Diperbarui: 2 Okt
ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu.
Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan, pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu.
Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi”, yang dimuat dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama. Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















