top of page

Alkisah Tongkat Pangeran Diponegoro

Pusaka “Kiai Cokro” dikisahkan acap menemani Pangeran Diponegoro saat ziarah dan tirakat ke pesisir selatan Jawa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tongkat Kiai Cokro dengan besi ukir "cakra" milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan Belanda pada 2015 (Buklet "A Lost Pusaka Return"/Rijksmuseum)

22 Jun 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul

DARI sekian banyak isu yang jadi faktor di-reshuffle-nya Anies Baswedan selaku menteri pendidikan dan kebudayaan periode 2014-2016 adalah isu penerimaan salah satu pusaka Pangeran Diponegoro yang dipulangkan Belanda pada 2015. Dikatakan jurnalis senior Andy F. Noya dalam program di Metro TV, “Kick Andy: Dosa-Dosa Anies”, Minggu (18/6/2023) Anies dianggap menelikung Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).


Andy menyampaikan isunya, ketika itu tongkat komando Pangeran Diponegoro (Tongkat Kiai Cokro) jadi salah satu artefak yang dirampas Belanda saat penangkapan Pangeran Diponegoro di fase akhir Perang Jawa, pada 28 Maret 1830. Anies, lanjut Andy, dianggap menelikung Presiden Jokowi lantaran terdapat kepercayaan bahwa barangsiapa yang menerima dan memegangnya pertamakali, maka ia punya peluang untuk jadi pemimpin.


Anies mengklarifikasi bahwa info tentang pengembalian itu awalnya datang dari Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, tetapi prosesnya akan dirahasiakan. “As a top secret, tidak bisa diketahui siapapun, kapan waktunya, dll. Semua dijaga confidentiality-nya karena nilai barang ini priceless. Banyak orang yang mencoba memburu barang ini. Jadi mereka menempatkan ini sebagai sebuah operasi khusus. Kemudian (tongkat) Cakra tadi dibawa dari Belanda dan pemerintah Belanda tidak memberi tahu jam penerbangan, siapa yang membawa, enggak ada yang tahu,” terang Anies.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page