top of page

Adam Malik Tebus Lukisan Trubus

Trubus melukis orang-orang terdekatnya. Pelukis kesayangan Sukarno ini menghilang setelah Peristiwa 1965. Lukisan istri dan kedua anaknya jatuh ke tangan Adam Malik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan Trubus yang menggambarkan istrinya Samsiah dan kedua anak mereka. (Martin Sitompul/Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik).

  • 53 menit yang lalu
  • 3 menit membaca

TIGA lukisan karya Trubus menjadi koleksi yang memikat mata di Museum Seni Rupa dan Keramik. Lukisan itu sarat ikatan personal bagi sang pelukis karena menggambarkan potret istri dan kedua anaknya. Tapi, lukisan itu justru bukan milik keluarga Trubus. Sejak 1976, ketiga lukisan itu menjadi koleksi pribadi Adam Malik.


“Karya Trubus, itu ada tiga lukisan. Kecil-kecil tapi manis sekali. Potret Samsiah dan kedua anak mereka. Dan sepertinya pada 1976, Trubus pastinya sudah dinyatakan hilang,” ujar Farah Wardani, kurator dan konsultan seni budaya independen, dalam pameran koleksi lukisan Adam Malik beberapa waktu silam.


Lukisan “Potret Ibu” dilukis Trubus pada 1953. Lukisan ini menggambarkan sosok Samsiah. Potret istri Trubus tersebut dilukis dengan cat minyak di atas kanvas ukuran 60x70 cm. Samsiah memang sering menjadi model bagi lukisan-lukisan potret suaminya. Seperti lukisan “Gadis Depan Jendela”, yang juga dilukis pada 1953, kini koleksi Istana Kepresidenan.


Lukisan "Potret Ibu" karya Trubus (1953) yang menggambarkan istri Trubus, Samsiah. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Lukisan "Potret Ibu" karya Trubus (1953) yang menggambarkan istri Trubus, Samsiah. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Sementara itu, lukisan kedua anak Trubus, “Anak I” dan “Anak II” dilukis pada 1956. “Anak I” menampilkan Sri Rahayu Mutabani, putri sulung Trubus, di atas kanvas 40x47 cm. “Anak II” menampilkan Rosalia Sri Yanie Murbaningsih, putri ketiga Trubus, di atas papan keras berukuran 37,5x43,7cm.


Kedua lukisan ditampilkan dalam profil samping dengan nuansa coklat yang hangat. “Anak I” dan “Anak II” memperlihatkan gaya lukis realis Trubus, dengan goresan halus yang mengekspresikan emosi mendalam.


Trubus Soedarsono, lahir pada 23 April 1926, dikenal sebagai pelukis aliran realis terkuat Indonesia dengan goresan halus yang khas. Sebelum menjadi pelukis, Trubus bekerja sebagai pemberi makan kuda andong di Yogyakarta.


Bakatnya dalam seni ditangkap oleh Daoed Joesoef –seniman yang belakangan menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan era Orde Baru (1978–1983)–, yang kemudian mendaftarkan Trubus ke sanggar Seniman Indonesia Moeda (SIM). Di bawah asuhan pelukis realis senior seperti S. Sudjojono, Affandi, dan Hendra Gunawan, Trubus terus mengembangkan bakat melukisnya.


Pada akhir 1950-an, Trubus bergabung dengan studio seni lukis Tio Tek Djien di Cideng, Jakarta Pusat. Trubus kemudian bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Lukisan "Anak I" dan "Anak II" (1956) menggambarkan potret putri sulung dan ketiga Trubus. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Lukisan "Anak I" dan "Anak II" (1956) menggambarkan potret putri sulung dan ketiga Trubus. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Dari aktivitas berkesenian, Trubus memasuki gelanggang politik sebagai anggota DPRD Yogyakarta mewakili PKI. Selain itu, Trubus juga menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) antara 1950–1960.


Meski demikian, Trubus tak meninggalkan dunia seni dan terus melukis. Pada awal 1960-an, dia termasuk pelukis kesayangan Presiden Sukarno. Beberapa karya Trubus menjadi koleksi pribadi Sukarno antara lain lukisan “Potret Wanita”, “Putri Indonesia”, dan patung batu “Gadis dan Kodok”.


“Ketika G30S meletus pada 1965, dan PKI diberangus, Trubus mendadak hilang pada tengah 1966. Kabarnya dia dieksekusi di kawasan hutan Kaliurang, Jawa Tengah,” sebut kritikus seni Agus Dermawan T. dalam Karnaval Sahibul Hikayat: Arak-arakan Peristiwa Seni yang Unik, Ajaib, Besar, dan Menggemparkan.


Trubus menjadi sasaran pencidukan tentara karena sebagai seniman Lekra. Ketika pihak keluarga berupaya mencari keberadaan Trubus, perwira Koramil Sleman Yogyakarta hanya memberi kode singkat sebagai jawaban: “mangkubumi”.


“Dalam hubungan sejarah sekitar Peristiwa G30S 1965, ‘mangkubumi’ menjadi kata sandi di kalangan militer untuk ‘bunuh’,” catat Hersri Setiawan dalam Kamus Gestok.


Dalam buletin Tapol, No. 38, Maret 1980, menurut penuturan putrinya, Trubus menghilang tak lama setelah Oktober 1965. Ada pihak yang menyebutkan dia tewas ditembak dalam pembantaian massa. Belakangan, pihak keluarga menerima kiriman jam tangan dan pakaian miliknya, namun tanpa disertai penjelasan mengenai nasibnya.


“Saya tidak percaya ayah saya sudah meninggal. Saya akan terus meyakini bahwa dia masih hidup sampai saya mendapat kabar pasti mengenainya,” kata salah satu putri Trubus dalam Tempo, 29 Desember 1979, sebagaimana dikutip buletin Tapol.


Sepeninggal Trubus, keluarganya hidup dalam keprihatinan. Dijelaskan dalam katalog The Adam Malik Collection yang disusun tim kuratorial Southeast Asia Museum Services (SEAM), setelah Trubus hilang, keluarganya membutuhkan dana dan menitipkan beberapa lukisan kepada seorang rekan pelukis untuk dijual. Itulah yang terjadi pada lukisan “Potret Ibu”, “Anak I”, dan “Anak II” yang akhirnya jatuh ke tangan Adam Malik.


“Lukisan tersebut kemudian berpindah tangan hingga akhirnya masuk ke koleksi pribadi Adam Malik sebelum dihibahkan ke Balai Seni Rupa Jakarta pada 1976,” demikian keterangan pada katalog.


Adam Malik menjabat menteri luar negeri (1966–1978) dan wakil presiden RI ketiga (1978–1983). Selain sebagai pejabat tinggi negara, Adam Malik dikenal sebagai patron seni dan kolektor lukisan yang menaruh perhatian besar pada seni dan budaya. Sebagian besar koleksi pribadinya disumbangkan ke Museum Seni Rupa dan Keramik Indonesia.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page