanya sebentar dan berhenti sejak torpedo dilepaskan. Mereka akhirnya dibuat kaget ketika salah satu sekoci Liberty yang mereka sergap ternyata menampilkan tanda AL AS. Pukul 15.30 semua personil Israel akhirnya sadar melakukan serangan ke target yang salah, yakni kapal AL AS. Berita salah serang itu akhirnya sampai ke markas besar militer Israel. Israel langsung mengirimkan permintaan maaf kepada Amerika melalui Castle, yang meneruskannya ke Armada ke-6 untuk kemudian diteruskan ke Washington –yang diterima Presiden Lyndon Johnson hampir dua jam kemudian. “Saya harus akui perasaan saya campur aduk tentang berita tersebut – penyesalan mendalam karena telah menyerang sahabat-sahabat sendiri dan perasaan amat lega bahwa kapal yang diserang itu bukan kapal Soviet,” kata Rabin. Permintaan maaf itu membuat Laksamana Martin memanggil pulang pesawat-pesawat tempur AS yang diterbangkan dari kapal induk USS America untuk memberi bantuan pada Liberty . Pukul 17.05, Liberty yang hampir tenggelam akhirnya terhuyung-huyung melanjutkan pelayaran menuju Malta dengan 34 awak yang tewas dan 171 terluka di dalamnya. Meski awalnya membuat semua pihak AS marah, Presiden Johnson akhirnya setuju dengan tawaran Israel berupa pembayaran kompensasi. Sebanyak 12 juta dolar uang kompensasi akhirnya dibayarkan Israel kepada keluarga para korban. Jonhson lalu membiarkan penyelesaian insiden itu dengan memfokuskan perhatian ke tempat-tempat lain seperti Vietnam, membuat selubung misteri Insiden USS Liberty masih belum terbuka seluruhnya meski berbagai investigasi, termasuk yang dibuat AL AS dan pemerintah Israel, telah diselesaikan beberapa tahun kemudian. “Tuduhan paling tersebar luas menyatakan bahwa Israel –khusunya Menhan Mose Dayan – menginginkan agar Liberty dimusnahkan untuk menyembunyikan persiapan penyerangan ke Suriah,” tulis Michael B. Oren.






















