top of page

Ahmadiyah dan Sukarno

Sukarno menampik tuduhan sebagai bagian dari Ahmadiyah. Dia memiliki pandangan tersendiri terhadap ajaran ini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno menerima Al-AlQur'an terbitan Ahmadiyah. (ahmadiyah.id).

  • 28 Apr 2020
  • 3 menit membaca

ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu.


Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan, pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu.


Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat  berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi” (dimuat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama). Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan.


“Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandisnya, apalagi buat bagian Celebes! Sedang plesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” kata Sukarno.


Diakui Sukarno, jika di Endeh dirinya memang menjadi lebih memperhatian urusan-urusan agama dibandingkan sebelumnya. Selain karena studi ilmu sosial yang mulai didalami, ia juga banyak membaca buku-buku soal agama. Tapi ditegaskan oleh Sukarno bahwa ia tidak pernah terikat oleh suatu golongan agama tertentu. Ia lebih suka disebut sebagai penganut Islam.


“Dari Persatuan Islam Bandung, saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. Kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saja punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih,” ucapnya. “Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.”


Tentang Ahmadiyah

Kendati menolak jika dikaitkan dengan Ahmadiyan, Sukarno mengagumi beberapa hal yang terdapat di dalam ajaran Ahmadiyah. Ia bahkan membaca beberapa buku keluaran Ahmadiyah, yang menurutnya memberi banyak pelajaran, di antaranya: “Mohammad the Prophet”, dan “Inleiding tot de Studie van den Heiligen Qoer’an” karya Mohammad Ali; ”Het Evangelie van den daad”, dan “De bronnen van het Christendom” karya Chawadja Kamaloedin; serta kumpulan artikel di dalam “Islamic Review”.


“Mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya features yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernism, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadist, mereka punya striven Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk maken van den Islam,” ujar Sukarno.


Menurut Lukman Surya dan Nur Kholik dalam Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam: Ulasan Pemikiran Soekarno, tidak hanya mengungkapkan kekagumannya, Sukarno juga menolak dan tidak menyetujui beberapa uraian yang ada di dalam buku-buku Ahmadiyah. Misalnya menjadikan tokoh Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang yang dikeramatkan, dan kecintaan kepada imperialisme Inggris. Jadi Sukarno menempatkan dirinya pada posisi yang relatif netral. Ada beberapa soal di dalam ajaran Ahmadiyah yang dia terima sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang rasionil. Tapi ada pula bagian-bagian ajaran itu yang ia tolak mentah-mentah. 


“Toh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionel, modern, broadminded dan logis itu,” ucap Sukarno.


Namun ditegaskan juga oleh Sukarno bahwa ia mempelajari agama Islam tidak hanya dari satu sumber saja. Karena bagi Sang Proklamator, agama Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Untuk itu telah begitu banyak buku “yang saya datangi dan saya minum airnya”.


“Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Pelajaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronje, Arcken, Dozy Hartmann, dan lain sebagainya), buku-buku dari orang bukan Islam tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus buku yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu,” kata Sukarno.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Nama resminya Academy Award of Merit. Kenapa lebih populer disebut Piala Oscar?
Nama resminya Academy Award of Merit. Kenapa lebih populer disebut Piala Oscar?
Perjalanan Hamka ke Mekkah diliputi gelak tawa. Itu disebabkan prilaku para staf KBRI di Karachi yang mengaku terkena maag hingga tak menjalankan ibadah puasa.
Perjalanan Hamka ke Mekkah diliputi gelak tawa. Itu disebabkan prilaku para staf KBRI di Karachi yang mengaku terkena maag hingga tak menjalankan ibadah puasa.
Bermula dari hasrat untuk mengeruk laba dari niaga lada di Sumatera, Amerika beranjak lebih jauh ke dominasi politik-dagang di mana-mana.
Bermula dari hasrat untuk mengeruk laba dari niaga lada di Sumatera, Amerika beranjak lebih jauh ke dominasi politik-dagang di mana-mana.
transparant.png
bottom of page